1
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
OLEH
MUH. SYAMSUL BAHRI NIM. 105330 6532 10
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2014
KEEFEKTIFAN TEKNIK LOTOV (LATIHAN OLAH TUBUH DAN OLAH VOKAL) DALAM PEMBELAJARAN DRAMATISASI PUISI SISWA KELAS XII SMA NEGERI 1 BAJENG KABUPATEN GOWA
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sastra adalah seni yang hidup bersama bahasa. Tanpa bahasa, sastra tak mungkin ada. Begitupun sebaliknya, tanpa sastra, bahasa tak mungkin terjaga.
Oleh karena itu pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah harus berintegrasi satu sama lain. Pembelajaran di kelas merupakan salah satu wadah untuk mengintegrasikan hal tersebut. Guru merupakan fasilitator siswa dalam mengintegrasikan bahasa dan sastra dengan kata lain memahamkan dan mengimplementasikan karya sastra yang merupakan seni bahasa. Sedangkan siswa harus bisa menjadi individu yang aktif belajar. Keterpaduan dua hal tersebut harus mengacu kepada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam hal ini pembelajaran sastra.
Karya sastra merupakan warisan budaya dari setiap penciptanya. Kita sebagai generasi penerus sudah seharusnya menjaga warisan tersebut dengan cara mengapresiasi karya sastra. Karya sastra sendiri memiliki ragam atau biasa disebut genre sastra. Genre sastra yang dipelajari di sekolah yaitu prosa, drama, dan puisi. Aftarueddin (Nurhadi, 2008) berpendapat bahwa puisi merupakan genre sastra yang lahir karena kecintaan penyair terhadap bahasa.
Puisi sebagai genre sastra, karya-karyanya mengandung nilai dan keindahan khas yang akan terungkap jika kita mampu memahaminya dengan baik dan benar. Puisi adalah bentuk karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias atau imajinatif (Waluyo, dalam Rimang 2011: 31).
1
2 Hal tersebut menegaskan bahwa puisi adalah karya sastra yang perlu dipahami secara mendalam walaupun hanya satu bait puisi kaya akan makna serta syarat dengan etika dan estetika. Memahami puisi sebagai karya sastra harus memiliki pengetahuan dan pengalaman bersastra. Pengetahuan diperoleh melalui pemahaman teoretis dan historis. Lalu pengalaman bersastra diperoleh melalui kegiatan berapresiasi dan berekspresi sastra. Dengan demikian, pengetahuan teoretis sangat dibutuhkan karena berperan dalam menjelaskan pengalaman khususnya pengalaman berapresiasi, agar pengajaran sastra tidak bersifat itu-itu saja atau biasa disebut pasif-verbalistik, tetapi ke arah dinamis-kreatif.
Pelaksanaan praktik mengapresiasi karya sastra di tingkat SMA boleh dikatakan langkah. Padahal, kegiatan jenis inilah yang dapat mewujudkan keterampilan dan kegemaran siswa terhadap apresiasi sastra. Kalaupun ada praktik, siswa yang dilibatkan utamanya untuk membaca puisi hanya orang-orang tertentu saja yaitu siswa yang mau dan berani. Akibatnya siswa yang lain akan kurang memahami pembacaan puisi, kurang tertarik, apalagi menikmati pembelajaran sastra.
Pembelajaran sastra utamanya pembelajaran puisi masih jauh dari harapan. Peneliti menemukan beberapa permasalahan dalam pengajaran baca puisi, ketika peneliti melaksanakan pengamatan di SMA Negeri 1 Bajeng. Peneliti menemukan, guru tidak mencontohkan kepada siswa cara mengapresiasikan sebuah puisi yang baik dan benar berdasarkan penghayatan, intonasi, ekspresi, dan artikulasi. Guru hanya menjelaskan teori-teori dari keempat unsur penilaian dalam puisi, tanpa adanya pemberian contoh.
Kebanyakan siswa merasa jenuh dengan penjelasan-penjelasan teoretik guru tentang sastra yang itu-itu saja disuguhkan. Materi atau bahan apresiasi yang diberikan kepada siswa hanya berkisar pengetahuan tentang pengertian, jenis
3 puisi, periodesasi sastra indonesia, nama-nama sastrawan, unsur-unsur karya sastra (intrinsik dan ekstrinsik) secara berulang. Hal ini tentu menyebabkan siswa menjadi bosan dengan pembelajaran tersebut. Tentunya hal ini bertolak belakang dari fungsi sastra yang menghibur dan menyenangkan.
Bentuk evaluasi yang dilakukan guru masih pada tataran teori dan kurang praktik atau bahkan belum sampai pada tataran praktik. Kalau itu yang terjadi, hasil pembelajaran membaca puisi yaitu siswa sekadar bisa membaca puisi tanpa mengerti makna, maksud, bahkan jiwa puisi yang dibaca. Hal ini juga mengakibatkan minat siswa menjadi berkurang dalam seni membacakan puisi dan merasa enggan untuk mengasah kemampuan bersastra, khususnya membaca puisi.
Usaha guru dalam membelajarkan keterampilan membaca puisi juga masih kurang memenuhi harapan. Metode yang digunakan gurupun masih sederhana dengan menggunakan metode ceramah dan evaluasi tertutup. Penilaian dilakukan secara tertutup yang hasilnya hanya diketahui oleh guru saja sehingga siswa tidak tahu seberapa jauh kekurangannya dalam mengapresiasi dan mengekspresikan puisi.
Menurut Noor, pembelajaran membaca puisi selama ini merupakan bentuk pembelajaran yang kurang apresiatif (Farida, 2013). Guru masih mengajarkan membaca puisi dan belum mengajarkan bagaimana membaca puisi.
Dengan demikian, pembelajaran membaca puisi dinilai masih kurang sesuai dengan tujuan pembelajaran sastra. Padahal puisi dapat diapresiasi dengan musikalisasi puisi, rampak puisi, serta dramatisasi puisi dan baca indah lainnya.
Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui kemampuan mengapresiasikan puisi siswa di SMA Negeri 1 Bajeng serta berusaha mengefektifkan pembelajaran tersebut melalui sebuah eksperimen.
4 Pembelajaran puisi dalam hal ini dramatisasi puisi, alasan peneliti menggambil pembelajaran dramatisasi puisi karena dramatisasi puisi atau mendramakan puisi hakikatnya adalah mendialogkan puisi. Ada penggabungan dua unsur seni di dalamnya yaitu seni baca puisi dan seni drama (Doyin, 2008). Hali ini berfungsi untuk menarik minat siswa serta mengembangkan kemampuan berekspresi (akting).
Qodratilah (2007) dalam KBI untuk pelajar mengemukakan, dramatisasi adalah (1) penyesuaian cerita untuk pertunjukan sandiwara atau pendramaan, (2) hal yang membuat suatu peristiwa menjadi mengesankan atau mengharukan.
Dapat ditarik benang merah dramatisasi puisi adalah proses apresiasi yang menggabungkan dua unsur genre sastra yaitu drama dan puisi. Karya puisi yang didramatisasikan harus memerhatikan banyak faktor dan melibatkan lebih dari satu orang. Faktor di sini antara lain penafsiran puisi dan unsur- unsur pertunjukan.
Namun di sekolah, dramatisasi puisi jarang dilakukan karena terbatasnya pengetahuan guru tentang teknik pengajarannya di sekolah. Teknik yang dapat digunakan dalam pembelajaran dramatisasi puisi, yakni dengan menerapkan teknik Lotov (Latihan olah tubuh dan olah vokal). Teknik Lotov merupakan teknik pembelajaran yang melatih para siswa dalam pengembangan diri, berpartisipasi dalam sistem sosial dan melalui pengalaman. Teknik ini merupakan bentuk pembelajaran yang mengombinasikan dinamika proses demokrasi dengan proses inquiri akademik.
Melalui proses latihan, siswa diberikan pengetahuan dalam persiapan diri serta persiapan pertunjukan. Dalam latihan ini menaungi dua garis besar aspek penampilan yaitu bahasa tubuh dan bahasa lisan serta mempersiapkan aspek-
5 aspek penampilan. Teknik latihan olah tubuh dan olah vokal sudah biasa dilakukan dalam latihan atau pembelajaran drama bahkan diiringi dengan olah sukma. Teknik lotov merupakan latihan dasar dalam mengolah performancy yang akan digunakan dalam pembelajaran dramatisasi puisi menjadi penting untuk dilakukan, agar pembelajaran membaca puisi di sekolah menjadi lebih efektif.
