• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Gambaran Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015"

Copied!
127
0
0

Teks penuh

(1)

No. U Uk Jk S A Tt Sg Sgk Sgk2 Si P.penyerta Ppk Dp Lr Ksp

(2)
(3)
(4)

Keterangan:

U = umur Sgk2 = status gizi dikelompokkan 2

Uk = umurk Si = status imunisasi

Jk = jenis kelamin Pp = penyakit penyerta

S = suku Ppk = penyakit penyertak

A = agama Dp = derajat pneumonia

Tt = tempat tinggal Lr = lama rawatan

(5)

Uji Normalitas

a. Lilliefors Significance Correction Hasil Tranformasi untuk menormalkan data

Tests of Normality

a. Lilliefors Significance Correction Umur

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Umur .149 106 .000 .884 106 .000

a. Lilliefors Significance Correction Hasil Tranformasi untuk menormalkan data

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Umur .149 106 .000 .884 106 .000

a. Lilliefors Significance Correction Status Gizi

*. This is a lower bound of the true significance. a. Lilliefors Significance Correction

(6)

Frequency Table 1. Umur

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

(7)

6. Daerah Tempat Tinggal

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

(8)

10. Penyakit peyerta

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid

Pneumonia 97 91.5 91.5 91.5

Pneumonia Berat 9 8.5 8.5 100.0

(9)

13. Lama Rawatan

N Valid 106

Missing 0

Mean 4.76

Std. Deviation 2.610

Minimum 1

Maximum 17

14. Kondisi Sewaktu Pulang

Frequenc

(10)

Umur Total

a. 3 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.21.

Frequencies

Derajat Pneumonia N

Umur

Pneumonia 97

Pneumonia Berat 9

Total 106

(11)

Test Statisticsa

Kolmogorov-Smirnov Z .766

Asymp. Sig. (2-tailed) .600

a. Grouping Variable: Derajat Pneumonia

(12)

Test Statisticsa,b

Lama Rawatan

Chi-Square .042

df 2

Asymp. Sig. .979

a. Kruskal Wallis Test

b. Grouping Variable: Umur

17. Distribusi Lama Rawatan Rata-rata berdasarkan Status Gizi Descriptives

Mann-Whitney U 719.500

Wilcoxon W 4122.500

Z -2.025

Asymp. Sig. (2-tailed)

(13)

18. Distribusi Lama Rawatan Rata-rata berdasarkan Derajat Pneumonia

Mann-Whitney U 273.500

Wilcoxon W 5026.500

Z -1.874

Asymp. Sig. (2-tailed) .061

(14)

19. Distribusi Lama Rawatan Rata-rata berdasarkan Kondisi Sewaktu

Kondisi Sewaktu Pulang N Mean Rank

Lama Rawatan

a. Kruskal Wallis Test

(15)

20. Distribusi Lama Rawatan Rata-rata berdasarkan Penyakit Penyerta

Status penyakit penyerta N Mean Rank Sum of Ranks

Lama Rawatan

Mann-Whitney U 465.000

Wilcoxon W 4381.000

Z -2.790

Asymp. Sig. (2-tailed) .005

(16)

21. Distribusi Status Gizi berdasarkan Derajat Pneumonia

Derajat Pneumonia * Status Gizik2 Crosstabulation

(17)

Chi-Square Tests Value df Asymp. Sig.

(2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square 6.083a 1 .014

Continuity Correctionb 4.203 1 .040

Likelihood Ratio 5.077 1 .024

Fisher's Exact Test .027 .027

Linear-by-Linear Association

6.026 1 .014

N of Valid Cases 106

a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.04.

b. Computed only for a 2x2 table

22. Distribusi Derajat Pneumonia Berdasarkan Kondisi Sewaktu Pulang Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent Kondisi Sewaktu

Pulang * Derajat Pneumonia

(18)

Derajat Pneumonia Total

(19)

Value df Asymp. Sig.

a. 5 cells (62.5%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .17.

Case Processing Summary

Kondisi Sewaktu Pulangk * Derajat Pneumonia Crosstabulation

(20)

Chi-Square Tests Value df Asymp. Sig.

(2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided) Pearson Chi-Square 13.449a 1 .000

Continuity Correctionb 6.847 1 .009

Likelihood Ratio 6.629 1 .010

Fisher's Exact Test .019 .019

Linear-by-Linear Association

13.322 1 .000

N of Valid Cases 106

a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .25.

(21)
(22)
(23)
(24)
(25)
(26)

DAFTAR PUSTAKA

Agria Intan., Sari Rury N., Ircham., 2012. Gizi Reproduksi. Yogyakarta: Fitramaya

Anggarani Reditya, 2013. Outcome Anak yang Dirawat dengan Pneumonia di RSUP Dr. Sardjito Tahun 2009-2012.http://etd.repository.ugm.ac.id [diakses pada tanggal 17 Mei 2016].

Annah Itma., Nawi Rasdi., Ansar J., 2012. Faktor Risiko Kejadian Pneumonia anak umur 6-59 bulan di RSUD Salewangan Maros Tahun 2012.

repository.unhas.ac.id/handle/123456789/5439 [diakses pada

tanggal 25Februari 2016].

Anwar A., & Dharmayanti I., 2014. Pneumonia pada Anak Balita di Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 8, No. 8, Mei 2014. http://www.jurnalkesmas.ui.ac.id/index.php/kesmas/article/downloa d/405/402 [diakses pada tanggal 25Februari 2016].

Balakrishnan RK., 2014. Gambaran Pneumonia Pada Anak Di RSUP Haji Adam

Malik Medan Periode Januari 2011-Desember 2013.

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/45821 [diakses pada tanggal 07 Maret 2016].

Biomed Syamsudin M.,& Keban Sesilia A., 2013. Buku Ajar Farmakoterapi Gangguan Saluran Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.

Chomaria Nurul., 2015. Tumbuh Kembang Anak Usia 0-5 Tahun. Cetakan pertama, Surakarta: Cinta.

Dani, Widyarto Budi, Mairi Melianti., 2014. Gambaran Karakteristik Balita Penderita Pneumonia di Rumah Sakit Immanuel Bandung Tahun 2013. repository.maranatha.edu/12596/10/1110087_Journal.pdf [diakses pada tanggal 17 Mei 2016].

Departemen Kesehatan RI., 2002. Pedoman Program Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) untuk Penanggulangan Pneumonia Pada Balita. Jakarta: Dirjen PPM dan PLP.

_______________________ 2010. Pneumonia Balita.

http://www.depkes.go.id/download.php?file.../buletin/buletin-pneumonia.pdf [diakses pada tanggal 19 Januari 2016].

(27)

___________________________2013. Profil Kesehatan Sumatera Utara Tahun 2013.

Djojodibroto Darmanto., 2009. Respirologi (Respiratory Medicine). Jakarta:EGC. Gapar IS., 2015. Hubungan Kualitas Sanitasi Rumah dengan Kejadian Penyakit

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Wilayah Kerja Puskesmas IV Denpasar Selatan Kota Denpasar. Tesis, Universitas Udayana, Denpasar. www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf.../unud-1529-1503206930-bab%20ii.pdf. [diakses pada tanggal 28 Maret 2016] Hartati Susi., 2011. Analisis Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian

Pneumonia pada Anak Balita di RSUD Pasar Kebo Jakarta. lib.ui.ac.id/file?file=digital/20282632-T%20Susi%20Hartati.pdf [diakses pada tanggal 28 Maret 2016]

Hasibuan Fifi DA., 2006. Karakteristik Penderita Pneumonia Pada Balita Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan tahun 2001-2005.

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/32637 [diakses pada tanggal 17 Mei 2016].

Hasibuan Sandra MN., 2015. Karakteristik Penderita Pneumonia pada Balita di

RSUP Haji Adam Malik Medan Tahun 2011-2014.

