• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TEKNIK ANALISA S

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TEKNIK ANALISA S"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TEKNIK ANALISA SAMPEL

ASAM AMINO

Oleh

NAMA : ANGELIA ASTRIA NIM : 31160048

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS BIOTEKNOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Protein merupakan salah satu bio-makromolekul yang sangat penting peranannya dalam tubuh mahluk hidup. Protein dapat menjadi pengendali jalur dan waktu metabolisme yang kompleks untuk menjaga kelangsungan kehidupan suatu organisme. Protein merupakan sumber asam amino yang mengandung unsur-unsur C, H, O dan N dalam ikatan kimia.

Protein memiliki peranan yang tidak kalah penting dengan karbohidrat dan lemak sehinga untuk memenuhi kebutuhan akan protein di dalam tubuh maka didapat dari salah satunya adalah bahan makanan. Contoh bahan makanan yang kaya akan protein adalah tempe dan susu, tempe merupakan sumber protein habati sedangkan susu merupakan sumber protein hewani.

Bahan- bahan makanan tersebut tentunya mengandung protein dan asam amino yang berbeda-beda dan fungsinya berbeda bagi tubuh mahluk hidup. Oleh karena itu, dilakukan teknik analisa protein dan asam amino untuk mengidentifikasi protein dan asam amino serta menentukan kandungan protein dan asam amino pada bahan tersebut.

B. Tujuan

1. Identifikasi jenis asam amino yang terdapat dalam suatu ekstrak asam amino secara kromatografi lapis tipis.

2. Menentukan kandungan asam amino dari suatu ekstrak asam amino.

(3)

BAB II

LANDASAN TEORI

Protein merupakan polimer yang tersusun dari asam amino sebagai monomernya. Monomer-monomer ini tersambung dengan ikatan peptida, yang mengikat gugus karboksil milik satu monomer dengan gugus amina milik monomer di sebelahnya. Reaksi penyambungan ini (disebut translasi) secara alami terjadi di sitoplasma dengan bantuan ribosom dan tRNA. Pada polimerisasi asam amino, gugus -OH yang merupakan bagian gugus karboksil satu asam amino dan gugus -H yang merupakan bagian gugus amina asam amino lainnya akan terlepas dan membentuk air. Oleh sebab itu, reaksi ini termasuk dalam reaksi dehidrasi. Molekul asam amino yang telah melepaskan molekul air dikatakan disebut dalam bentuk residu asam amino (Tim Dosen Kimia, 2009).

Reaksi dua asam amino membentuk ikatan peptida.

Asam amino ialah asam karboksilat yang mempunyai gugus amino. Asam amino yang terdapat sebagai komponen protein mempunyai gugus – NH2 pada atom karbon α dari posisi gugus – COOH (Poedjiadi, 2006).

(4)

Kromatografi kertas merupakan salah satu jenis kromatografi partisi yaitu pemisahan beberapa zat berdasarkan perbedaan kelarutan dalam dua pelarut yang tidak dapat bercampur. Cara melakukan pemisahan dengan kromatografi ini cukup sederhana. Campuran beberapa asam amino sebagai hasil hidrolisis diteteskan sedikit pada kertas kromatografi pada titik tertentu dan kemudian ujung kertas dicelupkan ke dalam pelarut tertentu. Pelarut ini akan naik berdasarkan proses kapilaritas dan akan membawa senyawa-senyawa dalam campuran tersebut. Asam amino yang mudah larut dalam pelarut tertentu itu, misalnya pelarut organik, akan terbawa naik lebih jauh dari pada yang sukar larut. Setelah mencapai bagian atas atau garis akhir, kertas diangkat dari pelarut dan dibiarkan mengering dengan sendirinya di udara. Dengan proses ini asam-asam amino akan terpisah satu sama lainnya, dan dengan penyemprotan dengan pereaksi ninhidrin pada kertas kromatografi tersebut akan tampak noda-noda biru yang membuktikan adanya asam amino yang terpisah itu. Jarak yang telah ditempuh oleh suatua asam amino tertentu (b) dibandingkan dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut dari garis awal sampai garis akhir (a) diberi lambang Rf (Poedjiadi, 2006).

