• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

48

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Kondisi Pra Siklus

Sebelum pelaksanaan siklus 1 dan siklus 2, saat akan memulai tindakan terlebih dahulu melakukan observasi awal dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa atau hasil belajarnya terutama pada pelajaran IPA. Sebelum melaksanakan tindakan penelitian, pembelajaran yang dilakukan oleh guru bersifat konvensional, yaitu guru memberikan materi pelajaran untuk mencapai kompetensi selalu melalui ceramah. Hal ini juga dapat menyebabkan siswa malas untuk berfikir, penguasaan pelajaran hanya dilakukan dengan hafalan. Sementara IPA adalah Ilmu yang menekankan pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah dengan semestinya untuk mata pelajaran IPA. Selain pelaksanaan observasi juga langsung mendapatkan data dari guru kelas IV melalui dokumentasi kelas. Berdasarkan hasil observasi ini untuk mendapatkan data bahwa hasil belajar siswa kelas IV sangat rendah. Dari kondisi inilah untuk mengadakan penelitian tindakan kelas atau PTK dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa terutama pada pelajaran IPA. Namun setelah dilaksanakan evaluasi pada akhir pembelajaran hasil evaluasi tersebut masih jauh dari harapan. Maka perlu diadakan perbaikan melalui penggunaan pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri. Siswa dinyatakan tuntas belajar jika Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), yang dimiliki siswa skornya sama atau di atas 90. Jika siswa belum mencapai skor 90 maka dinyatakan siswa belum tuntas hasil belajarnya.

Proses pelaksanaan tindakan tiap siklus terbagi menjadi dua pertemuan, masing-masing pertemuan berlangsung selama 2 x 35 menit. Berdasarkan data hasil nilai ulangan dalam tabel 4.1 menunjukkan bahwa, siswa kelas IV SD Negeri Salatiga 12 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Semester 1 Tahun Ajaran 2011/2012 dapat ditunjukkan dari distribusi hasil Ulangan Akhir Semester (UAS)

(2)

49

sebagian besar masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM 90). Berikut ini merupakan tabel distribusi hasil belajar siswa sebelum tindakan.

Tabel 4.1

Distribusi Hasil Belajar IPA kelas IV pada Pra Siklus

No Skor Frekuensi Persentase (%)

1 46 2 5,4 2 49 1 2,7 3 51 1 2,7 4 56 2 5,4 5 57 1 2,7 6 63 1 2,7 7 64 3 8,1 8 66 1 2,7 9 67 1 2,7 10 70 2 5,4 11 74 5 13,5 12 77 1 2,7 13 79 2 5,4 14 80 2 5,4 15 90 5 13,5 16 92 3 8,1 17 93 2 5,4 18 95 1 2,7 19 96 1 2,7 Total 37 100

Sedangkan distribusi ketuntasan hasil tes formatif pra siklus dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut:

(3)

50

Tabel 4.2

Distribusi Ketuntasan Hasil Belajar IPA pada Pra Siklus

Angka Frekuensi Ketuntasan Persentase

< 90 25 Tidak Tuntas 67,57%

≥ 90 12 Tuntas 32,43%

Jumlah 37 100 %

Dari hasil analisis tes formatif pra siklus, masih ada 25 siswa yang belum tuntas atau belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal yaitu 90. Secara lebih rinci, ketuntasan hasil tes formatif pra siklus dapat dilihat pada gambar 4.1 berikut :

Gambar 4.1 Diagram Batang Distribusi Ketuntasan Hasil Belajar IPA pada Pra Siklus

Dari tabel analisis dan distribusi hasil tes formatif pra siklus dan diagram di atas dapat disimpulkan bahwa dari 37 siswa terdapat 12 siswa (32,43%) yang tuntas dan 25 siswa (67,57%) yang tidak tuntas. Nilai tertinggi 96, nilai terendah 46, serta nilai rata-ratanya yaitu 74,51. Standar deviasi yang diperoleh adalah 15,134, karena disebabkan adanya penyimpangan ketidak tuntasan dengan hasil belajar siswa. 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70%

Tuntas Tidak Tuntas

32,43% 67,57% P er se n tase Ketuntasan

(4)

51

Pada pra siklus ini proses belajar mengajar guru masih menggunakan metode pembelajaran konvensional (ceramah). Siswa hanya mendengarkan dan menunggu perintah dari guru. Di akhir pertemuan guru belum melibatkan siswa dalam menyimpulkan materi pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi membosankan.

Berdasarkan data hasil belajar yang rendah dari peserta didik kelas IV di SD Negeri Salatiga 12 Semester 2 Tahun Pelajaran 2011/ 2012 di atas, maka akan dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sesuai dengan rancangan penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya. Proses pembelajaran selama penelitian menggunakan pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri guna meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran IPA yang akan dilakukan dalam dua siklus. Siklus 1 pembelajaran dilakukan dengan Kompetensi Dasar “gaya dapat mengubah gerak suatu benda, dengan indikator “Pengertian dan Jenis-jenis Gaya”, dan siklus 2 pembelajaran dilakukan dengan indikator “Faktor-faktor yang mempengaruhi Gaya dan Memberi contoh lain gaya yang dapat mengubah gerak suatu benda dalam lingkungan sekolah dan kehidupan sehari-hari”.

4.2 Deskripsi Pelaksanaan Siklus 1 4.2.1 Perencanaan Tindakan Penelitian a. Pertemuan I

Setelah diperoleh informasi pada tahap observasi, maka dilakukan diskusi dengan guru kelas IV mengenai materi pembelajaran yang akan disajikan serta alat penunjang lain yang perlu digunakan. Sebelum mengajar pada pertemuan I, praktikan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam proses pembelajaran, diantaranya RPP, lembar kerja siswa, lembar observasi untuk guru saat proses belajar mengajar, buku pembelajaran, alat peraga, serta kesiapan siswa untuk mengikuti proses pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat mengenai pokok bahasan “Energi dan perubahannya”, kemudian menentukan tujuan pembelajaran dengan indikator menjelaskan pengertian dari gaya. Setelah menentukan tujuan pembelajaran kemudian guru menetapkan sarana

(5)

52

dan prasarana seperti alat peraga yang dibutuhkan untuk melakukan percobaan tentang gaya yang dapat mengubah gerak suatu benda dengan cara berdiskusi kelompok di saat proses belajar mengajar yang akan berlangsung. Guru juga menyiapkan rubrik penilaian seperti: rubrik penilaian menyimak, tanya jawab, diskusi, presentasi (lihat lampiran).

b. Pertemuan II

Perencanaan pembelajaran pada siklus 1 pertemuan II sebagai tindak lanjut dari hasil belajar siswa dan kekurangan/ kelemahan pada pertemuan I maka pada perencanaan pertemuan II masih sama dengan dengan pertemuan I. Sebelum mengajar pada pertemuan II, praktikan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam proses pembelajaran, diantaranya RPP, lembar kerja siswa, lembar observasi untuk untuk guru saat proses belajar mengajar, buku pembelajaran, alat peraga, serta kesiapan peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran. Untuk siklus 1 pertemuan II dalam tujuan pembelajaran dengan indikator, menjelaskan jenis-jenis gaya. Guru kemudian menentukan sarana dan prasarana disetiap kelompok seperti alat peraga yang dibutuhkan, rubrik penilaian pada saat proses belajar mengajar berlangsung (menyimak, tanya jawab, diskusi dan presentasi) dan LKS untuk melakukan percobaan disaat proses belajar mengajar yang akan berlangsung, di akhir pertemuan II ini untuk mengukur kemampuan siswa guru memberikan tes formatif untuk mendapatkan hasil belajar dari pertemuan I dan pertemuan II.

4.2.2 Pelaksanaan Tindakan dan Observasi A. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan pada siklus 1 ini terdiri dari dua pertemuan, yaitu pertemuan I dan pertemuan II yang terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Masing-masing pertemuan berlangsung selama 70 menit (2 jam pelajaran).

a. Pertemuan I

Dalam kegiatan awal pada siklus 1 pertemuan I ini untuk mengawali pembelajaran guru mengucapkan salam, berdoa bersama diteruskan dengan presensi kehadiran siswa, mengecek kesiapan siswa untuk mengikuti kegiatan

(6)

53

belajar mengajar dan melakukan apersepsi dengan menanyakan pada siswa tentang permainan sepak bola “ Siapakah yang pernah bermain sepak bola ?”, setelah itu guru memotivasi siswa untuk menyanyikan lagu “Garuda di Dadaku” secara bersama-sama. Selanjutnya, guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan menjelaskan langkah-langkah model pembelajaran yang akan digunakan yakni Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri.

