DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
LA PO RAN
KOMISI II DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
DALAMRANGKA PEMBICARAAN TINGKAT IV /PENGAMBILAN KEPUTUSAN ATAS 12 (DUA BELAS) R.ANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PEMBENTUKAN
KOTA DI DELAPAN PROVINSI
PADA RAPAT PARIPURNA DPR-RI TANGGAL, 28 ME.I 2001
Assalammualaikum Wr~ Wb;
Salan1 Sejahtera bagi kita semua;
Yang terhormat Saudara Pimpinan Rapat dan Para Anggota Dewan;
Yang. terhormat Saudara Menteri Dalam Negeri dan Otonon1i Daerah selaku Wakil Pemerint.ah; dan
Hadirin yang kami hortrnati;
Pertama-tama t.nariiah kita memanjatkan puji dan syukur kehadhirat Allah SWT, karena hanya atas perkenannya kita dapat menghadiri Rapat Paripurna dalam rangka Pembicaraan Tingkat IV /Pengambilan Keputusan terhadap Rancangan Undang-Undang tentang P(!mbentukan Kota Langsa, Lhokseumawe, Padang Sidempuan, Tanjung Pinang, Prabumulih, Lubuk Linggau, Pagar Alam, Cimahi, Tasikn1alaya, Batu, Singkawang, dan Bau-Bau, Insya Allah akan disetujui untuk disahkan menjadi undang-undang.
Pimpinan dan peserta rapat yang kami hormati;
· Melalui Amanat Presiden Nomor : R.OS/PU/III/2001 tanggal 28
I
Maret 2001 kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Pemerintah telah menyampaikan Dua Belas Rancangan Undang-Undang tenta'ng:
1. Pembentukan Kota Lhokseumawe;
2. Pembentukan Kota Langsa;
3. Pembentukan Kota' Padang Sidempuan;
c:keya/T~ IV 12 RUU · 1
4. ~embentukan Kota Tanjung Pinang;
s.
~~mbentukan Kota Prabumulih;6. Pembentukan Kota Lubuk Linggau;
7. Pembentukan Kota Pagar Alam;
8. Perrabentukan Kota Cimahi;
9. Pembentukan Kota Tasikmalaya;
10. Pembentukan Kota Batu;
11. Pembentukan Kota Singkawang; dan 12. Pembentukan Kota Bau-Bau.
I Sebagai tindak lanjut dari masuknya 12 RUU dari Pemerintah ke DPRJRI, maka pada Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2000 - 2001,
' ;,
tepatnya tanggal 28 Maret 2001 yang lalu, Badan Musyawarah DPR-RI antara lain telah memutuskan bahwa Pembicaraan T'ingkat 1/Keterangan Pemerintah atas 12 RUU tersebut dalam Rapat Paripurna Dewan dilakukan tanggal 3 Mei 2001. Pemerintah yarjg diwakili oleh Saudara Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah telah menyampaikan Penjelasan PemerinttJh atas Rancangan Undang-Undang tentang Pembentukan 12 Kota tersebut.
Kemudian pada tanggc!ll 25 April 2001, Badan Musyawarah DPR-RI dalam rapat-rapatnya antatra lain memutuskan penanganan keduabelas RUU
I
tersebut dilaksanakan dengan prosedur singkat/Short-Cut (tanpa melalui
I '
Pembicaraan Tingkat II), dan pembahasannya diserahkan kepada Komisi II DPR-RI. Menge111ai jadual rapat-rapat pembahasan sepenuhnya
diser~hkan kepada Komisi II, dan pembahasannya dimulai tanggal 4 Mei
I
2001.
: Memperhatikan : dan melaksanakan penugasan dari Badan Musyawarah DPR-RI,. secara singkat kami akan melaporkan jalannya i
Pembicaraan Tingkat III atas I 12 RUU Pembentukan Kota tersebut, adalah sebagai berikut :
f!
c:keya/TK IV 12 RUU 2
'
A. Kegiatan dan Mekanisme Pembahasan.
1. Tanggal 4 - 11 Mei 2001, Para Ang~ota Komisi II mempelajari Materi 12 RUU dan Keterangan Pemerintah, dan menyusun serta mengkompilasi ·Daftar Inventarisasi Masalah (DIM), Selanjutnya pada tanggai14'Mei 2001 DIM disahkan dalarn Rapat Intern Komisi II DPR-RI, untuk dijadikan bahan acuan utama Pembahasan RUU- RUU.
