• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Status Gizi Anak Usia 6 - 12 Tahun di SD "X" Kota Bandung dan SD "Y" Kota Medan Dilihat dari Tinggi Badan dan Berat Badan Tahun 2015.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Gambaran Status Gizi Anak Usia 6 - 12 Tahun di SD "X" Kota Bandung dan SD "Y" Kota Medan Dilihat dari Tinggi Badan dan Berat Badan Tahun 2015."

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

iv ABSTRAK

GAMBARAN STATUS GIZI ANAK USIA 6 –12 TAHUN DI SD “X”

KOTA BANDUNG DAN SD “Y” KOTA MEDAN DILIHAT DARI TINGGI BADAN DAN BERAT BADAN TAHUN 2015

Priscillia Claudia, 2015

Pembimbing 1 : Grace Puspasari, dr., M.Gizi Pembimbing 2 : July Ivone, dr., MKK, MPd Ked

Latar belakang : Masalah kesehatan masyarakat yang sedang kita hadapi di Indonesia saat ini adalah beban ganda masalah gizi, yaitu gizi kurang dan gizi lebih. Status gizi anak usia sekolah (6 – 12 tahun) sangat penting diketahui karena pada usia ini anak berada pada masa petumbuhan yang sangat cepat dan aktif, sehingga status gizi akan sangat mempengaruhi pola pertumbuhan.

Tujuan : Untuk mengetahui gambaran status gizi anak usia sekolah di Kota Bandung dan Kota Medan.

Metode penelitian : Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif, dengan metode cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 524 anak usia 6 – 12 tahun siswa –siswi SD “X” Kota Bandung dan SD “Y” kota Medan. Teknik sampling dilakukan secara whole sampling. Data yang diukur adalah tinggi badan dan berat sampel, lalu diukur IMT (Indeks Massa Tubuh) nya dan ditentuka status gizinya dengan menggunakan z-score.

Hasil : Status gizi terbanyak di kedua SD adalah status gizi normal sebanyak 65,99% di SD “X” Kota Bandung dan 63,43% di SD “Y” Kota Medan. Status gizi lebih di kedua SD meningkat setelah memasuki usia pubertas dan status gizi kurang menurun setelah memasuki usia pubertas.

Simpulan : Gambaran status gizi terbanyak adalah status gizi normal. Dilihat dari perbandingan kedua SD, anak – anak dengan status gizi kurang lebih banyak ditemukan di Kota Bandung dan anak – anak dengan status gizi lebih cenderung lebih banyak di Kota Medan.

(2)

v ABSTRACT

REPRESENTATION OF NUTRITIONAL STATUS OF CHILDREN AGED 6 –12 YEARS OLD IN “X” ELEMENTARY SCHOOL BANDUNG AND “Y”

ELEMENTARY SCHOOL MEDAN COMPREHENDED FROM THE COMPARISON OF HEIGHT AND WEIGHT IN THE YEAR OF 2015 Priscillia Claudia, 2015

1st tutor : Grace Puspasari, dr., M.Gizi 2nd tutor : July Ivone, dr., MKK, MPd Ked

Background : Nowadays, Indonesia is facing a complex nutritional problem in which undernutrition and overnutrition problems are left undone. Nutritional status in school-aged children (6 – 12 years old) is very important due to the fact that children in this age are actively growing and nutrition can affect their growth pattern profoundly.

Aim : the primary goal of this research is to identify nutritional status in school-aged children in Bandung and Medan.

Research Method : The design used in this research was descriptive,using the method of cross-sectional survey. Sample used was children aged 6 – 12 years old, students of “X” elementary school Bandung and “Y” elementary school Medan taken by whole sampling method. The height and weight of each student were measured then the nutritional status was determined using Z-score deviation standard.

Result : Normal nutritional status was the one achieving utmost level in both school, measured 65.99% in “X” Elementary School and 63.43% in “Y” Elementary School . Amount of children with obesity, overweight, and possible rate of overweight upsurged in the after-puberty-group age and those with underweight problems lessen along with their entering puberty age.

