• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL PRAKTIKUM PARASITOLOGI I PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MODUL PRAKTIKUM PARASITOLOGI I PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

MODUL

PRAKTIKUM PARASITOLOGI I

PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS

INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA

LUBUK PAKAM

(2)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM VISI dan MISI

INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

Visi

Menjadi Institut yang unggul dan profesional dalam bidang kesehatan di tingkat Nasional dan Asia tahun 2028.

Misi

1. Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang unggul, berkarakter, dan kompeten yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan globalisasi;

2. Menyelenggarakan penelitian yang inovatif, produktif dan responsif terhadap ilmu pengetahuan, teknologi dan kebutuhan masyarakat;

3. Menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berlandaskan nilai dan tanggung jawab sosial; dan

4. Menjalin kerjasama yang baik dengan stakeholder mulai dari pemerintah, dunia usaha dan masyarakat sebagai pengguna lulusan.

(3)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM VISI dan MISI

FAKULTAS FARMASI

Visi

Menghasilkan lulusan yang unggul dan professional dalam mutu pendidikan di bidang Farmasi Klinis dan Komunitas serta Mikrobiologi Molekuler Klinis yang Mampu Bersaing di tingkat Nasional dan Asia Tahun 2022.

Misi

1) Menyelenggarakan proses belajar mengajar yang kondusif dengan sistem yang mendukung pada FF sehingga pembelajaran tersebut menghasilkan prodi yang dapat menghasilkan alumni berkarakter unggul, kompeten, dan excellent service;

2) Menyelenggarakan proses praktik laboratorium yang kondusif dan handal di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat;

3) Mengoptimalkan dan mengimplementasikan penelitian bidang Farmasi Klinis dan Komunitas dan Mikrobiologi Molekuler Klinis dengan menggunakan pendekatan riset dalam bidang Farmasi dan Teknologi Laboratorium Medik;

4) Mengimplementasikan program pengabdian kepada masyarakat berbasis riset untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di bidang Farmasi dan Teknologi Laboratorium Medik;

dan

5) Mengembangkan kerjasama dengan institusi pendidikan, pelayanan, organisasi, dan stakeholders baik dalam maupun luar negeri.

(4)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM VISI dan MISI

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK

Visi

Menjadi program studi yang unggul dan professional dalam bidang Mikrobiologi Molekuler Klinis Tahun 2022

Misi

1. Menyelenggarakan pendidikan Teknologi Laboratorium Medik yang unggul dan excelent service dalam bidang Mikrobiologi Molekuler Klinis;

2. Menyelenggarakan proses praktik laboratorium yang kondusif diberbagai fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat;

3. Mengoptimalkan dan mengimplementasikan penelitian di bidang Mikrobiologi Molekuler Klinis dengan menggunakan pendekatan riset dalam bidang Teknologi Laboratorium Medik;

4. Mengimplementasikan program pengabdian kepada masyarakat berbasis riset untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di bidang Mikrobiologi Molekuler Klinis; dan

5. Mengembangkan kerjasama dengan institusi pendidikan, pelayanan, organisasi, dan stakeholders baik dalam maupun luar negeri.

(5)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM SK MODUL

(6)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER

(7)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya. Petunjuk praktikum parasitologi 1 ini dapat diseleseikan sebagai panduan dalam pelaksanaan mata kuliah praktikum hematologi di lingkungan Progra Studi DIV Teknologi Laboratorium Medik.

Ungkapan terima kasih yang mendalam kami sampaikan kepada pihak yang telah membantu memberikan gagasan dan saran dalam penyusunan praktikum ini. Dengan disusunnya modul ini diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk memahami mata kuliah praktek parasitologi 1 sebagaimana yang diharapkan oleh kurikulum kesehatan dan tuntutan kebutuhan pelayanan kesehatan.

Akhirnya diharapkan diktat ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh mahasiswa pada khususnya, dan pada peserta didik di lingkungan Prodi DIV Teknologi Laboratorium Medik pada umumnya. Untuk penyempurnaan penyusunan berikutnya kami sangat mengharapkan kritik dan saran membangun dari berbagai pihak yang berkompeten dalam bidang ini.

Lubuk Pakam, November 2021

Penyusun

(8)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

(9)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM DAFTAR ISI

VISI dan MISI INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM ... 1

VISI dan MISI FAKULTAS FARMASI ... 2

VISI dan MISI PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK ... 3

SK MODUL ... 4

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER ... 5

KATA PENGANTAR ... 6

DAFTAR ISI ... 7

TATA TERTIB PRAKTIKUM BIOLOGI MEDIK II ... 8

PETUNJUK KERJA DI LABORATORIUM ... 9

BAB I Pemeriksaan Parasitologi Yang Ada Di Tubuh ... 13

BAB II Menganalisa Istilah-Istilah Parasitologi ... 14

BAB III Mengidentifikasi Macam Macam Parasit ... 19

BAB IV Mengidentifikasi Cara Penularan ... 21

BAB V Mengamati Siklus Hidup Parasit dan Mengidentifikasi Diagnosa Laboratorium ... 25

BAB VI Mengamati Spesimen Pemeriksaan Parasitologis ... 27

BAB VII Mengetahui Jenis Jenis Helmintes ... 31

BAB VIII Mengidentifikasi Nematoda Usus ... 32

BAB IX Mengidentifikasi Nematoda Jaringan ... 34

DAFTAR PUSTAKA ... 35

(10)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM TATA TERTIB PRAKTIKUM PARASITOLOGI 1

1. Para praktikan harus sudah siap di depan ruang praktikum lima menit sebelum waktu praktikum dimulai.

2. Di dalam laboratorium, Praktikan diharuskan memakai APD (Alat Pelindung Diri) 3. Sebelum mulai praktikum alat- alat diperiksa terlebih dahulu, bila ada yang pecah atau

kurang harus dilaporkan.

