BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara berkembang yang masih memiliki berbagai persoalan yang dihadapi pemerintah secara kompleks akibat krisis multidimensi yaitu pertentangan dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial. Dengan demikian kita tidak dapat terlepas dari apa yang disebut sebagai kebijakan publik. Kebijakan publik merupakan proses atau serangkaian keputusan atau aktivitas pemerintah yang didesain untuk mengatasi masalah publik.1 Kebijakan pembangunan yang mendukung kesetaraan dan keadilan gender menjadi salah satu instrumen penting dalam penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Kebijakan yang akan dibahas di dalam penelitian ini adalah kebijakan mengenai Pengarusutamaan Gender.
Isu kesetaraan gender masih menjadi isu sensitif di kalangan masyarakat
Indonesia. Adanya perbedaan akses atau peluang untuk memperoleh sumber daya pembangunan antara laki-laki dan perempuan di berbagai bidang, berdampak pada adanya perbedaan partisipasi dan kontrol masing-masing pihak yang mengakibatkan perbedaan antara keduanya dalam memperoleh manfaat dari hasil
pembangunan tersebut. Ketidakadilan gender ini mengakibatkan perempuan dan/atau laki-laki merasa dirinya dirugikan, namun pada kenyataannya kaum
perempuan lah yang lebih banyak mengalami kerugian atau penindasan.2
Ketidakadilan gender yang terjadi dan bahkan belum teratasi di Indonesia, termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan, yakni: Marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, Subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik dan pembentukan, Stereotype atau melalui pelabelan negatif,
Kekerasan dan Beban Kerja Ganda kerja lebih panjang dan lebih banyak bagi perempuan daripada laki-laki, selain itu sosialisasi ideologi nilai peran gender dalam proses pembangunan masih terdapat pembedaan perlakuan antara perempuan dengan laki-laki terutama bila bergerak dibidang publik dan politik.3
Hal ini diperkuat oleh kemajuan pembangunan kualitas hidup manusia Indonesia yang tercermin dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dalam kurun waktu sepuluh tahun, IPM Indonesia menunjukkan mengalami peningkatan setiap tahunnya, akan tetapi tidak diikuti oleh Indeks Pembangunan Gender (IPG) sehingga mengalami kesenjangan atau tidak seimbang.
2 Manual Pengarusutamaan Gender (PUG): Sebuah Panduan Praktis Dari Pengalaman Program ANCORS. https://carpanlibrary.files.wordpress.com/2009/04/ancors_manual-gender.pdf. Diakses pada tanggal 19 April 2015. Pukul 07:59 WIB. hal. 3.
Tabel 1.1 Indeks Pembangunan Manusia, Indeks Pembangunan Gender dan
Indeks Pemberdayaan Gender di Indonesia tahun 2004 - 2013
Sumber: Badan Pusat Statistik
Badan Pusat Statistik memaparkan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia dari tahun 2004 hingga tahun 2013 berturut-turut mengalami peningkatan. Diikuti oleh angka Indeks Pembangunan Gender (IPG)4 yang menangkap naik-turunnya angka pembangunan perempuan dan laki-laki. Selain itu, diikuti pula oleh Indeks Pemberdayaan Gender (IDG)5 yang juga menangkap naik-turunnya angka pemberdayaan perempuan dan laki-laki sama seperti IPG. Adanya kesenjangan antara angka IPM dengan angka IPG pada Tabel 1.1 di atas menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan sumber daya manusia walaupun terjadi peningkatan dari tahun ke tahun secara keseluruhan, namun belum sepenuhnya diikuti dengan keberhasilan pembangunan gender atau masih terdapat
4 Indeks Pembangunan Gender guna melihat dan mengukur pencapaian dalam dimensi yang sama dengan Indeks Pembangunan Manusia.
5 Indeks Pemderdayaan Gender guna mengukur ketidaksetaraan gender dalam partisipasi politik dan pengambilan keputusan.
2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
IPM 68,69 69,57 70,10 70,59 71,17 71,76 72,27 72,77 73,27 73,81
IPG 63,94 65,13 65,10 65,30 66,38 66,77 67,20 67,80 68,52 69,60
kesenjangan gender. Angka IDG Indonesia juga relatif rendah, hal ini menunjukkan partisipasi dan kesempatan perempuan masih rendah baik dibidang politik, ekonomi, dan pengambilan keputusan.6
Upaya untuk menghilangkan kesenjangan gender sudah banyak dilakukan pada tataran internasional. Beberapa pendekatan untuk meningkatkan peran perempuan dalam pembangunan tersebut seperti pendekatan perempuan dalam pembangunan (Women In Development atau WID), pendekatan perempuan dan pembangunan (Women And Development atau WAD) dan pendekatan gender dan pembangunan (Gender And Development atau GAD). Pendekatan ini juga mempengaruhi upaya pemberdayaan perempuan di Indonesia. Bersama dengan negara-negara di dunia, Indonesia telah menandatangani kesepakatan untuk menghapuskan pembedaan antara laki-laki dan perempuan, selain itu juga telah menyepakati beberapa konvensi internasional, diantaranya Convention for The
Elimination of Discrimination Against Women (CEDAW), Beijing Platform for Actions (BPA) pada tahun 1995 di Beijing, dan Millenium Development Goals (MDGs) yang disusun pada tahun 2000 oleh 189 negara anggota PBB.
