• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Variasi Ukuran Lubang Saringan Pada Alat Penggiling Tulang Sapi Kering

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Uji Variasi Ukuran Lubang Saringan Pada Alat Penggiling Tulang Sapi Kering"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

35

Lampiran 1. Flowchart Penelitian

Mulai

Memasukkan Bahan ke Saluran Pemasukan

Pemasangan Mesh

Catat Waktu Penggilingan

Pengukuran Parameter: 1. Kadar Air

2. Rendemen 3. Bahan Tertinggal 4. Kehalusan Saringan

Analisis Data

(2)

36

Lampiran 2. Data Pengamatan Kadar Air (%) Tabel data pengamatan kadar air

Perlakuan Ulangan Total

Rata-Rata

1 2 3

M1 1,37 1,84 1,48 4,69 1,563

M2 0,76 1,07 0,74 2,57 0,857

M3 0,31 0,15 0,15 0,61 0,203

Analisis Sidik Ragam Kadar Air

(3)

37

Lampiran 3. Data Pengamatan Rendemen (%) Tabel data pengamatan Rendemen

Perlakuan Ulangan Total

Rata-Rata

1 2 3

M1 97 96 97 290 96,667

M2 93 92 96 281 93,667

M3 94 94 93 281 93,667

Analisis Sidik Ragam Rendemen

(4)

38

Lampiran 4. Data Pengamatan Bahan Tertinggal (%) Tabel data pengamatan bahan tertinggal

Perlakuan Ulangan Total

Rata-Rata

1 2 3

M1 2 2 2 6 2,000

M2 4 5 3 12 4,000

M3 4 3 4 11 3,667

Analisis Sidik Ragam Bahan Tertinggal

SK dB JK KT Fhitung F0,05 F0,01

Perlakuan 2 6,889 3,444 7,75 ** 5,143253 10,92477

Galat 6 2,667 0,444

Total 8 9,556

Keterangan : ** = sangat nyata * = nyata

(5)

39

Lampiran 5. Data Pengamatan Kehalusan Saringan (%) Tabel data pengamatan Kehalusan

Perlakuan Ulangan Total

Rata-Rata

1 2 3

M1 52,92 51,33 49,1 153,35 51,117

M2 52,77 52,85 52,68 158,3 52,767

M3 34,53 30,51 27,02 92,06 30,687

Analisis Sidik Ragam Nilai Kehalusan

(6)

40

Lampiran 6. Gambar alat

Gambar 5. Tampak depan

Gambar 6. Tampak belakang

(7)

41

Gambar 8. Tampak samping kanan

Gambar 9. Mesh 150

(8)

42

Lampiran 7. Gambar bahan yang diolah

Gambar 11. Tulang sebelum dipolong dan dikeringkan

Gambar 12. Tulang setelah dipotong dan dikeringkan

(9)

43

Lampiran 8. Gambar teknik

(10)

44

(11)

45

(12)

46

(13)

47

(14)
(15)

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Z., 2006. Elemen Mesin I. PT Refika Aditama, Bandung.

Ailani, C. 2014. Reduksi dan Pengayakan Tepung Ubi Jalar Menggunakan Pengayak Goyang (Shaker Screen) dengan Variabel Ukuran Partikel Sebagai Bahan Baku Pembuatan Kue Tradisional. http://eprints.undip.ac.id [26 Mei 2016].

AOAC, 2005. Official Methods of Analysis of The Association of Official Analytical Chemist. AOAC International. Maryland, USA.

Astrina, A. R. Siti, dan Nikmatur. 2010. Pemanfaatan Limbah Tulang Ikan Bandeng Sebagai Bakso Berkalsium Tinggi.

[26 Mei 2016].

Khodijah, S. W., H. G. Ariswati, dan T. Indrato, 2014. Mini Sieve Shaker.

McCabe, Warren, L dan Smith, J. C. 1999. Operasi Teknik Kimia Edisi Ke-4. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Mochtar. 1990. Fisika Farmasi. UGM Press, Yogyakarta.

Muinah, 2011. Analisis Pengaruh Tingkat Pendapatan dan Tingkat Pendidikan Masyarakat Terhadap Permintaan Produk Asuransi Jiwa. http://usu.ac.id [26 Mei 2016].

Murtidjo, B. A. 2001. Pedoman Meramu Pakan Ikan. Kanisius Yogyakarta.

(16)

33

Panggabean, J., A Rohanah, A. Rindang dan E. Susanto, 2012. Uji Beda Ukuran Mesh Terhadap Mutu pada Alat Penggiling Multifucer. http://repository.usu.ac.id [22 Agustus 2016].

Pratomo, M. dan K. Irwanto, 1983. Alat dan Mesin Pertanian. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Rachmawan, O. 2001. Pengeringan Pendinginan dan Pengemasan Komoditas Pertanian. Depdiknas, Jakarta.

Retnani, Y., 2011. Proses Produksi Pakan Ternak. Ghalia Indonesia, Bogor.

Rugayah, N. 2014. Potensi Kotoran dan Tulang Ternak Sebagai Sumber Produk Non-Pang

Said, M. I. 2014. Pemanfaatan Limbah Tulang [26 Mei 2016].

Sari, D. P. 2015. Pengaruh Suhu dan Lama Penyangraian Terhadap Karakteristik Tepung Tulang

Septimus, S. 1961. Anatomi of Domestic Animal. Mc.Graw Hill, New York. Siregar, F. M. 2009. Motor Bakar Soetoyo, R dan Syafaruddin, L. 1981. Laporan Diskusi Pascapanen Padi dan

Palawija. LP3, Karawang.

Standar Nasional Indonesia, 1992. Tepung Tulang. Dewan Standarisasi Nasional Indonesia, Jakarta.

Stolk, J. dan C. Kross, 1981. Elemen Mesin: Elemen Konstruksi dari Bangunan Mesin. Erlangga, Jakarta.

Sudarmadji, S., B. Haryono dan Sukardi. 1989. Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty, Yogyakarta.

(17)

34

Taib, G. G., Said dan S. Wiraatmadja. 1988. Operasi Pengeringan pada Pengolahan Hasil Pertanian. PT Mediatama Sarana Perkasa, Jakarta.

Voight, G. R. 1971. Teknologi Sendian Farmasi Edisi 5. UGM Yogyakarta.

Ward, A. G dan A. Court. 1977. The Science and Technology of Gelatin. Academic Press, New York.

