• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN SISTEM POLITIK SULAWESI TENGGARA MASA PEMILIHAN GUBERNUR TAHUN

4.1 Sistem Pemilihan Gubernur Sulawesi Tenggara Periode 2008-

Provinsi Sulawesi Tenggara secara Geografis terletak di jazirah tenggara pulau sulawesi, sedangkan secara astronomi Provinsi Sulawesi Tenggara terletak

dibagian selatan garis khatulistiwa, membentang dari Utara ke Selatan diantara 30

- 60 Lintang Selatan dan membentang dari Barat ke Timur diantara 120045 - 1240

60 Bujur Timur.

Wilayah ini memiliki Luas wilayah 153.019 Km2. Lautan mendominasi

luas Sulawesi Tenggara, yaitu 114.879 Km2 (72%), sedang daratan hanya

mencapai 38.140 Km2 (28%). Provinsi Sulawesi Tenggara juga tergolong provinsi

kepulauan. Keseluruhan pulau baik pulau kecil maupun sedang berjumlah 124 buah pulau ditambah lagi oleh dua gugus kepulauan, yakni pulau – pulau Wakatobi dan pulau – pulau Tiwoto.

Penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2000 berjumlah 1.776.292 jiwa yang terdiri : 974.427 laki – laki dan 984.987 perempuan. Lima tahun kemudian, yaitu 2005, penduduk Sulawesi Tenggara berjumlah 1.959.414 jiwa. Pencatatan terakhir, melalui Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) BPS tahun 2006, jumlah penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara adalah 2.001.818 jiwa.

Konsentrasi terbesar penduduk Sulawesi Tenggara menetap di daratan Pulau Sulawesi, yaitu sekitar 52% dan di kepulauan 48%. Jumlah penduduk tahun 2006 sebanyak 2.001.818 jiwa, tercatat sebanyak 290.358 jiwa di Kabupaten Muna, 271.657 jiwa di Kabupaten Buton, 273.168 jiwa di Kabupaten Kolaka, 265.646 jiwa di Kabupaten Konawe, 244.586 jiwa di Kota Kendari, 234.400 jiwa di Kabupaten Konawe Selatan, 122.339 jiwa di Kota Bau-Bau, 107.294 jiwa di Kabupaten Bombana, 94.190 jiwa di Kabupaten Kolaka Utara dan 98.180 jiwa di Kabupaten Wakatobi (BPS, 2007).

Pemilihan kepala daerah (Gubernur) secara langsung yang dilakukan di Sulawesi Tenggara merupakan sebuah momentum pesta demokrasi rakyat sebab

hal ini merupakan pertama kali dilakukan masyarakat Sulawesi Tenggara. Pemilihan Gubernur periode 2008 – 2013 diwarnai dengan beragam aksi politik yang bertujuan untuk menarik massa. Sejauh penelitian dilakukan, aksi-aksi yang dilakukan para calon kepela daerah tersbut masih berada dalam koridor politik yang jauh dari sumber-sumber konflik massa ataupun masyarakat. Sebagaimana yang disampaikan ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Tenggara Bapak Drs. H. Kaimuddin Haris

“…Kita butuhkan konsistensi dari para calon tersebut. Konsisten memebela dan mengedepankan kepentingan publik, kepentingan rakyat. Bukan kepentingan golongan, bukan kepentingan partai bukan kepentingan primordial, bukan kepentingan pribadi atau kepentingan tim sukses.”

Dalam UU No.32 Tahun 2004 pemilihan kepala daerah menggunakan sistem pemilihan “plurality majority sistem”. Artinya, jika tidak dicapai pemenang berdasarkan suara 25 persen lebih, dilakukan putaran kedua. Dengan begitu, jika suatu daerah hanya ada empat calon, tidak perlu harus ada putaran kedua (Amin, 2005). Berdasarkan UU No.32 tersebut, pemilihan Gubernur dan wakil gubernur Sultra dilakukan dalam satu kali pemilihan tanpa melakukan tahapan putaran kedua. Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur tersebut diikuti oleh empat pasangan calon masing-masing pasangan Prof.Ir.H. Mahmud Hamundu, M.Sc – Drs. H. Yusran A.Silondae, M.Si, yang selanjutnya dalam tulisan ini akan disingkat menjadi pasangan MAHASILA, pasangan Drs. H. Masyhur Masie Abunawas, M.Si – Azhari, S.Stp, M.Si (MMA), pasangan Ali Mazi, SH – H. Abd. Samad (AZIMAD) serta pasangan Nur Alam, SE – H.M. Saleh Lasata (NUSA).