Nilai Rf beberapa asam amino

(5)

Uji Ninhidrin terjadi apabila ninhidrin dipanaskan bersama asam amino maka akan terbentuk kompleks berwarna. Asam amino dapat ditentukan secara kuntitatif dengan jalan menggunakan intensitas warna yang terbentuk sebanding dengan konsentrasi asam amino tersebut. Pada reaksi ini dilepaskan CO2 dan NH4 sehingga asam amino dapat ditentukan secara kuantitatif dengan mengukur jumlah CO2 dan NH3 yang dilepaskan. Prolin dan hidroksi prolin menghasilkan warna kompleks yang berbeda warnanya dengan asam amino lainnya. Kompleks berwarna yang terbentuk mengandung dua molekul ninhidrin yang bereaksi dengan ammonia yang dilepaskan pada oksidasi asam amino. Hasil uji positif pada uji ninhidrin diberikan pada asam amino yang mengandung asam α-amino dan peptida yang memiliki gugus α-amino yang bebas (Bresnick, 2004).

Kandungan protein ditentukan dengan metode Lowry Folin – ciocalteu, Pereaksi Folin-Ciocalteu merupakan larutan kompleks ion polimerik yang dibentuk dari asam fosfomolibdat dan asam heteropolifosfotungstat. Prinsip metode Folin-Ciocalteu adalah oksidasi gugus fenolik hidroksil. Pereaksi ini mengoksidasi fenolat (garam alkali), mereduksi asam heteropoli menjadi suatu kompleks molibdenum-tungsten (Mo-W). Fenolat hanya terdapat pada larutan basa, tetapi pereaksi Folin-Ciocalteu dan produknya tidak stabil pada kondisi basa. Selama reaksi belangsung, gugus fenolik-hidroksil bereaksi dengan pereaksi Folin-Ciocalteu, membentuk kompleks fosfotungstat-fosfomolibdat berwarna biru dengan struktur yang belum diketahui dan dapat dideteksi dengan spektrofotometer. Warna biru yang terbentuk akan semakin pekat setara dengan konsentrasi ion fenolat yang terbentuk, artinya semakin besar konsentrasi senyawa fenolik maka semakin banyak ion fenolat yang akan mereduksi asam heteropoli sehingga warna biru yang dihasilkan semakin pekat (Singleton dan Rossi, 1965).

Metode Kjeldahl merupakan metode yang sederhana untuk penetapan nitrogen total pada asam amino, protein dan senyawa yang mengandung nitrogen. Cara Kjeldehl digunakan untuk menganalisis kadar protein kasar dalam bahan makanan secara tidak langsung karena senyawa yang dianalisisnya adalah kadar nitrogen. (Sudarmadji, 1989).

Tahap dalam metode Kjeldahl adalah 1. Tahap destruksi

(6)

untuk destruksi diperhitungkan terhadap kandungan protein, karbohidrat dan lemak. Untuk mempercepat proses destruksi maka ditambahkan katalisator. Dengan penambahan katalisator, maka titik didih asam sulfat akan dipertinggi sehingga proses destruksi akan berjalan lebih cepat. Proses destruksi diakhiri jika larutan telah menjadi warna hijau jernih.

Reaksi yang terjadi pada proses destruksi (Pomeranz, 1987) 2. Tahap destilasi

Pada tahap destilasi, ammnioun sulfat dapat dipecah menjadi amonia, yaitu dengan penambahan larutan NaOH sampai alkalis dan dipanaskan. Amonia yang dibebaskan ditangkap oleh larutan asam. Asam yang dapat dipakai adalah H2SO4. Destilasi diakhiri jika semua amonia sudah terdetilasi sempurna menggunakan indikator mengsel sebagai indikator penunjuk. Reaksi yang terjadi tahap destilasi yaitu :

3. Tahap titrasi

Apabila penampung destilasi digunakan asam borat maka banyaknya asam borat yang bereaksi dengan ammonia dapat diketahui dengan dititrasi menggunakan asam klorida dengan indikator MR-MB. Akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna larutan jernih menjadi biru keunguan. Kadar N dapat ditentukan dengan rumus :

%N= � �� � ��

� � � � �� × 4, 8 / � × ��� � � ��

Setelah dihitung %N, kadar protein dapat dihitung dengan rumus :

%Protein = %N × faktor konversi (sudarmadji, 1989)

(7)

Tempe merupakan bahan makanan hasil fermentasi kacang kedelai atau jenis kacang-kacangan lainnya menggunakan jamur Rhizopus aligosporus dan Rhizopus oryzae. Tempe merupakan sumber protein nabati. Tempe mengandung berbagai nutrisi yang diperlukan oleh tubuh seperti protein, lemak, karbohidrat dan mineral (Kasmidjo, 1990).