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/56424 [diakses pada tanggal 17 Mei 2016].

Hassan Rusepno., Husein Alatas., 2005. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Cetakan kesebelas, Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Ikatan Dokter Paru Indonesia., 2003. Pneumonia Nosokomial; Pedoman

Diagnosa dan Penatalaksanaan di Indonesia.

www.klikpdpi.com/konsensus/pnenosokomial/pnenosokomial.pdf [diakses pada tanggal 27 Februari 2016].

Ikatan Dokter Anak Indonesia., 2010. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Jakarta: Sagung Seto.

Kamps., Hoffmann., Preiser., 2007. Influenza Report. Jakarta: PT Indeks.

(28)

________________________2012. Modul Tatalaksana Standar Pneumonia.Jakarta:Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.

________________________2012. Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut.Jakarta: Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.

________________________2012. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia.

Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana.

________________________2013. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

________________________2015. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.

________________________2015. Infodatin: Situasi kesehatan Anak di Indonesia. Jakarta: Pusat Data dan Informasi.

Marbun, Diessy NR., 2011. Pneumonia Pada Balita Rawat Inap Di Rumah Sakit

Umum Dr. Pirngadi Medan Tahun 2004-2007.

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/24996 [diakses pada tanggal 17 Mei 2016].

Maryunani Anik., 2010. Ilmu Kesehatan Anak dalam Kebidanan. Edisi pertama, CV. Jakarta: Trans Info Media.

Misnadiarly., 2008. Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumonia pada Anak Balita, Orang Dewasa, Usia Lanjut. Edisi pertama, Jakarta: Pustaka Obor.

Muktasim Azis., 2012. Hubungan antara Status Gizi dengan Lama Rawat Inap Pasien Pneumonia Balita di Rumah Sakit Umum Daerah DR. Moewardi Surakarta.

eprints.ums.ac.id/18638/21/NASKAH_PUBLIKASI.pdf [diakses pada tanggal 14 Juni 2016].

(29)

Nurnajiah Mia., Rusdi., Desmawati., 2014. Hubungan Status Gizi dengan Derajat Pneumonia pada Balita di RS. Dr. M. Djamil Padang.

jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/view/478/406 [diakses

pada tanggal 17 Mei 2016].

Price S.A., & Wilson L,M., 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta : EGC.

Rab HT., 1996. Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: Hipokrates.

Radji Maksum., M. Biomed., 2015. Imunologi dan Virologi.; Jakarta Barat: PT.Isfi Penerbitan.

Said Mardjanis., 2010. Pengendalian Pneumonia Anak-Balita dalam Rangka Pencapaian MDG4. Buletin Jendela Epidemiologi, vol. 3 :16-21

www.depkes.go.id/download.php?file.../buletin/buletin-pneumonia.pdf. [diakses pada tanggal 01 Februari 2016].

Scott J. Anthony G., dkk., 2012. The Definition of Pneumonia, the Assessment of Severity, and Clinical Standardization in the Pneumonia Etiology Research for Child Health Study. dari:Oxford Journals, http://www.oxfordjournals.org/our_journals/cid/ [diakses pada tanggal 14 Februari 2016].

Sefrina A., Purnama SC., 2015. Mengenal, Mencegah, Menangani Berbagai Penyakit pada Bayi dan Balita. Jakarta Timur: Dunia Sehat.

Sinambela Rinto, 2010. Karakteristik Balita Penderita Pneumonia Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Sari Mutiara Medan Tahun 2006-2007. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/16362 [diakses pada tanggal 07 Maret 2016].

Siska R.E., & Lilis S., 2013. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pneumonia pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mojogedang

II Kabupaten Karanganyar.

http://www.eprints.ums.ac.id/28168/10/02._JURNAL_PUBLIKASI

.pdf[diakses pada tanggal 25 Februari 2016].

Tambunan Siska, Suharyo, Kriswiharsi KS., 2014. Faktor-Faktor Risiko Kejadian Pneumonia pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungmundu

Kota Semarang Tahun 2013.

(30)

Weber M., & Frasisca Handy., 2010. Aksi Global Melawan Pneumonia pada

Anak. Buletin Jendela Epidemiologi, vol. 3 : 11-15.

www.depkes.go.id/download.php?file.../buletin/buletin-pneumonia.pdf. [diakses pada tanggal 01 Februari 2016].

Weinberger S., Cockrill B., Mandel J., 2008. Pulmonary Medicine. Fifth edition, United Sttates of America, Elsevier.

World Health Organization., 2015. Health in 2015 from MDGs to SDGs.

http://www.who.int/gho/publications/mdgs-sdgs/MDGs-SDGs2015_chapter4_snapshot_child_health.pdf [diakses pada tanggal 28 Maret 2016].

_________________________2015.Pneumonia.http://www.who.int/mediacentre/ factsheets, [diakses pada tanggal 14 Februari 2016].

(31)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain case series.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan yang beralamat di Jalan Haji Misbah No.7 Medan, Sumatera Utara atas pertimbangan tersedianya data rekam medis anak batita yang menderita pneumonia.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Maret 2016 sampai Juni 2016.

3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi penelitian ini adalah seluruh batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 yaitu sebanyak 106 orang.

3.3.2 Sampel

(32)

29

3.4 Metode Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari kartu status batita penderita pneumonia di Rekam Medik Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan pada tahun 2015. Semua kartu status sampel tersebut dikumpulkan kemudian dilakukan pencatatan sesuai dengan jenis variabel yang diteliti.

3.5 Variabel dan Defenisi Operasional

a. Batita adalah anak yang berusia < 3 tahun atau yang belum merayakan ulang tahun yang ketiga (0 – <36 bulan) (Kemenkes, 2011).

b. Umur adalah usia penderita pneumonia sesuai dalam hitungan bulan sesuai yang tercatat pada kartu status, dikategorikan atas: (Kemenkes, 2013) 1. 0 - 11 bulan

2. 12 - 23 bulan 3.24 - 35 bulan

c. Jenis kelamin adalah jenis kelamin penderita pneumoniasesuai yang tercatat pada kartu status, dikategorikan atas:

1. Laki-laki 2. Perempuan

d. Suku adalah suku penderita pneumonia sesuai yang tercatat pada kartu status, dikategorikan atas:

(33)

30

e. Agama adalah kepercayaan yang dianut oleh penderita pneumonia sesuai yang tercatat pada kartu status, dikategorikan atas:

1. Islam

2. Kristen Protestan 3. Katolik

4. Hindu 5. Budha

f.Tempat tinggal adalah keterangan tempat dimana penderita tinggal sesuai yang tercatat pada kartu status, dikategorikan atas:

1. Kota Medan 2. Luar Kota Medan

g. Status gizi adalah keadaan gizi anak yang diukur menggunakan indeks antropometri yaitu indeks berat badan menurut umur berdasarkan standar WHO-NCHS, dikategorikan atas:

1. Gizi lebih (>2SD)

2. Gizi baik(-2,0 SD sampai dengan 2,0 SD) 3. Gizi kurang (-3,0 SD sampai dengan <-2,0 SD) 4. Gizi buruk (<-3,0 SD )

untuk analisis bivariat, status gizi dikategorikan atas:

1. Gizi baik (gizi lebih {>2SD} dan gizi baik {-2,0 SD sampai dengan 2,0 SD})

2. Gizi buruk (Gizi kurang {-3,0 SD sampai dengan <-2,0 SD} dan gizi buruk {<-3,0 SD}

h. Status imunisasi adalah kelengkapan imunisasi yang telah didapatkan oleh penderita penumonia sesuai yang tercatat pada kartu status, dikategorikan atas:

(34)

31

2. Tidak lengkap apabila balita hanya mendapatkan sebagian dari jenis imunisasi yang seharusnya telah didapatkan pada tingkat umurnya. 3. Tidak mendapat imunisasi apabila balita belum mendapatkan satu jenis

imunisasi apapun.

i. Penyakit penyerta adalah penyakit lain yang dialami penderita pneumonia sesuai yang tercatat pada kartu status, dikategorikan atas:

1. Tanpa penyakit penyerta 2. Dengan penyakit penyerta

j. Derajat pneumonia adalah tingkat keparahan pneumonia yang dialami penderita pneumonia sesuai yang tercatat pada kartu status, dikategorikan atas: (Depkes, 2007)

1. Pneumonia ditandai dengan nafas cepat dan tidak disertai dengan tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Batas nafas cepat untuk golongan umur kurang dari 2 bulan adalah 60 kali permenit atau lebih. sedangkan untuk anak umur 2 -<12 bulan adalah 50 kali per menit atau lebih dan untuk anak umur 1-5 tahun adalah 40 kali permenit atau lebih.

