• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran dan Sikap Keluarga Terhadap Anak Down Sindrom di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Peran dan Sikap Keluarga Terhadap Anak Down Sindrom di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat Medan"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN DAN SIKAP KELUARGA TERHADAP

ANAK DOWN SINDROM DI SEKOLAH LUAR BIASA-C

YAYASAN PEMBINAAN ANAK CACAT

MEDAN

SKRIPSI

Oleh

Syahfiyah Kardina 111121095

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)
(3)

Judul : Peran dan Sikap Keluarga Terhadap Anak Down Sindrom di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat

Medan

Peneliti : Syahfiyah Kardina

Nim : 111121095

Program Studi : Ilmu Keperawatan

Tahun : 2013

Abstrak

Down Sindrom merupakan suatu kondisi materi genetik tambahan yang menyebabkan keterlambatan perkembangan anak, dan mengacu pada retardasi mental. Anak dengan down sindrom memiliki kelainan pada kromosom nomor 21 yang tidak terdiri dari 2 kromosom sebagaimana mestinya, melainkan tiga kromosom (trisomi 21). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran peran dan sikap keluarga terhadap anak down sindrom di YPAC Medan dengan menggunakan desain penelitian deskriptif. Sampel diambil dari keluarga yang memiliki anak down sindrom sebanyak 30 orang. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah Total Sampling. Data yang dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuesioner pernyataan tertutup. Penelitian ini dilakukukan pada bulan September sampai dengan November. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas usia ibu yang melahirkan anak dengan down sindrom adalah antara usia 35-39 tahun sebanyak 15 responden (50,0%), pendidikan SMA sebanyak 13 responden (43,3%), pekerjaan ayah wiraswasta sebanyak 16 responden (53,3%), responden memilki peran dan sikap keluarga terhadap anak down sindrom dengan kategori baik (96,7%), 1 responden (3,3%) memiliki peran dan sikap keluarga terhadap anak down sindrom katagori cukup. Secara umum dapat disimpulkan bahwa peran dan sikap keluarga terhadap anak down sindrom di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak cacat adalah baik (positif). Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pendidikan dan informasi tentang peran dan sikap keluarga terhadap anak down sindrom. Penelitian ini direkomendasikan kepada Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat agar dapat memberikan mendidikan dan merawat anak dengan down sindrom.

(4)

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini yang berjudul “Peran dan sikap keluarga terhadap anak down

syndrome di Sekolah Luar Biasa- C Yayasan Pembinaan Anak Cacat Medan.

Shalawat beriring salam tidak lupa pula penulis panjatkan kepada

Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari alam

kebodohan ke alam yang berilmu pengetahuan sebagaimana yang kita

rasakan pada saat sekarang ini.

Skripsi ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi syarat dalam

menyelesaikan mata kuliah skipsi II. Dalam penyusunan skripsi ini penulis

banyak menghadapi berbagai hambatan dan kesulitan. Namun, berkat adanya

bantuan, bimbingan, dan arahan dari berbagai pihak, sehingga skripsi ini dapat

terselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Oleh karena itu,

pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada yang terhormat :

1. Bapak dr. Dedi Ardinata, M.kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan

Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Suratno selaku Kepala Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan

Anak Cacat Medan yang telah memberi izin kepada penelitian.

3. Bapak Mhd. Iqbal, M.Si selaku Kepala SLB-C Muzdalifah Medan yang telah

(5)

4. Ibu Erniyati, SKp, MNS selaku Pembantu Dekan 1 Fakultas Keperawatan

Universitas Sumatera Utara.

5. Bapak Iwan Rusdi, SKp, MNS selaku ketua departemen Keperawatan

Komunitas Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

6. Ibu Siti Zahara Nasution, SKp, MNS selaku pembimbing yang telah banyak

memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.

7. Ibu Mahnum Lailan Nasution, S.Kep, NS, M. Kep selaku dosen penguji I.

8. Bapak Ismayadi, S.Kep, NS selaku dosen penguji II.

9. Dewan Dosen beserta staf Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera

Utara

10.Teristimewa buat Ayahanda Basyirin dan Ibunda Habsyah, yang selalu

mencurahkan kasih sayang dan selalu memberi motivasi, dukungan serta do’a

restu serta anggota keluarga lainnya yang telah banyak memberikan do’a,

nasehat, materi dan dorongan moril sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini.

11.Terima kasih juga buat abang Budi dan adik Habib tersayang atas support,

semangat yang kalian berikan.

12.Teman-teman Sejawat angkatan 2011 yang selalu memberikan bantuan,

motivasi, partisipasi, dan saran-saran kepada penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini.

13.Teristimewa buat teman-teman seperjuangan erni, rahayu, imel, chairani, amir.

(6)

14.Terimakasih buat Wahyudi Ramadhan yang telah menjadi sumber inspirasiku.

Terima kasih atas supportnya baik spiritual maupun material.

Akhirnya kepada Allah SWT penulis berserah diri semoga kita selalu

dalam lindungan serta limpahan rahmat-Nya dengan kerendahan hati penulis

berharap mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada

umumnya dan penulis khususnya.

Medan, Februari 2013

(7)

DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

Halaman Pengesahan ... ii

Prakata ... iii

1.4.1 Bagi Institusi Pendidikan Anak Cacat... 6

1.4.2 Bagi Keluarga ... 6

2.3.2 Bentuk-bentuk Keluarga ... 10

2.3.3 Struktur Keluarga ... 12

2.3.4 Fungsi Keluarga ... 13

2.4 Down Sindrom ... 14

(8)

2.4.2 Etiologi ... 15

2.4.3 Ciri- ciri Anak Down Sindrom ... 17

2.4.4 Perilaku Anak Down Sindrom ... 18

2.4.5 Perilaku yang dilakukan orang tua dengan Anak Down Sindrom ... 20

2.4.6 Patofisiologi ... 27

BAB 3 Kerangka Penelitian ... 29

3.1 Kerangka Penelitian... 29

3.2 Defenisi Operasional ... 30

BAB 4 Metodologi Penelitian ... 32

4.1 Desain Penelitian ... 32

4.2 Populasi, Sampel Penelitian dan Teknik Sampling... 32

4.2.1 Populasi ... 32

4.2.2 Sampel dan Teknik Sampling ... 32

4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 33

4.4 Pertimbangan Etik Penelitian ... 33

4.5 Instrumen Penelitian ... 34

4.6 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 35

4.7 Pengumpulan Data ... 36

4.8 Analisa Data ... 37

BAB 5 Hasil Penelitian dan Pembahasan ... .38

5.1 Hasil Penelitian ... .38

5.2 Pembahasan ... .45

BAB 6 SIMPULAN DAN REKOMENDASI ... .48

6.1 Simpulan ... .48

6.2 Rekomendasi ... .48

6.2.1 Bagi Keluarga yang Memiliki Anak Sindrom Down ... .48

6.2.2 Bagi Pendidikan Keperawatan ... .48

(9)

Daftar Pustaka Lampiran

1.Inform Consent

2.Kuesioner Penelitian

3.Jadwal Tentatif Penelitian

4.Rencana Anggaran Penelitian

5.Riwayat Hidup

6.Surat-surat

7.Uji Validitas dan Reliabilitas Hasil

8.Master Tabel

(10)

DAFTAR SKEMA

Skema 3.1 : Kerangka Konseptual Peran dan Sikap Keluarga Terhadap Ank

(11)

DAFTAR TABEL

(12)

Judul : Peran dan Sikap Keluarga Terhadap Anak Down Sindrom di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat

Medan

Peneliti : Syahfiyah Kardina

Nim : 111121095

Program Studi : Ilmu Keperawatan

Tahun : 2013

Abstrak

Down Sindrom merupakan suatu kondisi materi genetik tambahan yang menyebabkan keterlambatan perkembangan anak, dan mengacu pada retardasi mental. Anak dengan down sindrom memiliki kelainan pada kromosom nomor 21 yang tidak terdiri dari 2 kromosom sebagaimana mestinya, melainkan tiga kromosom (trisomi 21). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran peran dan sikap keluarga terhadap anak down sindrom di YPAC Medan dengan menggunakan desain penelitian deskriptif. Sampel diambil dari keluarga yang memiliki anak down sindrom sebanyak 30 orang. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah Total Sampling. Data yang dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuesioner pernyataan tertutup. Penelitian ini dilakukukan pada bulan September sampai dengan November. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas usia ibu yang melahirkan anak dengan down sindrom adalah antara usia 35-39 tahun sebanyak 15 responden (50,0%), pendidikan SMA sebanyak 13 responden (43,3%), pekerjaan ayah wiraswasta sebanyak 16 responden (53,3%), responden memilki peran dan sikap keluarga terhadap anak down sindrom dengan kategori baik (96,7%), 1 responden (3,3%) memiliki peran dan sikap keluarga terhadap anak down sindrom katagori cukup. Secara umum dapat disimpulkan bahwa peran dan sikap keluarga terhadap anak down sindrom di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak cacat adalah baik (positif). Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pendidikan dan informasi tentang peran dan sikap keluarga terhadap anak down sindrom. Penelitian ini direkomendasikan kepada Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat agar dapat memberikan mendidikan dan merawat anak dengan down sindrom.

