PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA OLEH RUMAH SAKIT TERHADAP DOKTER YANG MELAKUKAN MALPRAKTEK.

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA OLEH RUMAH

SAKIT TERHADAP DOKTER YANG MELAKUKAN

MALPRAKTEK

NI MADE ANTIKA PERMATA WARDANA

NIM. 1203005218

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

(2)

SKRIPSI

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA OLEH RUMAH

SAKIT TERHADAP DOKTER YANG MELAKUKAN

MALPRAKTEK

NI MADE ANTIKA PERMATA WARDANA

NIM. 1203005218

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2016

(3)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA OLEH RUMAH

SAKIT TERHADAP DOKTER YANG MELAKUKAN

MALPRAKTEK

Skripsi ini dibuat untuk memperoleh Gelar Sarjana Hukum

Pada Fakultas Hukum Universitas Udayana

NI MADE ANTIKA PERMATA WARDANA NIM. 1203005218

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2016

(4)
(5)
(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat dan karunia-Nya skripsi yang berjudul

“PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA OLEH RUMAH SAKIT TERHADAP

DOKTER YANG MELAKUKAN MALPRAKTEK” , dapat diselesaikan. Adapun

skripsi ini disusun sebagai tugas akhir mahasiswa dan sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Program Sarjana (S1) Fakultas Hukum Universitas Udayana.

Penulisan skripsi ini tidak akan berjalan lancar tanpa adanya doa, motivasi, bimbingan, dan kerjasama dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. I Gusti Ngurah Wairocana, S.H., M.H., Dekan Fakultas Hukum Universitas Udayana.

2. Bapak I Ketut Sudiarta, S.H., M.H., Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Udayana.

3. Bapak I Wayan Bela Siki Layang, S.H., M.H., Pembantu Dekan II Fakultas Hukum Universitas Udayana.

4. Bapak I Wayan Suardana, S.H., M.H., Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Udayana.

5. Bapak Dr. I. B Surya Dharma Jaya, H.H., M.H., Ketua Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Udayana.

(7)

6. Bapak A.A Ngurah Wirasila , S.H., M.H., Dosen Pembimbing I yang telah meluangkan waktunya untuk dengan sabar memberikan bimbingan, konsultasi, dan pengarahan, saran, semangat, dan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan ini.

7. Ibu Sagung Putri M.E Purwani, SH.,MH, Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk dengan sabar memberikan bimbingan, konsultasi, dan pengarahan, saran, semangat, dan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan ini.

8. Ibu A.A Istri Ari Atu Dewi, SH.,MH, Pembimbing Akademik yang telah membimbing penulis dari awal kuliah di Fakultas Hukum Universitas Udayana. 9. Tim Penguji Skripsi yang telah meluangkan waktunya untuk menguji skripsi ini. 10.Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Udayana yang telah menuntun

dan memberikan ilmu pengetahuan selama kuliah sehingga penulis dapat menyelesaikan studi ini.

11.Bapak dan Ibu Staff Laboratorium, perpustakaan, dan tata usaha yang telah memberikan bantuan selama kuliah di Fakultas Hukum Universitas Udayana. 12.Kepada keluarga penulis I Made Wardana (Bapak), Ni Luh Kardiasih (Ibu), Ni

Putu Anggadia Permata Wardana, Ni Nyoman Anita Permata Wardana, I Ketut Andhika Prawira Wardana, Ni Wayan Anindya Permata Wardana dan seluruh keluarga besar terimakasih atas doa serta dorongan morilnya selama penulis mengikuti pendidikan. Untuk Bapak dan Ibu tercinta yang dengan penuh kesabaran, pengorbanan, dukungan, perhatian, dan terus menemani serta

(8)

memberikan semangat kepada penulis selama mengikuti pendidikan dasar sampai dalam menyelesaikan studi Program Sarjana Fakultas Hukum Universitas Udayana, penulis menyampaikan terimakasih dan penghargaan tiada tara.

13.I Putu Agus Surya Dharma yang selalu meluangkan waktunya, selalu memberikan dukungan, motivasi, semangat, doa dan selalu sabar mendampingi dalam menyelesaikan skripsi ini.

14.Kepada sahabat-sahabat seperjuangan penulis : Dwita, Mia, Edes, Prila, Cintya, Dewi, Gek Emik, dan Jerry yang merupakan sahabat dan keluarga bagi penulis yang sudah memberikan dukungan, semangat, canda dan tawa dari awal perkuliahan hingga pada penyelesaian skrips ini.

15. Temen-temen kelas C Sabo, Dewa Ari, Dewa Adhi, Hendra, Gung Say, Gek Linda, Mang Ucil dan teman-teman kelas D lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu serta rekan-rekan Fakultas Hukum Universitas Udayana Angkatan 2012 yang telah menemani mulai dari awal kuliah hingga menyelesaikan jenjang pendidikan sarjana ini.

Penulis menyadari sepenuhnya masih banyak kekurangan dalam penulisan hasil penelitian ini, semoga dikemudian hari penulis dapat lebih meningkatkan lagi kemampuannya. Penulis berharap semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat.

Denpasar, 2 Febuari 2016 Penulis

(9)

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN

Dengan ini penulis menyatakan bahwa Karya Ilmiah/Penulisan Hukum/Skripsi ini merupakan hasil karya asli penulis, tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun, dan sepanjang pengetahuan penulis juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh penulis lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Apabila Karya Ilmiah/Penulisan Hukum/Skripsi ini terbukti merupakan duplikasi ataupun plagiasi dari hasil karya penulis lain dan/atau dengan sengaja mengajukan karya atau pendapat yang merupakan hasil karya penulis lain, maka penulis bersedia menerima sanksi akademik dan/atau sanksi hukum yang berlaku.

Demikian Surat Pernyataan ini saya buat sebagai pertanggungjawaban ilmiah tanpa ada paksaan maupun tekanan dari pihak manapun juga.

Denpasar, 2 Febuari 2016 Yang menyatakan,

( Ni Made Antika Permata Wardana ) NIM. 1203005218

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL DEPAN ……… i

HALAMAN SAMPUL DALAM……… ii

HALAMAN PRASYARAT GELAR SARJANA HUKUM……… iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI………. iv

HALAMAN PENGESAHAN PANITIA PENGUJI SKRIPSI……….. v

HALAMAN KATA PENGANTAR……… vi

HALAMAN SURAT PERNYATAAN KEASLIAN………. ix

HALAMAN DAFTAR ISI………... x

ABSTRACT……….. xiii

ABSTRAK……….Xiv BAB I PENDAHULUAN………. 1

1.1. Latar Belakang……….. 1

1.2. Rumusan Masalah………. 9

1.3. Ruang Lingkup Masalah……… 9

1.4. Tujuan Penelitian……… 10

a. Tujuan Umum……… 10

b. Tujuan Khusus……….. 11

(11)

a. Manfaat Teoritis……… 11

b. Manfaat Praktis………. 11

1.6. Landasan Teoritis………... 12

1.7. Metode Penelitian ………. 20

a. Jenis Penelitian………. 20

b. Jenis Pendekatan……….. 21

c. Bahan Hukum…. ………. 22

d. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum…. ……… 23

e. Teknik Analisa ……… 24

BAB II TINJAUAN UMUM ………. 25

2.1. Tindak Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana………. 25

2.1.1. Pengertian Tindak Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana……… 25

2.1.2. Unsur-Unsur Tindak Pidana……….. 31

2.1.3. Jenis-Jenis Tindak Pidana………. 34

2.2. Pengertian Rumah Sakit dan Korporasi Rumah Sakit ………. 35

2.2.1. Jenis-Jenis Rumah Sakit………. 39

2.3. Pengertian Dokter……….. 40

2.4. Pengertian dan Unsur-Unsur Malpraktek……….. 41

BAB III PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA OLEH RUMAH SAKIT … 48

(12)

Dokter Di Rumah Sakit………. 48

3.2. Pertanggungjawaban Pidana Oleh Rumah Sakit Terhadap Dokter Yang Melakukan Malpraktek Dalam Pelayanan Kesehatan……… 59

BAB IV HUKUM PIDANA TERHADAP MALPRAKTEK DOKTER DI RUMAH SAKIT………. 67

4.1. Hubungan Antara Pasien, Dokter, dan Rumah Sakit……… 67

4.2. Hak dan Kewajiban Pasien, Dokter, dan Rumah Sakit………. 70

4.2.1. Hak dan Kewajiban Pasien………. 71

4.2.2. Hak dan Kewajiban Dokter……… 72

4.2.3. Hak dan Kewajiban Rumah Sakit……….. 73

4.3. Dewan Pengawas Rumah Sakit……… 76

4.4. Pidana dan Teori Pemidanaan……….. 78

BAB V KESIMPULAN……… 89

5.1. Simpulan……… 89

5.2. Saran……… 90

Daftar Bacaan Ringkasan Skripsi

(13)