2. Pneumonia berat ditandai dengan nafas cepat dan adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam.

k. Lama rawatan rata-rata adalah lamanya penderita yang dirawat inap di rumah sakit dimulai dari hari pertama masuk sampai hari terakhir perawatan menurut catatan pada kartu status penderita pneumonia tahun 2015 dalam nilai rata-rata.

l. Kondisi sewaktu pulang adalah kondisi penderita pneumonia ketika pulang dari rumah sakit, dikategorikan atas:

1. Sembuh

2. Pulang Berobat Jalan (PBJ)

(35)

32

untuk analisis bivariat, kondisi sewaktu pulang dikategorikan atas:

1. Tidak Meninggal Dunia {Sembuh, Pulang Berobat Jalan (PBJ), Pulang Atas Permintaan Sendiri (PAPS)}

2. Meninggal Dunia 3.6 Teknik Analisa Data

(36)

BAB IV

HASIL PENELITIAN 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan

Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan yang beralamat di Jalan Haji Misbah No. 7 Medan. Rumah sakit ini adalah milik Kongregasi Fransiskanes Santa Elisabeth Medan dengan motto “Ketika Aku Sakit Kamu Melawat Aku”.

4.1.2 Visi Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan

Visi Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan adalah “menjadikan kehadiran Allah di tengah dunia dengan membuka tangan dan hati untuk memberikan pelayanan kasih yang menyembuhkan orang-orang sakit dan menderita sesuai dengan tuntutan zaman”.

4.1.3 Misi Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Misi Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan adalah:

a. memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas atas dasar kasih, b. meningkatkan sumber daya manusia secara professional untuk memberikan

pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas, dan

c. meningkatkan sarana serta prasarana yang memadai dengan tetap memperhatikan masyarakat lemah.

4.1.4 Falsafah Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan

(37)

34

sesuai dengan kebijakan pemerintah dalam menuju masyarakat sehat. Pelayanan Rumah Sakit Santa Elisabeth lebih mengutamakan orang yang paling membutuhkan tanpa membedakan suku, bangsa, agama dan golongan sesuai dengan harkat dan martabat manusia.

4.1.5 Tujuan dan Fungsi Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan

Tujuan Rumah Sakit Santa Elisabeth adalah mewujudkan secara nyata Kharisma Kongregasi Fransiskanes Santa Elisabeth dalam bentuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat umum tanpa membeda-bedakan dan memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh (holistik) bagi orang-orang sakit dan menderita serta membutuhkan pertolongan.

Fungsi Rumah Sakit Santa Elisabeth adalah menyelenggarakan pelayanan kesehatan kuratif, preventif, promotif dan rehabilitative serta menyediakan tempat umtuk praktek STIKes Santa Elisabeth Medan.

4.2 Deskriptif

4.2.1 Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap

Proporsi penderita pneumonia pada batita yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan pada tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini:

Tabel 4.1 Proporsi Penderita Pneumonia Batita yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Batita yang dirawat inap f %

Penderita Pneumonia 106 8,6

Bukan Penderita Pneumonia 1.122 91,4

(38)

35

Dari tabel 4.1 di atas dapat diketahui bahwa dari 1.228 orang batita yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015, 106 orang (8,6%) diantaranya adalah penderita pneumonia dan 1.122 orang (91,4%) bukan penderita pneumonia.

Ada 8,6% anak batita penderita pneumonia dari seluruh anak batita yang dirawat di Rumah Sakit Santa Elisabet Medan tahun 2015. Hal tersebut berarti bahwa dari setiap 100 anak batita penderita pneumonia ada 8,6 atau 9 orang anak yang merupakan penderita pneumonia. Angka tersebut memang sangat kecil namun sangat membahayakan jika ada anak penderita pneumonia yang meninggal dunia. Pneumonia sering sekali dianggap sepele seperti flu biasa namun pada kenyataannya dapat menyebabkan kematian pada anak sehingga harus dicegah dan tidak berulang bagi penderita yang sudah sembuh.

4.2.2 Sosiodemografi

Distribusi proporsi batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan pada tahun 2015 berdasarkan sosiodemografi dapat dilihat pada tabel 4.2 di bawah ini:

Tabel 4.2 Distribusi Proporsi Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap Berdasarkan Sosiodemografi di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

No. Sosiodemografi f %

1. Umur (bulan)

0-11 33 31,1

12-23 26 24,5

24-35 47 44,4

(39)

36

Kristen Protestan 80 75,5

(40)

37

80 orang (75,5) dan paling sedikit beragama Budha sebanyak 1 orang (0,9%). Proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan tempat tinggal terbanyak berasal dari Kota Medan sebanyak 68 orang (64,2%) sedangkan yang berasal dari luar Kota Medan sebanyak 38 orang (35,8%).

4.2.3 Status Gizi

Distribusi proporsi batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan pada tahun 2015 berdasarkan status gizi dapat dilihat pada tabel 4.3 di bawah ini:

Tabel 4.3 Distribusi Proporsi Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap Berdasarkan Status Gizi di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015 (I)

Status Gizi f %

Gizi Lebih 1 0,9

Gizi Baik 81 76,5

Gizi Kurang 16 15,1

Gizi Buruk 8 7,5

Total 106 100

Dari tabel 4.3 di atas dapat diketahui bahwa proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan status gizi, terbanyak dengan status gizi baik sebanyak 81 orang (76,5%), dan paling sedikit pada status gizi lebih sebanyak 1 orang (0.9%).

Tabel 4.4 Distribusi Proporsi Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap Berdasarkan Status Gizi di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015 (II)

Status Gizi f %

Gizi Baik 82 77,4

Gizi Buruk 24 22,6

(41)

38

Untuk analisis bivariat maka status gizi dibagi menjadi gizi baik (gizi lebih dan gizi baik) sebanyak 82 orang (77,4%) dan gizi buruk (gizi kurang dan gizi buruk) sebanyak 24 orang (22,6%).

4.2.4 Status Imunisasi

Distribusi proporsi batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan pada tahun 2015 berdasarkan status imunisasi dapat dilihat pada tabel 4.5 di bawah ini:

Tabel 4.5 Distribusi Proporsi Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap Berdasarkan Status Imunisasi di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Status Imunisasi f (%)

Lengkap 33 31,1

Tidak Lengkap 63 59,5

Tidak Mendapat Imunisasi 10 9,4

Total 106 100

Dari tabel 4.5 di atas dapat diketahui bahwa proporsi batita penderita pneumonia terbanyak dengan status imunisasi tidak lengkap sebanyak 63 orang (59,5%) dan paling sedikit pada batita yang tidak mendapat imunisasi sebanyak 10 orang (9,4%).

