TINJAUAN LITERATUR/KERANGKA TEORI DAN METODE PENELITIAN
12. Perjanjian sponsor dan periklanan
2.5 TEORI KEBIJAKAN PERSAINGAN
Runtuhnya sistem-sietem ekonomi perencanaan di Eropa Timur lebih dari satu dasawarsa yang lalu, banyak negara dunia ketiga juga mulai memilih kebijakan ekonomi yang baru. Negara-negara berkembang semakin sering memanfaatkan instrumen-instrumen seperti harga dan persaingan, agar meningkatkan dinamika pembangunan di negara masing-masing. Hal ini disebabkan oleh pengalaman menyedihkan dari kegagalan akibat birokrasi, oleh beban berlebihan yang dipikul pemerintah dan para pejabat negara akibat pengendalian ekonomi melalui perencanaan.
Negara-negara berkembang harus membayar mahal akibat kebijakan ekonomi perencanaan. Kenyataatn ini terlihat melalui kategori-kategori pengukur kemakmuran. Inilah akibat diingkarinya prinsip ekonomi” oleh sistem-sistem ekonomi merupakan syarat mendasar bagi ekonomi yang sehat. ”New deal” kebijakan ekonomi banyak negara berkembang ingin mengakhiri pemborosan sumberdaya semacam ini. Kebijakan ekonomi baru merupakan reaksi terhadap kemajuan ekonomi yang dialami oleh negara-negara dunia ketiga yang lebih dahulu memanfaatkan instrumen-instrumen pasar dan persaingan dalam membangun ekonomi bangsa.
Perubahan pradigma telah terjadi dengan adanya teori dari Adam Smith dengan istilah ”ekonomi pasar” diyakini akan berhasil mencapai hasil-hasil yang memperhatikan kepentingan masyarakat luas. Agar dapat mewujudkan kepentingan masyarakat luas diperhatikan di dalam kepentingan individual perusahaan, diperlukan adanya suatu persyaratan kerangka oleh negara yang sengaja disusun. Salah satu komponen utama dari persyaratan ini adalah adanya kebijakan antimonopoli dan undang-undang terkait.
Inti dari ekonomi pasar: is decentralisation of decisions relating to the “what”, “how much”, and “how” of production process.15 Ini berarti bahwa individu harus diberi ruang gerak tertentu untuk pengambilan keputusan. Suatu proses pasar hanya dapat dikembangkan di dalam suatu struktur pengambilan keputusan yang terdesentralisasi. Kalau suatu ekonomi nasional menyediakan persyaratan-persyaratan yang diperlukan oleh persaingan, maka persaingan pada umumnya akan menjamin bahwa proses-proses produksi akan beradaptasi sendiri terhadap kebutuhan permintaan para individu.
Salah satu ciri utama dari suatu aturan yang terdesentralisasi dan sepenuhnya berstruktur persaingan adalah efisiensi, baik dari sudut pandang statis maupun dinamis. Jadi, harga pasar yang terbentuk akibat kondisi persingan merupakan ekspresi dari kelangkaan relative dalam suatu ekonomi nasional berkaitan dengan penyediaan kuantitatif dan kualitatif factor-faktor produksi dan struktur permintaan yang ada. Oleh karena itu, “kontrol melalui harga” memberikan rasionalisasi maksimal terhadap sistem ekonomi suatu negara.
Ekonomi persaingan memberikan imbalan kepada inovasi-inovasi produk dan terobosan-terobosan yang terkait dengan penurunan harga, pemanfaatan kombinasi bahan produksi baru, penciptaan jalur-jalur distribusi lebih baik dan pembukaan pasar baru, di mana keuntungan yang dihasilkan mempunyai fungsi yang sangat baik.
15. Knud Hansen dalam Law Concerning Prohibition of Monopolistic Practices and Unfair Business Competition, Katalis, 2001, hlm. 6.
Dr. Sukarmi, S.H.,M.H. Agar persaingan dapat berlangsung, maka kebijakan ekonomi nasional di negara-negara berkembang pertama-tama diperlukan adalah mewujudkan pasar yang berfungsi dan mekanisme harga. Dalam konteks tersebut adalah penyediaan akses pasar sebebas mungkin dan pada saat yang sama menyediakan insentif untuk meningkatkan jumlah dari pengusaha nasional. Akhirnya, suatu kebijakan moneter yang berorientasi stabilitas merupakan prasyarat bagi berfungsinya ekonomi persaingan.