Oleh karena itu, penulis bermaksud melakukan penelitian dengan judul:
Keefektifan Teknik Lotov (Latihan olah tubuh dan olah vokal) dalam Pembelajaran Dramatisasi Puisi pada Siswa Kelas XII SMA Negeri 1 Bajengg Tahun Ajaran 2014/2015).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti merumuskan masalah penelitian yaitu, Adakah perbedaan yang signifikan kemampuan siswa kelas XII SMA Negeri 1 Bajeng sebelum dan sesudah mendapatkan teknik Lotov (Latihan olah tubuh dan olah vokal) dalam pembelajaran dramatisasi puisi?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan peneltian merupakan sasaran hasil yang ingin dicapai, adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu, untuk mengetahui perbedaan yang signifikan kemampuan dramatisasi puisi siswa kelas XII SMA Negeri 1 Bajeng tahun ajaran 2014/2015 sebelum dan sesudah mendapatkan teknik Lotov (Latihan olah tubuh dan olah vokal).
6 D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis maupun praktis sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
a. Penelitian ini dapat dijadikan landasan pengembangan pembelajaran baca puisi sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan seni baca puisi siswa yaitu dramatisasi puisi.
b. Memberikan teori dan pemahaman baru mengenai peran strategi atau teknik Lotov (Latihan olah tubuh dan olah vokal) yang dapat dijadikan pedoman dalam upaya pembelajaran apresiasi puisi, yakni dramatisasi puisi.
2. Manfaat Praktis a. Manfaat bagi penulis
1) Menambah pengalaman dan wawasan tentang pembelajaran puisi, khususnya dramatisasi puisi.
2) Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pedoman dalam upaya pembelajaran dramatisasi puisi teknik Lotov (Latihan olah tubuh dan olah vokal).
b. Manfaat bagi siswa
1) Memudahkan siswa dalam berlatih dan belajar mengapresiasi puisi dengan teknik Lotov (Latihan olah tubuh dan olah vokal).
2) Memberikan motivasi positif pada diri siswa selama proses pembelajaran, khususnya dramatisasi puisi sehingga siswa aktif dalam mengikuti pembelajaran.
7 3) Dengan menggunakan teknik Lotov (Latihan olah tubuh dan olah vokal)
dapat meningkatkan minat dan wawasan apresiasi puisi khusunya dramatisasi puisi.
c. Manfaat bagi guru
1) Upaya untuk menawarkan inovasi dalam pembelajaran dramatisai puisi.
2) Menciptakan pembelajaran inovatif dan menyenagkan sehingga dapat menarik perhatian sisiwa.
3) Sebagai strategi pembelajaran, yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan bahan pembelajaran pada masa yang akan datang.
4) Untuk menumbuhkan motivasi siswa dalam pembelajaran dramatisasi puisi.
5) Untuk meningkatkan prestasi seni baca puisi siswa utamanya dramatisasi puisi dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.
d. Manfaat bagi sekolah
1) Dapat menambah literatur hasil penelitian, dalam memperkaya perpustakaan sekolah.
2) Dapat dijadikan dasar pembinaan bagi para siswa dan guru dalam pembelajaran apresiasi puisi khususnya dramatisasi puisi.
3) Mendorong guru lain untuk menerapkan teknik Lotov (Latihan olah tubuh dan olah vokal) dalam pengajaran dramatisasi puisi.
4) Meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran baca puisi.
8 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
1. Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian tentang:
Peningkatan Kemampuan Membacakan Puisi dengan Latihan Terbimbing Siswa Kelas VIII SMP 13 Semarang, oleh Nia Ulfah Marta (2005). Menghasilkan simpulan bahwa pembelajaran membaca puisi denga latihan terbimbing dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membacakan puisi karya sendiri. Hal itu berdasarkan penialaian penguasaan penghayatan, teknik vokal, dan penampilan.
Pada pembelajaran siklus I, kelas VII F SMP 13 Semarang mencapai rata-rata nilai 52,60, kemudian pada siklus II nilai rata-rata kelas meningkat sebanyak 20,16 menjadi 72,76. Perilaku siswa selama mengikuti pembelajaran juga mengalami perubahan. Perubahan tersebut dapat dilihat pada siklus I yang masih cenderung bosan dan malas selama mengikuti pembelajaran, sedangkan pada siklus II kecenderungan itu berubah menjadi antusias mengajukan pertanyaan.
Meningkatnya nilai rata-rata dan perubahan perilaku tersebut menunjukkan bahwa penelitian tersebut berhasil.
Adapun persamaan penelitian yang telah dilakukan oleh Nia Ulfa Marta dengan penelitian yang dilakukan terletak pada variabel terikat/dependen (baca puisi/dramatisasi puisi), sedangkan perbedaannya terletak pada penggunaan teknik, tingkatan sekolah, jenis penelitian, serta waktu pelaksaanaan penelitian.
Nia Ulfa Marta menggunakan teknik latihan terbimbing, jenis Penelitian PTK terhadap siswa tingkat SMP sedangkan peneliti menggunakan teknik Lotov, jenis penelitian eksperimen terhadap siswa tingkat SMA tahun ajaran 2014/2015.
8
9 Ahmad Tambah Kurniadi dalam penelitiannya: Peningkatan Keterampilan Membaca Puisi Melalui Teknik Pemodelan Berkelompok Pada Siswa Kelas X MA. Negeri Kutowinangun Tahun Pelajaran 2012/2013.
Berdasarkan hasil analisis bahwa proses pembelajaran membaca meliputi (a) penyampaian materi teknik membaca puisi, (b) mendatangkan model untuk memberikan contoh pembacaan puisi, dan (c) siswa membaca puisi secara berkelompok. Pembelajaran tersebut terbukti meningkatkan motivasi belajar dan kepercayaan diri siswa dalam pembelajaran membaca puisi. Keterampilan siswa membaca puisi pada prasiklus diperoleh nilai rata-rata sebesar 65,23 (cukup).
Setelah dilaksanakan penelitian pada pada siklus I dan siklus II dengan teknik pemodelan berkelompok nilai rata-rata yang diperoleh siswa mengalami peningkatan mencapai 70,33 (cukup baik) pada siklus I dan pada siklus II nilai rata-rata yang dicapai 76,10 (baik).
Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Tambah Kurniadi, dengan peneletian yang dilakukan oleh peneliti terletak pada variabelnya yaitu:
variabel terikat dalam hal ini baca puisi (dramatisasi puisi) serta tingkat sekolah yaitu SMA/MA. Perbedaanyan terletak pada penggunaan model pembelajaran, kelas, dan jenis penelitiannya. Ahmad Tambah Kurniadi menggunakan teknik pemodelan berkolompok pada siswa kelas X, jenis penelitian PTK, sedangkan peneliti menggunakan teknik Lotov pada siswa kelas XII, jenis penelitian eksperimen.
Amelia dalam penelitian: Peningkatan Keterampilan Membaca Puisi dengan Metode SAVI Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 5 Purworejo Tahun Pelajaran 2012/2013. Dari hasil analisis data diketahui bahwa penerapan pembelajaran membaca puisi dengan metode SAVI mampu membuat
10 pembelajaran menjadi lebih baik, karena dengan metode tersebut siswa diarahkan untuk belajar dengan bergerak, berbicara, mendengar, mengamati, dan memecahkan masalah yang ada dalam pembelajaran, pembelajaran membaca puisi dengan metode SAVI mampu meningkatkan aktivitas dan minat siswa dalam pembelajaran. Kemampuan siswa dalam membaca puisi juga dengan metode SAVI mengalami peningkatan dilihat dari hasil rata-rata kelas pada prasiklus 69,11, pada siklus I sebesar 75,83, dan pada siklus II sebesar 80,10. Dengan demikian, peningkatan dari prasiklus ke siklus I sebesar 6,72 poin dan peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 4,27 poin.
Persamaan penelitian yang telah dilakukan oleh Amelia dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terletak pada variabel terikat/dependen (baca puisi/dramatisasi puisi), sedangkan perbedaannya terletak pada penggunaan teknik atau metode dan jenis penelitian. Amelia menggunakan metode SAVI (Somatis, Audiotori, Visual dan Intelektual), dan jenis penelitiannya merupakan PTK sedangkan peneliti menggunakan teknik Lotov (latihan olah tubuh dan olah vokal), jenis penelitian eksperimen.
2. Aprsiasi Sastra a. Pengertian Apresiasi
Kata ‘apresiasi’ diserap dari kata bahasa Inggris appreciation yang berarti penghargaan, penilaian, pengertian. Bentuk itu berasal dari kata kerja ‘to appreciate’ yang berarti menghargai, menilai, mengerti, dalam bahasa Indonesia menjadi mengapresiasi. Pengertian apresiasi menurut Qodratilah (2011) dalam KBI (Kamus Bahasa Indonesia untuk pelajar), apresiasi adalah penilaian atau penghargaan terhadap sesuatu.
11 Akhmadi, Mustakim, dkk (Marta, 2005) mengemukakan apresiasi adalah kemampuan untuk melaksanakan anggapan emosional yang lahir dari pengenalan, pengakuan, dan penghargaan dasar yang ditambah oleh pengertian terhadap hal- hal atau cara-cara dari dalam karya. Apresiasi dimaknai dengan pernyataan seseorang yang secara sadar merasa tertarik kepada sesuatu, serta mampu menghargai dan memandang hal yang dilihatnya.
