Ternyata masih menimbulkan perdebatan terhadap penggunaan istilah bahasa dan dialek seperti telah diuraikan di atas, sehingga banyak
1. Variasi Bahasa dan Dialek
Seperti telah diuraikan di atas bahwa para ahli bahasa mengalami kesulitan dalam menentukan pengertian bahasa dan dialek. Menurut Wardhaugh (1998) hal ini disebabkan karena kita mendefinisikan istilah bahasa itu dengan mencoba memasukkan berbagai jenis dan macam perbedaan dari suatu sistem komunikasi dalam satu label. Oleh sebab itu diperlukan suatu pendekatan alternatif yang dapat memberikan suatu definisi yang lebih mungkin. Menurut pendekatan ini dialek adalah sub variasi dari
satu bahasa dan pendekatan alternatif ini mengakui adanya bahasa-bahasa yang berbeda dan mencoba menemukan perbedaan dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Bell (1976) menetapkan tujuh kriteria dalam mendiskusikan jenis perbedaan-perbedaan bahasa. Ketujuh jenis kriteria terebut adalah sebagai berikut: standardization, vitality, historicity, autonomy, reduction, mixture, dan
de facto norms.
Pertama, standardization adalah suatu proses di mana suatu bahasa dikodifikasi. Proses ini menunjukkan fungsi suatu variasi yang menyatukan individu-individu dan kelompok dalam suatu komunitas yang lebih luas dan pada saat yang sama memisahkan komunitas terebut dari komunitas yang lain.
Kedua, vitality mengacu kepada eksistensi komunitas dari penutur suatu bahasa. Kriteria ini dapat membedakan apakah suatu bahasa itu masih hidup atau sudah mati berdasarkan keberadaan penuturnya. Di Inggris misalnya terdapat dua bahasa celtic, yaitu Manx merupakan bahasa tua di isle of man, yang sudah mati setelah perang dunia ke II, sementara Cornish, merupakan bahasa yang tidak ada lagi pemakainya sejak abad ke 18 (Wardhaugh, 1998). Beberapa bahasa latin dan bahasa sansakerta meskipun sudah mati tetapi masih hidup (vital).
Ketiga, historicity dapat diartikan untuk menunjukkan fakta bahwa sekelompok orang tertentu menemukan identitas mereka melalui penggunaan satu bahasa tertentu dan menunjukkan bahwa mereka masuk dalam kelompok tersebut. Ikatan sosial, agama, politik, atau etnik mungkin juga penting bagi kelompok mereka, tetapi ikatan karena berbagi dan menggunakan bahasa yang sama terbukti lebih kuat dari pada ikatannya.
Keempat, autonomy berhubungan dengan perasaan suatu bahasa harus dirasakan perbedaannya dari bahasa-bahasa yang lain oleh penuturnya. Kriteria ini dapat dikatakan sangat subyektif sifatnya.
Kelima, yaitu reduction merupakan suatu variasi dapat dianggap sebagai suatu sub variasi saja, bukan sebagai suatu entitas yang mandiri, karena keterbatasan bahasa tersebut.
Keenam, yaitu mixture. Kriteria ini menunjukkan perasaan penutur suatu bahasa terhadap keaslian (purity) variasi yang mereka gunakan. Kriteria ini untuk sebagian penutur lebih penting dibandingkan dengan perasaan sebagian penutur lain. Sebagai contoh untuk penutur bahasa Prancis dan bahasa Jerman, kriteria ini lebih penting dibandingkan dengan perasaan penutur bahasa Inggris.
Ketujuh, yaitu kriteria de facto norms. Kriteria ini merujuk ke perasaan sebagian besar penutur bahasa yang merasakan bahwa mereka adalah penutur yang baik dan penutur bahasa yang buruk (good speakers and poor speakers). Penutur bahasa yang baik merepresentasikan norma dan pemakaian bahasa yang tepat. Ketika semua penutur bahasa mereka secara lisan dan tulisan buruk, maka hal ini sering diasosiasikan dalam bahasa yang dalam proses kematian.
Berdasarkan ketujuh kriteria mengenai perbedaan dan variasi Bahasa sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka dalam hal ini Wardhaugh (1998) memberikan komentar akhir mengenai istilah bahasa dan dialek. Dialek menurut Wardhaugh merupakan sub-variasi dari suatu bahasa.
