• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR KEKALAHANNYA DI DAPIL KRESEK

B. Tanggapan Mengenai Kekalahan dan Faktor-faktor Kekalahan Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019 Dapil Kecamatan Kresek dalam Perspektif MUI

B.2 Faktor-faktor Kekalahan Ma’ruf Amin pada Pilpres 2019 Dapil Kecamatan Kresek Kecamatan Kresek

B.2.1 Tidak Semua Pengurus MUI Kresek Memilih Ma’ruf

Dilihat dari sejarahnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri merupakan sebuah lembaga yang bersifat independen (baik MUI pusat maupun MUI di daerah) yang berarti bahwa MUI tidak memiliki ikatan atau aliran politik dengan pemerintah. Meskipun demikian banyak pihak yang mempertanyakan bagaimana hubungan MUI dengan pemerintah yang mana pertanyaan itu muncul karena tidak adanya kewenangan pemerintah dalam mengorganisir ulama yang ada di daerah.

“Pada saat pemilihan presiden tahun 2019 Majelis Ulama Indonesia (MUI) di pusat tidak memberikan himbuan atau fatwa kepada anggota MUI di daerah Kresek untuk mendukung atau memilih calon A ataupun calon B.

pilihan politik anggota MUI di Kresek diserahkan kepada pilihan masing-masing individu.”13

MUI merupakan salah satu civil society keagamaan, menurut Saradika MUI memiliki peran dan fungsi yang penting dalam masyarakat yang mana

13 Hasil Wawancara dengan KH Imaduddin Utsman, Wakil Ketua Umum MUI Kresek, di Ponpes Nahdatul Ulum, pada tanggal 16 Agustus 2020.

84

lembaga tersebut didirikan sebagai wadah bagi para ulama untuk mempersatukan pendapat dan pikiran terkait masalah umat secara menyeluruh.14

Seiring berjalannya waktu MUI kini kembali membuka diri, meskipun lembaga tersebut bersifat independen akan tetapi banyak para pengurusnya terlibat dalam politik praktis khususnya pada pilpres 2019, baik yang mendukung Jokowi-Ma‟ruf maupun Prabowo-Sandi. Menurut Dawam Rahardjo dalam bukunya yang berjudul “Intelektual Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa Risalah Cendekiawan Muslim” menjelaskan tentang ciri-ciri ulama salah satunya adalah tergabung dalam kepengurusan MUI serta dapat terlibat dalam politik.

Cukup banyaknya pengurus MUI yang terlibat dalam politik meskipun tidak mengatasnamakan MUI baik di tingkat pusat maupun daerah,15 seperti halnya yang dilakukan oleh anggota MUI di Kresek. Sebagian besar anggota MUI Kresek ikut terlibat dalam proses kampanye politik. Sesuai dengan hasil wawancara penulis dengan Wakil Ketua Umum MUI Kresek yang mengatakan bahwa “99 persen kiyai-kiyai yang taat pada politik mendukung KH. Ma‟ruf Amin.”16

Terpilihnya Ma‟ruf Amin sebagai cawapres Jokowi ternyata tidak serta merta membuat semua para pengurus MUI di Kecamatan Kresek

14 Ali Abdillah dan Rico Novianto. “Lembaga Quasi Non Governmental Organization (QUANGO) dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia: Majelis Ulama Indonesia. Jurnal Hukum dan Pembangunan. Vol, 1. No. 49 (Maret, 2019). Hal. 121

15 M. Dawam Rahardjo. Intelektual Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa Risalah Cendekiawan Muslim, hal, 195

1616

Hasil Wawancara dengan KH Imaduddin Utsman, Wakil Ketua Umum MUI Kresek, di Ponpes Nahdatul Ulum, pada tanggal 16 Agustus 2020.

85

mendukung Jokowi-Ma‟ruf sebagai pilihan politiknya pada pilpres 2019.

