Hubungan Antara Cedera Kepala Ringan dan Kelainan Intrakranial Berdasarkan CT-Scan Kepala Pada Tahun 2013

69  20  Download (0)

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA CEDERA KEPALA RINGAN DAN KELAINAN INTRAKRANIAL BERDASARKAN CT-SCAN KEPALA PADA TAHUN 2013

Oleh:

BRATA TAMA UNSANDY

110 100 322

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

HUBUNGAN ANTARA CEDERA KEPALA RINGAN DAN KELAINAN

INTRAKRANIAL BERDASARKAN CT-SCAN KEPALA PADA TAHUN 2013

KARYA TULIS ILMIAH

“ Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran ”

Oleh:

BRATA TAMA UNSANDY

110 100 322

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

i

LEMBARAN PENGESAHAN

Hubungan Antara Cedera Kepala Ringan dan Kelainan Intrakranial Berdasarkan CT-Scan Kepala Pada Tahun 2013

NAMA : BRATA TAMA UNSANDY

NIM : 110100322

Medan, 16 Januari 2015 Dekan

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

(Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH) NIP. 19540220 198011 1 001

Dosen Penguji I

(dr. Mahrani Lubis, M.Ked(Ped), Sp.A) NIP. 19801117 200812 2 001

Dosen Penguji II

(dr. H. T. Ibnu Alferraly, Sp.PA) NIP. 19620212 198911 1 001 Dosen Pembimbing

(4)

ii ABSTRAK

Pendahuluan: Cedera kepala merupakan gangguan pada otak yang bukan diakibatkan oleh suatu proses degeneratif maupun kongenital melainkan akibat dari interaksi antara seorang individu dengan agen eksternal seperti kekuatan mekanis yang dapat menyebabkan kelainan pada aspek kognitif, fisik, dan fungsi psikososial seseorang secara sementara maupun permanen serta berasosiasi dengan hilangnya status kesadaran seorang individu. Penyebab kematian pada pasien cedera kepala ringan yang paling sering adalah disebabkan oleh perdarahan intrakranial yang tidak terdiagnosa. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara cedera kepala ringan dan kelainan intrakranial pada gambaran CT-Scan kepala di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2013.

Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan rancangan penelitian potong lintang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah total sampling. . Populasi dari penelitian ini adalah seluruh pasien dengan cedera kepala ringan yang datang ke Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik pada tahun 2013. Data yang tersedia berjumlah 154 dari 465 kasus. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan progam komputer SPSS.

Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara cedera kepala ringan dan kelainan intrakranial (p=0,039).

Kesimpulan: Rumah Sakit maupun Asuransi dapat membuat Standar Operasi Prosedur dalam penanganan pasien cedera kepala ringan. Selain itu, penelitian ini bisa menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya.

(5)

iii ABSTRACT

Introduction: Head injury was a disorder at brain, not because of degenerative process or congenital although because of some interaction between a individual with external agent like mechanic made disorder at cognitive, physic and psychosocial function aspect for a time or permanent and association with lost of consciousness. Cause of death at mild head injury patients were because of undiagnosed intracranial hemorrhage. So, the objective of this reseach was to know the correlation between mild head injury and intracranial disorder at head Ct-Scan image at RSUP Haji Adam Malik Medan 2013.

Methods: This research was descriptive analytic with cross-sectional design. Technique of taking sample in this research was total sampling. The population of this research was all patient with mild head injury came to Haji Adam Malik Hospital 2013. There is 156 data from 465 cases. Later on data being analyze with computer program SPSS.

Results: The results of this experiment show there is a correlation between mild head injury and intracranial disorder (p=0,039).

(6)

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis hasil penelitian ini, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan sarjana kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Adapun tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk memaparkan landasan pemikiran dan segala konsep menyangkut penelitian yang akan dilaksanakan. Penelitian yang akan dilaksanakan ini berjudul ” Hubungan Antara Cedera Kepala Ringan dan Kelainan Intrakranial Berdasarkan CT-Scan Kepala Pada Tahun 2013”.

Dalam penyelesaian karya tulis hasil penelitian ini penulis banyak menerima bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSc(CTM), Sp.A(K), selaku rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dr. dr. RR. Suzy Indharti, M.Kes, Sp.BS, selaku Dosen Pembimbing yang telah memberi banyak arahan dan masukan kepada saya sehingga karya tulis ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik.

(7)

v

5. Bapak dr. Juliandi Harahap, MA, selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan petunjuk-petunjuk serta nasihat-nasihat dalam penyempurnaan penulisan karya tulis ilmiah ini.

6. Bapak dr. Ruly Hidayat, Sp.M, selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing selama menempuh pendidikan.

7. Terima kasih sebanyak-banyaknya saya persembahkan kepada kedua orang tua saya, Ibunda tercinta, Dra Tan Hui San, Ayahanda tercinta, dr Tondy, yang telah memberi dukungan penuh dan semangant tiada henti kepada saya dalam menyelesaikan tahap-tahap pendidikan, khususnya dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini

8. Kedua adik kandung saya, Brahma Tama Unsandy dan Brawa Tama Unsandy yang selalu membantu dan mendukung dalam proses pengerjaan karya tulis ilmiah ini.

9. Kepada teman-teman SRA M-3, Arya Sadewa Sembiring, M Ihsan Nst, Yenny Aruan, Maya Sari Fransiska, Stanley Phan, Jesslyn Felix, Ericko Govardi, Eurika Lawrence, Carissa Kumalasari, yang senantiasa saling membantu dan bekerja keras memberi dukungan penuh dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini.

10. Kepada dr Steven Tandean yang selalu memberi memberi banyak arahan, masukan, kritik dan dukungan kepada saya sehingga karya tulis ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik.

11. Rekan satu tim bimbingan penelitian William Omar yang telah meluangkan waktu, tenaga, pikiran, saran, kritik, dukungan materi dan moril dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.

(8)

vi

Penulis menyadari bahwa penulisan karya tulis hasil penelitian ini masih belum sempurna, baik dari segi materi maupun tata cara penulisannya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan karya tulis hasil penelitian ini.

Medan, 8 Desember 2014 Hormat Saya,

(9)

vii

2.1.1. Definisi Cedera Kepala ... 4

2.1.2. Epidemiologi Cedera Kepala ... 5

2.1.3. Etiologi Cedera Kepala ... 6

2.1.4. Klasifikasi Cedera Kepala ... 7

2.1.4.1. Klasifikasi Berdasarkan Tingkat Keparahan... 7

2.1.4.2. Klasifikasi Berdasarkan Pathoanatomic ... 9

2.1.4.3. Klasifikasi Berdasarkan Mekanisme Fisik ... 9

2.1.5. Patogenesis & Patofisiologi ... 9

2.1.5.1. Cedera Otak Primer ... 9

2.1.5.2. Cedera Otak Sekunder ... 10

2.1.5.3. Patofisiologi Cedera Kepala Secara Umum ... 10

2.2. Computed Tonography Scanning (CT-Scan) Kepala ... 11

2.2.1. Prinsip Dasar Kerja CT-Scan ... 12

2.2.2. Indikasi CT-Scan Kepala ... 12

2.2.3. Berbagai Kelainan Intrakranial pada CT-Scan Kepala ... 14

2.2.3.1. Fraktur Tengkorak ... 14

2.2.3.2. Perdarahan Epidural ... 16

(10)