4.2.5 Penyakit Penyerta

(42)

39

Tabel 4.6 Distribusi Proporsi Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap Berdasarkan Penyakit Penyerta di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Penyakit Penyerta f (%)

Tanpa Penyakit Penyerta 88 83,0

Dengan Penyakit Penyerta

Decompensasi Cordis 1 0,9

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) 5 4,8

Epilepsi 2 1,9

Gastroenteritis 2 1,9

Kejang Demam Simpleks 5 4,8

Kelainan Ginjal 1 0,9

Leukimia 1 0,9

Ventricle Septal Defect 1 0,9

Total 106 100

Dari tabel 4.6 di atas dapat diketahui bahwa proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan penyakit penyerta, terbanyak tanpa penyakit penyerta sebanyak 88 orang (83,0%) dan 18 orang (17,0%) dengan penyakit penyerta diantaranya penyakit DHF dan kejang demam simpleks masing-masing 5 orang (4,7%), epilepsi dan gastroenteritis masing-masing 2 orang (1,9%), Decompensasi Cordis, kelainan ginjal, leukemia serta Ventricle Septal Defect masing-masing 1

orang (0,9%).

4.2.6 Derajat Pneumonia

Distribusi proporsi batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan pada tahun 2015 berdasarkan derajat pneumonia dapat dilihat pada tabel 4.7 di bawah ini:

Tabel 4.7 Distribusi Proporsi Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap Berdasarkan Derajat Pneumonia di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Derajat Pneumonia f (%)

Pneumonia 97 91.5

Pneumonia Berat 9 8.5

(43)

40

Dari tabel 4.7 di atas dapat diketahui bahwa proporsi batita penderita pneumonia berdasarakan derajat pneumonia, terbanyak dengan derajat pneumonia sebanyak 97 orang (91,5%) dan paling sedikit dengan derajat pneumonia berat sebanyak 9 orang (8,5%).

4.2.7 Lama Rawatan Rata-Rata

Lama rawatan rata-rata batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan pada tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 4.8 di bawah ini:

Tabel 4.8 Distribusi Proporsi Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap Berdasarkan Lama Rawatan Rata-rata di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Lama Rawatan Rata-rata (hari) Mean 4,76

SD (Standard Deviasi) 2,61 Minimum 1 Maksimum 17

Dari tabel 4.8 di atas dapat diketahui bahwa lama rawatan rata-rata batita pederita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 adalah 4,76 hari. Lama rawatan batita penderita pneumonia bervariasi dimana lama rawatan tersingkat adalah 1 hari dan terlama adalah 17 hari.

4.2.8 Kondisi Sewaktu Pulang

(44)

41

Tabel 4.9 Distribusi Proporsi Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap Berdasarkan Kondisi Sewaktu Pulang di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Kondisi Sewaktu Pulang f (%)

Sembuh 88 83,0

Pulang Berobat Jalan (PBJ) 2 1,9

Pulang Atas Permintaan Sendiri (PAPS) 13 12,3

Meninggal Dunia 3 2,8

Total 106 100

Dari tabel 4.9 di atas dapat diketahui bahwa proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan kondisi sewaktu pulang, terbanyak dalam keadaan sembuh sebanyak 88 orang (83,0%) dan paling sedikit pulang berobat jalan (PBJ) sebanyak 2 orang (1,9%).

4.3 Analisis Bivariat

4.3.1 Umur Berdasarkan Derajat Pneumonia

Distribusi umur berdasarkan derajat pneumonia batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan pada tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 4.10 di bawah ini:

Tabel 4.10 Distribusi Proporsi Umur Berdasarkan Derajat Pneumonia Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

(45)

42

orang (55,6%) pada kelompok umur 0-11 bulan, 2 orang (22,2%) pada kelompok umur 12-23 bulan dan 2 orang (22,2%) pada kelompok umur 24-35 bulan.

Analisa statistik dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov diperoleh p=0,600 (p > 0,05) yang berarti tidak ada perbedaan umur batita penderita pneumonia berdasarkan derajat pneumonia.

4.3.2 Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Umur

Lama rawatan rata-rata berdasarkan umur batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan pada tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 4.11 di bawah ini:

Tabel 4.11 Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Umur Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Umur Lama Rawatan Rata-rata (hari)

f SD

0 - 11 bulan 33 5,15 3,39

12 - 23 bulan 26 4,42 1,65

24 - 35 bulan 47 4,68 4,42

p = 0,979 Dari tabel 4.11 di atas dapat diketahui bahwa batita penderita pneumonia dengan lama rawatan rata-rata yaitu 5,15 hari sebanyak 33 orang pada kelompok umur 0-11 bulan, kemudian lama rawatan rata-rata yaitu 4,42 hari sebanyak 26 orang pada kelompok umur 12-23 bulan dengan dan dengan lama rawatan rata-rata yaitu 4,68 hari sebanyak 47 orang pada kelompok umur 24-35 bulan.

(46)

43

4.3.3 Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Status Gizi

Lama rawatan rata-rata berdasarkan status gizi batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan pada tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 4.12 di bawah ini:

Tabel 4.12 Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Status Gizi Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Umum Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Status Gizi Lama Rawatan Rata-rata (hari)

f SD

Gizi Baik 82 4,46 2,30

Gizi Buruk 24 5,79 3,32

p = 0,043 Dari Tabel 4.12 di atas dapat diketahui bahwa batita penderita pneumonia dengan status gizi baik sebanyak 82 orang dengan lama rawatan rata-rata yaitu 4,46 hari dan status gizi buruk sebanyak 24 orang dengan lama rawatan rata-rata yaitu 5,79 hari.

Analisa statistik dengan menggunakan uji Mann-Whitney diperoleh p=0,043 (p<0,05) artinya secara statistik ada perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan status gizi.

4.3.4 Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Derajat Pneumonia

(47)

44

Tabel 4.13 Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Derajat Pneumonia Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Umum Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Derajat Pneumonia Lama Rawatan Rata-rata (hari)

f SD

Pneumonia 97 4,58 0,248

Pneumonia Berat 9 6,78 1,188

p = 0,061 Dari Tabel 4.13 di atas dapat diketahui bahwa batita penderita pneumonia yang tergolong pneumonia sebanyak 97 orang dengan lama rawatan rata-rata yaitu 4,58 hari dan yang tergolong pneumonia berat ada sebanyak 9 orang dengan lama rawatan rata-rata yaitu 6,78 hari.

Analisa statistik dengan menggunakan uji Mann-Whitney diperoleh p=0,061 (p>0,05) artinya tidak ada ada perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan derajat pneumonia.

4.3.5 Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Penyakit Penyerta

Lama rawatan rata-rata berdasarkan penyakit penyerta batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan pada tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 4.14 di bawah ini:

Tabel 4.14 Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Penyakit Penyerta Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Umum Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Penyakit Penyerta Lama Rawatan Rata-rata (hari)

f SD

Tanpa penyakit penyerta 88 4,30 1,88

Dengan penyakit penyerta 18 7,06 4,15

(48)

45

Dari tabel 4.14 di atas dapat diketahui bahwa batita penderita pneumonia tanpa penyakit penyerta ada sebanyak 88 orang dengan lama rawatan rata-rata yaitu 4,30 hari sedangkan penderita pneumonia dengan penyakit penyerta ada 18 orang dengan lama rawatan rata-rata yaitu 7,06 hari.

Analisa statistik dengan menggunakan uji Mann-Whitney diperoleh p=0,005 (p<0,05) artinya ada perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan penyakit penyerta.

4.3.6 Status Gizi Berdasarkan Derajat Pneumonia

Distribusi proporsi status gizi berdasarkan derajat pneumonia batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan pada tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 4.15 di bawah ini:

Tabel 4.15 Distribusi Proporsi Status Gizi Berdasarkan Derajat Pneumonia Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Umum Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Derajat Pneumonia

Status Gizi Total

(49)

46

Analisa statistik dengan menggunakan uji Chi-Square diperoleh p=0,014 (p < 0,05) yang berarti ada perbedaan status gizi batita penderita pneumonia berdasarkan derajat pneumonia.

