Lampiran 1
Data pengamatan analisa kadar air (%)
Tabel analisis sidik ragam kadar air (%)
Lampiran 2
Data pengamatan analisa kadar vitamin C (mg/100 g bahan)
Perlakuan Ulangan Total Rataan
Tabel analisis sidik ragam kadar vitamin C (mg/100 g bahan)
Lampiran 3
Data pengamatan analisa kadar serat kasar (%)
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II
Tabel analisis sidik ragam kadar serat kasar (%)
Lampiran 4
Data pengamatan analisa total gula (%)
Perlakuan Ulangan Total Rataan
Tabel analisis sidik ragam total gula (%)
Lampiran 5
Data pengamatan analisa total mikroba (Log CFU/g)
Perlakuan Ulangan Total Rataan
Tabel analisis sidik ragam total mikroba (Log CFU/g)
Lampiran 6
Data pengamatan analisa nilai skor warna
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II
Tabel analisis sidik ragam nilai skor warna
Lampiran 7
Data pengamatan analisa nilai skor rasa
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II
Tabel analisis sidik ragam skor rasa
Lampiran 8
Data pengamatan analisa nilai hedonik aroma
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II
Tabel analisis sidik ragam nilai hedonik aroma
Lampiran 9
Data pengamatan analisa nilai skor tekstur
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II
Tabel analisis sidik ragam nilai skor tekstur
Lampiran 10
Data pengamatan analisa kadar β-karoten (mg/100 g bahan)
Perlakuan Ulangan Total Rataan
1 2
G4L4 0,0032 0,0075 0,0107 0,00535
Lampiran 13 Gambar Produk
83
G1L1 G1L2 G1L3
G1L4 G2L1 G2L2
G2L3 G2L4 G3L1
G3L2 G3L3 G3L4
G4L1 G4L2 G4L3
G4L4
Keterangan :
G1 : Perendaman dengan garam selama 2 jam G2 : Perendaman dengan garam selama 4 jam G3 : Perendaman dengan garam selama 6 jam G4 : Perendaman dengan garam selama 8 jam L1 : Konsentrasi gula 40%
L2 : Konsentrasi gula 50% L3 : Konsentrasi gula 60% L4 : Konsentrasi gula 70%
DAFTAR PUSTAKA
Alliceva. 2010. Manisan Buah. http://alliceva.com (18 Maret 2015).
Almatsier, S. 1998. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Alvi, S., K. M. Khan, M. A. Sheikh. dan M. Shahid. 2003. Effect of peeling and cooking on nutrients in vegetables. Pakistan Journal of Nutrition. 2 (3) : 189-191.
AOAC. 1984. Official Methods of Analysis 11th edition. Association of Official Analytical Chemists, Inc., Washington, D.C.
Apriyantono, A., D. Fardiaz., N. L. Puspitasari, Sedarnawati., dan S. Budiyanto. 1989. Analisis Pangan. IPB-Press, Bogor.
Arlita, M. A. S. Waluyo dan Warji. 2013. Pengaruh suhu dan konsentrasi terhadap penyerapan larutan gula pada bengkuang (Pachyrrhizus erosus). Jurnal Teknik Pertanian Lampung. 2 (1) : 85-94.
Bangun, M. K. 1991. Perancangan Percobaan. USU-Press, Medan.
Bennion, M. dan B. Scheule. 2004. Introductory Foods. Twelfth Edition. Pearson Education, Inc., Upper Saddle River, New Jersey.
Buckle, K. A., R.. A. Edwards, G. H. Fleet dan M. Wotton. 2009. Ilmu Pangan. Penerjemah: H. Purnomo dan Adiano. UI-Press, Jakarta.
Buntaran, W. 2011. Pengaruh Konsentrasi Larutan Gula Terhadap Karakteristik Manisan Kering Tomat (Lycopercium esculenta). Skripsi. Universitas Sebelas Maret. Jawa Tengah.
Burhanuddin. 2001. Strategi Pengembangan Industri Garam di Indonesia. Kanisius, Yogyakarta.
BPOM. 2009. Jenis dan Batas Maksimum Cemaran Mikroba dalam Makanan. Jakarta.
Cahyadi, W. 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. PT. Bumi Aksara, Jakarta.
Dasuki, U. A. 1991. Sistematika Tumbuhan Tinggi Pusat Antar Universitas Bidang Ilmu Hayati ITB, Bandung.
Deputi Menegristek. 2000. Pengolahan Pangan : Manisan Buah. Kantor Deputi Menegristek Pendayagunaan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi. Jakarta.
Desrosier, N. W. 1988. Tekologi Pengawetan Pangan. Edisi Ketiga. Penerjemah: M. Muljohardjo. UI-Press, Jakarta.
Dhamayanti, R., Suranto, dan R. Setyaningsih. 2002. Keragaman jenis kapang pada manisan buah salak (Salacca edulis Reinw.). Biodiversitas. 3 (2): 220-224.
Dias, J. S. 2012. Nutritional quality and health benefits of vegetables: a review. Journal of Food and Nutrition Sciences. 1(3) : 1354-1374.
Din, A., S. A. H. Bukhari, A. Salam, dan B. Ishfaq. 2011. Development of functional and dietetic beverage from bitter gourd. Journal of Food Safety. 1 (13) : 355-360.
Estiasih, T. 2005. Teknologi Pengolahan Pangan. Bumi Aksara, Jakarta.
Estiasih, T. dan K. Ahmadi. 2009. Teknologi Pengolahan Pangan. Bumi Aksara. Jakarta.
Fachruddin, L. 2006. Membuat Aneka Manisan. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Fardiaz, S. 1992. Petunjuk Laboratorium Mikrobiologi Pengolahan Pangan. IPB-Press, Bogor.
Fatah, M. A dan Y. Bachtiar, 2004. Membuat Aneka Manisan Buah. Agro Media Pustaka, Bogor.
Fellows. A. P. 2000. Food Processing Technology. Principles and Practice. 2 nd. Terjemahan: Ristanto. W dan A. Purnomo. Woodread Pub. Lim Cambridge, England.
Gaman, P. M., dan K. B. Sherrington. 1994. The Sciences of Food, an Introduction to Food Science, Nutrition, and Microbiology Second Edition. Penerjemah : Murdjati, Sri Naruki, Agnes Murdiati, Sarjono dalam Ilmu Pangan Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi dan Mikrobiologi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Harris, R dan E. Karmas. 1989. Evaluasi Gizi pada Pengolahan Bahan Pangan. Terbitan Kedua. Penerjemah : S. Achmadi. ITB-Press, Bandung.
Hasnah, Husni, dan N. N. Purnama. 2011. Keefektifan ekstrak daun pare (Momordica charantia) dalam mengendalikan Crocidokomia pavonana F. pada tanaman sawit. Jurnal Floratek. 8 (1) : 11-20.
Hastuti, S., Y. D. Kurnianti., dan M. Fakhry. 2013. Produksi manisan rambutan kering dengan variasi konsentrasi larutan kapur dan karakteristik pengeringan. Agrointek. 7 (1) : 38-42.
Hudaya, S., dan S. Darajat. 2000. Dasar-dasar Pengawetan. Depdikbud, Jakarta.
Instalasi Penelitian Dan Pengkajian Teknologi Pertanian. Usahatani Tanaman Pare. Jakarta, 1996.
Jacobs, M. B. 1958. The Chemistry and Technology of Food and Food Products. Interscience Publisher, New York.
James, I. F., dan B. Kuipers. 2003. Preservation of Fruits and Vegetables. Fourth Edition. Agromisa Foundation, Wageningen.
Kartika, B., P, Hastuti., dan W. Supartono. 1987. Pedoman Uji Indrawi Bahan Pangan. Penerbit Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Kremer, S., J. Mojet, dan R. Shimojo. 2009. Salt reduction in foods using naturally brewed soy sauce. Journal of Food Science. 4 (6) : 255-263. Kusmiadi, R. 2008. Manisan Buah. Artikel Rektorat Universitas Bangka Belitung.
Moerdokusumo. A. 1993. Pengawasan Kualitas dan Teknologi Pembuatan Gula di Indonesia. ITB Press, Bandung.
Muaris, H. 2003. Seri Makanan Favorit Manisan Buah. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Naid, T., A. Munflihunna dan M. I. O. Madi, 2012. Analisis kadar β-karoten pada buah pare (Momordica charantia L.) asal Ternate secara spektofotometer UV-VIS. Jurnal Farmasi dan Farmakologi. 6 (3) : 127-130.