Kesungguhan pemerintah Indonesia dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender telah ditindaklanjuti dengan terbitnya Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Nasional. Sebelumnya telah pula tercantum dalam GBHN 1999 dan
Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pertumbuhan Nasional (PROPENAS 2000-2004). Gender Mainstreaming atau Pengarusutamaan Gender (PUG) adalah suatu strategi pembangunan untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dengan mengintegrasikan kepentingan, aspirasi dan kondisi laki-laki dan perempuan dalam setiap tahapan pengelolaan pembangunan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai pemantauan dan evaluasi. Sedikitnya ada dua hal yang tersirat dalam PUG. Hal yang pertama adalah terintegrasinya kepentingan, aspirasi dan kondisi laki-laki dan perempuan yang dapat dipenuhi antara lain dengan terlibatnya laki-laki dan perempuan dalam proses pembangunan terutama sebagai pengambil keputusan. Hal kedua adalah terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender yang berarti bahwa laki-laki dan perempuan dapat sama-sama menikmati hasil pembangunan.7
Inpres ini menginstruksikan kepada jajaran eksekutif; Menteri, Kepala Lembaga, Gubernur dan Bupati/Walikota untuk melaksanakan strategi pengarusutamaan gender sebagai bagian pembangunan nasional.8 Pengadopsian PUG dalam pembangunan di Indonesia merupakan langkah politis baru dalam isu gender, karena strategi ini bertumpu pada dua pendekatan. Pertama, meletakkan pemerintah sebagai agent of change bagi pembangunan yang adil gender. Kedua, melakukan intervensi (keterlibatan) terhadap semua tahap proses atau siklus pembangunan mulai dari perencanaan hingga monitoring dan evaluasi.
Manual Pengarusutamaan Gender (PUG): Sebuah Panduan Praktis Dari Pengalaman Program ANCORS. Ibid., hlm. 6.
Selain itu tersedia beberapa produk hukum yang diperlukan untuk mendukung upaya mewujudkan kesetaraan gender, diantaranya Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 6 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Data Gender dan Anak, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 Tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah, dan Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas, Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No. 270/M.PPN/11/2012, No. SE-33/MK.02/2012, No. 050/4379A/SJ, dan No. SE 46/MPP-PA/11/2012 tentang Strategi Nasional Percepatan Pengarusutamaan Gender (PUG) melalui Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender (PPRG).9
Sesuai dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 132 tahun 2003 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan di Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67/2011 Tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah, menginstruksikan kepada semua unit pemerintah di bawah koordinasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) untuk mengintegrasikan pengarusutamaan gender ke dalam perencanaan dan penganggaran. Berdasarkan ketentuan tersebut, maka setiap daerah baik di tingkat provinsi maupun
kabupaten/kota perlu memiliki peraturan daerah atau program-program yang
responsive gender.10
Di tingkat daerah, pelaksanaan pengarusutamaan gender dapat dilihat dari lahirnya berbagai Peraturan Daerah maupun program-program yang dibentuk dalam rangka merespon berbagai isu-isu kesenjangan gender. Misalnya pemerintah Propinsi Sumatera Utara telah mengeluarkan Perda No. 6 tahun 2004 tentang Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak.11 Selain itu dalam menerapkan peraturan dan konsep di bidang Pengarusutamaan Gender, Provinsi Sumatera Utara juga membentuk Kelompok Kerja Pengarusutamaan Gender yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 260/247/K/2009 yang bertugas mempromosikan dan memfasilitasi Pengarusutamaan Gender kepada masing-masing SKPD dan melaksanakan sosialisasi serta advokasi Pengarusutamaan Gender kepada Pemerintah Kabupaten/Kota.12 Akan tetapi dalam mengimplementasikan kebijakan pengarusutamaan gender sebagai strategi dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender khususnya di Kabupaten/Kota tidaklah mudah dan tanpa kendala.
10Penyusunan Rencana Aksi Daerah Pengarusutamaan Gender Kabupaten Kendal. http://bappeda.kendalkab.go.id/component/content/article/29-pemsosbud/83-penyusunan-rencana-aksi-daerah-pengarusutamaan-gender-kabupaten-kendal.pdf. Diakses pada tanggal 21 April 2015, pukul 10.23 WIB.
11 Jurnal Perempuan untuk Pencerahan dan Kesetaraan. Op. cit. 2006. hal. 37.
Hal ini dialami oleh Kabupaten Batu Bara sebagai salah satu kabupaten dari 33 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten Batu Bara merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Asahan berdasarkan Undang-undang RI Nomor 5 tanggal 15 Juni 2007 tentang pembentukan Kabupaten Batu Bara. Saat ini Kabupaten Batu Bara dipimpin oleh OK Arya Zulkarnain, SH. MM. (2013-2018).13
Secara umum, kemajuan yang mencolok dalam kesetaraan gender di Kabupaten Batu Bara belum sepenuhnya diraih. Hal ini terjadi karena masih terdapat kesenjangan dibeberapa bidang. Badan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Batu Bara memaparkan bahwa bidang ekonomi yang dalam hal ini adalah tenaga kerja, bidang pendidikan dan juga bidang kesehatan merupakan bidang-bidang yang ‘dekat’ dengan kebijakan pengarusutamaan gender namun juga rentan terjadi kesenjangan gender, mengingat ketiga bidang tersebut sangat erat kaitannya dengan perempuan.
Secara umum, kemajuan yang mencolok dalam kesetaraan gender di Kabupaten Batu Bara belum sepenuhnya diraih. Hal ini terjadi karena masih terdapat kesenjangan dibeberapa bidang. Badan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Batu Bara memaparkan bahwa bidang ekonomi yang dalam hal ini adalah tenaga kerja, bidang pendidikan dan juga bidang kesehatan merupakan bidang-bidang yang ‘dekat’ dengan kebijakan pengarusutamaan gender namun
juga rentan terjadi kesenjangan gender, mengingat ketiga bidang tersebut sangat erat kaitannya dengan perempuan.
Tingkat partisipasi angkatan kerja Kabupaten Batu Bara mengalami penurunan pada tahun 2013 menjadi 59,22 persen, bila dibandingkan dengan tahun 2012 sebanyak 63,22 persen. Namun dengan penurunan pada partisipasi angkatan kerja, pengangguran di Kabupaten Batu Bara masih dianggap tinggi dengan masih banyaknya jumlah pengangguran, pada tahun 2011 sebanyak 9.244 orang, pada tahun 2012 sebanyak 10.937, dan pada tahun 2013 sebanyak 10.618. Dengan kondisi tersebut, pemerintah daerah Kabupaten Batu Bara harus melakukan upaya-upaya untuk pembenahan dalam hal tenaga kerja, kesehatan dan pendidikan, termasuk pula dari segi gender, agar tercapainya tujuan kesejahteraan dan pembangunan perempuan.
