• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI KARAKTERISTIK PASIEN TRAUMA UROGENITAL DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK PERIODE JANUARI2013 DESEMBER Oleh :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI KARAKTERISTIK PASIEN TRAUMA UROGENITAL DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK PERIODE JANUARI2013 DESEMBER Oleh :"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

KARAKTERISTIK PASIEN TRAUMA UROGENITAL DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK

PERIODE JANUARI2013–DESEMBER 2015

Oleh :

MEGA SILVIA ANATHA PINDIKA 130100345

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2016

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Karakteristik Pasien Trauma Urogenital di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Periode Januari 2013 – Desember 2015.

Nama : Mega Silvia Anatha Pindika

NIM : 130100345

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

(dr. Dhirajaya Dharma Kadar, Sp.U)(dr. Dina Arwina Dalimunthe, M.Ked(KK),Sp.KK)

NIP.198003032008121004 NIP.198204152008012015 Ketua Penguji

(dr. Selvi Nafianti, Sp.A) NIP.196911252003112001

Medan, Januari 2017 Dekan

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

(Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S (K)) NIP.196605241992031002

(3)

Abstrak

Trauma merupakan penyebab kematian keenam di seluruh dunia.Sekitar 10% dari semua trauma terutama melibatkan sistem urogenital.Trauma urogenital merupakan temuan umum pada pasien dengan multi-trauma, dan termasuk cedera pada ginjal, ureter, kandung kemih, uretra, penis, dan skrotum.

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik klinis pasien trauma urogenital di RSUP H. Adam Malik pada tahun 2013-2015.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan desain studi retrospektif dengan jumlah data 31 pasien.

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa karakteristik klinis pasien adalah mayoritas laki-laki (64,5%), berusia 11-20 tahun (32,3%), etiologi terbanyak adalah trauma tumpul (80,6%), organ yang paling banyak terlibat adalah ginjal (61,3%), tatalaksana yang paling banyak dilakukan adalah tindakan operatif (61,3%), dan komplikasi yang paling sering adalah perdarahan (29,0%).

Hal ini menunjukkan bahwa pasien trauma urogenital paling umum terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Penyebab paling banyak adalah trauma tumpul. Pasien trauma urogenital harus dilakukan pemantauan selanjutnya karena sering terjadi komplikasi perdarahan.

Kata kunci :Karakteristik, trauma, urogenital

(4)

Abstract

Trauma is the sixth leading cause of death worldwide. About 10% of all trauma primarily involves urogenital system. Urogenital trauma is the common findingon multi-trauma patients, and including injury to kidney, ureter, bladder, urethra, penis, and scrotum.

The aim of this research is to determinate the clinical characteristics of urogenital trauma patients in RSUP H. Adam Malik in the year of 2013-2015.

This research is a descriptive study and conducted with a retrospective approach of 31 patient records.

The results show that the clinical characteristics of patients were majority of men (64.5%), mostly 11-20 year-old group (32.3%), the common etiology was blunt trauma (80.6%), the most-involved organ was kidney (61.3%), management which was often performed in patients was operative (61.3%), and the most frequent complication was bleeding (29.0%).

The conclusion showed that patients with urogenital trauma is most common in men than women. The blunt trauma is the most common cause.

Urogenital trauma patients should be followed-up to monitor the frequent bleeding complication.

Keywords: Characteristics, trauma, urogenital

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah dengan judul

“Karakteristik Pasien Trauma Urogenital di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Periode Januari 2013 – Desember 2015”, untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Selama proses penelitian dan penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis banyak mendapat bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak dengan memberikan butir-butir pemikiran yang sangat berharga bagi penulis baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan ini penulis dengan rendah hati ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. dr. Dhirajaya Dharma Kadar, Sp.U, sebagai dosen pembimbing pertama, dan dr. Dina Arwina Dalimunthe, M.Ked (KK), Sp.KK, sebagai dosen pembimbing kedua, yang telah memberikan pengarahan, bimbingan, dan ilmu pengetahuan dalam penelitian ini.

3. dr. Selvi Nafianti, Sp.A, sebagai ketua penguji yang telah bersedia menguji, memberikan masukan dan saran kepada penulis.

4. Seluruh dosen dan staf di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

5. Kedua orang tua penulis, Tan Tjie Kiong dan Carlina Phindika atas doa, dukungan, moral, semangat, dan kasih sayang yang diberikan kepada penulis.

6. Kepada rekan-rekan sejawat yang telah memberikan dorongan semangat, saran dan pendapat.

(6)

7. Semua pihak yang baik secara langsung maupun tidak langsung memberikan bantuan dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini.

Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini akibat keterbatasan ilmu dan pengalaman penulis. Oleh karena itu, semua saran dan kritik akan menjadi sumbangan yang sangat berarti guna menyempurnakan karya tulis ilmiah ini.

Penulis mengharapkan hasil karya tulis ilmah ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, bangsa dan negara Indonesia, serta pengembangan ilmu pengetahuan.

Medan, 20 Desember 2016 Penulis,

Mega Silvia Anatha Pindika

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Pengesahan ... i

Abstrak ... ii

Abstract ... iii

Kata Pengantar ... iv

Daftar Isi ... vi

Daftar Tabel ... ix

Daftar Gambar ... x

Daftar Lampiran ... xi

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 2

1.3. Tujuan Penelitian ... 2

1.4. Manfaat Penelitian ... 2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1. Trauma Ginjal ... 4

2.1.1. Epidemiologi ... 4

2.1.2. Jenis Trauma ... 4

2.1.3. Klasifikasi ... 4

2.1.4. Evaluasi Diagnostik ... 5

2.1.5. Evaluasi Laboratorium ... 5

2.1.6. Pencitraan ... 6

2.1.7. Penatalaksanaan ... 6

2.1.8. Komplikasi ... 8

2.2. Trauma Ureter ... 8

2.2.1. Epidemiologi, Etiologi dan Patofisiologi ... 8

2.2.2. Evaluasi Diagnostik ... 9

2.2.3. Penatalaksanaan ... 9

(8)

2.3. Trauma Kandung Kemih ... 12

2.3.1. Klasifikasi ……… ... 12

2.3.2. Epidemiologi, Etiologi dan Patofisiologi ... 12

2.3.3. Evaluasi Diagnostik ... 14

2.3.4. Penatalaksanaan ... 15

2.4. Trauma Uretra ……… ... 17

2.4.1. Epidemiologi, Etiologi dan Patofisiologi ... 17

2.4.2. Evaluasi Diagnostik ... 19

2.4.3. Penatalaksanaan ... 20

2.5. Trauma Genital ………... 23

2.5.1. Prinsip-Prinsip Umum dan Patofisiologi ... 23

2.5.2. Klasifikasi ... 23

BAB 3 KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN ...………... 26

3.1. Kerangka Teori Penelitian... 26

3.2. Kerangka Konsep Penelitian ... 27

BAB 4 METODE PENELITIAN ... 28

4.1. Jenis Penelitian ... 28

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian ... 28

4.3. Populasi dan Sampel ... 28

4.4. Besar Sampel Penelitian ... 29

4.5. Teknik Pengumpulan Data ... 29

4.6. Definisi Operasional... 30

4.7. Pengolahan dan Analisis Data ... 32

4.8. Kerangka Operasional ... 32

4.9. Jadwal Penelitian ... 33

4.10. Rencana Biaya Penelitian ... 34

(9)

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 35

5.1. Hasil Penelitian ... 35

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 35

5.1.2. Deskripsi Hasil Penelitian ... 35

5.1.2.1. Distribusi Pasien Trauma Urogenital Berdasarkan Usia ... 36

5.1.2.2. Distribusi Pasien Trauma Urogenital Berdasarkan Jenis Kelamin ... 36

5.1.2.3. Distribusi Pasien Trauma Urogenital Berdasarkan Etiologi ... 37

5.1.2.4. Distribusi Pasien Trauma Urogenital Berdasarkan Organ yang Terlibat ... 37

5.1.2.5. Distribusi Pasien Trauma Urogeni Berdasarkan Tatalaksana ... 38

5.1.2.6. Distribusi Pasien Trauma Urogenital Berdasarkan Komplikasi ... 39

5.2. Pembahasan ... 39

5.2.1. Usia ... 39

5.2.2. Jenis Kelamin ... 40

5.2.3. Etiologi ... 40

5.2.4. Organ yang Terlibat ... 41

5.2.5. Tatalaksana ... 41

5.2.6. Komplikasi ... 41

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 43

6.1. Kesimpulan ... 43

6.2. Saran ... 43

DAFTAR PUSTAKA………. 44 LAMPIRAN

(10)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

2.1.3. Derajat Trauma Ginjal... 5

2.1.7.1. Tatalaksana Konservatif Trauma Ginjal ... 6

2.1.7.2. Tatalaksana Operatif Trauma Ginjal ... 7

2.2.3.1. Tatalaksana Konservatif Trauma Ureter ... 9

2.2.3.2. Tatalaksana Operatif Trauma Ureter ... 10

2.3.1. Klasifikasi Trauma Kandung Kemih ... 12

2.3.2. Insiden Trauma Kandung Kemih Iatrogenik... 13

2.3.4.1. Tatalaksana Konservatif Trauma Kandung Kemih ... 15

2.3.4.2. Tatalaksana Operatif Trauma Kandung Kemih ... 16

2.4.2. Etiologi Trauma Uretra ... 18

2.4.3. Derajat Trauma Uretra ... 20

2.4.3.1. Tatalaksana Operatif Trauma Uretra ... 21

4.9. Jadwal Penelitian ... 33

5.1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Usia ... 36

5.2.Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin ... 36

5.3.Distribusi Frekuensi Berdasarkan Etiologi ... 37

5.4.Distribusi Frekuensi Berdasarkan Organ yang Terlibat ... 37

5.5.Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tatalaksana ... 38

5.6.Distribusi Frekuensi Berdasarkan Komplikasi... 39

(11)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman 3.1. Kerangka Teori Penelitian... 26 3.2. Kerangka Konsep Penelitian ... 27 4.8. Kerangka Operasional ... 32

