LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI SEREALIA, KACANG-KACANGAN, DAN UMBI-UMBIAN
ACARA II
PEMBUATAN SUSU JAGUNG
Disusun oleh:
Tri Yuli Mirantika P (A1M014008) Nuraini Sari Indah (A1M014031) Latifa Mutiara Tsani (A1M014037) Malinda Dwi Astuti (A1M014065) Fadella Hutami P (A1M014000)
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO
LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI SEREALIA, KACANG-KACANGAN, DAN UMBI-UMBIAN
ACARA II
PEMBUATAN SUSU JAGUNG
Kelompok 3 Penganggung Jawab:
Nuraini Sari Indah (A1M014031)
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jagung manis (sweet corn) merupakan komoditas palawija dan termasuk dalam keluarga (famili) rumput-rumputan (Gramineae) genus Zea dan spesies Zea mays saccharata. Jagung manis memiliki ciri-ciri endosperm berwarna bening, kulit biji tipis, kandungan pati sedikit, pada waktu masak biji berkerut (Koswara, 2009). Hampir semua bagian dari tanaman jagung manis memiliki nilai ekonomis. Beberapa bagian tanaman yang dapat dimanfaatkan diantaranya, batang dan daun muda untuk pakan ternak, batang dan daun tua (setelah panen) untuk pupuk hijau / kompos, batang dan daun kering sebagai kayu bakar, buah jagung muda untuk sayuran, perkedel, bakwan dan berbagai macam olahan makanan lainnya (Purwono dan Hartono, 2007).
Penganekaragaman produk olahan perlu dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah dan pendapatan petani. Selain jagung rebus, kue basah dan tojin, jagung dapat diolah menjadi susu jagung, bubur susu jagung, cornghut, yogurt, corn flakes dan lain-lain. Di Thailand, jagung manis banyak diolah menjadi corn milk (susu jagung). Susu nabati seperti susu jagung dibutuhkan terutama bagi orang yang alergi terhadap susu sapi. Sebagai minuman, susu jagung diharapkan dapat menyegarkan dan menyehatkan tubuh karena tidak mengandung kolestrol (http://sumbar.litbang.deptan.go.id, 2010).
sertta alami. Apalagi bahan baku berupa jagung manis sangatlah mudah dijumpai di pasar dan tergolong murah bagi petani dan masyarakat ekonomi menengah (Setiawati dan puspitojati, 2011).
Proses pembuatan susu jagung pada umumnya terjadi proses pengenceran sari jagung (penambahan air) dan penambahan CMC (Carboxymethyl cellulose). CMC digunakan dalam bentuk garam natrium CMC sebagai pemberi bentuk, konsistensi dan tekstur. CMC juga berperan sebagai pengikat air, pengental, dan stabilisator emulsi. Begitu eratnya korelasi antara penambahan proporsi air dan penambahan CMC pada pembuatan susu jagung, oleh karena itu dalam praktikum ini menguji pengaruh penambahan proporsi air dan penambahan CMC. Proporsi jagung : air yang ditambahkan adalah 1 : 2 dan 1 : 3, sedangkan, perlakuan berikutnya adalah tanpa penambahan CMC, penambahan CMC 0,5% dan penambahan susu skim 3%.
B. Tujuan
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
Jagung merupakan tanaman serelia yang termasuk bahan pangan penting karena merupakan sumber karbohidrat kedua setelah beras. Sebagai salah satu sumber bahan pangan, jagung telah menjadi komoditasutama setelah beras (Purwono dan Hartono, 2011). Jagung manis mempunyai ciri-ciri yaitu biji yang masih muda bercahaya dan berwarna jernih seperti kaca, sedangkan biji yang telah masak dan kering akan menjadi kering dan berkeriput. Kandungan protein dan lemak di dalam biji jagung manis lebih tinggi daripada jagung biasa. Untuk membedakan jagung manis dan jagung biasa, pada umumnya jagung manis berambut putih sedangkan jagung biasa berambut merah. Umur jagung manis antara 60-70 hari, namun pada dataran tinggi yaitu 400 meter di atas permukaan laut atau lebih, biasanya bisa mencapai 80 hari (Aak, 2010).
