Kerangka Agama Islam
7.2 Tujuan Syariat Islam
Dalam Q.S An-Nisaa [4] ayat 28, dinyatakan :
Allah doth wish to lighten your (difficulties), for man was cre- atedweak(inflesh).
(Artinya : Allah menghendaki keringanan bagi kamu sekalian, dan telah diciptakan manusia itu dalam keadaan lemah).
Dari ayat tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa Allah ingin meringankan manusia dengan syariat agama-Nya, karena ma- nusia diciptakan dalam keadaan lemah. Manusia akan merasa ringan dalam melaksanakan kehidupannya bila ia hidup berdasarkan syariat yang telah sengaja Allah turunkan dan diutusnya Rasul sebagai contoh pelaksanaannya. Bukan hanya ringan, tetapi Allah juga ingin mem- permudah manusia dan tidak ingin mempersulitnya sebagaimana ket- erangan ayat berikut ini : QS. ke 2 ayat ke 185
Ramadan is the (month) in which was sent down the Qur‟an as a guide to mankind, also Clear (signs) for guidance and judgment (between right and wrong). So every one of you who is present (at his home) during that month should spend it in fasting, but if any one is ill, or on a jurney, the prescribed period (Should be made up) by days later. Allah intends every facility for you: He does not want to put you to difficulties (He wants you) to complete the prescribed priod and to glory Him in that He has guided you : and perchance ye shall be grateful.
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk- Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur).
Melalui bulan Ramadhan Allah meringankan cara melaksanakan ibadah yakni melaksanakan shaum itu sendiri, misalnya bagi orang sakit, orang dalam perjalanan (musafir) boleh berbuka, namun diganti pada hari lain. Berpuasa (shaum) merupakan latihan untuk mempersiapkan perjuangan di bulan lainnya yakni sebelas bulan setelah bulan Ramadhan, agar manusia memiliki kemampuan mengatasi ujian-ujian dari Allah, yang di antaranya
tersebut dengan bersabar, memalui kesabaran hidup menjadi ringan, potensi bersabar telah di bangun dan dibiasakan melalui shaum. Terhindar dari penyimpangan atau perilaku menyimpang, dan selalu dalam ketaatan. Di sisi lain hidup manusia sering diberatkan oleh tuntutan hawa nafsu yang muncul dari dalam dirinya berupa nafsu serakah, nafsu birahi, nafsu makan, mempertahankan dan menunjukan diri, serta nafsu syaithaniah yakni malas dan sombong. Dengan shaum nafsu-nafsu tersebut di rendam, di tekan, dan dikendalikan sehingga tidak berjaya memancarkan sinarnya menguasai hati manusia, karenanya tidak akan memberatkan, menyulitkan. Dengan demikian hidup menjadi ringan. Dalam waktu bersamaan sifat ilahiyah yakni ruh yang di tiupkan Allah mempunyai kesempatan dan dukungan untuk berkembang lebih leluasa menguasai hati, hingga berkembang menjadi hati yang baik. Jika hati manusia baik, maka baiklah seluruh anggota tubuhnya, namun jika hati itu jelek maka jeleklah seluruh anggota badannya demikian menurut Rasulullah Saw.
Setelah Allah menetapkan syariat melaksanakan shaum di bulan Romadhan, Allah menjelaskan bahwa dengan syariat tersebut Allah menghendaki kemudahan bagi kehidupan manusia, dan tidak meng- hendaki kesukaran. Oleh karena itu setiap bertemu dengan kesukaran Allah selalu melangkapinya dengan kemudahan, sehingga dibalik ke- sukaran selalu ada kemudahan. Sebagaiman dijelaskan Allah dalam QS.
So,verily,with everydifficulty,thereisrelief(5).Verily,whith everydifficultythereisrelief(6).
(Artinya : Maka Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemuda- han. Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan).
Dan Allah senantiasa ingin menyempurnakan syariatnya meski- pun orang-orang musyrik tidak menyukainya. Sebagaimana dinyatakan dalam Q.S. As-Shaff ayat 8, 9 sebagai berikut :
Their Intention is to extinguish Allah‟s light (by blowing) with their mounths : but Allah will complete (the revelation of ) His light, even though the unbelievers may detest (it) (8 ). It is He Who has sent His Massenger with Guidance and the Religion of Truth, that he may proclaim it over all religion, even though the Pagans may detest(it) (9).
(Artinya:Mereka(orang-orangkafir)inginmemadamkancahaya (agama) Allah dengan ucapan-ucapan mereka dan Allah tetap menyempurnakan (syaariat / agama) Nya, meskipun orang- orangkafir itubenci. (8) Diayang telahmengutus Rasul-Rasul- Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk mengugguli agama-agama lain seluruhnya walupun orang-orang kafiritubenci).
Mengikuti Syariat Allah mengandung arti mengikuti jalan hidup yang selalu di sempurnakan, diringankan, dimudahkan, oleh Allah. Dengan mengikuti contoh Rasul-Rasul-Nya dan mengikuti petunjuk agama (Al-Qur‘an dan Sunah Rasul-Nya) dapat mengibarkan bendera
kemenganan, menggapai ampunan dan surga kenikmatan, mengelu- arkan umat manusia dari kegelapan kepada pencerahan yang terang benderang, meraih keberuntungan yang tidak akan pernah rugi. Tertu- tuplah jalan kerugian sebabnya adalah setiap ujian atau musibah yang oleh orang lain dipandang sebagai kerugian atau kebangkrutan, orang yang mengikuti syariat Islam memandangnya sebagai ujian dari Allah, yakni matarantai kehidupan yang harus dilalui dalam meningkatkan derajat atau psosisi hidupnya. Lalu Ia bersabar, menggunakan daya tahannya, mengendalikan hawa nafsunya, menjadi orang yang kuat, maka ia memperoleh keberuntungan. Sebaliknya ketika ia mendapat kemenangan atau keberuntungan berupa karunia dari Allah, ia juga memandang sebagai ujian untuk mensyukurinya, ia kerahkan sege- nap kekuatannya untuk meraih nikmat yang lebih banyak dan abadi berkesinambungan dari dunia sampai akhirat dengan bekerja keras mengumpulkan kekayaan dan kenikmatan akhirat. Lalu ia bersyukur atas karunia itu dan dia bertambah keberuntungannya. Islam mengug- guli agama-agama lain seluruhnya (the Religion of Truth, that he may proclaim it over all religion). Sakaliupun orang-orang kafir itu mem- bencinya.
-oo0oo-