• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kadar Serum Osteocalcin Dan C-Telopeptide Pada Wanita Pasca Menopause

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Kadar Serum Osteocalcin Dan C-Telopeptide Pada Wanita Pasca Menopause"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

KADAR SERUM OSTEOCALCIN DAN

C-TELOPEPTIDE

PADA WANITA PASCA MENOPAUSE

TESIS

OLEH :

SRI JAUHARAH LAILY

DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

RSUP. H. ADAM MALIK – RSUD Dr. PIRNGADI

(2)

PENELITIAN INI DI BAWAH BIMBINGAN TIM-5

Pembimbing :

Prof. Dr. Delfi Lutan, MSc, Sp.OG(K)

Dr. Indra G. Munthe, Sp.OG(K)

Penyanggah :

Dr. Letta Sari Lintang, Sp.OG

Dr. Henry Salim Siregar, Sp.OG(K)

Dr. Deri Edianto, Sp.OG(K)

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi

salah satu syarat untuk mencapai keahlian dalam

(3)
(4)

Kupersembahkan Kepada yang Terkasih dan

Tersayang

Ayahanda Hamsaruddin Nasution

dan

(5)

KATA PENGANTAR

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala Puji dan Syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat dan karunia-Nya

penulisan tesis ini dapat diselesaikan.

Tesis ini disusun untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi salah satu syarat untuk

menyelesaikan Program Pendidikan Spesialis Obstetri dan Ginekologi. Sebagai manusia

biasa, saya menyadari bahwa tesis ini banyak kekurangannya dan masih jauh dari sempurna,

namun demikian besar harapan saya kiranya tulisan sederhana ini dapat bermanfaat dalam

menambah perbendaharaan khususnya tentang :

“KADAR SERUM OSTEOCALCIN DAN C-TELOPEPTIDE PADA WANITA PASCA MENOPAUSE”

Dengan selesainya laporan penelitian ini, perkenankanlah saya menyampaikan rasa

terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat :

1. Rektor Universitas Sumatera Utara dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas

Sumatera Utara, yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti

Progaram Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Fakultas Kedokteran

Universitas Sumatera Utara, Medan.

2. Prof. Dr. Delfi Lutan, MSc, SpOG(K) Ketua Departemen Obstetri dan Ginekologi FK –

USU Medan; Dr. Fidel Ganis Siregar, SpOG Sekretaris Departemen Obstetri dan

Ginekologi FK – USU Medan; Dr. Henry Salim Siregar, SpOG(K) Ketua Program

Studi Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi FK USU; Dr. M. Riza Tala, SpOG(K)

Sekretaris Program Studi Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi FK USU; Prof. Dr.

M. Jusuf Hanafiah, SpOG(K); Prof. Dr. Djaffar Siddik, SpOG(K); Prof. DR. Dr. H.M.

Thamrin Tanjung, SpOG(K); Prof. Dr. Hamonangan Hutapea, SpOG(K); Prof. Dr. R.

Haryono Roeshadi, SpOG(K); Prof. Dr. T. M. Hanafiah, SpOG(K); Prof. Dr. Budi R.

Hadibroto, SpOG(K); Prof. Dr. M. Fauzie Sahil, SpOG(K) dan Prof. Dr. Daulat H.

Sibuea, SpOG(K) yang telah bersama-sama berkenan menerima saya mengikuti

(6)

3. Prof. Dr. Delfi Lutan, MSc, SpOG(K) dan Dr. Indra G. Munthe, SpOG(K) yang telah

memberikan kesempatan dan bimbingan kepada saya dalam melakukan penelitian ini;

memeriksa; dan melengkapi penulisan hingga selesai. Kepada Dr. Letta S. Lintang,

SpOG; Dr. Henry Salim Siregar, SpOG(K) dan Dr. Deri Edianto, SpOG(K) selaku

penyanggah dan nara sumber yang penuh kesabaran telah meluangkan waktu yang

sangat berharga untuk membimbing, memeriksa, dan melengkapi penulisan tesis ini

hingga selesai.

4. Dr. Sarma N. Lumbanraja, SpOG(K) sebagai ibu angkat saya selama menjalani masa

pendidikan yang telah banyak mengayomi, membimbing, dan memberikan nasehat yang

bermanfaat kepada saya selama dalam pendidikan.

5. Dr. Christoffel Tobing, SpOG(K) selaku pembimbing Mini Refarat Feto Maternal saya

yang berjudul “Water Birth”; Dr. Yostoto B.Kaban, SpOG(K) selaku pembimbing Mini Refarat Fertilitas Endokrinologi dan Reproduksi saya yang berjudul

“Penatalaksanaan Persiapan Operasi Pasien Ginekologi” dan kepada Prof. Dr. M. Fauzie Sahil, SpOG(K) selaku pembimbing Mini Refarat Onkologi saya yang berjudul

“Penatalaksanaan Neutropenia pada Penderita Keganasan”

6. Dr. Surya Dharma, MPH dan DR. Ir. Erna Mutiara, M.Kes yang telah meluangkan

waktu dan pikiran untuk membimbing saya dalam menyelesaikan analisa data dan uji

statistik pada tesis ini.

7. Seluruh staff pengajar Departemen Obstetri dan Ginekologi FK USU/RSUP H. ADAM

MALIK; RSUD Dr. PIRNGADI; Rumkit KESDAM TK II; RS PTPN II Tembakau

Deli; RSU HAJI MINA; RSU SUNDARI yang secara langsung telah banyak

membimbing dan mendidik saya sejak awal hingga akhir pendidikan.

8. Direktur RSUP H. Adam Malik Medan yang telah memberikan kesempatan dan sarana

untuk bekerja sama selama mengikuti pendidikan Spesialis Obstetri dan Ginekologi di

Departemen Obstetri dan Ginekologi FK USU Medan.

9. Direktur RSUD Dr. Pirngadi Medan dan Kepala SMF RSUD Kebidanan dan Penyakit

Kandungan Dr. Pirngadi Medan Dr. Rushakim Lubis, SpOG beserta staff yang telah

memberikan kesempatan dan sarana untuk bekerja sama selama mengikuti pendidikan

Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Departemen Obstetri dan Ginekologi FK USU

Medan.

10. Direktur RS PTPN II Tembakau Deli Medan; Dr. Sofian Abdul Ilah, SpOG dan Dr.

Nazaruddin Jaffar, SpOG(K) beserta staff yang telah memberikan kesempatan dan

(7)

11. Ka. Rumkit Tk. II Puteri Hijau KESDAM II/BB Medan dan Kepala SMF Obstetri dan

Ginekologi Rumkit Tk. II Puteri Hijau KESDAM II/BB Medan Dr. Gunawan Rusuldi,

SpOG beserta staff yang telah memberikan kesempatan dan bimbingan selama saya

bertugas di rumah sakit tersebut.

12. Direktus RSU Haji Medan dan Kepala SMF Obstetri dan Ginekologi RSU Haji Medan

Dr. H. Muslich Perangin-angin, SpOG beserta staff yang telah memberikan kesempatan

dan bimbingan selama saya bertugas di rumah sakit tersebut.

13. Direktur RSU Sundari Medan dan Kepala SMF Obstetri dan Ginekologi RSU Sundari

Medan Dr. H. M. Haidir, MHA, SpOG dan Ibu Sundari, Am.Keb beserta staff yang

telah memberikan kesempatan dan bimbingan selama saya bertugas di rumah sakit

tersebut.

14. Kepada Dr. H. Syafii Siregar, SpOG dan seluruh staff di bagian kebidanan dan

kandungan RSUD Panyabungan, Kab. Mandailing Natal yang telah memberikan

kesempatan kepada saya untuk menjalani pendidikan; memberikan bimbingan dan

segala bantuan moril kepada saya selama saya bertugas di rumah sakit tersebut.

15. Kepala Bagian Anestesiologi dan Reanimasi FK – USU Medan beserta staff atas

kesempatan dan bimbingan selama saya bertugas di bagian tersebut.

16. Kepala Departemen Patologi Anatomi FK – USU Medan beserta staff atas kesempatan

dan bimbingan selama saya bertugas di bagian tersebut.

17. Kepada senior-senior saya selama saya menjalani pendidikan : Dr. Harry Simanjuntak,

SpOG; Dr. Alex M. Lumbanraja, SpOG; Dr. Jefry Panjaitan, SpOG; Dr Adek Novita

Dayeng, SpOG, Dr. Rillie Ritonga SpOG; Dr. Ade Taufik, SpOG; Dr. Samson Chandra,

SpOG; Dr. Miranda Diza, SpOG; Dr. Johny Marpaung, SpOG; Dr. Melvin N. G. Barus,

SpOG; Dr. Roy Yustin Simanjuntak, SpOG; Dr. Anandia Yuska, SpOG; Dr. Rony

Ajartha Tarigan, SpOG; Dr. Wahyudi Gani, Dr. Maria N. Pardede SpOG; Dr. M. Aswin

SpOG; Dr. M. Oky P, SpOG; Dr. Dudy Aldiansyah, SpOG; Dr. Hayu Lestari H, SpOG;

Dr. Juni Hardi Tarigan, SpOG; Dr. David Leo, SpOG; Dr. Rachma B, SpOG; Dr. T.

Rahmat Iqbal, SpOG; Dr. Nismah SpOG; Dr. Muara P. Lubis, SpOG; Dr. Sukhbir

Singh, SpOG; Dr. John N, SpOG; Dr. Simon Saing, SpOG; Dr. Ferry Simatupang,

SpOG; Dr. Yusmardi, SpOG; Dr. Dessy S. Hasibuan, SpOG; Dr. Dwi Faradina, SpOG;

Dr. Alim Sahid, SpOG; Dr. Nur Aflah, SpOG; Dr. Benny Johan Marpaung, SpOG; Dr.