Tanaman jagung manis agak pendek. Secara fisik atau morfologi bunga jantan berwarna putih, mengandung kadar gula lebih banyak dalam endospermnya. Umur tanaman lebih pendek dan memiliki tongkol yang lebih kecil serta dapat dipanen umur 60 – 70 hari. Jagung manis dapat tumbuh pada semua jenis tanah dengan syarat drainase baik serta persediaan humus dan pupuk tercukupi. Keasaman tanah yang baik untuk pertumbuhan 5,5 – 7,0 (Iskandar, 2007).
Tabel 1. Komposisi kimia jagung manis tiap 100 g bahan sebagai bahan dasar untuk membuat susu yang dikenal sebagai susu nabati. Susu nabati yang umum ditemukan di pasar ialah susu yang dihasilkan dari kedelai. Dewasa ini, di Thailand telah dikembangkan susu nabati dari komoditi serealia yaitu susu jagung manis. Susu jagung manis sangat bermanfaat bagi penderita diabetes atau sakit gula. Susu jagung manis jika dibandingkan dengan susu kedelai memiliki banyak manfaat, karena selain sangat cocok dalam menurunkan kadar gula darah juga aman dikonsumsi sertta alami. Apalagi bahan baku berupa jagung manis sangatlah mudah dijumpai di pasar dan tergolong murah bagi petani dan masyarakat ekonomi menengah (Setiawati dan puspitojati, 2011).
serat ini dibutuhkan untuk membantu proses pencernaan terutama untuk membersihkan dinding colon (usus). Susu jagung ini besar manfaatnya, kadar gulanya dan asam amino cukup tinggi (Sutardi, 2007).
Proses pembuatan susu jagung mengacu pada proses pembuatan susu kedelai dengan beberapa modifikasi. Langkah awal yang harus dilakukan adalah membersihkan dan mensortasi jagung. Jagung yang hasil sortasi lalu direbus selama beberapa menit, dilanjutkan dengan proses pemipilan biji. Jagung pipil kemudian diblender dengan penambahan gula dan air dengan rasio tertentu. Bubur jagung yang dihasilkan kemudian disaring menggunakan kain saring. Filtrat yang dihasilkan merupakan susu jagung mentah. Selanjutnya, susu dipanaskan, kemudian didinginkan dan disimpan dingin. Produk membutuhkan beberapa tahapan perlakuan lagi jika akan dikemas dalam cup, untuk menjamin keamanan produk selama distribusi dan penjualan produk (Tamohon, 2010).
Susu jagung diperoleh dengan cara penggilingan biji jagung yang telah direbus dalam air. Hasil penggilingan disaring untuk memperoleh filtrat yang kemudian dipasteurisasi dan diberi flavor untuk meningkatkan rasanya. Kandungan ekstrat karbohidrat dalam susu jagung dipengaruhi oleh varietas jagung, jumlah air yang ditambahkan, jangka waktu dan kondisi penyimpanan, kehalusan gilingan dan perlakuan panas (Arma et al., 2013).