Apresiasi merupakan kegiatan mengakrabi karya sastra secara bersunguh-sungguh. Sehubungan dengan itu, apresiasi memerlukan kesungguhan penikmat sastra dalam mengenali, menghargai dan menghayati, sehingga ditemukan penjiwaan yang benar-benar dalam (Elliysti dalam Ilmi, 2012).
Aminuddin (Rahim dan Thamrin Paelori, 2013) berpendapat, apresiasi adalah pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan pemahaman, pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang . Sasaran utama dalam kegiatan apresiasi adalah nilai suatu karya seni.
Apresiasi biasanya berupa hal yang positif tetapi juga bisa yang negatif atau kritik. Secara umum kritik berarti mengamati, membandingkan, dan mempertimbangkan. Sehingga peneliti menyimpulkan bahwa apresiasi adalah bentuk penilaian dan penghargaan terhadap mutu suatu karya.
b. Pengertian Sastra
Menurut Qodratilah (2011) dalam Kamus Bahasa Indonesia untuk pelajar, sastra adalah: “1) bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari); 2) karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya”.
12 Menurut Welk dan Waren (Rimang, 2011:1), sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sederatan karya seni. Kegiatan kreatif, sederetan seni maksudya akan ada sebuah hasil karya sastra baik berupa, puisi, novel, cerita pendek, drama yang tentunya mengandung bahasa seni sastra. Bahasa sastra atau kesusastraan menurut Badrun (1983) ialah kegiatan seni yang mempergunakan bahasa atau garis dan simbol-simbol lain sebagai alat, dan bersifat imajinatif.
Hal ini sejalan dengan pendapat Azis dan Andi Syukri Syamsuri (2011:3), mengemukakan “sastra adalah hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatannya dengan menggunakan bahasa”. Penghayatan jiwa dan bahasa atau garis atau simbol lain adalah unsur-unsur yang dipadukan pengarang dengan kekuatan imajinasinya menjadi ciptaan yang berwujud karya sastra.
Jakob Sumardjo (Siswasi dan Kanen M. Ridwan, 2008) mengatakan bahwa sastra memiliki badan dan jiwa. Jiwa sastra berupa pikiran, perasaan, dan pengalaman manusia. Badannya berupa ungkapan bahasa yang indah. Karya sastra mempunyai tiga ciri yang melekat padanya.
1) Sastra itu memberikan hiburan. Dalam lubuk hati manusia terpatri kecintaan akan keindahan. Manusia adalah makhluk yang suka keindahan. Karya sastra adalah ekspresi dari keindahan itu. Karena itu, karya sastra yang baik selalu menyenangkan untuk dibaca.
2) Sastra menunjukkan kebenaran hidup manusia. Dalam karya sastra terungkap berbagai pengalaman hidup manusia: baik-buruk, benar-salah, menyenangkan-menyedihkan, dan sebagainya. Karena itu, manusia lain dapat memetik pelajaran dari karya sastra tersebut.
13 3) Sastra melampaui batas bangsa dan zaman. Nilai-nilai kebenaran, ide atau
gagasan dalam karya sastra yang baik bersifat universal sehingga dapat dinikmati oleh bangsa mana pun. Karya sastra yang baik juga dapat menerobos batas-batas waktu. Artinya, karya sastra tersebut tetap relevan sepanjang zaman.
Melihat pengertian sastra dari beberapa pendapat di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa sastra adalah karya tulis yang merupakan ungkapan pengalaman manusia melalui bahasa yang mengesankan.
c. Apresiasi Sastra
Menurut Gove (Rimang, 2011) istilah apresiasi sastra dalam konteks lebih luas mengandung makna (1) Pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin, dan (2) Pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai kebenaran yang diungkapkan pengarang.
Square dan Taba (Rahim dan Thamrin Paelori) berkesimpulan bahwa, apresiasi melibatkan tiga unsur inti yaitu (1) Aspek kongnitif berkaitan dengan karektristik intelek pembaca dalam upaya memahami unsur-unsur kesusastraan yang bersifat objektif, (2) Aspek emotif berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pembaca dengan upaya menghayati unsur-unsur keindahan dalam teks sastra yang dibaca, dan (3) Aspek edukatif berhubungan dengan kegiatan memberikan penilaian baik dan buruk, indah tidaknya, sesuai tidak sesuainya, serta jumlah ragam penilaian. Apresiasi sastra berarti penghargaan terhadap karya sastra.
Zaidan (Hayati dan Masnur Muslich, 2011) menyatakan apresiasi sastra hakikatnya sikap menghargai sastra secara proposional (pada tempatnya).
Menghargai sastra atau suatu hal berarti memberi perhatian, mengindahkan
14 sesuatu yang diamanatkan, dan kalau perlu melaksanakan sesuatu hal atau masalah yang terkandung di dalamnya jika bermanfaat dalam kehidupan sehari- hari. Sikap apresiatif sastra jika ditanamkan dalam diri sejak dini lama-kelamaan akan bertumbuhan buah cipta sastra itu dalam berbagai bentuk dan wujud.
Kegiatan apresiasi sastra pada garis besarnya dilakukan dalam tiga tahap, yaitu: tahap penjelajahan, tahap penafsiran, dan tahap pengkreasian (Hayati dan Masnur Muslich, 2011).
1. Tahap penjelajahan, dilakukan dengan membaca karya sastra, agar yang bersangkutan kenal dan paham tentang karya sastra yang di jelajahinya.
2. Tahap penafsiran, dilakukan dengan menganalisis unsur-unsur yang membangun karya sastra baik isi maupun bentuknya.
3. Tahap pengkreasian, dapat dilakukan dengan mengekspresikan kembali karya sastra yang dibacanya dalam bentuk lain atau mencipta karya sastra sendiri berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Tahap ketiga itu merupakan tingkat apresiasi yang paling tinggi.
Apresiasi sastra berusaha menerima karya sastra sebagai sesuatu yang layak diterima dan mengakui nilai-nilai sastra sebagai sesuatu yang benar. Karya sastra sendiri memiliki ragam atau biasa disebut genre sastra. Genre sastra yang dimaksud yaitu prosa, drama, dan puisi.
3. Apresiasi Puisi
Pada dasarnya, kegiatan membaca puisi merupakan upaya apresiasi puisi.
Patria (Farida, 2013) mengemukakan, bahwa pembelajaran apresiasi puisi pada hakikatnya merupakan pembelajaran menggali nilai yang terdapat dalam puisi tersebut. Secara tidak langsung, bahwa dalam membaca puisi, pembaca akan berusaha mengenali, memahami, menggairahi, memberi pengertian, memberi
15 penghargaan, membuat berpikir kritis, dan memiliki kepekaan rasa. Semua aspek dalam karya sastra dipahami, dihargai bagaimana persajakannya, irama, citra, diksi, gaya bahasa.
Membaca puisi berbeda dengan membacakan puisi. Membacakan puisi hakikatnya menjiwakan puisi. Membacakan puisi merupakan upaya menyampaikan pesan dari penulis kepada pendengar. Membacakan puisi bukanlah sekadar melisankan puisi atau menyuarakan puisi, melainkan juga mengekpresikan perasaan dan jiwa (Haryanto, 2009).
Kata ‘membacakan’ mengandung makna benefaktif, yaitu melakukan sesuatu pekerjaan untuk orang lain, maka penyampaian bentuk yang mencerminkan isi harus dilakukan dengan total agar apresiasi pembaca terhadap makna dalam puisi dapat tersampaikan dengan baik kepada pendengar. Makna yang telah didapatkan dari hasil apresiasi diungkapkan kembali melalui kegiatan membaca puisi. Dapat pula dikatakan sebagai suatu kegiatan transformasi dari apresiasi pembaca dengan karakter pembacaannya, termasuk ekspresi terhadap penonton.
Apresiasi puisi didefinisakan oleh Tengsoe Tjahjono (Nurhadi, 2008:15) sebagai aktivitas menggeluti puisi yang melibatkan unsur pikiran, perasaan, bahkan fisik, melalui langkah-langkah mengenali, menikmati dan memahami sehingga tumbuh penghargaan terhadap keindahan dan makna yang terkandung dalam puisi. Kemampuan apresiasi puisi terlebih dahulu diawali dengan memahami makna yang terdapat dalam puisi.
“Membaca puisi adalah suatu kegiatan menjiwai puisi untuk selanjutnya dibacakan sesuai kriteria-kriteria yang telah ditentukan, agar pendengar juga dapat memahami isi puisi yang dibacakan” (Gani, 2014:38). Jadi pembaca akan
16 berusaha untuk menerjemahkan bait perbait untuk merangkai makna dari makna puisi yang hendak disampaikan pengarang. Pembaca memberi apresiasi, tafsiran, interpretasi terhadap teks yang dibacanya, setelah diperoleh pemahaman yang dipandang cukup, pembaca dapat membacakan puisi.
