• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KETERPADUAN STRATEGI PENGEMBANGAN KABUPATEN CILACAP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V KETERPADUAN STRATEGI PENGEMBANGAN KABUPATEN CILACAP"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐1

BAB V

KETERPADUAN STRATEGI

PENGEMBANGAN KABUPATEN CILACAP

5.1. Arahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Cilacap Berdasarkan amanat Undang‐Undang No. 26 Tahun 2007 tentangPenataan Ruang, kabupaten/kota wajib menyusun Rencana TataRuang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota yang ditetapkan olehPeraturan Daerah Kabupaten/kota. Dalam penyusunan RPI2‐JM BidangCipta Karya, beberapa yang perlu diperhatikan dari RTRWKabupaten/Kota adalah sebagai berikut:

a. Penetapan Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK) yang didasari sudut kepentingan: i. Pertahanan keamanan ii. Ekonomi iii. Lingkungan hidup iv. Sosial budaya v. Pendayagunaan sumberdaya alam atau teknologi tinggi b. Arahan pengembangan pola ruang dan struktur ruang yang mencakup: i. Arahan pengembangan pola ruang: a) Arahan pengembangan kawasan lindung dan budidaya

b) Arahan pengembangan pola ruang terkait bidang Cipta Karya seperti pengembangan RTH.

ii. Arahan pengembangan struktur ruang terkait keciptakaryaan seperti pengembangan prasarana sarana air minum, air limbah, persampahan, drainase, RTH, Rusunawa, maupun Agropolitan.

c. Ketentuan zonasi bagi pembangunan prasarana sarana bidang Cipta Karya yang harus diperhatikan mencakup ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lindung, kawasan budidaya, sistem perkotaan, dan jaringan prasarana. d. Indikasi program sebagai operasionalisasi rencana pola ruang dan struktur

ruang khususnya untuk bidang Cipta Karya.

Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK) diperlukan sebagai dasarpembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya. Pada pembangunaninfrastruktur skala kawasan, pembangunan infrastruktur Bidang CiptaKarya diarahkan pada lokasi KSK, dan diharapkan keterpaduanpembangunan dapat terwujud. Tabel 5.1 memaparkan identifikasiarahan RTRW Kabupaten/Kota untuk Bidang Cipta Karya, Tabel 5.2memaparkan identifikasi Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK),serta Tabel 5.3 memaparkan identifikasi indikasi program khusus untukBidang Cipta Karya.

5.1.1. Arahan Perwujudan Pola Ruang

Indikasi program utama perwujudan pola ruang sebagaimana dimaksud terdiri atas:

(2)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐2

(3)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐3 a. perwujudan kawasan lindung; dan

b. perwujudan kawasan budidaya.

A. Arahan Perwujudan Kawasan Lindung Perwujudan kawasan lindung terdiri atas:

1) perwujudan kawasan yang memberi perlindungan terhadap kawasan bawahannya, dilakukan melalui program:

a) penyusunan regulasi pengelolaan kawasan resapan air; b) penyusunan rencana rinci kawasan resapan air; c) sosialisasi pengelolaan kawasan resapan air;

d) rehabilitasi kawasan kritis pada kawasan lindung yang dikelola oleh masyarakat dan kawasan resapan air;

e) rehabilitasi kawasan kritis pada kawasan resapan air;

f) pemberdayaan dan peningkatan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan kawasan; dan

g) pemasyarakatan satu orang satu pohon.

2) perwujudan kawasan perlindungan setempat, dilakukan melalui program: a) inventarisasi dan pengelolaan kawasan perlindungan setempat;

b) pengendalian kegiatan budidaya pada kawasan perlindungan setempat; c) sosialisasi pengelolaan dan pemberdayaan masyarakat pada kawasan

perlindungan setempat;

d) rehabilitasi lahan di sekitar kawasan perlindungan setempat; dan e) penyusunan RTH dan pembangunan taman kota.

3) perwujudan kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya, dilakukan melalui program:

a) penetapan kawasan cagar alam, kawasan taman wisata alam, kawasan suaka alam laut, dan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan;

b) penyusunan masterplan dan rencana rinci kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya;

c) penyusunan peraturan zonasi kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya;

d) rehabilitasi dan preservasi kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya;

e) sosialisasi pengelolaan kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya;

f) pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya; dan g) pengendalian kerusakan kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya. 4) perwujudan penanggulangan kawasan rawan bencana alam, dilakukan melalui program: a) penyusunan rencana rinci kawasan rawan bencana alam; b) penyusunan peraturan zonasi kawasan rawan bencana alam; c) penyusunan rencana aksi daerah penanggulangan bencana alam; d) perlindungan kawasan rawan bencana alam; e) relokasi permukiman pada kawasan rawan bencana alam;

(4)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐4 f) pembuatan lokasi dan jalur evakuasi bencana alam; dan g) program mitigasi bencana. 5) perwujudan perlindungan kawasan lindung geologi, dilakukan a) penetapan kawasan lindung geologi; b) penyusunan rencana rinci kawasan lindung geologi; c) penyusunan peraturan zonasi kawasan lindung geologi; dan

d) sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat disekitar kawasan lindung geologi.

6) perwujudan kawasan lindung lainnya berupa kawasan perlindungan plasma nutfah dilakukan melalui program: a) penetapan dan pengukuhan kawasan plasma nutfah; b) penyusunan masterplan kawasan plasma nutfah; c) penyusunan rencana rinci kawasan plasma nutfah; d) penyusunan peraturan zonasi kawasan plasma nutfah; e) sosialisasi dan pemberdayaan kawasan plasma nutfah; f) penyusunan rencana tindak pelestarian kawasan plasma nutfah; dan g) rehabilitasi dan konservasi kawasan plasma nutfah. B. Arahan Perwujudan Kawasan Budidaya Perwujudan kawasan budidaya terdiri atas: 1) perwujudan kawasan peruntukan hutan produksi, dilakukan melalui program: a) penetapan kawasan hutan produksi; b) penyusunan tata kelola hutan produksi lestari; c) rehabilitasi dan reklamasi hutan produksi yang rusak; dan d) peningkatan produktivitas hutan produksi. 2) perwujudan kawasan peruntukan hutan rakyat, dilakukan melalui program: a) penetapan kawasan hutan rakyat; b) rehabilitasi dan reklamasi hutan rakyat yang rusak; dan c) peningkatan produktivitas hutan rakyat. 3) perwujudan kawasan peruntukan pertanian, dilakukan melalui program: a) penetapan kawasan peruntukan pertanian; b) peningkatan produktivitas; c) sosialisasi pengelolaan kawasan pertanian pangan berkelanjutan; d) pengendalian konversi lahan pertanian ke non pertanian; e) revitaliasasi pertanian; f) pembangunan jalan usaha tani; dan g) pembangunan sub terminal agropolitan. 4) perwujudan kawasan peruntukan perikanan, dilakukan melalui program: a) penetapan dan pengembangan kawasan perikanan; dan b) penataan kawasan minapolitan. 5) perwujudan kawasan peruntukan pertambangan, dilakukan melalui program: a) penetapan dan pengukuhan batas kawasan peruntukan pertambangan; b) penyusunan rencana rinci kawasan peruntukan pertambangan; c) sosialisasi pertambangan ramah lingkungan;

(5)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐5 d) rehabilitasi dan konservasi kawasan bekas tambang; e) optimalisasi kegiatan reklamasi pasca tambang; dan f) pengendalian pertambangan ilegal. 6) perwujudan kawasan peruntukan industri, dilakukan melalui program: a) pra studi kelayakan dan perencanaan teknis kawasan industri; b) pengadaan tanah dan pembangunan kawasan industri; c) pengembangan kawasan industri kecil dan mikro; d) penyusunan rencana rinci kawasan peruntukan industri menengah; e) penyusunan rencana zonasi kawasan peruntukan industri menengah; f) sosialisasi dan pemberdayaan kegiatan industri unggulan; g) pembangunan pasar seni dan kerajinan; dan h) pembangunan pasar produk olahan. 7) perwujudan kawasan peruntukan pariwisata dilakukan melalui program: a) penetapan dan pengembangan kawasan wisata alam; b) penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA); c) pengembangan paket wisata; d) pembangunan pos promosi pariwisata; e) pemberdayaan kelompok sadar wisata (POKDARWIS); dan f) peningkatan kualitas lingkungan kawasan wisata. 8) perwujudan kawasan peruntukan permukiman, dilakukan melalui program: a) penyusunan Rencana Pembangunan Pengembangan Perumahan dan

Permukiman Daerah (RP4D); b) penataan lingkungan permukiman perdesaan; c) penataan lingkungan permukiman perkotaan; d) peremajaan lingkungan kumuh; e) pembangunan sarana dan prasarana lingkungan permukiman; dan f) penyusunan regulasi bangunan gedung. 9) perwujudan kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan; dan a) mendukung penetapan kawasan pertahanan dan keamanan; dan b) pembangunan sarana dan prasarana kawasan pertahanan dan keamanan. 10) perwujudan kawasan pesisir dan pulau‐pulau kecil, dilakukan melalui program: a) penyusunan rencana rinci tata ruang pesisir dan pulau‐pulau kecil; b) penyusunan peraturan zonasi kawasan pesisir dan pulau‐pulau kecil; c) penyusunan rencana aksi kawasan pesisir dan pulau‐pulau kecil; d) pengendalian kegiatan budidaya pada kawasan pesisir; e) rehabilitasi dan konservasi kawasan pesisir dan pulau‐pulau kecil; dan f) sosialisasi pengelolaan kawasan pesisir dan pulau‐pulau kecil. 5.1.2. Arahan Perwujudan Struktur Ruang

Indikasi program utama perwujudan struktur ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (2) huruf a terdiri atas:

a. perwujudan sistem pusat kegiatan; dan b. perwujudan sistem prasarana wilayah.