BAB III. METODE PRAKTIKUM
Jagung manis utuh dikupas dan dipisahkan dari rambut-rambutnya, kemudian dikukus selama 30
menit
Jagung manis yang telah dikukus kemudian dipipil untuk memisahkan biji jagung dari tongkolnya
Jagung manis yang sudah dipipil dibagi menjadi menjadi 2 kelompok perlakuan, yaitu penambahan air
dengan proporsi jagung : air 1 : 2 dan 1 : 3
Masing-masing perlakuan tersebut kemudian diberi perlakuan kembali yaitu tanpa CMC, penambahan
Jagung manis yang telah diberi perlakuan kemudian diblender hingga halus lalu disaring menggunakan
kain saring
Susu jagung yang didapatkan kemudian dimasak hingga mendidih
Susu jagung didinginkan, disajilkan, dan dilakukan pengamatan terhadap viskositas, warna, aroma, rasa,
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Data Pengamatan
1. Susu jagung dengan penambahan air 1 : 2, tanpa CMC
Panelis
Parameter Viskosita
s Warna Aroma
Kesukaa
n Rasa
1 2 3 3 3 3
2 2 4 4 4 4
3 2 3 4 3 3
4 3 3 3 3 3
5 2 3 4 3 3
6 2 3 4 3 3
7 2 2 2 2 2
8 2 3 3 4 4
9 2 3 4 3 3
10 3 3 4 3 3
11 2 3 3 4 4
12 2 3 4 4 4
13 2 3 2 5 5
14 2 3 2 4 5
15 2 3 3 2 3
Σx 32 45 49 50 52
´
2. Susu jagung dengan penambahan air 1 : 2, CMC 0,5%
Panelis
Parameter Viskosita
s Warna Aroma
Kesukaa
n Rasa
1 3 4 4 3 4
2 3 4 4 3 4
3 2 4 2 5 5
4 2 5 2 3 4
5 2 4 4 4 4
6 3 5 3 3 3
7 3 4 4 3 3
8 3 4 3 4 4
9 3 4 3 3 3
10 3 4 4 4 4
11 3 4 3 3 3
12 3 4 3 2 2
13 3 4 2 3 2
14 3 3 4 4 3
15 3 3 2 4 3
Σx 42 60 47 51 51
´
3. Susu jagung dengan penambahan air 1 : 2, susu skim 3%
Panelis
Parameter Viskosita
s Warna Aroma
Kesukaa
n Rasa
1 3 3 4 4 4
2 2 2 3 4 4
3 2 3 3 4 4
4 2 2 3 5 5
5 2 3 3 4 5
6 2 4 3 3 3
7 2 2 2 4 4
8 2 3 3 4 4
9 2 2 3 3 3
10 2 2 3 4 4
11 2 3 3 3 4
12 2 2 3 3 3
13 2 3 4 4 4
14 2 2 3 3 3
15 2 2 2 3 2
Σx 31 37 45 55 56
´
4. Susu jagung dengan penambahan air 1 : 3, tanpa CMC
Panelis
Parameter Viskosita
s Warna Aroma
Kesukaa
n Rasa
1 1 3 4 4 4
2 1 3 3 3 3
3 1 4 4 3 3
4 1 3 3 3 3
5 1 4 3 3 2
6 1 3 4 2 3
7 1 3 3 2 2
8 1 3 3 3 3
9 1 3 4 3 3
10 1 3 3 2 2
11 1 3 3 3 3
12 1 3 3 4 4
13 1 4 3 3 2
14 1 3 2 1 1
15 1 3 3 2 3
Σx 15 48 48 41 41
´
5. Susu jagung dengan penambahan air 1 : 3, CMC 0,5%
Panelis
Parameter Viskosita
s Warna Aroma
Kesukaa
n Rasa
1 3 4 4 3 3
2 2 3 3 2 2
3 2 3 3 3 3
4 3 4 3 3 3
5 2 3 2 3 3
6 2 2 3 2 3
7 1 3 2 3 2
8 2 3 2 2 3
9 3 4 3 3 3
10 1 3 3 3 3
11 2 2 3 2 2
12 1 3 2 2 2
13 2 3 3 3 3
14 1 4 2 2 2
15 1 2 2 2 2
Σx 28 46 40 38 39
´
3. Agak enak
Sebuah praktikum dilakukan mengenai pembuatan susu jagung yang terbuat dari jagung manis dengan tujuan yaitu mengetahui pengaruh penambahan proporsi air dan penambahan CMC terhadap susu jagung yang dihasilkan. Parameter yang diamati dalam praktikum iniyaitu viskositas, warna, aroma, rasa, dan tingkat kesukaan. Proses pembuatan susu jagung manis ini diawali dengan pengupasan kuit dan pemisahan jagung dengan rambut jagung. Jagung kemudian dikukus, lalu dipipil. Jagung yang telah dipipil diberi perlakuan berupa penambahan air dengan proporsi 1 : 2 dan 1 : 3, serta diberi perlakuan tanpa penambahan CMC, dengan penambahan CMC 0,5%, dan dengan penambahan susu skim 3% (jumlah total perlakuan ada enam). Jagung yang telah dicampur kemudian diblender hingga halus dan disaring menggunakan kain saring. Setelah didapatkan filtratnya, susu jagung dimasak hingga mendidih. Susu jagung yang telah mendidih lalu didinginkan dan dituangkan ke dalam gelas jar, dan selanjutnya dilakukan pengamatan oleh panelis mengenai lima parameter diatas.
air dengan rasio tertentu. Bubur jagung yang dihasilkan kemudian disaring menggunakan kain saring. Filtrat yang dihasilkan merupakan susu jagung mentah. Selanjutnya, susu dipanaskan, kemudian didinginkan dan disimpan dingin.