(18)

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April hingga November 2016 di Laboratorium Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Bahan dan Alat Penelitian

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tulang sapi yang telah dikeringkan, saringan 150 mesh, 200 mesh , 250 mesh, plastik dan kertas label.

Adapun alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat penggiling tulang sapi kering, kunci ring 16, kunci pas 10, timbangan, stopwatch, kalkulator dan alat tulis.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode perancangan percobaan rancangan acak lengkap (RAL) non faktorial dengan satu faktor yaitu ukuran lubang saringan alat penggiling tulang sapi kering dengan tiga kali ulangan pada tiap perlakuan. Faktor ukuran lubang saringan pada alat penggiling tulang sapi kering:

M1 = 150 Mesh

M2 = 200 Mesh

(19)

17

Prosedur Penelitian

A. Pembuatan Saringan dan Persiapan Bahan 1. Pembuatan dan Pemasangan Saringan.

a. Disiapkan bahan untuk membuat Saringan.

b. Dilakukan pengukuran terhadap plat besi sesuai dengan ukuran yang ditentukan.

c. Dipotong besi yang sudah diukur.

d. Dilubangi saringan untuk ukuran 150 mesh, 200 mesh dan 250 mesh. e. Dihaluskan seluruh permukaan saringan.

f. Dipasangkan saringan ke alat penggiling tulang. 2. Persiapan Bahan

a. Disiapkan tulang yang akan digiling. b. Ditimbang tulang yang akan digiling. c. Tulang siap untuk digiling.

B. Pelaksanaan Penelitian

a. Dipasang saringan sesuai ukuran yang diinginkan. b. Dinyalakan alat penggiling tulang.

d. Dimasukkan tulang melalui saluran pemasukan.

e. Dicatat waktu yang dibutuhkan untuk menggiling tulang.

(20)

18

Parameter yang Diamati

1. Kadar Air Tepung Tulang

Kadar air bahan menunjukkan banyaknya kandungan air yang terdapat persatuan bobot bahan. Adapun prosedur perhitungan kadar air adalah sebagai berikut: bahan ditimbang sebanyak 5 gram didalam alumunium foil yang telah dikeahui berat kosongnya. Dikeringkan dalam oven dengan suhu 105oC selama 4 jam. Kemudian dinginkan dalam desikator selama 15 menit lalu ditimbang. Perlakuan ini diulang sampai diperoleh berat konstan. Kadar air kemudian dihitung dengan rumus:

Kadar air = berat awal-berat akhir

berat awal

×

100% ... (3) (AOAC, 1984).

2. Rendemen

Rendemen menunjukkan persentase perbandingan berat bahan akhir terhadap berat bahan awal. Rendemen dieroleh dengan cara sebagai berikut, bahan ditimbang sebelum percobaan, bahan setelah percobaan ditimbang kembali, kemudian dihitung dengan rumus:

Rendemen = berat akhir

berat awal

×

100% ... (4) (Sudarmadji, dkk, 1989).

3. Bahan Tertinggal

(21)

19

Persentase bahan yang tertinggal di alat adalah banyaknya bahan yang tidak dapat keluar dari alat secara otomatis setelah saluran pengeluaran bahan dibuka setelah proses pengolahan selesai dilakukan. Bahan yang tidak dapat keluar dari mesin pengolahan membutuhkan tenaga operator untuk mengeluarkannya secara manual. Hal ini menyebabkan efisiensi pengolahan dan biaya produksi meningkat untuk upah operator (Nugroho, dkk, 2012).

4. Kehalusan Saringan Tepung Tulang

Pengamatan parameter kehalusan saringan dilakukan dengan menggunakan sieve shaker yang berfungsi dalam memilah sedimen berdasarkan ukuran partikelnya. Ukuran saringan yang digunakan adalah 150, 200 dan 250 mesh. Cara menggunakan sieve shaker yaitu sebagai berikut

1. Disusun ayakan bertingkat dari atas ke bawah dengan diawali ayakan yang memiliki diameter lubang paling besar hingga terkecil.

2. Dimasukkan tepung ke dalam ayakan paling atas (diameternya paling besar). 3. Diletakkan di atas sieve shaker dan tutup dengan menggunakan tutup

pemberat yang sudah tersedia di shaker guna untuk menekan ayakan bertingkat agar tidak goyang dan tumpah.

4. Ditekan set/display untuk mengatur waktu yang diperlukan selama pengadukan (20 menit).

(22)

20

6. Setelah mesin berhenti, diambil ayakan dari mesin dan dilihat hasil tepung dari setiap ayakan. Untuk hasil ayakan yang paling kecil dimasukkan ke dalam cawan.

(23)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Secara umum, perbedaan ukuran saringan pada alat penggiling tulang sapi kering memberikan pengaruh terhadap kadar air tepung tulang, rendemen, bahan tertinggal dan kehalusan saringan tepung tulang. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 3. Data Hasil Pengamatan Parameter Perlakuan

Dari Tabel 3 dapat diketahui bahwa kadar air tepung tulang tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu sebesar 1,563 % dan kadar air tepung tulang terendah terdapat pada perlakuan M3 yaitu sebesar 0,203 %. Rendemen tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu sebesar 96,667 % dan rendemen terendah terdapat pada perlakuan M2 dan M3 yaitu sebesar 93,667 %. Sementa itu persentase bahan tertinggal tertinggi terdapat pada perlakuan M2 yaitu sebesar 4,000 % sedangkan persentase bahan tertinggal terendah terdapat pada perlakuan M1 yaitu sebesar 2,000. Untuk persentase kehalusan saringan tepung tulang tertinggi terdapat pada perlakuan M2 yaitu sebesar 52,767 % sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan M3 yaitu sebesar 30,687 %.