(6)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐6 A. Arahan Perwujudan Sistem Pusat Kegiatan

1) pengembangan PKN meliputi:

a) penyusunan dan revisi Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Cilacap;

b) koordinasi pengelolaan kawasan perkotaan;

c) pengembangan dan peningkatan fasilitas perkotaan; dan d) pengembangan dan peningkatan prasarana perkotaan. 2) pengembangan PKL Perkotaan Kroya meliputi:

a) penyusunan dan revisi Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Kroya;

b) koordinasi pengelolaan kawasan perkotaan;

c) pengembangan dan peningkatan fasilitas perkotaan; dan d) pengembangan dan peningkatan prasarana perkotaan. 3) pengembangan PKL Perkotaan Majenang meliputi:

a) penyusunan dan revisi Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Majenang;

b) koordinasi pengelolaan kawasan perkotaan;

c) pengembangan dan peningkatan fasilitas perkotaan; dan d) pengembangan dan peningkatan prasarana perkotaan 4) pengembangan PKLp Perkotaan Sidareja meliputi:

a) penyusunan dan revisi Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Sidareja;

b) koordinasi pengelolaan kawasan perkotaan;

c) pengembangan dan peningkatan fasilitas perkotaan; dan d) pengembangan dan peningkatan prasarana perkotaan. 5) pengembangan PPK meliputi:

a) penyusunan dan revisi Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Ibukota Kecamatan;

b) koordinasi pengelolaan kawasan perkotaan;

c) pengembangan dan peningkatan fasilitas perkotaan; dan d) pengembangan dan peningkatan prasarana perkotaan. 6) pengembangan desa pusat pertumbuhan meliputi:

a) program pengembangan tata ruang kawasan pusat perdesaan melalui penyusunan Kawasan Terpilih Pusat Pengembangan Desa; dan b) program pengembangan pusat pelayanan perdesaan. B. Arahan Sistem Prasarana Wilayah 1) Perwujudan sistem jaringan prasarana utama, dilakukan melalui program: a) Perwujudan sistem transportasi darat, dilakukan melalui program:  pengembangan jaringan jalan;  peningkatan jalan baru;  peningkatan dan pemeliharaan Jalan Arteri Primer;  peningkatan dan pemeliharaan Jalan Kolektor Primer;  peningkatan dan pemeliharaan Jalan Arteri Sekunder;  peningkatan dan pemeliharaan Jalan Kolektor Sekunder;  peningkatan dan pemeliharaan Jalan Lokal Primer;

(7)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐7  pengembangan Jalan Strategis Nasional berupa JLSS;

 pembebasan lahan jalan bebas hambatan;  peningkatan dan rehabilitasi jalan lingkungan;  pembangunan dan pengembangan terminal barang;

 peningkatan kinerja dan pengembangan terminal penumpang tipe A Cilacap;  peningkatan kinerja dan pengembangan terminal penumpang tipe B;  peningkatan terminal penumpang Tipe C;  pembangunan terminal penumpang Tipe C baru;  peremajaan moda angkutan;  pengembangan Trayek Angkutan;  pengembangan jalur angkutan sungai dan penyeberangan; dan  penyusunan regulasi pengaturan dan penetapan kelas jalan. b) Perwujudan sistem perkeretaapian, dilakukan melalui program:  peningkatan jaringan rel yang ada;  peningkatan jalur rel ganda;  pengembangan baru jalur rel; dan  pengembangan dan peningkatan stasiun. c) Perwujudan sistem transportasi laut, dilakukan melalui program:  peningkatan fungsi pelabuhan Tanjung Intan;  pengembangan pelabuhan khusus perminyakan dan batubara; dan  pengembangan dermaga Cilacap – Nusakambangan. d) Perwujudan Sistem Transportasi Udara dilakukan melalui program:  peningkatan pelayanan bandara; dan  penataan Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP). 2) Perwujudan sistem jaringan prasarana wilayah lainnya, dilakukan melalui

program:

a) Perwujudan sistem prasarana sumberdaya energi, dilakukan melalui program:

 pengembangan jalur distribusi minyak bumi;

 pengembangan baru pembangkit tenaga listrik meliputi PLTMH, PLTS dan PLTA;

 peningkatan pelayanan PLTU dan PLTGU;

 peningkatan kapasitas dan pelayanan Gardu Induk Tegangan Tinggi (GITET);

 peningkatan kapasitas dan pelayanan Gardu Induk Tegangan Menengah (GITM);

 pengembangan dan pemeliharaan jaringan listrik interkoneksi Jawa‐Bali, berupa Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET);

 pengembangan dan pemeliharaan jaringan listrik berupa Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT); dan

 pengembangan dan pemeliharaan jaringan listrik berupa Saluran Udara Tegangan Rendah (SUTR).

(8)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐8  pengembangandan perluasan cakupan pelayanan jaringan distribusi

telepon kabel;  pengembangan fasilitas internet gratis pada fasilitas publik;  pengembangan jaringan serat optik;  pengembangan menara bersama BTS;  penyusunan Kajian Teknis Rencana Tata Letak Menara (RTLM); dan  penyusunan regulasi tentang Rencana Tata Letak Menara (RTLM). c) Perwujudan sistem prasarana sumberdaya air, dilakukan melalui program:

 penyusunan regulasi tentang pola pengelolaan Wilayah Sungai (WS) Citanduy;  pengembangan embung dan sarana pendukungnya;  rehabilitasi embung;  Program Kali Bersih (PROKASIH);  pengendalian pemanfaatan air tanah;  pengaturan alih fungsi lahan;  pembangunan pengaman sungai;  pengembangan biopori dan sumur resapan;  pengembangan dan optimalisasi pemanfaatan jaringan irigasi;  perluasan pelayanan air minum; dan  pemberdayaan kelembagaan petani pemakai air dan kelompok pengelola air minum mandiri.

d) Perwujudan sistem prasarana pengelolaan lingkungan dilakukan melalui program:  penyusunan Manajemen Persampahan Kabupaten Cilacap;  peningkatan pengelolaan persampahan menjadi sanitary landfill;  pengembangan TPST;  perluasan pelayanan persampahan;  pengembangan saluran pembuangan air limbah (SPAL);  pengelolaaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3);  pengelolaan limbah secara komunal;  penyusunan Kajian Masterplan Drainase;  pengembangan dan Pemberdayaan Sanimas;  penyusunan SSK (Strategi Sanitasi Kabupaten); dan  penyediaan air minum pada daerah rawan air.

e) Pengembangan jalur dan ruang evakuasi bencana dilakukan melalui program:  peningkatan jalan yang berfungsi sebagai jalur evakuasi bencana;  pembangunan jalan baru dalam mempermudah proses evakuasi; dan  pembangunan tempat penampungan sementara pengungsi akibat bencana. 5.1.3. Arahan Perwujudan Kawasan Strategis 1) Arahan Perwujudan Kawasan Strategis Pengembangan Ekonomi, meliputi: a) pengembangan wilayah perbatasan kawasan Pangandaran – Kalipucang –

Segara Anakan – Nusa Kambangan;

(9)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐9 c) pengembangan wilayah strategis dan cepat tumbuh perkotaan Cilacap; d) pengembangan wilayah strategis dan cepat tumbuh Majenang; e) penataan kawasan perdagangan koridor Sampang‐Buntu; dan f) penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan Perkotaan Cilacap. 2) Arahan Perwujudan Kawasan Strategis Sosial dan Budaya, meliputi: a) revitalisasi Kawasan Bersejarah Benteng Pendem dan sekitarnya; b) penyusunan Rencana Teknis Ruang Kawasan Bersejarah Benteng Pendem dan sekitarnya; dan c) penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan Bersejarah Benteng Pendem dan sekitarnya.

3) Arahan Perwujudan Kawasan Strategis Pendayagunaan Sumberdaya Alam dan/atau Teknologi Tinggi

a) penyusunan Rencana Teknis Ruang Kawasan Pengolahan Minyak; dan b) penyusunan RTBL Kawasan Pengolahan Minyak di perkotaan Cilacap. 4) Arahan Perwujudan Kawasan Strategis Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan

Hidup, meliputi: a) penyusunan Rencana Teknis Ruang Kawasan Segara Anakan; b) penyusunan Rencana Teknis Ruang Pulau Nusakambangan; c) penyusunan Rencana Teknis Ruang Kawasan DAS Citanduy; dan d) penyusunan Rencana Teknis Ruang Kawasan DAS Serayu. 5.2. Arahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) disusunberdasarkan Undang‐Undang No. 25 Tahun 2004 tentang SistemPerencanaan Pembangunan Nasional. Dalam undang‐undang tersebut,RPJM Daerah dinyatakan sebagai penjabaran dari visi, misi, danprogram Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJPDaerah dan memperhatikan RPJM Nasional, memuat arah kebijakankeuangan Daerah, strategi pembangunan Daerah, kebijakan umum,dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah, lintas Satuan KerjaPerangkat Daerah, dan program kewilayahan disertai dengan rencanarencanakerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yangbersifat indikatif.