Conclusion : most of the nutritional statuses are normal. If both schools are compared, children with underweight were found more in Bandung while those with overweight were found more in Medan.

(3)

viii DAFTAR ISI

JUDUL ... i

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

SURAT PERNYATAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

ABSTRACT ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang ... 1

1.2Identifikasi Masalah ... 2

1.3Maksud Dan Tujuan ... 2

1.3.1 Maksud ... 2

1.3.2 Tujuan ... 2

1.4Manfaat Karya Tulis Ilmiah ... 3

1.4.1 Kegunaan Akademis ... 3

1.4.2 Kegunaan Praktis ... 3

1.5Landasan Teori ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1Gizi Kesehatan Masyarakat ... 5

2.2Faktor – faktor Penyebab Masalah Gizi ... 6

2.3Kelainan Gizi ... 8

2.3.1 Gizi Lebih... 8

2.3.2 Gizi Kurang ... 8

(4)

ix

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN

3.1Alat / Bahan Yang Digunakan ... 15

3.2Lokasi Dan Waktu Penelitian ... 15

3.3Prosedur Penelitian... 15

3.4Rancangan Penelitian yang Dipilh ... 15

3.5Prosedur Pengambilan / Pemilihan Sampel dan Unit Analisis ... 16

3.6Sumber dan Teknik Pengumpulan Data ... 16

3.6.1 Prosedur Pengukuran Berat Badan... 16

3.6.2 Prosedur Pengukuran Tinggi Badan... 17

3.7Definisi Operasional... 18

3.8Pengolahan dan Analisis Data ... 19

3.9Aspek Etik Penelitian ... 19

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1Hasil Penelitian ... 20

BAB V 6.1Simpulan ... 24

6.2Saran ... 24

DAFTAR PUSTAKA ... 26

LAMPIRAN ... 28

(5)

x

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

[image:5.595.181.439.259.515.2]
(6)

xi

[image:6.595.177.436.261.516.2]

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Faktor – faktor Penyebab Masalah Gizi ... 7 2.2 Penilaian Status Gizi Berdasarkan Index BB/U, TB/U,

(7)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Data TB dan BB anak SD “X” Kota Bandung ... 28

Lampiran 2 Data TB dan BB anak SD “Y” Kota Medan ... 37

Lampiran 3 Alat – alat pengukuran ... 45

Lampiran 3 Informed Consent Form... 46

(8)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Di Indonesia, salah satu masalah kesehatan masyarakat yang sedang kita

hadapi saat ini adalah beban ganda masalah gizi. Fenomena beban ganda

adalah suatu keadaan saat masalah gizi buruk dan gizi kurang belum

terselesaikan, prevalensi gizi lebih justru ikut meningkat bahkan hampir

menyamai jumlah anak gizi kurang dan gizi buruk.

Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar 2013, sebanyak 11,2 persen dari

anak usia 6 – 12 tahun mengalami masalah gizi kurang, sedangkan 18,8 persen

mengalami masalah gizi berlebih. Dari penelitian yang dilakukan oleh

dr.Widodo Judarwanto yang dilakukan pada 254 anak SD di Ibukota dengan

usia 6 – 12 tahun (2000), didapatkan bahwa 27,5 persen anak-anak usia SD

mengalami obesitas (Riskesdas, 2013).

Gizi kurang pada anak usia sekolah dapat mempengaruhi kesehatan,

kebugaran, dan daya tangkap anak pada saat sekolah. Jika dibiarkan akan

berkontribusi terhadap menurunnya prestasi belajar anak. Salah satu penyebab

malnutrisi pada anak adalah kurangnya asupan energi dan protein (Yoga

Devaera, 2010). Sedangkan masalah gizi lebih seringkali disebabkan oleh

kemajuan ekonomi pada lapisan masyarakat menengah ke atas dan juga

kurangnya pengetahuan tentang gizi pada lapisan masyarakat menengah ke

bawah (Azrul,2004). Asupan energi yang berlebihan secara kronis akan

menimbulkan kenaikan berat badan, berat badan lebih (overweight) dan

obesitas.

