• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rekonstruksi Dan Pengelompokan Bahasa-Bahasa Batak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Rekonstruksi Dan Pengelompokan Bahasa-Bahasa Batak"

Copied!
473
0
0

Teks penuh

(1)

REKONSTRUKSI DAN PENGELOMPOKAN

BAHASA-BAHASA BATAK

DISERTASI

Oleh

HIMPUN PANGGABEAN

NIM: 108107024

Program Doktor (S3) Linguistik

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

REKONSTRUKSI DAN PENGELOMPOKAN

BAHASA-BAHASA BATAK

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor dalam Program Doktor Linguistik pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara di bawah

pimpinan Rektor Universitas Sumatera Utara Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc, (CTM), Sp.A(K) untuk dipertahankan

di hadapan Sidang Terbuka Senat Universitas Sumatera Utara

Oleh

HIMPUN PANGGABEAN

NIM : 108107024

Program Doktor (S3) Linguistik

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Disertasi : REKONSTRUKSI DAN PENGELOMPOKAN BAHASA-BAHASA BATAK

Nama Mahasiswa : Himpun Panggabean Nomor Pokok : 108107024

Program Studi : Doktor (S3) Linguistik

Menyetujui Komisi Pembimbing

Promotor

(Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S)

(Dr. Dwi Widayati, M.Hum) (

Ko-Promotor Ko-Promotor

Dr. Namsyah Hot Hasibuan, M. Ling)

Ketua Program Studi, Dekan,

(Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D) (Dr. Syahron Lubis, M.A)

(4)

Diuji pada Ujian Disertasi Terbuka (Promosi) Tanggal: 19 Mei 2014

PANITIA PENGUJI DISERTASI Pemimpin Sidang:

Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM & H, M.Sc (CTM), Sp.A.(K) (Rektor USU) Ketua : Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S. USU Medan

Anggota : Dr. Dwi Widayati, M.Hum. USU Medan

Dr. Namsyah Hot Hasibuan, M.Ling. USU Medan Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D. USU Medan

Prof. Dr. Nadra, M.S. UNAND Padang

(5)

REKONSTRUKSI DAN PENGELOMPOKAN BAHASA-BAHASA BATAK

ABSTRAK

Disertasi ini merupakan laporan hasil penelitian mengenai rekonstruksi dan pengelompokan bahasa-bahasa Batak (bbB) yang terdiri atas bahasa Toba (bT), bahasa Simalungun (bS), bahasa Pakpak Dairi (bPD), bahasa Angkola (bA), bahasa Karo (bK), dan bahasa Mandailing (bM).

Metode penelitian yang digunakan dalam disertasi ini adalah metode komparatif. Masalah penelitian meliputi perangkat korespondensi bbB, proto-fonem bbB, proto-morfem bbB, rumus perubahan bunyi, pengelompokan bbB serta inventarisasi fonem dan realisasi fonetis bbB.

Hasil penelitian menunjukkan, perangkat korespondensi fonemis yang diwariskan secara linear adalah a-a-a-a-a-a, u-u-u-u-u-u, dan i-i-i-i-i-i dengan

Sementara itu, perangkat korespondensi yang tidak linear adalah --e- -e-, o-o-e-o-e-o, -ei---e-, --a--a-, u-u-

-u-u-Rumus perubahan bunyi dari p(bbB) ke bbB adalah sebagai berikut:

1. *→ e/K___K, 2. *o → e/K___K, 3. *→ ei/__, 4. *→ a/K___K,

Dengan diketahuinya proto-fonem, proto-morfem bbB direkonstruksi. Rekonstruksi tersebut menghasilkan satu daftar yang memuat kata-kata bbB yang sekarang dan kata-kata yang menurunkannya (proto-morfem).

Berdasarkan inovasi bersama (shared innovation) dan kemiripan bbB antara satu dengan yang lain, bbB terdiri atas tiga kelompok yakni kelompok bT-bA-bM, bPD-bK, dan bS. Penelitian ini juga menunjukkan fonem-fonem bbB dan realisasi fonetisnya.

(6)

RECONSTRUCTION AND SUB-GROUPING OF BATAK LANGUAGES

ABSTRACT

This dissertation is the report of research into reconstruction and sub-grouping of batak languages (bbB) comprising Toba language (bT), Simalungun language (bS), Pakpak Dairi language (bPD), Angkola language (bA), Karo language (bK), and Mandailing language (bM).

The research method is comparative method. The research problems cover correspondence sets, proto-phonemes, proto-morphemes, rules of sound changes, sub-grouping as well as phonemes and their phonetic realizations.

The objectives of the research are to discover sound correspondence sets, proto-phonemes, proto-morphemes, rules of sound changes, sub-grouping as well as phonemes and their phonetic units in bbB.

The analysis shows that the phonemic correspondence sets resulted from linear inheritance are a-a-a-a-a-a, u-u-u-u-u-u, and i-i-i-i-i-i of which

Meanwhile, phonemic correspondence sets in bbB resulted from phonemic innovation are --e--e-, o-o-e-o-e-o, -ei---e-,

On the basis of the proto-phonemes, the reconstruction of proto-morphemes of bbB is conducted, resulting in a list of modern words along with their proto-morphemes.

Based on the closeness of bbB between one to each other, the languages can be grouped into bT-bA-bM, bPD-bK, and bS. This research also reveals the phonemes and their phonetic units in bbB.

(7)

KATA PENGANTAR

Disertasi ini, Rekonstruksi dan Pengelompokan bahasa-bahasa Batak,

disusun melalui proses yang rumit dan panjang. Ide penyusunannya bersumber

dari akumulasi berbagai pokok masalah dalam perkuliahan di kelas, khususnya

yang berhubungan dengan Linguistik Historis Komparatif dan Fonologi yang

diperkaya dengan berbagai rujukan berupa buku dan jurnal.

Hal itu berarti bahwa proses penyusunan disertasi ini sudah dilakukan

sejak peneliti mulai mengikuti kuliah di Program Studi Linguistik Fakultas Ilmu

Budaya Universitas Sumatera Utara tahun 2010 dan dilanjutkan dengan berbagai

tahapan akademis lainnya sampai berlangsungnya proses bimbingan disertasi,

pengumpulan data, penulisan laporan penelitian, dan ujian-ujian, termasuk ujian

tertutu (promosi) doktor disertasi yang berlangsung hari ini.

Proses tersebut tidak akan dapat terjadi tanpa adanya dosen yang

bertanggung jawab dan berdedikasi tinggi dalam mengajarkan setiap mata kuliah.

Atas dasar itu, peneliti mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada

semua dosen di Program Studi Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas

Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini, peneliti menyampaikan terima kasih kepada Prof.

Dr. Robert Sibarani, M.S. sebagai promotor atas waktu dan perhatian yang

diberikannya kepada peneliti mulai dari proses penyusunaan proposal penelitian

sampai pada pemeriksaan akhir disertasi ini. Secara khusus, saya ucapkan terima

kasih kepada beliau atas keterbukaannya menerima argumentasi peneliti sehingga

(8)

Ucapan terima kasih juga peneliti sampaikan kepada ko-promotor Dr. Dwi

Widayati, M.Hum atas ilmu pengetahuannya yang sangat memadai, khususnya

di bidang linguistik diakronis, yang diberikan kepada peneliti dan atas proses

bimbingan yang sangat terbuka, akademis, dan professional sangat berkontribusi

dalam meningkatkan kualitas disertasi ini.

Ucapan terima kasih yang sama juga peneliti sampaikan kepada

ko-promotor Dr. Namsyah Hot Hasibuan, M. Ling atas kontribusinya untuk

menuntun peneliti menulis disertasi ini sesuai dengan standar ilmiah, khususnya

mengenai pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan Ejaan

yang Disempurnakan (EYD) dan Tata Bahasa Baku Indonesia. Sudah barang tentu

kontribusi itu sangat berperan dalam menciptakan disertasi ini sebagai karya

ilmiah yang layak dipresentasikan dalam ujian tertutup dan ujian promosi doktor.

Ucapan terima kasih dan apresiasi yang tidak terhingga saya sampaikan

kepada Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D. yang paling berperan dalam

menentukan keberhasilan peneliti untuk menyelesaikan studinya dalam kapasitas

beliau sebagai ketua Program Studi Linguistik, dosen pengajar, dan penguji. Patut

saya akui bahwa berkat dorongan dan pelayanan akademis professional yang

dilakukan beliau telah memungkinkan peneliti dapat menyelesaikan studinya

dengan cepat, kurang dari delapan semester.

Penyelesaian penulisan disertasi ini tidak terlepas dari peranan besar para

penguji luar (external examiners), yakni Prof. Nadra, M.Pd. dari Universitas

Andalas Padang, Prof. Dr. Busmin Gurning, M.Pd. dari UNIMED, dan Prof.

Amrin Saragih, Ph.D. dari UNIMED. Peneliti menyampaikan pengharagaan

(9)

komentar-komentar, dan sasaran-saran yang mereka sampaikan sejak ujian seminar proposal

penelitian sampai pada ujian terbuka doktor.

Bimbingan yang diberikan babak-bapak dan ibu-ibu tadi telah

memungkinkan sebagian dari isi disertasi ini dimuat dalam jurnal ilmiah

internasional, yakni IOSR Journal of Humanities and Social Science pada

Volume:18, Issue:6 yang merupakan syarat bagi pelaksanaan ujian tertutup

(promosi) doktor. Bimbingan tersebut juga sangat berperan untuk memampukan

peneliti menciptakan suatu karya ilmiah bidang linguistik diakronis untuk

dipresetasikan dalam seminar internasional di Universiti Malaysia Kelantan

(UMK) atas permintaan Director for Language Studies and Generic Development

Universiti Malaysia Kelantan, Prof. Farok Bin Zakaria.

