• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM BIMBINGAN PRIBADI-SOSIAL BERDASARKAN PENDEKATAN HUMANISTIK UNTUK MENGEMBANGKAN KONSEP DIRI PESERTA DIDIK.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PROGRAM BIMBINGAN PRIBADI-SOSIAL BERDASARKAN PENDEKATAN HUMANISTIK UNTUK MENGEMBANGKAN KONSEP DIRI PESERTA DIDIK."

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

PROGRAM BIMBINGAN PRIBADI-SOSIAL BERDASARKAN PENDEKATAN HUMANISTIK UNTUK

MENGEMBANGKAN KONSEP DIRI PESERTA DIDIK

(Penelitian Eksperimen Kuasi terhadap Peserta Didik Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa di Sekolah Luar Biasa Tunanetra X Tahun Pelajaran 2012/2013)

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Magister Pendidikan

Program Studi Bimbingan dan Konseling

Oleh

IRMA NUMIASARI

1009521

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH:

PEMBIMBING I

Dr. Mamat Supriatna, M.Pd. NIP. 19600829 198703 1 002

PEMBIMBING II

Dr. Didi Tarsidi, M.Pd. NIP. 195106011979031003

Mengetahui,

Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Sekolah Pascasarjana

Universitas Pendidikan Indonesia

(3)

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul “Program Bimbingan Pribadi-Sosial Berdasarkan Pendekatan Humanistik untuk Mengembangkan Konsep Diri Peserta Didik (Penelitian Eksperimen Kuasi terhadap Peserta Didik Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa di Sekolah Luar Biasa Tunanetra Tahun Pelajaran 2012/2013)” ini beserta seluruh isinya adalah benar-benar karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan.

Atas pernyataan ini, saya siap menanggung resiko/sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Bandung, Juli 2013 Yang membuat pernyataan,

(4)

Irma Numiasari. (2013). Program Bimbingan Pribadi-Sosial Berdasarkan Pendekatan Humanistik untuk Mengembangkan Konsep Diri Peserta Didik (Penelitian Eksperimen Kuasi terhadap Peserta Didik Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa di Sekolah Luar Biasa Tunanetra Tahun Pelajaran 2012/2013).

Konsep diri berperan penting dalam kehidupan sebagai penentu perilaku individu dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya. Fenomena yang terjadi di sekolah menengah, terkadang sulit melakukan pengembangan konsep diri bagi peserta didik remaja, karena pada umumnya remaja dipenuhi oleh keraguan diri dan ketidakpastian masa depan, terlebih lagi apabila disertai adanya gangguan penglihatan, sehingga memerlukan bimbingan untuk mengembangkan konsep diri. Penelitian ini bertujuan menghasilkan program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik untuk mengembangkan konsep diri peserta didik. Penelitian dilakukan di SMPLB Tunanetra X Kota Bandung. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode eksperimen kuasi. Pengambilan data dilakukan melalui tes. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji parametris dengan menggunakan teknik uji t (independent sampel t test) melalui analisis data konsep diri peserta didik sebelum dan setelah mengikuti program bimbingan pribadi-sosial. Hasil penelitian di antaranya menunjukkan bahwa: (1) profil konsep diri peserta didik SMPLB Tunanetra X Kota Bandung berada dalam kategori tidak kongruen sebesar 60,87%; (2) program bimbingan pribadi-sosial efektif untuk mengembangkan konsep diri peserta didik SMPLB Tunanetra X Kota Bandung. Berdasarkan hasil penelitian, rekomendasi disampaikan kepada: (1) Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor agar dapat dijadikan rujukan untuk mengembangkan konsep diri peserta didik; (2) Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian secara lebih mendalam dengan mempertimbangkan kembali metode penelitian dan penyusunan instrumen serta menguji efektivitas program bimbingan pribadi-sosial terhadap pengembangan konsep diri peserta didik SMPLB Tunanetra X Kota Bandung berdasarkan perbedaan jenis kelamin dan penyebab ketunanetraan.

(5)

UCAPAN TERIMA KASIH... ii

BAB II. KONSEP DIRI DAN BIMBINGAN PRIBADI-SOSIAL ... 25

A. Konsep Diri ... 25

B. Ketunanetraan ... 35

C. Bimbingan Pribadi-Sosial ... 45

D. Program Bimbingan Pribadi-Sosial Berdasarkan Pendekatan Humanistik ... 48

E. Kerangka Teoretik Program Bimbingan Pribadi-Sosial Berdasarkan Profil Konsep Diri Peserta Didik ... 53

D. Pengembangan Instrumen Penelitian ... 82

E. Pengembangan Program ... 87

F. Teknik Analisis Data ... 91

G. Tahapan Penelitian ... 98

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 100

A. Hasil Penelitian ... 100

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 124

C. Keterbatasan Penelitian ... 145

BAB V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 147

DAFTAR PUSTAKA ... 152

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Pendidikan berperan penting di dalam kehidupan manusia sebagai proses dalam pengembangan potensi manusia secara optimal dan berfungsi untuk mengembangkan manusia ke arah kearifan, pengetahuan dan etika sehingga dapat membangun aspek kognisi, afeksi dan psikomotor secara optimal. Diungkapkan oleh Elmubarok (2009:3) peranan pendidikan bagi manusia sebagai proses yang ditujukan untuk membina kualitas sumber daya manusia seutuhnya agar dapat melakukan peranannya dalam kehidupan secara fungsional dan optimal.

Menurut Kartadinata (2011:11) pendidikan berfungsi untuk pengembangan, peragaman dan integrasi. Dari ketiga fungsi tersebut memiliki arti bahwa pendidikan berfungsi untuk membantu manusia dalam pengembangan diri sesuai dengan keunikannya dimana keragaman perkembangan diri tersebut disesuaikan dengan potensi yang dimiliki individu agar menjadi manusia yang utuh.

Fungsi pendidikan yang diharapkan bagi perkembangan manusia tercantum di dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Bab II Pasal 3:

(7)

Uraian fungsi pendidikan di atas berimplikasi terhadap pengertian pendidikan. Pengertian pendidikan di antaranya menurut UUSPN No. 20 Tahun 2003 Bab 1 Pasal 1 (1) pendidikan adalah :

“usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan

dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Uraian di atas menyuratkan bahwa pendidikan adalah sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga peserta didik memperoleh pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan tahapan tugas perkembangannya secara optimal.

Menurut Makmun (2005:22) pendidikan mencakup seluruh proses hidup dan termasuk interaksi individu dengan lingkungannya yang berlangsung secara formal, nonformal maupun informal agar peserta didik dapat mewujudkan dirinya sesuai dengan tahapan tugas perkembangan secara optimal sehingga mencapai suatu taraf kedewasaan tertentu.

(8)

Lebih lanjut terkait fungsi, tujuan dan peserta didik pada pendidikan khusus dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010 Bab VII Pasal 129 (1), (2) dan (3). Pasal 1 terkait fungsi pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan yakni memberikan pelayanan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fungsi,emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial. Pasal 2 terkait tujuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan yakni untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal sesuai kemampuannya. Pasal 3 terkait peserta didik yang mengikuti pendidikan khusus berkelainan terdiri dari peserta didik tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, berkesulitan belajar, lamban belajar, autis, gangguan motorik, menjadi penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lain serta memiliki kelainan lain.

Satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan pada jenjang pendidikan dasar (Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010 Bab VII Pasal 133) terdiri atas sekolah dasar luar biasa atau sebutan lain untuk satuan pendidikan yang sejenis dan sederajat; dan sekolah menengah pertama luar biasa atau sebutan lain untuk satuan pendidikan yang sejenis dan sederajat.

(9)

tunanetra, tunarungu, tunadaksa, tunalaras dan autis. Secara spesifik satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan, terdapat dalam bentuk kelembagaan Sekolah Luar Biasa (SLB) jenjang SDLB, SMPLB dan SMALB. Uraian SLB berdasarkan spesifikasi kelainan yang disandangnya, yaitu: (1) SLB A untuk tunanetra; (2) SLB B untuk tunarungu dan wicara; (3) SLB C untuk tunagrahita; (4) SLB D untuk tunadaksa; (5) SLB E untuk tunalaras (Tuslina T, 2012).

Peserta didik yang menyandang kelainan tersebut dihadapkan pada permasalahan – permasalahan di antaranya terkait permasalahan akademik dan pribadi-sosial yang disebabkan oleh kurangnya pengalaman fisik dan kurang adanya proses interaksi belajar. Menurut Neely permasalahan tersebut dikelompokan menjadi empat, yaitu hubungan dengan orang lain, konflik internal, tingkah laku maladaptif dan konseling vokasional. Pada usia sekolah lanjutan pertama, permasalahan yang dapat mengganggunya di antaranya permasalahan pribadi-sosial seperti menguatnya kebutuhan diterima oleh teman sebaya selain itu penguasaan keterampilan dan pilihan kerja (Iin dan Purwanti, 2000:20).