Adapun kesenjangan gender pada bidang ekonomi di Kabupaten Batu Bara terlihat dari jumlah tenaga kerjanya, Jumlah tenaga kerja laki-laki di Kabupaten Batu Bara pada tahun 2015 ialah sebanyak 11,385 jiwa, sedangkan tenaga kerja perempuan hanya sebanyak 1,603 jiwa. Untuk Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kabupaten Batu Bara mengalami penurunan pada tahun 2014 menjadi 57,42 persen bila dibandingkan dengan tahun 2013 (59,22 persen).
penduduk yang menjadi pengusaha dan yang mempekerjakan buruh tetap/bukan anggota keluarganya.14 Berikut data terpilah mengenai jumlah tenaga kerja berdasarkan sektor dan jumlah perusahaan di Kabupaten Batu Bara.
Tabel 1.2 Jumlah Tenaga Kerja berdasarkan Sektor dan Jumlah
Perusahaan di Kabupaten Batu Bara Tahun 2015
Sektor Perusahaan Jumlah
Jumlah Tenaga Kerja
L P
Pertanian, Kehutanan, Perikanan dan
Peternakan 12 2,579 249
Pertambagan dan Energi, Penggalian - - -
Industri Pengolahan 27 5,413 557
Listrik, Gas dan Air 2 29 3
Bangunan 38 933 105
Perdagangan Besar, Eceran, Rumah
Makan dan Restoran 50 729 384
Angkutan, Pergudangan dan Komunikasi 11 174 16 Keuangan, Asuransi, Sewa Bangunan,
Tanah dan Jasa 37 663 108
Jasa Kemasyarakatan Sosial dan
Perorangan 17 865 181
Kegiatan yang belum jelas balasannya - - -
JUMLAH 194 11,385 1,603
Sumber: Data Perusahaan Obyek Pengawasan Ketenagakerjaan Dinas Tenaga
Kerja Kabupaten Batu Bara 2015
Menurut data dari Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Batu Bara, penduduk Kabupaten Batu Bara yang bekerja ini sebagian besar bekerja pada sektor Industri Pengolahan yaitu sebanyak 5,970 orang, dimana laki-laki sebanyak 5,413 orang dan perempuan sebanyak 557 orang. Sektor kedua terbesar dalam menyerap tenaga kerja di Kabupaten Batu Bara adalah sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan yaitu sebanyak 2,828 orang, dimana pekerja laki-laki sebanyak 2,579 orang dan pekerja perempuan sebanyak 249 orang. Sektor lain yang cukup besar peranannya dalam menyerap tenaga kerja adalah sektor Bangunan sebanyak 1,038, dimana laki-laki 933 orang dan perempuan 105 orang dan Jasa-Jasa yaitu sebanyak 1,046 orang, dimana laki-laki 865 orang dan perempuan 181 orang. Namun dari semua lapangan pekerjaan yang tersedia di Kabupaten Batu Bara, dominasi laki-laki baik disektor berat maupun ringan cukup banyak. Sedangkan partisipasi pekerja perempuan masih sangat rendah bahkan timpang.15
Selain pada bidang tenaga kerja, penyediaan sarana fisik pendidikan merupakan upaya peningkatan kualitas setiap individu, baik perempuan maupun laki-laki. Secara umum tingkat sarana pendidikan di Kabupaten Batu Bara baru
mencapai 90% untuk SD, 80% untuk SLTP dan 80% untuk SLTA. Sedangkan untuk mutu pendidikannya masih sangat rendah. Tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan di Kabupaten Batu Bara sendiri terpengaruh oleh letak wilayah, yaitu wilayah pesisir dan wilayah bukan pesisir.
Masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir untuk tingkat kesadarannya diperkirakan hanya 40%, sedangkan untuk wilayah bukan pesisir untuk tingkat kesadaran pendidikannya sudah mencapai 60%. Akan tetapi secara keseluruhan masyarakat Batu Bara belum memahami pentingnya manfaat akan pendidikan.
Tabel 1.3 Perbandingan Tingkat Buta Huruf dan Tingkat Pendidikan
Penduduk Desa Pesisir dan Desa Bukan Pesisir Kabupaten Batu Bara Tahun
2010
Indikator Desa Pesisir (%) Desa Bukan Pesisir (%) Total (%)
Tingkat Buta Huruf 6,66 3,30 4,16
Tidak/Belum Tamat SD 20,16 12,41 14,38
Tamat SD 39,74 33,47 35,06
Tamat SLTP 21,10 25,58 24,44
Tamat SLTA 16,56 24,78 22,69
Tamat Perguruan Tinggi 2,44 3,77 3,43
Pada desa pesisir, indikator buta huruf dan tingkat pendidikan yang ditamatkan memiliki persentase yang cukup tinggi daripada desa bukan pesisir. Untuk tingkat buta huruf, penduduk di desa pesisir mencapai 6,66%, untuk pendidikan yang tidak atau belum tamat mencapai 20,16%, SD 39,74%, SLTP 21,10%, SLTA 16,56% dan Perguruan Tinggi mencapai 2,44%. Sedangkan pada desa bukan pesisir, tingkat buta huruf cenderung rendah yaitu hanya sebanyak 3,30% dan untuk pendidikan yang tidak atau belum tamat mencapai 12,41%, SD 33,47%, SLTP 25,58%, SLTA 24,78% dan Perguruan Tinggi mencapai 3,77%. Berikut merupakan data terpilah untuk tingkat buta huruf berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur pada masyarakat di Kabupaten Batu Bara pada tahun 2014:
Tabel 1.4 Tingkat Buta Huruf Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok
Umur di Kabupaten Batu Bara Tahun 2014
Jenjang
Pendidikan Laki-laki Perempuan Jumlah
10-14 0,68 - 0,35
15-24 - - -
25-40 - 0,15 0,08
41-64 1,01 0,70 0,85
65+ 6,71 1,80 4,04
Budaya daerah di Kabupaten Batu Bara juga turut serta mempengaruhi tingkat partisipasi dan kualitas pendidikan, dikarenakan mindset/pola pikir dari suku melayu sebagai suku asli daerah, terlebih suku melayu yang tinggal di daerah pesisir atau yang disebut melayu pesisir. Pola pikir yang terbentuk ialah bahwa perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi, bahkan tidak perlu bersekolah sama sekali. Perempuan harus di rumah dan membantu orang tua, begitu pula dengan laki-laki yang diutamakan harus membantu orang tua dengan ikut bekerja, yang hanya dikarenakan belum memahami pentingnya manfaat pendidikan atau bersekolah. Akan tetapi pada Tabel 1.4, menunjukkan bahwa perempuan justru memiliki tingkat buta huruf
yang rendah sebesar 1,80 persen, sedangkan tingkat buta huruf laki-laki lebih tinggi yaitu sebesar 6,71 persen.
