4.1. GEOGRAFI DAN ADMINISTRATIF WILAYAH
Berdasarkan Undang Undang No. 5 Tahun 2007 tanggal 15 Juni 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Batu Bara, Kabupaten Asahan dimekarkan menjadi dua kabupaten yaitu Asahan dan Batu Bara. Kabupaten Asahan terdiri dari 13 kecamatan dan Kabupaten Batu Bara terdiri dari 7 kecamatan. Ketujuh Kecamatan tersebut adalah Kecamatan Sei Balai, Kecamatan Tanjung Tiram, Kecamatan Talawi, Kecamatan Lima Puluh, Kecamatan Air Putih, Kecamatan Sei Suka dan Kecamatan Medang Deras.
Secara geografis kabupaten ini terletak antara 2003’00’’ - 03026’00” Lintang Utara dan 99001 - 100’00’’ Bujur Timur, berada di kawasan Pantai Timur Sumatera Utara yang berbatasan dengan Selat Malaka. Kabupaten Batu Bara yang terdiri dari 7 kecamatan tsb. memiliki luas 904,96 km2 atau 90.496 Ha serta 100 desa/kelurahan definitif ( untuk jelasnya lihat Tabel 4.1).
Batas administrasi Kabupaten Batu Bara adalah sebelah Utara dengan kabupaten Serdang Bedagai dan Selat Malaka, sebelah Selatan dengan kabupaten Asahan, sebelah Barat dengan kabupaten Simalungun, dan sebelah Timur dengan kabupaten. Adapun ibukota kabupaten terletak di Kecamatan Lima Puluh.
Tabel. 4.1. Luas Wilayah per Kecamatan di Kabupaten Batu Bara Tahun
2012
No Kecamatan Ibu Kota
Kecamatan Kelurahan Desa
Luas (Km2)
Jarak Ke IbuKota Kabupaten
(Km)
1 Sei Balai Sei Balah - 8 92,64 31
2 Tanjung Tiram Tanjung Tiram 1 11 173,79 18 3 Talawi Labuhan Ruku 1 12 89,80 15 4 Lima Puluh Lima Puluh 1 26 239,55 0 5 Air Putih Indrapura 1 12 72,24 15 6 Sei Suka Sei Suka/Deras 1 12 171,47 20 7 Medang Deras Pangkalan Dodek 2 12 65,47 46
J u m l a h 7 93 904,96
Sumber : Kabupaten Batu Bara dalam Angka Tahun 2013
4.2. DEMOGRAFI
Bab.
4
Jumlah penduduk Kabupaten Batu Bara berdasarkan hasil Sensus Penduduk (SP) 2010 adalah 375.885 jiwa termasuk penduduk yang bertempat tinggal tidak tetap dan termasuk urutan IX terbesar se-Sumatera Utara setelah Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Asahan, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Labuhan Batu, dan Kabupaten Mandailing Natal.
Jumlah penduduk Kabupaten Batu Bara keadaan bulan Juni 2012 diperkirakan sebesar 381.023 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 421 jiwa/km2. Sebagian besar penduduk bertempat tinggal di daerah pedesaan yaitu sebesar 76,80 persen dan sisanya 23,20 persen tinggal di daerah perkotaan. Sebanyak 88.592 rumah tangga menempati wilayah Kabupaten Batu Bara yang rata-rata dihuni oleh sekitar 4 jiwa.
Bila dilihat pada tingkat kecamatan, Kecamatan Lima Puluh merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terbesar dengan tingkat persebaran penduduk sebesar 22,59 persen, sedangkan Kecamatan Sei Balai adalah yang terkecil yaitu 7,11 persen. Untuk kecamatan terpadat urutan pertama adalah Kecamatan Medang Deras dengan kepadatan mencapai 749 jiwa/km2 disusul Kecamatan Air Putih dengan kepadatan 653 jiwa/km2 dan yang paling jarang adalah Kecamatan Sei Balai yaitu 292 jiwa/km2.
Dilihat dari kelompok umur, persentase penduduk usia 0-14 tahun sebesar 33,26 persen, 15-64 tahun sebesar 62,62 persen dan usia 65 tahun keatas sebesar 4,12 persen yang berarti jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan penduduk usia non produktif dengan rasio beban ketergantungan sebesar 68 yang artinya setiap 100 orang penduduk usia produktif menanggung sekitar 68 orang penduduk usia non produktif.
Tabel. 4.2. Luas Wilayah, Jumlah Rumah Tangga, Penduduk, Persebaran Penduduk
Tahun 2012
Kecamatan Luas Wilayah
(km2)
Jumlah / Total Persebaran Penduduk
(%) Rumah
Tangga
Penduduk (Jiwa)
SeiBalai;7.105
Tanjung Tiram;16.796
Talawi;14.289
Lima Puluh;22.592 AirPutih;12.366
SeiSuka;13.964
Medang Deras;12.874
Grafik. 4.1. Luas Wilayah, Jumlah Rumah Tangga, Penduduk, Persebaran Penduduk Tahun 2012
Jumlah penduduk laki-laki pada tahun 2012 diperkirakan lebih banyak dari penduduk perempuannya dengan persentase sebesar 50,30 persen dengan rasio jenis kelamin sebesar 101 yang artinya dari 100 penduduk perempuan terdapat kira-kira 101 penduduk laki-laki.
Tabel. 4.3. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Tahun 2012
Kecamatan Laki-Laki Perempuan Laki-Laki Perempuan Jumlah
Rasio Jenis Kelamin Sei Balai 13.531 13.542 7.06 7.15 27073 99.92 Tanjung
Tiram
32.837 31.159 17.13 16.45 63996 105.4
Talawi 27.557 26.888 14.38 14.20 54445 102.5 Lima Puluh 42.774 43.305 22.32 22.87 86079 98,77 Air Putih 23.401 23.770 12.21 12.55 47171 98.45 Sei Suka 26.769 26.437 13.97 13.96 53206 101.3 Medang
Deras
24.783 24.270 12.93 12.82 49053 102,11
Grafik. 4.2. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Tahun 2012
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 45000 50000
Persentase %
Jumlah Keluarga Pra Sejahtera di Kabupaten Batu Bara pada tahun 2012 sebesar 11.484 keluarga. Keluarga Pra Sejahtera yang paling banyak berasal dari Kecamatan Tanjung Tiram sebanyak 3.210 keluarga, kemudian Kecamatan Lima Puluh 2.548 keluarga.
Jumlah penduduk miskin di Batu Bara mengalami perubahan dari tahun 2008 sampai 2012. Setiap tahun terjadi penurunan penduduk miskin baik secara absolut maupun secara persentase. Tahun 2012 penduduk miskin turun menjadi 43 ribu jiwa (11,24 persen).