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Daftar Riwayat Hidup Lampiran 2. Tabel Data Induk

Lampiran 3. Data Analisis Statistical Product and Service Solutions(SPSS) Lampiran 4. Ethical Clearance

Lampiran 5. Surat Izin Penelitian

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Trauma didefinisikan sebagai cedera yang signifikan atau syok pada tubuh, seperti dari kekerasan atau kecelakaan.1Trauma merupakan penyebab kematian keenam di seluruh dunia, kira-kira 10% dari total mortalitas.2 Trauma menyebabkan sekitar lima juta kematian di seluruh dunia dan menyebabkan jutaan lebih kecacatan pada setiap tahun.2

Kematian akibat trauma dua kali lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan, terutama dari kecelakaan kendaraan bermotor dan kekerasan.3Sekitar 10% dari semua trauma terutama melibatkan sistem urogenital, sementara 10-15%

dari pasien dengan trauma abdomen juga mengalami trauma urogenital.4

Sekitar 65% dari trauma sistem urogenitalia melibatkan ginjal.Trauma ginjal yang tersering disebabkan oleh trauma tumpul, biasanya karena kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh, atau perkelahian.5Trauma tajam ginjal biasanya disebabkan oleh trauma tembak.5

Trauma ureter relatif jarang terjadi karena ukurannyayang kecil, dan letaknya diantara vertebra, tulang panggul, dan otot.5 Iatrogenik merupakan penyebab tersering padatrauma ureter.Hal ini dapat terjadi pada operasi terbuka, laparoskopi atau endoskopi. Setiap trauma ureter dapat menyebabkan gejala sisa yang berat.5

Trauma kandung kemih disebabkan oleh trauma tumpul atau tajam pada perut bagian bawah, panggul, atau perineum.6Trauma yang paling sering menyertai adalah fraktur panggul− terjadi pada > 95 % dari ruptur kandung kemih yang disebabkan oleh trauma tumpul.5 Trauma tajam−yang paling sering adalah luka tembak sekitar< 10 % dari trauma kandung kemih.6

Trauma uretra anterior paling sering terjadi oleh karena straddle injury, sedangkan trauma uretra posterior karena fraktur panggulterutama dari kecelakaan bermotor.7

(14)

Trauma genital jauh lebih umum terjadi pada laki-laki karena struktur anatomi dan lebih sering terjadi pada saat olahraga fisik, kekerasan atau perkelahian. Dari seluruh trauma sistem urogenital ,1/32/3 melibatkan alat kelamin eksternal. 7

1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, maka dapat diambil perumusan masalah “Bagaimana karakteristik pasien trauma urogenital di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP HAM) Medan pada Januari 2013 hingga Desember 2015?

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui karakteristik pasien trauma urogenital di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP HAM) Medan pada Januari 2013 hingga Desember 2015.

1.3.2. Tujuan Khusus

Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:

a) Mengetahui umur pada pasien trauma urogenital di RSUP HAM Medan b) Mengetahui etiologi pada pasien trauma urogenital di RSUP HAM Medan c) Mengetahui komplikasi pada pasien trauma urogenital di RSUP HAM Medan d) Mengetahui tatalaksana pada pasien trauma urogenital di RSUP HAM Medan

1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Rumah Sakit

Memberikan bahan evaluasi bagi rumah sakit mengenai karakteristik pasien trauma urogenital.

(15)

1.4.2. Bagi Masyarakat

Memberikan informasi serta membantu merencanakan perawatan pasien trauma urogenital.

1.4.3. Bagi Penelitian

a. Memiliki kemampuan menganalisis karya tulis ilmiah b. Memiliki kemampuan menulis karya tulis ilmiah c. Menyediakan data untuk penelitian selanjutnya

(16)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Trauma Ginjal 2.1.1. Epidemiologi

Trauma ginjal terjadi pada sekitar 1-5% dari semua kasus trauma.9,11 Ginjal adalah organ urogenital paling sering cedera, dengan rasio perbandingan laki-laki dan perempuan 3: 1.11,5

2.1.2. Jenis Trauma Berdasarkan Etiologi a)Trauma Tumpul

Mekanisme trauma tumpul termasuk kecelakaan bermotor, jatuh, olahraga dan perkelahian. Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama, sekitar setengah dari cedera tumpul.12 Deselerasi cepat atau cedera akibat kompresi suatu benda dapat mengakibatkan memar atau laserasi parenkim.13

b)Trauma Tajam

Tembakan dan luka tusuk adalah penyebab paling umum dari trauma tajam dan cenderung lebih berat dan kurang dapat diprediksi daripada trauma tumpul.14,15 Peluru memiliki potensi terhadap kerusakan parenkim yang lebih besar dan yang paling sering dikaitkan dengan cedera multi organ.16

2.1.3. Klasifikasi

Sistem klasifikasi yang paling umum adalah dari American Association for the Surgery of Trauma(Tabel 2.1.3.).17 Klasifikasi ini dapat memprediksi morbiditas setelah terjadi trauma tumpul atau tajam dan mortalitas trauma tumpul.18

(17)

Tabel 2.1.3 Derajat Trauma Ginjal17

2.1.4. Evaluasi Diagnostik

Tanda-tanda vital harus dicatat di seluruh evaluasi diagnostik. Pada tahap resusitasi awal, pertimbangan khusus harus diberikan untuk riwayat penyakit ginjal.19

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan trauma tajamdengan jelas dari trauma tusukan di punggung bawah, panggul dan perut bagian atas. Hematuria, nyeri pinggang, ekimosis, abrasi, patah tulang rusuk, distensi abdomen dan / atau massa dan nyeri meningkatkan kecurigaan keterkaitan ginjal.

2.1.5. Evaluasi Laboratorium

Urinalisis, hematokrit dan kreatinin adalah tes yang paling penting.

Hematuria, baik mikroskopis atau makroskopis sering ditemukan tetapi tidak sensitif atau cukup spesifik untuk membedakan antara trauma minor dan mayor.20

2.1.6. Pencitraan: Kriteria Penilaian Radiografi

Indikasi untuk evaluasi radiografi adalah hematuria makroskopis, hematuria mikroskopis dengan hipotensi, atau adanya trauma mayor yang berhubungan dengan ginjal.Pasien dengan trauma tajam pada tubuh memiliki

(18)

insiden yang tinggi trauma signifikan pada ginjal. Jika ada kecurigaan, pencitraan harus dilakukan, terlepas dari tingkat hematuria.21 Beberapa pilihan untuk radiografi adalah ultrasonografi (USG), pielografi intravena,computed tomography (CT), dan magnetic resonance imaging (MRI).