Kehadiran dan keberadaan baca puisi di Indonesia dimulai semejak tahun 1960-an dipopulerkan oleh dramawan, penyair, dan sastrawan W.S. Rendra (Gani, 2014: 40). Baca puisi diperkenalkan W.S. Rendra setelah ia kembali dari memperdalam ilmu teater di Amerika Serikat. Dengan sangat cepat, kahadiran baca puisi mendapat tempat di kalangan pencinta dan penikmat seni sastra.
Gani (2014: 40) mengemukakan bila disimak dari bentuk penampilannya, seni membacakan atau baca puisi dapat diklasifikasikan atas tujuh kategori, yaitu:
“(1) baca biasa, (2) baca vokalis, (3) baca gramatikal, (4) baca puitis, (5) deklamasi, (6) musikalisasi puisi, (7) dramatisasi puisi”. Salah satu bentuk apresiasi puisi dalam penelitian ini adalah seni baca puisi, dalam kategori dramtisasi puisi.
4. Dramtisasi Puisi
a. Pengertian Dramatisasi Puisi
Puisi dijadikan teks pertunjukan adalah tradisi yang cukup lama dikenal, merupakan pengembangan kreatif dari tradisi membaca puisi, kemudian dikenal pula tradisi deklamasi dan akhirnya munculah dramatisasi puisi (Sawitri, 2011).
Dramatisasi puisi atau mendramakan puisi hakikatnya adalah mendialogkan puisi. Ada penggabungan dua unsur seni di dalamnya yaitu seni baca puisi dan seni drama (Doyin, 2008). Hal ini sejalan dengan pendapat Haryanto (2009) bahwa karakteristik drama adalah dialog. Dramatisasi dapat
17 diartikan sebagai upaya mendialogkan puisi. Mendialogkan puisi berbeda dengan membacakan puisi secara bergantian.
Puisi yang bisa didramatisasiikan adalah jenis puisi yang mengandung unsur drama. Unsur drama tersebut berupa dialog. Jadi, puisi untuk dramatisasi memiliki unsur dramatik, berupa dialog di samping unsur naratif, berupa cerita.
Pratama (2013) mengemukakan dramatisasi puisi dapat diartikan sebagai mementaskan puisi atau membentuk sebuah pertunjukan puisi secara teaterikal dengan memasukkan konvensi-konvensi teater dan tata panggung seperti drama.
Khafid (2013) mengemukakan dramatisasi adalah pembacaan puisi yang memperagakan peristiwa-peristiwa dalam puisi dengan gerak tubuh yang sesuai.
“Dramatisasi puisi dapat diartikan sebagai kegiatan membacakan puisi secara kelompok dalam bentuk pelakonan” (Gani:2014). Pada dramatisasi puisi, sebuah puisi harus dipahami secara bersamaan dan dilakonkan dengan sedemikian rupa sehingga munculah penampilan baca puisi yang menyerupai pertunjukan drama.
Tidak semua puisi dapat didramatisasikan dengan baik. Oleh sebab itu, perhatikanlah beberapa hal berikut dalam dramatisasi puisi, Gani (2014:44) yaitu:
1) Pahami karakteristik sebuah puisi,
2) Pilihlah puisi yang tepat dan yang membutuhkan banyak tokoh (orang), atau puisi yang layak dan patut untuk didramatisasikan, 3) Pilihlah orang-orang yang tepat untuk melakonkan, memerankan, atau
membacakan bagian-bagian puisi, masing-masing orang harus bertanggung jawab penuh terhadap fungsi dan peranannya masing- masing,
4) Dalam memerankan setiap pelakonan puisi, harus selalu diperhatikan kekompakan dari masing-masing peserta, sehingga dramatisasi puisi lebih berwujud sebagai fragmen atau drama,
5) Perhatikan kostum yang dipakai, kostum harus sesuai dengan jiwa puisi yang didramatisasikan,
6) Perhatikan bloking atau pengaturan posisi para pembaca puisi, 7) Perhatikan system pencahayaan,
8) Jika ditampilkan di atas pentas, perhatikan persoalan dekorasi dan besar pentas,
9) Perhatikan penggunaan unsur musikalisasi.
18 b. Karakteristik Dramatisasi Puisi
Dramatisasi puisi berarti melakonkan sesuatu sehingga makna ataupun maksud puisi menjadi jelas. Puisi-puisi yang dilakonkan atau didramakan ditampilkan di depan khalayak ramai. Dalam pelakonan tersebut orang yang melakonkan harus sejalan dengan pelakon yang lain dalam artian harus ada kekompakan. Akibatnya, bentuk dramatisasi puisi berwujud sebagai fragmen atau drama dimana kerja kelompok sangat diperlukan (Pamela dalam Nurhadi, 2008).
Karakteristik dramatisasi puisi tidak jauh beda seperti drama pada umumnya, dramatisasi puisi juga memiliki naskah. Naskahnya berasal dari sebuah puisi. Sebagian besar, puisi yang disajikan dalam bentuk dramatisasi puisi biasanya memiliki dialog, serta "karakteristik" drama lainnya, misalnya: tokoh, alur cerita, latar dan lain-lain. Puisi untuk dramatisasi mempunyai karakteristik tersendiri.
Karakteristik puisi secara khusus bersifat monolog. Seperti dijelaskan (Doyin 2008) jika semula puisi bersifat monolog, dengan pengubahan menjadi dramatisasi, puisi diubah menjadi dialog. Dengan demikian, puisi-puisi yang memenuhi syarat untuk didramatisasikan adalah puisi-puisi yang di dalamnya memiliki unsur-unsur naratif dan dramatik. Puisi untuk dramatisasi tidak terlalu pendek serta bisa benar-benar untuk kolaborasi.
Dalam merubah sebuah puisi menjadi naskah menurut Emong Soewandi (Pratama, 2013), puisi tidak diperbolehkan berubah, seperti menambah kata-kata atau merubah kalimat dipuisi tersebut. Hanya saja, dibebaskan untuk menciptakan gerak dramatik, musik latar serta tambahan teatrikal untuk menjadikan puisi ini menjadi dramatis.
19 c. Langkah-langkah Pemahaman Menuju Dramatisasi Puisi
Kegiatan Aprsiasi puisi utamanya membaca pada umumnya mengacu pada dua tujuan yaitu membaca untuk diri sendiri dan membaca untuk orang lain.
Membaca puisi untuk diri sendiri relatif muda dibandingkan dengan membaca untuk orang lain. Meskipun demikian keterampilan dan teori tentang puisi harus dimiliki sebelum menuju dramatisasi puisi. Sehingga langkah-langkah pemahaman menuju dramatisasi puisi dijabarkan sebagai berikut:
1) Pengertian Puisi
Secara etimologis kata puisi dalam bahasa yunani berasal dari kata
‘poesis’ yang artinya penciptaan sedangkan secara terminilogi yang dimaksud dengan puisi adalah karya sastra yang khas penggunaan bahasanya dan memuat pengalaman yang disusun secara khas pula. Qodratilah dalam KBI untuk pelajar (2011: 706) puisi adalah “ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait”
Hudson (Rimang, 2011) mengemukakan bahwa puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai medium penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya. Menurut Pradopo (dalam Gani, 2014:14), puisi merupakan jenis karya sastra yang mampu mengekspresikan pemikiran, membangkitkan perasaan dan merangsang imajinasi panca indra dalam susunan berirama.
Menurut Waluyo (Gani, 2014:14), puisi adalah karya sastra yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata berkias. Dari definisi diatas tampak dengan jelas bahwa pemilihan atau penggunaan kata-kata dalam puisi bukan merupakan kata percakapan sehari-hari.
20 Khafid (2013) mengartikan puisi sebagai salah satu karya sastra yang mengutamakan keindahan bahasa yang mampu menghipnotis hati untuk bisa menerima makna-makna yang terkandung di dalamnya.
Pengertian puisi pada dasarnya sulit didefinisikan jika mencermati perkembangan puisi dwasa ini yang sangat beragam. Sehingga para pakar agak sulit membuat batasan atau defenisi puisi. Sehingga Teeuw dan Culler (Azis dan Andi Sukri Syamsuri, 2011: 12) menyerahkan pada pembaca, mereka berpendapat pembacalah yang paling berhak menentukan suatu karya termasuk prosa atau puisi. Namun berdasarkan beberapa pendapat pakar diatas mengenai puisi maka peneliti mengartikan puisi adalah bentuk ungkapan perasaan yang diterjemahkan dengan kata indah yang memiliki makna dalam, padat serta mengandung banyak tafsir yang menggugah hati pembaca.
2) Jenis-jenis Puisi
Perkembangan penulisan puisi yang pesat mengakibatkan munculnya berbagai bentuk atau jenis puisi. Berdasarkan waktu kemunculannya, puisi dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu:
a) Puisi lama
Puisi lama adalah puisi yang lahir sebelum zaman penjajahan belanda.