4. Apabila ada alat yang dipecahkan harus dilaporkan pada instruktur dan harus diganti.

5. Setelah selesai bekerja alat – alat harus dalam keadaan bersih dan dikembalikan ketempat semula.

6. Setelah selesai bekerja harus membuat laporan dalam buku ini dan ditunjukkan pada instruktur yang bertugas.

7. Selama kegiatan praktikum tidak boleh makan, minum atau merokok didalam laboratorium.

8. Praktikan hanya diperbolehkan menggunakan laboratorium pada waktu ada jadwal.

9. Bila mahasiswa tidak mengikuti praktikum tanpa alasan yang SAH < 100% tidak boleh mengikuti ujian praktikum dan dianggap tidak mempunyai nilai ujian tersebut.

(11)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM PETUNJUK KERJA DI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

A. Persiapan

1. Mahasiswa memakai APD (alat pelindung diri) seperti: sepatu, jas laboratorium, handscoon, masker.

2. Persiapan alat praktikum disiapkan 1 hari sebelumnya.

3. Reagen yang diperlukan dalam praktikum sudah dipersiapkan sebelumnya.

4. Mahasiswa harus membawa sampel yang dibutuhkan pada waktu praktikum, sesuai petunjuk instruktur.

B. Selama Praktikum

1. Selama mengerjakan praktikum mahasiswa bekerja tenang, hati – hati, tanggap, teliti, akurat, dan dapat bekerja sama dengan temannya.

2. Mendengarkan instruksi yang diberikan oleh instruktur laboratorium.

3. Mengerjakan praktikum sesuai dengan prosedur petunjuk praktikum.

4. Bertanggung jawab atas hasil praktikum yang sudah dikerjakan.

C. Selesai Praktikum

1. Membersihkan peralatan praktik dan meja yang dipakai selama praktikum dengan desinfektan.

2. Mengumpulkan laporan praktikum kepada instruktur laboratorium.

3. Setelah kegiatan selesai, mahasiswa melakukan berdoa bersama agar apa yang dikerjakan bermanfaat minimal untuk diri sendiri dan bermanfaat untuk umat

(12)

13

Parasitologi 1

BAB I

PEMERIKSAAN FESES LENGKAP (FL)

1.1 Pendahuluan

Pemeriksaan feses lengkap ada dua cara, yaitu : 1. Direct (langsung) : feses lengkap

a. Makroskopis : Identitas (nama, umur, jenis kelamin), warna (kuning, hijau), bau (menyengat atau khas), konsistensi (cair, lembek,padat), berlendir, darah.

b. Mikroskopis : Untuk bentuk-bentuk normal : Serat tumbuhan, serat otot, amilum, lemak, sedangkan untuk bentuk-bentuk tidak normal, telur, larva, eritrosit dan leukosit

- Untuk contoh bentuk parasit yang lain : Entamoeba coli, Entamoeba histolitica.

2. Indirect (tidak langsung)

a. Flotasi : pengapungan NaCl jenuh dan ZnSO4 33%.

b. Sedimentasi

c. Harada mori : perkembangbiakan larva d. Stoll : menghitung jumlah telur 1.2 Tujuan

Untuk memeriksa feses secara lengkap dan mengetahui bentuk atau morfologi (normal atau tidak normal) yang ada didalam feses.

1.3 Alat :

a. Obyek gelas b. Cover glass c. Lidi

d. Mikroskop binokuler atau monokuler 1.4 Bahan :

a. Feses normal atau feses patogen b. Larutan NaCl 0,85% atau Pz c. Eosin 2% d. Lugol 2%

1.5 Prosedur :

a. Disiapkan obyek glass dan cover glass yang bersih dan bebas lemak.

b. Diambil sedikit feses dengan menggunakan lidi lalu diletakkan diatas obyek glass.

c. Diambil sedikit larutan NaCl 0,85% kemudian diaduk rata sampai homogen (tidak boleh ada gelembung), demikian juga untuk eosin 2% dan lugol 2%.

d. Ditutup dengan cover glass.

e. Diperiksa dibawah mikroskop pembesaran lensa obyektif 10x atau 40x.

(13)

14

Parasitologi 1

Bab 2

Istilah-Istilah Dalam Parasitologi

Ada beberapa macam istilah dalam Parasitologi yang perlu diketahui mengenai agen parasit dan sifat hospesnya (Suarsini dan Rahayu, 2014).

1. Pengelompokan parasit berdasarkan beberapa faktor pembeda.

a. Menurut tempat hidupnya

Gambar 1. Pediculus humanus var capitis (kutu manusia) (sumber: www.medical-labs.net)

Berdasarkan tempat hidup parasit dibedakan sebagai Ektoparasit dan Endoparasit. Ektoparasit, hidup pada sebelah luar atau permukaan tubuh hospes (infestasi), contohnya: berbagai kutu anjing, kutu manusia (Gambar 1), kutu kucing, dsb. Sedangkan endoparasit, hidup di dalam organ tubuh hospes, contohnya: Cacing gelang hidup dalam pencernaan manusia, cacing Trichinella spiralis (Gambar 2) hidup dalam otot hewan dan manusia, mikrofilaria dari cacing Wuchereria bancrofti (Gambar 3) hidup dalam jaringan darah manusia.

Gambar 2. Trichinella spiralis dalam jaringan otot (sumber: www.photomacrography.net)

(14)

15

Parasitologi 1

Gambar 3. Wuchereria bancrofti (sumber: www.photomacrography.net) b. Menurut keperluan terhadap hospes

Parasit dibagi menjadi parasit obligat dan parasit fakultatif. Parasit obligat, tidak dapat hidup tanpa hospes, contohnya: Cacing perut (Ascaris lumbricoides) (Gambar 4) akan mati bila dikeluarkan dari hospes. Parasit fakultatif, bila parasit Trichinella spiralis itu dapat hidup bebas dan dapat hidup sebagai parasit, contohnya: Musca domestica (Gambar 5) walaupun tanpa hospes dapat hidup di luar hospesnya.