viii

2.2.3.4. Perdarahan Subaraknoid ... 18

2.2.3.5. Perdarahan Intraparenkim ... 19

2.2.3.6. Perdarahan Intraventrikular ... 19

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ... 21

3.1. Kerangka Teori Penelitian ... 21

3.2. Kerangka Konsep Penelitian ... 22

3.3. Defenisi Operasional ... 22

BAB 4 METODE PENELITIAN ... 24

4.1. Jenis Penelitian ... 24

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian ... 24

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 24

4.3.1. Populasi Penelitian ... 24

4.3.2. Sampel Penelitian ... 24

4.3.2.1. Kriteria Inklusi ... 24

4.3.2.2. Kriteria Eksklusi ... 25

4.4. Metode Pengumpulan Data ... 25

4.5. Pengelohan dan Analisa Data ... 25

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 26

5.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 26

5.2. Karakteristik sampel ... 27

5.2.1. Distribusi Sampel Berdasarkan Umur ... 27

5.2.2. Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin... 28

5.2.3. Distribusi Sampel Berdasarkan Gambaran CT-Scan ... 28

5.2.4. Distribusi Sampel Berdasarkan Tindakan Operasi ... 29

5.3. Hasil Analisa Data ... 30

5.4. Pembahasan ... 31

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 33

6.1. Kesimpulan ... 33

6.2. Saran ... 34

(11)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1 Glasgow Coma Scale (Teasdale dan Jannet, 1974) 8

5.1 Karakteristik Sampel Berdasarkan Umur 27

5.2 Karakteristik Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin 28

5.3 Gambaran CT-Scan 29

(12)

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Gambaran CT Scan pada fraktur tengkorak 15 2.2 Gambaran CT Scan kepala yang menunjukkan adanya

udara pada intrakranial 16

2.3 Perdarahan epidural yang terjadi pada lobus frontalis kanan 17 2.4 Perdarahan subdural(biru) dengan pergeseran garis sutura (oranye) 18 2.5 Perdarahan subaraknoid : A. darah mengisi sisterna suprasellar

B. darah mengisi sisterna shylvii 19 2.6 Perdarahan intraparenkim(oranye) disertai dengan

perdarahan intraventrikular(biru) 20

3.1 Kerangka Teori Penelitian 21

(13)

xi

(14)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 Daftar Riwayat Hidup LAMPIRAN 2 Surat Izin Penelitian

LAMPIRAN 3 Formulir Data Rekam Medis LAMPIRAN 4 Hasil Output SPSS

(15)

ii ABSTRAK

Pendahuluan: Cedera kepala merupakan gangguan pada otak yang bukan diakibatkan oleh suatu proses degeneratif maupun kongenital melainkan akibat dari interaksi antara seorang individu dengan agen eksternal seperti kekuatan mekanis yang dapat menyebabkan kelainan pada aspek kognitif, fisik, dan fungsi psikososial seseorang secara sementara maupun permanen serta berasosiasi dengan hilangnya status kesadaran seorang individu. Penyebab kematian pada pasien cedera kepala ringan yang paling sering adalah disebabkan oleh perdarahan intrakranial yang tidak terdiagnosa. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara cedera kepala ringan dan kelainan intrakranial pada gambaran CT-Scan kepala di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2013.

Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan rancangan penelitian potong lintang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah total sampling. . Populasi dari penelitian ini adalah seluruh pasien dengan cedera kepala ringan yang datang ke Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik pada tahun 2013. Data yang tersedia berjumlah 154 dari 465 kasus. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan progam komputer SPSS.

Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara cedera kepala ringan dan kelainan intrakranial (p=0,039).

Kesimpulan: Rumah Sakit maupun Asuransi dapat membuat Standar Operasi Prosedur dalam penanganan pasien cedera kepala ringan. Selain itu, penelitian ini bisa menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya.

(16)

iii ABSTRACT

Introduction: Head injury was a disorder at brain, not because of degenerative process or congenital although because of some interaction between a individual with external agent like mechanic made disorder at cognitive, physic and psychosocial function aspect for a time or permanent and association with lost of consciousness. Cause of death at mild head injury patients were because of undiagnosed intracranial hemorrhage. So, the objective of this reseach was to know the correlation between mild head injury and intracranial disorder at head Ct-Scan image at RSUP Haji Adam Malik Medan 2013.

Methods: This research was descriptive analytic with cross-sectional design. Technique of taking sample in this research was total sampling. The population of this research was all patient with mild head injury came to Haji Adam Malik Hospital 2013. There is 156 data from 465 cases. Later on data being analyze with computer program SPSS.

Results: The results of this experiment show there is a correlation between mild head injury and intracranial disorder (p=0,039).

(17)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Cedera kepala merupakan gangguan pada otak yang bukan diakibatkan oleh suatu proses degeneratif maupun kongenital melainkan akibat dari interaksi antara seorang individu dengan agen eksternal seperti kekuatan mekanis yang dapat menyebabkan kelainan pada aspek kognitif, fisik, dan fungsi psikososial seseorang secara sementara maupun permanen serta berasosiasi dengan hilangnya status kesadaran seorang individu (Reilly dan Bullock, 2005 dan Dawodu, 2013). Cedera kepala diperkirakan akan melampaui penyakit-penyakit lain sebagai penyebab utama kematian dan kecacatan pada tahun 2020 oleh World Health Organization (WHO). Sebanyak 10 juta orang mengalami cedera kepala dalam setahun. Beban mortalitas dan morbiditas yang ditimbulkan mengakibatkan masalah kesehatan publik yang memprihatinkan (Hyder, 2007).

Di Amerika, 235.000 orang dirawat karena cedera kepala yang tidak fatal dan 1,1 juta dirawat di instalasi gawat darurat. Lima puluh ribu orang di antaranya meninggal (Corrigan, 2010). Di Eropa, cedera merupakan penyebab kematian nomor satu pada orang dengan usia 15 hingga 44 tahun. Di antaranya, cedera kepala merupakan penyebab utama kematian (Tagliaferri, 2005).Di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Pirngadi Medan, dijumpai 1.095 kasus cedera kepala pada tahun 2002 dengan jumlah kematian sebanyak 92 orang (Nasution, 2010).

(18)

2

(GOS) atau Disability Outcome Scale (DOS). Hal ini menunjukkan bahwa cedera kepala ringan juga mampu menyebabkan morbiditas yang signifikan pada penderitanya (Moppett, 2007). Atas dasar inilah, peneliti ingin mengetahui seberapa banyak temuan-temuan kelainan intrakranial pada gambaran CT Scan kepala yang dapat dijumpai pada pasien-pasien dengan cedera kepala ringan di RSUP Haji Adam Malik Medan.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di latar belakang, maka ditetapkan permasalahan penelitian ini adalah : “Bagaimana hubungan antara cedera kepala ringan dan kelainan intrakranial berdasarkan CT-Scan kepala di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2013?”.

1.3. Tujuan Penelitian 1.1.1. Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara cedera kepala ringan dan kelainan intrakranial pada gambaran CT-Scan kepala di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2013.

