BAB II LEKRA MENGISI KEBUDAYAAN INDONESIA
3.3 Lekra hadir di Medan
3.3.6 Soal Plagiat Karya Sastra Hamka
159Dalam kritiknya tentang kebudayaan Sumatera, Aoh menyimpulkan bahwa budaya Sumatera – daerah Sumatera, yang dimaksud Aoh mungkin lebih kepada Sumatera Utara karena dia pernah bekerja di Medan selama setahun – tak ada yang bernilai untuk disumbangkan. Marije Plomp, 2012, loc.cit.
160 Keith Foulcher, 1986, op.cit. hlm 56.
Atas dasar itulah mengapa pernyataan-pernyataan yang bersinggungan tentang pertentangan budaya daerah mana yang akan ikut menjadi identitas kebudayaan nasional menjadi suatu kepentingan bagi beberapa kubu.
3.3.6 Soal Plagiat Karya Sastra Hamka
Perdebatan terjadi antara Pramoedya Ananta Toer dengan Hamka. Pram melontarkan tuduhan plagiat terhadap tulisan roman Hamka yang berjudul Tenggelamnya Kapal van der Wijk (1939). Hal ini lantas mengundang kemarahan para pengagum karya-karya Hamka yang mayoritas berada di Medan.
Sebenarnya tuduhan plagiat kepada Hamka dilontarkan pertama kali bukan oleh Pram melainkan oleh Abdullah S.P. Tuduhan Abdullah kepada Hamka ini dimuat dalam surat kabar Bintang Timur161
Pram lantas mendukung tuduhan plagiat oleh Abdullah, dan bersama mereka berdua membuat sebuah idea script
, tertanggal 7 September 1962 dan 17 September 1962.
Abdullah menuduh Hamka menjiplak bertindak sewenang-wenang menjiplak dengan mentah-mentah buku Magdalaine karya pujangga Mesir, Manfaluthi, yang merupakan terjemahan karya Aphonse Care, seorang pujangga Prancis.
162
Meskipun berulang kali tetap mengelak bahwa karyanya itu bukanlah hasil plagiat atau jiplakan, tetap saja nama Hamka sudah terlanjur rusak dengan adanya kasus tersebut.
Hal ini terbukti dari karya-karya Hamka yang dibuat setelahnya, tidak begitu banyak dicari oleh para peminat sastra lagi atau tidak terlalu laku di pasaran.
untuk meyakinkan kepada rakyat bahwa buku Tenggelamnya Kapal van der Wijk karya Hamka adalah plagiat. Hasil dari idea script
tersebut membuktikan beberapa fakta tentang banyaknya kesamaan, seperti tema, isi, dan alur ceritanya hanya tokoh-tokoh dan tempat kejadian yang berbeda.
163
Sewaktu hadir untuk berceramah di Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) – sekarang menjadi Universitas Negeri Medan (Unimed) – pada tahun 1963, Pram juga menyinggung soal karya plagiat Hamka. Mahasiswa dan staf pengajar yang hadir pada saat
161 Surat kabar Bintang Timur diterbitkan pertama kali pada tahun 1926 dan berhenti terbit sejak tahun 1965. Bintang Timur memiliki halaman lampiran kebudayaan bernama Lentera yang muncul pada edisi hari Minggu saja dan pemunculannya baru dimulai sejak 16 Maret 1962.
162 Idea Script merupakan suatu teknik dalam kritik sastra untuk membuktikan ke-orisinalitas-an sebuah karya sastra dengan cara menghimpun tiga buah buku (buku asli, jiplakan, dan telaah) menjadi satu buku saja. Junus Amir Hamzah (ed), Tenggelamnya Kapal van der Wijk dalam Polemik, Megabookstore, Jakarta, 1973, hal. 50.
163 Pernyataan dari Sjahrial Sandan.
itu sebagai peserta ceramah yang juga mayoritas anti komunis tersebut tentu tidak senang dengan statement Pram terhadap Hamka yang demikian.164
164 Marije Plomp, 2012, op.cit. hal. 25.
Sosok Hamka sangat dihargai oleh masyarakat di Medan. Ia dinilai mempunyai kontribusi besar dalam membentuk identitas sastra Medan dan mengangkat sastra Medan masuk ke dalam jenis karya sastra yang diperhitungkan.