(13)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Down Sindrom (mongoloid) adalah suatu kondisi di mana materi genetik

tambahan menyebabkan keterlambatan perkembangan anak, dan kadang mengacu

pada retardasi mental. Anak dengan down sindrom memiliki kelainan pada

kromosom nomor 21 yang tidak terdiri dari 2 kromosom sebagaimana mestinya,

melainkan tiga kromosom (trisomi 21) sehingga informasi genetika menjadi

terganggu dan anak juga mengalami penyimpangan fisik. Dahulu orang-orang

dengan down sindrom ini disebut sebagai penderita mongolisme atau mongol.

Istilah ini muncul karena penderita ini mirip dengan orang-orang Asia (oriental).

Istilah sindrom ini seperti sudah usang, sehingga saat ini kita menggunakan istilah

down sindrom (Fadhli, 2010).

Dahulu penyakit ini diberi nama Mongoloid atau Mongolism karena

penderita penyakit ini mempunyai gejala klinik yang khas yaitu wajah seperti

bangsa Mongol dengan mata yang sipit membujur keatas. Tetapi setelah diketahui

bahwa penyakit ini terdapat pada seluruh bangsa di dunia, dan sekitar 30 tahun

yang lalu pemerintah Republik Mongolia mengajukan keberatan kepada Badan

Kesehatan Dunia (WHO) yang menganggap nama tersebut dengan sindrom down,

angka kejadian sindrom down rata-rata di seluruh dunia adalah 1 per 700

kelahiran. Kejadian ini akan bertambah tinggi dengan bertambah usia ibu hamil.

(14)

meningkat pada wanita yang sangat muda (<< 15 tahun). Resiko melahirkan bayi

sindrom down akan meningkat pada wanita berusia >30 tahun dan meningkat

tajam pada usia >40 tahun sekitar 60% janin sindrom down cendrung akan gugur

dan 20% akan lahir mati (Faradz, 2004).

Angka kejadian sindrom down meningkat tajam pada wanita yang

melahirkan anak setelah berusia 35 tahun keatas. Pada penelitian tahun 2000 di

SLB-C Kotamadia Semarang dari 55 kasus sindrom down menunjukkan hampir

70% kasus dilahirkan oleh ibu usia >31 tahun dengan kasus terbanyak dilahirkan

oleh ibu berusia antara 36-40 tahun. Namun demikian ada sejumlah kecil (3,6%)

penderita sindrom down yang dilahirkan oleh ibu usia muda antara 15-20 tahun

dan 12,7% oleh ibu usia 21-25 tahun. Hal ini perlu dipertimbangkan faktor-faktor

lain yang menyebabkan kerusakan gel pada meiosis I seperti: ketidakseimbangan

hormonal pada saat hamil, infeksi intra uterin dan sindrom down yang diwariskan

dari orang tua (Faradz, 2004).

Penyakit down sindrom terdapat pada seluruh bangsa di dunia. Angka

kejadian down sindrom rata-rata di seluruh dunia adalah 1 pada setiap 700

kelahiran. Kejadian down sindrom ini meningkat seiring pertambahan usia ibu

hamil, dimulai sejak umur 35 tahun (Fadhli, 2010).

Pada tahun 1970an para ahli dari Amerika dan Eropa merevisi namanya

dengan merujuk pada nama sang penemu sindrom ini menjadi Down Sindrom dan

hingga kini penyakit ini dikenal dengan istilah itu atau sering disingkat sebagai

(15)

Kejadian sindrom Down diperkirakan 1 per 733 kelahiran, meskipun

secara statistik lebih umum dengan orang tua lebih tua (baik ibu dan ayah) akibat

peningkatan eksposur mutagenik pada sel reproduksi beberapa orang tua tua

(Namun, orangtua yang lebih tua banyak menghasilkan anak-anak tanpa kondisi).

Faktor lain juga mungkin memainkan peran. Rata-rata IQ anak-anak dengan

sindrom Down adalah sekitar 50, dibandingkan dengan anak normal dengan IQ

100. Sejumlah kecil memiliki parah pada tingkat tinggi cacat intelektual (Medical,

2012).

Menurut Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Dra. Frieda

Mangunsong (2003), saat ini terdapat sekitar delapan juta penderita down sindrom

di seluruh dunia. Di RSUD Pringadi Medan tidak ada data statistik yang nyata

mengenai jumlah penderita down sindrom di Medan, hal ini disebabkan karena

para orang tua malu memeriksakan anaknya yang down sindrom. Selain karena

rasa malu, di masyarakat Medan masih ada suatu keyakinan bahwa anak dengan

ciri-ciri down sindrom menginap suatu penyakit “plasik” yaitu penyakit yang

disebabkan karena “magic”, sehingga masih banyak orang tua yang membawa

anaknya ke paranormal (Mangunsong, 2003).

Perkembangan yang lambat merupakan ciri utama pada anak down

sindrom. Baik perkembangan fisik maupun mental. Hal ini yang menyebabkan

keluarga sulit untuk menerima keadaan anak dengan down sindrom.setiap

keluarga menunjukkan reaksi yang berbeda-beda terhadap berita bahwa anggota

(16)

hampir sama yaitu: sedih, rasa tak percaya, menolak, marah, perasaan tidak

mampu dan juga perasaan bersalah (selikowitz, 2001). Untuk dapat membantu

mengoptimalkan perkembangan anak dengan down sindrom, peran dan sikap

keluarga sangat diharapkan anak down sindrom.

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain

terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem (Wahit dkk, 2009).

Peran dan sikap keluarga sangat penting dalam membantu pertumbuhan

dan perkembangan anak down sindrom. Banyak contoh kasus keberhasilan

penanganan penderita down sindrom di luar negeri, misalnya ada yang mampu

lulus SMA, Sarjana, atau yang memiliki keahlian tertentu sehingga mampu main

film. Salah satu yang mendukung keberhasilan ini adalah peran dari keluarga

(Mangunsong, 2003).

Secara fisik dan psikologis anak-anak dengan sindrom ini mempunyai

keistimewaan yang biasa dikembangkan. Secara fisik anak-anak ini memiliki

ligament-ligamen elastis penyambung tulang lebih fleksibel, sehingga tubuh

mereka lebih lentur dibandingkan anak normal. Apabila dilatih menari, gerakan

mereka terlihat indah. Mendidik anak down sindrom yang paling penting adalah

fokus. Bila fokus pada satu bidang tertentu,mereka akan mengerjakannya dengan

sepenuh hati. Hanya saja dalam menangani anak yang menderita down sindrom

perlu kesabaran ekstra. Untuk itu dalam hal ini sangat dibutuhkan peran dan sikap

keluarga untuk membantu mengoptimalkan perkembangan anak down sindrom

(17)

Beberapa fenomena yang terjadi di masyarakat, keluarga yang telah

memberikan dukungan pada anak dengan down sindrom, dapat menerima keadaan

anak tersebut apa adanya. Seluruh anggota keluarga membesarkan, merawat anak

dengan down sindrom secara bersama-sama dirumah sendiri dan mengganggap

anak yang menderita down sindrom itu bagian dari anggota keluarga, mereka

selalu memberikan lingkungan yang penuh kasih sayang dan tak henti-hentinya

memberikan rangsangan kepada anak dengan down sindrom tersebut untuk

tumbuh dan belajar, sehingga perkembangan anak dengan down sindrom di

keluarga ini dapat berjalan hampir seperti anak normal (Selikowizt, 2001).

Fenomena yang lain terdapat banyak keluarga memperlakukan anak down

sindrom dengan kurang hangat. Keluarga terlalu banyak mengontrol, penuh

pengawasan, banyak mengkritik, bahkan memberikan hukuman. Sehingga hal ini

akan mengakibatkan anak down sindrom menolak dan memberontak. Akibatnya

anak down sindrom menjadi lebih mudah frustasi (Fadhli, 2010).

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti

bagaimanakah gambaran peran dan sikap keluarga terhadap anak down sindrom di

YPAC Medan 2012.

1.2. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah pada

penelitian ini “bagaimanakah gambaran peran dan sikap keluarga terhadap anak

(18)

1.3. TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum pada penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran

peran dan sikap keluarga terhadap anak down sindrom.

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus pada penenlitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui gambaran peran keluarga terhadap anak down sindrom

2. Untuk mengetahui gambaran sikap keluarga terhadap anak down sindrom.

1.4 MANFAAT PENELITIAN

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada berbagai

pihak yaitu:

1.4.1 Bagi Institusi Pendidikan Anak Cacat

Memberi informasi kepada Tim Pendidik Anak Cacat mengenai usaha

pengoptimalan perkembangan anak down sindrom yang tidak hanya berfokus

pada anak saja, tetapi juga ditujukan pada keluarga.