Pada kegiatan inti guru menjelaskan sekilas materi tentang tarikan atau dorongan, kemudian siswa dibagi dalam 6 kelompok yang beranggotakan 6-7 siswa diberi nomor kelompok 1, 2, 3, 4, 5, 6. Setiap kelompok menerima lembar permasalahan yang berbeda. Kelompok 1 mendapatkan permasalahan tentang membuka pintu ruangan kelas yang tertutup kemudian siswa membuat hipotesis “apa yang terjadi dengan pintu setelah kalian tarik tadi?”. Kelompok 2 mendapatkan permasalahan tentang mendorong jendela, kemudian siswa membuat hipotesis “apa yang terjadi dengan jendela yang sudah kalian buka tadi?”. Kelompok 3 mendapatkan permasalahan tentang menggeser meja guru kemudian siswa membuat hipotesis “apa yang terjadi dengan meja yang sudah kalian dorong atau tarik tadi?”. Kelompok 4 mendapatkan permasalahan tentang mendorong dan menarik kursi yang ada kelas kemudian siswa membuat hipotesis “apa yang terjadi dengan kursi yang sudah kalian dorong dan tarik tadi?”. Kelompok 5 mendapatkan permasalahan tentang membuka tiap lembar buku yang sudah dibawa dari rumah kemudian siswa membuat hipotesis “apa yang terjadi dengan buku setelah kalian buka per-lembarnya tadi?” Pada kelompok 6 mendapatkan permasalahan tentang membuka tutup bolpoin kemudian siswa membuat hipotesis “apa yang terjadi dengan tutup bolpoin yang sudah kalian buka tadi?”.

Hasil diskusi dari kelompok 1 yaitu setelah pintu ditarik, pintu terbuka dan menghasilkan bunyi dengan kesimpulan tarikan dapat mengubah arah gerak benda. Hasil diskusi dari kelompok 2 yaitu setelah jendela didorong, jendela menjadi terbuka dengan kesimpulan dorongan dapat mengubah arah gerak benda. Hasil diskusi kelompok 3 yaitu setelah meja digeser, meja berpindah tempat dan menghasilkan bunyi dengan kesimpulan dorongan atau tarikan dapat mengubah

(7)

54

arah gerak benda. Hasil diskusi kelompok 4 yaitu setelah kursi didorong atau ditarik, kursi berpindah tempat dan menghasilkan bunyi. Hasil diskusi kelompok 5 yaitu setelah tiap lembar kertas pada buku dibuka buku menjadi terbuka dan menghasilkan bunyi dengan kesimpulan tarikan dapat mempengaruhi gerak benda. Hasil diskusi kelompok 6 yaitu setelah tutup bolpoin dibuka, tutup bolpoin terlepas dari bolpoinnnya dengan kesimpulan tarikan dapat membuka suatu benda. Untuk menguji kebenaran hipotesis, setiap kelompok melakukan percobaan dan mempresentasikan secara bergiliran di depan kelas dengan diamati dan ditanggapi kelompok lain. Langkah-langkah percobaan yang akan dilakukan adalah guru dibantu siswa menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam percobaan, antara lain: meja, jendela kelas, kursi, buku pelajaran, bolpoin atau pensil dan pintu. Kemudian guru membagikan lembar permasalahan kepada setiap kelompok dan menjelaskan aturan dalam melakukan setiap percobaan. Siswa mengambil alat dan bahan yang dibutuhkan dalam melakukan percobaan yang sudah disediakan oleh guru. Setiap kelompok melakukan kegiatan percobaan dan guru hanya sebagai fasilitator. Kelompok yang sudah melakukan percobaan itu berdiskusi (pemecahan masalah) dan mengutarakan hasil pengamatannya untuk disimpulkan. Kemudian setiap kelompok membuat kesimpulan hasil percobaan yang sudah dilakukan yaitu bahwa gaya dorong dan tarikan dapat mempengaruhi gerak suatu benda. Siswa perwakilan kelompok mempresentasikan antara hasil diskusi sebelum melakukan percobaan (hipotesis) dengan hasil diskusi setelah percobaan di depan kelas dan kelompok lain menanggapi.

Kegiatan akhir dalam pembelajaran, guru bersama dengan siswa menarik kesimpulan dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang belum jelas dari materi yang telah dipelajari. Guru membimbing siswa membuat kesimpulan tentang materi yang sudah dipelajari setelah itu guru mengadakan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan.

b. Pertemuan II

Dalam kegiatan awal pada siklus 1 pertemuan II ini untuk mengawali pembelajaran guru mengucapkan salam, berdoa bersama diteruskan dengan

(8)

55

presensi kehadiran siswa, mengecek kesiapan siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar dan memberikan apersepsi pada siswa melalui tanya jawab mengajak siswa untuk mengingat pelajaran yang kemarin. Setelah itu guru memotivasi siswa dengan menanyakan pada siswa tentang berkendara sepeda “Siapakah yang gemar naik sepeda?”. Selanjutnya, guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan menjelaskan langkah-langkah pembelajaran yang akan digunakan dengan pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri.

Pada kegiatan inti guru menjelaskan sekilas materi tentang jenis gaya, kemudian siswa dibagi dalam 6 kelompok yang anggotanya 6-7 siswa diberi nomor kelompok 1, 2, 3, 4, 5, 6. Setiap kelompok menerima lembar permasalahan yang berbeda. Kelompok 1 mendapatkan lembar permasalahan tentang menendang bola kemudian membuat hipotesis “Apa yang terjadi setelah bola ditendang ?”. Kelompok 2 mendapatkan lembar permasalahan tentang kotak kayu yang didorong dengan diberi bantalan 4 spidol kemudian membuat hipotesis “apa yang terjadi setelah kotak kayu didorong?”. Kelompok 3 mendapatkan lembar permasalahan tentang melempar kock badminton ke atas kemudian membuat hipotesis “apa yang terjadi setelah kock dilempar ke atas?”. Kelompok 4 mendapatkan lembar permasalan tentang menekan tombol starter motor kemudian membuat hipotesis “apa yang terjadi setelah tombol starter motor ditekan?”. Kelompok 5 mendapatkan lembar permasalahan mendorong meja guru tanpa beban di atas meja dan dengan beban di atas meja kemudian membuat hipotesis “apa yang terjadi antara mendorong meja tanpa beban dengan mendorong meja yang ada beban.?”. Kelompok 6 mendapatkan lembar permasalahan mendorong kaleng tanpa isi kemudian membuat hipotesis “apa yang terjadi setelah kaleng didorong?”.

Hasil diskusi dari kelompok 1 yaitu setelah bola ditendang, bola bergerak dan berpindah tempat dengan kesimpulan tendangan yang kuat akan menghasilkan jarak pindah yang jauh sedangkan tendangan yang lemah akan menghasilkan jarak pindah yang dekat. Hasil diskusi dari kelompok 2 yaitu setelah kotak kayu didorong, kotak kayu bergerak berpindah tempat dengan

(9)

56

kesimpulan dorongan dapat mengubah arah gerak benda. Hasil diskusi kelompok 3 yaitu setelah kock dilempar ke atas kock jatuh ke bawah dengan kesimpulan benda yang dilempar akan jatuh ke tanah karena pengaruh gaya gravitasi bumi. Hasil diskusi kelompok 4 yaitu setelah tombol starter ditekan mesin motor menyala dengan kesimpulan gaya menekan tombol starter motor akan menimbulkan mesin motor menyala karena adanya gaya listrik yang ditimbulkan dari accu. Hasil diskusi kelompok 5 yaitu setelah meja didorong meja berpindah tempat, meja dengan ditambahkan beban akan terasa berat jika didorong sedangkan meja tanpa beban akan terasa ringan jika di dorong dengan kesimpulan meja berpindah tempat dengan adanya gaya otot. Hasil diskusi kelompok 6 yaitu setelah kaleng bekas didorong, kaleng berpindah tempat dan berhenti dengan sendirinya dengan kesimpulan gaya gesekan antara dua permukaan benda mempengarungi kecepatan gerak benda.

Untuk menguji kebenaran hipotesis, setiap kelompok melakukan percobaan dan mempresentasikan secara bergiliran di depan kelas dengan diamati dan ditanggapi kelompok lain. Langkah-langkah percobaan yang akan dilakukan adalah guru dibantu siswa menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam percobaan, antara lain: Bola, Kotak kayu, cock badminton, motor, meja, kaleng bekas. Guru membagikan lembar permasalahan kepada setiap kelompok dan menjelaskan aturan dalam melakukan setiap percobaan. Siswa mengambil alat dan bahan yang dibutuhkan dalam melakukan percobaan yang sudah disediakan oleh guru. Setiap kelompok melakukan kegiatan percobaan dan guru hanya sebagai fasilitator. Kelompok yang sudah melakukan percobaan itu berdiskusi (pemecahan masalah) dan mengutarakan hasil pengamatannya untuk disimpulkan. Kemudian setiap kelompok membuat kesimpulan hasil percobaan yang sudah dilakukan yaitu bahwa gaya dorong dan tarikan dapat mempengaruhi gerak suatu benda. Siswa perwakilan kelompok mempresentasikan antara hasil diskusi sebelum melakukan percobaan (hipotesis) dengan hasil diskusi setelah percobaan di depan kelas dan kelompok lain menanggapi.

Kegiatan akhir dalam pembelajaran, guru bersama dengan siswa menarik kesimpulan dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Guru memberikan

(10)

57

kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang belum jelas, dari materi yang telah dipelajari. Setelah itu guru membimbing Siswa membuat kesimpulan tentang materi yang sudah dipelajari, kemudian guru mengadakan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan.