jumlah sekolah yang menyebar, hal ini tentu masih menjadi permasalahan dibidang pendidikan.16
Kesenjangan gender pada akses ke kesehatan juga terlihat pada jumlah kematian ibu yang meningkat. Tinggi rendahnya angka kematian (mortalitas) secara umum dipengaruhi erat dengan tingkat kesakitan golongan bayi, balita dan ibu maternal (hamil, melahirkan, nifas). Angka kematian yang cukup bervariasi untuk Kabupaten Batu Bara dari tahun ke tahun salah satunya dapat di lihat pada Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Balita, dan Angka Kematian Ibu. Data mengenai angka kematian AKB, AKABA dan AKI dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1.5 Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Balita, dan Angka
Kematian Ibu di Kabupaten Batu Bara 2010 - 2014
2010 2011 2012 2013 2014
AKB 2,63‰ 3,50‰ 6,60‰ 12,05‰ 4,72‰
AKABA 0‰ 0,38‰ 1,33‰ 1,44‰ 5,54‰
AKI 155,65‰ 161,68‰ 203,23‰ 129,96‰ 153,30‰
Sumber: http://dinkes.batubarakab.go.id
Angka Kematian (Mortalitas) dalam masyarakat dari waktu ke waktu dapat memberi gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat atau dapat
digunakan sebagai indikator penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan. Pada Tabel 1.5 memaparkan bahwa untuk Angka Kematian Bayi per. 1.000 kelahiran hidup di Kabupaten Batu Bara cukup bervariasi dan cenderung terjadi kenaikan. Dari tahun 2010 sampai dengan 2013 angka kematian bayi terus mengalami peningkatan, sedangkan pada tahun 2014 mengalami penurunan. Tahun 2010 AKB sebesar 2,630/00, tahun 2011 jumlah kematian bayi 26 orang dari 7.422 kelahiran hidup atau (3,50 0/00), dimana AKB ini naik dari AKB tahun sebelumnya, sedangkan pada tahun 2012 angka kematian bayi 52 dari 7.873 kelahiran hidup (6,60 0/00). Untuk tahun 2013 jumlah kematian bayi sebanyak 102 orang dari 8.479 kelahiran hidup (12,050/00) yang ada di Kabupaten Batu Bara, sedangkan tahun 2014 jumlah kematian bayi 40 dari 8.480 kelahiran hidup (4,720/00 ) mengalami penurunan dibanding dengan tahun 2013, dengan demikian AKB di Kabupaten Batu Bara pada tahun 2014 sudah jauh dibawah angka nasional.
peningkatan kematian balita berjumlah 58 Jiwa atau sebesar 1,330/00, dan pada tahun 2013 juga terjadi peningkatan kematian balita sebanyak 63 jiwa atau sebesar 1,440/00. Sedangkan pada tahun 2014 terjadi penurunan jumlah kematian balita yaitu sebanyak 47 jiwa tetapi persentasenya meningkat menjadi 5,540/00. Hal ini memberikan gambaran tentang sistem informasi manajemen dan pelaporan kemungkinan telah berjalan dengan baik, dimana Angka kematian balita sudah tercapai selama tahun 2014 yaitu (47 per 1000 jumlah balita).
Selanjutnya adalah Angka Kematian Ibu yang berarti jumlah kematian ibu pada masa kehamilan, melahirkan dan nifas per 100.000 kelahiran hidup. Perkembangan AKI di Kabupaten Batu Bara tidak cukup dengan jumlah, tetapi dengan angka. Angka-angka kematian ibu melahirkan tersebut, yakni pada tahun 2010 jumlah kematian ibu sebanyak 13 jiwa (155,65 per 100.000 Kelahiran Hidup). Pada tahun 2011 jumlah kematian ibu sebanyak 12 jiwa (161,68 0/0000) dan pada tahun 2012 terjadi peningkatan jumlah kematian ibu yaitu 16 jiwa (203,23 0/0000), sedangkan pada tahun 2013 terjadi penurunan jumlah kematian ibu sebanyak 11 jiwa (129,96 0/0000). Dan pada tahun 2014 kembali mengalami kenaikan yaitu dari 8.480 kelahiran hidup terdapat 13 kematian ibu (153,30 0/0000). Selain itu, Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) juga mempengaruhi perkembangan derajat kesehatan masyarakat.17
Selain kondisi di atas, Kabupaten Batu Bara juga hanya memiliki satu RSUD yang merupakan rumah sakit negeri kelas D. Rumah sakit ini bersifat transisi dengan kemampuan hanya memberikan pelayanan kedokteran umum dan gigi. Rumah sakit ini juga menampung rujukan yang berasal dari puskesmas. Jumlah dokter yang tersedia juga sedikit, yaitu 16 dokter. Diantaranya 8 dokter umum, 5 dokter spesialis, dan 3 dokter gigi. Hal ini tentunya berdampak pada pelayanan kesehatan di Kabupaten Batubara. Rendahnya pelayan kesehatan di Kabupaten Batubara disebabkan sosialisasi dan pembinaan bagi para petugas kesehatan di tujuh kecamatan se-Kabupaten Batu Bara yang tidak maksimal. Termasuk di RSUD dan Puskesmas.18 Tentunya hal ini merugikan masyarakat, terlebih untuk perempuan di Kabupaten Batu Bara yang cenderung merasakan lebih banyak permasalahan dibidang kesehatan.