2.1.7. Penatalaksanaan

Pengelolaan trauma ginjal terbagi atas dua yaitu konservatif dan operatif selama 7 hari (Tabel 2.1.7.1. dan Tabel 2.1.7.2.)24

Tabel 2.1.7.1. Tatalaksana Konservatif Trauma Ginjal 24

(19)

Tabel 2.1.7.2. Tatalaksana Oper atifTrauma Ginjal 24

(20)

2.1.8. Komplikasi

Komplikasi awal, terjadi kurang dari 1 bulan setelah trauma, termasuk perdarahan, infeksi, abses perinefrik, sepsis, fistula kemih, hipertensi, ekstravasasi urin dan urinoma.23 Komplikasi lanjut termasuk perdarahan, hidronefrosis, pembentukan kalkulus, pielonefritis kronis, hipertensi, fistula arteriovenosa, hidronefrosis dan pseudo-aneurisma. Perdarahan retroperitoneal yang lanjut mungkin mengancam hidup dan embolisasi angiografi selektif merupakan pengobatan pilihan.23

2.2. Trauma Ureter

2.2.1. Epidemiologi, Etiologi dan Patofisiologi

Secara keseluruhan, trauma ureter sekitar 1-2,5% dari trauma saluran kemih.24-27 Trauma ureter iatrogenik dapat terjadi dari berbagai mekanisme: ligasi atau terbelit dengan jahitan, klem penjepit, transeksi parsial atau total,trauma termal, atau iskemia dari devaskularisasi.28-30 Operasi ginekologi adalah hal yang paling umum penyebab trauma iatrogenik pada ureter, tetapi dapat juga terjadi dalam operasi kolorektal, terutama reseksi abdominoperineal.31

(21)

2.2.2. Evaluasi Diagnostik a) Diagnosis Klinis

Trauma ureter eksternal biasanya disertai trauma abdomen dan panggul yang parah. Trauma tajam biasanya berhubungan dengan trauma pembuluh darah dan usus, sedangkan trauma tumpul dikaitkan dengan trauma pada tulang panggul dan tulang lumbosakral.26,27 Hematuria merupakan indikator yang kurang akuratpadatrauma ureter, karena hanya ditemukan pada 50 – 75% pasien.25,28,32

b)Diagnosis Radiologi

Ekstravasasi medium kontras di computerized tomography ( CT ) adalah tanda-tanda dari trauma ureter. Namun, hidronefrosis, asites, urinoma atau dilatasiureter ringan sering merupakan tanda satu-satunya. Dalam kasus yang tidak jelas, sebuah urografi retrograde atau antegrade adalah gold standard untuk konfirmasi.28 Pielografi intravena, terutama one-shot IVP, tidak dapat diandalkan dalam diagnosis, karena hasil negatif sekitar 60 % dari total pasien.25,28

2.2.3. Penatalaksanaan

Pengelolaan trauma ureter terbagi atas dua yaitu konservatif dan operatif selama 7 hari (Tabel 2.2.3.1. dan Tabel 2.2.3.2.) 24

Tabel 2.2.3.1. Tatalaksana Konservatif Trauma Ureter24

(22)

Tabel 2.2.3.2. Tatalaksana Operatif Trauma Ureter24

(23)
(24)

2.3. Trauma Kandung Kemih 2.3.1. Klasifikasi

Sebuah klasifikasi trauma kandung kemih dapat dibuat berdasarkan modus tindakan (Tabel 2.3.1.). Lokasi trauma kandung kemih ini penting karena akan menentukantahap tatalaksana lebih lanjut:

• Intraperitoneal

• Ekstraperitoneal

• Gabungan intra-ekstraperitoneal

Tabel 2.3.1. : KlasifikasiTrauma Kandung Kemih Trauma non-iatrogenik

• tumpul

• tajam / tajam Trauma iatrogenik

• eksternal

• internal

• benda asing

2.3.2. Epidemiologi, Etiologi dan Patofisiologi a) Trauma Kandung Kemih Non-Iatrogenik

Kecelakaan lalu lintas kendaraan bermotor adalah penyebab paling umum dari trauma kandung kemih tumpul, diikuti oleh jatuh, trauma industri / trauma panggul dan pukulan ke perut bagian bawah.33-35Fraktur panggul berhubungan

(25)

dengan trauma kandung kemih hanya 3,6% dari kasus.33

Ruptur ekstraperitoneal hampir selalu dikaitkan dengan patah tulang panggul.35Trauma ini biasanya disebabkan oleh distorsi sendi panggul, danpergeseran dari dinding anterolateral kandung kemih dekat pangkalan kandung kemih (di lapisan fasia nya). Kadang, kandung kemih mengalami perforasi langsung oleh fragmen tulang yang tajam.34,37

Ruptur intraperitoneal disebabkan oleh peningkatan tekanan intravesika secara tiba-tiba, pukulan pada panggul atau perut bagian bawah. Kubah kandung kemih adalah titik terlemah dari kandung kemih dan biasanya sering ruptur.34 Kandung kemih yang penuh juga merupakan faktor resiko untuk pecah intraperitoneal.34

b) Trauma Kandung Kemih Iatrogenik

Kandung kemih adalah organ urologi yang paling sering mengalami trauma iatrogenik.38 Tabel 2.3.2.menunjukkan kejadian trauma kandung kemih iatrogenik pada berbagai prosedur.

Tabel 2.3.2. : Insidensi Trauma Kandung Kemih Iatrogenik pada Berbagai Prosedur

Prosedur Persentase (%)

Eksternal Obstetri

Operasi caesar39,40 0.0016-0.94

Ginekologi

Sterilisasi laparoskopi34 0.02

Laparoskopi diagnostik34 0.01

Benda asing intravesikal meliputi :

• Bagian peralatan endourologi yang tertinggal seperti resectoscopes , stent ureter atau kateter kandung kemih ;

• Potongan kasa bedah yang tertinggal, jahitan atau staples yang digunakan dalam prosedur pelvik. 42,43

(26)

2.3.3. Evaluasi Diagnostik a) Evaluasi Umum

Tanda kardinal trauma kandung kemih adalah hematuria makroskopis.34,35 Trauma kandung kemih non-iatrogenik sangat berkorelasi dengan gabungan fraktur panggul dan hematuria makroskopis 44, dan ini merupakan indikasi mutlak untuk pencitraan lebih lanjut.34,44

Tanda-tanda trauma kandung kemih iatrogenikeksternal adalah ekstravasasi urin, tampak laserasi, kateter kandung kemih, dan darah dan / atau gas di kantong urin selama laparoskopi.34,39Jikaperforasi kandung kemih dekat trigonum, orifisium ureter harus diperiksa.34,38

Trauma kandung kemih iatrogenik internal disarankan identifikasi dengan sistoskopi dari jaringan lemak, ruang gelap antara serat-serat otot detrusor, atau visualisasi usus.41

Gejala dari benda asing di intravesikal termasuk disuria, infeksi saluran kemih berulang, frekuensi, urgensi, hematuria, dan nyeri panggul /perineum.42 Batu kandung kemih biasanya terbentuk setelah benda asing menetap > 3 bulan.42,45

b) Evaluasi Tambahan i. Sistografi

Sistografi adalah alat diagnostik yang lebih sering dipilih untuk trauma kandung kemih non-iatrogenik dan pada kasusyang dicurigai IBT pasca operasi.37,38Selain itu, sistografi CT dapat mendiagnosa trauma atau penyebab nyeri abdomen lainnya.34

Sistografi harus dilakukan dengan mengisi kandung kemih dengan volume minimal 350 mL bahan kontras cairsecara retrograde.37Dengan ekstravasasi intraperitoneal, medium kontras divisualisasikan di abdomen, memberi warnapada usus dan / atau organ dalam abdomen seperti hati.34 Trauma kandung kemih ekstraperitoneal ditandai dengan bagian yang berbentukflame-shaped pada jaringan lunak perivesikal.34

ii. Sistoskopi

Sistoskopi adalah metode yang terkenal untuk mendeteksi trauma kandung

(27)

kemih intra-operatif, karena dapat langsung mengetahui laserasi.Sistoskopi lebih sering digunakan untuk mendiagnosis benda asing.43,45

2.3.4. Penatalaksanaan

Pengelolaan trauma kandung kemih terbagi atas dua yaitu konservatif dan operatif selama 7 hari (Tabel 2.3.4.1. dan Tabel 2.3.4.2.) 24

Tabel 2.3.4.1. Tatalaksana Konservatif Trauma Kandung Kemih24

(28)

Tabel 2.3.4.2. Tatalaksana Operatif Kandung Kemih24

(29)

2.4. Trauma Uretra

2.4.1. Epidemiologi, Etiologi dan Patofisiologi 1. Trauma Uretra Iatrogenik

Jenis yang paling umum dari trauma uretra dilihat dalam urologi adalah iatrogenik, karena kateterisasi, instrumentasi, atau operasi.46,47

a) Kateterisasi Transuretral

Trauma uretra iatrogenik biasanya karena kateterisasi yang tidak benar atau berkepanjangan dan sebanyak 32% dari striktur. Sebagian besar striktur ini mempengaruhi bulbar uretra.48,49

b) Operasi Transuretral

Operasi transuretral adalah penyebab umum dari trauma uretra

(30)

iatrogenik.Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya striktur uretraiatrogenik termasuk dispersi listrik yang dihasilkan oleh arus unipolar dan diameter instrumen yang digunakan.50

c) Radioterapi pada Kanker Prostat

Terjadinya fistula saluran kemih telah dilaporkan setelah menjalani brakhiterapi dan prostatektomi radikal,dengan insiden masing-masing 0,3- 3,0 % dan 0- 0,6 % , sebagian besar fistula melibatkan rektum.51,52

d) Operasi Mayor Pelvis dan Kistektomi

Trauma iatrogenik uretra dapat menjadi komplikasi dari operasi mayor pelvis. Kateterisasi kandung kemih dan uretra karena itu harus dikeluarkan sebelum operasi untuk mencegah komplikasi ini.53