Nazaruddin. 1999. Penanganan dan Pengolahan Sayuran Dataran Rendah. Penebar Swadaya, Jakarta.
Novary, E. W. 1997. Penanganan dan Pengolahan Sayuran Segar. Penebar Swadaya, Jakarta.
Radam, R. R. 2009. Pengolahan buah nipah (Nypa fruticans wurmb) sebagai bahan baku manisan buah kering dan manisan buah basah. Jurnal Hutan Tropis Borneo. 10(27) : 286-296.
Rani, B., B. L. Jat, M. J. Pandey, J. Malhotra, L. Mohan, P. S. Bugasara, dan R.
K. Maheswari. 2014. Dietetic corollary of Momordica charantia for vivaciousness and sanguinity. International Journal of Pharmaceutical and Bio-Science. 3 (2) : 141-154.
Rita, S., Hernawati. dan D. Indraswati. 2011. Kadar lipid darah mencit betina
middle-aged galur swiss webster setelah pemberian jus buah pare (Momordica charantia L.). MKB. 43 (2) : 93-97.
Satuhu, S. 1996. Penanganan dan Pengolahan Buah. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sediaoetomo, A.D. 2006. Ilmu Gizi. Jilid II. Jakarta, Dian Rakyat.
SNI No. 01-4443-1998. Syarat Mutu Manisan. Badan Standarisasi Nasional, Jakarta.
Sularjo. 2010. Pengaruh perbandingan gula pasir dan daging buah terhadap kualitas permen pepaya. Universitas Widya Dharma, Yogyakarta.
Sulisna, R. 2002. Pembuatan manisan kering labu mie (Cucurbita pepo L.) kajian konsentrasi larutan kapur dan lama pengeringan terhadap sifat fisik kimia dan organoleptik. Skripsi. Jurusan THP Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Malang. terhadap mutu manisan cabai basah. Jurnal Penelitian Bidang Ilmu Pertanian. 4(1) : 7-10.
Thakur, A. K., dan Gupta, A. K. 2006. Water absorption characteristics of paddy, brown rice and husk soaking. Journal Food English. 75 : 252-257.
Winarno, F. G. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Yuda, K. A., M. S. Antara, A. A. G. O. Dharmayudha. 2013. Identifikasi golongan senyawa kimia estrak etanol buah pare (Momordica charantia)
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Analisis Kimia Bahan Pangan
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Waktu penelitian dilakukan pada
bulan Mei sampai Juli 2015.
Bahan Penelitian
Bahan penelitian yang digunakan adalah buah pare, garam, gula, dan
kapur sirih.
Reagensia Penelitian
Reagensia yang digunakan adalah PCA (Plate Count Agar), pati 1%,
iodin 0,01 N, H2SO4 0,225 N, NaOH 0,313 N, akuades, K2SO4 10%, alkohol 95%,
alkohol 80%, fenol, kloroform, petroleum eter, aseton, KOH 12%, petroleum benzen.
Alat Penelitian
Metode Penelitian (Bangun, 1991)
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap
(RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor, yaitu :
Faktor I : Lama perendaman dengan garam (G) terdiri dari 4 taraf, yaitu :
G1 = 2 jam
G2 = 4 jam
G3 = 6 jam
G4 = 8 jam
Faktor II : Konsentrasi gula (L) terdiri dari 4 taraf, yaitu :
L1 = 40%
L2 = 50%
L3 = 60%
L4 = 70%
Banyaknya kombinasi perlakuan atau Treatment Combination (Tc) adalah 4x4 = 16, maka jumlah ulangan (n) minimum adalah sebagai berikut :
Tc (n – 1) ≥ 15
16 (n – 1) ≥ 15
16 n - 16 ≥ 15
16 n ≥ 15 + 16
16 n ≥ 31
n ≥ 1,9375 ... dibulatkan menjadi 2
Model Rancangan (Bangun, 1991)
Penelitian ini dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial
dengan model :
ijk = µ + αi + βj + (αβ)ij + εijk
ijk : Hasil pengamatan dari faktor G pada taraf ke-i dan faktor L pada taraf ke-j dengan ulangan ke-k
µ : Efek nilai tengah
αi : Efek dari faktor G pada taraf ke-i
βj : Efek dari faktor L pada taraf ke-j
(αβ)ij : Efek interaksi faktor G pada taraf ke-i dan faktor L pada taraf ke-j
εijk : Efek galat dari faktor G pada taraf ke-i dan faktor L pada taraf ke-j dalam
ulangan ke-k
Apabila diperoleh hasil yang berbeda nyata atau sangat nyata maka dilanjutkan
dengan uji LSR (Least Significant Range).
Pelaksanaan Penelitian
Sayur pare dipilih yang masih segar, kemudian pare dibelah dan
dipisahkan dari bijinya, pare diiris dengan ketebalan 1 cm, kemudian diblansing
selama 3 menit pada suhu 85 oC, diangkat dan ditiriskan. Selanjutnya dilakukan
perendaman dengan larutan garam 1% sesuai perlakuan selama (2 jam, 4 jam, 6
jam, dan 8 jam) kemudian dibilas menggunakan air mengalir, ditiriskan. Pare
direndam dengan larutan kapur 1% selama 2 jam, diangkat dan ditiriskan.
Kemudian direndam selama 24 jam dalam larutan gula yang dipanaskan dengan
Manisan basah pare akan disimpan dalam botol jar yang telah disterilisasi
kemudian disimpan selama 3 hari.
Pengamatan dan Pengukuran Data
Pengamatan dan pengukuran data dilakukan dengan cara analisis terhadap
parameter sebagai berikut :
1. Kadar air (%)
2. Kadar vitamin C (mg/100 g bahan)
3. Kadar serat kasar (%)
4. Total gula (%)
5. Total mikroba (Log CFU/g)
6. Nilai skor warna (numerik)
7. Nilai skor rasa (numerik)
8. Nilai skor tekstur (numerik)
9. Nilai hedonik aroma (numerik)
10. Kadar β-karoten (mg/100 g bahan)
Penentuan kadar air (AOAC, 1984)
Sampel ditimbang sebanyak 5 g di dalam cawan aluminium yang telah
diketahui berat kosongnya. Kemudian bahan tersebut dikeringkan dalam oven
dengan suhu sekitar 105oC-110oC selama 3 jam, selanjutnya didinginkan di dalam
desikator selama 15 menit lalu ditimbang kembali. Setelah itu, bahan dipanaskan
kembali di dalam oven selama 30 menit, kemudian didinginkan kembali dengan
desikator selama 15 menit lalu ditimbang. Perlakuan ini diulangi sampai diperoleh
Berat awal sampel (g) - Berat akhir sampel (g)
Kadar air (bb%) = x100% Berat awal sampel (g)
Penentuan kadar vitamin C (Jacobs, 1958)
Sampel ditimbang sebanyak 5 g dan dimasukkan dalam labu ukur.
Kemudian ditambahkan akuades sampai volume 100 ml dan diaduk hingga
merata. Campuran lalu disaring dengan kertas saring. Filtrat diambil sebanyak 10
ml dengan pipet dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer lalu ditambahkan 2-3 tetes
larutan pati 1% dan dititrasi segera dengan larutan Iodin 0,01 N. Titrasi dianggap
selesai bila timbul warna biru stabil.
ml Iodin 0,01 N x 0,88 x FP x 100 Kadar vitamin C (mg/100 g bahan) =
Berat sampel (g) FP = Faktor Pengencer
Penentuan kadar serat kasar (Apriyantono, dkk., 1989)
Sampel sebanyak 2 g dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 ml
kemudian ditambahkan 100 ml H2SO4 0,255 N. Kemudian diautoklaf pada suhu
105 oC selama 15 menit. Kemudian ditambahkan NaOH 0,313 N sebanyak 50 ml,
lalu diautoklaf selama 15 menit pada suhu 105 oC. Dituang sampel yang di dalam
erlenmeyer ke corong porselen yang dilapisi kertas whatman No.41 yang telah
dikeringkan. Disaring suspensi melalui kertas saring dan residu yang tertinggal
dalam erlenmeyer dicuci dengan akuades mendidih. Residu dalam kertas saring
dicuci dengan H2SO4 sebanyak 25 ml, akuads mendidih dan ditambah etanol 95%
sebanyak 25 ml. Kertas saring dikeringkan dengan isinya pada 70oC setengah jam
kemudian suhu 105 oC selama setengah jam. Didinginkan dalam desikator selama
Berat kertas saring + serat(g) – berat kertas saring (g)
Serat Kasar (%) = x100% Berat awal sampel (g)
Penentuan total gula (Apriyantono, dkk., 1989)
Terlebih dahulu dilakukan persiapan sampel dengan cara ditimbang bahan
5 g, tambahkan ±10-20 ml alkohol 80% ke dalam beaker glass 100. Disaring
dengan kertas saring dan dicuci dengan akuades sampai volume filtrat 200
ml. Dipanaskan di waterbath hingga tidak berbau etanol lagi (volume air berkurang ±50 ml). Dimasukkan ke dalam labu ukur 250 ml dan ditambahkan
akuades hingga tanda tera. Dilakukan pengenceran dengan mengambil 1 ml
sampel ke labu tera 100 ml, ditambahkan akuades hingga tanda tera, kemudian
diaduk. Setelah persiapan sampel selesai, diukur total gula dengan cara diambil 1
ml sampel, ditambahkan 0,5 ml larutan fenol 5%, dikocok. Kemudian
ditambahkan dengan cepat 2,5 ml larutan asam sulfat pekat dengan cara
menuangkan secara tegak lurus ke permukaan larutan. Dibiarkan selama 10 menit,
dikocok. Diukur adsorbansinya pada 490 nm.