Tabel. 4.4. Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Batu Bara
Tahun Garis Kemiskinan
Jumlah Penduduk Miskin
Persentas e
2007 164 931 67,70 17.89
2008 189 522 51,67 13.64
2009 232 538 49,50 12.87
2010 253 846 46,00 12.29
2011 277 434 44,34 11,67
2012 303 214 43,00 11,24
Grafik. 4.3. Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Batu Bara
0 5 10 15 20 17.89
13.64 12.87
12.29 11.67 11.24
1 2 3
4 5 6
Tahun Persentase %
Pertumbuhan penduduk di Kecamatan Sei Suka, Kecamatan Lima Puluh dan Kecamatan Air Putih diprediksi akan memiliki laju pertumbuhan ke depan yang sangat tinggi. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa di kecamatan tersebut akan dikembangkan pusat kegiatan perkotaan dan kawasan industri. Sedangkan kecamatan lainnya diperkirakan pertumbuhannya akan normal.
Hal yang perlu diperhatikan dalam memperkirakan pertumbuhan penduduk Kabupaten Batu Bara di masa mendatang adalah adanya kegiatan baru yang potensial menarik tenaga kerja pendatang seperti industr, perkebunan dan pariwisata yang memiliki karakteristik perkembangan bertahap (persiapan, mulai operasional dan operasional sepenuhnya). Pentahapan pengembangan kegiatan ini secara langsung akan mempengaruhi besarnya jumlah penduduk yang masuk, sehingga laju pertumbuhan bervariasi sesuai dengan pentahapan tersebut.
Berdasarkan hasil perhitungan, jumlah penduduk Kabupaten Batu Bara hingga tahun 2031 diperkirakan akan mencapai 447.995 jiwa Jumlah ini sebagian besar akan terdistribusi di Kecamatan Sei Suka dan Air Putih yang memiliki fungsi kawasan sebagai pusat pengembangan industri.
Tabel. 4.5. Jumlah Penduduk Menurut Daerah Kota/Perdesaan Tiap KecamatanTahun 2012
No Kecamatan Daerah Jumlah
(Jiwa) Kota Perdesaan
1 Tanjung Tiram 7.848 7.032 14880
2 Sei Balai 6.295 6295
3 Talawi 2.624 10.035 12659
4 Lima Puluh 3.908 16.106 20014
5 Air Putih 2.393 8.575 10968
6 Sei Suka 2.699 9.672 12371
7 Medang Deras 1.078 10.327 11405
Grafik. 4.4. Jumlah Penduduk Kabupaten Batu Bara di Perdesaan dan Perkotaan
- 010 020 030 040 050 060 070
Persentase %
Tabel. 4.6. Jumlah Persebaran Penduduk Menurut Daerah Kabupaten Batu Bara Tahun 2033
No Kecamatan
Jumlah Penduduk
Tahun 2012 (jiwa)
Laju Pertumbuha
n Penduduk 2008 – 2012
Perkiraan (jiwa) pada Tahun
(%) 2016 2021 2026 2033 1 Tanjung Tiram 63 996 0,01 38.26 41.12 43.99 46.85 2 Sei Balai 27 073 0,30 60.81 61.72 62.63 63.54
3 Talawi 54 445 0,07 57.1 59.03 60.95 62.87 4 Lima Puluh 86 079 0,05 88.54 91.06 93.57 96.09
5 Air Putih 47 171 0,06 49.04 50.48 51.92 53.36 6 Sei Suka 53 206 0,05 53.53 54.94 56.36 57.78
7 Medang Deras 49 053 0,006 47.35 48.73 50.12 51.51
Jumlah 381 023 0.078 406.2 420.1 434.1 448 Sumber : Hasil Analisa 2013
4.3. TOPOGRAFI
4.3.1. Kelerengan dan Ketinggian Lahan
Salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan lahan adalah kemiringan lahan (kelerengan). Wilayah Kabupaten Batu Bara mempunyai topografi yang bervariasi, pada sebagian wilayah utara (arah pesisir) memiliki kondisi kemiringan yang relative tidak bervariasi yaitu landai dan datar. Berdasarkan data yang ada, prosentase ketinggian Kabupaten Batu Bara adalah :
0 – 7 m = 28,56 %
7 – 25 m = 22,69 %
25 – 100 m = 23,60 %
500 – 1.000 m= 4,27 %
Untuk ketinggian lahan, wilayah Kabupaten Batu Bara berada pada ketinggian 0 sampai dengan 100 meter di atas permukaan laut. Wilayah Kabupaten Batu Bara didominasi dengan ketinggian 7 – 25 meter di atas permukaan laut dan untuk ketinggian lahan yang terkecil yakni 0 – 7 meter di atas permukaan laut.
4.3.2. Jenis dan Struktur Tanah
Jenis tanah di Kabupaten Batu Bara didominasi oleh ordo inceptisol yaitu jenis tanah mineral yang telah menunjukkan tanda awal dari suatu tanah yang matang (tanah setengah matang) dan dicirikan oleh profil dengan lapisan-lapisan berupa horizon A, B (Bw), dan C. Horizon B terbentuk pada tingkat awal dan disebut horizon Kambik (Bw), yaitu horizon yang hanya warna dan strukturnya saja yang berbeda dari horizon A. Tanah ini lebih berkembang dibandingkan dengan tanah ordo entisol.
Tanah Inseptisol umumnya merupakan tanah-tanah belum terlalu matang (immature soil) yang mencakup (i) tanah-tanah berkembang dari bahan induk yang sangat resisten terhadap hancuran iklim, (ii) bahan induk abu volkan, (iii) tanah-tanah pada posisi landscape yang ekstrim, di wilayah curam sampai sangat curam atau cekungan/depresi, dan (iv) permukaan geomorfik muda, seperti lereng volkan dan daerah endapan sungai yang membatasi perkembangan tanah. Dalam klasifikasi tanah sebelumnya inseptisol setara dengan (dikenal dengan nama) tanah aluvial, regosol, andosol, latosol, brown forest soil, glei humus, glei humus rendah, dan solonchak.
Tanah inceptisol di Kabupaten Batu Bara merupakan tanah-tanah berkembang dari bahan induk yang sangat resisten terhadap hancuran iklim yaitu bahan induk berupa endapan marin dan endapan sungai dan tanah-tanah pada posisi landscape yang agak curam (bergelombang). Tanah inceptisol di Kabupaten Batu Bara dengan great group dystropepts dan tropaquept merupakan tanah-tanah berkembang dari bahan induk yang sangat resisten terhadap hancuran iklim, umunya berada pada dataran alluvial, sedangkan great group dystrandept dan eutrandepts merupakan tanah-tanah pada posisi landscape yang agak curam (bergelombang) yang umumnya berada pada daerah bagian barat yang berbatasan dengan Kabupaten Simalungun.
Selain ordo inceptisol, tanah yang juga mendominasi wilayah Kabupaten Batu Bara adalah ordo entisol. Entisol adalah kelompok tanah-tanah muda (belum berkembang) dan umumnya dangkal, dicirikan oleh profil dengan lapisan (horizon) A dan C atau A dan R saja. Tanah ini masih belum sempurna dan memiliki profil yang horizon B-nya belum berkembang. Secara umum tanah entisol tidak memiliki banyak horizon hanya berupa lapisan-lapisan tanah, karena beberapa alasan seperti waktu pembentukannya masih baru, berada pada lereng atau pada slope yang tererosi, menerima deposit (endapan) banjir, dan sebagainya. Sebagai contoh tanah-tanah endapan sepanjang sungai, tanah berpasir lepas di lereng atas dan bawah, daerah volkan atau tanah pasir pantai laut yang lepas dan belum membentuk struktur tanah.
tropopsamment, dan tanah endapan liat di rawa pasang surut dan rawa marine (mangrove) dengan great group sulfaquents.