Jenis puisi ini masih murni berciri khas melayu (Gani, 2014). Puisi lama terdiri dari matra, bidal, pantun, karmina, talibun, seloka, gurindam, dan syair.
b) Puisi Baru
Puisi baru sering juga disebut sebagai sajak. Puisi baru lebih menekankan pada isi yang terkandung di dalamnya. Puisi baru adalah puisi yang lahir setelah masuknya bangsa eropa ke Indonesia, pengaruh gaya eropa sangat kentara pada
21 jeni baru ini (Gani, 2014). Puisi baru merupakan pancaran masyarakat baru dan banyak dihasilkan oleh para sastrawan angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru. Sulhan (Gandri, 2012) menurut bentuknya, puisi terdiri dari :
(1) Distikhon (sajak dua seuntai), yaitu tiap bait terdiri atas dua baris, (2) Tersina (sajak dua seuntai), Yaitu tiap bait terdiri atas tiga baris,
(3) Quantrin (sajak empat seuntai), yaitu tiap bait terdiri empat baris, Quin (sajak lima seuntai), yaitu tiap bait terdiri dari lima baris,
(4) Sextet (sajak enam seuntai), yaitu tiap bait terdiri atas enam baris, (5) Septima (sajak tujuh seuntai), yaitu tiap bait terdiri atas tujuh baris,
(6) Stanza atau octaf (sajak delapan seuntai), Yaitu tiap bait terdiri atas delapan baris, dan
(7) Sonata (sajak empat belas seuntai).
c) Puisi Modern
Puisi modern, Menurut Jalil (Gandri, 2012) puisi modern ini muncul, sejak kehadiran Jepang di Indonesia. Sedangkan menurut Gani (2014) puisi modern adalah “puisi yang berkembang setelah masa kemerdekaan Indonesia”.
Yang termasuk ke dalam jenis puisi modern ini adalah puisi epik, puisi lirik, dan puisi dramatik.
Kebebasan menggunakan bahasa Indonesia digunakan penyair sebagai alat untuk menghembuskan napas kebencian pada Jepang. Penyair angkatan ini dikategorikan sebagai penyair angkatan 1945, dan karya-karya puisinya termasuk dalam kelompok puisi modern. Diantara puisi modern; (1) berjudul “Aku” karya Chairil Anwar, (2) berjudul “Padamu Jua” Karya Amir Hamzah.
22 3) Unsur-unsur Puisi
Waluyo (Nurhadi, 2008) mengatakan bahwa dalam puisi terdapat struktur fisik atau yang disebut pula sebagai struktur kebahasaan dan struktur batin puisi yang berupa ungkapan batin pengarang.
Richards (Khafid, 2013) mengatakan bahwa unsure puisi terdiri dari (1) hakikat puisi yang meliputi tema (sense), rasa (feeling), amanat (intention), nada (tone), serta (2) metode puisi yang meliputi diksi, imajeri, kata nyata, majas, ritme, dan rima.
Unsur-unsur puisi tidaklah berdiri sendiri tetapi merupakan sebuah struktur. Seluruh unsur merupakan satu kesatuan dan unsur yang satu dengan yang lain menunjukkan hubungan keterjalinan yang satu dengan yang lainnya. “Secara sederhana, batang tubuh sebuah puisi terbentuk dari beberapa beberapa unsur.
Unsur-unsur tersebut meliputi (1) kata, (2) larik, (3) bait, (4) bunyi, dan (5) makna” (Gani, 2014: 16). Kelima unsur tersebut saling mempengaruhi kebutuhan sebuah puisi. Uraian unsur-unsur tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a) Kata
Kata adalah unsur utama dalam pembentukan sebuah puisi. Melalui rangkaian kata seorang mengekspresikan pemikiran, perasaan, dan sikapnya. Hal yang perlu diperhatikan dalam kata adalah pemilihan kata (diksi). Wiyatmi (Azis dan Andi Sukri Syamsuri, 2011: 67) mengemukakan bahwa diksi seringkali pula menjadi ciri khas seorang penyair atau zaman tertentu.
b) Larik
Larik adalah baris-baris yang membangun sebuah puisi. Larik puisi bisa berupa suku kata, kata, frase, klausa, dan bisa pula berupa kalimat.
23 c) Bait
Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun secara harmonis. Biasanya bait memilki kesatuan pemikiran tersendiri. Pada kumpulan bait inilah yang biasanya terdapat kesatuan makna puisi yang bersangkutan. pemahaman terhadap kesalingberkaitan bait ini akan menentukan keutuhan pemahaman terhadap suatu puisi.
d) Bunyi
Bunyi dibentuk oleh rima dan irama. Rima atau persajakan adalah bunyi- bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata di dalam larik dan bait.
Sedangkan irama atau ritme adalah pergantian tinggi rendanhya, panjang pendeknya, dan keras lembutnya ucapan bunyi. Timbulnya irama pada puisi disebabkan karena:
(1) Adanya perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi.
(2) Tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya karena sifat-sifat konsonan dan vokal.
(3) Panjang pendeknya kata.
e) Makna
Makna adalah isi atau kandungan nilai yang sekaligus menjadi pesan yang hendak disampaikan oleh sebuah penulis. Melaui makna dan kebermaknaan inilah maksud penulisan puisi disampaikan dan dipahami pembaca.
Selanjutnya menurut Gani (2014: 18) “keberadaan sebuah puisi dapat dilihat dari dua hal, yaitu struktur (1) struktur batin dan (2) struktur fisik”.
a) Struktur Batin
Struktur batin puisi adalah unsur puisi yang mengacu kepada struktur dalam puisi yang bersangkutan. Struktur batin puisi tersebut seperti tema (sense), rasa (feeling), nada (tone), dan amanat (itention).
24 (1) Tema atau ide atau gagasan adalah pokok persoalan yang dikemukakan suatu
puisi. Pradopo mengemukakan tema dalam puisi merupakan sumber dari pengungkapan gagasan pokok puisi (Nurhadi, 2008).
(2) Rasa adalah apresiasi, sikap, atau emosional penyair terhadap pokok permasalahan yang disampaiakan di dalam puisi yang ditulisnya, misalnya perasaan takjub, sedih, senang, marah, heran, gembira dll. Putu (2012) mengemukakan yang dimaksu rasa dalam puisi adalah sikap penyair dalam pokok persoalan yang terdapat dalam puisinya.
(3) Nada dalam struktur batin puisi mengacu kepada sikap penyair terhadap persoalan yang dibicarakan di dalam karyanya, misalnya menggurui, mencaci, merayu, menyindir, mengajak, merengek dll.
(4) Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh penyair, misalnya mengharapkan pembaca marah, menyenangi sesuatu, dan berontak terhadap sesuatu. Pesan yang hendak disampaikan inilah yang mendorong proses kreatif penyair dalam menciptakan puisi.
b) Struktur Fisik Puisi
Struktur fisik puisi atau terkadang disebut juga dengan metode puisi adalah sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan pesan yang hendak disampaikan melalui puisi. Struktur puisi tersebut menurut (Gani, 2014:
20) meliputi “perwajahan, imaji, kata kongktret, bahasa figuratif dan verifikasi”.
Gamabaran umun struktur puisi dapat digamabrkan sebagai berikut:
(1) Perwajahan Puisi (Tipografi)
Perwajahan puisi adalah penampakan puisi sebagai salah satu dari hasil seni kreatif. Tampilan puisi tersebut dapat dicermati dalam berbagai bentuk,
25 misalnya: penataan bahasa, penggunaan tanda atau lambang, pengaturan jarak baris, kata, larik dan bait.
(2) Imaji
Imaji atau daya bayang, adalah kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi seseorang (penglihatan, pendingaran, penciuman, pengecap, perasa).
(3) Kata kongkret
Kata kongkret adalah kata-kata yang digunakan seorang penyair secara eksplisit dalam mengemukakan persoalan yang disampaikannya.
(4) Bahasa Figuratif
Bahasa figuratif adalah bahasa yang penuh dengan kiasan.
(5) Verifikasi
Verivikasi menyangkut persoalan rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada sebuah puisi baik dibagian awa, tengah dan akhir. Ritme adalah alunan bunyi di dalam pembacaan puisi. Metrum mengacu kepada persajakan, penghrntian, dan penekanan-penekanan tertentu.
4) Interpretasi Puisi
Qodratilah dalam Kamus Bahasa Inonesia untuk pelajar (2011:179) pengertian interpertasi adalah pandangan teoretis terhadap sesuatu; pemberian kesan, pendapat atau pandangan berdasarkan teori terhadap sesuatu; tafsiran.
Dalam proses ini diperlukan ketajaman visi dan emosi dalam menafsirkan dan membedah isi puisi.
