(STUDI DESKRIPTIF KOMPARATIF PENYAJIAN IKLAN PADA PROVIDER AXIS DAN TELKOMSEL DI TELEVISI DITINJAU DARI
PERSPEKTIF KOMUNIKASI PEMASARAN)
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana
Program Strata 1 (S1) pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
PERDANA TUA SIMATUPANG
070904086
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
LEMBAR PERSETUJUAN
Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh:
Nama : Perdana Tua Simatupang
Nim : 070904086
Departemen : Ilmu Komunikasi
Judul : Iklan pada Provider AXIS dan TELKOMSEL di Televisi
( Studi Deskriptif Komparatif Penyajian Iklan pada Provider
AXIS dan TELKOMSEL di Televisi Ditinjau dari Perspektif
Komunikasi Pemasaran)
Medan, 22 Juli 2013
Dosen Pembimbing Ketua Departemen
Dra. Dayana, M.Si
NIP.196007281987032002 NIP. 196208281987012001 Dra. Fatma Wardy Lubis, MA
Dekan Fisip USU
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi ini diajukan oleh :
Nama : Perdana Tua Simatupang
NIM : 070904086
Departemen : Ilmu Komunikasi
Judul Skripsi : Iklan Pada Provider AXIS dan TELKOMSEL di Televisi
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Majelis Penguji
Ketua Penguji : ... (...) Penguji : ... (...) Penguji Utama : ... (...)
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip
maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika di
kemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya
bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Nama : Perdana Tua Simatupang
NIM : 070904086
Tanda Tangan :
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai civitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda
tangan di bawah ini:
Nama : Perdana Tua Simatupang
NIM : 070904086
Departemen : Ilmu Komunikasi
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Judul Skripsi : Iklan Pada Provider AXIS dan
TELKOMSEL di Televisi
Jenis Karya : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada
Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Ekslusif (Non-ekslusive
Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
Iklan pada Provider AXIS dan TELKOMSEL di Televisi (Studi Deskriptif
Komparatif Penyajian Iklan pada Provider AXIS dan TELKOMSEL di Televisi
Ditinjau dari Perspektif Komunikasi Pemasaran)
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Nonekslusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan,
mengalihmedia/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database),
merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya
selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Medan
Pada Tanggal : 22 Juli 2013
Yang Menyatakan
ABSTRAK
Perdana Tua Simatupang. Ilmu Komunikasi. Penelitian ini berjudul “Iklan pada Provider AXIS dan TELKOMSEL di Televisi”. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana komunikasi pemasaran yang dilakukan provider AXIS dan TELKOMSEL melalui iklan televisi. Penelitian ini menggunakan teori komunikasi pemasaran dan iklan televisi . Analisis yang digunakan adalah analisis data tabel tunggal dan proses hierarki analitik (PHA). Objek penelitian ini adalah iklan televisi provider AXIS versi “Group Hug” dan TELKOMSEL versi “Aku Ga Punya Pulsa”. Kriteria komunikasi pemasaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah komunikasi tertuju dan komunikasi tidak tertuju. Sedangkan untuk iklan televisi memiliki elemen: video,audio, talent, props, setting, lighting, dan pacing.Dalam penelitian ini diperoleh hasil bahwa masing-masing provider memiliki keunggulan masing-masing. Untuk provider AXIS memiliki keunggulan pada kriteria setting, sedangkan pada provider TELKOMSEL memilki keunggulan pada kriteria audio, talent dan props. Peneliti berharap penelitian ini dapat memberikan sumbangsih kepada para pembaca dan pihak-pihak terkait dalam penelitian ini.
Kata Kunci : Iklan Televisi AXIS dan TELKOMSEL
Perdana Tua Simatupang. Communication Science. The title of the study is “AXIS and TELKOMSEL provider Television Commercial”. The goal of this study is to see the communication advertisement by AXIS and TELKOMSEL provider through television commercial. This study is using communication advertising theory and television commercial theory. Analysis used is single table data analysis and analytic hierarchy process(AHP). The object of the study is AXIS provider television commercial “Group Hug” version and TELKOMSEL provider television commercial “Aku Ga Punya Pulsa”. A communication advertisment criterion in this research is intended communication and unintended communication. While the television commercial criteria are video, audio, talent, props, setting, lighting, and pacing.The result of this study is every provider have their own strength. AXIS provider has the strength in setting criteria, while TELKOMSEL provider have the strength in audio, talent, and props criteria. Researcher hopes this study can give benefits to the reader and stakeholders related in this study.
KATA PENGANTAR/ UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
dan karuniaNya yang memampukan peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.
Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat
untuk mencapai gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU). Adapun judul penelitian ini
adalah “Iklan pada Provider AXIS dan TELKOMSEL di Televisi”.
Peneliti menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai
pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini, sangatlah sulit
bagi peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, peneliti
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof.Badaruddin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik USU
2. Ibu Fatma Wardi Lubis, MA selaku Ketua Jurusan Departemen Ilmu
Komunikasi USU
3. Ibu Dra.Dayana,M.Si selaku Dosen Pembimbing yang telah
meluangkan waktu dan kesabarannya untuk memberikan pengarahan,
bimbingan, diskusi, serta masukan selama proses penulisan skripsi ini.
4. Kedua orang tua saya: Ayah S.T. Simatupang dan Ibu E.Sibarani yang
telah memberikan dorongan berupa doa dan semangat bagi penulis
dalam proses penyusunan skripsi. Semoga peneliti bisa menjadi satu
kebanggaan tersendiri di hati Ayah dan Ibu tercinta.
5. Kepada kakak dan adik-adik peneliti, Stevanie Theodora Simatupang,
Agustine Maranata Simatupang, Andi Salomo Simatupang, yang
selalu memberikan semangat dan doa.
6. Kepada seluruh Staf Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU yang
telah banyak membantu mengurus administrasi peneliti sejak masa
kuliah. Kak Icut dan Kak Maya.
7. Saudara-saudara kembar peneliti, Herbin Rajagukguk dan Tabita
8. Ibu Clara br.Marpaung atas dukungan moralnya dan materil selama
ini.
9. Keluarga kecil Laboratorium Komunikasi FISIP USU, Ibu Yovita
Sitepu, kak Farida Hanim, dan Kak Puan Masril, serta bang Gede atas
pelajaran, dan dukungan, dan tempat perlindungan.
10. Kak Ilma Tamsil atas pertemanan dan pelajaran berharga yang
diajarkan selama ini.
11. Sarah M.S. atas kesabaran dan dukungan kepada peneliti.
12. Teman-teman seperjuangan Ilmu Komunikasi 07 Romi , Nata,
Inggrid, Firman, Inggit, Angga, Anggi, Iqbal, Ade, Dino. Terima
kasih atas suka dan duka selama ini. Kalian luarbiasa.
13. Sahabat-sahabat (David, Ezra, Zego, Silvia) yang jauh di perantauan
atas semangat dan nasehatnya selama ini.
14. Penemu mie instan yang oleh karenanya peneliti bisa bertahan dikala
malam hari selama penulisan skripsi ini.
15. Kepada teman-teman dan pihak-pihak yang tidak mungkin disebutkan
satu per satu, tapi yakinlah, setiap kebaikan dan keikhlasan, Tuhan
Yang Maha Esa akan membalasnya.
Penulis juga menyadari bahaw skripsi ini masih jauh dari sempurna karena
keterbatasan kemampuan penulis, sehingga penulis mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dalam penulisan ke depan. Akhir kata, peneliti berharap Tuhan
Yang Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah
membantu. Semoga Skripsi ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu.