Dalam rangka mewujudkan tatanan persaingan yang kondusif, prasyarat hukum sangat diperhatikan. Ekonomi persaingan bukan hanya menawarkan peluang meraih keuntungan, tetapi juga kerugian, bagi pengusaha, Tetapi prinsip tanggungjawab pasar bebas ini, yang menjamin sikap berhati-hati pengusaha dan pemanfaatan sumberdaya yang ekonomis, tergantung kepada persyaratan bahwa sistem hukum memungkinkan pemilikan sarana produksi oleh pihak swasta.
Dalam kerangka mendukung adanya teori kebijakan persaingan yang sampai hari ini masih belum mampu menawarkan konsep yang jelas dan konklusif mengenai prasyarat kebijakan persaingan dan implementasi dari undang-undang antimonopoli. Oleh karena itu peran dari lembaga-lembaga pengawas persaingan merupakan satu-satunya instrumen yang dapat digunakan untuk mengamankan proses persaingan.
Suatu ekonomi persaingan yang sudah mapan mengalami ancaman dari dua sisi: pertama, pemerintah dan kebijakan ekonominya, dan kedua pelaku pasar swasta yang berupaya menghindari persaingan melalui berbagai strategi yang menghambat persaingan. Dalam upaya menghindari kecenderungan hilangnya ekonomi pasar melalui tindakan-tindakan penghambat persaingan, perlu disusun regulasi persaingan yang bersifat resmi demi perlindungan persaingan. Diperlukan juga suatu institusi yang sedapat mungkin harus independen untuk melaksanakan tugas pengawasan persaingan.
Regulasi hukum untuk perlindungan persaingan perlu menyertakan standar-standar yang bertujuan menghindarkan terbentuknya atau
meningkatnya posisi-posisi dominasi pasar, atau penyalahgunaan dominasi pasar yang sudah terwujud, yaitu:
1. Standar-standar yang mengihindarkan perjanjian kartel yang menghambat persaingan, termasuk perilaku selaras;
2. Standar-standar yang mengatur perjanjian vertikal;
3. Standar-standar yang menghindarkan penggabungan yang bersifat anti persaingan; standar yang menghindarkan penyalahgunaan kekuatan pasar oleh perusahaan-perusahaan yang kuat.
2.6 METODE PENULISAN
Dalam upaya mencapai tujuan dari penulisan ini metode yang digunakan adalah sebagai berikut:
2.6.1 Spesifikasi penelitian
Metode penulisan ini adalah deskriptif analitis dengan cara menganalis data sekunder mengenai berbagai masalah yang berkaitan dengan isu persaingan usaha dalam e-commerce.
E-Commerce dalam Perspektif Persaingan Usaha
2.6.2 Pendekatan
Pendekatan yang dipakai dalam penulisan adalah terhadap kasus/isu yang berkembang terkait dengan masalah e-commerce dalam perspektif hukum persaingan. Pendekatan ini dimaksudkan untuk mengkaji arti, maksud dari isu-isu persaingan dalam e-commerce yang tentunya berkaitan dengan judul studi ini. Disamping pendekatan tersebut dalam penelitian ini juga akan digunakan metode pendekatan non doctrinal khususnya analisa yang digunakan oleh Posner (Economic Analysis of Law), untuk mendukung pendekatan isu.
2.6.3 Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam tulisan ini adalah data sekunder yang diperoleh dari studi literatur dan studi kasus dari pengamatan dan observasi di lapangan.
Penelitian bahan kepustakaan ini meliputi inventarisasi tulisan-tulisan dan peraturan perundangan yang berkaitan dengan masalah transaksi melalui elektronik. Selain itu tulisan ini didukung dengan membaca buku-buku hukum dan ekonomi yaitu yang berkaitan dengan masalah e-commerce dalam perspektif hukum persaingan.
2.6.4 Analisa Data
Semua data sekunder yang sudah terkumpul, sebagaimana dalam penelitian yang sifatnya deskriptif analitis, maka untuk memperoleh hasil penelitian yang mencapai sasaran, analisa data dilakukan secara kualitatif untuk selanjutnya ditarik kesimpulan.
Dr. Sukarmi, S.H.,M.H.