Penyusunan RPI2‐JM tentu perlu mengacu pada rencanapembangunan daerah yang tertuang dalam RPJMD agar pembangunansektor Cipta Karya dapat terpadu dengan pembangunan bidang lainnya.Oleh karena itu, ringkasan dari RPJMD perlu dikutip dalam RPI2‐JM CKseperti visi, misi, serta arahan kebijakan bidang Cipta Karya di daerah.

5.2.1. Kebijakan Pembangunan Daerah A. Visi

Visi dalam RPJMD Kabupaten Cilacap 2012 – 2017 dirumuskandengan mengacu kepada visi Bupati terpilih Kabupaten Cilacap periode 2012–2017 yakni “Bekerja dan Berkarya menuju Cilacap Sejahtera”, yangkemudian dinyatakan menjadi visi Kabupaten Cilacap 2012‐2017 sebagaiberikut:

(10)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐10 “Menjadi Kabupaten Cilacap yang Sejahtera Secara Merata”

Visi adalah suatu kondisi yang diinginkan untuk terwujud di masamendatang. Dalam hal ini kondisi yang diinginkan adalah masyarakatKabupaten Cilacap yang sejahtera secara merata. Sejahtera mempunyaimakna tercukupinya kebutuhan masyarakat, terjaminnya rasa aman dantenteram dan terpenuhinya rasa keadilan masyarakat. Merata mempunyaimakna tiadanya perbedaan pendapatan yang berlebihan baik antar kelompokmasyarakat maupun antar wilayah dalam kabupaten. Kebutuhan masyarakatmeliputi kebutuhan‐kebutuhan fisik dan non‐fisik. Kebutuhan fisik adalahkebutuhan yang berkaitan dengan kebutuhan dasar untuk memenuhi standarhidup layak dan sekaligus untuk meningkatkan kualitas hidup. Kebutuhannon‐fisik adalah kebutuhan dasar yang berkaitan dengan kebutuhanpendidikan, kesehatan, rasa aman, rasa keadilan dan kebutuhan rohani.Perbedaan pendapatan yang berlebihan akan dapat mendorong terjadinyakesenjangan pendaptan baik kesenjangan antar kelompok dalam masyarakatataupun kesenjangan pendapatan antar wilayah. Sementara, kesenjanganpendapatan merupakan indikasi terjadinya kemiskinan dalam masyarakat,baik kemiskinan absolut ataupun kemiskinan relatif. Tiadanya perbedaanpendapatan yang berlebihan, selain menunjukkan pemerataan pendapatanyang lebih baik juga menjadi petunjuk berkurangnya kemiskinan dalammasyarakat.

Visi tersebut juga merupakan komitmen yang hendak diwujudkanoleh Bupati Kabupaten Cilacap tahun 2012‐2017, sekaligus menjadi pedomandalam memimpin Kabupaten Cilacap selama periode 2012‐2017. Untukmerealisasikan visi tersebut, Visi “Menjadi Kabupaten Cilacap yang Sejahtera

secara Merata”, kemudian dijabarkan ke dalam Enam Misi. B. Misi

Untuk mencapai visi Kabupaten Cilacap tersebut, Pemerintah KabupatenCilacap merumuskan 6 (enam) misi, sebagai berikut:

1. Mengembangkan Sumber Daya Manusia Berkualitas dan Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sumber daya manusia (SDM) adalah kunci keberhasilan dalammewujudkan visi Cilacap Sejahtera yang ingin dicapai. Sumber daya manusiajuga merupakan ultimate goal untuk siapa dan kepada siapa Cilacap sejahteradiwujudkan. Dengan kesadaran akan pentingnya posisi sumber dayamanusia, misi yang pertama menyasar pada pengembangan sumber dayamanusia. Arah yang ingin dicapai adalah peningkatan kualitas SDM. Sumberdaya manusia yang berkualitas adalah SDM yang tinggi derajat kesehatannya.Dengan derajat kesehatan yang tinggi, SDM yang berkualitas akan mampumengembangkan dirinya melalui pendidikan dan penguasaan teknologi.Hasil yang diharapkan dengan SDM yang berkualitas adalah produktifitasSDM yang tinggi dalam setiap karyanya.

Visi Cilacap yang sejahtera juga akan dimanifestasikan melalui SDMyang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yakni masyarakat yang selaluberpijak dan mengedepankan nilai‐nilai agama dalam setiap sendikehidupannya. Misi ketakwaan

(11)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐11 kepada Tuhan Yang Maha Esa ini sangatpenting untuk ditekankan sejalan dengan kekhawatiran semakin terkikisnya

nilai‐nilai agama dalam kehidupan bermasyarakat yang tergerus arusmaterialisme dan hedonisme. Dalam hal ini, SDM yang berkualitas tidakhanya menyangkut dimensi material saja tetapi juga dimensi spiritual yangmemberikan makna atas keberhasilan pembangunan.

2. Mewujudkan Demokratisasi dan Meningkatkan Kualitas Penyelenggara Pemerintahan yang Bersifat Entrepreneur, Profesional dan Dinamis Mengedapankan Prinsip Good Governance dan Clean Government

Misi kedua yang diusung dalam RPJMD Kabupaten Cilacapbertujuan untuk mewujudkan demokratisasi sekaligus meningkatkankualitas penyelenggaraan pemerintahan. Makna demokratisasi dalam hal iniadalah sebuah proses untuk mewujudkan kehidupan bermasyarakat danbernegara dengan menjunjung tinggi prinsip demokrasi. Prinsipdemokratisasi tersebut adalah kesetaraan setiap warga negara di matahukum dengan kesadaran akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara.Dengan prinsip tersebut, setiap warga negara diharapkan bisa memainkanpartisipasi masing‐masing sesuai kapasitasnya dan saling berinteraksi dalamtatanan demokrasi yang sehat.

Praktik demokrasi yang sehat akan menghasilkan pemerintahanyang memiliki legitimasi. Pemerintah yang memiliki legitimasi akan dituntutuntuk menyelenggarakan pemerintah secara kredibel dan akuntabel.Menyadari hal tersebut, misi kedua ini bertujuan meningkatkan kualitaspenyelenggaraan pemerintahan. Kualitas pemerintahan yang diharapkanmeningkat dalam hal ini adalah pemerintahan yang memiliki sifatentrepreneur, profesional dan dinamis. Sifat entrepreneur dan profesionalpenyelenggara pemerintahan adalah kata kunci yang diharapkan melekatpada setiap pelayanan publik yang diberikan oleh aparatur pemerintahankepada masyarakat. Di samping itu, penyelenggaraan pemerintahan jugaharus dinamis dalam arti bahwa setiap perubahan‐perubahan dinamislingkungan sosial, ekonomi dan politik menuntut penyelenggaraanpemerintah yang tanggap terhadap perubahan‐perubahan tersebut. Hasilyang diharapkan dari meningkatnya kualitas penyelenggaraan pemerintahadalah meningkatnya efisiensi, efektivitas dan akuntabilitas penyelenggaraanpemerintahan untuk mewujudkan pemerintahan yang terselenggara denganbaik (good governance) dan bersih serta berwibawa (clean governance).

3. Meningkatkan dan Memperbaiki Layanan Pendidikan dan Pelatihan, Meningkatkan Derajat Kesehatan Individu dan Masyarakat.

Misi ketiga yang diusung dalam RPJMD berkaitan erat dengan misipertama RPJMD. Misi yang pertama menekankan pada aspek kesejahteraanyang diwujudkan dengan meningkatkan perbaikan kualitas sumber dayamanusia yang tercermin dari derajat kesehatan, tingkat pendidikan danketakwaan. Misi yang ketiga menekankan pada peningkatan aspek pelayananpada bidang kesehatan dan pendidikan demi mewujudkan sumber dayamanusia yang berkualitas. Untuk mewujudkan derajat kesehatan danpendidikan yang tinggi menuntut proses kualitas pelayanan di bidangpendidikan dan kesehatan yang semakin tinggi pula.

(12)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐12 Pendidikan dan kesehatan merupakan layanan publik dasar yangsangat penting bagi masyarakat. Bagi pemerintah, keduanya merupakanurusan wajib. Bahkan khusus untuk urusan pendidikan, Konstitusi RepublikIndonesia mengamanatkan alokasi anggaran untuk urusan pendidikanminimal 20 persen dari total anggaran. Oleh karena itu, dengan anggaranyang sangat besar, arah dari misi keempat adalah peningkatan dan perbaikanlayanan pendidikan.

4. Mengembangkan Perekonomian yang Bertumpu pada Pengembangan Potensi Lokal dan Regional Melalui Sinergi Fungsi‐Fungsi Pertanian, Kehutanan, Kelautan dan Perikanan, Pariwisata, Perdagangan, Industri dan dengan Penekanan pada Peningkatan Pendapatan Masyarakat dan Penciptaan Lapangan Kerja.

Fokus misi keempat ini adalah pengembangan potensi ekonomilokal. Corak ekonomi yang beragam dari mulai pertanian, kelautan,perdagangan, industri dan pariwisata merupakan potensi yang harusmenjadi basis pengembangan ekonomi Kabupaten Cilacap dengan sinergitasdi antara potensi‐potensi lokal tersebut khususnya yang banyak menyeraptenaga kerja. Oleh karena itu, misi keempat ini sangat strategis peranannyadalam kaitannya dengan dimensi ekonomi, penurunan tingkat kemiskinandan peningkatan derajat kesejahteraan.