Medan, 22 Juli 2013
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... iv
ABSTRAK ... v
2.2.1 Perspektif Komunikasi Pemasaran ... 8
2.2.2 Iklan ... 15
2.2.3 Televisi ... 18
2.2.4 Iklan Televisi ... 20
2.2.5 Provider AXIS dan TELKOMSEL ... 21
2.2.5.1 Sejarah Perusahaan ... 21
2.2.5.2 Visi dan Misi Perusahaan ... 24
2.2.5.3 Manajemen Perusahaan ... 24
2.2.5.4 Prestasi Perusahaan ... 28
2.2.5.5 Profil Perusahaan ... 32
2.2.5.6 Struktur Organisasi Perusahaan ... 34
2.3 Model Teoretik ... 36
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 37
3.1 Metode Penelitian ... 37
3.2 Objek Penelitian ... 37
3.3 Kerangka Analisis ... 37
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 37
3.5 Teknik Analisis Data ... 38
3.5.1 Analisis Tabel Tunggal ... 38
3.5.2 Proses Hierarki Analitik ... 38
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 40
4.1 Proses Pengumpulan Data ... 40
4.2 Hasil Penelitian ... 40
4.2.2 Iklan Provider TELKOMSEL Versi “Aku Ga Punya Pulsa” ... 45
4.3 Kriteria Penilaian Elemen-elemen Komunikasi Pemasaran dan Iklan Televisi ... 47
4.3.1 Komunikasi Pemasaran ... 47
4.3.2 Iklan Televisi ... 47
4.4 Analisis Tabel Tunggal ... 49
4.4.1 Provider AXIS ... 49
4.4.2 Provider TELKOMSEL ... 50
4.5 Proses Hierarki Analitik ... 52
4.5.1 Struktur Proses Hierarki Analitik ... 52
4.5.2 Rangking Kriteria ... 54
4.5.2.1 Komunikasi Pemasaran ... 54
4.5.2.2 Iklan Televisi ... 57
4.5.3 Rangking Alternatif ... 60
4.5.3.1 Komunikasi Pemasaran ... 60
4.5.3.2 Iklan Televisi ... 62
4.6 Pembahasan Akhir ... 72
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 76
5.1 Simpulan ... 76
5.2 Saran Penelitian ... 77
5.3 Saran Dalam Kajian Akademis ... 77
5.4 Saran Dalam Kajian Praktis ... 78
DAFTAR PUSTAKA ... xii
DAFTAR TABEL
2.1 Relasi Antara Bauran Pemasaran dan Bauran Komunikasi ... 10
4.2 Analisis Tabel Tunggal TELKOMSEL ... 50
4.3 Skala Perbandingan Tingkat Kepentingan Antar Variabel ... 53
4.4 Perbandingan Antar Kriteria Komunikasi Pemasaran ... 54
4.5 Nilai Random Indeks ... 56
4.6 Perbandingan Antar Kriteria Komunikasi Iklan Televisi ... 57
4.7 Nilai Random Indeks ... 59
4.8 Rangking Alternatif Komunikasi Pemasaran ... 60
4.9 Rangking Alternatif Komunikasi Tertuju ... 61
4.10 Rangking Alternatif Komunikasi Tidak Tertuju... 62
4.11 Rangking Alternatif Iklan Televisi ... 63
4.12 Rangking Alternatif Video ... 63
4.13 Rangking Alternatif Audio ... 64
4.14 Rangking Alternatif Talent ... 65
4.15 Rangking Alternatif Properties ... 67
4.16 Rangking Alternatif Setting ... 68
4.17 Rangking Alternatif Lighting ... 68
4.28 Rangking Alternatif Pacing ... 70
4.19 Rangking Kriteria Komunikasi Pemasaran provider AXIS dan TELKOMSEL ... 71
4.20 Rangking Kriteria Iklan Televisi provider AXIS dan TELKOMSEL ... 71
DAFTAR GAMBAR
2.1 Model Teoretik Penelitian ... 37
4.1 Iklan AXIS : Cerita 1 ... 41
4.2 Iklan AXIS : Cerita 2 ... 42
4.3 Iklan AXIS : Cerita 3 ... 43
4.4 Iklan AXIS : Cerita 4 ... 43
4.5 Iklan AXIS : Cerita 5 ... 44
4.6 Iklan AXIS : Cerita 6 ... 44
4.7 Iklan TELKOMSEL 1 ... 45
4.8 Iklan TELKOMSEL 2 ... 46
4.9 Struktur Proses Hierarki Analitik ... 52
4.10 Rangking Alternatif Komunikasi Pemasaran ... 60
4.11 Rangking Alternatif Komunikasi Tertuju ... 61
4.12 Rangking Alternatif Komunikasi Tidak Tertuju... 62
4.13 Rangking Alternatif Iklan Televisi ... 63
4.14 Rangking Alternatif Video ... 64
4.15 Rangking Alternatif Audio ... 65
4.16 Rangking Alternatif Talent ... 66
4.17 Rangking Alternatif Properties ... 67
4.18 Rangking Alternatif Setting ... 68
4.19 Rangking Alternatif Lighting ... 69
ABSTRAK
Perdana Tua Simatupang. Ilmu Komunikasi. Penelitian ini berjudul “Iklan pada Provider AXIS dan TELKOMSEL di Televisi”. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana komunikasi pemasaran yang dilakukan provider AXIS dan TELKOMSEL melalui iklan televisi. Penelitian ini menggunakan teori komunikasi pemasaran dan iklan televisi . Analisis yang digunakan adalah analisis data tabel tunggal dan proses hierarki analitik (PHA). Objek penelitian ini adalah iklan televisi provider AXIS versi “Group Hug” dan TELKOMSEL versi “Aku Ga Punya Pulsa”. Kriteria komunikasi pemasaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah komunikasi tertuju dan komunikasi tidak tertuju. Sedangkan untuk iklan televisi memiliki elemen: video,audio, talent, props, setting, lighting, dan pacing.Dalam penelitian ini diperoleh hasil bahwa masing-masing provider memiliki keunggulan masing-masing. Untuk provider AXIS memiliki keunggulan pada kriteria setting, sedangkan pada provider TELKOMSEL memilki keunggulan pada kriteria audio, talent dan props. Peneliti berharap penelitian ini dapat memberikan sumbangsih kepada para pembaca dan pihak-pihak terkait dalam penelitian ini.
Kata Kunci : Iklan Televisi AXIS dan TELKOMSEL
Perdana Tua Simatupang. Communication Science. The title of the study is “AXIS and TELKOMSEL provider Television Commercial”. The goal of this study is to see the communication advertisement by AXIS and TELKOMSEL provider through television commercial. This study is using communication advertising theory and television commercial theory. Analysis used is single table data analysis and analytic hierarchy process(AHP). The object of the study is AXIS provider television commercial “Group Hug” version and TELKOMSEL provider television commercial “Aku Ga Punya Pulsa”. A communication advertisment criterion in this research is intended communication and unintended communication. While the television commercial criteria are video, audio, talent, props, setting, lighting, and pacing.The result of this study is every provider have their own strength. AXIS provider has the strength in setting criteria, while TELKOMSEL provider have the strength in audio, talent, and props criteria. Researcher hopes this study can give benefits to the reader and stakeholders related in this study.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Konteks Masalah
Perkembangan teknologi yang semakin pesat seiring perkembangan zaman
memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan,
terutama dalam bidang komunikasi. Komunikasi merupakan suatu proses sosial
yang sangat mendasar dan vital dalam kehidupan manusia. Dikatakan mendasar
karena setiap masyarakat manusia, baik yang primitif maupun yang modern,
berkeinginan mempertahankan suatu persetujuan mengenai berbagai aturan sosial
melalui komunikasi. Dikatakan vital karena setiap individu memiliki kemampuan
untuk berkomunikasi dengan individu–individu lainnya sehingga meningkatkan
kesempatan individu itu untuk tetap hidup (Rakhmat, 1998:1).
Kebutuhan akan komunikasi sudah menjadi kebutuhan yang krusial karena
manusia adalah makhluk sosial yang butuh untuk berinteraksi dan dalam situasi
apa pun akan dihadapkan dengan orang lain. Kehadiran teknologi komunikasi
menjadi jawaban atas sulitnya berkomunikasi dengan orang lain yang berada di
tempat lain. Mulai dari surat, telegraf, radio, telepon, sampai pada internet. Hal ini
membuat jarak tidak lagi menjadi halangan bagi orang untuk berkomunikasi.
Bukan hanya tulisan atau suara, bahkan kita bisa berbicara sambil melihat lawan
bicara seakan mereka berada di dekat kita.
Saat ini, masyarakat bisa berbicara dengan para kerabat tanpa harus
bertatap muka melalui telepon seluler. Telepon seluler atau handphone sebagai
salah satu teknologi komunikasi yang dulu merupakan barang mewah saat ini
sudah menjadi barang yang dimiliki semua kalangan. Hal yang wajar bila kita
melihat pedagang kaki lima, buruh bangunan, atau anak SD sekalipun sudah
memiliki Handphone. Jadi tidak heran apabila perusahaan-perusahaan kartu
seluler atau provider berlomba-lomba untuk merebut hati para pengguna
Handphone. Berbagai cara dilakukan perusahaan tersebut untuk memasarkan
produk mereka. Cara-cara tersebut dinamakan pemasaran. Bagaimana suatu
tepat sasaran dan menarik, menjadi suatu tolak ukur yang penting untuk
peningkatan loyalitas konsumen atau pengguna provider tersebut.
Komunikasi pemasaran adalah salah satu kegiatan pemasaran yang
berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi, dan atau mengingatkan pasar
sasaran atas perusahaan maupun produk agar bersedia menerima, membeli, dan
setia kepada produk yang ditawarkan produsen. Ada banyak bentuk komunikasi
pemasaran yang biasa dilakukan dalam kegiatan pemasaran. Salah satu bentuk
komunikasi pemasaran tersebut akan menjadi teori dasar penelitian ini, yaitu:
Iklan.
Iklan menurut KBBI adalah “berita atau pesan untuk mendorong,
membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan.”