Dibuat kurva standar dengan menggunakan larutan glukosa standar yang
mengandung 10 mg glukosa dan dimasukkan ke dalam labu tera 100 ml.
Kemudian diambil 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml, 5 ml, glukosa dan ditambahkan akuades
sebanyak 9 ml, 8 ml, 7 ml, 6 ml, 5 ml. Ditambahkan 0,5 ml larutan fenol 5%,
dikocok. Ditambahkan dengan cepat 5 ml larutan asam sulfat dengan cara
menuangkan secara tegak lurus ke permukaan larutan, vortex. Dipanaskan di
penangas air selama 15 menit. Dibiarkan selama 10 menit, dikocok. Diukur
Penentuan total mikroba (Fardiaz, 1992)
Bahan diambil sebanyak 1 g dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang
telah berisi akuades 9 ml dan diaduk sampai merata. Hasil pengenceran ini
diambil dengan mikropipet sebanyak 1 ml kemudian ditambahkan akuades 9 ml.
Pengenceran ini dilakukan sampai 10-4 kali pengenceran.
Dari hasil pengenceran pada tabung reaksi yang kelima diambil sebanyak
1 ml dan diratakan pada medium agar PCA yang telah disiapkan di atas cawan
petridish, selanjutnya diinkubasi selama 24 jam pada suhu 32 oC dengan posisi
terbalik. Jumlah koloni yang ada dihitung dengan colony counter. Total Koloni = jumlah koloni x 1
FP
FP = Faktor Pengencer
Pengujian organoleptik nilai skor warna (Soekarto, 1985)
Organoleptik terhadap warna ditentukan dengan uji skor warna dan
hedonik warna. Caranya contoh yang telah diberi kode diuji secara acak oleh 15
panelis. Pengujian dilakukan secara inderawi (organoleptik) yang ditentukan
berdasarkan skala numerik. Untuk skala skor warna adalah seperti Tabel 4.
Tabel 4. Skala skor warna
Pengujian organoleptik nilai skor rasa (Soekarto, 1985)
Penentuan nilai organoleptik terhadap rasa dilakukan dengan uji skor rasa
panelis. Pengujian dilakukan secara inderawi (organoleptik) yang ditentukan
berdasarkan skala numerik. Untuk skala skor rasa adalah seperti Tabel 5.
Tabel 5. Skala skor rasa
Pengujian organoleptik nilai hedonik aroma (Soekarto, 1985)
Penentuan nilai organoleptik terhadap aroma dilakukan dengan uji hedonik
warna. Caranya contoh yang telah diberi kode diuji secara acak oleh 15 panelis.
Pengujian dilakukan secara inderawi (organoleptik) yang ditentukan berdasarkan
skala numerik.Untuk skala hedonik seperti pada Tabel 6.
Tabel 6. Skala hedonik aroma
Pengujian organoleptik nilai skor tekstur (Soekarto, 1985)
Penentuan nilai organoleptik terhadap tekstur dilakukan dengan uji skor
tekstur dan hedonik tekstur. Caranya contoh yang telah diberi kode diuji secara
acak oleh 15 panelis. Pengujian dilakukan secara inderawi (organoleptik) yang
ditentukan berdasarkan skala numerik. Untuk skala skor tekstur adalah seperti
Tabel 7. Skala skor tekstur
Penentuan kadar β-karoten (Apriyantono, dkk., 1989)
- Pembuatan kurva standar
Ditimbang dengan teliti 25 mg β-karoten murni. Dilarutkan dalam 2,5 ml
kloroform dan dibuat menjadi 250 ml dengan petroleum eter (1 ml = 100 µg).
Diambil 10 ml larutan ini dan dipindahkan ke labu ukur 100 ml lalu diencerkan
dengan petrolum eter sampai batas tera. Diambil masing-masing 5, 10, 15, 20, dan
25 ml larutan ini dan dipindahkan ke dalam labu ukur 100 ml lalu ditambahkan
dengan 3 ml aseton. Kemudian diencerkan dengan petroleum eter sampai batas
tera. Konsentrasinya menjadi 0,5; 1,0; 1,5; 2,0; 2,5; 3,0 µg/ml. Absorbansi diukur
pada panjang gelombang (λ) 452 nm dan menggunakan aseton 3% dalam
petroleum eter sebagai blanko. Grafik dibuat berdasarkan hubungan antara
absorbansi dengan konsentrasi β-karoten.
- Penyabunan
Bahan ditimbang sebanyak 5 g kemudian dihaluskan. Bahan disabunkan
dengan mencampurkan sedikit demi sedikit 75 ml KOH 12% dalam alkohol
selama 5 menit sambil digerus dalam mortal pada suhu ruang. Selanjutnya,
dipindahkan ke dalam labu pemisah. Ditambahkan 15 ml petroleum benzen.
Digojok labu pemisah perlahan-lahan (minimal 30 detik). Ditambahkan akuades
yang mengandung 5% Na2SO4 sebanyak 3 ml dan digojok kembali secara
Lapisan yang paling atas dipipet sebanyak 2,5 ml dan dipindahkan ke erlenmeyer
kemudian diencerkan dengan 7,5 ml petroleum benzen. Dari larutan ini dipipet 1,5
ml dan dipindahkan ke erlenmeyer lainnya lalu ditambahkan aseton 3 ml.
Kemudian dipipet larutan ini sebanyak 2 ml dan ditambahkan petroleum benzen
11 ml petroleum benzen. Larutan ini dianalisis menggunakan spektrofotometer.
Dan hasilnya disesuaikan dengan kurva standar. Rumus untuk menghitung β
-karoten adalah :
µg β-karoten yang terbaca dari kurva standar x pengenceran x 100
mg β-karoten/100 g bahan =
Gambar 1. Skema pembuatan manisan basah pare Diblansing pada suhu 85 oC selama 3 menit
Dibilas dengan air mengalir dan ditiriskan
Direndam dalam larutan garam 1%
Direndam dalam larutan kapur 1% selama 2 jam
Dicuci, ditiriskan
Larutan gula dipanaskan sampai larut dan mengental kemudian pare direndam selama 24
jam
Manisan basah pare Dilakukan analisa data : 1. Kadar air Dibilas dengan air mengalir dan ditiriskan
Penyimpanan dalam botol jar pada suhu ruang selama 3 hari
Analisis parameter mutu
Manisan diuji dengan
mutu terbaik Uji kadar β-karoten
Pare
HASIL DAN PEMBAHASAN
PengaruhLama Perendaman denganGaram terhadap Parameter yang Diamati
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lamanya perendaman dengan garam
memberikanpengaruh terhadap kadar air, kadar vitamin C, kadar serat kasar, total
gula, total mikroba, uji skor warna, uji hedonik aroma, uji skor rasa, dan uji skor
tekstur dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Pengaruh lama perendaman dengan garam terhadap mutu manisan basah pare
terdapat pada perlakuan G2yaitu sebesar 2,065%. Kadar gula tertinggi terdapat
pada perlakuan G1yaitu sebesar 14,007% dan terendah terdapat pada perlakuan Parameter yang diuji Lama Perendamandengan Garam (G)
G3yaitu sebesar 13,900%.Nilai total mikroba tertinggi terdapat pada perlakuan
G2yaitu6,035Log CFU/g dan terendah terdapat pada perlakuan G4yaitu 3,433 Log
CFU/g.
