• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH LAYANAN DISKUSI KELOMPOK TERHADAP PENINGKATAN PERILAKU PROSOSIAL SISWA (STUDI KASUS di SMP NEGERI 4 PALU) Irsan 1 Abdul Munir 2 Munifah 3

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH LAYANAN DISKUSI KELOMPOK TERHADAP PENINGKATAN PERILAKU PROSOSIAL SISWA (STUDI KASUS di SMP NEGERI 4 PALU) Irsan 1 Abdul Munir 2 Munifah 3"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Irsan dkk | 29 PENGARUH LAYANAN DISKUSI KELOMPOK TERHADAP PENINGKATAN

PERILAKU PROSOSIAL SISWA (STUDI KASUS di SMP NEGERI 4 PALU)

Irsan1 Abdul Munir 2

Munifah3

Program Studi Bimbingan dan Konseling

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako

ABSTRAK

Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah tingkat perilaku prososial siswa sesudah diberikan layanan diskusi kelompok lebih tinggi dibandingkan sebelum diberikan layanan diskusi kelompok. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan keefektifan layanan diskusi kelompok dalam meningkatkan perilaku prososial siswa. Subjek penelitian ini berjumlah 7 orang. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah angket. Data diolah dan dianalisis secara deskriptif dan inferensial dengan menggunakan rumus wilcoxon sign rank test. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebelum mengikuti layanan diskusi kelompok, siswa MU, MR, dan VS memiliki perilaku prososial yang sangat rendah dan siswa AR, MI, MA, dan IN memiliki perilaku prososial yang rendah. Sesudah mengikuti layanan diskusi kelompok, terjadi peningkatan perilaku prososial yaitu siswa MR memiliki perilaku prososial yang sangat rendah, siswa AR memiliki perilaku prososial yang rendah, siswa MU, MA, IN, dan VS memiliki perilaku prosoial yang tinggi, dan siswa MI memiliki perilaku prososial yang sangat tinggi. Hasil analisis inferensial menunjukan bahwa perilaku prososial siswa SMP Negeri 4 Palu sesudah mengikuti layanan diskusi kelompok lebih tinggi dibandingkan sebelum mengikuti layanan diskusi kelompok.

Kata Kunci : Diskusi Kelompok, Perilaku Prososial.

PENDAHULUAN

1 Prodi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Tadulako

(2)

Irsan dkk | 30 Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan, sehingga mutlak dibutuhkan di sekolah. Pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah secara umum bertujuan untuk membantu siswa mengenal dan menerima lingkungannya secara positif serta mampu mengambil keputusan. Layanan bimbingan dan konseling di sekolah bertujuan untuk membantu siswa agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangan yang meliputi aspek pribadi, sosial, belajar dan karier. Perkembangan siswa tidak terlepas dari pengaruh lingkunagn sosial, sehingga proses perkembangan tidak selalu berjalan lurus, mulus, atau steril dari masalah.

Seiring berjalannya waktu, kepedulian siswa terhadap lingkungannya mulai berkurang. Siswa lebih mementingkan kesenangan untuk diri sendiri tanpa memikirkan lingkungan sekitar. Hal ini yang menyebabkan dia menjadi makhluk yang individual. Ada beberapa faktor yang menyebabkan siswa menjadi makhluk individual yang kurang peka dengan lingkungan sekitar yaitu kurangnya rasa empati terhadap sesama, egoisme, serta kurangnya tolong menolong. Siswa harus menjaga hubungan sosial dengan orang lain.

Salah satu cara untuk menjaga hubungan baik ini adalah dengan perilaku prososial.

Perilaku prososial ini merupakan perilaku yang bertujuan untuk menolong maupun meningkatkan kesejahteraan orang lain. Selain itu dengan memiliki perilaku prososial yang baik siswa dapat menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Kurangnya perilaku prososial siswa akan berdampak pada kehidupan sosial siswa yang kurang baik bahkan dapat meningkatkan kenakalan remaja.

Hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan guru bimbingan dan konseling diperoleh informasi bahwa, ada 7 siswa kelas VIII yang tidak menunjukan perilaku prososial, diantaranya siswa dengan inisial MU dan MR yang kurang peduli dengan teman misalnya saat ada teman bingung mencari barangnya yang tercecer meskipun dia tau dibiarkan begitu saja, kemudian jika ada teman bertengkar mereka cuek tidak mau melerai pertengkaran tersebut. tidak mau berbagi buku paket dengan teman, jika mereka meminjamkan buku paket harus diberikan jawaban soal. Selanjutnya siswa dengan inisial AR, MA, dan MI, perilaku yang ditunjukan yaitu kurang berpartisipasi di waktu kegiatan kerja bakti, bahkan saling mengajak untuk menghindari kegiatan tersebut, tidak mau ikut bekerjasama jika ada tugas kelompok, tidak suka membantu teman yang bukan satu genk seperti jika ada teman yang lain bertanya tentang pelajaran yang kurang dimengerti, mereka tidak akan menjawabnya meskipun mereka tahu.