3.4 Konferensi Nasional I Lembaga Sastra Indonesia (Lestra) di Medan.
Lembaga Sastra Indonesia (Lestra) yang merupakan lembaga kreatif milik Lekra yang bersifat otonom, akhirnya mengadakan Konferensi Nasionalnya untuk kali pertama.
Konferensi ini diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut, dari tanggal 22-25 Maret 1963. Konferensi ini berlangsung dengan Lekra Sumatera Utara selaku panitia pelaksana, Azis Akbar dan Sy. Anjasmara yang pada saat itu sudah tidak menjabat sebagai pengurus lagi di Lekra Sumatera, bertindak sebagai ketua dan sekretaris pelaksana untuk Konfernas tersebut.
Gedung Pemuda Medan menjadi tempat bagi berlangsungnya acara-acara pada Konfernas Lestra ini. Peserta pada Konfernas ini adalah sastrawan-sastrawan Lekra dari berbagai cabang pada masing-masing daerah di Indonesia. Dalam Konfernas ini juga hadir beberapa tamu undangan dan tamu kehormatan. Ulung Sitepu, selaku Gubernur Sumatera Utara beserta P.R. Telaumbanua, selaku Walikota Medan pada saat itu, berkesempatan menjadi tamu kehormatan dan juga bertugas membuka Konfernas ini. Sebagai tamu undangan, hadir orang-orang dari unsur partai semisal PKI dan PNI, begitupun dari berbagai organisasi kebudayaan seperti LKN, LKI, Lesbi, Okra, Orsenim, Pelsedra, KMM
Medan sendiri dipilih oleh Lembaga Sastra Indonesia sebagai tempat diselenggarakannya Konfernas atas beberapa pertimbangan, yaitu;
1. Kebudayaan sastra di Medan sangat berkembang pesat. Selain jenis-jenis kaya sastra yang melimpah ruah di Medan, kota ini juga memiliki banyak tempat penerbitan dan percetakan.
2. Banyaknya masyarakat Medan yang sangat antusias terhadap penciptaan karya sastra. Walaupun memiliki jumlah penduduk yang tidak sebanyak penduduk di Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta, rata-rata masyarakat di Medan sangat gemar membaca karya-karya sastra, seperti cerita rakyat, sajak/puisi, novel, cerpen, meskipun kebanyakan ber-genre “pop”.
3. Banyaknya seniman-seniman Lekra yang berasal dari Medan. Nama-nama seperti Bakri Siregar, Bachtiar Siagian, H.R. Bandaharo (Banda Harahap), Agam Wispi, Martin Aleida, dan Amrus Natalsya merupakan beberapa nama dari sekian banyaknya seniman-seniman Lekra yang pernah berkecimpung di Medan sebelum eksis di Lekra.
Konfernas Lestra di Medan yang berlangsung selama tiga hari ini juga memiliki beberapa agenda acara, salah satunya adalah perlombaan kontes berbagai karya sastra, di antaranya cerpen, sajak, esai dan novel. Juga tak ketinggalan acara seminar sastra Indonesia modern dan pertunjukkan sastra tradisional dari masing-masing daerah menjadi salah satu suguhan yang meramaikan agenda Konfernas ini.
Agenda utama dalam Konfernas ini yaitu penyampaian laporan-laporan kegiatan Lestra sejak dibentuk pada tahun 1960. Laporan Umum disampaikan oleh Ketua Lestra, Prof Bakri Siregar, Laporan Pengajaran Sastra oleh Pramoedya Ananta Toer selaku Sekretaris Lestra, Laporan Organisasi dan Pendidikan Ideologi oleh S. Anantaguna. Selain itu juga disampaikan Laporan-laporan Pelengkap tentang perkembangan seni sastra terhadap kesenian lainnya, semisal drama dan film.
Sebelum Konfernas ini berlangsung, Pengurus Lestra Pusat telah membuat persiapan tentang masalah-masalah apa saja yang akan dibawa dan dibahas dalam Konfernas ini nantinya. Poin-poin permasalahan yang akan dibahas tersebut antara lain;
1. Perkembangan pengajaran sastra Indonesia modern.
2. Pengembangan sastra daerah tradisional.
3. Penolakan dan perlawanan terhadap sastrawan dan karyanya yang tidak Revolusioner, terutama terhadap sastrawan-sastrawan Balai Pustaka.