ABSTRACT

Health is a human right, where everyone has the right to life of physical and spiritual prosperity, decent living, earning a good living environment, healthy and receive medical care. There are various kinds of health care provision is open to the public, one hospital. Implementation of hospital health care can not be separated from the role of the medical profession. Along with the times are very fast, then the participation of the development of science and technology in the field of health at this time require a physician is required to follow the developments in the framework of the provision of quality services, as well as the method of care to make the doctor can not freely leave act medical. A result of these developments made the problems that arise in the health services also grew, and the possibility to make a greater mistake, medical problems that arise in the health service is called malpractice. Based on the above while the issues raised by how the criminal responsibility of the hospital against doctor malpractice in health care and how the criminal law policy

against doctors who perform malpractice in hospitals

The research method used is the method of normative research, namely the approach of legislation (The Statute Approach) and the approach of the legal concept analysis (Analytical & Conseptual Approach), which means that a problem will be seen by examining all the legislation and analyzing the draft law. The results obtained in this study are legally, the hospital can be held criminal responsibility in accordance with the provisions of Article 46 of Law Hospital, Article 359 of the Criminal Code and Article 361 Penal Code. In corporate hospitals also be held criminal responsibility in accordance with the theory of respondent superior, hospital liability and strick liability. Regarding the criminal law policy against doctors who perform malpractice in the hospital if malpractices are qualified and policies can be granted in accordance with the elements of the act was committed by a subject of law, the existence of errors, the act committed is against the law, the offender is able to be responsible, and the exclusion of sentences.

Keywords: Health, doctor, hospital, malpractice.

(14)

ABSTRAK

Kesehatan merupakan hak asasi manusia, dimana setiap orang berhak atas hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal yang layak, mendapatkan lingkungan hidup yang baik, sehat dan berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Terdapat berbagai macam penyediaan pelayanan kesehatan yang terbuka untuk umum, salah satunya rumah sakit. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan dirumah sakit tidak dapat terlepas dari adanya peranan profesi dokter. Seiring dengan perkembangan zaman yang sangat pesat, maka turut sertanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kesehatan pada saat ini mengharuskan seorang dokter wajib mengikuti perkembangan yang ada dalam rangka pemberian pelayanan yang bermutu, seperti halnya dalam metode perawatan membuat dokter tidak dapat secara leluasa memberikan tindakan medis. Akibat dari adanya perkembangan tersebut membuat permasalahan yang timbul dalam pelayanan kesehatan juga bertambah besar dan kemungkinan untuk melakukan kesalahan semakin besar, secara medis permasalahan yang timbul dalam pelayanan kesehatan disebut dengan malpraktek. Berdasarkan uraian di atas adapun permasalahan yang diangkat bagaimanakah pertanggungjawaban pidana oleh rumah sakit terhadap dokter yang melakukan malpraktek dalam pelayanan kesehatan dan bagaimanakah kebijakan hukum pidana terhadap dokter yang melakukan malpraktek di rumah sakit

Metode penelitian yang dipergunakan adalah metode penelitian normatif, yaitu pendekatan perundang-undangan (The Statute Approach) dan pendekatan analisa konsep hukum (Analitical & Conseptual Approach), artinya suatu masalah akan dilihat dengan menelaah semua undang-undang dan menganlisa konsep hukum.

Adapun hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah secara hukum, rumah sakit dapat dimintai pertanggungjawaban pidana sesuai dengan ketentuan Pasal 46 UU Rumah Sakit, Pasal 359 KUHP, dan Pasal 361 KUHP. Secara korporasi rumah sakit juga dapat dimintai pertanggungjawaban pidana sesuai dengan teori respondent superior, hospital liability, dan strick liability. Mengenai kebijakan hukum pidana terhadap dokter yang melakukan malpraktek dirumah sakit apabila malpraktek telah memenuhi syarat dan kebijakan dapat diberikan sesuai dengan unsur perbuatan dilakukan oleh subjek hukum, adanya kesalahan, perbuatan yang dilakukan bersifat melawan hukum, adanya pelaku mampu bertanggungjawab, dan adanya pengecualian penjatuhan pidana.

Kata Kunci: Kesehatan, dokter, rumah sakit, malpraktek

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan merupakan hak asasi manusia, dimana setiap orang berhak atas hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal yang layak, mendapatkan lingkungan hidup yang baik, sehat dan berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Pengertian kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.1 Kesehatan merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum yang harus diwujudkan melalui berbagai upaya kesehatan dalam rangkaian pembangunan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu yang didukung oleh suatu sistem kesehatan nasional. Negara bertanggung jawab atas hal penyediaan pelayanan kesehatan.

Terdapat berbagai macam penyediaan pelayanan kesehatan yang terbuka untuk umum, antara lain yaitu dokter praktek, pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), klinik kesehatan, rumah sakit, rumah bersalin, bidan praktek, laboratorium kesehatan, mantra praktek, pengobatan masal dan psikolog atau psikiater praktek.

Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan merupakan bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung

1

Soekidjo Notoatmodjo, 2010, Etika dan Hukum Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta, h.7.

(16)

penyelenggaraan upaya kesehatan. Pengertian rumah sakit sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (selanjutnya disebut UU Rumah Sakit) menyatakan:

“rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggrakan

pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan

pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat”.

Rumah sakit sebagai salah satu sarana pelayanan kesehatan yang memberikan pertolongan pertama pada hakekatnya berfungsi sebagai tempat penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan, memiliki makna yang merupakan tanggung jawab pemerintah dalam meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan di rumah sakit mempunyai cirinya tersendiri dan organisasi yang sangat terstruktur sesuai dengan jenis rumah sakit tersebut.2

Rumah sakit terbagi menjadi beberapa jenis, berdasarkan jenis penyakit atau masalah kesehatan penderita, rumah sakit dibagi menjadi 2 yaitu:

a. Rumah Sakit Umum (RSU) b. Rumah Sakit Khusus

Selain rumah sakit berdasarkan jenis penyakit atau masalah kesehatan penderita terdapat pula rumah sakit berdasarkan kepemilikannya, antara lain:

1. Rumah sakit yang dikelola dan dimiliki oleh Departemen Kesehatan; 2. Rumah sakit yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah (RSUD), yaitu:

2

(17)

a. Rumah Sakit Umum daerah Provinsi b. Rumah Sakit Umum daerah Kabupaten

3. Rumah sakit yang dikelola dan dimiliki oleh TNI dan POLRI, yaitu: a. Rumah Sakit Angkatan Darat (RSAD)

b. Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) c. Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) d. Rumah Sakit POLRI

4. Rumah sakit yang dikelola dan dimiliki oleh Departemen lain dan BUMN 5. Rumah Sakit Yang dikelola dan dimiliki swasta. 3

Penyelenggaraan pelayanan kesehatan dirumah sakit tidak dapat terlapas dari adanya peranan tenaga medis. Hal ini disebabkan karena kebutuhan pasien yang mendatangi rumah sakit dengan tujuan meminta pertolongan pertama kepada tenaga medis, karena tenaga medis dianggap mampu untuk mengobati penyakit yang diderita oleh pasien. Yang merupakan tenaga medis sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan (selanjutnya disingkat UU Tenaga Kesehatan) pada Pasal 11 ayat (2) yang menyatakan:

“Jenis tenaga kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga medis

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas dokter, dokter gigi,

dokter spesialis, dan dokter gigi spesialis”. Maka dari itu penyelenggaraan pelayanan kesehatan dibidang medis tidak dapat dipisahkan dari adanya peranan

3

(18)

seorang dokter, dalam hal ini pihak rumah sakit beserta dokter sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan dalam bidang perawatan kesehatan dan pasien dikenal sebagai penerima jasa pelayanan kesehatan.

Pengertian dokter sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (selanjutnya disebut UU Praktik Kedokteran) pada Pasal 1 ayat (2) yaitu:

“dokter dan dokter gigi adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi, dan dokter

spesialis lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.”