Dalam luasan yang sedikit di Kabupaten Batu Bara terdapat pula tanah gambut (histosol) dari great group tropohemists yang terdapat pada cekungan atau rawa-rawa. Keberadaan great group tanah tropohemists dalam asosiasi dengan jenis tanah lainnya, terutama dengan great group tropaquepts dan fluvaquents. Distribusi jenis tanah di Kabupaten Batu Bara berdasarkan luas wilayah kabupaten Batu Bara tertera pada tabel dibawah ini:
Tabel. 4.7. Distribusi Jenis Great Group Tanah Kab. Batu Bara
No Jenis Great Group Tanah Luas
(Ha) % 1 Dystrandepts; Eutrandepts; Hydrandepts 6.868 7,59
2 Dystropepts; Dystrandepts 32.261 35.7
3 Hydraquents; Sulfaquents 4.895 5.31
4 Tropaquepts; Fluvaquents; Tropohemists 41.691 46.1
5 Tropopsamments; Tropaquents 4.868 5.38
Jumlah 90.496 100
Sumber : Diolah dari Peta Land System Sumatera Utara
Tabel. 4.8. Distribusi Jenis Great Group Tanah per Kecamatan di Kabupaten Batu Bara
N
o Kecamatan Jenis Tanah Luas (Ha) %
1 Medang Deras
Dystropepts; Dystrandepts 81 1.24
Hydraquents; Sulfaquents 1.721 26.2
9 Tropaquepts; Fluvaquents;
Tropohemists 2.703
41.2 9
Tropopsamments; Tropaquents 2.041 31.1
8
Jumlah 6.547 100
2 Sei Suka
Dystropepts; Dystrandepts 9.197 53.6
4
Hydraquents; Sulfaquents 1.001 5.84
Tropaquepts; Fluvaquents;
Tropohemists 5.89
34.3 5
Tropopsamments; Tropaquents 1.058 6.17
Jumlah 17.147 100
3 Air Putih
Dystropepts; Dystrandepts 1.062 45.1
2 Tropaquepts; Fluvaquents;
Tropohemists 3.448
47.7 3
Tropopsamments; Tropaquents 516 7.15
Jumlah 7.224 100
4 Lima Puluh
Dystrandepts; Eutrandepts;
Hydrandepts 19 0,08
Dystropepts; Dystrandepts 15.906 66.29
Hydraquents; Sulfaquents 537 2.42
Tropaquepts; Fluvaquents;
Tropohemists 6.824
Tropopsamments; Tropaquents 665 2.77
Jumlah 23.955 100
5 Talawi
Dystropepts; Dystrandepts 2.525 28.1
2
Hydraquents; Sulfaquents 326 3.63
Tropaquepts; Fluvaquents;
Tropohemists 6.129
68.2 5
Jumlah 8.98 100
6 Tanjung Tiram
Dystrandepts; Eutrandepts;
Hydrandepts 785 4.52
Hydraquents; Sulfaquents 1.173 6.75
Tropaquepts; Fluvaquents;
Tropohemists 14.938
85.9 3
Tropopsamments; Tropaquents 487 2.8
Jumlah 17.379 100
7 Sei Balai
Dystrandepts; Eutrandepts;
Hydrandepts 3.275
61.7 7
Dystropepts; Dystrandepts 702 7.58
Tropaquepts; Fluvaquents;
Tropohemists 2.839
30.6 5
Jumlah 9.264 100
Sumber: Diolah dari Peta Land System Sumatera Utara
Tabel. 4.9. Sifat Umum Tanah dari Masing - Masing Great Group yang terdapat
di Kabupaten Batu Bara
Ordo Great Group Deskripsi/Sifat Umum
Inceptisols 1. Dystropepts Tanah inceptisol dengan Kejenuhan Basa yang kurang dari 50% pada kedalaman antara 25100 cm dan kadar C -Organik kurang dari 12 kg/m3.
2. Dystrandepts Tanah Inceptisol dengan Kejenuhan Basa yang kurang dari 50% pada kedalaman antara 25-100 cm tetapi memiliki sifat tanah andik dengan kadar bahan organik yang lebih dari 25%
3. Eutrandepts Tanah inceptisol yang memiliki Kejenuhan Basa lebih dari 50% pada kedalaman 25-100 cm dan memiliki sifat tanah andik dengan kadar bahan organik yang lebih dari 25%
4. Hydrandepts Tanah inceptisol yang memiliki sifat andik dan selalu basah atau lembab atau terdapat pada daerah yang selalu tergenang.
5. Tropaquepts Tanah inceptisol yang memiliki horizonsulforik yang batas atasnya berada didalam kedalaman 50 cm diatas tanah mineral dan memiliki perbedaan temperatur antara temperatur rata-rata musim panas dan dingin kurang dari 50C pada kedalaman 50 cm
Entisols 1. Sulfaquents Merupakan tanah entisol yang mengandung bahan sulfidik pada kedalaman kurang dari 50 cm.
3. Tropaquents Tanah entisol yang selalu basah atau basah pada musim tertentu dan jika dilakukan perbaikan draenase berwarna kelabu kebiruan atau gley
4.
Tropopsamments
Merupakan tanah entisol yang memiliki sekurang-kurangnya 35% bahan kasar (fragmen batuan atau bertekstur kasar) pada ketebalan sekurang-kurangnya 25 cm dengan perbedaan suhu tidak kurang dari rata-rata 5oC pada musim kemarau dengan musim hujan
5. Fluvaquents Tanah entisol yang selalu jenuh air atau dalam keadaan tergenang berwarna abu-abu karena dominasi ferro aktif dan mengandung bahan organic sebanyak 0,2% C-organik atau lebih dan menurun dengan peningkatan kedalaman dari mulai kedalaman 25 cm hingga 125 cm
Histosols Tropohemist Tanah histosol (gambut) setengah matang yang berada di daerah tropis dengan perbedaan suhu pada tanah lapisan atasnya (setebal 30 cm) rata-rata tidak kurang dari 5oC
pada musim hujan dengan pada musim kemarau.
Sumber : Soil Taxonomy USDA (1998)
Dari tabel di atas menggambarkan bahwa tanah-tanah di Kabupaten Batu Bara memiliki tingkat kesuburan yang sedang hingga rendah. Tanah-tanah pada great group Dystrandeps, Hydrandept, Eutrandepts, Fluvaquents memiliki tingkat kesuburan tanah yang sedang, sedangkan tanah-tanah pada great group lainnya seperti Dystropepts, Tropopsamments, Tpopaquents, dan Sulfaquents umumnya memiliki tingkat kesuburan rendah dan bahkan pada tanah Sulfaquents dapat menjadi sangat kritis bila lapisan piritnya terungkap akibat pembuatan parit drainase atau pengolahan tanah yang kedalamannya mencapai lapisan pirit tersebut. Lapisan pirit yang terungkap (teroksidasi) dapat membentuk tanah sulfat masam yang menyebabkan pH tanah mencapai kurang dari 3 dan kelarutan ion sulfat, aluminium serta besi yang berlebihan dapat meracun (bersifat toksik) bagi tanaman.