(3)

Irsan dkk | 31 Selanjutnya siswa dengan inisial IN dan VS, perilaku yang ditunjukan yaitu menolong selalu mengharapkan imbalan, jika ada teman menitipkan sesuatu, mereka selalu meminta imbalan, tidak peduli saat teman mendapat masalah, sering mengelak jika melakukan kesalahan, dan sering menyontek ketika diberikan tugas. Kejadian seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut dan harus segera mendapat penanganan, karena mengingat perilaku prososial sangat menentukan keberhasilan siswa dalam hubungan sosial, maka perlu diupayakan pemberian bantuan kepada siswa dalam rangka meningkatkan perilaku prososialnya. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah dengan pemberian layanan diskusi kelompok. Tujuan layanan diskusi kelompok adalah agar anggota kelompok dapat berlatih mengemukakan perasaan, ide, pendapat, dan menambah kepercayaan diri anggota kelompok. Dalam layanan diskusi kelompok terdapat dinamika kelompok. Dinamika kelompok merupakan jiwa yang menghidupkan dan menghidupi suatu kelompok. Melalui dinamika kelompok yang intensif, pembahasan topik-topik secara mendalam akan mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan, keaktifan dan sikap siswa.

Diskusi kelompok merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling untuk membantu siswa memecahkan masalah-masalah sosialnya.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada dasarnya pendekatan kuantitatif dilakukan pada penelitian inferensial (dalam rangka pengujian hipotesis).

Penelitian ini termasuk penelitan kuantitatif karena menekankan pada analisis data numerikal (angka) yang diolah dengan metode statistika”.

Jenis penelitian ini adalah penelitian quasi experiment research yang akan mengkaji mengenai pengaruh layanan diskusi kelompok terhadap peningkatan perilaku prososial siswa di SMP Negeri 4 Palu.

Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan One Group Pretest-Posttest Design yang bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh layanan diskusi kelompok terhadap perilaku prososial siswa SMP Negeri 4 Palu.

Subjek dalam penelitian ini adalah 7 orang siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Palu yang memiliki perilaku prososial rendah di sekolah. Siswa tersebut terdaftar pada tahun pelajaran

(4)

Irsan dkk | 32 2016/2017. Adapun perilaku prososial rendah yang dilakukan oleh 7 siswa ini yaitu tidak mau berbagi, kurang empati, tidak bekerjasama, tidak jujur, dan kurang menolong.

Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini yaitu teknik angket, dan teknik dokumentasi. Teknik angket dilakukan dengan cara mengumpulkan data tentang perilaku prososial siswa, hal ini dilakukan sebanyak dua kali. Pertama, diberikan kepada siswa sebelum mengikuti layanan diskusi kelompok. Kedua, pemberian angket sesudah mengikuti layanan diskusi kelompok. Sebelum pemberian angket, terlebih dahulu peneliti menjelaskan maksud dan tujuan dari pemberian angket tersebut dan menjelaskan cara pengisian angket. Setelah angket selesai diisi, kemudian angket dikumpul oleh peneliti untuk selanjutnya diolah dan dianalisis. Selanjutnya teknik dokumentasi dalam penelitian ini digunakan sebagai teknik penunjang untuk memperoleh sejumlah informasi atau data yang berbentuk catatan atau dokumentasi siswa.

HASIL PENELITIAN

Hasil analisis deskripsi tentang perilaku prososial siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Palu sebelum mengikuti layanan diskusi kelompok, dapat diuraikan pada tabel 1 berikut :

Tabel 1 Klasifikasi dan Persentase Perilaku Prososial Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Palu Sebelum Mengikuti Layanan Diskusi Kelompok.

No. Subjek Skor Persentase (%)

Klasifikasi Perilaku Menyimpang

1. MU 17 37,78 Sangat Rendah

2. MR 11 24,44 Sangat Rendah

3. AR 22 48,89 Rendah

4. MI 25 55,5 Rendah

5. MA 22 48,89 Rendah

6. IN 21 46,67 Rendah

7 VS 17 37,78 Sangat Rendah

Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa dari 7 siswa yang menjadi subjek penelitian, terdapat 3 siswa yaitu MU, MR dan VS memiliki perilaku prososial yang sangat rendah, MU dan VS memilki skor yang sama yaitu 17 sementara MR memiliki skor 11. Selanjutnya terdapat 4 siswa yang memilki perilaku prososial rendah, yaitu siswa AR dengan skor 22, siswa MI dengan skor 25, siswa MA dengan skor 22 dan siswa IN dengan skor 21.