1.1.2. Tujuan Khusus

Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:

1. Mengetahui insidens cedera kepala ringan di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2013.

(19)

3 1.2. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk: 1. Bagi rumah sakit

Untuk masukan bagi pihak rumah sakit dapat membuat standar prosedur bagi pasien yang datang dengan cedera kepala ringan

2. Bagi tenaga medis

Untuk masukan bagi tenaga medis yang menangani pasien dengan cedera kepala ringan dapat lebih memperhatikan masalah intrakranial yang mungkin menyertai.

3. Bagi peneliti

(20)

4 BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Cedera Kepala 2.1.1. Definisi

Cedera kepala dapat disebut juga dengan head injury ataupun traumatic brain injury. Kedua istilah ini sebenarnya memiliki pengertian yang sedikit berbeda. Head injury merupakan perlukaan pada kulit kepala, tulang tengkorak, ataupun otak sebagai akibat dari trauma. Perlukaan yang terjadi dapat mengakibatkan terjadinyabenjolan kecil namun dapat juga berakibat serius (Heller, 2013). Sedangkan, traumatic brain injury merupakan gangguan fungsi otak ataupun patologi pada otak yang disebabkan oleh kekuatan (force) eksternal yang dapat terjadi di mana saja termasuk lalu lintas, rumah, tempat kerja, selama berolahraga, ataupun di medan perang (Manley dan Mass, 2013). Head injury merupakan istilah yang lebih luas dari traumatic brain injury.Tidak adanya konsensus yang mengatur tentang definisi yang tepat menyebabkan terjadinya tumpang tindih ini (Williams, 2004).

(21)

5 2.1.2. Epidemiologi

Insidensi cedera kepala di seluruh dunia cenderung untuk terus meningkat. Kejadian ini berhubungan dengan meningkatnya penggunaan kendaraan bermotor yang terlihat jelas pada negara-negara yang berpendapatan rendah dan menengah (Roozenbeek, Maas, dan Menon, 2013). Menurut WHO, kejadian cedera kepala akan melebihi kejadian berbagai penyakit lainnya dalam menyebabkan kematian dan kecacatan pada tahun 2020. Beban akibat cedera kepala ini terutama tampak jelas pada negara berpendapatan rendah dan menengah. Sebab, di negara-negara ini terdapat banyak faktor risiko yang dapat mendorong terjadinya cedera kepala. Hal ini semakin diperparah oleh ketidaksiapannya sistem kesehatan di negara-negara tersebut (Hyder, dkk, 2007).

Insidensi cedera kepala secara global diperkirakan sekitar 200 per 100.000 orang setiap tahunnya. Namun, angka tersebut dianggap bukanlah suatu angka yang pasti dan merupakan angka yang underestimated (Bryan-Hancock dan Harrison, 2010). Data yang diperoleh dari Center of Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa kejadian cedera kepala di Amerika Serikat adalah sekitar 1,7 juta kasus setiap tahunnya (Roozenbeek, Maas, dan Menon, 2013). Di Eropa, cedera kepala yang diterima di rumah sakit adalah sekitar 235 kasus per 100.000 orang setiap tahunnya (Tagliaferri, dkk, 2006). Insidensi cedera kepala di Afrika Selatan adalah sekitar 310 kasus per 100.000 orang setiap tahunnya (Roozenbeek, Maas, dan Menon, 2013). Pada tahun 2004, terdapat sekitar 14.948 kasus cedera kepala yang diterima di 77 rumah sakit di Negara China Timur (Wu, dkk, 2008).

(22)

6

Cedera kepala menjadi penyebab utama kematian orang dewasa yang berusia dibawah 45 tahun dan pada anak-anak berusia 1 sampai 15 tahun (Sharples, dkk, 1990). Kasus cedera kepala terbanyak merupakan cedera kepala derajat ringan (Thornhill, dkk, 2000). Pasien dengan cedera kepala ringan memiliki prognosis yang baik bila penanganan dilakukan dengan baik pula.

Secara kesuluruhan angka kematian pada pasien-pasien cedera kepala ringan adalah sekitar 0,1% dan paling sering disebabkan oleh perdarahan intrakranial yang tidak terdiagnosa. Walaupun banyak pasien cedera kepala ringan yang dapat kembali bekerja, namun sekitar 50% dari pasien ini memiliki disabilitas sedang sampai berat bila diukur dengan Glasgow Outcome Scale (GOS) atau Disability Outcome Scale (DOS). Hal ini menunjukkan bahwa cedera kepala ringan pun memiliki morbiditas yang signifikan (Moppett, 2007).

Pada pasien-pasien yang mengalami cedera kepala yang lebih parah, prognosisnya jauh lebih buruk. Sekitar 30% dari pasien yang diterima di rumah sakit dengan Glasgow Coma Scale (GCS) <13 akhirnya akan meninggal. Mortalitas pasien-pasien dengan GCS ≤ 8 setelah dilakukan resusitasi adalah sekitar 50%. Pasien-pasien yang diterima di rumah sakit dengan GCS ≤ 12, sekitar 8% pasien tersebut akan meninggal dalam 6 jam pertama, dan 2% akan meninggal dalam 1 jam pertama. Manifestasi jangka panjang pasien-pasien dengan cedera kepala berat jauh lebih buruk disbanding dengan pasien dengan cedera kepala ringan. Hanya sekitar 20% pasien dengan cedera kepala berat dapat pulih dengan baik diukur dengan GOS (Moppett, 2007).

2.1.3. Etiologi

(23)

7

Cedera kepala dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu :

1. Trauma Primer, terjadi akibat trauma pada kepala secara langsung maupun tidak langsung (akselerasi dan deselerasi).

2. Trauma Sekunder, terjadi akibat trauma saraf (melalui akson) yang meluas, hipertensi intracranial, hipoksia, hiperkapnea, atau hipotensi sistemik (Sibuea, 2009).

2.1.4. Klasifikasi

Terdapat beberapa macam klasifikasi cedera kepala dimulai dari klasifikasi berdasarkan tingkat keparahannya sampai dengan klasifikasi cedera kepala berdasarkan patofisiologinya. Namun demikian, terdapat tiga sistem klasifikasi yang umum digunakan, yaitu :

1. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahannya, klasifikasi ini seringkali digunakan untuk kepentingan penelitian klinis.

2. Klasifikasi berdasarkan tipe pathoanatomic-nya, klasifikasi ini terutama digunakan untuk menentukan penanganan pasien cedera kepala pada fase akut.

3. Klasifikasi berdasarkan mekanisme terjadinya cedera kepala, klasifikasi ini paling sering digunakan untuk kepentingan pencegahan (Saatman, dkk, 2008).

2.1.4.1. Klasifikasi Berdasarkan Tingkat Keparahan

(24)

8

GCS dibuat oleh Jennet dan Teasdale pada tahun 1974. Selain digunakan untuk menafsirkan tingkat kesadaran dan prognosis penderita cedera kepala, GCS juga dapat dipakai untuk menilai kelainan neurologis secara kuantitatif serta dapat digunakan secara umum untuk mendeskripsikan keparahan pasien-pasiencedera kepala.Nilai GCS dapat diperoleh dengan cara memeriksa kemampuan membuka mata, motorik, dan verbal pasien. Masing-masing komponen pemeriksaan memiliki nilai tertinggi sebesar 4,6, dan 5.Berdasarkan GCS, cedera kepala dapat dikategorikan menjadi cedera kepala ringan (GCS 14 – 15), cedera kepala sedang (GCS 9 – 13), dan cedera kepala berat (GCS 3 – 8) (Sibuea, 2009).