4.4. HIDROLOGI
Wilayah Sungai yang terbesar yang terdapat di Wilayah Kabupaten Batu Bara adalah Wilayah Sungai Bah Bolon dan sungai-sungai kecil lainnya yang mengalir ke pantai timur. Sungai-sungai di kabupaten ini merupakan sumber untuk pengairan ke persawahan dan perkebunan baik yang dimanfaatkan oleh masyarakat dan swasta. Aliran air dari sungai yang ada kemudian mengaliri irigasi semi teknis maupun irigasi sederhana di Kabupaten Batu Bara sehinga sebagian besar sawah di kabupaten ini dapat ditanami 3 (tiga) kali setahun. Sungai-sungai di Kabupaten Batu Bara sebagian besar berhulu di pegunungan bukit barisan yang terdapat di Kabupaten Simalungun. Kondisi ini mengakibatkan fluktuasi air sungai sangat di pengaruhi oleh kondisi penggunaan lahan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) bagian hulu.
4.5. GEOLOGI
yakni tuva riodosif. Adapun sebaran batuan di Kabupaten Batu Bara secara lengkap disajikan pada Tabel 4.10.
Tabel. 4.10. Sebaran Jenis Batuan di Kabupaten Batu Bara
N
o Kecamatan Jenis Batuan
Luas (Ha) 1 Medang
Deras
alluvium, recent estuarine marine, riverine, peat 3.037 fine grained tephra, coarse grained tephra 91 alluvium, recent estuarine marine 1.933
alluvium, recent marine 2.293
Jumlah 6.547
2 Sei Suka alluvium, recent estuarine marine, riverine, peat 5.596
alluvium, recent estuarine marine 951 fine grained tephra, coarse grained tephra 8.738
alluvium, recent marine 1.005
Jumlah 17.147
3 Air Putih alluvium, recent estuarine marine, riverine, peat 3.548
fine grained tephra, coarse grained tephra 3.354
alluvium, recent marine 531
Jumlah 7.224
4 Lima Puluh fine grained tephra, coarse grained tephra, alluvium,
recent volcanic 21
alluvium, recent estuarine marine, riverine, peat 7.288 alluvium, recent estuarine marine 620
alluvium, recent marine 709
fine grained tephra, coarse grained tephra 16.99
Jumlah 23.995
5 Talawi
alluvium, recent estuarine marine, riverine, peat 7.009 alluvium, recent estuarine marine 372 fine grained tephra, coarse grained tephra 2.888
Jumlah 8.98
6 Tanjung Tiram
fine grained tephra, coarse grained tephra, alluvium,
recent volcanic 674
alluvium, recent estuarine marine, riverine, peat 12.836 alluvium, recent estuarine marine 1.012
alluvium, recent marine 418
Jumlah 17.379
7 Sei Balai fine grained tephra, coarse grained tephra, alluvium,
recent volcanic 6.294
alluvium, recent estuarine marine, riverine, peat 3.122 fine grained tephra, coarse grained tephra 772
Jumlah 9.246
Sumber : Hasil Analisis Peta Sistem Lahan Provinsi Sumatera Utara
4.6. KLIMATOLOGI
Sei Bejangkar, pada Tahun 2008 terdapat 95 hari hujan dengan volume curah hujan sebanyak 1.736 mm. Curah hujan terbesar terjadi pada bulan Nopember yaitu 233 mm dengan hari hujan sebanyak 12 hari, sedangkan curah hujan paling kecil terjadi pada bulan Februari sebesar 18 mm dengan hari hujan 2 hari. Rata-rata curah hujan tahun 2008 mencapai 144,67 mm/bulan.
Tabel. 4.11. Jumlah Hari Hujan, Curah Hujan, Rata-Rata Suhu Udara dan Kelembaban Kabupaten Batu Bara Tahun 2009-2012
Tahun/Bulan Hari Hujan
Curah Hujan (mm)
2009 99 1442
2010 95 1846
2011 117 2107
2012 104 1681
Sumber : Kabupaten Batu Bara dalam Angka 2013
4.7. PENGGUNAAN LAHAN
Tabel. 4.12. Jenis dan Luas Penggunaan Lahan di Kabupaten Batu Bara Tahun 2009
No Kecamatan
Lahan Pertanian Lahan bukan pertanian
Jumla h Total
(ha)
Per sawaha
n
Per kebuna
n
Tegala n
Lada ng
Huta n Raky
at
Empan g/tam bak/ko
lam
Padan g Rump
ut
Sement ara tidak diusaha
kan
Lainn ya
Jumla h
Rumah/ banguna
n/ hunian
Hutan Negar
a
Raw a-raw
a
Lain -lain
1 Sei Balai 1.870 5.781 143 - - 10 - - 123 7.917 1.347 - - 535 9.264
2 Tanjung Tiram 850 6.931 150 200 1.200 80 150 100 905 10.53 1
6.848 - - 2.52 7
17.379
3 Talawi 1.620 2.807 669 53 - 474 - - 687 5.836 3.144 65 952 8.980
4 Lima Puluh 4.323 11.224 5.616 - 19 - - - 495 21.67 7
2.278 248 424 1.99 3
23.955
5 Air Putih 4.818 477 719 - - - 6.014 1.210 - - 1.21 0
7.224
6 Sei Suka 1.585 10.884 755 52 450 38 - 380 349 14.45 5
2.692 - - 2.18 9
17.147
7 Medang Deras
3.322 - 1650 - 492 410 - 40 440 5.944 603 - - 845 6.547
9 51 6
4.8. KONDISI SOSIAL DAN EKONOMI
4.8.1. Aspek Sosial
4.9. Penduduk Kabupaten Batu Bara yang menganut agama Islam pada tahun 2011 diperkirakan sebesar 88,03 persen, Protestan sebesar 10,06 persen, Katolik sebesar 1,52 persen, Budha sebesar 0,29 persen, Hindu sebesar 0,01 persen, Konghuchu sebesar 0,01 persen, dan 0,07 persen lainnya. Untuk suku bangsa yang terbanyak adalah Suku Jawa sebesar 38,87 persen, disusul Suku Melayu sebesar 38,55 persen, kemudian Suku Batak sebesar 18,32 persen sedangkan sisanya adalah Suku Minang, Banjar, Aceh, dan lainnya.
4.10. Tenaga Kerja
4.11. Bila dilihat dari Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kabupaten Batu Bara tampaknya menurun pada tahun 20012. Pada tahun 2011, TPAK di Batu Bara 74,09 persen tetapi menurun menjadi 63,22 persen di tahun 2012. Jika dilihat dari status pekerjaannya, 35,03 persen penduduk yang bekerja di Batu Bara adalah buruh atau karyawan. Penduduk yang berusaha dengan dibantu anggota keluarga mencapai 16,91 persen, sedangkan penduduk yang bekerja sebagai pekerja keluarga mencapai 11,41 persen. Hanya 22,19 persen penduduk Batu Bara yang menjadi pengusaha yang mempekerjakan buruh tetap/bukan anggota keluarganya.