Pemberdayaan perempuan dan tercapainya kesetaraan gender merupakan masalah hak asasi manusia dan ketidakadilan sosial, dan salah apabila dipersepsikan sebagai isu perempuan saja, karena masalah dan kondisi sosial tersebut merupakan persyaratan dalam proses pembangunan masyarakat yang adil dan kesejahteraan rakyat yang berkelanjutan. Kesetaraan akan meningkatkan kemampuan suatu daerah untuk berkembang, mengurangi kemiskinan, dan menjalankan pemerintahan secara efektif. Dengan demikian, meningkatkan kesetaraan gender di Kabupaten Batu Bara adalah bagian penting dari strategi
pembangunan yang mengupayakan pemberdayaan bagi semua orang, baik laki-laki maupun perempuan untuk melepaskan diri dari kemiskinan serta meningkatkan taraf hidup. Menurut dokumen RPJMN 2015-2019 telah secara tegas menjelaskan arah kebijakan dan strategi peningkatan kesetaraan gender yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan di berbagai pembangunan, meningkatkan perlindungan perempuan dari berbagai tindak kekerasan, dan meningkatkan kapasitas kelembagaan PUG dan kelembagaan perlindungan perempuan dari berbagai tindak kekerasan.
Anggapan yang menyatakan bahwa perempuan tidak pantas dan tidak perlu dilibatkan dalam kegiatan di sektor tertentu harus diubah karena sangat merugikan, menghambat, dan tidak sesuai dengan semangat memanusiakan manusia. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk membahas persoalan gender yang dalam hal ini adalah perempuan, khususnya dibidang tenaga kerja atau perekonomian, pendidikan dan juga kesehatan, mengingat ketiga bidang tersebut sangat dirasakan dan melekat dengan kehidupan kaum perempuan yang deritanya masih terlihat sampai hari ini.
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Batasan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini sebatas pada:
1. Perencanaan kegiatan dan anggaran responsif gender, serta pelaksanaan implementasi kebijakan Pengarusutamaan Gender dibidang tenaga kerja, pendidikan dan kesehatan di Kabupaten Batubara.
2. Pengaruh implementasi pengarusutamaan gender terhadap perempuan di Kabupaten Batu Bara dibidang tenaga kerja, pendidikan dan kesehatan.
1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk melihat bagaimana upaya pemerintah Kabupaten Batu Bara dalam mengimplementasikan kebijakan Pengarusutamaan Gender dibidang tenaga kerja, pendidikan dan kesehatan.
1.5. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dilakukan agar mampu memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Secara teoritis, penelitian ini merupakan kajian ilmu politik yang dapat memberikan kontribusi pemikiran mengenai kebijakan publik tentang pengarusutamaan gender.
2. Secara akademis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan bukan hanya bagi peneliti tapi juga akademisi lainnya mengenai kajian kebijakan publik dalam implementasinya terkait pengarusutamaan gender. Serta dapat menjadi referensi bagi departemen ilmu politik FISIP USU.
3. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan mampu membantu masyarakat dalam memahami kebijakan pengarusutamaan gender di Kabupaten Batubara.
1.6. Kerangka Teori
1.6.1. Teori Gender
harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan (cultural expectations
for woman and men).
Membahas permasalahan gender berarti membahas permasalahan perempuan dan juga laki-laki dalam kehidupan masyarakat. Dalam pembahasan mengenai gender, termasuk kesetaraan dan keadilan gender dikenal adanya 2 aliran atau teori yaitu teori nurture dan teori nature. Namun demikian dapat pula dikembangkan satu konsep teori yang diilhami dari dua konsep teori tersebut yang merupakan kompromistis atau keseimbangan yang disebut dengan teori equilibrium.
a. Teori Nurture
Menurut teori nurture adanya perbedaan perempuan dan laki-laki adalah hasil konstruksi sosial budaya sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda. Perbedaan itu membuat perempuan selalu tertinggal dan terabaikan peran dan kontribusinya dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Konstruksi sosial menempatkan perempuan dan laki-laki dalam perbedaan kelas. Laki-laki diidentikkan dengan kelas borjuis, dan perempuan sebagai kelas proletar.
b. Teori Nature
yang berbeda. Ada peran dan tugas yang dapat dipertukarkan, tetapi ada yang tidak bisa karena memang bebeda secara kodrat alamiahnya.
Dalam proses perkembangannya, disadari bahwa ada beberapa kelemahan konsep nurture yang dirasa tidak menciptakan kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan berkeluarga maupun bermasyarakat, yaitu terjadi ketidak-adilan gender, maka beralih ke teori nature. Agregat ketidak-adilan gender dalam berbagai kehidupan lebih banyak dialami oleh perempuan, namun ketidak-adilan gender ini berdampak pula terhadap laki – laki.
c. Teori Equilibrium
pula struktural fungsional, tetapi lebih dilandasi kebutuhan kebersamaan guna membangun kemitraan yang hamonis, karena setiap pihak memiliki kelebihan sekaligus kelemahan yang perlu diisi dan dilengkapi pihak lain dalam kerjasama yang setara.19
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teori nurture. Hal ini dikarenakan teori nurture relevan atau berkaitan dengan masalah kesenjangan gender yang terjadi pada perempuan di Kabupaten Batu Bara. Teori ini dapat menganalisis dan menjelaskan terjadinya perbedaan antara laki-laki dengan perempuan yang dibangun berdasarkan kondisi sosial dan budaya yang ada lingkungan sekitar. Adanya pembedaan hak dan kewajiban pada perempuan, tentunya menghambat pembangunan sumber daya manusia maupun pembangunan suatu daerah. Sehingga dapat diperoleh hasil penelitian mengenai kesetaraan terhadap peran dan tugas perempuan dan laki-laki dalam menjalani kehidupan baik dibidang pekerjaan, pendidikan dan kesehatan.