4. Mendukung dan berusaha membentuk jaringan dengan sastrawan-sastrawan Revolusioner di Asia dan Afrika.
5. Sastra bagi anak-anak.
Akan tetapi saat berlangsungnya Konferensi tersebut, poin-poin di atas sangat sedikit disinggung. Konfernas malah menghasilkan rumusan-rumusan gerak Lestra yang lebih menitikberatkan pada perkembangan politik ketimbang perkembangan sastra. Sikap yang diambil Lestra ini tampak pada keputusan-keputusan dan tuntutan-tuntutan seperti
“menyokong penuh dan membela perjuangan kemerdekaan Rakyat Kalimantan Utara”,
“mengutuk teror berdarah yang dilakukan oleh rezim Salim Arif terhadap Rakyat Irak”,
atau “menuntut agar segera dibentuk Kabinet Gotong Royong yang berporoskan Nasakom”.165
Konfernas Lestra ini kemudian ditutup dengan menetapkan waktu penyelenggaraan Konfernas Lestra ke-II. Waktu yang ditetapkan untuk Konfernas ke-II ini yaitu pada bulan Desember 1965 dan bertempat di Yogyakarta.166
Begitu juga di Medan, setelah mendengar kabar pembentukan Manifesto Kebudayaan ini para seniman dan pekerja kebudayaan yang tidak setuju dengan kemunculan Manikebu mengadakan rapat tertutup pada 30 Januari di Balai Wartawan Medan, dengan agenda rapat mengambil sikap terhadap Manikebu. Mereka yang tergabung dalam rapat ini yaitu dari organisasi Lekra, LKN, Lesbumi, OKRA, dan Actor’s Studio Medan.
Sayang, Konfernas Lestra ke-II ini tidak pernah terwujud karena munculnya aksi kudeta dan pembunuhan massal yang terjadi pada Oktober 1965, yang ikut membawa Lekra menjadi korban.
3.5 Situasi di Medan setelah munculnya Manifesto Kebudayaan di Jakarta
Diproklamasikannya Manifes Kebudayaan (Manikebu) di Jakarta pada 17 Agustus 1963 tak lepas dari kontroversi yang terjadi atara pihak pro dengan pihak yang kontra terhadap Manikebu. Lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi kebudayaan yang tergabung dalam aliansi Front Nasional di berbagai daerah menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap munculnya Manikebu dalam pusaran kebudayaan nasional Indonesia.
165 Untuk lebih lengkap tentang hasil-hasil dari Konfernas Lestra I di Medan ini lihat “Komunike”
pada Lampiran 4.
166 Astaman Hasibuan mengatakan bahwa Yogyakarta dipilih menjadi tuan rumah yang berikutnya bagi Konfernas Lestra ke-II berdasarkan rekomendasi dari Lestra Jawa Tengah yang akhirnya disetujui semua pihak.
Keputusan dari rapat tersebut ialah dengan tegas menyatakan sikap untuk menolak kehadiran atau pun eksistensi Manifesto Kebudayaan dalam ranah kebudayaan Nasional Indonesia, dikarenakan Manikebu berwatak kontra revolusi sehingga sangat berbahaya untuk pertumbuhan kebudayaan revolusioner di tanah air Indonesia.
Tahap selanjutnya mereka juga menuntut untuk memecat tokoh-tokoh pendukung terciptanya Manikebu tersebut dari Kelembagaan Negara, baik itu jawatan di pusat maupun di daerah, seperti H.B. Jassin selaku dosen Universitas Indonesia, Wiratmoe Soekitoe selaku pegawai RRI Jakarta dan lain sebagainya. Juga menuntut pemerintah agar mencabut surat izin terbit majalah Sastra yang dianggap sebagai corong atau terompet penyebaran Manifesto Kebudayaan.