Kegiatan pembelajaran siklus 1 pertemuan II berlangsung, praktikan meminta bantuan Observer (guru kelas VI) untuk mengamati jalannya pembelajaran dari awal hingga akhir pembelajaran dengan cara mengisi lembar observasi yang telah disediakan. Lembar observasi tersebut meliputi item untuk mengamati guru saat melakukan proses belajar mengajar. Pada pertemuan kedua ini semua item diisi oleh observer, karena secara keseluruhan langkah-langkah pembelajaran pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri telah diterapkan oleh guru.

B. Observasi

a. Pertemuan I

Pada saat pembelajaran siklus 1 pertemuan I berlangsung, praktikan meminta bantuan Observer (guru kelas VI) untuk mengamati jalannya pembelajaran dari awal hingga akhir pembelajaran dengan cara mengisi lembar pengamatan yang telah disediakan. Lembar pengamatan tersebut meliputi item untuk mengamati aktivitas pembelajaran yang sedang berlangsung. Hasil observasi selama pembelajaran siklus 1 pertemuan I, masih ada beberapa aspek observasi kinerja guru yang belum terlaksana secara optimal. seperti siswa pada saat akan mengikuti pelajaran ada siswa yang tidak siap untuk mengikuti pelajaran. seharusnya siswa dari rumah sudah mempersiapkan segala apa yang akan dibawa siswa ke sekolah. Dalam pembelajaran berlangsung siswa ada yang belum melaksanakan dalam membuat hipotesis tentang permasalahan yang dihadapi, pengelolaan guru kelas masih kurang optimal hal ini terlihat dari siswa yang masih bermain sendiri dan ada juga siswa yang sudah tenang saat diskusi, tetapi pada saat presentasi siswa terlihat kaku dan malu, hal ini terlihat pada saat guru meminta perwakilan kelompok untuk maju mempresentasikan hasil diskusi siswa antar anggota saling menunjuk untuk maju. Guru dalam menyampaikan

(11)

58

pembelajaran melalui pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri sudah baik dalam pelaksanaannya, tetapi masih ada kendala yakni pada waktu memberikan kesempatan siswa untuk melakukan percobaan masih terlalu singkat sehingga hasil diskusi siswa belum begitu maksimal sehingga siswa dalam membuat kesimpulan masih tergesa-gesa.

Dari hasil observasi tersebut dapat diketahui apa yang menjadi kelemahan dan kelebihan selama pembelajaran berlangsung. Adapun kekurangan dalam pertemuan I akan diperbaiki pada pertemuan II.

b. Pertemuan II

Hasil observasi selama pembelajaran Siklus 1 pertemuan II, dalam kinerja guru sudah cukup terlaksana secara optimal seperti siswa sudah membuat hipotesis, tetapi dalam pengelolaan kelas guru masih kurang optimal hal ini terlihat dari siswa yang masih bermain sendiri dan ada juga siswa yang sudah tenang saat diskusi tetapi hasilnya masih belum optimal, Siswa sudah mulai berani mempresentasikan di depan kelas, hal ini terlihat banyak siswa yang berebut untuk maju mempresentasikan hasil diskusinya di depan jadi guru dalam menyampaikan pembelajaran melalui pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri sudah baik dalam pelaksanaannya, akan tetapi kendalanya masih pada pengelolaan waktu yang diberikan untuk melakukan percobaan masih terlalu singkat sehingga hasil pekerjaan siswa dalam pengumpulan tugas (LKS) dan membuat kesimpulan masih belum optimal, hal ini terlihat hasil belajar siswa masih ada yang tuntas dalam belajarnya. Pada siklus 1 pertemuan II ini kegiatan pembelajaran sudah mulai berjalan dengan baik akan tetapi kekurangan dalam siklus 1 pertemuan II akan diperbaiki pada siklus 2 pada pertemuan I dan II.

(12)

59

4.2.3 Refleksi a. Hasil Tindakan

Berdasarkan kegiatan yang dilaksanakan pada siklus 1 kemudian diambil data secara kuantitatif melalui tes formatif dan penilaian unjuk kerja hasil belajar materi gaya yang dapat mengubah gerak benda dapat diperoleh hasil belajar yaitu Siswa pada aspek kognitif di dalam siklus 1 dengan menggunakan Pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri mengalami peningkatan, khususnya pada materi “gaya”. Hasil perolehan nilai siklus 1 yang mencapai kriteria ketuntasan belajar (KKM=90) sebanyak 29 siswa atau 78,38%, belum mencapai kriteria ketuntasan belajar sebanyak 8 siswa atau 21,62 %, dengan nilai rata-rata 92,42, nilai tertinggi 99,42 dan nilai terendahnya adalah 75,33. Dengan Standar deviasi yang diperoleh adalah 6,676.

b. Hasil Observasi

Pada saat pembelajaran siklus 1 pertemuan II berlangsung, praktikan meminta bantuan Observer (guru kelas IV) untuk mengamati jalannya pembelajaran dari awal hingga akhir pembelajaran dengan cara mengisi lembar observasi yang telah disediakan. Lembar observasi tersebut meliputi item untuk mengamati aktivitas praktikan. Dari hasil observasi tersebut siswa sudah antusias dan termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran. Siswa sudah sedikit mulai terbiasa dengan pembelajaran karena guru selalu memberikan motivasi belajar. Guru sudah lebih optimal dalam membimbing siswa pada saat kerja kelompok, adanya ketegasan guru saat menegur siswa yang melakukan kegiatan diluar kegiatan pembelajaran, saat menyusun kesimpulan telah melibatkan siswa. Secara lebih rinci, hasil observasi aktifitas guru pada siklus 1 dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut :

(13)

60

Tabel 4.3

Hasil Observasi Aktifitas Guru

No. Aspek Kesimpulan Rekomendasi

A. Perencanaan Pembelajaran

Potensi : Pada saat siswa akan mengikuti pelajaran siswa masih ada yang tidak siap dalam mengukuti pelajaran diantaranya siswa masih ada yang lupa bawa buku pelajaran yang hendak guru ajarkan. Seharusnya siswa dari rumah sudah mempersiapkan segala apa yang akan dibawa ke sekolah. Hal perlu diperbaiki: Seharusnya siswa dari rumah sudah diingatkan kedua orang tuanya, tetapi alangkah baiknya guru memberitahu pada siswa untuk membawa perlengkapan yang seharusnya dipersiapkan sebelum pelajaran dimulai.

Disaat pelajaran dimulai siswa seharusnya mempersiapkan perlengkapan yang akan dilaksanakan guru.

B Strategi Pembelajaran

Potensi : Menyampaikan apersepsi dan langkah-langkah pembelajaran yang akan diajarkan, Sudah melakukan tanya jawab dengan guru, belum sempurna dalam membuat kesimpulan, membimbing dalam melakukan percobaan, Sudah membimbing siswa dalam membuat kesimpulan tentang materi yang telah di ajarkan.

Hal perlu diperbaiki: Selalu memberikan pengarahan terlebih dahulu

tiap kali memberikan tugas kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran.

Seharusnya sebelum melakukan percobaan guru wajib menginformasikan tata cara dalam melakukan percobaan, siswa juga seharusnya sudah membuat agar pembelajaran yang dipakai terlaksana dengan baik.

(14)

61

C. Manajemen Kelas

Potensi : Dalam menyusun tata tempat duduk sudah diterapkan dengan baik, tiap kelompok sudah ditata dengan baik sehingga memudahkan mobilitas, interaksi, dan komunikasi antar kelompok menjadi nyaman,

Hal perlu diperbaiki: Lebih memperhatikan waktu dalam kegiatan

belajar-mengajar agar alokasi waktu bisa sesuai dengan perencanaan. Memberikan bimbingan secara optimal ketika PBM berlangsung atau saat siswa kerja kelompok berlangsung.

Pengelolaan waktu perlu ditingkatkan

D. Penilaian Potensi : Hasil proses penilaian disaat pembelajaran sudah terbilang cukup baik, karena siswa sudah melaksanakan semua kegiatan pembelajaran dengan baik.

Hal perlu diperbaiki: penghargaan saat tanya jawab terhadap siswa.

Penghargaan terhadap siswa yang menjawab pertanyaan benar maupun salah.

Dari tabel diatas maka perlu adanya perbaikan pada guru seperti dalam memberi pengarahan pada siswa agar melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan petunjuk guru dan bersikap lebih baik lagi, Selalu memberikan pengarahan terlebih dahulu tiap kali memberikan tugas kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran, Lebih memperhatikan waktu dalam kegiatan belajar-mengajar agar alokasi waktu bisa sesuai dengan perencanaan. Memberikan bimbingan secara optimal ketika PBM berlangsung atau saat siswa kerja kelompok berlangsung. Secara lebih rinci, hasil observasi aktifitas siswa pada siklus 1 dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut :

(15)

62

Tabel 4.4

Hasil Observasi pada siswa

No. Aspek Kesimpulan Rekomendasi

I. Pra

pembelajaran

Potensi : Siswa telah siap dengan pembelajaran, kesiapan itu seperti: siswa sudah menyiapkan buku pelajaran di atas meja, siswa telah menempati tempat duduknya.

II Kegiatan Awal Pembelajaran

Potensi : Siswa bertanya jawab dengan guru seputar materi yang akan diajarkan

Hal perlu diperbaiki: menjawab pertanyaan dari guru

Siswa perlu respon terhadap semua pertanyaan yang menyangkut tentang materi yang akan diajarkan.