Memahami puisi adalah upaya yang harus dilakukan oleh pembaca puisi, untuk mengungkap makna yang terkandung atau tersirat dari untaian kata-kata
26 yang tersurat. Maka sebelum membawakan pembacaan puisi terlebih dahulu mengkaji melalui pendekatan, asumsi, dan prinsip tertentu.
Pendekatan ini berhubungan dengan cara-cara yang digunakan seseorang dalam mendekati, menetapkan, memahami, dan menjiwai puisi. Pendekatan yang baik akan akan melahirkan pemahaman yang baik dan apresiasi yang baik terhadap puisi yang akan dibacakan. Pada akhirnya akan melahirkan penampilan baca puisi yang baik dan menarik. Pendekatan-pendekatan dalam mengapresiasi puisi menurut (Gani, 2014:51) adalah sebagai berikut:
(a) Pendekatan Parafrase
Pendekatan parafrase adalah pendekatan yang dilakukan untuk mengungkapkan kembali gagasan yang disampaikan penyair. Pengungkapan tersebut dilakukan dengan menyisipkan kata pada bait-bait puisi, memperjelas kata, mengembangkan makna puisi itu kedalam paragraf.
(b) Pendekatan Emotif
Pendekatan emotif merupakan pendekatan yang berupaya mengajak dan membandingkan emosi atau perasaan pembaca sekaitan denga puisi yang dipahaminya.
(c) Pendekatan Analitis
Pendekatan analitis merupakan pendekatan dalam rangka memahami isi puisi. pendekatan ini lebih diarahkan kepada analisis terhadap unsur-unsur intrinsik puisi yang bersangkutan.
(d) Pendekatan Historis
Pendekatan historis merupakan pendekatan terhadap puisi dalam rangka memahami puisi dari sisi latar belakang historis atau dari sisi aspek kesejarahan puisi.
27 (e) Pendekatan Didaktis
Pendekatan didaktis merupakan pendekatan yang berupaya menemukan nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam puisi.
(f) Pendekatan Sosiopsikologis
Pendekatan sosiopsikologis merupakan sebuah pendekatan yang berupaya memahami puisi dari aspek penting, yaitu sosial (misalnya interaksi sosial dalam kehidupan, masalah budaya, dan persoalan kebudayaan) dan psokologi (misalnya, masalah mental dan kejiwaan).
5) Penilaian Dramatisasi Puisi
Penilaian dalam dramatisasi memberi bobot yang besar pada unsur penjiwaan. Unsur lain yang dinilai juga ialah vokal serta gerak penunjang.
(a) Bahasa tubuh (gestur, mimik dan pantomimik)
Gerak pembaca puisi tidaklah sebanyak gerak yang dilakukan aktor dalam bermain drama. Gerak yang dilakukan dalam membaca puisi hendaknya sesuai dengan tuntuntan puisi, yakni mampu bergerak dengan wajar karena dorongan batin yang kuat. Yang dimaksud dengan gerak dalam membaca puisi bukan hanya terlihat bergoyang saja, melainkan juga gerak muka (mimik), gerak tangan (gesture), dan gerak seluruh tubuh (pantomimik).
(1) Mimik, mimik merupakan gerak atau ekspresi wajah dalam membacakan puisi. Mimik yang dimunculkan haruslah proporsional sesuai dengan kebutuhan menampilkan gagasan puisi secara tepat.
(2) Gesture, gestur dapat diartikan sebagai gerak tangan atau gerak anggota tubuh yang sesuai dengan isi puisi ketika seseorang membacakan puisi.
28 (3) Pantomimik, pantomimik yaitu gerak anggota tubuh dalam membacakan
puisi. Sama halnya sepereti mimik, pantomimik yang dimunculkan dalam membacakan puisi haruslah proporsional sesuai dengan kebutuhan menampilkan gagasan puisi secara tepat. Pantomimik yang kurang wajar akan merusak keindahan pembacaan serta bisa jadi akan mengganggu pembacaan puisi tersebut.
(b) Bahasa Lisan (artikulasi, intonasi, jeda, volume dan warna suara)
Yang perlu mendapat perhatian pada unsur vokal ialah kejelasan pengucapan (artikulasi), intonasi, serta volume suara.
(1) Artikulasi, kejelasan artikulasi dalam membaca puisi sangat dibutuhkan.
Bunyi vokal seperti /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /ai/, /au/, dan sebagainya harus jelas terdengar, demikian pula dengan bunyi-bunyi konsonan.
(2) Intonasi, intonasi menyangkut persoalan ”tekanan dinamik”, yaitu keras lembutnya suara; ”tekanan tempo”, yaitu cepat lambatnya ucapan; ”tekanan nada”, yaitu menyangkut tinggi rendahnya suara; dan ”modulasi” yang meliputi perubahan bunyi suara (karena marah bunyi suara menjerit, karena lelah bunyi suara mendesah, dan sebagainya). Ketepatan intonasi atau irama ini bergantung kepada ketepatan penafsiran atas puisi yang dibacakan.
(3) Jeda, merupakan kemampuan mengucapkan kaitannya dengan tanda bacadan pemenggalan. Kesalahan menempatkan penjedahan maka akan menyebabkan kesalahan pada penyuaraan dan makna.
(4) Karakter suara, pembaca puisi harus mampu memainkan karakter suaranya sesuai dengan kutipan puisi yang dibacanya. Apabila kutipan dalam puisi
29 terdapat monolog seorang kakek tua, ia harus mampu merubah suaranya seperti suara seorang kakek tua.
(5) Kekuatan (power) suara, kekuatan suara juga amat penting untuk diperhatikan. Dalam membaca puisi yang perlu diperhatikan adalah suara seorang pembaca puisi harus mampu mengatasi suara penonton atau pendengarnya. Untuk mengatasi suara penonton/pendengarnya, pembaca puisi memang dituntut untuk memiliki vokal yang keras. Hanya seringkali dijumpai pembaca puisi berteriak untuk memperkeras volume suaranya. Hal itu tentu saja akan merusak kemerduan ucapan yang justru amat dibutuhkan dalam membacakan puisi. Volume suara yang keras semestinya dilakukan dengan mempertinggi suara, bukan dengan jalan berteriak.
(6) Warna suara, hampir setiap orang memiliki warna suara yang berbeda.
Demikian pula usia sangat mempengaruhi warna suara. Misalnya antara laki- laki dengan perempuan, akan sangat jelas perbedaan warna suaranya.
(c) Penampilan (kostum dan properti).
Penampilan baca puisi dengan kostum dan properti merupakan alat bantu pendukung. Hal tersebut berkaiatan dengan penegasan isi atau pesan keseuaian dari tafsiran para pembaca.
Pemanfaatan kostum dan properti dalam penampilan baca puisi mengacu pada suasana, misalnya membaca puisi perjuangan si pembaca mengikat kepalanya dengan kain merah atau putih, membawa bambo runcing. Membacakan puisi mantra orang akan mengenakan pakaian berwarna hitam, pakai gelang, cincin, dll.
30 5. LOTOV (Latihan Olah Tubuh dan Olah Vokal)
Teknik Lotov merupakan bagian dari teknik pembelajaran.
Mulyatiningsih (2012) mengemukakakan teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu cara spesifik yang dilakukan seseorang dalam menerapkan suatu metode pembelajaran. Dalam metode pembelajaran dapat digunakan teknik pembelajaran yang berbeda-beda, bergantung pada berbagai faktor tersebut (Kurniawan dalam Marta, 2005).
Materi puisi merupakan pembelajaran yang kompleks. Siswa harus diberikan teori dan pengalaman dalam bersastra. Oleh karena itu guru memerlukan teknik khusus dalam mengajarkan sastra pada siswa (Aftarudin, dalam Marta, 2005). Uraian tersebut menjelaskan bahwa guru menggunakan teknik pembelajaran bersifat spesifik, untuk siasat dalam mengajarkan materi dramatisasi puisi.
Teknik Lotov singkatan dari latihan olah tubuh dan olah vokal. Teknik latihan olah tubuh dan olah vokal sudah biasa dilakukan dalam latihan atau pembelajaran drama bahkan diiringi dengan olah sukma. Teknik Lotov merupakan latihan dasar dalam mengolah penampilan (performancy). Teknik Lotov merupakan teknik pembelajaran yang melatih para siswa dalam pengembangan diri, berpartisipasi dalam sistem sosial dan pengalaman.
Melalui proses latihan siswa diberikan pengetahuan dalam persiapan diri serta persiapan pertunjukan. Teknik ini merupakan bentuk pembelajaran yang mengombinasikan dinamika proses demokrasi dengan proses inquiri akademik.
Pada dasarnya Lotov menaungi dua garis besar aspek latihan yaitu olah tubuh dan olah vokal.