Sebagai sebuah langue sebuah bahasa mempunyai sistem dan subsistem yang dipahami sama oleh semua penutur bahasa itu. Namun, karena penutur bahasa tersebut, meski berada dalam masyarakat tutur (speech community), tidak merupakan kumpulan manusia yang homogen, maka wujud bahasa yang konkret yang disebut parole, menjadi tidak seragam. Bahasa itu menjadi beragam dan bervariasi. Terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa ini menurut Abdul Chaer dan Leonie Agustina (2004) bukan hanya disebabkan oleh para penuturnya yang tidak homogen, tetapi juga karena kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam. Setiap kegiatan memerlukan atau menyebabkan terjadinya keragaman bahasa itu. Keragaman
ini akan semakin bertambah kalau bahasa tersebut digunakan oleh penutur yang sangat luas. Misalnya bahasa Inggris yang digunakan hampir di seluruh dunia, bahasa Arab sebagai bahasa agama Islam dikenal hampir di seluruh dunia, dan bahasa Indonesia yang penyebarannya dari Sabang sampai Merauke. Holmes (1994) dalam hal ini juga mengemukakan adanya variasi bahasa dan ia mengelompokkan variasi bahasa ini ke dalam dua kelompok, yaitu variasi bahasa dalam masyarakat monolingual dan variasi bahasa dalam masyarakat multilingual. Variasi bahasa dalam masyarakat monolingual merujuk ke perbedaan bahasa yang dipakai oleh satu kelompok ke kelompok yang lain. Perbedaan ini terdapat pada pengucapan (pronounciation), tata bahasa (grammatical), dan kosakata (vocabulary). Sebagai contoh adalah variasi bahasa Inggris orang-orang Skotlandia dan bahasa Inggris orang-orang Inggris. Meskipun terdapat perbedaan bahasa pada kedua masyarakat ini, ( menurut Meyerhoff (2006) bahwa perbedaan-perbedaan itu biasanya berhubungan dengan ujaran individual yang berkaitan dengan addressee, konteks sosial, tujuan-tujuan personal atau tugas-tugas yang disusun secara eksternal), tetapi tetap ada fitur-fitur yang berfungsi secara universal.
Variasi bahasa dalam masyarakat multilingual oleh Holmes (1994) dikelompokkan ke dalam bahasa standar dan bahasa standar. Bahasa non-standar disebut vernacular. Holmes mendefinisikannya sebagai berikut: “There are three components of the meaning of the term vernacular, then. The most basic refers to the fact that a vernacular is an uncodified or unstandardized variety. The second refers to the way it is acquired variety-in the home, as a first variety. The third is the fact that it is used for relatively circumscribed functions”. Artinya ada tiga komponen dari pengertian istilah vernacular. Pertama, vernacular merupakan variasi yang tidak standar dan tidak dikodifikasi. Kedua, pengertian vernacular merujuk pada cara pemerolehannya yaitu di rumah sebagai variasi pertama. Dan pengertian ketiga yaitu merujuk pada kenyataan yang pemakaiannya relatif terbatas. Pengertian atau istilah vernacular dapat digunakan pada bahasa apa saja yang bukan bahasa resmi
(not official language of a country) seperti bahasa Jawa, Sunda, Makasar, Betawi, Madura dan bahasa-bahasa daerah yang lain yang ada di Indonesia. Laporan UNESCO 1951 dalam Wardhaugh (1998) memberikan pengertian bahasa vernacular sebagai bahasa pertama dari satu kelompok yang secara sosial dan politik berbeda dari kelompok yang bahasanya dominan. Misalnya di Amerika Serikat di mana bahasa Inggris sebagai bahasa yang dominan, bahasa-bahasa seperti bahasa-bahasa Spanyol merupakan bahasa-bahasa vernacular. Sedangkan di Spanyol, Uruguay atau Chili, bahasa Spanyol merupakan bahasa resmi.
Di dalam masyarakat multilingual juga bahasa vernacular biasanya merujuk pada bahasa percakapan atau bahasa sehari-hari. Bahasa ini juga sering menjadi bahasa suku atau bahasa etnik yang tidak memiliki standarisasi. Bahasa vernacular merupakan variasi yang digunakan untuk berkomunikasi di rumah dan dengan teman-teman dekat. Ia adalah bahasa solidaritas antara orang-orang dari kelompok etnik yang sama.
Seperti telah dijelaskan di atas bahwa ada bahasa standar dan ada juga bahasa nonstandar yang disebut vernacular. Sementara menurut Holmes (1994) dalam buku “An Introduction to Sociolinguistics” bahasa standar harus memiliki tiga kriteria penting. Kriteria pertama, bahasa standar berasal dari variasi yang berpengaruh dan bergengsi. Kriteria kedua, bahasa tersebut sudah dikodifikasi dan memiliki standarisasi. Dikodifikasi biasanya dicapai melalui grammar dan kamus yang rekor dan kadang-kadang menentukan bentuk-bentuk standar dari bahasa itu. Kriteria ketiga, bahasa tersebut dapat melayani fungsi-fungsi penting dan digunakan dalam berkomunikasi di lembaga peradilan, dalam kesusasteraan, sekolahan dan perguruan tinggi serta kegiatan administrasi.
Dari penjelasan tentang bahasa standar seperti telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bahasa standar adalah suatu dialek tertentu yang sudah memperoleh status dan kedudukan tertentu sebagai akibat atau pengaruh sosial, ekonomi dan politik.
Berdasarkan sejarah perkembangan bahasa standar, maka bahasa vernacular secara bertahap dapat menjadi bahasa standar, bila sudah memenuhi kriteria di antaranya sangat berpengaruh dan merupakan alat komunikasi yang sangat penting antar daerah yang dialeknya berbeda. Di negara-negara multilingual dan yang pernah menjadi daerah jajahan seperti India, Singapura, dan Malaysia, bahasa Inggris dari bahasa vernacular dapat menjadi bahasa standar.