7 BAB II
TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
A. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang memiliki hubungan dengan elastisitas permintaan khususnya jasa bioskop. Penelitian terdahulu yang di sajikan adalah penelitian yang memiliki hubungan dan dapat digunakan sebagai refrensi selama penelitian. Penelitian terdahulu yang di sajikan merupakan penelitian tentang elastisitas permintaan terhadap beberapa variabel lain yang masih memiliki kaitan dengan elastisitas permintaan jasa bioskop. Berikut beberapa penelitian terdahulu diantaranya adalah.
Febriansyah (2008) “Elastisitas Permintaan Tenaga Kerja Sektor non Pertanian diKabupaten Malang”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana besarnya elastisitas permintaan tenaga kerja di sektor non pertanian di Kabupaten Malang. Dari hasil pengujian menunjukan adanya hasil yang elastis dan in elastis, bagi sektor yang mempunyai rata-rata elastisitasnya elastis yaitu sektor pertambangan dan galian, dan sektor jasa-jasa. Sedangkan bagi sektor yang elastisitasnya inelastis yaitu sektor Industri, sektor listrik, gas, dan air bersih, sektor bangunan/kontruksi,sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi, dan sektor keuanga,persewaan, dan jasa perusahaan pemerintah.
Firmansyah (2009) “Elastisitas Permintaan Jasa Transportasi Kereta Api di Kota Malang”. Metode yang digunakan dalam teknik penelitian ini adalah
analisis elastisitas, teknik analisis ini merupakan teknik yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar permintaan elastisitas mount jasa transportasi kereta api di Kota Malang. Dari hasil pengujian diperoleh kesimpulan penyebab terjadinya Elastisitas Sempurna pada Kelas Ekonomi, karena tingkat harga yang rendah masyarakat cenderung memilih harga murah sesuai dengan tingkat produksinya. Sehingga di tingkat ekonomi menengah ke bawah lebih banyak masyarakat yang memilih kereta kelas ekonomi daripada kereta kelas bisnis dan juga eksekutif. Kelas eksekutif tergolong elastis dalam kesempurnaan karena bagaimana harga akan dibeli.
Fahrurrozi (2007) “Elastisitas Permintaan Telur Konsumsi di Kecamatan Turen”. Tujuan dari penelitian iniadalah untuk mengetahui elastisitas permintaan pada komoditas telur ayam kampung, telur ayamras dan telur puyuh yang terjadi di Kecamatan Turen. Hasil dari penelitian ini adalah pada komoditas telurayam kampung memiliki harga rata – rata Rp. 14.900,- perkilogram. Tingkat permintaan masyarakat terhadap telur ayam kampung relatif rendah yaitu 2,73 kg perharinya. Elastisitas permintaan telur ayam kampung adalah -0,00001716 yang berarti diklasifikasikan sebagai permintaan inelastis dimana perubahan harga mengarah pada perubahan yang kurang dari proporsional dalam jumlah yang diminta. Pada komoditas telur ayam ras, harga rata – rata telurayam ras yaitu Rp. 7700,- dengan tingkat permintaan rata – rata 13,7 kg perhari. Tingkat permintaan pada komoditas telur ayam ras sangat jauh lebih tinggi dibanding dengan tingkat permintaan pada komoditas telur konsumsi lainnya. Terjadinya kenaikan harga diikutipeningkatan permintaan pada komoditas telur
ayam ras dengan elastisitas permintaan 0,003657berarti terjadi penyimpangan hukum permintaan sehingga tidak dapat diklasifikasikan kedalam 3 kisaran elastisitas permintaan. Pada komoditas telur puyuh, harga rata – rata telur puyuh adalahRp. 10.900,-/kg dengan permintaan rata – rata 4,1 kg perhari. Elastisitas permintaan telur puyuhsebesar -0,00007943 sehingga termasuk dalam kisaran permintaan inelastis.