2. Tanggal 14 Mei sampai dengan 16 Mei 2001, Komisi II mengadakan Rapat Dengar Pendapat dengan Pimpinan DPRD dao Gubernur dari 8 propinsi yaitlll Daerah Istimewa Aceh, Sumatera Utara ,Riau ,Sumatera Se~atan, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat dan Sulawesi Tenggara beserta para Pimpinan DPRD TK II dan Bupati dari 12 Kota , tersebut. RDP tersebut dimaksudkan untuk menghimpun m•Jsukan guna kelengkapan bahan Pembahasan. ·12 RUU tentang Pembentukan Kota untuk disernpurnakan.
3. Rapat Dengar iPendapa·t juga diadakan dengan Sekjen/Dirjen Otonomi Daerah Departemen Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, Sekjen Departemen Kehakiman dan HAM, Jaksa Agung Muda Bidang Pembinaan, dan ASRENA POLRI. RDP ini dimaksudkan untuk mengkonfirmasil.<an tentang rencana pembentukan 12 Kota tersebut, sehingga Instansi-Instansi terkait dimaksud dapat
· mempersiapkan diri dalam rangka penyediaan sarana dan prasarana pelayanan kemasyarakatan setempat.
4. Untuk membahas 12 materi RUU tentang Pembentukan Kota, Komisi II telah •nelaksanakan Rapat-Rapat Kerja dengan Saudara Menteri Dalana 1\legeri dan Otonomi Daerah. Untuk mendalami dan menyelesaikan blerbagai materi dan merumuskan Draft RUU, Komisi II membentuk Panitia Kerja (PANJA) yang terdiri dari 32 orang Anggota dari s~mua unsur Fraksi (termasuk Pimpinan Komisi), selain dari pilda itu, untuk mempercepat dan mengintensifkan pembahasan (t~npa mengurangi kualitas pembahasan), PANJA membentuk Tiga1 Tim Kecil, masing-masing Tim Keen di pimpin oleh salah seorang Pimpinan Komisi II. Hasil pelnbahasan, pengkajian
c:keya!TK IV 12 RUU
dan perumusan Tim Kecil, selanjutnya dilaporkan. kepada PANJA guna disinkronisasikan dan dipaduka1_1. Guna meneliti gramatikal dan tata cara penulisan, PANJA menugaskan 3 orang Anggota PANJA dengan dibantu oleh Wakil Pemerintah dan Ahli Bahasa.
--·
5. Selama pembahasan 12 RUU tersebut berlangsung, Komisi II juga menerima masokan-masukan penyempurnaan terhadap materi RUU, antara lain dari Pemerintah Daerah, Pimpinan DPRD Propinsi/kabupaten, Perguruan Tinggi, Lembaga/Organisasi masyarakat. Ma~ukan-masukan tersebut disampaikan melalui surat dan juga
kedata~gan
Delegasi dari daerah-daerah dimaksud.6. Mekanisme Pe~bahasan seperti pembahasan RUU-RUU lainnya yang telah diba1has di Komisi II. Pembahasan 12 RUU tentang Pembentukan Kdta ini, dibahas melalui :
a. Rapat-Rapat kerja, membahas secara umum dan menyeluruh atas Materi :r~2 RUU; dan digunakan pula untuk mengambil keputusan.
b. Rapat-Rapat Panitia Kerja, membahas materi RUU yang ditugaskan oleh Rapat Kerja, dan membahas materi-materi yang khusus, sesuai dengan keadaan dan kondisi masing-masing wilayah;
c. Rapat-Rapat Tim Kecil, membahas dan mengkaji secara mendalam terhadap materi-materi yang sangat krusial;
d. Rapat-Rapat tim Perumus, merumuskan dan n1eneliti gramatika dan tata cara penulisan 12 RUU tentang Pembentukan Kota.