Tingkat pendidikan orang tua juga dapat mempengaruhi pola asuh dan

akhirnya akan mempengaruhi status gizi anak. Menurut data dari Badan Pusat

Statistik Indonesia tahun 2013, tingkat pendidikan di kota Medan lebih tinggi

daripada di kota Bandung, dan hal ini akan berhubungan dengan status gizi

anak di kedua kota ini (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2013).

(9)

2

Status gizi anak usia sekolah (6 – 12 tahun) sangat penting karena pada

usia ini anak berada pada masa petumbuhan yang sangat cepat dan aktif,

sehingga status gizi akan sangat mempengaruhi pola pertumbuhan anak yang

dapat dilihat dari pertumbuhan fisik yang terarah. Data tentang gambaran status

gizi pada anak usia sekolah di Indonesia masih sedikit diketahui, oleh karena

itu peneliti ingin meneliti status gizi anak usia sekolah (6 – 12 tahun) di kota

Bandung dan kota Medan, karena diduga adanya pengaruh perbedaan tingkat

pendidikan orang tua dan pola makan di kedua kota tersebut terhadap status

gizi anak usia sekolah.

1.2Identifikasi Masalah

1. Bagaimana gambaran status gizi anak usia 6 – 12 tahun di SD X Kota

Bandung berdasarkan status gizi terbanyak.

2. Bagaimana gambaran status gizi anak usia 6 – 12 tahun di SD Y Kota

Medan berdasarkan status gizi terbanyak.

3. Bagaimana gambaran status gizi anak di SD “X” Kota Bandung dan SD “Y” Kota Medan berdasarkan kelompok usia sebelum pubertas dan sesudah pubertas.

1.3Maksud dan Tujuan

1.3.1 Maksud

Maksud dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk mengetahui

gambaran status gizi anak usia sekolah di Kota Bandung dan Kota Medan.

(10)

3 1.3.2 Tujuan

1. Mengetahui gambaran status gizi anak usia 6 – 12 tahun di SD X Kota

Bandung berdasarkan status gizi terbanyak.

2. Mengetahui gambaran status gizi anak usia 6 – 12 tahun di SD Y Kota

Medan berdasarkan status gizi terbanyak.

3. Mengetahui gambaran status gizi anak di SD “X” Kota Bandung dan SD “Y” Kota Medan berdasarkan kelompok usia sebelum pubertas dan sesudah pubertas.

1.4Manfaat Karya Tulis Ilmiah

1.4.1 Kegunaan Akademis

1. Menambah pengetahuan tentang gizi kurang dan gizi lebih.

2. Menambah wawasan mengenai gambaran kondisi status gizi anak usia 6 –

12 tahun di Kota Bandung dan di Kota Medan.

1.4.2 Kegunaan Praktis

1. Sebagai masukan untuk pihak yang bersangkutan dalam upaya pencegahan

dan perbaikan gizi khususnya di Bandung dan Medan

2. Sebagai masukan untuk orang tua dalam upaya memperhatikan asupan

gizi anak usia sekolah.

1.5Landasan Teori

Status gizi adalah keadaan fisik yang ditentukan dengan adanya

keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran zat gizi dan dinilai melalui

variabel-variabel tertentu yaitu indikator status gizi. (Linder, 2006). Status gizi

lebih terjadi bila asupan zat gizi diperoleh dalam jumlah berlebihan, sedangkan

(11)

4

status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan zat-zat gizi

(Soekirman, 2010).

Ada beberapa cara melakukan penilaian status gizi pada kelompok

masyarakat. Salah satunya adalah dengan pengukuran tubuh manusia yang dikenal

dengan antropometri. Indeks antropometri yang digunakan adalah umur, berat

badan, dan tinggi badan (Depkes RI, 2013).

Gizi lebih terjadi jika terdapat ketidakseimbangan antara konsumsi energi dan

pengeluaran energi. Asupan energi yang berlebihan secara kronis akan

menimbulkan kenaikan berat badan, berat badan lebih (overweight) dan obesitas.