4.3.7 Derajat Pneumonia Berdasarkan Kondisi Sewaktu Pulang

Distribusi proporsi derajat pmeumonia berdasarkan kondisi sewaktu pulang batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan pada tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 4.16 di bawah ini: Tabel 4.16 Distribusi Proporsi Derajat Pneumonia Berdasarkan Kondisi

Sewaktu Pulang Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Umum Santa Elisabeth Medan Tahun Pneumonia Pneumonia Berat

(50)

47

diantaranya tergolong pneumonia dan 2 orang (66,7%) tergolong pneumonia berat.

Analisa statistik dengan menggunakan uji Chi-Square tidak dapat dilakukan karena terdapat 5 sel (62,5%) dengan expected count kurang dari 5. Tabel 4.17 Distribusi Proporsi Derajat Pneumonia Berdasarkan Kondisi

Sewaktu Pulang Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Umum Santa Elisabeth Medan Tahun Pneumonia Pneumonia Berat

f (%) f (%) f (%) penderita pneumonia yang tidak meninggal dunia diantaranya tergolong pneumonia sebanyak 96 orang (93,2%) dan tergolong pneumonia berat sebanyak 7 orang (6,8%). Batita penderita pneumonia yang meninggal dunia ada sebanyak 3 orang, 1 orang (33,3%) diantaranya tergolong pneumonia dan 2 orang (66,7%) tergolong pneumonia berat.

(51)

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Deskriptif

5.1.1 Batita Penderita Pneumonia

Proporsi penderita pneumonia pada batita yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.1 Diagram Pie Proporsi Penderita Pneumonia pada Batita yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Berdasarkan gambar 5.1 di atas dapat dilihat bahwa proporsi penderita pneumonia pada batita yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 sebanyak 106 orang (8,6%) dan bukan penderita pneumonia sebanyak 1.122 orang (91,4%). Artinya dari setiap 100 anak batita yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 ada 8,6 atau 9 orang anak yang menderita pneumonia.

91,4 % 8,6%

Bukan Penderita Pneumonia

(52)

49

5.1.2 Umur

Distribusi proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan umur yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.2 Diagram Pie Proporsi Batita Penderita Pneumonia Berdasarkan Umur di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Berdasarkan gambar 5.2 di atas dapat dilihat bahwa proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan umur terbanyak pada kelompok umur 24 - 35 bulan yaitu sebanyak 47 orang (44,4%), kemudian pada kelompok umur 0-11 bulan sebanyak 33 orang (31,1%) dan paling sedikit pada kelompok umur 12-23 bulan sebanyak 26 orang (24.5%).

Hal ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Rinto Sinambela (2008) di Rumah Sakit Sari Mutiara yang menyatakan bahwa penderita pneumonia terbanyak pada kelompok umur 12-59 bulan yaitu sebanyak 140 orang

31,1% 24,5%

44,4%

(53)

50

(57,8 %), sedangkan golongan umur 2 -11 bulan sebanyak 88 orang (36,4 %) dan paling sedikit pada umur < 2 bulan sebanyak 14 orang (5,8 %).

5.1.3 Jenis Kelamin

Distribusi proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan jenis kelamin yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.3 Diagram Pie Proporsi Batita Penderita Pneumonia Berdasarkan Jenis Kelamin di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Berdasarkan gambar 5.3 di atas dapat dilihat bahwa proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan jenis kelamin lebih banyak pada laki-laki yaitu sebanyak 64 orang (60,4%) dibandingkan pada perempuan yaitu sebanyak 42 orang (39,6%).

60,4% 39,6%

(54)

51

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Dani, dkk (2014) di Rumah Sakit Imanuel Bandung yang menyatakan bahwa jumlah kasus pneumonia pada pasien balita yang berjenis kelamin laki-laki lebih tinggi yaitu 23 kasus (51,1%) dibandingkan pasien balita yang perempuan yaitu sebanyak 22 kasus (48,9%).

Sunyatanimkangto dalam Hartati (2011) menyatakan bahwa anak laki-laki mempunyai faktor resiko mengalami pneumonia lebih besar dibandingkan anak perempuan. Hal ini dikarenakan diameter saluran pernafasan anak laki-laki lebih kecil dibandingkan perempuan, selain itu terdapat perbedaan daya tahan tubuh antara anak laki-laki dan perempuan.

5.1.4 Suku

(55)

Gambar 5.4 D mayoritas adalah Suku merupakan faktor risi

Diagram Bar Proporsi Batita Penderita Pn Berdasarkan Suku di Rumah Sakit Santa E Medan Tahun 2015

n gambar 5.4 di atas dapat dilihat bahwa onia berdasarkan suku terbanyak pada Suku Bat

udian Suku Jawa sebanyak 3 orang (2,9%) da , Suku Nias, Suku Tionghoa dan suku lain-lain, 0,9%).

tian ini proporsi batita penderita pneumonia ba ien yang berobat di Rumah Sakit Santa El

uku Batak. Hal ini bukan menunjukkan bahw isiko untuk menderita pneumonia dan suku tida n kejadian pneumonia pada anak batita.

(56)

53

5.1.5 Agama

Distribusi proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan agama yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.5 Diagram Pie Proporsi Batita Penderita Pneumonia Berdasarkan Agama di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Berdasarkan gambar 5.5 di atas dapat dilihat bahwa proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan agama terbanyak beragama Kristen Protestan sebanyak 80 orang (75,5%), beragama Katolik sebanyak 15 orang (14,2%), beragama Islam sebanyak 10 orang (9,4%) dan paling sedikit beragama Budha sebanyak 1 orang (0,9%).

Pada penelitian ini proporsi batita penderita pneumonia banyak beragama Kristen Protestan karena pasien yang berobat di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan mayoritas beragama Kristen Protestan. Hal ini bukan menunjukkan bahwa

75,5% 14,2%

9,4% 0,9%

Kristen Protestan Katolik

(57)

54

Agama Kristen Protestan merupakan faktor risiko untuk menderita pneumonia dan agama tidak berhubungan langsung dengan kejadian pneumonia pada anak batita.

5.1.6 Tempat Tinggal

Distribusi proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan tempat tinggal yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.6 Diagram Pie Proporsi Batita Penderita Pneumonia Berdasarkan Tempat Tinggal di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Berdasarkan gambar 5.6 di atas dapat dilihat bahwa proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan tempat tinggal terbanyak berasal dari Kota Medan sebanyak 68 orang (64,2%) sedangkan yang berasal dari luar Kota Medan sebanyak 38 orang (35,8%).

64,2% 35,8%

(58)

55

Banyaknya batita penderita pneumonia yang berasal dari Kota Medan disebabkan karena lokasi Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan sendiri berada di Kota Medan, sehingga banyak pengguna fasilitas rumah sakit tersebut berasal dari kota itu sendiri, sedangkan batita penderita pneumonia balita yang berasal dari luar Kota Medan kemungkinan merupakan pasien rujukan.

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Diessy Marbun (2008) di RSU Dr. Pirngadi Medan yang menyatakan bahwa proporsi tertinggi anak penderita pneumonia yang dirawat inap adalah yang bertempat tinggal di Medan sebanyak 71 orang (67,6%), dan di luar Kota Medan sebanyak 34 orang (32,4%).

5.1.7 Status Gizi

(59)

56

Gambar 5.7 Diagram Pie Proporsi Batita Penderita Pneumonia Berdasarkan Status Gizi di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Berdasarkan gambar 5.7 di atas dapat dilihat bahwa proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan status gizi, terbanyak dengan status gizi baik sebanyak 81 orang (76,5%), status gizi kurang sebanyak 16 orang (15,1%), status gizi buruk sebanyak 8 orang (7,5%) dan paling sedikit dengan status gizi lebih sebanyak 1 orang (0.9%).