Sebagai pekerjaan yang mulia, profesi dokter bukanlah profesi biasa seperti profesi-profesi lainnya. Sebelum seorang dokter menjalankan profesi kedokterannya maka ia diwajibkan untuk lulus pendidikan kedokteran dari lembaga-lembaga pendidikan yang telah disahkan sebelumnya oleh Konsil Kedokteran Indonesia. Selain menjalankan pendidikan yang berat seorang dokter, tidak langsung dapat menjalankan prakteknya begitu saja, melainkan dokter tersebut harus wajib memiliki surat izin praktek yang dikeluarkan oleh pejabat kesehatan yang berwenang.

(19)

tidak dapat secara leluasa memberikan tindakan medis. Mengingat profesi dokter yang sangat mulia, tentu saja terdapat resiko-resiko besar yang dihadapi dalam menjalankan tugasnya. Secara tidak langsung hal tersebut membuat pengetahuan dan kesadaran masyarakat semakin tinggi akan berbagai permasalahan dalam bidang kesehatan. Akibat dari adanya perkembangan tersebut membuat permasalahan yang timbul dalam pelayanan kesehatan juga bertambah besar dan kemungkinan untuk melakukan kesalahan semakin besar.

Dahulu jika terjadi sesuatu tindakan yang tidak terduga terhadap pasien, baik dalam hal diagnosis, terapeutik atau manajemen penyakit, yang dilakukan secara melanggar hukum, kepatutan, kesusilaan dan prinsip-prinsip professional, baik dilakukan dengan kesengajaan atau ketidak hati-hatian yang menyebabkan salah tindak, rasa sakit, luka, cacat, kerusakan pada tubuh dan jiwa, serta menyebabkan kematian, maka pasien atau pihak keluarga tidak pernah menuntut pihak dokter ataupun rumah sakit, karena hal tersebut dianggap sebagai takdir yang ditentukan oleh Tuhan. Akan tetapi pada saat ini sering timbul gugatan dari pasien atau masyarakat yang merasa dirugikan akibat kesalahan yang dilakukan oleh pihak dokter untuk menuntut ganti rugi. Sehingga munculah kasus-kasus tersebut di media cetak dan media elektronik serta berujung pada gugatan yang dilakukan oleh pasien. Tindakan tidak terduga yang dimaksud diatas merupakan tindak pidana yang dilakukan oleh dokter.

(20)

yang tidak sesui dengan standar profesi medik dalam menjalankan profesinya. Malpraktek tersebut sudah tentu bukanlah hal yang diinginkan oleh dokter dan pasien. Meskipun hal tersebut tidak diinginkan, tetapi karena suatu hal kejadian malpraktek pun bisa terjadi kepada dokter manapun, baik itu karena kesengajaan atau kelalaian.4

Akibat yang ditimbulkan dari dugaan malpraktek tersebut membuat pihak dokter selalu disalahkan. Apabila kembali melihat pada hubungan antara dokter dan pasien, maka hubungan tersebut berdasarkan keadaan sosial budaya dan penyakit pasien, dimana menurut Stas dan Hollender (1956) dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1. Activity- Passivy

Hubungan ini terjadi pada pasien yang keselamatan jiwa yang sedang terancam, sedang tidak sadar atau mengalami gangguan mental yang berat.

2. Guidance- Cooperation

Adanya hubungan membimbing serta kerjasama yang dilakukan oleh dokter dengan pasien. Pada pola ini penyakit yang dialami oleh pasien biasanya tidak terlalu berat, seperti misalnya infeksi baru yang dialami oleh pasien. Dalam hal ini pasien tetap sadar mengobati penyakit yang dideritanya.

3. Mutual Participation

Pada pola hubungan ini dokter dan pasien memiliki kedudukan yang sederajat. Pasien memiliki peran aktif untuk memelihara kesehatannya, misalnya dengan melakukan medical check up.5

Meskipun aturan dalam menjalankan praktek kedokteran telah diatur secara jelas dalam UU Praktik Kedokteran, tetapi masih seringnya ditemui

4

J. Guwandi, 2005, Hukum Medik (Medical Law), Balai Penerbit FKUI, Jakarta, h.20..

5

(21)

kesalahan dalam pemberian pelayanan kesahatan. Menurut UU Rumah Sakit Bab VIII mengenai Hak dan Kewajiban bagian Kesatu tentang kewajiban Rumah Sakit pada Pasal 29 ayat (1) huruf S UU Rumah Sakit menyatakan:

“Melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas rumah sakit dalam melaksanakan tugas”.

Pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Bab XXI Menyebabkan Mati Atau Luka-Luka Karena Kealpaan dalam Pasal 359 KUHP dan Pasal 360 KUHP yang membahas tentang kejahatan karena keselahan dalam menjalankan suatu jabatan atau pencarian diatur dalam Pasal 361 KUHP yang menyebutkan “jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini dilakukan dalam menjalankan suatu jabatan atau pencarian, maka pidana ditambah dengan sepertiga dan yang bersalah dapat dicabut haknya untuk menjalankan pencarian dalam mana dilakukan kejahatan dan

hakim dapat memerintahkan supaya putusannya diumumkan”.

(22)

Zainoel Abidin (selanjutnya disingkat rumah sakit B) dan pemeriksaan dilakukan oleh dokter Radjudin dan ditemukannya benda asing di dalam perut korban akibat bekas Operasi Caesar yang dilakukan oleh dokter di rumah sakit A. selain itu pasien pun bekonsultasi dengan dokter Andalas yang berada di rumah sakit B, hasil pemeriksaan pun menyatakan bahwa pasien mengalami infeksi pada bekas operasiyag dilakukan oleh dokter di rumah sakit A. Dokter Andalas melakukan operasi ulang pada pasien dan menemukan kain kasa sepanjang kurang lebih 20 cm. Dengan adanya kejadian seperti ini pasien pun akhinya meninggal dunia karena terlalu banyaknya infeksi yang terjadi di dalam perutnya, maka dari itu dengan adanya kejadian seperti ini terjadilah tuntutan yang diajukan oleh pihak keluarga kepada dokter yang melakukan Operasi Caesar awal dirumah sakit A.6 Begitulah tindak pidana yang dilakukan oleh dokter dan terjadi di dalam masyarakat.

Kurang terungkapnya perlindungan hukum oleh rumah sakit terhadap dokter yang melaksanakan profesi kedokterannya membuat sebagian dokter menjadi khawatir dan terancam, karena selalu dibayangi akan kesalahan medis terhadap pasien yang dirawatnya yang dapat berujung pada tindak pidana, pada UU Rumah Sakit khususnya Pasal 62 UU Rumah Sakit yang menyatakan hanya mengatur tentang pidana penyelenggaraan rumah sakit yang tidak memiliki izin.

Pada dasarnya akibat dari kesalahan yang dilakukan oleh dokter tersebut mempunyai dampak sangat merugikan yang akan mengurangi kepercayaan pasien

6

(23)

atau masyarakat terhadap pihak dokter dan pihak Rumah Sakit, serta menimbulkan kerugian pada pasien. Untuk itu dalam memahami ada atau tidaknya kesalahan pemberian tindakan pelayanan kesahatan yang dilakukan oleh dokter harus diperhatikan aspek hukum yang mendasari terjadinya hubungan antara pasien, dokter, dan rumah sakit. Maka dapat dikaji suatu permasalahan mengenai tanggung jawab rumah sakit secara pidana bagi dokter yang melakukan malpraktek dalam pelayanan kesehatan dan konsep hukum pidana terhadap dokter yang melakukan malpraktek di dalam Rumah Sakit dengan mengambil judul penelitian “PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA OLEH RUMAH SAKIT TERHADAP DOKTER YANG MELAKUKAN MALPRAKTEK”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat di tarik permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah pertanggungjawaban pidana oleh rumah sakit terhadap dokter yang melakukan malprktek dalam pelayanan kesehatan ?

2. Bagaimanakah kebijakan hukum pidana terhadap dokter yang melakukan malpraktek di rumah sakit ?

1.3 Ruang Lingkup Masalah

(24)

pembahasan menjadi terarah dan tidak menyimpang dari pokok permasalahan. Ruang lingkup dari permasalahan ini adalah mengenai kebijakan hukum pidana terhadap dokter yang melakukan malpraktek di rumah sakit. Selain itu pasal-pasal yang mengatur mengenai pertanggungjawaban rumah sakit yang diatur dalam KUHP, Undang-Undang Rumah Sakit, dan Undang-Undang Praktik Kedokteran.

Terkait dengan permasalahan kedua yang akan dibahas adalah mengenai kesalahan dokter dalam pelayanan kesehatan, tanggung jawab rumah sakit terhadap dokter dalam pelayanan kesehatan. Membahas uraian-uraian di atas, maka dapat diketahui jawaban dari permasalahan pertama sekaligus dapat menjawab dan membahas mengenai permasalahan kedua. Jika dalam uraian selanjutnya di singgung hal-hal lain di luar ruang lingkup masalah ini, maka hal tersebut hanyalah sebagai pelengkap dan sebagai upaya untuk memperjelas uraian guna lebih sempurnanya karya tulisan ini.

1.4 Tujuan Penelitian

Setiap penulisan karya ilmiah, tentu mempunyai suatu tujuan, baik dilihat dari kumpulan data maupun dilihat dari manfaat yang dihasilkan. Adapun tujuan dari penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Tujuan Umum

(25)

b. Tujuan Khusus

Berdasarkan permasalahan yang dibahas dalam penulisan penelitian ini, penelitian yang dilakukan untuk membahas permasalahan tersebut mempunya tujuan khusus:

1. Untuk mengetahui kebijakan hukum pidana terhadap dokter yang melakukan malpraktek di rumah sakit.

2. Untuk mengetahui pertanggungjawaban rumah sakit secara pidana bagi dokter yang melakukan malpraktek dalam pelayanan kesehatan.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Manfaat Teoritis

Penulisan karya tulis ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan penelitian bagi lembaga Fakultas Hukum Universitas Udayana dan sebagai bahan referensi pada perpustakaan.

b. Manfaat Praktis

(26)

1.6 Landasan Teoritis

Untuk mengkaji lebih lanjut mengenai pertanggungjawaban pidana oleh rumah sakit terhadap dokter yang melakukan malpraktek dalam pelayanan kesehatan, terlebih dahulu akan dikemukakan sekilas mengenai hal-hal yang berkaitan dan mendukung permasalahan yang akan di bahas selanjutnya dalam tulisan ini.

a. Pengertian Pidana dan Tindak Pidana

Istilah hukuman dan pidana memiliki arti yang berbeda, hukuman adalah istilah umum untuk segala macam sanksi baik itu pidana, perdata, administratif, dan disiplin. Istilah pidana diartikan sempit yang berkaitan dengan hukum pidana.7

Hukum pidana menurut Van Hamel dalam bukunya Moeljatno, hukum pidana didefinisikan sebagai dasar-dasar dan aturan-aturan yang dianut oleh suatu Negara dalam menyelenggarakan ketertiban umum (rechtsoerde) yaitu melarang apa yang bertentangan dengan hukum dan mengenakan suatu nestapa yang melanggar larangan-larangan tersebut.8 Menurut Moeljatno hukum pidana merupakan dasar-dasar dan aturan-aturan untuk:

1. Menentukan perbuatan-perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan, yang dilarang, dengan disertai ancaman atau sanksi berupa pidana tertentu bagi barang siapa melanggar larangan tersebut;

2. Menentukan kapan dan dalam hal-hal apa kepada mereka yang telah melanggar larangan-larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yang telah diancamkan;

7

Andi Hamzah, 1994, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, h. 27. (Selanjutnya disingkat Andi Hamzah I).

8

(27)

3. Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan tersebut.9

Uraian yang telah dijabarkan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum pidana mengatur tentang:

1. Larangan untuk melakukan suatu perbuatan;

2. Syarat-syarat agar seseorang dapat dikenakan sanksi pidana;

3. Sanksi pidana apa yang dapat dijatuhkan kepada seseorang yang melakukan suatu perbuatan yang dilarang (delik);

4. Cara mempertahankan atau memberlakukan hukum pidana.

Istilah tindak pidana berasal dari “strafbaar feiit”, Istilah ini terdapat dalam

Wetboek van Strafrecht (WvS) Belanda demikian juga WvS Hindia Belanda atau yang dikenal dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), tetapi tidak ada penjelasan resmi mengenai apa yang dimaksud dengan “strafbaar feiit” tersebut. Pengertian tindak pidana merupakan suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenai hukuman pidana, dan pelaku ini dapat dikatakan merupakan subyek tindak pidana.10

Perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, yang diancam dengan pidana. Pada sistem KUHP Indonesia mengenal beberapa delik, yaitu:

9

Ibid h.10.

10

(28)

a. Kejahatan ( misdrijven) yang dimuat di dalam Buku Kedua b. Pelanggaran (Overtredingen) yang dimuat di dalam Buku Ketiga

Pembagian jenis Tindak Pidana ini dapat didasarkan kepada berat atau ringannya ancaman, sifat, bentuk, dan cara perumusan suatu tindak pidana dan lainnya. Perbuatan-perbuatan pidana menurut sistem KUHP kita dibagi atas kejahatan (misdrijiven) dan pelanggaran (overtredingen). Menurut Memorie van Toelichting

(M.v.T) pembagian atas dua jenis tadi didasarkan atas perbedaan prinsipil. Selain pembedaan tindak pidana atas kejahatan dan pelanggaran sebagaimana dapat dilihat di dalam KUHP, dikenal juga pembedaan atau penggolongan tindak pidana yang didasarkan kepada hal:

1. Cara merumuskan tindak pidana:

Cara merumuskan tindak pidana ini terbagi menjadi 2 yaitu melalui delik formil (formele delicten) dan delik materiil (materiele delicten).

2. Bentuk kesalahan:

Bentuk kesalahan dalam tindak pidana terbagi menjadi 2 yaitu delik dolus

(dolus delicten) dan delik culpa (culpose delicten).

3. Perbedaan Subjek:

Perbedaan subjek dalam tindak pidan dibagi menjadi 2 yaitu delik khusus (delicta propria) dan delik umum (commune delicten).

4. Berdasarkan kepada sumbernya:

Berdasarkan kepada sumbernya tindak pidan dibagi menjadi 2 yaitu tindak pidana umum dan tindak pidana khusus.11

b. Pertanggungjawaban Pidana dan Teori Pertanggungjawaban Pidana

Pada dasarnya tindak pidana merupakan perbuatan atau serangkaian perbuatan atau serangkaian perbuatan yang didasari sanksi pidana. Dilihat dari istilahnya, hanya

11

(29)

sifat-sifat dari perbuatan saja yang meliputi suatu tindak pidana sedangkan sifat-sifat orang yang yang melakukan tindak pidana menjadi bagian dari persoalan lain, yaitu pertanggungjawaban pidana. Menurut Van Hamel bertanggung jawab adalah suatu keadaan normalitas psychis dan kematangan atau kecerdasan yang membawa 3 kemampuan yaitu:

1. Mampu untuk mengerti nilai dari akibat-akibat perbuatannya sendiri; 2. Mampu untuk menyadari bahwa perbuatannya itu menurut pendangan

masyarakat tidak dibolehkan;

3. Mampu untuk menentukan kehendakya atas perbuatan-perbuatannya itu.12

Menurut M.v.T, secara negatif menyebutkan mengenai pengertian kemampuan bertanggungjawab itu antara lain, tidak ada kemampuan bertanggungjawab pada si pelaku dalam hal:

1. Ia tidak ada kebebasan untuk memilih antara berbuat dan tidak berbuat mengenai apa yang dilarang atau diperintahkan oleh undang-undang;

2. Ia ada dalam suatu keadaan yang sedemikian rupa, sehingga tidak dapat menginsyafi bahwa perbuatannya itu bertentangan dengan hukum dan tidak dapat menentukan akibat perbuatannya.13

Pemberian sanksi bagi seseorang yang telah melakukan suatu tindak pidana secara umum bertujuan untuk memberikan suatu efek jera bagi seseorang tersebut agar suatu saat nanti tidak mengulangi tindak pidana tersebut kembali. Pemberian

12

Moeljatno, op.cit, h.15.