5. Memberdayakan Masyarakat dan Seluruh Kekuatan Ekonomi Daerah, Terutama Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta Koperasi, Membangun dan Mengembangkan Pasar bagi Produk Lokal.

Misi kelima berkaitan dengan misi keempat. Arah misi keempatadalah pengembangan pada dimensi ekonomi yakni sektor‐sektor basis yangmenyerap banyak tenaga kerja, sedangkan misi kelima adalah aspekkelembagaan dan masyarakat. Sasaran misi kelima adalah pemberdayaanmasyarakat pelaku kegiatan ekonomi sekaligus lembaga ekonomi koperasidan usaha kecil menengah.

Koperasi dan usaha kecil menengah merupakan lembaga ekonomiyang strategis dalam rangka pengembangan ekonomi yang berbasis padapotensi lokal dengan arah penciptaan lapangan kerja sebagaimana diusungdalam misi keempat. Oleh karena itu, secara khusus misi kelima inimenekankan pada pengembangan lembaga koperasi dan usaha kecilmenengah.

6. Memeratakan dan Menyeimbangkan Pembangunan Secara Berkelanjutan Untuk Mengurangi Kesenjangan Antar Wilayah dengan Tetap Memperhatikan Aspek Lingkungan Hidup dalam Pemanfaatan Sumberdaya Alam Secara Rasional, Efektif dan Efisien.

Dengan wilayah pembangunan yang sangat luas, persoalanketimpangan antar wilayah di Kabupaten Cilacap menjadi salah satu isustrategis. Oleh karena itu, misi keenam pembangunan Kabupaten Cilacap inidiarahkan pada pemerataan pembangunan antar wilayah. Selainpembangunan yang lebih merata, arah pembangunan yang diusung dalammisi keenam adalah pembangunan yang berkelanjutan. Isu pembangunanberkelanjutan ini kaitannya dengan daya dukung bumi dalam menopangpembangunan serta dampak degradasi lingkungan.

C. Strategi dan Arah Kebijakan

Strategi dan arah kebijakan dirumuskan berdasarkan isu‐isu strategisdalam rangka menyelesaikan masalah‐masalah pembangunan dan

(13)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐13 mencapaitujuan yang telah ditetapkan berdasarkan misi Kabupaten Cilacap 2012‐ 2017. Ada delapan isu strategis yang telah dirumuskan untuk mencapaitujuan tersebut. Penyelesaian masalah yang berkaitan dengan satu isustrategis diselesaikan melalui pilihan satu atau lebih strategi. Pada saat sama,suatu strategi yang dipilih dapat menjadi jalur penyelesaian masalah yangberkaitan dengan lebih dari satu isu strategis. Sementara itu, arah kebijakandirumuskan untuk memberikan panduan dan penekanan agar kebijakan‐kebijakanyang dirumuskan mampu membawa kearah tepat, optimal danbersinergi satu sama lain, sehingga setiap program dan kegiatan yangdirumuskan dapat menghasilkan output dan mencapai sasaran yang telahditetapkan.

Terkait dengan delapan isu strategis Kabupaten Cilacap pada tahapanpembangunan jangka menengah tahun 2012‐2017, telah dirumuskan StrategiDasar yaitu “Bangga Mbangun Desa”, sesuai dengan Peraturan Bupati No.76Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Gerakan “Bangga MbangunDesa”. “Bangga Mbangun Desa” adalah strategi dan arah kebijakan yangdimaksudkan sebagai panduan bagi lembaga pemerintah, swasta danmasyarakat Kabupaten Cilacap dalam melaksanakan pembangunan yangberorientasi di perdesaan. “Bangga Mbangun Desa” sekaligus merupakanimplementasi gerakan “Bali Ndeso, Mbangun Deso” Gubernur Jawa Tengah2008‐2013. Dengan demikian “Bangga Mbangun Desa” merupakan spiritdasar orientasi pembangunan Kabupaten Cilacap Tahun 2012‐ 2017 yangkemudian diterjemahkan lebih mendalam menjadi strategi‐strategi yanglebih rinci sesuai isu strategis Kabupaten Cilacap. Spirit “Bangga MbangunDesa” ini menjadi semangat dasar pembangunan Kabupaten Cilacap yangdiwujudkan ke dalam Enam Misi Kabupaten Cilacap Tahun 2012‐2017.Sebagai strategi dan kebijakan dasar, Gerakan “Bangga MbangunDesa” diimplementasikan melalui jalur Empat Pilar dan yang kemudianditerjemahkan ke dalam Enam Misi Bupati Cilacap Periode Tahun 2012‐2017yang telah dicantumkan pada Bab IV RPJMD Tahun 2012‐ 2017. Empat Pilartersebut adalah: (1) Pilar Pendidikan, (2) Pilar Kesehatan, (3) Pilar Ekonomi,dan (4) Pilar Lingkungan Sosial Budaya.

Pilar Pendidikan. Pilar Pendidikan ini selaras dengan Misi 1 dan Misi3 Bupati Periode Tahun 2012‐2017 yang dituangkan dalam RPJMD Tahun2012‐2017. Pendidikan menjadi dasar dan sumber tumbuh danberkembangnya kualitas manusia. Untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Cilacap, strategi dasarnya adalah denganmeningkatkan derajat pendidikan masyarakat. Peningkatan derajatpendidikan masyarakat ini diukur dalam dua aspek. Pertama, rata‐rata lamapendidikan masyarakat yang dalam hal ini paling kurang pendudukkabupaten Cilacap harus mencapai pendidikan dasar 9 (sembilan tahun), dankedua, pemerataan dalam memperoleh pendidikan dasar tersebut, baikmerata dalam secara wilayah, mutu maupun usia. Pilar Pendidikan ini jugaterkait dan sekaligus akan mampu menjawab masalah‐masalah dan isustrategis kabupaten Cilacap bidang pendidikan dan sumber daya manusiayang telah dituangkan dalam Bab IV RPJMD 2012‐2017. Selaras denganpemetaan masalah dan isu strategis pendidikan, Pilar Pendidikan dalamGerakan “Bangga Mbangun Desa” ini akan menjawab masalah kependidikandan pengembangan sumber daya manusia ,yang memang secara fisik lebihbanyak tersebar di wilayah perdesaan. Pencapaian

(14)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐14 indikator‐indikator dalamPilar Pendidikan ini, akan menjadi sumber kekuatan pembangunan yangakan mempunyai basis luas dan tersebar di seluruh wilayah KabupatenCilacap.

Pilar Kesehatan. Pilar Kesehatan ini selaras dengan Misi‐1 dan Misi‐ 3Bupati Periode Tahun 2012‐2017 yang dituangkan dalam RPJMD 2012‐ 2017.Kesehatan individu dan masyarakat, merupakan sumber dan akseleratordalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, derajatkesehatan baik individu maupun masyarakat merupakan indikator strategislain berkaitan dengan peningkatan mutu sumber daya manusia. Peningkatanderajat kesehatan ini mencakup dua unsur yaitu kesehatan individual dankesehatan masyarakat. Kesehatan individual diukur dengan menggunakanindikator‐indikator kesehatan individu, baik kesehatan ibu, kesehatan anak,kejangkitan penyakit, dan layanan kesehatan. Sementara, kesehatanmasyarakat diukur dengan menggunakan indikator kesehatan lingkungan,sanitasi, pencegahan penyakit dan perilaku sehat masyarakat. Peningkatanderajat kesehatan masyarakat juga mencakup dimensi pemerataan layanan,baik mutu layanan, antar kelompok masyarakat maupun cakupan antarwilayah. Pilar Kesehatan dalam Gerakan “Bangga Mbangun Desa” inimerupakan strategi untuk menjawab dan menyelesaikan masalah dan isu‐ isustrategis bidang kesehatan sebagaimana tercantum dalam Bab IV RPJMD ini.Peningkatan derajat kesehatan masyarakat sekaligus juga merupakanstrategi untuk mengatasi masalah yang terkait dengan isu‐isu kemiskinan.Sebagaimana juga dituangkan dalam Millenium Development Goals (MDGs),dimensi‐dimensi kemiskinan bukan hanya menyangkut aspek pendapatan,melainkan juga aspek kesehatan. Keterjangkauan terhadap layanankesehatan merupakan ukuran kemsikinan. Semakin mudah akses terhadaplayanan kesehatan, semakin besar kemungkinan untuk keluar dari tingkatkemiskinan. Oleh karena itu, pencapaian derajat kesehatan masyarakatmelalui Pilar Kesehatan dalam Gerakan “Bangga Mbangun Desa” akanmenjadi dasar dan akan mengakselerasi dalam pencapaian tujuanpembangunan kabupaten Cilacap sebagaimana tertuang dalam misiKabupaten Cilacap dalam RPJMD Tahun 2012‐2017.