Di samping nama-nama tersebut, ada juga nama-nama yang sangat penting

di balik penyelesaian penelitian ini dan studi peneliti yakni Ir. Pantas

Simanjuntak, M.M yang dalam kapasitasnya sebagai rektor Universitas Methodist

Indonesia (UMI) mendukung peneliti melakukan studi program doktor dan

mengupayakan bantuan bea siswa, Pdt. K.W. Sinurat, M.Pd, dan Pdt. Antoni

Manurung, M.Th. yang dalam kapasitasnya sebagai ketua dan sekretaris Yayasan

Pendidikan Gereja Methodist (YPGMI) Wilayah I juga mendukung studi peneliti

dan menyetujui permohonan bantuan bea siswa. Nama-nama tersebut harus

dilengkapi dengan dr. Thompson Nadapdap, M.Kes dan Drs. Hotlan Butar-butar,

M.S yang dalam kapasitasnya sebagai mantan rektor UMI dan mantan ketua

YPGMI Wilayah I juga mendukung studi peneliti dan menyetujui pemberian

bantuan beasiswa. Atas jasa-jasa beliau, peneliti mengucapkan terima kasih yang

(10)

Peneliti tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada para informan

yang tanpa bantuan mereka, disertasi ini tidak mungkin ada, sahabat dekat saya

Andrew Tobing yang memberikan banyak masukan penting, khususnya teori

linguistik dan format penulisan, dan Namkiangta Sembiring yang memberikan

bantuan besar kepada peneliti mulai dari pengumpulan data sampai pengeditan

akhir disertasi ini.

Akhirnya peneliti mengucapkan terima kasih kepada teman-teman peneliti

angkatan tahun 2010 Program Doktor Linguistik Fak. Ilmu Budaya Universitas

Sumatera Utara yang menjadi mitra berdiskusi, bercanda, dan berbagi rasa suka

dan duka selama peneliti menjalani masa studinya, anggota-anggota keluarga dan

handai tolan peneliti serta banyak pihak yang tidak dapat disebutkan satu per

satu.

Semoga Tuhan memberikan balasan atas kebaikan pihak-pihak yang

disebutkan di atas dan semoga penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan

linguistik historis komparatif dan pelestarian bahasa-bahasa daerah yang

merupakan unsur yang sangat sentral dalam pelestarian budaya bangsa Indonesia.

Medan, Mei 2014

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG ... xviii

BAB IV PENDAHULUAN

2.1.1. Pengertian Istilah/Penjelasan ... 23

(12)

2.2.3.11. Metatesis ... 69

BAB III METODE DAN TEKNIK PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian ... 89

4.2.1. Perangkat Korespondensi Bunyi ... 109

4.2.1.1. Perangkat Korespondensi bbB ... 111

A. Perangkat Korespondensi Vokal ... 111

b.1.Perangkat Korespondensi -a,-a,-a,-a,-a,-a pada Posisi Awal Kata ... 113

(13)

d.2 Perangkat Korespondensi -i-,-i-,-i-,-i-,-i-,-i-pada b. Perangkat Korespondensi Tidak Linear

-o-,-o-,-e-,-o-,-e-,-o- ... 130 c. Perangkat Korespondensi Tidak Linear

-,-ei,-,-,- ,- ... 132 d. Perangkat Korespondensi Tidak Linear

--,--,-a-,--,-a-,-- ... 133 e. Perangkat Korespondensi Tidak Linear

-u-,-u-,--,-u-,-u-,-u- ... 134 f. Perangkat Korespondensi -i-,-i-,-i-,-i-,-e-,-i- 135 B. Perangkat Korespondensi Konsonan ... 136 1. Perangkat Korespondensi Konsonan Linear ... 136 a. Perangkat Korespondensi Linear b-b-b-b-b-b 136 a.1 Perangkat Korespondensi Linear b-,b-,b-,b-,b-,b- pada Posisi Awal Kata ... 136 a.2 Perangkat Korespondensi Linear

-b-,-b-,-b-,-b-,-b-,-b- pada Posisi Tengah Kata138 e.2 Perangkat Korespondensi Linear

(14)

e.3 Perangkat Korespondensi Linear -l,-l,-l,-l,-l,-l pada Posisi Akhir Kata ... 152 f. Perangkat Korespondensi Linear -----  ... 153 f.1 Perangkat Korespondensi Linear

--,--,--,--,--,-- pada Posisi Tengah Kata 153 f.2 Perangkat Korespondensi Linear

--,--,--,--,--,-- pada Posisi Akhir Kata 154 g. Perangkat Korespondensi Linear p-p-p-p-p-p 156 g.1 Perangkat Korespondensi Linear

p-,p-,p-,p-,p-,p- pada Posisi Awal Kata ... 156 h.1 Perangkat Korespondensi Linear

g-,g-,g-,g-,g-,g- pada Posisi Awal Kata ... 160 j.2 Perangkat Korespondensi Linear

-m-,-m-,-m-,-m-,-m-,-m- pada Posisi Tengah Kata ... 166 j.3 Perangkat Korespondensi Linear

-m,-m,-m,-m,-m,-m pada Posisi Akhir Kata 167 l.1 Perangkat Korespondensi Linear

-n-,-n-,-n-,-n-,-n-,-n- pada Posisi Tengah Kata 172 l.2 Perangkat Korespondensi Linear

-n,-n,-n,-n,-n,-n pada Posisi Akhir Kata ... 173 2. Perangkat Korespondensi Konsonan

Tidak Linear ... 175 a. Perangkat Korespondensi Tidak Linear

(15)

b. Perangkat Korespondensi Tidak Linear

-,-,m-,-,-,- ... 180

c. Perangkat Korespondensi Tidak Linear -,-,n-,-,-,- ... 183

d. Perangkat Korespondensi Tidak Linear -,-,-,-,-,- ... 185

e. Perangkat Korespondensi Tidak Linear h-,h-,k-,h-,k-,h- ... 187

f. Perangkat Korespondensi Tidak Linear -k-,-k-,--,-k-,--,-k- ... 190

g. Perangkat Korespondensi Tidak Linear -d-,-n-,-n-,-n-,-n-,-n- ... 191

4.2.2. Temuan dan Pembahasan ... 193

4.3. Proto-fonem dan Proto-morfem bbB ... 195

4.3.1. Proto-fonem bbB ... 195

4.3.1.1. Proto-fonem Perangkat Korespondensi Linear ... 195

4.3.1.2. Proto-fonem Perangkat Korespondensi Tidak Linear (Inovasi) bbB ... 198

a. Proto-fonem Perangkat Korespondensi --e--e- ... 200

b. Proto-fonem Perangkat Korespondensi -o-,-o-,-e-,-o-,-e-,-o- ... 202

c. Proto-fonem Perangkat Korespondensi -,-ei,-,-,- ,- ... 203

d. Proto-fonem Perangkat Korespondensi --,--,-a-,--,-a-,-- ... 204

e. Proto-fonem Perangkat Korespondensi -u-,-u-,--,-u-,-u-,-u- ... 205

f. Proto-fonem Perangkat Korespondensi -i-,-i-,-i-,-i-,-e-,-i- ... 206

g. Proto-fonem Perangkat Korespondensi -,-h,-h,-,-h,- ... 207

h. Proto-fonem Perangkat Korespondensi -,-,m-,-,-,- ... 210

i. Proto-fonem Perangkat Korespondensi -,-,n-,-,-,- ... 211

j. Proto-fonem Perangkat Korespondensi -,-,-,-,-,- ... 213

k. Proto-fonem Perangkat Korespondensi h-,h-,k-,h-,k-,h- ... 214

l. Proto-fonem Perangkat Korespondensi -k-,-k-,--,-k-,--,-k- ... 216

m. Proto-fonem Perangkat Korespondensi -d-,-n-,-n-,-n-,-n-,-n- ... 221

4.3.1.3. Temuan dan Pembahasan ... 222

(16)

4.3.2.1. Proto-morfem Berdasarkan Perangkat Korespondensi Linear p(bbB) ... 226 4.2.2.2. Proto-morfem bbB Berdasarkan

Perangkat Korespondensi Tidak Linear ... 228 a. Proto-morfem Berdasarkan Rekonstruksi

Perangkat Korespondensi --e--e- ... 228 b. Proto-morfem Berdasarkan Rekonstruksi

Perangkat Korespondensi o-o-e-o-e-o ... 241 c. Proto-morfem Berdasarkan Rekonstruksi

Perangkat Korespondensi -ei----  ... 247 d. Proto-morfem Berdasarkan Rekonstruksi

Perangkat Korespondensi --a--a- 249 e. Proto-morfem Berdasarkan Rekonstruksi

Perangkat Korespondensi u-u--u-u-u ... 250 f. Proto-morfem Berdasarkan Rekonstruksi

Perangkat Korespondensi i-i-i-i-e-i ... 251 g. Proto-morfem Berdasarkan Rekonstruksi

Perangkat Korespondensi -,--h,-h,-,-h,- ... 252 h. Proto-morfem Berdasarkan Rekonstruksi

Perangkat Korespondensi -,-,m-,-,-, - ... 267 i. Proto-morfem Berdasarkan Rekonstruksi

Perangkat Korespondensi -,-,n-,-,-,- ... 275 j. Proto-morfem Berdasarkan Rekonstruksi

Perangkat Korespondensi -,-,-,-,-, - ... 280 k. Proto-morfem Berdasarkan Rekonstruksi