Tabel 2.1. Glasgow Coma Scale (Teasdale dan Jannet, 1974)

(25)

9

Klasifikasi pathoanatomic menunjukkan lokasi atau ciri-ciri anatomis yang mengalami abnormalitas. Fungsi klasifikasi ini adalah untuk terapi yang tepat sasaran. Kebanyakan pasien dengan trauma yang parah akan memiliki lebih dari satu jenis perlukaan bila pasien diklasifikasikan menggunakan metode ini. Penilaian dilakukan dimulai dari bagian luar kepala hingga ke dalam untuk melihat tipe perlukaan yang terjadi dimulai dari laserasi dan kontusio kulit kepala, fraktur tulang tengkorak, perdarahan epidural, perdarahan subdural, perdarahan subaraknoid, kontusio dan laserasi otak, perdarahan intraparenkimal, perdarahan intraventrikular, dan kerusakan fokal maupun difus dari akson. Masing-masing dari entitas tersebut dapat dideskripsikan lebih jauh lagi meliputi seberapa luas kerusakan yang terjadi, lokasi, dan distribusinya (Saatman, dkk, 2008).

2.1.4.3. Klasifikasi Berdasarkan Mekanisme Fisik

(26)

10

dan akhirnya menimbulkan cedera. Arah dan kekerasan pada kedua tipe perlukaan tersebut dapat menentukan tipe dan keparahan suatu trauma. Klasifikasi berdasarkan mekanisme fisik ini memiliki manfaat yang besar dalam mencegah terjadinya cedera kepala (Saatman, dkk, 2008).

2.1.5. Patogenesis& Patofisiologi 2.1.5.1. Cedera Otak Primer

Secara umum, cedera otak primer menunjuk kepada kejadian yang tak terhindarkan dan disertai kerusakan parenkim yang terjadi sesaat setelah terjadi trauma (Saatman, dkk, 2008 dan Werner dan Engelhard, 2007). Cedera ini dapat berasal dari berbagai bentuk kekuatan seperti akselerasi, rotasi, kompresi, dan distensi sebagai akibat dari proses akselerasi dan deselerasi. Kekuatan-kekuatan ini menyebabkan tekanan pada tulang tengkorak yang dapat mempengaruhi neuron, glia, dan pembuluh darah dan selanjutnya menyebabkan kerusakan fokal, multifokal maupun difus pada otak. Cedera otak dapat melibatkan parenkim otak dan / atau pembuluh darah otak. Cedera pada parenkim dapat berupa kontusio, laserasi, ataupun diffuse axonal injury (DAI), sedangkan cedera pada pembuluh darah otak dapat berupa perdarahan epidural, subdural, subaraknoid, dan intraserebral yang dapat dilihat pada CT-scan (Indharty, 2012).

2.1.5.2. Cedera Otak Sekunder

Cedera otak sekunder menunjuk kepada keadaan dimana kerusakan pada otak dapat dihindari setelah setelah proses trauma. Beberapa contoh gangguan sekunder ini adalah hipoksia, hipertensi, hiperkarbi, hiponatremi, dan kejang (Saatman, dkk, 2008). Menurut Indharty (2012), cedera otak sekunder merupakan lanjutan dari cedera otak primer. Hal ini dapat terjadi akibat adanya reaksi peradangan, biokimia, pengaruh neurotransmitter, gangguan autoregulasi, neuro-apoptosis, dan inokulasi bakteri.

(27)

11

jaringan di otak, herniasi, penurunan tekanan arterial otak, tekanan intrakranial yang meningkat, demam, vasospasm, infeksi, dan kejang. Sebaliknya, faktor ekstrakranial (sistemik) yang mempengaruhi cedera otak sekunder dikenal dengan istilah “nine deadly H’s” meliputi hipoksemia, hipotensi, hiperkapnia, hipokapnia, hipertermi, hiperglikemi dan hipoglikemi, hiponatremi, hipoproteinemia, serta hemostasis (Indharty, 2012).

2.1.5.3. Patofisiologi Cedera Kepala Secara Umum

Fase pertama kerusakan serebral paska terjadinya cedera kepala ditandai oleh kerusakan jaringan secara langsung dan juga gangguan regulasi peredaran darah serta metabolisme di otak. Pola “ischaemia-like” ini menyebabkan akumulasi asam laktat sebagai akibat dari terjadinya glikolisis anaerob. Selanjutnya, terjadi peningkatan permeabilitas pembuluh darah diikuti dengan pembentukan oedem. Sebagai akibat berlangsungnya metabolisme anaerob, sel-sel otak kekurangan cadangan energi yang turut menyebabkan terjadinya kegagalan pompa ion di membran sel yang bersifat energy-dependent (Werner dan Engelhard, 2007).

Pada fase kedua dapat dijumpai depolarisasi membran terminal yang diikuti dengan pelepasan neurotransmitter eksitatori (glutamat dan aspartat) yang berlebihan. Selain itu, pada fase kedua dapat juga ditandai oleh teraktifasinya N-methyl-D-aspartate, α-amino-3-hydroxy-5-methyl-4-isoxazolpropionate, serta kanal ion kalsium dan natrium yang voltage-dependent(Werner dan Engelhard, 2007).

(28)

12

dan nucleosomal DNA secara progresif. Fase-fase ini secara bersamaan mendukung terjadinya proses degradasi membran vaskular dan struktur seluler dan akhirnya menyebabkan terjadinya proses nekrotik ataupun kematian sel terprogram (apoptosis)(Werner dan Engelhard, 2007).

2.2. Computed Tomography Scanning / CT-Scan Kepala

Computed tomography (CT) merupakan sebuah teknologi yang secara ekstensif digunakan dalam bidang neuroradiologi yang mampu menghasilkan gambaran cross-sectional suatu jaringan. Gambar yang dihasilkan CT merupakan hasil dari radiasi ion-ion yang diperoleh dari penyerapan X-ray pada jaringan spesifik yang diperiksa. CT menawarkan berbagai keperluan yang berguna untuk memeriksa otak seseorang (Jordan, dkk, 2010). CT juga merupakan pemeriksaan diagnostik yang cepat, tidak menyakitkan, noninvasif, dan akurat. Hasil dari CT juga mampu mengurangi keperluan dilakukannya tindakan pembedahan eksploratif maupun biopsi yang invasif (Fertikh, dkk, 2013).

2.2.1. Prinsip Dasar Kerja CT-Scan

Prinsip dasar dari radiografi adalah bahwa sinar X diserap berbagai jenis jaringan dengan berbagai derajat yang berbeda. Penyerapan sinar X terbanyak adalah oleh tulang. Alasannya, tulang merupakan jaringan padat yang menyebabkan perjalanan sinar X menuju film ataupun detektor yang berada pada posisi bersebrangan dengan pemancar sinar menjadi terhambat. Sedangkan, jaringan dengan densitas yang rendah seperti udara dan lemak hampir tidak menyerap sinar X sedikitpun sehingga, sinar X dapat menuju film atau detektor (Perron, 2008).