Pilar Ekonomi. Pilar Ekonomi ini selaras dengan Misi‐4, Misi‐5 danMisi‐6 Bupati periode Tahun 2012‐2017 yang dituangkan dalam RPJMDTahun 2012‐2017. Inti dari Pilar Ekonomi dalam Gerakan “Bangga MbangunDesa” adalah strategi untuk meningkatkan pendapatan riil masyarakat secaraberkelanjutan dan merata. Karena itu pula, tujuan pembangunan melaluiPilar Ekonomi ini kemudian diterjemahkan kedalam 3 (tiga) misi utamadalam RPJMD Tahun 2012‐2017. Hakekat dari peningkatan pendapatan riilsecara berkelanjutan adalah peningkatan produktivitas orang‐per‐orang danmasyarakat dari waktu ke waktu. Sementara hakekat peningkatanproduktivitas secara merata adalah peningkatan produktivitas yangmencakup semua lapisan dan kelompok masyarakat, dan meluas di semuawilayah Kabupaten Cilacap; yang muaranya akan dapat menurunkankesenjangan pendapatan antar kelompok masyarakat dan antar wilayah diKabupaten Cilacap. Peningkatan produktivitas adalah outcome dari adanyapeningkatan derajat pendidikan dan derajat kesehatan masyarakat. Artinya,pencapaian dan tercapainya tujuan Pilar Pendidikan dan Pilar

(15)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐15 Kesehatanmerupakan modal dasar untuk mencapai tujuan Pilar Ekonomi. Modal dasarberupa sumber daya manusia yang berkualitas itulah yang akan melahirkansumber daya manusia yang kreatif, professional, bertanggungjawab danberbudaya, yang kemudian akan mampu mengelola potensi yang dimiliki dansumberdaya lainnya; baik yang ada di Kabupaten Cilacap maupun di daerahhinterland‐nya, untuk semakin meningkatkan produktivitas yang padaakhirnya akan meningkatkan daya saing Kabupaten Cilacap secarakeseluruhan. Tumbuh dan berkembangnya kekuatan riil ekonomi yangberbasis pada keunggulan yang dimiliki Kabupaten Cilacap secara merata,dan kemampuan untuk mengintegrasikan dan memanfaatkan potensilingkungan kelembagaan untuk kemudian mengakselerasikannya menjadikekuatan ekonomi masyarakat, akan menjadikan masyarakat kabupatenCilacap mempunyai daya tahan ekonomi yang kuat, semakin mandiri,sekaligus akan mempunyai daya saing yang kuat. Pencapaian tujuan PilarEkonomi dalam Gerakan “Bangga Mbangun Desa” ini merupakan jawabandan solusi atas berbagai masalah dan isu strategis yang berkaitan denganMisi‐4, Misi‐5 dan Misi‐6 yang telah dituangkan dalam Bab IV RPJMD Tahun2012‐2017. Berdasarkan pemetaan masalah dan isu strategis pula, tujuanPilar Ekonomi ini dapat dicapai melalui fokus pada bidang‐bidang yangmempunyai basis keunggulan kuat, khususnya pada bidang pertanian, UsahaKecil dan Mikro (UKM), dan bidang perdagangan dan pemasaran.

Pilar Lingkungan Sosial Budaya dan Infrastruktur. PilarLingkungan Sosial Budaya dan Infrastruktur ini selaras dengan Misi‐1, Misi‐2,Misi‐3 dan Misi‐6, Bupati Periode Tahun 2012‐2017 yang dituangkan dalamRPJMD Tahun 2012‐2017. Inti capaian pengembangan melalui PilarLingkungan Sosial Budaya dan Infrastruktur adalah semakin tumbuh,berkembang dan kokohnya modal sosial (social capital) sebagai modalpembangunan, yang didukung dengan infrastruktur yag memadai. Modalsosial berfungsi sebagai perekat dan sekaligus akselerator prosespembangunan yang berbasis nilai‐nilai budaya: khususnya budaya lokal yangada dan hidup dalam suatu masyarakat. Modal sosial mencakup faktorkelembagaan formal berupa institusi, aparataur pemerintahan danperaturan, maupun faktor kelembagaan nonformal dan informal sepertinorma‐norma yang berlaku, adat‐istiadat dan kebiasaan, nilai‐nilai tradisi,seni dan budaya yang ada dan hidup dalam suatu masyarakat. Penghargaanterhadap nilai‐nilai kearifan lokal akan menjadi energi dan kekuatan untuktetap terjaminnya pembangunan secara holistik.Pembangunan secara holistik adalah konsep pembangunan yangberbasis pada prinsip keserasian, kelestarian lingkungan hidup, ekonomi dansosial, keharmonisan dan kesimbangan antar unsur pembangunan. Semua inimerupakan kekayaan budaya dan sekaligus menjadi modal untuk mencapaitujuan pembangunan. Dukungan kelembagaan seperti terciptanya iklimbirokrasi yang profesional, bersih dan akuntabel merupakan strategipembangunan yang berbasis pada Pilar Lingkungan Sosial Budaya danInfrastruktur.Secara rinci visi dan misi dijabarkan ke dalam Strategi dan Arah

(16)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐16 Penyusunan Perda Bangunan Gedung diamanatkan pada PeraturanPemerintah No. 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU 28tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, yang menyatakan bahwapengaturan dilakukan oleh pemerintah daerah dengan penyusunanPeraturan Daerah tentang Bangunan Gedung berdasarkan padaperaturan perundang‐undangan yang lebih tinggi denganmemperhatikan kondisi kabupaten/kota setempat serta penyebarluasanperaturan perundang‐undangan, pedoman, petunjuk, dan standar teknisbangunan gedung dan operasionalisasinya di masyarakat.

Perda Bangunan Gedung mengatur tentang persyaratan administrasidan teknis bangunan gedung. Salah satunya mengatur persyaratankeandalan gedung, seperti keselamatan, kesehatan, kenyamanan dankemudahan. Persyaratan ini wajib dipenuhi untuk memberikanperlindungan rasa aman bagi pengguna bangunan gedung dalammelakukan aktifitas di dalamnya dan sebagai landasan operasionalisasipenyelenggaraan bangunan gedung di daerah. Utamanya untuk daerahrawan bencana, Perda Bangunan Gedung sangat penting sebagaipayung hukum di daerah dalam menjamin keamanan dan keselamatanbagi pengguna. Ketersediaan Perda BG bagi kabupaten/kotamerupakan salah satu prasyarat dalam prioritas pembangunan bidangCipta Karya di kabupaten/kota.

5.3.1. Fungsi dan Klasifikasi Bangunan Gedung A. Fungsi Bangunan Gedung

Fungsi bangunan gedung merupakan ketetapan pemenuhanpersyaratan eknis bangunan dan lingkungannya maupun keandalanbangunan gedungnya.Fungsi bangunan gedung meliputi fungsi hunian, fungsi keagamaan,fungsi usaha, fungsi sosial dan budaya serta fungsi khusus. Bangunan gedung dapat memiliki lebih dari satu fungsi. 1. Bangunan gedung fungsi hunian meliputi: a. rumah tinggal tunggal; b. rumah tinggal deret; c. rumah tinggal susun; dan d. rumah tinggal sementara. 2. Bangunan gedung fungsi keagamaan meliputi: a. bangunan masjid/mushola; b. bangunan gereja; c. bangunan vihara; d. bangunan pura; e. bangunan klenteng; f. bangunan peribadatan lainnya. 3. Bangunan gedung fungsi usaha meliputi: a. perkantoran; b. perdagangan; c. perindustrian; d. perhotelan/penginapan; e. wisata, rekreasi dan olah raga; f. terminal; dan g. penyimpanan/pergudangan.

(17)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐17 h. pertanian, peternakan dan perikanan 4. Bangunan gedung fungsi sosial dan budaya meliputi: a. bangunan gedung untuk pendidikan; b. kebudayaan; c. pelayanan kesehatan; d. laboratorium; dan e. pelayanan umum. 5. Bangunan gedung fungsi khusus meliputi: a. bangunan gedung untuk reaktor nuklir; b. instalasi pertahanan dan keamanan; dan c. bangunan sejenis yang diputuskan oleh menteri.

6. Bangunan gedung yang belum termasuk dalam klasifikasi fungsidiatur lebih lanjut oleh Bupati.

B. Klasifikasi Bangunan Gedung

Bangunan Gedung diklasifikasikan berdasarkan tingkat kompleksitas, tingkat permanen, tingkat resiko kebakaran, zonasi rawan bencana, lokasi, ketinggian dan/atau kepemilikan. 1. Klasifikasi bangunan gedung berdasarkan tingkat kompleksitas meliputi: a. bangunan gedung sederhana; b. bangunan gedung tidak sederhana; dan c. bangunan gedung khusus. 2. Klasifikasi bangunan gedung berdasarkan tingkat permanen meliputi: a. bangunan gedung permanen; b. bangunan gedung semi permanen; dan c. bangunan gedung sementara. 3. Klasifikasi bangunan gedung berdasarkan tingkat resiko kebakaran meliputi: a. bangunan gedung tingkat resiko kebakaran tinggi; b. bangunan gedung tingkat resiko kebakaran sedang; dan c. bangunan gedung tingkat resiko kebakaran rendah.

4. Klasifikasi bangunan gedung berdasarkan tingkat zona rawan bencana ditetapkan oleh instansi berwenang 5. Klasifikasi bangunan gedung berdasarkan lokasi meliputi: a. bangunan gedung lokasi padat; b. bangunan gedung lokasi sedang; dan c. bangunan gedung lokasi jarang. 6. Klasifikasi bangunan gedung berdasarkan ketinggian meliputi: a. bangunan gedung bertingkat tinggi; b. bangunan gedung bertingkat sedang; dan c. bangunan gedung bertingkat rendah. 7. Klasifikasi bangunan gedung berdasarkan kepemilikan meliputi: a. bangunan gedung milik Negara; b. bangunan gedung milik badan usaha; dan c. bangunan gedung milik perorangan. Ketentuan lebih lanjut mengenai klasifikasi bangunan gedung diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati. Fungsi dan klasifikasi bangunan gedung harus

(18)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐18 sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam ketentuan tentang rencana tata ruang wilayah (RTRW) kabupaten. Fungsi dan klasifikasi bangunan gedung dicantumkan dalam IMB. Perubahan fungsi dan klasifikasi bangunan gedung yang telah ditetapkan, dapat dirubah melalui permohonan baru izin mendirikan bangunan gedung, kecuali bangunan gedung fungsi khusus ditetapkan oleh pemerintah. Perubahan fungsi dan klasifikasi bangunan gedung harus diikuti dengan pemenuhan persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung.