4.12. Jumlah penduduk Batu Bara yang merupakan angkatan kerja pada Agustus 2012 adalah sebanyak 176,54 ribu jiwa yang terdiri dari 165,55 ribu jiwa terkategori bekerja dan sebesar 10,99 ribu jiwa terkategori mencari kerja dan tidak bekerja (pengangguran terbuka). Penduduk Batu Bara yang bekerja ini sebagian besar bekerja pada sektor pertanian yaitu 37,31 persen. Sektor kedua terbesar dalam menyerap tenaga kerja di Batu Bara adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran yaitu sebesar 43,04 persen.
4.13. Sektor lain yang cukup besar peranannya dalam menyerap tenaga kerja adalah sektor jasa-jasa, baik jasa perorangan, jasa perusahaan dan jasa pemerintahan yaitu sebesar 19,65 persen saja. Selebihnya bekerja di sektor penggalian dan pertambangan, sektor listrik,gas dan air minum, sektor bangunan, sektor angkutan dan komunikasi, dan sektor keuangan. Jumlah pencari kerja yang terdaftar pada tahun 2012 sebanyak 1.509 orang yang terdiri dari 781 pencari kerja laki-laki dan sisanya 782 adalah pekerja perempuan.
4.14.
4.8.2. Aspek Ekonomi
4.15. Anggaran Belanja Daerah Kabupaten Batu Bara pada tahun 2012 mencapai 649,7 miliar rupiah sedangkan pendapatan daerahnya mencapai 635,7 miliar rupiah.
kredit mikro sebesar 49,526 miliar rupiah dan untuk kredit menengah sebesar 47,259 milliar rupiah.
4.17. Secara Umum, selama Januari sampai Desember 2012, di Kabupaten Batu Bara (dalam hal ini diwakili oleh Pasar Kecamatan Air Putih) terjadi 3 (dua) kali deflasi dan 9 kali inflasi. Deflasi terbesar terjadi pada bulan Maret sebesar 2,06 persen, hal ini di picu oleh turunnya harga bahan makanan yang mengalami deflasi sebesar 4,68 persen. Sedangkan besarnya inflasi bulanan yang terjadi di Kabupaten Batu Bara cukup relatif stabil berkisar antara 0,02 persen (Mei) sampai 2,85 persen (Agustus).
4.18.
Tabel. 4.13. PDRB Kabupaten Batu Bara Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku
4.19. Tahun 2007-2012 (Milliar Rupiah)
4.83. Penga
4.111. Sumber : Kabupaten Batu Bara dalam Angka 2013
4.112.
Tabel. 4.14. Distribusi Presentase PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku
4.113. Tahun 2007-2012 (Persen)
4.114. Lapangan Real Estat, dan Jasa Perusahaan
1.71 1,70 1,75 1,8
4.198. Sumber : Kabupaten Batu Bara dalam Angka 2013
4.199. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Batu Bara menurut lapangan usahan pada tahun yang sama mencapai 4,37 persen dengan pertumbuhan tersebar terjadi pada sektor jasa-jasa (5,62 persen) Lihat Tabel 4.15. Sedangkan angka perbandingan PDRB antara kabupaten/kota se-Sumatera Utara, yang mencakup total PDRB dan PDRB perkapita baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan pada tahun 2012 menduduki peringkat keempat di bawah Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Langkat terbesar, sedangkan untuk PDRB per kapita merupakan peringkat terbesar di Provinsi Sumut.
4.200.
Tabel. 4.15. Laju Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha (%)
Tahun 2007-2012
4.243. Listrik, Gas, dan Air Bersih
4.271. Keuangan, Real Estat, dan Jasa
Perusahaan
Ekonomi 3,9 8
4,4 7
4,3 0
4, 5, 4,3
4.292. Sumber: BPS Kabupaten Batu Bara 2013 4.293.
4.294. Kegiatan Usaha
4.295. Kabupaten Batu Bara merupakan daerah potensial untuk berkembang menjadi daerah industri. Terjadi pertumbuhan yang signifikan terhadap jumlah perusahaan industri besar/sedang dalam kurun waktu tahun 2008 – 2012 (Tabel 4.16). Saat ini Wilayah Kuala Tanjung, salah satu desa di Kabupaten Batu Bara, akan didorong perkembangannya kedepan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Desa Kuala Tanjung merupakan pengembangan wilayah industri dari KIM (Kawasan Industri Medan). Sebagai Pioneer berkembangnya wilayah ini adalah PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), perusahaan patungan antara Perusahaan-perusahaan swasta Jepang dengan pemerintah Indonesia. Perusahaan peleburan aluminium ini merupakan pabrik peleburan aluminium satu-satunya di Asia Tenggara. Selain itu, mengikuti jejak PT INALUM, berdiri juga PT Multimas Nabati Asahan (MNA) yang memproduksi minyak goreng. Kemudian muncul lagi PT Domba Mas, yang kini masih tahap konstruksi. Kini menyusul lagi beberapa perusahaan besar, yang mungkin akan beroperasi dalam waktu dekat ini seperi PLTU, PT Dairi Prima, PT AAA, dan lain sebagainya. Selain itu, Kabupaten Batu Bara kaya akan hasil laut dan pertanian dan banyak terdapat perkebunan yang terbentang di Kabupaten Batu Bara.
Tabel. 4.16. Jumlah Perusahaan Industri Besar/Sedang Menurut Kecamatan di Kabupaten Batu Bara Tahun 2008- 2012
4.296.
4.297. Sumber: BPS Kabupaten Batu Bara 2013
Tabel. 4.17. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
4.298.
N 4.299. PENDAPATAN 4.300. JUMLAH (Rp)
4.301.
( 4.302. (2) 4.303. (3)
4.304. 1
4.305. Bagian Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Lalu
4.306. -
4.307.
2 4.308. Bagian Pendapatan Asli Daerah
4.309. 635,716, 711,841
4.310.
3 4.311. Bagian Dana Perimbangan
4.312. 534,615,6 79,490
4.313.
4 4.314. Bagian Pinjaman Daerah
4.315. -
4.316.
5 4.317. Lain-lain Penerimaan yang Sah 4.318. 83,511,464,361
4.319.
4.320. TOTAL 4.321. 1,253,843, 855,692
4.322. 4.323. PENGELUARAN 4.324. JUMLAH (Rp)
4.325.
1 4.326. Belanja Rutin 4.327. 308,760,241,547
4.328.
2 4.329. Belanja Pembangunan
4.330. 340,956,4 70,294
4.331.
4.332. TOTAL 4.333. 1,903,560,56 7,533
4.334. Sumber : Kabupaten Batu Bara dalam Angka 2012
4.335. SARANA DAN PRASARANA
4.9.1.Sistem Perhubungan Wilayah
4.336.a) Jaringan Jalan
4.337. Pada tahun 2012 sebagian besar jaringan jalan di Kabupaten Batu Bara masih belum terperinci yaitu jalan tanah, jalan aspal, jalan kerikil di perkeras dan sebahagian besar jalan sudah dalam kondisi cukup baik. Bila dilihat per kecamatan maka masih banyak kecamatan yang memiliki jaringan jalan yang belum terkondisikan dengan baik di Kabupaten Batu Bara.