Arsyad (2010) “Elastisitas Permintaan Jasa Futsal Di Champion Matos Malang”. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui profil konsumen futsal yang berada di kota Malangdan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi pertimbangan konsumen dalammemilih tempat futsal. Hasil analisis dapat diketahui bahwa profil pengguna jasa futsal dapat diketahui bahwa sebagianbesar mempunyai pekerjaan pelajar/ mahasiswa, tingkat pendapatan Rp. 500.000,- – Rp. 999.999,-, berusia 21 – 30 tahun, tingkat pendidikan tamatan SMU/STM/Kejuruan dan 3 kalisampai 4 kali bermain futsal dalam 1 bulan. Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan konsumendalam menentukan lokasi futsal yaitu meliputi biaya/ harga, lokasi tempat futsal, ketersediaan fasilitas yang lengkap dan pendapatan. Hasil perhitungan elastisitas dapat diketahui bahwa padafutsal di Champion Futsal Malang pada tahun 2007/2008 terjadi in elastis atas permintaan parapengguna arena futsal untuk waktu pagi dan sore. Adapun untuk tahun 2009/2010 dapatdiketahui bahwa tingkat elastisitas tingkat permintaan para pengguna arena futsal yaitu masuk dalam kategori elastisitas.
Rayinda Citra Utami (2016) ”Analisis Daya Saing Harga Pariwisata Indonesia: Pendekatan Elastisitas Permintaan”. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui posisi daya saing pariwisata Indonesia terhadap negara kompetitor. Penelitian ini mengajukan rekomendasi kebijakan berupa perlunya diterapkan peningkatan penerimaan devisa sektor pariwisata di Indonesia, antara lain perlunya strategi penentuan harga (pricing strategies), kestabilan inflasi domestik, memonitor tren harga negara kompetitor, dan kerjasama para industri pariwisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga pariwisata merupakan determinan utama yang mempengaruhi alokasi pengeluaran wisatawan.
B. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Permintaan
Permintaan dalam ilmu ekonomi secara umum diartikan sebagai keinginan seseorang (konsumen) terhadap barang-barang tertentu yang diperlukan ataupun di inginkan dengan harga tertentu dalam suatu periode tertentu dengan jumlah tertentu Konsep dari permintaan adalah suatu keingin dari konsumen terhadap barang atau jasa tertentu yang di butuhkan ataupun dia inginkan. Namun kenyataannya pengertian dari permintaan lebih mengarah terhadap keinginan dari konsumen dan kemampuan konsumen dalam membeli barang atau jasa tersebut. Secara sederhana permintaan merupakan suatu konsep yang mengandung pengertian bahwa permintaan berlaku terhadap tiga variabel yang saling mempengaruhi yaitu kualitas produk, harga produk dan manfaat dari produk tersebut. ketiga variabel ini sangat mempengaruhi terhadap pembelian dari konsumen (Yoeti, 2008).
Permintaan di artikan sebagai kuantitas barang atau jasa yang dibutuhkan oleh orang pada berbagai tingkatan harga dalam suatu periode tertentu atau dengan
kata lain permintaan adalah tingkat kebutuhan dan kesediaan orang untuk membeli suatu barang atau jasa dalam periode tertentu dengan pertimbangan keinginan untuk membeli barang atau jasa tersebut dan juga kemampuan membeli barang atau jasa tersebut dengan arti sempit adalah jada beli dari orang tersebut (Nasution dkk, 2006). Ditambahkan oleh Sadono (2005), permintaan sendiri sangat didukung oleh daya beli seseorang terhadap barang tesebut. Daya beli seseorang memiliki kaitan dengan jumlah pendapatan yang dapat di belanjakan terhadap setiap barang yang di butuhkannya. Teori permintaan erat kaitannya dengan jumlah permintaan dan harga dari barang atau jasa tersebut, berdasarkan ciri hubungan antara permintaan dan harga, dapat di buat grafik kurva permintaan setiap barang atau jasa tersebut (Saadah, 2016).
Salvatore (2004), memaparkan bahwa teori permintaan erat hubungannya dengan beberapa faktor pendukung diantaranya adalah harga, pendapatan, harga barang atau jasa lain yang berkaitan dan selera konsumen. Hubungan antara permintaan dan beberapa faktor yang berhubungan tersebut dapat di tuliskan dalam rumusan sebagai berikut :
Qdx = f ( Px , I, Py, T)
Qdx : Kuantitas komoditi X yang diminta oleh individu per periode waktu
Px : Harga I : Pendapatan
Py : Harga barang atau jasa lain yang berkaitan T : Selera konsumen
Hukum permintaan menyatakan,” Jika harga suatu barang naik, maka jumlah barang yang diminta akan barang tersebut turun. Dan jika harga suatu barang turun maka jumlah barang yang diminta tersebut naik centris paribus. Hukum permintaan tersebut menerangkan hubungan antara jumlah barang atau jasa yang diminta dengan harga barang atau jasa tersebut. semakin rendah suatu harga suatu barang maka akan semakin banyak permintaan dari barang tersebut dan sebaliknya apabila terjadi peningkatan harga barang makan akan terjadi penururnan permintaan dari barang tersebut. dari pemaparan tersebut dapat dikatakan bahwa permintaan merupakan keseluruhan hubungan antara harga dalam berbagai kondisi sedangkan jumlah permintaan barang lebih di tekankan pada banyaknya permintaan suatu barang pada tingkatan harga tertentu (Sudono, 2005).
2. Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan
2.1 Faktor yang mempengaruhi permintaan a. Harga
Harga memiliki pengaruh terhadap kuantitas permintaan barang dikarenakan apabila harga barang meningkat, kuantitas permintaan menurun dan sebaliknya apabila harga barang menurun, kuantitas permintaan akan meningkat. Faktor harga memiliki hubungan negatif terhadap permintaan barang. Hubungan antara permintaan dan harga ini disebut hukum permintaan.
Gambar 2.1. Pengaruh Perubahan Harga Barang X Terhadap Jumlah Barang X Yang di Minta
Harga digambarkan pada sumbu vertikal sedangkan jumlah barang yang diminta pada sumbu horizontal. Jika harga barang X naik dari P1 menjadi P2 maka jumlah barang yang diminta akan turun dari Q1 menjadi Q2. sedangkan jika harga barang X turun dari P2 menjadi P1 maka jumlah barang yang diminta akan meningkat dari Q2 menjadi Q1.
b. Pendapatan
Pendapatan memiliki hubungan terhadap permintaan dengan asumsi apabila pendapatan rendah maka secara total uang yang dapat dibelanjakan menurun. Jika permintaan akan barang berkurang dikarenakan pendapatan yang berkurang hal tersebut dapat di sebut barang normal (Normal Good). Namun apabila terjadi peningkatan permintaan terhadap suatu barang pada saat pendapatan menurun makan barang tersebut dapat dikategorikan barang inferior (Inferior Good). Sedangkan apabila permintaan suatu barang tidak berubah walaupan terjadi
perubahan pendapatan makan barang tersebut dapat dikategorikan sebagai barang esensial (Essential Good).
c. Harga Barang atau Jasa Lain yang Berkaitan
Apabila terjadi penurunan harga suatu barang terhadap barang lain maka barang tersebut dapat di kategorikan sebagai barang substitusi. Namun apabila terjadi penurunan harga barang menyebabkan peningkatan harga barang lain maka barang tersbeut dapat di kategorikan sebagai barang komplemen.
1. Barang Substitusi (Barang Pengganti)
Didefinisikan sebagai barang yang dapat menggantikan barang yang di minta sebelumnya. Harga barang pengganti dapat mempengaruhi harga barang yang digantikannya. Apabila harga barang pengganti lebih murah maka barang yang di gantikannya akan mengalami penurunan jumlah permintaan. Hal ini dikarenakan barang tersebut dapat menggantikan barang yang di ganti dengan harga yang lebih murah dan manfaat yang sama.
2. Barang Komplemen (Barang Pelengkap)
Didefinisikan sebagai barang yang digunakan bersama-sama dengan barang lain sehingga manfaat dari penggunaan barang-barang tersebut lebih maksimal. Kenaikan atau penurunan permintaan barang pelengkap selalu sejalan dengan perubahan permintaan barang yang digenapinya.
d. Selera
Selera menjadi salah satu faktor penentu dari permintaan suatu barang dikarenakan setiap konsumen memiliki selera tertentu dalam kaitannya membeli suatu barang yang di inginkannya (Saadah, 2016).
Faktor-faktor yang memiliki pengaruh terhadap permintaan suatu barang atau jasa tesebut dapat di analisis menggunakan analisis regresi yang gunanya adalah untuk menafsir permintaan karena analisis regresi dapat menemukan derajat ketergantungan suatu variabel terhadap variabel lain atau lebih banyak. Regresi dari suatu permintaan dapat digunakan untuk mencari nilai koefisian dari suatu permintaan dikarenakan nilai koefisien tersebut menunjukkan pengaruh terhadap variabel lain yang menentukan (Salim 2005).