Hasil pengamatan menunjukkan hasil yang berbeda-beda dari keenam perlakuan. Perlakuan pertama, penambahan proporsi air 1 : 2 tanpa CMC menghasilkan nilai rata-rata viskositas 2,13, nilai warna 3, nilai aroma 3,27, nilai kesukaan 3,33, dan nilai rasa 3,47. Sampel hasil perlakuan kedua (proporsi air 1 : 2 dengan penambahan CMC 0,5%) menghasilkan nilai rata-rata viskositas 2,8, nilai warna 4, nilai aroma 3,13, nilai kesukaan 3,4, dan nilai rasa 3,4. Sampel hasil perlakuan ketiga (proporsi air 1 : 2 dengan penambahan susu skim 3%) menghasilkan nilai rata-rata viskositas 2,07, nilai warna 2,47, nilai aroma 3, nilai kesukaan 3,67, dan nilai rasa 3,73. Sampel hasil perlakuan keempat (proporsi air 1 : 3 tanpa penambahan CMC) menghasilkan nilai rata-rata viskositas 1, nilai warna 3, nilai aroma 3,2, nilai kesukaan 2,73, dan nilai rasa 2,73. Sampel hasil perlakuan kelima (proporsi air 1 : 3 dengan penambahan CMC 0,5%) menghasilkan nilai rata-rata viskositas 1,87, nilai warna 3,06, nilai aroma 2,67, nilai kesukaan 2,53, dan nilai rasa 2,6. Dan ampel hasil perlakuan keenam (proporsi air 1 : 3 dengan penambahan susu skim 3%) menghasilkan nilai rata-rata viskositas 1,3, nilai warna 2,53, nilai aroma 3, nilai kesukaan 2,53, dan nilai rasa 2,47.
Viskositas merupakan ukuran kekentalan suatu fluida yang menyatakan besarnya gesekan di dalam suatu fluida. Secara kuantitatif, viskositas diamati menggunakan sebuah alat pengukur viskometer yang bernama viskometer. Praktikum ini hanya mengamati secara organoleptik, jadi viskositas yang diamati hanya secara sensoris saja dengan memberikan deskripsi viskositas mulai dari tidak kental, sedikit kental, agak kental, kental hingga sangat kental. Berikut merupakan tabel rekapitulasi perlakuan dengan skor viskositas tertinggi hingga yang terendah.
Proporsi air 1 : 2, CMC 0,5% 2,8 Proporsi air 1 : 2, tanpa CMC 2,13 Proporsi air 1 : 2, susu skim 3% 2,07 Proporsi air 1 : 3, CMC 0,5% 1,87 Proporsi air 1 : 3, tanpa CMC 1,3 Proporsi air 1 : 3, susu skim 3% 1
Berdasarkan pengamatan tersebut, didapatkan bahwa perlakuan dengan proporsi air 1 : 2 memiliki skor viskositas yang lebih tinggi dibanding dengan proporsi air 1 : 3. Hal ini disebabkan karena viskositas sangat dipengaruhi oleh jumlah air. Semakin banyak air, maka viskositas suatu bahan akan semakin rendah. Hal tersebut sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa viskositas meningkat seiring dengan jumlah penambahan air (Tamohon, 2010). Jika dilhat dari segi penambahan suatu bahan, adanya penambahan CMC dan susu skim dapat meningkatkan viskositas dibanding dengan perlakuan kontrol (tanpa penambahan bahan). CMC memiliki kemampuan sebagai pengental, oleh karena itu viskositas susu jagung dengan penambahan CMC memiliki skor yang tertinggi yang menunjukkan bahwa paling kental. Susu skim memiliki sifat sebagai humektan atau mengikat air, hal ini menyebabkan viskositas susu jagung dengan penambahan susu skim lebih tinggi dibanding tanpa penambahan CMC, walaupun viskositasnya tidak lebih tinggi dari susu jagung dengan penambahan CMC.