Sikap ini tentu diambil oleh aliansi kebudayaan Front Nasional dengan pertimbangan-pertimbangan yang sudah dipikirkan sebelumnya, bahkan mempelajari terlebih dahulu seluk beluk Manikebu. Menurut mereka Manikebu mengabstrakkan pertentangan pokok antara pendukung revolusi dengan musuh revolusi. Di dalam menafsirkan Pancasila Manikebu sangat berlainan dengan interpretasi Bung Karno, Pancasila sebagai alat mempersatu malah berusaha diselewengkan dari makna yang sebenarnya. Dalam riset yang dilakukan oleh kelompok-kelompok seniman yang kontra terdapat beberapa butir rumusan tentang mengapa Manifesto Kebudayaan harus ditolak;
1. Manifes Kebudayaan adalah kontra revolusi, karena:
a. Anti atau memusuhi Nasakom
b. Segan menggunakan kata dan konsepsi revolusioner dan rakyat c. Merupakan reaksi atas gagasan Ganefo
d. Mengumandangkan freedom to be free
e. Hendak menandingi Manifesto Politik (Manipol) 2. Manifes Kebudayaan adalah hipokrit.167
Lebih ekstrem kemudian ialah pernyataan tegas yang ducapkan oleh aliansi kebudayaan Front Nasional di Medan yaitu “Ganyang Manikebu”. Kebetulan pada saat itu juga sedang marak-maraknya disuarakan statement “Ganyang Malaysia” karena kesewenang-wenangan Malaysia terhadap Indonesia.168
Demikian akhirnya disepakati sebuah sikap dan tindakan yang dinyatakan oleh aliansi kebudayaan Front Nasional dan ditandatangani oleh Sy. Anjasmara (Lekra), Kims Gangga (LKN), Darwis A.R. (Lesbumi), Azis S. (OKRA), Dick Havinto (Lesbi), Mahmud Situmorang (LKM) dan Arif Husin Siregar (Actor’s Studio)169
Seniman-seniman yang menganut paham Manifesto Kebudayaan di Medan pada saat itu belumlah banyak, maka itu belum terlalu mengganggu keberadaan Lekra di Medan.
Akan tetapi yang sesungguhnya menjadi penghalang bagi eksistensi Lekra dalam panggung budaya di Medan adalah keberadaan tentara nasional, dalam hal ini Angkatan Darat (AD). Diketahui kemudian bahwa keberadaan Manifesto Kebudayaan sangat didukung oleh Angkatan Darat. Setiap kegiatan yang dilakukan Manikebu dibiayai oleh AD. Sejatinya KK-PSI yang menjadi batu loncatan Manikebu untuk meluaskan paham kebudayaan humanisme universal juga dibiayai bahkan dipanitiai oleh AD beserta kroni-kroninya. Sejak awal 1950-an para perwira AD di Medan sangat rajin menjadi promotor bagi kegiatan-kegiatan kebudayaan di Medan. Merek juga selalu hadir dalam acara-acara
167 D.S Moeljanto dan Taufik Ismail, 1995, op.cit. hlm. 327
168 Presiden Soekarno memandag pembentukan Negara Malaysia adalah suatu proyek neokolonialis bentukan Inggris, yang sebagian pasukannya masih berada di Malaysia, yang berarti sesungguhnya Malaysia belum betul-betul merdeka. R.S. Milne and Diane K. Mauzy, Malaysia; Tradition, Modernity, and Islam, Westview Press, London, 1986, hlm. 155.
169 Harian Harapan, 3 Februari 1964.
pelantikan bahkan bersedia tampil sebagai pembicara dalam kata-kata sambutan di acara-acara kebudayaan. 170
Lebih dari itu, dukungan finansial juga diberikan Angkatan Darat kepada kegiatan-kegiatan kebudayaan yang dilaksanakan oleh orang-orang atau organisasi-organisasi anti-komunis. Bahkan diantara para perwira tersebut banyak juga yang aktif sebagai pemusik, pemain drama maupun penulis. Letnan Kolonel (Letkol) M. Nur Nasution, misalnya mendukung dan membiayai seluruh prakarsa Bokor Hutasuhut, seniman Manikebu dari Medan, untuk membuat pentas teater-teater modern di Medan pada tahun 1964.171
Serangan juga dilancarkan oleh media cetak yang mendukung pendirian Manikebu kepada media-media cetak yang pro terhadap Lekra. Tahun 1964 di Medan misalnya, kaum Manikebu menuduh Harian Harapan tidak pernah banyak memuat tentang Pancasila, karena itu harian ini dituduh anti-Pancasila. Lekra Medan dalam perdebatan ini langsung membantu Haria Harapan dan menjawab tuduhan itu dengan melakukan riset. Hasilnya, kumpulan guntingan-guntingan dari koran Harian Harapan yang dikumpulkan Lekra berhasil menemukan jumlah kata ‘Pancasila’ pada Harian Harapan yang ternyata lebih banyak dari jumlah kata ‘Pancasila’ yang pernah dimuat oleh koran Waspada.