Pengaruh Ukuran Lubang Saringan terhadap Kadar Air Tepung Tulang

(24)

22

(lampiran 2) menunjukkan bahwa perbedaan ukuran lubang saringan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kadar air tepung tulang. Hasil pengujian dengan menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) yang menunjukan pengaruh perbedaan ukuran lubang saringan pada alat terhadap kadar air tepung tulang pada masing-masing perlakuan dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 4. Hasil uji DMRT pengujian variasi ukuran lubang saringan pada alat terhadap kadar air tepung tulang

Jarak DMRT Perlakuan Rataan Notasi

0,05 0,01 0,05 0,01

1 - - M3 0,203 a A

2 0,37051 0,56143 M2 0,857 b B

3 0,38400 0,58242 M1 1,563 c C

Keterangan: Notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1%

Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan yang satu berbeda sangat nyata terhadap perlakuan lainnya. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa perlakuan M3 dengan ukuran lubang saringan 250 mesh merupakan perlakuan terbaik. Hubungan perbedaan ukuran lubang saringan dengan kadar air tepung tulang dapat dilihat dari grafik berikut

(25)

23

Berdasarkan Gambar 1 menunjukan persamaan regresi ŷ = -0,0136x + 3,5943 nilai -0,0136x menyatakan nilai yang negatif artinya semakin besar ukuran lubang saringan (x) maka semakin rendah kadar air tepung tulang (ŷ). Nilai 0,9995 menunjukkan nilai koefisien korelasi. Berdasarkan literatur Muinah (2011), nilai koefisien korelasi antara 0,800-1,000 menunjukkan tingkat hubungan antara dua variabel yang sangat kuat. Nilai ini juga berarti bahwa perbedaan ukuran lubang saringan memberi pengaruh sebesar 99,95% terhadap kadar air tepung tulang.

Gambar 1 menunjukkan bahwa semakin besar ukuran lubang saringan maka kadar air tepung tulang semakin rendah dan sebaliknya. Hal ini disebabkan oleh semakin besar ukuran lubang saringan maka waktu penggilingan tepung tulang akan semakin lama. Rata-rata waktu penggilingan tepung tulang pada perlakuan M1 yaitu 16,95 menit, M2 yaitu 19,18 menit dan M3 yaitu 25,74 menit. Waktu penggilingan yang lama akan menyebabkan panas yang dihasilkan oleh motor bakar akan berpindah ke bahan sehingga ukuran lubang saringan yang lebih besar memiliki kadar air tepung tulang tertinggi. Hal ini sesuai dengan literatur Wijaya (2013) yang menyatakan bahwa Energi kimia bahan bakar pertama diubah menjadi energi panas melalui proses pembakaran atau oksidasi dengan udara dalam mesin, energi panas ini meningkatkan temperatur dan tekanan gas pada ruang bakar.

Pengaruh Ukuran Lubang Saringan terhadap Rendemen

(26)

24

tinggi nilai rendemen menunjukkan bahwa tepung tulang yang dihasilkan semakin besar. Menurut Sudarmadji, dkk (1989) rendemen menunjukkan persentase perbandingan berat bahan akhir terhadap berat bahan awal. Hasil sidik ragam (lampiran 3) menunjukkan bahwa perbedaan ukuran lubang saringan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap rendemen. Hasil pengujian menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) yang menunjukkan pengaruh perbedaan ukuran

lubang saringan terhadap rendemen pada masing-masing perlakuan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5. Hasil uji DMRT pengujian variasi ukuran lubang saringan pada alat terhadap rendemen

Jarak DMRT Perlakuan Rataan Notasi

0,05 0,01 0,05 0,01

1 - - M2 93,667 a A

2 2,57893 3,90790 M3 93,667 a A

3 2,67285 4,05399 M1 96,667 b A

Keterangan: notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1%

(27)

25

Gambar 2. Grafik hubungan ukuran lubang saringan dengan rendemen Pada Gambar 2 di atas persamaan garis terbentuk dari persamaan regresi

ŷ = -0,03x + 100,67. Nilai -0,03 menunjukkan nilai yang negatif. Artinya,

semakin kecil ukuran lubang saringan (x), maka semakin tinggi pula rendemen

(ŷ). Nilai 0,75 menunjukkan nilai koefisien korelasi. Berdasarkan literatur Muinah

(2011) nilai koefisien korelasi antara 0,600 – 0,799 menunjukkan tingkat hubungan antara dua variabel yang kuat. Nilai ini juga berarti bahwa perbedaan ukuran lubang saringan memberi pengaruh sebesar 75% terhadap rendemen.

Pada Gambar 2 menunjukkan bahwa semakin kecil ukuran lubang saringan maka semakin tinggi rendemen dan sebaliknya. Hal ini disebabkan oleh besar diameter lubang yang terdapat pada setiap saringan, semakin besar ukuran diameter lubang pada saringan maka persentase bahan yang lolos ayakan akan semakin tinggi sehingga persentase rendemen akan semakin besar. Hal ini sesuai dengan literatur Panggabean, dkk (2013) yang menyatakan bahwa Semakin kecil ukuran lubang saringan yang digunakan maka persentase bahan yang lolos ayakan akan semakin maksimum. Hal ini dipengaruhi oleh besar diameter lubang atau pori pengeluaran pada ayakan yang digunakan.

(28)

26

Pengaruh Ukuran Lubang Saringan terhadap Bahan Tertinggal

Bahan tertinggal merupakan tepung hasil gilingan yang tidak lolos dari saringan yang masih terdapat pada alat penggiling tulang. Bahan tertinggal dapat dihitung dengan perbandingan berat bahan atau tepung yang tertinggal pada saringan dibagikan dengan berat bahan yang masuk kemudian dikalikan seratus persen. Menurut Nugroho, dkk (2012), persentase bahan yang tertinggal di alat adalah banyaknya bahan yang tidak dapat keluar dari alat secara otomatis setelah saluran pengeluaran bahan dibuka setelah proses pengolahan selesai dilakukan.

Hasil pengujian menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) menunjukkan pengaruh perbedaan ukuran lubang saringan terhadap bahan yang tertinggal pada masing-masing perlakuan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 6. Hasil Uji DMRT Pengujian Variasi Ukuran Lubang Saringan terhadap Bahan Tertinggal

Jarak DMRT Perlakuan Rataan Notasi

0,05 0,01 0,05 0,01

1 - - M1 2 a A

2 1,331755 2,01803 M3 3,667 b A

3 1,38025 2,09347 M2 4,000 b A

Keterangan: notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1%

(29)

27

persentase bahan tertinggal terendah. Hubungan Ukuran Saringan dengan bahan tertinggal dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Gambar 3. Grafik hubungan ukuran lubang saringan dengan bahan tertinggal Berdasarkan gambar di atas persamaan garis terbentuk dari persamaan regresi ŷ = 0,0167x – 0,1117. Nilai 0,0167x menunjukkan hubungan yang positif. Artinya, semakin besar ukuran lubang saringan (x) maka semakin banyak bahan yang tertinggal (ŷ). Nilai 0,605 menunjukkan nilai koefisien korelasi. Berdasarkan literatur Muinah (2011), nilai koefisien korelasi antara 0,600 – 0,799 menunjukkan tingkat hubungan antara dua variabel yang kuat. Nilai ini juga berarti bahwa perbedaan ukuran lubang saringan memberi pengaruh sebesar 60,5% terhadap bahan tertinggal.

