• Tidak ada hasil yang ditemukan

Assessment on the crop livestock system in the paddy field: a case study in the Cianjur Regency, West Java

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Assessment on the crop livestock system in the paddy field: a case study in the Cianjur Regency, West Java"

Copied!
316
0
0

Teks penuh

(1)

PADA SISTEM USAHATANI DI LAHAN SAWAH

(Studi Kasus Di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat)

RULI BASUNI

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

ii PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Integrasi Padi-Sapi Potong pada Sistem Usahatani di Lahan Sawah (Studi Kasus di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat) adalah hasil karya saya dengan arahan Komisi Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Januari 2012

(3)

iii ABSTRACT

RULI BASUNI. Assessment On The Crop Livestock System In The Paddy Field: A Case Study in the Cianjur Regency, West Java. Under the direction of MULADNO, CECEP KUSMANA, and SURYAHADI

The crop livestock system (CLS) is an effort to increase paddy production that be integrated with livestock. The integration pattern was the utilization of plant straws as feed and manure for fertilizer. The technology innovations introduced was paddy primary seeds, balanced fertilization, group stall management, organic fertilizer processing, and paddy straw fermentation. The purpose of the assessment was to find out the role of livestock on the farmer income through the integration of crops and livestock livestock system based on the technology innovations. The assessment involved livestock and 5 ha paddy planting area. The farmer consist of 2 groups ie.: cooperator group (integrated system), and control (non integrated). Meanwhile, this assessment was used 20 livestock/group of respondent. The assessment results showed that paddy yield was 5.36 tons/ha, an increase of 10.29% compared to those yielded by other farmers. The use of inorganic fertilizer decreased to 100 kg/ha (N 57.14%), SP-35 50%, KCl 50%. The average of daily weight gain was 790 g/cattle and organic fertilizer 10,02%. The C/N ratio of composted feces was 19.03%. The average organic fertilizer yielded was 4 kg/cattle daily and the rice straw yielded was 7.26 tons/ha/season. The income of farmers with the integrated farming system was Rp. 9,086,867 for 1 ha land and 2 beef cattle with R/C ratio of 1.56.The result of the analysis becomes one of the resources to provide judgments on every sub-dimension in relation to the sustainable CLS farming business within existing condition.Based on the discourse resulted from stakeholder and expert discussions, there are 33 sub-dimensions within four farming business dimensions of CLS in Cianjur. Those are dimenesions of ecology, economy, socio culture, and technology. The status of CLS sustainability in multidimension perspective throughout Cianjur Regency shows sustainability index score of 46.34 within 0 – 100 sustainability scales. The score is categorized as less suatainable. Socio-culture score is 52.37, economics score is 52.38, ecology score is 49.35, and technology dimension score is 31.26.There are 7 key factors as the important factors for stipulating policy and strategy of CLS development in the future – comprises to three keys which have high influence but low dependent, such as (1) farmer group/the Accosiation, (2) Training and supervision frequency, (3) woof supply; and four variables which have high influence and dependet as well, like (1) livestock nursing system, (2) Financial support, (3) Government supports, and (4) inter-sectoral cooperation. An optimistic-moderate scenario means the condition of CLS farming business in the future is predicted through the existing assets and resources. This also aims to increase the proseprity level of the farmer and to contribute to the local economics movement. National massive movement and policy are hoped to be able to push a sustainable agriculture movement thruough the implementation of CLS pattern in specific location with some considering factors to be taken.

(4)

iv RINGKASAN

RULI BASUNI. Integrasi Padi-Sapi Potong pada Sistem Usahatani di Lahan Sawah: Studi Kasus di Kabupaten Cianjur. Di bawah bimbingan MULADNO, CECEP KUSMANA, dan SURYAHADI.

Sistem Integrasi Padi-Ternak (SIPT) merupakan usaha meningkatkan produksi padi yang diintegrasikan dengan ternak sapi. Pola integrasinya adalah memanfaatkan jerami tanaman untuk pakan ternak dan kotorannya untuk pupuk tanaman. Inovasi teknologi yang diintroduksikan adalah penggunaan benih unggul padi dan jagung, pemupukan berimbang, manajemen kandang kelompok, pengolahan pupuk organik (pupuk kandang) dan pengolahan jerami fermentasi. Materi pengkajian yang digunakan yaitu ternak sapi potong dan luasan tanaman padi sebanyak 5 hektar. Petani yang terlibat dibedakan atas 2 kelompok yaitu kelompok kooperator (sistem integrasi) dan kontrol (pola petani). Jumlah ternak sapi yang digunakan sebanyak 20 ekor untuk masing-masing kelompok responden.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas padi meningkat dari 4,86 ton/ha menjadi 5,36 ton/ha, meningkat sekitar 10,29% dibandingkan pola kebiasaan petani, dan menurunkan penggunaan pupuk anorganik 53,33%. Penggunaan pupuk Urea menurun menjadi 100 kg/ha (57,14%), penggunaan pupuk SP-36 menurun menjadi 50 kg/ha (50%) dan penggunaan KCl menurun menjadi 50 kg/ha (50%). Tambahan bobot hidup sapi secara terintegrasi rata-rata 790 gr/ekor/hari, sedangkan pola petani 320 gr/ekor/hari dan tambahan pupuk organik 10,02%. C/N ratio kotoran sapi yang dikomposkan 19,03%. Pupuk organik yang dihasilkan rata-rata 4 kg/ekor/hari dan jerami padi 7,26 ton/ha/panen. Pendapatan yang diperoleh petani dari sapi yang dikelola secara terintegrasi (1 ha sawah + 2 ekor sapi) mencapai Rp 9.086.867/2 ekor/musim tanam atau Rp 4.543.433 /ekor/musim tanam, dengan R/C ratio 1,56.

Hasil analisis usahatani pola SIPT menjadi salah satu sumber untuk memberikan penilaian setiap atribut pada masing-masing dimensi dalam rangka menilai keberlanjutan usahatani pola SIPT pada saat ini. Berdasarkan hasil diskusi dengan stakeholder dan pakar disepakati 33 atribut yang tersebar dalam empat dimensi usahatani pola SIPT di kabupaten Cianjur yaitu: dimensi ekologi, ekonomi, sosial budaya, dan teknologi. Status keberlanjutan SIPT secara multidimensi di Kabupaten Cianjur menunjukkan nilai indeks keberlanjutan SIPT (IkB-SIPT) sebesar 46.34 pada skala sustainabilitas 0 - 100, dan termasuk ke dalam kategori kurang berkelanjutan. Nilai dimensi ekonomi sebesar 52,38, dimensi sosial-budaya 52,37, dan dimensi ekologi 49.35, serta dimensi teknologi 31,26.

(5)

v Berdasarkan keadaan setiap faktor, maka dirumuskan 3 skenario strategi pengembangan SIPT di Kabupaten Cianjur, yaitu : 1) skenario konservatif-pesimistik; 2) skenario moderat-optimistik; dan 3) skenario progresif-optimistik. Skenario strategi yang dapat dirumuskan dalam rangka pengembangan SIPT bisa lebih dari tiga skenario, namun dari keadaan dari masing-masing faktor kunci kemungkinan yang paling diperkirakan akan terjadi dimasa yang akan datang adalah ketiga skenario tersebut.

Skenario moderat-optimistik mengandung pengertian bahwa keadaan usahatani pola SIPT di Kabupaten Cianjur di masa mendatang berdasarkan pertimbangan sesuai dengan keadaan dan kemampuan sumberdaya yang dimiliki sehungga dapat memberikan keuntungan yang layak kepada petani untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan berkontribusi terhadap kemajuan ekonomi daerah. Diperlukan kebijakan dan gerakan nasional yang mampu mendorong pembangunan pertanian secara berkelanjutan melalui penerapan pola SIPT spesifik lokasi dengan memperhatikan faktor-faktor kunci.

(6)

vi

© Hak cipta milik IPB, tahun 2011 Hak cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritikan atau tinjauan suatu masalah, dan pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

(7)

vii

INTEGRASI PADI - SAPI POTONG

PADA SISTEM USAHATANI DI LAHAN SAWAH

(Studi Kasus Di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat)

RULI BASUNI

Disertasi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Doktor pada

Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)

viii Penguji pada Ujian

Tertutup

: Prof. Dr. Ir. Sumardjo, MS

Departemen Sains Kom & Pengabdian Masyarakat Dr. Ir. Asnath M. Fuah, MSi

Staf Pengajar Fakultas Peternakan IPB Bogor

Penguji pada Ujian Terbuka

: Dr. Ir. Luki Abdullah, MSc.Agr Dekan Fakultas Peternakan IPB Bogor Dr. Ir. Mursyid Masum, M.Agr

(9)

ix Judu l D is ert as i : Integrasi Padi - Sapi Potong pada Sistem Usahatani di

Lahan Sawah (Studi Kasus Di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat)

Na ma : Ru li Ba su ni NRP : P 062040171

Pro gram St ud i : Penge lo la a n Su mberd a ya A la m da n Lingk ung a n

D iset u ju i, Ko mis i Pe mb imb ing

Prof. Dr. Ir. H. Muladno,MSA Ket ua

Pro f.Dr.Ir.H.Cece p Kus ma na, MS Anggo t a

Dr.Ir.H,Sur ya ha d i, DE A Anggo t a

D ik et ahu i,

Ket ua Pro gram St ud i Deka n Seko la h Pa sc asar ja na Penge lo la a n Su mberd a ya

Ala m da n Lingku ng a n

Pro f.Dr.Ir.H.Cece p Kus ma na, MS Dr.Ir.Dahru l S ya h, M.Sc. Agr

(10)

x PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan disertasi dengan judul “Integrasi Padi - Sapi Potong pada Sistem Usahatani Di Lahan Sawah (Studi Kasus Di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat)”. Disertasi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar doktor pada Progam Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada :

1. Komisi pembimbing bapak Prof. Dr. Ir. H. Muladno. MSA., bapak Prof. Dr. Ir. H. Cecep Kusmana. MS dan bapak Dr. Ir. H. Suryahadi. DEA yang telah memberikan arahan, bimbingan, saran dan perhatian dalam menyelesaikan Disertasi ini.

