• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.6 Teknik Analisis Data

Teknik analisa data adalah proses mengatur urutan data, dan mengorganisasikannya ke dalam suatu bentuk pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Penelitian dengan metode kualitatif merupakan prosedur penelitian yang

menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari subjek penelitian atau informan. Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara bersamaan dengan proses pengumpulan data yang langsung dikumpulkan dari lapangan seperti wawancara ataupun observasi. Menurut Miles & Huberman (dalam Gunawan, 2013:11-13), tahapan dalam proses analisis data terdapat komponen-komponen utama yang harus benar-benar dipahami. Berikut ialah ketiga tahapan komponen-komponen tersebut:

1. Reduksi Data

Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengategorisasikan, mengarahkan, membuang data yang tidak perlu, dan mengorganisasikan data sedemikian rupa sehingga akhirnya data yang terkumpul dapat diverifikasi. Pada tahapan reduksi data, peneliti akan mengumpulkan data dari lapangan dengan melakukan wawancara secara mendalam kepada seluruh informan. Seluruh data yang diperoleh peneliti akan dicatat dan dikumpulkan, kemudian Peneliti akan dengan objektif merangkum dan mengambil hasil yang sesuai dengan pokok permasalahan yang diteliti.

2. Penyajian Data

Setalah mereduksi data, maka langkah selanjutnya adala menyajikan data. Penyajian data sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.

Penyajian data digunakan untuk lebih meningkatkan pemahaman kasus dan sebagai acuan untuk mengambil tindakan berdasarkan pemahaman dan analisis sajian data. Data penelitian dapat disajikan dalam bentuk uraian kalimat maupun grafik.

3. Penarikan Kesimpulan

Kesimpulan dalam penelitian mungkin dapat menjawab rumusan masalah, karena rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan berkembang setelah Peneliti berada di lapangan. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif yang diharapkan adalah temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambar suatu objek yang sebelumnya masih belum jelas, sehingga setelah diteliti menjadi jelas.

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian

Hasil penelitian adalah data atau informasi yang didapatkan oleh peneliti dimana data dan informasi yang telah didapatkan oleh peneliti diolah dan dirangkum berdasarkan hasil temuan di lapangan. Pada penelitian ini, data dan informasi diperoleh dengan mewawancarai langsung kepala bagian public relations PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Unit 7, Kepala Desa Sampecita, Ketua Ikatan Pemuda Merga Silima (PMS) di Desa Sampecita, dan 2 orang warga Desa Sampecita. Kelima informan tersebut merupakan orang-orang yang melakukan, melihat, mengetahui, mengalami, dan merasakan secara langsung penerapan strategi CSR PT. Charoen Pokphand Jaya Farm 7, sehingga dianggap dapat memberikan informasi yang diperlukan peneliti dalam penelitian ini.

4.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian 4.1.1.1 Alamat Instansi

Lokasi penelitian yang dilakukan peneliti terkait dengan penelitian ini berada di Jl. Glugur Rimbun, Desa Sampecita, Kec. Kutalimbaru, Kab. Deli Serdang, Sumatera Utara, tepatnya di kantor cabang PT. Charoen Pokphand Jaya Farm 7. Lokasi ini dulunya merupakan tanah perkebunan milik warga Desa Sampecita yang kemudian dibeli oleh PT.Charoen Pokhand Indonesia pada awal tahun 2010. Pembangunan kantor ini dimulai pada pertengahan Tahun 2010 dan selesai pada awal tahun 2012.

4.1.1.2 Sejarah PT. Charoen Pokphand Indonesia, Tbk

PT. Charoen Pokphand mulai didaftarkan sebagai perusahaan resmi di Bangkok, Thailand pada tahun 1951 dan pabrik pakan ternak pertama didirikan pada tahun 1953. Sistem yang diterapkan dalam perusahaan ini adalah penyediaan bibit-bibit tanaman bagi petani, kemudian membeli kembali hasil panen yang dihasilkan oleh para petani serta melakukan proses terhadap hasil panen menjadi pakan ternak. Seiring waktu, perusahaan ini mengalami peningkatan jaringan terhadap konsumen sehingga sekitar tahun 1970, peningkatan permintaan akan pakan ternak terlihat di Asia. Untuk memenuhi segmentasi pasar Asia terhadap

pakan ternak, maka PT. Charoen Pokphand membangun cabang perusahaan di berbagai negara di Asia seperti Indonesia, Hongkong, Singapura, Taiwan dan Malaysia.