5.3.2. Persyaratan Bangunan Gedung

Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratifdan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi bangunan gedung.Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratifagar bangunan dapat dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya.Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan teknis, baikpersyaratan tata bangunan maupun persyaratan keandalan bangunangedung agar bangunan gedung laik fungsi dan layak huni, serasi danselaras dengan lingkungannya.Persyaratan administratif dan persyaratan teknis untuk bangunangedung adat, bangunan gedung semi permanen, bangunan gedung yangdibangun pada daerah lokasi bencana ditetapkan oleh pemerintahdaerah sesuai kondisi sosial dan budaya setempat.

A. Persyaratan Adiministratif Bangunan Gedung

Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratif yangmeliputi:

1. status hak atas tanah dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah; 2. status kepemilikan bangunan gedung; dan

3. izin mendirikan bangunan (IMB). B. Status Hak Atas Tanah

Setiap bangunan gedung harus didirikan pada tanah yang statuskepemilikanya jelas, baik milik sendiri maupun milik pihak lain.Dalam hal tanahnya milik pihak lain, bangunan gedung hanya dapatdidirikan dengan pemanfaatan tanah dari pemegang hak atas tanahatau pemilik tanah dalam bentuk perjanjian tertulis antara pemeganghak atas tanah atau pemilik tanah dengan pemilik bangunan gedung.Perjanjian tertulis memuat palingsedikit hak dan kewajiban para pihak, luas, letak dan batas‐batas tanah,serta fungsi bangunan gedung dan jangka waktu pemanfaatan tanah.

C. Izin Mendirikan Bangunan

Setiap orang dan/atau badan usaha yang akan mendirikan bangunangedung wajib memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB).Izin Mendirikan Bangunan diberikan oleh Pemerintah Daerah, kecuali bangunan gedung fungsikhusus harus mendapat persetujuan/rekomendasi dari Pemerintah.Pemerintah daerah memberikan surat keterangan rencana kabupatenkepada setiap pemohon izin membuat bangunan yang berlaku untuklokasi yang bersangkutan dan berisi:

(19)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐19 2. ketinggian maksimum bangunan gedung yang dizinkan; 3. jumlah lantai/lapis bangunan gedung di bawah/ di atas permukaan tanah; 4. garis sempadan dan jarak bebas minimum bangunan gedung yang dizinkan; 5. KDB maksimum yang diizinkan; 6. KLB maksimum yang diizinkan; 7. KDH minimum yang diwajibkan; 8. KDH minimum yang diwajibkan; 9. KTB maksimum yang diizinkan; dan 10. jaringan utilitas kota. Keterangan rencana kabupaten digunakan sebagai dasar penyusunan rencana teknis bangunan gedung.

Setiap orang/badan dalam mengajukan permohonan izin mendirikanbangunan gedungwajibmelengkapi dengan:

1. tanda bukti status kepemilikan hak atas tanah atau tanda bukti perjanjian pemanfaatan tanah

2. data pemilik bangunan gedung; dan

3. hasil analisis mengenai dampak lingkungan bagi bangunan gedung yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan.

Untuk proses pemberian perizinan bagi bangunan gedung yangmenimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan, harus mendapatpertimbangan teknis dari tim ahli bangunan gedung dan denganmempertimbangkan pendapat publik.

Bupati atau pejabat yang ditunjuk berwenang:

1. menerbitkan izin sepanjang persyaratan teknis dan administrasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

2. memberikan izin atau menentukan lain dari ketentuan‐ketentuan yang diatur dalam peraturan daerah ini, dengan mempertimbangkan ketertiban umum, keserasian lingkungan, keselamatan dan keamanan jiwa manusia setelah mendengar pendapat para ahli/badan penasehat teknis bangunan;

3. menghentikan atau menutup kegiatan yang dilakukan dalam bangunan yang tidak sesuai dengan fungsi yang ditetapkan sesuai dalam perizinan, sampai dengan yang bertanggung jawab atas bangunan memenuhi persyaratan yang ditetapkan;

4. memerintahkan untuk melakukan perbaikan terhadap bangunan atau sebagian bangunan dan pekarangan atau lingkungan untuk pencegahan terhadap gangguan kesehatan dan/atau keselamatan manusia/lingkungan, setelah mendengar pendapat tim ahli bangunan;

5. memerintahkan, menyetujui atau menolak dilakukannya pembangunan, perbaikan, atau pembongkaran prasarana dan sarana lingkungan oleh pemilik bangunan/tanah;

6. dapat menetapkan kebijakan terhadap bangunan dan/atau lingkungan khusus dari ketentuan‐ketentuan yang diatur dalam peraturan daerah ini dengan mempertimbangkan keserasian lingkungan dan/atau keselamatan masyarakat dan/atau keamanan negara setelah mendengar pendapat tim ahli bangunan; dan

(20)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐20 7. dapat menetapkan bangunan tertentu untuk menampilkan arsitektur

lokal/tradisional mendengar pendapat para tim ahli bangunan.

Dalam menjalankan tugas Bupati atau pejabat yang ditunjuk,berwenang memasuki halaman, pekarangan dan/atau bangunan dalamrangka melakukan pemeriksaan kesesuaian pelaksanaan pembangunanatau pemanfaatan bangunan sesuai dengan fungsinya.

D. Persyaratan Tata Bangunan

Persyaratan tata bangunan meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung,arsitektur bangunan gedung dan persyaratan pengendalian dampaklingkungan.

E. Persyaratan Peruntukan dan Intensitas Bangunan Gedung

Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan peruntukkanlokasi sesuai dengan rencana tata ruang wilayah. Peruntukan lokasi merupakanperuntukan utama sedangkan apabila pada bangunan tersebut terdapatperuntukan penunjang agar berkonsultasi dengan dinas teknis.Untuk pembangunan di atas jalan umum, saluran, atau sarana lainatau yang melintas sarana dan prasarana jaringan kota, atau dibawah/di atas air atau pada daerah hantaran udara (transmisi)tegangan tinggi, harus mendapat izin instansi yang berwenang.

Dalam hal terjadi perubahan rencana tata ruang wilayah yangmengakibatkan perubahan peruntukan lokasi, fungsi bangunan yangtidak sesuai dengan peruntukan yang baru harus disesuaikan.Terhadap kerugian yang timbul akibat perubahan peruntukan lokasipemerintah daerahmemberikan penggantian yang layak kepada pemilik bangunan gedungsesuai dengan peraturan perundang‐undangan.

Setiap bangunan gedung yang didirikan tidak boleh melebihi ketentuanmaksimal kepadatan dan ketinggian yang ditetapkan dalam RTRW,RDTR dan/atau RTBL.Persyaratan kepadatan ditetapkan dalam bentuk Koefisien DasarBangunan (KDB) maksimal.Persyaratan ketinggian maksimal ditetapkan dalam bentuk KoefisienLantai Bangunan (KLB) dan /atau peraturan lain yang sesuai peraturanperundang‐undangan yang berlaku.

F. Koefisien Dasar Bangunan

Setiap bangunan gedung yang dibangun dan dimanfaatkan harusmemenuhi kepadatan bangunan yang diatur dalam KDB sesuai yangditetapkan untuk lokasi yang bersangkutan.KDB ditentukan atas dasar kepentingan pelestarianlingkungan/resapan air permukaan tanah dan pencegahan terhadapbahaya kebakaran, kepentingan ekonomi, fungsi peruntukan, fungsibangunan, keselamatan dan kenyamanan.Ketentuan besarnya KDB disesuaikan dengan rencana tataruang atau yang diatur dalam rencana tata bangunan dan lingkunganuntuk lokasi yang sudah memilikinya, atau sesuai dengan ketentuanperaturan perundang‐undangan yang berlaku.Setiap bangunan gedung diluar rencana tata ruang wilayah atau belumdiatur dalam rencana tata bangunan dan lingkungan, ditentukan KDBmaksimum 60% (enam puluh persen) sesuai dengan fungsi tapak.

(21)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐21 G. Koefisien Lantai Bangunan

KLB ditentukan atas dasar kepentingan pelestarian lingkungan resapanair permukaan tanah dan pencegahan terhadap bahaya kebakaran,kepentingan ekonomi, fungsi peruntukan, fungsi bangunan,keselamatan dan kenyamanan. Ketentuan besarnya KLB disesuaikan dengan tatabangunan dan lingkungan atau sesuai dengan ketentuan peraturanperundang‐undangan yang berlaku.

H. Koefisien Daerah Hijau

KDH ditentukan atas dasar kepentingan penghijauan lingkungan untukmengurangi dampak pemanasan global dan area resapan airpermukaan tanah.Ketentuan besarnya KDH pada ayat (1) disesuaikan dengan tatabangunan dan lingkungan atau sesuai dengan ketentuan peraturanperundang‐undangan yang berlaku.Setiap bangunan gedung apabila tidak ditentukan lain, ditentukan KDHminimum 30% (tiga puluh persen).