Dari definisi di atas, terdapat beberapa komponen utama dalam sebuah iklan yakni
“mendorong dan membujuk”. Dengan kata lain, sebuah iklan harus memiliki sifat
persuasi. Industri periklanan di Indonesia meningkat pesat setelah munculnya
televisi swasta. Dengan adanya televisi swasta masyarakat bisa menikmati
berbagai tayangan hiburan, informasi, olahraga, kesenian dan sebagainya. Hampir
semua acara televisi swasta padat dengan iklan. Sekali “break” bisa 10 jenis iklan
dimunculkan.
Televisi adalah media massa yang merakyat dengan kemampuan publikasi
yang maksimal sehingga televisi juga disebut sebagai saluran budaya massa.
Ketika televisi menjadi institusi kapitalis yang menjual jasa informasi, maka iklan
televisi komersial adalah bagian produk dalam kategori komersial. Televisi
menggantungkan hidupnya untuk mengait sebanyak-banyaknya sumber dari
periklanan atau acara yang diiklankan. Iklan televisi menjadi bagian utama dalam
semua acara televisi, dia adalah urat nadi televisi (Bungin,2001).
Televisi masih mendominasi pangsa iklan di Indonesia dewasa ini.
Kendati begitu, surat kabar tetap menjadi pilihan pemasang iklan untuk
memasarkan produk mereka, membidik konsumen yang sedang naik kelas.
Belanja iklan di Indonesia pada kuartal I/2011 meningkat tumbuh 20% menjadi
Rp 15,6 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 13,0 triliun.
Setidaknya itulah yang diungkapkan hasil survei The Nielsen Indonesia,
total belanja iklan senilai Rp 59,844 triliun. Data yang dilansir Nielsen itu
merupakan angka gross rate card dengan tidak memperhitungkan diskon, promo,
paket bundling, atau lainnya.(www.tnol.co.id)
Demi mencapai tujuan pemasarannya, provider-provider yang ada
masing-masing memberikan penawaran yang berbeda. Mulai dari perang tarif hingga
perang gratisan. Hal tersebut yang menjadi alasan mengapa ada begitu banyak
iklan provider yang saling menyindir.
Pada skripsi ini, peneliti akan menggambarkan dan membandingkan iklan
dari dua provider yang berbeda yaitu AXIS dan TELKOMSEL. Peneliti memilih
provider AXIS dan TELKOMSEL karena sama-sama memiliki iklan-iklan yang
kreatif tetapi kedua provider ini muncul pada masa yang berbeda. Provider
TELKOMSEL lebih dulu ada dan merajai pasar sebelum provider AXIS ikut
meramaikan persaingan.
Kita tahu bahwa TELKOMSEL merupakan provider pertama yang muncul
di Indonesia pada tahun 1995. TELKOMSEL merupakan salah satu operator
telekomunikasi seluler GSM di Indonesia yang pernah meluncurkan layanan
paskabayar pertamanya sekitar tanggal 26 Mei 1995. Pada saat itu kepemilikan
saham TELKOMSEL dikuasai oleh PT. Telkom (51%) dan PT. Indosat (49%),
dan TELKOMSEL pernah berhasil menjadi sebuah operator seluler pertama yang
menawarkan layanan prabayar GSM di Asia pada November 1997. Sepanjang
sejarah TELKOMSEL, operator ini memiliki tiga produk GSM, yaitu simPATI
(prabayar), KartuAS (prabayar) dan kartuHALO (paskabayar). Saat ini saham
TELKOMSEL dimiliki oleh TELKOM (65%) dan perusahaan telekomunikasi
Singapura SingTel (35%). Telkom merupakan BUMN Indonesia yang mayoritas
sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia, sedangkan SingTel
merupakan perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Pemerintah
Singapura. Slogan yang dimiliki oleh PT.TELKOMSEL adalah “Begitu Dekat
Begitu Nyata”. Dengan slogan ini pula diharapkan dapat menjadikan
TELKOMSEL sebagai perusahaan jasa telekomunikasi bergerak yang paling
banyak jumlah pelanggannya serta selalu mengutamakan kualitas dan
ketersediaan kapasitas jaringan terluas dalam menyediakan jasa pelayanan yang
AXIS hadir sebagai salah satu jaringan operator seluler baru dengan slogan “GSM
YANG BAIK”. AXIS adalah satu-satunya operator seluler yang memiliki
hubungan dengan STC, operator terbesar di Arab Saudi, yang memberi
kenyamanan maksimal konsumennya pada saat menjalankan ibadah Haji maupun
Umrah. AXIS sendiri didukung oleh Saudi Telecom Company, penyedia layanan
telekomunikasi nasional Arab Saudi, dan MAXIS Communications Berhad,
penyedia layanan telekomunikasi terbesar di Malaysia. Sepanjang tahun 2011
AXIS telah banyak mendapatkan penghargaan dari organisasi nasional dan
internasional. Penghargaan tersebut antara lain Best Marketing Program dan Best
Mobile Data Service for GSM pada Selular Award 2011, Best Growth Story of
The Year di TMT Finance and Investments Middle East 2011 Conference, 2011
Frost & Sullivan Indonesia Excellence Award sebagai Most Promising Mobile
Provider of The Year. (www.axisworld.co.id)
Kedua provider ini sudah menampilkan banyak iklan-iklan yang berhasil
menarik perhatian pemirsa televisi. Contohnya iklan AXIS versi “Joni edisi
lebaran” dan iklan TELKOMSEL versi “Aku Ga Punya Pulsa” . Peneliti akan
menyajikan beberapa iklan baik dari TELKOMSEL maupun AXIS untuk
menggambarkan komunikasi pemasarannya. Iklan-iklan yang dibahas adalah iklan
yang dipublikasikan pada bulan Maret 2012, ini mengingat begitu banyaknya
iklan dari kedua provider maka untuk hasil yang maksimal, peneliti akan memilih
beberapa iklan saja untuk diteliti.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti
komunikasi pemasaran pada provider AXIS sebagai pendatang baru dalam bisnis
kartu seluler dan provider TELKOMSEL yang sudah berkecimpung sangat lama
dalam bisnis ini.
1.2. Fokus Masalah
Persaingan para pengusaha provider kartu seluler melalui media cetak,
maupun media elektronik merupakan hal yang wajar dalam dunia bisnis. Saat ini
bahkan dapat kita lihat antar provider terjadi sikut-menyikut dengan
menggunakan iklan. Persaingan ini terlihat jelas di layar kaca televisi, yaitu lewat
memasarkan produk atau jasa merupakan bagian dari strategi komunikasi
pemasaran. Hal ini memicu ketertarikan dari penulis untuk menjadikannya sebuah
penelitian.
“Bagaimanakah komunikasi pemasaran iklan pada provider AXIS dan
TELKOMSEL di televisi?”
Agar ruang lingkup penelitian tidak terlalu luas dan permasalahan yang
diteliti menjadi jelas, terarah dan lebih spesifik, maka diperlukan adanya
pembatasan masalah. Adapun yang menjadi pembatasan masalah dalam penelitian
ini adalah :
1. Penelitian ini adalah studi deskriptif komparatif, yaitu melihat
perbandingan secara deskriptif. Dikatakan deskriptif karena hanya
menggambarkan situasi atau peristiwa. Tidak menjelaskan hubungan, tidak
menguji hipotesis atau membuat prediksi.
2. Objek penelitian adalah iklan provider AXIS versi “Group Hug” dan
provider TELKOMSEL versi “Aku Ga Punya Pulsa” di televisi yang
ditayangkan pada bulan Maret 2012.
3. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2012 sampai Juli 2013.
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana komunikasi pemasaran iklan provider
AXIS di televisi.
2. Untuk mengetahui bagaimana komunikasi pemasaran iklan provider
TELKOMSEL di televisi.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
untuk memperkaya sumber bacaan, referensi dan bahan penelitian di
lingkungan Ilmu Komunikasi FISIP USU.
2. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan
peneliti khususnya tentang komunikasi pemasaran pada provider AXIS
3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Paradigma Kajian
Paradigma bukanlah teori-teori, namun lebih merupakan cara berfikir atau
pola-pola untuk penelitian yang diperluas dan dapat menuju pembentukan suatu
teori. Jadi, paradigma merupakan keseluruhan susunan kepercayaan dan asumsi
yang dipegang bersama yang dipakai oleh peneliti dalam memandang fokus
masalah penelitiannya.
Penelitian pada hakikatnya merupakan wahana untuk menemukan
kebenaran atau untuk lebih mudah membenarkan kebenaran. Usaha untuk
mengejar kebenaran dilakukan oleh para filsuf, peneliti maupun para praktisi
melalui model-model tertentu. Model-model tersebut biasanya disebut dengan
paradigma. Paradigma merupakan model atau pola tentang bagaimana sesuatu
distruktur (bagian dan hubungannya) atau bagaimana bagian-bagian berfungsi.
Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma
konstruktivis dan menggunakan pendekatan kualitatif. Paradigma konstruktivis ini
dipakai pada penelitian kualitatif, karena dalam penelitian ini peneliti berusaha
melihat, menggambarkan, dan pada akhirnya memperbandingkan bagaimana
penyajian iklan oleh provider AXIS dan TELKOMSEL di televisi dari perspektif
komunikasi pemasaran.
Dari paradigma konstruktivis yang mengarah pada skema interpretif dapat
dikaji perbandingan komunikasi pemasaran iklan provider AXIS dan
TELKOMSEL peneliti dapat melihat bagaimana masing-masing provider
memasarkan produk mereka untuk mempengaruhi interpretif dari pelanggan,
disamping itu dalam melakukan penelitian ini peneliti juga mengidentifikasikan,
menggambarkan dan membandingkan komunikasi pemasaran iklan kedua
2.2. Kajian Pustaka
2.2.1. Perspektif Komunikasi Pemasaran
Sejarah Komunikasi Pemasaran
Sejarah menunjukkan, bahwa Butler dari University of Chicago adalah
orang yang pertama mengadopsi konsep pemasaran dari riset-riset penjualan pada
tahun 1906. Beliau mengambil istilah-istilah tersebut dari kajian ilmu ekonomi
dari pemikiran teoritik Ricardo dan Adam Smith. Pada perkembangannya
semenjak tahun 1949, pemasaran (marketing) dianggap lebih luas, tidak hanya
menyangkut unsur-unsur penjualan saja, maka kemudian mulailah masuk berbagai
unsur didalamnya. Kemudian Borden pada tahun 1964 memperkenalkan konsep
barunya tentang marketing mix. Setelah itu, kajian komunikasi pemasaran sudah
dipastikan dikenal banyak orang, setelah terdapat pengembangan dan
penemuan-penemuan, baru diketahui bahwa komunikasi pemasaran itu bersifat
multidisipliner (Prisgunanto, 2006:28).
Pada pertengahan abad ke-18, seorang pelaku pasar (marketer) bernama
Josiah Wedgwood membangun program perluasan promosi penjualan dengan
mengirimkan semacam hadiah-hadiah pada acara makan malam ala Cina kepada
raja-raja Eropa. Kegiatan ini akhirnya menjadi kegiatan rutin dan gaya sajian
tradisi istana yang diikuti oleh kalangan bangsawan dan kerabat istana waktu itu
(Prisgunanto, 2006:29).
Komunikasi pemasaran berkembang pada masa Romawi karena pada waktu
itu masyarakat disana sudah memiliki kesadaran bahwa berkomunikasi yang baik
itu adalah jangkauannya luas dan mengutamakan efektivitas daripada hanya lewat
orang perorangan atau individu. Selain itu, pada masa Romawi sudah mengetahui
bahwa bila orang tidak tahu akan produk , maka tidak akan ada maksud atau
perhatian utuk membeli. Sebaliknya, jika mereka tidak ada maksud untuk
membeli, pertukaran (jual beli) tidak akan berlangsung dan aktivitas ekonomi
akan berhenti. Pada perkembangan berikutnya, komunikasi pemasaran bukan saja
dihubungkan dalam penggunaan media, melainkan mencakup peningkatan
Pengertian Komunikasi Pemasaran.
Komunikasi pemasaran merupakan aspek penting dalam keseluruhan misi
pemasaran serta penentu suksesnya pemasaran. Komunikasi dan pemasaran
merupakan hal yang tidak terpisahkan.
Kotler (2001) mendefinisikan pemasaran sebagai suatu proses perencanaan
dan menjalankan konsep, harga, promosi, serta diatribusi sejumlah barang dan
jasa, untuk menciptakan pertukaran yang mampu memuaskan tujuan individu dan
organisasi (Rangkuti, 2009: 18).
Menurut Sutisna dalam buku Amir Purba, dkk (2006: 126-127) menyatakan
komunikasi pemasaran merupakan usaha untuk meyampaikan pesan kepada
publik terutama konsumen sasaran mengenai perbedaaan produk di pasar.
Kegiatan komunikasi pemasaran merupakan rangkaian kegiatan untuk
mewujudkan suatu produk, jasa, ide, dengan menggunakan bauran pemasaran
(marketing mix) yaitu iklan (advertising), penjualan tatap muka (personal selling),
promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat dan publisitas (public
relation and publicity) serta pemasaran langsung (direct marketing).
Kotler menyebutkan bahwa marketing mix terdiri dari produk, harga,
promosi, dan distribusi (product, price, promotion, dan place). Atau yang biasa
dikenal dengan istilah ‘Four of P’s’. Dalam konsep komunikasi, product
dihubungkan dengan solusi pelanggan (customer cost), price dihubungkan dengan
biaya pelanggan (customer cost), place dihubungkan dengan kenyamanan
(convenience), sedangkan promotion dihubungkan dengan sebuah komunikasi
(communication). Empat konsep ini sering diistilahkan dengan bauran komunikasi
(communication mix) ‘Four C’s (Soemangara, 2006: 3 ).
Bauran komunikasi pemasaran (marketing communication mix) merupakan
penggabungan dari lima model komunikasi dalam pemasaran, yaitu: advertising,
sales promotion, public relations, personal selling, dan direct marketing.
Demikian pula halnya dengan event dan exhibition. Keduanya merupakan bagian
dari marketing communication mix yang dikembangkan oleh bagian sales
promotion. Komunikasi yang digunakan dalam kegiatan sales promotion
membutuhkan media promosi seperti flier, banner, poster, catalogue dan
dibutuhkan khususnya dalam penawaran suatu produk kepada konsumen secara
tatap muka (Soemanagara, 2006: 1).
Hubungan antara pemasaran dengan komunikasi merupakan hubungan yang
erat. Komunikasi merupakan proses pengoperan lambang-lambang yang diartikan
sama antara individu kepada individu, individu kepada kelompok, kelompok
kepada kelompok dan kelompok kepada massa. Komunikasi dalam pemasaran
bersifat kompleks. Bentuk komunikasi yang lebih rumit mendorong penyampaian
pesan oleh komunikator kepada komunikan dilakukan melalui sejumlah strategi
komunikasi yang canggih, setelah melewati perencanaan yang matang
(Soemanangara, 2006: 3).
Tabel 2.1
Relasi Antara Bauran Pemasaran dan Bauran Komunikasi
Four of P’s Four of C’s
Product Customer Solutions
Price Costumer Cost
Place Convinience
Promotion Communications
Penggabungan dari dua kajian : pemasaran dan komunikasi menghasilkan
kajian “baru” yang diberi nama komunikasi pemasaran (marketing
communication). Komunikasi pemasaran adalah kegiatan pemasaran dengan
menggunakan teknik-teknik komunikasi yang ditujukan untuk memberikan
informasi kepada orang banyak dengan harapan agar tujuan perusahaan tercapai,
yaitu terjadinya peningkatan pendapatan (laba). Komunikasi pemasaran
merupakan bentuk komunikasi yang ditujukan untuk memperkuat strategi
pemasaran guna meraih segmentasi luas (Soemanagara, 2006: 4-5 ).
Kebanyakan orang mungkin menempatkan komunikasi pemasaran berada di
bawah periklanan dan promosi, namun pada perkembangannya saat ini,
komunikasi pemasaran muncul sebagai suatu bentuk komunikasi yang lebih
kompleks dan berbeda. Pada akhirnya, banyak akademisi dan praktisi
mix yang melibatkan komunikasi antar organisasi dan target khalayak pada segala
bentuknya yang ditujukan untuk performance pemasaran (Prisgunanto, 2006: 8).