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rubini Balakrishnan (2014) di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yang menyatakan bahwa bahwa proposi anak penderita pneumonia terbesar dengan status gizi baik yaitu sebanyak 33 orang (39.8%), kemudian 28 orang (33.7%) memiliki status gizi kurang, 17 orang (20.5%) memiliki status gizi buruk sedangkan 5 orang (6.0%) memiliki status gizi lebih. Hal ini bukan berarti status gizi tidak

76,5% 15,1%

7,5% 0,9%

(60)

57

mempengaruhi kejadian pneumonia, melainkan merupakan salah satu faktor risiko menderita pneumonia.

5.1.8 Status Imunisasi

Distribusi proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan status imunisasi yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.8 Diagram Pie Proporsi Batita Penderita Pneumonia Berdasarkan Status Imunisasi di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Berdasarkan gambar 5.8 di atas dapat dilihat bahwa proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan status imunisasi terbanyak dengan status imunisasi tidak lengkap sebanyak 63 orang (59,5%), status imunisasi lengkap sebanyak 31 orang (31,1%) dan paling sedikit pada batita yang tidak mendapat imunisasi sebanyak 10 orang (9,4%).

59,5% 31,1%

9,4%

Tidak Lengkap

Lengkap

(61)

58

Imunisasi yang sangat dekat dengan pencegahan ISPA seperti pneumonia adalah imunisasi difteri, pertusis dan campak. Imunisasi lengkap dapat mampu mengurangi faktor yang meningkatkan mortalitas ISPA. Bayi dan balita yang mempunyai status imunisasi lengkap bila menderita ISPA diharapkan perkembangan penyakitnya tidak akan menjadi berat.

Penelitian yang dilakukan oleh Itma Annah (2012) di Rumah Sakit Umum Daerah Salewangan Maros menyatakan bahwa ada hubungan antara riwayat status imunisasi dengan kejadian pneumonia pada balita. Dari hasil analisa juga diperoleh nilai OR = 2,39 (OR>1) yang artinya balita dengan riwayat status imunisasi yang tidak lengkap mempunyai kemungkinan 2.39 kali untuk menderita pneumonia dibandingkan dengan balita yang mempunyai riwayat status imunisasi yang lengkap.

5.1.9 Penyakit Penyerta

(62)

59

Gambar 5.9 Diagram Pie Proporsi Batita Penderita Pneumonia Berdasarkan Penyakit Penyerta di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Berdasarkan gambar 5.9 di atas dapat dilihat bahwa proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan penyakit peyerta, terbanyak tanpa penyakit penyerta sebanyak 88 orang (83,0%) dan dengan penyakit penyerta sebayak 18 orang (17,0%).

Banyaknya batita penderita pneumonia tanpa penyakit penyerta dikarenakan kebanyakan batita penderita pneumonia yang dibawa untuk berobat masih dengan derajat pneumonia. Batita penderita pneumonia dengan penyakit penyerta cenderung akan lebih berat derajat pneumonianya dari pada batita penderita pneumonia tanpa penyakit penyerta.

83,0% 17,0%

Tanpa Penyakit Penyerta

(63)

60

5.1.10 Derajat Pneumonia

Distribusi proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan derajat pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.10 Diagram Pie Proporsi Batita Penderita Pneumonia Berdasarkan Derajat Pneumonia di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Berdasarkan gambar 5.10 di atas dapat dilihat bahwa proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan derajat pneumoni, terbanyak dengan derajat pneumonia sebanyak 97 orang (91,5%) dan paling sedikit dengan derajat pneumonia berat sebanyak 9 orang (8,5%).

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rubini Balakrishnan (2014) di RSUP Haji Adam Malik Medan yang menyatakan bahwa anak yang menderita pneumonia terbanyak dengan derajat pneumonia yaitu sebanyak 58

91,5% 8,5%

(64)

61

orang (69.9%), diikuti dengan derajat pneumonia berat sebanyak 23 orang (27.7%) dan bukan pneumonia (2.4%).

5.1.11 Lama Rawatan Rata-rata

Lama rawatan rata-rata batita pederita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 adalah 4,76 hari atau 5 hari. Lama rawatan batita penderita pneumonia bervariasi dimana lama rawatan tersingkat adalah 1 hari dan terlama adalah 17 hari. Lama rawatan rata-rata dapat dipengaruhi oleh banyak hal seperti yang akan dibahas pada hasil analisa bivariat nantinya.

Melalui penangan yang tepat, pneumonia yang disebabkan oleh bakteri dapat disembuhkan antara 1-2 minggu, sedangkan pada pneumonia yang disebabkan oleh virus masa penyembuhannya lebih lama sekitar 4-6 minggu untuk bisa benar-benar sembuh (Chomaria, 2015).

(65)

62

5.1.12 Kondisi Sewaktu Pulang

Distribusi proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan kondisi sewaktu pulang yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.11 Diagram Pie Proporsi Batita Penderita Pneumonia Berdasarkan Kondisi Sewaktu Pulang di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Berdasarkan gambar 5.11 di atas dapat dilihat bahwa proporsi batita penderita pneumonia berdasarkan kondisi sewaktu pulang, terbanyak dalam keadaan sembuh sebanyak 88 orang (83,0%) kemudian pulang atas permintaan sendiri sebanyak 13 orang (12,3%), meninggal dunia sebanyak 3 orang (2,8%) dan pulang berobat jalan sebanyak 2 orang (1,9%). Maka dapat dihitung Case Fatality Rate (CFR) batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah

Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 adalah sebesar 2,8%. 83,0%

12,3%

2,8% 1,9%

Sembuh PBJ

(66)

63

Tingginya proporsi batita penderita pneumonia yang pulang dengan kondisi sembuh dikarenakan kebanyakan batita penderita pneumonia yang dibawa ke rumah sakit belum dalam keadaan parah, sehingga masih dapat ditangani dengan cepat dan tepat oleh tenaga medis.

5.2 Analisa Bivariat

5.2.1 Umur Berdasarkan Derajat Pneumonia

Distribusi proporsi umur berdasarkan derajat pneumonia pada batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.12 Diagram Bar Proporsi Umur Berdasarkan Derajat Pneumonia Batita Penderita Pneumonia di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

28,9%

55,6%

24,7%

22,2% 46,4%

22,2%

0 10 20 30 40 50 60

Pneumonia Pneumonia Berat

(67)

64

Berdasarkan gambar 5.12 di atas dapat dilihat bahwa batita penderita pneumonia derajat pneumonia terbanyak pada kelompok umur 24-35 bulan (46.4%), diikuti kelompok umur 0-11 bulan (28,9%) dan kelompok umur 12-23 bulan (24,7%). Batita penderita pneumonia derajat pneumonia berat terbanyak pada kelompok umur 0-11 bulan umur (55,6%), diikuti pada kelompok umur 12-23 bulan (22,2%) dan kelompok umur 24-35 bulan(22,2%).

Hasil analisa statistik dengan uji Kolmogorov-Smirnov diperoleh p=0,600 (p>0,05) yang berarti tidak ada perbedaan umur batita penderita pneumonia berdasarkan derajat pneumonia batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015.

Penelitian yang dilakukan oleh Siska Tambunan dkk (2014) di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara umur balita dengan kejadian pneumonia pada balita kemungkinan disebabkan oleh adanya faktor lain seperti riwayat status gizi, status imunisasi, status pemberian ASI ataupun faktor ekstrinsik yang tidak diteliti.

5.2.2 Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Umur

(68)

65

Gambar 5.13 Diagram Bar Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Umur Batita Penderita Pneumonia di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Berdasarkan gambar 5.13 dapat dilihat bahwa batita penderita pneumonia pada kelompok umur 0-11 bulan memiliki lama rawatan rata-rata 5,15 hari, sedangkan kelompok umur 24-35 bulan memiliki lama rawatan rata-rata 4,68 hari dan dengan pada kelompok umur 12-23 bulan memiliki lama rawatan rata-rata 4,42 hari.