No Jenis asam amino Kadar asam amino(%)1

1 Aspartic acid 0,18

12 phenylalanine 0,32

13 isoleucine 0,10

14 leucine 0,18

15 lysine 0,32

(8)

Susu adalah emulsi lemak dalam air yang mengandung gula, garam-garam mineral dan protein dalam bentuk suspensi koloidal. Susu UHT(Ultra High Temperature) adalah susu segar, susu rekonstruksi atau susu rekombinasi yang telah mengalami proses pemasaran pada temperatur minimum 133°C selama minimum 1 detik kemudian segera didinginkan sampai suhu kamar dan selanjutnya diperlakukan secara aseptis ( Badan Standarisasi Nasional Indonesia, 1998) . Komposisi utama susu adalah air, lemak, protein (kasein dan albumin), laktosa( gula susu) dan abu (Muharastri, 2008)

Komposisi susu pasteurisasi

Komposisi Susu pasteurisasi(%)

Air 87,31-88,61

Protein 2,73-2,90

Lemak 3,00-3,40

Laktosa 4,80-4,91

Mineral 0,16-0,18

(9)

BAB III

Ditumbuk hingga halus dengan menggunakan mortal 1. Pipet ukur

6. Larutan jenuh asam borat 7. Indikator MR-MB

(10)

Ditambahkan 18 mL larutan buffer fosfat

Disaring larutan tersebut agar mendapatkan filtratnya

Diencerkan filtrat dengan 10× pengenceran

Diambil 1 mL susu dan 9 mL aquades, ditambahkan kedalam larutan buffer fosfat, diencerkan hingga 100 × pengenceran.

2. Identifikasi jenis asam amino

Diaktivasi plat TLC pada suhu 105°C selama 30 menit

Dilakukan spotting larutan asam amino (Tirosin, Arginin, glisin dan Triptophan) dan sampel pada plat TLC

Dilakukan elusi dengan solven A dan solven B hingga mencapai garis yang telah ditentukan, dikeringkan

Disemprotkan larutan ninhidrin, dioven pada suhu 100°C selama 10 menit

Diamati kromatografi yang terbentuk

Dihitung Rf dan ditentukan jenis asam amino pada sampel

3. Penentuan asam amino secara kuantitatif

(11)

Dicampur sampai homogen, dipanaskan pada suhu 70-80°C 10 menit, didinginkan.

Diukur pada panjang gelombang 440 nm

4. Penentuan N-total cara semi mikro Kjeldahl

Ditimbang sampel gram tempe menggunakan timbangan analitik, ditumbuk sampai halus menggunakan mortal

Dimasukan kedalam labu takar 50 mL, dan ditambahkan dengan aquades sampai tanda garis. Kemudian disaring

Diambil 5 mL susu

Diambil 5 mL pada masing-masing sampel yang telah diencerkan tadi menggunakan pipet ukur, lalu dimasukan ke dalam labu Kjeldahl

Ditambahkan 5 mL H2SO4 pekat dengan pipet ukur pada ruang asam

Ditambahkan 1 gram katalis Na2SO4.CuSO4: TiO2. Dipanaskan sampai mendidih hingga jernih dengan kompor pada ruang asam

Didinginkan labu Kjeldahl hingga sampel mengkristal

Ditambahkan aquades secukupnya pada sampel hingga homogen

Dimasukan 17,5 larutan NaOH-Na2S2O3 dan sedikit serbuk zinc ke dalam destilator

Ditambahkan sampel dan dimulai digunakan alat destilasi

Destilat ditampung ke dalam erlenmeyer yang berisi 12,5 mL larutan asam borat dan 3 tetes indikator MR-MB, ditunggu hingga mencapai 50 mL pada erlenmeyer

(12)
(13)