2.2.2. Indikasi CT-Scan Kepala

Secara umum terdapat dua indikasi untuk melakukan CT-scan otak, yaitu(Jordan, dkk, 2010):

1. Indikasi primer

(29)

13

b. Ada dugaan perdarahan intrakranial akut c. Evaluasi terhadap aneurisma

d. Deteksi ataupun evaluasi proses kalsifikasi

e. Evaluasi segera paska pembedahan untuk terapi tumor, perdarahan intrakranial, ataupun lesi perdarahan.

m. Lesi kongenital (seperti kraniosinostosis, makrosepali, dan mikrosepali)

n. Evaluasi kelainan psikiatri o. Herniasi otak

p. Dugaan adanya massa atau tumor

2. Indikasi sekunder

(30)

14 l. Toksisitas obat

m. Displasia kortikal ataupun kelainan morfologi otak lainnya

Selain dari berbagai kriteria tersebut, terdapat Canadian CT Head Rule yang menyebutkan bahwa pasien-pasien dengan cedera kepala ringan harus dilakukan pemeriksaan CT kepala bila terdapat beberapa indikasi berikut (Stiell, dkk, 2001):

1. Risiko tinggi

a. Skor GCS < 15 setelah 2 jam paska trauma

b. Dicurigai adanya fraktur tengkorak terbuka ataupun depressed c. Adanya tanda fraktur basis kranii (hemotimpani, “racoon”

eyes, cairan serebrospinal yang keluar dari telinga ataupun hidung, battle’s sign)

d. Muntah ≥ 2 kali e. Usia ≥ 65 tahun

2. Risiko menengah

a. Amnesia before impact > 30 mins

b. Mekanisme trauma yang berbahaya (pejalan kaki yang ditabrak oleh kendaraan bermotor, penumpang yang terlempar dari kendaraan bermotor, jatuh dari ketinggian lebih dari 3 kaki atau 5 tangga)

2.2.3. Berbagai Kelainan Intrakranial pada CT-Scan Kepala 2.2.3.1. Fraktur Tengkorak

(31)

15

fraktur basis kranii. Selain itu, dalam mendiagnosa fraktur tengkorak seringkali dibingungkan oleh kehadiran sutura pada tengkorak (Perron, 2008).

Gambar 2.1. Gambaran CT Scan pada fraktur tengkorak : A. linear skull fracture; B. depressed, comminuted skull fracture; C. fraktur basis kranii

Sumber : Andrew D. Perron dalam How to Read a Head CT Scan (2008)

(32)

16

Gambar 2.2. Gambaran CT Scan kepala yang menunjukkan adanya udara pada intrakranial

Sumber : Andrew D. Perron dalam How to Read a Head CT Scan (2008)

2.2.3.2. Perdarahan Epidural

(33)

17

Gambar 2.3. Perdarahan epidural yang terjadi pada lobus frontalis kanan Sumber : Douglas K. McDonald, dkk dalam Imaging in Epidural Hematoma

(2013)

2.2.3.3. Perdarahan Subdural

(34)

18

risiko yang meningkatkan terjadinya perdarahan subdural (Engelhard III, dkk, 2014).

Gambar 2.4. Perdarahan subdural (biru) dengan pergeseran garis sutura (oranye) Sumber : Andrew D. Perron dalam How to Read a Head CT Scan (2008) 2.2.3.4. Perdarahan Subaraknoid

(35)

19

Gambar 2.5. Perdarahan subaraknoid : A. darah mengisi sisterna suprasellar; B. darah mengisi sisterna shylvii

Sumber : Andrew D. Perron dalam How to Read a Head CT Scan (2008)

2.2.3.5. Perdarahan Intraparenkim

Perdarahan intraparenkim adalah akumulasi darah di parenkim otak. Perdarahan dengan diameter 5mm dapat dideteksi pada pemeriksaan CT Scan kepala. Perdarahan intraparenkim dapat diikuti dengan terjadinya edema yang akhirnya menyebabkan terkompresinya jaringan otak di sekitarnya. Parenkim otak yang bergeser ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intrakranial yang berpotensial menyebabkan sindrom herniasi yang fatal (Liebeskind, 2013 dan Perron, 2008).

2.2.3.6. Perdarahan Intraventrikular

(36)

20

Gambar 2.6. Perdarahan intraparenkim (oranye) disertai dengan perdarahan intraventrikular (biru)

(37)

21 Kepala (jejas & luka di kepala)

(38)

22 3.2 Kerangka Konsep Penelitian

Kerangka konsep pada penelitian ini adalah:

Variabel dependen Variabel independen

Gambar 3.2 Kerangka Konsep Penelitian

3.3 Definisi Operasional

a) Cedera kepala ringan adalah cedera yang terjadi pada kepala akibat berbagai penyebab. Pada cedera kepala ringan, tidak boleh dijumpai kriteria sebagai berikut:

• GCS < 14

• Kehilangan kesadaran lebih dari 30 menit • Post traumatik amnesia lebih dari 24 jam

• Diagnosa cedera kepala ringan pada sampel penelitian ini akan dilakukan berdasarkan rekam medis dari Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik pada tahun 2013.

b) Kelainan intrakranial pada CT-scan yaitu segala kelainan yang dijumpai pada pemeriksaan CT-scan kepala seperti fraktur, perdarahan epidural, perdarahan subdural, perdarahan subarakhnoid, perdarahan intraparenkim, hingga perdarahan intraventrikular sebagai akibat langsung dari cedera kepala ringan tersebut.

Cedera Kepala

(39)

23

c) Data mengenai kelainan tersebut akan didapatkan berdasarkan rekam medis pasien dengan cedera kepala ringan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik pada tahun 2013.

d) Computed Tomography Scan adalah teknologi yang memanfaatkan X-ray yang diproses komputer untuk menghasilkan gambar tomografi atau potongan virtual dari area spesifik dari badan.

e) Alat ukur yang digunakan adalah catatan rekam medis Rumah Sakit Umum Pendidikan Haji Adam Malik.

f) Cara ukur yang digunakan berupa analisis rekam medis Rumah Sakit Umum Pendidikan Haji Adam Malik.

(40)

24 BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional. Pendekatan yang digunakan pada desain penelitian ini adalah pendekatan retrospektif dimana data yang diambil merupakan data-data yang telah ada sebelumnya.

4.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Pengambilan data akan dilakukan pada bulan Juli hingga Desember tahun 2014. Pengambilan data akan dilakukan di bagian rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Medan.

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1 Populasi Penelitian

Yang menjadi populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien dengan cedera kepala ringan yang datang ke Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik pada tahun 2013. Metode pengumpulan sampel pada penelitian ini adalah total sampling.

4.3.2 Sampel Penelitian 4.3.2.1 Kriteria Inklusi

• Dewasa > 17tahun

• GCS 14-15 (Cedera Kepala Ringan) • Jajas & luka di kepala

(41)

25 4.3.2.2 Kriteria Eksklusi

• Penyakit gangguan hemostasis • Penyakit jantung

• Mengkonsumsi obat antikoagulan

4.4 Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yangdiperoleh dari status penderita dari bagian rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik. Data-data yang dikumpulkan akan dikategorikan berdasarkan kelainan intrakranial yang dijumpai.