(10)

pengalaman tersebut disebut medan fenomenal atau medan persepstual. Medan fenomenal adalah dunia privat individu (individual frame of reference) yang hanya diketahui oleh orang itu sendiri.

Tingkahlaku seseorang dapat dipahami dengan sangat baik dari kerangka internal individu itu sendiri. Rogers mendefinisikan kerangka acuan internal (internal frame of refrence) sebagai seluruh bidang pengalaman yang tersedia bagi pengalaman individu pada

saat tertentu. Bidang pengalaman tersebut meliputi sensasi-sensasi, persepsi-persepsi, makna-makna, ingatan-ingatan yang tersedia bagi kesadaran. Beberapa pengalaman individu (medan fenomenal) berdiferensiasi dan dilambangkan sebagai kesadaran. Pengalaman-pengalaman tersebut adalah pengalaman diri dan akhirnya sebagian dari pengalaman tersebut menjadi dasar dalam pembentukan konsep diri.

(11)

Lebih lanjut terkait konsep diri dan penyesuaian diri khususnya pada remaja, menurut Santrock (2003:334) perkembangan konsep diri dan penyesuaian diri remaja dipengaruhi oleh perkembangan kognisi. Perkembangan kognisi pada remaja sangat memungkinkan remaja untuk berfikir secara lebih abstrak dan idealistik sehingga pada pemahaman diri seorang remaja dapat menjadi semakin terdiferensiasi sesuai dengan konteks atau situasi yang semakin terdiferensiasi. Setelah kebutuhan untuk mendiferensiasikan diri ke dalam banyak peran dalam konteks yang berbeda-beda ada dalam diri remaja, muncullah kontradiksi antara diri-diri yang terdiferensiasi tersebut. Adanya sifat kontradiktif tersebut pada masa remaja membuat munculnya fluktuasi diri remaja dalam berbagai situasi dan waktu tidaklah mengejutkan. Munculnya kemampuan remaja untuk mengkonstruksi diri ideal disamping diri yang sebenarnya, menjadi sesuatu yang membingungkan bagi remaja. Menurut Carl Rogers adanya perbedaan yang terlalu jauh antara diri yang nyata dengan diri yang ideal menunjukkan tanda ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri.

Berkaitan dengan upaya penyesuaian diri remaja ke arah dewasa, biasanya para remaja mengalami kebingungan dalam menemukan konsep dirinya, karena remaja belum menemukan status dirinya secara utuh. Sisi lain yang dimiliki para remaja adalah adanya perasaan sudah besar, kuat, pandai dan telah menjadi dewasa. Tetapi mereka tetap memiliki perasaan ketidakpastiaan dan kecemasan sehingga membutuhkan perlindungan dari orangtua (Kartono, 1995:20).

(12)

orang tua sebagai orang yang turut berpengaruh pada konsep diri mereka. Anak makin mengidentifikasikan diri dengan anak-anak seusianya dan mengadopsi bentuk-bentuk tingkah laku dari kelompok teman sebaya dari jenis kelamin yang sama. Selama masa anak akhir konsep diri yang terbentuk sudah agak stabil. Tetapi dengan mulainya masa pubertas terjadi perubahan drastis pada konsep diri. Remaja yang masih muda mempersepsikan dirinya sebagai orang dewasa dalam banyak cara, namun bagi orang tua ia tetap masih seseorang anak-anak.

Konsep diri berperan penting dalam kehidupan sebagai penentu perilaku individu dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya. Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan dari Hartinah (2008:96) yang mengungkapkan pentingnya peranan konsep diri karena berpengaruh terhadap perilaku individu dalam penyesuaian diri dengan orang lain. Sejauh mana individu menyadari dan menerima segala kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam dirinya, maka akan mempengaruhi pembentukan konsep dirinya. Apabila seseorang mampu menerima segala kelebihan dan kekurangannya maka dalam individu tersebut akan tumbuh konsep diri yang positif, sebaliknya bagi yang tidak mampu menerimanya maka akan menumbuhkan konsep diri yang negatif. Konsep diri yang positif akan mempengaruhi kemampuan individu dalam penyesuaian diri dengan lingkungan sosialnya dengan baik.

(13)

penyesuaian sosial. Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa konsep diri peserta didik SMP merupakan hal penting untuk dikembangkan agar peserta didik memiliki kemampuan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana pun mereka berada.

Selain itu hasil penelitian yang dilakukan Lailatul Rokhmatika dan Eko Darminto (2013) terhadap 50 peserta didik kelas unggulan di SMP Negeri 1 Kalitengah, Lamongan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara konsep diri dan penyesuaian diri peserta didik di sekolah.

(14)

Namun menurut Hare and Hare dalam Forteza (2000) “ketunanetraan dapat berdampak negatif terhadap konsep diri, karena mereka tidak bisa

mengalami situasi penuh atau belajar tentang obyek secara keseluruhan”. Hasil penelitian terhadap dampak psikososial dan perilaku yang dialami remaja tunanetra berkaitan dengan ketunanetraannya telah dilakukan oleh Wong et al. (2009) terhadap 1249 orang remaja yang terdiri dari remaja tunanetra dan remaja awas, umur di antara 11-18 tahun. Hasil penelitian remaja tunanetra memiliki skor psikososial dan peranan sekolah yang lebih rendah dibandingkan remaja awas.

Menurut Hatlen (2004) dan Kef (2002) dalam Halder dan Datta (2011:39), beberapa literatur berkaitan dengan kebahagiaan, depresi, kesehatan mental, dan studi tentang dampak psikososial remaja tunanetra menunjukkan bahwa isolasi sosial dan persepsi kelainan dari rekan-rekannya dapat berdampak terhadap harga diri remaja tunanetra. Pernyataan tersebut diperkuat oleh penelitian yang telah dilakukan oleh Nurullah Bolat et al. (2011) terhadap 80 remaja, 40 remaja awas dan 40 remaja tunanetra. Umur partisipan antara 11-14 tahun. Hasil penelitian tingkat depresi dan konsep diri antara remaja awas dan remaja tunanetra berada pada level yang sama, namun remaja tunanetra cenderung memiliki kecemasan yang lebih tinggi.

Senada dengan pernyataan di atas, Blomquist et al., 1998 menyatakan,

(15)

Remaja yang mengalami kelainan di bagian wajah di antaranya adalah remaja tunanetra. Mereka mengalami hambatan perkembangan sesuai dengan ketunaannya, namun hal-hal yang berhubungan dengan rangsangan mata diganti dengan indra lainnya sebagai kompensasinya, terkecuali tunanetra yang diiringi oleh kelainan ganda. Menurut Kirkwood (1997:110), salah satu aspek penting pada masa remaja adalah pengembangan identitas dan harga diri yang bersifat positif. Hal tersebut terkadang sulit melakukan pengembangan tersebut bagi remaja, karena pada umumnya remaja dipenuhi oleh keraguan diri dan ketidakpastian masa depan, terlebih lagi apabila disertai adanya gangguan penglihatan.

Menurut pernyataan dari para peneliti (Centers & Centers, 1963; Siller, Ferguson, Vann & Holland, 1968; Wright, 1960) dalam Backen (1996: 384), “ hampir semua nasib individu dengan kondisi kelainan/ketunaan mendapatkan penilaian yang negatif dari masyarakat, misalnya masyarakat cenderung melihat sisi ketidakmampuannya sehingga menghambat pengembangan konsep diri yang positif. Apabila individu tersebut memiliki konsep diri yang rendah, dengan adanya persepsi negatif dari lingkungannya terhadap dirinya maka konsep diri individu tersebut akan menjadi kurang berkembang ke arah yang positif”.

(16)

Menurut Clock-Clampert dalam Forteza (2000), “aspek yang paling fundamental dari anak tunanetra adalah konsep dirinya yaitu cara anak belajar untuk melihat dirinya sendiri, memiliki dampak besar terhadap ambisi masa

depan, prestasi dan kebahagiaan pribadinya”.

Anak tunanetra merupakan individu yang mengembangkan dirinya melalui hubungan dan interaksi dinamis dengan inividu lain dan dengan kelompok sosial, baik di lingkungan sekolah, asrama, rumah maupun di lingkungan masyarakat. Dengan demikian untuk mengembangkan diri anak tunanetra khususnya konsep diri anak tunanetra diperlukan rancangan bimbingan dalam ruang lingkup pribadi-sosial yang menekankan pada peningkatan pengalaman yang positif dan pengembangan konsep real self agar tidak terlalu khawatir mengenai apa yang orang lain inginkan pada diri anak tunanetra.