BAB 1V

HASIL dan PEMBAHASAN

1. Identifikasi jenis asam amino

Solven A Solven B

Identifikasi jenis asam amino pada tempe dan susu dilakukan dengan plate TLC. Panjang plate yang digunakan adalah 7,5 cm, panjang plate berpengaruh pada kecepatan elusi. Sebelum dispoting dengan sampel dan asam amino, plate TLC terlebih dahulu diaktivasi pada suhu 105 °C selama 30 menit yang bertujuan untuk menghilangkan kandungan air yang terdapat pada plate sehingga daya serap plate menjadi maksimal. Asam amino yang digunakan sebagai marker adalah arginin, triptofan,glisin dan tirosin. Solven A berisi n-butanol, asam asetat dan air dengan perbandingan larutan adalah 12:3:5 sedangkan solven B berisi fenol dan air dengan perbandingan larutan adalah 4:1. Perbandingan campuran pada solven A dan solven B bertujuan agar perbedaan kecepatan perpindahan masing-masing komponen dapat diamati. Plate TLC yang sudah dispotting dimasukan di dalam solven untuk proses elusi bersama solven. Setelah mencapai batas, plate TLC dibiarkan kering. Setelah kering kemudian disemprot dengan reagen ninhidrin yang berfungsi untuk mendeteksi asam amino selanjutnya dipanaskan pada suhu 100°C selama 10 menit untuk mendeteksi warna-warna yang dihasilkan pada plate TLC.

(14)

Pada plate TLC solven B kromatogram yang terbentuk pada sampel tempe sejajar dengan kromatogram tirosin, sedangkan triftofan berada diatas kromatogram sampel tempe dan glisin dan arginin berada di bawah kromatogram sampel tempe. Secara kualitatif asam amino yang terdapat pada sampel tempe adalah tirosin berdasarkan kesejajaran garis kromatogram sampel tempe dengan kromatogram asam amino tirosin yang terbentuk. Kromatogram Sampel susu memiliki kesejajaran garis dengan kromatogram asam amino triptofan sedangkan kromatogram asam amino glisin, arginin dan tirosin berada dibawah kromatogram sampel susu. Sehingga secara kualitatif asam amino yang terdapat pada sampel susu adalah triptofan.

Selain secara kualitatif penentuan asam amino dangan plat TLC dapat diidentifikasikan secara kuantitatif menggunakan rumus :

Rf

=

ara e

ara a

Pada solven A jarak tempuh tempe adalah 5 cm sedangkan jarak total adalah 7,5 cm, sehingga Rf yang diperoleh adalah

Rf

=

ara e

ara a

=

,

= 0,67

Nilai Rf asam amino sampel tempe pada solven A adalah 0,67 mendekati nilai Rf asam amino leusin yaitu 0,60. Sedangkan pada solven B jarak jarak tempuh tempe adalah 5,5 cm dan jarak total adalah 7,5 cm, sehingga Rf yang diperoleh adalah

(15)

= 0,73

Nilai Rf asam amino sampel tempe pada solven B adalah 0,73 mendekati nilai Rf asam amino valin yaitu 0,77.

Pada solven A jarak tempuh sampel susu adalah 5,6 cm sedangkan jarak total adalah 7,5 cm, sehingga Rf yang diperoleh adalah

Rf

=

ara e

ara a

=

,

,

= 0,74

Nilai Rf asam amino sampel susu pada solven A adalah 0,74 mendekati nilai Rf asam amino valin yaitu 0,77. Sedangkan pada solven B jarak jarak tempuh sampel susu adalah 6 cm dan jarak total adalah 7,5 cm, sehingga Rf yang diperoleh adalah

Rf

=

ara e

ara a

=

,

= 0,80

Nilai Rf asam amino sampel susu pada solven B adalah 0,80 mendekati nilai Rf asam amino tritopfan yaitu 0,83.

Susu dan tempe merupakan sumber protein hewani dan nabati yang kaya akan protein, semua jenis asam amino terdapat pada susu dan tempe hanya konsentrasi masing-masing asam amino yang berbeda-beda sehingga pada penentuan mengunakan plat TLC dengan marker beberapa asam amino ada yang tidak teridentifikasi.

2. Penentuan asam amino secara kuantitatif

(16)

hidrindantin. Hasil positif ditandai dengan terbentuknya kompleks berwarna ungu yang disebabkan oleh molekul ninhidrin + hidrindantin yang yang bereaksi dengan NH3 setelah asam amino tersebut dioksidasi.