Gambar 4. Cacing perut (Ascaris lumbricoides) (sumber: www.wordpress.com)

Gambar 5. Musca domestica (sumber: www.wikipedia.org)

(15)

16

Parasitologi 1

c. Menurut lamanya menetap pada hospes

Parasit dibedakan menjadi parasit permanen dan parasit temporer. Parasit permanen, hidup pada permukaan atau di dalam tubuh hospes sejak permulaan sampai dewasa, kadang-kadang selama hidupnya. Contohnya: Cacing Ascaris lumbricoides (Gambar 4) menetap dalam usus manusia selama hidupnya. Parasit temporer, hidup bebas sebagian dari masa hidupnya dan sewaktu-waktu mencari hospes untuk mendapat makanan. Contohnya: Pinjal (Gambar 6) hanya sewaktu-waktu menghinggapi hospes untuk mendapat makanan

Gambar 6. Pinjal (Ctenocephalides canis)

(sumber: www.wikipedia.org) d. Menurut jumlah spesies hospes yang dihinggapi

Parasit dibagi menjadi parasit monoksen dan parasit poliksen. Parasit monoksen, hanya menghinggapi satu spesies hospes. Contohnya : Oxyuris vermicularis (Gambar 7) hanya dapat hidup pada manusia. Parasit poliksen, dapat menghinggapi beberapa jenis hospes. Contohnya : Trichinella spirallis (Gambar 2) dapat hidup pada otot babi, tikus, kucing, anjing, beruang hitam, dan juga dalam otot manusia.

Gambar 7. Oxyuris vermicularis (sumber: www.wikipedia.org)

2. Pengelompokkan hospes berdasarkan sifat parasit yang menginvasi.

Beberapa parasit dalam siklus hidupnya mengalami perubahan bentuk atau metamorfosis dari stadium telur, larva, kista atau pupa, dan dewasa sedang masing –masing stadium biasanya hidup pada

spesies hospes yang berbeda. Beberapa istilah mengenai

hospes adalah sebagai berikut:

a. Hospes Definitif atau Hospes Akhir

(16)

17

Parasitologi 1

Hospes definitif adalah hospes yang merupakan tempat hidup parasit pada stadium dewasa dan berkembangbiak secara seksual. Contohnya: Nyamuk Anopheles betina (Gambar 8) merupakan hospes definitif bagi Plasmodium (parasit malaria) (Gambar 9).

Gambar 8. Nyamuk Anopheles betina (sumber: www.medkes.com)

Gambar 9. Plasmodium malariae dalam darah (sumber: www.medkes.com)

b. Hospes Perantara

Hospes perantara adalah hospes tempat parasit tumbuh menjadi bentuk infektif yang siap ditularkan kepada manusia. Contohnya : Keong air tawar Bellamya spp. (Gambar 10) merupakan hospes perantara bagi cacing Echinostoma spp. (Gambar 11) sebab dalam tubuh keong dapat mengandung stadium metaserkaria cacing tersebut.

Gambar 10. Bellamya sp.

(sumber: www.yhshells.com)

(17)

18

Parasitologi 1

Gambar 11. Echinostoma spp.

(sumber: www.photomacrography.net) c. Hospes Resevoar

Hospes reservoar adalah hewan yang mengandung parasit yang sama dengan spesies parasit yang terdapat pada manusia sehingga merupakan sumber infeksi bagi manusia. Contohnya: Babi merupakan hospes reservoar bagi Balantidium coli (Gambar 12), sehingga babi merupakan sumber infeksi balatidiasis coli bagi manusia.

Gambar 12. Balantidium coli (sumber: www.slidesharecdn.com) d. Hospes paratenik

Hospes paratenik ialah hewan yang mengandung stadium inefektif bagi parasit tanpa menjadi dewasa pada hospes definitif. Contohnya: cacing tanah merupakan hospes paratenik bagi Syngamus trachealis (Gambar 13).

Gambar 13. Syngamus trachealis (sumber: www.poultrykeeper.com)

(18)

19

Parasitologi 1

Bab 3

Mengidentifikasi Macam Macam Parasit 3.1 Pendahuluan

Protozoa adalah organisme satu sel atau hewan bersel satu yang hidup sendiri atau dalam bentuk koloni. (Proto (1) = pertama; zoon = hewan). Tiap protozoa merupakan kesatuan lengkap yang sanggup melakukan semua fungsi kehidupan yang pada jasad lebih besar dilakukan oleh sel-sel khusus. Sebagian besar protozoa hidup bebas dialam, tetapi beberapa jenis hidup sebagai parasit pada manusia dan binatang. Pembagian dalam kelas PROTOZOOLOGI berdasarkan alat gerak antara lain : 1. Rizopoda atau Amoeba : contoh E-histolitika, E-coli

2. Ciliophora atau Ciliata : contoh Balantidium coli

3. Mastigopora atau Flagelata : contoh Giardia lamblia, Genus Tricomonas contoh Tricomonas vaginalis .

4. Sporozoa : contoh Genus Plasmodium (Plasmodium malariae, Plasmodium falsifarum, Plasmodium vivax, Plasmodiumovale) dan Toxooplasma gondii

3.2 Tujuan

Untuk mengetahui atau melihat bentuk atau morfologi dari preparat awetan yaitu Entamoeba colli, Entamoeba histolitica, Toxoplasma gondii, Giardia lamblia dan lain-lain.

3.3 Alat

1. Mikroskop Monokuler 2. Mikroskop Binokuler 3.4 Bahan

1. Minyak imersi

2. Preparat Awetan dari golongan Protozoa (Entamoeba colli, Entamoeba histolitica, Balantidium colli, Toxoplasma gondii (dll)

3.5 Prosedur

1. Diambil salah satu preparat awetan dari golongan protozoa.

2. Diletakkan salah satu preparat awetan diatas meja mikroskop monokuler atau mikroskop binokuler.

3. Ditetesi minyak imersi.

4. Dilihat dengan pembesaran lensa obyektif 100 x dengan menggunakan minyak imersi.

5. Diamati dan digambar setiap bentuk preparat yang telah dilihat.

3.6 Hasil Pengamatan Contoh :

1. Gambar Giardia lamblia…..

Ciri – ciri…..