Bimbingan pribadi-sosial berarti upaya untuk membantu individu dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri dan mengatasi konflik-konflik dalam diri, sebagai upaya untuk mengatur dirinya sendiri di bidang kerohanian, perawatan jasmani, pengisian waktu luang, penyaluran nafsu seksual dan sebagainya, serta upaya membantu individu dalam membina hubungan sosial di berbagai lingkungan (pergaulan sosial) (Yusuf, 2009: 53).

(17)

orang lain, 4) mempunyai rasa tanggung jawab, 5) mengembangkan keterampilan hubungan antar pribadi (interpersonal), 6) menyelesaikan konflik, 7) membuat keputusan secara efektif.

Program bimbingan tersebut selayaknya berbasis pendekatan yang bertitiktolak dari pandangan yang positif terhadap manusia atau bahwa manusia pada dasarnya baik, perilaku manusia dengan sadar, bebas dan bertanggungjawab dibimbing oleh daya-daya positif yang berasal dari dalam dirinya sendiri ke arah pemekaran seluruh potensi manusiawi secara penuh, serta agar berkembang ke arah positif, manusia membutuhkan suasana dan pendampingan personal serba penuh penerimaan dan penghargaan demi mekarnya potensi positif yang melekat dalam dirinya (Hall dan Lindzey dalam Supriatna, 2010: 11)

Pernyataan tersebut menghantarkan perancangan program bimbingan untuk mengembangkan konsep diri yang didasarkan atas pendekatan humanistik. Menurut Alwisol (2009:265) pendekatan humanistik menekankan manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri, rasional, utuh, mudah berubah dan sukar dipahami.

(18)

martabat manusia, serta tertarik pada perkembangan potensi yang inheren pada setiap individu (Misiak dan Sexton dalam Supriatna, 2010:11).

Bimbingan pribadi-sosial dengan pendekatan humanistik dilakukan dengan mengintegrasikan bimbingan pribadi-sosial yang di dalamnya memungkinkan peserta didik mengembangkan konsep diri yang meliputi aspek kognitif dan afektif untuk mengembangkan pengetahuannya tentang kondisi fisiknya, identitas dirinya terkait sifat yang dimilikinya, mengenal kemampuan dan ketidakmampuannya, mempelajari cara pengambilan keputusan, memaknai pengalaman, menghargai diri, sikap percaya diri dan mengembangkan nilai moral peserta didik pada saat itu agar anak tunanetra tidak terlalu khawatir mengenai apa yang orang lain inginkan pada diri anak tunanetra sehingga mempengaruhi ideal selfnya. Asumsinya berdasarkan pada pandangan positif tentang manusia, dengan memandang manusia memiliki sifat bawaan untuk berjuang keras untuk menjadi individu yang selaras dan berfungsi secara penuh (becoming fully functioning) (Feist dan Feist, 2010:7).

Individu dapat mengembangkan keselarasan di dalam konsep dirinya dan keberfungsiannya sebagai manusia secara penuh setelah diberi kebebasan dan dukungan emosional serta didorong dengan lingkungan yang menerima dan memahami situasi terapeutik. Dengan demikian Sekolah memerlukan “Program Bimbingan Pribadi-Sosial untuk Mengembangkan Konsep Diri Peserta Didik

berdasarkan Pendekatan Humanistik ”.

B. Rumusan Masalah

(19)

pendekatan humanistik untuk mengembangkan konsep diri peserta didik SMPLB X Tahun Pelajaran 2012/2013?”. Secara lebih rinci masalah utama tersebut diuraikan ke dalam pertanyaan sebagai berikut:

1) bagaimana profil umum konsep diri peserta didik SMPLB X Tahun Pelajaran 2012/2013?

2) bagaimana kondisi awal profil konsep diri subjek penelitian ?

3) bagaimana rumusan program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik untuk mengembangkan konsep diri peserta didik SMPLB X Tahun Pelajaran 2012/2013 yang layak menurut pakar dan praktisi bimbingan dan konseling? 4) bagaimana gambaran efektivitas program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan

pendekatan humanistik untuk mengembangkan konsep diri peserta didik SMPLB X Tahun Pelajaran 2012/2013?

C. Penjelasan Istilah

Dalam rumusan permasalahan di atas terdapat dua istilah, yaitu konsep diri dan bimbingan pribadi-sosial. Berikut ini adalah uraian penjelasan istilah tersebut. 1) Konsep Diri

(20)

Menurut Hurlock (1993: 234) konsep diri diartikan sebagai gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya. Konsep diri ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki individu tentang mereka sendiri yang meliputi karasteristik fisik, emosional, psikologis sosial, aspirasi dan prestasi. Berdasarkan pendapat Hurlock, keyakinan terhadap apa yang menjadi karakteristik individu tidak seharusnya didapatkan dari orang lain sebagai pemberi informasi. Individu dapat menggali dan mengolahnya sendiri menjadi sebuah kepribadian yang khas.

Menurut Carl Rogers (Alwisol, 2004:338) konsep diri diartikan sebagai: (a) persepsi, keyakinan, perasaan/sikap seseorang tentang dirinya sendiri; (b) kualitas pensifatan individu tentang dirinya sendiri dan pandangan orang lain tentang dirinya sendiri; (c) suatu sistem pemaknaan individu tentang dirinya sendiri dan pandangan orang lain tentang dirinya.

(21)

Menurut Atwater (Desmita, 2010:163) konsep diri adalah keseluruhan gambaran diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang diri, perasaan, keyakinan dan nilai-nilai yang berhubungan dengan dirinya. Atwater mengidentifikasikan konsep diri atas tiga bentuk, pertama, body image yaitu kesadaran tentang tubuhnya; kedua, ideal self, yaitu bagaimana cita-cita dan harapan-harapan seseorang mengenai dirinya; ketiga, social self, yaitu bagaimana orang lain melihat dirinya.

(22)

Istilah konsep diri dalam penelitian ini adalah cara pandang individu terhadap gambaran pribadinya saat ini, meliputi aspek kognitif dan afektif. Aspek kognitif meliputi pengetahuan diri terkait kondisi fisik, penjabaran identitas diri terkait kepribadian, pemahaman kelebihan dan kelemahan diri, pertimbangan konsekuensi pilihan-pilihan, pemaknaan terhadap pengalaman, kesadaran akan perilaku diri dan orang lain. Aspek afektif meliputi dorongan-dorongan, perasaan subjektif individu terhadap diri, penghargaan terhadap diri dan orang lain, sikap percaya diri dan keyakinan terhadap nilai dan norma yang berlaku.

2) Bimbingan Pribadi-Sosial

Menurut Winkel (2006:118) bimbingan pribadi-sosial berarti bimbingan yang diberikan kepada konseli oleh konselor dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri dan mengatasi berbagai pergumulan dalam batinnya sendiri di bidang kerohanian, perawatan jasmani, pengisian waktu luang, penyaluran nafsu seksual dan sebagainya, serta bimbingan dalam membina hubungan kemanusiaan dengan sesama di berbagai lingkungan (pergaulan sosial).

Menurut Rochman Natawidjaja (Yusuf, 2010:40) bimbingan pribadi-sosial diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada individu (konseli) yang dilakukan secara berkesinambungan oleh konselor, supaya individu dapat memahami dirinya sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat dan kehidupan pada umumnya.

(23)

memecahkan masalah-masalah pribadi-sosial. Yang tergolong dalam permasalahan pribadi-sosial adalah masalah hubungan dengan sesama teman, pemahaman sifat dan kemampuan diri, penyesuaian diri dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat tempat mereka tinggal dan penyelesaian konflik.

Berdasarkan uraian di atas bimbingan pribadi-sosial dapat diartikan sebagai proses bantuan kepada individu (konseli) yang dilakukan oleh tenaga ahli (konselor) untuk membantu individu (konseli) memecahkan masalah-masalah pribadi-sosial, yang mengarah pada pencapaian pribadi yang seimbang dengan memperhatikan keunikan karakteristik pribadi, serta ragam permasalahan yang dialami oleh individu (konseli). Bimbingan pribadi-sosial diberikan dengan cara menciptakan lingkungan yang kondusif, interaksi pendidikan yang akrab, mengembangkan pemahaman diri dan sikap-sikap yang positif serta keterampilan-keterampilan sosial yang tepat.

Pendekatan humanistik menurut Rochman Natawidjaja (Supriatna, 2010:56) memiliki pandangan yang menghargai pemahaman pengalaman subjektif individu dan mementingkan aspek pertumbuhan dan perkembangan pribadi untuk mencapai kesejahteraan psikologis. Kesejahteraan psikologis tersebut sangat tergantung pada konsep diri yang sehat. Perkembangan konsep diri yang sehat akan tercapai jika seseorang memperoleh penghargaan positif atau cinta tanpa syarat.