Nilai skor warna tertinggi terdapat pada perlakuan G2 yaitu sebesar 3,213
dan terendah terdapat pada perlakuan G1 yaitu sebesar 2,800. Nilai hedonik aroma
tertinggi terdapat pada perlakuan G3 yaitu sebesar 2,633 dan terendah terdapat
pada perlakuan G4 yaitu sebesar 2,400. Nilai skor rasa tertinggi terdapat pada
perlakuan G4 yaitu sebesar 2,351 dan terendah terdapat pada perlakuan G1 yaitu
sebesar 1,800. Nilai skor tekstur tertinggi terdapat pada perlakuan G4 yaitu sebesar
2,933 dan terendah terdapat pada perlakuan G1 yaitu sebesar 2,292.
Pengaruh KonsentrasiGula terhadap Parameter yang Diamati
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi gula memberikan
pengaruh terhadap kadar air, kadar vitamin C, kadar serat kasar, total gula, total
mikroba, nilai skor warna, nilai hedonik aroma, nilai skor rasa, dan nilai skor
tekstur dapat dilihat pada Tabel 9. Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa kadar air
tertinggi terdapat pada perlakuan L1 (konsentrasi gula 40%)yaitu sebesar 69,323%
dankadar air terendah terdapat pada perlakuan L4 (konsentrasi gula 70%) yaitu
sebesar 53,541%. Kadar vitamin C tertinggi terdapat pada perlakuan L1 yaitu
sebesar 61,073 mg/100 g bahan, dan terendah terdapat pada perlakuan L4 yaitu
sebesar 50,670 mg/100 g bahan.
Pengaruh konsentrasi gula terhadap kadar serat kasar tertinggi terdapat
pada perlakuan L2 yaitu sebesar 2,167% dan terendah terdapat pada perlakuan L4
yaitu sebesar 2,077%. Total gula tertinggi terdapat pada perlakuan L4 yaitu
Nilai total mikroba tertinggi terdapat pada perlakuan L1 yaitu 5,358 Log CFU/g
dan terendah terdapat pada perlakuan L4 yaitu 4,545 Log CFU/g.
Tabel 9. Pengaruh konsentrasi gula terhadap mutu manisan basah pare
Parameter yang diuji Konsentrasi gula (L) (setiap 350 ml larutan)
L1= 40% L2= 50% L3= 60% L4= 70%
Kadar air (%) 69,323 67,030 62,231 53,541
Kadarvitamin C (mg/100 g bahan) 61,073 57,154 55,097 50,670
Kadar serat (%) 2,126 2,167 2,153 2,077
Total gula (%) 12,655 13,120 14,588 15,410
Total mikroba (Log CFU/g ) 5,358 5,047 4,895 4,545
Nilai skor warna (numerik) 3,413 3,356 2,879 2,649
Nilai hedonik aroma (numerik) 2,383 2,467 2,500 2,658
Nilai skor rasa (numerik) 1,825 1,943 2,168 2,383
Nilai skor tekstur (numerik) 2,292 2,633 2,733 2,816
Nilai skor warna tertinggi terdapat pada perlakuan L1 yaitu sebesar 3,413
dan terendah terdapat pada perlakuan L4 yaitu sebesar 2,649. Nilai hedonik aroma
tertinggi terdapat pada perlakuan L4 yaitu sebesar 2,658 dan terendah terdapat
pada perlakuan L1 yaitu sebesar 2,383. Nilai skor rasa tertinggi terdapat pada
perlakuan L4 yaitu sebesar 2,383 dan terendah terdapat pada perlakuan L1 yaitu
sebesar 1,825. Nilai skor tekstur tertinggi terdapat pada perlakuan L4 yaitu sebesar
2,816 dan terendah terdapat pada perlakuan L1 yaitu sebesar 2,292.
Kadar Air
Pengaruh lama perendaman dengan garam terhadap kadar air manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 1) dapat dilihat bahwa lama
perendaman dengan garam berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar air
manisan pare yang dihasilkan. Hasil pengujian dengan LSR pengaruh lama
perendaman dengan garam terhadap kadar air tiap-tiap perlakuan dapat dilihat
pada Tabel 10.Dari Tabel 10 dapat dilihat bahwa G1 berbeda tidak nyata dengan
dan berbeda sangat nyata dengan G4. G3 berbeda sangat nyata dengan G4. Kadar
air tertinggi terdapat pada perlakuan G1 (lama perendaman dengan garam selama
2 jam) yaitu sebesar 65,451% dan terendah terdapat pada G4 (lama perendaman
dengan garam selama 8 jam) yaitu sebesar 59,468%. Hubungan lama perendaman
dengan garam dengan kadar air manisan basah pare dapat dilihat pada Gambar 2.
Tabel 10. Uji LSR efek utama pengaruh lama perendaman dengan garam terhadap kadar air manisan basah pare
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5%(huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).
Gambar 2. Hubungan lama perendaman dengan garam dengan kadar air manisan basah pare
Pada Gambar 2 dapat dilihat bahwa semakin lama waktu perendaman
dengan garam maka kadar air manisan basah pare semakin menurun. Hal ini
bahan makanan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Burhanuddin (2001) yang
menyatakan bahwa garam mempunyai sifat/karakteristik higroskopis yang berarti
mudah menyerap air. Oleh sebab itu, kadar air di dalam manisan basah pare
mengalami penurunan.
Pengaruh konsentrasi gula terhadap kadar air manisan basah pare
Daftar sidik ragam (Lampiran 1) dapat dilihat bahwa konsentrasi gula
berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar air manisan basah pare yang
dihasilkan. Hasil pengujian dengan LSR pengaruh konsentrasi gula terhadap kadar
air tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Uji LSR efek utama pengaruh konsentrasi gula terhadap kadar air 5%(huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
PadaTabel 11dapat dilihat bahwa masing-masing perlakuanberbeda sangat
nyata dengan perlakuan lainnya. Kadar air tertinggi terdapat pada perlakuan L1
(konsentrasi gula 40%) yaitu sebesar 69,323% dankadar air terendah terdapat pada
perlakuan L4 (konsentrasi gula 70%) yaitu sebesar 53,541%. Hubungan
konsentrasi gula dengan kadar air dapat dilihat pada Gambar 3.Pada Gambar 3
dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi gula yang ditambahkan maka
kadar air manisan basah pare semakin menurun. Gula yang ditambahkan ke dalam
manisan basah pare dapat menarik air dari dalam bahan pangan. Hal ini
Gambar 3. Hubungan konsentrasi gula dengan kadar air manisan basah pare
Gula yang tinggi dapat mengakibatkan proses dehidrasi osmosis sehingga
sejumlah air akan keluar dari buah-buahan. Makin tinggi tingkat perendaman
danmakin pekatnyakonsentrasi gula yang digunakan jumlah air yang keluar dari
bahan juga semakin banyak (Sohibulloh, dkk., 2013).
Kadar air pada manisan basah pare mencapai 69,323%, sementara pada
SNI kadar air maksimal yaitu 44%. Terjadinya peningkatan kadar air diduga
karena kandungan kadar air yang tinggi pada sayur pare.
Pengaruh interaksi lama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula terhadap kadar air manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 1) dapat dilihat bahwa pengaruh
interaksi lama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula berbeda sangat
nyata (P<0,01) terhadap kadar air manisan basah pare. Hasil pengujian dengan
LSR pengaruh interaksi lama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula
perendaman dengan garam dan konsentrasi gula dengan kadar air dapat dilihat
pada Gambar 4.
Tabel 12. Uji LSR efek utama pengaruh interaksi lama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula terhadap kadar air manisan basah pare
Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Pada Tabel 12dapat dilihat bahwa kadar air tertinggi diperoleh dari
perlakuan G1L1(lama perendaman dengan garam selama 2 jam dan konsentrasi
gula 40%) yaitu sebesar 73,034% dan terendah terdapat pada perlakuan G4L4
(lama perendaman dengan garam selama 8 jam dan konsentrasi gula 70%) yaitu
sebesar 52,735%.
Gambar 4 dapat dilihat bahwa semakin lama perendaman dengan garam
dan semakin tinggi konsentrasi gula yang ditambahkan maka kadar air manisan
basah pare semakin menurun. Garam dan gula dapat mengeluarkan air dari dalam
dengan garam pada bahan pangan, sehingga kadar air akan menurun. Hal yang
sama juga berlaku pada peningkatan konsentrasi gula yang diberikan pada
manisan basah pare. Gula yang tinggi dapat mengakibatkan proses dehidrasi
osmosis sehingga sejumlah air akan keluar dari buah-buahan. Makin tinggi tingkat
perendaman dan makin pekatnya konsentrasi gula yang digunakan jumlah air
yang keluar dari bahan juga semakin banyak (Sohibulloh, dkk., 2013). Oleh
karena itu kadar air pada manisan basah pare mengalami penurunan.