Keterangan gambar…..

2. Gambar Entamoeba histolitica...

(19)

20

Parasitologi 1

Ciri – ciri…..

Keterangan gamba…..

3. Dan seterusnya

3.7 Kesimpulan ….

(20)

21

Parasitologi 1

Bab 4

Mengidentifikasi Cara Penularan

4.1 Penularan Parasit

Penularan parasit tergantung pada sumber atau reservoir infeksi, dan cara penularannya.

a. Sumber infeksi 1. Manusia

2. Manusia merupakan sumber atau perantara terbesar infeksi parasitik (contohnya taeniasis, amoebiasis, dan lain-lain). Suatu kondisi dimana infeksi ditularkan dari satu orang ke orang lain disebut antroponisis.

3. Hewan

4. Dalam banyak penyakit parasit, hewan berperan sebagai sumber infeksi. Suatu keadaan dimana infeksi ditularkan dari hewan ke manusia disebut zoonosis (misalnya, hidatidiasis).

b. Cara Penularan

Penularan parasit dari satu host ke host yang lain, disebabkan oleh bentuk parasit tertentu dikenal sebagai stadium infeksi. Stadium infeksi pada berbagai parasit ditularkan dari satu host ke host yang lain dalam beberapa cara berikut:

1. Rute oral. Konsumsi makanan, air, sayuran atau tempat yang terkontaminasi oleh stadium infeksi parasit. Cara penularan ini pada beberapa parasit dikenal sebagai rute fecal oral (misalnya kista Giardia intestinalis dan Entamoeba histolytica, telur Ascaris lumbricoides, dan Trichuris trichura.

a. Mengkonsumsi daging mentah atau setengah matang. Infeksi dapat ditularkan secara oral bila konsumsi daging mentah atau setengah matang yang mengandung parasit infektif (misalnya: daging babi mengandung selulosa cysticercus, tahap larva Taenia solium).

b. Mengkonsumsi ikan dan kepiting yang kurang matang atau mentah. Infeksi juga dapat ditularkan dengan konsumsi ikan dan kepiting mentah atau setengah matang yang mengandung stadium infektif parasit (misalnya: kepiting mengandung stadium parasit infektif, kepiting atau udang air tawar mengandung metasercaria Paragonimus westermani, ikan mengandung metaserkaria Clonorchis sinensis, dan lain lain).

c. Mengkonsumsi air mentah atau belum matang. Infeksi dapat ditularkan lewat makanan mentah atau air belum masak yang menyembunyikan bentuk parasit infektif (misalnya:

air kacang dada, dll mengandung metaserkaria pada Fasciolopsis buski dan Fasciola hepatica).

2. Penetrasi kulit dan membran mukosa Infeksi ditransmisikan dengan:

a. Penetrasi kulit oleh larva filaria (filariformy larva) pada cacing tambang, Strongyloides stercoralis yang kontak dengan tanah tercemar feces.

b. Tusukan kulit oleh serkaria pada Schistosoma japonicum, S. Mansoni, dan S. haematobium yang kontak dengan air yang terinfeksi. Bagian kulit yang dipenetrasi adalah bagian kulit yang tipis, misalnya: di daerah jari jemari, kulit perianal, dan kulit perineum.

3. Inokulasi vektor arthropoda

(21)

22

Parasitologi 1

Infeksi juga dapat ditularkan dengan inokulasi ke dalam darah melalui nyamuk, seperti pada penyakit malaria dan filariasis.

4. Kontak seksual

Trichomoniais dapat ditularkan melalui kontak seksual. Entamoebiasis dapat ditularkan melalui kontak seksual anal oral, seperti pada kalangan homoseksua.

Identifikasi penularan cacing parasit dapat dilakukan dengan cara mengetahui dengan jelas jenis spesies cacing parasit, membedakan sifat, kista, larva, telur, dan juga cara penularan cacing parasit itu sendiri. Identifikasi parasit juga bergantung pada persiapan bahan yang baik untuk pemeriksaan baik dalam keadaan hidup maupun sediaan yang telah di awetkan. Bahan yang akan di periksa tergantung dari jenis parasitnya, untuk cacing atau protozoa usus maka bahan yang akan di periksa adalah tinja atau feses, sedangkan parasit darah dan jaringan

dengan cara biopsi,

kerokan kulit maupun imunologis. Pemeriksaan feses dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing ataupun larva yang infektif. Pemeriksaan feses ini juga di maksudkan untuk mendiagnosa tingkat infeksi cacing parasit usus pada orang yang di periksa fesesnya.

Ada dua cara untuk melakukan pemeriksaan parasit, yaitu pemeriksaan kualitatif dan pemeriksaan kuantitatif. Pemeriksaan kualitatif digunakan untuk mengetahui jenis parasit usus dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan secara natif (direct slide), metode apung ( flotation method ) dengan disentrifugasi atau tanpa disentrifugasi, metode selotip (cellotape method ), metode konsentrasi, metode sediaan tebal (cellophane covered thick smear teknik/teknik kato), dan metode sedimentasi formol ether (RITCHIE). Sedangkan pada pemeriksaan kuantitatif digunakan untuk menentukan jumla cacing yang ada didalam usus dan dapat dilakukan dengan metode kato katz dan metode stoll.

Pada praktikum kali ini, akan digunakan pemeriksaan secara kualitatif dengan menggunakan metode apung ( flotation method ) tanpa disentrifugasi untuk mendeteksi ada atau tidaknya parasit didalam tubuh. Teknik diagnostik merupakan salah satu aspek yang penting untuk mengetahui adanya infeksi penyakit cacing, yang dapat ditegakkan dengan cara melacak dan mengenal stadium parasit yang ditemukan.