Setelah dipanaskan pada suhu 100°C dan didinginkan kepekatan warna ungu yang terbentuk semakin meningkat dari larutan standar 1 sampai 6. Kepekatan warna biru tersebut mendedikasikan kadar tirosin dalam larutan.

(17)

Setelah dilakukan spektrofotometer dengan panjang gelombang 440 nm didapatkan data absorbansi dalam tabel berikut ini :

Dari tabel dan kurva di atas dapat dilihat bahwa nilai OD berbanding lurus dengan konsentrasi tirosin ditunjukan dengan garis linear OD, sehingga semakin tinggi konsetrasi tirosin maka nilai OD yang terukur pada saat spektrofotometri semakin tinggi. Dari kurva standar asam amino tirosin dapat ditentukan nilai konsentrasi sampel dengan persamaan:

Y = 0,6408x + 0,0083 R2= 0,8667

Keterangan:

Y = nilai OD sampel

(18)

Sampel OD (A)

Susu 1,699

Tempe 0,854

Setelah diukur absorbansi pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 440 nm nilai OD susu adalah 1,699, sedangkan nilai OD tempe adalah 0,854. Nilai konsentrasi dari tempe dapat diketahui dengan persamaan kurva standar asam amino tirosin yaitu : konsentrasi yang didapat lebih tinggi daripada literatur Sutiari et al (2010) yaitu 0,56 %. Nilai OD susu adalah 1,699. Nilai konsentrasi dari susu dapat diketahui dengan persamaan kurva standar asam amino tirosin yaitu :

Y = 0,6408x + 0,0083 1,699 = 0,6408x + 0,0083

X = , − ,

,

= 2,640 ≈ 2,64

Nilai konsentrasi asam amino tirosin pada sampel susu adalah 2,64.

3. Penentuan protein secara kuantitatif

(19)

fosfomolibat yang terkandung dalam reagen Folin-Ciocalteu menjadi tungstat dan molibdenum yang berwarna biru.

Jenis protein yang digunakan dalam praktikum sebagai larutan standar adalah albumin fraksi V. Dalam praktikum ditambahkan reagen D yang merupakan reagen biuret. Penambahan reagen Biuret pada tabung 1-6 (berisi larutan standar), tabung 7 dan 8 yang berisi sampel tidak mengubah warna larutan. Larutan kemudian diinkubasi selama 15 menit pada suhu kamar. Penambahan reagen Biuret ke dalam larutan bertujuan untuk meningkatkan sensitivitas reagen Folin-Ciocalteu, dimana dengan penambahan reagen biuret akan terbentuk kompleks Cu2+ dengan residu asam amino yang terdapat dalam larutan uji menghasilkan kompleks Cu-protein.

(20)

Perbedaan kepekatan warna biru pada setiap tabung disebabkan oleh perbedaan konsentrasi albumin fraksi V yang direduksi reagen folin – Ciocalteu. Setelah dilakukan pengukuran menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 540 nm didapatkan data absorbansi dalam tabel berikut ini:

(21)

Dari tabel dan kurva di atas dapat dilihat bahwa nilai OD berbanding lurus dengan konsentrasi albumin fraksi V ditunjukan dengan garis linear OD, sehingga semakin tinggi konsentrasi albumin fraksi V, nilai OD yang terukur pada saat spektrofotometri semakin tinggi. Dari kurva standar protein albumin fraksi V dapat ditentukan nilai konsentrasi sampel dengan persamaan:

Y = 1,6114x R2=0,9516 Keterangan:

Y = nilai OD sampel

X = nilai konsentrasi yang dicari

Sampel OD (A)

Susu 0,448

Tempe 0,181

Setelah diukur absorbansi pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 540 nm nilai OD susu adalah 0,448, sedangkan nilai OD tempe adalah 0,181. Nilai konsentrasi dari susu dapat diketahui dengan persamaan kurva standar albumin fraksi V yaitu :

Nilai konsentrasi albumin fraksi V pada susu adalah 0,28.