(5)

Irsan dkk | 33 Hasil Analisis Deskriptif Sesudah Mengikuti LDK

Hasil analisis deskripsi tentang perilaku prososial siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Palu sesudah mengikuti layanan diskusi kelompok, dapat diuraikan pada tabel 2 berikut :

Tabel 2 Klasifikasi dan Persentase Perilaku Prososial Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Palu Sesudah Mengikuti Layanan Diskusi Kelompok.

Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa dari 7 siswa yang menjadi subjek penelitian terdapat 1 siswa yang memiliki perilaku prososial yang sangat rendah, yaitu siswa MR dengan skor 17. Kemudian terdapat 1 siswa yang memiliki perilaku prososial yang rendah, yaitu siswa AR dengan skor 25. Selanjutnya terdapat 4 siswa yang memiliki perilaku prososial yang tinggi, yaitu siswa MU dengan skor 27, siswa MA dengan skor 29, siswa IN dengan skor 30, dan siswa VS dengan skor 28. Selanjutnya terdapat 1 siswa yang memiliki perilaku prososial yang sangat tinggi, yaitu siswa MI dengan skor 36.

Deskripsi Peningkatan Perilaku Prososial Siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Palu Sebelum dan Sesudah Mengikuti Layanan Diskusi Kelompok.

Peningkatan perilaku prososial siswa sebelum dan sesudah mengikuti layanan diskusi kelompok pada siswa, dapat dilihat pada tabel 3 berikut :

Tabel 3 Klasifikasi Perilaku Prososial Siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Palu Sebelum dan Sesudah Mengikuti Layanan Diskusi Kelompok (LDK)

No. Konseli Klasifikasi Sebelum Mengikuti LDK

Klasifikasi Sesudah Mengikuti LDK

Keterangan

1 MU Sangat Rendah Tinggi Meningkat

2 MR Sangat Rendah Sangat Rendah Tetap

3 AR Rendah Rendah Tetap

No. Subjek Skor Persentase (%)

Klasifikasi Perilaku Menyimpang

1. MU 27 60 Tinggi

2. MR 17 37,78 Sangat Rendah

3. AR 25 55,56 Rendah

4. MI 36 80 Sangat tinggi

5. MA 29 64,44 Tinggi

6. IN 30 66,67 Tinggi

7 VS 28 62,22 Tinggi

(6)

Irsan dkk | 34

4 MI Rendah Sangat Tinggi Meningkat

5 MA Rendah Tinggi Meningkat

6 IN Rendah Tinggi Meningkat

7 VS Sangat Rendah Tinggi Meningkat

Keterangan:

LDK = Layanan Diskusi Kelompok

Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa peningkatan perilaku prososial siswa sebelum dan sesudah mengikuti layanan diskusi kelompok terdapat 2 siswa yang mengalami peningkatan perilaku prososial dari klasifikasi sangat rendah menjadi tinggi yaitu siswa MU dan VS. Kemudian ada 2 siswa yang mengalami peningkatan perilaku prososial sesudah mengikuti diskusi kelompok dari klasifikasi rendah menjadi tinggi yaitu siswa MA dan IN.

Kemudian terdapat 1 siswa yang mengalami peningkatan perilaku prososial dari klasifikasi rendah menjadi sangat tinggi yaitu siswa MI. Selanjutnya ada 2 siswa yang tidak mengalami peningkatan perilaku prososial sesudah mengikuti layanan diskusi kelompok yaitu siswa MR yang tetap berada pada klasifikasi sangat rendah dan siswa AR yang juga tetap berada pada klasifikasi rendah. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian layanan diskusi kelompok efektif dalam meningkatkan perilaku prososial siswa.

Pengujian hipotesis dilakukan melalui analisis secara statistik dengan menggunakan rumus wilcoxon sign rank test. Perhitungan analisis tersebut menggunakan tabel persiapan T wilcoxon menunjukkan nilai T wilcoxon = 0, sedangkan nilai untuk N = 7 dengan taraf kepercayaan 95% (α = 0,05), diperoleh nilai tabel T wilcoxon = 4, berdasarkan nilai tersebut menunjukkan bahwa nilai T hitung < nilai tabel T wilcoxon, atau 0 < 4. Dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol (Ho) yang berbunyi perilaku prososial siswa SMP Negeri 4 Palu sesudah mengikuti layanan diskusi kelompok tidak lebih tinggi dibandingkan sebelum mengikuti layanan diskusi kelompok ternyata ditolak.

Berdasarkan hasil yang menyatakan nilai Thitung lebih besar dari nilai Ttabel, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku prososial siswa SMP Negeri 4 Palu sesudah mengikuti layanan diskusi kelompok lebih tinggi dibandingkan sebelum mengikuti layanan diskusi kelompok.

PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku prososial siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Palu, sebelum mengikuti layanan diskusi kelompok yaitu ada 3 siswa (AR, MA, dan MI) yang memiliki perilaku prososial yang sangat rendah, kemudian ada 4 siswa (VS, IN, MU,

(7)

Irsan dkk | 35 dan MR) yang memiliki perilaku prososial yang rendah, dan tidak ada siwa yang memiliki perilaku prososial yang tinggi dan sangat tinggi.

Lebih jelasnya dapat dilihat dari hasil analisis deskriptif perilaku prososial siswa sebelum mengikuti layanan diskusi kelompok, dari 7 siswa yang menjadi subjek penelitian ada 3 siswa memiliki perilaku prososial yang sangat rendah yaitu (MU, MR, dan VS) ada 4 siswa memiliki perilaku prososial yang rendah yaitu (AR, MI, MA, dan IN) dan tidak ada siswa yang memiliki prososial tinggi dan sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku prososial siswa di SMP Negeri 4 Palu masih rendah. Oleh karena itu diperlukan penanganan yang tepat guna meningkatkan perilaku prososial siswa, dan salah satunya melalui pemberian layanan diskusi kelompok.

Hasil analisis inferensial memberikan gambaran yang jelas mengenai peningkatan perilaku prososial siswa di sekolah sesudah diberikan layanan diskusi kelompok. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan rata-rata skor perilaku prososial siswa sebelum diberikan layanan diskusi kelompok yaitu 19,29 sedangkan sesudah diberikan layanan diskusi kelompok rata-rata skor perilaku prososial siswa berubah menjadi 27,43. Artinya selisih rata- rata antara perilaku prososial siswa sebelum dan sesudah diberikan layanan diskusi kelompok yaitu 8,14. Kemudian, peningkatan perilaku prososial siswa sebelum dan sesudah diberikan layanan diskusi kelompok adalah 71,42%. Peningkatan tersebut terjadi dikarenakan siswa turut berperan aktif dalam pelaksanaan layanan diskusi kelompok serta mendengarkan dan memperhatikan apa yang disampaikan oleh teman dan peneliti.

Berdasarkan perbandingan antara hasil angket sebelum dan hasil angket sesudah, perilaku prososial siswa mengalami peningkatan sesudah mengikuti layanan diskusi kelompok. Hal tersebut dilihat dari hasil analisis angket siswa. Siswa yang mengalami peningkatan perilaku prososial dari rendah menjadi sangat tinggi sesudah mengikuti layanan diskusi kelompok adalah siswa nomor 4 (MI). Perubahan yang terjadi pada siswa tersebut yaitu dengan mengalami peningkatan frekuensi yang terdapat pada beberapa pernyataan angket diantaranya item nomor 1 yang menyatakan tidak peduli saat ada teman sedang bingung mencari sesuatu. Jawaban pernyataan siswa sebelumnya adalah kadang-kadang, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi tidak pernah. kemudian item nomor 6 yang menyatakan peduli terhadap teman yang sedang kesusahan walaupun bukan teman dekatnya. Jawaban pernyataan siswa sebelumnya adalah kadang-kadang, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi tidak pernah. Pada item nomor 8 yang menyatakan

(8)

Irsan dkk | 36 membantu teman yang kemampuannya kurang dalam mata pelajaran tertentu. Jawaban pernyataan siswa sebelumnya adalah tidak pernah, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi kadang-kadang, pada item nomor 10 yang menyatakan mengajak teman menghindari kegiatan kerja bakti. Jawaban pernyataan siswa sebelumnya adalah sering, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi tidak pernah, pada item nomor 11 yang menyatakan menolong teman jika diberikan imbalan atau hadiah pernyataan siswa sebelumnya adalah sering namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi kadang-kadang, pada item nomor 12 yang menyatakan tidak peduli jika ada teman yang mendapat masalah. Jawaban pernyataan siswa sebelumnya adalah kadang-kadang namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi tidak pernah, pada item nomor 13 yang menyatakan tidak bersedia bekerjasama dengan teman yang kemampuannya kurang jawaban siswa sebelumnya adalah kadang-kadang, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi tidak pernah, dan pada item nomor 15 yang menyatakan menyontek jika diberikan tugas jawaban siswa sebelumnya adalah sering namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi tidak pernah.