Grafik (gambar 3) menunjukkan bahwa semakin besar ukuran lubang saringan maka semakin banyak bahan yang tertinggal pada alat dan sebaliknya. Hal ini disebabkan ukuran partikel tepung yang terlalu halus terbawa oleh udara yang dihasilkan oleh kipas yang terdapat pada alat penggiling tepung tulang kering sehingga tepung banyak menempel di bagian dalam alat penggiling.

(30)

28

Kehalusan saringan tepung tulang dapat diketahui dengan menggunakan metode sieve shaker. Tepung yang lolos pada saringan paling bawah kemudian ditimbang dan dihitung persentase kehalusannya. Menurut Khodijah, dkk (2014), Saringan bertingkat dengan nilai mesh sama akan memperbaiki kualitas dan keseragaman hasil, sedangkan saringan bertingkat dengan nilai mesh berbeda akan menghasilkan beberapa produk dengan keseragaman berbeda. Kehalusan saringan tepung tulang dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 7. Hasil Uji DMRT Pengujian Variasi Ukuran Lubang Saringan terhadap Kehalusan

Jarak DMRT Perlakuan Rataan Notasi

0,05 0,01 0,05 0,01

1 - - M3 30,687 a A

2 4,86768 7,376085 M1 51,117 b B

3 5,04494 7,651827 M2 52,767 b B

Keterangan: notasi yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1%

(31)

29

Gambar 4. Grafik hubungan ukuran lubang saringan dengan kehalusan Berdasarkan gambar di atas, persamaan garis pada grafik terbentuk dari persamaan regresi ŷ = -0,2043x + 85,717. Nilai -0,2043x menunjukkan hubungan yang negatif Artinya, semakin kecil ukuran lubang saringan (x), maka semakin tinggi pula persentase kehalusan (ŷ). Nilai 0,6898 menunjukkan nilai koefisien korelasi. Berdasarkan literatur Muinah (2011), nilai koefisien korelasi antara 0,600 – 0,799 menunjukkan tingkat hubungan antara dua variabel yang kuat. Nilai ini juga berarti bahwa perbedaan ukuran lubang saringan memberi pengaruh sebesar 68,98% terhadap kehalusan saringan.

Grafik (gambar 4) menunjukkan bahwa semakin kecil ukuran lubang saringan maka semakin tinggi pula persentase kehalusan dan sebaliknya. Hal ini disebabkan oleh besar diameter lubang pengeluaran pada saringan, sehingga memungkinkan ukuran lubang saringan yang lebih kecil persentase bahan yang lolos ayakan akan semakin maksimum. Hal ini sesuai dengan literatur

(32)

30

(33)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Perbedaan ukuran lubang saringan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar air tepung tulang, rendemen, bahan tertinggal dan kehalusan saringan tepung tulang.

2. Persentase rata-rata kadar air tertinggi diperoleh pada perlakuan M1 1,563 % dan kadar air terendah terdapat pada perlakuan M3 yaitu sebesar 0,203 %. 3. Persentase rata-rata rendemen tertinggi diperoleh pada perlakuan M1 yaitu

sebesar 96,667 % dan rendemen terendah terdapat pada perlakuan M2 dan M3 yaitu sebesar 93,667 %.

4. Persentase rata-rata bahan tertinggal tertinggi diperoleh pada perlakuan M2 yaitu sebesar 4,000 % sedangkan persentase bahan tertinggal terendah terdapat pada perlakuan M1 yaitu sebesar 2,000 %.

5. Persentase rata-rata kehalusan saringan tertinggi diperoleh pada perlakuan M2 yaitu sebesar 52,767 % sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan M3 yaitu sebesar 30,687 %.

Saran

(34)

TINJAUAN PUSTAKA

Tulang

Tulang merupakan jaringan ikat yang terdiri dari sel, serat dan bahan pengisi. Bahan pengisi pada tulang terdiri dari protein dan garam-garam mineral. Garam-garam mineral yang paling banyak terdapat pada tulang adalah kalsium fospat 58,3 %, kalsium karbonat 1 %, magnesium fospat 2,1 % dan kalsium florida 1,9 %, sisanya sebanyak 30,6 % protein (Ward dan Court, 1977).

Hidroksiapatit merupakan faktor yang menentukan kekuatan tulang. Dari komposisi unsur kalsium yang ada pada tubuh, maka sebanyak 99% ion Ca2+ terdapat pada tulang. Komponen tulang selalu berada dalam kondisi dynamic equilibrium atau lebih dikenal dengan istilah peristiwa tukar ganti. Proses

pembentukan tulang melibatkan proses osteoklas dan osteoblas. Osteoklas adalah proses reabsorbsi tulang atau yang lazim disebut sebagai demineralisasi. Sedangkan osteoblas merupakan proses sintesis matriks baru (Said, 2014).

(35)

5

Tepung Tulang

Tepung tulang selain dijadikan sebagai sumber mineral juga mengandung asam amino dan protein. Kalsium dan fosfor sangat diperlukan oleh hewan karena memiliki peranan dalam pembentukan tulang dan kegiatan metabolism tubuh. Fungsi mineral bagi hewan ternak antara lain:

1. Menjaga keseimbangan asam basah dalam cairan tubuh 2. Sebagai zat pembentuk kerangka tubuh

3. Sebagai bagian aktif dalam struktur protein 4. Sebagai bagian dari asam amino

5. Sebagai bagian penting dalam tekanan osmotik sel 6. Pendukung aktivitas enzim

7. Membantu mekanisme transportasi dalam tubuh (Murtidjo, 2001).

Tabel 1. SNI Tepung Tulang

Karakteristik Syarat

Sumber: Standar Nasional Indonesia (1992). Pengeringan

(36)

6

kerugian yang ditimbulkan selama pengeringan yaitu terjadinya perubahan sifat fisik dan sifat kimiawi bahan serta terjadinya penurunan mutu bahan. Pada pengeringan buatan atau mekanis; suhu, kelembaban nisbi udara serta kecepatan pengeringan dapat diatur dan diawasi. Kecepatan pengeringan lempengan bahan basah yang tipis akan berbanding terbalik dengan kuadrat tebalnya (Rachmawan, 2001).