1.4.2 Bagi keluarga

Memberi pengetahuan kepada keluarga mengenai peran dan sikap yang

(19)

1.4.3 Bagi penelitian

Sebagai bahan informasi bagi peneliti selanjutnya dan sebagai bahan acuan

perbandingan apabila ada peneliti yang ingin melakukan penelitian dengan judul

(20)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Peran Keluarga

2.1.1 Defenisi Peran Keluarga

Peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat,

kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu.

Peran individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari

keluarga, kelompok, peran merupakan serangkaian tingkahlaku yang diharapkan

orang lain terhadap seseorang sesuai dengan kedudukan dalam system, dimana

dapat dipengaruhi keadaan sosial ( Leny, 20 10).

Ada berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga. yaitu:

a. Peran Ayah

Ayah berperan sebagai suami dari istri dan ayah bagi anak- anak, berperan

sebagal pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai

kepala keluarga, sebagai anggota dan kelompok sosialnya serta sebagai anggota

masyarakat dari lingkungannya.

b. Peran Ibu

Ibu berperan sebagal istri dan ibu dan anak- anaknya, ibu mempunyai

peranan untuk menggurus rumah tangga. sebagai pengasuh dan pendidik anak-

anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta

sebagai anggota masyarakat dari Iingkungannya, disamping itu juga ibu dapat

(21)

c. Peran Anak

Anak-anak melaksanakan peranan psikososial sesuai dengan tingkat

perkembangannya balk fisik, mental, sosial, dan spiritual ( Leny, 2010).

2.2. Sikap

2.2.1. Defenisi Sikap

Menurut Strickland. 2001 (yang dikutip dari Hanurawan Psikologi Sosial,

2010) sikap merupakan predisposisi atau kecendrungan untuk memberikan respon

secara kognitif, emosi. dan penlaku yang diarahkan pada suatu objek, pribadi, dan

situasi khusus dalam cara-cara tertentu (Hanurawan. 2010). Komponen Pokok

Sikap (Notoatmodjo, 2003). Dalam bagian lain Aliport (1954) menjelaskan bahwa

sikap itu mempunyal 3 komponen pokok yaltu kepercayaan (keyakinan). ide dan

konsep terhadap suatu objek, kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu

objek, kecenderungan untuk bertindak.

2.2.2. Tingkatan Sikap

Menurut Notoatmodjo (2003), ada berbagai tingkatan sikap yang

berpengaruh terhadap pengetahuan antara lain:

a. Menerima

Menerima artinya, seseorang (subyek) mau memperhatikan stimulus yang

diberikan. Seperti orangtua mau memperhatikan tentang pentingnya mencuci

(22)

b. Merespon

Merespon yaitu kemampuan untuk memberikan jawaban apabila ditanya,

mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikator dari

sikap

c. Menghargai

Menghargai artinya kemampuan untuk mengajak orang lain mengerjakan

atau mendiskusikan suatu masalah

d. Bertanggung jawab menerima sendiri

Bertanggung jawab dengan segala konsekuensinya. Ini merupakan sikap

yang paling tinggi. Seseorang yang memiliki sikap tidak mendukung cenderung

memiliki tingkatan hanya sebatas menerima dan merespon saja, sedangkan

seseorang dikatakan telah memiliki sikap yang mendukung yaltu bukan hanya

memiliki tingkatan menerima dan merespon tetapi sudah mencapal tingkatan

menghargai atau bertanggung jawab. Sekord dan Backman dalam azwar (2003)

mendefinisikan sikap sebegai keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi),

pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu

aspek dilingkungan sekitarnya. Sikap yang ditujukan seseorang merupakan bentuk

respon batin dan stimulus yang berupa materi atau obyek di luar subyek yang

menimbulkan pengetahuan berupa subyek yang selanjutnya menimbulkan respon

batin dalam bentuk sikap si subyek terhadap yang diketahuinya itu (Notoatmodjo,

1997). Pengetahuan dan faktor lain seperti berfikir, keyakinan dan emosi

(23)

2.3. Konsep Keluarga 2.3.1. Defenisi Keluarga

Menurut departemen kesehatan (1988). keluarga adalah unit terkecil dari

masyarakat yang terdiri atas beberapa kepala keluarga serta beberapa orang

berkumpul dan tinggal disatu atap dalam keadaan saling ketergantungan

(Sudirharto, 2007). Menurut UU No. 10 tahtri 1992 tentang perkembangan

kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera. keluarga adalah unit terkecil

dari masyarakat terdiri dari suami-istri atau suami, istri dan anaknya. atau ayah

dan anaknya ibu dan anaknya (Suprajitno. 2004). Keluarga adalah suatu ikatan

atau persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan

jenis yang hidup bersama atau seseorang laki-laki atau seseorang yang sudah

sendiri dengan atau tanpa anak. balk anak sendiri atau adopsi. dan tinggal dalam

sebuah rumah tangga (Suprajitno, 2004). Keluarga adalah kumpulan dua atau

Iebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dan individu

yang mempunyai peran masing-masing.

2.3.2. Bentuk-bentuk Keluarga

Beberapa bentuk keluarga antara lain sebagai berikut:

1. Keluarga Inti adalah keluarga yang dibentuk karena ikatan perkawinan yang

direncanakan yang terdiri dari suami, istri. dan anak-anaknya. Baik karena

kelahiran (natural) maupun adopsi.

2. Keluarga asal merupakan satu unit keluarga tempat asaI seseorang dilahirkan

3. Keluarga bebas keluarga inti ditambah keluarga yang lain (karena hubungan

(24)

4. Keluarga Berantai keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah

lebih dari satu kali dan merupakan suatu keluarga inti.

5. KeIuarga Janda atau Duda

Keluarga yang terbentuk karna perceraian dan atau kematian pasangan yang

dicintal.

6. Keluarga Komposit

Keluarga dari perkawinan poligami dan hidup bersama

7. Keluarga Rehabilitasi

Dua orang menjadi satu keluarga tanpa pernikahan. bisa memiliki anak atau tidak.

Di Indonesia bentuk keluarga ini tidak lagi bertentangan dengan budaya timur.

8. Keluarga Inses

Suatu bentuk keluarga yang tidak lazim. misalnya anak perempuan menikah

dengan ayah kandungnya. ibu menikah dengan anak kandung laki-lakinya. paman

menikah dengan keponakannya. kakak menikah

dengan adiknya dan sebagainya.

9. Keluarga Tradisional dan Nontradisional

Dibedakan berdasarkan ikatan perkawinan. Keluarga tradisional diikat oleh

perkawinan. sedangkan keluarga nontradisional tidak diikat oleh perkawinan.

2.3.3. Struktur Keluarga

Struktur keluarga dapat menggambarkan bagaimana keluarga

melaksanakan fungsi keluarga dimasyarakat sekitarnya. Parad dan capian (1995),

yang diadobsi dari Fiedman. mengatakan ada empat elemen struktur keluarga

(25)

a. Struktur peran keluarga

Menggambarkan peran masing-masing anggota. keluarga dalam keluarga

sendiri dan peranannya di lingkungan masyarakat atau peran formal dan

nonformal.

b. Nilai atau norma keluarga

Menggambarkan nilai dan norma yang dipelajari dan diyakini oleh

keluarga. khususnya yang berhubungan dengan kesehatan.

c. Pola Komunikasi keiuarga

Menggambarkan bagaimana cara dan pola komunikasi ayah, ibu

(orangtua. orangtua dengan anak, anak dengan anak dan anggota keluarga lain)

pada keluarga besar dengan keluarga inti

d. Struktur Kekuatan Keluarga

Menggambarkan kemampuan anggota keluarga untuk mempengaruhi dan

mengendalikan orang lain untuk mengubah perilaku keluarga yang mendukung

kesehatan.

2.3.4. Fungsi Keluarga

Secara umum fungsi keluarga menurut Friedman (1998) adalah sebagai

berikut:

a. Fungsi Adaptif

Ini merupakan fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala

sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan oranglain.

(26)

b. Fungsi Sosialisan dan Tempat Bersosialisasi

Ini merupakan fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak untuk

berkehidupan sebelum meninggalkan rumah berhubungan dengan oranglain di

luar rumah

c. Fungsi Reproduksi

Ini merupakan fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga

kelangsungan keluarga.

d. Fungsi Ekonomi

Fungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat

untuk mengembangkan kemampuan individu, menghasilkan penghasilan untuk

memenuhi kebutuhan keluarga (Suprajitno, 2004).

2.4. Down Sindrom

2.4.1. Definisi Down Sindrom

Down Syndrom (Down syndrome) adalah suatu kondisi keterbelakangan

perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas

perkembangan kromosom. Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang

kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan. Kelainan yang

terjadi pada kromosom 21 , yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi klinis

yang cukup khas ( Judarwanto, 2010).