13

(30)

pidana sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban pidana harus memenuhi 3 hal yaitu dapat menginsafi (mengerti) makna perbuatannya dalam kejahatan, dapat menginsafi bahwa perbuatannya di pandang tidak patut dalam pergaulan di masyarakat, mampu untuk menentukan niat atau kehendaknya terhadap perbuatan tadi. Maka dapat dikaji mengenai teori pertanggungjawaban pidana yang dalam istilah asing disebut dengan teorekenbaardheid atau criminal responsibility yang menjurus kepada pemidanaan pelaku dengan maksud untuk menentukan apakah seorang terdakwa atau tersangka dapat dipertanggungjawabkan atas suatu tindakan pidana yang terjadi atau tidak.14

Pompe memberikan pendapat mengenai unsur-unsur kemampuan bertanggungjawab sebagai berikut:

1. Kemampuan berpikir pembuat yang memungkinkan ia menguasai pikirannya, yang memungkinkan ia menentukan perbuatannya.

2. Dan oleh sebab itu, ia dapat menentukan akibat dari perbuatannya. 3. Dan oleh sebab itu pula, ia dapat menentukan kehendaknya sesuai

dengan pendapatnya.15

Terkait dengan pertanggungjawaban pidana yang erat hubungannya dengan kesalahan, untuk menentukan seseorang tersebut melakukan tindak pidana maka dapat dilihat terlebih dahulu apakah dari perbuatannya harus mempunyai kesalahan. Adapun teori yang mengatur mengenai kesalahan yaitu:

1. Teori psikologis merupakan teori yang menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang terdapat dalam alam pikiran orang yang bersalah (si pelaku) tadi,

14

Amir Ilyas, op.cit. h. 67.

15

(31)

yang seakan-akan dapat ditangkap (dimengerti) oleh hakim, mungkin dengan bantuan seorang psikiater (dokter penyakit jiwa) atau psikoanalis.

2. Teori normatif merupakan teori yang menganggap kesalahan tidak sebagai sesuatu yang terdapat dalam alam pikiran, tetapi sebagai sifat yang sedemikian rupa yang ditentukan oleh pertimbangan hukum.

3. Teori dimaksudkan disini, dimana kesalahan dilihat dari segi keputusan pengadilan yaitu tindakan menghukum yang diambil.16

c. Teori Kebijakan Hukum Pidana

Teori kebijakan merupakan suatu teori yang digunakan sebagai sebagai prinsip-prinsip umum yang berfungsi untuk mengarahkan pemerintah (dalam arti luas termasuk pula aparat penegak hukum dalam mengelola, mengatur, atau menyelesaikan urusan-urusan publik, masalah-masalah masyarakat atau bidang-bidang penyusunan peraturan perundang-undangan dan pengaplikasian hukum/peraturan, dengan tujuan (umum) yang mengarah pada upaya mewujudkan kesejahteraan atau kemakmuran masyarakat (warga negara).17

Sudarto mengungkapkan tiga arti mengenai kebijakan criminal, yaitu:

1. Dalam arti sempit: keseluruhan asas dan metode yang menjadi dasar dari reaksi terhadap pelanggaran hukum yang berupa pidana;

2. Dalam arti luas: keseluruhan fungsi dari aparatur penegak hukum, termasuk di dalamnya cara kerja dari pengadilan dan polisi;

3. dalam arti luas yang diambil dari Jorgen Jepsen: keseluruhan kebijakan yang dilakukan melalui perundang-undangan dan badan-badan resmi, yang bertujuan untuk menegakkan norma-norma sentral dari masyarakat.18

16

Soedjono, 1981, Pertanggungjawaban Dalam Hukum Pidana, Alumni, Bandung, h.54.

17

Barda Nawawi Arief, 2008, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan, Prenada Media Group, Jakarta, h. 22.

18

(32)

Usaha dan kebijakan untuk membuat peraturan hukum pidana yang baik pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari tujuan penanggulangan kejahatan. Jadi kebijakan atau politik hukum pidana juga merupakan bagian dari polittik kriminal dengan perkataan lain dilihat dari sudut politik kriminal, maka politik hukum pidana identik dengaan pengertian kebijakan penanggulangan kejahatan dengan hukum pidana.19

d. Teori Korporasi

Korporasi berasal dari kata corporate yang artinya suatu badan yang mempunyai sekumpulan anggota dan anggota tersebut mempunyai hak dan kewajiban sendiri yang terpisah dari hak dan kewajiban tiap-tiap anggotanya. Korporasi juga badan hukum dan terdapat alasan untuk membatasi korporasi sebagai badan hukum karena memiliki unsur-unsur yaitu mempunyai harta yang terpisah, ada suatu organisasi yang ditetapkan oleh suatu tujuan dimana kekayaan terpisah itu diperuntukkan, dan ada pengurus yang menguasai dan mengurusnya.20

Terdapat tiga situasi dimana korporasi tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab pidana atas tindak pidana yang dilakukan pengurs atau anggotanya yaitu:

1. Jika tindakan pengurus dan anggotanya masih dalam ruang lingkup dan sifat dasar pekerjaannya di korporasi;

19

Ibid, h.. 28.

20

(33)

2. Jika tindak pidana ditujukan untuk menguntungkan korporasi;

3. Pengadilan wajib melimpahkan kesengajaan pengurus tersebut kepada korporasi.21

Beberapa teori-teori malpraktek yang didalamnya menyebutkan sumber dari perbuatan malpraktek yaitu:

a. Teori pelanggaran kontrak

Teori pelanggaran kontrak menyatakan bahwa sumber dari perbuatan malpraktek adalah karena terjadinya pelanggaran kontrak. Secara prinsip hubungan antara tenaga kesehatan dengan pasien baru dapat terjadi apabila telah terjadi kontrak antara kedua belah pihak, kecuali dalam keadaan gawat darurat. Situasi seperti ini mendapatkan pesetujuan kontrak dari pihak ketiga yaitu keluarga pasien. Namun jika pasien tersebut dalam keadaan darurat tanpa adanya keluarga, maka demi kepentingan pasien menurut perundang-undangan yang berlaku, seorang tenaga kesehatan diwajibkan memberikan pertolongan pertama.

b. Teori perbuatan yang disengaja

Teori perbuatan yang disengaja merupakan teori yang dapat digunakan oleh pasien sebagai dasar untuk menggugat tenaga kesehatan karena perbuatan malpraktek adalah kesalahan yang dibuat dengan sengaja yang mengakibatkan seseorang secara fisik mengalami cedera.

c. Teori kelalaian 21

(34)

Teori kelalaian merupakan teori yang menyebutkan bahwa sumber perbuatan malpraktek adalah kelalaian (negligence). Kelalaian yang menyebabkan sumber perbuatan yang dikategorikan dalam malpraktek ini harus dapat dibuktikan adanya, selain itu kelalaian yang dimaksud harus termasuk ke dalm kategori kelalaian yang berat (culpa lata). Untuk membuktikan hal yang demikian tentu saja bukan merupakan tugas yang mudah bagi aparat penegak hukum.22

1.7 Metode Penelitian

Penulisan penelitian ini dilakukan dengan ditunjang oleh sekumpulan data, untuk memperoleh data-data yang akurat, maka dilakukan langkah-langkah pengumpulan data dengan menggunakan data sebagai berikut:

a. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan penelitian ini adalah penelitian normatif yaitu penelitian hukum kepustakaan yang mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan.23 Penulisan penelitian ini beranjak dari adanya suatu norma kabur di dalam UU Rumah Sakit khususnya pada Pasal 29 ayat (1) huruf S yang

22

Ninik Mariyanti, 1988, MalpraktekKedokteran Dari Segi Hukum Pidana dan Perdata,Bina Aksara, Jakarta, h. 44.

23

(35)

mana tidak terdapat penjelasan apakah dokter juga termasuk ke dalam petugas rumah sakit.

b. Jenis Pendekatan

Sebuah penelitian agar dapat mengungkapkan kebenaran jawaban atas permasalahan secara sistematis, metodologis, konsisten, dan dipertanggungjawabkan keilmiahannya, hendaknya disusun dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang tepat.