Gambar 4. Hubungan interaksi lama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula terhadap kadar air manisan basah pare
Kadar Vitamin C
Pengaruh lama perendaman dengan garam terhadap kadar vitamin C manisan basah pare
Hasil analisissidik ragam (Lampiran 2) dapat dilihat bahwa lama
perendaman dengan garam berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar vitamin
lama perendaman dengan garam terhadap kadar vitamin C tiap-tiap perlakuan
dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Uji LSR efek utama pengaruh lama perendaman dengan garam terhadap kadar vitamin Cmanisan basah pare
Jarak LSR Lama Perendaman
dengan Garam Rataan
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
PadaTabel 13dapat dilihat bahwa masing-masing perlakuan berbeda sangat
nyata dengan perlakuan yang lainnya. Kadar vitamin C tertinggi terdapat pada
perlakuan G1(lama perendaman dengan garam selama 2 jam) yaitu sebesar79,102
mg/100 g bahan dan kadar vitamin C terendah terdapat pada perlakuan G4 (lama
Gambar 5 dapat dilihat bahwa semakin lama waktu perendaman dengan
garam maka kandungan vitamin C manisan basah pare semakin menurun. Hal ini
disebabkan karena garam mampu menarik air dan zat terlarut dari dalam bahan
pangan dan vitamin C itu merupakan zat yang larut dalam air. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Cahyadi (2006) bahwa larutan garam (NaCl) mampu menarik
air keluar dari sel. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Harris dan Karmas (1989)
yang menyatakan bahwa air mungkin dijumpai sebagai cairan yang mengandung
zat terlarut pada saat bahan pangan basah dan keadaan air juga menimbulkan
pengaruh terhadap susut zat gizi.
Pengaruh konsentrasi gula terhadap kadar vitamin C manisan basah pare
Hasil analisissidik ragam(Lampiran 2) dapat dilihat bahwa pengaruh
konsentrasi gula memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap
kadar vitamin C manisan basah pare yang dihasilkan. Hasil pengujian dengan
LSR pengaruh konsentrasi gula terhadap kadar vitamin C tiap-tiap perlakuan
dapat dilihat pada Tabel 14. Pada Tabel 14 dapat dilihat bahwa masing-masing
perlakuan berbeda sangat nyata dengan perlakuan yang lainnya.
Tabel 14. Uji LSR efek utama pengaruh konsentrasi gula terhadap kadar vitamin C manisan basah pare
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Tabel 14 dapat dilihat bahwa masing-masing perlakuan berbeda sangat
perlakuan L1 (konsentrasi gula 40%) yaitu sebesar 61,073 mg/100 g bahan dan
kadar vitamin C terendah terdapat pada perlakuan L4 (konsentrasi gula 70%) yaitu
sebesar 50,670 mg/100 g bahan.Hubungankonsentrasiguladengan kadar vitamin
C dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6 menunjukkan bahwa semakin meningkat konsentrasi gula yang
digunakan maka kadar vitamin C manisan basah pare semakin menurun. Pada
bahan baku kadungan vitamin C adalah 88 mg/100 g bahan, setelah menjadi
produk manisan kandungan vitamin C menjadi 61,073 mg/100 g bahan.
Penurunan kadar vitamin C dengan penambahan konsentrasi gula disebabkan oleh
Almatsier (1998) juga menyatakan bahwakonsentrasi larutan gula yang
tinggi dapat menyebabkan tekanan osmosis meningkat sehingga terjadi
plasmolisis pada bahan dan dinding sel menjauhi membran sehingga vitamin C
lebih mudah melarut. Vitamin C cukup stabil dalam keadaan kering, tetapi dalam
keadaan bahan terendam(basah) vitamin C mudah rusak karena vitamin C
merupakan vitamin yang larut dalam air.
Pengaruh interaksi lama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula terhadap kadar vitamin C manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 2) dapat dilihat bahwa interaksi lama
perendaman dengan garam dan konsentrasi gula memberikan pengaruh berbeda
nyata (P<0,05) terhadap kadar vitamin C manisan basah pare yang dihasilkan.
Hasil pengujian dengan LSR pengaruh interaksi lama perendaman dengan garam
dan konsentrasi gula pada tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 15.
Pada Tabel 15 dapat dilihat bahwa kadar vitamin C tertinggi diperoleh dari
perlakuan G1L1( lama perendaman dengan garam selama 2 jam dan konsentrasi
gula 40% ) yaitu sebesar 83,725 mg/100 g bahan dan terendah yaitu pada
G4L4(lama perendaman dengan garam selama 8 jam dan konsentrasi gula 70%)
yaitu sebesar 31,437 mg/100g bahan.
Hubungan interaksi lama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula
terhadap kadar vitamin C dapat dilihat pada Gambar 7.Pada Gambar 7 dapat
dilihat bahwa semakin lama waktu perendaman dengan garam dan semakin tinggi
konsentrasi gula maka kadar vitamin C manisan basah pare semakin menurun.Hal
ini sesuai dengan pernyataan Cahyadi (2006) bahwa larutan garam (NaCl) mampu
Tabel 15. Uji LSR efek utama pengaruh interaksilama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula terhadap kadar vitamin C manisan basah pare
Jarak LSR
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil)
Gambar 7.Hubungan interaksi lama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula dengankadar vitamin C manisan basah pare
Pertiwi dan Susanto (2014) mengatakan bahwa semakin banyak
penambahan sukrosa maka tekanan osmosis akan semakin besar pula sehingga
menyebabkan air yang terekstrak dari bahan semakin banyak. Semakin banyaknya
air yang terekstrak dari bahan, komponen larut air yang terekstrak dari bahan juga
semakin banyak namun karena adanya penambahan proporsi sukrosa dengan
konsentrasi yang tinggi menyebabkan fraksi air semakin bertambah sehingga
kadar vitamin C pada sari buah mengalami pengenceran dan kadar vitamin C yang
terukur pada sari buah cenderung menurun.
Kadar Serat Kasar
Pengaruh lama perendaman dengan garam terhadap kadar seratkasar manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 3) dapat dilihat bahwa pengaruh lama
perendaman dengan garam memberikan pengaruh berbeda tidak nyata (P>0,05)
terhadap kadar serat manisan basah pare, sehingga uji LSR tidak dilanjutkan.
Pengaruh konsentrasi gula terhadap kadar serat kasar manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 3) dapat dilihat bahwa pengaruh
konsentrasi gula terhadap kadar serat kasar memberikan pengaruh berbeda tidak
nyata (P>0,05) terhadap kadar serat kasar manisan basah pare sehingga uji LSR
tidak dilanjutkan.
Pengaruh interaksilama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula terhadap kadar serat kasarmanisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 3) dapat dilihat bahwa lama
nyata (P>0,05) terhadap kadar serat kasar manisan basah pare yang dihasilkan
sehingga uji LSR tidak dilanjutkan.
Total Gula
Pengaruh lama perendaman dengan garam terhadap total gula manisan basah pare
Daftar sidik ragam (Lampiran 4) dapatdilihat bahwa interaksi lama
perendaman dengan garam berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap total gula
manisan basah pare yang dihasilkan sehingga uji LSR tidak dilanjutkan.
Pengaruh konsentrasi gula terhadap total gula manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 4) dapat dilihat bahwa konsentrasi
gula berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap total gula manisan basah pare yang
dihasilkan. Hasil pengujian dengan LSR pengaruh konsentrasi gula terhadap total
gula pada tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Uji LSR efek utama pengaruh konsentrasi gula terhadap total gula
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Pada Tabel 16 dapat dilihat bahwa masing-masing perlakuan berbeda
sangat nyata terhadap perlakuan yang lain. Total gula tertinggi terdapat pada
perlakuan L4 (konsentrasi gula 70%) yaitu sebesar 15,410% dan total gula
sebesar12,655%.Hubungan konsentrasi gula dengan total gula dapat dilihat pada
Gambar 8.