III. Kegiatan Inti Pembelajaran

Potensi : siswa cukup baik melaksanakan pembelajaran, namun masih ada beberapa langkah yang masih belum dilakukan siswa.

Hal perlu diperbaiki: Memberi pengarahan pada siswa agar melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan petunjuk guru dan bersikap lebih baik lagi.

Siswa agar melakukan kegiatan pembelajaran sesuai petunjuk guru dan bersikap lebih baik lagi.

IV. Penutup Potensi : siswa membuat kesimpulan bersama guru Hal perlu diperbaiki: membuat kesimpulan bersama guru

Ajak semua siswa untuk membuat kesimpulan bersama guru.

(16)

63

Dari tabel diatas maka guru perlu melakukan peningkatan keaktifan siswa ketika pembelajaran seperti lakukan tanya jawab untuk mengarahkan siswa pada pembelajaran. Siswa agar melakukan kegiatan pembelajaran sesuai petunjuk guru dan bersikap lebih baik lagi. Ajak semua siswa untuk membuat kesimpulan bersama guru.

Pada pertemuan pertama dan kedua siklus 1 guru menerapkan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri seperti yang sudah dijelaskan pada poin sebelumnya. Guru memberikan evaluasi pada pertemuan kedua. Setelah kegiatan pembelajaran pada siklus 1 dari pertemuan I dan II dilakasanakan maka selanjutnya diadakan refleksi dalam bentuk diskusi atas segala kegiatan dalam proses pembelajaran. Refleksi dan analisis hasil tes (unjuk kerja) pada siklus 1 terdapat 29 (78,38%) siswa yang tuntas dan 8 (21,62%) siswa belum tuntas belajar, sehingga perlu diadakan perbaikan pembelajaran. Berikut merupakan hasil belajar IPA pada siklus 1 yang dapat dilihat di tabel 4.5 berikut ini.

(17)

64

Tabel 4.5

Distribusi Hasil Belajar IPA pada Siklus 1

No Angka Frekuensi Persentase (%)

1 75.33 1 2.7 2 77.08 1 2.7 3 80.08 1 2.7 4 80.58 1 2.7 5 81.25 1 2.7 6 83.92 1 2.7 7 86.08 1 2.7 8 87.33 1 2.7 9 90.25 1 2.7 10 90.75 1 2.7 11 92.08 2 5.4 12 92.58 2 5.4 13 92.75 1 2.7 14 92.92 1 2.7 15 93.25 2 5.4 16 93.33 1 2.7 17 93.42 2 5.4 18 93.75 1 2.7 19 95.58 1 2.7 20 96.25 2 5.4 21 96.75 1 2.7 22 98.08 4 10.8 23 98.75 1 2.7 24 98.83 1 2.7 25 99.25 1 2.7 26 99.33 2 5.4 27 99.42 2 5.4 Jumlah 37 100

(18)

65

Sedangkan ketuntasan hasil tes siklus 1 dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut:

Tabel 4.6

Distribusi Ketuntasan Hasil Belajar IPA pada siklus 1

Angka Frekuensi Ketuntasan Persentase

< 90 8 Tidak Tuntas 21,62 %

≥ 90 29 Tuntas 78,38 %

Jumlah 35 100 %

Dari hasil analisis tes siklus 1, masih ada 8 siswa (21,62%) yang belum tuntas atau belum memenuhi kriteria ketuntasan penelitian yaitu 90. Secara lebih rinci, ketuntasan hasil tes siklus 1 dapat dilihat pada gambar 4.2 berikut :

Gambar 4.2 Diagram Batang Ketuntasan Hasil Belajar IPA pada siklus 1 Setelah mengetahui hasil belajar dari Siklus 1 telah terjadi peningkatan pembelajaran tentang materi gaya yaitu pada pra siklus yang dapat dilihat pembelajaran dari 32,43% naik menjadi 78,38% pada hasil belajar siklus 1. Berdasarkan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus 1, ada 8 siswa yang nilainya belum mencapai KKM yang ditentukan yaitu 90.

0 5 10 15 20 25 30

Tuntas Tidak Tuntas

78,38% 21,62% F re k u en si Ketuntasan

(19)

66

Setelah melihat peningkatan yang terjadi pada kegiatan pembelajaran pada siklus 1, selanjutnya diadakan refleksi atas segala kegiatan yang telah dilakukan berdasarkan pengamatan atau temuan dari observer pada siklus 1.

a. Kegiatan pembelajaran siklus 1 berlangsung sudah sesuai dengan harapan dan berjalan dengan baik.

b. Siswa lebih tertarik pada pembelajaran yang sifatnya melakukan percobaan sehingga siswa mempunyai rasa keingintahuan yang besar. c. Kegiatan pembelajaran tampak lebih hidup, perhatian, antusias siswa lebih

meningkat karena mereka belajar secara berkelompok dengan melakukan percobaan dan diskusi dengan pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri yang tidak pernah guru kelas lakukan sebelumnya.

d. Antara rencana pembelajaran dengan proses pembelajaran sudah sesuai dengan siswa sudah mulai tertarik dengan pembelajaran pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri.

e. Sebagian siswa terlibat aktif di dalam proses pembelajaran.

f. Disaat siswa melakukan percobaan siswa masih kesulitan dalam melaksanakan percobaan dengan baik, karena siswa tidak diberikan prosedur sebelum siswa melakukan percobaan.

g. Keberanian siswa sudah tumbuh dalam mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.

Berdasarkan observasi pada siklus 1, hal-hal yang perlu dilakukan untuk diperbaiki pembelajaran pada siklus 2.

a. Memberi pengarahan pada siswa agar melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan petunjuk guru dan bersikap lebih baik lagi.

b. Selalu memberikan pengarahan terlebih dahulu tiap kali memberikan tugas kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran.

c. Lebih memperhatikan waktu dalam kegiatan belajar-mengajar agar alokasi waktu bisa sesuai dengan perencanaan.

d. Memberikan bimbingan secara optimal ketika PBM berlangsung atau saat siswa kerja kelompok berlangsung.

(20)

67

Dari hasil evaluasi didapatkan bahwa kompetensi belajar siswa meningkat, terbukti dari perolehan nilai siswa setelah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri yang mencapai kriteria ketuntasan belajar (KKM=90) sebanyak 29 siswa atau 78,38%, yang belum mencapai kriteria ketuntasan belajar sebanyak 8 siswa atau 21,62%, dengan nilai rata-rata 92,42 dan nilai tertinggi 99,42 sedangkan nilai terendahnya adalah 75,33. Untuk meningkatkan hasil perolehan nilai siswa dan untuk memantapkan tingkat kompetensi siswa serta memperbaiki kekurangan dalam proses pembelajaran akan dilanjutkan ke siklus 2.

4.3 Deskripsi Pelaksanaan Siklus 2

Setelah melihat kekurangan dan keberhasilan dalam siklus 1, perencanaan pembelajaran pada siklus 2 ini sebagai penyempurnaan dan tindak lanjut dari kekurangan yang terjadi pada siklus 1. Siklus 2 akan dilaksanakan dua kali pertemuan, kegiatan pembelajaran pada siklus 2 ini masih sama dengan pokok bahasan pada siklus 1 yaitu “Energi dan Perubahannya” dengan Indikator berbeda yaitu “Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi gerak suatu benda, seperti: jatuh bebas akibat gravitasi, gerak di lantai yang datar karena dorongan dan Memberi contoh lain gaya yang dapat mengubah gerak suatu benda dalam lingkungan sekolah dan kehidupan sehari-hari.

4.3.1 Perencanaan Tindakan Penelitian

a. Pertemuan I

Sebelum mengajar pada pertemuan I, praktikan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam proses pembelajaran, diantaranya RPP, lembar kerja siswa, lembar observasi untuk guru saat proses belajar mengajar, buku pembelajaran, alat peraga, serta kesiapan peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran. Setelah itu membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan pokok bahasan “Energi dan perubahannya”, kemudian menentukan tujuan pembelajaran dengan indikator, mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi gerak suatu benda, seperti: jatuh bebas akibat gravitasi, gerak di lantai yang datar karena dorongan. Setelah menentukan tujuan pembelajaran kemudian guru menetapkan sarana dan

(21)

68

prasarana seperti alat peraga yang dibutuhkan saat proses kerja kelompok yang akan berlangsung.

b. Pertemuan II

Perencanaan pembelajaran pada siklus 2 pertemuan II sebagai tindak lanjut dari hasil belajar siswa dan kekurangan/ kelemahan pada pertemuan I maka pada perencanaan pertemuan II masih sama dengan dengan pertemuan I siswa masih melaksanakan percobaan. Sebelum mengajar pada pertemuan II, praktikan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam proses pembelajaran, diantaranya RPP, lembar kerja siswa, lembar observasi, lembar evaluasi untuk guru saat proses belajar mengajar, buku pembelajaran, alat peraga, serta kesiapan peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dibuat dengan pokok bahasan “Energi dan perubahannya”, kemudian menentukan tujuan pembelajaran dengan indikator, Memberi contoh lain gaya yang dapat mengubah gerak suatu benda dalam lingkungan sekolah dan kehidupan sehari-hari. Setelah menentukan tujuan pembelajaran kemudian guru menetapkan sarana dan prasarana seperti alat peraga yang dibutuhkan saat proses belajar mengajar yang akan berlangsung.