Perangkat Korespondensi h-,h-,k-,h-,k-,h- . 283 l. Proto-morfem Berdasarkan Rekonstruksi

Perangkat Korespondensi -k-,-k-,--,-k-,--,-k- ... 297 m. Proto-morfem Berdasarkan Rekonstruksi

Perangkat Korespondensi -d-,-n-,-n-,-n-,-n-,-n- ... 299 4.3.2.3 P(bbB) Selain dari Pewarisan Linear dan Inovasi ... 302 4.3.2.4 Temuan dan Pembahasan ... 332 4.3.2.5 Perubahan Bunyi p(bbB) Menjadi Fonem bbB dan Rumus

(17)

e. Perubahan *u Menjadi  dalam Perangkat

4.7. Inventarisasi Fonem bbB dan Realisasi Fonetisnya ... 377

4.7.1. Fonem dan Realisasi Fonetis bT ... 377

(18)

DAFTAR TABEL Halaman

Tabel 1. Perubahan Fonem ... 10

Tabel 2. Retensi Fonem ... 10 Tabel 3.1. Data bbB ... 102-109

Tabel 4.1. Perangkat Korespondensi bbB, p(bbB), Distribusi,

dan Frekuensinya ... 225 Tabel 4.2. Proto-fonem dan Proto-morfem bbB ... 333-340

(19)

DAFTAR DIAGRAM

Diagram 1.1. Proto-bahasa Perantara ... 5

Diagram 2.1. Pengelompokan Bahasa ... 51

Diagram 2.2. Pergeseran Bunyi Proto-Indo Eropa ... 60

Diagram 4.1. Perangkat Korespondensi ----- ... 113

Diagram 4.2. Perangkat Korespondensi a-a-a-a-a-a ... 116

Diagram 4.3. Perangkat Korespondensi u-u-u-u-u-u ... 120

Diagram 4.4. Perangkat Korespondensi i-i-i-i-i-i ... 125

Diagram 4.5. Perangkat Korespondensi b-b-b-b-b-b ... 139

Diagram 4.6. Perangkat Korespondensi t-t-t-t-t-t ... 144

Diagram 4.7. Perangkat Korespondensi j-j-j-j-j-j ... 146

Diagram 4.8. Perangkat Korespondensi r-r-r-r-r-r ... 149

Diagram 4.9. Perangkat Korespondensi l-l-l-l-l-l ... 153

Diagram 4.10. Perangkat Korespondensi ----- ... 156

Diagram 4.11. Perangkat Korespondensi p-p-p-p-p-p ... 159

Diagram 4.12. Perangkat Korespondensi g-g-g-g-g-g ... 162

Diagram 4.13. Perangkat Korespondensi d-d-d-d-d-d ... 165

Diagram 4.14. Perangkat Korespondensi m-m-m-m-m-m ... 168

Diagram 4.15. Perangkat Korespondensi s-s-s-s-s-s ... 171

Diagram 4.16. Perangkat Korespondensi n-n-n-n-n-n ... 175

Diagram 4.17. Perangkat Korespondensi --e--e- ... 201

Diagram 4.18. Perangkat Korespondensi o-o-e-o-e-o ... 203

Diagram 4.19. Perangkat Korespondensi -,-ei,-,-,- ,- ... 204

Diagram 4.20. Perangkat Korespondensi --,--,-a-,--,-a-,-- ... 205

(20)

Diagram 4.22. Perangkat Korespondensi -i-,-i-,-i-,-i-,-e-,-i- ... 207

Diagram 4.23. Perangkat Korespondensi -,-h,-h,-,-h,- ... 210

Diagram 4.24. Perangkat Korespondensi -,-,m-,-,-,- ... 211

Diagram 4.25. Perangkat Korespondensi -,-,n-,-,-,- ... 212

Diagram 4.26. Perangkat Korespondensi -,-,-,-,-,- ... 214

Diagram 4.27. Perangkat Korespondensi h-,h-,k-,h-,k-,h- ... 216

Diagram 4.28. Perangkat Korespondensi -k-,-k-,--,-k-,--,-k- ... 221

Diagram 4.29. Perangkat Korespondensi -d-,-n-,-n-,-n-,-n-,-n- ... 222

Diagram 4.30. Diagram p(AB) ... 374

Diagram 4.31. Diagram p(A) ... 375

(21)

DAFTAR BAGAN

Bagan 4.1. Vokal bbB ... 382

(22)

DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG

1. SINGKATAN

b. = bahasa

bbB = bahasa-bahasa Batak

bT = bahasa Toba

bS = bahasa Simalungun

bPD = bahasa Pakpak Dairi bS = bahasa Simalungun

bA = bahasa Angkola

bK = bahasa Karo

bM = bahasa Mandailing

V = vokal

K = konsonan

nas = nasal

2. LAMBANG

→ = berubah menjadi

___ = posisi fonem

#___ = posisi awal

___# = posisi akhir

* = proto

 = fonem kosong

(23)

REKONSTRUKSI DAN PENGELOMPOKAN BAHASA-BAHASA BATAK

ABSTRAK

Disertasi ini merupakan laporan hasil penelitian mengenai rekonstruksi dan pengelompokan bahasa-bahasa Batak (bbB) yang terdiri atas bahasa Toba (bT), bahasa Simalungun (bS), bahasa Pakpak Dairi (bPD), bahasa Angkola (bA), bahasa Karo (bK), dan bahasa Mandailing (bM).

Metode penelitian yang digunakan dalam disertasi ini adalah metode komparatif. Masalah penelitian meliputi perangkat korespondensi bbB, proto-fonem bbB, proto-morfem bbB, rumus perubahan bunyi, pengelompokan bbB serta inventarisasi fonem dan realisasi fonetis bbB.

Hasil penelitian menunjukkan, perangkat korespondensi fonemis yang diwariskan secara linear adalah a-a-a-a-a-a, u-u-u-u-u-u, dan i-i-i-i-i-i dengan

Sementara itu, perangkat korespondensi yang tidak linear adalah --e- -e-, o-o-e-o-e-o, -ei---e-, --a--a-, u-u-

-u-u-Rumus perubahan bunyi dari p(bbB) ke bbB adalah sebagai berikut:

1. *→ e/K___K, 2. *o → e/K___K, 3. *→ ei/__, 4. *→ a/K___K,

Dengan diketahuinya proto-fonem, proto-morfem bbB direkonstruksi. Rekonstruksi tersebut menghasilkan satu daftar yang memuat kata-kata bbB yang sekarang dan kata-kata yang menurunkannya (proto-morfem).

Berdasarkan inovasi bersama (shared innovation) dan kemiripan bbB antara satu dengan yang lain, bbB terdiri atas tiga kelompok yakni kelompok bT-bA-bM, bPD-bK, dan bS. Penelitian ini juga menunjukkan fonem-fonem bbB dan realisasi fonetisnya.

(24)

RECONSTRUCTION AND SUB-GROUPING OF BATAK LANGUAGES

ABSTRACT

This dissertation is the report of research into reconstruction and sub-grouping of batak languages (bbB) comprising Toba language (bT), Simalungun language (bS), Pakpak Dairi language (bPD), Angkola language (bA), Karo language (bK), and Mandailing language (bM).

The research method is comparative method. The research problems cover correspondence sets, proto-phonemes, proto-morphemes, rules of sound changes, sub-grouping as well as phonemes and their phonetic realizations.

The objectives of the research are to discover sound correspondence sets, proto-phonemes, proto-morphemes, rules of sound changes, sub-grouping as well as phonemes and their phonetic units in bbB.

The analysis shows that the phonemic correspondence sets resulted from linear inheritance are a-a-a-a-a-a, u-u-u-u-u-u, and i-i-i-i-i-i of which

Meanwhile, phonemic correspondence sets in bbB resulted from phonemic innovation are --e--e-, o-o-e-o-e-o, -ei---e-,

On the basis of the proto-phonemes, the reconstruction of proto-morphemes of bbB is conducted, resulting in a list of modern words along with their proto-morphemes.

Based on the closeness of bbB between one to each other, the languages can be grouped into bT-bA-bM, bPD-bK, and bS. This research also reveals the phonemes and their phonetic units in bbB.

(25)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Fungsi dan kedudukan bahasa daerah sangat penting karena tidak dapat

dipisahkan dari pengembangan bahasa nasional. Salah satu upaya untuk

mengembangkan bahasa daerah adalah melakukan penelitian terhadap

bahasa-bahasa tersebut dalam semua aspek linguistik. Hingga kini penelitian terhadap

bahasa-bahasa daerah di Indonesia masih didominasi oleh penelitian sinkronis.

Parera (1984:19) mengatakan bahwa penelitian diakronis terhadap bahasa-bahasa

daerah di Indonesia tidak dilakukan secara serius dan bersifat kebetulan.

Hampir semua masalah dalam penelitian skripsi, tesis, dan disertasi

merupakan masalah-masalah sinkronis. Tidak mengherankan apabila di

perpustakaan-perpustakaan yang ada di seluruh Indonesia, termasuk Badan

Bahasa, hasil penelitian dan buku mengenai linguistik historis komparatif sangat

jarang. Pada tataran rumpun bahasa Austronesia, penelitian diakronis juga masih

sangat terbatas dibandingkan dengan penelitian diakronis terhadap bahasa-bahasa

Indo-Eropa meskipun hampir tidak ada naskah tua bahasa-bahasa Austronesia,

sedangkan naskah tua bahasa-bahasa Indo-Eropa sangat banyak.