PT. Charoen Pokphand mengembangkan usahanya di Indonesia pada tahun 1971 dengan mendirikan pabrik pakan ternak modern berskala besar yang berlokasi di Ancol Barat, Jakarta Utara. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (”Perseroan”) didirikan secara resmi sebagai anak perusahaan dari Charoen Pokphand Overseas Investment Co. Ltd. Hongkong. Pabrik tersebut mulai aktif beroperasi pada tahun 1972 dengan produk utama yang dihasilkan adalah pakan ternak unggas dengan kapasitas produksi sebesar 20.000 ton per tahun.

PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk (”Perseroan”) didirikan di Indonesia dengan nama PT. Charoen Pokphand Indonesia Animal Feedmill Co.

Limited, berdasarkan akta pendirian yang dimuat dalam Akta No. 6 tanggal 7 Januari 1972, yang dibuat dihadapan Drs. Gede Ngurah Rai, SH, Notaris di Jakarta, sebagaimana telah diubah dengan Akta No. 5 tanggal 7 Mei 1973 yang dibuat dihadapan Notaris yang sama. Akta pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. YA-5/197/21 tanggal 8 Juni 1973 dan telah didaftarkan pada Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di bawah No. 2289 tanggal 26 Juni 1973, serta telah diumumkan dalam Berita Negara No. 65 tanggal 14 Agustus 1973, Tambahan No.

573.

Dalam kebutuhan manusia yang semakin tinggi, salah satunya adalah kebutuhan pangan, maka akan mempengaruhi kebutuhan industi pangan dalam menyediakan pangan. Adanya peningkatan konsumsi seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dalam suatu wilayah sehingga kebutuhan akan pakan ternak meningkat karena pangan yang dibutuhkan manusia sebagian besar adalah pangan yang berasal dari ternak. Menanggapi perkembangan tersebut, PT. Charoen Pokphand Indonesia memperluas kegiatan usaha dan juga pasarnya dengan mendirikan dua pabrik pakan ternak unggas baru, masing-masing di Surabaya pada tahun 1976 dan di Medan pada tahun 1979.

Peningkatan pasaran ekspor udang pada tahun 1988 mendorong PT.

Charoen Pokphand Indonesia untuk menambahkan pakan udang ke dalam

rangkaian produksi pakan unggasnya yang sudah demikian berkembang. PT.

Charoen Pokphand Indonesia kemudian membuka sebuah pabrik baru di Medan.

Pabrik pakan udang tersebut memiliki kapasitas produksi sebesar 40.000 ton pakan udang setiap tahunnya.

PT. Charoen Pokphand Indonesia mulai go public pada tahun 1991 dengan menjual 52,5 juta lembar saham. Saat ini, PT. Charoen Pokphand Indonesia merupakan produsen pakan unggas terkemuka di Indonesia, dengan suatu jaringan pabrik produksi, fasilitas penelitian dan pengembangan serta pusat-pusat pembibitan unggas yang tersebar dalam beberapa daerah. Beberapa cabang perusahaan ini berlokasi di Balajara (Jawa Barat), Semarang (Jawa Tengah), Sepanjang dan Krian (Surabaya), Bandar Lampung (Lampung), Medan (Sumatera Utara) dan Makassar (Sulawesi Selatan). Secara bersama-sama, jaringan pabrik pakan ternak ini membuat Perseroan menjadi produsen pakan ternak terbesar satu-satunya di Indonesia. Selain itu, jaringan tersebut memiliki posisi strategis untuk memenuhi kebutuhan peternak ayam di seluruh negeri. Hal ini menjadikan Perseroan sebagai perusahaan penghasil pakan ternak yang terpercaya.

PT. Charoen Pokphand Jaya Farm 7 Sendiri merupakan unit cabang perusahaan yang didirikan pada awal tahun 2012 di desa Sampecita. Perusahaan ini resmi beroperasi pada pertengahan tahun 2012. Perusahaan ini bergerak di bagian pembibitan ayam dan produksi telur. Namun, ayam yang diproduksi dari perusahaan ini hanya merupakan ayam yang digunakan untuk pengembangbiakan, bukan ayam untuk dikonsumsi. Jadi, bibit ayam sejak dini dikembangbiakkan hingga menjadi induk. Sebagian ayam ini kemudian dikirim ke unit cabang lain, dan sebagian lagi diproses hingga menghasilkan telur di perusahaan ini. Proses awal pembibitan ayam hingga panen mencapai waktu kurang lebih selama 68 minggu, dengan rincian:

1. tahap persiapan selama 4 minggu

2. tahap pembibitan ayam selama 23 minggu 3. tahap produksi telur selama 40 minggu 4. tahap panen selama 1 minggu

4.1.1.3 Visi, Misi, dan Budaya Perusahaan

Perusahaan memiliki tujuan yang hendak dicapai untuk mengembangkan usaha dan dapat memiliki nilai daya saing yang tinggi sehingga setiap perusahaan memiliki visi dan misi, begitu pula dengan PT. Charoen Pokphand Indonesia yang memiliki visi dan misi sebagai berikut.