2. Bapak Dr. Ir. Dahrul Syah M.Sc.Agr, selaku Dekan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, serta jajaran staff yang telah memberikan bantuan dan dukungan dalam kelancaran studi.

3. Bapak Prof. Dr. Ir. H. Cecep Kusmana. MS, sebagai Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. serta para staf dan dosen di Program Studi PSL, dan Sekolah Pascasarjana IPB atas bekal ilmu, arahan dan segala masukan yang diberikan guna menyusun Disertasi ini.

4. Bapak Prof. Dr. Ir. Soemarjo. MS, Ibu Dr. Ir. Asnath. M. Fuah, M.Si selaku penguji ujian tertutup, atas saran dan kritik dalam perbaikan sehingga Disertasi ini menjadi lebih baik.

5. Kepala P4TK Pertanian Cianjur yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan S3 di Institut Pertanian Bogor.

(11)

xi Badruzaman, Wawan Cahyadi SH, Ir. Cahyabudi Laksana serta seluruh keluarga atas motivasi, doa dan kasih sayang.

7. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan pada teman seperjuangan, serta semua pihak yang tak dapat disebutkan namanya yang telah banyak membantu memberikan dukungan dan bantuan baik moril maupun material dalam penyelesaian studi ini.

Penulis menyadari bahwa disertasi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan penyusunan di masa yang akan datang. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan berharap supaya disertasi ini dapat memberikan manfaat.

Bogor, Januari 2012

(12)

xii RI WAYAT HID UP

Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 20 Juli 1963 dari pasangan H. Burzaman dan Hj. Rustini dan merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara. Pendidikan sarjana ditempuh di Program Studi Produksi, Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, lulus pada tahun 1988. Pada tahun 1995, penulis lulus di Program Studi Ilmu Ternak pada Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang. Pernah mengikuti International Poultry and Feeding ditempuh di International Poultry Course (IPC) Barneveld The

Netherlands pada tahun 2002 s.d 2003. Kesempatan untuk melanjutkan ke

program doktor pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Pascasarjana Institut Pertanian Bogor diperoleh dari Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Pertanian Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia.

Penulis bekerja sebagai Widyaiswara di P4TK Pertanian Cianjur sejak tahun 1989. Bidang kajian yang ditekuni penulis sebagai Widyaiswara peternakan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Pertanian. Selama mengikuti program S3, penulis menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Pascasarjana IPB dan anggota Forum Widyaiswara Indonesia.

Bogor, Januari 2012

(13)

xiii HALAMAN JUDUL... vii

PRAKATA... ... x

RIWAYAT HIDUP ... xi

DAFTAR ISI………...… xiii

DAFTAR TABEL………...…… xiv

DAFTAR GAMBAR………... xvi

DAFTAR LAMPIRAN xviii I PENDAHULUAN ………..…………... 1

1.6 Kebaruan (Novelty) Penelitian ... 6

II TINJAUAN PUSTAKA... 7

2.1 Potensi Ternak Sapi sebagai Penghasil Daging ... 8

2.2 Potensi Sapi sebagai Penghasil Pupuk Organik ... 11

2.3 Potensi Limbah Jerami Padi ... 13

2.4 Sistem Integrasi Usahatani Pola SIPT ... 15

2.5 Hasil-hasil Penelitian Sebelumnya ... 20

2.6 Analisis Leverage ... 22

2.7 Analisis Monte Carlo ... 22

2.8 Analisis Status Keberlanjutan dan Analisis Prospektif ... 23

III METODE PENELITIAN .………... 26

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian..……...……...…... 26

3.2 Metode Penelitian... 26

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 29

3.4 Penentuan Sampel Penelitian ... 31

3.5 Metode Pengolahan Data ... 32

3.5.1 Analisis Usahatani ... 32

3.5.2 Analisis Status Keberlanjutan SIPT ... 33

3.5.3 Analisis Prospektif ... 39

IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN ……...…… 43

4.1 Keadaan Umum Kabupaten Cianjur ... 43

4.2 Karakteristik Petani Responden ... 50

4.3 Keragaan Usaha Penggemukan Sapi Potong ... 57

(14)

xiv

4.5 Pengolahan Pupuk Organik (Kompos) ... 65

4.6 Pengolahan Jerami Padi untuk Pakan SapiTernak ... 67

V HASIL DAN PEMBAHASAN ……...… 69

5.1 Analisis Usahatani Penggemukan Sapi Potong... 69

5.2 Analisis Usahatani Padi Sawah ... 70

5.3 Pola Integrasi ... 71

5.4 Indeks dan Status Keberlanjutan SIPT ... 72

5.5 Pengembangan SIPT ... 94

5.6 Perumusan Skenario Strategi Pengembangan SIPT 102 VI KESIMPULAN DAN SARAN …………...… 110

6.1 Kesimpulan ... 110

6.2 Saran ... 110

DAFTAR PUSTAKA ... 112

(15)

xv DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1 Perkiraan produksi jerami, dedak dan sekam padi (000 ton) ... 13

2 Kesesuaian lahan untuk pertanian di Indonesia ... 18

3 Alternatif teknologi dalam SIPT ... 26

4 Komposisi pakan ternak ... 28

5 Jenis dan sumber data ... 30

6 Perincian jumlah responden ... 31

7 Kategori status keberlanjutan usahatani pola SIPT berdasarkan nilai indeks hasil analisis RAP-SIPT ... 35 8 Analisis kebutuhan stakeholders ... 37

9 Pengaruh langsung antar faktor dalam SIPT ... 40

10 Kemiringan dan ketinggian wilayah ... 44

11 Distribusi persentase PDRB Kabupaten Cianjur atas dasar harga berlaku ... 46 12 Penduduk 10 tahun ke atas yang bekerja menurut lapangan usaha ... 47 13 Jumlah ketersediaan beras, dan kebutuhan konsumsi penduduk selama 3 tahun (2007 s.d. 2009) di Kabupaten Cianjur ... 47 14 Luas tanam, produksi, dan produktivitas komoditi tanaman pangan di Kabupaten Cianjur ... 48 15 Keadaan kelompok tani ... 49

16 Sebaran responden berdasarkan kelompok umur ... 52

17 Sebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan ... 52

18 Sebaran responden berdasarkan status usahatani ... 55

19 Jumlah populasi ternak ... 58

20 Jumlah populasi sapi potong di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat dan Nasional ... 58 21 Potensi pakan ternak yang berasal dari sawah ... 60

22 Keragaan produksi padi-sapi potong ... 61

23 Perkembangan jumlah dana dan kepemilikan saham ... 62

24 Produksi padi berdasarkan pola tanam ... 64

25 Komposisi unsur hara pukan sapi ... 65

26 Pemanfaatan pupuk organik (1 ha padi/musim) ... 66

27 Produks i jerami padi ... 67

28 Kandungan nutrisi jerami dan jerami fermentasi ... 68

29 Analisis biaya dan pendapatan usaha pemeliharaan sapi potong ... 69 30 Analisis integrasi usahatani padi-sapi ... 70

(16)

xvi 37 Hasil analisis Monte Carlo untuk nilai IkB-SIPT dan

masing-masing dimensi ฀SIPT dengan selang kepercayaan 95% di Kabupaten Cianjur ...

93

38 Hasil analisis MC untuk nilai IkB-SIPT dan setiap dimensi sistem dengan selang kepercayaan 95% di Kabupaten Cianjur

93 39 Faktor-faktor kunci hasil gabungan existing condition dan

need analysis ...

98 40 Prospektif faktor-faktor kunci pengembangan SIPT ... 103 41 Hasil analisis skenario strategi pengembangan SIPT ... 104

(17)

xvii

(18)

xviii DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1 Kerangka pemikiran....……….……...… 5

2 Populasi sapi potong di Indonesia 9 3 Model integrasi usahatani tanaman dan ternak... 19

4 Tanaman padi ... 27

5 Kandang kelompok ... 27

6 Proses jerami fermentasi ... 28

7 Jerami padi fermentasi ... 28

8 Proses pembuatan pupuk organik ... 29

9 Kompos ... 29

10 Ilustrasi indeks keberlanjutan SIPT di Kabupaten Cianjur ... 34

11 Ilustrasi indeks keberlanjutan setiap dimensi SIPT ... 35

12 Tahapan analisis Rap-SIPT menggunakan MDS dengan aplikasi modifikasi Rapfish ... 36 13 Tingkat pengaruh dan ketergantungan antar faktor ... 41

14 Diagram alir tahapan penelitian ... 42

15 Sistem pemasaran sapi potong ... 50

16 Prosentase tingkat umur petani ... 51

17 Prosentase jumlah tanggungan keluarga ... 53

18 Prosentase pengalaman berusahatani ... 54

19 Prosentase pekerjaan pokok responden ... 55

20 Prosentase luas lahan ... 56

21 Prosentase status kepemilikan lahan ... 57

22 Grafik jumlah populasi sapi potong nasional ... 58

23 Grafik jumlah populasi sapi potong di wilayah Kabupaten Cianjur dan Povinsi Jawa Barat ... 59 24 Pola tanam ... 63

25 Analisis Rap-SIPT yang menunjukkan nilai IkB-SIPT ... 74 26 Analisis Rap-SIPT yang menunjukkan nilai IkB dimensi

ekologi ...