4.3.2 Pelaksanaan Tindakan dan Observasi A. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan siklus 2 ini sebagai tindak lanjut, penyempurnaan dan pemantapan pada siklus 1. Siklus 2 ini dilaksanakan dalam dua pertemuan dengan setiap pertemuan terdiri dari kegiatan awal, kegiatani nti dan kegiatan akhir.

a. Pertemuan I

Kegiatan awal pada siklus 2 pertemuan I ini diawali dengan guru mengucapkan salam, berdoa bersama diteruskan dengan presensi kehadiran siswa, mengecek kesiapan siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar dan melakukan apersepsi: menanyakan kepada siswa tentang pelajaran kemarin yaitu tentang gaya dorong, tarikan dan jenis-jenis gaya. Setelah itu guru memotivasi untuk menanyakan pada siswa tentang jadwal piket, “sekarang siapa yang

(22)

69

jadwalnya menyapu?”. Selanjutnya, guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan menjelaskan langkah-langkah pembelajaran yang akan digunakan yakni pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri.

Pada kegiatan inti guru menjelaskan sekilas materi tentang hal-hal yang mempengaruhi gaya, kemudian siswa dibagi dalam 6 kelompok yang anggotanya 6-7 siswa diberi nomor kelompok 1, 2, 3, 4, 5, 6. Setiap kelompok menerima lembar permasalahan yang berbeda. Kelompok 1 mendapatkan permasalahan tentang menjatuhkan bola dari atas ke bawah kemudian membuat hipotesis “Apa yang terjadi dengan bola setelah dilepaskan dari atas ?”. Kelompok 2 mendapatkan permasalahan tentang mendorong meja yang didorong 2 orang dan didorong 4 orang, kemudian siswa membuat hipotesis “apa yang terjadi pada saat mendorong meja?”. Kelompok 3 mendapatkan permasalahan tentang menjatuhkan kertas dari atas yang dibentuk bulatan kemudian membuat hipotesis “apa yang terjadi dengan kertas yang dijatuhkan dari atas?”. Kelompok 4 mendapatkan permasalahan tentang menjatuhkan bolpoint atau pensil dari atas kemudian siswa membuat hipotesis “apa yang terjadi setelah bolpoin atau pensil dijatuhkan?”. Kelompok 5 mendapatkan permasalahan tentang mempraktikkan mengibarkan bendera kemudian siswa membuat hipotesis “apa yang terjadi pada saat menarik bendera?”. Pada kelompok 6 mendapatkan permasalahan tentang mendorong kaleng bekas kemudian siswa membuat hipotesis “apa yang terjadi setelah kaleng didorong?”.

Hasil diskusi dari kelompok 1 yaitu setelah bola dijatuhkan dari atas, bola jatuh ke bawah dengan kesimpulan bola jatuh ke tanah karena adanya gaya gravitasi bumi. Hasil diskusi dari kelompok 2 yaitu setelah meja didorong, meja berpindah tempat, meja yang di dorong empat orang terasa lebih ringan dibandingkan didorong dua orang dengan kesimpulan dorongan dapat mengubah arah gerak benda. Hasil diskusi kelompok 3 yaitu setelah menjatuhkan kertas yang dibentuk bulatan, kertas jatuh ke bawah dengan kesimpulan benda yang dilempar akan jatuh ke bawah karena pengaruh gaya gravitasi bumi. Hasil diskusi kelompok 4 yaitu setelah bolpoin atau pensil dijatuhkan bolpoin pecah dan pensil patah dengan kesimpulan bolpoin/ pensil jatuh ke bawah karena adanya gaya

(23)

70

gravitasi bumi. Hasil diskusi kelompok 5 yaitu setelah bendera ditarik, bendera berpindah ke atas dengan kesimpulan tarikan dapat mengubah gerak benda. Hasil diskusi kelompok 6 yaitu setelah kaleng didorong, kaleng berpindah tempat dan berhenti dengan sendirinya dengan kesimpulan gesekan antara dua permukaan benda akan mempengaruhi kecepatan gerak suatu benda.

Untuk menguji kebenaran hipotesis, setiap kelompok melakukan percobaan dan mempresentasikan secara bergiliran di depan kelas dengan diamati dan ditanggapi kelompok lain. Langkah-langkah percobaan yang akan dilakukan adalah guru dibantu siswa menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam percobaan, antara lain: meja, jendela kelas, kursi, buku pelajaran, bolpoin atau pensil dan pintu. Guru membagikan lembar permasalahan kepada setiap kelompok dan menjelaskan aturan dalam melakukan setiap percobaan. Siswa mengambil alat dan bahan yang dibutuhkan dalam melakukan percobaan yang sudah disediakan oleh guru. Setiap kelompok melakukan kegiatan percobaan dan guru hanya sebagai fasilitator. Kelompok yang sudah melakukan percobaan itu berdiskusi (pemecahan masalah) dan mengutarakan hasil pengamatannya untuk disimpulkan. Kemudian setiap kelompok membuat kesimpulan hasil percobaan yang sudah dilakukan yaitu bahwa gaya dorong dan tarikan dapat mempengaruhi gerak suatu benda. Siswa perwakilan kelompok mempresentasikan antara hasil diskusi sebelum melakukan percobaan (hipotesis) dengan hasil diskusi setelah percobaan di depan kelas dan kelompok lain menanggapi.

Kegiatan akhir dalam pembelajaran, guru bersama dengan siswa menarik kesimpulan dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang belum jelas, dari materi yang telah dipelajari. Guru membimbing Siswa membuat kesimpulan tentang materi yang sudah dipelajari setelah itu guru mengadakan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Sebagai tindak lanjut setelah guru mennyampaikan materi pelajaran tentang gaya siswa diberikan tugas pekerjaan rumah untuk mengerjakan buku paket halaman 95-96.

(24)

71

b. Pertemuan II

Dalam kegiatan awal pada siklus 2 pertemuan II ini untuk mengawali pembelajaran guru menyiapkan segala perlengkapan untuk memulai pelajaran pada pertemuan II ini. Guru melakukan apersepsi dengan melalui tanya jawab mengajak siswa untuk mengingat pelajaran yang kemarin. Setelah itu guru memotivasi untuk menanyakan pada siswa tentang transportasi delman “Siapakah yang dirumah pernah naik delman ?”. Selanjutnya, guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan menjelaskan langkah-langkah pembelajaran yang akan digunakan yakni pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri.

Pada kegiatan inti guru menjelaskan sekilas materi tentang jenis gaya, kemudian siswa dibagi dalam 6 kelompok yang anggotanya 6-7 siswa diberi nomor kelompok 1, 2, 3, 4, 5, 6. Setiap kelompok menerima lembar permasalahan yang berbeda. Kelompok 1 mendapatkan lembar permasalahan tentang menendang bola kemudian membuat hipotesis “Apa yang terjadi setelah bola ditendang?”. Kelompok 2 mendapatkan lembar permasalahan tentang kotak kayu yang didorong dengan diberi bantalan 4 spidol kemudian membuat hipotesis “apa yang terjadi setelah kotak kayu didorong?”. Kelompok 3 mendapatkan lembar permasalahan tentang melempar kock badminton ke atas kemudian membuat hipotesis “apa yang terjadi setelah kock dilempar ke atas?”. Kelompok 4 mendapatkan lembar permasalan tentang menekan tombol starter motor kemudian membuat hipotesis “apa yang terjadi setelah tombol starter motor ditekan?”. Kelompok 5 mendapatkan lembar permasalahan mendorong meja guru tanpa beban di atas meja dan dengan beban di atas meja kemudian membuat hipotesis “apa yang terjadi antara mendorong meja tanpa beban dengan mendorong meja yang ada beban?”. Kelompok 6 mendapatkan lembar permasalahan mendorong kaleng tanpa isi kemudian membuat hipotesis “apa yang terjadi setelah kaleng didorong?”.

Hasil diskusi dari kelompok 1 yaitu setelah bola ditendang, bola bergerak dan berpindah tempat dengan kesimpulan tendangan yang kuat akan menghasilkan jarak pindah yang jauh sedangkan tendangan yang lemah akan

(25)

72

menghasilkan jarak pindah yang dekat. Hasil diskusi dari kelompok 2 yaitu setelah kotak kayu didorong, kotak kayu bergerak berpindah tempat dengan kesimpulan dorongan dapat mengubah arah gerak benda. Hasil diskusi kelompok 3 yaitu setelah kock dilempar ke atas kock jatuh ke bawah dengan kesimpulan benda yang dilempar akan jatuh ke tanah karena pengaruh gaya gravitasi bumi. Hasil diskusi kelompok 4 yaitu setelah tombol starter ditekan mesin motor menyala dengan kesimpulan gaya menekan tombol starter motor akan menimbulkan mesin motor menyala karena adanya gaya listrik yang ditimbulkan dari accu. Hasil diskusi kelompok 5 yaitu setelah meja didorong meja berpindah tempat, meja dengan ditambahkan beban akan terasa berat jika didorong sedangkan meja tanpa beban akan terasa ringan jika di dorong dengan kesimpulan meja berpindah tempat dengan adanya gaya otot. Hasil diskusi kelompok 6 yaitu setelah kaleng bekas didorong, kaleng berpindah tempat dan berhenti dengan sendirinya dengan kesimpulan gaya gesekan antara dua permukaan benda mempengarungi kecepatan gerak benda.

