• Tidak ada hasil yang ditemukan

TQN al-Uthma>niyah dan Jama’ah al-Khidmah

TAREKAT SEBAGAI MODEL RELIGIUSITAS MASYARAKAT PERKOTAAN

A. Kemunculan dan Perkembangan TQN al-Oesmaniyah

5. TQN al-Uthma>niyah dan Jama’ah al-Khidmah

138

maupun saat jauh darinya.84Kelima, Tidak menyembunyikan perjalanan ruhani kepada gurunya.85

5. TQNal-Uthma>niyah dan Jama’ah al-Khidmah

Salah satu hal yang dilakukan oleh Kyai Asrori -dan sepertinya tidak dilakukan oleh murshid lain- adalah membuat organisasi kemasyarakatan untuk mem-back up kegiatan tarekatnya. Organisasi ini diberi nama Perkumpulan Jama’ah al-Khidmah86 yang dideklarasikan dalam acara Halal bi Halal dan Sarasehan pada tanggal 23 Dhul Qa’dah 1426 H/25 Desember 2005 bertempat di Pondok Pesantren as-Salafi al-Fithrah, Semarang, Jawa Tengah.87

Susunan kepengurusan organisasi ini dibentuk secara struktural mengikuti struktur pemerintahan. Dengan demikian kepengurusan Perkumpulan Jama’ah al-Khidmah terdapat di tingkat desa, kecamatan, kabupaten, propinsi dan tingkat nasional. Perkumpulan Jama’ah al-Khidmah

84

Tentang kewajiban menjaga adab, ShaykhAbdul Waha>b al-Sha’ra>ny mengupasnya dalam salah

satu karyanya yaitu Lawa}qih Anwa}r al-Qudsiyyah fi} Ma’rifah Qawa}id al-S}u>fiyyah. Diuraikan

juga oleh al-Habib ‘Abdullah ibn ‘Alawy al-Haddad dalam kaitab karyanyaA>da>b Sulu>k al-Muri>d.

85Muhammad Utsman al-Ishaqy, ‘Aun a-Rafi]q; fi> Shaykh al-Tarbiyyah wa al-Adab al-Muri>d fi> al

Thari>q (Singapura: Pustaka Nasional Pribit Ltd, tt), 30-33. Lihat juga Achmad asrori al-Ishaqy, Basha>ir Ikhwa>n; fi> Tabri>d Muri>di>n ‘an H}ara>rah Fitan wa Inqa>’dihim ‘an Shabakah al-H}irma>n (Surabaya: Maktabah Saqa>fiyah, tt), 22-26.

86Organsasi ini telah berbadan hukum berdasarkan keputusan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia nomor AHU-0000535.AH.01.08 tahun 2018. Akta pendirian Jama’ah al-Khidmah pertama kali dibuat pada tanggal 25 Februari 2010 nomor 9 di Semarang, dihadapan notaris Muhammad Hafidz. Kemudian diperbaiki dengan akta tanggal 10 Nopember 2010, nomor 1 di Gresik, dihadapan notaris Yusuf Bashori. Kemudian memperoleh pengesahan Kemenkumham dengan SK nomor AHU-25.AH.01.06 tahun 2011. “Wawancara”, Emil Sanif Tarigan, 26 Juni 2019.

87

Selain dihadiri oleh para pengikut tarekat al-Qa>diriyah wa al-Naqshabandiyyah al-Uthmaniyyah

perwakilan dari seluruh Indonesia dan luar negeri, acara deklarasi ini juga dihadiri oleh pejabat

pemerintah dari unsur TNI, Polri dan Sipil. Hadir juga beberapa rektor dan guru besar Perguruan Tinggi, diantaranya Prof. Dr. H. M. Nuh, DEA yang saat itu menjabat sebagai rector ITS, Prof. Dr. H. Rofiq Anwar, Rektor Unissula Semarang dan DR. Aminuddin Sanwar, MM., dekan fakultas dakwah IAIN Wali Songo Semarang dan Habib Hasan Toha, ketua yayasan Unissula. Hasanuddin,

139

adalah semacam event organizer (EO) untuk kegiatan majlis atau ritual tarekat yang melibatkan jama’ah yang banyak. Dalam setiap penyelenggaran majlis pengurus Perkumpulan Jama’ah al-Khidmah bekerja sama dengan kepengurusan tarekat yang terdapat hampir di setiap daerah dengan susunan sebagaimana kepengurusan Perkumpulan Jama’ah al-Khidmah.