75 27 Peran masing-masing atribut ekologi yang dinyatakan dalam

bentuk perubahan RMS IkB-SIPT ...

76 28 Analisis Rap-SIPT yang menunjukkan nilai IkB dimensi

ekonomi ...

80 29 Peran masing-masing atribut ekonomi yang dinyatakan dalam

bentuk perubahan RMS IkB-SIPT...

80 30 Analisis Rap-SIPT yang menunjukkan nilai IkB dimensi

sosial-budaya ...

83 31 Peran masing-masing atribut ฀sosial-budaya yang dinyatakan

dalam bentuk perubahan RMS IkB-SIPT ...

84 32 Analisis Rap-SIPT yang menunjukkan nilai dimensi teknologi

...

(19)

xix 33 Peran masing-masing atribut teknologi yang dinyatakan dalam

bentuk perubahan RMS IkB-SIPT ...

88 34 Diagram ฀layang (kite diagram) nilai indeks keberlanjutan .. 92 35 Tingkat kepentingan ฀faktor-faktor gabungan antara

existing ฀condition yang berpengaruh terhadap SIPT ...

95 36 Tingkat kepentingan ฀faktor-faktor need analysis yang

berpengaruh pada usaha tani pola SIPT ...

97 37 Tingkat kepentingan ฀faktor-faktor gabungan antara

existing ฀condition dan need analysis yang berpengaruh terhadap SIPT ...

(20)

xx DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1 Luas wilayah, jumlah penduduk dan kepadatan penduduk Kabupaten Cianjur ...

122 2 Unit populasi usahatani pola SIPT dan teknik pengambilan sampel

...

123 3 Analisis biaya pembuatan fine compost di P4TK Pertanian

Cianjur ...

124 4 Atribut-atribut dan skor keberlanjutan dimensi ekologi SIPT .. 125 5 Atribut-atribut dan skor keberlanjutan dimensi ekonomi SIPT. 128 6 Atribut-atribut dan skor keberlanjutan dimensi sosial-budaya

SIPT ...

131 7 Atribut-atribut dan skor keberlanjutan dimensi teknologi SIPT

...

(21)

1.1 Latar Belakang

Peningkatan produksi pertanian khususnya tanaman pangan (padi) akan

menghadapi tantangan lebih besar di masa mendatang terkait dengan kebutuhan

konsumsi dan meningkatnya jumlah penduduk. Berbagai upaya telah ditempuh

pemerintah melalui kegiatan pengamanan lahan sawah di daerah irigasi,

peningkatan mutu intensifikasi dan perluasan areal pertanian tanaman padi. Selain

komoditas tanaman padi, subsektor peternakan (sapi) memiliki peranan penting

dalam mendukung program peningkatan ketahanan pangan dan pengembangan

agribisnis. Potensi ternak sapi dikembangkan tidak hanya sebagai penghasil

daging, dan sumber protein hewani yang bernilai tinggi, akan tetapi juga penting

dilihat dari fungsi non pangan seperti penyerapan tenaga kerja, penyediaan

tenaga kerja ternak, daur ulang nutrisi, serta pupuk kandang (pukan) yang dapat

mengkompensasi kurangnya akses terhadap input modern (pupuk dan gas).

Luas wilayah Kabupaten Cianjur 350.148 ha dan berpenduduk sekitar

2.149.121 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 1,48 %. Sebagian besar

penduduk bermata pencaharian petani dan memelihara ternak (57,18%). Usaha

peternakan rakyat masih mendominasi. Usaha peternakan sapi potong masih

bersifat ekstensif, sambilan dan digunakan sebagai tabungan hidup serta belum

banyak disentuh paket teknologi (Dinas Peternakan 2009). Kendala utama yang

dihadapi petani belum memadukan usaha ini dengan tanaman adalah tidak

tersedianya pakan secara memadai terutama pada musim kemarau (Muzani et al.

2004). Konsekuensinya banyak petani yang terpaksa menjual ternaknya

walaupun dengan harga relatif murah (Ilham et al. 2001).

Secara tradisional petani di kabupaten Cianjur berusaha mengintegrasikan

ternak sapi ke dalam usahatani tanaman padinya, namun integrasi yang terjadi

lebih banyak pada penggunaan sapi sebagai tenaga kerja untuk pengolahan tanah

dan pukan untuk kesuburan tanah, serta jerami padi sebagai pakan ternak tanpa

adanya rekayasa tehnologi, baik pada pukan diproses sebagai pupuk organik

maupun jerami padi sebagai pakan ternak. Penggunaan pukan hanya terjadi pada

saat sapi dipergunakan untuk pengolahan lahan atau saat penggembalaan sapi

(22)

tambah pada petani, terutama pada pemanfaatan pukan sebagai pupuk organik.

Jerami padi biasanya dibakar terutama menjelang pengolahan tanah.

Dalam kaitannya dengan upaya meningkatkan produktivitas dan pendapatan

petani serta meningkatkan kualitas lingkungan, diperlukan suatu strategi

keterpaduan antara usaha peternakan (sapi) dengan pertanian baik tanaman

pangan, hortikultura, dan perkebunan untuk mengoptimalkan sumber daya

pertanian. Diantara komponen usahatani tersebut masing-masing dapat saling

berinteraksi, dan terjadi sinergisme positif untuk meningkatkan produktivitas

dengan memanfaatkan produk-produk sampingan sehingga dapat memberi hasil

optimal

Permasalahan umum yang menghambat terwujudnya kesinergisan yang

diharapkan antara lain: (1) keterbatasan modal dan lahan, (2) penurunan

produktifitas lahan sawah, penggunaan bahan kimia yang berlebihan, khususnya

penggunaan pupuk kimia dan pestisida, (3) penyediaan pakan hijauan yang

terbatas dan berfluktuasi sepanjang tahun dan (4) keterbatasan penyediaan dan

produksi pupuk organik karena terbatasnya jumlah pemeliharaan ternak, dan (5)

belum optimalnya pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan ternak dan kotoran

sapi untuk pupuk organik, serta (6) terbatasnya lokasi tempat pengembangan

peternakan yang sesuai beserta pengelolaan limbahnya berimbas mendorong

terjadinya kerusakan lingkungan (Makka 2004). Diperlukan upaya intensifikasi

peningkatan mutu melalui sistem integrasi padi-ternak (SIPT) untuk mendukung

konsistensi peningkatan produktivitas tersebut.

Secara keseluruhan lahan sawah yang berpotensi untuk dapat dikembangkan

melalui kegiatan SIPT di Pulau Jawa cukup tersedia. Luas lahan sawah sebanyak

2,87 juta hektar dan luas panen padi sawah seluas 4,70 juta hektar (45,24%) dari

luas panen padi di Indonesia dengan kontribusi terhadap produksi gabah

nasional mencapai 25,48 juta ton (51,56%) (Suwandi 2006),.

SIPT merupakan usaha meningkatkan produksi padi yang diintegrasikan

dengan ternak sapi. Pemilihan padi dan sapi dalam usaha tani didasarkan pada

hubungan timbal balik di mana padi menyediakan jerami dan dedak untuk pakan

sapi. Sebaliknya, sapi menghasilkan kotoran yang dapat dijadikan sebagai pupuk

(23)

SIPT maka pemerintah terus melakukan kegiatan percontohan. Berdasarkan

urgensi keberadaan dan keberlanjutan usahatani, maka diperlukan penelitian

untuk pemecahan permasalahan tersebut di atas

1.2 Rumusan Masalah

Dengan memperhatikan berbagai permasalahan tersebut di atas, maka

perumusan masalah yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah usahatani pola SIPT meningkatkan produktivitas ?

2. Seberapa besar nilai keberlanjutan SIPT di Kabupaten Cianjur saat ini ?

3. Apa faktor-faktor kunci strategis pengembangan SIPT yang akan datang ?

4. Bagaimana rekomendasi kebijakan dan strategi pengembangan SIPT di masa

mendatang ?.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1.Menganalisis kelayakan usahatani pola SIPT ;

2.Menilai keberlanjutan usahatani dengan menggunakan status dan indeks

keberlanjutan SIPT (IkB-SIPT);

3.Mengidentifikasi faktor kunci strategis pengembangan SIPT masa yang akan

datang;

4.Merumuskan rekomendasi kebijakan dan strategi pengembangan SIPT di

Kabupaten Cianjur.

1.4 Kerangka Pemikiran

Program utama pembangunan pertanian adalah ketahanan pangan dan

agribisnis. Sasaran akhir yang ingin dicapai pada program yang telah ditetapkan

adalah meningkatnya kesejahteraan petani dengan tetap mempertimbangkan

keseimbangan ekosistem, sehingga keberlanjutan usaha pertanian dapat terjamin.

Alternatif yang lebih memungkinkan untuk mendukung keberhasilan kebijakan

dimaksud diatas, adalah dengan melakukan pendekatan sistem integrasi

(24)

diintegrasikan dengan ternak sapi (Deptan 2005). SIPT dan model usaha

penggemukan sudah berkembang terutama di daerah sentra produksi padi seperti

di Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, dan Pulau Jawa khususnya di Jawa

Tengah, Jawa Timur dan DI Yogyakarta, sedangkan di Jawa Barat belum

berkembang secara luas, tetapi memiliki potensi besar untuk dikembangkan.