Sindroma Down (Trisomi 21 , Mongolisme) adalah suatu kelainan

kromosom yang menyebabkan keterbelakangan mental (retardasi mental) dan

kelainan fisik (medicastore). Sindrom Down adalah kecacatan kromosom

(27)

trisomi 21 atau sebahagian, disebabkan translokasi kromosom (Wikipedia

melayu). Anak dengan sindrom down adalah individu yang dapat dikenali dari

fenotipnya dan mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang terjadi akibat adanya

kromosom 21 yang berlebihan (Fadhli, 2010).

Sindrom Down berlaku pada kesemua populasi manusia, dan kesan

seumpamanya telah di dapati pada spesies lain seperti shimpanse dan tikus.

Baru-baru ini, penyelidik telah mencipta tikus dengan kebanyakan kromosom 21

manusia (tambahan kepada kromosom tikus biasa). Bahan kromosom tambahan

datang dalam berbagai cara berbeda. Kariotip manusia biasa hadir sebagai 46,XX

atau 46,XY, menunjukkan 46 kromosom dengan aturan XX bagi betina dan 46

kromosom dengan aturan XY bagi jantan. Down syndrome merupakan kelainan

yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi klinis yang cukup khas. Kelainan

yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental. Down

syndrome ini pertama kali dikenal pada tahun 1 866 oleh Dr.John Longdon Down.

Karena cirri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relatif pendek,

kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang mongolia maka sering juga

dikenal dengan Mongoloid. Pada tahun 1970an para ahli dari Amerika dan Eropa

merubah nama dari kelainan yang terjadi pada anak tersebut dengan merujuk pada

penemu pertama syndrome ini dengan istilah Down Syndrome dan hingga kini

penyakit ini dikenal dengan istilah yang sama ( Juwariah, 2009).

2.4.2. Etiologi

Penyebab dari Sindrom Down adalah adanya kelainan kromosom yaitu

(28)

A. Non Disjunction sewaktu osteogenesis ( Trisomi)

B. Translokasi kromosom 21 dan 15

C. Postzygotic non disjunction ( Mosaicism)

Penderita sindrom down mempunyai 3 kromosom 21 dalam tubuhnya

yang kemudian disebut dengan trisomi 21 . Tetapi pada tahun — tahun

berikutnya, kelainan kromosom lain juga mulai tampak, sehingga disimpulkan

bahwa selain trisomi 21 ada penyebab lain dari timbulnya penyakit sindrom down

ini. Meskipun begitu penyebab tersering dari sindrom down ini adalah trisomi 21

yaitu sekitar 92-95%, sedangkan penyebab yang lain yaitu 4,86,3% adalah karena

keturunan. Kebanyakan adalah translokasi Robertisonian yaitu adanya perlekatan

antara kromosom 14, 21 dan 22. Penyebab yang telah diketahui adalah kerena

adanya kelainan kromosom yang terletak pada kromosom yang ke 21 , yaitu

trisomi.

Faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya kelainan kromosom

(Kejadian NonDisjunctional ) adalah:

a. Genetik

Karena menurut hasil penelitian epidemiologi mengatakan adanya

peningkatan resiko berulang bila dalam keluarga terdapat anak dengan down

sindrom.

b. Radiasi

Ada sebagian besar penelitian bahwa sekitar 30 % ibu yang melahirkan

anak dengan ucleolus down pernah mengalami radiasi di daerah sebelum terjadi

(29)

C. Infeksi Dan Kelainan Kehamilan.

Autoimun dan Kelainan Endokrin Pada ibu terutama autoimun tiroid atau

penyakit yang dikaitkan dengan tiroid.

d. Umur Ibu

Apabila umur ibu diatas 35 tahun diperkirakan terdapat perubahan

hormonal yang dapat menyebabkan non ucleolus pada kromosom. Perubahan

endokrin seperti meningkatnya sekresi androgen, menurunnya kadar

hidroepiandrosteron. menurunnya konsentrasi estradiolsistemik, perubahan

konsentrasi reseptor ucleolus danpeningkatan kadar LH dan FSH secara tiba-tiba

sebelum dan selama menopause. Selain itu kelainan kehamilan juga berpengaruh.

e. Umur Ayah

Selain itu ada ucleous lain seperti gangguan intragametik, organisasi

ucleolus. bahan kimia dan frekuensi koitus (Johny, 2012).

2.4.3. Ciri-ciri anak down sindrom

Ciri-ciri anak Anak down syndrome pada umumnya mempunyai kekhasan

yang bisa dilihat secara fisik selain dengan pemeriksaan jumlah kromosomnya.

Tanda-tanda fisik ini bervariasi mulai dari yang tidak tampak sama sekali, tampak

minimal sampai dengan terlihat dengan jelas. Ciri-ciri fisik anak down syndrome

adalah sebagal berikut: bentuk kepala yang relatif kecil dengan bagian belakang

yang tampak mendatar (peyang) hidung kecil dan datar (pesek); hal ini

mengakibatkan mereka sulit bernapas. mulut yang kecil dengan lidah yang tebal

dan pangkal mulut yang cenderung dangkal yang mengakibatkan lidah sering

(30)

matanya letak telinga lebih rendah dengan ukuran telinga yang kecil; hal ini

mengakibatkan mudab terserang infeksi telinga rambut lurus, halus dan jarang

untuk kulit yang kering tangan dan jari-jari yang pendek dan pada ruas kedua jari

kelingking miring atau bahkan tidak ada sama sekali, sedangkan pada orang

normal memiliki tiga ruas tulang pada telapak tangan terdapat garis melintang

yang disebut Simian Crease. Garis tersebut juga terdapat di kaki mereka yaitu di

antara telunjuk dan ibu jari yang jaraknya cenderung lebih jauh dari pada kaki

orang normal. Keadaan telunjuk dan ibu jari yang berjauhan itu disebut juga

sandal foot simian crease / garis melintang pada telapak tangan otot yang lemah

(hypotomus); mengakibatkan pertumbuhan terganggu (terlambat dalam proses

berguling, merangkak, berjalan, berlari dan berbicara) pertumbuhan gigi geligi

yang lambat dan tumbuh tak beraturan sehingga menyulitkan pertumbuhan gigi

permanent (Ayu, 2008).

2.4.4. Perilaku anak down sindrom

1. Menjulurkan Iidah

Anak-anak dengan sindroma down seringkali memiliki kebiasaan

menjulurkan lidah mereka. Hal ini disebabkan oleh kombinasi oleh Iidah yang

berukuran Iebih besar daripada ukuran rata-rata dan mulut yang berukuran yang

Iebih kecil daripada ukuran rata-rata. Selama masa bayi banyak bayi

mengeluarkan lidah mereka sewaktu-waktu. HaI ini tidak perlu dihiraukan, namun

sejak usia satu tahun keatas,perlulah untuk mulai mengajarkan anak anda untuk

(31)

komentar mengenai hal ini, kalau tidak anda malah akan mendorong perilaku

tersebut daripada menghambatnya.

2. Mencucurkan air liur

Anak-anak dengan sindroma down, karena tonusnya yang rendah.

cendrung membiarkan mulutnya terbuka dan mencucurkan air liur selama masa

kanak-kanak. Bila anak diingatkan untuk menelan, kebiasaan ini umumnya

berhenti. Mungkin perlu juga menutup mulut sang anak dengan lembut seperti

yang dijelaskan diatas. Dengan cara ini kebanyakan anak sudah berhenti

mencucurkan air liur pada waktu mereka berusia sekitar empat tahun. Meskipun

jarang pada kasus dimana cucuran air liur tetap ada setelah melewati usia dini,

anda mungkin perlu mempertimbangkan operasi mengurangi produksi air liur.

Operasi yang tepat meliputi pemotongan saraf yang menuju salah satu kelenjar air

liur dan membuang kelenjar pada sisi lainnya atau mengubah jalannya saluran

kedua kelenjar air liur sehingga saluran tersebut membuka kebagian belakanng

mulut, dan air liur mengalir langsung menuruni kerongkongan. Operasi ini

biasanya dilakukan oleh ahli bedah THT (telinga. hidung dan tenggorokan) dan

umumnya berhasil.

3. Hiperaktivitas

Adalah normal bagi anak-anak pada tingkat perkembangan lima belas

bulan sampai tiga tahun untuk mudah terbelokkan perhatiannya, menuruti kata

hati, tidak gigih pada tugas-tugas, dan terus menerus tidak tenang dan banyak

berkeliaran. Kesulitan dasar bagi anak-anak ini adalah dalam menyalurkan

(32)

besar perilaku ini akan mereda. Cara anda dapat membantu anak adalah dengan

menentukan target-target yang tepat baginya. seperti mengharapkan dapat tetap

dimeja makan sewaktu makan sedikitnya lima menit, dan selanjutnya

perlahan-lahan tingkatkan harapan-harapan anda. Bermurahhatilah melepaskan pujian anda

bila target-target tersebut tercapai.

4. Anak-anak yang Iari berkeliaran sewaktu diajak pergi ke luar rumah, anak-anak

yang menghilang diam-diam merupakan hal yang sangat mencemaskan orangtua.