Pemutaran film Amerika di lapangan Benteng, Medan pada awal tahun 1965 juga atas prakarsa Angkatan Darat.
172
170 Marije Plomp, 2012, op.cit. hlm.21.
171 Marije Plomp, Loc.cit
172 Harian Waspada saat itu lebih condong kepada kelompok Manikebu.
BAB IV
LENYAPNYA GAUNG KEBUDAYAAN LEKRA
Memasuki periode 1960-1965 merupakan pintu masuk bagi masa-masa transisi yang sangat rumit bagi Lekra. Pada periode ini Lekra berada pada masa kejayaannya, tetapi sekaligus saat itu juga ia menemui ajalnya. Kedua kutub yang saling berlawanan ini muncul karena adanya ketidakseimbangan arus politik yang terjadi dalam lima tahun terakhir masa kepemimpinan Soekarno ditambah dengan terciptanya pergantian tongkat estafet kekuasaan yang dilakukan dengan cara-cara repesif. Perputaran arah angin poltik pada masa itu berubah sangat drastis.
Soekarno yang sejak awal tak tergoyahkan kedudukannya sebagai Presiden Republik Indonesia, harus merelakan kursi tersebut diduduki oleh Angkatan Darat.
Hubungan Soekarno dengan PKI di tahun 1960-an terjalin dengan sangat baik. PKI pada saat itu seperti anak kesayangan Soekarno, hal ini terbukti dari banyaknya kebijakan-kebijakan pemerintah yang dibuat berdasarkan usul dan saran dari PKI.173
173 Kebijakan-kebijakan seperti “Ganyang Malaysia”, “New Emergenzing Force” (Nefo), “Old Established Force” (Oldefo), dan “Undang-Undang Pokok Agraria” (UUPA) adalah beberapa contoh kebijakan yang diprakarsai oleh Soekarno serta PKI.
Soekarno pun merasa PKI lebih bisa dipercaya ketimbang Angkatan Darat, meskipun pada awal-awal masa kemerdekaan Indonesia hubungan AD dengan Soekarno sangatlah harmonis. Pengalihan kepercayaan inilah yang ikut memperuncing perseteruan antara PKI dan Angkatan Darat, yang memang sudah terasa gejalanya sejak peristiwa Madiun 1948.
Angkatan Darat sangat khawatir jika nantinya PKI lah yang akan menggantikan posisi Soekarno untuk duduk di singgasana tahta kekuasaan tertinggi di Indonesia. Atas kekhawatiran itulah AD mulai membuat dan mengatur strategi bagaimana mereka bisa mengambil simpati rakyat Indonesia. Strategi untuk menarik simpati rakyat ini diterapkan oleh Angkatan Darat bukan hanya dalam bidang politik, tapi juga masuk ke ranah kebudayaan. Maka pada 17 Agustus 1963 Angkatan Darat beserta dengan beberapa seniman yang tidak sejalan dengan paham Lekra melahirkan sebuah manifes tandingan, yaitu Manifes Kebudayaan.
Ketertarikan militer untuk berkiprah dalam bidang kebudayaan dengan mendukung Manikebu ini memang agak ganjil. Menurut analisis dari kalangan banyak pada saat itu, ada dua alasan masuknya militer ke ranah kebudayaan ini.