Sumberdaya usaha pertanian, terutama padi dan sapi, merupakan

komoditas ekonomi potensial untuk dikembangkan dan telah ditetapkan

sebagai komoditas unggulan karena berpotensi meningkatkan pertumbuhan

ekonomi pedesaan. Di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pentingnya komoditas

tersebut ditunjukkan oleh tingginya permintaan pasar, ketersediaan sumber

pakan dan tenaga kerja, kesesuaian agroklimat dan budaya masyarakat, dan

dukungan pemerintah daerah (BPS Cianjur, 2010).

Pengelolaan usahatani pola SIPT di tingkat petani sangat beragam dan

belum dapat diukur sejauh mana tingkat keberlanjutannya, karena sampai saat ini

keuntungan finansial usahatani merupakan salah satu kriteria kelayakan usahatani.

SIPT perlu memenuhi kriteria pembangunan berkelanjutan yang

mempersekutukan antara kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan

guna mendapatkan manfaat yang optimal. Menurut Mershyah (2005) kriteria

pembangunan berkelanjutan secara umum dapat dikelompokkan ke dalam tiga

dimensi yaitu dimensi ekologi, sosial dan ekonomi (Munashinghe 1994; Susilo

2003). Atribut dari setiap dimensi dapat dianalisis dan digunakan untuk menilai

secara cepat (rapid appraisal) status keberlanjutan pembangunan sektor tertentu

menggunakan metode multi variabel non-parametrik (multidimensional scaling,

MDS). Metode ini pernah dilakukan untuk mengevaluasi pembangunan perikanan

(Fauzy dan Anna 2005) yang dikenal dengan nama RAP-FISH (The Rapid

Appraisal of the Status of Fisheries), peternakan (Mershyah 2005); pertanian

(Iswari 2008), dan transmigrasi (Gatot 2008). Metode MDS yang akan digunakan

untuk menghitung indeks keberlanjutan pengembangan integrasi padi-sapi pada

sistem usahatani akan disebut sebagai Rap-SIPT (Rapid Appraisal-sistem

integrasi padi-sapi).

Hasil evaluasi keberlanjutan usahatani pola SIPT ini akan dipadukan dengan

(25)

faktor-faktor penting. Faktor-faktor-faktor penting dari existing condition dan need analysis di

kombinasikan untuk mendapatkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap

SIPT yang dikaji. Pada tahap akhir, dapat dirumuskan kebijakan dan strategi

pengembangan SIPT di Kabupaten Cianjur.

Upaya memadukan sapi dengan padi akan membawa dampak budidaya,

sosial, dan ekonomis yang positif. Budidaya ternak semakin efisien dengan

ketersediaan pakan secara kontinyu, problem sosial akibat limbah yang

menimbulkan polusi dapat diatasi dan secara ekonomis petani dapat melakukan

efisiensi usaha, sehingga dapat mengurangi ketergantungan sarana produksi dari

luar. Secara skematis, kerangka pemikiran disajikan pada Gambar 1

Gambar 1. Kerangka pemikiran

T e k nologi

Ek onom i

Sosia l buda ya Ek ologi

Pa di da n Sapi

K om odit as U nggulan Da e rah

Se sua i

Ya

T ida k

Re k om e ndasi K e bijak a n da n Strat e gi Pe nge m ba nga n SI PT

M D S At r ibu t

Sk e na rio

St rat e gi Penge mba ngan SI PT K EBI J AK AN DEPART EM EN PERT AN IAN

SI ST EM I N T EGRASI PADI -T ERNAK

Fa k t or-Fak t or

St rat e gis Pe nge m banga n SI PT M ode l

(26)

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi

pengembangan pertanian, dan pihak-pihak yang berkepentingan berupa

1. bahan masukan dalam penentuan kebijakan pembangunan pertanian di

masa mendatang di kabupaten Cianjur.

2. acuan bagi pengusaha dan masyarakat dalam upaya pelestarian SDA

dan lingkungan serta manfaat yang akan dinikmatinya

3. sumber informasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang

pertanian dan peternakan

1.6 Kebaruan (Novelty)

Nilai kebaruan penelitian ini adalah strategi pengelolaan usahatani pola

SIPT yang melibatkan stakeholder dalam perumusan kebijakan dan skenario

strategi pengembangan SIPT berdasarkan aspek ekologi, ekonomi, sosial budaya,

(27)

II TINJAUAN PUSTAKA

Program utama pembangunan pertanian adalah ketahanan pangan dan

agribisnis. Sasaran program pembangunan pertanian yang telah ditetapkan adalah

meningkatnya kesejahteraan petani dengan tetap mempertimbangkan

keseimbangan ekosistem, sehingga keberlanjutan usaha pertanian dapat terjamin.

Salah satu kebijakan yang ditempuh Kementerian Pertanian pada tahun 2002

adalah melakukan pengembangan usaha pertanian secara terpadu dengan harapan

dapat meningkatkan produksi dan produktivitas untuk meningkatkan pendapatan

serta kesejahteraan petani. Guna mendukung keberhasilan kebijakan dimaksud,

alternatif yang lebih memungkinkan adalah dengan melakukan pendekatan sistem

integrasi padi ternak (SIPT). SIPT merupakan bagian dari program pemerintah

yang dilaksanakan secara terpadu, lintas sektoral antara Kementerian Pertanian,

Kementerian Pemukiman dan Prasarana Wilayah serta Kementerian Dalam

Negeri dan Otonomi Daerah. Program tersebut merupakan salah satu alternatif

program terobosan yang diharapkan dapat menjawab tantangan dan tuntutan

pembangunan peternakan yakni kecukupan (swasembada) daging

Menurut Dirjen Peternakan (2009), program SIPT adalah mengoptimalkan

pemanfaatan sumberdaya lokal seperti pemanfaatan jerami sebagai pakan ternak

dan kotoran ternak sapi dapat diproses menjadi pupuk organik yang sangat

bermanfaat untuk memperbaiki unsur hara yang dibutuhkan tanaman sehingga

tidak ada limbah yang terbuang (zero waste).

Menurut Diwyanto dan Haryanto (2003), integrasi usahatani pola SIPT

mencakup tiga jenis kegiatan usahatani yang saling berkaitan satu sama lain yaitu:

(1) budidaya ternak, (2) budidaya padi serta (3) pengelolaan jerami dan kompos.

Inovasi yang dikembangkan dalam budidaya ternak mencakup pengandangan

temak secara berkelompok, aplikasi budidaya termasuk strategi pemberian

pakan, pengelolaan dan pemanfaatan kotoran ternak menjadi kompos untuk

tanaman padi. Pengembangan budidaya padi sawah irigasi melalui teknologi

pengelolaan, penyimpaman dan peningkatan kualitas jerami sebagai pakan

temak.

Selama 10 tahun terakhir (1995-2005), data statistik menunjukkan bahwa

(28)

juta ha pada tahun 1995 menjadi 10,71 juta ha pada tahun 2005, atau naik rata-rata

0,61 persen/tahun. Di samping itu, produktivitas juga meningkat dari 4,64 ton/ha

pada tahun 1995 menjadi 4,78 ton/ha pada tahun 2005, atau tumbuh rata-rata 0,29

persen/tahun. Pertumbuhan produktivitas yang rendah mencerminkan bahwa

penerapan teknologi di tingkat petani sudah mendekati kejenuhan, terutama di

Jawa. Terlebih lagi dengan sarana produksi yang makin mahal mengakibatkan

kemampuan petani untuk membeli sarana produksi makin terbatas. Pertumbuhan

luas panen dan produktivitas tersebut menyebabkan produksi padi sawah secara

nasional meningkat dari 46,81 juta ton pada tahun 1995 menjadi 51,22 juta ton

pada tahun 2005 atau hanya tumbuh rata-rata 0,91 persen per tahun (BPS 2006).

Dalam kaitan ini telah dilakukan upaya untuk meningkatkan produksi ternak sapi

dengan tetap melestarikan sumber daya sawah melalui program peningkatan

produktivitas padi terpadu dengan Sistem Integrasi Padi-Ternak (SIPT) yang

didukung oleh penguatan kelembagaan tani.

Pertumbuhan areal dan produktivitas yang rendah terutama terjadi di Pulau

Jawa sebagai sentra produksi padi. Luas areal panen, produktivitas dan produksi

padi di Jawa selama 10 tahun terakhir meningkat dengan laju yang rendah, yaitu

masing-masing 0,45 persen; 0,07 persen; dan 0,52 persen. Pada periode yang

sama di luar Pulau Jawa areal panen tumbuh lebih cepat yaitu rata-rata 0,78

persen/tahun, dan produktivitas tumbuh 0,64 persen/tahun, sehingga produksi

meningkat rata-rata 1,43 persen/tahun. Namun karena kontribusi luar Jawa dalam

produksi padi sawah hanya sekitar 43 persen, maka pertumbuhan produksi

nasional lebih dipengaruhi oleh pertumbuhan di Pulau Jawa (Suwandi 2006).

2.1 Potensi Ternak Sapi sebagai Penghasil Daging

Dalam aspek pengentasan kemiskinan, subsektor peternakan berperan

sangat penting. Berdasarkan data dari Proyek Inpres Desa Tertinggal (IDT),

komoditas yang dipilih sebagian besar (60-70%) adalah ternak. Begitu pula dalam

Program Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P4MI), semua lokasi

kegiatan menghendaki adanya sistem usaha pertanian yang melibatkan ternak

(29)

Program Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P4MI) telah

mampu meningkatkan fungsi dan peran ternak secara signifikan dalam

penyediaan pupuk, pemanfaatan sisa/limbah pertanian, dan sumber pendapatan.

Di Lombok Timur, produktivitas dan reproduktivitas ternak cukup tinggi

dibandingkan rata-rata yang ada di NTB (Kusnadi et al. 2005). Sistem integrasi

tanaman-ternak di lahan marginal, khususnya di NTB dan NTT, kini berkembang

hampir di setiap kabupaten lokasi kegiatan P4MI.