Secara garis besar, pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pengeringan secara alami (natural drying) dan pengeringan buatan (artificial drying). Pengeringan alami dapat dilakukan dengan cara menjemur dibawah sinar

matahari (sun drying). Sedangkan pengeringan secara buatan dilakukan dengan menggunakan alat pengering. Semakin lama kontak antara udara panas dengan bahan maka semakin cepat pengeringan berlangsung (Taib, dkk, 1988).

Pengeringan yang baik memerlukan panas yang seragam dan laju pengeringannya tidak terlalu cepat, agar tidak terjadi keretakan dan kadar airnya seragam. Syarat ini sukar dipenuhi dengan penjemuran langsung dengan matahari, karena intensitas panas matahari sulit di kendalikan. Untuk itu sangat diperlukan alat pengering buatan yang murah harganya dan rendah biaya operasinya (Soetoyo dan Syafaruddin, 1981).

Penggilingan

(37)

7

mengecilkan bentuk hasil yang berguna untuk memperbaiki daya cerna, kelezatan, daya campur, daya simpan, dan dapat menghilangkan benda asing yang terdapat dalam bahan, serta kemungkinan bahan yang terbuang menjadi lebih kecil. Pengecilan ukuran secara tradisional dilakukan dengan cara menumbuk bahan yang diletakkan dalam lumpang menggunakan lesung yang terbuat dari batu maupun kayu. Penggilingan secara mekanis dilakukan dengan menggunakan alat maupun mesin yang digerakkan oleh motor bakar, motor listrik, maupun tenaga manusia (Pratomo dan Irwanto, 1983).

Terdapat dua cara yang dapat digunakan dalam proses penggilingan yakni cara basah dan cara kering. Penggilingan cara basah merupakan penggilingan yang melibatkan perlakuan fisio-kimia dan mekanik untuk memisahkan fraksi-fraksi yang diinginkan sedangkan penggilingan kering merupakan proses yang menyebabkan perlakuan fisik dan mekanik untuk membebaskan komponen-komponen dari sifat aslinya (Sari, 2015).

Jenis-jenis mesin giling yang ada sampai saat ini untuk memperkecil bentuk dan ukuran bahan baku pakan ternak adalah hammer mill, burr mill, roller mill, dan combination mill.

a. Hammer Mill

Hammer mill merupakan salah satu alat penghancur biji-bijian dan hijauan

(38)

8

(pengumpul debu), palu, magnet, die (lubang saringan), exhaust fan (kipas pembuangan), lubang pengeluaran, dan slope.

b. Burr Mill

Sebutan lain untuk burr mill adalah attration mill (mesin dengan alat penggerus), plate mill (mesin dengan kerja lempengan), atau disc mill (mesin dengan kerja piringan). Komponen utama mesin giling tersebut terdiri atas hopper (tempat pemasukan bahan), plate atau disc (pelat atau lempengan

untuk mengecilkan ukuran partikel bahan), dan tempat pengeluaran produk. Cara kerja burr mill yaitu bahan masuk melalui loading (hopper). Kedua pelat berputar dan saling bergesekan sehingga memecah bahan. Bahan kemudian keluar melalui tempat pengeluaran. Proses kerja yang terjadi selama burr mill bekerja terdiri atas cutting, crushing, dan shearing.

c. Roller Mill

Roller mill digunakan dalam pengolahan pakan untuk crimping atau

menghancurkan biji-bijian. Roller mill ganda terdiri atas dua gulungan berputar dalam arah yang berlawanan dengan kecepatan yang sama. Roll biasanya bergelombang atau bergerigi. Sebelum bahan dimasukkan ke dalam hopper, mesin harus dihidupkan terlebih dahulu. Bahan akan digiling hingga

(39)

9

d. Combination Mill

Combination mill mengkombinasikan kerja beberapa mesin giling.

Contohnya kombinasi crusher mill-hammer mill, crusher mill-burr mill, crusher mill-roller mill, dan hammer mill-roller mill.

(Retnani, 2011). Pengayakan

Pengayakan sendiri adalah sebuah cara pengelompokan butiran, yang akan dipisahkan menjadi satu atau beberapa kelompok. Dengan demikian dapat dipisahkan antara partikel lolos ayakan (butiran halus) dan yang tertinggal diayakan (butiran kasar) ukuran butiran tertentu, yang masih bisa melintasi ayakan dinyatakan sebagai butiran batas. Sekelompok partikel dikatakan memiliki tingkat kehalusan tertentu jika seluruh partikel dapat melintasi lebar lubang yang sesuai (artinya tanpa sisa ayakan). Dengan demikian ada batasan maksimal dari ukuran partikel (Voight, 1971).

(40)

10

Setiap ukuran partikel biasanya disebut polidispersi, karenanya perlu untuk mengetahui tidak hanya ukuran dari suatu partikel tapi juga berapa banyak partikel-partikel dengan ukuran yang sama ada dalam sempel. Jadi kita perlu suatu perkiraan ukuran tertentu yang ada dan banyaknya atau berat fraksi dari tiap-tiap ukuran partikel, dari sini kita bisa menhgitung ukuran pertikel rata-rata untuk sampel tersebut (Mochtar, 1990).

Sieve shaker adalah sebuah ayakan terbuat dari kawat, plastik, benang,

logam, atau pelat logam berlubang. Logam yang biasa digunakan adalah baja dan baja tahan karat. Ukuran ayakan dinyatakan dengan mesh, yaitu banyaknya lubang dalam setiap inci persegi. Kisaran ukuran mesh standar adalah mulai dari 4 mesh sampai dengan 400 mesh. Pemisahan ukuran dalam kisaran 4 mesh dan 48 mesh disebut ayakan halus fine screening, sedangkan yang lebih kecil lagi disebut ultrafine. Perhitungan persentase produk yang lolos saringan dilakukan dengan

rumus:

Produk lolos saringan = jumlah produk lolos saringan

jumlah produk yang diayak × 100% ...(1)

Saringan bertingkat dengan nilai mesh sama akan memperbaiki kualitas dan keseragaman hasil, sedangkan saringan bertingkat dengan nilai mesh berbeda akan menghasilkan beberapa produk dengan keseragaman berbeda. Sieve shaker biasanya digunakan pada bidang farmasi sebagai pengayak obat dalam bentuk bubuk (Khodijah, dkk, 2014).