Terkait penentuan calon peserta pilakada, parpol memiliki kekuasaan untuk mencalonkan pasangan Gubernur dan wakil Gubernur sebagaimana yang diatur dalam UU No.32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, dimana pasal 59 menyebutkan bahwa parpol atau gabungan parpol dapat mendaftarkan pasangan calon apabila memenuhi persyaratan perolehan sekurang-kurangnya 15 persen dari jumlah kursi DPRD atau 15 persen dari akumulasi perolehan suara sah

dalam pemilu anggota DPRD di daerah setempat. Ketentuan tersebut seringkali menggagalkan langkah calon kepala daerah potensial.

Dalam pasal 59 ayat (3) juga menyebutkan bahwa parpol atau gabungan parpol wajib membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi bakal calon perseorangan yang memenuhi syarat serta memperhatikan tanggapan dan pendapat masyarakat dalam penetapan calon. Hal ini memungkinkan munculnya calon independen sehingga sistem politik akan berjalan lebih variatif, kompetitif dan fair. Namun demikian, dalam pilkada 2007, KPU Sultra belum bisa mengakomodir calon perseorangan disebabkan KPU Sultra masih harus menunggu revisi UU No.32/2004 atau keluarnya peraturan pengganti UU (perpu), serta menunggu KPU pusat menjabarkan aturan teknis dari calon perseorangan

tersebut9, sementara di lain sisi, tahapan pelaksanaan pemilihan Gubernur Sultra

segera akan dilaksanakan.

Tahapan kegiatan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sultra periode 2008-2013 dimulai pada tanggal 18 Agustus 2007 setelah komisi pemilihan Umum (KPU) Sultra menerima surat pemberitahuan dari DPRD mengenai berakhirnya masa jabatan Gubernur dan wakil Gubernur Sultra. Sedangkan hari pemilihannya sendiri rencananya dijadwalkan pada tanggal 4 November 2008 namun karena pembenahan data pemilih, maka jadwal tersebut berubah menjadi tanggal 2 Desember 2007. Namun demikian, dinamika politik berkaitan dengan pemilihan Gubernur tersebut sudah menghangat sejak dua tahun sebelum pelaksanaan pemilihan digelar. Figur-figur mulai bermunculan memperkenalkan diri kepada masyarakat bahwa mereka bakal bertarung dalam pemilihan Gubernur Sultra. Ada juga figur yang masih memohon kepada parpol agar diakomodir menjadi calonnya kelak.

KPU dituntut agar dalam menyelenggarakan pemilu senantiasa berpedoman pada 12 asas, yakni; mandiri, jujur, adil, kepastian hukum, tertib       

9

 Meskipun KPU Sultra dapat saja mengambil langkah berdasarkan kewenangan yang diatur UU No.22 Tahun 2007 untuk membuat pengaturan atau regulasi dalam rangka pemilu kepala daerah, atau KPU Sultra bisa merujuk UU Pemerintah Aceh yang telah melaksanakan pemilu kepala daerah dengan calon perseorangan.

penyelenggara, kepentingan umum, keterbukaan, proporsionalitas, profesionalitas, akuntabilitas, efisiensi dan efektivitas.

Data pemilih saat penyelenggaraan pemilihan Gubernur merupakan hal penting, karena pemilihlah yang akan menentukan kekalahan dan kemenangan pasangan kepala daerah. KPU kabupaten atau kota paling lambat lima bulan sebelum hari dan tanggal pemungutan suara, sudah selesai menyusun daftar

pemilih10 sementara. Pendataan penduduk dilakukan oleh pemerintah bukan KPU.

Mekanisme penentuan hak pilih ada dua yaitu, pertama, KPU memutakhirkan data pemilih berdasarkan data kependudukan dan menetapkannya sebagai daftar pemilih. Dalam pemutakhiran data pemilih, KPU Sultra merupakan pengguna terakhir data kependudukan yang disiapkan dan diserahkan oleh pemda. Kedua, KPU Sultra menerima daftar pemilih dari KPU kabupaten atau kota dalam penyelenggaraan pemilihan Gubernur.

Data penduduk potensial meliputi NIK/ nomor pemilih; nama lengkap; tempat/tanggal lahir (umur); status perkawinan; jenis kelamin; alamat tempat tinggal; dan jenis cacat yang disandang. Dan tidak semua penduduk dalam daftar data potensial bisa menjadi pemilih, sebab untuk menjadi wajib pilih pemilu mempunyai kriteria sebagaimana diamanatkan PP no. 6 Tahun 2005, yakni: sudah berusia 17 tahun pada hari pemungutan suara pemilihan atau sudah/ pernah kawin. Mereka yang memenuhi kriteria tersebut pun harus terdaftar sebagai pemilih dengan syarat: tidak sedang terganggu jiwa/ ingatannya, tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dan berdomisili di daerah pemilihan sekurang-kurangnya enam bulan sebelum disahkannya daftar pemilih sementara yang dibuktikan dengan kartu tanda penduduk.