4.339. Sarana perangkutan yang terdapat di Kabupaten Batu Bara terdiri dari beberapa jenis perangkutan yaitu mobil penumpang umum (mini bus), bus penumpang dan mobil barang umum/mobil tangki.
4.340.c) Sarana Perhubungan Laut
4.341. Perhubungan laut/sungai yang terdapat di Kabupaten Batu Bara terbagi atas 4 (empat) pelabuhan, yaitu Pelabuhan Tanjung Gading dan Pelabuhan Tanjung Tiram. Pelabuhan Tanjung Gading Kecamatan Sei Suka merupakan pelabuhan barang milik INALUM, Pelabuhan Tajung Tiram di Jalan Merdeka Kecamatan Tanjung Tiram merupakan pelabuhan orang dan barang, dimana tujuan arah pelayaran sampai ke Malaysia. Kemudian Pelabuhan Kuala Tanjung di Kecamatan Sei Suka yang berfungsi sebagai pelabuhan barang ekspor konsentrak seng dan timah dari Kabupaten Dairi dengan luas area 4 Ha gudang dan conveyor kapasitas 30.000 ton, serta Pelabuhan Multi Mas di Kecamatan Sei Suka yang berada di sebelah kanan Pelabuhan Kuala Tanjung.
4.342. Untuk pelabuhan TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Kabupaten Batu Bara memiliki 4 (empat) pelabuhan yaitu berada di Kecamatan Medang Deras sebanyak 2 (dua) unit, Kecamatan Lima Puluh sebanyak 1 (satu) unit, Kecamatan Talawi sebanyak 1 (satu) unit dan Kecamatan Tanjung Tiram sebanyak 1 (satu) unit.
4.343.
4.9.2.Sarana Pendidikan
4.344. Berdasarkan Data Kabupaten Batu Bara dalam Angka Tahun 2010, pada tahun 2009 terdapat 271 SD SLTP 89 sekolah, SLTA Umum 35 sekolah dan SLTA Kejuruan 9 sekolah. Rasio murid terhadap sekolah untuk tingkat SD adalah 48 murid per sekolah dengan rasio tertinggi terdapat di Kecamatan Sei Suka dan terendah di Kecamatan Lima Puluh masing-masing 75 dan 31 murid per sekolah. Untuk SLTP Rasio murid terhadap sekolah adalah 191 murid per sekolah. Rasio tertinggi terdapat di Kecamatan Air Putih yaitu 276 murid per sekolah dan terendah di Kecamatan Sei Balai yaitu 93 murid per sekolah. Sementara untuk tingkat SLTA (SMU dan SMK) rasio murid terhadap sekolah adalah 257 murid per sekolah. Rasio tertinggi terdapat di Kecamatan Sei Suka (475 murid per sekolah) dan terendah di Kecamatan Sei Balai yaitu 101murid per sekolah. Selain itu di Batu Bara juga terdapat sekolah agama (madrasah) yang setara dengan sekolah umum yaitu : 30 Madrasah Ibtidaiyah (MI), 38 Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan 13 Madrasah Aliyah (MA).
4.345.
4.9.3.Sarana Kesehatan
Puskesmas Pembantu sebanyak 64 unit dan Posyandu sebanyak 510 unit yang tersebar merata di tiap kecamatan.
4.347.
Tabel. 4.18. Jumlah Fasilitas Kesehatan di Kabupaten Batu Bara Per Kecamatan Tahun 2009
4.442. Sumber : RTRW Kabupaten Batu Bara
4.443.
4.9.4.Sarana Peribadatan
4.444. Sarana peribadatan merupakan sarana yang sangat penting bagi setiap insan yang beragama. Pembangunan dibidang keagamaan di Kabupaten Batu Bara selalu mendapatkan perhatian baik dari pemerintah maupun swasta. Jumlah fasilitas peribadatan di Kabupaten Batu Bara dipengaruhi oleh jumlah penganut masing-masing agama.
4.9.5.Sarana Perdagangan
4.446. Menurut Dinas Perindag dan Penanaman Modal Kabupaten Batu Bara di wilayah Kabupaten Batu Bara, sampai dengan tahun 2012 terdapat 244 perusahaan yang sebagian besar (68 persen) berbadan hukum yang bergerak di sektor perdagangan besar, eceran, rumah makan,hotel dan penginapan sebesar 149 perusahaan. Pada tahun 2012, transaksi perdagangan luar negeri yang tercatat di Pelabuhan Kuala Tanjung mengalami peningkatan untuk jumlah tetapi nilainya menurun bila dibandingkan tahun 2008. Jumlah ekspor pada tahun 2012 mencapai 1.609.251 ton dengan nilai FOB mencapai 1.043,4 juta US$. Pada saat yang sama jumlah impor mencapai 618.982 ton dengan nilai CIF sebesar 211,01 juta US$. Pasar atau pekan di Kabupaten Batu Bara pada tahun 2012 berjumlah 19 buah, luas totalnya mencapai 60.100 m2 dengan jumlah pedagang sebanyak 1.512 pedagang. Sarana perdagangan yang terdapat di Kabupaten Batu Bara yaitu berupa pasar sebanyak 4 (empat) lokasi pada Kabupaten Batu Bara yaitu, Pasar Sei Balai di Kecamatan Sei Balai, Pasar Petatal di Kecamatan Talawi, Pasar Pematang Rambai di Kecamatan Tanjung Tiram dan Pasar Bulan-bulan di Kecamatan Lima Puluh.
4.447.
4.9.6.Sarana Pariwisata
4.448. Objek pariwisata di Kabupaten Batu Bara yang terbanyak berbentuk pantai, hal ini dikarenakan Kabupaten Batu Bara di pinggiran pantai timur pulau sumatera yang berhadapan dengan Selat Malaka. Pada umunya objek wisata yang ada mengandalkan keindahan alam pantai dengan pantai yang lain dan pasir putihnya. Objek wisat lain yang berbentuk pantai cukup indah terdapat di Pulau Pandan yang dapat ditempu dari Kota Tanjung Tiram sekitar 2 jam dengan menggunakan perahu bermotor. Objek wisata yang berbentuk peningalan sejarah berbentuk Istana Lima Laras yang terdapat di Kecamatan Tanjung Tiram. Kondisi istana ini tidak terawat dan berpenghuni. Untuk melihata penyebaran dan objek wisata di Kabupaten Batu Bara dapat dilihat pada Tabel 3.19. Bentuk objek wisata lain yang terdapat di Kabupaten Batu Bara adalah wisata kuliner yang khas terdapat di Kecamatan Medang Deras berbentuk rumah makan Pondok Terapung dengan khas makanan laut. Rumah makan ini terletak dipinggiran sungai jika air pasang rumah makan ini terlihat seperti terapung.
4.449.
Tabel. 4.19. Jenis, Bentuk dan Lokasi Wisata di Kabupaten Batu Bara
4.450.