3. Elastisitas Permintaan
Elastisitas permintaan perngukuran perubahan realitf dalam jumlah unit barang yang di beli sebagai akibat perubahan dari salah satu faktor yang mempengarhui,ceteris paribus.Elastisitas yang dikaitkan dengan harga barang itu sendiri disebut elastisitasharga (price elasticity of demand). Sedangkan elastisitas yang dikaitkan dengan hargabarang lain disebut elastisitas silang (cross elasticity), dan bila dikaitkan denganpendapatan disebut elastisitas pendapatan (income elasticity) (Rahardja danManurung, 2006).
4. Jenis-Jenis Elastisitas Permintaan a. Elastisitas Harga (Price Elasticity of Demand)
Koefisien elastisitas permintaan harga adalah suatu angka penunjuk yangmenggambarkan sampai berapa besarkah perubahan jumlah barang yang dimintaapabiala dibandingkan dengan perubahan harga. Nilai koefisien
elastisitas berkisar di antara nol dan tak terhingga. Elastisitas adalah nol apabila perubahan harga tidak akan mengubah jumlah yang diminta, yaitu yang diminta tetap saja jumlahnya walaupun harga mengalami kenaikan atau menurun. Koefisien elastis permintaandihitung dengan menggunakan rumus:
Ex=
Persentase perubahan jumlah barang yang diminta Persentase perubahan harga
1. Permintaan Elastis (Ed > 1)
Permintaan dikatakan elastis apabila persentase perubahan jumlah barang yangdiminta lebih besar dari persentase perubahan harganya.
Harga
D
Quantity Gambar 2.2 Ed > 1, Elastis
Permintaan Elastis (Ida Nuraini, 2005)
2. Permintaan In-Elastis (Ed < 1)
Permintaan in-elastis ini dapat terjadi apabila persentase permintaan lebih kecildari persentase perubahan harga.
Harga
D
Quantity Gambar 2.3 Ed < 1, In-Elastis
Permintaan In-Elastis (Ida Nuraini, 2005)
3. Permintaan Elastisitas Kesatuan (Unitary Elasticity) (Ed = 1) Permintaan elastisitas kesatuan terjadi apabila persentase perubahan permintaansama dengan persentase perubahan harga.
Harga
D
Quantity Gambar 2.4 Ed = 1, UnitaryElastis
Permintaan UnitaryElastis (Ida Nuraini, 2005)
4. Permintaan Elastis Sempurna (Ed = ∞)
Permintaan elastis sempurna terjadi apabila pada harga jumlah barang yangdiminta tidak terbatas atau dengan kata lain pada harga memberi peranan sangat peka terhadap jumlah permintaan barang tersebut.
Harga
D Quantity Gambar 2.5 Ed = ∞, Elastis Sempurna
Permintaan Elastis Sempurna (Ida Nuraini, 2005)
5. Permintaan In-Elastis Sempurna (Ed = 0)
Pada keadaan ini orang/konsumen tidak akan merubah permintaannya padatingkat harga berapa pun.
Harga
D Quantity Gambar 2.6 Ed = 0, In-Elastis Sempurna
Permintaan In-Elastis Sempurna (Ida Nuraini, 2005)
2.1.2 Elastisitas Silang (Cross Elasticity)
Elastisitas silang adalah koefisien yang menunjukkan sampai dimanabesarnya perubahan permintaan terhadap sesuatu barang apabila terjadi perubahanterhadap harga barang lain. (Sadono, 2005).
Ex=
Persentase perubahan jumlah barang X yang diminta Persentase perubahan harga barang Y
Nilai Elastisitas Silang mencerminkan hubungan antara barang X dengan Y. Bila Elastisitas Silang> 0, Xmerupakan substitusi Y. Kenaikan harga Y menyebabkan harga relatif X lebih murah,sehingga permintaan terhadap X meningkat. Jika nilai Elastisitas Silang< 0 menunjukkan hubunganX dan Y adalah komplementer. X hanya bisa digunakan bersama-sama Y. Kenaikanharga Y menyebabkan permintaan terhadap Y menurun, yang menyebabkanpermintaan terhadap X ikut menurun.
2.1.3 Elastisitas Pendapatan (Income Elasticity)
Elastisitas pendapatan adalah koefisien yang menunjukkan sampai dimanabesarnya perubahan permintaan terhadap sesuatu barang sebagai akibat daripadaperubahan pendapatan pembeli (Sadono, 2005).