e. Pembahasan Jclilakukan satu persatu, setelah ditetapkan salah satu RUU sebaigai acuan '
Diskusi dan lobby-lobby antar Anggota Komisi II dan Pemerintah, khususnya untuk menyatupadukan materi dan substansi yang berbed.a. Sekalipun di sana sini terdapat perdebatan yang sengit, namun semangat berrnusyawarah untuk mufakat, tetap menonjol
I
dalam pembahasan RUU tersebut, sehingga waktu pembahasan dapat dicapai.
c:keya/TK IV 12 RUU 4
B. Materi RUU-RUU Yang Menonjol.
I
Dalam pembahasan RUU-RUU tentang. Pembentukan Kota yang dilakukan secara intensif dan mendalam, telah ditemukan masalah-
masa~ah yang berkembang dan penyelesaiannya diperlukan pendekatan secara terbuka dan demokratis dengan suasana kekeluargaan bahkan sering dilakukan lobby-lobby. Materi RUU-RUU yang menonjol selama pembahasan dapat dilaporkan antara lain sebagai berikut :
1. Konsiderans "M~nimbang" RUU yang terdir'i dari 5 butir, setelah dibahas terdapat dua butir yang harus diintegrasikan substansinya, sehiogga setelah disempurnakan dan disederhana.kan disepakati menj1adi 3 butir. I
2. RUU tentang Pembentukan Kota Lhokseumawe, perdebatan yang memakan waktu dalam pembahasan adalah mengenai masa pemberlakuan RUU setelah disahkan menjadi Undang-Undang. Yang menjadi argumen perdebatan, antara lain adalah terkait dengan masalah situasi politik dan keamanan di Kabupaten Aceh Utara.
· Untuk mengako~modir argumentasi yang berkembang, setelah melalui lobby, akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa RUU tentang Pembentukan Kota Lhokseumawe tetap disahkan, namun masa pemberlakuannya ditangguhkan dan disesuaikan dengan situasi dan
i kondisi politik dan keamanan di Kota Lhokseumawe. Penundaan
· masa
berlakun~a
dirumuskan dalam Pasal 19 yang berbunyi1 "Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan dan , berlaku efektif
~aling
lambat 1 (satu) tahun melalui Peraturan~ Pemerintah".
. I
3.· RUU tentang Pembentukan Kota Tasikmalaya, wilayah Kota
I
· Administratifnya: pada awalnya hanya terdiri atas 3 Kecamatan, : namun dalam RUU dicantumkan 8 Kecamatan, sehingga ada
penambahan wilayah sebanyak 5 Kecamatan. '
Penambahan 5 l<ecamatan baru inilah yang menjadn perdebatan, dengan argumen.tasi bahwa RUU teritang Pembentukan Kota pada hakekatnya adalah hanya peningkatan status dari Kota
c:keya/TK IV 12 RUU 5
h l
Administratif rnenjadi Kota, sehingga tidak benar kalau menambah wilayah 5 Kecamatan baru. Penamba~an wilayah baru ini disebut Pemekaran bukan Peningkatan Status.
Setelah mendapat penjelasan dari Pemerintah bahwa lahirnya RUU ini sudah melalui proses pembicaraan dalam Rapat Paripurna DPRD dan persetujuan dari Bupati , dan melalui forum lobby dapat --- disepakati wilayah Kota Tasikmalaya terdiri dari 8 Kecamatan
dengan catatan :·
"Bahwa Kota Administratif Tasikmalaya ditingkatkan statusnya menjadi Kota Tasikmalaya dengan penambahan wilayah kecamatan dan penyerahan ~set harus ada koordinasi yang baik, sehingga tidak mematikan Kabupaten Induk."
4. Pasal 10 Ayat (1) RUU tentang Pembentukan Kota Singkawang yang berbunyi "Dengan terbentuknya Kota Slngkawang, juonlah Anggota DPRD Kabupaten Bengkayang tidak berubah sampai dengan terbentuknya DPRD sebagai hasil Pemilihan Umum berikutnya", pembahasannya ' berlangsung sangat intensif dan perdebatannya berkaitan dengcan masalah penggantian kata "tidak berubah ..
dengan kalimat 11disesuaikan dengan kondisi serta ketentuan yang berlaku ", usufan ini datang dari Bupati Bengkayang. Yang menjadi argumentasi dalam pembahasan, antara lain Kabupaten Bengkayang masih baru dan setelah Koti·f Singkawang menjadi Kota, maka sebagian besar penduduk Kabupaten ·Bengkayang akan menjadi penduduk Singkawang. Hal ini mempengaruhi PAD Kabupaten Bengkayang, sehingga apabila Anggota DPRD Kabupaten Bengkayang jumlahnya tetap, sementara jumlah penduduk dan PAD i
berkurang, mak,a1 akan memberatkan Kabupaten Bcngkayang. Untuk menghindari masalah itu maka Keanggotaan DPRD Kabupaten Bengkayang disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.
Setelah dilakukan pendekatan secara terbuka dengan suasana
I
kekeluargaan dalam forum lobby, sehingga dapat diambil kesepakatan ba~wa Pasal 10 Ayat (1) tetap seperti rumusan tersebut diatas.
c:keya/TK IV 12 RUU 6
Dengan catatan :
·Apabila dalam pelaksanaan di daerah-daerah khususnya Kabupaten Bengkayang timbul masalah tentang Keanggotaan DPRD Kabupaten lnduk sebagai akibat peningkatan status Kotif menjadi Kota dapat dikatakan lain jika Pemerintah Daerah, DPRD dan Partai-Partai Politik yang me~iliki kursi di DPRD bersepgkat dan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah menyetujuinya.
5. Bab IV Pemerintah Daerah terdiri dari Pasal 9, 10 dan 11 setiap RUU . dari 12 RUU, setelah dibahas PANJA secara mendalam dengan diskusi yang · alot akhirnya dapat disepakati dengan penyempurnaan, ' muatan Bab IV meliputi 3 Bagian dan 5 Pasal, yaitu:
• Bagian Pert:ama mengatur tentang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah terdiri dari dua Pasal, Pasal 9 dan Pasal 10.
; • Bagian Kedua mengatur tentang Pemerintah Daerah terdiri dari dua Pasal, Pasal 11 dan Pasal 12.
• Bagian Ketiga mengatur tentang Perangkat Pemerintah Daerah hanya satu Pasal, Pasal 13.
6. Pasal 9 ayat (2) huruf a RUU tentang Pembentukan Kota Lhokseumawe Rumusannya dise1npurnakan men,jadi "Penetapan berdasarkan perimbangan hasil perolehan suara Partai Politik . peserta PemiUhan Umum Tahun 1999 yang dilaksanakan di Propinsi Daerah lstirnE!wa Aceh". Rumusan tersebut mendasarkan pad a
· Pemilihan Umum Tahun 1999 di Kabupaten Aceh Utara tidak dapat dilaksanakan.
Yth. Saudara Pimpinan Rapat;
Yth. Para Anggota DIPR~RI;
Yth. Saudara Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dan Para hadirin yang kami· hormati •
. Sesuai dengan usul Komisi II kepada Badan Musyawarah, maka Pembicaraan 1·ingkat IV /Pengambilan Keputusan terhadap ke 12 RUU
c:keya/TK IV 12 RUU 7
Dengan catatan :
Apabila dalam pelaksanaan di daerah-daerah tirnbul masalah tentang Keanggotaan DPRD Kabupaten Induk sebagai akibat peningkatan status Kotif menjadi Kota akan diselesaikan oleh Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah bersama-sama Partai Politik yang terk~it dan dilaporkan dalam Rapat Paripurna DPRD.
s.
Bab IV Pemerintah Daerah terdiri dari Pasal 9, 10 dan 11 setiap RUU dari 12 RUU, setelah dibahas PANJA secara mendalam dengan ' diskusl yang ! alot akhirnya dapat disepakati dengan penyempurnaan, muatan Bab IV meliputi 3 Bagian dan 5 Pasal, yaitu:• Bagian Perfl:ama mengatur tentang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah terdiril dari dua Pasal, Pasal 9 dan Pasal 10.
o Bagian Kedua' mengatur tentang Pemerintah Daerah terdiri dari dua Pasal, Pasal11 dan Pasal 12.
• Bagian Ketiga mengatur tentang Perangkat Pemerintah Daerah hanya satu Pasal, Pasal13.