Siswa yang mengalami peningkatan perilaku prososial dari sangat rendah menjadi tinggi, sesudah mengikuti layanan diskusi kelompok adalah siswa nomor 1 (MU). Perubahan yang terjadi pada siswa tersebut yaitu dengan mengalami peningkatan frekuensi yang terdapat pada beberapa pernyataan angket diantaranya item nomor 4 yang menyatakan ikut berpartisipasi dalam setiap kegiatan kerja bakti. Jawaban pernyataan siswa sebelumnya adalah kadang-kadang, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi sering, pada item nomor 5 yang menyatakan meminjamkan buku kepada teman jika diberikan jawaban soal yang ditugaskan. Jawaban pernyataan siswa sebelumnya adalah selalu, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi kadang-kadang. Pada item nomor 9 yang menyatakan bekerjasama dengan teman jika ada tugas kelompok. Jawaban pernyataan sebelumnya adalah tidak pernah, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi sering. Pada item nomor 11 yang menyatakan menolong teman jika diberikan imbalan atau hadiah. Jawaban pernyataan sebelumnya adalah selalu, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi kadang-kadang. Pada item nomor 13 yang menyatakan tidak bersedia

(9)

Irsan dkk | 37 bekerjasama dengan teman yang kemampuannya kurang. Jawaban pernyataan sebelumnya selalu, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi sering. Selanjutnya pada item nomor 15 yang menyatakan menyontek ketika jika diberikan tugas. Jawaban pernyataan sebelumnya adalah sering, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi tidak pernah.

Selanjutnya siswa nomor 7 (VS), perubahan yang terjadi padasiswa tersebut yaitu dengan mengalami peningkatan frekuensi yang terdapat pada beberapa pernyataan angket diantaranya item nomor 2 yang menyatakan melerai saat ada pertengkaran dilingkungan sekolah. Jawaban pernyataan sebelumnya adalah tidak pernah, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi sering. Pada item nomor 4 yang menyatakan ikut berpartisipasi dalam setiap kegiatan kerja bakti. Jawaban pernyataan sebelumnya adalah kadang-kadang, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi selalu. Pada item nomor 8 yang menyatakan membantu teman yang kemampuannya kurang dalam mata pelajaran tertentu.

Jawaban pernyataan sebelumnya adalah tidak pernah, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi sering. Pada item nomor 10 yang menyatakan mengajak teman menghindari kegiatan kerja bakti. Jawaban pernyataan sebelumnya adalah sering, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi tidak pernah. Pada item nomor 13 yang menyatakan tidak bersedia bekerjasama dengan teman yang kemampuannya kurang. Jawaban pernyataan sebelumnya adalah sering, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi kadang-kadang. Kemudian pada item nomor 14 yang menyatakan takut berkata jujur apabila melakukan kesalahan. Jawaban sebelumnya adalah selalu, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi sering.

Selanjutnya siswa yang mengalami peningkatan perilaku prososial dari rendah menjadi tinggi, sesudah mengikuti layanan diskusi kelompok adalah siswa nomor 5 (MA). Perubahan yang terjadi padasiswa tersebut yaitu dengan mengalami peningkatan frekuensi yang terdapat pada beberapa pernyataan angket diantaranya item nomor 3 yang menyatakan rela berbagi buku paket dengan teman, saat teman tidak membawa buku paketnya. Jawaban pernyataan sebelumnya adalah sering, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi selalu. Pada item nomor 4 yang menyatakan ikut berpartisipasi dalam kegiatan kerja bakti. Jawaban pernyataan sebelunya adalah tidak pernah,

(10)

Irsan dkk | 38 namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi sering. Pada item nomor 6 yang menyatakan peduli terhadap teman yang sedang kesusahan walaupun bukan teman dekatnya. Jawaban pernyataan sebelumnya adalah kadang- kadang, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi sering. Kemudian pada item nomor 8 yang menyatakan membantu teman yang kemampuannya kurang dalam mata pelajaran tertentu. Jawaban pernyataan sebelumnya adalah tidak pernah, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi selalu. Selanjutnya siswa nomor 6 (IN). Perubahan yang terjadi pada siswa tersebut yaitu dengan mengalami peningkatan frekuensi yang terdapat pada beberapa pernyataan angket diantaranya item nomor 1 yang menyatakan tidak peduli saat ada teman sedang bingung mencari sesuatu. Jawaban pernyataan sebelumnya adalah kadang-kadang, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi tidak pernah. Pada item nomor 6 yang menyatakan peduli terhadap teman yang sedang kesusahan walaupu bukan teman dekatnya. Jawaban pernyataan sebelumnya adalah tidak pernah, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi sering. Pada item nomor 8 yang menyatakan membantu teman yang kemampuannya kurang dalam mata pelajaran tertentu. Jawaban pernyataan sebelumnya adalah tidak pernah, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi kadang-kadang. Pada item nomor 11 yang menyatakan menolong teman jika diberikan imbalan atau hadiah. Jawaban pernyataan sebelumnya adalah tidak pernah, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi kadang-kadang. Pada item nomor 12 yang menyatakan tidak peduli jika ada teman yang mendapat masalah. Jawaban pernyataan sebelumnya adalah kadang-kadang, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi tidak pernah. Pada item nomor 13 yang menyatakan tidak bersedia bekerjasama dengan teman yang kemampuannya kurang. Jawaban pernyataan sebelumnya adalah kadang- kadang, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi tidak pernah. Kemudian pada item nomor 15 yang menyatakan menyontek jika diberikan tugas. Jawaban sebelumnya adalah sering, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi tidak pernah.