Gambar 8. Hubungan konsentrasi gula dengan total gula manisan basah pare
Pada Gambar 8 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi gula yang
ditambahkan maka total gula manisanbasah pare yang dihasilkan juga semakin
tinggi.Peningkatan total gula disebabkan karena gula dapat menurunkan kadar air
bahan sehingga massa bahan akan ikut berkurang ditambah lagi penambahan gula
dengan konsentrasi tertentu sehingga total gula akan meningkat. Menurut Susanto
dan Suneto (1994)menyatakan bahwa buah yang dicelupkan dalam larutan gula
pekat akan mengalami peristiwa osmosis, akibat dehidrasi parsial dimana cairan
gula dipaksa masuk ke dalam jaringan buah dan menggeser tempat yang semula
Pengaruh interaksilama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula terhadap total gula manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 4) dapat dilihat bahwa interaksi lama
perendaman dengan garam dan konsentrasi gula berbeda tidak nyata (P>0,05)
terhadap total gula manisan basah pare yang dihasilkan sehingga uji LSR tidak
dilanjutkan.
Total Mikroba
Pengaruh lama perendaman dengan garam terhadap total mikroba manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 5) dapat dilihat bahwa lama
perendaman dengan garam berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap total mikroba
manisan basahpare yang dihasilkan. Hasil pengujiandengan LSR pengaruh lama
perendaman dengan garam terhadap total mikroba manisan basah pare
yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17. Uji LSR efek utama pengaruh lama perendaman dengan garam terhadap total mikroba manisan basah pare
Jarak LSR Lama Perendaman dengan Garam Rataan Notasi
0,05 0,01 0,05 0,01
- - - G1 =2 jam 5,898 a A
2 0,298 0,411 G2 = 4 jam 6,035 a A
3 0,313 0,428 G3 = 6 jam 4,478 b B
4 0,322 0,440 G4 = 8 jam 3,433 c C
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Tabel 17 dapat dilihat bahwa perlakuan G1 berbeda tidak nyata dengan G2
dan berbeda sangat nyata dengan G3 dan G4. G2 berbeda sangat nyata dengan G3
dan G4. G3 berbeda sangat nyata dengan G4. Total mikroba tertinggi terdapat pada
6,035 Log CFU/g dan terendah terdapat pada perlakuan G4 (perendaman dengan
garam selama 8 jam) yaitu sebesar 3,433 Log CFU/g.
Hubungan lama perendaman dengan garam dengan total mikroba dapat
dilihat padaGambar 9.
Gambar 9. Hubungan lama perendaman dengan garam dengan total mikroba manisan basah pare
Pada Gambar 9 dapat dilihat bahwa semakin lama waktu perendaman
dengan garam maka total mikroba manisan basah pare semakin menurun.Namun
dari Tabel di atas dapat dilihat peningkatan total mikroba terjadi pada perlakuan
G2 (lama perendaman garam 4 jam) yaitu sebesar 6,035 Log CFU/g.
Peningkatan total mikroba pada perlakuan G2 diduga disebabkan karena
kandungan airnya yang masih tinggi yaitu sekitar 64,154%. Adanya air bebas
yang tinggi dapat mendukung proses pertumbuhan mikroba. Hal ini sesuai
dengan Buntaran (2011) yang menyatakan bahwa daya tahan bahan makanan
terhadap serangan mikroba juga dipengaruhi oleh kadar kandungan air dalam
bahan makanan. Semakin tinggi kandungan airnya, makasemakin besar
dapat dimanfaatkan oleh mikroorganismekhususnya kapang untuk tumbuh dan
berkembang biak sehinggadapat membahayakan kesehatan tubuh dan
mengakibatkankeracunan.
Total mikroba tertinggi terdapat pada perlakuan G2 (lama perendaman
dengan garam selama 4 jam). Selain kandungan airnya yang masih tinggi, total
mikroba juga dipengaruhi bahan pengawet yang ditambahkan.Peningkatan total
mikroba diduga karena kosentrasi garam yang digunakan masih kurang dari 5%
dan lama perendaman yang singkat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hudaya
dan Drajat (2000) menyatakan konsentrasi garam yang digunakan dalam
pengolahan makanan baik itu dalam proses pengawetan bahan pangan, maupun
fermentasi asam laktat mempengaruhi jenis mikroorganisme yang tumbuh.
Apabila konsentrasi garam kurang dari 5 %, maka bakteri proteolitik dapat
tumbuh yang menyebabkan peruraian protein yang ditandai adanya aroma busuk.
Sedangkan bila konsentrasi garam lebih dari 15 % maka dapat menghambat
pertumbuhan bakteri.
Pengaruh konsentrasi gula terhadap total mikroba manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 5) dapat dilihat bahwa konsentrasi
gula berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap total mikroba terhadap manisan
basah pare yang dihasilkan sehingga akan dilanjutkan dengan uji LSR. Hasil
pengujiandengan LSR pengaruh konsentrasi gula dengan total mikroba manisan
basah pare dapat dilihat pada Tabel 18.
Dari Tabel 18 diketahui bahwa L1 berbeda tidak nyata dengan L2, dan
berbeda sangat nyata dengan L3 dan L4. L2 berbeda tidak nyata dengan L3 dan
Tabel 18. Uji LSR efek utama pengaruh konsentrasi gula terhadap total
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Total mikroba tertinggi terdapat pada perlakuan L1 (konsentrasi gula 40%)
yaitu sebesar 5,358 Log CFU/g dan terendah terdapat pada perlakuan L4
(konsentrasi gula 70%) yaitu sebesar 4,545 Log CFU/g. Hubungan konsentrasi
gula dengan total mikroba dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10.Hubungan konsentrasi gula dengan total mikroba manisan basah pare
Pada Gambar 10 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi gula
yang ditambahkan maka total mikroba manisan basah paresemakinmenurun. Hal
ini sesuai dengan pernyataan Estiasih dan Ahmadi (2009) menyatakan bahwa gula
dengan konsentrasi minimum 40% bila ditambahkan ke dalam bahan pangan bisa
menyebabkan air dalam bahan pangan terikat sehingga menurunkan nilai aktivasi
gula dengan konsentrasi yang tinggi (70%), seperti pada penelitian ini. Hal yang
sama juga dinyatakan oleh Winarno(2004) yang menyatakan bahwa bakteri,
kapang dan khamir yangdiberi larutan gula pekat, maka air dalam sel akan keluar
menembus membran dan mengalir dalam larutan gulaatau disebut peristiwa
osmosis.
Dalam keadaan osmosis, sel mikrobaakan mengalami plasmolisis dan
mengalami hambatan dalamperkembangbiakannya.Total mikroba yang dihasilkan
pada penelitian ini tertinggi G1L1 (lama perendaman dengan garam selama 2 jam
dan konsentrasi gula 40%) 18,7 x 104CFU/g dan terendah G4L4 (lama perendaman
dengan garam selama 8 jam dan kosentrasi gula 70%) yaitu 8,1 x 104CFU/g.Total
mikroba yang dihasilkan pada penelitian ini masih sesuai dengan standar regulasi
pangan BPOM No HK.00.06.1.52.4011 yaitu 1 x 105 dengan nilai terendah 8,1 x
104CFU/g.
Pengaruh interaksi lama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula terhadap total mikroba manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 5) dapat dilihat bahwa interaksi lama
perendaman dengan garam dankonsentrasi gula berbeda tidak nyata (P>0,05)
terhadap total mikroba manisan basah pare yang dihasilkan sehingga uji LSR
Nilai Skor Warna
Pengaruh lama perendaman dengan garam terhadap nilai skor warnamanisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 6) dapat dilihat bahwa lama
perendaman dengangaram berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap nilai skor warna
manisan basah pare yang dihasilkan, sehingga uji LSR tidak dilanjutkan.
Pengaruh konsentrasigula terhadap nilai skor warna manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 6) dapat dilihat konsentrasi gula
berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai skor warna manisan basah pare,
sehingga dilanjutkan dengan uji LSR. Hasil pengujian dengan LSR pengaruh
konsentrasi gula terhadap nilai skor warna pada tiap-tiap perlakuan dapat dilihat
pada Tabel 19.
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Pada Tabel 19 dapat dilihat bahwa L1 berbeda tidak nyata dengan L2 dan
berbeda sangat nyata dengan L3 dan L4. L2 berbeda sangat nyata dengan L3 dan
L4. L3 berbedanyata dengan L4. Nilai skor warna tertinggi terdapat pada perlakuan
L1 (konsentrasi gula 40%) yaitu 3,413 (hijau) dan terendah terdapat pada
perlakuan L4(konsentrasi gula 70%) yaitu sebesar 2,649 (hijau muda). Hubungan
Pada Gambar 11 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi gula yang
ditambahkan maka nilai skor warna pada manisan basah pare semakin turun. Nilai
skor terendah terdapat pada perlakuan L4 (penambahan konsentrasi gula 70%)
yaitu 2,649 (hijau muda). Hal ini terjadi karena adanya penambahan gula yang
tinggi dan ketika dipanaskan akan mengalami karamelisasi akan berwarna coklat
sehingga tidak disukai oleh panelis. Menurut Winarno (2004), gula yang
dipanaskan akan berubah menjadi karamel berwarna coklat.