Makanan dengan kepadatan energi yang tinggi (banyak mengandung lemak atau

gula yang ditambahkan dan kurang mengandung serat) turut menyebabkan

sebagian besar keseimbangan energi yang positif ini. Selanjutnya penurunan

pengeluaran energi akan meningkatkan keseimbangan energi yang positif (Gibney

et al, 2008).

Faktor penyebab terjadinya gizi lebih antara lain kelebihan energi, kurang

gerak, kemajuan ekonomi, kurang pengetahuan akan gizi seimbang, aktivitas fisik

yang rendah, dan stress yang berlebih. Sedangkan akibat dari kelebihan gizi dapat

bermanifestasi sebagai obesitas, penyakit-penyakit degeneratif (hipertensi,

diabetes, penyakit jantung koroner) dan usia harapan hidup yang semakin

menurun (Gibney et al , 2008).

Menurut Moehji, S (2003), gizi kurang adalah kekurangan bahan-bahan

nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh seperti protein, karbohidrat, lemak dan

vitamin. Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) pada tahun 1999, menjelaskan

bahwa gizi kurang disebabkan karena adanya kemiskinan, kurangnya pendidikan,

dan kurangnya keterampilan sebagai pokok masalah. Pokok masalah tersebut

mengakibatkan perhatian terhadap kesehatan menjadi kurang dan makanan

memadai di rumah tidak tersedia, sehingga mengakibatkan terjadinya penyakit

infeksi dan kurangnya asupan makanan sebagai penyebab langsung gizi kurang.

(12)

24 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

1. Gambaran status gizi anak usia 6–12 tahun di SD X Kota Bandung

berdasarkan status gizi terbanyak adalah normal dengan persentase 65,99

%.

2. Gambaran status gizi anak usia 6–12 tahun di SD Y Kota Medan

berdasarkan status gizi terbanyak adalah normal dengan persentase 63,43

%.

3. Gambaran status gizi anak di SD “X” Kota Bandung dan SD “Y” Kota

Medan berdasarkan kelompok usia sebelum pubertas dan sesudah pubertas

menunjukkan bahwa bahwa jumlah anak dengan status gizi obesitas,

overweight dan berisiko gizi lebih meningkat pada kelompok usia setelah

pubertas. Sebaliknya jumlah anak dengan status gizi kurus dan sangat

kurus di kedua SD tersebut mengalami penurunan setelah memasuki masa

pubertas.

5.2 Saran

1. Diperlukan upaya perbaikan gizi di Kota Bandung karena masih terdapat

sejumlah anak usia 6 – 12 tahun yang mengalami gizi kurang, misalnya

melalui pemberian makanan tambahan.

2. Diperlukan edukasi kepada para orang tua tentang asupan makanan yang

baik untuk anak-anak terutama pada usia sekolah dengan harapan agar

anak-anak pada usia ini memiliki berat badan ideal yang akan mengacu

pada status gizi yang lebih baik karena pada usia ini anak-anak lebih

bergantung pada orang tua dalam hal pemilihan makanan.

(13)

25

3. Perlu dilakukan penelitian sejenis di kota-kota lain di Indonesia agar hasil

yang didapatkan lebih dapat menggambarkan status gizi anak di

Indonesia.

(14)

26

DAFTAR PUSTAKA

Aman Bhakti Pulungan, D. L. (2014, November 25). Growth Spurt. Diambil kembali dari Pediatric, Growth, and Diabetes Centre: http://www.a-pediatric.com/growth-spurt-pada-bayi/

Azrul, A. (2004). Tubuh sehat ideal dari segi kesehatan. Jakarta: Universitas Indonesia.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Jakarta: Kementrian kesehatan RI.

BPS. (2013). Laporan Badan Pusat statistik Indonesia 2013. Jakarta: Bappenas.

Depkes. (2007). Riset kesehatan dasar 2007 : prosedur pengukuran berat badan dan tinggi badan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Depkes RI. (2012). Profil kesehatan provinsi Jawa Barat. Profil kesehatan provinsi Jawa Barat tahun 2012, hal. 5.

Depkes RI. (2012, September). Profil kesehatan provinsi Sumatra Utara. Profil kesehatan provinsi Sumatra Utara tahun 2012, hal. 5, 18.