31 a. Olah Tubuh
Olah tubuh adalah frase kata Indonesia asli yang terdiri dari 2 kata yaitu olah dan tubuh. Olah menunjukkan suatu kegiatan kerja atau mengerjakan dari bahan mentah sampai menjadi barang jadi, yaitu barang yang siap untuk digunakan. Sedangkan tubuh berarti keseluruhan jasad manusia. Ia bisa juga diartikan awak atau badan. Dalam tubuh manusia terdapat 2 unsur yaitu jiwa atau roh dan badan kasar atau raga. Secara singkat oleh tubuh dapat diartikan sebagai suatu perbuatan atau kegiatan yang dengan sengaja melakukan latihan secara teratur melalui gerakan anggota tubuh beserta bagian-bagiannya untuk tujuan tertentu.
Olah tubuh atau latihan tubuh menurut Herman J. Waluyo (Wicaksono, 2012) adalah latihan ekspresi secara fisik. Berusaha agar fisik dapat bergerak secara fleksibel, disiplin, dan ekspresif. Artinya gerak-gerik dapat luwes tetapi disiplin terhadap peran, dan ekspresif sesuai watak dan perasaan aktor yang dibawakan. Menurut Bolesavsky R. (dalam Wicaksono, 2011) olah tubuh atau latihan tubuh baik dilakukan satu setengah jam sehari.
Tanda eksternal dari perasaan dan pikiran dapat disebut gestur. Demikian Sitorus (dalam Wicaksono: 2011) menyebut gestur sebagai hasil dari bentuk olah tubuh atau latihan tubuh. Gerak atau gesture tersebut merupakan perwujudan dari penjiwaan puisi.
Gesture adalah impuls (rangsangan), perasaan atau reaksi yang menimbulkan energi dari dalam diri yang selanjutnya mengalir keluar, mencapai dunia luar dalam bentuk yang bermacam-macam; ketetapan tubuh, gerak, dan postur.
32 b. Olah Vokal
Olah vokal menurut Herman J. Waluyo (Pratama, 2013), olah vokal atau latihan suara dapat diartikan latihan mengucapkan suara secara jelas dan nyaring, dapat juga berarti latihan penjiwaan suara. Warna suara bagaimana yang tepat, harus disesuaikan dengan watak peran, umur peran, dan keadaan peran sosial itu.
Nada suara juga harus diatur, agar membantu membedakan peran yang satu dengan peran yang lain. Secara lebih detail, aksen orang-orang yang berasal dari daerah tertentu, perlu juga diwujudkan dalam latihan suara ini. Yang harus mendapatkan perhatian seksama, adalah suara itu hendaklah jelas, nyaring, mudah ditangkap, komunikatif, dan diucapkan sesuai daerah artikulasinya.
Wibisono (dalam pratama, 2013) mengemukakan, bahwa olah vokal merupakan salah satu teknik produksi suara yang berhubungan erat dengan pengolahan alat-alat produksi suara dan pembentukkan suara. Hal ini mencakup pernapasan, fonasi, gema suara (resonansi), pengucapan (artikulasi), dan proyeksi.
c. Penggunaan Teknik LOTOV
Teknik Lotov singkatan dari latihan olah tubuh dan olah vokal. Teknik Lotov merupakan latihan dasar dalam mengolah performancy yang disesuaikan dengan pembelajaran dramatisasi puisi. Adapun prinsip dasar dalam mengaplikasikan teknik pembelajaran ini sebagai berikut:
1. Membentuk kelompok baik itu kelompok besar maupun kelompok kecil.
2. Memilih beberapa puisi yang akan didramatisasikan.
3. Memahami teks puisi, unsur-unsur serta makna puisi yang akan didramatisasikan.
33 4. Melakukan proses latihan olah tubuh dan olah vokal sesuai dengan langkah-
langkah teknik Lotov.
5. Mengeksplorasi kebutuhan dan persiapan pementasan.
6. Melakukan pementasan dramatisasi puisi dengan setting panggung yang disesuaikan dengan keadaan kelas.
7. Melakukan evaluasi perihal makna puisi dan aspek pertunjukan apik (Farida, 2013).
Latihan olah tubuh dan olah vokal terdiri atas tiga tahap yaitu pra, praktik, dan pasca ( Ridwanuddin, 2013). Dalam tahap pra siswa baru memulai pemanasan, bagaimana mengenal tubuh dan vokalnya masing-masing. Lalu tahap praktik siswa lebih mendalami dengan menggunakan teks puisi. Kemudian tahap pasca siswa diajak berimajinasi untuk memainkan peran dan mendeskripsikan suatu peristiwa, tentu saja makna yang tersirat harus tersampaikan kepada apresian.
Setiap tahap memiliki rangkaian masing-masing. Rangkaian yang dapat dilakukan di antaranya:
1. Tahap Pra
a. Posisi badan berdiri tegak.
b. Mata dipejamkan, lalu bentuk imajinasi sedang berada di sebuah tempat yang tenang dan indah.
c. Tarik nafas lewat hidung, dan keluarkan lewat mulut.
d. Tarik nafas lewat hidung, tahan, tarik, tahan, dan keluarkan lewat mulut.
e. Tarik nafas lewat hidung, dan keluarkan dengan suara “haaah”.
34
f. Gerakan lengan kanan dan kepala ke depan sambil jari-jari dibuka lebar, tahan, turunkan kembali lengan dan kepala menghadap ke bawah sambil jari diremas-remas.
g. Gerakan lengan kanan dan kepala ke atas sambil jari-jari dibuka lebar, tahan, turunkan kembali lengan dan kepala menghadap ke bawah sambil jari
diremas-remas.
h. Lakukan kembali poin f dan g untuk lengan kiri. Gerakan lengan kanan dan kepala ke samping kanan sambil jari-jari dibuka lebar, tahan, turunkan kembali lengan dan kepala menghadap ke bawah sambil jari diremas-remas.
i. Lakukan kembali poin I untuk lengan kiri.
j. Gerakan badan ke depan dan kepala menghadap ke bawah sambil posisi tangan di perut, tahan, turunkan kembali lengan dan kepala menghadap ke bawah sambil jari diremas-remas.
k. Gerakan badan ke belakang dan kepala menghadap ke atas sambil posisi tangan di punggung, tahan, turunkan kembali lengan dan kepala menghadap ke bawah sambil jari diremas-remas.
l. Lakukan pelemasan untuk badan sambil jari diremas-remas.
m. Gerakan lutut setengah ke bawah sambil kedua tangan disimpan di pinggul, tahan, naik kembali ke posisi awal sambil jari tangan dan kaki digoyangkan.
n. Gerakan lutut jongkok ke bawah dan posisi telapak kaki menahan bagian belakang kedua tangan disimpan di pinggul, tahan, naik kembali ke posisi awal sambil jari tangan dan kaki digoyangkan.
o. Posisi badan kembali tegak dan mata dibuka kembali.
35 2. Tahap Praktik
a. Tarik nafas lewat mulut, dan keluarkan lewat mulut, rasakan dingin dan hangatnya mulut ketika udara masuk.
b. Bentuk badan menjadi simbol huruf A posisi tangan ke bawah sambil meneriakan huruf A.
c. Bentuk badan menjadi simbol huruf I posisi tangan ke atas sambil meneriakan huruf I.
d. Bentuk badan menjadi simbol huruf U posisi tangan membentuk huruf U sambil meneriakannya.
e. Bentuk badan menjadi simbol huruf E posisi tangan membentang kiri dan kanan sambil meneriakan huruf E.
f. Bentuk badan menjadi simbol huruf O posisi tangan melingkar di atas kepala sambil meneriakan huruf O.
g. Posisi badan kembali tegak, wajah relaks dan tanpa ekspresi.
h. Mulut digerakkan ke kiri semaksimal mungkin hingga terasa tarikan pada wajah sambil mendengungkan suara di kerongkongan.
i. Lakukan sebaliknya ke arah kanan.
j. Mulut tarik ke bawah semaksimal mungkin hingga membentuk segitiga terbalik pada garis kedua mata dan mulut sambil mendengungkan suara di rongga hidung.
k. Mulut arahkan ke depan dengan bibir atas yang dominan sambil mendengungkan suara di daerah bibir.
l. Mulut membentuk huruf O ke depan dengan maksimal sambil mendengungkan suara di daerah bibir.
m. Kembungkan kedua pipi semaksimal mungkin sambil mendengungkan suara di daerah mulut sehingga pipi bergetar.
36 n. Mulut arahkan ke depan dan pipi ditarik ke dalam sehingga membentuk
cekungan pipi.
o. Mulut rapatkan hingga lipatan bibirnya tidak terlihat.
p. Memelototkan mata semaksimal mungkin dan ekspresi penuh hingga dahi terasa terangkat.
q. Mengarahkan bola mata hitam ke kanan semaksimal mungkin sambil membunyikan huruf A.
r. Lakukan ke kiri sambil meneriakan huruf I.
s. Lakukan ke bawah sambil meneriakan huruf U.
t. Lakukan ke atas sambil meneriakan huruf E.
u. Lakukan ke depan sambil meneriakan huruf O.
v. Wajah kembali rileks.
w. Bunyikan masing-masing huruf A, I, U, E, O dengan langgam dan tangga nada Do, Re, Mi, Pa, So, La, Si, Do.
x. Tarik napas lewat hidung dalam-dalam lalu keluarkan napas sambil membunyikan masing-masing huruf A, I, U, E, O sampai batas napas
y. Membunyikan seluruh huruf abjad sambil diberi jeda.
z. Membacakan beberapa larik puisi dengan menggunakan tiga warna suara (alto/bass, mezzo/rendah, sopran/tinggi).