(24)

pada pribadi yang mengalami; 2) menekankan pada kualitas-kualitas yang khas manusia, seperti memilih, kreativitas, menilai dan realisasi diri sebagai lawan dari pemikiran tentang manusia yang mekanistik dan reduksionistik; 3) dalam memilih masalah-masalah yang dipelajari dan prosedur penelitian yang dipergunakan bersandar pada kebermaknaan serta menentang penekanan yang berlebihan pada objektivitas yang mengorbankan signifikansi; dan 4) memberikan perhatian penuh dan meletakkan nilai yang tinggi pada kemuliaan martabat manusia, serta tertarik pada perkembangan potensi yang melekat pada setiap individu. Artinya, individu dipandang dapat menemukan dirinya sendiri dalam hubungannya dengan individu-individu lain dan dengan kelompok-kelompok sosial.

Pendekatan humanistik Rogers memiliki pandangan dasar tentang manusia, yaitu bahwa pada dasarnya manusia itu bersifat positif, makhluk yang optimis, penuh harapan, aktif, bertanggung jawab, memiliki potensi kreatif, bebas (tidak terikat oleh belenggu masa lalu), dan berorientasi ke masa yang akan datang dan selalu berusaha untuk melakukan self fullfillment (memenuhi kebutuhan dirinya sendiri untuk bisa beraktualisasi diri). Filosofi tentang manusia tersebut berimplikasi dan menjadi dasar pemikiran dalam praktek pendekatan humanistik Rogers atau disebut terapi person centered (PCT). Menurut Roger konsep inti PCT adalah konsep tentang diri dan konsep menjadi diri atau pertumbuhan perwujudan diri.

(25)

membina hubungan sosial di berbagai lingkungan atau pergaulan sosial, serta bertujuan untuk mencapai perkembangan diri khususnya pengembangan konsep diri individu dengan menggunakan pendekatan humanistik dari Rogers melalui metode yang mengandung aktivitas dialogis, reflektif dan ekspresif, sebagaimana dipergunakan dalam proses pendidikan yang humanis. Adapun struktur program sebagai berikut.

1. Orientasi program yaitu landasan pembuatan program bimbingan yang mengacu pada teori Rogers sebagai pedoman utama.

2. Rasional dan asumsi program menjelaskan mengenai pandangan Rogers terhadap manusia khususnya dalam mengembangkan konsep diri peserta didik.

3. Tujuan program yaitu menerapkan pendekatan humanistik dari Rogers untuk mengembangkan konsep diri peserta didik.

4. Peran konselor yaitu menjabarkan tugas-tugas konselor dalam melaksanakan program pribadi-sosial dari mulai persiapan, pelaksanaan dan evaluasi program. 5. Kompetensi konselor yaitu menjelaskan kemampuan-kemampuan konselor

dalam melaksanakan program bimbingan pribadi-sosial dalam penelitian ini. 6. Struktur dan tahapan program yaitu menjelaskan dengan rinci tahapan, tujuan,

deskripsi kegiatan, dan sistem penunjang pelaksanaan program. 7. Evaluasi program yaitu mencakup evaluasi proses dan hasil.

(26)

D.Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik untuk mengembangkan konsep diri peserta didik. Secara khusus penelitian ini ditujukan untuk menemukanfakta empirik tentang:

1) profil umum konsep diri peserta didik SMPLB X Tahun Pelajaran 2012/2013; 2) kondisi awal profil konsep diri subjek penelitian;

3) rumusan program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik untuk mengembangkan konsep diri peserta didik SMPLB X Tahun Pelajaran 2012/2013 yang layak menurut pakar dan praktisi bimbingan dan konseling; 4) keefektifan program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan

humanistik untuk mengembangkan konsep diri peserta didik SMPLB X Tahun Pelajaran 2012/2013.

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian dapat bermanfaat bagi konselor sekolah dan peneliti selanjutnya. 1) Bagi guru bimbingan dan konseling/konselor sekolah

Hasil penelitian dapat digunakan sebagai dasar bagi konselor untuk mengembangkan konsep diri peserta didik khususnya peserta didik tunanetra satuan pendidikan SMP.

2) Bagi peneliti selanjutnya

(27)

F. Asumsi Penelitian

Penelitian dan pengembangan program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik untuk mengembangkan konsep diri peserta didik SMPLB X didasarkan atas asumsi-asumsi sebagai berikut.

1) Bimbingan pribadi-sosial diarahkan untuk memantapkan kepribadian dan mengembangkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah dirinya. Bimbingan ini merupakan layanan yang mengarah pada pencapaian pribadi yang seimbang dengan memperhatikan keunikan karakteristik pribadi serta ragam permasalahan yang dialami individu (Syamsu, 2010).

2) Pendekatan humanistik memberikan perhatian penuh dan meletakkan nilai yang tinggi pada kemuliaan martabat manusia, serta tertarik pada perkembangan potensi yang melekat pada setiap individu. Artinya, individu dipandang dapat menemukan dirinya sendiri dalam hubungannya dengan individu-individu lain dan dengan kelompok-kelompok sosial (Misiak dan Sexton dalam Supriatna, 2010:56).

3) Pendekatan person centered therapy lebih menekankan nilai-nilai positif individu, lebih memfokuskan perhatian pada kekuatan dan kemampuannya

daripada kekurangan dan kesulitannya. Disamping itu, konsep “unconditional

positive regard” besar artinya untuk mempromosikan penerimaan diri (self acceptance) dan mempertinggi rasa harga diri (self esteem). Selain itu,

(28)

G. Metodologi Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode penelitian eksperimen kuasi, dengan desain kelompok kontrol yang non-ekuivalen (nonequivalent control group design). Desain penelitian nonequivalent pretest-posttest control group design,

(29)

H.Kerangka Penelitian

Bagan 1.1

Kerangka Penelitian Bimbingan Pribadi-Sosial untuk Mengembangkan Konsep Diri Peserta Didik berdasarkan Pendekatan Humanistik

(30)

METODE PENELITIAN

Bab ini membahas tentang pendekatan dan desain penelitian, lokasi penelitian, populasi dan sampel penelitian, definisi operasional variabel, instrumen penelitian, proses pengembangan instrumen, rancangan program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik, teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan langkah-langkah penelitian.

A. Pendekatan, Metode dan Desain Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif adalah penelitian yang banyak menggunakan angka-angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data serta penampilan dari hasilnya (Arikunto, 2006:12). Sedangkan menurut Azwar penelitian dengan pendekatan kuantitatif menekankan analisisnya pada data-data numerical (angka) yang diolah dengan metode statistika. Pada dasarnya, pendekatan kuantitatif dilakukan pada penelitian inferensial (dalam rangka pengujian hipotesis). Dengan metode kuantitatif akan diperoleh signifikansi perbedaan kelompok atau signifikasi hubungan antar variabel yang diteliti (Azwar, 2007:5).

(31)

kelompok kontrol. Metode penelitian eksperimen kuasi (quasi experiment) mirip dengan metode eksperimen namun lebih fleksibel karena tidak menggunakan random assigment (Hepner et al., 2008:176). Penelitian eksperimen semu,

dilakukan untuk menguji hipotesis tentang ada tidaknya pengaruh suatu perlakuan bila dibandingkan dengan perlakuan lain dengan pengontrolan variabelnya sesuai dengan kondisi yang ada (situasional).

Alasan peneliti menggunakan metode penelitian quasi experiment adalah karena (1) sampel penelitian yang digunakan melalui teknik sampel purposive yaitu pemilihan sampel dilakukan tidak secara random; (2) peneliti tidak mungkin menempatkan subjek penelitian dalam situasi laboratorik murni yang sama sekali bebas dari pengaruh lingkungan sosial selama diberikan perlakuan eksperimental. Penelitian ini menggunakan eksperimen kuasi dengan desain kelompok kontrol yang non-ekuivalen (Nonequivalent Control Group Design). Desain penelitian nonequivalent pretest-posttest control group design, yaitu jenis desain yang biasanya dipakai pada eksperimen yang menggunakan kelas-kelas yang sudah ada sebagai kelompoknya, dengan memilih kelas-kelas yang diperkirakan sama keadaan atau kondisinya. Dalam desain ini terdapat dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

(32)

kelompok kontrol. Alasan peneliti menggunakan desain ini adalah sebagai manipulasi, dimana peneliti menjadikan variabel bebas untuk menjadi sesuai dengan apa yang diinginkan oleh peneliti, sehingga variabel lain dipakai sebagai pembanding yang bisa membedakan antara kelompok yang memperoleh perlakuan/manipulasi dengan kelompok yang tidak memperoleh perlakuan/manipulasi (kelompok yang memperoleh perlakuan konvensional).