Meskipun sebagian besar dari pengurus lebih banyak mendukung KH Ma‟ruf sebagai pilihan politiknya. Sosok Ma‟ruf sebagai Ketum MUI dan menjadi cawapres tidak membuat MUI Pusat memberikan himbauan kepada MUI yang ada di daerah untuk memilih Jokowi-Ma‟ruf.17

“Kalau himbauan dari pusat sih ya kemarin itu kurang begitu, di Kabupaten pun kayaknya enggak ada, ya artinya enggak tau ya mungkin ada di Kalangan bawah cuma kalo secara terang-terangan enggak ada pada saat itu. kalau dulu-dulu ya dari kiyai-kiyai setempat itu selalu menganjurkan, cuma kalo sekarang enggak, apa ini yang menunjukan adanya ketidakkompakannya itu barangkali ya karna alasannya, banyak doktrin itu yang menjelek-jelekan ulama kan, kan banyakan ya kemarin hoax itu sebabnya dan tidak semua juga pengurus MUI mendukung bapak ma‟ruf kemarin.”18

Berbicara mengenai ada atau tidak adanya himbauan yang dilakukan oleh MUI pusat kepada MUI yang ada di daerah seperti di Kresek ini menurut analisis dari penulis, dapat dilihat bahwa meskipun ada himbauan kurang begitu diperhatikan oleh anggota MUI Kresek sendiri. Sesuai dengan hasil wawancara penulis dengan mantan pengurus MUI Tangerang yang menjelaskan bahwa mengenai ada atau tidak adanya himbauan dari MUI Pusat, meskipun ada biasanya tidak di dengar di MUI daerah sehingga pilihan politik yang dipilih para pengurus MUI di daerah berdasarkan pilihan dari masing-masing individu.19

17 Mohammad Baihaqi. “Legitimasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Kontestasi Islam Politik Mutakhir. Jurnal Kajian Politik Islam. Vol, 2. No. 2 (Juli-Desember 2019). Hal. 37-38

18 Wawancara dengan Ustad Ali Ridho, Bendahara MUI di Kecamatan Kresek, di Rumah Kediaman Beliau di Kresek, pada 4 September 2020.

19 Wawancara dengan KH. Dr. Sofyan Rosyada, M.BA, Pengurus NU di Banten dan Mantan Pengurus MUI, di Kediaman Rumah Beliau di Tangerang, pada 5 Juli 2020.

86

Anggota MUI Kresek lebih melihat pilihan sosok gurunya atau sosok yang dihormatinya, kebetulan sosok tersebut adalah KH Ma‟ruf yang masih memiliki ikatan kultural, struktural dan menjadi sosok sepuh di kampung Kresek. Akan tetapi karena adanya faktor lain, pada akhirnya membuat sebagian ulama di Kresek tidak memilih Ma‟ruf.

“Tidak ada himbauan dari MUI pusat kepada MUI di daerah. para jama‟ah untuk memilih calon A atau calon B Missal pada pilpres kemarin kan tidak di sangka tidak di duga KH. Ma‟ruf kalah, tapi kata KH Maruf yang penting menang secara umum. Kita enggak tahu kenapa orang tidak memilih KH Maruf padahal dia orang kresek, abah juga bingung sebetulnya mungkin ada faktor lain yang pada akhirnya membuat sebagiannya lagi tidak memilih Ma‟ruf.” 20

Berdasarkan dari hasil wawancara dan analisis di lapangan, peneliti dapat memahami bahwa himbauan yang dilakukan oleh MUI pusat tidak begitu masif, tetapi yang gencar terjadi adalah himbauan-himbauan yang di lakukan oleh anggota atau pengurus MUI Kresek sendiri kepada para jama‟ah dan masyarakat di Kresek. Sebagaimana penjelasan dari ustad Mu‟id yang mengatakan bahwa “otomatis di bawah pasti ada, tapi ya itu sifatnya berbicara agama tidak bisa dilarikan ke politik, tapi politik bisa dilarikan ke agama artinya agama tidak bisa ikut ke politik tapi politik bisa ikut ke agama.”21

B.2.2 Tidak Mendapatkan Dukungan Sepenuhnya dari Para Ulama