Nilai OD tempe adalah 0,181. Nilai konsentrasi dari tempe dapat diketahui dengan persamaan kurva standar albumin fraksi V yaitu :

Y = 1,6114x 0,181 = 1,6114x

X = ,

,

= 0,112 ≈ 0,11

(22)

4. Penentuan N-total cara semi mikro Kjeldahl

Analisa protein dapat dilakukan dengan cara semi mikro Kjeldahl, metode Kjeldahl merupakan metode untuk penentepan nitrogen total pada asam amino, protein dan senyawa yang mengandung nitrogen. Cara kerja Kjeldahl digunakan untuk menganalisis kadar protein kasar dalam bahan makanan secara tidak langsung, karena yang dianalisis adalah kadar nitrogen yang terdapat pada sampel. Analisa protein cara Kjeldahl dibagi menjadi tiga tahapan yaitu tahap destruksi, tahap destilasi dan tahap titrasi.

Pada tahap destruksi dilakukan oksidasi sampel yaitu sampel tempe ditimbang dan dihaluskan sebanyak 5 gram kemudian dilakukan pengenceran sebanyak 100 kali sedangkan pada sampel susu dilakukan pengenceran sebanyak 500 kali. Sampel dimasukkan ke dalam labu Kjeldahl dan ditambahkan 2,5 gram katalis Na2SO4: CuSO4:TiO2 sebagai katalistator untuk mempercepat proses destruksi. Selanjutnya ditambahkan 5 mL H2SO4 yang berperan sebagai oksidator, penambahan H2SO4 dilakukan dalam ruang asam untuk menghindari senyawa yang berada didalam protein terurai menjadi SO2 yang bahaya. Kemudian dipanaskan dengan kompor hingga jernih pada ruang asam, larutan yang jernih menunjukkan bahwa semua partikel padat bahan telah terdestruksi menjadi bentuk partikel yang larut tanpa ada partikel padat yang tersisa. Pada tahap ini semua ikatan N dalam sampel akan menjadi (NH2)2SO4 kecuali ikatan N-N, NO dan NO2. Tahap ini juga menghasilkan CO2, H2O dan SO2 yang terbentuk karena hasil reduksi dari sebagian asam sulfat dan menguap. Setelah larutan jernih, labu Kjeldahl didinginkan supaya suhu larutan sama dengan suhu ruangan.

Setelah didekstruksi, sampel ditambahkan aquadest untuk menetralkan larutan. Sampel dimasukkan terlebih dahulu sebelum NaOH-Na2S2O3 untuk menghindari terjadinya superheating. Kemudian ditambahkan NaOH-Na2S2O3 untuk memberikan suasana basa karena reaksi tidak dapat berlangsung dalam keadaan asam. Penambahan serbuk zinc bertujuan agar proses destilasi tidak terjadi superheating atau timbulnya gelembung gas yang besar.

(23)

Ammonia yang dibebaskan akan ditangkap oleh larutan asam standar yaitu larutan H3BO3 dan membentuk senyawa (NH4)3BO3. Senyawa ini dalam suasana basa akan melepaskan NH3. Untuk menampung NH3 yang keluar, digunakan asam borat dalam erlenmeyer sebanyak 12,5 mL dan telah ditambahkan 3 tetes indikator MR-MB untuk mengetahui larutan tidak dalam keadaan asam yang berlebihan. Destilasi dilakukan sampai volume destilat pada erlenmeyer mencapai 50 mL dan menghasil warna larutan jernih yang menandakan semua ammonia (N) sudah tertangkap oleh asam borat.

Banyaknya asam borat yang bereaksi dengan ammonia(N) dapat diketahui dengan volume HCl 0,02 N yang dibutuhkan destilat. Titik akhir titrasi dihentikan sampai larutan berubah dari jernih ke biru(kembali ke warna awal). Selisih jumlah titrasi HCl dan sampel merupakan jumlah ekuivalen nitrogen.

Sampel VSampel (mL) VHCl (mL)

Susu 42 3

Tempe 47 6,6

Dari data hasil titrasi larutan sampel dengan larutan HCl dapat ditentukan kadar nitrogen dengan menggunakan persamaan berikut:

%N= � �� � ��

� � � � �� × 4, 8 / � × ��� � � ��

Sedangkan untuk menentukan kadar protein digunakan persamaan berikut : %Protein = %N × faktor konversi

Sehingga kadar protein pada sampel tempe adalah

%N = � �� � ��

Kadar protein pada sampel susu adalah

%N = � �� � ��

� � � � �� × 4, 8 / � × ��� � � ��

= , × ,

× 4, 8

/ � ×

(24)

%Protein =%N × faktor konversi = 3,93 × 6,25

= 24,56 %

(25)

BAB V

KESIMPULAN

(26)

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Djaeni. 2008. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi. Jilid 1. Dian Rakyat: Jakarta.