6. Pasal 9 ayat (2) huruf a RUU tentang Pembentukan Kota Lhokseumawe Rumusannya disempurnakan menjadi "Penetapan berdasarkan perimbangan hasil perolehan suara Partai Politik peserta Pemilihan Umum Tahun 1999 yang dilaksanakan di Propinsi
· Daerah lstimewa Aceh". Rumusan tersebut mendasarkan pad a Pemilihan Umum Tahun 1999 di Kabupaten Aceh Utara tidak dapat dilaksanakan.
i
Yth. Saudara Pimpinan ·Rapat;
·,
Yth. Para Anggota DPR.:.RI;
Yth. Saudara Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dan Para hadirin yang kami 'hormati •
. Sesuai dengan usul· Komisi II kepada Badan Musyawarah, 1naka Pembicaraan Tingkat IV/Pengambllan Keputusan terhadap ke 12 RUU
c:keya!TK JV 12 RUU 7
tersebut telah siap untuk diambil keputusan dalam Rapat Paripurna Dewan hari ini, tanggal 28 Mei 2001.
Draf Final 12 RUU tentang Pembentukan Kota di Delapan Provinsi tersebut telah dibaca dihadapan para Anggota Komisi II dan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, pada waktu Rapat Kerja yang dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2001 (malam hari). Dan naskah Draf Final keduabelas RUU tersebut juga telah disampaikan kepada para Anggota Dewan yang Terhormat.
Oleh karena itu melalui forum yang terhormat ini, kami mohon kiranya Rapat Paripurna hari ini dapat menyetujui RUU--RUU tentang Pembentukan Kota ; Lhokseumawe, Langsa, Padang Sidempuan, Tanjung Pinang, Prabumulih, Lubuk Linggau, Pagar Alam, Cimahi, Tasikmalaya, Batu, Singkawang, dan Bau Bau menjadi Undang-undang.
Pada kesempatan ini, kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Saudara Pimpinan dan para Anggota Dewan yang telah memberikan kepercayaan kepada Komisi II untuk menyelesaikan 12 RUU dari 16 RUU yang menjadi tugas Komisi II.
Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Saudara Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dan staf, atas kerjasamanya selama pembahasan RUU-RUU tersebut; begitu pula ucapan terima kasih kami sampaikan kepada para Gubernur, Pimpinan DPRD Provinsi dan Kabupaten, dan para Bupati dari wilayah-wilayah provinsi : Daerah Otonom Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Jawa Barat, lawa Timur, Kalimantan Barat dan Sulawesi Tenggara.
Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada warga masyarakat dari keduabelas wilayah kota tersebut, atas masukan, dukungan dan perhatiannya selama pembahasan RUU-RUU berlangsung.
Kepada warga masyarakat yang kota administratifnya-nya telah
c:keya/TK IV 12 RUU 8
meningkat statusnya menjadi "Kota" kami ucapkan selamat dan sukses selalu dalam membangun kesejahteraan rakyat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kepada rekan-rekan wartawan media cetak dan elektronik, kami ucapkan terima kasih atas kerjasamanya menyebarluaskan proses Pembicaraan Tingkat I, Tingkat III dan Tingkat IV terhadap 12 RUU tentang Pembentukan Kota dimaksud, serta kepada Sekretariat Jenderal DPR-RI kami ucapkan terima kasih atas dukungan yang diberika dalam proses pembahasan RUU-RUU ini.
Saudara Pimpinan Dewan;
Saudara Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah;
Saudara Para Anggota Dewan;
Hadirin sekalian yang kami hormati.
Dengan telah selesainya Pembicaraan Tingkat III/Pembahasan 12 RUU tentang Pembentukan Kota-kota : Lhokseumawe, Langsa, Padang Sidempuan, Tanjung Pinang, Prabumulih, Lubuk Linggau, Pagar Alam, Cimahi, Tasikmalaya, Batu dan Bau-Bau, maka selesai pulalah tugas Komisi II membahas 12 RUU tersebut.
Selanjutnya kami serahkan kepada Sidang Paripurna hari ini untuk diambil keputusan.
Sekian, terima kasih.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
c:keya/TK IV 12 RUU
Jakarta, 28 Mei 2001 PIMPINAN KOMISI II DP-RRI
KETUA,
H. AMIN ARYOSO, SH A-157
9