Hasil analisa statistik dengan uji Kruskal-Wallis diperoleh p=0,979 (p>0,05) artinya secara statistik tidak ada perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan umur pada batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015.

(69)

66

rawatan rata-rata 7,65 hari, umur 12-35 bulan dengan lama rawatan rata-rata 7,35 hari dan umur 36-59 dengan lama rawatan rata-rata 7,61 hari.

5.2.3 Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Status Gizi

Distribusi proporsi lama rawatan rata-rata berdasarkan status gizi pada batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.14 Diagram Bar Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Status Gizi Batita Penderita Pneumonia di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Berdasarkan gambar 5.14 dapat dilihat bahwa lama rawatan rata-rata batita penderita pneumonia dengan status gizi buruk lebih lama dari pada yang berstatus gzi baik. Batita penderita pneumonia dengan status gizi buruk mempunyai lama rawatan rata-rata 5,79 hari sedangkan batita penderita pneumonia dengan status gizi baik mempunyai lama rawatan rata-rata 4,46 hari.

Hasil analisa statistik dengan uji Mann-Whitney diperoleh p=0,043 (p<0,05) artinya secara statistik ada perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan

4,46

5,79

0 1 2 3 4 5 6 7

Gizi Baik Gizi Buruk

(70)

67

status gizi batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015.

Penelitian yang dilakukan oleh Aziz Muktasim (2012) di Rumah Sakit Umum Daerah DR. Moewardi Surakarta menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara status gizi buruk dan status gizi baik dengan lama rawatan inap penderita pneumonia. Penderita pneumonia dengan status gizi buruk mempunyai kemungkinan 1.611 kali rawat inap lebih lama dibandingkan penderita pneumonia yang mempunyai status gizi baik.

5.2.4 Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Derajat Pneumonia Distribusi proporsi lama rawatan rata-rata berdasarkan derajat pneumonia pada batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.15 Diagram Bar Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Derajat Pneumonia Batita Penderita Pneumonia di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

4,58

6,78

0 2 4 6 8

Pneumonia Pneumonia

Berat

(71)

68

Berdasarkan gambar 5.15 dapat dilihat bahwa batita penderita pneumonia derajat pneumonia berat mempunyai lama rawatan rata-rata 6,78 hari sedangkan penderita pneumonia derajat pneumonia mempunyai lama rawatan 4,58 hari.

Hasil analisa statistik dengan uji Mann-Whitney diperoleh p=0,061 (p>0,05) artinya tidak ada ada perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan derajat pneumonia batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rinto Sinambela (2008) di Rumah Sakit Sari Mutiara yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan derajat pneumonia pada balita penderita pneumonia. Balita penderita pneumonia derajat pneumonia mempunyai lama rawatan rata-rata 5,51 hari, sedangkan balita penderita pneumonia derajat pneumoia berat mempunyai lama rawatan rata-rata 4,97 hari.

5.2.5 Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Penyakit Penyerta

(72)

69

Gambar 5.16 Diagram Bar Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Penyakit Penyerta Batita Penderita Pneumonia di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

Berdasarkan gambar 5.16 dapat dilihat bahwa batita penderita pneumonia yang memiliki penyakit penyerta mempuyai lama rawatan rata-rata 7.06 hari sedangkan yang tidak memiliki penyakit penyerta mempunyai lama rawatan rata-rata 4,3 hari.

Hasil analisa statistik dengan uji Mann-Whitney diperoleh p=0,005 (p<0,05) artinya ada perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan penyakit penyerta batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015.

Penelitian yang dilakukan oleh Reditya Anggarani (2013) di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito menyatakan bahwa lama rawatan anak penderita pneumonia dengan penyakit penyerta lebih tinggi dibandingkan dengan anak penderita pneumonia tanpa penyakit penyerta. Selain itu kematian pada anak

4,3

7,06

0 1 2 3 4 5 6 7 8

Tanpa Penyakit Penyerta

Dengan Penyakit Penyerta

(73)

70

dengan penyakit penyerta (91,5 %) lebih tinggi dibandingkan dengan anak tanpa penyakit penyerta (8,5%).

Penderita pneumonia dengan penyakit penyerta cenderung akan lebih lama dirawat karena semakin banyak terapi yang didapatkan oleh penderita. Selain mengobati penyakit pneumonia, tim medis juga harus mengobati penyakit penyerta yang dialami penderita pneumonia. Penyakit penyerta juga dapat memperparah penyakit pneumonia sehingga mempengaruhi lama rawatan.

5.2.6 Status Gizi Berdasarkan Derajat Pneumonia

Distribusi proporsi status gizi berdasarkan derajat pneumonia pada batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.17 Diagram Bar Proporsi Status Gizi Berdasarkan Derajat Pneumonia Batita Penderita Pneumonia di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015

(74)

71

Berdasarkan gambar 5.17 di atas dapat dilihat bahwa batita penderita pneumonia derajat pneumonia terbanyak dengan status gizi baik (80,4%) dan dengan status gizi buruk (19.6%). Batita penderita pneumonia derajat pneumonia berat terbanyak dengan status gizi buruk (55,6%) dan dengan status gizi baik (44,4%).

Intan Agria R dkk (2012) menyatakan bahwa status gizi berpengaruh terhadap timbulya berbagai penyakit menular seperti ISPA. Kekurangan gizi dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit dan memperparah suatu penyakit, bahkan ekstremnya akan membawa kematian.

Hasil analisa statistik dengan uji Chi-Square diperoleh p=0,014 (p < 0,05) yang berarti ada perbedaan status gizi batita penderita pneumonia berdasarkan derajat pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015.

Penelitian yang dilakukan oleh Mia Nurnajiah dkk (2014) di Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang menyatakan bahwa terdapat hubungan bermakna antara status gizi dan derajat pneumonia pada balita penderita pneumonia. Sebagian besar balita dengan pneumonia derajat berat memiliki status gizi kurang dan buruk.

5.2.7 Derajat Pneumonia Berdasarkan Kondisi Sewaktu Pulang

(75)

72

Gambar 5.18 Diagram Bar Proporsi Derajat Pneumonia Berdasarkan Kondisi Sewaktu Pulang Batita Penderita Pneumonia di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015 (I) Berdasarkan gambar 5.18 di atas dapat dilihat bahwa batita penderita pneumonia yang sembuh terbanyak dengan derajat pneumonia (96,6%) diikut derajat pneumonia berat (3,4%), pulang berobat jalan (PBJ) dengan derajat pneumonia (100,0%), pulang atas permintaan sendiri (PAPS) terbanyak dengan derajat pneumonia (69,2%) diikuti derajat pneumonia berat (30,8%), meninggal dunia terbanyak dengan derajat pneumonia berat (66,7%) dan derajat pneumonia (33,3%).

Penderita pneumonia yang sembuh paling banyak dengan pneumonia derajat pneumonia karena penderita pneumonia belum mengalami keparahan sehingga lebih mudah diobati dan akan lebih cepat sembuh dari pada penderita pneumonia dengan pneumonia berat. Penderita pneumonia yang meninggal dunia

96,6% 100%

Sembuh PBJ PAPS Meninggal Dunia

(76)

73

paling banyak adalah penderita pneumonia dengan derajat pneumonia berat karena penderita sudah mengalami keparahan penyakit sehingga lebih sulit diobati bahkan akan mengalami kematian. Ketiga penderita pneumonia sempat dirawat selama 2 hari, 3 hari dan 5 hari.

Case Fatality Rate (CFR) pada batita penderita pneumonia dengan derajat

pneumonia adalah 1.03% sedangkan CFR pada batita penderita pneumonia dengan derajat pneumonia berat adalah 22,2%. Artinya CFR pada batita penderita pneumonia dengan derajat pneumonia berat lebih besar dari pada CFR pada batita penderita pneumonia dengan derajat pneumonia.