Anggia M. Lbs, SpOG; Dr. David Luther Lubis, SpOG; Dr. Maya Hasmita, SpOG; Dr.

Gorga IVW, SpOG; Dr. Siti Syahrini S, SpOG; Dr. M. Ikhwan, SpOG, Dr. Edward M,

SpOG; Dr. Zillyaddein Rangkuti, SpOG; Dr. Riza Hendrawan Nasution; Dr. Ari

(8)

diatas terima kasih atas bimbingan, arahan, dan kebersamaan kita selama menjalani

pendidikan.

18. Teman-teman seangkatan saya : Dr. T. Jeffrey Abdillah, SpOG; Dr. M. Rizki Yaznil,

SpOG; Dr. M. Jusuf Rachmatsyah; Dr. Made Surya Kumara; Dr. Boy Rivai Pandapotan

Siregar; Dr. Yuri Andriansyah; terima kasih untuk kebersamaan dan kerjasama kita

selama menjalani pendidikan ini.

19. Kepada tim jagaku tersayang Dr. Riske Eka Putri; Dr. Sri Damayana Harahap; Dr. M.

Rizky Pratama Yudha Lubis; Dr. Ray Christy Barus; Dr. Apriza Prahatama; Dr. Johan

Ricardo; Dr. Arvitamuriany T. Lubis; Dr. Andrian Octora Sinuhaji, terimakasih saya

ucapkan atas kerjasama dan bantuannya selama pendidikan ini.

20. Kepada sejawat saya Dr. Fatin Atifa dan Dr. Dani Ariyani; Dr. Hedy Tan; Dr. Reynanta;

Dr. Alfian Z. Siregar; Dr. Errol Hamzah; Dr. Firman Alamsyah, Dr. Andri Aswar; Dr.

Rizka Heriansyah; Dr. Hatsari Marintan; Dr. Tigor; Dr. Heika Silitonga; Dr. Elvira S;

Dr. Hendry Adi; Dr. T. Johan; Dr. Arjuna Saputra, Dr. Janwar S; Dr. Ali Akbar; Dr.

Aries Misrawany; Dr. Hendri Ginting; Dr. Eka Handayani; Dr. Morel S; Dr. Yudha

Sudewo; Dr. Pantas Saroha; Dr. M. Arief S; Dr. Novrial, Dr. M. Wahyu Wibowo; Dr.

Kiko Marapaung; Dr. Anindita; Dr. Hotbin Purba; Dr. Edward Sugito; Dr. Abdur

Rohim; Dr. Julita Lubis; Dr. Ivo Fitrian; Dr. Hiro Hidaya; Dr. Ika Sulaika; Dr.

Chandran Saragih; Dr. Hilma Lubis; Dr. Dona Wirniaty; Dr. Yasmien Hasby; Dr.

Juhriyani Malahayati, dan seluruh rekan sejawat yang tidak bisa saya sebutkan satu

persatu, terima kasih saya ucapkan atas bantuan dan kerjasama kita selama menjalani

pendidikan ini.

21. Teman sejawat asisten ahli dari departemen lainnya, dokter muda, bidan, paramedis,

karyawan/karyawati, dan pasien-pasien yang telah ikut membantu dan bekerjasama

dengan saya dalam menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri dan

Ginekologi di Departemen Obstetri dan Ginekologi FK – USU/RSUP H. Adam Malik;

RSUD Dr. Pirngadi; RS PTPN II Tembakau Deli; Rumkit TK. II Puteri Hijau

KESDAM II/BB; RSU Haji dan RSU Sundari Medan.

Sembah sujud, hormat dan terima kasih yang tidak terhingga saya haturkan kepada

kedua orang tua saya yang tercinta dan tersayang Ayahanda Drs. Hamsaruddin Nasution dan Ibunda Dra. Lailan Azizah Nasution, SH, M.Hum; tiada kata terindah yang dapat saya ucapkan melainkan rasa syukur dan terima kasih saya kepada Allah

SWT yang tidak terhingga karena telah menitipkan saya kepada kedua orang tua

(9)

serta mendidik saya dengan penuh kasih sayang dari masa kanak-kanak hingga saat ini,

memberikan keteladanan yang baik kepada saya dalam menjalani hidup, serta

memberikan motivasi dan bantuan kepada saya dalam menjalani pendidikan ini.

Kepada adik-adikku tersayang Achmad Habib Hamsar, SE; Sri Fatmah Laily, SE;

Ginda Batara Abdullah, SH dan Sofinaz Rina, SE, MM; serta kepada keponakanku tersayang Hannan Raisya Azkia, saya mengucapkan terima kasih atas kasih sayang yang kita bagi bersama, doa dan motivasi yang kalian berikan selama saya menjalani

pendidikan ini.

Kepada seluruh keluarga besar saya, handai tolan yang tidak dapat saya sebutkan satu

persatu, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang telah memberikan banyak

bantuan, dukungan dan doa, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga

Allah SWT senantiasa memberikan berkah-Nya kepada kita sekalian.

Wassalam

Medan, Februari 2011

(10)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... iii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Kerangka Masalah ... 3

1.3 Hipotesis Penelitian ... 4

1.4 Tujuan Penelitian ... 4

1.5 Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Produksi Hormon Pasca Menopause ... 6

2.2 Dampak Penurunan Kadar Hormon Estrogen pada Wanita Pasca Menopause ... 8

2.3 Definisi Osteoporosis ... 8

2.4 Fisiologi Tulang ... 8

2.5 Komposisi Jaringan Tulang ... 9

2.5.1 Struktur Makro Tulang ... 9

2.5.2 Struktur Dasar dan Komposisi Tulang ... 9

2.5.3 Matriks Tulang Inorganik ... 10

2.5.4 Sel-sel yang Terlibat dalam Metabolisme Tulang ... 10

2.5.5 Proses Remodeling Tulang pada Wanita Pasca Menopause... 11

2.5.6 Pengaturan Metabolisme Tulang ... 15

2.6 Faktor Risiko Osteoporosis ... 18

2.7 Gejala dan Tanda Osteoporosis ... 23

2.7.1 Diagnosa Osteoporosis ... 24

2.7.1.1 Pemeriksaan Ketebalan Densitas Mineral Tulang ... 26

2.7.1.2 Pemeriksaan Biokimia Penanda Proses Remodeling Tulang ... 27

2.8 Penatalaksanaan Osteoporosis pada Wanita Pasca Menopause ... 32

(11)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 34

3.1 Rancangan Penelitian ... 34

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 34

3.2.1 Tempat Penelitian ... 34

3.2.2 Waktu Penelitian ... 34

3.3 Populasi Penelitian ... 34

3.4 Sampel Penelitian ... 35

3.5 Kriteria Inklusi dan Kriteria Eksklusi Peserta Penelitian ... 36

3.5.1 Kriteria Inklusi ... 36

3.5.2 Kriteria Eksklusi ... 36

3.6 Batasan Operasional ... 36

3.7 Bahan dan Cara Kerja ... 39

3.7.1 Anamnese ... 39

3.7.2 Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Ginekologik ... 39

3.7.3 Pemeriksaan Laboratorium ... 39

3.8 Kerangka Operasional ... 41

3.9 Analisa Data ... 42

3.10 Etika Penelitian ... 42

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 43

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 67

DAFTAR PUSTAKA ... 70

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Perubahan Kadar Hormon Steroid di Sirkulasi Darah Wanita Pasca

Menopause ... 6

Tabel 2 Hormones and Factors Involved in Bone Metabolism ... 16

Tabel 3 Risk Factor that Identify Who Should be Assesed for Osteoporosis ... 19

Tabel 4 Biochemical Markers Reflecting Bone Formation ... 27

(13)

ABSTRAK Tujuan Penelitian :

Untuk mengetahui hubungan kadar serum osteocalsin dan C-telopeptide pada wanita pasca menopause yang dibandingkan dengan kadar serum osteocalsin dan C-telopeptide pada wanita usia reproduksi.

Rancangan Penelitian :

Desain penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan cara potong lintang.

Hasil Penelitian :

(14)

penelitian dan menunjukkan suatu korelasi positif (r = 0.449) yang lebih kuat terhadap lama masa menopause bila dibandingkan dengan korelasi perubahan kadar osteocalsin terhadap lama menopause (r = 0.341).

Kesimpulan :

Peningkatan kadar serum osteocalsin dan kadar serum C-telopeptide pada wanita pasca menopause, hal ini menunjukkan peningkatan proses pembentukan dan penghancuran tulang pada wanita pasca menopause bila dibandingkan dengan wanita usia reproduksi.

Kata Kunci :

(15)

ABSTRAK Tujuan Penelitian :

Untuk mengetahui hubungan kadar serum osteocalsin dan C-telopeptide pada wanita pasca menopause yang dibandingkan dengan kadar serum osteocalsin dan C-telopeptide pada wanita usia reproduksi.

Rancangan Penelitian :

Desain penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan cara potong lintang.

Hasil Penelitian :

(16)

penelitian dan menunjukkan suatu korelasi positif (r = 0.449) yang lebih kuat terhadap lama masa menopause bila dibandingkan dengan korelasi perubahan kadar osteocalsin terhadap lama menopause (r = 0.341).

Kesimpulan :

Peningkatan kadar serum osteocalsin dan kadar serum C-telopeptide pada wanita pasca menopause, hal ini menunjukkan peningkatan proses pembentukan dan penghancuran tulang pada wanita pasca menopause bila dibandingkan dengan wanita usia reproduksi.