Walaupun tercatat sejumlah penelitian diakronis tentang rumpun bahasa

Austronesia, termasuk bahasa-bahasa Indonesia, penelitian tersebut masih terbatas

pada hubungan genetis antarbahasa yang jumlah penuturnya sangat besar seperti

bahasa Sunda, bahasa Jawa, bahasa Madura, dan bahasa Batak. Hubungan

bahasa-bahasa berkerabat (sister languages) yang ada dalam masing-masing bahasa

(26)

bahasa-bahasa Batak, (selanjutnya disingkat bbB), bahasa-bahasa Toba (disingkat bT), bahasa-bahasa

Simalungun (disingkat bS), bahasa Pak Pak Dairi (disingkat bPD), bahasa

Angkola (disingkat bA), bahasa Karo (disingkat bK) dan bahasa Mandailing

(disingkat bM) yang merupakan sumber data penelitian ini, belum diteliti secara

tuntas.

Voorhoeve (1955:88), misalnya, dalam penelitiannya mengenai hubungan

genetis bahasa-bahasa Batak belum menerapkan leksikostatistik untuk

menentukan waktu pisah (time depth) antara satu dengan yang lain dan belum

menunjukkan data rekurensi perangkat fonem atau klaster fonem serta

faktor-faktor yang menimbulkan perubahan bunyi. Dia mengatakan bahwa bahasa Toba

dan bahasa Angkola adalah kelompok Batak Selatan, bahasa Karo, bahasa

Alas, dan bahasa Dairi adalah kelompok Batak Utara, sedangkan bahasa

Simalungun adalah bahasa Batak Timur. Namun dia hanya memberikan data

mengenai variasi bunyi tertentu dalam bahasa-bahasa Batak (misalnya, fonem /*k/

berinovasi menjadi fonem /h/ dalam bahasa Batak Selatan dan Batak Simalungun

dan tetap dipertahankan dalam Batak Utara) untuk menunjukkan pengelompokan

(sub-grouping). Menurut Keraf (1990:112), pengelompokan seperti ini disebut

pengelompokan sekilas (inspection).

Akibat terbatasnya penelitian diakronis tentang bbB, Keraf (1991:37)

membuat kesalahan pada data bahasa Batak (tanpa menyebutkan bahasa Batak

apa) untuk glos padi, yakni page dan untuk glos pandan, yakni pandan. Padanan glos padi dalam bT adalah /m/ dan padanan glos

(27)

Akibat alasan yang sama, sebagian masyarakat Batak beranggapan bahwa

bahasa yang dipakainya dan bahasa atau bahasa-bahasa Batak lainnya adalah

dialek-dialek dari bahasa Batak (bahasa Batak dipakai untuk menunjuk bT).

Maksud anggapan itu adalah bT adalah proto-bbB. Di samping itu, sebagian

masyarakat Angkola/Mandailing menganggap bahasanya sebagai bA, sebagian

masyarakat Karo menganggap bahasanya sebagai bK, sebagian masyarakat

Pakpak Dairi menganggap bahasanya sebagai bPD, dan seterusnya. Akan tetapi,

sebagian masyarakat lainnya menganggap bahwa hubungan bT-bA-bM, bPD-bK,

dan bPD-bK-bS adalah dialek.

Anggapan-anggapan masyarakat tadi tidak didasarkan pada data hubungan

genetis antara bahasa-bahasa tersebut melainkan pada fakta sosiolinguistik.

Haugen (1979:102) mengatakan bahwa dari segi penggunaan fungsional,

masyarakat berhak memberikan nama bahasa atau dialek kepada bahasa yang

digunakannya. Sementara itu, McManis dkk. (1987:116) mengatakan bahwa batas

dua dialek atau dua bahasa tidak dapat dilakukan secara tepat karena sering

dipengaruhi oleh faktor non-linguistik (misalnya, faktor politik).

Ada dua kemungkinan mengapa perbedaan anggapan-anggapan

masyarakat tersebut muncul. Pertama, sebagian masyarakat yang menganggap

bahasanya sebagai dialek bT berpedoman kepada sejarah bahwa masyarakat Batak

berasal dari daerah Toba, Tapanuli Utara yakni Sianjur Mula Mula tempat bahasa

Batak digunakan (Siahaan, 1964: Voorhoeve, 1975). Kedua, sebagian masyarakat

yang menganggap bahasanya bukan merupakan dialek bahasa Batak mempunyai

pemikiran bahwa mereka dan kelompok masyarakat lainnya tidak saling mengerti

atau menganggap dialek lebih rendah dari bahasa (Gleason, 1955:441; Haugen

(28)

Kedua anggapan yang berbeda tersebut sama-sama dapat diterima. Namun

setidaknya, harus ada data diakronis untuk menjelaskan anggapan para penutur

bbB dalam konteks status dialek atau bahasa. Masalah dialek atau bahasa

merupakan bidang penelitian diakronis yang dianalisis dengan teknik

leksikostatistik melalui pengelompokan bahasa-bahasa berkerabat berdasarkan

persentase kekerabatan dan waktu pisah. Masalah tersebut tidak merupakan

cakupan penelitian ini.

Mengenai anggapan bahwa bT adalah bahasa purba (proto-bbB) atas

asumsi bahwa Toba adalah daerah asal masyarakat Batak, dibutuhkan penjelasan

linguistik diakronis, yakni metode komparatif yang merupakan bidang penelitian

ini.

Sehubungan dengan uraian di atas, penelitian diakronis yang meliputi

rekonstruksi proto-bahasa dan pengelompokan bahasa-bahasa daerah sangat

strategis, baik secara teoretis maupun secara praktis. Penelitian bahasa-bahasa

daerah, khususnya bbB, secara diakronis semakin mendesak karena

bahasa-bahasa tersebut tidak mempunyai naskah-naskah fonetis tua yang dapat dijadikan

sebagai data untuk menganalisis perkembangan bahasa-bahasa tersebut melalui

rekonstruksi.

Walaupun suatu bahasa mempunyai naskah tua, rekonstruksi proto-bahasa

sangat diperlukan karena naskah tua tersebut tidak ditulis secara fonetis. Atas

dasar itu, pernyataan Keraf (1992:26) bahwa rekonstruksi proto-bahasa yang

mempunyai naskah tua tidak diperlukan karena bentuk-bentuk tuanya sudah

(29)

Bolton (1982:260) mengatakan, tulisan seperti fosil-fosil tidak membawa

kita lebih dari satu atau dua langkah ke belakang untuk mengetahui

perkembangan bahasa-bahasa sekarang.

Meskipun bahasa-bahasa berkerabat mempunyai naskah-naskah tua,

proto-fonem dan proto-morfemnya tidak serta merta dapat diketahui karena

naskah-naskah bahasa baik tua maupun kontemporer tidak diwujudkan secara fonetis

yang menunjukkan bagaimana bunyi-bunyi bahasa diartikulasikan oleh alat-alat

ucap manusia. Dengan menggunakan ortografi sebagai data, tidak dapat

ditentukan proto-fonem dan proto-morfem tanpa melakukan rekonstruksi. Di

samping itu, hubungan bahasa-bahasa berkerabat tidak selalu langsung ke

proto-bahasa tetapi juga melalui fase perantara (intermediate) yang juga disebut sebagai

bahasa meso (meso language) seperti terlihat pada diagram Hymes (1960:33)

berikut:

pAC(=pBC)

p(AB)

A B C pAB=meso language

pAC=proto language untuk A,B, dan C

Diagram 1.1 Proto-bahasa Perantara

Diagram di atas menunjukkan, terdapat proto perantara/ tengah

(intermediate) untuk bahasa A dan bahasa B yang disebut meso language.

Sementara itu, bahasa A dan bahasa C secara langsung mempunyai proto-bahasa

A dan bahasa C atau p(AC) dan bahasa A, bahasa B, dan bahasa C mempunyai

(30)

Dengan demikian, meskipun naskah tua p(ABC) tersedia, diperlukan

rekonstruksi p(ABC). Analisis seperti itu akan menunjukkan bentuk p(ABC)

melalui perbandingan bahasa A, bahasa B, dan bahasa C. Hal yang sama dapat

dilakukan dalam menentukan proto-bbB atau p(bbB).

Bukti lain tentang pentingnya rekonstruksi meskipun terdapat

naskah-naskah tua adalah fakta bahwa rekonstruksi bahasa Inggris Kuno (Old English),

Bahasa Inggris Pertengahan (Middle English), dan bahasa Inggris Chaucer

(Chaucer’s English) yang mempunyai naskah-naskah tua, dilakukan secara

ekstensif dengan menerapkan hukum bunyi Grim (Grimm’s Law) dan hukum

bunyi Verner (Verner’s Law). Sama halnnya, meskipun Dahl (1976) telah

menginventarisasi proto-bahasa-bahasa Austronesia (PAN), banyak peneliti yang

menganalisis perkembangan fonem-fonem PAN menjadi fonem-fonem

kontemporer pada bahasa-bahasa berkerabat yang diturunkannya.

Memang naskah-naskah tua, seperti naskah-naskah Jawa Kuno (Jawa

Kuno awal, pertengahan, dan akhir ) dan naskah Jawa Pertengahan akan sangat

bermanfaat dalam rekonstruksi proto-bahasa. Namun, ketersediaan

naskah-naskah tersebut tidak berarti bahwa rekonstruksi proto-bahasa Jawa tidak

diperlukan. Untuk tujuan seperti inilah dilakukan rekonstruksi satu bahasa dalam

dua atau lebih kurun waktu (rekonstruksi internal).