(77)

74

Gambar 5.19 Diagram Bar Proporsi Derajat Pneumonia Berdasarkan Kondisi Sewaktu Pulang Batita Penderita Pneumonia di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2015 (II) Berdasarkan gambar 5.19 di atas dapat dilihat bahwa batita penderita pneumonia yang tidak meninggal dunia dengan derajat pneumonia (92,3%) diikut derajat pneumonia berat (6,8%) dan yang meninggal dunia terbanyak dengan derajat pneumonia berat (66,7%) dan derajat pneumonia (33,3%).

Hasil analisa statistik dengan menggunakan uji Exact Fisher diperoleh p=0,019 (p < 0,05) yang berarti ada perbedaan antara derajat pneumonia batita penderita pneumonia berdasarkan kondisi sewaktu pulang yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015.

Dua dari tiga batita penderita pneumonia yang meninggal dunia memiliki derajat pneumonia berat yang berasal dari luar kota Medan yaitu dari Sibolga dan

93,2%

(78)

75

Hutaginjang sehingga dapat diperkirakan batita penderita pneumonia adalah pasien rujukan yang sudah dalam keadaan parah. Jauhnya jarak akses pelayanan kesehatan juga merupakan faktor pendukung terlambatnya penderita untuk dapat ditangani. Selain itu satu diantara dua batita penderita pneumonia tersebut memiliki penyakit penyerta yaitu penyakit Ventricle Septal Defect yang dapat memperparah penyakit pneumonia tersebut. Satu dari dua batita penderita yang meninggal dunia adalah dengan derajat pneumonia dan berasal dari kota Medan serta memiliki status gizi buruk yang dapat memperparah penyakit pneumonia karena tubuh tidak memiliki sistem imunitas yang baik.

(79)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian ini adalah:

6.1.1 Proporsi penderita pneumonia pada batita yang dirawat inap sebesar 8,6%.

6.1.2 Proporsi terbesar batita penderita pneumonia pada kelompok umur 24 - 35 bulan (44,3%), berjenis kelamin laki-laki (60,4%), Suku Batak (93,4%), beragama Kristen Protestan (75,5%) dan berasal dari Kota Medan (64,2%).

6.1.3 Proporsi terbesar batita penderita pneumonia berdasarkan status gizi yaitu status gizi baik (76,5%).

6.1.4 Proporsi terbesar batita penderita pneumonia berdasarkan status imunisasi yaitu status imunisasi tidak lengkap (59,4%).

6.1.5 Proporsi terbesar batita penderita pneumonia berdasarkan penyakit penyerta yaitu tanpa penyakit penyerta (83,0%).

6.1.6 Proporsi terbesar batita penderita pneumonia berdasarkan derajat pneumonia yaitu derajat pneumonia (91,5%).

6.1.7 Lama rawatan rata-rata batita penderita pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2015 adalah 4,76 hari.

(80)

77

6.1.9 Batita penderita pneumonia yang meninggal sebayak 3 orang dengan Case Fatality Rate 2,8%.

6.1.10 Tidak ada perbedaan umur berdasarkan derajat pneumonia. 6.1.11 Tidak ada perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan umur. 6.1.12 Ada perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan status gizi.

6.1.13 Tidak ada ada perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan derajat pneumonia.

6.1.14 Ada perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan penyakit penyerta. 6.1.15 Ada perbedaan status gizi berdasarkan derajat pneumonia.

6.1.16 Ada perbedaan antara derajat pneumonia berdasarkan kondisi sewaktu pulang.

6.2Saran

Saran penulis dari penelitian ini adalah:

6.2.1 Kepada bagian poli anak agar memberikan penyuluhan kepada orang tua tentang gejala-gejala pneumonia dan faktor risiko pneumonia sehingga orang tua segera membawa anak ke pelayanan kesehatan ketika anak mengalami gejala pneumonia untuk mendapat penanganan yang cepat dan tepat.

6.2.2 Kepada orang tua yang memiliki anak dengan penyakit penyerta harus lebih diawasi untuk mencegah anak dari ISPA khusunya pneumonia. 6.2.3 Kepada pihak rekam medik untuk melengkapi pencatatan riwayat berat

(81)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Infeksi Pernapasan Akut

Infeksi Saluran Pernapasan Akut sering disingkat dengan ISPA. Istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernapasan dan akut dengan pengertian sebagai berikut: (Yudarmawan, 2012 dalam Gapar, 2015)

2.1.1 Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusiadan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. 2.1.2 Saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli

beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernapasan bagian atas, saluran pernapasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernapasan, dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernapasan (respiratory tract). 2.1.3 Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari.

Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.

(82)

8

mengenai jaringan paru-paru atau ISPA berat, dapat menjadi pneumonia. Pneumonia merupakan penyakit infeksi penyebab kematian utama, terutama pada balita (Kemenkes, 2013).

Hasil Riskesdas tahun 2013 menjelaskan bahwa lima provinsi dengan ISPA tertinggi di Indonesia adalah Nusa Tenggara Timur (41,7%), Papua (31,1%), Aceh (30,0%), Nusa Tenggara Barat (28,3%), dan Jawa Timur (28,3%). Pada Riskesdas 2007, Nusa Tenggara Timur juga merupakan provinsi tertinggi dengan ISPA. Period prevalence ISPA Indonesia menurut Riskesdas 2013 (25,0%) tidak jauh berbeda dengan 2007 (25,5%). Period prevalence ISPA tersebut dihitung dalam kurun waktu 1 bulan terakhir.

2.2 Pengertian Pneumonia

Pneumonia adalahperadangan parenkim paru yang disebabkan oleh mikroorganisame seperti bakteri virus, jamur atau parasit. Namun pneumonia juga dapat disebabkan oleh bahan kimia ataupun karena paparan fisik seperti suhu atau radiasi. Peradangan parenkim paru yang disebabkan oleh penyebab selain mikroorganisme (fisik, kimiawi, alergi) sering disebut pneumonitis (Djojodibroto, 2009).

Gambar

Tabel 4.1
Tabel 4.3   Distribusi Proporsi Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap Berdasarkan Status Gizi di Rumah Sakit Santa Elisabeth
Tabel 4.6   Distribusi Proporsi Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap Berdasarkan Penyakit Penyerta di Rumah Sakit Santa
Tabel 4.11  Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Umur Batita Penderita Pneumonia yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth
+7

Referensi

Dokumen terkait

Distribusi proporsi sinus yang terlibat penderita rinosinusitis kronik rawat inap berdasarkan penatalaksanaan medis di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2006-2010 dapat

Proporsi lama rawatan rata-rata penderita NPB yang dirawat inap berdasarkan keadaan sewaktu pulang di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2004-2009 dapat dilihat pada gambar

Diagram Bar Distribusi Proporsi Derajat Bronkopneumonia Balita Penderita Bronkopneumonia Rawat Inap Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan

Distribusi Proporsi Penderita Struma Berdasarkan Status Perkawinan Proporsi penderita struma rawat inap di RS Santa Elisabeth Medan tahun 2005-2009 berdasarkan status perkawinan

Dari tabel 4.3 dapat dilihat bahwa proporsi penderita Hipertensi dengan komplikasi yang dirawat inap di RS Santa Elisabeth Medan tahun 2011-2015 berdasarkan

Karakteristik Penderita Pneumonia Pada Balita Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan tahun 2001-2005.. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan

Gambar 5.1 Diagram Pie Distribusi Proporsi Penderita Hipertensi dengan Komplikasi Berdasarkan Kategori Umur yang Dirawat Inap di RS Santa Elisabeth Medan

Populasi dalam penelitian ini adalah semua data penderita meningoensefalitis yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan pada tahun 2007-2011 yaitu 120