Motor Bakar

(41)

11

menghasilkan kerja mekanik, atau mesin yang dapat merubah energi termal menjadi kerja mekanik. Selanjutnya, jika ditinjau dari cara memperoleh sumber energi termal, jenis mesin kalor dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu mesin pembakaran luar (external combustion engine) dan mesin pembakaran dalam (internal combustion engine) yang dimaksud dengan mesin pembakaran luar adalah mesin di mana proses pembakaran terjadi di luar mesin, energi termal dari hasil pembakaran dipindahkan ke fluida kerja mesin melalui beberapa dinding pemisah. Contohnya adalah mesin uap. Sedangkan yang dimaksud dengan mesin pembakaran dalam adalah mesin dimana proses pembakaran berlangsung di dalam mesin itu sendiri, sehingga gas pembakaran yang terjadi sekaligus berfungsi sebagai fluida kerja (Siregar, 2009).

Motor bakar adalah jenis motor kalor yang termasuk mesin pembakaran dalam (Internal Combustion Engine). Internal Combustion Engine adalah mesin kalor yang mengubah energi kimia bahan bakar menjadi kerja mekanis, yaitu dalam bentuk putaran poros. Energi kimia bahan bakar pertama diubah menjadi energi panas melalui proses pembakaran atau oksidasi dengan udara dalam mesin,

energi panas ini meningkatkan temperatur dan tekanan gas pada ruang bakar ( Wijaya, 2013).

Puli

(42)

12

mungkin ada ketika memasang, dapat diatasi secara dini dengan membuat puli yang digerakkan sedikit cembung. Roda transmisi beralur untuk sabuk V dibuat dari besi tuang, baja tuang, atau baja cetak (Stolk dan Kros, 1981).

Sabuk V

Sabuk V terbuat dari karet dan mempunyai penampang trapesium. Sabuk V dibelitkan disekeliling alur puli yang berbentuk V pula. Bagian sabuk yang sedang membelit pada puli ini mengalami lengkungan sehingga lebar bagian dalamnya akan bertambah besar. Gaya gesekan juga akan bertambah karena pengaruh bentuk baji, yang akan menghasilkan transmisi daya yang besar pada tegangan yang relatif rendah. Hal ini merupakan salah satu keunggulang sabuk V dibandingkan dengan sabuk rata. Transmisi sabuk V hanya dapat menghubungkan poros-poros yang sejajar dengan arah putaran yang sama. Dibandingkan dengan transmisi roda gigi atau rantai, sabuk V bekerja lebih halus dan tak bersuara. Untuk mempertinggi daya yang ditransmisikan, dapat dipakai beberapa sabuk V yang dipasang sebelah-menyebelah (Sularso dan Suga, 2004).

Poros

(43)

13

tegangan yang besar, maka dipakai bahan baja paduan yang biasa dikenal sebagai bahan komersial (Achmad, 2006).

Bantalan

Tempat sebuah poros ditumpu, dinamakan tap poros atau leher poros, elemen yang menumpu dinamakan bantalan. Bantalan ini dapat dipasang di dalam mesin di mana poros termasuk atau dalam suatu elemen terpisah yang difondasikan yang dinamakan blok bantalan, blok atau dengan singkat bantalan. Dalam bantalan umumnya bekerja gaya-reaksi. Apabila gaya reaksi ini jauh lebih banyak mengarah tegak lurus pada garis sumbu poros, bantalan dinamakan bantalan radial. Kalau gaya reaksi itu jauh lebih banyak mengarah sepanjang garis sumbu, namanya ialah bantalan aksial (Stolk dan Kros, 1981).

Saringan

Mesh adalah jumlah lubang yang terdapat dalam satu inci persegi (square

inch), sementara jika dinyatakan dalam mm maka angka yang ditunjukkan

merupakan besar material yang diayak. Proses pengayakan pada pembuatan tepung sangat penting, karena menentukan ukuran partikel tepung yang dihasilkan. Pengayakan merupakan suatu metode pemisahan berbagai campuran partikel padat sehingga didapat ukuran partikel yang seragam serta terbebas dari kontaminan yang memiliki ukuran yang berbeda dengan menggunakan alat pengayakan (Ailani, 2014).

(44)

14

penggunaan setiap ukuran mesh pada alat penggiling akan mempengaruhi tekstur, aroma, rasa dan warna. Hal ini disebabkan pada saat penggilingan adanya gaya gesekan oleh bahan terhadap alat, serta lamanya penggilingan juga akan berpengaruh terhadap penggilingan (Panggabean, dkk, 2013).

Analisis Korelasi

Analisis korelasi adalah metode statistika yang digunakan untuk menentukan kuatnya atau derajat hubungan linier antara dua variabel atau lebih. Semakin nyata hubungan linier (garis lurus), maka semakin kuat atau tinggi derajat hubungan garis lurus antara kedua variabel atau lebih. Ukuran untuk derajat hubungan garis lurus ini dinamakan koefisien korelasi. Korelasi dilambangkan dengan r dengan ketentuan nilai r tidak lebih dari harga (-1 ≤ r ≤ 1). Apabila nilai r = -1 artinya korelasi negatif sempurna, r = 0 artinya tidak ada korelasi, dan r = 1 artinya korelasinya sangat kuat.

Tabel 2. Interpretasi koefisien korelasi nilai r

(45)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tulang atau kerangka adalah jaringan yang kuat dan tangguh yang memberi bentuk pada tubuh. Tulang termasuk komponen yang keras, sehingga hal inilah yang menyebabkan tulang tidak mudah diuraikan, sehingga tulang tersebut menjadi limbah padat yang lebih dikenal sebagai sampah yang sering kali dianggap tidak dikehendaki kehadirannya karena tidak memiliki nilai ekonomis. Oleh karena itu, perlu pengolahan lebih lanjut agar limbah tulang tidak menjadi sampah yang mencemari lingkungan dan dapat dimanfaatkan secara maksimal. Tulang atau kerangka adalah jaringan yang kuat dan tangguh yang memberi bentuk pada tubuh (Astrina, 2010).

(46)

2

Salah satu penanganan tulang adalah dengan cara ditepungkan. Hal ini disebabkan tingginya kandungan mineral yang ada pada tulang sehingga sayang apabila dibuang dengan percuma. Selain itu dengan cara pengolahan lebih lanjut pada limbah tulang ini akan memberikan nilai ekonomis. Tulang merupakan salah satu bentuk limbah dari industri yang memiliki kandungan kalsium terbanyak karena unsur utama dari tulang adalah kalsium, fosfor dan karbonat.