Menariknya, para pengikut Jama’ah al-Khidmah semakin hari terus bertambah. Jika ditelusuri dari perspektif sosiologi, perkembangan Jama’ah al-Khidmah ini sangat mungkin karena organisasi ini sesuai dengan teori strategi dakwah yang dicetuskan oleh Masdar Hilmi. Menurutnya, agar dakwah tidak kehilangan elan vitalitasnya di era globalisasi ini, ada empat strategi yang harus dijalankan, yaitu :

Pertama, konten dakwah harus bisa menjadi obat mujarab (panacea) bagi manusia pascamodern yang telah tercerabut dari akar-akar spiritualisme mereka sehinnga mereka terjangkit penyakit keterasingan jiwa.

Kedua, format dakwah tidak lagi mengandalkan kemampuan retorika oral, tidak hanya dilakukan face to face, akan tetapi juga harus memanfaatkan teknologi.

Ketiga, dakwah diorganisasikan, tidak mengandalkan metode one man show. Dalam arti, dakwah dilakukan secara kolektif berbasis manajemen organisasi dibawah sebuah lembaga khusus agar mudah dikoordinasikan dan dikelola.

140

Keempat, memanfaatkan infra dan suprastruktur di kalangan umat, seperti kemampuan pendanaan dan sumberdaya manusia yang mumpuni.88

Hal lain yang dilakukan oleh Kyai Asrori adalah ia membagi jama’ahnya menjadi tiga kelompok, padahal pada umumnya seorang murshid tarekat hanya mempunyai satu kelompok pengikut yang disebut murid. Ketiga macam jama’ah Kyai Asrori adalah muridin, muhibbin dan mu’taqidin (Jama’ah al-Khidmah).

Murid adalah seseorang yang telah mengikuti bay’at kepada seorang guru tarekat.

Muhibbin adalah orang-orang yang mempunyai i’tikad yang kuat dan mantap, yang mencintai dan bersama-sama berkumpul dan mengikuti ‘amaliah serta akhlak para guru tarekat atau para ulama salaf salih dan para pini sepuh.

Sedangkan jama’ah al-Khidmah adalah kumpulan orang yang mengikuti kegiatan umum yang telah ditetapkan dan diamalkan oleh para guru tarekat atau para ulama salaf salih dan para pini sepuh pendahulu.89

Pembagian kelompok ini juga menjadi salah satu penyebab jama’ah Kyai Asrori terus bertambah, bahkan setelah ia meninggal dunia. Sebab pada umumnya untuk menjadi pengikut murshid seseorang harus ber-bay‘at terlebih dahulu, sedangkan pengikut Kyai Asrori meskipun tidak mengikuti bay‘at termasuk kelompok jama’ahnya, karena masuk ke dalam kategori kelompok kedua atau ketiga.

88

Masdar Hilmi, Islam Profetik; Substansi Nilai-Nilai Agama dalam Ruang Publik (Jakarta: Kanisius, 2008), 97-100.

141

Dalam hal manajemen organisasi, meskipun yang diurus tidak jauh dari pelaksanaan majlis zikir, Perkumpulan Jama’ah al-Khidmah termasuk organisasi modern. Organisasi ini memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), manajemen keuangan yang transparan, Standar Operating Prosedur (SOP) penyelenggaraan ritual acara yang jelas dan memiliki agenda rutin rapat kerja (Raker) dan musyawarah baik tingkat kabupaten (Musda), provinsi (Muswil), maupun nasional (Munas).90