Adapun desain penelitiannya mengadaptasi dari Sugiono (2010:112), digambarkan sebagai berikut.

Tabel 3.1 Desain Penelitian

KELAS Pre Test Perlakuan Post Test

Eksperimen O1 X O2

Kontrol O3 - O4

Keterangan: X =

O1 =

O2 =

Perlakuan dengan program bimbingan pribadi-sosial dengan menggunakan pendekatan humanistik terhadap pengembangan konsep diri

Pengungkapan awal kondisi konsep diri peserta didik kelas eksperimen dengan menggunakan instrumen konsep diri peserta didik

Pengungkapan akhir kondisi konsep diri peserta didik kelas eksperimen dengan menggunakan instrumen konsep diri peserta didik

O3 =

O4 =

Pengungkapan awal kondisi konsep diri peserta didik kelas kontrol dengan menggunakan instrumen konsep diri peserta didik

(33)

1. Lokasi

Tempat atau lokasi penelitian di SLBN A Kota Bandung bertempat di Jl. Padjajaran Kota Bandung Provinsi Jawa Barat yang selanjutnya disebut SMPLB X. Alasan dipilihnya sekolah tersebut sebagai tempat penelitian dikarenakan mudah dalam hal pengawasan karena sekolah tersebut terletak di pusat kota Bandung. Sekolah ini dapat dikatakan sebagai sekolah pemula di kota Bandung yang menerima peserta didik tunanetra selain itu sekolah ini terakreditasi A di kota Bandung. Jumlah peserta didik SMPLB tunanetra yang mengikuti pendidikan di sekolah ini relatif banyak dibandingkan di SLBN A lainnya.

2. Populasi

Populasi penelitian ini adalah peserta didik SMPLB. Jumlah populasi penelitian sebanyak 23 orang. Karakteristik populasi penelitian, yaitu a) peserta didik SMPLB; b) berusia 13 sampai dengan 21 tahun; c) pria dan wanita; d) jenis ketunaan adalah tunanetra tanpa memiliki ketunaan ganda. Adapun hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan populasi adalah sebagai berikut.

a) Peserta didik SMPLB berada dalam rentang usia remaja, yaitu berkisar antara 13-21 tahun yang merupakan periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif dan sosio-emosional.

(34)

tanda ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri (Santrock, 2003:333)

c) Peserta didik SMPLB mendapatkan perlakuan konvensional berupa layanan bimbingan dan konseling secara rutin oleh guru pembimbing di sekolah, sehingga peneliti mencoba membandingkan perlakuan konvensional tersebut dengan perlakuan yang peneliti berikan sesuai dengan rancangan penelitian yang dibuat peneliti.

3. Sampel

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi yang akan diteliti. Subjek yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah peserta didik SMPLB X Tahun Pelajaran 2012/2013 yang teridentifikasi memiliki konsep diri tidak kongruen, berdasarkan hasil perhitungan dari penyebaran instrumen konsep diri. Penelitian ini menggunakan metode quasi experiment dengan teknik yang digunakan purposive sampling, yaitu teknik

penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiono, 2010:124).

Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling ditentukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

a) Menyebarkan instrumen konsep diri peserta didik terhadap 23 orang peserta didik SMPLB X

(35)

menjadi dua kelompok, yaitu 7 peserta didik untuk kelompok eksperimen dan 7 peserta didik untuk kelompok kontrol.

Langkah pengambilan sampel tersebut dimaksud agar dapat menyaring peserta didik yang memiliki kategori konsep diri tidak kongruen kemudian dikelompokan dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

C. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel

1. Variabel Penelitian

Dalam penelitian terdapat dua variabel yaitu konsep diri peserta didik dan program bimbingan pribadi-sosial, yaitu.

a) Variabel bebas (X) adalah variabel yang memengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Dalam penelitian ini yang dijadikan sebagai variabel bebas adalah program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik

b) Variabel terikat (Y) adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi sebab akibat. Dalam penelitian ini yang dijadikan sebagai variabel terikat adalah konsep diri .

Hubungan antara kedua variabel tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.

2. Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik dan konsep diri.

a) Bimbingan Pribadi-Sosial

(36)

bimbingan pribadi-sosial merupakan bimbingan untuk membantu para individu dalam memecahkan masalah-masalah pribadi-sosial. Permasalahan yang bersifat pribadi-sosial adalah masalah hubungan dengan sesama teman, pemahaman sifat dan kemampuan diri, penyesuaian diri dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat tempat mereka tinggal dan penyelesaian konflik.

(37)

hubungan sosial di berbagai lingkungan atau pergaulan sosial, serta bertujuan untuk mencapai perkembangan diri khususnya pengembangan konsep diri peserta didik dengan menekankan nilai-nilai positif individu, lebih memfokuskan perhatian pada kekuatan dan kemampuannya daripada kekurangan dan kesulitannya serta

menerapkan konsep “unconditional positive regard”.

b) Konsep Diri

Menurut Burn (1993:87) konsep diri yaitu konseptualisasi individu mengenai pribadinya sendiri, dipandang sebagai seseorang yang diinvestasikan dengan konotasi-konotasi emosional yang potensial dan evaluatif karena keyakinan-keyakinan subyektif dan pengetahuan faktual yang dianggap berasal dari diri individu yang bersifat pribadi dalam berbagai tingkatan, intens dan sentral terhadap keunikan identitasnya.

Menurut Carl Rogers (Alwisol, 2004:338) terkait konsep diri diartikan sebagai: (a) persepsi, keyakinan, perasaan/sikap seseorang tentang dirinya sendiri; (b) kualitas pensifatan individu tentang dirinya sendiri dan pandangan orang lain tentang dirinya sendiri; (c) suatu sistem pemaknaan individu tentang dirinya sendiri dan pandangan orang lain tentang dirinya.

(38)

kehidupan individu.

Menurut Rogers (Prabawa, 2009:10) konsep diri tidak hanya terdiri dari persepsi tentang apa yang individu sukai, tetapi juga apa yang individu fikirkan tentang apa yang seharusnya individu lakukan dan ingin menjadi seperti apa diri individu. Keadaan diri individu saat ini disebut real self, sementara ideal self adalah keadaan diri individu yang ingin dilihat oleh individu itu sendiri atau apa yang ingin dicapai oleh individu tersebut.

Menurut Atwater (Desmita, 2010:163) konsep diri adalah keseluruhan gambaran diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang diri, perasaan, keyakinan dan nilai-nilai yang berhubungan dengan dirinya. Atwater mengidentifikasikan konsep diri atas tiga bentuk, pertama, body image yaitu kesadaran tentang tubuhnya; kedua, ideal self, yaitu bagaimana cita-cita dan harapan-harapan seseorang mengenai dirinya; ketiga, social self, yaitu bagaimana orang lain melihat dirinya.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka dapat disimpulkan konsep diri merupakan cara pandang individu terhadap gambaran pribadinya yang merupakan hasil penggabungan dari persepsi mengenai karakteristik diri pada saat ini (real self) dan persepsi mengenai diri terhadap orang lain dan kehidupan sehingga

(39)

meliputi dorongan-dorongan, perasaan subjektif individu tetrhadap diri, penghargaan terhadap diri dan orang lain, keterlibatan dalam sebuah komunitas dan taat pada norma yang berlaku. Aspek psikomotorik meliputi interaksi dengan lingkungan sosial, kemampuan berbahasa dan mengelola emosi. Selanjutnya konsep diri mempresentasikan pola persepsi yang terorganisasi dan kosisten. Walaupun diri berubah, diri akan selalu memiliki kualitas pola, integrasi dan organisasi yang sama.

Secara operasional konsep diri yang diungkap dalam penelitian ini dibatasi pada real self sedangkan aspek dalam penelitian ini dibatasi pada aspek kognitif dan afektif. Indikator yang terdapat dalam aspek kognitif dan afektif tidak semua digunakan. Secara operasional konsep diri dalam penelitian ini adalah cara pandang peserta didik SMPLB X Tahun Pelajaran 2012/2013 terhadap gambaran pribadinya pada saat ini, meliputi aspek kognitif dan afektif. Indikator-indikator dari aspek tersebut yaitu sebagai berikut.

a. Kognitif

1) Mengetahui kondisi fisik

2) Menjabarkan identitas diri terkait kepribadian 3) Mengenal kemampuan dan ketidakmampuan diri

4) Mempelajari cara-cara pengambilan keputusan dan pemecahan masalah 5) Memaknai pengalaman

b. Afektif

(40)

3) Meyakini nilai-nilai moral

D. Pengembangan Instrumen Penelitian

Berdasarkan jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini maka dikembangkan alat pengumpul data yaitu skala konsep diri, digunakan untuk memperoleh gambaran tentang konsep diri peserta didik sebelum dan sesudah mengikuti proses bimbingan pribadi-sosial.