Gambar 11. Hubungan konsentrasi gula dengan nilai skor warna manisan basah pare
Pengaruh interaksilama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula terhadap nilai skor warna manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 6) dapat dilihat bahwa lama
perendaman dengan garam dan konsentrasi gula berbeda nyata (P<0,05) terhadap
nilai skor warna pada manisan basah pare yang dihasilkan sehingga uji LSR akan
dilanjutkan. Hasil pengujian dengan LSR interaksi lama perendaman dengan
garam dan konsentrasi gula pada tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 20.
perlakuan G3L2 yaitu sebesar 3,870 dan nilai skor warna terendah terdapat pada
perlakuan G1L4 yaitu sebesar 2,235 (hijau muda).
Tabel 20. Uji LSR efek utama pengaruh interaksi lama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula terhadap nilai skor warna manisan basah pare
Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Hubungan interaksi lama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula
dengan nilai skor warna dapat dilihat pada Gambar 12. Gambar 12 menunjukkan
bahwa lama perendaman dengan garam tidak memberikan pengaruh terhadap
manisan basah pare, namun semakin tinggi konsentrasi gula yang ditambahkan
maka nilai skor warna manisan pare semakin menurun. Hal ini terjadi karena
adanya karamelisasi gula ketika dipanaskan sehingga berpengaruh terhadap
produk manisan pare.
Penurunan nilai organoleptik pada nilai skor warna manisan basah pare
dapat dilihat dari nilai pengujian organoleptik panelis yang menunjukkan
ketidaksukaan panelis terhadap peningkatan konsentrasi gula yang ditambahkan.
Hal ini terjadi karena adanya penambahan gula yang tinggi dan ketika dipanaskan
akan mengalami karamelisasi akan berwarna coklat sehingga tidak disukai oleh
panelis. Menurut Winarno (2004) gula yang dipanaskan akan berubah menjadi
karamel berwarna coklat.
Nilai Skor Rasa
Pengaruh lama perendaman dengan garam terhadap nilai skor manisan basah pare
Hasil analisissidik ragam (Lampiran 7) dapat diketahui bahwa lama
perendaman dengan garam berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai skor rasa
manisan basah pare sehingga akan dilanjutkan dengan uji LSR. Hasil pengujian
dengan LSR pengaruh lama perendaman dengangaram terhadap nilai skor rasa
manisan basah pare pada tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 21.
Dari Tabel 21 dapat dilihat bahwa masing-masing perlakuan berbeda
pada perlakuan G4 (lama perendaman dengan garam selama 8 jam) yaitu sebesar
2,351(agak pahit) dan terendah yaitu perlakuan G1(lama perendaman dengan
garam selama 2 jam) yaitu sebesar 1,800 (pahit).
Tabel 21. Uji LSR efek utama pengaruh lama perendaman garam terhadap nilai skor rasa manisan basah pare
Jarak LSR Lama Perendaman dengan Garam Rataan Notasi
0,05 0,01 0,05 0,01
- - - G1 = 2 jam 1,800 d D
2 0,1067 0,1470 G2 = 4 jam 2,166 b B
3 0,1119 0,1533 G3 = 6 jam 2,000 c C
4 0,1151 0,1575 G4 = 8 jam 2,351 a A
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Hubungan lama perendaman dengan garam dengan nilai skor rasa dapat
dilihat pada Gambar13.
Gambar 13. Hubungan lama perendaman dengan garam dengan nilai skor rasa manisan basah pare
Pada Gambar 13 dapat dilihat bahwa semakin lama perendaman dengan
garam maka nilai skor rasa manisan basah pare semakin meningkat. Artinya, rasa
pahit yang terdapat pada sayur pare semakin berkurang. Dalam proses pembuatan
(tekstur) serta menghilangkan rasa gatalatau getir pada buah (Deputi
Menegristek, 2000).
Pengaruh konsentrasi gula terhadap nilai skor rasa manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 7) dapat dilihat bahwa konsentrasi
gula berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai skor rasa pada manisan basah
pare yang dihasilkan. Hasil pengujian dengan LSR pengaruh konsentrasi gula
terhadap nilai skor rasa manisan basah pare dapat dilihat pada Tabel 22.
Tabel 22. Uji LSR efek utama pengaruh konsentrasi gulaterhadap nilai skor rasa manisan basah pare
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Dari Tabel 22 dapat diketahui bahwa L1berbeda nyata dengan L2 dan
berbeda sangat nyata dengan L3 dan L4. L2 berbeda sangat nyata terhadap L3 dan
L4. L3berbeda sangat nyata dengan L4. Hubungan konsentrasi gula dengan nilai
skor rasa dapat dilihat pada Gambar 14.
Pada Gambar 14 menunjukkan bahwa semakin tinggi penambahan
konsentrasi gula yang dilakukan maka nilai skor rasa manisan basah pare semakin
meningkat. Nilai skor rasa yang tertinggi terdapat pada perlakuan L4 (konsentrasi
gula 70%) yaitu 2,383 (agak manis), hal ini dikarenakan rasa pare yang pahit, dan
masih memberikan rasa after tastedan terendah terdapat pada perlakuan L1 (konsentrasi gula 40%) yaitu 1,825 (tidak manis), hal ini karena rasa pare yang
Gambar 14. Hubungan konsentrasi gula dengannilai skor rasa manisan basah pare
Penambahan konsentrasi gula yang berbeda memberikan perubahan rasa
pada manisan basah pare. Rasa merupakan komponen penting yang timbul pada
perasaan seseorang setelah mencicipi suatu makanan. Umumnya bahan pangan
tidak hanya terdiri dari suatu rasa, tapi merupakan gabungan dari berbagai macam
rasa secara terpadu sehingga menimbulkan cita rasa makanan yang utuh. Hal ini
sesuai denganWinarno(2004) bahwa rasa dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
senyawa kimia, suhu, konsentrasi dengan komponen rasa yang lain. Beberapa
senyawa kimia menumbuhkan rasa yang berbeda. Rasa manis ditimbulkan oleh
senyawa alfalik yang mengandung gugus OH, seperti alkohol, beberapa asam
amino, aldehida, dan disakarida. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Tampubolon
Pengaruh interaksi lama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula terhadap nilai skor rasa manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 7) dapat dilihat bahwa interaksi lama
perendaman dengan garam dan konsentrasi gula terhadap nilai skor manisan basah
pare berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai skor rasa manisan basah pare
yang dihasilkan. Hasil pengujian dengan LSR interaksi lama perendaman dengan
garam dan konsentrasi gula dengan nilai skor rasa manisan basah pare dapat
dilihat pada Tabel 23.
Tabel 23. Uji LSR efek utama pengaruh interaksi lama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula terhadapnilai skor rasa manisan basah pare
Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Hubungan interaksi lama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula
terhadap nilai skor rasa manisan basah pare dapat dilihat pada Gambar 15.
Pada Gambar 15 dapat dilihat bahwa semakin lama perendaman dengan garam
panelis terhadap nilai skor rasa manisan basah pare semakin meningkat.
Peningkatan nilai skor rasa pada manisan basah pare disebabkan karena garam
dan gula berpengaruh terhadap cita rasa pada produk pangan.
Garam mampu mendapatkan kondisi tertentu yang memungkinkan enzim
atau mikroorganisme yang tahan garam (halotoleran) beraksi menghasilkan
produk makanan dengan karakteristik tertntu (Estiasih dan Ahmadi, 2009).
Pemanis (gula) merupakan senyawa yang ditambahkan untuk keperluan produk
pangan, industri, serta minuman dan makanan kesehatan.Pemanis (gula) berfungsi
untuk meningkatkan cita rasa dan aroma, memperbaiki sifat-sifat fisik, sebagai
pengawet, memperbaiki sifat-sifat kimia sekaligus merupakan sumber kalori bagi
tubuh (Cahyadi, 2006).