3. Tahap Pasca
a. Membacakan teks puisi sambil berekspresi tertawa, menangis, kebingungan,ketakutan, kepanasan, kedinginan, keletihan, kemarahan.
b. Lakukan kembali poin a kini sambil memerankan tokoh menjadi anak-anak, dewasa, usia manula, dan benda mati.
37 B. Kerangka Pikir
Pengajaran sastra Indonesia di SMA tidak hanya bertujuan agar siswa memiliki pengetahuan dasar tentang apresiasi sastra, tetapi juga bertujuan agar siswa memiliki keterampilan dan gemar mengapresiasi karya sastra Indonesia.
Genre sastra sastra yang dipelajari di tingkat SMA adalah prosa, drama, dan puisi.
Puisi sebagai genre sastra, karya-karyanya banyak mengandung nilai dan keindahan khas yang terungkap jika mampu memahaminya dengan baik. Namun kenyataannya pembelajaran puisi utamanya dramatisasi puisi di tingkat SMA menjadi hal yang menjenuhkan dan sulit dipahami bagi siswa, kurangnya wawasan guru terhadap pembelajaran baca puisi dan teknik yang dipakai sehingga minat siswa kurang dalam pembelajaran apresiasi puisi, dalam pembelajaran dramatisasi puisi siswa kurang bersemangat, tidak berani, serta rendahnya pengetahuan dramatisasi puisi sehingga berpengaruh pada hasil belajar siswa.
Berdasarkan permasalahan yang terjadi, peneliti tertarik melakukan penelitian apresiasi puisi dalam hal ini dramatisasi puisi dengan mengeefektifkan teknik Lotov dalam pembelajaran, guna menarik minat, semangat, dan pengetahuan serta menjadikan pembelajaran dramatisasi puisi tidak menjadi hal yang asing bagi siswa dan pembelajaran sastra khususnya puisi.
Teknik pembelajaran Lotov (latihan olah tubuh dan olah vokal) merupakan teknik pembelajaran yang menitik beratkan pada aktifitas siswa.
Dalam teknik ini siswa tidak diam menerima teori dan bekerja secara individu tetapi beraktifitas dan membangun hubungan social untuk bekerja sama. Dengan demikian dapat di duga bahwa penggunaan teknik Lotov dapat berpengaruh dalam meningkatkan pembelajaran dramatisasi puisi. Kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat dilihat dengan jelas pada gambar berikut ini:
38
Bagan 1. Kerangka Pikir Penelitian
C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berpikir diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
Ha : Ada perbedaan yang signifikan kemampuan dramatisasi puisi siswa sebelum menggunakan teknik dan sesudah menggunakan teknik Lotov.
Ho : Tidak ada perbedaan yang signifikan kemampuan dramatisasi puisi siswa sebelum menggunakan teknik dan sesudah menggunakan teknik Lotov.
prosa
Apresiasi Sastra
Drama Puisi
Dramatisasi puisi
Tidak Menggunakan Teknik Penggunaan Teknik Lotov
Nilai postes Nilai Pretes
Analis Data Tes Angket
Temuan
39 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode kuasi eksperimen. Mulyatiningsih (2012:87) Kuasi eksperimen adalah penelitian yang menerapkan tindakan-tindakan yang diberi nama perlakuan (treatment). Metode kuasi eksperimen digunakan untuk mengujicobakan perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Adapun judul dalam penelitian ini, yaitu: “Keefektifan teknik Lotov (Latihan olah tubuh dan olah vokal) dalam pembelajaran dramatisasi puisi siswa kelas XII, SMA Negeti 1 Bajeng Kec Bajeng Kab. Gowa.
B. Variabel dan Desain Penelitian 1. Variabel Penelitian
Arikunto (Mulyatiningsih, 2012) mengemukakan “Variabel adalah gejala yang bervariasi”. Gejala yang dimaksud adalah objek penelitian yang dijadikan fokus penelitian dalam suatu penelitian, baik bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Hal ini berarti variabel merupakan fokus atau titik perhatian dalam suatu penelitian. Penelitian ini mengkaji dua variabel, yaitu: ‘penggunaan teknik Lotov (Latihan olah tubuh dan olah vokal)’ sebagai variabel yang mempengaruhi (variabel bebas/variabel independen), dan ‘dramatisasi puisi’ sebagai variabel yang dipengaruhi (variabel terikat/variabel dependen).
Variabel X = Teknik Lotov Variabel Y = Dramatisasi Puisi 39
X Y
40 2. Desain Penelitian
Penelitian ini adalah merupakan penelitian ‘quasi eksperimental’
(eksperimental semu). Teknik pembelajaran ini mencakup latihan olah vokal dan olah tubuh dilakukan. Oleh karena itu penulis menggunakan desain “one group prettest-posttest”. Bertujuan agar satu kelompok tersebut mendapat pelatihan yang intens dan terencana, sehingga tercapai hasil yang maksimal. Suryabrata (Consultan, 2011) mengemukakan keuntungan dari desain one-group prettest- posttest adalah pretes bisa memberi landasan untuk membuat komparasi prestasi subjek yang sama sebelum dan sesudah dikenai X (experimental treatment).
Penilaian yang dilakukan dalam penelitian ini sebanyak dua kali yaitu sebelum dan sesudah eksperimen. Sebelum eksperimen (O1) disebut pretes, pretes dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal siswa mengenai dramatisasi puisi.
Setelah itu, kelas eksperimen tersebut diberikan praktik Lotov. Setelah diberi beberapa kali perlakuan Lotov maka dilakukan postes eksperimen (O2).
Pola penelitian dapat digambarkan di bawah ini:
Keterangan:
O1 : Niali Pretes (sebelum diberikan perlakuan) O2: Nilai Postes (setelah diberikan perlakuan)
X : Perlakuan pada kelompok eksperimen berupa penerapan teknik latihan Lotov dalam pembelajaran dramatisasi puisi
Pengaruh penggunaan Lotov dalam pembelajaran dramatisasi puisi
= (O2 – O1)
O1 X O2
41 C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Sugiyono (2013:117) mengemukakan “populasi adalah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Hal ini berarti bahwa populasi merupakan keseluruhan objek/subjek yang diteliti berkaitan dengan permasalahan penelitian, yaitu penggunaan teknik Lotov dalam pembelajaran dramatisasi puisi.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII SMA Negeri 1 Bajeng yang mempelajari standar kompetensi berkaitan dengan apresiasi puisi. Keadaan populasi siswa kelas XII SMA Negeri 1 Bajeng. Jln. Pendidikan Limbung. Kec. Baajeng Kab. Gowa adalah 389 yang terdiri dari 10 kelas. Keadaan populasi dapat dilihat sebagai berikut:
No. Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10
XII IPA 1 XII IPA 2 XII IPA 3 XII IPA 4 XII IPA 5 XII IPA 6 XII IPA 7 XII IPA 8 XII IPS 1 XII IPS 2
10 7 7 10
9 10 14 16 21 23
30 32 33 27 30 28 25 24 19 14
40 39 40 37 39 38 39 40 40 37
Jumlah 127 262 389
Table 1 Populasi siswa kelas XII SMA Negeri 1 Bajeng, Kec. Bajeng Kab. Gowa tahun ajaran 2014/2015
42 2. Sampel
Menurut Sugiyono (2013:118) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif”.
Penulis mengambil teknik sampel (sampling) yaitu Simple random sampling. Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.
Dalam hal ini sampel terpilih secara acak adalah siswa kelas XII Ipa 3 sebagai kelas eksperimen, karena kelas XII Ipa 3, dengan jumlah siswa 40 yang terdiri dari 33 siswa perempuang dan 7 siswa laki-laki.
No. Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah
XII IPA 3 7 33 40
Tabel 2. Keadaan sampel siswa kelas XII Ipa 3
SMA Negeri 1 Bajeng Kec. Bajeng Kab. Gowa tahun ajaran 2014/2015
D. Defenisi Operasional Variabel
Definisi operasional diperlukan agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam memahami dan menafsirkan maksud yang terkandung dalam judul penelitian ini, di bawah ini akan dijelaskan beberapa pengertian istilah sebagai berikut:
1. Teknik Latihan Olah Tubuh dan Olah Vokal sebagai Variabel Bebas.
Teknik Lotov merupakan teknik atau cara spesifik yang digunakan untuk memberi pengetahuan dan melatih siswa tentang olah tubuh dan olah vokal sebagai persiapan diri, persiapan pertunjukan dan pengembangan diri.