I. Ketinggian Bangunan

Ketinggian bangunan ditentukan sesuai dengan rencana umum tataruang.Masing‐masing lokasi yang belum dibuat tata ruangnya, ketinggianmaksimum bangunan ditetapkan oleh Bupati denganmempertimbangkan lebar jalan, fungsi bangunan dan keselamatanbangunan, serta keserasian dengan lingkungannya.Ketinggian bangunan deret maksimum 4 (empat) lantai dan selebihnyaharus berjarak dengan persil tetangga dengan jarak 5 (lima) meter.Untuk bangunan tinggi dan bertingkat berlaku KLB di masing‐masinglokasi.

J. Garis Sempadan Bangunan

Garis sempadan bangunan terluar yang sejajar dengan as jalan, tepisungai, tepi saluran, kaki tanggul, tepi danau, tepi mata air, tepisungai pasang surut, tepi pantai, tepi luar kepala jembatan dan tepidaerah manfaat jalan rel kereta api ditentukan dengan berdasarkanlebar jalan, lebar sungai, kondisi pantai, peruntukan kapling/kawasansesuai dengan peraturan perundang‐undangan yang berlaku.Letak garis sempadan bangunan terluar apabila tidak ditentukan lain adalah separuh lebar daerahmilik jalan (damija) dihitung dari tepi jalan/pagar.Letak garis sempadan bangunan terluar untuk dinding dengan bukaanpada bagian samping dan belakang yang berbatasan dengan kaplingtetangga bilamana tidak ditentukan lain adalah minimal 1,5 (satusetengah) meter dari batas kapling, atau atas dasar kesepakatandengan tetangga yang saling berbatasan.

Garis sempadan untuk bangunan yang di bawah permukaan tanahmaksimum berimpit dengan garis sempadan pagar, dan tidakdiperbolehkan melewati batas pekarangan.Tinggi pagar yang berbatasan dengan jalan yang tidak tembus pandangditentukan maksimum 1 (satu) meter dari permukaan halaman/trotoar,selebihnya harus dengan bentuk tembus pandang.Garis lengkung pagar di sudut persimpangan jalan ditentukan denganukuran radius tertentu atas dasar fungsi dan peranan jalan serta tidakboleh mengganggu pandangan yang membahayakan lalu lintas. Untuk bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpananbahan‐bahan/benda‐benda yang mudah terbakar dan/atau berbahayamaka kepala daerah dapat menetapkan syarat‐syarat lebih lanjut.

(22)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐22 Pada daerah intensitas bangunan padat/rapat, maka garis sempadandapat berhimpit dengan batas pekarangan tetangga yang salingberbatasan.Jarak antar masa/blok bangunan gedung bertingkat lebih dari dualantai, satu dengan lainnya dalam satu kapling minimum adalah 3 (tiga)meter.Untuk bangunan bertingkat, setiap kenaikan satu lantai jarak antaramasa/blok bangunan yang satu dengan lainnya ditambah dengan 0,5(nol koma lima) meter.Ketentuan lebih rinci tentang jarak antara bangunan gedung mengikutiketentuan dalam standar teknis yang berlaku.

K. Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung

Persyaratan arsitektur bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalamPasal 12 meliputi persyaratan penampilan bangunan gedung, tata ruangdalam, keseimbangan, keserasian dan keselarasan bangunan gedungdengan lingkungannya serta pertimbangan adanya keseimbangan antaranilai‐nilai sosial budaya setempat terhadap penerapan berbagaiperkembangan arsitektur dan rekayasa.

Penampilan bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan kaidah‐kaidah estetikabentuk karakteristik arsitektur, dan lingkungan yang ada disekitarnya.Penampilan bangunan gedung dikawasan cagar budaya, harusdirancang dengan mempertimbangkan pelestarian.Penampilan bangunan gedung yang didirikan berdampingan denganbangunan yang dilestarikan, harus dirancang denganmempertimbangkan kaidah estetika bentuk karakteristik dariarsitektur bangunan gedung yang dilestarikan.Pemerintah daerah dapat menetapkan kaidah‐kaidah arsitekturtertentu pada bangunan gedung untuk suatu kawasan setelahmendapat pertimbangan pendapat publik.

Tata ruang harusmempertimbangkan fungsi ruang, arsitektur dan kehandalanbangunan gedung.Pertimbangan fungsi ruang diwujudkan dalam efesiensi dan efektivitastata ruang dalam.Pertimbangan arsitektur bangunan gedung diwujudkan dalampemenuhan tata ruang dalam terhadap kaidah‐kaidah arsitekturbangunan gedung secara keseluruhan.Pertimbangan keandalan bangunan gedung diwujudkan dalampemenuhan persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan tata ruang dalam.

Keseimbangan, keserasian dan keselarasan bangunan gedung denganlingkungannya harusmempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan gedung danruang terbuka hijau yang seimbang, serasi dan selaras dengan

lingkungannya.Pertimbangan terhadap terciptanya ruang luar bangunan gedungdengan ruang terbuka hijau diwujudkan dalam pemenuhanpersyaratan daerah resapan, akses penyelamatan, sirkulasi kendaraandan manusia, serta terpenuhinya kebutuhan prasarana dan saranadiluar bangunan gedung.

L. Persyaratan Pengendalian Dampak Lingkungan

Penerapan persyaratan pengendalian dampak lingkungan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 12 hanya berlaku bagi bangunan gedung yangdapat menimbulkan dampak penting tehadap lingkungan.Setiap pembangunan bangunan gedung yang kemungkinan dapatmenimbulkan dampak lingkungan wajib memiliki analisis mengenaidampak lingkungan hidup (AMDAL) atau upaya

(23)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐23 pengelolaan lingkungan(UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL) atau surat pernyataanpengelolaan lingkungan (SPPL) sesuai ketentuan peraturan perundangundanganyang berlaku.Jenis bangunan gedung yang wajib dilengkapi dengan analisis mengenaidampak lingkungan hidup (AMDAL) ditentukan oleh menteri negaralingkungan hidup.Jenis bangunan gedung yang wajib dilengkapi dengan upayapengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL)ditentukan oleh bupati.Bagi permohonan IMB, dalam mengajukan permohonan IMB harusdisertai rekomendasi lingkungan dari instansi yang menangani masalahbidang lingkungan hidup.

M. Persyaratan Keandalan Bangunan Gedung

Persyaratan keandalan bangunan gedung meliputi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan dankemudahan.

1. Persyaratan Keselamatan

Setiap bangunan gedung yang direncanakan harus kuat, kaku danstabil terhadap beban/kombinasi beban yang bekerja denganmempertimbangkan fungsi bangunan gedung, lokasi dan pelaksanaanya. Peraturan standar teknis yang harus dipakai adalah peraturan/standarteknis yang berlaku di Indonesia.Setiap bangunan dan bagian konstruksinya harus diperhitungkan

terhadap beban sendiri, beban yang dipikul, beban angin dan getarandan gaya gempa sesuai dengan peraturan pembebanan yang berlakudan pedoman serta standar teknis yang berlaku.

Dalam perencanaan struktur bangunan terhadap pengaruh gempa,semua unsur struktur bangunan gedung, baik dari bagian dari substruktur maupun struktu gedung harus diperhitungkan memikulpengaruh gempa rencana sesuai dengan zona gempanya.Struktur bangunan gedung harus direncanakan secara daktail sehinggapada kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan, apabilaterjadi keruntuhan kondisi strukturnya masih memungkinkanpengguna bangunan menyelamatkan diri.

Setiap bangunan bertingkat 2 (dua) lantai atau lebih, dalam pengajuan

IMB harus menyertakan perhitungan strukturnya sesuai pedoman danstandar teknis yang berlaku.Dinas teknis mempunyai kewajiban dan wewenang untuk memeriksakonstruksi bangunan yang didirikan/akan didirikan baik dalamrancangan bangunan maupun pada masa pelaksanaan

pembangunannya, terutama untuk ketahanan terhadap bahaya gempa.

Setiap bangunan gedung, kecuali rumah tunggal dan rumah deretsederhana harus mempunyai sistem pengamanan terhadap bahayakebakaran, baik sistem proteksi pasif maupun sistem proteksi aktifserta terjangkau oleh mobil pemadam kebakaran.Pemenuhan persyaratan ketahanan terhadap bahaya kebakaranmengikuti ketentuan dalam pedoman dan standar teknis yang berlaku.

Untuk bangunan bertingkat harus menyediakan tangga darurat sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang‐undangan yang berlaku dandilengkapi dengan sistem penangkal petir. Setiap lokasi/kapling siap bangun dan kawasan yang direncanakan bagilokasi permukiman penduduk harus memperhatikan ketentuan dan mendapat persetujuan Bupati.

(24)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐24 Persyaratan Kesehatan bangunan gedung meliputi persyaratan sistim udara, pencahayaan, sanitasi danpenggunaan bahan bangunan gedung.Untuk memenuhi persyaratan system udara, setiap bangunan gedungharus mempunyai ventilasi alami dan/atau ventilasi mekanik/buatansesuai dengan fungsinya.Untuk bangunan gedung tempat tinggal, bangunan gedung pelayanankesehatan, bangunan pendidikan dan bangunan gedung pelayanan

umum harus mempunyai sistim ventilasi permanen untuk kepentinganventilasi alami.Ventilasi mekanik/buatan harus disediakan jika ventilasi alami tidak memenuhi syarat.Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangandan pemeliharaannya mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.