Untuk menguji kebenaran hipotesis, setiap kelompok melakukan percobaan dan mempresentasikan secara bergiliran di depan kelas dengan diamati dan ditanggapi kelompok lain. Langkah-langkah percobaan yang akan dilakukan adalah guru dibantu siswa menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam percobaan, antara lain: Bola, Kotak kayu, cock badminton, motor, meja, kaleng bekas. Guru membagikan lembar permasalahan kepada setiap kelompok dan menjelaskan aturan dalam melakukan setiap percobaan. Siswa mengambil alat dan bahan yang dibutuhkan dalam melakukan percobaan yang sudah disediakan oleh guru. Setiap kelompok melakukan kegiatan percobaan dan guru hanya sebagai fasilitator. Kelompok yang sudah melakukan percobaan itu berdiskusi (pemecahan masalah) dan mengutarakan hasil pengamatannya untuk disimpulkan. Kemudian setiap kelompok membuat kesimpulan hasil percobaan yang sudah dilakukan yaitu bahwa gaya dorong dan tarikan dapat mempengaruhi gerak suatu benda. Siswa perwakilan kelompok mempresentasikan antara hasil diskusi sebelum melakukan percobaan (hipotesis) dengan hasil diskusi setelah percobaan di depan kelas dan kelompok lain menanggapi.

(26)

73

Pada kegiatan akhir siswa dan guru melakukan refleksi mengenai materi yang telah dipelajari. Kemudian guru memberikan lembar tes formatif pada siswa. Praktikan meminta bantuan Observer (guru kelas VI) untuk mengamati jalannya pembelajaran dari awal hingga akhir pembelajaran dengan cara mengisi lembar observasi yang telah disediakan. Lembar observasi tersebut meliputi item untuk mengamati guru saat melakukan proses belajar mengajar. Pada pertemuan kedua ini semua item diisi oleh observer, karena secara keseluruhan langkah-langkah pembelajaran pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri telah diterapkan oleh guru.

B. Observasi

a. Pertemuan I

Pada saat pembelajaran siklus 2 pertemuan I berlangsung, praktikan meminta bantuan Observer (guru kelas IV) untuk mengamati jalannya pembelajaran dari awal hingga akhir pembelajaran dengan cara mengisi lembar observasi yang telah disediakan. Lembar observasi tersebut meliputi item untuk mengamati aktivitas praktikan. Hasil observasi selama pembelajaran Siklus 2 pertemuan I, dalam kinerja guru sudah cukup terlaksana secara optimal. Seperti siswa sudah membuat hipotesis, pengelolaan guru kelas sudah terlihat optimal hal ini terlihat dari siswa yang sudah tenang dalam melaksanakan percobaan dan berdiskusi. Guru dalam menyampaikan pembelajaran melalui pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri sudah baik dalam pelaksanaannya, hal ini terlihat waktu yang diberikan siswa sudah terlaksana denga lancar dan tepat waktu.

Dari hasil observasi tersebut siswa sudah antusias dan termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran. Siswa sudah terbiasa dengan pembelajaran karena guru selalu memberikan motivasi belajar dengan menerapkan pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri. Guru sudah lebih optimal dalam membimbing siswa pada saat kerja kelompok, adanya ketegasan guru saat menegur siswa yang melakukan kegiatan diluar kegiatan pembelajaran, pada saat presentasi siswa sudah terlihat tenang dan tidak kaku seperti pertemuan

(27)

74

sebelumnya, hal ini terlihat pada saat guru meminta perwakilan kelompok untuk maju mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya siswa tanpa menunjuk temannya berani maju untuk melaporkan hasil kelompoknya. Saat menyusun kesimpulan telah melibatkan siswa. Dari hasil observasi tersebut dapat diketahui apa yang menjadi kelemahan dan kelebihan selama pembelajaran berlangsung. Adapun kekurangan dalam pertemuan I akan diperbaiki pada pertemuan II.

b. Pertemuan II

Hasil observasi selama pembelajaran Siklus 2 pertemuan II berlangsung, dalam guru melakukan pembelajaran sudah berjalan dengan apa yang diharapkan. Seperti siswa sudah melakukan prosedur yang terkait dalam proses pembelajaran berlangsung dari membuat hipotesis, melakukan percobaan, berdiskusi, membuat kesimpulan dan presentasi ke depan kelas. Namun disamping itu pengelolaan guru didalam kelas masih kurang optimal hal ini terlihat dari kesiapan siswa dalam mencari permasalahan yang ada terkait dalam materi gaya siswa kurang begitu antusias. Kemudian ketika guru dalam menyampaikan pembelajaran melalui pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri guru sudah baik dalam meelaksakannya, hal ini terlihat dari siswa dalam menyimak materi dari guru siswa terlihat serius dan aktif apabila siswa diajak tanya jawab tentang materi yang telah diajarkan sehingga hasil belajar yang dicapai siswa menjadi tinggi.

4.3.3 Refleksi a. Hasil Tindakan

Berdasarkan kegiatan yang dilaksanakan pada siklus 2 kemudian diambil data secara kuantitatif melalui tes formatif dan penilaian unjuk kerja hasil belajar materi gaya yang dapat mengubah gerak benda dapat diperoleh hasil belajar yaitu siswa pada aspek kognitif di dalam siklus 2 dengan menggunakan Pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri mengalami peningkatan, khususnya pada materi “gaya”. Mengalami peningkatan dibandingkan pra siklus dan siklus 1, khususnya pada materi “Energi dan Perubahannya”. Hasil perolehan nilai siklus 1 yang mencapai kriteria ketuntasan

(28)

75

belajar sebanyak 29 siswa atau 78,38%, yang belum mencapai kriteria ketuntasan belajar sebanyak 8 siswa atau 21,62%, dengan nilai rata-rata 92,42, nilai tertinggi 99,42 dan nilai terendahnya adalah 75,33. Sedangkan hasil perolehan nilai pada siklus 2 sebanyak 37 siswa atau 100% sudah memenuhi kriteria ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata 94,76 dan nilai tertinggi 99,75 sedangkan nilai terendahnya adalah 90,17 dengan standar deviasi yang diperoleh adalah 2.846.

b. Hasil Observasi

Pada waktu pembelajaran berlangsung praktikan meminta bantuan observer (guru kelas IV) untuk mengamati jalannya pembelajaran dari awal hingga akhir pembelajaran dengan cara mengisi lembar observasi yang telah disediakan. Lembar observasi tersebut meliputi item untuk mengamati aktivitas praktikan. Dari hasil observasi tersebut siswa sudah antusias dan termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran. Siswa sudah terbiasa dengan pembelajaran karena guru selalu memberikan motivasi belajar dengan menerapkan pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri. Jadi kelemahan dan kelebihan selama pembelajaran berlangsung sudah terlihat di awal pertemuan. Secara lebih rinci, hasil observasi aktifitas guru pada siklus 2 dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut :

(29)

76

Tabel 4.7

Hasil Observasi Aktifitas Guru

No. Aspek Kesimpulan Rekomendasi

A. Perencanaan Pembelajaran

Potensi : RPP selalu dipersiapkan sebelum pembelajaran dimulai, media yang digunakan juga selalu siap disaat pembelajaran itu membutuhkan media, guru selalu siap untuk mengecek dari kesiapan siswa, dari buku, alat tulis, ataupun kondisi siswa

B Strategi Pembelajaran

Potensi : Menyampaikan apersepsi, memberikan motivasi pada siswa yang dikaitkan pada pelajaran yang akan di bahas, dan langkah-langkah pembelajaran yang akan diajarkan, Sudah melakukan tanya jawab dengan guru, sudah sempurna dalam membuat kesimpulan, membimbing dalam melakukan percobaan, Sudah membimbing siswa dalam membuat kesimpulan tentang materi yang telah di ajarkan,.

Hal perlu diperbaiki: Selalu memberikan penguatan agar siswa

termotivasi dalam mengikuti pembelajaran.

Guru seharusnya selalu memberi penegasan atau penguatan disetiap akhir pembelajaran ataupun dalam membuat kesimpulan.

C. Manajemen Kelas

Potensi:Pembelajaran yang dilakukan dalam bentuk kelompok jadi dalam bentuk tanya jawab juga terjadi dalam bentuk kelompok, Dalam menyusun tata tempat duduk sudah diterapkan dengan baik, setipa kelompok sudah berdiskusi dengan baik, kompak dan tenang dalam menghadapi permasalahan yang ada. dalam pengaturan waktu yang dibutuhkan sudah

(30)

77

terlaksana dengan tepat waktu.

D. Penilaian Potensi : Hasil proses penilaian dan hasil tes formatif setelah pembelajaran sudah menunjukan peningkatan yang signifikan, karena siswa sudah melaksanakan semua kegiatan pembelajaran dengan baik, dari melakukan percobaan, diskusi, membuat hipotesis, membuat kesimpulan dan presentasi kedepan kelas.