Warna merupakan parameter kedua yang diamati dalam praktikum ini. Pengamatan warna dilakukan dengan menilai deskriptif warna mulai dari Berikut merupakan tabel rekapitulasi skor warna mulai dari putih, putih kekuningan, kuning keputihan, kuning, sangat kuning. Semakin tinggi skor warna menunjukkan warna susu jagung semakin kuning. Berikut merupakan tabel rekapitulasi perlakuan dengan skor warna tertinggi hingga yang terendah.
Proporsi air 1 : 2, CMC 0,5% 4
Berdasarkan pengamatan tersebut, didapatkan bahwa perlakuan dengan proporsi air 1 : 2 cenderung memiliki warna yang lebih kuning dibanding perlakuan dengan penambahan proporsi air 1 : 3 walaupun tidak terlalu signifikan. Hal ini disebabkan karena jumlah proporsi air yang lebih banyak membuat pelarutnya semakin banyak pula dan dapat memudarkan warna karoten yang ada pada susu jagung. Jika dilihat dari segi penambahan bahan, CMC yang ditambahkan ke dalam susu jagung memiliki warna yang peling kuning dibandingkan dengan susu jagung tanpa penambahan CMC o0,5% dan dengan penambahan susu skim 3%. Hal ini disebabkan karena dengan penambahan CMC 0,5% mampu mengikat air sehingga warna kuning susu jagung yang berasal dari karoten dapat lebih terlihat, sedangkan, penambahan susu skim 3% justru dapat membuat warna susu jagung itu sendiri karena warna alami susu skim adalah berwarna putih, sehingga sangat mempengaruhi warna susu jagung yang dihasilkan.
Parameter ketiga yang diamati adalah aroma. Aroma diamati dengan cara mencium bau aroma dari susu jagung. Pengamatan warna dilakukan dengan menilai deskriptif aroma mulai dari tidak kuat, sedikit kuat, agak kuat, kuat, dan sangat kuat. Semakin tinggi skor aroma, maka aroma yang dihasilkan semakin kuat. Berikut merupakan tabel rekapitulasi perlakuan dengan skor aroma tertinggi hingga yang terendah.
Perlakuan Aroma
Proporsi air 1 : 2, CMC 0,5% 3,13 Proporsi air 1 : 2, susu skim3% 3 Proporsi air 1 : 3, susu skim 3% 3 Proporsi air 1 : 3, CMC 0,5% 2,67
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, didapatkan hasil bahwa perlakuan pada susu jagung dengan penambahan CMC 0,5% dan susu skim 3% memiliki skor aroma yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan susu jagung tanpa penambahan bahan apapun. Artinya, susu jagung kontrol memiliki aroma yang terkuat dibanding dengan susu jagung lainnya. Hal ini kemungkinan disebabkan karena susu jagung kontrol bersifat lebih murni, sehingga aroma yang dihasilkan memiliki aroma jagung yang paling kuat. Jika dilihat dari jumlah proporsi air yang ditambahkan, susu jagung dengan perlakuan penambahan proporsi air 1 : 2 lebih kuar daripada susu jagung dengan penambahan jumlah proporsi air 1 : 3. Hal ini disebabkan karena jumlah pelarut meningkat, susu menjadi lebih encer, sehingga kekuatan aroma jagung pada susu jagung mengalami penurunan.
Parameter keempat yang diamati adalah kesukaan. Pengujian kesukaan dilakukan dengan memberikan nilai deskriptif berupa skor kesukaan mulai dari tidak suka, sedikit suka, agak suka, suka, dan sangat suka. Semakin tinggi skor kesukaan, maka susu jagung memiliki tingkat kesukaan yang paling tinggi. Berikut merupakan tabel rekapitulasi perlakuan dengan skor kesukaan yang tertinggi hingga yang terendah.