N 4.451. Jenis Objek Wisata
4.452. Bent uk Objek
Wisata
4.453. Lokasi Objek Wisata
4.454. 1
4.455. Istana Lima Laras
4.456. Bang unan Istana
4.457. Kecamatan Tanjung Tiram
4.458. 2
4.459. Pulau Salah Nama
4.460. Pulau dan Pantai
4.462. 3
4.463. Pulau Pandan
4.464. Pulau dan Pantai
4.465. Kecamatan Tanjung Tiram
4.466. 4
4.467. Pantai Bunga
4.468. Pant ai
4.469. Kecamatan Tanjung Tiram
4.470. 5
4.471. Pantai Sejarah
4.472. Pant ai
4.473. Kecamatan Lima Puluh
4.474. 6
4.475. Pantai Wisata Alam Datuk
4.476. Pant ai
4.477. Kecamatan Sei Suka
4.478. 7
4.479. Pantai Perjuangan
4.480. Pant ai
4.481. Kecamatan Sei Suka
4.482. Sumber : RTRW Kabupaten Batu Bara 4.483.
4.9.7.Prasarana Air Bersih
4.484. Di Kabupaten Batu Bara, air minum dikelola oleh PT. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kisaran dengan jumlah pelanggan pada tahun 2012 sebesar 5.368 pelanggan, yang sebahagian besar pelanggan berasal dari rumah tangga yaitu sebanyak 5.209 dan sebahagian lagi yaitu sumur bor. Di Kabupaten Batu Bara masih banyak lagi penduduk yang masing menggunakan air minum dari sumur galian yang dikelolah masyarakat itu sendiri karena sangat minimnya distribusi jaringan air minum ke wilayah permukiman. Dan ada juga yang masing menggunakan sungai sebagai kebutuhan air bersih.
4.485.
4.9.8.Prasarana Listrik
4.486. Kebutuhan listrik di Kabupaten Batu Bara bersumber dari PT. PLN Ranting Tanjung Tiram, Listrik Diesel dan listrik yang dikelola oleh swasta. Kapasitas listrik yang dikelola oleh PT. PLN Ranting Tanjung Tiram setiap tahunnya mengalami peningkatan, hal ini dapat dilihat pada tahun 2012 jumlah daya tersambung sebesar 30.691.390 KVA dengan jumlah pelanggan 46.907pelanggan. Pelanggan listrik yang terdapat di Kabupaten Batu Bara terdiri dari rumah tangga, industri, perkantoran, badan sosial/tempat ibadah, dan usaha lainnya.
4.487.
4.488. ISU STRATEGIS KABUPATEN BATU BARA
4.489. Mencermati data yang telah ditabulasi, fakta lapangan yang terlihat saat obervasi/survey, informasi yang tersampaikan pada saat konsultasi publik serta cermatan analisis terhadap data - data sekunder, teridentifikasi kondisi – kondisi aktual yang terkait dengan rencana penataan ruang Kabupaten Batu Bara. Kondisi - kondisi yang teridentifikasi dan yang akan berimplikasi pada perencaaan ruang adalah :
merupakan perdesaan yang bertumbuh secara lambat dan terbatas. Ketimpangan ini dilakukan dengan menciptakan struktur perkotaan yang sesuai agar terjadi pertumbuhan yang berimbang, pengendalian pola perkotaan yang linier di sepanjang Jalan Lintas Sumatera dan pemerataan pelayanan sosial yang selama ini terkonsentrasi di wilayah Indra Pura dan Kota Lima Puluh dengan membuat pusat – pusat pelayanan perkotaan baru.
2) Diperlukan titik – titik tumbuh di bagian utara Kabupaten Batu Bara (Pangkalan Dodek, Kuala Tanjung, Tanjung Tiram dan Prupuk) dengan mempercepat pemindahan pusat pemerintahan ke wilayah Prupuk, mengembangkan Tanjung Tiram sebagai pusat industri berbasis perikanan, dengan penyediaan sarana dan prasarana pendukungnya ;
3) Potensi kelautan, potensi agro (dalam arti luas) dan potensi peternakan perlu dikelola secara optimal agar dapat menjadi lokomotif ekonomi lumbung pangan (food security) bagi Kabupaten Batu Bara, dengan mencegah alih fungsi lahan dengan mempertahankan lahan irigasi teknis sebagai lumbung pangan, mengembangkan komoditi yang potensial dengan nilai komoditi yang tinggi dan rehabilitas drainase alam yang sudah mulai banyak tidak berfungsi;
4) Keberadaan Pusat – Pusat Pertumbuhan ; Sei Mangke, Belawan, Kuala Namo dan Dumai (Propinsi Riau) dikaitkan dengan rencana pengembangan Kawasan Industri Kuala Tanjung dengan dan membangun sistem transportasi intermoda (stasiun kereta api dan jaringan jalan) untuk mendistribusikan bahan dasar/setengah jadi dari pusat – pusat produksi ke kawasan industri Kuala Tanjung;
5) Posisi geo-ekonomis di pesisir perairan Selat Malaka merupakan keuntungan tersendiri bagi Kabupaten Batu Bara untuk mengembangkan perekonomian daerah dengan membuka kesempatan perdagangan antar negara. Selain itu, Kabupaten Batu Bara memiliki kesempatan yang baik untuk ikut ambil peran dalam perkembangan kawasan strategis nasional Mebidang (Medan, Binjai dan Deli Serdang) serta Sei Mangke;
6) Sebagai dampak dari pemekaran wilayah kiranya perlu diantisifasi pergeseran struktur kegiatan ekonomi wilayah Kabupaten Batu Bara dari perekonomian yang basis kegiatan ekonomi primer ke kegiatan ekonomi sekunder atau pengolahan hasil kegaitan primer;
7) Penetapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kuala Tanjung kedepan perlu dibarengi dengan penyediaan lahan (land banking) berupa rencana detail kawasan (master plan), perencanaan industri hilir yang terintegrasi dengan Kawasan Sei Mangke dan penyiapan tenaga kerja;
8) Menciptakan kawasan rekreasi yang dikembangkan sesuai dengan daya dukung lingkungan serta pengembangan pulau - pulau terluar untuk pengembangan pariwisata dan pengembangan wilayah perbatasan antar negara dengan prinsip kehati – hatian. Perlu dilakukan pengamanan terhadap pantai – pantai karena adanya pola arus laut yang cenderung membentuk sedimentasi dan adanya potensi abrasi. Serta meningkatkan fungsi pelabuhan Tanjung Tiram dengan mengendalikan proses pendangkalan dan dibuatkan alur pelayaran.
