• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat intregasi Berdasarkan Jenis intervensi

Dalam dokumen integrasi upaya penanggulangan hiv publish (Halaman 112-116)

PoLA iNTEGRAsi

masyarakat 14. Partisipasi Masyarakat + + +

D. Tingkat intregasi Berdasarkan Jenis intervensi

Apabila dilihat berdasarkan jenis intervensinya, gambaran tingkat integrasi fungsi-fungsi sistem kesehatan bisa dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Tingkat Integrasi Program HIV dan AIDS berdasarkan Jenis Intervensi

no Dimensi cegah anpen - Dukungan dan pengobatan, perawatan mitigasi Dampak 1 Regulasi +++ +++ +++ 2 Formulasi Kebijakan +++ +++ +++ 3 Akuntabilitas + + +

4 Pengelolaan Sumber Pembiayaan + + NA

5 Penganggaran, proporsi, distribusi

dan pengeluaran + + +

6 Mekanisme Pembayaran Layanan + + +

7 Ketersediaan Layanan +++ +++ +++

8 Koordinasi dan Rujukan +++ +++ ++

9 Jaminan Kualitas Layanan ++ ++ +

10 Kebijakan dan Sistem Manajemen

SDM + + NA

11 Pembiayaan SDM + ++ NA

12 Kompetensi SDM + +++ NA

13 Regulasi Penyediaan,

Penyimpanan, diagnostik dan terapi

+ +++ NA

14 Sumber daya + +++ NA

15 Sinkronisasi Sistem Informasi + + +

16 Diseminasi dan Pemanfaatan + + +

17 Partisipasi Masyarakat + + +

18 Pemanfaatan Layanan ++ ++ ++

Sumber: Laporan Tim Peneliti Universitas (2014)

1. Tingkat integrasi untuk Program Pencegahan

Tabel 8 menggambarkan bahwa program pencegahan secara umum tidak terintegrasi, di mana hanya ada 4 dari 18 dimensi yang memiliki integrasi penuh antara program dengan sistem kesehatan, 2 dimensi terintegrasi sebagian, dan 12 dimensi fungsi sistem kesehatan lainnya tidak terintegrasi.

Dimensi regulasi dan formulasi kebijakan untuk intervensi pencegahan terin-tegrasi penuh karena regulasi di tingkat daerah telah mengatur intervensi pence-gahan, dan diformulasikan sesuai dengan proses penyusunan kebijakan daerah. Dimensi ketersediaan layanan juga sudah terintegrasi penuh karena layanan pence-gahan sudah menjadi bagian dari sistem kesehatan umum yang didukung oleh sektor non-kesehatan seperti LSM, kelompok dukungan, kader kesehatan, dan tokoh masyarakat. Program pencegahan yang disediakan di fasilitas kesehatan seperti VCT, PITC, LASS, PTRM, dan PMTS telah menjadi bagian dari layanan fasilitas kesehatan primer. Demikian juga dimensi koordinasi dan rujukan terintegrasi penuh karena koordinasi dan rujukan menjadi unsur pokok dari pendekatan LKB yang telah dilaksanakan di sebagian besar daerah penelitian melalui mekanisme koordinasi rutin antar-pemangku kepentingan lintas-sektor yang terdiri atas KPA, Dinkes Kota, rumah sakit, fasilitas layanan primer, LSM, KDS, tokoh, dan kader kesehatan.

Dimensi yang terintegrasi sebagian mencakup jaminan kualitas layanan dan pemanfaatan akses layanan. Secara umum sudah ada mekanisme jaminan kualitas layanan melalui sertifikasi dan berbagai pelatihan untuk tenaga kesehatan yang terli-bat dalam program-program pencegahan. Misalnya, tenaga kesehatan yang mela-kukan peran konseling mendapatkan pelatihan dan pendidikan dari Kemenkes. Selain pelatihan, ada pula berbagai panduan yang bertujuan untuk memastikan petugas kesehatan mampu melakukan tugasnya sesuai standar kompetensi yang ditetapkan. Meskipun demikian, sebagian besar tenaga non-kesehatan yang mayoritas melakukan program-program pencegahan tidak bersertifikasi. Secara umum, tenaga non-kese-hatan yang bekerja dalam intervensi pencegahan melakukan tugasnya dengan basis keahlian yang diperoleh dari pengalaman lapangan serta melalui pelatihan yang diberikan oleh Dinkes dan MPI.

Dimensi pemanfaatan layanan juga terintegrasi sebagian. Obat dan alat pence-gahan memang sudah bisa diakses secara gratis oleh populasi kunci karena dibia yai oleh pemerintah melalui dana program, tetapi akses melalui JKN tidak dimung kinkan karena alat pencegahan seperti kondom dan jarum suntik serta metadon tidak masuk dalam skema pembiayaan yang ditanggung oleh JKN.

Pembiayaan untuk pencegahan yang dianggarkan melalui banyak sektor di luar kesehatan menyebabkan pembiayaan tidak terintegrasi ke dalam sistem kesehatan. Sumber pendanaan yang berasal dari MPI sulit untuk dikoordinasikan. Alokasi pembiayaannya untuk program-program pencegahan yang dibuat berdasarkan peren-canaan serta prioritas dari MPI, bukan perencanaaan dan prioritas sektor kesehatan. Program-program pencegahan yang dibiayai oleh MPI juga tidak ditanggung oleh JKN. Pengelolaan SDM-nya juga tidak terintegrasi karena untuk program-program pencegahan ada banyak penyedia layanan di luar tenaga kesehatan pemerintah yang terlibat, seperti LSM, KDS, dan kader masyarakat. Sektor kesehatan tidak melakukan koordinasi bagi SDM non-kesehatan ini, baik dari aspek regulasi, pembiayaan maupun standar kompetensi.