1.6.2. Kebijakan Publik
Menurut James Anderson kebijakan publik merupakan arah tindakan yang mempunyai maksud yang ditetapkan oleh seorang aktor atau sejumlah aktor dalam mengatasi suatu masalah atau suatu persoalan. Konsep kebijakan ini kita anggap tepat karena memusatkan perhatian pada apa yang sebenarnya dilakukan
dan bukan pada apa yang diusulkan atau dimaksudkan.20 Keterlibatan aktor-aktor dalam perumusan kebijakan kemudian menjadi ciri khusus dari kebijakan publik. Ini disebabkan oleh kenyataan bahwa kebijakan itu diformulasikan oleh apa yang dikatakan David Easton sebagai “penguasa” dalam suatu sistem politik, yaitu para sesepuh tertinggi suku, anggota-anggota eksekutif, legislatif, yudikatif, administrator, penasihat, raja, dan semacamnya. Menurut Easton, mereka ini merupakan orang-orang yang terlibat dalam masalah sehari-hari dalam suatu sistem politik, diakui oleh sebagian terbesar anggota sistem politik, mempunyai tanggung jawab untuk masalah-masalah ini, dan mengambil tindakan-tindakan yang diterima secara mengikat dalam waktu yang panjang oleh sebagian terbesar anggota sistem politik selama mereka bertindak dalam batas-batas peran yang diharapkan.21 Menurut James Anderson, implikasi dari kebijakan publik yaitu:
Selalu mempunyai tujuan tertentu/tindakan yang berorientasi pada tujuan
Berisi tindakan atau pola-pola tindakan pemerintah atau pejabat
Merupakan apa yang benar-benar dilakukan oleh pemerintah bahkan merupakan apa yang pemerintah maksud atau melakukan sesuatu atau menyatakan melakukan sesuatu
Bersifat positif, yang berarti merupakan beberapa bentuk tindakan pemerintah mengenai masalah tertentu, dan bersifat negatif sebagai keputusan pemerintah untuk tidak melakukan sesuatu
Kebijakan publik setidak-tidaknya dalam arti positif didasarkan atau selalu dilandaskan pada peraturan/undang-undang yang bersifat memaksa (otoritatif). Sifat otoritatif dari kebijakan tersebut: Easton (1953) menyatakan dalam kebijakan publik, hanya pemerintahlah yang secara sah dapat berbuat sesuatu pada masyarakatnya, atau sering disebut pengalokasian nilai-nilai secara paksa kepada seluruh anggota masyarakat. Berarti bukan tindakan golongan yang sengaja merebut posisi pemerintah dalam urusan negara. Dari beberapa pengertian tersebut pada gilirannya di tingkatan praktik banyak kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sepenuhnya tidak terimplementasikan. Justru kebijakan hanya sebatas simbol dan formalitas dari suatu tatanan pemerintahan. Dalam tataran idealnya tindakan yang dilakukan oleh pemerintah seharusnya memberi makna yang berarti atau setidaknya akan berdampak positif bagi masyarakat. Dengan rasionalisasi bahwa kebijakan publik adalah yang berasal dari masyarakat dan mampu menjawab persoalan masyarakat. 22
Sifat kebijakan publik sebagai arah tindakan dapat dipahami secara lebih baik bila konsep ini dirinci menjadi beberapa kategori, antara lain: 1. Tuntutan-tuntutan kebijakan (policy decisions) adalah tuntutan-tuntutan
yang dibuat oleh aktor-aktor swasta atau pemerintah, ditujukan kepada pejabat-pejabat pemerintah dalam suatu sistem politik. Tuntutan-tuntutan tersebut berupa desakan agar pejabat-pejabat pemerintah mengambil
tindakan atau tidak mengambil tindakan mengenai suatu masalah tertentu. Biasanya tuntutan-tuntutan ini diajukan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat dan mungkin berkisar antara desakan secara umum bahwa pemerintah harus “berbuat sesuatu” sampai usulan agar pemerintah mengambil tindakan tertentu mengenai suatu persoalan.
2. Keputusan-keputusan kebijakan (policy demands) didefenisikan sebagai keputusan-keputusan yang dibuat oleh pejabat-pejabat pemerintah yang mengesahkan atau memberi arah dan substansi kepada tindakan-tindakan kebijakan publik. Termasuk dalam kegiatan ini adalah menetapkan undang-undang, memberikan perintah-perintah eksekutif atau pernyataan-pernyataan resmi, mengumumkan peraturan-peraturan administratif atau membuat interpretasi yuridis terhadap undang-undang.
3. Pernyataan-pernyataan kebijakan (policy statements) adalah pernyataan-pernyataan resmi atau artikulasi-artikulasi kebijakan publik. Yang termasuk dalam kategori ini adalah undang-undang legislatif, perintah-perintah dan dekrit presiden, peraturan-peraturan administratif dan pengadilan, maupun pernyataan-pernyataan atau pidato-pidato pejabat pemerintah yang menunjukkan maksud dan tujuan pemerintah dan apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
dilakukan menurut keputusan-keputusan dan pernyataan-pernyataan kebijakan.
5. Dampak-dampak kebijakan (policy outcomes) lebih merujuk pada akibat-akibatnya bagi masyarakat, baik yang diinginkan atau tidak diinginkan yang berasal dari tindakan atau tidak adanya tindakan dari pemerintah.23
Peneliti menggunakan teori kebijakan publik karena relevan dalam membahas kebijakan Pengarusutamaan Gender. Teori ini dapat digunakan untuk menganalisis arah dan tindakan pemerintah daerah Kabupaten Batu Bara untuk melihat kebijakan yang telah di bentuk dalam mengarusutamakan gender. Sehingga pada akhirnya dapat diperoleh hasil penelitian mengenai kesetaraan gender yang sesuai dengan kebijakan pengarusutamaan gender dan sesuai dengan program atau kebijakan pemerintah Kabupaten Batu Bara terkait gender.