Kembali pada masalah pentingnya rekonstruksi proto-bbB, penelitian pada

bidang ini dipandang sangat penting di tengah semakin terdesaknya bahasa-bahasa

daerah oleh bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa global, khususnya bahasa

Inggris. Akibat berbagai faktor, khususnya alasan tersebut, kini bahasa-bahasa

daerah di Indonesia terancam kepunahan. Menurut Kepala Pusat Penelitian

(31)

(2011), 169 bahasa etnis di Indonesia terancam punah (diunduh 20 Desember

2012 dari http://www.antaranews.com/berita/289143).

Rekonstruksi, selain bermanfaat untuk studi linguistik komparatif, juga

merupakan langkah konkret untuk menggali bentuk-bentuk bahasa purba yang

tidak nampak sebagai bagian dari unsur budaya bangsa. Dengan adanya

rekonstruksi bbB, misalnya, fonem-fonem dan morfem-morfem bbB yang dulu

diperkirakan ada dapat dipulihkan dan dihubungkan dengan fonem-fonem dan

morfem-morfem yang ada sekarang sehingga sejarah perkembangannya dapat

diketahui. Penemuan itu identik dengan penemuan unsur-unsur budaya moyang

lainnya yang hubungannya dapat ditelusuri dengan unsur-unsur budaya

kontemporer.

Penelitian diakronis didasarkan pada fakta bahwa bahasa mengalami

perubahan secara perlahan-lahan dan teratur yang terlihat pada

pasangan-pasangan bunyi berkorespondensi. Artinya, bahasa-bahasa yang ada sekarang

tidak lahir begitu saja tetapi merupakan warisan dari proto-bahasa yang pernah

ada. Itu sebabnya mengapa bahasa-bahasa kontemporer yang diturunkan oleh

proto-bahasa yang sama mempunyai kemiripan antara satu dengan yang lain.

Contoh, bT, bS, bPD, bA, bK, dan bM mempunyai kesamaan atau kemiripan satu

sama lainnya. Hal itu dapat dilihat dari kesamaan atau kemiripan pada tataran

kosakata dasar (basic core vacubalary).

Meskipun tidak ada teori yang mengatakan bahwa bahasa dapat diwakili

kosakata dasar, data yang digunakan penelitian diakronis untuk menentukan

tingkat kekerabatan, waktu pisah, pengelompokan, dan rekonstruksi proto-bahasa

yang berhubungan secara genetis adalah kosakata dasar. Prinsip yang harus

(32)

merupakan pantulan proto-bahasa dan tidak merupakan kata-kata pinjaman atau

kata-kata yang dibentuk berdasarkan analogi dan ketabuan. Menurut Swadesh

(1952:117), kosakata dasar mencakup kata-kata yang menunjuk kata ganti, kata

bilangan, anggota tubuh (dan sifat atau aktivitasnya), alam dan sekitarnya serta

alat-alat perlengkapan sehari-hari.

Kata-kata yang termasuk dalam kosakata dasar lebih sulit berubah dari

kata-kata lain dan mempunyai retensi sampai ribuan tahun sesuai dengan

penelitian yang telah dilakukan terhadap bahasa-bahasa Indo-Eropa. Kata-kata

tersebut sulit digantikan oleh kata-kata pinjaman. Lehmann (1973:124)

mengatakan,

The first is that some items of the vocabulary are better maintained than others; the lower numerals, pronouns items referring to parts of the body and to natural objects_animals, plants, heavenly bodies, and so on. These items are referred to as the basic core vocabulary.

Walaupun kosakata dasar bertahan lebih lama dan sulit digantikan

kata-kata lain, dalam penelitian diakronis, peneliti harus memastikan bahwa data yang

dikumpulkan tidak boleh mengandung kata pinjaman (loan words), kata-kata

dalam bahasa-bahasa tertentu yang kebetulan mempunyai bentuk dan arti yang

sama dengan padanan-padanannya yang tidak mempunyai hubungan genetis

dengan bahasa-bahasa yang diteliti, dan kontak bahasa antara bahasa berkerabat

yang diteliti.

Inovasi atau perubahan bahasa terjadi sebagai akibat dari fakta bahwa

bahasa yang ada penuturnya bersifat dinamis atau hidup. Segala sesuatu yang

hidup, termasuk bahasa, mengalami perubahan secara teratur. Seperti

mahluk-mahluk biologis yang menurut teori Darwin mengalami evolusi, bahasa

(33)

adalah bitis dalam bT, bitis dalam bS, bitis dalam bPD, bitis dalam bA, bites dalam bK, dan bitis dalam bM.

Terlihat inovasi pada bK dengan berubahnya e dari fonem i dalam bahasa-bahasa kerabatnya. Fonem-fonem yang berkorespondensi pada bbB

adalah  b-b-b-b-b-b, i-i-i-i-i-i, t-t-t-t-t-t , i-i-i-i-e-i, dan  s-s-s-s-s-s yang dapat digambarkan sebagai berikut:

bT bS bPD bA bK bM

b b b b b b

i i i i i i

t t t t t t

i i i i e i

s s s s s s

Pada masa yang lampau, bitis, bitis, bitis, bitis bites, dan bitis adalah morfem yang sama. Proto-fonem dan

proto-morfem kata betis dan kata-kata lainnya dapat ditentukan melalui rekonstruksi

proto-bbB.

Menurut Crowley (1996:26), perubahan proto-bahasa (parent language)

terjadi secara perlahan-lahan dan teratur dan dapat ditelusuri pada bahasa-bahasa

yang diturunkannya (sister languages). Untuk mengetahui perubahan-perubahan

tersebut, refleksi-refleksi bentuk pada bahasa-bahasa berkerabat yang

diperkirakan berasal dari proto-bahasa yang sama harus dianalisis dengan metode

komparatif.

Sebagian kata-kata mengalami perubahan secara teratur melalui inovasi

bunyi dalam bahasa-bahasa berkerabat tetapi sebagian lainnya mengalami

kebertahanan (retensi) dalam kurun waktu yang cukup lama (ribuan tahun).

(34)

perangkat-perangkat korespondensi. Fenomena tersebut terjadi pada semua bahasa,

termasuk bbB.

Dalam bbB, contoh kata-kata yang mengalami perubahan fonem-fonem

dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1 Perubahan Fonem

Glos bT bS bD bA bK bM

bambu bulu buluh buluh bulu buluh bulu

bodoh t mt mt t mtu t

empat pat pat empat pat mpat pat

Dalam bahasa-bahasa tersebut, contoh kata-kata dan bunyi-bunyi yang

tidak mengalami perubahan atau bertahan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2 Retensi Fonem

Glos bT bS bD bA bK bM

minum minum minum minum minum minum minum ratus ratus ratus ratus ratus ratus ratus ayam manuk manuk manuk manuk manuk manuk

Fonem pada kata yang mengalami perubahan dapat direkonstruksi melalui

analisis terhadap keteraturan perubahan bunyi-bunyi yang mempunyai

korespondensi.

Perubahan bunyi dari proto-bahasa menjadi bunyi-bunyi dalam

bahasa-bahasa yang diturunkannya dapat terjadi dalam bentuk perubahan bunyi bersyarat

(conditioned sound change) dan perubahan tidak bersyarat (unconditioned sound

change). Perubahan bunyi bersyarat adalah perubahan yang diakibatkan

lingkungan berupa perubahan bunyi-bunyi yang berdekatan, posisi suku kata, dan

(35)

pada posisi-posisi yang berbeda (awal, tengah, dan akhir kata) tanpa dipengaruhi

lingkungan.

Perubahan-perubahan bunyi tersebut dapat digolongkan dalam jenis

afresis, apakop, sinkop, reduksi klaster, haplologi, eksresens, epentetis atau

anaptiks, protesis, metatesis, fusi, unpaking, pemisahan vokal, asimilasi,

disimilasi, perubahan tak normal, penghilangan fonem, penambahan fonem,

paragog dan lain-lain. Melalui analisis terhadap rekurensi perubahan

fonem-fonem dalam kata-kata berkerabat (kognat), proto-fonem-fonem dan proto-morfem

(kata-kata) dalam bbB dapat ditentukan.

Rekonstruksi dapat dilakukan dengan dua cara yakni rekonstruksi internal

(internal reconstruction) dan rekonstruksi komparatif (comparative

reconstruction). Dalam penelitian ini, rekonstruksi yang dilakukan adalah

rekonstruksi komparatif atau rekonstruksi dari bawah ke atas (bottom-up) untuk

menemukan proto-fonem dan proto-morfem bbB. Untuk mengetahui perubahan

fonem dan morfem dari proto-bahasa menjadi fonem dan morfem dalam

bahasa-bahasa berkerabat dilakukan analisis dari atas ke bawah (top-down) dengan

membandingkan proto-bbB dengan bbB kontemporer.

Untuk merekonstruksi proto-fonem dan proto-morfem,

pasangan-pasangan bunyi kognat (cognate sets) dibandingkan. Gudschinsky (1956:72)

memerinci prosedur yang harus diikuti untuk membandingkan kata-kata dan

menetapkan kriteria-kriteria untuk menentukan apakah pasangan-pasangan kata

yang dibandingkan berkerabat atau tidak.

Menurutnya, dalam analisis komparatif, pasangan yang dibandingkan

adalah fonem dengan fonem, fonem dengan klaster fonem atau klaster fonem

(36)

fonem atau fonem dengan klaster fonem dalam posisi yang dapat dibandingkan

(comparable sets). Contoh, untuk membandingkan cu (dialek Ixcatec

'mengatakan' dengan co (dialek Mazatec) 'mengatakan' yang dibandingkan adalah fonem c dengan fonem c dan fonem o dengan fonem u, untuk membandingkan ku 'dan' dengan kao 'dan' yang dibandingkan adalah k dengan k dan u dengan ao, dan untuk membandingkan suwa 'datang' dengan nčoa 'datang' yang dibandingkan adalah s dengan nč dan uwa dengan oa.