5. Tantrum (mengambek).

Tantrum ditemukan baik pada anak balita normal maupun pada

anak-anak dengan sindrom down dengan usia perkembangan yang sama. Tantrum

biasanya muncul bila anak sedang frustrasi atau dihalangi (Selikowitz, 2001).

2.4.5. Perilaku yang dilakukan orang tua dengan anak down sindrom

Sejauh ini di Indonesia masih kurang pengetahuan masyarakat tentang

penyebab sindrom down dan bagaimana cara menangani anak — anak yang

terkena sindrom down. Banyak keluarga yang memperlakukan anak - anak

sindrom down dengan tidak wajar. dan ada juga keluarga yang menyembunyikan

anak mereka yang terkena sindrom down. Seseorang dengan sindrom down

mampu melakukan hal — hal yang dapat dilakukan oleh anak — anak pada

umumnya asalkan mereka dilatih dengan diberikan terapi dan bisa di sekolahkan

disekolah luar biasa (SLB). Sering juga kita lihat anak —anak dengan sindrom

down di perlakukan kasar, karena perlakuan kasar inilah tak jarang anak sindrom

(33)

Dampak negatif dari perlakuan inilah yang membuat anak dengan sindrom

down akan kehilangan waktu untuk mengembangkan potensi dirinya (Johny,

2012). Menjadi ibu dari seorang anak yang mengalami down sindrom merupakan

tantangan tersendiri bagi orang tua. Setiap orang tua mempunyai cara

masing-masing untuk dapat mengoptimalkan perkembangan anaknya yang down

sindrom. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya mengalami

penderitaan. Banyak orang tua yang melakukan segala upaya untuk meringankan

penderitaan anak. Orang tua dengan anak-anak berkebutuhan khusus (down

sindrom) banyak mengalami kelelahan karena harus berhadapan dengan banyak

hal yang dilakukan anaknya, tetapi itu tidak membuat orang tua menyerah dan

berhenti berusaha untuk terus menerus mencari cara dan tempat untuk

kesembuhan anaknya (Jana, 2009).

Meski anak-anak down sindrom memiliki keterbatasan karena

perkembangan mereka yang lambat dibandingkan dengan anak normal lainnya,

mereka tetap mampu berprestasi, sehingga mengangkat nama bangsa dan negara

di dunina internasional. Oleh karena itu, anak-anak down sindrom memerlukan

peran serta sikap keluarga. terutama perhatian orang tua. Semua anak dengan

down sindrom harus dianggap sama dan sebaiknya hal yang paling penting

mereka harus dibekali keterampilan (Susuwongi,2007).

Banyak upaya yang dilakukan orang tua dengan anak down sindrom ini,

(34)

a. Menjaga kesehatan

Seperti semua anak, anak-anak dengan down sindrom ini memperoleh

manfaat dan cara hidup yang sehat. Hal ini mencakup hidup dalam lingkungan

keluarga yang penuh perhatian. makan dengan menu yang seimbang, udara segar

yang cukup serta latihan jasmani. Anak-anak ini hendaknya jangan terlalu

dilindungi. Mereka memperoleh manfaat dan kesempatan menjalankan kehidupan

aktif dengan bermacam-macam pengalaman. Selain cara hidup yang sehat, anak

perlu manjalani pemeriksaan teratur untuk mendeteksi masalah kesehatan secara

dini, sebelum masalah tersebut menyebabkan kerusakan yang luas dan sulit

diobati. Hal ini berarti orang tua harus memasukkan jadwal yang sistematis untuk

anak dengan down sindrom. Hal ini mungkin membebani orang tua namun

pemeriksaan ini penting untuk mencegah kesulitan-kesulitan yang jauh lebih besar

yang mungkin dapat terjadi bila kelainan tersebut tidak terdeteksi secara dini.

Pemeriksaan rutin tersebut seperti pemeriksaan bayi baru lahir, uji penglihatan, uji

pendengaran, sinar-x leher, pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah, pemeriksaan

gigi, imunisasi dan lainnya(Selikowitz, 2001)

b. Memodifikasi perilaku

Modifikasi perilaku merupakan suatu bentuk pengajaran, yang diterapkan

kepada anak dengan down sindrom pada situasi-situasi dimana penjelasan saja

tidak berhasil. Salah satu cara untuk mendorong perilaku yang baik adalah

mempertunjukkan perilaku tersebut kepada anak dengan harapan ia akan

menirunya. Anak down sindrom meniru orang tua yang ia identifikasi lebih kuat

(35)

baik adalah menempatkan sang anak dalam suatu posisi yang akan memudahkan

terjadinya perilaku tersebut. Seperti, latihan menggunakan pispot. Sebuah tekhnik

lain yaitu memberikan instruksi pada anak dan bentuk instruksi tersebut haruslah

pendek dan mudah dimengerti oleh anak (Selikowitz, 2001)

c. Membawa anak ke pusat perkembangan

Sebagai orang tua dari anak dengan anak down sindrom. orang tua

mempunyai kebutuhan khusus yang lebih. Penting untuk mengetahui bagaimana

dapat memperoleh berbagai pelayanan yang tersedia bagi anak. Berbagai

pelayanan terus-menerus berubah, dan sulit untuk mengikuti perkembangannya,

orang tua perlu membuka mata dan berbicara pada orang tua Iainnya. Orang tua

biasanya mengatur suatu kunjungan kepusat perkembangan anak pada enam bulan

pertama kehidupan anak. Pusat ini akan memberikan penilaian yang luas atas

kemampuan dan kebutuhan anak.

d. Mengajarkan anak

Mencapai kemandirian yang maksimal merupakan salah satu tujuan utama

pertumbuhan dan semua anak-anak. Anak-anak normal memperoleh banyak

keterampilan tanpa perlu diajari. Mereka mengamati dan belajar dari apa yang

mereka lihat. Pada waktu mereka menginjak remaja, mereka menuntut lebih

banyak kemandirian dan hanya sedikit orang tua yang dapat atau mau menyangkal

hal ini. Anak dengan down sindrom perlu diajarkan banyak keterampilan

sehari-hari dan diberikan kesempatan seluas-Iuasnya untuk mempraktekkannya.

Anak-anak dengan sindrom ini seringkali tidak membuat tuntutan serupa mengenai

(36)

mereka. tidak memberikan kesempatan padanya untuk mengembangkan

keterampilan-keterampiian yang penting bagi kemandiriannya. Namun proses

mencapai kemandirian bagi seorang anak down sindrom ini merupakan

serangkaian langkah-Iangkah yang lambat yang harus ditempuhnya dalam

sejumlah periode waktu. Sewaktu anak berkembang. orang tua tidak akan mampu

melindungi dirinya dari semua resiko ini, namun hindari melakukan hal tersebut

sampai batas dimana orang tua menghalangi kemampuan anak untuk hidup

semandiri mungkin (Selikowitz, 2001).

e. Membawa anak ke berbagai terapi.

Pada anak down sindrom sering mengalami gangguan kesehatan seperti

gangguan pada jantung, penglihatan. pendengaran, tidak normalnya kadar hormon

Imunologi dan gangguan pencernaan. Anak down sindrom mempunyai otot yang

lemah sehingga mengakibatkan keterlambatan mereka untuk berjalan. berbicara

dan memahami sesuatu sehingga relative sulit untuk mandiri. Meski demikian,

dengan usaha keras dari orang-orang terdekat terutama orang tua, tidak sedikit

anak down sindrom dapat hidup relatif mandiri bahkan bisa bersekolah, berteman.

dan menikmati hidup layaknya anak normal. Pola makan mereka sebaiknya dijaga

dan diberikan banyak sayur-sayuran dan buah-buahan agar pencernaan mereka

tidak terganggu. Dan rata-rata anak down sindrom sering terserang berbagai

penyakit infeksi bahkan ada yang meninggal tak berapa lama berselang semenjak

saat kelahirannya. Tetapi saat ini, sebagian besar masalah kesehatan anak-anak

down sindrom sudah dapat diatasi secara medis sehingga tidak sedikit diantaranya

(37)

berbagai informasi untuk kesembuhan anaknya, dalam hal ini upaya berbagai jenis

terapi ditujukan kepada anak down sindrom. Masing-masing anak down sindrom

mempunyai kondisi yang berbeda, ada anak yang memerlukan suatu program

terapi lebih lama dibandingkan anak yang lainnya. Hal ini bisa dikarenakan

karena beberapa faktor misalnya sang anak telat dibawa ke tempat terapi. Orang

tua baru tahu kondisi sang anak setelah sekian bulan berlalu tanpa ada informasi

apapun, Kondisi kesehatan sang anak yang kurang baik, Keuangan keluarga. Sifat

sang anak (anak down sindrom) yang sama sekali tidak mau dipegang oleh

terapisnya, hal ini tentu akan menyulitkan sang terapis untuk membantunya

(Selikowizt, 2001).