4.5 Pengelohan dan Analisa Data

(42)

26 BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Proses pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan setelah melakukan proses administrasi di RSUP Haji Adam Malik Medan mulai tanggal 2 September- 25 Oktober 2014 di RSUP Haji Adam Malik, Medan. Berdasarkan data- data yang telah dikumpulkan, maka dapat disimpulkan hasil penelitian dalam pemaparan dibawah ini

5.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan merupakan sebuah rumah sakit pemerintah yang dikelola pemerintah pusat dengan Pemerintah

Daerah

(43)

27 5.2.Karakteristik Sampel

Data yang dikumpulkan dari rekam medis adalah sebanyak 465 subjek pasien dengan cedera kepala.Kemudian dikeluarkan 311 subjek karena tidak sesuai inklusi.Jadi, jumlah sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 154 subjek dengan cedera kepala ringan yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi.

5.2.1. Distribusi Sampel Berdasarkan Umur

Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang berada pada rentang remaja akhir sampai manula (17-80) tahun dengan distribusi terbanyak pada pasien umur 17-25 sebesar 96 (62.3%), sedangkan pasien dengan usia ≤50 sebanyak 5 orang (12,5%). Rata-rata umur sampel adalah 27,96 dengan sampel termuda berusia 17 tahun dan sampel tertua berusia 79 tahun. Kejadian cedera kepala pada populasi 17 - 25 tahun menurut Danielle van Pelt et al tertinggi pada kelompok umur 16-22 tahun.Tingginya angka kejadian cedera kepala pada rentang usiaremaja disebabkan karena kesibukan atau tingkat mobilitas golongan usia tersebut yang tinggi. Selain itu juga cidera kepala ringan paling banyak ditemukan pada rentang usia produktif (17-55 tahun) sebanyak 150 sampel (97,4%).

Tabel 5.1. Karakteristik Sampel Berdasarkan Umur

Karakteristik Frekuensi Persentase ( % )

(44)

28

>65 3 1,9

Total 154 100

5.2.2. Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan karakteristik jenis kelamin, sebanyak 74% adalah jenis kelamin laki-laki, sedangkan 26% adalah jenis kelamin perempuan. Nilai ratio perbandingan jenis kelamin laki-laki dengan perempuan adalah 3 : 1.

Cedera kepala sebagian besar terjadi pada laki-laki karena laki-laki lebih aktif secara fisik dibandingkan perempuan, selain itu laki-laki juga memiliki perilaku yang cenderung beresiko mengalami cedera dan memiliki sebagian besar aktivitas diluar ruangan.

Tabel 5.2. Karakteristik Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin

JenisKelamin Frekuensi Persentase ( % )

Laki-Laki 114 74

Perempuan 40 26

Total 154 100

5.2.3. Distribusi Sampel Berdasarkan Gambaran CT-Scan Kepala

(45)

29

(46)

30

Tabel 5.3. Gambaran CT-Scan

Gambaran CT-Scan Frekuensi Persentase ( % )

Contusio 26 16,9

EDH 14 9,1

Fraktur 19 12,3

ICH 12 7,8

IVH 7 4,5

Normoscan 62 40,3

OedemSerebri 3 1,9

SAH 6 3,9

SDH 5 3,2

Total 154 100

5.2.4. Distribusi Sampel Berdasarkan Tindakan Operasi

Terdapat banyak jumlah pasien cedera kepala ringan yang mendapat tindakan operasi pada penelitian ini.Berdasarkan gambaran CT-Scan, terdapat total 95 pasien cedera kepala ringan dengan berbagai kelainan intrakranial. 76,8% dari jumlah pasien abnormal dioperasi, sedangkan yang tidak dioperasi ada 22 pasien.

Tabel 5.4. Karakteristik Sampel Berdasarkan Tindakan Operasi

CT-Scan Operasi Non-Operasi Total

(47)

31

(48)

32 5.3. Hasil Analisa Data

Untuk melihat hubungan cedera kepala ringan dengan gambaran abnormal pada CT-Scan, maka dilakukan pengelompokan cedera kepala ringan menjaid dua kelompok yaitu cedera kepala ringan sadar dan tidak sadar. Sedangkan gambaran CT-Scan dikelompokan menjadi normal dan abnormal CT Scan. Untuk melihat hubungan antara kedua variable ini dilakukan uji chi square. Hubungan keduanya ditampilkan dalam tabel berikut

Tabel 5.5. Distribusi Silang Cedera Kepala Ringan dengan

KelainanIntrakranial

Status CederaKepala Gambaran CT-Scan Total Normal Abnormal

Ringan, Sadar 38 (24,7%) 45 (29,2%) 83 (53,9%) Ringan, TidakSadar 21 (13,6%) 50 (32,5%) 71 (46,1%) Total 59 (38,3%) 95 (61,7%) 154 (100%)

Dari distribusi silang cedera kepala ringan dengan kelainan intrakranial, ditemukan bahwa pada pasien sadar mengalami kelainan intrakranial pada gambaran CT-Scan sebanyak 53 (63,9%) pasien dan pada pasien tidak sadar ditemukan 50 (70,4% ).

Tabel 5.6. Analisa Hubungan Cedera Kepala Ringan dengan Kelainan Intrakranial

Variabel 1 Variabel 2 Nilai p Kesimpulan

CederaKepalaRingan KelainanIntrakranial 0,039 H0 ditolak

(49)

33 5.4. Pembahasan

Pada penelitian ini, sampel yang digunakan adalah 154 sampel dengan masing-masing sampel melakukan pemeriksaan CT-Scan kepala. Dari gambaran pada CT-Scan kepala terdapat 66,9% pasien dengan adanya kelainan intrakranial sedangkan pasien normal 33,1%. Jumlah pasien dengan hasil ct-scan normal jauh lebih rendah. Mebrahtu dan Liu Hai Quan juga menunjukan hasil yang sama dengan 54,5% pasien dengan hasil CT-Scan abnormal dan pasien normal sebanyak 45,5%. Studi di Brazil menemukan hasil positif pada gambaran CT-Scan pada seperempat kasus cedera kepala ringan sedangkan di Ghana lebih dari setengah kasus dengan temuan positif CT-Scan. Berbeda pada penelitian yang dilakukan oleh Bordignon dan Arruda, pada penelitian mereka ditemukan 60,75% pasien normal dan 39,25% pasien dengan gambaran CT-Scan abnormal. Semua pasien cedera kepala ringan dengan factor resiko memiliki gambaran abnormal pada CT-Scan Kepala ( Saboori et al, 2005 ).

Di Amerika Serikat, pendapat dibagi menjadi tiga kelompok.Kelompok pertama, yang terutama terdiri dari ahli bedah saraf, meras abahwa perlakuan Head CT Scan diindikasikan untuk semua pasien dengan cedera kepala ringan tanpa temuan gejala klinis (Stein and Ross, 1993).Kelompok kedua terdiri dari ahli bedah saraf, dokter darurat, dan ahli radiologi, merekomendasikan pendekatan yang sangat selektif untuk penggunaan CT-Scan Kepala pada cedera kepala ringan, kelompok ini juga menunjukkan bahwa CT-Scan normal di departemen darurat tidak menghalangi perkembangan lanjutan dari hematoma intrakranial, meskipun hal ini sangat jarang terjadi (Borczuk P, 1995).