 Visi : menyediakan pangan bagi dunia yang berkembang

 Misi : memproduksi dan menjual pakan ayam, anak ayam dan makanan olahan yang memiliki kualitas tinggi dan berinovasi.

Visi dari PT. Charoen Pokphand Indonesia memiliki tujuan untuk menyediakan pangan yakni berupa daging ayam kepada konsumen terutama konsumen di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk memberikan informasi kepada konsumen terhadap pentingnya mengonsumsi daging terutama daging ayam yang memiliki kisaran harga lebih terjangkau dibandingkan dengan daging lainnya serta memiliki nutrisi yang dibutuhkan manusia sehari-hari, sehingga konsumsi daging ayam dapat meningkat di Indonesia karena konsumsi daging ayam di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan dengan konsumsi daging ayam di wilayah lain seperti Malaysia yakni 1,7 kg per orang dalam satu tahun dan konsumsi daging ayam di Malaysia berkisar 3 kg per orang dalam satu tahun, sedangkan sektor visi dari PT. Charoen Pokphand Indonesia adalah dunia yang berkembang yakni dapat menyediakan pangan bagi konsumen melalui berbagai variasi seperti olahan ayam yang dapat menjadi nilai jual dan dapat memperluas prospek bisnis ayam dari PT. Charoen Pokphand Indonesia. Tidak hanya daging ayam yang dapat diolah dan dijual, melainkan dengan menjual anak ayam (Day Old Chick) untuk dikembangkan dalam sektor peternakan serta penyediaan pakan ayam untuk mendukung peningkatan peternakan yakni ayam.

Misi dari PT. Charoen Pokphand Indonesia memberikan gambaran terhadap kegiatan yang dilakukan perusahaan yakni dengan memproduksi dan menjual kebutuhan sektor peternakan yang meliputi pakan ayam, anak ayam (Day Old Chick) dan makanan olahan daging ayam dengan kualitas yang tinggi dan berinovasi. Untuk memenuhi tujuan yang tercakup dalam visi, maka diperlukan misi untuk mencapai visi yang telah ditetapkan, sehingga untuk menyediakan pangan bagi dunia yang berkembang, maka dimulai dari penjualan anak ayam,

dalam perkembangannya ayam membutuhkan nutrisi yang sesuai melalui pakan ayam serta setelah dikembangbiakan dalam peternakan, maka ayam yang siap panen dapat diolah menjadi pangan bagi konsumennya.

Budaya merupakan salah satu faktor yang penting dalam mengembangkan dan memberikan intensitas arah suatu perusahaan, sehingga PT. Charoen Pokphand Indonesia memiliki budaya yang melandasi seluruh kegiatan perusahaan yakni dengan melakukan penerapan budaya 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin) dalam mendukung visi dan misi yang dimiliki oleh perusahaan.

Berikut ini penjabaran dari budaya 5R antara lain : 1. Ringkas (pilah dan pisahkan barang yang tidak perlu) 2. Rapi (lakukan penataan di tempat kerja

3. Resik (jaga kebersihan di tempat kerja)

4. Rawat (pelihara kondisi, ringkas, rapi dan resik di tempat kerja) 5. Rajin (biasakan ringkas, rapi dan resik setiap hari)

Dilansir dari website resmi PT. Charoen Pokphand Indonesia (www.cp.co.id), budaya yang diterapkan ini berasal dari Production National Head untuk menjaga agar setiap kegiatan terutama kegiatan produksi dapat berjalan dengan baik melalui tindakan 5R yakni ringkas, rapi, resik, rawat dan rajin. Tindakan 5R merupakan tindakan untuk menjaga kebersihan dan kerapian terutama untuk tenaga kerja yang bekerja langsung terhadap kegiatan produksi yang rawan akan wilayah yang kotor, sehingga apabila dilakukan tindakan kesadaran dengan membersihkan (resik) maka wilayah kerja menjadi lebih nyaman dan tenaga kerja dapat bekerja lebih maksimal, sehingga apabila tindakan 5R dijadikan sebagai budaya, maka tindakan 5R akan terus melekat pada setiap tenaga kerja dan terbiasa untuk bekerja bersih dan sehat.