Lompatan populasi sapi lokal merupakan jawaban pemenuhan kebutuhan

daging nasional yang berasal dari produksi dalam negeri. Peningkatan populasi

secara rutin/regular akan dirasa sulit untuk memenuhi kecukupan daging pada

tahun 2014, karena peningkatan populasi hanya berkisar antara 2-3% per tahun

pada tahun 2009. Peningkatan ini lebih rendah dari tahun sebelumnya sebesar

5.5%. Populasi sapi (2009) sekitar 12.6% (Blue Print PSDS 2010), yang terdiri

atas 68.,6% sapi lokal dan 31,84% sapi simental, limousin dan brahman cross.

Gambar 2. Populasi sapi potong di Indonesia (Statistik Peternakan, 2010)

Daging sapi yang bersifat demand driven tersebut, masih bermasalah

dalam pemenuhannya. Kesenjangan antara kebutuhan konsumsi dengan produksi

daging sapi lokal terjadi tiap tahun, yang diduga karena adanya peningkatan

jumlah masyarakat yang berpendapatan menengah ke atas. Peningkatan jumlah

tersebut tercermin dari peningkatan konsumsi daging sapi dari sebesar 1,95 kg per

kapita pada tahun 2007 menjadi 2 kg per kapita pada tahun 2008 dan meningkat

menjadi 2,24 kg per kapita pada tahun 2009. Peningkatan konsumsi ini

(30)

pada tahun 2008 menjadi 516.603 ton pada tahun 2009 (BPS dan Statistik

Peternakan, 2009). Kebutuhan daging tersebut setara dengan jumlah sapi

sebanyak 2,432 juta ekor sapi pada tahun 2008 dan 2,746 juta ekor sapi pada

tahun 2009 (Australian Statistic Bereau, 2009). Untuk memenuhi kebutuhan

tersebut, maka impor daging sapi dan jeroan juga meningkat menjadi sebesar

110.246 ton serta untuk sapi bakalan sebanyak 768.133 ekor pada tahun 2009. Hal

ini karena sapi lokal hanya dapat mensuplai kebutuhan daging sebesar 49% dari

kebutuhan daging nasional pada tahun 2009 (BPS dan Statistik Peternakan, 2009).

Kementerian Pertanian mengeksekusi program “Percepatan Pencapaian

Swasembada Daging Sapi (P2SDS)” untuk mengurangi ketergantungan pada

impor sapi potong dengan target pemenuhan kebutuhan daging pada 2010 secara

domestik sebesar 90%. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain dengan

mendistribusikan bibit sapi potong ke berbagai propinsi potensial untuk

dikembangkan secara intensif. Idealnya peningkatan populasi sapi setidaknya

mencapai 7% per tahun atau 15 juta ekor pada tahun 2008, namun populasi sapi

pada tahun 2008 hanya dapat mencapai 11,9 juta ekor (Dirjen Peternakan 2009).

Diperlukan langkah-langkah pengembangan produksi peternakan

diantaranya dengan usahatani sistem integrasi sapi–tanaman, khususnya dengan

tanaman pangan. Hal ini didukung oleh data dari Balai Besar Litbang Sumberdaya

Lahan Pertanian (2009) bahwa potensi sumberdaya lahan untuk pengembangan

pertanian di Indonesia sangat besar yaitu 100,7 juta ha yang limbahnya dapat

mencukupi biomassa pakan sapi sepanjang tahun (1-3 ekor sapi/ha). Bila tidak

dimanfaatkan, limbah pertanian akan menjadi masalah dan kendala dalam

agribisnis, karena pada saat panen terbuang dan menjadi pencemar.

Usaha pembesaran dan penggemukan mungkin lebih menarik bagi

investor, dan saat ini peternak kecilpun sudah mulai untuk mengembangkan usaha

ini (Diwyanto dan Priyanto 2008). Pembesaran dapat dilakukan secara ekstensif,

yaitu dengan cara menggembalakan sapi di padang pangonan, atau tempat lain

yang memungkinkan ternak merumput (grazing) dengan bebas. Pada periode ini

sapi lebih banyak bertumbuh kembang pertulangan atau ukurannya. Namun

dengan menyusutnya areal padang pangonan menyebabkan usaha pembesaran

(31)

2.2 Potensi Sapi sebagai Penghasil Pupuk Organik

Ternak sapi bagi petani dapat berfungsi sebagai penghasil pupuk kandang

dan tabungan yang memberikan rasa aman pada saat kekurangan pangan

(paceklik) disamping berfungsi sebagai penyedia tenaga kerja (Najib et al. 1997).

Ternak selain menghasilkan produk utama, juga menghasilkan hasil samping

berupa feses dan urine yang sampai saat ini masih dianggap masalah, dengan

inovasi yang sederhana dapat diubah menjadi kompos yang bermutu, dan nilai

kompos yang dihasilkan ternyata cukup besar. Penggunaan kompos pada lahan

pertanian akan mendukung kelestarian lingkungan sekaligus mewujudkan

“organic farming“ yang berdaya saing tinggi (Badan Litbang Pertanian 2000).

Aspek penting dalam penggunaan kotoran ternak sebagai pupuk yaitu nilai

penggunaannya dan sebagai sumber hara yang dibutuhkan tanaman.

Berkurangnya kandungan bahan organik pada lahan pertanian di Indonesia saat ini

menunjukkan bahwa sebenarnya diperlukan 100% tambahan bahan organik untuk

mengembalikan pada keadaan kesehatan tanah yang normal. Hal ini berarti akan

diperlukan pupuk organik yang sangat besar untuk membuat keadaan kesehatan

tanah menjadi normal kembali (Deptan 2001).

Memacu peningkatan produktivitas lahan dapat digunakan pupuk organik.

Pupuk organik sangat penting bagi usaha pertanian, karena selain meningkatkan

hasil juga dapat memperbaiki sifat fisika dan kimia tanah (Sally 1999; Thamrin

2002). Bahan organik dapat diperoleh dari pemeliharaan sapi dalam sistem

integrasi tanaman padi-ternak (sapi) seperti SIPT. Secara nasional pengelolaan

padi pada lahan irigasi tersebut dapat meningkatkan produktivitas padi antara

7,1%–38,4% (Bahar 2002), dan meningkatkan hasil padi dari 4,5 t/ha menjadi 5,5

t/ha gabah kering giling (Sumanto et al. 2002). Disamping itu petani dapat

memperoleh keuntungan lain dari hasil samping pemeliharaan sapi berupa

pertambahan bobot hidup sapi dan pupuk kandang, selain itu sapi juga dapat

dimanfaatkan sebagai tenaga kerja untuk meluku.

Menurut Adiningsih (2000), kotoran ternak sebagai limbah dengan

penggunaan mikroba dan cacing sebagai komoditas baru yang mempunyai

keunggulan yaitu proses pengomposan dipercepat; dapat diproduksi secara massal

(32)

penyerapan tenaga kerja; peningkatan kualitas dan penghematan penggunaan;

memungkinkan perluasan penggunaan lahan-lahan marginal; dan memutus daur

ulang hewan parasit dan kuman patogen yang sering ada di kotoran ternak.

Seekor sapi dapat menghasilkan kotoran sebanyak 8 - 10 kg/hari, kemudian

diproses menjadi pupuk organik menghasilkan 4 - 5 kg/hari. Ternak sapi akan

menghasilkan sekitar 7,3- 11,0 ton pupuk organik pertahun. Penggunaan pupuk

organik pada lahan persawahan adalah 2 ton/hektar/tanam, sehingga potensi

pupuk organik yang ada dapat menunjang kebutuhan pupuk organik untuk 1,8 -

2,7 hektar dengan dua kali tanam pertahun (Haryanto 2000). Seekor sapi dapat

menghasilkan kotoran 5 kg/ekor/hari menjadi 3 kg/ekor/hari dengan harga Rp

400/kg. Jadi untuk seekor sapi dapat menghasilkan kompos kotoran sapi sebanyak

90 kg/bulan atau Rp 36.000/bulan (Sariubang et al. 2001; 2004).

Pemanfaatan kotoran sapi sebagai pupuk organik disamping mampu

menghemat penggunaan pupuk anorganik, juga memperbaiki struktur dan

ketersediaan unsur hara tanah. Dampak ini terlihat dengan meningkatnya

produktivitas lahan. Menurut Adnyana et al. (2003), SIPT yang dikembangkan

petani mampu mengurangi penggunaan pupuk anorganik 25 - 35 persen dan

meningkatkan produktivtas padi 20 - 29 persen. Menurut Bulu et al. (2004)

bahwa SIPT yang diterapkan petani mampu meningkatkan pendapatan sekitar

8,4 persen dan menghemat biaya pupuk sekitar 25,2 persen dan meningkatkan

pendapatan petani sebesar 41,4 persen (Sudaratmaja et al. 2004), sedangkan

menurut Suwono et al. (2004) bahwa penggunaan pupuk organik mampu

mengurangi penggunaan pupuk anorganik, walaupun dalam prakteknya petani

tidak mengurangi penggunaan pupuk anorganik secara signifikan.

Pengomposan adalah proses mengubah limbah organik menjadi pupuk

organik melalui kegiatan biologi pada kondisi yang terkontrol (Sutardi et al.