Tujuan Komunikasi Pemasaran
Marketing communication atau komunikasi pemasaran bertujuan untuk
mencapai tiga tahap perubahan yang ditujukan bagi konsumen. Tahapan pertama
yang ingin dicapai dari strategi marketing communication adalah tahap perubahan
pengetahuan. Dalam perubahan ini, konsumen mengetahui keberadaan sebuah
produk, untuk apa produk diciptakan, dan ditujukan pada siapa. Dengan demikian,
pesan yang disampaikan menunjukkan informasi penting dari produk itu. Tahap
kedua adalah tahapan perubahan sikap, yang ditentukan oleh tiga unsur oleh
Schiffman dan Kanuk (1994: 242) disebut sebagai tricomponent attitude change
yang menunjukkan bahwa tahap perubahan sikap ditentukan oleh tiga komponen
yaitu cognition (pengetahuan), affection (perasaan), dan conation (perilaku). Jika
ketiga komponen ini menunjukkan adanya kecenderungan perubahan (cognition,
affection, dan conation) maka akan mungkin sekali akan terjadi perubahan sikap
berupa keinginan mencoba produk. Pada tahap yang ketiga, yaitu tahap
perubahan, dimaksudkan agar konsumen tidak beralih pada produk lain, dan
terbiasa menggunakannya atau yang biasa disebut dengan loyalitas pelanggan
(Soemanagara, 2006: 63)
Sifat Dasar komunikasi Pemasaran
Satu hal yang harus dipahami adalah bagimana komunikasi pemasaran itu
bekerja dan adakah sifat dasar serta karakteristik yang dibawanya. Pemahaman
kepada keunikan-keunikan dan karakteristik komunikasi adalah awal dari dasar
keberhasilan komunikasi pemasaran itu sendiri. Pada kenyataanya, banyak
perusahaan dan institusi yang mengabaikan atau menyepelekan aspek-aspek yang
mendasar ini. Alhasil, tanpa disadari, malah komunikasi pemasaran yang mereka
lakukan menyimpang dan menimbulkan efek-efek negatif yang bertentangan
dengan yang diinginkan. Hal yang menjadi inti permasalahan komunikasi
pemasaran disini adalah sesuatu yang klasik, yakni disinterpretasi dan
tersebut. Tetap saja disini masalah penyimpangan pemahaman pesan oleh
komunikator tidak sesuai dengan komunikan. Kondisi inilah yang perlu dihindari
oleh mereka yang melakukan aktivitas komunikasi. Oleh sebab itu, diperlukan
strategi dan taktik yang matang dalam efektivitas dan efisiensi sebuah komunikasi
pemasaran (Prisgunanto, 2006: 13).
Satu hal lagi yang perlu ditekankan dalam melihat sifat dari komunikasi
pemasaran disini, yaitu komunikasi pemasaran bukanlah suatu proses sistem yang
berjalan satu arah, tetapi dua arah. Misalnya sebuah perusahaan melakukan
aktivitas strategi pemasaran dengan pemasangan iklan. Di sini, perusahaan sudah
berusaha memberikan informasi kepada pelanggan dalam keperluan untuk
mendapatkan masukan akan produk mereka. Masukan dari pelanggan, baik secara
langsung ataupun tidak, akan sangat berarti dan berguna bagi perusahaan untuk
meningkatkan kualitas produk yang mereka miliki (Prisgunanto, 2006: 14).
Ada dua sifat dasar dari komunikasi pemasaran, yaitu komunikasi tertuju
(intended) dan tidak tertuju (unintended). Orang dalam berkomunikasi pada
umumnya ingin agar pesan yang disampaikan kepada orang yang tertuju atau
dimaksudkan diterima dan dipahami sepenuhnya. Disini, pesan (message)
diartikan tidak asal diterima saja, tetapi memiliki interpretasi dengan maksud yang
sama dengan apa yang diinginkan atau disampaikan komunikator. Bentuk
komunikasi semacam ini adalah model paling ideal yang memang diinginkan
dalam proses komunikasi pemasaran. Hal ini tentu sesuai dengan pendapat
Shannon bahwa komunikasi harus tidak ada penyimpangan (noise) sehingga akan
membuat kesalahan interpretasi dan pemahaman. Dalam komunikasi pemasaran,
masalah intentional dan unintentional menjadi dasar dari berhasil tidaknya pesan
sampai ke khalayak. Hal yang sering terjadi adalah munculnya disinterpretasi
pesan oleh komunikan karena pesan tidak tertuju dan pihak tertuju tidak tepat.
Semua ini bisa terjadi, berangkat dari ketidakmengertian akan strategi dan taktik
si komunikator dalam berkomunikasi. Hasilnya, komunikasi dianggap sebagai
seseuatu yang rutin saja, padahal komunikasi tersebut perlu distrategikan agar
dapat berjalan efektif dan seefisien mungkin (Prisgunanto, 2006: 14-15).
Inti dari dua sifat pemasaran di atas yaitu bila pesan unintended dan
dipercaya. Dan bila pesan unintended tidak konsisten diberikan atau kontradiktif
dengan pesan intended, maka kredibilitas akan berkurang dan pesan tidak akan
dipercaya (Prisgunanto, 2006: 17).
Komunikasi pemasaran tertuju (intentional) memang dimaksudkan diterima
oleh pelanggan tertuju dinamakan komunikasi sentripetal. Komunikasi sentripetal
didefinisikan bila segala usaha komunikasi dilakukan untuk perbaikan dan
dikoordinasikan agar memberikan citra baik dan tetap dipasaran, lebih fokus pada
tujuan dan maksud yang khusus dengan khalayak sasaran yang khusus juga.
Proses yang demikianlah dapat didefinisikan dengan komunikasi sentripetal.
Komunikasi pemasaran sentripetal akan lebih berfokus untuk menggunakan
komunikasi pesan dari pelanggan guna memperbesar konsistensi antar pesan yang
dimaksud (intentional). Bila berkaitan dengan komunikasi pemasaran yang tidak
tertuju dengan pelanggan atau komunikan yang tidak tertuju, maka juga akan
dikaitkan dengan komunikasi sentripugal. Komunikasi pemasaran sentripugal
didefinisikan bila pesan yang terkirim unintentional dan kontradiktif dengan apa
yang dimaksudkan perusahaan di pasar. Kontradiksi ini bila tidak dijaga, lambat
laun akan menghancurkan kredibilitas produk perusahaan di pasar (Prisgunanto,
2006: 18).
Intinya, bila atribusi pesan intended dengan strategi kreatif konsisten, maka
komunikasi pemasaran akan diterima dan dipercaya. Sebaliknya, bila atribusi
negatif, pesan unintended dan kontradiktif, maka kredibilitas dan perusahaan akan
rusak dan bisnis (pemasaran) perusahaan tidak akan dipercaya (Prisgunanto, 2006:
20).
Kegunaan Komunikasi Pemasaran
Komunikasi pemasaran memiliki dua kegunaan, yaitu langsung dan tidak
langsung, namun inti dari kegunaanya tersebut sama, yaitu untuk mendekatkan
pelanggan sehingga akan ada keputusan untuk membeli, meski masih dalam
rencana jangka panjang. Memang sedemikianlah kegunaan klasik dan dasar dari
komunikasi pemasaran, begitu mudah dan sedehana, tetapi pada kenyataanya sulit
Di samping hal tersebut di atas, ada juga kegunaan lain yang dikategorikan
tidak langsung dalam komunikasi pemasaran. Tujuan-tujuan ini sebenarnya
menyangkut dalam upaya menjaga hubungan dengan pelanggan. Pola pemasaran
tidak langsung erat dan dekat dengan kerja public relations, yang pada
perkembangan selanjutnya akan memunculkan kajian-kajian baru dalam
perpaduan ilmu pemasaran dengan public relations, yakni public relations.
Adapun keguanaan komunikasi pemasaran akan dijelaskan sebagai berikut
dibawah ini (Prisgunanto, 2006 : 59-60) :
1. Kegunaan Langsung (Direct Benefit)
Komunikasi pemasaran memiliki kegunaan agar dari hasil transfer
pesan dan persuasi tersebut tercipta gambaran yang mengarah kepada
hasrat atau keinginan beli atau menggunakan produk dan jasa yang
ditawarkan. Artinya, upaya mengarahkan langsung kepada keputusan
untuk membeli adalah dasar pemikiran dari kegunaan pemasaran.
Memang pandangan ini masih kuno dan klasik sekali, tetapi demikianlah
pada kenyataanya, walu dimodifikasi seperti apa pun juga, akan
bermuara sedemikian.
2. Kegunaan Tidak Langsung (Indirect Benefit)
Dalam kegunaan tidak langsung, melakukan komunikasi
pemasaran merupakan keinginan untuk mendapatkan suatu tambahan
yang dapat dicapai oleh perusahaan, selain mengarahkan sikap
pembelian. Jadi, jelas bahwa alasan perusahaan merancang strategi
pemasaran tidak hanya ‘melulu’ karena perubahan sikap beli pelanggan,
tetapi juga membina hubungan antara pelanggan dengan perusahaan atau
dengan kata lain, perusahaan berupaya menggunakan nilai apa saja yang
membuat pelanggan memilih produk mereka dari sisi hubungan
2.2.2. Iklan
Pengertian Iklan
Iklan adalah salah satu komponen marketing mix yang umum dilakukan oleh
perusahaan. Iklan adalah setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk
memotivasi seseorang pembeli potensial dan mempromosikan penjual suatu
produk atau jasa, untuk mempengaruhi pendapat publik, memenangkan dukungan
publik untuk berpikir atau bertindak sesuai dengan keinginan si pemasang iklan.
Selain itu, semua iklan dibuat dengan tujuan yang sama yaitu untuk memberi
informasi dan membujuk para konsumen untuk mencoba atau mengikuti apa yang
ada di iklan tersebut, dapat berupa aktivitas mengkonsumsi produk dan jasa yang
ditawarkan.