Terkait dengan pemilih pemilihan Gubernur Sultra, KPU Sultra belum bisa melakukan langkah-langkah yang telah diamanatkan konstitusi Negara tersebut karena data dasar (data penduduk potensial) masyarakat Sultra belum juga diserahkan oleh pemerintah provinsi Sultra. Untuk itu, langkah-langkah yang       

10

 Baca juga Rachim, M. Djufri (2008) mengenai masalah wajib pilih menjelang pemilihan Gubernur Sultra

dilakukan oleh KPU Sultra adalah: pertama, KPU Sultra melalui KPU Kabupaten/ Kota meminta langsung data penduduk potensial setiap kabupaten/ kota pada kantor/ badan kependudukan dan catatan sipil kabupaten/ kota se-Sultra. Kedua, menggunakan data pemilih terakhir yang ada di setiap KPU kabupaten/ kota. Alternatif kedua ini memiliki kelemahan sebab banyak data yang tidak aktual lagi, namun hal ini harus dilakukan KPU karena data tidak tersedia dan belum diserahkan oleh Pemda sebagai penyedia data penduduk. Tugas KPU dan perangkatnya untuk melakukan pemutakhiran data penduduk yang memenuhi syarat pemilih sesuai amanat UU nomor 32 Tahun 2004 dan PP no.6 tahun 200511.

KPU sebagai lembaga penyelenggara pemilihan, memiliki kewenangan untuk menetapkan berbagai keputusan berkaitan dengan proses pilkada. Keputusan KPU berkaitan dengan pemilu antara lain; organisasi dan tata cara kerja KPU provinsi, KPU Kabupaten/ Kota, hingga kelembagaan di tingkat kecamatan (PPK) dan desa/ Kelurahan (PPS dan KPPS). Dasar hukum keputusan tersebut adalah pasal 8 Ayat (3) huruf a dan huruf j juncto Pasal 117 UU No.22 tahun 2007 tentang penyeleggaraan pemilu yang memberikan kewenangan bagi KPU untuk membuat pengaturan atau regulasi dalam rangka pemilu kepala daerah.

Semua regulasi pemilihan Gubernur Sultra yang dibuat oleh KPU Sultra pada masa pilkada 2007 tidak bertentangan dengan keputusan KPU (pusat) dan peraturan perundang-undangan, mulai UU no. 32/2004 besrta PP No.6 Tahun 2005 hingga UU No.22/2007, dengan satu prinsip yakni menjalankannya dalam cara pemerintahan Negara atau rezim pemilu.

Dari tahapan-tahapan proses penyeleggaraan pemilihan Gubernur, ada dua kategori yang dianggap rawan, yakni pada tahap penetapan pasangan calon dan

tahapan pemenang pemilu12. Pada tahap penetapan pasangan calon, ada saja

      

11

 Lihat hasil Rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap (DPT) pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sultra pada halaman lampiran  

12

 Dua tahapan ini menjadi sangat penting karena selalu menimbulkan implikasi sosial dalam masyarakat. Masyarakat yang masing-masing menjagokan figur tokohnya, tidak jarang menerima kekalahan atau penolakan bakal calon dengan sikap negatif bahkan berujung pada sikap anarki.

pasangan calon yang digugurkan oleh KPU karena tidak memenuhi persyaratan administratif, dan pada tahap penetapan pemenang sudah pasti hanya satu pasangan calon yang dinyatakan sebagai pemenang, yakni pengumpul suara terbanyak (Rachim, M. Djufri, 2008). KPU Sultra sebagai pihak penyelenggara pemilihan Gubernur Sultra juga menerima dua gugatan dari dua tahapan yang paling dianggap rawan tersebut. Pertama, dari tahapan penetapan pasangan calon, KPU menerima gugatan dari pasangan bakal calon yang tidak diloloskan sebagai calon peserta pilkada yaitu Laode Ida dan Andi Kaharuddin, kedua gugatan berkaitan dengan hasil perhitungan suara oleh kubu AZIMAD.

Dalam proses pemilu baik pemilu presiden maupun pilkada, ada tiga upaya penggagalan pemilu yang wajib diwaspadai semua pihak baik penyelenggara, peserta pemilu, pemerintah, masyarakat dan pihak keamanan. Upaya penggagalan tersebut adalah permintaan judicial review Undang-Undang pemilihan umum, bentrokan antar massa parpol serta money politics yang melibatkan petugas perhitungan suara. Di Sulawesi Tenggara, penyelenggaraan pemilu yang terdiri dari KPU provinsi dan Panwaslu sudah menyatakan kesiapannya untuk mensukseskan penyelenggaraan pemilu disertai pula dua unsur penting lain yakni Pemerintah provinsi Sultra dan Polda Sultra.