Perlakuan Kesukaan
Proporsi air 1 : 3, susu skim 3% 2,53
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, didapatkan bahwa susu jagung yang memiliki tingkat kesukaan yang paling tinggi adalah susu jagung dengan perlakuan yaitu penambahan susu skim 3%. Hal ini kemungkinan disebabkan karena susu skim adanya penambahan susu skim 3% mungkin memberikan flavor yang enak sehingga susu jagung yang dihasilkan cukup disukai oleh panelis.
Parameter kelima yang diamati adalah rasa. Pengujian rasa dilakukan dengan mencicipi susu jagung dan memberikan nilai deskriptif berupa skor rasa mulai dari tidak enak, sedikit enak, agak enak, enak, dan sangat enak. Semakin tinggi skor rasa, maka susu jagung memiliki rasa yang senakin enak pula. Berikut merupakan tabel perlakuan dengan skor rasa tertinggi hingga yang terendah.
Perlakuan Rasa
Proporsi air 1 : 2, susu skim 3 % 3,73 Proporsi air 1 : 2, tanpa CMC 3,47 Proporsi air 1 : 2, CMC 0,5% 3,4 Proporsi air 1 : 3, tanpa CMC 2,73 Proporsi air 1 : 3, CMC 0,5% 2,53 Proporsi air 1 : 3, susu skim 3% 2,47
BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Karakteristik susu jagung dipengaruhi diantaranya oleh jumlah proporsi air da nada tidaknya penambahan bahan. Viskositas susu jagung meningkat seiring dengan semakin sedikitnya jumlah air yang ditambahkan serta adanya penambahan CMC dan susu skim yang bersifat sebagai pengental dan mampu mengikat air. Warna susu jagung semakin kuning seiring dengan semakin sedikitnya jumlah air yang ditambahkan serta adanya penambahan CMC, namun semakin pucat atau memudar ketika ditambahkan dengan susu skim. Aroma susu jagung memiliki aroma yang terkuat pada perlakuan tanpa penambahan CMC dan susu skim. Sedangkan, susu jagung yang memiliki rasa terenak dan memiliki tingkat kesukaan tertinggi adalah susu jagung dengan perlakuan penambahan jumlah proporsi air 1 : 3 dengan penambahan susu skim 3%.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Aak. 2010. Teknik Bercocok Tanam Jagung. Canisius, Yogyakarta.
Arma, M. J., Uli F., Laode S. 2013. Pertumbuhan dan Produksi Jagung (Zea mays L.) dan Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) melalui Pemberian Nutrisi Organik dan Waktu Tanam dalam Sistem Tumpangsari. Jurnal Agroteknos, vol 3(1) : 1 – 7.
Iskandar, D. 2007. Pengaruh Dosis Pupuk N, P dan K terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung Manis di Lahan Kering. Artikel. Website: http://www.iptek.net.id. Diakses pada 13 Juni 2017.
Kamal, N. 2010. Pengaruh Bahan Aditif CMC (Carboxymethyl Cellulose) terhadap Beberapa Parameter pada Larutan Sukrosa. Jurnal Teknologi, vol 1(17) : 78 – 84.
Koswara. 2009. Teknologi Pengolahan Jagung. eBook. Website: eBook.Pangan.com. Diakses pada 13 Juni 2017.
Purwono dan R. Hartono. 2005. Bertanam Jagung Unggul. Penebar Swadaya, Jakarta.
Setiawati, B.B dan E. Puspitojati. 2011. Evaluasi mutu yogurt formulasi susu jagung manis-kedelai. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, vol 7(1) : 48 – 55. Sutardi. 2007. Prihatin dengan Naiknya Harga Susu, Pakar UGM menawarkan
Susu Jagung sebagai Pengganti. Artikel. Website: http://www.ugm.ac.id. Diakses pada 13 Juni 2017.
LAMPIRAN
A B C
D E F
Keterangan gambar:
Gambar A. Jagung manis setelah dikupas Gambar B. Jagung manis saat dikukus
Gambar C. Jagung manis yang telah dipipil dan sedang ditimbang Gambar D. Jagung yang sedang diblender dengan perlakuan tertentu Gambar E. Susu jagung yangsedang direbus