Adapun pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan perundang-undangan (The Statute Approach) dan pendekatan analisa konsep hukum (Analitical & Conseptual Approach). Pendekatan perundang-undangan

(The Statute Approach) adalah metode penelitian dengan menelaah semua undang-undang, memahami hierarki dan asas-asas dalam peraturan perundang-undangan. Dikatakan bahwa pendekatan peraturan perundang-undangan berupa legislasi dan regulasi yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum.24 Maka dalam hal ini yang dimaksud dengan pendekatan perundang-undangan dengan mengkaji dan menganalisa beberapa undang-undang yaitu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, dan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

24

(36)

Pendekatan analisa konsep hukum (Analitical & Conseptual Approach)

adalah dalam pendekatan anlisa konsep hukum dilakukan dengan menggunakan konsep, prinsip-prinsip hukum yang relevan, pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum dengan mempelajari pandang-pandangan dan doktrin-doktrin di dalam ilmu hukum terhadap pembahasan mengenai kebijakan hukum terhadap dokter yang melakukan malpraktek dan pertanggungjawaban pidana oleh rumah sakit terhadap dokter yang melakukan malpraktek dalam pelayanan kesehatan. Pemahaman akan pendekatan analisa konsep hukum ini akan melahirkan konsep-konsep hukum yang relevan dengan isu yang dihadapi, akan tetapi tetap menggunakan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

c. Bahan Hukum

Bahan hukum yang digunakan dalam penulisan penelitian ini, yaitu :

1. Bahan Hukum Primer adalah suatu peraturan perundang-undangan yang memiliki kaitan langsung maupun tidak langsung dari pengambilan keputusan dalam pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, antara lain :

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Kitab Undang-undang Hukum Pidana;

c. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit; d. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran

(37)

mempunyai hubungan erat dengan bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisis dan memahami bahan hukum primer.25

3. Bahan Hukum Tersier adalah bahan-bahan yang memberi petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, misalnya seperti kamus-kamus hukum, ensiklopedia, indeks komulatif, dan sebagainya.26 Penggunaan bahan hukum tersier ini harus memperoleh bahan hukum atau informasi terbaru dan berkaitan dengan permasalahan.

d. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Teknik pengumpulan data yaitu teknik awal yang digunakan dalam setiap penelitian ilmu hukum, baik dalam penelitian hukum normatif maupun dalam penelitian hukum empiris. Dokumen yang dipelajari berupa peraturan perundang-undangan, literatur, makalah, artikel, dan sebagainya demi medapatkan data yang objektif dan akurat.

Penelitian hukum normatif dikenal dengan adanya teknik untuk mengumpulkan data dengan cara studi kepustakaan yaitu data kepustakaan dikumpulkan dengan cara membaca, mencatat, mempelajari, dan menganalisa isi pustaka yang berkaitan dengan masalah objek penelitian serta dalam peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penyusunan penelitian ini. Adapun

25

Ronny Hanitijo Soemitro, op.cit, h. 53.

26

(38)

peraturan perundang-undangan yang digunakan adalah KUHP, UU Rumah Sakit,dan UU Praktik Kedokteran.

e. Teknik Analisa

Analisa data adalah kegiatan merapikan data hasil pengumpulan data sehingga siap dipakai untuk dianalisa.27 Apabila keseluruhan bahan hukum yang diperoleh dan sudah terkumpul melalui studi kepustakaan maka dalam menganalisa bahan-bahan hukum yang telah terkumpul dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik deskripsi, sistematis, interpretasi, dan argumentasi. Maksudnya adalah bahan hukum yang telah rampung, dipaparkan dengan disertai analisis sesuai dengan teori yang terdapat pada peraturan perundang-undangan yang berlaku dan pada buku-buku literatur, guna mendapatkan kesimpulan sebagai akhir dari penulisan penelitian ini.

27

(39)

BAB II

TINJAUAN UMUM

2.1 Tindak Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana

2.1.1 Pengertian Tindak Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana

Istilah tindak pidana adalah berasal dari istilah yang dikenal dalam hukum pidana Belanda yaitu delik atau strafbaar feit. Kata strafbaar feit kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.28 Beberapa perkataan yang digunakan untuk menerjemahkan kata strafbaar feit oleh sarjana-sarjana Indonesia antara lain: tindak pidana, delict, dan perbuatan pidana. Sementara di dalam berbagai perundang-undangan digunakan istilah untuk menunjukkan pengertian kata strafbaar feit.

Beberapa istilah yang digunakan dalam undang-undang tersebut antara lain: peristiwa pidana, perbuatan pidana, perbuatan-perbuatan yang dapat dihukum, hal yang diancam dengan hukum, dan tindak pidana. Seperti halnya Utrecht, Moeljatno, dan Tirtaamidjaja dalam buku Wirjono Prodjodikoro memakai istilah peristiwa pidana sebagai jalan tengah agar tidak menimbulkan persepsi yang tidak tepat.29

Menurut Tongat, penggunaan berbagai istilah tersebut pada hakekatnya tidak menjadi persoalan sepanjang penggunaanya disesuaikan dengan konteksnya dan dipahami maknanya. Karena itu berbagai istilah tersebut digunakan bergantian

28

Wirjono Prodjodikoro,op.cit, h.57

29 Ibid.

29

(40)

bahkan dalam konteks yang lain istilah kejahatan untuk menunjukkan maksud yang sama.30

Pengertian tindak pidana menurut Wirjono Prodjodikoro, yaitu tindak pidana adalah pelanggaran norma-norma dalam tindak hukum lain, yaitu hukum perdata, hukum ketatanegaraan, dan hukum tata usaha pemerintah, yang oleh pembentuk undang-undang ditanggapi dengan suatu hukum pidana.31

Simons memberikan pendapatnya mengenai delict yaitu, delik merupakan suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu perbuatan atau tindakan yang dapat dihukum. Menurut d.Simons dalam bukunya C.S.T Kansil tindak pidana merupakan perbuatan salah dan melawan hukum yang diancam pidana dan dilakukan oleh seseorang yang mampu bertanggungjawab.32

Adapun Van Hamel dalam bukunya Lamintang yang merumuskan strafbaar feit sebagai suatu serangan atau suatu ancaman terhadap hak-hak orang lain, kemudian menurut Pompe dalam buku yang sama menyatakan perkataan strafbaar feit secara teoritis dapat dirumuskan sebagai suatu pelanggaran norma (gangguan terhadap tata tertib hukum) yang dengan sengaja ataupun tidak dengan segaja telah

30

Ismu Gunadi W. dan Jonaedi Effendi, 2011, Cepat dan Mudah Memahami Hukum Pidana, Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, h. 40.

31

Wirjono Prodjodikoro, op.cit, h.1.

32

(41)

dilakukan oleh seseorang pelaku, dimana penjatuhan hukuman terhadap pelaku tersebut adalah perlu demi terpeliharanya tertib hukum dan terjaminnya kepentingan umum.33 Menurut Moeljatno yang menggunakan istilah perbuatan pidana, yaitu perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar larangan.34

Menghukum seseorang sekaligus memenuhi tuntutan keadilan dan kemanusiaan, harus ada suatu perbuatan yang bertentangan dengan hukum dan dapat dipersalahkan kepada pelakunya. Tambahan terhadap syarat-syarat ini adalah bahwa pelaku yang bersangkutan harus merupakan seseorang yang dapat dimintai pertanggungjawaban. Sesuai dengan penjelasan di atas, maka pendapat Bambang Poernama sejalan dengan pendapat J.E Jonkers dalam buku Bambang Poernama, yang telah memberikan defenisi mengenai strafbaar feit menjadi dua pengertian, sebagaimana yang dikemukakan oleh Bambang Poernomo yaitu:

a. Definisi dalam arti sempit yaitu strafbaar feit merupakan suatu kejadian (feit)

yang dapat diancam pidana oleh undang-undang.

b. Definisi dalam arti luas yaitu strafbaar feit merupakan suatu kelakuan yang melawan hukum berhubungan dengan dilakukannya suatu perbuatan dengan sengaja atau alfa oleh seseorang yang dapat dipertanggung jawabkan.35

33

P.A.F. Lamintang, 1984, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Sinar Baru, Bandung, h. 172.

34

Moeljatno, op.cit, h. 54.

35

(42)

Menurut definisi dalam arti sempit pada hakekatnya menyatakan bahwa untuk setiap delik yang dapat dipidana harus berdasarkan undang-undang yang dibuat oleh pembentuk undang-undang dan pendapat umum tidak dapat menentukan lain dari pada apa yang telah ditetapkan dalam undang-undang. Definisi dalam arti luas lebih menitik beratkan kepada sifat melawan hukum dan pertanggungjawaban yang merupakan unsur-unsur yang telah dirumuskan secara tegas didalam setiap delik atau unsur yang tersembunyi secara diam-diam dianggap ada.36

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tindak pidana adalah perbuatan yang melanggar peraturan-peraturan pidana, diancam dengan hukuman oleh undang-undang (sanksi pidana) dan dilakukan oleh seseorang dengan kesalahan dan dapat dipertanggungjawabkan. Adanya suatu tindak pidana tidak dapat terlapas dari akibat yang ditimbulkan tindakan tersebut. Selain merugikan orang lain, tindak pidana juga akan berakibat pada adanya pertanggungjawaban pidana yaitu berupa hukuman, vonis atau penjatuhan sanksi pidana dimuka pengadilan kepada pelaku tindak pidana atau kejahatan tersebut. Pada umumnya tidak semua tindak pidana atau kejahatan dapat dijatuhi pidana, oleh karena itu di dalam hukum pidana berlaku suatu asas yaitu tidak dipidana jika ada kesalahan atau sering disebut dengan Geen Starf Zonder Schuld.37

36

Ibid.