Kata Kunci :

(17)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Wanita memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk menderita osteoporosis dua sampai

tiga kali lebih banyak bila dibandingkan dengan pria. Lebih kurang 35 % wanita pasca

menopause akan menderita osteoporosis dan 50 % akan mengalami osteopeni yang dapat

menimbulkan akibat yang fatal bagi wanita-wanita yang telah memasuki usia perimenopause

yaitu patah tulang sehingga memerlukan perawatan khusus. Patah tulang biasanya terjadi pada

tulang belakang, pergelangan tangan dan tulang pinggul.1,2

Osteoporosis merupakan suatu gangguan metabolisme tulang yang ditandai oleh penurunan

kekuatan tulang yaitu penurunan densitas tulang dan kualitas tulang. kerusakan

mikroarsitektur tulang akan menyebabkan terjadinya penurunan kekuatan tulang dan

merupakan faktor resiko terjadinya patah tulang. 2,3,4

National Osteoporosis Foundation merekomendasikan pemeriksaan DEXA scan untuk menegakkan diagnosa osteoporosis dan sebaiknya dilakukan pada setiap wanita yang telah

berusia 65 tahun; tetapi hasil pemeriksaan DEXA scan ini hanya menunjukkan keadaaan densitas tulang pada satu saat tertentu saja, sementara itu proses terjadinya osteoporosis

dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama aktivitas berpasangan dari osteoklas yang

menyebabkan penghancuran massa tulang dan aktivitas osteoblas yang menyebabkan

terjadinya pembentukan tulang. Penilaian proses remodelling tulang ini dilakukan dengan

melihat kadar penanda tulang yang dihasilkan oleh osteoblas dan osteoklas. 3,4,5.

Massa tulang, kecepatan kehilangan massa tulang dan terjadinya osteoporosis merupakan hal

yang berhubungan. Suatu penelitian telah melaporkan adanya hubungan antara penurunan

kadar hormon steroid tubuh dengan kecepatan penghancuran tulang terutama pada wanita di

periode perimopause dan pasca menopause atau wanita yang telah mengalami oovorektomi di

usia muda, hal ini menunjukkan bahwa hormon seks steroid endogen mempengaruhi

peningkatan penanda turn over tulang dan kehilangan massa tulang. 1,2,3,5.

Beberapa penanda biokimia metabolisme tulang ini telah digunakan untuk memperkirakan

kecepatan kehilangan tulang. Beberapa penelitian cross sectional menunjukkan bahwa bone turn over akan meningkat dengan cepat setelah wanita memasuki usia menopause dimana

(18)

Penanda biokimia untuk penilaian proses bone remodelling menunjukkan hal yang sangat menjanjikan dalam dua dekade ini sebagai alat untuk memperkirakan pasien dengan penyakit

metabolik tulang. Dibandingkan dengan tehnik pemeriksaan radiologi, pemeriksaan penanda

biokimia ini lebih aman, tidak invasif, relatif tidak mahal, dan mudah dilakukan. 9.

Apakah pemeriksaan penanda biokimia dapat membantu klinis untuk mengidentifikasi pasien

yang memiliki risiko yang besar untuk fraktur? Diagnosis osteoporosis adalah berdasarkan

scanning densitas tulang, dan berdasarkan kriteria WHO maka pasien dengan nilai densitas

tulang yang rendah memiliki risiko untuk terjadinya fraktur tulang. National Institutes of Health Consensus Conference (2001) menyatakan definisi osteoporosis sebagai suatu kelainan pada tulang yang ditandai oleh adanya penurunan kekuatan tulang yang merupakan

faktor risiko terjadinya fraktur tulang.

Kekuatan tulang dinilai berdasarkan hasil pemeriksaan densitas mineral tulang dan kualitas

tulang. Densitas mineral tulang dinyatakan berdasarkan gram per volume area tulang. Kualitas

tulang dipengaruhi oleh susunan matriks tulang seperti aktivitas tulang (bone turn over); mikroarsitektur tulang; derajat kalsifikasi dan jaringan kolagen tulang.

Saat ini, penilaian kualitas tulang tidak hanya berdasarkan atas hasil pemeriksaan tulang

secara klinis tetapi berdasarkan hasil pemeriksaan aktivitas metabolisme tulang melalui

pemeriksaan penanda biokimia tulang dari proses formasi dan resorpsi tulang (bone turn over).

Sejumlah data menunjukkan bahwa penanda biokimia dapat memperkirakan kehilangan

tulang tanpa dipengaruhi oleh densitas tulang yang diperiksa berdasarkan scanning densitas

tulang. Seseorang dengan turn over yang meningkat akan mengalami kehilangan tulang yang lebih cepat bila dibandingkan dengan orang yang memiliki turnover tulang yang normal atau rendah. Penanda untuk resorpsi tulang tampaknya merupakan prediktor yang lebih kuat untuk

kehilangan tulang di masa yang akan datang dibandingkan dengan penanda pembentukan

tulang. Korelasinya lebih kuat pada wanita usia lanjut dibandingkan dengan wanita usia

muda. 5,9,11.

Akan tetapi, sampai saat ini peran klinisnya masih merupakan hal yaang kontroversial.

Interpretasinya cukup kompleks dan hal ini sejalan dengan kompleksitas metabolisme tulang

itu sendiri. 3,6,7,8

Sampai saat ini, belum ada penelitian di Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas

(19)

dan hubungannya dengan beberapa faktor risiko terjadinya peningkatan aktivitas remodeling

tulang pada wanita pasca menopause.

1.2. KERANGKA MASALAH.

Osteoporosis merupakan suatu penyakit kronis yang ditandai oleh penurunan massa dan

kekuatan tulang. Osteoporosis dapat menyebabkan terjadinya patah tulang osteoporosis pada

tulang vertebra, tulang panggul, dan dapat menurunkan kualitas hidup seorang wanita pasca

menopause.1,3

Hal ini seiring dengan peningkatan angka harapan hidup seorang wanita, sehingga

osteoporosis ini menjadi suatu masalah kesehatan masyarakat yang berkembang secara

luas.1,4.

Dalam beberapa tahun terahir telah dilakukan berbagai penelitian untuk mencegah dan

mendiagnosa terjadinya proses osteoporosis secara dini sebelum terjadinya oteoporosis yang

berakhir dengan patah tulang. 1,3,5.

Osteoporosis merupakan suatu gangguan tulang yang dipengaruhi oleh berbagai faktor antara

lain hormon seks steroid endogen terutama estrogen yang mempengaruhi keseimbangan

proses remodeling tulang, memiliki efek positif terhadap massa tulang dan mencegah resorpsi

tulang, sehingga penurunan hormon estrogen yang terjadi pada wanita pasca menopause

berhubungan dengan peningkatan menunjukkan aktivitas osteoblast dan osteoklas, sehingga

diperlukan pemeriksaan terhadap kadar hormon dan penanda-penanda penghancuran dan

pembentukan tulang pada masa menopause sehingga gangguan metabolisme tulang dapat

diketahui secara dini dan dapat diberikan terapi untuk mencegah terjadinya osteoporosis.

1,2,5,8

Sampai saat ini belum ada suatu penelitian di Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas

Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang melihat kadar penanda tulang yang

memperlihatkan pembentukan tulang ( osteocalcin) dan penghancuran tulang (C-telopeptide )

dan bagaimanakah gambaran aktivitas remodelling tulang yang diperlihatkan oleh perubahan

kadar penanda bone turn over di dalam serum pada wanita pasca menopause.

1.3. HIPOTESIS PENELITIAN.

1. Pada wanita pasca menopause akan mengalami peningkatan aktivitas remodeling

tulang ( high turnover ) bila dibandingkan wanita usia reproduksi.

2. Peningkatan aktivitas remodeling tulang yang terjadi pada wanita pasca menopause

ini ditandai oleh penigkatan kadar osteocalsin dan C-telopeptide yang lebih tinggi

(20)

1.4. TUJUAN PENELITIAN. • Tujuan umum :

Untuk melihat hubungan antara kadar penanda pembentukan tulang (osteocalsin)

dan penanda penghancuran tulang ( C-Telopeptide ) wanita pasca menopause dan

usia reproduksi.

• Tujuan khusus :

1. Mengetahui rerata kadar osteocalcin di dalam serum pada wanita pasca

menopause.

2. Mengetahui rerata kadar C-Telopeptida di dalam serum pada wanita pasca

menopause.

3. Mengetahui hubungan kadar osteocalsin dan C-telopeptide terhadap indeks massa

tubuh.

4. Mengetahui hubungan kadar osteocalsin dan C-telopeptide terhadap paritas.

5. Mengetahui hubungan kadar osteocalsin dan C-telopeptide terhadap aktifitas fisik

dan olahraga.

6. Mengetahui hubungan kadar osteocalsin dan C-telopeptide terhadap jumlah

konsumsi kafein.

7. Mengetahui hubungan kadar osteocalsin dan C-telopeptide terhadap konsumsi

kalsium .

8. Mengetahui hubungan kadar osteocalsin dan C-telopeptide terhadap lamanya

menopause.