Dari tabel diatas maka perlu adanya perbaikan pada guru seperti dalam memberi pengarahan pada siswa agar melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan petunjuk guru dan bersikap lebih baik lagi, selalu memberikan pengarahan terlebih dahulu tiap kali memberikan tugas kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran, lebih memperhatikan waktu dalam kegiatan belajar-mengajar agar alokasi waktu bisa sesuai dengan perencanaan. Memberikan bimbingan secara optimal ketika PBM berlangsung atau saat siswa kerja kelompok berlangsung. Secara lebih rinci, hasil observasi aktifitas siswa pada siklus 2 dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut :

(31)

78

Tabel 4.8

Hasil Observasi Aktifitas Siswa

No. Aspek Kesimpulan

I. Pra

pembelajaran

Potensi : Dengan perlengkapan yang dibawa siswa dari

alat tulis, buku tulis, buku pelajaran dan kondisi siswa itu sendiri siswa siap untuk mengikuti pelajaran.

II Kegiatan Awal Pembelajaran

Potensi : Dengan siswa mendapatkan pembelajaran

dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri secara berulang-ulang siswa mampu mengingat langsung materi yang diberikan di pertemuan sebelum-sebelumnya, siswa secara mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan siswa sebelum masuk dalam kegiatan inti. III. Kegiatan Inti

Pembelajaran

Potensi : Siswa sudah melaksanakan langkah-langkah

pembelajaran dengan baik, dan mampu untuk mencari contoh gaya dalam kehidupan sehari-hari dan diterapkan dalam melakukan percobaan.

IV. Penutup Potensi : Siswa setelah mendapatkan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri disetiap pertemuan siswa dengan mudah membuat kesimpulan secara mandiri

(32)

79

Berdasarkan refleksi pada siklus 2 terdapat 37 siswa atau 100% memenuhi ketuntasan hasil belajar siswa yang sudah mencapai KKM. Dari hasil pelaksanaan pembelajaran siklus 2 diketahui bahwa terdapat peningkatan pembelajaran IPA. Hal ini dapat dilihat pada tabel perolehan nilai Siklus 2 (lihat tabel 4.9).

Tabel 4.9

Distribusi Hasil Belajar IPA pada Siklus 2

No. Nilai Frekuensi Persentase (%)

1 90 2 5,41 2 91 3 8,11 3 92 4 10,81 4 93 9 24,32 5 94 1 2,70 6 95 2 5,41 7 96 5 13,51 8 97 5 13,51 9 98 1 2,70 10 99 2 5,41 11 100 3 8,11 Total 37 100

Berdasarkan tabel 4.9 diketahui hasil belajar siklus 2 dari jumlah siswa 37 siswa dinyatakan tuntas (KKM=90) dengan perincian yang mendapatkan nilai 90 ada 2 siswa (5,41%), nilai 91 ada 3 siswa (8,11%), nilai 92 ada 4 siswa (10,81%), nilai 93 ada 9 siswa (24,32%), nilai 94 ada 1 siswa (2,70%), nilai 95 ada 2 (5,41%), nilai 96 ada 5 siswa (13,51%), nilai 97 ada 5 siswa (13,51%), nilai 98 ada 1 siswa (2,70%), nilai 99 ada 2 siswa (5,41%), nilai 100 ada 3 siswa (8,11%). Setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran pada siklus 2, selanjutnya diadakan refleksi atas segala kegiatan yang telah dilakukan berdasarkan pengamatan atau temuan dari observer pada siklus 2.

a. Kegiatan pembelajaran siklus 2 berlangsung sudah sesuai dengan harapan dan berjalan dengan baik.

(33)

80

b. Penegasan diakhir pembelajaran perlu dilakukan agar siswa mampu membuat rangkuman dengan baik dan benar.

c. Siswa lebih tertarik pada pembelajaran karena dalam pembelajaran berlangsung siswa terlibat langsung saat melakukan percobaan dengan alat peraga yang ada di sekitar lingkungan siswa.

d. Kegiatan pembelajaran tampak lebih hidup, perhatian, antusias siswa lebih meningkat karena mereka belajar secara berkelompok dengan pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri yang tidak pernah guru kelas lakukan sebelumnya.

e. Antara rencana pembelajaran dengan proses pembelajaran sudah sesuai. f. Dari 37 siswa terdapat 34 siswa atau 91,89% sudah terlibat aktif di dalam

proses pembelajaran pada saat tanya jawab, diskusi, menyimak materi yang disampaikan guru.

g. Keberanian siswa sudah tumbuh dalam mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.

h. Siswa sudah kompak dengan anggota kelompok masing-masing. i. Siswa sudah menghargai pendapat dari kelompok lain.

j. Penjelasan guru sudah baik.

Kekurangan siklus 2 yaitu lebih memperhatikan waktu dalam kegiatan belajar-mengajar agar alokasi waktu bisa sesuai dengan perencanaan karena dalam pembelajaran ini lebih banyak melakukan percobaan ke lapangan untuk mengalami langsung permasalahan yang dihadapinya.

Dari hasil evaluasi didapatkan bahwa kompetensi belajar siswa meningkat, terbukti dari perolehan nilai siswa setelah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri yang mencapai kriteria ketuntasan belajar (KKM=90) terdapat 37 siswa atau 100% sudah memenuhi kriteria ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata 94,76 dan nilai tertinggi 99,75, sedangkan nilai terendahnya adalah 90,17.

(34)

81

4.4 Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil tindakan yang telah dilakukan dapat diketahui telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa melalui pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri pada mata pelajaran IPA dengan kompetensi gaya dapat mengubah gerak suatu benda bagi siswa kelas IV SD Negeri Salatiga 12 Pada Semester 2 Tahun Ajaran 2011-2012. Keberhasilan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.11 dibawah ini.

Tabel 4.10

Perbandingan Distribusi Ketuntasan Hasil Belajar IPA pada Pra Siklus, Siklus 1 dan Siklus 2

No Ketuntasan

Belajar KKM

Pra siklus Siklus 1 Siklus 2

f % f % f %

1. Tuntas < 90 12 32,43 29 78,38 37 100 2. Tidak Tuntas ≥ 90 25 67,57 8 21,62 0 0

Jumlah 37 100 37 100 37 100

Dari tabel 4.11 dapat dilihat adanya peningkatan hasil belajar siswa yang tuntas. Terbukti untuk klasifikasi tuntas, sebelum diadakan tindakan yang tuntas hanya 12 siswa (32,43%) dan ada 25 siswa (67,57%) tidak mencapai KKM yang sudah ditentukan. Sedangkan setelah siklus 1 jumlah siswa yang tuntas ada 29 siswa (78,38%), 8 siswa (21,62%) nilainya dibawah KKM yang ditentukan dan setelah siklus 2 jumlah siswa yang tuntas ada 37 siswa (100%). Ini membuktikan bahwa pembelajaran menggunakan pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Rata-rata yang diperoleh dari pra siklus, siklus 1, dan siklus 2 mengalami peningkatan yaitu dari 74,51 (pra siklus), 92,42 (siklus 1), dan 94,76 (siklus 2). Bila dituangkan dalam bentuk grafik maka akan tampak perbandingan pembelajaran IPA di gambar bawah ini. Secara lebih rinci, perbandingan dari pra siklus, siklus 1 dan siklus 2 dapat dilihat pada gambar 4.3 berikut :

(35)

82

Gambar 4.3 Grafik Distribusi Perbandingan Hasil Belajar Siswa Untuk perbandingan peningkatan hasil rata-rata (mean) dari pra siklus, siklus 1 dan siklus 2 terbukti dari setiap siklusnya terjadi peningkatan dari pra siklus 74,51 kemudian siklus 1 menjadi 92,42 dan meningkat lagi di siklus 2 menjadi 94,76. Gambar 4.4 menyajikan perbandingan peningkatan hasil rata-rata (mean) dari pra siklus, siklus 1 dan siklus 2.

Gambar 4.4

Diagram Perbandingan Skor Rata-rata pada Pra Siklus, Siklus 1 dan Siklus 2

Pada penelitian ini setiap kenaikan hasil rata-rata (mean) juga diikuti oleh kenaikan skor maksimal pada pra siklus, siklus 1 dan siklus 2. Jadi dalam penelitian ini penggunaan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri sangat berpengaruh terhadap kenaikan

32,43% 78,38% 100% 67,57% 21,62% 0 0 5 10 15 20 25 30 35 40

Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2

F re k u en si Tuntas Tidak Tuntas 74,51 92,42 94,76 0 20 40 60 80 100

Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2

Sk

(36)

83

kompetensi siswa. Gambar 4.5 menyajikan tentang kenaikan skor maksimal atau skor tertinggi pada Pra Siklus, Siklus 1 dan Siklus 2.

Gambar 4.5

Diagram Perbandingan Skor Maksimal pada Pra Siklus, Siklus 1, dan Siklus 2

Pada penelitian ini setiap kenaikan skor maksimal juga diikuti oleh kenaikan skor maksimal pada pra siklus, siklus 1, dan siklus 2. Jadi dalam penelitian ini penggunaan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri sangat berpengaruh terhadap kenaikan kompetensi siswa. Gambar 4.6 menyajikan tentang kenaikan skor minimal atau skor terendah pada Pra Siklus, Siklus 1 dan Siklus 2.