2. Trauma Uretra Non-Iatrogenik

a) Trauma Uretra Anterior (pada Laki-laki)

Berbagai macam penyebab padatrauma anterior 54 digambarkan pada Tabel 2.4.2. Trauma uretra anterior terutama disebabkan oleh trauma tumpul 54,55, Bulbar uretra adalahlokasi yang paling umum trauma. 55,56

Tabel 2.4.2. : Etiologi Trauma Uretra 54

Penyebab Contoh

Trauma tumpul

Kecelakaan kendaraan bermotor

Jatuh mengangkang (mis: sepeda, pagar) Pukulan di perineum

Aktivitas seksual Fraktur penis

Stimulasi intraluminal uretra

Trauma tajam

Trauma tembak Trauma tusuk Gigitan anjing External impalement Amputasi penis

Trauma iatrogenic Penggunaan endoskopi Kateterisasi uretra / dilator

(31)

b) Trauma Uretra Posterior (pada Laki-laki)

Trauma pada uretra posterior paling sering berhubungan dengan patah tulang panggul (sekitar 72%) 58,59, biasanya disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. 33,46 Trauma posterior iatrogenik, karena iradiasi atau operasi prostat, merupakan masalah yang semakin meningkat 58,59, tetapi tampaknya kurang umum (3 – 25%). 54

c) Trauma Uretra pada Wanita

Trauma uretra sangat jarang pada wanita.62,57 Fraktur panggul adalah etiologi utama.61Trauma biasanya ruptur parsial yang memanjang dari dinding anterior yang berhubungan dengan laserasi vagina. 62,64

2.4.2. Evaluasi Diagnostik pada Laki-laki dan Wanita a) Tanda-tanda Klinis

Dijumpai darah di meatus adalah tanda kardinal trauma uretra.46 Ketidakmampuan untuk berkemih (dengan teraba distensi kandung kemih) adalah tanda klasik lain dan seringterkait dengan ruptur total.46

Pemeriksaan rektal harus selalu dilakukan untuk menyingkirkan traumarektum (sampai 5% dari kasus) 65,66 dan dapat mengetahui prostat ‘high- riding'.46,65 Tanda lain dari trauma uretra adalah kesulitan atau ketidakmampuan untuk memasang kateter uretra.65

Trauma uretra pada wanita harus dicurigai dari kombinasi fraktur panggul dengan adanya darah di introitus vagina, laserasi vagina, hematuria, urethrorrhagia, pembengkakan labial dan / atau retensi urin.62,63 Pemeriksaan vagina diindikasikan untuk menilai laserasi vagina.65

b) Evaluasi Diagnostik Lebih Lanjut

Urethrography retrograde adalah alat diagnostik standar untuk evaluasi akut trauma uretra laki-laki.54 Sebuah urethrography retrograde dilakukan dengan menyuntikkan 20-30 mL bahan kontras saat meatus ditahan dengan balon kateter Foley di fossa navicularis. Pencitraan harus diambil dalam posisi 30° -oblique, kecuali hal ini tidak mungkin karena beratnya patah tulang panggul dan terkait ketidaknyamanan pasien.54,64

(32)

Klasifikasi trauma uretra berikut berdasarkan urethrography retrograde(Tabel 2.4.3.) 54:

Tabel 2.4.3. : Derajat Trauma Uretra Uretra anterior

• Disrupsi parsial

• Disrupsi lengkap Uretra posterior

• Stretched but intact

• Disrupsi parsial

• Disrupsi lengkap

• Kompleks (meliputileher kandung kemih/rektum)

*Menurut 2004 Consensus Panel on Urethral Trauma 54.

i.Ultrasonography (USG), Computed Tomography (CT) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Pada fase akut, USG scanning digunakan untuk menuntun penempatan kateter suprapubik.CT dan MRI jarang berguna untuk mengevaluasi traumayang bersamaan.54,64

ii. Sistoskopi

Sistoskopi fleksibel merupakan pilihan untuk mendiagnosis (dan mengelola) trauma uretra akut dan dapat membedakan antara ruptur komplit dan inkomplit.54Pada wanita, di mana uretra pendek, visualisasi radiologi, uretroskopi dan vaginoskopi adalah alat diagnostik pilihan.54,62

2.4.3. Penatalaksanan 24

Pengelolaan trauma uretra yaitu dengan tindakan operatif selama 8 hari (Tabel 2.2.3.1.) 24

(33)

Tabel 2.4.3.1 Tatalaksana Operatif Trauma Uretra24

(34)
(35)

2.5. Trauma Genital

2.5.1. Prinsip-prinsip Umum dan Patofisiologi

Pada trauma genital, urinalisis harus dilakukan. Ada atau tidaknya perdarahan perlu dilakukan uretrogram retrograde pada laki-laki. Pada wanita, sistoskopi fleksibel atau rigiddigunakan untuk mengesampingkantrauma uretra dan kandung kemih.67,68

2.5.2. Klasifikasi Trauma Genital a) Trauma Tumpul Penis

Trauma tumpul pada penis flaccid biasanya tidak menyebabkan robeknya tunika.Dalam kasus ini, hanya hematoma subkutan dengan tunika albuginea dapat terlihat utuh.

- Fraktur Penis

Presentasi yang paling penting dan umum pada trauma tumpul penis adalah fraktur penis. Ini hasil dari trauma pada penis ereksi selama hubungan seksual, masturbasi, berguling di tempat tidur (jarang).69

Anamnesis lengkap dan pemeriksaan biasanya mengkonfirmasi diagnosis, tetapi dalam beberapa kasus pencitraan mungkin berguna.Kaversonografi, ultrasonografi atau MRI70-72 dapat mengidentifikasi laserasi dari tunika albuginea dalam kasus tidak jelas73, atau memberikan gambaran bahwa tunika masih utuh.

Penutupan dapat dilakukan dengan menggunakan jahitan absorbable, dengan hasil jangka panjangbaik, dan perlindungan potensi.komplikasi pasca operasi dilaporkan di 9%, termasuk infeksi trauma yang dangkal dan impotensi pada 1,3%.74,75 Manajemen konservatif fraktur penis tidak dianjurkan. Hal ini meningkatkan komplikasi, seperti abses penis, kelengkungan penis, dan hematoma persisten membutuhkan intervensi bedah lanjutan.75Komplikasi akhir setelah manajemen konservatif yaitu fibrosis dan angulasi sebanyak 35%, dan impotensi sampai dengan 62%.74,75

b) Trauma Tajam Penis

Kebanyakan kasus berhubungan dengan trauma multipel.Manajemen non- operasi dianjurkan dalam trauma kecil dengan fascia Buck utuh.63Traumatajam

(36)

penis yang lebih signifikan, eksplorasi bedah dan debridement jaringan nekrotik dianjurkan.

c) Trauma Tumpul Skrotum

trauma tumpul ke skrotum dapat menyebabkan dislokasi testis, hematokel testis, ruptur testis dan / atau hematoma skrotum.

- Dislokasi Testis

Dislokasi traumatis testis jarang terjadi. Hal ini paling sering terjadi pada korban kecelakaan kendaraan bermotor.76-79 Dislokasi bilateral testis telah dilaporkan hingga 25% dari kasus.77Dapat berupa dislokasi subkutan dengan perpindahan epifascial dari testis atau dislokasi internal. Dislokasi traumatis dari testis ditangani dengan penggantian manual dan orkidopeksi sekunder.Jika reposisi primer tidak dapat dilakukan, segera lakukan orkidopeksi.

- Hematokel

Manajemen konservatif dianjurkan pada hematokelyang lebih kecil tiga kali dari ukuran testis kontralateral.80 Dalam hematokel besar, manajemen non- operatif sering gagal, dan operasi lanjutan (> 3 hari) sering dipertrauman.Selain itu, manajemen non-operatif juga terkait dengan rawat inap di rumah sakit yang berkepanjangan.Oleh karena itu, hematokel besar harus dilakukan pembedahan.

- Ruptur Testis

Ruptur testis ditemukan pada sekitar 50% kasus trauma skrotum tumpul.81 Ini dapat terjadi karena kompresi traumatik dari testis terhadap ramus pubis inferior atau simfisis, mengakibatkan pecahnya tunika albuginea testis.

Hemiskrotum bengkak dan ekimotik.Testis mungkin sulit untuk teraba.

d) Trauma Tajam Skrotum

Traumatajam ke skrotum memerlukan eksplorasi bedah dengan debridement konservatif jaringan non-layak.Operasivaso-vasostomy mikro sekunder bertahap dapat dilakukan setelah rehabilitasi, meskipun hanya beberapa kasus telah dilaporkan.82 Jika pasien tidak stabil atau rekonstruksi tidak dapat dicapai, orkiektomi kemudian dilakukan.