1.5. MANFAAT PENELITIAN.

Penelitian ini diharapkan dapat memperlihatkan proses metabolisme tulang yang

dinilai dengan kadar osteocalcin dan C-telopeptide sebagai penanda peningkatan proses

pembentukan dan penyerapan tulang pada wanita pasca menopause, sehingga diharapkan

dapat diterapkan sebagai pemeriksaan laboratorium klinis untuk menilai metabolisme tulang

dan mendeteksi secara dini faktor risiko terjadinya osteoporosis pada wanita pasca

(21)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Menopause berasal dari bahasa Yunani yaitu mens yang berarti bulan dan pausis yang berarti

berhenti. Seorang wanita dikatakan menopause jika tidak mengalami haid selama minimal 12

bulan. Pada pemeriksaan laboratorium akan ditemukan kadar follicle stimulating hormone

(FSH) darah > 40 mIU/ml; dan kadar estradiol < 30 pg/ml. 1,2

Pada periode menars, wanita umumnya memiliki siklus haid yang lebih panjang selama 5

sampai 7 tahun kemudian panjang siklus haid akan semakin pendek seperti pada usia

reproduksi, dan memasuki usia 40 tahun siklus haid akan memanjang kembali dan wanita

akan lebih sering mengalami siklus haid anovulasi selama 2 sampai 8 tahun sebelum

memasuki periode menopause. 1,2

Sherman, dkk melaporkan usia wanita menopause rata-rata 45 tahun dan dijumpai peningkatan sedikit kadar hormon estradiol pada masa perimenopause yaitu 1 tahun sebelum

terjadinya menopause.1,2,3

Penelitian Women’s Health Across the Nation (SWAN) melaporkan usia wanita rata-rata saat memasuki periode menopause berkisar 51,4 tahun; dan saat mencapai usia menopause dapat

terjadi lebih awal pada wanita yang memiliki kebiasaan merokok, pendidikan rendah, status

ekonomi yang rendah, dan wanita yang mengalami menopause di usia yang lebih tua dapat

dipengaruhi oleh jumlah paritas dan penggunaan pil kontrasepsi.2,3

2.1. Produksi Hormon Pasca Menopause.

Osteoporosis merupakan suatu gangguan metabolisme tulang yang dapat dialami oleh hampir

semua wanita pasca menopause. Salah satu faktor resiko terpenting yang menyebabkan

terjadinya osteoporosis adalah penurunan kadar hormon estrogen dan diperkirakan akan

meningkatkan risiko terjadinya osteoporosis sampai tiga kali jika gangguan keseimbangan

hormonal ini tidak diterapi.5

Wanita pasca menopause akan mengalami peningkatan kadar hormon FSH sebanyak 10

(22)

memperlihatkan kegagalan fungsi ovarium; yang disebabkan oleh perubahan sel stroma

ovarium menjadi jaringan mesenkim sehingga menurunkan kemampuan ovarium dalam

menghasilkan hormon steroid.1,2

Pada masa menopause, ovarium mensekresikan hormon androstenedion dan testosteron

sehingga terjadi peningkatan kadar hormon ini 1.5 kali pada saat menjelang menopause.

Produksi hormon androstenedion pada masa menopause sebagian besar berasal dari kelenjar

adrenal ginjal dan sebagian kecil diproduksi oleh ovarium. Hal ini terutama terjadi pada tahun

pertama pasca menopause. 1,2

Pada awal pasca menopause hormon tetosteron ini dihasilkan oleh perubahan hormon

androstenedion di perifer, dan pada masa menopause lanjut hormon testosteron ini dihasilkan

oleh kelenjar supra renal. Kadar estradiol didalam darah pada wanita pasca menopause

diperkirakan sebesar 10-20 pg/ml dan sebagian besar hormon estrogen ini berasal dari

perubahan androstenedion menjadi estrone dan kemudian berubah menjadi estradiol di

jaringan perifer. Kecepatan rata-rata dari produksi hormon estrogen pada wanita pasca

menopause adalah 45 µg/ 24 jam.2

Tabel 1. Perubahan kadar hormon steroid di sirkulasi darah wanita pasca menopause2 Premenopause Pasca menopause

Estradiol 40 – 400 pg/ml 10 -20 pg/ml

Estrone 30 – 200 pg/ml 30 -70 pg/ml

Tetosterone 20 – 80 ng/ml 15 -70 ng/ml

Androstenedion 60 – 300 ng/ml 30 - 150 ng/ml

Perubahan androstenedion menjadi estrogen ini dipengaruhi oleh peningkatan berat badan

yang mempengaruhi perubahan proses aromatisasi androgen, Saat aktivitas produksi hormon

steroid dari jaringan ovarium terhenti maka akan terjadi peningkatan sekresi dari hormon FSH

(23)

2.2. Dampak Penurunan Kadar Hormon Estrogen pada Wanita Pasca Menopause.

Wanita yang memasuki periode menopause akan mengalami gangguan keseimbangan hormon

steroid. Penurunan kadar estrogen didalam darah dapat mengakibatkan terjadinya gangguan

vasomotor, gangguan kardiovaskuler, gangguan psikis dan daya ingat, metabolisme, serta

terjadinya osteoporosis. 1,2,4

Wanita pasca menopause membutuhkan pelayanan kesehatan yang optimal untuk mencegah

terjadinya gangguan-gangguan yang diakibatkan perubahan status hormonal dan peningkatan

kualitas hidup wanita pasca menopause.4

2.3. Definisi Osteoporosis.

Osteoporosis berasal dari kata osteos (tulang) dan porous (keropos); sehingga osteoporosis disebut juga pengeroposan tulang yaitu tulang menjadi tipis, rapuh, dan keropos serta mudah

patah.2

WHO (1994) menyatakan definisi osteoporosis sebagai suatu gangguan pada tulang yang

ditandai oleh penurunan massa tulang dan kerusakan mikroarsitektur jaringan tulang; yang

meningkatkan risiko terjadinya patah tulang.3

National Institute of Health (NIH) Consensus (2000) menyatakan definisi osteoporosis sebagai suatu gangguan pada tulang dimana terjadi penurunan kekuatan tulang dan

meningkatkan resiko terjadinya patah tulang. Kekuatan tulang ditentukan oleh densitas

mineral tulang dan kualitas tulang.7

2.4. Fisiologi Tulang.

Jaringan tulang mengalami proses remodeling yang berlangsung secara terus menerus dimana terjadi proses resorpsi dan formasi tulang yang berlangsung secara bersamaan. Proses

remodeling ini sangat diperlukan tulang untuk beradaptasi terhadap gangguan mekanik dan perubahan fisiologi tulang sehingga susunan matriks tulang menjadi kuat. 1,6,17

Integritas massa tulang ditentukan oleh keseimbangan antara proses formasi dan resorpsi

tulang. Perubahan dalam proses remodeling tulang akan mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan antara proses penghancuran tulang dan pembentukan tulang, proses ini

merupakan dasar terjadinya hampir semua gangguan metabolisme tulang dan osteoporosis.1,

(24)

Proses remodeling tulang merupakan hasil kerja dari dua jenis sel yang bekerja secara berlawanan memegang peranan penting terhadap proses ini yaitu sel osteoblast yang bekerja membentuk matriks tulang baru dan sel osteoclast yang menghancurkan matriks tulang.15

2.5. Komposisi jaringan tulang. 2.5.1. Struktur makro tulang.

Jaringan tulang bersama kartilgo merupakan penyusun sistem skeletal pada tubuh manusia

yang berfungsi untuk melindungi sumsum tulang; organ-organ vital yang lemah; dan

pergerakan tubuh manusia. Selain itu jaringan tulang juga mempunyai fungsi untuk menjaga

keseimbangan ion kalsium dan fosfat di dalam tubuh.1,6,11,12

2.5.2. Struktur Dasar Dan Komposisi Tulang.

Jaringan tulang secara mendasar terbagi atas 2 tipe dasar yang menyusun kerangka manusia

yaitu tulang kortikaldan tulang trabekular.17

Tulang kortikal meliputi 80% dari kerangka. Tulang kortikal memiliki struktur yang sesuai

untuk fungsi mekanik, struktural dan protektif karena 80-90% dari jaringan tulang kortikal

telah terkalsifikasi dan padat. Tulang kortikal adalah komponen mayor dari tulang panjang

dan merupakan permukaan perlindungan luar dari seluruh tulang. Tulang kortikal memiliki

aktifitas metabolik tulang yang relatif rendah.1,6,17

Tulang trabekular atau cacellanous bone merupakan penyusun 20% jaringan tulang dari kerangka manusia. Tulang trabekular memiliki aktifitas metabolik yang relatif lebih tinggi

bila dibandingkan dengan tulang kortikal; relatif kurang padat, dan hanya 5-20% tulang

trabekular yang terkalsifikasi. Secara mikroskopis, tulang trabekular memiliki gambaran

seperti sarang madu karena diikat dengan trabekula yang dapat meningkatkan luas area

permukaan tulang. Karena proses remodeling atau metabolisme tulang hanya terjadi pada daerah permukaan tulang saja, maka struktur tulang trabekular ini menyebabkan peningkatan

aktifitas metabolisme yang lebih tinggi pada tulang trabekular. Sehingga meskipun tulang kortikal memiliki jumlah empat kali lipat dari tulang trabekular, tetapi jumlah total aktifitas

metabolik dari kedua tipe tulang tersebut hampir sama.1,6,12,17.

Jaringan kolagen tipe 1 merupakan penyusun lebih dari 90% matriks organik tulang.

Meskipun jaringan ikat dan beberapa jaringan lainnya pada tubuh juga mengandung jaringan

kolagen tipe 1, tetapi jaringan tulang memiliki lebih banyak jaringan kolagen tipe 1 ini dan

(25)

tulang ini memiliki struktur tripel heliks dari 3 rantai, dan salah satunya memiliki gugusan

asam amino proline dan hydroxyproline . Jaringan kolagen tipe 1 ini disintesis oleh peptida tambahan yang relatif banyak sebagai prekursor pada gugus karboksiterminal dan ujung

aminoterminal; protein tambahan ini pecah selama sekresi dan proses pembentukan urat saraf.

Kolagen tipe 1 dari jaringan tulang berbeda dari kebanyakan jaringan lainnya yang

mengandung ikatan hydroxylysylpyridinoline dan lysylpyridinoline. Ikatan ini berlangsung antara lysine atau residu hydroksylisyne pada gugus karboksiterminal non heliks atau ujung aminoterminal,dan disebut sebagai telopeptide; dan pada bagian heliks dari kolagen-kolagen yang berdekatan. Proses ini membentuk satu ikatan pyridynoline dan deoksypiridynoline pada struktur kolagen tipe 1.6,12,17.