Hal yang sama untuk fungsi penyediaan, penyimpanan, diagnostik dan terapi baik dari dimensi regulasi dan sumber daya. Belum adanya regulasi untuk penga-turan logistik pencegahan dan skema pembiayaannya menjadikan dimensi logistik pencegahan tidak menjadi bagian dari sistem kesehatan. Pembiayaan untuk penga-daan logistik terkait pencegahan seperti metadon, kondom, pelicin dan alat suntik masih mengandalkan MPI.

2. Tingkat integrasi untuk Program PDP

Dibanding program pencegahan, PDP cenderung lebih terintegrasi ke dalam sistem kesehatan karena telah memanfaatkan infrastruktur dan sumber daya kese-hatan umum. Selain itu, peran tradisional sektor kesekese-hatan memang pada aspek kuratif sehingga intervensi yang mengarah pada kontrol medis cenderung lebih mudah untuk diintegrasikan. Dari 18 dimensi, ada 7 yang terintegrasi penuh, 3 terintegrasi sebagian, dan sisanya (8 dimensi) tidak terintegrasi.

Sama seperti program pencegahan, dimensi regulasi dan formulasi kebijakan pada PDP terintegrasi penuh karena aspek regulasi dan formulasi kebijakan tentang PDP sudah menjadi bagian dari sistem penanggulangan penyakit menular lainnya. Di luar fungsi manajemen dan regulasi ini, semua dimensi yang terintegrasi ialah dimensi-dimensi yang berhubungan erat dengan kompetensi utama sektor kesehatan saat ini, yaitu dalam pengobatan. Pertama, fungsi penyediaan layanan PDP terinte-grasi penuh karena disediakan di fasilitas kesehatan sekunder dengan prosedur pem-berian layanan yang diperlakukan sebagaimana penyakit lainnya. Kedua, layanan pengobatan tersebut disediakan oleh SDM kesehatan yang standar kompetensinya diatur oleh sistem kesehatan. Ketiga, regulasi dan sumber daya yang digunakan untuk pengadaan, distribusi, dan penyimpanan obat serta alat kesehatan untuk layanan PDP telah menggunakan mekanisme dalam sistem kesehatan.

Tiga dimensi dari PDP yang terintegrasi sebagian yaitu jaminan kualitas layanan, pembiayaan SDM, dan akses pemanfaatan layanan. Jaminan kualitas layan-an untuk PDP relatif lebih terintegrasi daripada intervensi pencegahlayan-an karena melibatkan tenaga kesehatan saja sehingga lebih mudah dikoordinasikan dalam sistem kesehatan. Pembiayaan SDM untuk intervensi PDP juga terintegrasi sebagian, karena walaupun layanan sudah diberikan oleh SDM kesehatan tetapi di sebagian besar daerah mereka masih mendapatkan insentif tambahan untuk layanan PDP yang mereka lakukan. Akibatnya, timbul persepsi bahwa layanan HIV dan AIDS adalah “tugas tambahan”. Sedangkan untuk dimensi akses pemanfaatan layanan tidak terintegrasi penuh karena meskipun pengobatan ARV dapat diakses secara gratis dan JKN dapat digunakan untuk membiayai IO, tetapi ada komponen-komponen yang tidak ditanggung seperti serangkaian tes sebelum inisiasi ARV (pra-ARV). Ini turut memengaruhi pemanfaatan layanan oleh ODHA dan populasi kunci.

3. Tingkat integrasi untuk Program mitigasi Dampak

Untuk program mitigasi dampak hanya sangat sedikit dimensi yang terintegrasi penuh, yakni dimensi regulasi dan formulasi kebijakan serta dimensi ketersediaan layanan. Dari segi regulasi, program mitigasi dampak sudah diatur sehingga terinte-grasi, demikian pula dengan mekanisme formulasi kebijakan yang mengikuti meka-nisme penyusunan kebijakan yang berlaku di pemda. Dimensi ketersediaan layanan juga terintegrasi sebab telah tersedia layanan-layanan mitigasi dampak meliputi kegiatan-kegiatan pengembangan ketrampilan bagi ODHA dan populasi kunci, pemberian bantuan makanan tambahan, dukungan pengembangan usaha ekonomi produktif, serta bentuk-bentuk jaminan sosial.

Sebagaimana dibahas sebelumnya, program-program ini disediakan oleh instansi di luar Dinkes. Umumnya Dinas Sosial yang melakukan program-program mitigasi dampak. Beberapa di antaranya dilakukan oleh lembaga seperti BNN, ada pula program-program yang diselenggarakan oleh masyarakat langsung seperti kelompok-kelompok gereja di Papua. Dinkes sendiri belum mengutamakan program-program di luar pengobatan dan perawatan, sehingga masih kurang melakukan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan mitigasi dampak. Akibatnya, program mitigasi dampak berkembang di luar fungsi-fungsi sistem kesehatan.

Hal inilah yang menjelaskan mengapa banyak dimensi fungsi sistem kesehatan yang tidak terintegrasi. Dimensi penganggaran dan mekanisme pembayaran layanan, misalnya, tidak terintegrasi karena umumnya program-program di atas dikelola dan ditanggung pembiayaannya oleh Dinas Sosial. Demikian pula dengan dimensi jaminan kualitas layanan, tidak terintegrasi karena tidak ada pengawasan kualitas

layanan yang dilakukan oleh sistem kesehatan terhadap program-program mitigasi dampak. Sama halnya dengan sistem informasi, di mana program-program tersebut tidak dilaporkan di dalam mekanisme pelaporan yang digunakan di dalam sistem kesehatan.

Dalam dokumen integrasi upaya penanggulangan hiv publish (Halaman 112-116)