Jenis-jenis terapi yang dibutuhkan anak down sindrom adalah seperti

Terapi Fisik (Physio Theraphy), Biasanya terapi inilah yang diperlukan pertama

kali bagi anak down sindrom dikarenakan mereka mempunyai otot tubuh yang

lemas maka disinilah mereka dibantu agar bisa berjalan dengan cara yang benar.

Terapi wicara yaitu. Suatu terapi yang di perlukan untuk anak down sindrom yang

mengalami keterlambatan bicara dan pemahaman kosakata. Saat ini sudah banyak

sekali jenis-jenis terapi selain di atas yang bisa dimanfaatkan untuk tumbuh

kembang anak down sindrom. Terapi Okupasi, Terapi ini diberikan untuk melatih

anak dalam hal kemandirian. kognitif/pemahaman. kemampuan sensorik dan

motoriknya. Kemandirian diberikan kerena pada dasarnya anak down sindrom

tergantung pada orang lain atau bahkan terlalu acuh sehingga beraktifitas tanpa

ada komunikasi dan tidak memperdulikan orang lain. Terapi ini membantu anak

(38)

Terapi Remedial, Terapi ini diberikan bagi anak yang mengalami gangguan

kemampuan akademis dan yang dijadikan acuan terapi ini adalah bahan-bahan

pelajaran dan sekolah biasa. Terapi Sensori integrasi, Sensori integrasi adalah

ketidakmampuan mengolah rangsangan isensori yang diterima. Terapi ini

diberikan bagi anak down sindrom yang mengalami gangguan integrasi sensori

misalnya pengendalian sikap tubuh, motorik kasar, motorik halus dll. Dengan

terapi ini anak diajarkan melakukan aktivitas dengan terarah sehingga kemampuan

otak akan meningkat. Terapi Tingkah Laku (Behaviour Theraphy), Mengajarkan

anak down sindrom yang sudah berusia Iebih besar agar memahami tingkah laku

yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan norma-norma dan aturan yang berlaku

dimasyarakat . Ada juga orang tua yang menggunakan terapi alternatif yang saat

ini sudah sangat berkembang pesat seperti terapi akupuntur. Terapi ini dilakukan

dengan cara menusuk titik persarafan pada bagian tubuh tertentu dengan jarum.

Titik syaraf yang ditusuk disesuaikan dengan kondisi sang anak.Terapi musik,

Anak dikenalkan nada., bunyi-bunyian. dll. Anak-anak sangat senang dengan

musik maka kegiatan ini akan sangat menyenangkan bagi mereka dengan begitu

stimulasi dan daya konsentrasi anak akan meningkat dan mengakibatkan fungsi

tubuhnya yang lain juga membaik. Terapi lumba-lumba, Terapi ini biasanya

dipakai bagi anak autis tapi hasil yang sangat mengembirakan bagi mereka bisa

dicoba untuk anak down sindrom. Sel-sel saraf otak yang awalnya tegang akan

menjadi relaks ketika mendengar suara lumba-lumba. Terapi craniosacral, Terapi

dengan sentuhan tangan dengan tekanan yang ringan pada syaraf pusat. Dengan

(39)

tahan tubuh Iebih meningkat (ISDI, 2008). Dan tentu masih banyak lagi

terapi-terapi alternatif lainnya, ada yang berupa vitamin, supplemen maupun dengan

pemijatan pada bagian tubuh tertentu. Orang tua harus bijaksana memilih terapi

alternatif ini. Karena pada kenyataannya down sindrom pada sang anak tidak akan

bisa hilang. Yang bisa orang tua lakukan yaitu mempersempit jarak perbedaan

perkembangan antara anak down sindrom dengan anak normal.

2.4.6. Patofisiologi

Penyebab yang spesifik belum diketahui. tapi kehamilan oleh ibu yang

berusia diatas 35 tahun beresiko tinggi memiliki anak syndrom down. Karena

diperkirakan terdapat perubahan hormonal yang dapat menyebabkan “nond

isjunction” pada kromosom yaitu terjadi translokasi kromosom 21 dan 15. Hal ini

dapat mempengaruhi pada proses menuasia (Fadhli, 2010). Tubuh manusia

memiliki milyaran sel yang memiliki pusat informasi genetik di kromosom.

Normalnya manusia mempunyai 23 pasang kromosom sehingga total berjumlah

46 buah kromosom. Pada anak down syndrome kromosom nomor 21 berjumlah

tiga dimana seharusnya berjumlah dua sehingga total menjadi 47 buah kromosom

dan biasa disebut Trisomi 21. Jumlah kromosom yang berlebihan itulah yang

mengakibatkan terjadinya kegoncangan pada system metabolisme sel yang

akhimya memunculkan down syndrome. Down syndrome bukan penyakit

menular dan bukan penyakit keturunan. Anggapan bahwa down syndrome hanya

akan terjadi pada usia ibu yang pada saat hamil berusia diatas 35 saat ini telah

dipatahkan karena setelab diteliti lebih lanjut temyata down syndrome bisa terjadi

(40)

down syndrome terjadi karena kekurangan gizi (golongan tidak berpunya) juga

dipatahkan karena down syndrome tidak mengenal strata sosial, seorang ibu yang

menjaga kehamilan dengan baik sekalipun sang bayi yang dikandungnya bisa

terkena down syndrome. Kesalahan pengandaan kromosom nomor 21 tersebut

bukan karena penyimpangan perilaku orang tua ataupun pengaruh pencemaran

Iingkungan. Ketidakjelasan penyebab pasti itu membuat faktor penyebab down

syndrome hingga saat ini belum terobati dan tak tercegah (Ayu.2008).

Sampai saat ini diakui bahwa tidak ada faktor perilaku atau lingkungan

yang dapat menjadi penyebab sindrom down. Beberapa mitos menyebabkan

bahwa penyebab sindrom down disebahkan oleh faktor genetik (warisan), namun

pada kenyataannya sindrom down tidak disebabkan oleh kesalahan dalam

pembelahan set selama pengembangan sperma. sel telur atau embrio.Translokasi

Sindrom Down adalah satu-satunya bentuk gangguan yang dapat ditularkan dari

orangtua ke anak. Namun, hanya sekitar 4 persen anak-anak dengan sindrom

down terjadi translokasi. Dan hanya sekitar setengah dari anak-anak ini mewarisi

dan salah satu orangtua mereka. Ketika translokasi diwarisi, ibu atau ayah adalah

pembawa seimbang dari translokasi, yang berarti ia memiliki beberapa materi

genetik ulang, namun tidak ada bahan genetik tambahan. Ada beberapa orang tua

yang memiliki risiko Iebih besar memiliki bayi dengan sindrom Down.

Faktor-faktor tersebut yaitu usia ibu untuk melahirkan. Bagi seorang ibu yang memiliki

umur yang sudah lanjut diketahui berpengaruh dengan angka kejadian sindrom

(41)
(42)
(43)
(44)

BAB 4

METODE PENELITIAN 4.1 Desain penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif

yang bertujuan untuk mengetahui gambaran peran dan sikap keluarga terhadap

anak down sindrom.

4.2. Populasi dan sampel

4.2.1. Populasi

Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/ subyek yang

dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/ sifat yang dimiliki oleh subyek

atau obyek yang diteliti itu (Sugiono, 2009).

Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga dengan anak anak down

sindrom yang berada di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat di

Medan dengan jumlah orang 30 orang.

4.2.2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang

ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka

peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu (Sugiono,

(45)

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Total Sampling.

Sampel yang diambil sebanyak 30 orang. Sampel yang dipilih berdasarkan kriteria

sebagai berikut :

a) Keluarga dengan anak down sindrom yang mengikuti program belajar di

YPAC Medan (Keluarga Inti)

b) Tinggal dalam satu rumah dengan keluarga

c) Keluarga yang bersedia menjadi responden.

4.3. Lokasi penelitian dan Waktu penelitian

Penelitian ini sudah dilakukan di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan

Pembinaan Anak Cacat di Medan, Sumatera Utara. Jln. Adinegoro No 2 Medan.

Karena belum pernah dilakukan penelitian tentang peran dan sikap keluarga

terhadap anak down sindrom di YPAC ini. YPAC ini memadai untuk

mendapatkan jumlah sampel yang sesuai dengan kriteria peneliti. Waktu peneliti

sudah dilakukan pada Semptember 2012 s/d November 2012.

4.4. Pertimbangan etik penelitian

penelitian ini dilakukan setelah mendapatkan izin dari Fakultas

Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Setelah mendapatkan izin dalam

pengumpulan data, maka dilakukan pendekatan kepada responden dan

menjelaskan maksud dan tujuan peneliti. Menurut Nursalam (2008), ada beberapa

(46)

a) Self determination

Peneliti member kebebasan kepada responden untuk menentukan apakah

bersedia atau tidak untuk mengikuti kegiatan peneliti.

b) Informed Consent

Peneliti menyatakan kesediaan menjadi responden setelah peneliti

memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan, dan manfaat peneliti. Jika

responden bersedia menjadi peserta peneliti maka responden diminta

menandatangani lembar persetujuan.

c) Anonimity

Peneliti tidak mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan

data, tetapi akan memberikan kode pada masing-masing lembar

persetujuan tersebut.

d) confidentiality

peneliti menjamin kerahasiaan informasi responden dan kelompok data

tertentu yang dilaporkan sebagai hasil peneliti.