Perbandingan tersebut dapat digunakan sesuai dengan yang dikemukakan

Crowley (1992:92-94), untuk melakukan rekonstruksi bentuk-bentuk

proto-bahasa, dilakukan tiga langkah sebagai berikut.

Langkah pertama adalah memisahkan kata atau kata-kata yang berkerabat

dari kata-kata yang tidak berkerabat. Langkah kedua adalah menentukan

korespondensi bunyi pada bahasa-bahasa yang berkerabat. Langkah ketiga adalah

memeriksa bunyi-bunyi yang berkorespondensi yang perbedaannya pada

bahasa-bahasa berkerabat paling sedikit. Ketiga langkah itu dan langkah-langkah

tambahan akan diperinci pada bagian berikut disertasi ini.

Berdasarkan prosedur tersebut, perangkat-perangkat korespondensi fonem

dalam bbB untuk glos mati pada tabel 1 di atas adalah m-m-m-m-m-m,  a-a-a-a-a-a, t-t-t-t-t-t, dan e-e-e-e-e-e. Karena perangkat-perangkat korespondensi tersebut tidak mengalami inovasi atau diwariskan secara linear

kepada bahasa-bahasa yang diturunkannya, maka proto-fonem-fonem adalah

*m, *a, *t, dan *e.

Dengan ditemukannya proto-fonem, proto-morfem dapat ditentukan

(37)

proto-morfem (kata) glos mati adalah *mate yang dibangun oleh *m, *a, *t, dan *e.

Melalui prosedur yang sama, proto-fonem untuk glos ratus dalam bbB

adalah *r, *a, *t, *u, dan *s sedangkan proto-morfemnya adalah *ratus. Sama halnya, proto-fonem untuk glos ayam adalah *m, *a, *n, *u, dan *k sedangkan proto-morfemnya adalah *manuk.

Data ini menunjukkan bahwa proto-fonem dan proto-morfem untuk glos

mati, ratus, dan ayam tidak mengalami inovasi atau perubahan dalam bbB dan

semua perangkat korespondensi diwariskan secara linear oleh proto-fonem-fonem

dan proto-morfem.

Untuk menentukan proto-fonem dan proto-morfem (kata) pada tabel 2 di

atas, dilakukan prosedur yang sama. Untuk glos bambu, dibandingkan

bunyi-bunyi dalam masing-masing bahasa yakni b-b-b-b-b-b, u-u-u-u-u-u,  l-l-l-l-l-l, u-u-u-u-u-u, dan -h-h--h-. Proto-fonem untuk perangkat korespondensi (correspondence sets atau cognate sets) pertama adalah *b, untuk perangkat kedua adalah *u, untuk perangkat ketiga adalah *l, untuk perangkat keempat adalah *u, dan untuk perangkat kelima adalah *h yang dalam semua bahasa mudah hilang (akan dibahas lebih jauh pada

analisis data). Perangkat-perangkat korespondensi yang tidak mengalami

perbedaan pada setiap bahasa yakni b-b-b-b-b-b, u-u-u-u-u-u, dan  l-l-l-l-l-l menunjukkan pewarisan langsung atau linear dari proto-bahasa ke bahasa-bahasa yang diturunkannya (daughter languages). Dengan demikian, proto-fonem

(38)

-h-h--h-  adalah *h yang mengalami inovasi pada bbB dengan

alasan seperti disebutkan tadi. Atas dasar itu, proto-morfem (kata) glos bambu

adalah *buluh yang dibangun oleh *b,*u,*l, *u, dan *h. Sementara itu, untuk menentukan proto-fonem untuk glos bodoh,

dilakukan prosedur yang sama dengan membandingkan --m--m-, ----- , t-t-t-t-t-t, dan ----u-. Dengan data yang

terbatas, tidak dapat ditentukan apakah  merupakan proto-fonem  --m--m- dan * merupakan proto-fonem ----u-.

Namun demikian, karena salah satu kriteria penentuan proto-fonem adalah

distribusi terluas, seperti dijelaskan oleh Crowley (1992: 110) bahwa bunyi yang

mempunyai distribusi paling luas dalam bahasa-bahasa berkerabat paling

mungkin sebagai proto-fonem, maka untuk sementara proto-fonem perangkat

korespondensi --m--m- adalah * dan proto-fonem perangkat ----u- adalah *. Atas dasar itu, proto-morfem glos

bodoh adalah *t yang dibangun oleh , , *t, dan *. Untuk glos empat, pasangan yang dibandingkan adalah --e-- -, --m--m-, p-p-p-p-p-p, a-a-a-a-a-a, dan t-t-t-t-t-t.

Proto-fonem kata tersebut adalah *, *p, *a, dan *t, sedangkan proto-morfemnya adalah *pat. * dan  diperkirakan sebagai proto-fonem atas alasan seperti di atas (distribusi terluas).

Penentuan proto-fonem seperti ini bersifat tentatif akibat keterbatasan

data. Perangkat-perangkat korespondensi itu masih merupakan indikasi dan harus

diuji dalam data yang lebih banyak seperti yang akan terlihat pada analisis data

(39)

rekonstruksi melalui penemuan keberulangan secara teratur (rekurensi)

perangkat-perangkat korespondensi.

Rekurensi terjadi pada posisi di mana perangkat-perangkat korespondensi

didistribusikan yang dapat ditunjukkan dengan rumus-rumus bunyi (rules of

sounds). Misalnya, rumus perubahan bunyi untuk glos bambu pada tabel 1 di atas

Glos bT bS bD bA bK bM

bambu bulu buluh buluh bulu buluh bulu

adalah *h berubah menjadi  atau hilang dalam bT, bA, dan bM pada posisi akhir kata akibat hilangnya *h setelah bunyi vokal.

Perubahan bunyi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

h →/___# V

Rumus ini masih bersifat tentatif karena rekurensi perubahan atau

pergeseran bunyi tersebut masih harus diuji dalam data yang lebih banyak.

Rekurensi perangkat korespondensi proto-fonem bbB akan menunjukkan

tingkat kemiripan (kedekatan) antara sesamanya. Bahasa-bahasa yang

mempunyai kemiripan yang lebih dekat dikelompokkan dalam satu proto-bahasa

tengah (meso language).

Setelah ditemukannya bunyi-bunyi yang terdapat dalam alat penjaring data

dan setelah diketahuinya proto-fonem melalui rekonstruksi, semua bunyi yang

(40)

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, dalam bbB terlihat adanya keteraturan

perubahan bunyi dalam perangkat korespondensi bunyi, proto-fonem yang

menurunkan bunyi-bunyi tersebut yang dapat dijadikan sebagai landasan

rekonstruksi proto-morfem, rumus perubahan bunyi, serta berbagai fonem dan

realisasi fonetisnya.

Atas dasar itu, masalah-masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Perangkat korespondensi bunyi apakah yang terdapat dalam bT, bS, bPD,

bA, bK, dan bM?

2. Proto-fonem dan proto-morfem apakah yang memantulkan fonem-fonem

dan morfem-morfem bT, bS, bPD, bA, bK, dan bM?

3. Bagaimanakah proto-fonem tersebut mengalami inovasi dalam bT, bS,

bPD, bA, bK, dan bM serta bagaimanakah inovasi tersebut dirumuskan?

4. Bagaimanakah pengelompokan bbB?

5. Fonem-fonem dan realisi fonetis apakah yang terdapat dalam bT, bS, bD,

bA, bK, dan bM?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk menemukan perangkat-perangkat korespondensi dalam bT, bS,

bPD, bA, bK, dan bM.

2. Untuk merekonstruksi proto-fonem dan proto morfem bT, bS, bD, bA,

bK, dan bM.

3. Untuk menemukan inovasi proto-fonem bbB dan merumuskan inovasi

(41)

4. Untuk mengelompok bT, bS, bD, bA, bK, dan bM berdasarkan kesamaan

atau kemiripan fonem-fonem bbB.

5. Untuk mengiventarisasi fonem-fonem bbB dan realisasi fonetisnya.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini mempunyai manfaat praktis dan teoretis seperti yang

tercantum di bawah ini.

1.4.1. Manfaat Praktis

1. Penelitian ini memberikan solusi atas perbedaan pendapat

berkepanjangan di kalangan masyarakat Batak tentang bahasa apa di

antara bbB yang merupakan p(bbB). Tanpa adanya solusi tersebut,

perbedaan pendapat dan polemik berkepanjangan itu yang bersumber

dari dugaan-dugaan non-linguistik dapat menimbulkan permusuhan

dan ketidakharmonisan rasial.

2. Rekonstruksi proto-bahasa, termasuk proto-bbB merupakan langkah

konkret untuk menggali bentuk-bentuk bahasa purba yang tidak

nampak sebagai salah satu unsur kebudayaan bangsa Indonesia. Di

tengah pengaruh globalisasi, Indonesia cenderung mengadopsi budaya

asing dengan melupakan budayanya sendiri, khususnya budaya kuno.

Penelitian yang menggali sejarah bbB merupakan upaya untuk

melahirkan kesadaran tentang pentingnya melestarikan masa lalu

budaya, termasuk bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia.

3. Membaca penelitian ini, para pembaca akan mengetahui persamaan

(42)

adanya pengetahuan tersebut, mereka akan mempunyai kemampuan

komunikasi yang lebih besar.