Selain mencapai tujuan wilayah yang nyaman, bersih dan sehat, maka diperlukan tindakan rajin untuk dapat melakukan tindakan yang ringkas, rapi dan resik dimulai dari merawat kondisi yang selalu bersih dan rapi demi kenyamanan dalam bekerja.

4.1.1.4 Logo Perusahaan

Gambar 1. Logo Perusahaan

Sumber: Kepala staff public relations PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Unit 7 4.1.1.5 Struktur Organisasi PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Unit 7

Tabel 1. Struktur Organisasi Perusahaan

Sumber: Kepala staff public relations PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Unit 7 PERSONALIA DAN

GENERAL AFFAIR MANAGER

STATISTIK SUPERVISOR

CIVE CARETAKER

STAFF GRADING GUDANG

HUBUNGAN

MASYARAKAT MEKANIK SECURITY KARYAWAN

4.1.2 Proses Penelitian

Proses penelitian yang peneliti lakukan berlangsung selama kurang lebih 3 minggu yaitu dimulai pada tanggal 7 September 2019 hingga 25 September 2019.

Namun sebelum itu, peneliti melakukan pra-penelitian dalam bentuk wawancara tahap awal dan observasi yaitu pada tanggal 12 Agustus 2019, untuk menentukan pedoman wawancara yang tepat serta sebagai referensi ketika akan melakukan penelitian. Metode yang peneliti gunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara mendalam, observasi dan studi kepustakaan. Sedangkan untuk pemilihan informan peneliti menggunakan teknik purposive sampling, yang ditentukan berdasarkan suatu kriteria tertentu. Melalui proses pra-penelitian, peneliti kemudian memilih informan berdasarkan kriteria sebagai berikut:

1. Seorang kepala public relations PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Unit 7 2. Seorang Kepala Pemda Setempat, dalam hal ini Kepala Desa Sampecita.

3. Seorang ketua Ormas atau Okp desa Sampecita, dalam hal ini Ketua Ikatan Pemuda Merga Silima (PMS).

4. 2 orang warga Desa Sampecita, yang terdiri dari seorang Pria dan Wanita.

Setelah menentukan informan, peneliti kemudian melakukan observasi lain untuk menentukan pedoman wawancara agar sesuai dengan data dan fakta dilapangan, bagaimana hal ini sesuai dengan intruksi dari dosen pembimbing untuk melakukan observasi ketika hendak menyusun pedoman wawancara.

Setelah selesai menentukan pedoman wawancara, peneliti kemudian menghubungi informan pertama yaitu kepala public relations PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Unit 7 yang bernama Robert Sitompul, untuk menentukan waktu pelaksanaan wawancara. Setelah komunikasi yang dilakukan peneliti dengan informan melalui media sosial whatsapp, kemudian ditetapkan waktu pelaksanaan wawancara yaitu pada tanggal 10 September 2019 di PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Unit 7. Namun sebelum melakukan wawancara, peneliti terlebih dahulu mengurus surat izin penelitian ke departemen Ilmu Komunikasi.

Setelah mendapatkan surat izin penelitian, peneliti kemudian mengantarkannya saat proses wawancara dilakukan. Proses wawancara dilaksanakan disebuah joglo yang terdapat dibagian depan perusahaan dan disamping parkiran sepeda motor.

Wawancara dilakukan pada jam 6 sore, setelah jam kerja informan. Seharusnya menurut kesepakatan, wawancara akan dilakukan pukul 5 sore. Namun karena

adanya kesibukan lain dari informan yang mengakibatkan informan terpaksa lembur sebentar, maka peneliti menunggu di joglo yang ada di perusahaan tersebut. Karena letak rumah peneliti juga tidak jauh dari lokasi perusahaan, maka infoman dapat tiba di PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Unit 7 tepat waktu dan tanpa hambatan apapun. Selagi menunggu informan, peneliti juga mengecek persiapan untuk wawancara, seperti alat tulis, alat perekam, hingga pedoman wawancara. Karena wawancara dilakukan selesai jam kerja, maka suasana yang dihasilkan juga cukup nyaman dan terbuka. Tidak sekali dua kali terjadi komunikasi dua arah antara peneliti dengan informan. Hal ini dikarenakan informan cukup humble atau bersahabat sehingga kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan dari informan kepada peneliti sebagai upaya pendekatan diri.