Antibiotik profilaksis direkomendasikan setelah trauma tajam skrotum, meskipun data untuk mendukung pendekatan ini kurang.Profilaksis tetanus adalah

(37)

wajib. Komplikasi pasca operasi dilaporkan pada 8% dari pasien yang menjalani perbaikan testis setelah trauma tajam.63

e) Trauma Genital pada Wanita

Pada wanita dengan trauma tumpul pada alat kelamin eksternal, pencitraan dari panggul dengan ultrasonografi, CT, atau MRI harus dilakukan karenatrauma tambahan dan luas hematoma intra-panggul sering terjadi. 68,83

- Trauma Tumpul Vulva

Insiden hematoma vulva traumatis setelah kelahiran pervaginam telah dilaporkan 1 dari 310 kelahiran.84 Sistoskopi fleksibel atau rigid direkomendasikan untuk mengesampingkantrauma uretra dan kandung kemih.67,68

BAB 3

KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP DAN

HIPOTESIS PENELITIAN

(38)

3.1. Kerangka Teori Penelitian

Gambar 3.1. Kerangka Teori Penelitian

3.2. Kerangka Konsep Penelitian Trauma Urogenital

• Trauma Ginjal

• Trauma Ureter

• Trauma

Kandung Kemih

• Trauma Uretra

• Trauma Penis

• Trauma Skrotum (Testis)

Etiologi :

• Trauma tumpul

• Trauma tajam

• Trauma iatrogenik

Kriteria diagnosis :

• Primary suvey

• Secondary survey

• Tanda – tanda vital

• Pemeriksaan fisik

• Pemeriksaan laboratorium (DPL, elektrolit, PT/APTT, albumin, ureum kreatinin)

Penatalaksanaan :

• Terapi konservatif

• Terapi operatif

Komplikasi & Prognosis

(39)

Kerangka Konsep penelitian merupakan kerangka yang menggambarkan dan mengarahkan asumsi mengenai elemen yang diteliti. Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan dalam tujuan penelitian, latar belakang, dan tinjauan kepustakaan, maka kerangka konsep penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.2. Kerangka Konsep Penelitian

BAB 4

Karakteristik Pasien Trauma Urogenital

Etiologi Jenis Kelamin

Usia

Tatalaksana Organ yang Terlibat

Komplikasi

(40)

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian deksriptif dengan pendekatan cross sectional (studi potong lintang), dimana penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien trauma urogenital di RSUP H. Adam Malik Medan. Pada penelitian ini pendekatan atau pengumpulan data dilakukan secara simultan atau dalam waktu yang bersamaan (point time approach).

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian 4.2.1. Waktu Penelitian

Pengumpulan dan pencatatan data dalam penelitian ini dilakukan selama enam bulan, yakni pada Juli 2016 sampai Oktober 2016

4.2.2. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rekam Medis RSUP H. Adam Malik Medan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data dari hasil rekam medis pasien yang diagnosa dengan trauma urogenital di RSUP H. Adam Malik Medan.

Adapun pertimbangan pemilihan lokasi karena RSUP H. Adam Malik merupakan rumah sakit pendidikan dan pusat rujukan dari wilayah Provinsi Sumatera Utara.

4.3. Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi Penelitian

Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien dengan diagnosis trauma urogenital di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan dari mulai tahun Januari 2013 hingga Desember 2015.

4.3.2. Sampel Penelitian

Sampel penelitian adalah subjek populasi penelitian yang didiagnosis trauma urogenital di RSUP H. Adam Malik Medan berdasarkan rekam medis tahun Januri 2013sampaiDesember 2015. Terdapat juga kriteria pemilihan sampel penelitian antara lain:

a) Kriteria inklusi

(41)

Adapun kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah : 1. Pasien anak-anak dan dewasa

2. Pasien yang telah didiagnosis menderita trauma urogenital di RSUP HAM periode Januari 2013 sampai Desember 2015

b) Kriteria ekslusi

Adapun kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : 1. Rekam medis tidak terbaca|

2. Rekam medis tidak lengkap

4.4. Besar Sampel Penelitian

Jumlah sampel pada penelitian ini menggunakan metode total sampling, yaitu seluruh pasien yang didiagnosis dengan trauma urogenital berdasarkan rekam medis RSUP H. Adam Malik Medan dari bulan Januari 2013 sampai Desember 2015.

4.5. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengambil data sekunder pasien berupa rekam medis pasien trauma urogenital dari Instalasi Rekam Medis RSUP H. Adam Malik Medan dari bulan Januari 2013 sampai Desember 2015.

4.6. Definisi Operasional

Sesuai dengan kerangka penelitian, maka definisi operasional sebagai berikut:

1) Trauma Urogenital

Trauma urogenital adalah cedera pada ginjal, ureter, kandung kemih, uretra dan alat genitalia yang disebabkan oleh berbagai macam trauma baik tumpul atau tajam.

2) Usia

a) Definisi operasional : Usia adalah waktu hidup pasien trauma ginjal sejak tanggal lahir sampai ulang tahun terakhir yang sesuai dengan rekam medis

b) Cara ukur : Mencatat data rekam medis c) Alat ukur : Data rekam medis

d) Hasil ukur :i. 1-10 tahun

(42)

ii. 11-20 tahun iii. 21-30 tahun iv. 31-40 tahun

v. 41-50 tahun vi. 51-60 tahun vii. > 60 tahun

e) Skala Pengukuran : Interval 3) Jenis Kelamin

a) Definisi operasional : Jenis kelamin adalah tanda fisik dan rohani yang . membedakan identitas biologis seseorang

b) Cara ukur : Mencatat data rekam medis c) Alat ukur : Data rekam medis

d) Hasil ukur : i. Laki-laki ii. Perempuan e) Skala pengukuran : Nominal

4) Etiologi

a) Definisi operasional : Etiologi adalah penyebab tertentu yang timbul pada penderita trauma urogenital berdasarkan yang tercatat dalam data rekam medis pasien

b) Cara ukur : Mencatat data rekam medis c) Alat ukur : Data rekam medis

d) Hasil ukur : i. Trauma tumpul ii. Trauma tajam e) Skala pengukuran : Nominal 5) Organ yang terlibat

a) Definisi operasional : Organ yang terlibat dalam trauma traktus urinarius dan genital

b) Cara ukur : Mencatat data rekam medis c) Alat ukur : Data rekam medis

d) Hasil ukur : i. Ginjal ii. Ureter

iii. Kandung kemih iv. Uretra

v. Penis vi. Skrotum e) Skala pengukuran : Nominal 6) Tatalaksana

(43)

a) Definisi operasional : Perawatan medis yang dilakukan pada pasien untuk penyakit atau cedera

b) Cara ukur : Mencatat data rekam medis c) Alat ukur : Data rekam medis

d) Hasil ukur : i. Konservatif ii. Operatif e) Skala pengukuran : Nominal 7) Komplikasi

a) Definisi operasional : Komplikasi adalah kejadian yang tidak diharapkan pasca tindakan

b) Cara ukur : Mencatat data rekam medis c) Alat ukur : Data rekam medis

d) Hasil ukur : i. Tidak ada ii. Hidronefrosis iii. Perdarahan iv. Hipertensi v. Meninggal dunia e) Skala pengukuran : Nominal

4.7. Pengolahan dan Analisis Data.

Data yang diperoleh berupa berapa pasien yang didiagnosis trauma urogenital, distribusi menurut umur, jenis kelamin, etiologi, organ yang terlibat, tatalaksana dan komplikasidianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif yang ditampilkan dalam tabel distribusi frekuensi.

4.8. Kerangka Operasional

Tahapan dalam penelitian adalah sebagai berikut:

1. Menentukan subjek penelitian yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi

2. Mengambil data sekunder berupa rekam medis pasien trauma urogenital dari Instalasi Rekam Medis RSUP Haji Adam Malik Medan

3. Membaca rekam medis pasien trauma urogenital di RSUP Haji Adam Malik Medan mulai dari Januari 2013 - Desember 2015

(44)

4. Mencatat karakteristik pasien trauma urogenital di RSUP Haji Adam Malik mulai dari Januari 2013 - Desember 2015 berdasarkan usia, jenis kelamin, etiologi, organ yang terlibat, tatalaksana dan komplikasi.

4.9.

Penentuan Subjek

Inklusi Eksklusi

Data rekam medis pasien trauma urogenital di RSUP H. Adam Malik Medan dari bulan Januari 2013 sampai Desember 2015 yang lengkap

Data rekam medis pasien trauma urogenital di RSUP H. Adam Malik Medan dari bulan Januari 2013 sampai Desember 2015 yang tidak lengkap

Mengambil data sekunder (rekam medis), membaca dan mencatat karakteristik pasien trauma urogenital mulai dari Januari 2013 – Desember 2015

Gambar 4.8. Kerangka Operasional

(45)

Jadwal Penelitian

No. Kegiatan April 2016

Mei 2016

Juni 2016

Juli 2016

Agustus 2016

September 2016

Oktober 2016

November 2016

Desember 2016 1. Persiapan

penelitian 2. Pelaksanaan

penelitian 3.