Pertama, berimbangnya kekuatan politik, dengan massa yang terorganisir di bawah Front Nasional Nasakom,membuat militer kesulitan menerapkan “cara-cara militeristik” dalam tujuan mereka. Kedua, sejak pemilu 1955 mereka melihat bagaimana peran kebudayaan dalam menggalang kekuatan massa. Dalam setiap kampanye PKI yang didukung oleh Lekra, selalu menjadi sebuah pesta rakyat.
Mulai sejak lahirnya “Manikebu” ini situasi kebudayaan di Indonesia mulai berubah. Perang ideologi di antara para seniman mulai sering terjadi. Prioritas para seniman untuk menghasilkan karya-karya seni yang berkualitas mulai terganggu dengan adanya perdebatan-perdebatan ideologi tersebut. Mereka banyak menghabiskan waktu untuk meladeni kritik-kritik yang dilontarkan oleh lawan-lawannya kepada dirinya. Anehnya, kritik-kritik tersebut diciptakan bukan untuk
mengkritisi hasil karya-karya seni para seniman tersebut, tetapi lebih kepada menyerang individu sang seniman itu melalui pengalaman-pengalaman pribadi atau riwayat hidup milik seniman tersebut.
Contoh dari konflik-konflik perdebatan semacam ini misalnya terdapat pada perseteruan antara Pram dengan Buchari. Buchari menyinggung tentang masa lalu Pram saat ia pernah bekerja di Balai Pustaka dan pernah menggunakan jasa Sticusa untuk bisa pergi ke Belanda. Kejadian semacam ini seringkali terjadi di tahun-tahun 1960-an174
Di Medan, geliat persengketaan antara pihak Lekra dengan Manikebu hampir tidak pernah nampak. Masing-masing pihak bebas berekspresi dalam paham masing-masing. Pemutaran film Barat oleh tentara dan manikebu di Lapangan Benteng, Medan misalnya, tidak terdapat protes keras yang dilontarkan oleh pihak Lekra, padahal sangat jelas kegiatan yang dilangsungkan pada awal tahun 1965 itu bertentangan dengan paham Lekra.
. Karena perseteruan-perseteruan tersebut kerap kali diprakarsai oleh orang-orang Lekra dan Manikebu, maka masa-masa itu menjadi identik dengan perseteruan dua kubu yang sama-sama memilii kepentingan itu. Perdebatan-perdebatan atau kritik-kritik antara Lekra dan Manikebu pun mulai marak bermunculan di berbagai media massa, karena adanya perseteruan tersebut media massa pun menjadi terlalu subyektif dalam memberikan berita yang hanya mendukung salah satu pihak tertentu saja.
174 Perseteruan seperti yang terjadi pada Pram dengan Buchari terjadi juga diantara seniman-seniman yang lain, misalnya perseteruan antara Sitor Situmorang dengan H.B. Jassin beserta Usmar Ismail, Pram dengan Jassin, Bastari Asnin dengan Motinggo Boesye, dan masih banyak lagi lainnya. Tentang perseteruan-perseteruan ini banyak terdapat pada buku karya Moeljanto dan Taufik Ismail yang berjudul”Prahara Budaya”, yang mereka kumpulkan dari guntingan-guntingan berita pers pada masa itu.
Sampai di awal tahun 1965 Lekra masih memegang kendali atas situasi kebudayaan di Indonesia. Kelompok Manifesto Kebudayaan justru harus gigit jari ketika Soekarno mengeluarkan maklumat untuk membubarkan Manikebu pada tanggal 8 Mei 1964. Kebijakan pelarangan Manikebu ini murni atas dasar pemikiran Soekarno, tidak ada unsur ajakan atau paksaan dari pihak Lekra untuk membujuk Soekarno melakukan hal demikian. Pihak Lekra sendiri tidak pernah menuntut agar Manikebu dilenyapkan atau dibubarkan dari peredaran. Lekra hanya menyarankan kepada rakyat Indonesia untuk dapat membedakan mana karya seni yang berguna bagi rakyat dan mana yang tidak berguna sekaligus memberitahu bahwa paham kebudayaan Manifes Kebudayaan tidaklah revolusioner, karena itu tidak berguna sama sekali.175 Aksi serangan-serangan yang dilakukan Lekra terhadap Manikebu pun hanya sebatas serangan kata-kata atau saling silang pendapat, tidak lebih.