4.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah lidi atau tusuk sate, bekker glass, saringan teh, tabung reaksi dan rak tabung reaksi, kaca preparat, cover glass, pipet tetes, dan mikroskop. Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sampel feses + 1-2 gram, NaCl jenuh (33%), dan air.

4.3 Prosedur

Langkah-langkah kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah:

(22)

23

Parasitologi 1

1. 2 gram tinja dicampur dengan 200 ml larutan NaCl jenuh (33%), lalu diaduk sampai larut

2. Campuran tinja dengan NaCl jenuh (33%) dituangkan kedalam tabung reaksi sampai terbentuk cembung dipermukaan tabung, gunakan penyaring teh apabila terdapat serat-serat selulosa

3. Diamkan selama + 10 menit

4. Cover glass ditempelkan dipermukaan cembung campuran tinja dengan NaCl 5. Diamati dengan mikroskop

4.3 Hasil dan Pembahasan

4.4.1 Hasil

4.4.2 Pembahasan

Metode apung ( flotation method ) ini menggunakan NaCl jenuh (33%) atau larutan gula jenuh dan terutama digunakan untuk pemeriksaan feses yang mengandung sedikit telur. Prinsip kerjanya didasarkan atas berat jenis (BJ) telur parasit yang lebih ringan dibanding dengan larutan yang digunakan, sehingga telur- telur terapung dipermukaan dan juga memisahkan partikel-partikel yang besar yang terdapat didalam tinja. Pemeriksaan ini berhasil untuk mengidentifikasi telur- telur Nematoda, Schistosoma, Dibothriocephalus, telur-telur yang berpori dari family Taenidae dan telur-telur Acanthocephala.

Hasil pemeriksaan feses yang dilakukan dalam praktikum ini adalah negative.

Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya:

1. Sampel atau feces diperoleh dari orang yang memang sehat (tidak terinfeksi cacing

Nama Cacing Metode

Apung

Ascaris lumbricoides -

Trichuris trichiura -

Cacing tambang -

Cacing pita -

Ancylostoma duodenale -

Necator americanus -

Strongyloides stercoralis -

(23)

24

Parasitologi 1

parasit usus)

2. Feses yang dimasukkan ke dalam larutan NaCl jenuhh (33%) terlalu sedikit.

3. Saat larutan feces didiamkan pada tabung reaksi, tabung reaksi goyang sehingga telur yang sudah terapung mengendap lagi.

4. Kurangnya pemahaman praktikan pada bentuk morfologi telur cacing parasit maupun larvanya.

(24)

25

Parasitologi 1

Bab 5

Mengamati Siklus Hidup Parasit dan Mengidentifikasi Diagnosa Laboratorium 5.1 Siklus Hidup Parasit

Siklus hidup adalah rute yang dilalui oleh parasit dari saat masuk ke host di dalam host sampai ke luar dari host dan masuk kembali. Suatu parasit dapat melibatkan satu host atau lebih, melibatkan satu atau lebih sebagai perantara (intermediate host). Siklus hidup parasit terdiri dari dua fase utama, fase di dalam tubuh dan fase di luar tubuh manusia. Siklus hidup parasit di dalam tubuh memberikan informasi tentang gejala dan kelainan akibat infeksi parasit, serta metode diagnosis dan pemilihan obat yang tepat. Siklus parasit di luar tubuh, memberikan informasi penting yang berkaitan dengan epidemiologi, pencegahan, dan pengendalian.

5.2 Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium parasitologi dilaksanakan untuk penegakan diagnosis. Spesimen yang dipilih untuk diagnosis laboratorium antara lain dapat berupa darah (hapusan darah), feses, urin, sputum, biopsi, cairan urethra atau vagina tergantung pada parasit penyebab.

A. Pemeriksaan feses lengkap ada dua cara, yaitu : 1. Direct (langsung) : feses lengkap

a. Makroskopis : Identitas (nama, umur, jenis kelamin), warna (kuning, hijau), bau (menyengat atau khas), konsistensi (cair, lembek,padat), berlendir, darah.

b. Mikroskopis : Untuk bentuk-bentuk normal : Serat tumbuhan, serat otot, amilum, lemak, sedangkan untuk bentuk-bentuk tidak normal, telur, larva, eritrosit dan leukosit

- Untuk contoh bentuk parasit yang lain : Entamoeba coli, Entamoeba histolitica.

2. Indirect (tidak langsung)

a. Flotasi : pengapungan NaCl jenuh dan ZnSO4 33%.

b. Sedimentasi

c. Harada mori : perkembangbiakan larva d. Stoll : menghitung jumlah telur B. Tujuan

Untuk memeriksa feses secara lengkap dan mengetahui bentuk atau morfologi (normal atau tidak normal) yang ada didalam feses.

C. Alat :

a. Obyek gelas b. Cover glass c. Lidi

d. Mikroskop binokuler atau monokuler D. Bahan :

(25)

26

Parasitologi 1

a. Feses normal atau feses patogen b. Larutan NaCl 0,85% atau Pz c. Eosin 2% d. Lugol 2%

E. Prosedur :

a. Disiapkan obyek glass dan cover glass yang bersih dan bebas lemak.

b. Diambil sedikit feses dengan menggunakan lidi lalu diletakkan diatas obyek glass.

c. Diambil sedikit larutan NaCl 0,85% kemudian diaduk rata sampai homogen (tidak boleh ada gelembung), demikian juga untuk eosin 2% dan lugol 2%.

d. Ditutup dengan cover glass.

Diperiksa dibawah mikroskop pembesaran lensa obyektif 10x atau 40x.

(26)

27

Parasitologi 1

Bab 6

Mengamati Spesimen Pemeriksaan Parasitologi

Pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis feses untuk parasit cacing.

6.1 Pengecatan Langsung (Direct Wet Mount)

Metode ini dipergunakan untuk pemeriksaan secara cepat dan baik untuk infeksi yang berat, tetapi untuk infeksi yang ringan sulit ditemukan bentuk diagnostiknya.

1. Alat dan Bahan a. kaca obyek

b. kaca penutup 20 mm x 20 mm c. lidi

d. pensil untuk pemberian label e. larutan NaCl 0,9% (garam faali) f. larutan lugol iodin g. mikroskop

2. Prosedur Pemeriksaan Perhatikan Gambar 6.1.

a. Teteskan 1 tetes larutan garam faali di bagian tengah dari separo bagian kiri kaca obyek, dan 1 tetes larutan lugol iodin di bagian tengah separoh yang kanan.

b. Ambil sedikit spesimen feses menggunakan lidi. bila tinja berbentuk padat, ambil dari bagian dalam dan bagian permukaan.

 bila tinja berbentuk cair, ambil dari bagian permukaan cairan atau permukaan

 berlendir.

c. Campur spesimen feses dengan larutan garam faali pada kaca obyek sebelah kiri.

d. Campur spesimen feses dengan larutan iodin pada kaca obyek sebelah kanan.

e. Tutup masing-masing spesimen dengan kaca penutup (sedapat mungkin hindari timbulnya gelembung udara).

f. Periksa sediaan di bawah mikroskop untuk sediaan dengan larutan garam faali gunakan lensa obyek 10x dan 40x,

 dimulai dari sebelah pojok kiri atas. untuk sediaan dengan larutan iodine, gunakan lensa obyek 40x.

 pada pemeriksaan telur yang tidak berwarna, untuk meningkatkan kontras dapat

 dilakukan dengan pengurangan jumlah sinar dengan mengatur celah kondensor atau merendahkan letak kondensor.

g. Untuk meyakinkan tidak ada lapang pandang yang terlewati, letakkan kaca obyek pada tepi lapangan pandang dan gerakkan kaca obyek melintasi microscope stage, periksa kaca obyek sampai tepi lapang pandang yang lain.

(27)

28

Parasitologi 1

Gambar 6.1. Pengecatan langsung (Direct wet mount) 6.2 Cara Sediaan Tebal Kato

Sebagai pengganti kaca tutup pada teknik pengecatan langsung, digunakan sepotong selofan.

Dengan teknik ini lebih banyak telur cacing dapat diperiksa sebab digunakan lebih banyak spesimen feses. Teknik ini dianjurkan juga untuk pemeriksaan feses secara massal karena lebih sederhana dan murah. Morfologi telur cacing cukup jelas untuk membuat diagnosis.

1. Alat dan bahan a. kaca obyek

b. kertas selofan ukuran 26 x 28 mm

c. larutan untuk membuat selophane, terdiri atas: 100 ml gliserin, 100 ml air, 1 ml larutan malakit dalam air 3%

d. rendam selofan dalam larutan tersebut di atas sebelum dipakai selama > 24 jam e. spesimen feses

f. mikroskop 2. Prosedur

a. Letakkan spesimen feses 20-50 mg (sebesar kacang tanah) di atas kaca obyek.

b. Tutup feses dengan kertas selofan

c. Tekan sediaan di antara kertas selofan dan kaca obyek dengan tutup botol karet supaya tinja menjadi rata sampai menyebar di bawah selofan

d. Keringkan larutan yang berlebihan dengan kertas saring e. Diamkan selama ½-1 jam pada suhu kamar

f. Periksa sediaan di bawah mikroskop dengan cahaya terang (Gambar 6.2)

(28)

29

Parasitologi 1

Gambar 6.2. Teknik sediaan tebal (metoda Kato) 6.3 Pemeriksaan Metode Konsentrasi: Cara Apung (Flotation Methode)

Prinsip: feses dicampur dengan larutan jenuh sodium klorida (larutan jenuh garam dapur) dengan berat jenis 1200 gram/cc sehingga telur yang lebih ringan daripada BJ larutan akan terapung di permukaan sehingga mudah dikumpulkan dan kemudian diambil sebagai bahan pemeriksaan.

Pemeriksaan ini hanya berhasil untuk telur Nematoda, Schistosoma, Dibothriocephalus, telur yang berpori dari famili Tainidae, telur Acanthocephala ataupun telur Ascaris yang infertil dan terutama dipakai untuk pemeriksaan feces yang mengandung sedikit telur. Kerugiannya mengakibatkan larva dari Schistosoma sp., Necator americanus, Ancylostoma duodenale, dan kista protozoa menjadi sangat menciut. Sebaliknya, telur Opisthorchis sp. dan Clonorchis sinensis berat jenisnya lebih besar dari 1200 gram/cc sehingga mengendap.

1. Alat dan Bahan

a. botol volume 10 ml b. lidi

c. kaca penutup d. etanol

e. eter

(29)

30

Parasitologi 1

f. cawan petri

g. Cara pembuatan larutan Willis: campurkan 125 gram sodium klorida dengan 500 ml akuades. Panaskan campuran sampai titik didih dan biarkan dingin. Bila semua garam telah larut, tambahkan 50 gram lagi. Saring dan simpan dalam botol yang tertutup.

2. Prosedur

a. Siapkan kaca penutup bersih bebas dari lemak.

b. Buat campuran 10 ml etanol 95% dan 10 ml eter.

c. Tuangkan campuran tadi ke dalam cawan petri, dan masukkan ke dalamnya 30 kaca penutup satu persatu, kocok dan biarkan selama 10 menit.

d. Keluarkan kaca penutup satu persatu dan keringkan dengan kain kasa dan simpan pada cawan petri yang kering.

e. Ambil spesimen tinja sebanyak ± 2 ml dan masukkan ke dalam botol.

f. Tuangkan larutan jenuh garam dapur ke dalam botol sampai ¼ volume botol.

g. Dengan lidi atau pengaduk, hancurkan feses tinja dan campur dengan rata. Bila terdapat serat selulosa disaring terlebih dahulu dengan penyaring teh.