Bahkan sebelum wawancara dilakukan, informan terlebih dahulu memesan minuman di warung depan perusahaan sebagai wujud penghargaan terhadap tamu yang mana dalam hal ini adalah peneliti. Setelah dirasa cukup berbasa-basi dengan informan, peneliti kemudian langsung melontarkan pertanyaan terkait dengan penelitian sesuai dengan pedoman wawancara yang sudah peneliti susun jauh hari. Ketika melakukan wawancara, peneliti mendapati banyak hal menarik dari penuturan informan, sehingga kemudian pertanyaan yang disiapkan peneliti berdasarkan pedoman wawancara dikembangkan lagi setelah proses analisis langsung terhadap jawaban dari informan namun tetap diselaraskan dengan tujuan dari penelitian. Proses wawancara juga dapat dikatakan cukup lancar. Peneliti tidak menemukan bias ketika berkomunikasi dengan informan. Seluruh pertanyaan yang peneliti ajukan dapat dijawab dengan baik oleh informan.

Wawancara dengan informan pertama ini selesai pada pukul 19.30 WIB. Setelah selesai, peneliti kemudian berbasa-basi sebentar dan setelah itu pamit untuk pulang kerumah.

Keesokan harinya, peneliti menghubungi informan tambahan untuk menanyakan ketersediaan waktu pelaksanaan wawancara. Namun dari 4 informan tambahan yang sudah dihubungi, hanya 2 informan yang tersedia dalam waktu dekat. Kedua informan tersebut adalah warga Desa Sampecita, yaitu ibu Siami Purnamasari br Ginting (29 tahun) dan Aditya Mawan (28 tahun). Sedangkan untuk informan lain yaitu Kepala Desa Sampecita dan Ketua PMS baru bisa

diwawancarai seminggu kemudian karena kesibukan pekerjaan masing-masing.

Jadwal wawancara dengan Ibu Siami Purnamasari yang sudah ditentukan yaitu pada tanggal 12 September 2019, pada pukul 13.00 WIB. Lokasi penelitian dilakukan di dusun VI Desa Sampecita. Setelah beberapa persiapan seperti alat perekam, alat tulis, dan pedoman wawancara seperti sebelumnya, proses wawancara pun dimulai. Wawancara berlangsung dengan lancar, informan memberikan data yang dibutuhkan oleh peneliti dengan baik.

Hari berikutnya, tepatnya pada hari kamis tanggal 13 September 2019, peneliti memiliki jadwal wawancara dengan informan selanjutnya yaitu Aditya Mawan. Aditya Mawan bekerja sebagai seorang pedagang, dan karena kesibukan beliau, maka wawancara disepakati akan dilakukan pada malam hari yaitu pukul 19.00 WIB sepulang beliau bekerja. Lokasi wawancara ditetapkan di rumah informan yang terletak di dusun VI, Desa Sampecita. Peneliti sampai di rumah informan pada pukul 18.30 WIB, dan pada saat itu informan baru saja pulang setelah selesai berjualan. Sambil menunggu informan untuk bersiap-siap terlebih dahulu, peneliti berbincang dengan adik informan yang menemani peneliti.

Informan siap untuk wawancara pada pukul 19.10 WIB. Berbekal alat tulis dan alat perekam, peneliti mencerna dengan seksama informasi yang disampaikan oleh informan. Sama seperti informan sebelumnya, wawancara ini juga berlangsung dengan santai dan tanpa tekanan, sehingga informan bisa dengan rileks menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh informan. Setelah wawancara selesai, peneliti masih berbincang santai dengan informan terkait kehidupan masing-masing. Peneliti pulang kerumah pada pukul 21.00 WIB.

Minggu pertama penelitian, peneliti hanya mewawancarai 3 orang informan dan menunggu dua informan tambahan lainnya memiliki waktu luang untuk diwawancarai. Namun pada keesokan harinya, tepatnya pada hari Sabtu, informan mendapatkan tawaran lewat pesan whatsapp dari Kepala public relations PT.

Charoen Pokphand Jaya Farm Unit 7 untuk datang dan melihat secara langsung salah satu program CSR yang akan mereka lakukan, yaitu pembagian telur ayam sebagai upaya peningkatan gizi pada anak SD di sekolah MTTQ yang ada di Desa Sampecita. Dengan senang hati peneliti menerima tawaran dari beliau, dan langsung pergi ke sekolah tersebut pada pukul 09.00 WIB. Pembagian telur

dilakukan pada jam pelajaran seusai istirahat pertama, yaitu pukul 09.30 WIB.