Ada pula siswa yang tidak mengalami peningkatan pada klasifikasi perilaku prososial, yaitu siswa yang memiliki perilaku prososial yang sangat rendah. Siswa yang tidak mengalami peningkatan perilaku prososial adalah siswa nomor 2 (MR). Siswa tersebut

(11)

Irsan dkk | 39 mengalami peningkatan frekuensi pada item nomor 3 yang menyatakan rela berbagi buku paket dengan teman, saat teman tidak membawa buku paketnya. Jawaban pernyataan siswa sebelumnya adalah tidak pernah, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi kadang-kadang. Pada item nomor 10 yang menyatakan mengajak teman menghindari kegiatan kerja bakti. Jawaban pernyataan siswa sebelumnya adalah selalu, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi kadang-kadang. Pada item nomor 11 menolong teman jika diberikan imbalan. Jawaban pernyataan sebelumnya adalah selalu, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi kadang-kadang. Pada item nomor 12 yang menyatakan tidak peduli jika ada teman yang mendapat masalah.

Jawaban siswa sebelumnya adalah selalu, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi sering. Selanjutnya item nomor 14 yang menyatakan takut berkata jujur apabila melakukan kesalahan. Jawaban pernyataan sebelumnya adalah selalu, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi sering. Siswa MR tidak mengalami peningkatan perilaku prososial, bukan karena siswa tidak mengalami peningkatan perilaku prososial akan tetapi perubahan tersebut dapat dilihat dari peningkatan frekuensi di beberapa item instrumen. Jika semua skor item dijumlahkan kemudian dicocokkan dengan pedoman klasifikasi perilaku prososial, maka siswa tersebut tetap berada dalam klasifikasi perilaku prososial yang sangat rendah.

Selanjutnya terdapat siswa yang memiliki perilaku prososial yang rendah dan tidak mengalami peningkatan perilaku prososial adalah siswa nomor 3 (AR). Siswa AR mengalami peningkatan frekuensi diantaranya pada item nomor 3 yang rela berbagi buku paket dengan teman, saat teman tidak membawa buku paketnya. Jawaban pernyataan siswa sebelumnya adalah kadang-kadang, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi sering. Pada item nomor cuek ketika ada teman yang bertanya kepadanya. Jawaban pernyataan siswa sebelumnya adalah sering, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi kadang- kadang. Kemudian pada item nomor 11 yang menyatakan menolong teman jika diberi imbalan. Jawaban pernyataan siswa sebelumnya adalah sering, namun sesudah diberikan layanan diskusi kelompok jawaban pernyataan siswa berubah menjadi kadang-kadang. Siswa AR tidak mengalami peningkatan perilaku prososial, bukan karena siswa tidak mengalami peningkatan perilaku prososial akan tetapi perubahan tersebut dapat dilihat dari peningkatan

(12)

Irsan dkk | 40 frekuensi di beberapa item instrumen. Jika semua skor item dijumlahkan kemudian dicocokkan dengan pedoman klasifikasi perilaku prososial, maka siswa AR tetap berada dalam klasifikasi perilaku prososial yang rendah.

Siswa yang tidak mengalami peningkatan perilaku prososial membutuhkan penanganan lebih dari layanan ini, terutama pada siswa yang masih berada pada tingkat klasifikasi perilaku prososial yang sangat rendah dan rendah. Hal ini telah dikonsultasikan pada guru bimbingan dan konseling SMP Negeri 4 Palu, yang akan melaksanakan layanan konseling individual sebagai tindak lanjut dalam mencari dan mendapatkan alternatif pemecahan permasalahan yang dihadapi oleh siswa tersebut.

Siswa mengalami peningkatan perilaku prososial dikarenakan adanya kesediaan siswa untuk mengikuti setiap sesi layanan diskusi dengan penuh perhatian dan antusias. Selain itu, adanya dinamika kelompok yang baik juga membuat terjalin interaksi yang baik antar sesama anggota kelompok, sehingga masalah perilaku prososial yang dialami siswa dapat menemukan alternatif untuk pemecahan masalah.