Selanjutnya ada 2 cara:

 Didiamkan selama 5-10 menit, kemudian dengan ose diambil larutan permukaan dan ditaruh di atas kaca objek. Kemudian ditutup dengan kaca penutup/cover glass. Periksa di bawah mikroskop (Gambar 6.3)

 Tuangkan lagi larutan jenuh garam dapur sampai batas permukaan botol/tabung, letakkan atau tutupkan kaca obyek, sehingga menutupi botol. Pastikan bahwa kaca penutup kontak dengan cairan dan tidak ada gelembung udara, biarkan selama 10 menit. Angkat kaca penutup, setetes cairan akan menempel. Tempatkan kaca penutup di atas kaca obyek dan segera periksa di bawah mikroskop (menghindari sediaan cepat kering).

Gambar 6.3. Metode apung tanpa disentrifugasi 6.4 Pemeriksaan Anal Swab

Telur Enterobius vermicularis biasanya dikumpulkan pada cekungan kulit di sekitar anus, dan jarang ditemukan pada feses. Pemeriksaan dilakukan pada pagi hari sebelum anak kontak dengan air, anak yang diperiksa berumur 1-10 tahun.

1. Alat dan bahan a. mikroskop b. kaca obyek

(30)

31

Parasitologi 1

c. lidi kapas d. tabung reaksi e. pipet pasteur 2. Prosedur

a. Usapkan lidi kapas pada daerah sekitar anus.

b. Celupkan lidi kapas ke dalam tabung yang berisi 5 ml larutan sodium klorida.

c. Cuci kapas lidi dalam larutan di tabung.

d. Isap larutan dengan pipet pasteur dan pindahkan ke kaca penutup dan tutup kaca penutup.

Periksa sediaan di bawah mikroskop dengan memakai lensa obyektif 10 x dan dengan mengurangi celah kondensor.

Bab 7

Jenis-Jenis Helmintes 7.1 Pengertian Helmintologi

Helmintologi adalah ilmu yang mempelajari parasit berupa cacing. Penyakit karena cacing (helminthiasis) banyak tersebar di seluruh dunia terutama di daerah tropis. Hal ini berkaitan dengan faktor cuaca dan tingkat sosio-ekonomi masyarakat.

Sebagian cacing memerlukan vertebrata atau avertebrata tertentu sebagai host, misalnya ikan, siput, crustaceae atau serangga dalam siklus hidupnya. Di daerah tropis, host ini juga banyak berhubungan dengan manusia, karena tidak adanya pengendalian dari masyarakat setempat.

Serangga seperti lalat dan nyamuk penghisap darah, di samping sebagai intermediet host, juga merupakan bagian dari lingkaran hidup cacing. Penyebaran telur cacing yang keluar bersama dengan feses klien berkaitan erat dengan pengetahuan tentang sanitasi. Kebiasaan buang air besar yang tidak higienis berdampak pada meningkatnya jumlah klien helminthiasis.

Begitu juga kebiasaan makan masyarakat menyebabkan penularan jenis cacing tertentu, misalnya makan makanan yang masih mentah atau setengah matang. Bila di dalam makanan tersebut terdapat kista atau larva cacing maka siklus hidup cacing menjadi lengkap ketika terjadi infeksi pada manusia.

Berbeda dengan infeksi organisme lain, seperti protozoa, dalam tubuh manusia cacing dewasa tidak memperbanyak diri. Cacing yang bersifat parasit pada manusia terbagi dalam 2 golongan besar, yaitu cacing gilig/silindris (Nemathelminthes) dan cacing pipih (Platyhelminthes).

7.2 Klasifikasi Cacing

Berdasarkan taksonomi, parasit cacing dibagi menjadi:

1. Nemathelminthes (cacing gilig, nema = benang); dan 2. Platyhelminthes (cacing pipih).

(31)

32

Parasitologi 1

Stadium dewasa cacing yang termasuk Nemathelminthes (kelas Nematoda) berbentuk bulat memanjang (gilig, silindris) dan pada potongan tranversal tampak rongga badan yang berisi organ, cacing ini mempunyai alat kelamin terpisah. Dalam parasitologi kedokteran Nematoda dibagi menjadi Nematoda usus yang hidup di rongga usus dan Nematoda jaringan yang hidup di jaringan berbagai organ tubuh.

Cacing dewasa yang termasuk Platyhelminthes mempunyai badan pipih tidak berongga dan bersifat hemaprodit. Platyhelminthes dibagi menjadi kelas Trematoda (cacing daun) dan kelas Cestoda (cacing pita). Cacing Trematoda berbentuk daun tidak bersegmen, sedangkan cacing

Cestoda berbentuk pita dan bersegmen.

(32)

33

Parasitologi 1

Bab 8

Mengidentifikasi Nematoda Usus

8.1 Jenis kegiatan

Pengamatan Nematoda Usus dan Jaringan 8.2 Alat dan Bahan

1. Mikroskop 2. Mikroskop listrik 3. Preparat

4. Alat tulis 5. Buku catatan

6. Gelas awetan cacing.

8.3 HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Telur Trichuris trichiura

a. Berbentuk seperti tong. Kedua ujungnya melekuk kedalam dan tertutup oleh tonjolan yang transparan. Bagian tonjolan mengandung mukoid.

b. Ukuran 50-54 × 22-23 mikron.

c. Tertutup oleh dualapisan yaitu lapisan luar berwarna kekuning—kuningan, lapisan dalam transparan.

2. Mulut Necator americanus

a. Terdapat 2 pasang alat pemotong (cutting plates)

b. Bentuk alat pemotong tersebut semilunar dan terdapat disebelah ventral dan dorsal c. Bursa kopulatrik pada jantan: percabangan dari sentral.

3. Mulut Cacing Tambang (A. duodenale) a. Terdapat 2 pasang gigi disebelah ventral

b. Gigi yang sebelah dalam lebih kecil daripada pada gigi yang sebelah luar c. Bentuk lengkungan kepalan sesuai dengan lengkungan tubuh (seperti koma).