Namun, di zaman Orde Baru tercipta sebuah tuduhan bahwasanya kader-kader Lekra pernah membakari buku-buku karya orang Manikebu.176
Tidak hanya berhenti di situ, kebijakan pelarangan terhadap Manikebu yang diumumkan Soekarno pada 18 Mei 1964, dilanjutkan dengan dikeluarkannya oleh Menteri P & K sebuah surat edaran: tgl. 23/3-1965 No.4063/S dan tgl. 25/3-1965 No.
4255/S. untuk melarang semua buku-buku karya pengarang yang telah pindah ke Malaysia yang dianggap sebuah pengkhianatan terhadap bangsa, dan juga pelarangan terhada buku-buku karya orang-orang Manikebu. 177
175 Keterangan dari Martin Aleida via e-mail.
176 Rhoma Dwi Aria, 2008, op.cit. hlm. 441.
177 H.B. Jassin, 1984, op.cit. hlm. 257.
Setelah Manikebu resmi dilarang oleh Presiden Soekarno, status orang-orang yang mendukung Manikebu mulai terancam keberadaannya. Sebagai pihak yang dianggap “penjahat revolusi” beberapa tokoh pemprakarsa Manikebu harus berhenti dari pekerjaannya. Di antara tokoh-tokoh tersebut adalah H.B. Jassin yang harus mengundurkan diri sebagai dosen sastra di Universitas Indonesia, Wiratmoe Soekito yang meletakkan pekerjaannya sebagai penyiar di Radio Republik Indonesia (RRI), dan masih banyak lagi yang lainnya.
4.1. Peristiwa Gerakan 30 September 1965.
Dengan banyaknya kebijakan-kebijakan yang sangat otoriter oleh Soekarno ditambah dengan gaya kepemimpinannya yang dinilai sangat “megalomania” pada tahun 1960-an itu tak pelak menjadikan citra Soekarno di hadapan publik sebagai Pemimpin Besar Revolusi (PEMBESREV) menurun drastis. Badan Pendukung Soekarno (BPS) yang semula dibentuk sesuai dengan namanya, untuk mendukung Soekarno kemudian malah lebih sering menentang dan mengkritisi keputusan-keputusan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dibuat Soekarno.
Periode masa Demokrasi Terpimpin-nya Soekarno ini juga dianggap oleh sebagian kaum intelektual sebagai masa-masa yang kelabu, dengan maraknya kelompok-kelompok intelektual yang bersembunyi di balik kekuasaan Soekarno sebagai pemimpin tertinggi Republik Indonesia. Perilaku para intelektual tersebut kemudian diibaratkan dengan falsafah “if you can’t beat them, you join them”. 178
178 S. Tasrif, “Situasi Kaum Intelektuil di Indonesia”, Budaya Jaya, 1968, hlm. 201.
Iwan Simatupang juga melukiskan situasi pada saat itu sebagai faktor dari kejatuhan masa Soekarno;
“Peristiwa ini adalah ketandesan dari corak kepemimpinannya, kenegarawannya. Yaitu oportunisme yang berlebih-lebihan, yang ekstrem.
Netralisme yang oportun, dan secara ekstrem diwujudkan.”179
Para anggota Lekra kemudian ikut ditangkap setelah peristiwa G30S ini.
Walaupun Lekra membela mati-matian menyangkal bahwa mereka bukanlah organisasi bentukan ataupun onderbouw PKI. Namun bantahan hanyalah tinggal pembelaan yang sia-sia. Mereka tetap ditangkap, diperiksa, disiksa, dipenjara tanpa Luapan dari kejengkelan seluruh pihak yang merasa dirugikan oleh Soekarno ini mencapai puncaknya dengan kemunculan peristiwa pada September-Oktober
Walaupun Lekra membela mati-matian menyangkal bahwa mereka bukanlah organisasi bentukan ataupun onderbouw PKI. Namun bantahan hanyalah tinggal pembelaan yang sia-sia. Mereka tetap ditangkap, diperiksa, disiksa, dipenjara tanpa Luapan dari kejengkelan seluruh pihak yang merasa dirugikan oleh Soekarno ini mencapai puncaknya dengan kemunculan peristiwa pada September-Oktober