Gambar 4.6

Grafik Perbandingan Skor Minimal pada Pra Siklus, Siklus 1, dan Siklus 2

96 99,42 99,75 94 95 96 97 98 99 100 101

pra Siklus Siklus 1 Siklus 2

S k or 46 75,33 90,17 0 20 40 60 80 100

Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2

S

k

(37)

84

Pada penelitian ini setiap kenaikan skor minimal atau skor terendah juga diikuti oleh kenaikan hasil paningkatan pada pra siklus, siklus 1, dan siklus 2. Jadi dalam penelitian ini penggunaan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri sangat berpengaruh terhadap kenaikan kompetensi siswa. Analisis yang terakhir yaitu membandingkan standar deviasi tiap siklusnya. Perbandingan standar deviasi prasiklus, siklus 1 dan siklus 2 yang tersaji pada tabel 4.7. pada prasiklus dengan standar deviasi 15,134, sedangkan pada siklus 1 dengan standar deviasi 6,676 dan pada siklus 2 dengan standar deviasi 2,846. Jika digambarkan pada gambar diagaram adalah sebagai berikut :

Gambar 4.7

Diagram Perbandingan Standar Deviasi pada Pra Siklus, Siklus 1, dan Siklus 2

4.5 Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan paparan hasil penelitian di atas maka dapat diketahui peningkatan hasil belajar siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dari mulai tanya jawab dengan guru ataupun dengan kelompok, membuat hipotesis, berdiskusi memecahkan masalah, presentasi dan melakukan percobaan dengan pembelajaran pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri. Hasil belajar siswa berdasarkan penilaian proses pada pra siklus, dari siklus 1 dan siklus 2 selalu mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Hal ini

15,134 6,676 2,846 0 2 4 6 8 10 12 14 16

Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2

S

k

(38)

85

tercantum dalam pembahasan pada siklus 1 dan pembahasan siklus 2 sebagai berikut :

a. Pembahasan siklus 1

Setelah pelaksanaan siklus 1 dilakukan terlihat peningkatan pembelajaran pada mata pelajaran IPA tentang gaya. Siswa kelas IV SD Negeri Salatiga 12 mencapai ketuntasan hingga 78,38% diatas nilai Kriteria Ketuntasan Minimal yang telah ditentukan dan 8 siswa yang nilainya tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). skor yang tertinggi adalah 99,75 dan untuk skor yang terendah 90,17 . Hasil ini menunjukkan bahwa pembelajaran telah berhasil baik dengan indikator keberhasilannya ≥90 dengan tingkat keberhasilan 78,38% dari jumlah siswa sebanyak 37 siswa, dan pada siklus 1 ini hasil belajar siswa sudah meningkat, tetapi masih ada yang belum tuntas dengan persentase 21,62%. Walaupun persentase ini sudah cukup besar namun belum memenuhi ketuntasan yang ingin dicapai sebesar 100% dari seluruh siswa sehingga perlu dilakukan tindakan siklus 2.

Perolehan nilai hasil belajar pada siklus 1 ini masih belum optimal yaitu sebesar 78,38% atau 29 siswa. Beberapa kekurangan dalam penelitian tindakan siklus 1 ini antara lain dalam memulai sebuah percobaan seharusnya guru menginformasikan prosedur percobaannya, guru dalam menyampaikan kompetensi jangan terlalu cepat-cepat, sehingga siswa dalam menerima kompetensi dari guru dapat di mengerti, selain itu pemberian kesimpulan pada akhir pembelajaran masih bersifat dari guru saja, seharusnya guru sudah melibatkan siswa dalam membuat kesimpulan. Selain itu perlu perhatian dalam manajemen waktu pembelajaran sehingga pembelajaran belangsung efektif dan efisien.

b. Pembahasan siklus 2

Setelah pelakasanaan siklus 1 berlangsung masih ada yang perlu untuk diperbaiki di pelaksanaan siklus 2 untuk menunjukkan adanya peningkatan baik peran guru, prosentase pembelajaran maupun prosentase ketuntasan belajar agar ketuntasan siswa dalam hasil belajarnya tercapai secara maksimal. Dari kegiatan refleksi teridentifikasi bahwa dalam menyampaikan kompetensi pembelajaran

(39)

86

guru terlalu cepat, selain itu dalam membuat kesimpulan pada akhir pembelajaran belum melibatkan siswa, kemudian kurang tepatnya manajemen waktu pembelajaran.

Setelah itu dalam melaksanakan siklus 2 peneliti memfokuskan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam pelaksanaan siklus 1. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA tentang gaya pada pelaksanaan siklus 2 terlihat tuntas semua, nilai yang diperoleh siswa diatas nilai KKM semua yang ketuntasannya mencapai 100%. Dalam siklus 2 skor terendah yang diperoleh siswa 90,17 dan skor tertinggi 99,75. Pembelajaran IPA materi gaya yang dapat mengubah gerak suatu benda dicapai sesuai dengan indikator kinerja yang diharapkan adalah 100% dari jumlah siswa keseluruhan. Hasil belajar IPA dalam menerapkan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri sudah berhasil memenuhi KKM yakni mencapai 100% dari jumlah siswa keseluruhan, namun siswa yang memperoleh skor lebih dari atau sama dengan KKM terbukti tuntas semua dari jumlah 37 siswa. Hal ini mungkin disebabkan antusias siswa dalam mengikuti pelajaran sangatlah besar, dilihat dari sepanjang siswa mengikuti kegiatan belajar secara berkelompok dengan berulang-ulang, disaat siswa melakukan percobaan, saat siswa membuat kesimpulan. Semua itu mempengaruhi hasil penilaian proses dan hasil belajar siswa menjadi tuntas.

c. Perbandingan Pra Siklus, Siklus 1, dan Siklus 2

Pada pra siklus hanya sebanyak 12 (32,43%) siswa telah mengalami ketuntasan dengan skor rata-rata 74,51 dan skor terendah 46, skor tertinggi 96. Pada kondisi pra siklus ini standar deviasi sebesar 15,134. Setelah diadakan tindakan penelitian melalui pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri terjadi peningkatan hasil belajar siswa yaitu sebanyak 78,38% dengan sebanyak 29 siswa mengalami ketuntasan dengan skor rata-rata 92,42 dan skor terendah 75,33, skor tertinggi 90,17. Untuk Standar deviasi pada siklus 1 telah mengalami penurunan yaitu sebesar 6,676. Walaupun sudah terjadi peningkatan namun belum memenuhi ketuntasan yang ingin dicapai yaitu sebesar 90% dan masih ada 8 siswa yang belum tuntas belajarnya, sehingga dilakukan tindakan siklus 2. Pada tindakan di siklus 2 ketuntasan dalam penelitian ini

(40)

87

dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri telah berhasil tuntas 100%, dengan skor rata-rata 94,76, skor tertinggi sebesar 99,75 dan skor terendah 90,17 sehingga standar deviasinya menurun menjadi 2,846. Dengan demikian perbandingan ketuntasan hasil belajar dari pra siklus, siklus 1, dan siklus 2 mengalami peningkatan yang signifikan.

Dalam penelitian ini hipotesis tindakan dengan menggunakan Pendekatan Contextual Teaching Learning dengan menemukan sendiri pada mata pelajaran IPA dapat meningkatkan hasil belajar siswa di kelas IV SD Negeri Salatiga 12 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Semester 2 Tahun Ajaran 2011/2012. Setelah diadakan penelitian hipotesis penelitian ini terbukti bahwa terjadi peningkatan terhadap hasil belajar IPA.

Referensi

Dokumen terkait

Pada pertemuan pertama siklus 1 ini proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru sudah berjalan cukup baik, yang dimulai dari persiapan pembelajaran, apersepsi

Berdasarkan hasil observasi keaktifan belajar siswa siklus II pertemuan 1 yang dilakukan oleh observer pada siswa kelas VB mata pelajaran IPA saat proses

Gambar 4.5 Diagram Hasil Keterampilan Proses Sains Siswa Siklus II Pelaksanaan siklus II yang dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan, dalam gambar 6 terlihat bahwa pertemuan 1

Dari hasil siklus I pada lembar observasi terhadap siswa pertemuan I menunjukkan hasil yang belum mencapai indikator kinerja, yakni masih terdapat skor 1 sebanyak

Hasil observasi kegiatan guru pada siklus I pertemuan I dalam menerapkan Penerapan Problem Solving pada mata pelajaran IPA kelas IV SD Negeri Kutowinangun 10

untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran. Guru mengucapkan salam penutup √.. Dari tabel 4.5 mengenai data hasil pengamatan aktivitas guru siklus II, observasi guru

Pada pelaksanaan siklus II pertemuan II ini, peneliti dibantu oleh Observer (guru olah raga kelas II-V) untuk mengamati jalannya kegiatan pembelajaran dengan

1) Hasil observasi siklus I pertemuan pertama adalah aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran model Make A Match dengan media gambar menunjukkan bahwa: