• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBUATAN MULTIMEDIA ANIMASI DALAM PAIKEM BERDASAR RPOJECT BASED LEARNING DAN COOPERATIVE LEARNING AKUNTANSI MANAJEMEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMBUATAN MULTIMEDIA ANIMASI DALAM PAIKEM BERDASAR RPOJECT BASED LEARNING DAN COOPERATIVE LEARNING AKUNTANSI MANAJEMEN"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Prosiding SENTIA 2017 – Politeknik Negeri Malang Volume 9 – ISSN: 2085-2347

I-21

PEMBUATAN MULTIMEDIA ANIMASI DALAM PAIKEM

BERDASAR RPOJECT BASED LEARNING DAN COOPERATIVE

LEARNING AKUNTANSI MANAJEMEN

OLEH: INDRAYATI

JURUSAN AKUNTANSI POLITEKNIK NGERI MALANG PROPINSI JAWA TIMUR, INDONESIA

Surel: [email protected]

Abstrak:

Pembelajaran Akuntansi Manajemen di Polinema masih belum dapat memberikan hasil yang sesuai dengan kebutuhan dunia nyata yaitu yang memenuhi aspek kognitif, psikomotorik maupun aspek afektif. Oleh karena itu dalam pembelajaran Akuntansi Manajemen ini peneliti mengembangkan metode yang baru yaitu PAIKEM (Pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif serta menyenangkan) berdasarkan Project based learning dan cooperative learning serta pembuatan multimedia animasi supaya dapat menghasilkan SDM dengan kualitas yang tinggi yang mampu bersaing di pasar global atau internasional.

Metode penelitian yang dilakukan adalah metode penelitian terapan-kualitatif dengan penelitian tindakan kelas. Peneliti mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di kelas, memeriksa di lapangan, kemudian membuat rencana soal-soal untuk latihan memecahkan permasalahan yang ada di dunia nyata, pembelajaran dengan metode kolaborasi serta penggunaan multimedia animasi.

Permasalahan yang timbul akan dianalisis dan dipecahkan oleh mahasiswa dengan kemampuan berdasarkan teori yang ada.

Hasil dari penelitian ini adalah mahasiswa menjadi lebih berkompeten dalam memahami serta mengaplikasikan teori ke dalam dunia nyata serta mampu memecahkan permasalahan yang ada di dunia nyata. Kesimpulan terbentuknya prototipe metode pembelajaran yang baru yaitu Paikem dengan PBL dan cooperative learning, RPS, Silabi, bahan ajar dan soal-soal latihan, multimedia power point animasi dan menggunakan website. Saran metode ini dapat diterapkan pada penelitian tindakan kelas di masa yang akan datang.

Kata kunci: Paikem, student achievement,performance cources, multimedia, animasi.

1.PENDAHULUAN

Politeknik Negeri Malang adalah perguruan tinggi dengan latar belakang pendidikan vokasi yang mengutamakan peningkatan kemampuan penerapan (skill) atau ketrampilan untuk menyiapkan mahasiswa menjadi anggota masyarakat yang memiliki kompetensi profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Program studi akuntansi merupakan salah satu jurusan di Politeknik Negeri Malang yang mengemban tugas untuk menghasilkan alumni yang siap kerja, terampil dalam bidang akuntansi dan mampu bersaing di pasar global sesuai dengan visi-misinya.

Dalam rangka meningkatkan kualitas pengajaran di Politeknik Negeri Malang tersedianya sumberdaya tenaga kerja (SDM) yang tinggi dan memadai adalah merupakan persyaratan yang diperlukan supaya bisa bersaing di pasar global nasional maupun internasional. Hal ini

harus terus diatur agar dapat menghasilkan kinerja yang tinggi.

Penilaian kualitas produk pendidikan pertama-tama terlihat pada perkembangan sikap dasar seperti sikap kritis akademis ilmiah dan kesediaan terus mencari kebenaran (Yumarma, 2006). Oleh karena itu konsep pendidikan tidak direduksi pada ujian yang hanya mengukur transfer ilmu pengetahuan saja (kognitif) , namun lebih luas mencakup pembentukan ketrampilan (skill) (psikomotorik) dan sikap dasar (basic attitude) atau afektif, seperti kekritisan, kreativitas dan keterbukaan terhadap inovasi dan aneka penemuan. Semua itu amat diperlukan agar peserta didik mampu bertahan hidup dan menjawab tantangan yang selalu berkembang. Dalam hal ini, pendidik dituntut tidak sekedar sebagai pentransfer ilmu, namun lebih dari itu juga berperan sebagai agen pencerahan. Idealisme pendidik, meminjam istilah Socrates adalah eutika, bidang yang membantu peserta didik melahirkan inovasi dan pengetahuan.

(2)

Dikti bulan April 2003 memberi amanah yang salah satunya adalah penerapan prinsip Student-Centered Learning (SCL) dalam proses pembelajaran. Terdapat beragam metode pembelajaran dalam Student-Centered Learning (SCL) diantaranya adalah Case-Based Learning, Cooperative Learning dan Project Based Learning, problem based learning.

Proses pembelajaran yang banyak dipraktekkan sekarang ini sebagian besar adalah berbentuk ceramah (lecturing). Pada saat mengikuti kuliah atau mendengarkan ceramah, mahasiswa sebatas memahami sambil membuat catatan dan kadang mengantuk. Dosen menjadi pusat peran dalam pencapaian hasil pembelajaran (teacher-centered learning) dan seakan-akan menjadi satu-satunya sumber ilmu.

Pola pembelajaran dosen aktif dengan mahasiswa pasif ini mempunyai efektivitas pembelajaran yang rendah. Efektivitas pembelajaran mahasiswa umumnya terbatas, terjadi pada saat-saat akhir mendekati ujian. Pembelajaran yang diterapkan saat ini berfokus pada pemahaman materi saja. Dari metode yang diterapkan itu, mahasiswa tidak memiliki gambaran penerapan materi pada dunia bisnis. Karena itu metode pembelajaran saat ini belum dapat mengasah kemmpuan analisis mahasiswa, kepekaan terhadap permasalahan, melatih pemecahan masalah serta keammpuan mengevaluasi permasalahan secara holistic.

Dalam penerapan pembelajaran mata kuliah Akuntansi Manajemen sebelumnya dengan metode tradisional ceramah menunjukkan kemampuan mahasiswa yang masih rendah terbukti dari nilai yang didapatkan oleh mahasiswa. Seperti ditunjukkan dalam Tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. % kemampuan mahasiswa dalam pembelajaran Akuntansi Manajemen Tahun 2016 Total mahasiswa : 300

Final Grade Management Accounting Course A 40% B+ 15% B 10% C+ 20% C 10% D 5%

Tampak dalam Tabel 1 dengan metode pembelajaran tradisional ceramah Akuntansi Manajemen menunjukkan bahwa nilai tertinggi A sebanyak 40% mahasiswa, nilai B+ sebanyak 15% mahasiswa, nilai B sebanyak 10% mahasiswa, nilai C+ sebanyak 20% mahasiswa, nilai C sebanyak 10% mahasiswa sedangkan nilai terendah D sebanyak 5% mahasiswa. Untuk yang akan

nilai minimal adalah B dan nilai maksimal adalah A untuk pembelajaran akhir semester 2017. Oleh karena itu, menurut HELTS, strategi pembelajaran yang baru akan didasarkan pada penerapan prinsip student-centered teaching dan learning dengan Implementasi project based learning dan cooperative learning untuk pembelajaran Akuntansi Manajemen untuk meningkatkan kompetensi atau kemampuan mahasiswa.

2.LITERATURE REVIEW

Menurut Ahmadi (2011:30) PAIKEM merupakan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Menurut Syah dan Kariadinata (2009:1) PAIKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan dengan menggunakan multimedia. Selanjutnya PAIKEM dapat didefinisikan sebagai pendekatan mengajar (approach to teaching) yang digunakan bersama metode tertentu dan pelbagai media pengajaran yang disertai penataan lingkungan sedemikian rupa agar proses pembelajaran menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Adapun maksud dari masing-masing kata PAIKEM menurut Suparlan dkk (2008:70) yaitu: 1). Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru/dosen harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga peserta didik aktif mengajukan pertanyaan, mengemukakan gagasan, dan memecahkan masalah. 2).Inovatif yaitu guru/dosen harus menciptakan kondisi belajar dan kegiatan pembelajaran yang baru sesuai tuntutan dan perkembangan pendidikan seperti penggunaan project-based-learning, cooperative-learning, case-based-learning.3).Kreatif yaitu guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa atau kreativitas siswa dalam memecahkan permasalahan. 4).Efektif yaitu menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran yakni mencapai tujuan/kompetensi yang ditetapkan. 5).Menyenangkan yaitu guru/dosen harus mampu menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan tidak membosankan sehingga siswa memusatkan perhatiannya tinggi dan pembelajaran menjadi cepat seperti adanya alat peraga maupun bahan ajar (handout) dalam pembelajaran, serta penggunaan multimedia animasi dan website. Menurut Tarmizi (2009) PAIKEM adalah singkatan dari pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru/dosen harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif, bertanya, mempertanyakan, mengemukakan gagasan, memecahkan masalah. Pembelajaran inovatif bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan seperti pembelajaran berdasarkan proyek, kooperatif,

(3)

Prosiding SENTIA 2017 – Politeknik Negeri Malang Volume 9 – ISSN: 2085-2347

I-23

kasus, tugas serta penggunaan multimedia animasi serta alat peraga.

Metode Paikem merupakan salah satu model pembelajaran yang ideal. Metode Paikem membantu siswa mendapatkan ide-ide sendiri dalam pembelajaran yang berlangsung dengan pendekatan lingkungan sekitar. Dampak positif diterapkannya model PAIKEM yaitu siswa dapat terpacu sikap rasa keingintahuannya tentang sesuatu yang ada di lingkungannya. Seandainya kita renungi empat pilar pendidikan yaitu learning to how (belajar untuk mengetahui), learning to be ( belajar untuk menjadi diri sendiri), learning to do ( belajar untuk mengerjakan), dan learning to live together (belajar untuk hidup bersama-sama) Perbedaan antara metode pembelajaran berbasis Teacher-Centered learning dan Student-Centered Learning disajikan dalam tabel 2.1.

Tabel 2.1.

Perbandingan Metode Pembelajaran Berpusat Mahasiswa dan Dosen

Teacher Centered Learning Student Centered Learning A Pengetahuan ditransfer dari dosen ke mahasiswa

Mahasiswa secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajarinya B Mahasiswa menerima pengetahuan secara pasif

Mahasiswa secara aktif terlibat di dalam mengelola pengetahuan C Lebih menekankan pada penguasaan materi

Tidak hanya menekankan pada penguasaan materi tetapi juga dalam mengembangkan karakter mahasiswa D Memanfaatkan media tunggal Memanfaatkan banyak media (multimedia) E Fungsi dosen sebagai pemberi informasi utama dan evaluator

Fungsi dosen sebagai fasilitator dan evaluasi dilakukan bersama dengan mahasiswa. F Proses pembelajaran dan penilaian dilakukan secara terpisah

Proses pembelajaran dan penilaian dilakukan saling berkesinambungan dan terintegrasi

G

Menekankan pada jawaban yang benar saja

Penekanan pada proses pengembangan

pengetahuan. Kesalahan dinilai dapat menjadi salah satu sumber belajar. H

Sesuai untuk mengembangkan ilmu dalam satu disiplin saja

Sesuai untuk pengembangan ilmu dengan cara pendekatan interdisipliner

I Iklim belajar Iklim yang dikembangkan

lebih

individualis dan kompetitif

lebih bersifat kolaboratif, suportif dan kooperatif

J Hanya mahasiswa yang dianggap melakukan proses pembelajaran

Mahasiswa dan dosen belajar bersama di dalam mengembangkan pengetahuan, konsep dan keterampilan. K Perkuliahan merupakan bagain terbesar dalam proses pembelajaran

Mahasiswa dapat belajar tidak hanya dari perkuliahan saja tetapi dapat menggunakan berbagai cara dan kegiatan L Penekanan pada tuntasnya materi pembelajaran Penekanan pada pencapaian kompetensi peserta didik dan bukan tuntasnya materi. M Penekanan pada bagaimana cara dosen melakukan pembelajaran Penekanan pada

bagaimana cara mahasiswa dapat belajar dengan menggunakan berbagai bahan pelajaran, metode interdisipliner, penekanan pada problem based learning dan skill competency. Sumber: Dirjen Dikti Depdiknas, 2004.

Untuk menciptakan situasi pembelajaran yang efektif, Combs (1976) mengatakan bahwa dibutuhkan tiga karakteristik, yaitu: 1).Atmosfer kondusif untuk mengeksplorasi makna belajar. Peserta belajar harus merasa aman dan diterima. Mereka ingin memahami risiko dan manfaat dari mendapatkan ilmu pengetahuan dan pemahaman baru. Kelas harus kondusif untuk keterlibatan, interaksi, dan sosialisasi, dengan pendekatan yang menyerupai dunia bisnis. 2).Peserta belajar harus selalu diberi kesempatan untuk mencari informasi dan pengalaman baru. Kesempatan ini diberikan dalam bentuk mahasiswa tidak hanya sekedar menerima informasi, tapi mahasiswa didorong untuk mencari informasi. 3).Pemahaman baru harus diperoleh mahasiswa melalui proses personal discovery. Metode yang digunakan untuk itu harus sangat individu dan sesuai dengan personality dan gaya belajar mahasiswa yang bersangkutan. Beberapa aspek yang membedakan pembelajaran Berbasis Kooperatif dengan pembelajaran tradisional dideskripsikan oleh Thomas, Mergendoller, & Michaelson (1999) sebagaimana dalam Tabel 2.2. berikut.

Tabel 2.2. Perbedaan Pembelajaran Berbasis Kooperatif Dan Pembelajaran Tradisional

ASPEK PENDIDIK AN PENEKANA N TRADISION AL PENEKANAN BERBASIS PROYEK DAN KOOPERATIF Fokus kurikulum

Cakupan isi Kedalaan pemahaman

(4)

Pengetahuan tentang fakta-fakta Penguasaan konsep-konsep dan prinsip-prinsip Belajar keterampilan “building-block” dalam isolasi Pengembangan keterampilan pemecahan masalah kompleks Lingkup dan Urutan Mengikuti urutan kurikulum secara ketat Mengikuti minat pebelajar Berjalan dari blok ke blok atau unit ke unit Unit-unit besar terbentuk dari problem dan isu yang kompleks Memusat, fokus berbasis disiplin Meluas, fokus interdisipliner Peranan guru/dosen Penceramah dan direktur pembelajaran Penyedia sumber belajar dan partisipan di dalam kegiatan belajar Ahli Pembimbing/part ner Fokus pengukuran

Produk Proses dan produk

Skor tes Pencapaian yang nyata Membanding kan dengan yang lain Unjuk kerja standard dan kemajuan dari waktu ke waktu Reproduksi informasi Demonstrasi pemahaman Bahan-bahan Pembelajara n Teks, ceramah, Dan presentasi Langsung sumber-sumber asli: bahan-bahan tercetak, interviu, dokumen, dll. Kegiatan dan lembar latihan dikembangka n guru

Data dan bahan dikembangkan oleh pebelajar Penggunaan teknologi, multimedia Penyokong, periferal Utama, integral Dijalankan guru Diarahkan pebelajar Kegunaan untuk perluasan presentasi guru Kegunaan untuk memperluas presentasi pebelajar atau penguatan kemampuan pebelajar Konteks Pebelajar Pebelajar bekerja

kelas bekerja sendiri dalam kelompok Pebelajar kompetisi satu dengan lainnya Pebelajar kolaboratif satu dengan lainnya Pebelajar menerima informasi dari guru Pebelajar mengkonstruksi, berkontribusi, dan melakukan sintesis informasi Peranan pebelajar Menjalankan perintah guru Melakukan kegiatan belajar yang diarahkan oleh diri sendiri Pengingat dan pengulang fakta Pengkaji, integrator, dan penyaji ide Pembelajar menerima dan menyelesaika n tugas-tugas laporan pendek Pebelajar menentukan tugas mereka sendiri dan bekerja secara independen dalam waktu yang besar Tujuan jangka pendek Pengetahuan tentang fakta, istilah, dan isi

Pemahaman dan aplikasi ide dan proses yang kompleks Tujuan jangka panjang Luas pengetahuan Dalam pengetahuan Lulusan yang memiliki pengetahuan yang berhasil pada tes standard pencapaian belajar Lulusan yang berwatak dan terampil mengembangkan diri, mandiri, dan belajar sepanjang hanyat.

KEUNTUNGAN BELAJAR BERBASIS

KOOPERATIF BERBASIS MULTIMEDIA Moursund, Bielefeldt, & Underwood (1997) meneliti sejumlah artikel tentang proyek di kelas yang dapat dipertimbangkan sebagai bahan testimonial terhadap guru, terutama bagaimana guru menggunakan proyek dan persepsi mereka tentang bagaimana keberhasilannya. Atribut keuntungan dari Belajar Berbasis Proyek adalah sebagai berikut:

1). Meningkatkan motivasi. Laporan-laporan tertulis tentang proyek itu banyak yang mengatakan bahwa siswa suka tekun sampai kelewat batas waktu, berusaha keras dalam mencapai proyek. Guru juga melaporkan pengembangan dalam kehadiran dan berkurangnya keterlambatan. Siswa

(5)

Prosiding SENTIA 2017 – Politeknik Negeri Malang Volume 9 – ISSN: 2085-2347

I-25

melaporkan bahwa belajar dalam proyek lebih fun daripada komponen kurikulum yang lain. 2).Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Penelitian pada pengembangan keterampilan kognitif tingkat tinggi siswa menekankan perlunya bagi siswa untuk terlibat di dalam tugas-tugas pemecahan masalah dan perlunya untuk pembelajaran khusus pada bagaimana menemukan dan memecahkan masalah. Banyak sumber yang mendiskripsikan lingkungan belajar berbasis proyek membuat siswa menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks. 3).Meningkatkan kecakapan kolaboratif. Pentingnya kerja kelompok dalam proyek memerlukan siswa mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi (Johnson & Johnson, 1989). Kelompok kerja kooperatif, evaluasi siswa, pertukaran informasi online adalah aspek-aspek kolaboratif dari sebuah proyek. Teori-teori kognitif yang baru dan konstruktivistik menegaskan bahwa belajar adalah fenomena sosial, dan bahwa siswa akan belajar lebih di dalam lingkungan kolaboratif (Vygotsky, 1978; Davydov, 1995). 4).Meningkatkan keterampilan mengelola sumber. Bagian dari menjadi siswa yang independen adalah bertanggungjawab untuk menyelesaikan tugas yang kompleks. Pembelajaran Berbais Proyek yang diimplementasikan secara baik memberikan kepada siswa pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas. Ketika siswa bekerja di dalam tim, mereka menemukan keterampilan merencanakan, mengorganisasi, negosiasi, dan membuat konsensus tentang isu-isu tugas yang akan dikerjakan, siapa yang bertanggungjawab untuk setiap tugas, dan bagaimana informasi akan dikumpulkan dan disajikan. Keterampilan-keterampilan yang telah diidentifikasi oleh siswa ini merupakan keterampilan yang amat penting untuk keberhasilan hidupnya, dan sebagai tenaga kerja merupakan keterampilan yang amat penting di tempat kerja kelak. Karena hakikat kerja proyek adalah kolaboratif, maka pengembangan keterampilan tersebut berlangsung di antara siswa. Di dalam kerja kelompok suatu proyek, kekuatan individu dan cara belajar yang diacu memperkuat kerja tim sebagai suatu keseluruhan.

Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

Ada tiga cara dasar bagaimana mahasiswa dapat berinteraksi satu sama lain, yaitu kompetitif, individualistic dan kooperatif. Mahasiswa dapat berkompetisi untuk melihat siapa yang terbaik, mereka daapt bekerja individualistis untuk

mencapai tujuan tanpa memberi perhatian kepada mahasiswa lain, atau mereka dapat bekerjasama and saling memberi perhatian.

Smith dan MacGregor (1992) mendefinisikan cooperative learning sebagai “the most carefully structured end of the coolaborative learning continuum” (Ravenscroft, 1995). Johnon, Johnson and Holubec (1994) mendefinisikan cooperative learning sebagai “ the instructional use of small groups so that students work together to maximize their own and each other’s learning” (Phipps et al., 2001).

Berbagai riset tentang cooperative learning menunjukkan hasil yang konsisten bahwa cooperative learning akan meningkatkan prestasi, hubungan interpersonal yang lebih positif dan self-esteem yang lebih tinggi dibanding upaya kompetitif atau individualistis (Phipps et al., 2001). Upaya cooperative learning diharapkan menjadi lebih produktif dibanding upaya kompetitif ataupun individualistis, bila upaya kooperatif tersebut di dalam kondisi tertentu. Kondisi ini kemudian merupakan elemen dasar cooperative learning mencakup perlunya independensi positif, adanya interaksi tatap-muka (face-to-face interaction), dimilikinya individual accountability, digunakannya collaborative skills dan adanya group processing.

Adapun 4 unsur penting dalam pembelajaran kooperatif yaitu: 1. Adanya peserta dalam kelompok. 2. Adanya aturan kelompok 3. Adanya upaya belajar setiap kelompok 4. Adanya tujuan yang harus dicapai dalam kelompok belajar. Pembelajaran ini berdasarkan sistem pengelompokan tim kecil, yaitu antara 2 sampai 4 orang, yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen), sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok. Setiap kelompok akan memperoleh penghargaan (reward), jika kelompok tersebut menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan. Pembentukan kelompok ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan kegiatan belajar.

3. METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian : Penelitian Tindakan Kelas (Model Lewin dan Kemmis dan Carr serta Taggart )

Salah satu definisi Penelitian Tindakan Kelas yang cukup dikenal adalah Model Lewin yang ditafsirkan oleh Kemmis dan Carr (2005). Kedua penulis ini mengemukakan bahwa: Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif yang dilakukan oleh pelaku dalam masyarakat sosial dan bertujuan untuk memperbaiki pekerjaannya, memahami pekerjaan serta situasi dimana pekerjaan ini dilakukan, termasuk di dalamnya bidang pendidikan. (Kemmis & Carr, 2005). Penelitian Tindakan Kelas juga

(6)

digambarkan sebagai suatu proses yang dinamis dimana keempat aspek yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi merupakan momen-momen dalam bentuk spiral yang terkait dengan perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi.

Penelitian tindakan kelas menurut Moleong, 2006 adalah sebagai berikut:

identifikasi masalah, diskusi masalah antara peneliti dengan yang diteliti, menelaah perpustakaan dan masalah, redifinisi masalah, memilih metode perubahan dan evaluasi, menerapkan perubahan. Sebagai subyek dalam penelitian ini adalah 300 mahasiswa, semester ke empat Angkatan 2017/2018 yang menempuh mata kuliah Akuntansi Manajemen Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Malang. Dengan metode pengumpulan data adalah wawancara, pengamatan dan diskusi dan triangulasi.

4. Hasil dan Pembahasan

Hasil penelitian implementasi pengembangan model pembelajaran mata kuliah Akuntansi Manajemen ini adalah terciptanya kompetensi untuk mata kuliah Akuntansi Manajemen, Rencana pengembangan pembelajaran (RPS), dan pembuatan SILABI, bahan ajar Akuntansi Manajemen dengan multimedia power point serta animasi, laporan hasil implementasi Akuntansi Manajemen ke UMKM, serta metode pembelajaran dikembangkan dengan project based learning dan cooperative learning.

Tabel 4. % nilai mahasiswa dalam pembelajaran Akuntansi Manajemen Tahun 2017.

Total mahasiswa 300

Ranking Nilai Pembelajaran Akuntansi Manajemen A 85% B+ 10% B 5% C+ 5% C - D -

Sedangkan tanggapan mahasiswa terhadap model pembelajaran mata kuliah Akuntansi Manajemen yang baru yaitu proyect based learning dan cooperative learning adalah 95 % setuju diterapkannya model pembelajaran proyect based learning, karena pembelajaran ini membuat mahasiswa aktif, inovatif, kreatif, efektif serta menyenangkan, membuat mahasiswa lebih berkompeten, paham terhadap mata kuliah Akuntansi Manajemen baik dalam pengetahuan maupun ketrampilan, sedangkan 5% masih senang dengan pembelajaran tradisional yaitu metode ceramah.