(50)

34

terdokumentasikan, defisit neurologis fokal, atau penurunan status mental(George A Wells, 2001).

Cushman et al juga menyatakan, CT-Scan kepala merupakan Gold standar untuk pasien cedera kepala ringan.Sesuai dengan studi Ian G Stiell et al bahwa mereka telah mengembangkan aturan untuk dilakukannya ct-scan terhadap pasien dengan cedera kepala ringan berhubung dengan banyaknya kelainan intrakranial pada pasien dengan cedera kepala ringan.

Ian G stiell et al juga menyatakan adanya aturan untuk CT Scan pasien cedera kepala ringan dengan salah satu sebagai berikut :

Beresiko tinggi :

Kontusio merupakan kelainan intrakranial terbanyak di penelitian ini,dilaporkan bahwa 89% mayat yang diperiksa postmortem mengalami kontusio serebri (Cooper, 1982). Nurfaise juga mendapatkan persentase kontusio yang tinggi yaitu 26,7% sementara penelitian lain medapatkan angka yang lebih rendah yaitu 12,9% dan 5,9%.

(51)

35 BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dari data yang diperoleh, adapun kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pada Penelitian ini, dari 154 kasus cedera kepala ringan didapatkan 61,7% adanya kelainan intrakranial dan 38,3% tidak ada kelainan intrakranial.

2. Gambaran kelainan intrakranial terbanyak dalam penelitian ini adalah kontusio ( 16,9%) dan diikuti oleh berbagai fraktur dengan 19% dari seluruh pasien. EDH didapatkan pada 9,1% pasien, Oedem Serebri ditemukan 1,9% dan SDH terdapat 3,2%. Dan SAH ditemukan 3,9% pasien, ICH didapatkan pada 12 (7,8%).

3. Terdapat hubungan cedera kepala ringan sadar, dan tidak sadar dengan kelainan gambaran CT Scan p=0.039 (p<0.05)

(52)

36 6.2. Saran

Beberapa hal yang dapat direkomendasikan dari hasil penelitian ini adalah: 1. Rumah sakit seharusnya membuat standar prosedur untuk menanggapi

cedera kepala ringan dengan berbagai faktor risiko

2. Perlunya dilakukan CT Scan kepada seluruh pasien yang mengalami cedera kepala termasuk cidera kepala ringan (GCS 14-15)

3. Pada tenaga medis khususnya di instalasi gawat darurat dapat lebih memperhatikan pasien dengan cedera kepala ringan untuk mengantisipasi cedera intrakranial yang mungkin menyertai.

4. Jika peneliti lain akan melakukan penelitian yang sama maka penelitian ini dapat dijadikan pedoman dalam melakukan penelitian selanjutnya dengan memperluas variabel-variabel lainnya.

(53)

37

DAFTAR PUSTAKA

Becske, T., 2014. Subarachnoid Hemorrhage. Available From: http://emedicine.medscape.com/article/1164341-overview [Accessed on 27 April 2014]

Bordignon KC, Arruda WO. CT scan findings in mild head trauma: aseries of 2000 patients. Arq Neuropsiquiatr. 2002; 60: 204-10.

Bryan-Hancock, C., dan J. Harrison, 2010. The Global Burden of Traumatic Brain Injury: Preliminary Results from the Global Burden of Disease Project. Injury Prevention 16

CDC, 2008. Traumatic Brain Injury Task Force. Department of Defense and Department of Veterans Affairs

Corrigan, J.D., A.W. Selassie, dan J.A. Orman, 2010. The Epidemiology of Traumatic Brain Injury. Journal of Head Trauma Rehabilitation 25:72-80

Danille Van Pelt E, de Kloet A, Hilberink SR, Lambregts SAM, Peeters E, Roebroeck ME et al. The incidence of traumatic injury in young people in the catachment area of the university hospital Rotterdam, the Netherlands. European Journal of Pediartric Neurology. 2011; 30:1-8.

Dawodu, S.T., 2013. Traumatic Brain Injury: Definition, Epidemiology,

Pathophysiology. Available From: http://emedicine.medscape.com/article/326510-overview [Accessed on 26 April

2014]

Engelhard III, H.H., 2014. Subdural Hematoma Surgery. Available From: http://emedicine.medscape.com/article/247472-overview [Accessed on 27 April 2014]

Fertikh, D., 2013. Head Computed Tomography Scanning. Available From: http://emedicine.medscape.com/article/2110836-overview [Accessed on 27 April 2014]

(54)

38

Indharty, R.S., 2012. Peran ACTH4-10PRO8-GLY9-PRO10 dan Inhibitor HMG-CoA Reductase dalam Peningkatan BCL-2 dan BDNF terhadap Hasil Akhir Klinis Penderita Kontusio Serebri. Universitas Sumatera Utara

Japardi, I., 2004. Klasifikasi Fraktur. In: Cedera Kepala: Memahami Aspek-Aspek Penting dalam Pengelolaan Penderita Cedera Kepala. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer

Jordan, J.E., 2010. ACR-ASNR Practice Guideline for the Performance of Computed Tomography of the Brain. Practice Guideline

Khan, A.N., 2013. Imaging in Skull Fractures. Available From: http://emedicine.medscape.com/article/343764-overview [Accessed on 27 April 2014]

Liebeskind, D.S., 2013. Intracranial Hemorrhage. Available From: http://emedicine.medscape.com/article/1163977-overview [Accessed on 27 April 2014]

Manley, G.T., dan A.I.R. Mass, 2013. Traumatic Brain Injury: An International Knowledge-Based Approach. Journal of American Association volume 310

McDonald, D.K., 2013. Imaging in Epidural Hematoma. Available From: http://emedicine.medscape.com/article/340527-overview [Accessed on 27 April 2014]

Meagher, R.J., 2013. Subdural Hematoma. Available From: http://emedicine.medscape.com/article/1137207-overview [Accessed on 27 April 2014]

Moppet, I.K., 2007. Traumatic Brain Injury: Assessment, Resuscitation, and Early Management. British Journal of Anaesthesy 99:18-31

Naseri M, Tomasian A, Moghaddas AR. Correlation of CT scan findings with the level of consciousness in acute head trauma. Iran J Radiol. 2005; 2: 125-9.