Pengolahan &

Penyusunan data

(46)

4.10. Rencana Biaya Penelitian

• Kertas A4 2 rim x 500 lembar @ 40.000 Rp 80.000

• Fotokopi sumber-sumber tinjauan pustaka Rp 30.000

• CD Rp 10.000

• Penjilidan Rp 120.000

Rp 240.000

(47)

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP HAM) Medan berlokasi di Jalan Bunga Lau No. 17, Kelurahan Kemenangan Tani, Kecamatan Medan Tuntungan, Kotamadya Medan, Provinsi Sumatera Utara. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit pemerintah yang masuk dalam kategori Rumah Sakit Kelas A. Berdasarkan SK Menkes RI No. HK.02.02/MENKES/390/2014 tanggal 17 Oktober 2014 Tentang Pedoman Penetapan Rumah Sakit Rujukan Nasional, RSUP H. Adam Malik Medan merupakan salah satu rumah sakit di bagian Regional Barat yang merupakan Rumah Sakit Rujukan Nasional. Selain itu RSUP H. Adam Malik Medan ini juga merupakan jenis Rumah Sakit Pendidikan sehingga memudahkan peneliti untuk dapat melakukan penelitian di rumah sakit ini.

5.1.2 Deskripsi Hasil Penelitian

Data yang digunakan pada penelitian ini merupakan data sekunder, yaitu data yang berasal dari rekam medis RSUP H. Adam Malik Medan dari bulan Januari 2013 sampai Desember 2015.

Jumlah seluruh data yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi serta sesuai dengan variabel yang diteliti adalah 12 data rekam medis pada tahun 2013, 14 data rekam medis pada tahun 2014 dan 5 data rekam medis pada tahun 2015.

Variabel data rekam medis yang diteliti meliputi usia, jenis kelamin, etiologi, organ yang terlibat, tatalaksana, dan komplikasi.

(48)

5.1.2.1. Distribusi Pasien Trauma Urogenital Berdasarkan Usia

Distribusi data berdasarkan usia pasien trauma urogenital pada tahun 2013 - 2015 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Usia Kelompok

Usia

2013 2014 2015 2013-2015

n % n % n % n %

1-10 1 8,3 0 0 1 20,0 2 6,5

11-20 4 33,3 4 28,6 2 40,0 10 32,3

21-30 2 16,7 2 14,3 1 20,0 5 16,1

31-40 1 8,3 3 21,4 0 0 4 12,9

41-50 3 25,0 2 14,3 1 20,0 6 19,4

51-60 0 0 1 7,1 0 0 1 3,2

>60 1 8,3 2 14,3 0 0 3 9,7

Total 12 100% 14 100% 5 100% 31 100%

Dalam Tabel 5.1, diketahui bahwa pasien trauma urogenital yang terbanyak berada pada kelompok usia 11-20 tahun (32,3%) dan terendah berada pada kelompok usia 51-60 tahun (3,2%).

5.1.2.2. Distribusi Pasien Trauma Urogenital Berdasarkan Jenis Kelamin Distribusi data berdasarkan jenis kelamin pasien trauma urogenital pada tahun 2013 - 2015 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis

Kelamin

2013 2014 2015 2013-2015

n % n % n % n %

Laki-laki 8 66,7 8 57,1 4 80,0 20 64,5

Perempuan 4 33,3 6 42,9 1 20,0 11 35,5

Total 12 100% 14 100% 5 100% 31 100%

(49)

Berdasarkan Tabel 5.2, diketahui bahwa pasien trauma urogenital yang terbanyak adalah berjenis kelamin laki-laki (64,5%) sedangkan perempuan hanya (35,5%).

5.1.2.3. Distribusi Pasien Trauma Urogenital Berdasarkan Etiologi

Distribusi data berdasarkan etiologi pada pasien trauma urogenital pada tahun 2013 - 2015 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Etiologi

Etiologi 2013 2014 2015 2013-2015

n % n % n % n %

Trauma

Tumpul 10 83,3 10 71,4 5 100 25 80,6

Trauma

Tajam 2 16,7 3 21,4 0 0 5 16,1

Trauma

Iatrogenik 0 0 1 7,1 0 0 1 3,2

Total 12 100% 14 100% 5 100% 31 100%

Berdasarkan Tabel 5.3, diketahui bahwa kebanyakan pasien trauma urogenital merupakan pasien dengan etiologi trauma tumpul (80,6%) dan yang paling sedikit adalah trauma iatrogenik (3,2%).

5.1.2.4. Distribusi Pasien Trauma Urogenital Berdasarkan Organ yang Terlibat

Distribusi data berdasarkan organ yang terlibat pada pasien trauma urogenital pada tahun 2013 - 2015 dapat dilihat pada tabel berikut.

(50)

Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Organ yang Terlibat Organ yang

Terlibat

2013 2014 2015 2013-2015

n % n % n % n %

Ginjal 9 75,0 8 57,1 2 40,0 19 61,3

Ureter 0 0 1 7,1 0 0 1 3,2

Kandung Kemih 1 8,3 2 14,3 0 0 3 9,7

Uretra 2 16,7 3 21,4 3 60,0 8 25,8

Penis 0 0 0 0 0 0 0 0

Skrotum 0 0 0 0 0 0 0 0

Total 12 100% 14 100% 5 100% 31 100%

Berdasarkan Tabel 5.4, diketahui bahwa organ yang paling sering terlibat pada pasien trauma urogenital adalah ginjal (61,3%) dan disusul dengan uretra (25,8%).

5.1.2.5. Distribusi Pasien Trauma Urogenital Berdasarkan Tatalaksana Distribusi data berdasarkan tatalaksana pada pasien trauma urogenital pada tahun 2013 - 2015 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5.5. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tatalaksana

Tatalaksana 2013 2014 2015 2013-2015

n % n % n % n %

Konservatif 7 58,3 5 35,7 0 0 12 38,7

Operatif 5 41,7 9 64,3 5 100 19 61,3

Total 12 100% 14 100% 5 100% 31 100%

Berdasarkan Tabel 5.5, diketahui bahwa pasien trauma urogenital yang terbanyak adalah dengan tatalaksana operatif (61,3%) dan paling sedikit adalah tatalaksana konservatif (38,7%).

(51)

5.1.2.6. Distribusi Pasien Trauma Urogenital Berdasarkan Komplikasi

Distribusi data berdasarkan komplikasi pada pasien trauma urogenital pada tahun 2013 - 2015 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5.6. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Komplikasi

Komplikasi 2013 2014 2015 2013-2015

n % n % n % n %

Tidak ada 3 25,0 7 50,0 3 60,0 13 41,9

Hidronefrosis 3 25,0 1 7,1 1 20,0 5 16,1

Perdarahan 4 33,3 4 28,6 1 20,0 9 29,0

Hipertensi 1 8,3 2 14,3 0 0 3 9,7

Meninggal

dunia 1 8,3 0 0 0 0 1 3,2

Total 12 100% 14 100% 5 100% 31 100%

Berdasarkan Tabel 5.6, diketahui bahwa kebanyakan trauma urogenital tidak menimbulkan komplikasi, namun pada trauma ginjal komplikasi tersering adalah perdarahan (29,0%) dan komplikasi paling sedikit yaitu meninggal dunia (3,2%).

5.2 Pembahasan 5.2.1 Usia

Berdasarkan data distribusi di atas diketahui bahwa dari total pasien pada tahun 2013-2015 yang menderita trauma urogenital di RSUP H. Adam Malik Medan sebanyak 12 orang pasien pada tahun 2013 dengan kelompok usia 11-20 tahun lebih banyak yakni sebesar 33,3%, sebanyak 14 orang pasien di tahun 2014 sebesar 28,6% pada kelompok usia 11-20, dan sebanyak 5 orang pasien di tahun 2015 sebesar 40,0% pada kelompok usia 11-20 tahun. Kemudian disusul kelompok usia 41-50 tahun sebesar 25,0% (2013), kelompok usia 21-30 tahun sebesar 16,7% (2013), kelompok usia 31-40 tahun sebesar 21,4% (2014), dan kelompok usia 1-10, 21-30 dan 41-50 sebesar 20,0% (2015). Selanjutnya kelompok usia 1-10, 31-40 dan > 60 tahun sebesar 8,3% (2013), kelompok usia 21-30, 41-50, >60 tahun sebesar 14,3% (2014).