37

(43)

Andi Hamzah mengemukakan dalam bukunya bahwa ada empat tujuan pidana, yaitu :

1. Reformasi adalah memperbaiki atau merehabilitasi penjahat menjadi orang baik dan berguna bagi masyarakat;

2. Restraint adalah mengasingkan pelanggar dari masyarakat;

3. Retribution adalah pembalasan terhadap pelanggar karena telah melakukan kejahatan;

4. Deterrence adalah memberikan efek jera atau mencegah sehingga baik terdakwa maupun orang lain yang mempunyai potensial menjadi penjahat akan jera dan takut melakukan kejahatan karena melihat pidana yang dijatuhkan. Sedangkan tujuan pidana yang banyakberkembang saat ini adalah variasi dari tujuan pidana reformasi dan deterrence.38

Berdasarkan sudut pandang terjadinya suatu tindakan yang dilarang, maka seseorang akan dipertanggungjawabkan atas tindakan-tindakan yang dilakukanya tersebut, apabila tindakan tersebut melawan hukum serta tidak ada alasan pembenar atau peniadaan sifat melawan hukum untuk pidana yang dilakukannya. Menurut Moeljatno dalam perbuatan yang dilarang disitu yang terpenting adalah guilty mind

yaitu sikap batin yang jahat dari si pelaku. Selain itu perbuatan tersebut menghambat cita-cita bangsa Indonesia yaitu datangnya masyarakat yang adil, makmur sehingga perbuatan tersebut merupakan bahaya bagi keselamatan masyarakat.

Alf Ross dalam bukunya Moeljatno mengemukakan pendapatnya mengenai apa yang dimaksud dengan seseorang yang bertanggungjawab atas pebuatannya, yaitu:

Pertanggungjawaban pidana dinyatakan dengan adanya suatu hubungan antara kenyataan-kenyataan yang menjadi syarat akibat dan akibat hukum yang diisyaratkan. Perbuatan pidana hanya menunjuk kepada dilarang dan diancamnya suatu perbuatan dengan pidana. Ini tergantung dari persoalan, apakah dalam melakukan perbuatan itu dia mempunyai kesalahan, sebab asas dalam

38

(44)

pertanggungjawaban dalamhukum pidana ialah: tidak dipidana jika tidak ada kesalahan (Geen starf zonder schuld: Actus non facit reum mens rea).39

Pertanggungjawaban pidana bagi seseorang, harus mempunyai kemampuan bertanggungjawab atau keadaan batin orang itu harus normal dan sehat.

Simons dalam bukunya Tongat menyatakan bahwa “ kesalahan adalah keadaan

batin psychis yang tertentu dari si pembuat dan hubungan antara keadaan batin si pembuat dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya.40 Kemampuan untuk bertanggungjawab merupakan unsur kesalahan, maka dari itu untuk membuktikan adanya kesalahan unsur tadi harus dibuktikan lagi, mengingat hal ini susah untuk dibuktikan dan memerlukan waktu yang cukup lama, maka unsur kemampuan bertanggungjawab dianggap diam-diam selalu ada karena pada umumnya setiap orang normal bathinnya mampu bertanggungjawab, kecuali jika ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa terdakwa mungkin jiwanya tidak normal, maka hakim akan memerintahkan untuk dilakukan pemeriksaan yang khusus terhadap keadaan jiwa terdakwa sekalipun tidak diminta oleh pihak terdakwa. Jika hasilnya masih meragukan hakim, maka berarti bahwa kemampuan bertanggungjawab tidak berhenti, sehingga kesalahan tidak ada dan pidana tidak dapat dijatuhkan berdasarkan asas tidak dipidana jika tidak ada kesalahan.41

39

Moeljatno, 1983, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Dalam Hukum Pidana, Bina Aksara, Jakarta, h. 150. (Selanjutnya disingkat Moeljatno II).

40

Tongat, 2008, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia Dalam Perspektif Pembaharuan, UUM Press, Malang, h. 222.

41

(45)

Selain itu untuk menentukan adanya pertanggungjawaban seseorang dalam melakukan suatu tindak pidana harus ada sifat melawan hukum dari tindak pidana, yang merupakan sifat terpenting dari tindak pidana. Mengenai sifat melawan hukum apabila dihubungkan dengan keadaan psikis atau jiwa pembuat tindak pidana yang dilakukannya dapat berupa kesengajaan atau karena kelalaian. Akan tetapi kebanyakan tindak pidana mempunyai unsur kesengajaan bukan unsur kelalaian. Bachtiar Agus Salim dalam bukunya Djoko Prokoso menyatakan bahwa ada beberapa syarat agar dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya yang harus dipenuhi, antara lain:

1. Tenang melakukan perbuatan pidana, perbuatan yang bersifat melawan hukum;

2. Mampu bertanggungjawab;

3. Melakukan perbuatan tersebut dengan sengaja atau karena kealpaannya; 4. Tidak adanya alasan pemaaf.42

2.1.2 Unsur-Unsur Tindak Pidana

Pada dasarnya, setiap tindak pidana harus terdiri dari unsur-unsur lahiriah (fakta) oleh perbuatan, mengandung perbuatan dan akibat yang ditimbulkan. Sebuah perbuatan tidak bisa begitu saja dikatakan tindak pidana, oleh karena itu harus diketahui apa saja unsur-unsur atau ciri-ciri dari perbuatan pidana itu sendiri. Adapun 5 unsur yang terkandung dalam tindak pidana, yaitu:

42

(46)

a. Harus ada sesuatu kekuatan (gedraging);

b. Kelakuan itu harus sesuai dengan uraian undang-undang; c. Kelakuan itu adalah kelakuan tanpa hak;

d. Kelakuan itu dapat diberatkan kepada pelaku; e. Kelakuan itu diancam dengan hukuman.43

Terdapat begitu banyak rumusan mengenai unsur-unsur tindak pidana. Setiap sarjana memiliki pendapat yang berbeda serta ada kesamaan pendapat. Seperti halnya Lamintang yang mengemukakan bahwa:

Yang dimaksud dengan unsur subjektif adalah unsur yang melekat pada diri si pelaku atau yang berhubungan dengan diri si pelaku dan termasuk di dalamnya segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya. Adapun yang dimaksud dengan keadaan-keadaan, yaitu dalam keadaan ketika tindakan-tindakan dari si pelaku harus dihapuskan.44

Adapun penjelasan mengenai unsur subjektif dan unsur objektif, yaitu: 4. Unsur Subjektif

Unsur subjektif adalah unsur yang berasal dari dalam diri pelaku. Asas hukum pidana menyatakan tidak ada hukuman kalau tidak ada kesalahan. Kesalahan yang dimaksud dalam hal ini adalah kesalahan yang diakibatkan oleh kesengajaan (intention/opzet/dolus) dan kealpaan (negligence or schuld).

5. Unsur Objektif

Unsur objektif adalah unsur yang berasal dari luar diri pelaku yang terdiri atas:

a. Perbuatan manusia, berupa: act, yakni perbuatan aktif atau perbuatan positif; omission, yakni perbuatan pasif atau perbuatan negative, yaitu perbuatan yang mendiamkan atau membiarkan.

b. Akibat (result) tersebut membahayakan atau merusak, bahkan menghilangkan kepentingan-kepentingan yang dipertahankan oleh

43

C.S.T. Kansil II, op.cit, h.11.

44

(47)

hukum, misalnya nyawa, badan, kemerdekaan, hak milik, kehormatan, dan lainnya.

c. Keadaan-keadaan (circumstances) pada umumnya, keadaan tersebut dibedakan antara lain; keadaan pada saat perbuatan dilakukan; keadaan setelah perbuatan dilakukan.

d. Sifat dapat dihukum dan sifat melawan hukum, sifat dapat dihukum berkenaan dengan alasan-alasan yang membebaskan si pelaku dari hukuman. Adapun sifat melawan hukum adalah apabila perbuatan itu bertentangan dengan hukum, yakni berkenaan dengan larangan atau perintah.45

Tidak hanya pengertian yang dijabarkan oleh Lamintang, Cristine dan Cansil pun turut menyatakan pendapat mengenai unsur-unsur tindak pidana yakni, selain harus bersifat melanggar hukum, perbuatan pidana haruslah merupakan

Handeling (perbuatan manusia), Strafbaar gesteld (diancam dengan pidana),

Toerekeningsvatbaar (dilakukan oleh seseorang yang mampu bertanggungjawab), serta adanya Schuld (terjadi karena kesalahan).46

Schaffmeister, Keijzer, dan Sutoris dalam buku Moeljatno merumuskan empat hal pokok dalam tindak pidana, yaitu tindak pidana adalah perbuatan manusia yang termasuk dalam ruang lingkup rumus delik, Wederrechtjek (melanggar hukum), dan dapat dicela. Tidak jauh berbeda dengan yang telah dijelaskan sebelumnya, Moeljatno menyebutkan bahwa tindak pidana terdiri dari lima elemen, yaitu kelakuan dan akibat (perbuatan), hal ikhwal atau keadaan yang menyertai perbuatan, keadaan tambahan yang memberatkan pidana, unsur

45

Laden Mepaung, op.cit, h. 9.