Uraian diatas diperkuat pula oleh pendapat Bloom (dalam Romlah 1989:89) yang mengemukakan bahwa:

Diskusi kelompok merupakan usaha bersama untuk memecahkan masalah, yang didasarkan pada sejumlah data, bahan-bahan, pengalaman-pengalaman, dimana masalah ditinjau selengkap dan sedalam mungkin”. Secara ideal pemimpin kelompok membantu kelompok untuk memusatkan perhatian pada masalah umum yang dihadapi, membantu meninjau masalah secara luas dan mendalam, membantu memberikan sumber-sumber yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah dan membantu kelompok bilamana masalah itu terpecahkan serta implikasi selanjutnya dari pemecahan tersebut.

Hasil penelitian yang telah dibahas di atas, dapat dilihat bahwa peningkatan perilaku prososial siswa di SMP Negeri 4 Palu sebelum dan sesudah mengikuti layanan diskusi kelompok adalah 71,42%, sehingga dapat dikatakan layanan diskusi kelompok efektif dalam meningkatkan perilaku prososial siswa di SMP Negeri 4 Palu.

Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Aidha N.H.P (2013) dengan judul “Penerapan Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Diskusi Kelompok Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas VIII D SMP Negeri 1 Ngariboyo”. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa penerapan bimbingan kelompok dengan teknik diskusi kelompok dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII D SMP Negeri 1

(13)

Irsan dkk | 41 Ngariboyo. Hal tersebut dapat diketahui dengan adanya peningkatan skor motivasi belajar siswa kelas VIII D SMP Negeri 1 Ngariboyo sebelum dan sesudah penerapan bimbingan kelompok dengan teknik diskusi kelompok.

Hasil penelitian ini sesuai juga dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nuraini (2013 ) dengan judul “Bimbingan Kelompok dengan Teknik Diskusi Buzz Group Untuk Meningkatkan Interaksi Sosial SiswaKelas VII SMP Negeri 1 Kertosono Tahun Ajaran2012/2013”. Hasil penelitiannya adalah penggunaan bimbingan kelompok teknik diskusi buzz group efektif untuk meningkatkan interaksi sosial siswa.

Selanjutnya hasil penelitian ini sesuai juga dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kusumaningrum, I (2014) dengan judul “Meningkatkan Perilaku Prososial Rendah Melalui Layanan Penguasaan Konten dengan Teknik Sosiodrama Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 21 Semarang Tahun Ajaran 2013/2014”. Hasil dari penelitiannya adalah layanan penguasaan konten dengan teknik sosiodrama dapat meningkatkan perilaku prososial siswa.

Berdasarkan analisis deskriptif dan inferensial dapat dilihat bahwa perilaku prososial siswa lebih tinggi setelah mengikuti layanan diskusi kelompok. Hal tersebut menunjukkan bahwa diskusi kelompok efektif dalam meningkatkan perilaku prososial siswa di SMP Negeri 4 Palu.

PENUTUP Kesimpulan

1) Perilaku prososial siswa SMP Negeri 4 Palu sebelum diberikan layanan diskusi kelompok, dari 7 siswa yang menjadi subjek penelitian ada 3 siswa yang memiliki perilaku prososial yang sangat rendah yaitu MU, MR, dan VS dan 4 siswa yang memiliki perilaku prososial yang rendah yaitu AR, MI, MA dan IN.

2) Perilaku prososial siswa SMP Negeri 4 Palu sesudah diberikan layanan diskusi kelompok, dari 7 siswa yang menjadi subjek penelitian ada 1 siswa yang memiliki perilaku prososial yang sangat rendah yaitu MR, dan 1 siswa yang memiliki perilaku prososial yang rendah yaitu AR. Selanjutnya ada 4 siswa yang memiliki perilaku prososial yang tinggi yaitu MU, MA, IN dan VS dan 1 siswa yang memiliki perilaku prososial yang sangat tinggi yaitu MI.

3) Perilaku prososial siswa SMP Negeri 4 Palu sesudah mengikuti layanan diskusi kelompok lebih tinggi dibandingkan sebelum mengikuti layanan diskusi kelompok.

(14)

Irsan dkk | 42 Saran

1) Bagi kepala sekolah diharapkan selalu mendukung dan memfasilitasi guru bimbingan dan konseling dalam melaksanakan segala bentuk kegiatan bimbingan, terkait dengan masalah-masalah yang dialami oleh siswa di sekolah agar proses bimbingan dapat terlaksana dengan baik.

2) Bagi guru bimbingan dan konseling di sekolah agar menindak lanjuti siswa nomor 2, dan 3 karena perilaku prososial siswa tersebut masih berada pada klasifikasi sangat rendah dan rendah. Diharapkan agar guru pembimbing melaksanakan layanan konseling individual untuk mendalami masalah dari kedua siswa tersebut sehingga perilaku prososial mereka mengalami peningkatan.