Devaera, Y. (2010). Rekomendasi IDAI : Asuhan Nutrisi Pediatrik. Jakarta: IDAI.

Gibney, M. J. (2008). Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC.

Jahari, A. B. (2012). Anthropometry as the Nutritional Status Indicator. AGRIS.

KemenkesRI. (2014). Profil kesehatan indonesia 2013. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Linder. (2006). Nutritional biochemistry and metabolism : Nutrition and metabolism of the trace elements. New york: Elseint.

Manary, M. J., & Solomons, N. W. (2008). Aspek Kesehatan Masyarakat pada Gizi Kurang. Dalam M. J. Gibney, Public Health Nutrition (hal. 216). Jakarta: EGC.

Margetts, B. M. (2008). Tinjauan Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC.

Moehji, S. (2003). Ilmu gizi 2 : Penanggulangan gizi buruk. Jakarta: Papas Sinar Siranti.

(15)

27

Muliadi. (2010). Peranan gizi yang berkualitas dalam mencegah malnutrisi pada anak sekolah dasar. Jurnal Samudra Ilmu, 356-8.

Patterson, R. E. (2008). Pengkajian Status Gizi pada Perorangan dan Masyarakat. Jakarta: EGC.

Persagi. (2010). Visi dan misi mencapai Indonesia sehat tahun 2010. Jakarta: Persagi.org.

Rosegrant, M. W. (2013, February 11). The international Food Policy Research Institute.

Samhadi, S. H. (2006). Malnutrisi, keteledoran sebuah bangsa. Dipetik December 12, 2014, dari

http://www.kompas.com./kompas-cetak/0610/07/Fokus/3006750.htm

Seidell, J. C., & Visscher, T. L. (2008). Aspek Kesehatan Masyarakat pada Gizi Lebih. Dalam M. J. Gibney, Public Health Nutrition (hal. 203). Jakarta: EGC.

Soekirman. (2010). Ilmu gizi dan aplikasinya : untuk keluarga dan masyarakat.

Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Suharjo. (2006). Gizi dan Pangan. Yogyakarta: Kanisius.

Supriasa, I. D. (2012). Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC.

The Raising Children Institute. (20111). Growth Spurt in Adolescent : Signs and Symptoms. The Raising Children Institute Autralia.

Works, N. (2007). School-age children : Their nutrition and health. Dipetik January 12, 2015, dari http://schoolsandhealth.org/download-docs/SHN-pamphlet-FINAL.pdf

Gambar

Tabel Halaman
Gambar Halaman

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antara pola asuh ibu dan status gizi anak usia sekolah dasar serta gambaran status gizi anak SD”X”

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status gizi berdasarkan pengukuran BB/U, TB/U dan BB/TB dan indeks karies anak kelas 1 di SD Cipto dan SDN

Selaku Kepala Sekolah memberikan izin untuk dilakukannya penelitian “Perbandingan Status Gizi Anak Usia 6-8 Tahun di SD X Kota Bandung dengan SD Y Kota Jayapura” yang

Gambaran Penatalaksanaan Diet Jantung Dan Status Gizi Pasien Penderita Hipertensi Komplikasi Penyakit Jantung Yang Rawat Inap Di RSU Bandung Medan Tahun 2012.. Skripsi

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “ GAMBARAN KONSUMSI SARAPAN PAGI, STATUS GIZI, DAN TINGKAT PRESTASI BELAJAR ANAK SD NEGERI 124400 PEMATANGSIANTAR

Gambaran status gizi ibu hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal-care di Rumah Sakit Umum Sundari Medan ditemukan lebih banyak tidak berstatus KEK dengan usia tidak

Perbedaan Tingkat Kecukupan Gizi dan Status Gizi Anak Usia Sekolah antara School Feeding dan Non School Feeding (Studi di SD Al-Baitul Amien dan SDN Kepatihan 06 Jember); Lia

Perbedaan kesegaran jasmani dilihari dari status gizi siswa kelas VIII SMP Negeri 01 Kota Bengkulu Status Gizi N Rata-rata SD SE P value Tidak normal Normal 3255 12,24 12,77 2,246