Gambar 15. Hubungan interaksi lama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula dengan nilai skor rasa manisan basah pare
Nilai Hedonik Aroma
Pengaruh lama perendaman dengan garam terhadap nilai hedonik aroma manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 8) dapat diketahui bahwa lama perendaman
dengan garam berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap nilai skor aroma manisan
basah pare yang dihasilkan, sehingga uji LSR tidak dilanjutkan.
Pengaruh konsentrasi gula terhadap nilai hedonik aroma manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 8) dapat diketahui bahwa konsentrasi
gula berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap nilai hedonik aroma manisan basah
pare yang dihasilkan, sehingga uji LSR tidak dilanjutkan.
Pengaruh interaksilama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula terhadap nilai hedonik aroma manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 8) dapat dilihat bahwa interaksi lama
perendaman dengan garam dan konsentrasi gula berbeda tidak nyata (P>0,05)
terhadap nilai skor aroma manisan basah pare yang dihasilkan, sehingga uji LSR
tidak dilanjutkan.
Nilai Skor Tekstur
Pengaruh lama perendaman dengan garam terhadap nilai skor tekstur manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 9) dapat dilihat bahwa lama
perendaman dengan garam berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai skor
tekstur manisan basah yang dihasilkan. Hasil pengujian dengan LSR pengaruh
lama perendaman dengan garam terhadap nilai skor tekstur manisan basah pare
Tabel 24. Uji LSR efek utama pengaruh lama perendaman dengan garam terhadap nilai skor tekstur manisan basah pare
Jarak LSR Lama Perendaman
dengan Garam
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar)
Pada Tabel 24dapat diketahui bahwa G1 berbeda sangat nyata dengan G2,
G3, dan G4. G2 berbeda tidak nyata dengan G3 dan berbeda sangat nyata dengan
G4. G3 berbeda sangat nyata dengan G4. Nilai skor tekstur tertinggi diperoleh pada
perlakuan G4 (lama perendaman dengan garam selama 8 jam) yaitu sebesar 2,933
(agak renyah) dan terendah terdapat pada perlakuan G1 (lama perendaman dengan
garam selama 2 jam) yaitu sebesar 2,292 (agak renyah). Hubungan lama
perendamandengangaram dengan nilai skor tekstur dapat dilihat pada Gambar 16.
Gambar 16. Hubungan lama perendaman dengan garam dengan nilai skor tekstur manisan basah pare
Gambar 16 menunjukkan bahwa semakin lama perendaman dengan garam
karena sifat garam dapat mengurangi kadar air dalam produk sehingga mampu
merenyahkan produk makanan. Hal ini sesuai dengan pernyataanBennion dan
Scheule (2004) yang menyatakan bahwa selain memberi nutrisi pada tubuh,garam
juga berpengaruh pada cita rasa, dan dapat membentuk tekstur menjadi renyah.
Sifat garam itu sendiri adalah higroskopis sehingga menyerap air dari dalam
bahan pangan. Oleh sebab itu, kadar air di dalam manisan basah pare mengalami
penurunan dan memperbaiki tekstur manisan basah pare.
Pengaruh konsentrasi gula terhadap nilai skor tekstur manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 9) dapat dilihat bahwa konsentrasi
gula berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai skor tekstur manisan basah pare
yang dihasilkan. Hasil pengujian dengan LSR pengaruh konsentrasi gula
dengannilai skor tekstur manisan basah dapat dilihatpada Tabel 25.
Tabel 25. Uji LSR efek utama pengaruh konsentrasi gula terhadap nilai skor
Keterangan : Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar) dengan uji LSR
Dari Tabel 25 dapat dilihat bahwa L1 berbeda sangat nyata dengan L2, L3
dan L4.L2 berbeda tidak nyata L3 dan L4. L3 berbedatidak nyata dengan L4. Nilai
skor tekstur tertinggi terdapat pada perlakuan L4 (konsentrasi gula 70%) yaitu
2,816 (agak renyah) dan terendah terdapat pada perlakuan L1 (konsentrasi gula
40%) yaitu 2,292 (agak renyah). Hubungan konsentrasi gula dengan nilai skor
Gambar 17. Hubungan konsentrasi gula dengan nilai skor tekstur manisan basah pare
Gambar 17 menunjukkan bahwa semakin tinggi penambahan konsentrasi
gula maka nilai skor tekstur manisan basah pare semakin meningkat. Nilai skor
tekstur meningkat atau menurun seiring dengan konsentrasi gula perendam yang
ditambahkan. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Apriyantono 1985; Arifin 1999)
dalam Sohibulloh, dkk., (2013) yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang
membentuk tekstur adalah akibat terjadinya ikatan hidrogen antara dinding sel
buah dengan molekul-molekul gula.
Pada waktu prosesperendaman dalam larutan gula terjadiproses
pengeluaran cairan dari dalam bahan dan larutan gulamasuk ke dalam bahan.
Larutan gula akan mengisi bagian selyang cairannya mengalami difusi.
Penyerapan gula dalam bahanakan memperbaiki bentuk dan tekstur bahan. Gula
bahanyang semula kadarnya rendah setelah perendaman dalam larutangula maka
konsentrasi akan meningkat. Manisan basahyang berkadar gula tinggi
memberikan tekstur yang keras (Darmawan, 1998). = 0,016L + 1,698
r = 0,9375
2.0 2.2 2.4 2.6 2.8
30 40 50 60 70
Nilai skor te
kstur
Pengaruh interaksi lama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula terhadap nilai skor tekstur manisan basah pare
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 9) dapat dilihat bahwa interaksi lama
perendaman dengan garam dengan konsentrasi gula berbeda tidak nyata (P>0,05)
terhadap nilai skor tekstur manisan basah pare yang dihasilkan, sehingga uji LSR
tidak dilanjutkan.
Kadar β-karoten
β-karotenadalah zat kimia alami yang menjadi sumber warna
merah-oranye pada buah dan sayuran, seperti wortel, ubi jalar, mangga, pepaya, brokoli,
bayam, dan lain-lain. Fungsi senyawa organik ini bagi tubuh manusia adalah
sebagai sumber vitamin A yang merupakan nutrisi retina (mata), karena
betakaroten dapat disimpan dalam hati untuk kemudian diubah menjadi vitamin A
bila tubuh memerlukan. Oleh karena itu, betakaroten dikenal sebagai pro vitamin
A.
β-karoten merupakan karotenoid, yang merupakan salah satu pigmen yang
terdapat padatanaman, dimana β-karoten ini juga memilikiantioksidan. β-karoten
secara umum terdapat pada tanaman, alga dan sintesis mikroorganisme. Hasil
pengujian β-karotendengan perhitungan kurva standard (Lampiran 11) pada
manisan basah pare dengan mutu terbaik dapat dilihat pada Lampiran 10. Hasil
pengujian β-karoten pada perlakuan manisan basah pare terbaik (G4L4) setelah
diratakan dari 2 (dua) ulangan yaitu sebesar 0,00535mg/100g.
Defisiensi vitamin A mempengaruhi kesehatan kulit atau pemeliharaan
kesehatan jaringan-jaringan permukaan serta dapat menurunkan daya tahan
pada suhu 60 oC tetapi pada suhu penggorengan (180-200 oC) retinol dan karoten
tersebut akan mengalami kerusakan. Sejumlah karoten hilang selama
pengeringan lambat terhadap sayuran dan buah-buahan, tetapi pada
pengeringan yang cepat kehilangan karoten akan tinggi
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari penelitian pengaruh lama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula
terhadap mutu manisan basah pare terhadap parameter yang diamati dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Lama perendaman dengan garam memberikan pengaruh berbeda sangat nyata
(P<0,01) terhadap kadar air, kadar vitamin C, total mikroba, nilai skor rasa,
dan nilai skor tekstur dari manisan basah pare. Semakin lama perendaman
dengan garam maka, kadar air, kadar vitamin C, dan total mikroba semakin
menurun, sedangkan nilai organoleptik rasa dan tekstur semakin meningkat.
2. Konsentrasi gula memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01)
terhadap kadar air, kadar vitamin C, total mikroba, total gula, nilai skor
warna, nilai skor rasa, nilai skor tekstur dari manisan basah pare. Semakin
tinggi konsentrasi gula yang ditambahkan maka kadar air, kadar vitamin C,
total gula, dan total mikroba semakin menurun, sedangkan nilai organoleptik
warna, rasa dan tekstur semakin meningkat.
3. Interaksi lama perendaman dengan garam dan konsentrasi gula memberikan
pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar air, nilai skor rasa,
dan berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar vitamin C dan nilai skor