4. Kosakata dasar dalam bahasa-bahasa tersebut dapat dijadikan sebagai

rujukan bagi pembelajaran perbendaharaan kata yang menunjuk

anggota tubuh, kata bilangan, hubungan kekerabatan, alam dan

sekitarnya serta kegiatan-kegiatan sehari-hari baik untuk tujuan

pembelajaran bahasa-bahasa itu, secara khusus maupun untuk

pembelajaran perbandingan bahasa, secara umum.

5. Dengan mengetahui kata-kata yang digunakan untuk menunjuk alam

dan sekitarnya, para pembaca dapat mengetahui keadaan alam,

tumbuh-tumbuhan, dan hewan yang ada di setiap daerah pemakai

bahasa masing-masing.

6. Penelitian ini dapat memotivasi para peneliti untuk melakukan

penelitian dalam bidang linguistik historis komparatif terhadap

bahasa-bahasa daerah, khususnya bahasa-bahasa-bahasa-bahasa daerah yang tidak mendapat

perhatian dari para ahli bahasa.

7. Di tengah banyaknya bahasa daerah di Indonesia yang terancam

kepunahan, penelitian ini sangat bermanfaat untuk melestarikan

kosakata dasar bbB yang belakangan ini mulai dipakai

berdampingan dengan atau digantikan oleh kosakata bahasa Indonesia,

dan bahasa-bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Misalnya, kata

maan makan dalam bT dipakai berdampingan dengan

(43)

adik laki-laki dipakai berdampingan dengan atau diganti oleh adek, dan mardlndln berjalan-jalan

dipakai berdampingan dengan atau diganti oleh runrun yang berasal dari kata bahasa Inggris roundmengelilingi.

1.4.2 Manfaat Teoretis

1. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai rujukan dalam studi sejarah

perkembangan bahasa-bahasa yang berkerabat (sister languages), dalam

hal ini bbB, dari bahasa purba (proto/parent language) dalam lingkup

Linguistik Historis Komparatif (Historical Comparative Linguistics).

2. Penelitian ini menunjukkan cara menentukan perangkat-perangkat fonem

atau klaster fonem yang berkorespondensi melalui analisis komparatif

dan diakronis serta merekonstruksi proto-bahasa dan mengelompokkan

bahasa-bahasa berdasarkan tingkat kemiripan antara satu dengan yang

lain.

3. Karena perbandingan bahasa dalam penelitian ini didasarkan pada

perangkat perangkat bunyi atau klaster bunyi berkerabat, penelitian ini

sangat bermanfaat untuk studi fonetik dan fonologi.

4. Keteraturan perubahan dan kebertahanan bunyi dalam bbB yang

ditunjukkan dalam penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk

(44)

1.5 Keterbatasan Penelitian

Merekonstruksi proto-bahasa dapat dilakukan melalui rekonstruksi

fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Penelitian ini terbatas pada

rekonstruksi perangkat korespondensi bunyi, klaster bunyi, dan morfem-morfem

bebas yang dibangunnya. Pembatasan tersebut dilakukan karena rekonstruksi

dalam bidang-bidang linguistik lainnya, termasuk sintaksis dan semantik kurang

berkembang dibanding dengan rekonstruksi proto-bahasa dalam bidang fonologi,

baik pada rumpun bahasa Indo-Eropa maupun pada rumpun bahasa Austronesia,

sehingga sulit menemukan referensi untuk penelitian di luar fonologi. Sebeok

(1971) mengatakan, rekonstruksi dalam bidang fonologi proto-Austronesia (PAN)

lebih maju dibanding dengan rekonstruksi bidang-bidang lainnya. Menurutnya,

belum ada penelitian tentang morfologi dan sintaksis PAN, kecuali penelitian

yang dilakukan secara kebetulan.

Rekonstruksi dalam penelitian ini terbatas pada rekonstruksi

proto-morfem bbB dengan membandingkan fonem-fonem yang ada dalam

bahasa-bahasa tersebut dan tidak mencakup rekonstruksi sintaksis dan semantik. Pada

umumnya, ketika para peneliti menggunakan istilah rekonstruksi, secara implisit

istilah itu mengandung makna rekonstruksi proto-morfem akibat lebih

dominannya penelitian yang didasarkan pada analisis fonemis dibanding dengan

penelitian di bidang sintaksis dan semantik.

Sementara itu, meskipun rekonstruksi proto-bahasa mempunyai persamaan

dengan rekonstruksi kejahatan (kriminal), kedua rekonstruksi tersebut mempunyai

perbedaan. Rekonstruksi proto-bahasa tidak dapat menunjukkan proto-bahasa

yang sesungguhnya, sedangkan rekonstruksi kejahatan (kriminal) dapat

(45)

Tentang keterbatasan rekonstruksi proto-bahasa, Keraf (1983:76)

mengatakan,

Disadari sepenuhnya, bahwa apa yang dihasilkan dari rekonstruksi itu mungkin tidak paralel dengan keadaan yang sebenarnya dengan perkembangan sejarah yang faktual. Bentuk-bentuk rekonstruksi secara pasti dapat memberikan implikasi tentang wujud kata-kata proto, tetapi ia bukan kata-kata proto itu sendiri.

Keterbatasan rekonstruksi fonetis atau fonologis juga dikemukakan Mbete

(2010) sebagai berikut, “Proto-bahasa bukanlah wujud nyata bahasa, melainkan

suatu “bangunan bahasa” yang dirakit kembali sebagai gambaran tentang masa

lalu, yang juga tidak utuh”.

Sementara itu, McManis dkk., (1987: 265) mengatakan bahwa Teori

Pohon Keluarga Bahasa (maksudnya, hubungan genetis bahasa yang merupakan

landasan rekonstruksi proto-bahasa) dan Teori Gelombang tidak dapat

memberikan jawaban yang memuaskan dan akurat tentang perubahan bahasa dan

keberhubungan bahasa-bahasa. Mereka mengatakan selengkapnya sebagai

berikut:

In fact, neither the family tree model nor the wave model presents entirely adequate or accurate accounts of language change or the relatedness of language. For example, it is now known that languages can exhibit linguistic similarities without necessarily being related. Nonetheless, the family tree and wave model do provide useful frame works for the discussion of language change.

Meskipun rekonstruksi proto-bahasa tidak menghasilkan bentuk-bentuk

proto-bahasa yang sesungguhnya, rekonstruksi proto-bahasa bukan tidak berguna.

Rekonstruksi moyang manusia yang sudah berusia ratusan juta tahun juga tidak

mampu menemukan hubungan yang hilang antara satu bentuk rangka dengan

(46)

prakiraan, tetapi sangat bermanfaat untuk mengestimasi evolusi mahluk hidup,

khususnya manusia, dari suatu masa ke masa lainnya untuk kepentingan

pengembangan ilmu pengetahuan. Sama halnya, rekonstruksi bahasa sangat

bermanfaat untuk memprediksi bentuk-bentuk proto-bahasa yang sangat

bermanfaat, bukan saja untuk studi linguistik tetapi juga untuk studi evolusi,

kebudayaan, sejarah, dan lain-lain.

Selain dari keterbatasan di atas, penelitian ini juga mempunyai

keterbatasan karena tidak mencakup faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya

perubahan bunyi bbB seperti anatomi dan karakter etnik, iklim dan geografi,

substrata, identifikasi daerah, kebutuhan fungsional, dan simplifikasi. Analisis

perubahan bunyi dalam penelitian ini terbatas pada jenis-jenis perubahan bunyi

(47)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Pada bagian kajian pustaka ini, akan disajikan pengertian umum tentang

istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini serta teori-teori dan

penjelasan-penjelasan yang mendasarinya dengan segala kekuatan dan kelemahannya dan

bagaimana teori-teori tersebut diimplementasikan serta penelitian-penelitian

terdahulu yang berhubungan dengan penelitian ini. Teori-teori dan

penjelasan-penjelasan serta implementasinya, yang mempunyai kekuatan akan dijadikan

landasan dalam pengumpulan dan analisis data, sedangkan yang mempunyai

kelemahan akan dijadikan bahan perbandingan.

2.1 Pengertian Istilah/Penjelasan dan Kerangka Teori

2.1.1 Pengertian Istilah/Penjelasan

2.1.1.1 Korespondensi Bunyi

Langacker (1972:329-230) mengatakan bahwa alat metode komparatif

adalah korespondensi bunyi sistematis dalam bahasa-bahasa berkerabat. Dia

mengatakan perbedaan-perbedaan bentuk fonetis dalam perangkat korespondensi

bersifat sistematis. Bunyi-bunyi yang berkorespondensi tidak harus sama tetapi

muncul secara teratur pada posisi yang sama dalam kata-kata yang mirip baik dari

segi bentuk maupun arti.

Dalam penjelasan tersebut, dia tidak menggunakan istilah perangkat

korespondensi fonemis, tetapi menggunakan istilah korespondensi bunyi yang

(48)

Crowley (1992:93) mengatakan bahwa korespondensi bunyi adalah

perangkat bunyi dalam kata-kata berkerabat yang dipantulkan oleh satu

proto-bahasa. Crowley (1992:106) menjelaskan bahwa perangkat korespondensi bunyi

melibatkan bunyi-bunyi yang mirip secara fonetis.

Seperti Langacker, dia tidak menggunakan istilah perangkat korespondensi

fonetis atau perangkat korespondensi fonemis, melainkan menggunakan istilah

perangkat korespondensi bunyi (sound correspondence), korespondensi vokal

(vowel correspondence), dan korespondensi konsonan (consonant

correspondence). Namun, dia mengatakan, “….here we are trying to analyse the

phonemes of the proto-language by using the sound correspondences as the

‘phonetic’ raw data.”