1. Kisi-kisi Instrumen Penelitian

Instrumen konsep diri peserta didik dikembangkan dari definisi operasional variabel. Instrumen ini berisi pernyataan-pernyataan tentang konsep diri merujuk pada aspek kognitif dan afektif berdasarkan konsep yang dikembangkan oleh Rogers. Instrumen disusun berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat sehingga menghasilkan item-item pernyataan dan kemungkinan jawabannya. Instrumen digunakan untuk mengukur konsep diri peserta didik. Angket menggunakan format rating scale (skala penilaian) model Likert . Adapun kisi-kisi instrumen disajikan dalam tabel 3.2 berikut ini dan instrumen secara lengkap terlampir dalam lampiran.

Tabel 3.2

Kisi-kisi Instrumen Konsep Diri Peserta Didik

ASPEK INDIKATOR No. Item Jml

a. Mengetahui kondisi fisik 1,2,3,4,5,6,7,8 8 b. Menjabarkan identitas diri

(41)

2. Penimbangan Instrumen (Expert Judgment) dan Uji Keterbacaan

Instrumen

Penimbangan instrumen dilakukan untuk memperoleh item-item yang valid yang dapat mengukur permasalahan konsep diri peserta didik. Instrumen penelitian ditimbang oleh tiga orang pakar untuk dikaji dan ditelaah dari segi isi, redaksi kalimat, serta kesesuaian item dengan aspek-aspek yang akan diungkap (apakah item layak digunakan untuk mengungkapkan atribut yang dikehendaki oleh peneliti sebagai perancang instrumen).

Ketiga penimbang tersebut adalah Dr. Mubiar Agustin, M.Pd., yang merupakan pakar dalam bimbingan dan konseling, Dr. Nurhuda, M.Pd., yang merupakan pakar dalam testing psikologis dan konstruksi tes serta Dr. Jaja Raharja, M.Pd., yang merupakan pakar dalam bidang pendidikan luar biasa khususnya ketunanetraan.

Penimbangan perlu dilakukan guna mendapatkan angket yang sesuai dengan kebutuhan peneliti. Bila terdapat butir pernyataan yang tidak sesuai, maka

ketidakmampuan diri 5,36,37

a. Menghargai diri dan orang lain 50,51,52,53,54,55,56,5 7,58,59,60,61,62,63,64

c. Meyakini nilai-nilai moral 95,96,97,98,99 5

(42)

disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan penelitian. Hasil penilaian dosen penimbang, pada angket penelitian ini mengalami revisi bahasa dan sejumlah 9 item dibuang karena tidak memenuhi kualifikasi, sehingga jumlah item pada angket yang akan diujicobakan sebanyak 99 item.

Instrumen yang telah memperoleh penilaian dari ketiga pakar kemudian direvisi sesuai dengan saran dan masukan dari para penimbang tersebut. Setelah itu instrumen yang telah direvisi, kemudian dilakukan uji keterbacaan oleh lima responden untuk mengetahui apakah setiap item dapat dan mudah dipahami oleh responden. 3. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen

a. Uji Validitas

Instrumen ini diujicobakan terhadap 5 orang peserta didik SMPLB di SLBN A Citeurep dan 5 orang di SLBN A Kota Bandung, dimaksudkan untuk mengetahui ketepatan/kesahihan (validity) dan keterandalan (reliability) alat ukur yang telah disusun dan akan digunakan penelitian

Uji validitas instrumen dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan software Microsoft Excel 2007 dan software SPSS version 17.0 for Windows.

(43)

 

rxy = Koefesien indek korelasi product moment N = Jumlah Subyek

ΣX = Jumlah skror total variable X

ΣY = Jumlah skor total variable Y

ΣX2

= Jumlah kuadrat skor variable X

ΣY2

= Jumlah kuadrat skor variable Y (Arikunto, 2006 : 170)

Setelah mendapatkan r hitung, kemudian untuk menguji nilai signifikansi validitas butir soal tersebut, digunakan uji t yaitu dengan menggunakan rumus berikut.

t

Keterangan:

r = Nilai Koefesien Korelasi N = Jumlah sampel

Dasar pengambilan keputusan, yaitu sebagai berikut.

Jika r positif, serta r 0.30 maka item pertanyaan tersebut valid. Jika r negatif, serta r 0.30 maka item pertanyaan tersebut tidak valid.

Perhitungan validitas dengan menggunakan rumus koofesien korelasi product moment dilakukan dengan bantuan Software SPSS. Di antara sejumlah 99

(44)

Hasil Uji Validitas Instrumen

KESIMPULAN ITEM JUMLAH

Memadai 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 22. 23, 24, 25, 26, 38, 29, 31, 32, 33, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64, 66, 67, 68, 69 70, 71, 72, 73, 74, 75, 76, 77, 78, 79, 80, 81, 82, 83, 85, 86, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 94, 95, 96, 99, 100, 103, 104, 107, 108

85

Buang 1,11,12,14,23,24,30,31,36,42,43,45,58,62 14 b. Uji Reliabilitas

Pengujian reliabilitas instrumen bertujuan untuk melihat tingkat keterandalan atau kemantapan sebuah instrumen (level of consistency) penelitian atau dengan kata lain sejauh mana instrumen mampu menghasilkan skor-skor secara konsistens (Rakhmat dan Solehudin, 2006:70). Reliabilitas instrumen merupakan penunjuk sejauh mana hasil pengukuran dengan menggunakan instrumen tersebut dapat dipercaya. Reliabilitas intrumen ditunjukkan sebagai derajat keajegan (konsistensi) skor yang diperoleh oleh subjek penelitian dengan instrumen yang sama dalam kondisi yang berbeda. Derajat konsistensi diperoleh sebagai proporsi varians skor perolehan subjek. Dalam hal ini, skor perolehan terdiri dari skor murni dan skor kekeliruan galat pengukuran. Oleh karena itu, reliabilitas instrumen secara operasional dinyatakan sebagai koefisien korelasi (r) (Suryabrata, 1999:41).

Hasil uji reliabilitas pada instrumen konsep diri dengan menggunakan software SPSS version 17.0 for Windows diperoleh koefisien Alpha Cronbach

(45)

Pedoman Interpretasi Koefisien Korelasi

Berdasarkan hasil koefisien Alpha Cronbach yang diperoleh (α = 0, 989) dan mengacu pada titik tolak ukur pada Tabel 3.4, maka dapat disimpulkan bahwa instrumen konsep diri peserta diri memiliki tingkat reliabilitas sangat tinggi. E. Pengembangan Program Bimbingan Pribadi-Sosial berdasarkan

Pendekatan Humanistik

Pengembangan produk merupakan salah satu tahapan yang harus dilakukan dalam sebuah penelitian yang menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan. Adapun tahapan dalam pengembangan produk yang berupa program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Penyusunan Draf Program

Setelah memperoleh landasan teoretis mengenai konsep diri dan kondisi awal konsep diri, maka kegiatan berikutnya dalam pengembangan program adalah menyusun draf program berisi pedoman umum operasional program yang meliputi: (1) orientasi program; (2) rasional dan asumsi; (3) tujuan program; (4) peran konselor; (5) kompetensi konselor; (6) penunjang teknis layanan; (7) struktur dan tahapan program, (8) refleksi dan indikator keberhasilan.

Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,00 ─ 0,199

0,20 ─ 0, 399 0,40 ─ 0,599 0,60 ─ 0, 799 0,80 ─ 1, 000

(46)

Uji rasional dalam penelitian ini melalui dua jenis pengujian yaitu: uji validitas isi program dan uji empiris.

a. Uji Validitas Isi Program

Uji validitas isi program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik pada penelitian ini menggunakan pendekatan humanistik yang diberikan oleh lima orang pakar/ahli Bimbingan dan Konseling yaitu Dr. Mubiar Agustin, M. Pd., Dr. Ipah Saripah, M. Pd., Dr. Jaja R, M.Ed., Dr. Ehan, M.Pd., dan Agus Sensus, M.Pd.

b. Uji Empiris

Uji empiris dilakukan melalui uji keterbacaan dan uji kepraktisan program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik dalam mengembangkan konsep diri dengan teknik group discussion dari para praktisi bimbingan dan konseling. dalam penelitian ini uji kepraktisan dilakukan oleh Guru BK yaitu Tri Bagio, M.Pd.