(52)

Hal ini sejalan dengan penelitian Summerton yang menyatakan bahwa trauma urogenital terjadi pada semua kelompok usia.85 Hasil penelitian ini mendukung pendapat Annichdimana prevalensi tauma urogenital telah dilaporkan antara 10 dan 30% pada orang dewasa dan kurang dari 3% pada anak-anak.86

5.2.2 Jenis Kelamin

Pada tabel 5.2, dapat dilihat bahwa persentase pasien trauma urogenital berjenis kelamin laki-laki (66,7%) lebih tinggi daripada persentase pasien berjenis kelamin perempuan (33,3%) pada tahun 2013. Pada tahun 2014 dari jumlah 14 pasien menunjukkan persentase pasien berjenis kelamin laki-laki lebih tinggi (57,1%) daripadaperempuan (42,9%). Kemudian disusul pada tahun 2015 persentase pasien berjenis kelamin laki-laki juga lebih tinggi (80,0%) daripada perempuan (20,0%).

Data ini sesuai dengan pendapat Paparel danSalimi karakteristik pasien trauma sesuai dengan literatur dimana jumlah pasien yang berjenis kelamin laki- laki yang dirawat di rumah sakit hampir 4 kali lebih tinggi dari perempuan

.

5,87Hal ini sejalan dengan pendapat Smith & Barrs bahwa trauma urogenital yang paling umum terjadi adalah pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan.88

5.2.3 Etiologi

Pada tabel 5.3, terlihat bahwa terdapat tiga etiologi pada trauma urogenital yaitu trauma tumpul dan trauma tajam. Trauma tumpul disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh, dan lain-lain. Trauma tajam dapat disebabkan oleh luka tusuk. Sedangkan trauma iatrogenik dapat disebabkan oleh kelalaian medis.

Untuk distribusi berdasarkan etiologi, didapatkan bahwa kebanyakan pasien trauma urogenital merupakan pasien dengan etiologi trauma tumpul pada tahun 2013, 2014 maupun 2015, masing – masing sebanyak (83,3%), (71,4%) dan (100%).

Menurut Mattox dan Dreitlein trauma tumpul merupakan penyebab lebih dari 90% dari seluruh trauma urogenital.89,90 Hal ini sesuai dengan penelitian

(53)

Salimi et altrauma tumpul lebih sering terjadi daripada trauma tajam.91 Mekanisme yang paling umum dari trauma tumpul adalah kecelakaan lalu lintas dan pejalan kaki merupakan korban utama dari kecelakaan tersebut.91

5.2.4 Organ yang Terlibat

Pada tabel 5.4, terlihat bahwa bahwa organ yang paling sering terlibat pada pasien trauma urogenital adalah ginjal pada tahun 2013 sebanyak 9 orang (75,0%), pada tahun 2014 sebanyak 8 orang (57,1%). Sedangkan pada tahun 2015 organ yang paling sering terlibat adalah uretra sebanyak 3 orang (60,0%).

Data ini sesuai dengan data penelitian Paparel et al sekitar 65% dari trauma urogenital melibatkan ginjal.5 Trauma ginjal yang tersering disebabkan oleh trauma tumpul, biasanya karena kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh atau perkelahian. Menurut Dandan & Farhat ginjal sebagai trauma yang paling umum terjadi dalam trauma urogenital, maka itu dokter urologi memiliki peran yang penting dalam tim.92

5.2.5 Tatalaksana

Pada tabel 5.5, terlihat bahwa sebagian besar pasien trauma urogenital melakukan tatalaksana secara konservatif yakni sebesar 58,3% pada tahun 2013.

Sedangkan pada tahun 2014 dan 2015 tatalaksana paling sering dilakukan adalah tindakan operatif sebanyak 64,3% dan 100% masing-masing.

Hal ini sesuai dengan penelitian Siemer dan Palmer bahwa tidak diperlukan eksplorasibedah pada 80% kasus dari trauma tumpul; sementara, trauma tajam sebagian besar membutuhkan tindakan operatif.93,94

5.2.6 Komplikasi

Pada tabel 5.6, terlihat bahwa sebagian besar pasien trauma urogenital termasuk dalam komplikasi perdarahandengan persentase sebesar 33,3% (2013) dan 28,6% (2014), diikuti hidronefrosis sebesar 25,0% (2013) dan hipertensi sebesar 14,3% (2014), dan komplikasi paling sedikit pada tahun 2013 adalah hipertensi dan pasien meninggal dunia masing-masing sebesar 8,3% (2013) dan

(54)

komplikasi paling sedikit pada tahun 2014 adalah komplikasi hidronefrosis yaitu sebesar 7,1%.

Menurut penelitian Santucci menyatakan bahwa 25% adalah kasus dengan komplikasi perdarahan.12Hal ini sejalan dengan penelitian Steven menyatakan bahwa perdarahanadalah salah satu komplikasi yang penting dan biasanya terjadi dalam 1-2 minggu setelah trauma.95

(55)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan dan analisis data penelitian yang berasal dari rekam medis sesuai dengan kriteria inklusi dan kriteria ekslusi pasien trauma urogenital di RSUP H. Adam Malik pada tahun 2013 - 2015 maka kesimpulan yang didapatkan adalah :

1. Karakteristik pasien terbanyak berada pada kelompok usia 11-20 tahun.

2. Mayoritas pasien trauma urogenital adalah berjenis kelamin laki-laki.

3. Trauma tumpul merupakan etiologi yang paling sering terjadi.

4. Organ yang paling sering terlibat pada pasien trauma urogenital adalah ginjal.

5. Tatalaksana yang paling banyak dilakukan adalah tindakan operatif.

6. Komplikasi tersering pada pasien trauma urogenital adalah perdarahan.

6.2. Saran

Dari pengamatan peneliti selama melakukan penelitian ini, terdapat beberapa saran sebagai berikut:

1. Perlu dilakukan penyuluhan atau program untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui Dinas Kesehatan tentang trauma urogenital.

2. Diharapkan agar data-data di rekam medis RSUP Haji Adam Malik dapat dibuat semaksimal mungkin agar tidak timbul kesulitan disaat pengambilan data yang disebabkan oleh rekam medis yang tidak lengkap.

3. Peneliti berharap penelitian ini dapat dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan penelitian selanjutnya dengan memperluas variabel-variabel lainnya.

(56)

DAFTAR PUSTAKA

1. Soanes, C. and Stevenson, A. (eds). (2003). Oxford Dictionary of English.

Oxford: Oxford University Press.

2. Soreide K. Trauma and the acute care surgery model—should it embrace or replace surgery? Scand J Trauma Resuscitation Emerg Med. 2009;17:4 [PMC free article] [PubMed]

3. Bergen G, Peterson C, Ederer D, et al. Vital signs: health burden and medical cost of nonfatal injuries to motor vehicle occupants. United States, 2012. MMWR Morbid Mortal Wkly Rep 2014;133:966-72

4. Bent C, Iyngkaran T, Power N. Urological injuries following trauma. Clin Radiol. 2008;63(12):1361-71. [PubMed]

5. Paparel P, N’Diaye A, Laumon B, et al. The epidemiology of trauma of the genitourinary system after traffic accidents: analysis of a register of over 43,000 victims. BJU Int 2006 Feb;97(2):338-41.

6. Armenakas NA. Renal Trauma. The Merck Manual [Internet]. 2013 July

[cited 2016 Jun 1]. Available from: http://www.merckmanuals.com/professional/injuries-

poisoning/genitourinary-tract-trauma/renal-trauma

7. Dixon CM. Diagnosis and acute management of posterior urethral disruptions. In: McAninch JW, ed. Traumatic and Reconstructive Urology.

Philadelphia, Pa: WB Saunders; 1996:347-55

8. Brandes SB, Buckman RF, Chelsky MJ, Hanno PM. External genitalia gunshot wounds: a ten-year experience with fty- six cases. J Trauma 1995;39:266-72.

9. Meng MV, Brandes SB, McAninch JW. Renal trauma: indications and techniques for surgical exploration. World J Urol 1999 Apr;17(2):71-7.

10. McAninch JW. Genitourinary trauma. World J Urol 1999 Apr;17(2):65.

11. Bjurlin MA, Goble SM, Fantus RJ, et al. Outcomes in geriatric genitourinary trauma. J Am Coll Surg 2011 Sep;213(3):415-21.

(57)

12. Santucci RA, Wessells H, Bartsch G, et al. Evaluation and management of renal injuries: consensus statement of the renal trauma subcommittee. BJU Int 2004 May;93(7):937-54.

13. Bruce LM, Croce MA, Santaniello JM, et al. Blunt renal artery injury:

incidence, diagnosis, and management. Am Surg 2001 Jun;67(6):550- 4;discussion 555-6.

14. Sangthong B, Demetriades D, Martin M, et al. Management and hospital outcomes of blunt renal artery injuries: analysis of 517 patients from the National Trauma Data Bank. J Am Coll Surg 2006 Nov; 203(5): 612-7.

15. Kansas BT, Eddy MJ, Mydlo JH, et al. Incidence and management of penetrating renal trauma in patients with multiorgan injury: extended experience at an inner city trauma center. J Urol 2004 Oct;172(4Pt1):1355-60.