Menurut Suyanto (2005:3) periklanan merupakan penggunaan media
bayaran oleh seorang penjual untuk mengkomunikasikan informasi persuasive
tentang produk (ide, barang, jasa) ataupun organisasi sebagai alat promosi yang
kuat. Iklan mempunyai berbagai macam bentuk (industri, konsumen, merek,
produk, lokal dan sebagainya) yang dirancang untuk mencapai berbagai macam
tujuan (penjualan seketika, pengenalan merek, preferensi dan sebagainya).
Wright mengemukakan bahwa iklan merupakan suatu proses komunikasi
yang mempunyai kekuatan sangat penting sebagai alat pemesaran yang membantu
menjual barang, memberikan pelayanan serta gagasan atau ide-ide melalui saluran
tertentu dalam bentuk informasi yang persuasif (Liliweri, 2001: 20).
Definisi iklan menurut AMA (The American Marketing Association),
bahwa iklan adalah “setiap bentuk pembayaran terhadap suatu proses
penyampaian dan perkenalan ide-ide, gagasan layanan yang bersifat non personal
atas tanggungan sponsor tertentu” (Liliweri, 2001: 21).
Baik definisi Wright maupun AMA iklan tetap dipandang dari dua sisi, alat
marketing dan komunikasi. Pengertian iklan dipandang sebagai alat pemasaran
adalah (Liliweri, 2001: 21):
1. Bentuk pembayaran
2. Penyampaian bersifat non personal
4. Dibiayai oleh sponsor
Pengertian iklan dipandang sebagai komunikasi adalah (Liliweri, 2001: 23):
1. Informasi dan persuasi
2. Informasi dikontrol
3. Teridentifikasinya informasi
4. Media komunikasi massa
Fungsi Iklan
Iklan sebagai teknik penyampaian pesan dalam bidang bisnis yang sifatnya
non personal secara teoritik melaksanakan fungsi-fungsi seperti yang dimuat di
media massa lainnya (Liliweri, 2001: 47).
a. Fungsi Pemasaran
Fungsi pemasaran adalah fungsi untuk memenuhi permintaan para pemakai
ataupun pembeli terhadap barang-barang ataupun jasa serta gagasan yang
diperlukannya.
b. Fungsi Komunikasi
Fungsi komunikasi adalah semua bentuk iklan memang
mengkomunikasikan melalui media berbagai pesan dari komunikator kepada
komunikan yang terdiri atas sekelompok orang yang menjadi khalayaknya.
Sebagai fungsi komunikasi, iklan berisi cerita mengenai suatu produk sehingga
harus memenuhi syarat-syarat pemberitaan.
c. Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan merupakan sebagian fungsi komunikasi. Secara khusus
sebenarnya dalam setiap ulasan efek komunikasi maka efek pendidikan lebih
diutamakan. Hal ini disebabkan karena semua orang ingin menghindari
terbentuknya suatu sikap yang negatif. Dalam periklanan hal ini demikian sangat
diperhatikan dan melalui fungsi pendidikan untuk membentuk sikap setiap orang
aspek psikomotor. Fungsi pendidikan dalam komunikasi harus memberikan
pilihan yang bebas dari khalayak untuk mengambil keputusan.
d. Fungsi Ekonomi
Iklan mengakibatkan orang semakin tahu tentang produk-produk tertentu,
bentuk pelayanan jasa, maupun kebutuhan serta memperluas ide-ide yang
mendatangkan keuntungan finansial.
e. Fungsi Sosial
Iklan juga mempunyai fungsi sosial membantu menggerakkan suatu
perubahan standar hidup yang ditentukan oleh kebutuhan manusia di seluruh
dunia. Misalnya melalui iklan dapat digerakkan bantuan keuangan, bahan-bahan
makanan. Melalui publikasi iklan mampu menggugah pandangan orang tentang
suatu peristiwa, kemudian meningkatkan sikap, afeksi yang positif dan diikuti
tindakan pelaksanaan nyata atau tindakan sosial.
Jenis Iklan
Menurut Bittner dalam bukunya Mass Communication an Introduction,
secara umum iklan terdiri dari dua jenis, yaitu (Liliweri, 2001: 31-32):
1. Iklan Standar (Komersil)
Iklan standar adalah iklan yang ditata secara khusus untuk keperluan
mengenal barang, jasa pelayanan untuk konsumen melalui sebuah media. Tujuan
iklan standar adalah merangsang motif dan minat para pembeli atau para pemakai.
2. Iklan Layanan Masyarakat
Iklan layanan masyarakat adalah iklan yang bersifat non profit, jadi iklan ini
tidak mencari keuntungan akibat pemasangannya kepada khalayak. Hal ini
berbeda dengan iklan standar yang mengharapkan dari pemasangan iklannya
mendapat keuntungan atas penjualan barang produksinya. Umumnya iklan
layanan masyarakat bertujuan memberikan informasi dan penerangan serta
pendidikan kepada masyarakat dalam rangka pelayanan mengajak masyarakat
Jenis-jenis Media Iklan
Adapun jenis-jenis media iklan adalah sebagai berikut:
1. Iklan media cetak: surat kabar, majalah, jurnal, tabloid dan lain-lain
2. Iklan media elektronik: televisi, radio (jingle dan sound) dan lain-lain
3. Iklan media online: internet
4. Poster, papan reklame dan media ruang lainnya
5. Brosur, booklet, catalog dan lain-lain
6. Surat penawaran melalui direct mail
7. Pemberian sponsor dengan penekanan pada tujuan pemasaran dan periklanan
8. Bentuk-bentuk iklan khusus, seperti tas belanja, balon udara dan lain-lain
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis iklan media elektronik
televisi yaitu iklan televisi kartu seluler AXIS dan TELKOMSEL.
2.2.3. Televisi
Televisi merupakan media komunikasi yang menyediakan berbagai
informasi yang update, dan menyebarkannya kepada khalayak umum. Dalam
Baksin (2006: 16) mendefinisikan bahwa: “Televisi merupakan hasil produk
teknologi tinggi (hi-tech) yang menyampaikan isi pesan dalam bentuk audiovisual
gerak. Isi pesan audiovisual gerak memiliki kekuatan yang sangat tinggi untuk
mempengaruhi mental, pola pikir, dan tindak individu”.
Menurut ensiklopedia Indonesia dalam Parwadi (2004: 28) lebih luas lagi
dinyatakan bahwa: “Televisi adalah sistem pengambilan gambar, penyampaian,
dan penyuguhan kembali gambar melalui tenaga listrik. Gambar tersebut
ditangkap dengan kamera televisi, diubah menjadi sinyal listrik, dan dikirim
langsung lewat kabel listrik kepada pesawat penerima”.
Berdasarkan kedua pendapat di atas menjelaskan bahwa televisi adalah
sistem elektronis yang menyampaikan suatu isi pesan dalam bentuk audiovisual
gerak dan merupakan sistem pengambilan gambar, penyampaian, dan penyuguhan
kembali gambar melalui tenaga listrik. Dengan demikian, televisi sangat berperan
yang audiovisual merupakan media yang dianggap paling efektif dalam
menyebarkan nilai-nilai yang konsumtif dan permisif.
Stasiun televisi merupakan lembaga penyiaran atau tempat berkerja yang
melibatkan banyak orang, dan yang mempunyai kemampuan atau keahlian dalam
bidang penyiaran yang berupaya menghasilkan siaran atau karya yang baik.
Dalam Morissan (2004: 9) dinyatakan bahwa: Stasiun Televisi adalah
tempat kerja yang sangat kompleks yang melibatkan banyak orang dengan
berbagai jenis keahlian. Juru kamera, editor gambar, reporter, ahli grafis, dan staf
operasional lainnya harus saling berintraksi dan berkomunikasi dalam upaya
untuk menghasilkan siaran yang sebaik mungkin
Dari penjelasan di atas maka dapat diuraikan bahwa televisi sangat
berpengaruh terhadap stasiun, karena stasiun merupakan suatu tempat atau kantor
yang mengupayakan untuk menghasilkan siaran yang sebaik mungkin, dengan
demikian melibatkan banyak orang dalam pengelolaan berita atau informasi yang
akan di publikasikan.
Umumnya siaran bertujuan untuk memberi informasi yang dapat dinikmati
dan dapat diterima dikalangan masyarakat, menurut Morissan (2004: 2) bahwa:
“Siaran televisi merupakan pemancaran sinyal listrik yang membawa muatan
gambar proyeksi yang terbentuk melalui pendekatan sistem lensa dan suara”.
Sedangkan Sumadiria (2005: 5) menyatakan bahwa: Siaran televisi adalah
merupakan gabungan dari segi verbal, visual, teknologial, dan dimensi dramatikal.
Verbal, berhubungan dengan kata-kata yang disusun secara singkat, padat, efektif.