Nasution, E.S., 2010. Karakteristik Penderita Cedera Kepala akibat Kecelakaan Lalu Lintas yang Rawat Inap di RSUD Padangsidimpuan Tahun 2005-2007. Universitas Sumatera Utara

(55)

39

Raji, C.A., et al., 2014. Clinical Utility of SPECT Neuroimaging in the Diagnosis and Treatment of Traumatic Brain Injury: A Systematic Review. Plos One Journal 9

Reilly, P., dan R. Bullock, 2005. Mild Head Injury. Head Injury Patophysiology and Management edisi 2

Roozenbeek, B., A.I.R. Maas, dan D.K. Menon, 2013. Changing Patterns in the Epidemiology of Traumatic Brain Injury. Nature Reviews Neurology 9: 231-236 Saatman, K.E., et al. 2008. Classification of Traumatic Brain Injury for Targeted Therapies. Journal of Neurotrauma 25: 719-738

Sastrodiningrat, A.G., 2012. Neurosurgery Lecture Notes. Medan: USU Press Sharples, P.M., et al., 1990. Causes of Fatal Childhood Accidents Involving Head Injury in Northern Region, 1979-86. British Medical Journal 301

Sibuea, A., 2009. Perbedaan Koagulopati Pada Cedera Kepala Berat dengan Perdarahan dan Tanpa Perdarahan Otak Berdasarkan CT Scan Kepala. Universitas Sumatera Utara

Stiell, I.G., et al., 2001. The Canadian CT Head Rule for Patients with Minor Head Injury. Lancet 357: 1391-1396

Tagliaferri, F., et al., 2006. A Systematic Review of Brain Injury Epidemiology in Europe. Acta Neurochir 148: 255-268

Thornhill, S., dan G.M. Teasdale, 2000. Disability in Young People and Adults One Year after Head Injury: Prospective Cohort Study. British Medical Journal volume 320

Werner, C., dan K. Engelhard, 2007. Pathophysiology of Traumatic Brain Injury. British Journal of Anaesthesy 99

Williams, A.D., 2004. The Definition of Mild Traumatic Brain Injury. The Practice of Forensic Neurophysiology

(56)

Lampiran 1

(57)

Lampiran 2

(58)

LAMPIRAN 3

Formulir Data Rekam Medis Pasien

Nomor RM :

Jenis Kelamin : Usia : ______th

Diagnosis

GCS :

LOC :

Jenis Kelainan Intrakranial :

(59)

LAMPIRAN 4

HASIL OUTPUT SPSS

A. Distribusi Frekuensi Karakteristik Sampel Berdasarkan Umur

Statistics UsiaKel

N Valid 154

Missing 0

UsiaKel

Frequency Percent

Valid Percent

Cumulative Percent Valid Remaja

Akhir 96 62.3 62.3 62.3

Dewasa Awal 26 16.9 16.9 79.2

Dewasa Awal 19 12.3 12.3 91.6

Lansia Awal 9 5.8 5.8 97.4

Lansia Akhir 1 .6 .6 98.1

Manula 3 1.9 1.9 100.0

Total 154 100.0 100.0

(60)

Statistics

C. Distribusi Frekuensi Karakteristik Sampel Berdasarkan Gambaran

(61)

SAH 6 3.9 3.9 96.8

SDH 5 3.2 3.2 100.0

Total 154 100.0 100.0

D. Distribusi Frekuensi Karakteristik Sampel Berdasarkan Tindakan Operasi

E. Distribusi Silang Cedera Kepala Ringan dengan Kelainan Intrakranial

Case Processing Summary

Cases

(62)

N Percent N Percent N Percent

F. Analisa Hubungan Cedera Kepala Ringan dengan Kelainan Intrakranial

(63)

LAMPIRAN 5 DATA INDUK

Nomor

RM Usia

Jenis

Kelamin GCS LOC CT-Scan GCSLoc CTKel Operasi UsiaKel

(64)
(65)
(66)

53 00 33 24 L 15 - EDH Ringan, Tidak Sadar Abnormal Operasi Remaja Akhir 55 92 94 18 L 15 + EDH Ringan, Sadar Abnormal Non Operasi Remaja Akhir 55 70 29 44 L 15 + EDH Ringan, Sadar Abnormal Operasi Dewasa Awal 58 40 30 54 P 15 + Normoscan Ringan, Sadar Normal Non Operasi Lansia Awal 58 29 54 36 L 15 + IVH Ringan, Sadar Abnormal Operasi Dewasa Awal 57 10 54 21 L 15 + Contusio Ringan, Sadar Abnormal Operasi Remaja Akhir 54 80 04 54 P 15 + Normoscan Ringan, Sadar Normal Non Operasi Lansia Awal 56 13 03 40 L 15 - EDH Ringan, Tidak Sadar Abnormal Operasi Dewasa Awal

52 87 47 24 L 14 +

Oedem

(67)
(68)

58 17 68 19 P 15 - Normoscan Ringan, Tidak Sadar Normal Non Operasi Remaja Akhir 57 11 69 18 P 15 + EDH Ringan, Sadar Abnormal Non Operasi Remaja Akhir 57 11 66 26 L 14 + Normoscan Ringan, Sadar Normal Non Operasi Dewasa Awal 56 07 78 20 L 15 + Fraktur Ringan, Sadar Abnormal Operasi Remaja Akhir 57 09 78 25 L 15 - EDH Ringan, Tidak Sadar Abnormal Operasi Remaja Akhir 57 74 75 29 L 15 + IVH Ringan, Sadar Abnormal Operasi Dewasa Awal

56 34 76 46 P 15 +

Oedem

(69)

Figur

Gambar 2.1. Gambaran CT Scan pada fraktur tengkorak : A. linear skull fracture;

Gambar 2.1.

Gambaran CT Scan pada fraktur tengkorak : A. linear skull fracture; p.31
Gambar 2.2. Gambaran CT Scan kepala yang menunjukkan adanya udara pada  intrakranial

Gambar 2.2.

Gambaran CT Scan kepala yang menunjukkan adanya udara pada intrakranial p.32
Gambar 2.3. Perdarahan epidural yang terjadi pada lobus frontalis kanan

Gambar 2.3.

Perdarahan epidural yang terjadi pada lobus frontalis kanan p.33
Gambar 2.4. Perdarahan subdural (biru) dengan pergeseran garis sutura (oranye) Sumber : Andrew D

Gambar 2.4.

Perdarahan subdural (biru) dengan pergeseran garis sutura (oranye) Sumber : Andrew D p.34
Gambar 2.5. Perdarahan subaraknoid : A. darah mengisi sisterna suprasellar; B. darah mengisi sisterna shylvii

Gambar 2.5.

Perdarahan subaraknoid : A. darah mengisi sisterna suprasellar; B. darah mengisi sisterna shylvii p.35
Gambar 2.6. Perdarahan intraparenkim (oranye) disertai dengan perdarahan intraventrikular (biru)

Gambar 2.6.

Perdarahan intraparenkim (oranye) disertai dengan perdarahan intraventrikular (biru) p.36
Gambar 3.1 Kerangka Teori Penelitian

Gambar 3.1

Kerangka Teori Penelitian p.37
Tabel 5.1. Karakteristik Sampel Berdasarkan Umur

Tabel 5.1.

Karakteristik Sampel Berdasarkan Umur p.43
Tabel 5.2. Karakteristik Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 5.2.

Karakteristik Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin p.44
Tabel 5.4. Karakteristik Sampel Berdasarkan Tindakan Operasi

Tabel 5.4.

Karakteristik Sampel Berdasarkan Tindakan Operasi p.46
Gambaran CT-Scan

Gambaran CT-Scan

p.46
Tabel 5.6. Analisa Hubungan Cedera Kepala Ringan dengan Kelainan

Tabel 5.6.

Analisa Hubungan Cedera Kepala Ringan dengan Kelainan p.48

Referensi

Memperbarui...