4. Telur yang dibuahi Ascaris lumbricoides

a. Yang masak (matura): antara lapisan dinding paling dalam massa didalamnya terdapat batas atau rongga udara

b. Yang belum masak (imature): tidak terdapat rongga udara.

5. Telur yang tidak dibuahi Ascaris lumbricoides a. Bentuk lebih lonjong, ukuran 88-94 × 44 mikron

b. Mantel albumin sering tidak terdapat. Isinya protoplasma yag mati c. Lebih transparan.

6. Cacing Ascaris lumbricoides

a. Jantan: panjang 10-30 cm diameter 2-4 mm, anterior terdapat 3 buah bibir, posterior melingkar ke ventral

b. Betina: panjang 20-35 cm diameter 3-6 mm, anterior dengan jantan sama, posterior reatif lurus dan kaku.

7. Cacing dewasa Trichuris Trichiura

(33)

34

Parasitologi 1

a. Bentuk tubuh seperti cambuk (cemeti) b. Ukuran jantan30-45 mm. Betina 35-50 mm.

8. Telur Enterobius Vermicularis

a. Bentuk asimetris, salah satu sisi datar b. Ukuran 55 × 26 mikron

c. Didalam telur selalu terdapat bentuk larvanya.

9. Cacing dewasa Enterobius Vermicularis

a. Ukuran jantan 2-5 mm × 0,1-0,2 mm. Betina 8-13 mm × 0,3-0,5 mm b. Mulut simpel dengan 3 buah bibir yang mengelilinginya

c. Ujung anterior dan posterior runcing (lancip).

(34)

35

Parasitologi 1

Bab 9

Mengidentifikasi Nematoda Jaringan / Darah

9.1 Jenis kegiatan

Pengamatan Nematoda Jaringan 9.2 Alat dan Bahan

1. Mikroskop 2. Mikroskop listrik 3. Preparat

4. Alat tulis 5. Buku catatan

6. Gelas awetan cacing.

9.3 HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Cacing Wuchereria Banchrofti

a. Ukuran jantan 40 × 0,1 mm, betina 83 ×0,24 mm b. Warna putih kekuningan

c. Kutikula smooth.

2. Cacing Brugia Malayi a. Cacing dewasa b. Mikrofilaria.

3. Telur cacing Tambang a. Berbentuk bulat lonjong

b. Kulit relatif tipis terdiri dari hyaline

c. Isi telur: terganung umur, waktu dikeluarkan dapat segmentid dapat pula unsegmented.

4. Cacing Tambang Dewasa

a. Ukuran jantan 8-11mm × 0,45 mm, betina 10-13 × 0,60 mm

b. Lengkungan kepala sesuai dengan lengkungan tubuh (seperti koma).

(35)

36

Parasitologi 1

DAFTAR PUSTAKA

Assafa Dawit, et al. 2004. Medical Parasitology. Degree and Diploma Programs For Health Science Students. Ethiopia Public Health Training Initiative.

Dawit Assafa, et al. 2004. Medical Parasitology. Lecture Notes, Jimma University, Debub University, University of Gondar, In collaboration with the Ethiopia Public Health Training Initiative(EPHI), The Carter Center, the Ethiopia Ministry of Health, and the Ethiopia Ministry of Education.

Entjang Indan. 2001. Mikrobiologi dan Parasitologi Untuk Akademi Keperawatan. Bandung, PT Citra Aditya Bakti.

Ganda Hussada S, Herry D, Pribadi Wita. 2000. Parasitologi Kedokteran. edisi ketiga, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

Michael J. Cuomo, Lawrence B. Noel, Daryl B. White. Diagnosing Medical Parasites: A Public Health Officers Guide to Assisting Laboratory and Medical Officers.

Prasetyo RH. 2002. Pengantar Praktikum Helmintologi Kedokteran. Edisi 2, Airlangga University Press.

Prasetyo RH. 2005. Pengantar Praktikum Protozoologi Kedokteran. Edisi 2, Airlangga University Press.

Gambar

Gambar 2. Trichinella spiralis dalam jaringan otot   (sumber: www.photomacrography.net)
Gambar 4. Cacing perut (Ascaris lumbricoides)   (sumber: www.wordpress.com)
Gambar 6. Pinjal  (Ctenocephalides canis)
Gambar 8. Nyamuk Anopheles betina   (sumber: www.medkes.com)
+5

Referensi

Dokumen terkait

2) Peritoneum viseral: melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. 3) Ruang yang berada diantara kedua lapisan disebut ruang peritoneal. 4) Didalam

Mata kuliah ini mempelajari Bahasa Indonesia dalam ilmu teknologi laboratorium medik dengan menekankan penggunaan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar

Pada uji Iod, hanya amilum yang menunjukkan hasil positif termasuk polisakarida dengan menunjukkan perubahan warna menjadi biru kehitaman.Dalam tubuh manusia,

140 bekerja sama, dan mengalami saat-saat biasa dan istimewa dengan orang-orang lawan jenis tanpa hubungan asmara. Kedua, persahabatan yang lebih istimewa. Adalah

Kata- kata “ reagen” dan “reaktan” dapat digunakan secara bergantian. Reaksi kimia dapat terjadi ketika dua atau lebih reaktan digabungkan bersama. Reaktan harus

Dalam pelaksanaan audit dinyatakan selesai apabila ketidaksesuaian yang terjadi telah diperbaiki secara efektif dan efisien oleh auditi serta tepat waktu dan

Potensial dari setiap elektrode yang terukur dibandingkan terhadap elektrode referensi yang terbuat dari perak/perak Chloride dengan voltase(tegangan) yang stabil dan tetap.

baik atau tidak baik, hal itu akan terlihat dan dapat dikenali melalui penggunaan bahasa Indonesianya. Pengembanan fungsi demikian seyogianya mendapat pencermatan agar kita