16. Najibi S, Tannast M, Latini JM. Civilian gunshot wounds to the genitourinary tract: incidence, anatomic distribution, associated injuries, and outcomes. Urology 2010 Oct;76(4):977-81; discussion 981.

17. Moore EE, Shackford SR, Pachter HL, et al. Organ injury scaling: spleen, liver, and kidney. J Trauma 1989 Dec;29(12):1664-6.

18. Kuan JK, Kaufman R, Wright JL, et al. Renal injury mechanisms of motor vehicle collisions: analysis of the crash injury research and engineering network data set. J Urol 2007 Sep;178(3Pt1):935-40; discussion 940.

19. Cachecho R, Millham FH, Wedel SK. Management of the trauma patient with pre-existing renal disease. Crit Care Clin 1994 Jul;10(3):523-36.

20. Buchberger W, Penz T, Wicke K, et al. [Diagnosis and staging of blunt kidney trauma. A comparison of urinalysis, i.v. urography, sonography and computed tomography]. Rofo 1993 Jun;158(6):507-12. [Article in German]

21. Mee SL, McAninch JW. Indications for radiographic assessment in suspected renal trauma. Urol Clin North Am 1989 May;16(2):187-92.

22. Ikatan Ahli Urologi Indonesia. Clinical Pathway 10 Penyakit Urologi

Tersering [Internet]. 2015. Available

(58)

from: http://www.iaui.or.id/ast/file/CLINICAL_PATHWAY_(CP%20IAU I).pdf

23. Heyns CF, van Vollenhoven P. Increasing role of angiography and segmental artery embolisation in the management of renal stab wounds. J Urol 1992 May;147(5):1231-4.

24. Pereira BM, Ogilvie MP, Gomez-Rodriguez JC, et al. A review of ureteral injuries after external trauma. Scand J Trauma Resusc Emerg Med 2010 Feb;18:6.

25. Elliott SP, McAninch JW. Ureteral injuries: external and iatrogenic. Urol Clin North Am 2006 Feb;33(1):55-66.

26. McGeady JB, Breyer BN. Current epidemiology of genitourinary trauma.

Urol Clin North Am 2013 Aug;40(3):323-34.

27. Siram SM, Gerald SZ, Greene WR, et al. Ureteral trauma: patterns and mechanisms of injury of anuncommon condition. Am J Surg 2010 Apr;199(4):566-70.

28. Brandes S, Coburn M, Armenakas N, et al. Diagnosis and management of ureteric injury: an evidence based analysis. BJU Int 2004 Aug;94(3):277- 89.

29. Chou MT, Wang CJ, Lien RC. Prophylactic ureteral catheterization in gynecologic surgery: a 12-year randomized trial in a community hospital.

Int Urogynecol J Pelvic Floor Dysfunct 2009 Jun;20(6):689-93.

30. Delacroix SE Jr, Winters JC. Urinary tract injures: recognition and management. Clin Colon Rectal Surg 2010 Jun;23(2):104-12.

31. Halabi WJ, Jafari MD, Nguyen VQ, et al. Ureteral injuries in colorectal surgery: an analysis of trends, outcomes, and risk factors over a 10-year period in the United States. Dis Colon Rectum 2014 Feb;57(2):179-86.

32. Medina D, Lavery R, Ross SE, et al. Ureteral trauma: preoperative studies neither predict injury nor prevent missed injuries. J Am Coll Surg 1998 Jun;186(6):641-4.

(59)

33. Bjurlin MA, Fantus RJ, Mellett MM, et al. Genitourinary injuries in pelvic fracture morbidity and mortality using the National Trauma Data Bank. J Trauma 2009 Nov;67(5):1033-9.

34. Gomez RG, Ceballos L, Coburn M, et al. Consensus statement on bladder injuries. BJU Int 2004 Jul;94(1):27-32.

35. Wirth GJ, Peter R, Poletti PA, et al. Advances in the management of blunt traumatic bladder rupture: experience with 36 cases. BJU Int 2010 Nov;106(9):1344-9.

36. Deibert CM, Spencer BA. The association between operative repair of bladder injury and improved survival: results from the National Trauma Data Bank. J Urol 2011 Jul;186(1):151-5.

37. Ramchandani P, Buckler PM. Imaging of genitourinary trauma. AJR Am J Roentgenol 2009 Jun;192(6):1514-23.

38. Cordon BH, Fracchia JA, Armenakas NA. Iatrogenic nonendoscopic bladder injuries over 24 years: 127 cases at a single institution. Urology 2014 Jul;84(1):222-6.

39. Gungorduk K, Asicioglu O, Celikkol O,et al. Iatrogenic bladder injuries during caesarean delivery: a case control study. J Obstet Gynaecol 2010;30(7):667-70.

40. Rahman MS, Gasem T, Al Suleiman SA, et al. Bladder injuries during cesarean section in a University Hospital: a 25-year review. Arch Gynecol Obstet 2009 Mar;279(3):349-52.

41. Balbay MD, Cimentepe E, Unsal A, et al. The actual incidence of bladder perforation following transurethral bladder surgery. J Urol 2005 Dec;174(6):2260-2, discussion 2262-3.

42. Frenkl TL, Rackley RR, Vasavada SP, et al. Management of iatrogenic foreign bodies of the bladderand urethra following pelvic floor surgery.

Neurourol Urodyn 2008;27(6):491-5.

43. Rafique M. Intravesical foreign bodies: review and current management strategies. Urol J 2008 Fall;5(4):223-31.

(60)

44. Morey AF, Iverson AJ, Swan A, et al. Bladder rupture after blunt trauma:

guidelines for diagnostic imaging. J Trauma 2001 Oct;51(4):683-6.

45. Foley C, Patki P, Boustead G. Unrecognized bladder perforation with mid- urethral slings. BJU Int 2010 Nov;106(10):1514-8.

46. Mundy A, Andrich D. Urethral trauma. Part I: introduction, history, anatomy, pathology, assessment and emergency management. BJUI 2011 Aug;108(3):310-27

47. Kashefi C, Messer K, Barden R, et al. Incidence and prevention of iatrogenic urethral injuries: J Urol 2008 Jun;179(6):2254-7.

48. Fenton AS, Morey AF, Aviles R, et al. Anterior urethral stricture: etiology and characteristics. Urology 2005 Jun;65(6):1055-8.

49. Buddha S. Complication of urethral catheterisation. Lancet 2005 Mar;365(9462):909.

50. Vicente J, Rosales A, Montlleó M, et al. Value of electrical dispersion as a cause of urethral stenosis after endoscopic surgery. Eur Urol 1992;21(4):280-3.

51. Chrouser KL, Leibovich BC, Sweat SD, et al. Urinary fistulas following external radiation or permanent brachytherapy for the treatment of prostate cancer. J Urol 2005 Jun;173(6):1953-7.

52. Marguet C, Raj GV, Brashears JH, et al. Rectourethral fistula after combination radiotherapy for prostate cancer. Urology 2007 May;69(5):898-901.

53. Polat O, Gü l O, Aksoy Y, et al. Iatrogenic injuries to ureter, bladder and urethra during abdominal and pelvic operations. Int Urol Nephrol 1997;29(1):13-8.

54. Chapple C, Barbagli G, Jordan G, et al. Consensus statement on urethral trauma. BJU Int 2004 Jun;93(9):1195-202.

55. Park S, McAninch JW. Straddle injuries to the bulbar urethra:

management and outcomes in 78 patients. J Urol 2004 Feb;171(2 Pt 1):722-5.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita HIV/AIDS yang mengalami IO sedang terbanyak pada umur &gt; 30 tahun, berjenis kelamin laki-laki, tingkat pendidikan rendah,

Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif yang bersifat deskriptif untuk mengetahui jumlah trauma mata pada anak di RSUP H Adam Malik Medan,

Kelompok kasus penderita terbanyak adalah laki-laki (73,1%) berusia 52 tahun, etiologi tersering adalah hepatitis B (65,4%), pasien yang memiliki komplikasi &lt;3 adalah

Judul yang dipilih adalah “Karakteristik Pasien Bakterial Vaginosis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Medan Periode 2009 – 2012”, yang merupakan salah satu syarat untuk

Tujuannya, untuk mengetahui Karakteristik Pasien Bakterial Vaginosis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Medan Periode 2009 – 2012 berdasarkan usia, agama, ras atau

Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui karakteristik apa yang merupakan faktor predisosisi pada pasien Bakterial Vaginosis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji

Muhammad U Butt, Nikolaos Zacharias, and George C Velmahos.Penetrating abdominal Injuries: Management controversies.Scandinavian Journal of Trauma, Resuscitation and

Data penelitian yang digunakan adalah data sekunder, yaitu data yang berasal dari data rekam medis pasien trauma toraks di RSUP HAM Medan pada tahun 2015.. Data