Untuk memenuhi persyaratan system pencahayaan setiap bangunangedung harus mempunyai pencahayaan alami dan/atau pencahayaanbuatan termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya.Untuk bangunan gedung tempat tinggal, bangunan gedung pelayanankesehatan, bangunan pendidikan dan bangunan gedung pelayananumum harus mempunyai bukaan untuk pencahayaan alami.Pencahayaan alami harus optimal,disesuaikan dengan fungsi bangunan gedung dan fungsi masing‐masing ruang di dalam bangunan gedung.

Pencahayaan buatan harusdirencanakan berdasarkan tingkat iluminasi (cahaya) yang disyaratkansesuai fungsi ruangan dalam bangunan gedung dengan pertimbanganefisiensi, penghematan energy yang digunakan dan penempatannyatidak menimbulkan efek silau atau pantulan.Pencahayaan buatan yang digunakan untuk pencahayaan daruratharus dipasang pada bangunangedung dengan fungsi tertentu, serta dapat bekerja secara otomatis danmempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yangaman.

Semua system pencahayaan buatan kecuali yang diperlukan untukpencahayaan darurat harus dilengkapi pengendali manual dan/atauotomatis, serta ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibacaoleh pengguna ruang.Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan

dan pemeliharaan system pencahayaan pada bangunan gedungmengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.

Untuk memenuhi persyaratan system sanitasi, setiap bangunan gedung harus dilengkapi dengan system air bersih, system pembuangan air kotor dan/atau air limbah, sampah dan kotoran serta penyaluran air hujan. Perencanaan dan instalasi jaringan air bersih pada bangunan gedung mengikuti ketentuan dalam pedoman dan standar teknis yang berlaku, meliputi:

a. jenis, mutu, sifat bahan dan peralatan instalasi air bersih harus memenuhi standar dan ketentuan teknis yang berlaku; dan

b. pemilihan sistem dan penempatan instalasi air bersih harus disesuaikan dan aman terhadap sistem lingkungan, bangunan‐bangunan lain, bagian‐bagian lain dari bangunan dan instalasi‐instalasi lain sehingga tidak saling membahayakan, mengganggu dan merugikan serta memudahkan pengamatan dan pemeliharaan.

Pengadaan/penggunaan sumber air bersih diambil dari sumber yangdibenarkan secara resmi oleh pemerintah daerah.Bangunan yang memakai sistem air panas

(25)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐25 yang tersambung langsungdengan instalasi air bersih harus dipasang alat pencegah arus balik darisistem air panas ke sistem air dingin. Pembuatan sumur dangkal (sumur gali) sebagai sumber air bersihharus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. sumur sedapat mungkin ditempatkan pada jarak minimal 10 (sepuluh) meter dari peresapan atau sejenisnya yang dapat mengakibatkan pengotoran atau pencemaran air;

b. selubung sumur dibuat dari bahan kedap air sampai kedalaman minimal 3 (tiga) meter dari permukaan lantai dan ke atas 80 (delapan puluh) centimeter; dan

c. lantai dan keliling sumur harus dibuat kedap air.

Pembuatan sumur artesis harus seijin Bupati.Sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkanjenis dan tingkat bahayanya.Semua air limbah domestik pembuangannya harus melalui pipa/saluran tertutup dan/atau sesuai dengan ketentuan dariperaturan yang berlaku. Apabila tidakmungkin karena belum tersedianya saluran umum ataupun sebablain yang dapat diterima oleh yang berwenang, makapembuangan air limbah domestik harus dilakukan melalui prosesperesapan ataupun cara‐cara lain yang ditentukan oleh peraturanBupati.Perencanaan dan instalasi jaringan air limbah domestik mengikutiketentuan dalam pedoman dan standar teknis yang berlaku.

Sistem pembuangan sampah dan kotoran harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkanfasilitas penampungan dan jenisnya.Pertimbangan fasilitas penampungan diwujudkan dalam bentukpenyediaan tempat penampungan sampah dan kotoran pada masingmasingbangunan gedung yang diperhitungkan berdasarkan jumlahpenghuni dan volume sampah dan kotoran.Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangandan pengeloaan fasilitas pembuangan kotoran dan sampah padabangunan gedung mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.

Sistim Instalasi Air hujan harus dibuang atau dialirkan ke salurandrainase, dengan mempertimbangkan ketinggian permukaan air tanah,permeabilitas tanah dan ketersedaan jaringan drainase.Apabila aliran tidak mungkin yangkarena tidak tersedianya saluran umum kota ataupun sebab‐sebab lainyang dapat diterima oleh yang berwenang, maka pembuangan air hujanharus dilakukan melalui proses peresapan ataupun cara‐cara yangditentukan oleh Bupati.Perencanaan dan instalasi jaringan air hujan mengikuti ketentuandalam pedoman dan standar teknis yang berlaku.

Untuk memenuhi persyaratan penggunaan bahan bangunan gedung,setiap bangunan gedung harus menggunakan bahan bangunan yangaman bagi kesehatan pengguna bangunan gedung dan tidakmenimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.Penggunaan bahan bangunan yang aman bagi kesehatan bangunangedung harus ridak mengandung bahan‐bahan berbahaya/beracun bagikesehatan dan aman bagi pengguna bangunan gedung.Penggunaan bahan bangunan sedapat mungkin tidak berdampaknegative terhadap lingkungan yaitu:

(26)

RPI2JM Kabupaten Cilacap V‐26 a. menghindari efek silau dan pantulan bagi pengguna bangunan gedung lain,

masyarakat dan lingkungan sekitarnya;

b. menghindari timbulnya efek peningkatan suhu lingkungan disekitarnya; c. mempertimbangkan prinsip‐prinsip konservasi energi; dan

d. mewujudkan bangunan gedung yang serasi dan selaras dengan lingkungan. Pemanfaatan dan penggunaan bahan bangunan lokal harus sesuaidengan kebutuhan dan memperhatikan kelestarian lingkungan. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penggunaan bahanbangunan mengikuti pedoman dan standar teknis yang

berlaku.

3. Persyaratan Kenyamanan

Persyaratan kenyamanan bangunan gedung meliputi kenyamanan ruang gerak dan hubungan antar ruang,kondisi udara dalam ruang, pandangan, serta tingkat getaran, tingkatkebisingandan lingkungan.Untuk mendapatkan kenyamanan ruang gerak dalam bangunan gedung, penyelenggara gedung harus mempertimbangkan: a. fungsi ruang, jumlah penggunaan perabot/peralatan, aksesibilitasruang

didalam bangunan gedung; dan

b. persyaratan keselamatan dan kesehatan.

Untuk mendapatkan kenyamanan hubungan antar ruang, penyelenggara bangunan gedung harus mempertimbangkan:

a. fungsi ruang, aksesbilitas ruang dan jumlah pengguna danperabot/peralatan dibangunan gedung;

b. sirkulasi antar ruang horizontal dan vertikal; dan c. persyaratan keselamatan dan kesehatan.

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan kenyamananruang gerak dan hubungan antar ruang pada bangunan gedungmengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.

Untuk mendapatkan kenyamanan kondisi udara ruang didalambangunan gedung, penyelenggara bangunan gedung harusmempertimbangkan temperatur dan kelembaban.Untuk mendapatkan tingkat temperatur dan kelembaban udara di dalamruangan dapat dilakukan dengan pengkondisian udara denganmempertimbangkan:

a. fungsi bangunan gedung/ ruang, jumlah pengguna, letak, volume ruang, jenis peralatan, dan penggunaan bahan bangunan;

b. kemudahan pemeliharaan dan perawatan; dan

c. prinsip‐prinsip penghematan energi dan kelestarian lingkungan.

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangandan pemeliharaan kenyamanan kondisi udara pada bangunan gedungmengukuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.

Untuk mendapatkan kenyamanan pandangan penyelenggara bangunangedung harus mempertimbangkan kenyamanan pandangan dari dalambangunan keluar dan dari luar bangunan ke ruang‐ruang tertentudalam bangunan gedung.

Untuk mendapatkan kenyamanan pandangan dari dalam bangunankeluar dan dari luar bangunan ke ruang‐ruang tertentu dalambangunan gedung, penyelenggara bangunan gedung harusmempertimbangkan:

Referensi

Dokumen terkait

kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan pemantapan Kawasan Perkotaan Tabanan sebagai perkotaan di sekitar kawasan perkotaan inti dari PKN Kawasan Perkotaan Denpasar-Badung-

- Pembangunan sanitasi komunal (berbasis masyarakat) di wilayah perkotaan Pulau Batam KSK APBN/ APBD Kota Kemen PU/ Dinas PU.. - Pembangunan sanitasi komunal

Untuk pengembangan kawasan permukiman baru, pembangunan fisik perumahan dan jalan lingkungan akan disediakan oleh para pengembang, sementara peran Pemerintah Kota

Optimalisasi pemanfaatan ruang kawasan strategis untuk mendukung pembangunan permukiman dan infrastruktur dalam kerangka menanggulangi kawasan permukiman kumuh.dan

Rencana Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas (RPKPP) merupakan rencana aksi program strategis untuk penanganan permasalahan permukiman dan pembangunan

permukiman dan pembangunan infrastruktur bidang Cipta Karya pada kawasan prioritas

(2) Kawasan permukiman perdesaan seluas 5.072,49 Ha atau 1,46 % dari luas wilayah Daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a adalah suatu kawasan untuk

kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan pemantapan Kawasan Perkotaan Gianyar sebagai perkotaan di sekitar kawasan perkotaan inti dari PKN Kawasan Perkotaan