Tepung tulang merupakan salah satu bahan baku pembuatan pakan ternak yang terbuat dari tulang hewan. Tulang yang harus dijadikan tepung haruslah tulang yang berasal dari hewan ternak dewasa dan biasanya berasal dari tulang hewan berkaki empat seperti tulang sapi, kerbau, babi, domba, kambing dan kuda. Tepung tulang dijadikan sebagai salah satu bahan dasar pembuatan pakan karena mengandung mineral makro yakni kalsium dan fosfor serta mineral mikro lainnya (Sari, 2015).

Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian sebelumnya, dimana telah dirancang dan dibuat alat penggiling tulang sapi kering oleh Hadi Jaka Suwarno (2016). Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian terhadap ukuran lubang saringan pada alat penggiling tulang sapi kering untuk melihat performasi alat. Dengan mencari ukuran ukuran lubang saringan yang tepat diharapkan hasil penggilingan lebih optimal.

(47)

3

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ukuran lubang saringan pada alat penggiling tulang sapi kering terhadap kadar air tepung tulang, rendemen, bahan tertinggal dan kehalusan saringan tepung tulang.

Hipotesis Penelitian

1. Diduga ada pengaruh variabel ukuran lubang saringan terhadap kadar air tepung tulang.

2. Diduga ada pengaruh variabel ukuran lubang saringan terhadap rendemen. 3. Diduga ada pengaruh variabel ukuran lubang saringan terhadap bahan

tertinggal.

4. Diduga ada pengaruh variabel ukuran lubang saringan terhadap kehalusan saringan tepung tulang.

Kegunaan Penelitian

1. Sebagai syarat untuk dapat menyusun skripsi yang merupakan syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas sumatera Utara.

2. Sebagai bahan masuk yang dapat berkontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

(48)

ABSTRAK

SHELLA KHAIRUNISA: Uji Variasi Ukuran Lubang Saringan pada Alat Penggiling Tulang Sapi Kering, dibimbing oleh LUKMAN ADLIN HARAHAP dan SAIPUL BAHRI DAULAY.

Keberadaan limbah tulang ternak di Indonesia cukup tinggi akibat tingginya total konsumsi daging hewan ternak. Banyaknya limbah tulang dapat mencemari lingkungan apabila tidak dilakukan penanganan lebih lanjut. Salah satu pemanfaatan limbah tulang yaitu dengan cara diolah menjadi tepung tulang. Tepung tulang dapat dihasilkan dengan cara digiling menggunakan alat penggiling tulang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh ukuran lubang saringan pada alat penggiling tulang sapi kering terhadap kadar air tepung tulang, rendemen, bahan tertinggal dan kehalusan saringan tepung tulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air tepung tulang terendah terdapat pada ukuran lubang saringan 250 Mesh sebesar 0,203 %, rendemen tertinggi terdapat pada ukuran lubang saringan 150 Mesh sebesar 96,667 %, bahan tertinggal terendah terdapat pada ukuran lubang saringan 150 Mesh sebesar 2 % dan kehalusan saringan tepung tulang tertinggi terdapat pada ukuran lubang saringan 200 Mesh sebesar 52,767 %.

Kata kunci: alat penggiling tulang sapi kering, limbah tulang, ukuran lubang saringan

ABSTRACT

SHELLA KHAIRUNISA: Test of Various Size Hole sieve of Dry Cow Bone Miller, supervised by LUKMAN ADLIN HARAHAP and SAIPUL BAHRI DAULAY.

The esixtance of livestock waste bone in Indonesia is high enough due to high consumption of livestock meat. The amount of bone waste can pollute the environment if not addressed further. One of the usage waste bone is processed into bone powder. Bone powder produced with the way milled usage bone miler. The aim of this research are to test effect of size sieve hole of dry cow bone miller on water content of bone powder, yield, material losses and the fineness of bone powder. The results showed that the lowest water content of bone powder was at size of hole sieve 250 Mesh that is 0,203 %, the highest yield was at size of hole sieve 150 Mesh that is 96,667 %, the lowest material losses was at size of hole sieve 150 Mesh that is 2 % and the highest fineness of bone powder was at of hole sieve 200 Mesh that is 52,767 %.

(49)

UJI VARIASI UKURAN LUBANG SARINGAN PADA

ALAT PENGGILING TULANG SAPI KERING

SKRIPSI

OLEH :

SHELLA KHAIRUNISA

PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

(50)

UJI VARIASI UKURAN LUBANG SARINGAN PADA

ALAT PENGGILING TULANG SAPI KERING

SKRIPSI

OLEH:

SHELLA KHAIRUNISA

120308061/KETEKNIKAN PERTANIAN

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

Dr. Taufik Rizaldi, STP, MP

Ketua Program Studi Keteknikan Pertanian

PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

(51)

ABSTRAK

SHELLA KHAIRUNISA: Uji Variasi Ukuran Lubang Saringan pada Alat Penggiling Tulang Sapi Kering, dibimbing oleh LUKMAN ADLIN HARAHAP dan SAIPUL BAHRI DAULAY.

Keberadaan limbah tulang ternak di Indonesia cukup tinggi akibat tingginya total konsumsi daging hewan ternak. Banyaknya limbah tulang dapat mencemari lingkungan apabila tidak dilakukan penanganan lebih lanjut. Salah satu pemanfaatan limbah tulang yaitu dengan cara diolah menjadi tepung tulang. Tepung tulang dapat dihasilkan dengan cara digiling menggunakan alat penggiling tulang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh ukuran lubang saringan pada alat penggiling tulang sapi kering terhadap kadar air tepung tulang, rendemen, bahan tertinggal dan kehalusan saringan tepung tulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air tepung tulang terendah terdapat pada ukuran lubang saringan 250 Mesh sebesar 0,203 %, rendemen tertinggi terdapat pada ukuran lubang saringan 150 Mesh sebesar 96,667 %, bahan tertinggal terendah terdapat pada ukuran lubang saringan 150 Mesh sebesar 2 % dan kehalusan saringan tepung tulang tertinggi terdapat pada ukuran lubang saringan 200 Mesh sebesar 52,767 %.

Kata kunci: alat penggiling tulang sapi kering, limbah tulang, ukuran lubang saringan

ABSTRACT

SHELLA KHAIRUNISA: Test of Various Size Hole sieve of Dry Cow Bone Miller, supervised by LUKMAN ADLIN HARAHAP and SAIPUL BAHRI DAULAY.