Bresnick, S. 2004. Intisari Kimia Organik. Hipokrates: Jakarta.

BSN (Badan Standarisasi Nasional). 1998. SNI 01-2984-1998 Tentang minuman squash. Jakarta. Badan Standarisasi Nasional. Hal 1-5.

Cahyadi,W.2006.Kedelai khasiat dan teknologi. Bumi Aksara. Bandung.

Kasmidjo. 1990. Tempe : Mikrobilogi dan Kimia Pengolahan serta Pemanfaatannya. PAU Pangan dan Gizi UGM. Yogyakarta.

Kay HD. 1962. Pasteurization : Outlone of Procedure and Control. In: Milk Hygiene. world Hygiene Organization : Genewa.

Muharastri,Y. 2008. Analisis Kepuasan Konsumen Susu UHT Merek Real Good di Kota Bogor. Departemen Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian IPB.

Poedjiadi, A. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI Press .

Poedjiadi, A. 2006. Dasar Dasar Biokimia.E disi Revisi. Jakarta: UI - Press.

Pomeranz,Y and C.E.Meloan. 1987. Food Analysis : Theory and Prectice. Second Edition. Van Nostrand Reinhold Company. New york.

Singleton, V.L. and Rossi, J.A., 1965. Colorimetry of Total Phenolic with Phosphomolybdic-Phosphotungstic Acid Reagent, Am. J. Enol. Vitic, 16, 147.

Sudarmaji, S, dkk. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Penerbit Liberty: Yogyakarta.

Sutiari,N.K, Widarsa,K.T, Swandewi,A dan Widarini,P. 2010. Profil Asam Amino Ekstrak Seredele dan Tempe Kedelai, Makanan Tradisional

Hasil Fermentasi.

https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/semnasmipa/article/vi ewFile/2739/2319. Downloaded on 1 Oktober 2017.

(27)

LAMPIRAN

Destilat setelah dititrasi dengan HCl pada penentuan N-total cara semi mikro Kjeldahl.

Kiri:sampel tempe Kanan: sampel susu

Referensi

Dokumen terkait

Indikator yang digunakan pada titrasi iodimetri dan iodometri adalah larutan kanji .Kanji atau pati disebut juga amilum yang terbagi menjadi dua yaitu: Amilosa (1,4) atau

Pada percobaan ini didapatkan hasil pada tabung 1 yang berisi sakarosa yang direaksikan dengan HCl pekat dan larutan Selliwanoff akan menghasilkan warna

Pada percobaan uji Benedict yang dilakukan pada sukrosa, setelah sukrosa dipanaskan terjadi perubahan warna dari biru muda menjadi biru kuning, hal ini disebabkan

Untuk inokulasi pada tabung reaksi, tabung reaksi yang digunakan untuk menginokulasi Lactobacillus plantarum, menggunakan media NBA, terdapat koloni yang jelas dan

Kemudian sebagian larutan dipindahkan kedalam tabung reaksi yang kemudian ditambah dengan NaOH 20%, timbul warna berpendar hijau yang menunjukkan adanya sakarin.. Pada uji siklamat,

d Menyiapkan 3 tabung reaksi yaitu tabung I untuk uji enzim aktif, tabung II sebagai control-1 enzim inaktif, dan tabung III sebagai control-2 blanko/tanpa enzim e Pada tabung I dan II

Perubahan warna setelah ditambahkan indikator amilum dapat dilihat pada gambar 4.3 Langkah terakhir yang harus dilakukan pada prosedur penentuan konsentrasi KIO3 adalah larutan yang

3.4.3 Percobaan 3: Identifikasi Anion dengan Cara Reaksi Basah 1 mL larutan 1% BaCl2 Perubahan warna dan endapan yang terbentuk - dimasukkan ke dalam tabung reaksi.. - diamati apa