Visual lebih banyak menekankan pada bahasa gambar yang tajam, jelas, hidup,
memikat. Teknologikal, berkaitan dengan daya jangkau siaran, kualitas suara,
kualitas suara dan gambar yang dihasilkan serta diterima oleh pesawat televisi
penerima di rumah-rumah. Dramatikal berarti bersinggungan dengan aspek serta
nilai dramatikal yang dihasilkan oleh rangkaian gambar yang dihasilkan secara
simultan.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat didefinisikan bahwa siaran televisi
adalah suatu pemancar yang diproyeksikan melalui pendekatan sistem lensa,
suara, dan menghasilkan gambar yang bergerak dan berisikan suatu informasi
2.2.4. Iklan Televisi
Menurut Gilson & Berkman (1980), Iklan merupakan media komunikasi
persuasif yang dirancang untuk menghasilkan respon dan membantu tercapainya
objektifitas atau tujuan pemasaran.
Secara garis besar terdapat 2 jenis iklan, yaitu iklan standar atau biasa juga
disebut iklan komersil dan iklan layanan masyarakat. Iklan standar adalah iklan
yang ditata secara khusus untuk memperkenalkan barang maupun jasa untuk
konsumen melalui media. Tujuan iklan ini adalah merangsang minat dan motif
para pembeli.
Iklan layanan masyarakat adalah jenis iklan yang bersifat non profit.
Umumnya iklan layanan masyarakat bertujuan memberikan informasi atau
penerangan serta pendidikan kepada masyarakat dalam rangka pelayanan dengan
mengajak masyarakat untuk berpartisipasi serta bersikap positif terhadap iklan
yang ditayangkan.
Televisi merupakan media yang sangat efektif untuk berkomunikasi secara
realis. Bahkan televisi adalah media yang menyajikan fakta secara hiperrealis,
sudut pandangnya adalah fakta audio dan visual ataupun yang bersifat simulasi
disajikan lewat gelombang elektromagnetis yang melewati ruang dan waktu
melebihi apa yang mampu diperkirakan manusia. Jika menilik karakter media
yang luar biasa tersebut, maka upaya manusia untuk berkomunikasi dengan lebih
efektif serta efisien akan semakin terbuka lebar. Dalam bisnis periklanan hal ini
dapat memungkinkan untuk membidik pangsa pasar atau target audience secara
luas dengan segmentasi yang lebih heterogen. Satu keuntungan bagi para pemilik
modal dalam menggunakan televisi sebagai media siarnya, adalah bagaimanapun
juga televisi bukan lagi barang lux, dan sudah sedemikian merakyat di penjuru
tanah air, sehingga besar kemungkinan arus informasi yang disiarkan akan dilihat
oleh masyarakat luas.
Berikut ini adalah elemen-elemen yang harus ada di dalam iklan televisi
(Wells, et al, 1992: 459-460) :
• Audio, merupakan keseluruhan unsur audio yang ditampilkan pada iklan
televisi yang biasanya berupa musik, suara, efek suara, ataupun yang berupa
voice over dari talent yang tampil di iklan ataupun dari narator yang tidak
kelihatan.
• Talent, merupakan pameran ataupun tokoh-tokoh yang muncul pada sebuah
iklan televisi.
• Props, merupakan produk yang diiklankan pada iklan televisi.
• Setting, merupakan lokasi pembuatan suatu iklan televisi, baik di dalam studio ataupun di luar studio.
• Lighting, merupakan efek pencahayaan yang ditampilkan dalam iklan
televisi yang digunakan sebagai pelengkap iklan ataupun mempertegas suatu
adegan yang muncul dalam iklan televisi.
• Pacing, merupakan kecepatan dari setiap frame ataupun adegan yang
ditampilkan dalam sebuah iklan televisi.
2.2.5 Provider AXIS dan TELKOMSEL
2.2.5.1 Sejarah Perusahaan
a. Provider AXIS
Perjalanan Provider AXIS dimulai dari Februari 2008, Axis meluncurkan
layanannya secara komersial di Jawa Timur. Lalu dilanjutkan dengan peluncuran
di Jawa Barat serta Grand Launch Jabodetabek pada bulan Maret dan April di
tahun yang sama. Kemudian pada bulan Juni 2011, perubahan nama perusahaan
secara resmi menjadi PT AXIS Telekom Indonesia (AXIS). Perusahaan ini
memperkenalkan pendekatan yang berbeda pada penawarannya melalui produk
dan layanan yang sederhana, mudah dipahami dan tarif yang transparan. AXIS
juga menantang norma pasar dengan menghadirkan penawaran yang jujur tanpa
syarat dan ketentuan tersembunyi.
AXIS adalah operator GSM nasional dengan pertumbuhan tercepat di
Indonesia. Perusahaan ini menyediakan layanan 2G, 3G, dan BlackBerry®
secara nasional dan menjangkau seluruh dunia melalui lebih dari 370 mitra
roaming internasional di lebih dari 155 negara. Saat ini AXIS telah menjangkau
Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi dan tersedia di lebih dari 400 kota. Layanan
HSPA+ AXIS kini dapat dinikmati di kota-kota utama di Pulau Jawa, seperti
Jabodetabek, Serang, Cilegon, Bandung, Semarang, Jogjakarta, Solo, dan akan
dilanjutkan ke kota-kota besar lainnya.
b. Provider TELKOMSEL
PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) didirikan yang ditandai dengan
peluncuran kartuHALO pascabayar.
Tabel 2.2
Sejarah TELKOMSEL
Tahun Kegiatan
1996 Telkomsel menyatukan negeri dengan menghadirkan layanan
telekomunikasi selular ke seluruh propinsi di Indonesia.
1997 Pertama di Asia yang memperkenalkan layanan prabayar, simPATI.
1998 Menjadi pemimpin industri selular di Indonesia.
2000 Pertama di Indonesia meluncurkan layanan Mobile Banking.
2001 Pertama di Indonesia mengoperasikan GSM dualband pada frekuensi
900 dan 1.800 MHz.
2002 Meluncurkan layanan WAP, web dan data mobile berbasis SMS,
dilanjutkan dengan GPRS.
2003 Pertama di Indonesia memperkenalkan layanan roaming internasional
prabayar.
2004 • Meluncurkan Kartu As prabayar.
• Menerapkan teknologi EDGE, sebagai teknologi roadmap berikutnya setelah GPRS.
• Bergabung dengan Bridge Alliance, aliansi regional
telekomunikasi selular, untuk memberi manfaat lebih bagi
pelanggan.
• Meluncurkan layanan Nada Sambung Pribadi.
2005 Call Center meraih sertifikasi ISO 9001:2000.
Tahun Kegiatan
2007 • Pertama di Indonesia meluncurkan layanan Telkomsel Flash
HSDPA.
• Pertama di Indonesia meluncurkan Telkomsel cash layanan uang
digital melalui telepon selular.
2008 • Pertama di Asia menggunakan energi terbarukan untuk BTS.
• Pertama di dunia menyediakan layanan suara dan data mobile di
atas kapal PELNI yang memungkinkan pelanggan dapat
berkomunikasi di tengah laut.
• Meluncurkan program Telkomsel Merah Putih dalam rangka
memberikan layanan telekomunikasi bagi pulau-pulau, desa-desa
terpencil dan daerah perbatasan.
2009 Meningkatkan jaringan Telkomsel menjadi HSPA+, dengan
kecepatan akses data mencapai 21 Mbps guna memberikan layanan
mobile broadband yang lebih baik.
2010 • Telkomsel menjadi satu-satunya operator selular yang
menyediakan akses telekomunikasi di lebih dari 25.000 desa
melalui Program Desa Berdering.
• Pertama di Indonesia meluncurkan Langit Musik layanan toko musik digital yang menyediakan fasilitas unduh lagu secara penuh. • Pertama di Indonesia meluncurkan aplikasi Mobile Newspaper
yang memungkinkan pelanggan membaca berita melalui telepon
selular.
• Pertama di Indonesia memperkenalkan layanan iklan mobile, yang terarah sehingga memungkinkan pengiklan mencapai para
pengguna Telkomsel.
• Pertama di Indonesia melakukan ujicoba teknologi jaringan pita
lebar LTE.
2.2.5.2 Visi dan Misi Perusahaan
a. Provider AXIS
Tujuan utama AXIS adalah untuk menciptakan nilai lebih bagi para pemilik
saham, pelanggan dan mitra mereka pada khususnya dan masyarakat pada
umumnya. Kerja keras yang mereka lakukan adalah agar dapat menjadi kekuatan
pendorong bagi penciptaan, penyerdehanaan dan perkenalan komunikasi bergerak
dan solusi-solusi kandungan seluler ke pasar.