The esixtance of livestock waste bone in Indonesia is high enough due to high consumption of livestock meat. The amount of bone waste can pollute the environment if not addressed further. One of the usage waste bone is processed into bone powder. Bone powder produced with the way milled usage bone miler. The aim of this research are to test effect of size sieve hole of dry cow bone miller on water content of bone powder, yield, material losses and the fineness of bone powder. The results showed that the lowest water content of bone powder was at size of hole sieve 250 Mesh that is 0,203 %, the highest yield was at size of hole sieve 150 Mesh that is 96,667 %, the lowest material losses was at size of hole sieve 150 Mesh that is 2 % and the highest fineness of bone powder was at of hole sieve 200 Mesh that is 52,767 %.

(52)

RIWAYAT HIDUP

Shella Khairunisa dilahirkan di Membang Muda pada tanggal 16 April 1995 dari ayah Basyirik dan Ibu Elpida Wati. Penulis merupakan anak kedua dari lima bersaudara.

Tahun 2012 Penulis lulus dari SMA Panca Budi Medan dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk ke Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur Ujian Masuk Bersama (UMB) Mandiri. Penulis memilih Program Studi Keteknikan Pertanian.

(53)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Uji Variasi Ukuran Lubang Saringan pada Alat Penggiling Tulang Sapi Kering” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat melaksanakan penelitian di Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Lukman Adlin Harahap, STP, M.Si selaku ketua komisi pembimbing serta

Bapak Ir. Saipul Bahri Daulay, M.Si selaku anggota komisi pembimbing yang telah membimbing dan memberikan berbagai masukan, saran, dan kritik berharga kepada penulis sehingga draft ini dapat diselesaikan dengan baik.

Penulis menyadari banyak kekurangan dalam penulisan draft ini. Untuk kesempurnaan skripsi ini, maka penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun.

Semoga skripsi dan penelitian ini dapat berguna bagi kita dan pihak-pihak lain yang membutuhkannya.

Medan, Desember 2016

(54)

DAFTAR ISI

Hal.

ABSTRAK ...i

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...ii

KATA PENGANTAR ...iii Tempat danWaktu Penelitian ...15

Bahan dan Alat Penelitian ...15

Model Rancangan Penelitian...16

Prosedur Penelitian...17

Parameter yang Diamati ...18

Kadar Air Tepung Tulang ...18

Rendemen ...18

Bahan Tertinggal ...18

Kehalusan Saringan Tepung Tulang ...19

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Ukuran Lubang Saringan terhadap Kadar Air Tepung Tulang ...21

Pengaruh Ukuran Lubang Saringan terhadap Rendemen ...23

Pengaruh Ukuran Lubang Saringan terhadap Bahan Tertinggal...26

Pengaruh Ukuran Lubang Saringan terhadap Kehalusan Saringan tepung Tulang...28

KESIMPULAN DAN SARAN ...31

(55)

DAFTAR TABEL

No. Hal.

1. SNI Tepung tulang ...5 2. Interpretasi koefisien korelasi nilai r ...14 3. Data hasil pengamatan parameter ...21 4. Hasil uji DMRT pengujian variasi ukuran lubang saringan pada alat

terhadap kadar air tepung tulang ...22 5. Hasil uji DMRT pengujian variasi ukuran lubang saringan pada alat

terhadap rendemen ...24 6. Hasil uji DMRT pengujian variasi ukuran lubang saringan pada alat

terhadap bahan tertinggal ...26 7. Hasil uji DMRT pengujian variasi ukuran lubang saringan pada alat

(56)

DAFTAR GAMBAR

No. Hal.

1. Grafik hubungan ukuran lubang saringan dengan kadar air tepung tulang ... 22

2. Grafik hubungan ukuran lubang saringan dengan rendemen... 25

3. Grafik hubungan ukuran lubang saringan dengan bahan tertinggal ... 27

4. Grafik hubungan ukuran lubang saringan dengan kehalusan tepung tulang . 29 5. Tampak depan ... 40

6. Tampak belakang ... 40

7. Tampak samping kiri ... 40

8. Tampak samping kanan ... 41

9. Mesh 150 ... 41

10. Mesh 250 ... 41

11. Tulang sebelum dipotong dan dikeringkan ... 42

12. Tulang setelah dipotong dan dikeringkan ... 42

(57)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Hal.

1. Flowchart penelitian ...35

2. Data pengamatan kadar air tepung tulang (%) ...36

3. Data pengamatan rendemen (%) ...37

4. Data pengamatan bahan tertinggal (%) ...38

5. Data pengamatan kehalusan saringan tepung tulang (%) ...39

6. Gambar alat ...40

7. Gambar bahan yang diolah ...42

Gambar

Gambar 5. Tampak depan
Gambar 9. Mesh  150
Gambar 13. Tepung tulang
Tabel 3. Data Hasil Pengamatan Parameter
+7

Referensi

Dokumen terkait

Selanjutnya, jika ditinjau dari cara memperoleh sumber energi termal, jenis mesin kalor dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu mesin pembakaran luar (external combustion engine)

Analisis Pengaruh Tingkat Pendapatan dan Tingkat Pendidikan Masyarakat Terhadap Permintaan Produk Asuransi Jiwa.. Pedoman Meramu

Pada alat penggiling tulang sapi kering ini, kapasitas efektif alat dihitung dari perbandingan antara banyaknya tepung tulang yang dihasilkan (kg) dengan waktu yang dibutuhkan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh kecepatan putaran pada alat penggiling tulang sapi kering terhadap kapasitas olah, kapasitas hasil, dan kerusakan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh kecepatan putaran pada alat penggiling tulang sapi kering terhadap kapasitas olah, kapasitas hasil, dan kerusakan

Penelitian ini bertujuan untuk menguji beban kerja alat penggiling tulang sapi dengan parameter kapasitas efektif, rendemen, dan daya, kemudian menganalisis nilai ekonomis alat

Dalam hal ini kapasitas efektif alat dihitung dari Pada alat penggiling tulang sapi perbandingan antara banyaknya tepung tulang yang dihasilkan (kg) dengan waktu yang dibutuhkan

Pada alat penggiling tulang sapi kering ini, kapasitas efektif alat dihitung dari perbandingan antara banyaknya tepung tulang yang dihasilkan (kg) dengan waktu yang dibutuhkan