Ex=
Persentase perubahan jumlah barang yang diminta Persentase perubahan pendapatan
Umumnya nilai Elastisitas Pendapatan positif, karena kenaikan pendapatan (nyata) akanmeningkatkan permintaan. Makin besar nilai Ei, elastisitas pendapatannya makinbesar. Barang dengan Elastisitas Pendapatan> 0 merupakan barang normal. Bila nilai 0 <Elastisitas Pendapatan< 1, barangtersebut merupakan kebutuhan pokok. Barang dengan nilai Elastisitas Pendapatan> 1 merupakan barangmewah. Ada barang dengan Elastisitas
Pendapatan< 0. Permintaan terhadap barang tersebut justrumenurun pada saat pendapatan nyata meningkat. Barang ini disebut barang inferior.
2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Elastisitas Permintaan
Ada beberapa faktor yang menimbulkan perbedaan dalam elastisitaspermintaan berbagai barang, yang terpenting adalah (Sadono, 2005).
a. Banyaknya barang pengganti yang tersedia
Di dalam suatu perekonomian terdapat banyak barang yang dapatdigantikan dengan barang-barang lain yang sejenis dengannya. Tetapi ada pulayang sukar mencari penggantinya. Perbedaan ini menimbulkan perbedaanelastisitas diantara berbagai barang. Sekiranya sesuatu barang mempunyai banyakbarang pengganti permintaannya cenderung untuk bersifat elastis, yaituperubahan harga yang kecil akan menimbulkan perubahan yang besar terhadappermintaan.
b. Presentasi pendapatan yang dibelanjakan
Besarnya bagian dari pendapatan yang digunakan untuk membeli sesuatubarang dapat mempengaruhi elastisitas permintaan terhadap barang tersebut.Semakin besar bagian pendapatan yang diperlukan untuk membeli sesuatubarang, maka semakin elastis permintaan terhadap barang tersebut.
c. Jangka waktu analisis
Jangka waktu didalam permintaan terhadap suatu barang juga berpengaruhterhadap elastisitas. Makin lama jangka waktu dimana permintaan itu dianalisis,makin elastis sifat permintaan sesuatu barang.
5. Bioskop
5.1 Definisi Bioskop
Bioskop sendiri dapat didefinisikan sebagai tempat menonton pertunjukan film dengan menggunakan media layar lebar. Biskop berasal dari bahasa βιος, (biosyangartinya hidup) dan σκοπος (skopos yang artinya melihat). Jadi dapat didefinisikan padanan kata dari bioskop adalah gambar hidup (wikipedia.org).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), bioskop didefinisikan sebaga pertunjukan yang diperlihatkan dengan gambar (film), yang disorot sehingga dapat bergerak (berbicara); film; gedung pertunjukan cerita. Sedangkan secara luas bioskop dapat didefinisikan sebagai cineplex yaitu kompleks sinema pertunjukan film yang terdapat dalam satu bangunan.
Cineplex dan bioskop memiliki fungsi yang sama yaitu tempat pertunjukan film. Namun yang membedakan adalah cineplex memiliki lebih dari satu theater dalam satu bangunan sedangkan bioskop sendiri dapat didefinisikan hanya memiliki satu theater dalam satu bangunan. Oleh karena itu cineplex memiliki keunggulan yaitu memiliki beberapa pilihan film yang diputar bagi pengunjungnya.
Dewasa ini jaringan bioskop mulai marak di Indonesia dimana terdapat beberapa perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan jasa menonton film yaitu 21 Cineplex, CinemaXX dan Blitzmegaplex. Ketiga perusahaan pengelola bioskop ini telah merambah usaha mereka di berbagai kota-kota yang ada di indonesia sehingga dapat dikatakan sebagai pemain besar di dunia pengelolaan jasa menonton film.
5.2 Klasifikasi Bioskop
Berdasarkan lokasi cinema atau bioskop itu di dirikan, bioskop dapat di kategorikan menjadi beberapa jenis tergantung kota dimana bioskop itu beroperasi, yaitu :
a. Key City, merupakan bisokop yang berada di kota-kota besar di indonesia dengan potensi pasar paling besar. Dapat di katakan sebagai kota utama.
b. Sub Key City, merupakan bioskop yang berdiri di kota-kota dengan potensi pasar yang cukup.
c. Up Country,merupakan bioskop yang berdiri di kota-kota kecil yang biasa disebut kota penunjang (Adien, 2013).