2.5.3. Matriks tulang inorganik

Matriks tulang inorganik terutama terdiri dari mineral tulang yang merupakan penyusun 70%

dari jaringan inorganik tulang dewasa, yang terutama terdiri dari ion kalsium dan ion

phosphat yang terikat dalam bentuk kristal hidroksiapatit yang memperkuat jaringan organik

tulang. 12,17

Kristal-kristal mineral tulang biasanya berukuran kecil dan merupakan penyaring masuknya

ion kalsium dan fosfat ke dalam tulang. Pemberian diet nutrisi yang kaya kation seperti

magnesium dan strontium akan menyebabkan ion-ion tersebut berikatan dengan mineral

tulang menggantikan ion kalsium pada ikatan kalsium laktat. 1,6,12.

2.5.4. Sel-sel yang Terlibat dalam Metabolisme Tulang.

Sel osteoclast dan osteoblast merupakan komponen biologi yang berperan penting pada metabolism tulang yang berlangsung pada unit metabolisme tulang (BMU). Osteoclast

berfungsi untuk meresorbsi tulang yang ada dan aktif dalam siklus remodeling tulang.

Osteoclast merupakan turunan dari penyatuan sel-sel monosit yang bergaris-garis dan biasanya berinti banyak dengan bagian atas dan basolateral yang berbeda secara morfologi

dan fungsional. Bagian atas dari osteoclast merupakan lapisan matriks tulang yang berfungsi

untuk sekresi enzim dan proton yang berperan penting dalam proses remodeling tulang. Membran kutub basolateral dari osteoclast memiliki reseptor hormon dan substansi lainnya.

6,12,17

(26)

terisolasi ini akan menyebabkan terjadinya penurunan pH. Pada “sealing zone “ juga ditemukan enzim-enzim yang poten antara lain phosphatase acid, aryl-sulfatase, metalloproteinase, beta-glucuronidase, cystein-proteinase, dan beta-glycerophosphatase

yang berperan dalam proses resorbsi tulang. Komponen-komponen mikro dan enzim ini

berfungsi untuk mengikis tulang dan membentuk terminal yang melengkung dan disebut

sebagai lacuna. 6,12,17.

Osteoblast merupakan komponen biologi yang terlibat dalam proses pembentukan tulang. Setelah proses pengikisan tulang dan pembentukan lakuna oleh osteoclast maka akan terbentuk osteoid, yang terdapat pada bone metabolisme unit (BMU). Osteoblast secara histologi memiliki satu inti dan mempunyai hubungan yang luas terhadap jaringan retikulum

endoplasma, organela-organela yang bertanggung jawab terhadap sintesa protein yang

merupakan penyusun matriks tulang. Sebagian dari osteoblast terperangkap dalam matriks tulang dan akan membentuk osteosit; dan sering dianggap inaktif secara metabolik. Osteosit

dapat mendeteksi mikrofraktur atau gangguan dalam struktur tulang dan kemudian

memberikan sinyal kepada osteoblast mengenai adanya defek pada tulang tersebut.6,12

2.5.5.Proses Remodeling Tulang Pada Wanita Pasca Menopause.

Semua tulang manusia dewasa adalah turunan dari tulang-tulang sebelumnya yang mengalami

proses remodeling yang berlangsung terus menerus; dimana bila terjadi mikrolesi pada tulang

maka akan diikuti perbaikan tulang . Setiap tahun akan terjadi proses remodeling pada tulang

trabekuler sebanyak 25 % dan pada tulang kortikal sebanyak 3 %. 1,19.

Penurunan massa tulang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara proses resorpsi dan

formasi tulang oleh sel osteoclast dan osteoblast. Osteoporosis pasca menopause secara biokimia disebabkan oleh penurunan hormon estrogen yang menyebabkan terjadinya

peningkatan aktivitas osteoclast yang berlebihan, sehingga proses osteoporosis pertama sekali akan menghancurkan tulang-tulang trabekuler.1,5,11.

Proses remodeling tulang ini berlangsung di permukaan tulang; proses penghancuran tulang oleh osteoclast ini memerlukan waktu antara 7-10 hari dan proses pembentukan tulang oleh

osteoblast memerlukan waktu antara 2-3 bulan.19

Gambar dibawah ini akan memperlihatkan proses remodeling tulang yang terjadi hanya pada

satu arah, dengan koordinasi yang baik, dan dipengaruhi oleh hormon-hormon dan faktor –

(27)

Seperti yang diperlihatkan pada gambar diatas, proses remodeling tulang selalu dimulai pada

fase yang tidak bergerak ( quiscence). Aktivasi osteoclast diawali oleh sitokin yang akan merangsang monosit-monosit yang merangsang aktivasi osteoclast sehingga terjadi ikatan

osteoclast dan matriks ekstraselular tulang. 1,6,17

Enzim proteolitik seperti enzim kathepsin K kolagenase membantu kerja osteoclast dalam demineralisasi tulang. Osteoclast akan mengaktifkan pompa proton dan membuka pintu ion klorida (CIC-7) dan terjadilah penurunan pH pada tempat terjadinya resorpsi tulang dilakuna

Howship’s dengan diameter lakuna kira-kira 100 µm dan dalamnya 50 µm, kemudian terjadi penghancuran kristal hidroksiapatit. Proses resorpsi tulang ini akan kemudian terhenti dan

osteoblast akan ditarik ke sisi unit metabolisme tulang (BMU). 1,6,12,17

Aktivasi osteoblast dimulai pada sisi dalam lakuna Howship’s yang tersusun dibawah matriks osteoid, yang terutama terdiri dari jaringan kolagen tipe 1. Proses pengisian lakuna oleh

osteoid ini memerlukan waktu sekitar 80 hari. Pembentukan matriks yang baru ini akan

mengandung mineral hydroxyapatite, dan menyebabkan unit metabolisme tulang (BMU)

dapat meregang. Area yang diperbaiki ini kemudian akan melewati fase tidak bergerak untuk

menyelesaikan siklus tulang selama 60 sampai 120 hari. Osteocalsin merupakan matriks yang disekresikan oleh osteoblast dan memegang peranan penting dalam proses mineralisasi kristal-kristal hydroxyapatite. 1,6,17,19,20.

Proses remodeling tulang ini membutuhkan keseimbangan koordinasi yang baik antara

osteoblast, osteoclast dan sel-sel endotel. Pada wanita usia reproduksi, keseimbangan proses ini berjalan dengan baik, dan memasuki masa klimakterium maka akan terjadi gangguan

keseimbangan proses ini yang dipengaruhi oleh penurunan hormon estrogen; dimana terjadi

(28)

osteoclast dan dengan sendirinya proses penggantian tulang akan berlangsung dengan sangat cepat (High Turnover).1,11.

Peningkatan aktivasi unit multiseluler tulang pada wanita pasca menopause akan

menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah osteoclast dan proses resopsi tulang dilakuna (gambar 4a). Jika terjadi peningkatan resopsi tulang maka akan terjadi peningkatan formasi

tulang (gambar 4b).6

In post-menopausal osteoporosis, the decrease of estrogen will lead to increased numbers of osteoclasts and, thus, enhanced numbers of bone multi-cellular units (A). As a consequence, the urinary excretion of calcium and collagen degradation products, such as deoxypyridinoline crosslinks, will be increased. Since more bone multi-cellular units are present in the skeleton of a post-menopausal woman, the number of active osteoblasts will be enhanced, and because of that, the serum level of osteocalsin will be increased (B). The more severe the osteoporosis, the more bone multi-cellular units will be present, and therefore the number of active osteoblasts and serum osteocalsin levels will be an indicator of "high turnover" osteoporosis. However, since the individual osteoblasts are less-wellfunctioning because of the lack of estrogen, the net effect of resorption and bone formation will be such that the amount of bone tissue will decrease

Secara fisiologis 10% dari jaringan akan mengalami proses pergantian tulang setiap tahunnya,

dan terdapat seribu BMU pada berbagai fase dari siklus tulang setiap waktunya. Sehingga

proses defisit pada BMU secara bertahap dapat berperan dalam keropos tulang dari waktu ke

waktu. Pada osteoporosis akan terjadi penipisan pada tulang kompakta dan spongiosa,

sedangkan aktivitas tulang pada jaringan trabekuler masih berlangsung, sehingga

ketidakseimbangan proses remodeling tulang ini dapat diperbaiki dengan terapi yang adekuat.

1,6,12,17.

Pada wanita terdapat percepatan penurunan densitas tulang pada usia pasca menopause yaitu

(29)

Secara umum, protein dan substansi lainnya diproduksi, dimodifikasi, dan dikeluarkan atau

didegradasi oleh pengaktifan sel osteoclast dan osteoblast pada fase yang berbeda dari siklus sel dan menunjukkan penanda biokimia yang digunakan dapat untuk memantau proses

metabolisme tulang.18,19,20.

Osteocalsin merupakan salah satu dari penanda aktivitas metabolisme tulang spesifik yang dihasilkan oleh sel osteoblast yang terdapat didalam matriks tulang organik dan digunakan sebagai penanda aktivitas pembentukan tulang. Osteocalsin merupakan protein spesifik yang

dapat dideteksi melalui pemeriksaan ELISA. 18,19,20.

Pada wanita pasca menopause yang menderita osteoporosis terjadi peningkatan osteocalsin

yang disebabkan oleh peningkatan aktivitas osteoblast. Pada wanita pasca menopause akan terjadi peningkatan jumlah sel osteoclast yang sama dengan peningkatan jumlah sel osteoblast

yang berperan dalam proses pembentukan tulang bersamaan dengan proses resorpsi sehingga

terjadi penurunan densitas mineral tulang. 18,19,20.

2.5.6. Pengaturan Metabolisme Tulang

Proses metabolisme tulang diatur oleh hubungan yang terjadi antara hormon dan

faktor-faktor lainnya. Fibroblast Growth Factors (FGF, tipe asam dan basa) akan meningkatkan proses proliferasi osteoblast dan sintesis jaringan kolagen di dalam tulang. FGF umumnya terpisah dan berada disekitar sel osteoblast tetapi mekanisme kerja FGF yang tepat belum diketahui. FGF dasar merupakan aktivator yang lebih kuat. Insuline-like growth factors (IGF,

tipe 1 dan 2) atau somatomedin, yang meningkatkan jumlah protein dari osteoid dengan cara mempromosikan proliferasi preosteoblast dan dengan mengurangi degradasi kolagen yang diikuti oleh peningkatan sintesis protein.2,6,12.