2004). Tujuan pengomposan adalah mengurai bahan organik yang dikandung

bahan limbah, menekan timbulnya bau busuk, membunuh benih gulma dan

organisme yang bersifat pathogen dan sebagai produknya berupa pupuk

(33)

2.3 Potensi Limbah Jerami Padi

Pengangkutan jerami keluar petakan setiap selesai panen diperkirakan

tanah akan mengalami kehilangan 0,4% C-Organik, 0,03% N-Tanah, 8,15 kg

P/ha, 42,9 kg K/ha dan 25% kg Si/ha. Selanjutnya dikatakan pemberian jerami

padi sebanyak 5 ton/ha/musim dapat meningkatkan C-Organik tanah dari 2,4

menjadi 4,0% setelah 4 musim tanah pemberian, disamping meningkatkan

ketersediaan unsur K, Mg, Si dan N. Pada SIPT penggunaan jerami padi untuk

pakan ternak akan menghasilkan pupuk organik dari kotoran sapi yang dapat

digunakan untuk pemupukan sawah sebagai pengganti jerami yang diambil.

Kebutuhan pupuk organik untuk tanaman padi sekitar 2 ton/ha/musim

(Sriadiningsih (1984) dalam Syam dan Sariubang 2004; Sariubang et al. 2004).

Potensi limbah tanaman padi yang dapat digunakan sebagai pakan

ternak dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini. Jumlah jerami, sekam dan

dedak secara nasional yang dapat digunakan sebagai pakan ternak

masing-masing berjumlah 92 juta ton, 12,3 juta ton dan 4,9 juta ton.

Tabel 1 Perkiraan produksi jerami, dedak dan sekam padi (000 ton)

No Jerami Sekam Dedak

1996 92,560 12,150 4,860

1997 89,128 12,035 4,814

1998 93,840 12,003 4,801

1999 95,704 12,396 4,959

2000 94,344 12,650 5,060

2001 92,000 12,300 4,920

Sumber: Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan (2002) dalam Suwandi (2006)

Padi selain menghasilkan produk utama gabah, juga menghasilkan produk

samping yaitu jerami yang mempunyai potensi yang cukup besar dalam

menunjang ketersediaan pakan secara nasional dengan jumlah produksi mencapai

48.472.125 ton. Menurut Haryanto (2000) produksi jerami padi dapat mencapai

12 - 15 ton/ha/panen, bervariasi tergantung pada lokasi dan jenis varietas tanaman

padi yang digunakan. Jerami padi yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pakan

(34)

kali setahun akan dapat menunjang kebutuhan pakan berserat untuk 4 - 6 ekor.

Disamping itu, dedak padi yang dihasilkan dapat digunakan sebagai salah satu

komponen bahan pakan untuk menyusun ransum ternak. Menurut Diwyanto et al.

(2002), dari setiap hektar lahan sawah dapat dihasilkan 8–10 ton limbah jerami

padi/musim tanam dengan variasi berdasarkan varietas dan lokasi penanaman.

Limbah jerami padi ini dapat digunakan untuk pakan sapi dewasa sebanyak 2 – 3

ekor sepanjang tahun, sehingga pada satu ha sawah dengan waktu panen dua kali

per tahun akan tersedia pakan ternak untuk 4 – 6 ekor ternak sapi

Menurut Diwyanto et al. (2001) produksi limbah jerami padi di Indonesia

cukup banyak yaitu hampir 40 juta ton per tahun dan yang digunakan untuk pakan

ternak baru sekitar 22%, sedang sisanya dibakar untuk dijadikan pupuk atau

dibuang. Produksi jerami padi yang melimpah memungkinkan untuk digunakan

sebagai pakan ternak dalam jumlah yang lebih besar. Lebih lanjut dikatakan

komposisi kimia jerami padi meliputi bahan kering 71,2%, protein kasar 3,9%,

lemak kasar 1,8%, serat kasar 28,8%, BETN 37,1%, dan TDN 40,2%. Faktor

pembatas adalah nilai gizinya yang rendah yaitu mengandung serat kasar dan

silikat dalam jumlah tinggi, sedang daya cerna sangat rendah yang dipengaruhi

adanya ikatan lignin, silikat dan kutin. Manfaat jerami padi masih dapat

ditingkatkan melalui proses kimia atau dengan teknologi pengolahan sehingga

dapat meningkatkan efektifitas daya cerna.

Dalam upaya memanfaatkan sumberdaya lokal secara optimal, pada

kawasan persawahan dapat dikembangkan usaha pengembangan ternak sapi. Hal

ini berkaitan dengan adanya jerami padi yang berlimpah setiap kali musim panen.

Meskipun sebagian jerami padi telah dimanfaatkan sebagai bahan industri kertas,

bahan pembuatan pupuk maupun media pertumbuhan jamur, namun sebagian

besar masih belum dimanfaatkan. Untuk memanfaatkan potensi jerami padi

tersebut, perlu dikembangkan rencana unit bisnis yang meliputi : a. unit proses

peningkatan kualitas nutrisi jerami padi untuk pakan sapi; b. unit pembuatan

pupuk organik untuk menjaga kelestarian kesuburan lahan persawahan; dan c. unit

bisnis lainnya seperti pemeliharaan ikan, itik, dan lain-lain. Sebagai upaya bagi

(35)

produktivitas lahan dan meningkatkan pendapatan petani, antara lain melalui

penerapan teknologi sistem usahatani terintegrasi.

Pengembangan sapi potong di areal persawahan diharapkan mempunyai

peluang yang besar, karena di kawasan inilah sumber pakan tersedia cukup

melimpah serta kebutuhan kompos sangat besar. Selain gabah, dari pertanaman

padi juga dihasilkan jerami. Sebagai bahan pakan, jerami padi memiliki

kandungan gizi yang rendah sehingga perlu adanya penambahan zat dari sumber

pakan lain sebagai pakan penguat. Dengan teknologi fermentasi yang sederhana,

mudah dan murah petani dapat memanfaatkan jerami sebagai pakan ternak yang

dapat diandalkan. Hasil pengkajian BPTP Jawa Barat (2001), produksi jerami

dapat mencapai 6-8 ton/ha/panen, bergantung pada lokasi, varietas dan cara

tanam. Perkiraan konsumsi jerami sapi dewasa adalah 30 kg/ekor/hari, maka daya

dukung untuk satu hektar lahan sawah adalah 2-3 ekor/6 bulan untuk satu musim

panen. Dengan demikian pada lokasi dengan pola tanam 2 kali padi setahun,

jerami yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan pakan untuk 4-6 ekor sapi.

Disamping jerami, dari usahatani padi juga dihasilkan dedak yang potensial

digunakan sebagai salah satu komponen pakan penguat/konsentrat untuk ternak.

Pola pemeliharaan sapi dengan pakan utama jerami fermentasi diperoleh

pertambahan berat badan antara 0,8-1,0 kg/ekor/hari atau 240-300 kg/ekor/tahun.

Apabila dalam kawasan 100 ha sawah dipelihara 200 ekor sapi, maka akan

diperoleh tambahan berat badan sapi sebesar 48-60 ton (BPTP Jawa Barat 2002).

2.4 Sistem Integrasi Usahatani Pola SIPT

Penelitian sistem usaha pertanian terpadu yang dijabarkan dalam bentuk

SIPT dengan berbagai pola dan bentuk dirintis oleh Badan Litbang Pertanian

sejak tahun 1980 melalui berbagai proyek dan program, antara lain: (1) Penelitian

Penyelamatan Hutan Tanah dan Air, (2) Crop Livestock System Research, (3)

SUT Sapi dan Padi, (4) Pertanian Lahan Pasang Surut dan Rawa, (5) Proyek

Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu, (6) Pengembangan Sistem Usaha

Pertanian Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan, (7) P4MI, serta (8) Sistem

(36)

Menurut kementerian Pertanian (2005), secara garis besar integrasi terkait

dengan sistem produksi ternak dibagi menjadi dua sistem yaitu: 1. sistem produksi

berbasis ternak (solely livestock production system) yaitu sekitar 90% bahan

pakan dihasilkan dari on-farm-nya, sedangkan penghasilan kegiatan non

peternakan kurang dari 10%; dan 2. sistem campuran (mix farming system) yaitu

ternak memanfaatkan pakan dari hasil sisa tanaman. Dengan integrasi tersebut

maka akan tercipta sentra pertumbuhan peternakan baru dimana komoditi ternak

dapat saja menjadi unggulan atau komoditi ternak hanya sebagai penunjang (mix

farming). Tetapi bisa saja terjadi, ternak yang tadinya sebagai unsur penunjang

kemudian secara bertahap menjadi unsur utama atau sebalikya. Perpaduan sistem

integrasi tanaman dengan ternak, dicirikan dengan adanya saling ketergantungan

antara kegiatan tanaman dan ternak dengan tujuan daur ulang optimal dari

sumberdaya nutrisi lokal yang tersedia (Low External Input Agriculture Sistem).

Sistem yang kurang terpadu dicirikan dengan kegiatan tanaman dan ternak yang

saling memanfaatkan, tetapi tidak tergantung satu sama lain karena didukung oleh

input eksternal (High External Input Agriculture Sistem).

Pengelolaan tanaman terpadu adalah strategi yang memperhitungkan

keterkaitan atau keterpaduan antara tanaman di satu pihak dengan sumberdaya

yang ada di pihak lain, diharapkan dapat meningkatkan hasil padinya.

Teknik-teknik produksi yang diterapkan mempertimbangkan sinergisme yang diharapkan

mampu memberikan hasil yang tinggi (Kartaatmadja dan Fagi, 2000).

Sistem integrasi tanaman ternak adalah suatu sistem pertanian yang

dicirikan oleh keterkaitan yang erat antara komponen tanaman dan ternak dalam

suatu kegiatan usahatani atau dalam suatu wilayah. Keterkaitan tersebut

merupakan suatu faktor pemicu dalam mendorong pertumbuhan pendapatan

petani dan ekonomi wilayah secara berkelanjutan. Sistem integrasi tanaman ternak

dalam sistem usaha pertanian di suatu wilayah merupakan ilmu rancang bangun

dan rekayasa sumberdaya pertanian yang tuntas (Handaka et al. 2009).