Brand AXIS, mengartikulasikan ambisi perusahaan dan logonya sebagai
simbol dari pergerakan dan perubahan evolusi tanpa henti AXIS guna lebih
mendukung pelanggan untuk mendapatkan keuntungan penuh dari layanan
komunikasi bergerak dalam kehidupan mereka sehari-hari. AXIS ingin agar para
pelanggan dengan mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, kapanpun
mereka menginginkannya dan terus menerus memberikan inovasi dalam
menyampaikan ide-ide segar. AXIS memiliki misi untuk mewujudkan layanan
telepon, SMS, data dan fitur-fitur layanan lain tersedia dan terjangkau bagi semua
masyarakat Indonesia.
b. Provider TELKOMSEL
Menjadi Mobile Lifestyle Terbaik
Telkomsel siap melakukan lompatan besar dalam evolusi telekomunikasi
selular yang sejalan dengan perubahan gaya hidup. Jaringan Telkomsel
menghadirkan dunia dengan konektivitas tanpa batas, ragam aplikasi untuk
memfasilitasi gaya hidup modern serta rangkaian produk untuk meningkatkan
kualitas hidup manusia. Layanan multimedia dengan teknologi terdepan membuka
peluang kreatif yang memperkaya sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia. Inilah
masa depan Telkomsel sebagai persembahan terbaik bagi negeri.
2.2.5.3 Manajemen Perusahaan
a. Provider AXIS
Peraturan dan ketentuan perusahaan AXIS meliputi keterbukaan dan
transparansi kepada para pemegang saham, manajemen dan juga pihak-pihak lain
yang berkepentingan seperti karyawan, pembuat regulasi, pelanggan, para vendor
Perusahaan juga menyediakan lingkungan kerja yang unik, yang memungkinkan
profesional muda di dalamnya untuk mengembangkan diri dalam lingkungan
yang mengutamakan gairah, inspirasi, akuntabilitas, kecepatan dalam bekerja,
dan motivasi. Saat ini, AXIS memiliki lebih dari 800 karyawan profesional, baik
karyawan lokal maupun internasional, yang tersebar di seluruh nusantara.
AXIS didukung oleh dua operator terkemuka di Asia sebagai pemegang
saham mereka: Saudi Telecom Company (STC), penyedia layanan telekomunikasi
nasional terdepan di Kerajaan Arab Saudi. Perusahaan ini memiliki beberapa
perusahaan yang tersebar di Kuwait, Bahrain, India, Indonesia, Malaysia, Turki,
dan Afrika Selatan; serta Maxis Communications Berhad (Maxis), penyedia
layanan telekomunikasi terbesar di Malaysia. Kedua investor utama kami bertekad
memberikan kontribusi penuh bagi pengembangan industri telekomunikasi di
Indonesia.
Didirikan pada tahun 1998, Saudi Telecom Company (STC) menyediakan
layanan komunikasi lengkap seperti telepon tetap dan bergerak, internet, dan
layanan data. Perusahaan ini beroperasi melalui empat anak usahanya (Alhatif,
Aljawal, Saudi Data, and Saudinet) dan adalah satu-satunya penyedia layanan
telepon tetap, data, dan internet di Arab Saudi.
Maxis Communications adalah perusahaan penyedia telekomunikasi terbesar
di Malaysia, yang memiliki investasi di industri telekomunikasi di India dan
Indonesia. Maxis menyediakan layanan telepon seluler dan tetap, serta layanan
gateway internasional.
b. Provider TELKOMSEL
Departemen Corporate Communication
a. Mengimplementasikan program komunikasi untuk mendukung image
perusahaan Telkomsel.
b. Mengimplementasikan program komunikasi untuk mengelola dan
memperbaiki komunikasi internal/ mendukung penciptaan kondisi kondusif di
1. Manajemen Hubungan Eksternal
a. Mengelola hubungan baik dengan media channel (melalui wartawan dan
secara institutional), dengan stakeholder ( pemerintah & badan regulasi
lainnya, badan non-pemerintahan yang relevan secara manajemen dan
korporat,dsb ), public opinion maker.
b. Menganalisa strategi marketing dan image perusahaan dan
menghubungkannya dengan visi dan misi public relation. c. Membina
hubungan dengan pihak eksternal (Pres, Investor, Pemerintah dan
badan-badan Regulasi, serta Shareholder Utama) dengan menyediakan dan
meng-update informasi mengenai Telkomsel.
2. Manajemen Komunikasi Internal
a. Mengumpulkan permasalahan-permasalahan, informasi, dan feedback dari
karyawan dan seluruh departemen.
b. Menganalisa permasalahan organisasi dan informasi penting lainnya
berdasarkan strategi perusahaan yang dibuat oleh Divisi Coporate Planning,
visi dan misi perusahaan dari BoD, dan masukan dari VP Corporate
Secretary mengenai strategi dan kebijakan SDM.
c. Menyusun rencana/ program kerja seperti pembuatan, penerbitan, dan
memelihara media internal dengan menggunakan informasi dan feedback dari
User.
d. Membuat pesan yang akurat/ penting untuk disebarluaskan
e. Mengaplikasikan program, menyebarkan pesan dan mengidentifikasikan
barang/jasa yang dibutuhkan untuk penyusunan dan penerbitan pesan melalui
media internal dengan melakukan kerjasama dengan Departemen
Procurement
f. Memastikan efektivitas komunikasi internal perusahaan.
3. Manajemen Hubungan Eksternal
a. Mengumpulkan semua pertanyaan dan informasi mengenai Telkomsel dari
pihak eksternal (Pers, Investor, Pemerintah & Badan-badan Regulasi,
Shareholder Utama, dan Pelanggan).
b. Mendiskusikan pertanyaan dan infornasi dengan departemen /fungsi lain yang
c. Mengatur materi informasi/event/souvernis dan informasi yang di release/
tanggapan kepada pihak eksternal sebagai tindak lanjut (secara langsung
maupun melalui media komunikasi).
d. Memonitor dan mengevaluasi perkembangannya serta melakukan perbaikan
jika diperlukan.
4. Mediator untuk Investor Relation Group dan Pemerintahan
a. Menerima permintaan dari Investor untuk bertemu dengan pihak Pemerintah
atau sebaliknya.
b. Membantu Investor Relation Group untuk bertemu dengan pemerintah,
dengan menghubungi dan mengirim surat formal yang ditandatangani oleh
BOD.
c. Mendampingi Investor Relation Group saat bertemu dengan pemerintah dan
memperkenalkannya kepada pemerintah.
5. Company Image Management
a. Menganalisa visi dan misi dari BOD serta tema perusahaan dari VP
Corporate Secreatry untuk mengembangkan dan menjaga image perusahaan.
b. Menyelaraskan image dengan Marketing Plan dari Departemen marketing
Communication, Planning Development dari Divisi Corporate Planning, serta
Sales Strategy dari Distribution Channel management.
c. Melakukan koordinasi dengan Marketing Communication Department dalam
memperoleh hasil survei dari customer dalam rangka mempelajari image dari
target audience mengenai bisnis organisasi saat ini.
d. Menganalisa hasil survei, melakukan revisi yang diperlukan serta
mengkomunikasikan image perusahaan yang baru / revisi kepada umum (
internal dan eksternal ).
6. Rencana komunikasi Krisis
a. Membuat rencana manajemen krisis untuk menyediakan kebijakan dan
prosedur untuk mengkoordinasikan komunikasi di dalam organisasi, media
dan public pada saat ada kejadian yang emergency atau masalah yang
kontroversial.
c. Menganalisa dan mengidentifikasi tingkat krisis dan kondisi melalui panduan
komunikasi berdasarkan diskusi dengan departemen lain dalam situasi
emergency yang secara potensial bisa terjadi.
d. Mengembangkan rencana termasuk menentukan area utama yang harus
diberitahu mengenai adanya krisis, strategi komunikasi internal dan
komunikasi alternative berdasarkan image perusahaan, dengan melakukan
kerjasama dengan departemen terkait serta mendapatkan legal advice dari
Corporate Counsel Departement jika diperlukan.
e. Mengkomunikasikan Crisis Communication Plan kepada departemen lainnya
f. Mengadministrasikan dan memfasilitasi implementasi Crisis Communication
Plan kepada public/media publik
2.2.5.4 .Prestasi Perusahaan
a. Provider AXIS
Tabel 2.3
Prestasi AXIS
Tahun Prestasi Perusahaan
2008 • November, Masuk dalam nominasi GSMA's Asia Mobile Awards
2008 dalam kategori 'Green Mobile Award'
2009 • Mei, "AXIS Salam" mendapat pengakuan dari Museum Record
Indonesia (MURI) sebagai "Kartu GSM pertama yang
memberikan SMS terbanyak secara gratis"
2010 • Juli, Menerima penghargaan Selular Award untuk kategori "Best
Marketing Programs"
2011 • April, AXIS memenangkan penghargaan “Best Marketing
Program” selama dua tahun berturut-turut dan “Best Mobile Data
Service for GSM” pada Selular Award 2011
• Mei, AXIS memenangkan penghargaan “Best Growth Story of the Year” pada konferensi TMT Finance and Investments Middle
East 2011 untuk pencapaian AXIS di tahun 2010 di bidang
pertumbuhan dan ekspansi jumlah pelanggan