Penjelasan tersebut berarti bahwa untuk menganalisis proto-bahasa

digunakan korespondensi bunyi sebagai data mentah fonetis. Artinya, data yang

digunakan dalam perangkat korespondensi bunyi adalah data fonetis alih-alih data

fonemis. Itulah sebabnya mengapa dalam langkah-langkah melakukan

rekonstruksi, tidak disebutkan langkah mengubah data fonetis menjadi data

fonemis. Crowley (1992:75-89) menggunakan data fonemis untuk menganalisis

apakah perubahan proto-fonem berwujud perubahan fonetis yang mengakibatkan

perubahan fonemis atau tidak. Menurut dia, perubahan fonetis tanpa perubahan

fonemik berwujud alofon atau subfonem sedangkan perubahan fonetis dengan

perubahan fonemis berwujud menghilangnnya fonem, pertambahan fonem, dan

(49)

Sementara itu, Hock (1988:562) memakai istilah korespondensi bunyi

secara rekuren dan sistematis, alih-alih perangkat korespondensi fonemis. Dalam

penjelasannya, dia menggunakan data fonetis.

Untuk maksud yang sama, korespondensi bunyi, Keraf (1991:49)

mengganti istilah korespondensi bunyi dengan istilah korespondensi fonemis atas

alasan bahwa hukum bunyi mengandung tendensi adanya ikatan yang ketat. Dia

tidak menjelaskan apakah perangkat korespondensi bunyi berwujud fonetis atau

fonemis. Namun, dia menggunakan data fonetis dalam penjelasannya. Hal itu

dapat dilihat dari fakta bahwa dia tidak mereduksi data fonetis menjadi data

fonemis sebelum melakukan rekonstruksi. Artinya, penggunaan perangkat

korespondensi fonemis hanya sebatas penggunaan istilah dan tidak bermaksud

bahwa data korespondensi bunyi haruslah data fonemis.

Jika tidak hati-hati, seorang peneliti akan tersesat setelah membaca istilah

perangkat korespondensi fonemis. Ia akan menggunakan data fonemis dalam

korespondensi bunyi. Atas dasar itu, peneliti akan menggunakan perangkat

korespondensi bunyi seperti yang digunakan Langacker (1972:329-230) dan

Crowley (1992:93).

Keraf (1991:49) memberikan penjelasan yang lebih jauh tentang

korespondensi fonemis. Dikatakannya, korespondensi fonemis adalah

fonem-fonem yang terdapat pada posisi yang sama dalam pasangan kata yang

mempunyai kesamaan atau kemiripan bentuk dan makna.

Korespondensi fonemis dapat dilihat pada sepuluh bilangan utama dalam

(50)

Glos Yunani Latin Sanskerta Gotik

satu oinos unus ekas ains dua dyo duo dva twai tiga treis tres travas threis

empat tettaras quattuor catvaras fidwor lima pente quinque panca

fimf

enam heks sex sas saih tujuh hepta septem sapta

sibun

delapan okto octo asta ahtau sembilan en-nea novem nava niun

sepuluh deka decem dasa taihum

Data di atas menunjukkan perangkat korespondensi, yakni d-d-d-t yang terdapat pada glos dua dan sepuluh. Perangkat korespondensi lain adalah  h-s-s-s, yaitu perangkat fonem konsonan awal pada glos enam dan tujuh. Perangkat korespondensi ketiga adalah e-e-a-i, yang merupakan perangkat korespondensi vokal pertama pada glos sepuluh dan tujuh.

Menurut Keraf, perangkat korespondensi pada satu pasang kata tidak

cukup dan masih merupakan indikasi adanya perangkat korespondensi tersebut.

Sehubungan dengan itu, perangkat tersebut harus diuji pada sebanyak mungkin

pasangan kata pada bahasa-bahasa yang dibandingkan. Hal itu penting untuk

menghindarkan faktor kebetulan atau penghilangan korespondensi yang

seharusnya ada dan pemaksaan perangkat yang tidak berkorespondensi menjadi

perangkat berkorespondensi. Keterdapatan secara berulang dan teratur perangkat

(51)

Rekurensi fonemis dapat dilihat pada contoh berikut:

Untuk glos rumah pada data di atas, terdapat perangkat korespondensi

h h h h h

aw aw  u u

s s s s s

Dari ketiga perangkat korespondensi tersebut, perangkat korespondensi

aw:aw::u:u mengalami rekurensi seperti terlihat pada data berikut:

(52)

coklat brawn brawn brn bru:n bru:n

Dalam bahasa-bahasa Austronesia, Keraf (1991: 51) memberikan contoh:

kata hidung dalam bahasa Melayu: hidung, Batak: igung, dan Sunda: irung. Dari

data tersebut dapat ditarik perangkat korenspondensi yang diperkirakan akan

mengalami rekurensi fonemis, yakni d-g-r yang terlihat dalam:

h i d u  i g u  i r u 

Pada data yang mencukupi, d-g-r  diperkirakan akan terjadi berulang dan teratur (rekuren).

Untuk menghindarkan dikeluarkannya fonem tertentu dari perangkat

korespondensi karena kelihatan sangat berbeda dari fonem-fonem lainnya (seperti

dijelaskan sebelumnya), Keraf mengatakan bahwa ko-okurensi (co-occurance)

harus dicermati. Ko-okurensi adalah gejala-gejala tambahan yang terjadi

sedemikian rupa pada kata-kata berkerabat yang dapat mengaburkan kemiripan

makna dan bentuk serta korespondensi fonetis.

Menurut Keraf (1991:55), kata baru dalam bahasa Melayu adalah baru,

bahasa Jawa: weru, bahasa Karo: mbaru, dan bahasa Lamalera: fu. Karena kata fu

identik dengan fu busur, ada kecenderungan peneliti untuk mengeluarkan kata tersebut dari pasangan kata berkerabat sehingga fonem /f/ tidak dimasukkan

dalam perangkat korespondensi b:w:b:f. Namun, karena gejala yang sama terdapat dalam bahasa itu dan bahasa-bahasa Nusantara lainnya, /f/ dalam kata fu

baru tetap merupakan anggota perangkat korespondensi tadi atas dasar, fu

berkerabat dengan kata baru. Kata fu telah mengalami kontraksi dari bentuk

(53)

hilang dari bentuk tersebut. Kedua vokal yang mengapit /h/ mengalami proses

sandi dan berubah menjadi /u/.

Gejala hilangnya /r/ antarvokal (intervocalic r) merupakan hal yang

umum terjadi dalam bahasa-bahasa Nusantara. Misalnya, kata turut, dalam bahasa

Melayu adalah turut dan tut dalam bahasa Jawa. Contoh lain, kata beras dalam

bahasa Jawa mengalami proses perubahan sebagai berikut: berat-behat-beat-bot;

beras-behas-beas-wos atau beras-weras-wehas-weas-wos.

Keraf juga menjelaskan, penentuan perangkat korespondensi harus

terlepas dari analogi, yakni menjadikan ko-okurensi dalam bahasa-bahasa

berkerabat sebagai dasar untuk memasukkan fonem-fonem dari dari

bahasa-bahasa lain dalam perangkat korespondensi fonemis. Misalnya, kata pikir yang

berasal dari bahasa Arab, fikir dirasakan sudah merupakan kata bahasa Melayu.

Atas dasar itu, kemungkinan peneliti akan menjadikan f-p sebagai perangkat korespondensi fonemis dalam bahasa-bahasa berkerabat Nusantara. Penentuan

perangkat korespondensi seperti ini didasarkan pada analogi yang salah.

2.1.1.2 Metode Komparatif

Menurut Langacker (1972:329), metode komparatif (comparative method)

adalah teknik untuk menentukan keberhubungan secara genetis sekelompok

bahasa dan untuk merekonstruksi proto-bahasa yang menurunkan bahasa-bahasa

tersebut.

Sementara itu, Hock (1988:556) mengatakan bahwa metode komparatif

Gambar

Tabel 1 Perubahan Fonem
Tabel 4.1  Perangkat Korespondensi bbB, p(bbB), Distribusi,   dan Frekuensinya
Tabel 4.2 Proto-fonem dan Proto-morfem bbB
Tabel 4.3 Tabel Tingkat Kemiripan bbB dengan p(bbB)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Nicco Erianto Hutapea : Diatesis Dalam Bahasa Batak Toba, 2008.. USU Repository

Lamtio Simanjuntak : Adverbia Dalam Bahasa Batak Toba, 2005 USU Repository © 2008... Lamtio Simanjuntak : Adverbia Dalam Bahasa Batak Toba, 2005 USU Repository

Dari 200 data swadesh yang telah diklasifikasikan, dapat dilihat bahwa kosakata kerabat yang terdapat pada bahasa Batak Toba dengan bahasa Batak Mandailing adalah

diperoleh dari penelitian ini, bahwa makna metafora EMOSI STATIF dalam bahasa Batak Toba.. merupakan suatu bentuk ekspresi emosi Masyarakat Batak Toba yang

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini, bahwa makna metafora EMOSI STATIF dalam bahasa Batak Toba merupakan suatu bentuk ekspresi emosi Masyarakat Batak Toba yang

Aplikasi yang dikembangkan berhasil memenuhi kebutuhan pengguna dengan mengembangkan fitur kamus bahasa Batak Toba – Indonesia, permainan kuis kosakata Batak Toba,

Silitonga (2015) dalam skripsinya “Kekerabatan Bahasa Batak Toba dan Bahasa Batak Simalungun Kajian : Leksikostatistik”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan

skripsinya meneliti semantik verba “BAWA” dalam bahasa Batak Toba, Lumban. Gaol (2014) dalam skripsinya meneliti verba POTONG dalam bahasa