3. Hasil Uji Program Hipotetik Bimbingan Pribadi-Sosial berdasarkan

Pendekatan Humanistik untuk Mengembangkan Konsep Diri Peserta

Didik SMPLB X

(47)

dan afektif.

Program bimbingan pribadi-sosial yang dikembangkan dijabarkan dari konsep pendekatan humanistik, artinya secara umum konten dari layanan bimbingan pribadi-sosial yang harus dikembangkan peserta didik adalah konsep diri dengan bernuansa humanistik. Pengembangan program dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu.

Tahap pertama, penyusunan draf program bimbingan pribadi-sosial

untuk mengembangkan konsep diri peserta didik. Sistematika program yang dikembangkan meliputi: (1) orientasi program; (2) rasional dan asumsi; (3) tujuan program; (4) peran konselor; (5) kompetensi konselor; (6) penunjang teknis layanan; (7) struktur dan tahapan program, (8) refleksi dan indikator keberhasilan.

Tahap kedua, uji validasi rasional yang terdiri dari uji validasi isi

program dan uji empiris atau uji kepraktisan. Uji validasi isi program ditimbang oleh lima orang pakar/ahli Bimbingan dan Konseling yaitu Dr. Mubiar Agustin, M. Pd., Dr. Ipah Saripah, M. Pd., Dr. Jaja R, M.Ed., Dr. Ehan, M.Pd dan Agus Sensus, M.Pd.

Adapun masukan yang diperoleh dari pakar dan praktisi yang melakukan judgement terhadap program ini dipaparkan sebagai berikut.

Tabel 3.5

Hasil Penimbangan Pakar dan Praktisi Terhadap Layanan Bimbingan Pribadi-Sosial berdasarkan Pendekatan Humanistik

ASPEK LAYANAN HASIL PENIMBANGAN PAKAR

(48)

teori dalam orientasi program dan belum terlihatnya definisi program bimbingan pribadi-sosial dan relevansi antara program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik dengan konsep diri. Tindak lanjut masukan tersebut dilakukan revisi yang sesuai dengan yang disarankan.

Rasional dan Asumsi Program

Rasional dan asumsi program merupakan landasan teoritis maupun empiris sebagai need assessment yang dijadikan dasar dalam pembuatan program. Hasil pertimbangan pakar menyatakan bahwa rasional dan asumsi program memadai, namun ada beberapa saran yang menjadi masukan yaitu terlalu banyak teori yang dicantumkan sehingga peneliti menindak lanjutinya dengan mengurangi landasan teori sesuai dengan yang disarankan penimbang. Selain itu saran yang diberikan dengan mendeskripsikan profil konsep diri peserta didik. Tujuan Tujuan program merupakan gambaran hasil yang

diharapkan setelah peserta didik mengikuti layanan. Berdasarkan hasil penimbangan pakar terhadap tujuan program dinilai memadai, sedangkan dua pakar memberi nilai sangat memadai. Saran dan komentar yang diberikan adalah perlunya diklasifikasikan dalam tujuan umum dan tujuan khusus program, dan perlunya disesuaikan dengan need assesment.

Peran Konselor Peran konselor adalah kemampuan dasar yang perlu dimiliki konselor untuk melaksanakan layanan. Hasil penimbangan pakar diketahui tiga pakar menyatakan sangat memadai dan dua pakar lain menyatakan memadai. Masukan yang diberikan adalah perlu dijelaskan dengan bahasa yang lebih deskriptif dan operasional. Tindak lanjut masukan tersebut dilakukan revisi yang sesuai dengan yang disarankan.

Kompetensi Konselor Kemampuan konselor dalam melaksanakan program bimbingan pribadi-sosial untuk mengembangkan konsep diri peserta didik. Berdasarkan kelima pakar menilai kompetensi konselor memadai dan masukan yang diberikan adalah perlu dijelaskan dengan bahasa yang lebih deskriptif dan operasional. Tindak lanjut terhadap masukan tersebut dilakukan dilakukan revisi yang sesuai dengan yang disarankan.

Penunjang Teknis Layanan

(49)

Struktur dan Tahapan Layanan

Struktur dan tahapan berisi gambaran singkat langkah kerja dan aktivitas yang ada dalam setiap layanan. Hasil penimbangan menurut lima pakar menunjukkan struktur dan tahapan dianggap memadai. Setiap tahapan dalam dianggap sudah mengakomodir dalam pencapaian tujuan program. Masukan yang diberikan adalalah perlu ditambah pengembangan tema dan materi program pada setiap tahapan.

Refleksi Layanan dan Indikator

Keberhasilan

Refleksi layanan dinilai oleh pakar sudah memadai. Masukan yang diberikan adalah perlu disertakan format lampiran refleksi. Tindak lanjut dari saran tersebut dilakukan dilakukan revisi yang sesuai dengan yang disarankan. Indikator keberhasilan dinilai oleh kelima orang pakar sudah memadai dan tidak ada masukan yang perlu diperbaiki.

F. Teknik Analisis Data

Penelitian menggunakan metode eksperimen kuasi yang menyajikan profil umum tentang konsep diri peserta didik dan efektivitas program bimbingan pribadi-sosial. Untuk uji efektivitas program, dibandingkan hasil skor rata-rata antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Mengacu pada kepentingan tersebut, penting diadakan analisis statistika untuk menjawab pertanyaan penelitian dan memperoleh data dalam bentuk angka.

1. Teknik Analisis Profil Umum Konsep Diri Peserta Didik

Teknik analisis pertama ditujukan untuk mengetahui gambaran umum konsep diri, alat yang digunakan berupa instrumen. Instrumen disusun berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat sehingga menghasilkan item-item pernyataan dan kemungkinan jawabannya. Instrumen digunakan untuk mengukur konsep diri peserta didik.

(50)

penskoran untuk mendapat skor angket konsep diri peserta didik dapat dilihat pada Tabel 3.6 berikut ini.

Tabel 3.6

Ketentuan Pemberian Skor Angket Konsep Diri Peserta Didik

Pernyataan Skor

SS S KS TS STS

Positif 5 4 3 2 1

Negatif 1 2 3 4 5

Tabel konversi skor setiap indikator untuk menentukan kategorisasi konsep diri peserta didik yang dimaknai sebagai profil umum konsep diri peserta didik, disajikan dalam tabel sebagai berikut.

Tabel 3.7

Konversi Skor Mentah Menjadi Skor Matang Dengan Batas Lulus Aktual

Skala Skor Mentah Kategori Skor Kategori Konsep Diri

X  + 0,25 s Tinggi Kongruen

X  + 0,25 s Rendah Tidak kongruen

(Rachmat dan Solehuddin, 2006) Penentuan konversi skor sebagai standardisasi dalam menafsirkan skor ditujukan untuk mengetahui makna skor yang dicapai individu dalam pendistribusian responsnya terhadap instrumen. Konversi skor disusun berdasarkan skor yang diperoleh subjek uji coba pada setiap aspek maupun skor total instrumen dengan jumlah kelas dua.

(51)

2) Menentukan Range (R) = nilai terbesar – nilai terkecil

3) Menghitung banyak kelas Ρ= 1 + 3,3 log n

4) Menghitung panjang kelas = range : banyak kelas ( )

5) Memasukan data peserta didik kedalam tabel frekuensi 6) Mencari rata-rata aktual dengan rumus

= + p

Keterangan:

= rata-rata terduga, yang dijadikan rata-rata terduga adalah titik tengah kelas interval yang terbanyak frekuensinya atau kelas interval yang berada di tengah-tengah p = panjang kelas interval

d = selisih titik tengah kelas interval dari dibagi p 7) Mencari simpangan dengan rumus

S = p

8) Mencari batas lulus (BL) = + 0,25 s

Berdasarkan perhitungan pada Tabel 3.7, maka kriteria konsep diri yang digunakan sebagai acuan dalam pengelompokan skor konsep diri peserta didik dapat dilihat pada Tabel 3.8 berikut ini.

Tabel 3.8

Kriteria Gambaran Umum Konsep Diri Peserta Didik

Kriteria Konsep Diri Rentang

Kongruen ≥ 248

(52)

didasarkan pada status konsep diri peserta didik.

Kongruen ≥ 248 Peserta didik mampu terbuka pada pengalaman, hidup pada masa kini, yaitu hidup dan menerima apa yang ada saat ini, mampu mempercayai dirinya, melakukan apa yang individu anggap benar, mengalami kebebasan yaitu perasaan bebas untuk memilih dan selalu bertanggungjawab dengan pilihan individu, mampu berkreativitas yaitu peduli pada sesama atau lebih ringkasnya selalu memberikan atau melakukan yang terbaik pada apapun yang individu lakukan. Tidak

kongruen

< 248 Peserta didik belum mampu terbuka pada pengalaman, belum menerima apa yang ada saat ini, belum mampu mempercayai dirinya, belum melakukan apa yang individu anggap benar, belum mengalami kebebasan yaitu perasaan bebas untuk memilih dan selalu bertanggungjawab dengan pilihan individu, belum mampu berkreativitas yaitu peduli pada sesama atau lebih ringkasnya tidak selalu memberikan atau melakukan yang terbaik pada apapun yang individu lakukan.