ISU.1. Menciptakan Basis Perekonomian Wilayah Kabupaten Yang Kuat, Yang Didukung Oleh Sektor-Sektor Tangguh, Produktif Dan Berdaya Saing Dengan Bertumpu Pada Sumber Daya Alam Setempat Dan Kelestarian Daya Dukung Wilayah;
Kegiatan ekonomi wilayah yang tumbuh pesat di Wilayah Kabupaten Batu Bara saat ini adalah kegiatan perdagangan (niaga) dan kegiatan agro dalam arti luas. Perkembangan kegiatan ekonomi yang berlangsung saat ini cenderung terkonsentrasi linier di sepanjang Jalan Lintas Sumatera. Sedangkan di sepanjang pesisir pantai nampak belum mengalami perkembangan dan dapat dikatagorikan sebagai daerah pertumbuhan lambat. Sebagai wilayah kabupaten baru, Kabupaten Batu Bara mesti memiliki basis kegiatan ekonomi yang kuat dengan mengandalkan potensi sumberdaya lokal dan sumberdaya yang ada disekitarnya. Kabupaten Batu Bara kedepan mesti menjadi wilayah yang terbuka dan mudah diakses dari pusat-pusat pertumbuhan yang ada disekitarnya, dalam rangka mendorong percepatan dan pemerataan pembangunan ekonomi wilayah. Basis kegiatan ekonomi wilayah Kabupaten Batu Bara yang perlu diperkuat pada masa mendatang, diantaranya adalah :
1. Mendorong perkembangan pembangunan sentra industri pengolahan berbasis komoditi lokal dan meningkatkan produktifitas perikanan laut,
2. Meningkatkan dan memperluas pasar kegiatan perdagangan dan jasa serta menjadikan Kawasan Perkotaan Indra Pura sebagai Pusat Niaga Kabupaten Batu Bara.
4.491.
ISU.2. Mengembangkan Wilayah Kabupaten Batu Bara Agar Lebih Berorientasi Regional (Outward Looking) Dengan Memanfaatkan Keunggulan Geografis Dan Geoekonomi;
Kabupaten Batu Bara saat ini memiliki pelabuhan laut yang dapat mendukung perkembangan kegiatan perdagangan lintas batas dan tumbuh pesatnya pusat niaga di Kawasan Perkotaan Indra Pura, Kota Lima Puluh dan Tanjung Tiram. Pengembangan kawasan perkotaan tersebut kedepan akan memantapkan perannya sebagai gerbang ekspor dan sekaligus dapat mewujudkan Kabupaten Batu Bara sebagai wilayah yang akan tumbuh pesat berorientasi global (Outward Looking). Langkah-langkah yang perlu dipersiapkan untuk mewujudkan perkembangan pembangunan ekonomi wilayah Kabupaten Batu Bara pada masa mendatang, adalah :
1. Mengintegrasikan pelayanan sistem transportasi darat termasuk didalamnya jaringan kereta api dan laut yang merangkai pusat-pusat pertumbuhan dan pusat-pusat – pusat-pusat produksi dalam rangka memperkuat geoekonomi wilayah Kabupaten Batu Bara;
3. Mempersiapkan ruang-ruang kegiatan ekonomi (kawasan industri, pusat niaga, permukiman dan pelabuhan) yang cukup dan memadai di kawasan perkotaan Indra Pura, Kota Lima Puluh dan Tanjung Tiram yang diintegrasikan dengan pengembangan ruang-ruang kegiatan ekonomi diwilayah hinterland-nya dan atau disekitar pusat-pusat kegiatan ekonomi yang tersebar.
ISU.3. Untuk Mendukung Kegiatan Sosial-Ekonomi Masyarakat Dan Pemerataan Pembangunan Antar Wilayah, Diperlukan Pengembangan Sistem Perkotaan Yang Terpadu Dengan Jaringan Prasarana Dan Sarana Wilayah ;
Ketidakseimbangan perkembangan pembangunan sistem perkotaan antara wilayah bagian utara (pesisir pantai) dengan wilayah bagian selatan (daratan) nampak dipengaruhi oleh keterbatasan pelayanan jaringan prasarana dan sarana wilayah. Sistem pusat-pusat disekitar kawasan perkotaan Indra Pura dan Kota Lima Puluh (sepanjang Jalan Lintas Sumatera) cenderung mengalami perkembangan pembangunan yang lebih cepat dibandingkan dengan pusat-pusat permukiman yang berada di pesisir pantai. Oleh karena itu, untuk mewujudkan percepatan dan pemerataan pembangunan ekonomi wilayah, maka langkah–langkah strategis yang pelu dilakukan, diantaranya adalah :
1. Mengintegrasikan pembangunan prasarana dan sarana perkotaan dalam rangka melakukan percepatan dan pemerataan pembangunan fisik, social dan ekonomi wilayah Kabupaten Batu Bara;
2. Melakukan optimalisasi pemanfaatan potensi sumberdaya lokal secara berkelanjutan, untuk kepentingan pembangunan ekonomi wilayah dan sekaligus mempercepat upaya penanggulangan masalah disparitas pembangunan;
3. Mempersiapkan fasilitas pelayanan sosal yang cukup dan ditempatkan sesuai kebutuhan dan merata pada setiap pusat-pusat permukiman perkotaan dan perdesaan.
ISU.4. Melihat Karakteristik Ruang Geografisnya, Diperlukan Pengembangan Wilayah Yang Berkelanjutan Berlandaskan Keterpaduan Ruang Darat Dan Ruang Pesisir ;
Pengembangan kawasan perkebunan, pertanian, pemanfaatan sumberdaya hutan dan pengembangan permukiman perkotaan secara tidak terkendali dan pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi wilayah yang tidak terencana dan terkendali dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kerusakan ekosistem wilayah yang bersangkutan. Untuk itu perlu mengedepankan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, dalam rangka mewujudkan keseimbangan pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mewujudkan keterpaduan pengembangan fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan wilayah. Potensi sumberdaya alam yang tersedia diharapkan dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang secara berkelanjutan.
Kabupaten Batu Bara merupakan wilayah kabupaten yang terletak pada posisi geografis yang amat strategis. Wilayah kabupaten ini berhadapan dengan peraiaran Selat Malaka dan pusat-pusat pertumbuhan dipesisir barat Malaysia. Posisi geografis wilayah yang amat strategis ini dapat menciptakan peluang percepatan pembangunan kawasan secara terpadu dan terintegrasi. Oleh karena itu, dalam RTRW ini perlu mencermati untuk memperkuat peluang -peluang kerjasama ekonomi regional serta mengkaji kebutuhan pelayanan prasarana pendukung perkembangan pembangunan wilayah Kabupaten Batu Bara pada masa mendatang, seperti: prasarana jaringan jalan, jaringan kereta api, pelabuhan, energi listrik dan air bersih. Melalui upaya ini diharapkan dapat menciptakan percepatan pembangunan fisik, sosial dan ekonomi wilayah dan pada gilirannya dapat memajukan pusat-pusat permukiman yang tumbuh diwilayah pesisir Kabupaten Batu Bara.
ISU.6. Adanya Fenomena Abrasi Dan Kerusakan Hutan Bakau/Mangrove Di Kabupaten Batu Bara Memerlukan Pengembangan Wilayah Berbasis Lingkungan Hidup Dan Mitigasi Bencana.
1. Dalam perencanaan tata ruang wilayah perlu mencermati karakteristik wilayah yang direncanakan. Karakteristik wilayah yang dimaksud tidak hanya menemukenali potensi dan permasalahan perkembangan pembangunan wilayah, tetapi perlu juga mencermati bila ada potensi kerusakan lingkungan dan bencana alam, seperti kerusakan hutan bakau/mangrove, abrasi, gempa bumi, kebakaran hutan, banjir, longsor dan bencana lainnya. Adanya potensi bencana yang relatif beragam ini perlu mendapat perhatian secara khusus, agar apa yang sudah direncanakan dan dibangun sudah mempertimbangkan faktor resiko yang menimbulkan kerugian bagi wilayah yang bersangkutan.