Perubahan bentuk faktor-faktor pertumbuhan (TGF, β1 dan β2) yang diduga berperan penting

pada proses pematangan sel dengan merangsang sel-sel prekursor menjadi osteoblast; dan sintesis alkaline fosfatase; ekspresi TGF-β yang juga berhubungan dengan sintesis jaringan kolagen tipe 1. Faktor pertumbuhan yang berasal dari platelet (PDGF) juga ditemukan pada

matriks tulang yang juga merangsang kerja sel osteoprogenitor dan pembentukan protein.2,6,12

(30)

sel matur lain. Colony stimulating factors (CSF) terlibat dalam proses proliferasi osteoclast

dan penghantaran informasi antara osteoclast dan osteoblast.2,6,12

Tabel dibawah ini memperlihatkan keterlibatan hormon-hormon sistemik pada pengaturan

metebolisme tulang. hormon-hormon ini dapat mempengaruhi kerja sel progenitor, osteoblast

(31)

Tabel 2. Hormones and Factors Involved in Bone Metabolism

Hormone or Factor

Effect on Bone

Turnover Cells Effected Mechanism of Effect

Parathyroid hormone

Increase Progenitor, osteoblasts

High level stimulate osteoblasts causing increased osteoclast activity, increased activation frequency, and accelerated bone loss.

Thyroxine (T3) Increase Osteoclasts High concentrations increase

resorption with differential effects on cortical and cancellous bone; cortical bone lost preferentially

Estrogen Decrease Osteoblasts With deficiency, osteblasts stimulated causing increased osteoclast activity, increased activation frequency, and accelerated bone loss

Testosterone Decrease Osteoblasts With deficiency osteblasts stimulated causing increased osteoclast activity, increased activation frequency, and accelerated bone loss

Vitamin D (calcidol, calcitriol)

Decrease Osteoblasts Deficiency causes increased activation frequency but also inhibits

mineralization of newly synthesized osteoid matrix

Cortisol Increase Progenitor, osteoblasts osteoclasts

Increased concentration have profound effect by both increasing bone

resorption and inhibiting bone

formation, leading to accelerated bone loss

Calcitonin Decrease ? Inhibits bone resorption; used

therapeutically to treat increased bone loss, e.g. Paget’s disease and high turnover osteoporosis

Insulin Decrease Osteoblasts Causes increased IGF-1 synthesis in liver, resulting in increased collagen synthesis by osteoblasts

Vitamin D terdiri dari 2 substansi, calcifediol (1,25-dihydroxyvitamin D) dan calcitriol (1,25-trihydroxivitamin D). Efek kelebihan hormon paratiroid yang dimodulasi oleh IGF-1 dan CSF. Hormon Paratiroid ini dibutuhkan untuk mengubah calsifediol menjadi calsitriol karena hormon ini merupakan stimulator utama pada aktifitas 1-α hydroxylase di ginjal. Perubahan

calsifediol menjadi calsitriol berperan dalam proses maturasi osteoblast. Penurunan konsentrasi dari calsifediol dan calsitriol berhubungan dengan peningkatan aktifasi unit metabolisme pada tulang atau BMU. Bila dibandingkan dengan hormon kortisol, hormon

paratiroid ( hormon kalsitropik ) dan vitamin D akan beraksi secara tidak langsung dalam

(32)

Hormon estrogen berperan penting dalam pengaturan dasar remodeling tulang dan terapeutik

pada wanita. Penurunan estrogen dapat menurunkan produksi matriks osteoid, peningkatan

pembentukan tulang trabekular, dan memacu proses resorpsi tulang dan peningkatan turnover

tulang.Hormon glukokortikoid juga dapat menyebabkan peningkatan sensitivitas osteoclast

terhadap efek resorbsi tulang dari konsentrasi PTH yang beredar di sirkulasi. 2,6,8,17,20

Reseptor estrogen yang berada di dalam sitosol, yaitu reseptor estrogen α (ERα), dan ER β

diekspresikan terbanyak pada jaringan epitel dan mesenkim termasuk osteoblast. Stimulasi reseptor estrogen pada osteoblast akan mengaktivasi aktivitas anabolik osteoblast dan menurunkan mengaktivasi osteoclast dan menghalangi aktivitas resorbsi tulang. Reseptor estrogen tidak hanya dapat mengikat estrogen, tetapi dapat juga mengikat modulator

reseptor-estrogen selektif (SERMs), yang mengaktivasi reseptor reseptor-estrogen pada tulang. Hormon

estrogen juga berperan dalam pengaturan prostaglandin. Prostaglandin E2 (PGE2) merupakan

stimulator yang kuat terhadap proses resorpsi tuang dan pembentukan osteoclast.2,6,17,20. Manolagas (2000) melaporkan bahwa hormon estrogen dapat menurunkan apoptosis sel

osteoblast sehingga memperpanjang umur sel-sel osteoblast, hal inilah yang merupakan mekanisme estrogen untuk mengendalikan proses pembentukan tulang. 6

Chen,dkk (2005) melaporkan bahwa hormon estrogen mempengaruhi apoptosis dari sel

osteoblast dan sel osteoclast melalui mekanisme fosforilasi Erk, sejak diketahui bahwa hormon estrogen menyebabkan fosforilasi transien di sel osteoblast, osteocytes dan

osteoclast.6

Hormon kalsitonin merupakan hormon kalsitropik yang merupakan penghambat yang efektif

terhadap proses resorbsi tulang. Saat ini, mekanisme kerja hormon kalsitonin tidak diketahui,

tetapi hormon tersebut telah digunakan untuk mengobati pasien dengan turnover osteoporosis

yang tinggi, penyakit paget, dan hiperkalemi yang terjadi pada penyakit keganasan.1,2,4,17,20 Peningkatan konsentrasi hormon tiroid, hormon prolaktin, hormon pertumbuhan akan

meningkatkan produksi IGF-1 oleh osteoblast, sehingga terjadi peningkatan proliferasi preosteoblastik, sintesa protein dan penurunan degradasi protein.2,4,17.

Hormon kortisol dan steroid dapat meningkatkan turnover tulang secara langsung merangsang proses resorpsi dan formasi tulang. Pengobatan jangka pendek dengan glukokortikoid akan

meningkatkan sintesis jaringan kolagen tipe 1, yang berhubungan dengan ikatan IGF-1.

(33)

berkurangnya pembentukan osteoid, sehingga akan mengakibatkan terjadinya osteoporosis

pada tulang.1,2,17

2.6.Faktor Risiko Osteoporosis.

Risiko terjadinya patah tulang sangat tergantung pada kekuatan tulang. Kekuatan tulang

ditentukan oleh beberapa faktor utama yaitu massa tulang, kandungan mineral tulang, dan

mikroarsitektur tulang. Massa tulang maksimal ( peak bone mass) pada wanita 25 sampai 40% lebih rendah daripada massa tulang maksimal pria. Massa tulang maksimal dicapai pada

usia antara 25 sampai 30 tahun, sedangkan densitas mineral tulang maksimal dicapai pada

usia 18 tahun. Densitas mineral tulang berhubungan oleh mikroarsitektur tulang dan densitas

mineral tulang. 1,4,7.

Peningkatan usia akan mengakibatkan terjadinya penurunan massa tulang. Proses

pembongkaran tulang (absorbsi) lebih cepat daripada proses pembentukan tulang ( formasi ).

Lebih kurang 20 % kehilangan massa tulang pada wanita ini terjadi pada 5 sampai 7 tahun

pasca menopause, sehingga di perkirakan kehilangan massa tulang ini berhubungan dengan

penurunan kadar estrogen.1,4,7,8

Faktor risiko terjadinya osteoporosis4

Tabel 3. Risk factor that identify who should be assesed for osteoporosis

Major Risk Factor Minor Risk Factor

Age 65 years

Vertebral compression fracture

Fragility fracture after age 40

Family history of osteoporotic fracture

Systemic glucocorticoid therapy 3 months

Malabsorbtion syndrome

Primary hyperparatiroidism

Propensity to fall

Osteopenie appearent on X-ray film

Hypogonadism

Early menopause ( before age 45 )

Rheumatoid artritis

Past history of clinical hyperthyroidism

Chronic anticonvulsant therapy

Low dietary calsium intake

Smoker

Excessive alcohol intake

Excessive caffeine intake

Weight 57 kg

Weight loss 10% of weight at age 25

Chronic heparin therapy

Beberapa faktor resiko osteoporosis yang tidak dapat dicegah antara lain yaitu riwayat

(34)

putih; usia lanjut ( > 65 tahun ); jenis kelamin wanita; penyakit sistemik; gangguan absorbsi;

dan gangguan hormonal.4,8.

Beberapa faktor risiko terjadinya osteoporosis yang dapat dicegah antara lain yaitu merokok;

konsumsi kalsium dan vitamin D yang kurang; kebiasaan minum alkohol; konsumsi kafein;

kebiasaan olahraga dan aktivitas harian; dan lain-lain. 4,8.

Berikut ini akan dijelaskan beberapa faktor risiko osteoporosis yang dapat dicegah yaitu :

a. Kalsium.