(53)

Diri

5. Memaknai pengalaman Kongruen ≥

Tidak kongruen < 26 Afektif

6. Menghargai diri dan orang lain Kongruen ≥ Tidak kongruen < 70

7. Sikap percaya diri Kongruen ≥

Tidak kongruen < 62 8. Meyakini nilai-nilai moral Kongruen ≥ 4

Tidak kongruen < 14 Hasil perolehan hitungan tersebut menghasilkan capaian indikator dan item yang dibutuhkan dalam membuat rumusan program, lebih spesifiknya dicantumkan dalam deskripsi kebutuhan program sebagai landasan dalam membuat program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan profil konsep diri peserta didik. Program bimbingan yang telah dirancang berdasarkan hasil perolehan tersebut, menjadi dasar pelaksanaan penelitian yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Status konsep diri peserta didik menjadi dua kategori, untuk membedakan peserta didik yang butuh diberikan perlakuan dalam hal ini adalah pelaksanaan program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik. Program yang dilaksanakan disebut dengan program hipotetik yang memerlukan pertimbangan dari pakar dan praktisi di bidang bimbingan dan konseling sebelum dilaksanakan.

2. Teknik Penentuan Sampel

Penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiono,

(54)

memiliki konsep diri tidak kongruen. Tujuan pengambilan sampel dengan teknik purposive adalah untuk digunakan dalam eksperimen program bimbingan pribadi-sosial.

3. Teknik Uji Efektivitas Program Bimbingan Pribadi-Sosial berdasarkan Profil Konsep Diri

Bentuk analisis data yang digunakan menjawab pertanyaan penelitian no 4 tentang keefektifan program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik yang efektif untuk mengembangkan konsep diri adalah dengan cara membandingkan data rata-rata perolehan skor onsep diri peserta didik sebelum mendapatkan bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik dengan data skor konsep diri peserta didik setelah memperoleh bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik.

(55)

a) Menguji normalitas data pretest dan posttest kedua kelompok. Pengujian normalitas data dilakukan dengan dengan statistik uji Z Kolmogrov-Smirnov (p>0,05) dengan menggunakan bantuan SPSS 17.0.

b) Menguji homogenitas varians data pretest dan posttest kedua kelompok (p>0,05) dengan bantuan SPSS 17.0.

c) Menguji perbedaan (efektivitas) program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik untuk mengembangkan konsep diri peserta didik menggunakan uji t independent (independent sample t test) dilakukan dengan tahapan sebagai berikut.

a. Hipotesis

H0 : µ eksperimen = µ kontrol

Tidak ada perbedaan rata-rata konsep diri peserta didik antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Maka program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik tidak efektif untuk mengembangkan konsep diri peserta didik.

H1 : µ eksperimen > µ kontrol

Terdapat perbedaan rata-rata konsep diri peserta didik antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Maka program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik efektif untuk mengembangkan konsep diri peserta didik.

b. Dasar pengambilan keputusan

Pengambilan keputusan dilakukan dengan dua cara, yaitu membandingkan nilai t hitung dengan t tabel atau dengan membandingkan nilai

probabilitas yang diperoleh dengan α=0,05.

(56)

t lainnya H0 ditolak.

Jika pengambilan keputusan berdasarkan angka probabilitas (nilai p), maka kriterianya adalah:

1) Jika nilai p < 0,05, maka H0 ditolak 2) Jika nilai p > 0,05, maka H0 diterima G. Tahapan Penelitian

Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: (1) tahap persiapan; (2) tahap pelaksanaan; dan (3) tahap pengolahan dan analisis data. Secara garis besar tahapan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Tahap Persiapan

a. Studi literatur berupa buku-buku yang membahas tentang konsep diri dan bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik.

b. Menentukan subjek penelitian.

c. Menyusun kisi-kisi dan instrumen penelitian berupa kuesioner konsep diri.

2. Tahap Pelaksanaan

a. Pelaksanaan tes untuk mengetahui profil umum konsep diri peserta didik untuk mengetahui sampel penelitian yang akan mendapatkan perlakuan bimbingan pribadi-sosial dan perlakuan konvensional

b. Pelaksanaan (pretest) untuk mengetahui data awal konsep diri peserta didik terhadap kelompok eksperimen sebelum dilaksanakan perlakuan c. Menyusun program hipotetik bimbingan pribadi-sosial berdasarkan

(57)

1) Menetapkan jadwal pelaksanaan bimbingan yang sesuai dengan hasil kesepakatan dengan peserta didik yang menjadi sampel penelitian pada kelompok eksperimen dan pertimbangan pihak sekolah.

2) Mengkondisikan kelompok yang sudah ditetapkan sebagai kelompok eksperimen, sehingga peserta didik mengetahui dengan baik kegiatan bimbingan yang akan diikuti.

3) Melaksanakan bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik kepada kelompok eksperimen yang dirancang 12 kali perlakuan/pertemuan bimbingan.

e. Observasi terhadap pelaksanaan bimbingan pada kelompok eksperimen untuk mengetahui apakah bimbingan pribadi-sosial efektif untuk mengembangkan konsep diri peserta didik.

f. Pelaksanaan tes akhir (posttest) untuk mengetahui efektivitas bimbingan pribadi-sosial pada kelompok eksperimen dan perlakuan konvensional pada kelompok kontrol.

3. Tahap Pengolahan Data dan Analisis Data

a. Mengolah skor tes awal, pretest dan tes akhir (posttest) konsep diri peserta didik. b. Melakukan uji persyaratan statistik (keefektifan) tes awal, pretest dan tes

(58)

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Penelitian tentang program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan pendekatan humanistik untuk mengembangkan konsep diri peserta didik dilakukan melalui pendekatan kuantitatif sehingga mengahasilkan kesimpulan dan rekomendasi yang diharapkan bagi guru bimbingan dan konseling/konselor di SMPLB X dan penelitian selanjutnya.

A. Kesimpulan

1. Profil konsep diri peserta didik SMPLB X Bandung Tahun Pelajaran 2012/2013 menunjukkan bahwa keadaan konsep diri peserta didik dalam kategori tidak kongruen, artinya bahwa peserta didik belum mengembangkan

cara pandang terhadap gambaran pribadinya yang merupakan hasil penggabungan dari persepsi mengenai karakteristik diri pada saat ini (real self) dan persepsi mengenai diri terhadap orang lain dan kehidupan sehingga

lebih memunculkan diri yang diinginkan dalam dirinya (ideal self) dalam kehidupan sehari-hari.

Gambar

Tabel 3.1 Desain Penelitian
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Konsep Diri Peserta Didik
Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Instrumen
Tabel 3.4 Pedoman Interpretasi Koefisien Korelasi
+5

Referensi

Dokumen terkait

(Yusuf &amp; Nurihsan 2008:16) Secara spesifik dengan menerapkan program bimbingan pribadi sosial menggunakan teknik assertive training dapat meningkatkan perilaku

LAYANAN BIMBINGAN PRIBADI SOSIAL UNTUK MENGEMBANGKAN RASA PERCAYA DIRI PESERTA DIDIK.. TUNAGRAHITA DI SLB C ADITYA GRAHITA

Program Bimbingan Pribadi Sosial untuk Mengembangkan Hubungan Interpersonal yang sudah divalidasi Judgment Program kepada tiga orang dosen ahli dari jurusan PPB

menganalisis efektifitas program bimbingan pribadi sosial berbasis kekuatan karakter untuk meningkatkan cinta altruis peserta didik dengan prosedur kuantitatif

Rumusan Program Bimbingan Pribadi-Sosial Berdasarkan Profil Harga Diri (Self-Esteem) Peserta Didik Kelas XI SMK- PPN Lembang Tahun Ajaran 2012-2013 yang Layak

Dan Hidayati &amp; Margono (2013) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif kecerdasan emosional terhadap keberhasilan akademik. Manusia lebih sering bertindak

Konseling behavioral dengan teknik model simbolis akan membantu peserta didik untuk mengembangkan konsep diri menjadi lebih positif dengan mengamati model yang ditampilkan

Guru BK di SMP Alam Karawang telah melaksanakan program bimbingan pribadi-sosial berdasarkan locus of control internal hal ini dapat terlihat dari berbagai topik yang diberikan