1.6.3. Implementasi Kebijakan Publik
George C. Edwards menyatakan implementasi kebijakan adalah salah satu tahap kebijakan publik, antara pembentukan kebijakan dan konsekuensi-konsekuensi kebijakan bagi masyarakat yang dipengaruhinya. Jika suatu kebijakan tidak tepat atau tidak dapat mengurangi masalah yang merupakan sasaran dari kebijakan, maka kebijakan itu mungkin akan mengalami kegagalan sekalipun kebijakan itu diimplementasikan dengan sangat baik. Sementara itu,
suatu kebijakan yang telah direncanakan dengan sangat baik, mungkin juga akan mengalami kegagalan, jika kebijakan tersebut kurang diimplementasikan dengan baik oleh para pelaksana kebijakan. Dalam mengkaji implementasi kebijakan, Edwards mulai dengan mengajukan dua pertanyaan yakni: prakondisi-prakondisi apa yang diperlukan sehingga suatu implementasi kebijakan berhasil? Dan hambatan hambatan utama apa yang mengakibatkan suatu implementasi gagal? Edwards berusaha menjawab dua pertanyaan penting ini dengan membicarakan empat faktor atau variable krusial dalam implementasi kebijakan publik.
Oleh karena empat faktor yang berpengaruh terhadap implementasi kebijakan bekerja secara simultan dan berinteraksi satu sama lain untuk membantu dan menghambat implementasi kebijakan, maka pendekatan yang ideal adalah dengan cara merefleksikan kompleksitas ini dengan membahas semua faktor tersebut sekaligus untuk memahami suatu implementasi kebijakan perlu menyederhanakan, dan untuk menyederhanakan perlu merinci penjelasan-penjelasan tentang implementasi dalam komponen-komponen utama. Patut diperhatikan disini bahwa implementasi dari setiap kebijakan merupakan suatu proses yang dinamis yang mencakup banyak interaksi dari banyak variabel. Oleh karenanya, tidak ada variabel tunggal dalam proses implementasi, sehingga perlu dijelaskan keterkaitan antara satu variabel dengan variabel lain, dan bagaimana variabel-variabel ini memengaruhi proses implementasi kebijakan.24
Berdasarkan pandangan yang diutarakan tersebut dapat disimpulkan bahwa proses implementasi kebijakan itu sesungguhnya tidak hanya menyangkut prilaku badan administratif yang bertanggung jawab untuk melaksanakan program dan menimbulkan ketaatan pada diri kelompok sasaran, melainkan pula menyangkut jaringan kekuatan-kekuatan politik, ekonomi san sosial yang langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi perilaku dari semua pihak yang terlibat dan yang pada akhirnya berpengaruh terhadap tujuan kebijakan, baik yang negatif maupun yang positif.25
Dalam mengkaji implementasi kebijakan, empat faktor atau variabel krusial dalam implementasi kebijakan publik yang dimaksud oleh George C. Edwards diantaranya:
1. Komunikasi
Agar implementasi menjadi efektif, maka mereka yang tanggung-jawabnya adalah untuk mengimplementasikan sebuah keputusan mesti tahu apa yang seharusnya mereka kerjakan. Komando untuk mengimplementasikan kebijakan mesti ditransmisikan kepada personalia yang tepat dan kebijakan ini mesti akurat, jelas dan konsisten. Jika para pembuat keputusan ini berkehendak untuk melihat yang diimplementasikan tidak jelas dan bagaimana rinciannya maka kemungkinan akan timbul kesalahpahaman diantara pembuat kebijakan dan implementornya. Komunikasi yang tidak cukup juga memberikan implementor dengan kewenangan ketika mereka mencoba untuk membalik kebijakan umum
menjadi tindakan-tindakan khusus. Kewenangan ini tidak akan perlu dilakukan untuk memajukan tujuan para pembuat keputusan aslinya. Dengan demikian, perintah-perintah implementasi yang tidak ditransmisikan, yang terdistorsi dalam transmisi, atau yang tidak pasti atau tidak konsisten mendatangkan rintangan-rintangan serius bagi implementasi kebijakan. Sebaliknya, ukuran-ukuran yang terlalu akurat mungkin merintangi implementasi dengan perubahan kreativitas dan daya adaptasinya.
2. Sumberdaya
Sumberdaya yang penting meliputi staf ukuran yang tepat dengan keahlian yang diperlukan, informasi yang relevan dan cukup tentang cara untuk mengimplementasikan kebijakan dan dalam penyesuaian lainnya yang terlibat dalam implementasi. Kewenangan untuk meyakinkan bahwa kebijakan ini dilakukan semuanya sebagaimana dimaksudkan dan berbagai fasilitas (termasuk bangunan, peralatan, tanah, dan persediaan) di dalamnya atau dengannya harus memberikan pelayanan. Sumberdaya yang tidak cukup akan berarti bahwa undang-undang tidak akan diberlakukan, pelayanan tidak akan diberikan dan peraturan-peraturan yang layak tidak akan dikembangkan.
3. Disposisi
melainkan juga mereka mesti berkehendak untuk melakukan suatu kebijakan. Para implementor kebanyakan bisa melakukan seleksi yang layak di dalam implementasi kebijakan. Salah satu dari berbagai alasan untuk ini adalah indenpendensinya dari atasan (superior) nominal yang merumuskan kebijakan. Alasan lain adalah kompleksitas dari kebijakan mereka sendiri. Cara dimana para implementor ini melakukan seleksinya, bagaimanapun juga, bergantung sebagian besar pada disposisinya terhadap kebijakan. Sikap-sikapnya pada gilirannya, akan dipengaruhi oleh berbagai pandangannya terhadap kebijakan masing-masing dan dengan cara apa mereka melihat kebijakan yang mempengaruhi kepentingan organisasional dan pribadinya.
Para implementor tidak selalu siap untuk mengimplementasikan kebijakan sebagaimana mereka para pembuat kebijakan. Konsekuensinya, para pembuat keputusan sering dihadapkan dengan tugas untuk mencoba untuk memanipulasi atau mengerjakan semua disposisi implementor atau untuk mengurangi opsi-opsinya.