Menurut Pandu (2003), bioskop dapat di kategorikan berdasarkan beberapa persyaratan yang ada dalam kaitannya kualitas pemutaran film. Pengkategorian ini ditinjau dari besarnya daya tampung bioskop, periode pemutaran film, persyaratan ruang hingga electrical power. Kategori tersebut meliputi :
a. Besarnya Daya Tampung
Kapasitas kecil : kapasitas 400-600 tempat duduk Kapasitas sedang : kapasitas 600-800 tempat duduk Kapasitas besar : kapasitas > 800 tempat duduk b. Periode pemutaran film
Periode pemutarn film I (first round movie) Periode pemutaran film II (second round movie) Periode pemutaran film III ( third round movie)
c. Persyaratan ruang Kualitas ruang
Kualitas pandang visual Kualitas akustik/ sound system Air Handling Unit (AHU) d. Electrical Power
Sumber tenaga listrik berasal dari PLN
Sumber tenaga listrik berasal dari generator set
Berdasarkan hal tersebut, bioskop dikelompokkan menjadi beberapa tipe diantaranya adalah :
a. Kelas A
Daya tampung :> 800 tempat duduk Jenis film yang diputar : First Round Movie Kualitas penghawaan ruang : AC Sentral
Sumber tenaga listrik : PLN dan Genset b. Kelas B
Daya tampung : 600-800 tempat duduk Jenis film yang diputar : First/ Second Round Movie Kualitas penghawaan ruang : AC Sentral
Sumber tenaga listrik : PLN dan Genset c. Kelas C
Daya tampung : 400-600 tempat duduk Jenis film yang diputar : Second/ Third Round Movie
Kualitas penghawaan ruang : Blower dan Exhauter Fan Sumber tenaga listrik : PLN dan Genset
C. Kerangka Pemikiran
Bagi industri jasa bioskop, pengaruh trend dari keinginan masyarakat untuk menonton film memiliki dampak terhadap jumlah kunjungan dari penonton dalam setiap pemutaran filmnya. Peningkatan harga tiket di setiap akhir pekan memiliki pengaruh yang tidak signifikan dikarenakan dalam industri jasa bioskop, waktu terbaik pelanggan untuk menikmati sajian film adalah di akhir pekan. Oleh sebab itu perubahan harga yang terjadi tidak menyebabkan banyak perubahan yang signifikan terhadap jumlah kunjungan penonton.
Masyarakat cenderung memilih untuk menikmati sajian film di akhir pekan dikarenakan dapat dijadikan media untuk berkumpul bersama keluarga. Hal ini dapat memupuk hubungan antara mereka. Selain itu kegiatan menonton film juga di jadikan sebagai media untuk menjalin hubungan dengan pasangan ataupun kolega kerja yang nantinya dapat mempengaruhi beberapa faktor lain selain nilai kepuasan.
Harga yang diberikan oleh bioskop pada pemutaran film di akhir pekan akan mengalami peningkatan harga yang signifikan, dalam kondisi yang normal, perubahan harga akan mempengaruhi tingkat permintaan suatu barang atau jasa. Namun dalam perkembangan jasa bioskop di indonesia, peningkatan harga yang di lakukan pada akhir pekan tidak memberikan perubahan terhadap nilai kunjung masyarakat. Bahkan peningkatan harga pada pemutaran film di akhir pekan
masih dapat memberikan kontribusi penonton yang jauh lebih banyak dibandingkan pada saat hari biasa atau hari kerja.
Perubahan harga yang terjadi membuat elastisitas permintaan cenderung mengalami elastisitas permintaan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya harga, pendapatan, harga barang yang berkaitan dan selera. Dalam kaitannya pemutaran film, selera memiliki kontribusi yang sangat tinggi dikarenaka selera setiap manusia memiliki perbedaan. Manusia sebagai konsumen cenderung akan memilih film yang memiliki cerita baik, pemeran terkenal, dan tema cerita yang baik pula. Kecenderungan faktor harga terkadang tidak di fikirkan oleh konsumen dikarenakan pada saat tersebut nilai harga masih sangat jauh di bawah dibandingkan selera dari konsumen.
Gambar 2.7 Skema Kerangka Berfikir
Permintaan Jasa Bioskop
Elastisitas Permintaan Jasa Bioskop
Elastisitas Harga Elastisitas Pendapatan Elastisitas Silang