Beberapa penelitian yang telah dilakukan terhadap wanita pada awal pasca menopause untuk

melihat hubungan suplementasi kalsium dalam pencegahan terjadinya osteoporosis. Penelitian

ini menunjukkan bahwa kehilangan kalsium yang berlangsung cepat pada wanita pasca

menopause berhubungan dengan penurunan kadar estrogen yang terjadi pada wanita tersebut,

sehingga mereka memerlukan suplementasi kalsium yang adekuat. 2

Lateef, 2009 melaporkan hubungan korelasi negatif antara jumlah konsumsi kalsium dengan kadar penanda osteocalsin dan C-telopeptide pada kelompok pasca menopause dan

premenopause dengan r = -0.44 dan r = -0.21.26

Salleh, 2010 melaporkan hubungan korelasi yang tidak bermakna antara kadar penanda proses remodeling tulang dan jumlah konsumsi kalsium harian.27

Kalsium dibutuhkan tubuh untuk membentuk dan mempertahankan kekuatan tulang dan gigi;

membantu proses pembekuan darah dan penyembuhan luka; penghantaran rangsangan saraf;

produksi hormon dan enzim-enzim; kontraksi otot; transpor ion melalui membran sel; dan

pencegahan osteoporosis.49

Penyerapan kalsium di dalam tubuh dipengaruhi oleh beberapa hormon tubuh antara lain

hormon paratiroid, kalsitonin, vitamin D dan estrogen. Penurunan penyerapan kalsium oleh

tubuh pada wanita pasca menopause disebabkan oleh penurunan kadar hormon estrogen yang

menyebabkan terjadinya penurunan kadar 1,25-dihydroxyvitamin D. Sehingga pemberian suplementasi kalsium pada wanita pasca menopause sebaiknya diberikan bersama hormon

(35)

Pada wanita pasca menopause yang memperoleh terapi sulih hormon membutuhkan asupan

kalsium sebanyak 1000 mg per hari untuk mencegah terjadinya osteoporosis dan mencapai

kecukupan keseimbangan kalsium nol ( zero calsium balance ). Jumlah kalsium yang diperoleh dari makanan sehari-hari diharapkan memenuhi kebutuhan kalsium sebanyak 500

mg perhari, sehingga wanita tersebut hanya membutuhkan tambahan asupan kalsium 500 mg.

Sedangkan pada wanita pasca menopause yang tidak memperoleh terapi sulih hormon

membutuhkan kalsium sebanyak 1500 mg. Asupan kalsium yang cukup sebanyak 1000 mg

perhari pada wanita usia reproduksi antara usia 25 sampai 50 tahun dapat membentuk tulang

yang kuat dan mencegah terjadinya osteoporosis saat memasuki masa menopause. Wanita

hamil dan menyusui juga dianjurkan untuk mengkonsumsi kalsium sebanyak 1500 mg

perhari.2

Sumber kalsium dapat diperoleh dari susu dan produk susu, kacang-kacangan, biji-bijian,

brokoli dan lain-lain. Susu kemasan berkalsium tinggi akan mengandung kalsium sebanyak

300-600 mg. Saat ini telah banyak dipasarkan produk suplemen kalsium dalam bentuk

kalsium karbonat (40% kadar elemen kalsium); kalsium sitrat (21% kadar elemen kalsium);

kalsium glukonat (9% kadar elemen kalsium); kalsium laktat (13% kadar elemen kalsium);

dan kalsium fosfat ( 39% kadar elemen kalsium). Sediaan kalsium sitrat tidak memerlukan

asam lambung dalam penyerapannya sehingga sediaan ini paling baik jika diberikan pada

wanita yang berusia lanjut.2,49.

b. Konsumsi alkohol.

Kebiasaan minum alkohol sebanyak 2-3 ons perhari mempermudah terjadinya osteoporosis.

Alkohol dapat mengganggu proses absorbsi kalsium dengan cara menghambat kerja enzim

yang merubah vitamin D in aktif menjadi bentuk aktif. Alkohol juga dapat meningkatkan

kadar hormon paratiroid sehingga meningkatkan terjadinya resorpsi kalsium dari tulang dan

mengganggu keseimbangan kalsium tubuh. 2,50.

Wanita yang mengkonsumsi alkohol secara kronis dapat menyebabkan terjadinya gangguan

menstruasi dan menyebabkan terjadinya penurunan kadar estrogen dan testosteron sehingga

terajdi penurunan aktivitas osteoblast yang berperan dalam proses formasi tulang. Alkohol juga dapat meningkatkan sekresi hormon kortisol sehingga terjadi peningkatan aktifitas

(36)

c. Konsumsi kafein.

Beberapa penelitian melaporkan bahwa konsumsi kafein dengan jumlah besar berhubungan

dengan peningkatan risiko terjadinya osteoporosis. 2 Konsumsi kafein sebanyak 300-400 mg perhari atau 4 cangkir kopi perhari dapat menyebabkan terjadinya gangguan keseimbangan

kalsium pada tulang; hal ini disebabkan sifat asam dari kafein yan gdapat menyebabkan

terjadinya peningkatan resorpsi tulang sehingga lebih banyak kalsium yang dikeluarkan dari

urin dan feses.4,49,50.

Cooper C,dkk (1992) melaporkan bahwa konsumsi kafein yang tinggi tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan peningkatan kadar penanda remodeling tulang yang

menunjukkan aktifitas remodeling tulang. 51

Konsumsi kafein dengan jumlah banyak atau sebanyak 300-400 mg per hari tidak akan

menyebabkan terjadinya osteoporosis jika diberikan asupan kalsium yang cukup. 2,51

d. Merokok.

Merokok berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya osteoporosis pada tulang panggul

sebanyak 40-45 %. Wanita perokok akan mengalami masa menopause lebih cepat sehingga

terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan peningkatan osteoporosis pada periode awal

menopause. 2

e. Indeks massa tubuh.

Salleh, dkk (2010) melaporkan indeks massa tubuh memiliki hubungan yang bermakna dengan risiko osteoporosis; dimana wanita pasca menopause dengan indeks massa tubuh yang

tinggi akan memiliki indeks massa tubuh yang rendah. Hal ini berkaitan dengan

adypocytokine seperti leptin terhadap sel osteoblast dan osteoclast yang berperan dalam remodeling tulang.27

Wanita dengan indeks massa tubuh yang rendah dan kurang dari 20 kg/m2 akan meningkatkan risiko osteoporosis. 4,49,50. Morin, dkk (2009) melaporkan bahwa indeks massa tubuh yang rendah memiliki hubungan yang bermakna dengan peningkatan risiko terjadinya osteoporosis

(37)

f. Olahraga.

Kebiasaan olahraga bermanfaat untuk menjaga densitas tulang. Olahraga yang bermanfaat

bagi tulang antara lain yaitu: olahraga aerobik; olahraga fleksibilitas; olahraga keseimbangan;

olahraga beban; dan olahraga keseimbangan. 2,50

• Olahraga aerobik.

Olahraga aerobik dapat memperbaiki fungsi jantung dan peredaran darak ke tulang sehingga

dapat mencegah risiko terjadinya osteoporosis. Beberapa olahraga aerobik yang dapat

dilakukan antara lain berlari, sepeda statis, senam, berenang; menari, dan naik turun tangga.

Pada gerakan aerobik kedua kaki akan bergantian menyentuh tanah sehingga kedua tungkai

dan panggul bergerak bergantian. Aktivitas olahraga ini sebaiknya dilakukan selama 30 menit

dengan frekuensi olahraga minimal 3 kali per minggu. 2,50.

• Olahraga beban.

Olahraga beban (weight bearing exercise) adalah olahraga yang dilakukan dimana seluruh tubuh bertumpu pada kedua tungkai dan melawan gravitasi bumi. Beberapa contoh olahraga

beban ini adalah jalan, lari, bola basket, melompat tali dan meloncat. Olahraga lompat tali

yang dilakukan sebanyak 50-100 kali perhari sebanyak 3 kali perminggu telah dilaporkan

dapat meningkatkan massa tulang secara bermakna.50

Olahraga berjalan kaki telah dilaporkan dapat meningkatkan massa tulang panggul dan

menurunkan risiko osteoporosis pada wanita pasca menopause terutama pada jika dilakukan

dengan intensitas yang tinggi dengan kecepatan 8-10 km perjam. 2,50.

• Olahraga fleksibilitas.

Olahraga fleksibilitas adalah olahraga peregangan otot yang bertujuan untuk keseimbangan

dan menghindari jatuh dan membuat sendi menjadi lebih kuat dan lentur; menyangga berat

badan sehingga dapat merangsang pertumbuhan tulang yang baru. Contoh olahraga

fleksibilitas adalah yoga.50

• Olahraga tahanan (resistance taraining).

Olahraga tahanan ini memakai beban dengan berat tertentu dan terdiri dari gerakan menahan,

(38)

tulang dan metabolisme tulang dan kekuatan otot. Contoh olahraga ini adalah naik turun

tangga; mengangkat barbell dan dumbell di anggota gerak atas dan bawah.50

2.7. Gejala dan Tanda Osteoporosis

Osteoporosis merupakan penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh penurunan densitas

mineral tulang dan kerusakan mikroarsitektur jaringan tulang, yang ahirnya mengakibatkan

terjadinya kerapuhan tulang dan patah tulang.1,4,7

Pada tahap awal, osteoporosis ini tidak memperlihatkan gejala kemudian penderita akan

mengeluhkan nyeri pada tulang punggung, penurunan tinggi badan dan kemampuan mobilitas

tubuh. Nyeri pada tulang vertebra biasanya menunjukkan terjadinya fraktur kompresi tulang

vertebra. Di Amerika Serikat, osteoporosis bertanggung jawab terhadap terjadinya patah

tulang lebih dari 1.5 juta orang pertahun. Di Canada, diperkirakan terjadinya 1 orang

menderita fraktur tulang dari 4 orang wanita yang menderita osteoporosis. 1,3,7.