Kegiatan integrasi akan meningkatkan produktivitas baik produktivitas

tanaman padi, jagung maupun ternak. Hasil sinergisme tanaman padi-jagung

dengan sapi, menurut Kartono.(2002) akan memberikan tambahan pendapatan

(37)

Tanpa integrasi : Produktivitas tanaman pangan : x

Produktivitas ternak sapi : y

Dengan integrasi : Produktivitas tanaman pangan : x + a

Produktivitas ternak sapi : y + b

Hasil sinergisme tanaman dan ternak berupa : a + b (additional out put).

Pada prinsipnya konsep CLS menurut Prasetyo et al. (2002), meningkatkan

efisiensi usaha dengan memanfaatkan input produksi dari dalam (internal input).

Melalui usahatani ternak, input produksi yang berasal dari luar dapat dikurangi

(low external input). Usahatani padi dan sapi yang dikelola secara terpadu mampu

memberikan keuntungan sekitar 15,86 persen lebih tinggi dari usahatani padi

dan sapi yang dikelola secara parsial. Fenomena ini mampu memberikan tambahan

keuntungan berturut-turut 29,19 persen dan 27,72 persen. Keunggulan usahatani

padi dan sapi yang dikelola secara terrpadu terlihat juga dari efektivitas

penggunaan input atau biaya produksi, yang ditunjukkan oleh nilai BCR lebih

tinggi pada semua lokasi kajian.

Aspek peningkatan produksi dan pendapatan petani, hasil kajian empiris

Kariyasa dan Pasandaran (2004) menunjukkan bahwa usahatani padi yang

dikelola tanpa diintegrasikan dengan sapi mampu berproduksi sekitar 4,4 - 5,7

ton/ha, sementara pengelolaan usahatani padi yang diintegrasikan dengan sapi

mampu berproduksi sekitar 4,7 - 6,2 ton/ha. Artinya usahatani padi yang

pengelolaannya diintegrasikan dengan ternak atau yang menggunakan pupuk

kandang mampu berproduksi sekitar 6,9 - 8,8 persen lebih tinggi dibanding

usahatani padi yang dikelola secara parsial tanpa menggunakan pupuk kandang.

Menurut Pamungkas dan Hartati (2004), sistem integrasi ternak merupakan

salah satu upaya untuk mencapai optimalisasi produksi pertanian. Upaya ini telah

banyak dilakukan yang secara signifikan mampu memberikan nilai tambah baik

pada hasil usahatani maupun terhadap produktivitas ternak. Usaha ternak sapi

terpadu dapat menekan biaya produksi, terutama terhadap penyediaan hijauan

pakan, sebagai sumber tenaga kerja serta dapat memberikan kontribusi dalam

penghematan pembelian pupuk.

Di Indonesia, ternak sapi dapat diintegrasikan dengan berbagai komoditi

(38)

sawit). Disamping itu ternak sapi sangat baik beradaptasi dengan pola iklim dan

ketinggian tempat, sehingga dapat dipelihara pada lahan sawah, lahan kering

semusim dan lahan kering tahunan dari dataran rendah sampai pegunungan.

Kesesuaian lahan untuk pertanian yang berpotensi untuk usahatani sistem

integrasi ternak sapi dengan tanaman disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Kesesuaian lahan untuk pertanian di Indonesia.

Wilayah

Lahan Sawah

Lahan Kering (Tan. Semusim)

Lahan Kering

(Tan. Tahunan) Jumlah ………. juta hektar …...……

Sumatera 6,05 6,06 16,84 28,89

Jawa 4,59 1,13 4,47 10,18

Bali dan NTT, NTB 0,48 1,15 1,54 3,17

Kalimantan 3,01 10,77 14,73 28,51

Sulawesi 2,38 1,87 4,80 9,06

Maluku dan Papua 8,04 4,40 8,52 20,96

Indonesia 24,56 25,32 50,89 100,77

Sumber: Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, (2009).

Diversifikasi usahatani telah tumbuh dan berkembang di perdesaan, salah

satunya bertujuan untuk mengantisipasi resiko usaha dari kegagalan usahatani

sejenis. Namun pola integrasi belum banyak dilakukan atau dikenal oleh petani

skala kecil, karena umumnya pola usaha yang dilakukan adalah subsisten. Padahal

kesempatan untuk melakukan integrasi sangat besar ditinjau dari potensi lahan

dan ternak yang ada. Salah satu penyebabnya adalah penguasaan dan pemanfaatan

teknologi pertanian (Handaka et al. 2009).

Keuntungan sistem integrasi tanaman – ternak menurut Diwyanto et al.

(2004) adalah: (1) diversifikasi penggunaan sumberdaya, (2) mengurangi resiko

usaha, (3) efisiensi penggunaan tenaga kerja, (4) efisiensi penggunaan input

produksi, (5) mengurangi ketergantungan energi, (6) ramah lingkungan, (7)

meningkatkan produksi, dan (8) pendapatan rumah tangga petani yang

berkelanjutan. Sistem integrasi tanaman–ternak memadukan sistem usahatani

tanaman dengan sistem usahatani ternak secara sinergis sehingga terbentuk suatu

(39)

tujuan integrasi tanaman dengan ternak adalah untuk mendapatkan produk

tambahan yang bernilai ekonomis, peningkatan efisiensi usaha, peningkatan

kualitas penggunaan lahan, peningkatan kelenturan usaha menghadapi persaingan

global, dan menghasilkan lingkungan yang bersih dan nyaman.

Pada model integrasi tanaman ternak, petani mengatasi permasalahan

ketersediaan pakan ternak dengan memanfaatkan limbah tanaman seperti jerami

padi, jerami jagung dan limbah kacang-kacangan. Pada musim kemarau, limbah

ini bisa menyediakan pakan berkisar 33,3 persen dari total rumput yang

dibutuhkan (Kariyasa 2003). Kelebihan dari adanya pemanfaatan limbah

adalah disamping mampu meningkatan "ketahanan pakan", juga mampu

menghemat tenaga kerja dalam kegiatan mencari rumput, sehingga memberi

peluang bagi petani untuk meningkatkan jumlah skala pemeliharaan ternak.

Model integrasi usahatani dan usaha ternak memberi peluang pada

pengembangan peternakan dalam suatu kawasan. Pemanfaatan sumberdaya

dengan cara ini akan optimal dan memberi nilai tambah pada produk yang

dihasilkan petani. Selain itu, pola-pola semacam ini sangat fleksibel terhadap

perubahan harga berbagai komoditi pertanian, baik pada tingkat lokal ataupun

global. Menurut Ilham (1998) pendekatan sistem integrasi usahatani melalui

pengembangan pola usahatani yang berwawasan lingkungan ditujukan untuk

meningkatkan produksi dan mutu hasil, juga untuk peningkatan pendapatan petani

dan menjaga kelestarian sumberdaya alam (Gambar 3).

Gambar 3 Model integrasi usahatani tanaman dan ternak

ON-FARM

PEMASARAN

HASIL PADI

USAHATANI TANAMAN

SAPROTAN SAPRONAK

PAKAN TERNAK

KOMPOS

PUPUK ORGANIK

BIOGAS

PEMASARAN

HASIL TERNAK

(40)

Pengalokasian sumberdaya yang efisien, pemanfaatan keunggulan

komparatif dan pola tanam akan menghasilkan hubungan yang sinergistik antara

cabang usahatani. Disamping itu, pola sistem usahatani terintegrasi ini

mempunyai beberapa keuntungan baik dari aspek ekonomi, sosial dan lingkungan.

Aspek lingkungan yaitu adanya upaya dalam hal pemanfaatan limbah, efisiensi

lahan dan minimalisasi limbah

2.5 Hasil-hasil Penelitian Sebelumnya

Beberapa hasil penelitian usahatani pola SIPT yang telah dilakukan masih

terbatas melakukan analisis kelayakan secara finansial. Pertama kali penelitian

pola SIPT dilakukan di Batumarta, Sumatera Selatan tahun 1985 dimana

penerapan model tanaman-ternak selama tiga tahun meningkatkan pendapatan

petani sebesar US$1.500/kepala keluarga/tahun, setiap kepala keluarga memiliki

lahan 2 hektar tanaman pangan dan satu ekor sapi (Diwyanto et al. 2002).

Kontribusi hasil ternak terhadap total pendapatan masih rendah yaitu 10% sedang

dari tanaman pangan 71,7% dan sisanya berasal

-Usaha ternak pada lahan kering mampu meningkatkan pendapatan dari pendapatan lainnya,

dibandingkan dengan pola konvensional maka usahatani pola SIPT mampu

meningkatkan pendapatan bersih petani sebesar 36% (Devendra et al. 1997).

Menurut Rohaeni et al. (2004) pola integrasi padi-sapi potong dengan hasil

pendapatan usahatani padi lahan irigasi di kabupaten Banyumas, Purworejo, Pati,

Boyolali dan Grobogan pertahun rata-rata Rp. 2,455 juta/ha dan pendapatan dari

usahatani sapi dengan pola introduksi sebesar Rp.1,183 juta per periode sehingga

penerapan pola SIPT mampu memberikan tambahan pendapatan petani.