46

(48)

melawan hukum yang subjektif dan unsur melawan hukum yang objektif.47 Pada dasarnya tindak pidana adalah perbuatan atau serangkaian perbuatan yang akan dikenakan sanksi pidana.

2.1.3 Jenis-Jenis Tindak Pidana

Pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) membagi semua jenis tindak pidana kedalam dua golongan, baik yang termuat didalam maupun diluar KUHP, yaitu golongan kejahatan (misdrijven) yang terdapat dalam Buku II KUHP dan golongan pelanggaran (overtredingen) yang terdapat dalam Buku III KUHP. Terdapat dua pendapat mengenai jenis tindak pidana, yaitu penggolongan jenis tindak pidana bersifat kwalitatif dan penggolongan jenis tindak pidana bersifat kwantitatif, adapun penggolongan jenis tindak pidana yang bersifat kwalitatif, yaitu :

1. Rechtdelicten adalah perbuatan yang bertentangan dengan keadilan, terlepas apakah perbuatan itu diancam pidana dalam suatu undang-undang atau tidak. Tindak pidana ini disebut dengan kejahatan (mala perse). Kejahatan jenis ini tergolong dalam perbuatan pidana berat, misalnya: pembunuhan dan pencurian.

2. Wetsdelicten adalah perbuatan yang baru disadari oleh masyarakat sebagai tindak pidana karena undang-undang menyebutnya sebagai tindak

47

(49)

pidana,karena adanya undang-undang yang mengancamnya dengan sanksi pidana (mala quia prohibita).48

Terdapat perbedaan pendepat mengenai kedua jenis pidana tersebut, menurut

Mr.J. M. Van Bemmelen, dalam bukunya “Hand-en Leer-boek van het

Nederlandse Starfrecht” jilid II halaman 7, menyatakan suatu pendapat bahwa

perbedaan antara dua golongan tindak pidana ini tidak bersifat kwalitatif, melainkan hanya bersifat kwantitatif, yaitu kejahatan pada umumnya diancam dengan hukuman lebih berat dari pada pelanggaran dan ini nampaknya didasarkan pada sifat lebih berat dari pada kejahatan.49

Penggolongan ini penting, karena dalam Buku I KUHP terdapat beberapa ketentuan yang hanya berlaku bagi kejahatan, misalnya tentang percobaan dan penyertaan. Maka dari itu karena perbedaan antara dua golongan ini adalah kwantitatif maka diluar dari KUHP dalam undag-undang tertentu yang memuat penyebutan tindak pidana harus ditegaskan, apakah tindak pidana tersebut masuk golongan kejahatan atau masuk golongan pelanggaran.

2.2 Pengertian Rumah Sakit dan Korporasi Rumah Sakit

Istilah rumah sakit berasal dari bahasa Belanda yaitu Zeikenhuis. Ziek berarti sakit, zeiken yang berarti banyak orang sakit, sehingga diterjemahkan menjadi rumah

48

Moch Faisal Salam, 2001, Hukum Acara Pidana Dalam Teori dan Praktek, Mandar Maju, Bandung, h. 392.

49

(50)

para orang sakit dan dipersingkat menjadi rumah sakit.50 Pada kamus lengkap bahasa Indonesia yang menyebutkan bahwa rumah sakit adalah gedung tempat merawat orang sakit atau gedung tempat menyediakan dan memberikan pelayanan kesehatan yang meliputi berbagai masalah kesehatan.51

Ensiklopedi Nasional Indonesia memberikan definisi bahwa rumah sakit adalah:

“Sarana yang menyediakan pelayanan kesehatan rawat jalan dan rawat inap. Rawat jalan berupa klinik yang bergantung padabesarnya rumah sakit yang dapat bersifat tunggal atau terdiri dari banyak bagian sesuai pelayanan spesialistik. Sedangkan yang ada pada rawat inap adalah melayani pasien yang perlu dirawat, yang biasanya terbagi dalam bagian-bagian sesuai jenis

penyakit, kelompok umur, dan jenis kelamin”.52

Menurut rumusan World Health Organization (WHO), rumah sakit adalah usaha yang menyediakan pemondokan yang memberikan jasa pelayanan medik jangka pendek dan jangka panjang yang terdiri atas tindakan observasi, diagnotik, terapeutik, dan rehabilitatif untukorang-orang yang menderita sakit, terluka, dan untuk mereka yang melahirkan.

Pengertian rumah sakit menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340/ MENKES/ PER/III/2010 tentang Klasifikasi Rumah Sakit dalam Pasa1 ayat (1) menyatakan :

50

Amir Ilyas, op.cit, h. 9.

51

Rizky Maulana dan Putri Amelia, 2013, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Cahaya Agency, Surabaya, h. 360.

(51)

“Rumah sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan

pelayanan kesehatan serta dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian. Upaya pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh rumah sakit meliputi pelayanan rawat inap, rawat jalan, pelayanan gawat

darurat,pelayanan medik, dan pelayanan penunjang medik dan non medik”.

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa rumah sakit merupakan suatu instansi yang menyediakan jasa di bidang pelayanan kesehatan baik secara rawat jalan ataupun rawat inap, serta rumah sakit juga berfungsi sebagai tempat pendidikan tenaga kesehatan. Rumah sakit bukan lagi menjadi sekedar wadah, sarana tempat dilakukannya pelayanan kesehatan namun juga sebagai subjek hukum, penyelenggaraan rumah sakit di dasarkan pada pancasila, nilai kemanusian, etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan, persamaan hak, serta UU Rumah sakit. Sebagai subjek hukum maka rumah sakit memiliki hak dan kewajiban sebagaimana diatur

dalam Pasal 4 UU Rumah Sakit yang menyebutkan “rumah sakit mempunyai tugas

memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna”. Untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebutkan dalam Pasal 4 UU Rumah Sakit, maka rumah sakit memiliki fungsi sebagaimana diatur dalam Pasal 5 UU Rumah Sakit yaitu :

a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit;

b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis;

c. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan;

(52)

Pada dasarnya rumah sakit adalah suatu organisasi yang sifatnya memang sudah kompleks, dengan adanya perkembangan zaman dan teknologi maka semakin lama semakin bertambah kompleks serta bertambah padat modal, padat tenaga, padat teknologi, dan padat persoalan dalam berbagai bidang antara lain yaitu, hukum, ekonomi, etik, HAM, teknologi dan lain-lainnya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran yang penerapannya dilakukan dirumah sakit membuat bertambah kompleksnya manajemen di rumah sakit sehingga masyarakat bertambah kritis terhadap pelayanan yang diberikan pihak rumah sakit. Maka perlu dipersiapkan adanya langkah-langkah terhadap dampak hukum yang mungkin timbul terhadap manajemen rumah sakit akibat tuntutan dari pihak pasien baik secara perdata maupun pidana.

Rumah sakit pada hakekatnya adalah sebuah organisasi yang dibentuk oleh suatu badan hukum (pemerintah, perjan, yayasan, perseroan terbatas, dan perkumpulan). Maka dari itu rumah sakit merupakan sebagai subjek hukum pidana karena diakunya korporasi, dan korporasi juga sebagai subyek hukum pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 47 Rancangan Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (selanjutnya disingkat RUU KUHP Tahun 2012). Pengaturan tentang tindak pidana korporasi dalam RUU KUHP terletak pada Buku I Bagian II Pertanggungjawaban Pidana Paragraf 6 Korporasi pada Pasal 48 RUU KUHP, Pasal 49 RUU KUHP, Pasal 50 RUU KUHP, dan Pasal 51 RUU KUHP.53

53

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...