4. Struktur Birokrasi
mensyaratkan kerjasama banyak orang, dan mungkin juga memboroskan sumberdaya langka, merintangi perubahan, menciptakan kekacauan, mengarah kepada kebijakan bekerja dalam lintas tujuan, dan menghasilkan fungsi-fungsi penting yang terabaikan.
Sebagaimana unit-unit organisasional menyelenggarakan kebijakan mereka mengembangkan prosedur pengoperasian standard (standart operating
procedure (SOP)) untuk menangani situasi rutin alam pola hubungan yang beraturan. Malangnya, SOP yang dirancang untuk kebijakan-kebijakan masa depan sering tidak tepat bagi kebijakan-kebijakan baru dan mungkin menyebabkan perintangan terhadap perubahan, penundaan, pemborosan, atau tindakan-tindakan yang diinginkan. SOP kadang merintangi bukan membantu implementasi kebijakan.26
Peneliti menggunakan teori ini dikarekan teori implementasi kebijakan berkaitan dengan kebijakan pengarusutaman gender. Bagaimana berjalnnya pelaksanaan ataupun penerapan kebijakan pengarusutamaan gender di Kabupaten Batu Bara akan dikaji melalui teori ini. Sehingga dapat dicapai hasil penelitian apakah suatu kebijakan pengarusutamaan gender di Kabupaten Batu Bara dilaksanakan secara baik atau tidak.
1.7. Metodologi Penelitian
1.7.1. Metode Peneitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan. Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya-upaya penting, seperti mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan prosedur-prosedur, mengumpulkan data yang spesifik dari para partisan, menganalisis data secara induktif mulai dari tema-tema yang khusus ke tema-tema yang umum, dan menafsirkan makna data.27
1.7.2. Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif. Jenis penilitian deskriptif adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan ihwal masalah atau objek tertentu secara rinci. Penelitian deskriptif dilakukan untuk menjawab sebuah atau beberapa pertanyaan mengenai keadaan objek atau subjek amatan secara rinci.28
27 John W. Creswell. 2012. Research Design. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. hal. 4
28Bagong Suyanto dan Sutinah. 2005. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta:
1.7.3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Kecamatan Lima Puluh yang merupakan lokasi Dinas Kesehatan dan Kantor DPRD Kabupaten Batu Bara yang berjarak 121,4 km dari Kota Medan, ibukota Provinsi Sumatera Utara. Berjarak 129 km dari Desa Gambus Laut Kecamatan Lima Puluh yang merupakan lokasi Dinas Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga Berencana, Dinas Pendidikan dan BAPPEDA Kabupaten Batu Bara. Berjarak 119 km dari Desa Kuala Tanjung Kecamatan Sei Suka yang merupakan lokasi Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Batu Bara.
1.7.4. Tekhnik Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder;
a. Data primer, yaitu data yang langsung diperoleh dari sumber data pertama di lokasi penelitian atau objek penelitian.29 Dalam penelitian ini yang digunakan adalah pengumpulan data dengan teknik wawancara. Wawancara adalah alat yang dipergunakan dalam komunikasi yang berbentuk sejumlah pertanyaan lisan yang diajukan oleh pengumpul data sebagai pencari informasi yang dijawab secara lisan pula oleh informan. Dengan kata lain, wawancara secara sederhana adalah alat pengumpul data berupa tanya jawab antara pihak pencari informasi dengan sumber
informasi yang berlangsung secara lisan.30 Dalam wawancara peneliti menentukan key informan, adapun yang menjadi key informan dalam penelitian ini berjumlah 6 (enam) orang, yaitu:
1. Bapak Rubi Siboro selaku Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Batubara.
2. Ibu Darmawati, S.Pd selaku Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Batu Bara.
3. Bapak H. Sailan Nasution selaku Pelaksana Tugas Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Batu Bara.
4. Bapak Darwis, S.Pd selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Batubara.
5. Bapak Parlindungan Gultom selaku Kepala Tata Usaha Dinas Kesehatan Kabupaten Batu Bara.
6. Bapak Amat Mumthaz selaku Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Batu Bara
b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh peneliti dari sumber kedua atau data yang sudah ada. Data tersebut dapat diperoleh melalui buku, jurnal, internet, ataupun literatur lain yang berkaitan dengan judul penelitian.
1.7.5. Teknik Analisa Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data kualitatif yaitu menguraikan serta menginterpretasikan data yang diperoleh di lapangan dari para key informan. Penganalisaan ini didasarkan pada kemampuan nalar dalam menghubungkan data, fakta, informasi kemudian data yang diperoleh akan dianalisa sehingga diharapkan muncul gambaran yang dapat mengungkapkan permaslahan penelitian. Jadi, teknik analisa data kualitatif yaitu dengan menyajikan data dengan melakukan analisa terhadap masalah yang ditemukan di lapangan, sehingga diperoleh gambaran yang jelas tentang objek yang diteliti kemudian menarik kesimpulan.31 Harapannya dari data dan informasi yang diperoleh sebelumnya untk dapat menganalisa dan memberikan gambaran tentang mengapa dalam mengimplementasikan kebijakan pengarusutamaan gender di Kabupaten Batu Bara tidak berjalan sesuai harapan.
1.8. Sistematika Penulisan
Bab I: Pendahuluan
Bab ini terdiri dari latar belakang masalah, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II: Profil Kabupaten Batubara dan Kebijakan Pengarusutamaan
Gender
Bab ini akan menjelaskan mengenai profil Kabupaten Batubara, wilayah geografis, gambaran kependudukan dan kebijakan-kebijakan yang berbasis pengarusutamaan gender.
Bab III: Implementasi Kebijakan Pengarusutamaan Gender di
Kabupaten Batubara
Bab ini berisi penyajian data dan analisis data yang diperoleh dari lapangan mengenai upaya pemerintah dalam mengimplementasikan kebijakan pengarusutamaan gender di Kabupaten Batubara, serta menganalisis hasil kebijakan Pengarusutamaan Gender terhadap kesetaraan gender di Kabupaten Batubara.
Bab IV: Penutup