Penelitian epidemiologi melaporkan kejadian fraktur yang sering terjadi pada wanita

menopause yaitu fraktur kompresi tulang vertebra; fraktur Colle’s; fraktur tulang sendi femur;

kehilangan gigi; kerusakan dan kehilangan tulang alveolar gigi berhubungan erat dengan

terjadinya penurunan densitas mineral tulang dan osteoporosis di tulang spinal dan penurunan

kadar hormon estrogen di dalam darah. 1,3,7

2.7.1. Diagnosa Osteoporosis.

National Institutes of Health Consensus Conference (2001) menyatakan definisi osteoporosis sebagai suatu kelainan pada tulang yang ditandai oleh adanya penurunan kekuatan tulang

yang merupakan faktor risiko terjadinya fraktur tulang.4

Kekuatan tulang dinilai berdasarkan hasil pemeriksaan densitas mineral tulang dan kualitas

tulang. densitas mineral tulang dinyatakan berdasarkan gram per volume area tulang. Kualitas

tulang dipengaruhi oleh susunan matriks tulang seperti aktivitas tulang ( bone turn over); mikroarsitektur tulang; derajat kalsifikasi dan jaringan kolagen tulang. 7

Saat ini, penilaian kualitas tulang tidak hanya berdasarkan atas hasil pemeriksaan tulang

secara klinis tetapi berdasarkan hasil pemeriksaan aktivitas metabolisme tulang melalui

(39)

Berikut ini adalah diagram penatalaksanaan pemeriksaan osteoporosis dan pemilihan terapi

berdasarkan hasil pemeriksaan kadar penanda penghancuran dan pembentukan tulang

berdasarkan National Institutes of Health Consensus Conference (2001):7

Fig. 1. Diagnosis of osteoporosis and selection of drugs by measuring markers of bone turnover. *Bisphosphonate therapy requires at least 6-month washout time; **bisphophonate,

selective estrogen receptor modulators (SERMs; e.g., raloxifene), estrogen, calcitonin, and

ipriflavone are known as anti-bone resorptive drugs. DPD, deoxypyridinoline; NTX, type I collagen crosslinked N-telopeptide; CTX, type I collagen crosslinked C-telopeptide; BAP,

bone alkaline phosphatase

Diagnosed as osteoporosis

Check drugs that influence calcium metabolism. Discontinue the drug if applicable.*

1. Measuring bone resorption markers (DPD, NTX, CTX) 2. Measuring bone formation markers (BAP)

1 is low - normal Either 1 or 2 is high

Few risks of fracture

Check bone diseases (metastatic bone tumor, etc) & abnormal bone/calcium metabolism.

Fracture, bone mass, risk factors, complications & patient background, etc, should be considered to select drugs

No

High in 2

High in 1

Yes

Treat underlying disease first & measure the bone

turnover marker to monitor the disease

Higher risks of fracture

(40)

Keberhasilan penatalaksanaan penegakan diagnosa osteoporosis dan pencegahan fraktur

osteoporosis pada wanita menopause dinilai dengan penurunan kadar penanda tulang (bone turnover) sampai kadar normal sebelum wanita menopause. 16,17,24.

2.7.1.1. Pemeriksaan ketebalan densitas mineral tulang.

Pemeriksaaan densitas mineral tulang merupakan pemeriksaan yang dianjurkan terhadap

wanita pasca menopause yang memiliki faktor resiko terjadinya patah tulang; dan tidak

dianjurkan sebagai pemeriksaan rutin tanpa indikasi yang jelas. Jenis pemeriksaan densitas

mineral tulang yang saat ini sering dilakukan untuk menegakkan diagnosa osteoporosis dan

melihat resiko fraktur tulang dengan menggunakan radioisotop single photon absorptiometry; double photon absorptiometry (DXA) ; computed tomography (QCT). Pemeriksaaan DXA merupakan pemeriksaan standarisasi internasional (g/cm2) dengan bahaya radiasi yang kecil (3-10 uSV) dan membutuhkan waktu pemeriksaan yang singkat.1,4,7,15.

Quantitative ultrasonometry (QUS) merupakan pemeriksaan yang sederhana dan tidak memiliki bahaya radiasi sama sekali. Pengukuran densitas mineral tulang dilakukan pada

tulang kalkaneus, tibia atau phalang. Nilai normal pengukuran densitas mineral tulang dengan

pemeriksaan QCT ini adalah > 120 mg hidroksilapatit/cm3. Osteopeni ditegakkan jika ditemukan nilai densitas mineral tulang antara 80 dan 120 HA/cm3 ; dan dikatakan osteoporosis jika ditemukan nilai densitas mineral tulang < 80HA/cm3 . 1,3

Pemeriksaan densitas mineral tulang dengan DXA dinyatakan dengan nilai T-skor dan Z-skor.

Menurut WHO, densitas mineral tulang dikatakan normal jika ditemukan nilai T-skor >-1SD;

osteopeni jika ditemukan T-skor berada diantara -1 dan -2.5 SD; dan osteoporosis jika

ditemukan nilai T-skor < 2.5. Z-skor adalah skor yang digunakan untuk memperkirakan

risiko fraktur di masa akan datang sehingga dapat diambil tindakan pencegahan. Nilai Z-skor

<-1 berarti wanita tersebut memiliki risiko terkena osteoporosis. Berkurangnya densitas

mineral tulang 1 SD maka akan meningkatkan kejadian patah tulang sebanyak dua kali lipat.

1,4,7,15,18.

2.7.1.2. Pemeriksaan Biokimia Penanda Proses Remodeling Tulang.

Metabolisme tulang ditandai oleh dua aktivitas unit multiselular yang berlangsung secara

bersamaan. Proses resorpsi tulang terdiri dari pengurangan mineral tulang dan katabolisme

(41)

mensintesis matriks tulang yang memperbaiki kavitas-kavitas dan mengalami mineralisasi

primer yang cepat yang diikuti oleh mineralisasi sekunder jangka panjang yang lambat.6,10,17, Pembentukan tulang bisa dideteksi dengan marker biochemical seperti osteocalsin (OC),

bone-specific alkaline phosphatase (BAP) dan juga N-terminal dan C-terminal propeptida

dari procollagen type I (P1NP, P1CP). Collagen type I merupakan protein matrix tulang yang paling diabaikan. P1NP dan P1CP terbentuk selama metabolisme ekstraseluler dari

procollagen dan dilepaskan ke darah, sementara bagian tengah dari molekul berhubungan

dengan matriks tulang. P1NP dan P1CP tidak spesifik untuk tulang, akan tetapi tulang

memiliki metabolisme yang lebih cepat dari pada jaringan lain yang mengandung collagen

type I dan kebanyakan serum P1NP dan P1CP berasal dari tulang. 5,12,13,48

Tabel 4. Biochemical markers reflecting bone formation

Marker Method

Bone-specific alkaline phosphatase (Bone ALP)

HPLC

electrophoresis, all isoforms semiquantitavely determined after pretreatment lectin precipitation and calculation, activity measured

IRMA or ELISA, mass concentration measured immunoextraction with a monoclonal antibody, activity measurement

Osteocalsin (OC) several RIAs, bovine OC as immunogen, intact OC and several fragments measured

several RIAs and IRMAs, or methods with other than radioactive label, with human OC as

immunogen, measuring intact OC, its N-Mid-fragment or both or in addition smaller N-Mid-fragments

Procollagen I carboxy-terminal propeptide (PICP)

RIA or ELISA

Procollagen I amino-terminal propeptide (PINP)

RIA measuring intact PINP

ELISA and automated ECIA measuring intact PINP and Col 1 fragment of PINP

BAP adalah enzim yang berlokasi di permukaan luar dari osteoblast, kemungkinan terlibat pada regulasi dari proses mineralisasi osteoid. OC merupakan protein yang tergantung

vitamin K dan disintesa oleh osteoblast dan odontoblast. OC terdiri dari tiga residu gammacarboxyglutamic dan fungsinya belum jelas. Kadar serum dari marker pembentukan

tulang berhubungan dengan parameter histomorfometrik dari pembentukan tulang. 15

Penyerapan tulang bisa diamati dengan beberapa biochemical marker, seperti N-terminal dan

C-terminal crosslinking telopeptida dari collagen tipe I (NTX-1 dan CTX-1), C-terminal

crosslinking telopeptida dari collagen tipe I oleh metalloproteinase (CTX-MMP, ICTP),

Gambar

Tabel 1. Perubahan kadar hormon steroid di sirkulasi darah wanita pasca menopause2
Tabel 2. Hormones and Factors Involved in Bone Metabolism
Tabel 3. Risk factor that identify who should be assesed for osteoporosis
Fig. 1. Diagnosis of osteoporosis and selection of drugs by measuring markers of bone
+7

Referensi

Dokumen terkait

Uji t-test tidak berpasangan menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara kadar 17 β estradiol saliva pada wanita menopause dengan dan tanpa keluhan (p =0.000)..

resiko penelitian ini yang berjudul Kadar -Cross-Link Telopeptide Pada Wanita Postmenopause dengan Osteoporosis atau Osteopeni. , dan memahami bahwa subyek dalam penelitian

mengenai penelitian “ Hubungan Kadar Serum Estradiol terhadap Densitas Tulang Pada Wanita Menopause Hubungan Kadar Estradiol Serum terhadap Densitas massa Tulang

Memberikan infomasi tentang hubungan antara nilai kadar estradiol serum terhadap densitas mineral tulang pada wanita menopause.. Pada penelitian ini, saya akan mengukur Kadar

perbedaan kadar estradiol serum pada wanita menopause dengan gejala. vasomotor berdasarkan derajat ringan, sedang,

Perbedaan Rerata Kadar Estradiol Serum Wanita Menopause Dengan Sindroma Vasomotor Berdasarkan Derajat

Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar enzim antioksidan katalase atau kadar anti zat beracun pada wanita menopause dan wanita usia

PERUBAHAN FISIK, PERILAKU SEKSUAL, DAN PSIKOLOGIS PADA WANITA YANG MENGALAM I MENOPAUSE Variabelnya adalah perubahan fisik yang terjadi pada wanita pasca menopause Populasi