3) Bagi siswa SMP Negeri 4 Palu yang telah mengalami peningkatan perilaku prososial agar terus dapat menjaga perilaku positifnya sehingga dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya.

4) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya lebih mengembangkan penelitian mengenai layanan diskusi kelompok dengan variabel yang berbeda.

(15)

Irsan dkk | 43 DAFTAR PUSTAKA

Aidha, N.H.P. (2013). Penerapan Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Diskusi Kelompok Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas VIII D SMP Negeri 1 Ngariboyo.

[Online] Tersedia: [diakses 13 februari 2017].

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineke Cipta.

Anas, S. (2003). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Bahri, D.S. (2005). Strategi Belajar mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Dayaksini, T dan Hudania. (2009). Psikologi Sosial. Malang: UMM Press.

Desmita. (2012) Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Djarwanto. (1999). Statistik Nonparametrik. Yogyakarta: BPFE.

Kartono, K. (2008). Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta : PT Raja Grafindo.

Kusumaningrum, I. (2014). Meningkatkan Perilaku Prososial Rendah Melalui Layanan Penguasaan Konten Dengan Teknik Sosiodrama Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 21 Semarang Tahun Ajaran 2013/2014. Skripsi. UNNES.[online].

Tersedia:http://jurnal.upsgrismg.ac.id.[diakses 8 Januari 2017].

Niki, W.S. (2013). Teori perilaku prososial [Online].Tersedia:http://penjajahilmu.

blogspot.com. [diakses 5 Januari 2017].

Nuraini. (2013). Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Diskusi Buzz Group Untuk Meningkatkan Interaksi Sosial Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Kertosono Tahun Ajaran 2012/2013. Skripsi. UNESA. [online]. Tersedia: http://jurnal.fkip.unila.ac.id.

[diakses 5 Januari 2017].

Prayitno. (1995). Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Dasar dan Profil). Jakarta:

Ghalia Indonesia.

Purwanto, M.N. (2004). Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Romlah, (1989). Teori dan Praktek Konseling Kelompok. [online]. Tersedia:

http://jurnal.upsgrismg.ac.id.[diakses 8 Januari 2017].

Sears, D.O. et al. (2009). Psikologi Sosial Jilid 2. Penerjemah: Tri Wibowo, B.S Jakarta:

Kencana Prenada Media Group.

Sudijono, A. (2003). Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT. Radja Grafindo Persada.

Sukardi, D.K. (2002). Pengantar Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta:

PT Rineka Cipta.

(16)

Irsan dkk | 44 _____________ (2008). Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di

Sekolah. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Suryabrata, S. (2012). Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Thalib, M.M. (2007). Materi Diklat PLPG Bagi Guru Pembimbing. Palu: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 25 Sulawesi Tengah.

Tohirin. (2007). Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi).

Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Walgito, B. (2010). Bimbingan dan konseling studi dan karir. Yogyakarta: ANDI Zamzami, S. (2012). Perilaku Prososial. [online]. Tersedia: http://zamzamisabik.

blogspot.com. [diakses 8 Januari 2017].

Gambar

Tabel  1 Klasifikasi  dan  Persentase Perilaku Prososial  Siswa Kelas  VIII SMP Negeri 4 Palu  Sebelum Mengikuti Layanan Diskusi Kelompok
Tabel  2  Klasifikasi  dan  Persentase    Perilaku  Prososial  Siswa  Kelas  VIII  SMP  Negeri 4 Palu Sesudah Mengikuti Layanan Diskusi Kelompok

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan utama yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah: “ Untuk mengetahui apakah keaktifan siswa dalam diskusi kelompok dapat ditingkatkan melalui layanan

Permasalahan dalam penelitian ini adalah : Adakah pengaruh pemberian layanan bimbingan kelompok teknik diskusi untuk mengembangkan sikap berjiwa besar siswa saat

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah adakah pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan teknik diskusi terhadap peningkatan kemampuan aktualisasi diri siswa

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemberian layanan bimbingan kelompok teknik diskusi kelompok mempunyai pengaruh yang signifikan

Artinya terdapat pengaruh yang signifikan dari pelaksanaan layanan bimbingan kelompok teknik Diskusi terhadap pengembangan karakter jujur siswa dalam melaksanakan

“ Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Diskusi Kelompok Dalam Meningkatkan Kemampuan Konsentrasi Belauar Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Pollung T.A

Fenomena yang terjadi pada siswa kelas VIIIE SMP N 19 Semarang yaitu Pada saat siswa diberikan tugas untuk diskusi kelompok membahas suatu permasalahan dalam

Hendaknya mengikuti kegiatan layanan bimbingan kelompok untuk meningkatkan minat belajar, sebab dengan mengikuti layanan bimbingan kelompok di sekolah siswa