Peneliti melihat secara langsung bagaimana anak-anak SD tersebut sangat antusias terhadap pembagian telur ayam gratis tersebut. Kegiatan tersebut selesai pada pukul 10.30 WIB dan peneliti langsung pamit untuk pulang kerumah.

Proses wawancara selanjutnya yaitu dengan Kepala Desa Sampecita yaitu bapak Irianto Sinulingga pada tanggal 26 September 2019, terlambat seminggu dari jadwal yang sudah ditentukan sebelumnya. Hal ini dikarenakan peneliti memiliki kesibukan lain yang menyebabkan proses wawancara terpaksa ditunda selama seminggu. Wawancara dilakukan di rumah informan yaitu di Dusun I No.

36, Desa Sampecita pada pukul 16.30 WIB. Informan hanya bekerja selama setengah hari dan sudah pulang sejak pukul 13.00 WIB. Peneliti tiba dirumah informan pukul 16.20. Informan terlihat seperti baru bangun tidur dengan penampilan tanpa baju atasan. Namun karena tidak ingin membuat kesan wawancara formal dan demi kenyamanan dari informan, peneliti tidak memaksakan informan untuk mengenakan baju. Wawancara dimulai dari perbincangan basa-basi untuk mencairkan suasana. Setelah dirasa cukup, peneliti kemudian mengajukan pertanyaan sesuai dengan pedoman wawancara. Sebagai seorang pemimpin desa, tutur kata informan terdengar lebih berwibawa dan bersahaja dibandingkan informan lainnya sehingga lebih mudah dipahami oleh peneliti. Proses wawancara tidak berlangsung lama karena komunikasi yang terjalin sangat lancar dan tidak terjadi bias atau kesalahpahaman informaasi antara peneliti dengan informan. Selesai melakukan wawancara, peneliti kembali berbincang santai dengan informan. Informan bertanya terkait kegiatan perkuliahan peneliti, dan kehidupan pribadi lainnya. Peneliti beranjak dari rumah informan pada pukul 17. 40 WIB.

Keesokan harinya yaitu pada hari Jumat pada tanggal 27 September 2019, peneliti melakukan wawancara kepada informan terakhir yaitu Ketua PMS, bapak Mima Sitepu. Waktu wawancara ditentukan pada pukul 13.30 WIB disebuah warung kopi di Desa Sampecita. Peneliti tiba pukul 13.15 WIB di warung kopi tersebut. Informan sudah sampai dan sedang berbincang dengan beberapa temannya. Setelah melihat peneliti, informan memanggil peneliti untuk duduk dimejanya. Tampak informan hanya mengenakan pakaian santai yaitu sebuah

kaus oblong. Setelah berbagai persiapan dan perbincangan basa-basi, peneliti kemudian mulai mengajukan pertanyaan sesuai dengan pedoman wawancara yang sudah peneliti susun sebelumnya. Sebagai seorang ketua sebuah organisasi kepemudaan, beliau tampak jauh dari kesan arogan, selain itu tutur katanya juga cukup lembut. Komunikasi yang terjalin pada saat wawancara juga bisa dikatakan lumayan baik. Informan memberikan informasi yang dibutuhkan oleh peneliti lewat proses wawancara yang berlangsung. Meskipun pada awalnya peneliti merasa tegang, namun pada akhirnya, wawancara dapat berjalan dengan santai.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa candaan yang dilontarkan oleh informan pada saat menjawab pertanyaan sehingga cukup membantu untuk mencairkan suasana.

Setelah selesai, peneliti tidak langsung pulang kerumah. Peneliti masih duduk diwarung tersebut dan memesan minuman sembari berbincang kembali dengan beliau terkait kehidupan sehari-hari tanpa adanya embel-embel wawancara atau proses tanya jawab formal seperti sebelumnya. Peneliti kemudian pulang kerumah pada pukul 15.30 WIB.

Setelah selesai, peneliti tidak langsung pulang kerumah. Peneliti masih duduk diwarung tersebut dan memesan minuman sembari berbincang kembali dengan beliau terkait kehidupan sehari-hari tanpa adanya embel-embel wawancara atau proses tanya jawab formal seperti sebelumnya. Peneliti kemudian pulang kerumah pada pukul 15.30 WIB.