Hasil penelitian di Philipina menunjukkan bahwa dengan menerapkan pola

SIPT, maka usaha dari temak sapi mampu memberikan kontribusi lebih dari 50%

terhadap pendapatan usahatani dan lebih dari 20% terhadap pendapatan

keluarga. Pola SIPT di lahan irigasi di Mindanao meningkatkan pendapatan per

tahun dad US$ 570/hektar menjadi US$ 767/hektar (Devendra et al. 1997 dalam

Suwandi 2006). Hasil penelitian di Pulau Luzon, usahatani pola SIPT pada

lahan kering dengan pemberian pakan penguat (konsentrat) untuk ternak sapi

(41)

usahatani dari US$ 518 (tahun 1983) menjadi US$ 715 (tahun 1986) di Ban

Donpondaeng Thailand usahatani pola SIPT dengan kepemilikan rata-rata 4,8

ekor sapi menunjukkan hasil pada tahun kedua mampu meningkatkan pendapatan

petani sebesar 18.151 baht/kepala keluarga dari 12.728 baht/kepala keluarga dan

kepemilikan rata-rata 7,5 ekor sapi pada tahun kedua mampu meningkatkan

pendapatan 39.982 baht/kepala keluarga dari 24.972 baht/kepala keluarga,

dimana US$1= 26.5 Bath (Devendra et al. 1997)

Berdasarkan analisis biaya dan pendapatan dari integrasi usaha sapi dan

padi mampu meningkatkan pendapatan petani hingga 100% apabila dibandingkan

dengan pola tanam padi tanpa ternak, sekitar 40% dari hasil tersebut berasal dari

pupuk organik yang diperoleh dari ternak sapi (Diwyanto dan Hariyanto 2002).

Demikian halnya dengan penelitian-penelitian lainnya di berbagai tempat dan

agroekosistim menunjukkan bahwa pada umumnya integrasi ternak dan tanaman,

baik itu tanaman pangan, tanaman perkebunan maupun tanaman industri

memberikan nilai tambah yang cukup tinggi (Diwyanto et al. 2001; Diwyanto dan

Handiwirawan 2004; Utomo et al. 2007) melaporkan bahwa selain pendapatan

meningkat hingga 119%, dan juga produktivitas lahan meningkat.

Kegiatan pola SIPT yang didukung oleh penguatan kelembagaan tani secara

nyata dapat meningkatkan hasil padi dan efisiensi usahatani. Hasil padi rata-rata

meningkat 13,7-28,8% dengan tambahan keuntungan Rp940.000/ha (Priyanti et

al. 2001; Setiani et al. 2000). Model usaha penggemukan sapi dengan memelihara

32 ekor memberikan keuntungan Rp 17.785.100/4 bulan atau Rp 556.000/ekor, di

samping petani memperoleh pukan 17.664 ton (Prasetyo et al. 2000).

Menurut Haryanto et al. (2002), ada peningkatan pendapatan hingga 100%

dan 40% berasal dari hasil pupuk organik. Keuntungan dengan penerapan

keterpaduan ternak dan tanaman terdapat peningkatan kesejahteraan petani yang

ditunjukkan dengan peningkatan pendapatan. Dengan penerapan teknologi ini

diperoleh pendapatan Rp 11.000/ekor/hari. Secara ekonomis petani dapat

melakukan efisiensi usaha, sehingga pendapatan semakin meningkat yang pada

gilirannya akan tercipta kemandirian petani dalam berusaha yang diwujudkan

dengan mengurangi seminimal mungkin ketergantungan sarana produksi dari luar

(42)

ulang optimal sumberdaya nutrisi lokal yang tersedia. Untuk keberhasilan

penerapan keterpaduan ini perlu didukung oleh adanya ketersediaan sumberdaya

yang memadai (lahan, bahan baku, teknologi, dan SDM), adanya pasar

lokal/domestik yang kuat, sesuai dengan aspirasi masyarakat dan kemauan politik

pemerintah. Keberhasilan yang dapat dicapai dengan penerapan keterpaduan ini

sifatnya sangat kondisional karena tingkat kesuburan tanah dan kepadatan sangat

bervariasi, tingkat sosio-ekonomi masyarakat yang sangat beragam, disamping

adanya keterbatasan informasi, infra struktur dan sarana/prasarana pendukung.

2.6 Analisis Leverage

Analisis leverage atau analisis sensitivitas digunakan untuk mengetahui

efek stabilitas jika salah satu atribut dihilangkan saat dilakukannya ordinasi. Untuk

sebanyak M atribut, maka analisis Leverage dilakukan M+l kali penghitungan,

yaitu satu kali penghitungan terhadap seluruh atribut (M atribut) dan M kali

terhadap salah satu atribut jika dihilangkan. Sebelum dilakukan analisis, terlebih

dahulu dilakukan standardisasi atribut untuk menyamakan skala pada skor

masing-masing atribut. Hasil analisis leverage ini akan menunjukkan

prosentase (%) perubahan root mean square masing masing atribut jika

dihilangkan dalam ordinasi. Atribut yang memiliki prosentase tertinggi

merupakan atribut yang paling sensitif atau berpengaruh kuat terhadap

keberlanjutan (Kavanagh 2004).

2.7 Analisis Monte Carlo

Analisis Monte Carlo merupakan metoda simulasi statistik untuk

mengevaluasi efek dari random error pada proses pendugaan, serta untuk

mengestimasikan nilai yang sebenarnya. Analisis ini perlu dilakukan untuk

mempelajari aspek ketidakpastian yang disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

1. Dampak dari kesalahan skoring akibat minimnya informasi, atau kesalah

pahaman dalam memahami atribut dan skoring

2. Dampak dari keragaman skoring akibat dari perbedaan penilaian

3. Stabilitas dari MDS dalam running

(43)

5. Tingginya nilai S-stress yang diperoleh dari alogaritma ALSCAL

(Kavanagh 2004; Fauzi dan Anna 2005). Apabila perbedaan (selisih)

antara hasil penghitungan MDS dengan hasil penghitungan Monte Carlo

tidak lebih dari satu maka sistem yang dikaji sesuai dengan kondisi nyata.

Keberhasilan pengembangan kelembagaan akan bergantung pada kapasitas

pelaksanaannya dan kelembagaan yang sudah terbentuk (existing condition).

Pendekatan pengembangan kelembagaan dapat dilakukan secara individual

dengan introduksi pengetahuan, kesadaran dan perilaku, maupun melalui

pengorganisasian dengan fokus pada aspek peran, struktur dan prosedur. Dalam

usahatani pola SIPT terdapat beberapa jenis kegiatan yang akan lebih efisien

apabila dilaksanakan secara berkelompok seperti kegiatan pengandangan

ternak, pengelolaan kompos dan lainnya (Fagi et al. 2004).

2.8 Analisis Status Keberlanjutan dan Analisis Prospektif

Konsep pembangunan berkelanjutan bersifat multi disiplin karena

banyak dimensi pembangunan yang harus dipertimbangkan, antara lain dimensi

ekologi, ekonomi, sosial-budaya, hukum dan kelembagaan. Walaupun banyak

pendapat ahli memberikan persyaratan pembangunan berkelanjutan dengan

aspek-aspek yang hampir sama tetapi dengan cara dan pendekatan yang berbeda

Di bidang pertanian menurut Suryana et al. (1998) dalam Iswari (2008),

konsep berkelanjutan mengandung pengertian, bahwa pengembangan produk

pertanian harus tetap memelihara kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan

hidup guna menjaga keberlanjutan pertanian dalam jangka panjang lintas generasi.

Pembangunan pertanian juga harus mengindahkan aspek kelestarian lingkungan

sehingga pemilihan teknologi dan pengelolaannya tidak hanya didasarkan pada

keuntungan sesaat (jangka pendek). Pembangunan pertanian berkelanjutan pada

dasarnya menekankan pada penggunaan input luar (low external input).

Penerapan konsep pembangunan berkelanjutan dalam suatu kegiatan

pembangunan menjadi lebih komprehensif untuk menilai status/tingkat

keberlanjutan. Usahatani pola SIPT dapat dikatakan berkelanjutan jika memenuhi

kriteria dari masing-masing dimensi dari konsep pembangunan berkelanjutan yaitu

Gambar

Gambar 4  Tanaman Padi
Gambar 7  Jerami padi fermentasi
Gambar 9  Kompos
Tabel 5  Jenis dan sumber data yang dikumpulkan dalam penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

to  determining  agricultural  land  ava ilability;  and  to  calculate  paddy  fiel d  availabil ity.  In . th is  re search, additional aspects such as 

Konsep usahatani terpadu antara tanaman pangan, dalam hal ini padi maupun jagung dengan ternak sapi atau kerbau sebagai salah satu komponen dapat dikembangkan di daerah lahan

Kajian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi potensi pengembangan ternak sapi potong dihasilkan bahwa secara serempak variabel independen (luas lahan, ketersediaan pakan

Terpilihnya model E, yaitu Model usahatani integrasi tanaman sorgum dan ternak sapi menggunakan varietas adaptif, sistem tanam tumpang sari, memanfaatkan pupuk kandang dan

In general, the higher the class, the more fragmented land, which is indicated by the high value of the irrigated paddy field area (CA) and the number of patch (NumP),

Dalam kegiatan ini tim memberikan penjelasan tentang pemanfaatan jerami padi sebagai limbah pertanian yang bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak serta menambah

Sebagai dicontohkan kampung ternak domba (di Kabupaten Pandeglang) diarahkan pada pola integrasi dengan tanaman pangan, sekaligus dalam upaya pemberdayaan masyarakat

Pengamatan yang dilakukan pada Proses Pengolahan Abon Sapi di Koperasi Produksi Ternak Maju Sejahtera yaitu : a Mesin Yang Digunakan Dalam Pengolahan Abon Sapi, b Persiapan Daging Sapi,