Pembelajaran menjadi lebih mudah, tidak membosankan mahasiswa lebih paham akan teori dan kemudian memecahkan permasalahan yang

ada di dunia nyata sehingga aspek kognitif, psikomotorik dan afektif dapat tercapai. Dalam mata kuliah Akuntansi Manajemen ini diimplementasikan metode pembelajaran yang baru yaitu Paikem berdasarkan project based learning dengan pemanfaatan bahan ajar, alat peraga yang menggunakan multimedia atau power point

animasi . 5. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka kesimpulan yang didapat adalah: 1).Metode pembelajaran proyect based learning telah berhasil diterapkan di pendidikan vokasi yaitu Politeknik Negeri Malang. 2).Terbuatnya kompetensi pembelajaran berbasis kurikulum (KKNI) melalui rencana pengembangan pembelajaran (RPP) dan silabus. 3).Terbuatnya rencana pengembangan pembelajaran dalam GBPP dan SAP. 4).Terciptanya bahan ajar dan latihan soal dalam pembelajaran Akuntansi Manajemen. 5).Terciptanya alat peraga dengan menggunakan

multimedia power point dan animasi dalam

pembelajaran Akuntansi Manajemen. 6).Terciptanya metode pembelajaran yang baru yaitu proyect based leraning dan cooperative learning serta student centered learning. 7).Hasil survey menunjukkan bahwa mahasiswa lebih senang dengan metode pembelajaran proyek based learning dengan alat media multimedia dan

animasi 8).Nilai mahasiswa menjadi lebih baik

dari sebelumnya.

REFERENCES

(1). Kamdi, W. 2010. Project Based Learning, Unpublished Thesis. Malang: Universitas Negeri Malang.

(2). Kemmis, S. And Carr, W. 2005. Penelitian Tindakan Kelas, Bandung.

(3). Moleong, 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung.

(4). Smith, B.L. and MacGregor, J. 1992. Collaborative Learning: A Sourcebook for Higher Education. University Park, PA: National Center on Postsecundary Taeching, Learning, and Assessment (NTCLA): 9-22.

(5). Phipps, M., Phipps, C., Kask, S., and Higgins, S. 2001. University Students’ Perceptions of Cooperative Learning: Implications for Administrators and Instructors. Journal of Experiential Education, 24: 14-21.

(6). Kemmis, S. And McTaggart, R. 1999. The Action Research Planner. Victoria: Deakin University Press.

Gambar

Tabel  1.  %  kemampuan  mahasiswa  dalam  pembelajaran Akuntansi Manajemen Tahun 2016  Total mahasiswa :  300
Tabel 2.2.  Perbedaan Pembelajaran Berbasis   Kooperatif Dan Pembelajaran Tradisional

Referensi

Dokumen terkait

Munculnya dilema-dilema itu karena Abrasi, percampuran budaya, hilangnya bahasa adalah persoalan yang menjadi pembahasan, sekumpulan Mahasiswa dari Sangar Latah Tuah Universitas

Pelaksanaan Restrukturisasi harus lah sesuai dengan tuntutan dan perkembangan saat ini baik dalam hal komposisi Dewan Keamanan yang tidak representatif sampai pada Hak Veto

Perhitungan rata-rata indeks ketahanan pelet (%) akibat tidak berpengaruhnya varibel penambahan

Agar pembahasan dalam penulisan skripsi ini tidak menyimpang dari permasalahan pokok yang akan dibahas, maka penulis membatasi pembahasan skripsi ini yaitu

yang memiliki pasien skizofrenia seperti Pendamping utama akan mengalami adanya informasi atau psikoedukasi tentang kesulitan untuk menentukan dengan tepat skizofrenia

Perlu penelitian lebih lanjut dengan menggunakan berbagai dosis kotoran sapi dengan taraf pupuk nitrogen yang paling efektif yaitu 200 kg N/ha, sehingga dapat

Jenis cacing tanah antara lain adalah cacing tanah Amerika (Lumbricus terrestris), cacing tanah Asia (Pheretima), cacing merah (Tubifex), dan cacing tanah raksasa Australia (Digaster

Struktur asal unsur kejadian Manusia Struktur asal unsur kejadian Manusia Organisme Fisik/Biologis Jiwa/Psyche Akalbudi Roh Adam Bani Adam Fenomenon (Bisa diketahui)