4.5. Instrumen penelitian

Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrument yang

diadobsi dari Juwariah (2009) dan dimodivikasi oleh peneliti sendiri berdasarkan

teori yang ada di bab 2. Maka, instrument yang dilakukan dalam penelitian ini

dibuat dalam bentuk kuesioner 2 bagian yaitu data demografi, peran dan sikap

(47)

meliputi: umur ibu melahirkan anak saat down sindrom, suku bangsa, pendidikan

terakhir ibu, agama, pekerjaan kepala keluarga/ wali, penghasilan perbulan,

jumlah anak, jumlah anak yang menderita down sindrom, keluarga lain yang

tinggal dirumah, kapan waktu keluarga bersama anak. Lembar kedua mengenai

peran dan sikap keluarga terhadap anak down sindrom. Kuesioner ini terdiri dari

21 pertanyaan yang meliputi 10 pertanyaan mengenai peran keluarga terhadap

anak down sindrom dan 11 pertanyaan mengenai sikap keluarga terhadap anak

down sindrom. Semua pertanyaan tersebut dalam bentuk pertanyaan tertutup

(Jawaban sudah pasti). Data untuk mengisi kuesioner mengenai peran dan sikap

keluarga menggunakan skala likert. Adapun pilihan jawaban yang diberikan SL :

selalu 3, KK : kadang-kadang 2, TP : tidak pernah 1. Hasil kuesioner peran nilai

yang tertinggi 24-30, terendah 10-16 dan kuesioner sikap nilai yang tertinggi

27-33, terendah 11-18. Skala pengukuran yang digunakan adalah akala ordinal.

dengan menggunakan rumusan statistik menurut sudjana (2005), yaitu:

Rentang Banyak Kelas

4.6. Uji Validitas dan Reabilitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan

dan keshahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih

mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya,instrumen yang kurang valid berarti

memiliki validitas rendah. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu

mengukur apa yang diinginkan. Sebuah Instrumen dikatakan valid apabila dapat

(48)

mengungkapkan data dari variable yang diteliti secara tepat, sedangkan

Reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat

dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut

baik (Arikunto, 2010).

kuesioner telah diuji validitasnya oleh orang yang ahli dibidangnya. Dari

21 aitem pertanyaan telah teruji validitas isi. uji reliabilitas dilakukan oleh 10

keluarga yang sesuai dengan kriteria sampel di yayasan Muzdalifah dengan

menggunakan uji Cronbach alpha dan dikatakan reliabilitas jika koefisien

Cronbach alpha sama dengan atau lebih besar dari 0,70 Sekaran (dalam Zulganef,

2006). Maka didapatkan hasil 0,744.

4.7. Pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan setelah mendapatkan izin peneliti dari Ketua

Program Pendidikan Keperawatan Fakultas USU. Peneliti selanjutnya membawa

surat permohonan peneliti kepada kepala Sekolah Luar Biasa-C Yayasan

Pembinaan Anak Cacat di Medan. Setelah mendapat izin dari kepala Sekolah Luar

Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat di Medan, peneliti mendatangi calon

responden yang dimulai dari bulan September 2012 sampai dengan November

2012.

Sebelum kuesioner diisi, kuesioner menandatangani surat persetujuan

penelitian (informed consent) terlebih dahulu sebagai bukti kesediaannya menjadi

(49)

demografi dan kuesioner peran dan sikap. Kemudian peneliti terlebih dahulu

menjelaskan petunjuk pengisian kuesioner.

Kuesioner diisi selama 30 menit dan peneliti mendampingi responden

dalam menjawab kuesioner serta membacakan pertanyaan kepada responden.

Selama proses pengisian berlangsung responden tidak mengalami kesulitan dalam

menjawab, artinya responden mengerti setiap item pertanyaan kuesioner. Setelah

responden selesai mengisi kuesioner penelitian, peneliti mengumpulkan kembali

kuesioner tersebut. Demikian seterusnya sampai semua data terkumpul untuk

dilakukan analisa data. Dimana pada saat pengumpulan data dari 30 orang peneliti

menemukan sebagian besar memiliki peran dan sikap keluarga terhadap anak

down sindrom (96,7%).

4.8. Analisa Data

Setelah semua data terkumpul, maka dilakukan analisis data melalui

beberapa tahap yakni editing yaitu mengecek nama dan kelengkapan identitas dan

data responden serta memastikan data bahwa semua jawaban telah diisi sesuai

petunjuk, coding yaitu memberi kode atau jangka tertentu pada kuesioner untuk

mempermudah waktu mengadakan tabulasi dan analisa. Analisa yaitu

menganalisa data yang telah terkumpul dengan menentukan persentase jawaban

dari setiap responden. Analisa data dilakukan dengan menggunakan teknik

(50)

Pengolahan data dengan statistik deskriptif yang terdiri dari frekuensi dan

persentase untuk melihat gambaran peran dan sikap keluarga terhadap anak down

sindrom di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat di Medan.

(51)

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

Pada bab ini diuraikan data hasil penelitian dan pembahasan mengenai peran

dan sikap keluarga terhadap anak down sindrom di Sekolah Luar Biasa-C

Yayasan Pembinaan Anak Cacat Medan yang dilaksanakan pada bulan September

2012 sampai dengan November 2012. Pengumpulan data menggunakan kuesioner

pernyataan tertutup yang dilakukan pada 30 responden yang memiliki anak down

sindrom.

5.1.1. Karakteristik Responden

Karakteristik responden dapat dilihat pada tabel 5.1 yang menunjukkan

bahwa mayoritas ibu saat melahirkan anak down sindrom berusia 35-39 tahun

yaitu sebanyak 15 responden (50,0%). Berdasarkan suku, sebagian besar

responden bersuku Jawa yaitu sebanyak 14 responden (46,7%). Pendidikan

responden mayoritas SMA yaitu sebanyak 13 responden (43,3%). Mayoritas

responden beragama Islam yaitu sebanyak 27 responden (90,0%). Pekerjaan

responden sebagian besar wiraswasta yaitu sebanyak 16 responden (53,3%),

penghasilan mayoritas Rp.1.000.000-3.000.000 yaitu sebanyak 17 responden

(56,7%), jumlah anak mayoritas 3 orang yaitu sebanyak 15 responden (50,0%),

jumlah anak yang menderita down sindrom dalam keluarga mayoritas 1 orang

(52)

mayoritas tidak ada yaitu sebanyak 24 responden (80,0%), waktu bersama anak

mayoritas setiap saat yaitu sebanyak 25 responden (83,3%).

Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi dan Presentase Karakteristik Responden di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat Medan.

Karakteristik Frekuensi

(f)

Persentase (%) Umur ibu saat melahirkan anak down

sindrom :

Rp.1.000.000-3.000.000 17 56.7

>Rp.3.000.000 11 36.7

Jumlah anak :

Dua orang 2 6.7

Tiga orang 15 50

>Tiga orang 13 43.3

Jumlah anak yang menderita down sindrom :

Satu orang 29 9.7

(53)

Keluarga lain yang tinggal dirumah:

Waktu keluarga bersama anak:

Sore hari 2 6.7

Malam hari 3 10

Setiap saat 25 83.3

5.1.2. Peran Keluarga terhadap Anak Down Sindrom di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Biasa-Cacat Medan

Peran keluarga terhadap anak down sindrom dapat dilihat pada tabel

5.2 yang menunjukkan sebanyak 29 responden (96,7%) memiliki peran keluarga

dalam kategori peran baik dan satu responden (3,3%) berada pada kategori peran

keluarga yang cukup.

Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi dan Persentase Peran Keluarga Terhadap Anak Down Sindrom di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat Medan

Peran Frekuensi (f) Persentase (%)

Baik

Dapat dilihat pada tabel 5.3 yang menunjukkan hasil penelitian bahwa

mayoritas responden menjawab selalu berusaha mencari informasi tentang cara

(54)

menonton televisi, mayoritas responden (90%) menjawab selalu memberi

tanggapan terhadap keluh kesah anak down sindrom, hampir setengah responden

(40%) menjawab selalu membacakan buku cerita untuk anak down sindrom,

mayoritas responden (90%) menjawab selalu memberi makanan anak down

sindrom dengan menu seimbang (nasi, lauk, sayur, buah, dan susu), lebih dari

setengah responden (53,3%) menjawab selalu membawa anak down sindrom

untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara teratur dan mendampinginya,

sebagian besar responden (93,3%) menjawab selalu memberi perhatian penuh

kepada anak down sindrom, mayoritas responden (96,7%) menjawab bahwa selalu

memberi rasa aman kepada anak down sindrom, lebih dari setengah responden

(60%) menjawab keluarga membawa anak down sindrom ketempat belajar agama

serta mendampinginya dan keluarga selalu menemani anak down sindrom ketika

anak belajar berhitung (70%).

Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Peran Keluarga terhadap Anak Down Sindrom di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat Medan

Pernyataan TP KK SL

Keluarga berusaha mencari informasi tentang cara meningkatkan perkembangan anak down sindrom

- 8(26,7%) 22(73,3%)

Keluarga menemani anak down sindrom ketika nonton televisi

- 12(40,0%) 18(60,0%)

Keluarga memberi tanggapan terhadap keluh kesah anak down sindrom

- 3(10,0%) 27(90,0%)

Keluarga membacakan buku cerita untuk anak down sindrom

4(13,3%) 14(46,7%) 12(40,0%)

Keluarga memberi makanan anak down

(55)

sayur, buah, susu)

Keluarga membawa anak down sindrom untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara teratur dan mendampinginya

- 14(46,7%) 16(53,3%)

Keluarga memberi perhatian penuh kepada anak down sindrom

- 2(6,7%) 28(93,3%)

Keluarga memberi rasa aman kepada anak down sindrom

- 1(3,3%) 29(96,7%)

Keluarga membawa anak down sindrom ketempat belajar agama serta mendampinginya

- 12(40,0%) 18(60,0%)

Keluarga menemani anak down sindrom ketika anak belajar berhitung

1(3,3%) 8(26,7%) 21(70,0%)

5.1.3. Sikap Keluarga terhadap Anak Down Sindrom di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Biasa-Cacat Medan

Berdasarkan hasil penelitian, sikap responden dapat dilihat pada tabel 5.3

yang menunjukkan bahwa sebanyak 29 responden (96,7%) memiliki sikap yang

baik terhadap anak down sindrom dan satu orang (3,3%) berada pada kategori

sikap cukup.

Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Keluarga Terhadap Anak Down Sindrom di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat Medan.

Dapat dilihat pada tabel 5.4 yang menunjukkan hasil penelitian bahwa

(56)

anak down sindrom, sebanyak (76,7%) responden menjawab selalu berusaha

mencari informasi yang berhubungan dengan penyakit anak down sindrom,

keluarga selalu memberi jawaban atas pertanyaan anak down sindrom dengan

bahasa sederhana yaitu sebanyak (96,7%), keluarga selalu memberi kesempatan

kepada anak down sindrom untuk menceritakan pengalamannya sehari-hari

sebanyak (86,7%), hampir seluruh responden (93,3%) menjawab selalu

mendengarkan keluhan-keluhan anak down sindrom, mayoritas responden

(83,3%) menjawab selalu menegur anak down sindrom ketika membuat kesalahan

dalam berbicara, keluarga selalu memberi pujian kepada anak down sindrom

ketika menyelesaikan pekerjaan sederhana seperti mandi, menyikat gigi,

berpakaian, dan menyisir rambut yaitu sebanyak (96,7%), keluarga selalu

memberi motivasi kepada anak down sindrom agar melakukan kegiatan sendiri

seperti makan, mandi dan berpakaian yaitu sebanyak (93,3%), setengah dari

responden (50%) menjawab selalu memberi kesempatan kepada anak down

sindrom bermain sendiri atau bersama teman-temanya, hampir seluruh responden

(96,7%) menjawab selalu memberi kesempatan kepada anak down sindrom untuk

mendengarkan musik dari radio, tape, dan televisi, keluarga selalu memberi

kesempatan kepada anak down sindrom untuk bermain yaitu sebanyak (73,3%).

Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi dan Persentase Sikap Keluarga terhadap Anak Down Sindrom di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat Medan

Pertanyaan TP KK SL

Keluarga mengerti tentang kondisi anak down sindrom

- 1(3,3%) 29(96,7%)

Keluarga berusaha mencari informasi

(57)

Keluarga memberi jawaban atas pertanyaan

anak down sindrom dengan bahasa sederhana - 1(3,3%) 29(96,7%) Keluarga memberi kesempatan kepada anak

down sindrom untuk menceritakan pengalamannya sehari-hari

Keluarga menegur anak down sindrom ketika membuat kesalahan dalam berbicara

-

Keluarga memberi pujian kepada anak down sindrom ketika menyelesaikan pekerjaan sederhana seperti mandi, menyikat gigi, berpakaian, menyisir

- 1(3,3%) 29(96,7%)

Keluarga memberi motivasi kepada anak down sindrom kegiatan sendiri seperti makan, mandi dan berpakaian

- 2(6,7%) 28(93,3%)

Keluarga memberi kesempatan kepada anak down sindrom bermain sendiri atau bersama teman-temanya

- 15(50,0%) 15(50,0%)

Keluarga memberi kesempatan kepada anak down sindrom mendengarkan musik dari radio, tape, dan televise

- 1(3,3%) 29(96,7%)

Keluarga memberi kesempatan kepada anak down sindrom untuk bermain

1(3,3%) 7(23,3%) 22(73,3%)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden sebanyak

(96,7%) menjawab selalu mengerti tentang kondisi anak down sindrom, sebagian

responden (76,7%) menjawab selalu berusaha mencari informasi berhubungan

dengan penyakit anak down sindrom, keluarga selalu memberi jawaban atas

pertanyaan anak down sindrom dengan bahasa sederhana yaitu sebanyak (96,7%),

keluarga selalu memberi kesempatan kepada anak down sindrom untuk

menceritakan pengalamannya sehari-hari yaitu sebanyak (86,7%), hampir seluruh

responden (93,3%) menjawab selalu mendengarkan keluhan-keluhan anak down

sindrom, mayoritas responden (83,3%) menjawab selalu menegur anak down

sindrom ketika membuat kesalahan dalam berbicara, keluarga selalu memberi

pujian kepada anak down sindrom ketika menyelesaikan pekerjaan sederhana

seperti mandi, menyikat gigi, berpakaian, dan menyisir rambut yaitu sebanyak

(58)

melakukan kegiatan sendiri seperti makan, mandi dan berpakaian sebanyak

(93,3%), setengah dari responden (50%) menjawab selalu memberi kesempatan

kepada anak down sindrom untuk bermain sendiri atau bersama teman-temannya,

hampir seluruh responden (96,7%) menjawab selalu memberi kesempatan kepada

anak down sindrom mendengarkan untuk musik dari radio, tape, dan televisi,

Keluarga selalu memberi kesempatan kepada anak down sindrom untuk bermain

yaitu sebanyak (73,3%).

5.2. Pembahasan

5.2.1. Peran Keluarga Terhadap Anak Down Sindrom di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat Medan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti pada 30 responden

yang memiliki anak down sindrom dapat di deskripsikan peran keluarga terhadap

anak down sindrom di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat

Medan menunjukkan hasil bahwa pengetahuan peran keluarga dalam dalam

kategori baik yaitu 29 responden (96,7%).

Hasil penelitian ini dapat dibuktikan dengan mayoritas responden

menjawab selalu memberi makanan menu seimbang yaitu sebanyak (90,0%),

responden menjawab selalu memberi perhatian penuh kepada anak down sindrom

yaitu sebanyak (93,3%), mayoritas responden menjawab selalu memberi rasa

aman kepada anak down sindrom yaitu sebanyak (96,7%).

Gambar

Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi dan Presentase Karakteristik Responden di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat Medan
Tabel 5.2.  Distribusi  Frekuensi  dan  Persentase  Peran Keluarga  Terhadap
Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Peran Keluarga terhadap Anak Down Sindrom di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat Medan
Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Keluarga Terhadap Anak    Down Sindrom di Sekolah Luar Biasa-C Yayasan Pembinaan Anak Cacat Medan
+2

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data pengalaman karies pada seluruh anak penderita sindroma Down usia 6-18 tahun yang bersekolah di SLB-C Kota Medan adalah sebanyak 79

167713 Tebing Tinggi bertujuan Untuk mengetahui perilaku sosial anak down syndrome, permasalahan apa saja yang dialami anak down syndrome dalam proses interaksi dalam

hubungan yang bermakna antara volume saliva dengan pengalaman karies gigi pada.. anak sindrom Down usia 12-18

Untuk mengetahui gambaran status karies gigi berdasarkan jenis kelamin pada anak sindrom Down usia 12-18 tahun di SLB-C kota Medan. Untuk mengetahui gambaran status gizi pada

karies gigi anak sindrom Down pada usia 12-18 tahun di SLB-C Kota Medan. Menganalisis hubungan antara kondisi kapasitas buffer saliva

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status kebersihan rongga mulut dan kebutuhan perawatan periodontal pada anak sindrom Down usia 6-18 tahun di SLB-C

Untuk mengetahui status kebersihan rongga mulut dan kebutuhan perawatan periodontal pada anak sindrom Down usia 6-18 tahun di Sekolah Luar Biasa (SLB-C) Kota Medan.

untuk berpartisipasi sebagai subjek penelitian saya mengenai “GAMBARAN STATUS KARIES GIGI DAN STATUS GIZI PADA ANAK SINDROM DOWN USIA 12-18 TAHUN DI SLB C KOTA MEDAN”..