• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 4 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 4 Universitas Kristen Petra"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

1.1 Inventory Planning

Persediaan adalah salah satu unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan. Dalam perusahaan sebagian besar dari sumber-sumber perusahaan juga sering dikaitkan dengan persediaan. Persediaan sangatlah membantu, dengan adanya persediaan diharapkan perusahaan dapat melakukan proses produksi sesuai dengan permintaan konsumen dan juga kebutuhan. Persediaan juga dapat mencegah terjadinya kekurangan barang, keterlambatan pengiriman kepada konsumen, dan juga dapat merugikan perusahan yaitu image perusahaan yang kurang baik.

Menurut Heizer dan Render (2011), persediaan adalah menentukan keseimbangan antara investasi pelanggan dan persediaan. Manajemen persediaan sangat bermanfaat, tanpa manajemen persediaan yang baik tujuan persediaan tidak akan pernah mencapai strategi dengan biaya yang murah.

1.2 Continuous Review

Metode continuous review memiliki jumlah pesanan yang tidak tetap.

Pemesanan akan dilakukan secara terus menerus hingga persediaan mencapai titik maksimum. Nilai persediaan maksimum diperoleh berdasarkan penambahan order point dan order quantity. Persediaan yang selalu tersedia merupakan keuntungan dari sistem ini sehingga permintaan akan selalau terpenuhi.

Asumsi yang digunakan pada persediaan model continuous review adalah:

 Permintaan bersifat probabilistik.

 Harga bahan baku bersifat konstan baik terhadap kuantitas barang yang dipesan dan terhadap waktu.

 Ukuran lot pemesanan bersifat konstan untuk setiap kali pemesanan, bahan baku datang secara bersamaan dengan leadtime.

 Biaya pemesanan konstan untuk setiap kali pemesanan

 Biaya simpan sebanding dengan harga barang dan waktu penyimpanan

(2)

1.3 Economic Order Quantity

Persediaan harus ideal oleh sebab itu cara pembelian barang juga harus benar, benar dalam artian paling ekonomis. Melalui rumus Economic Order Quantity, semua dapat diketahui secara sederhana, yaitu jumlah pembelian akan memperoleh total biaya yang paling murah.

Model manajemen persediaan yang berguna untuk meminimumkan total biaya yaitu biaya pesan (ordering cost) dan biaya simpan (holding cost) adalah pengertian Economic Order Quantity. Heizer dan Render (2011), Economic Order Quantity adalah teknik pengendalian persediaan yang paling terkenal secara luas dan paling tua,metode ini digunakan untuk menjawab 2 (dua) pertanyaan yaitu kapan harus memesan dan berapa banyak yang harus dipesan. Berikut merupakan rumus EOQ:

EOQ = √2SD

H (2.1)

S = biaya pemesanan tiap kali pesan

D = penggunaan bahan baku per tahun H = biaya penyimpanan per unit

1.4 ReOrder Point

ReOrder Point adalah tingkat persediaan dimana pemesanan kembali harus dilakukan. Perusahaan akan menunggu sampai persediaan mencapai nol atau habis sebelum perusahaan memesan kembali dan akan dengan cepat menerima barang yang dipesan. Waktu antara dilakukannya pemesanan bisa lebih cepat atau lebih lama, sehingga metode pemesanan kembali perlu diterapkan. Bila ROP terlambat mengakibatkan adanya biaya kekurangan bahan ( stock out) dan bila ROP terlalu cepat maka mengakibatkan timbulnya biaya tambahan (extra carrying cost).

Berikut merupakan rummus dari ROP:

ROP = DL + SS (2.2)

(3)

DL= permintaan selama leadtime SS = Safety stock

1.5 Safety Stock

Safety stock merupakan batasan yang dugunakan untuk mencegah terjadinya kekurangan persediaan, akibat dari permintaan yang tidak pasti atau belum tentu diketahui dan karena faktor penggunaan bahan baku rata-rata selama periode sebelum barang yang dipesan datang.

Safety Stock = 𝑍 × √𝐿 × σ (2.3)

Z = Service level L = Lead Time σ = Standard deviasi

1.6 Make To Demand

Strategi make to demand dapat dianggap sebagai suatu strategi baru yang dikembangkan dalam perusahaan industri. Dalam strategi make to demand, penyerahaan produk dari perusahaan berkaitan dengan kualitas dan waktu penyerahan secara tepat berdasarkan keinginan pelanggan. Strategi ini responsif secara lengkap terhadap pesanan konsumen,tetapi dapat menyerahkan produk dengan kecepatan mendekati strategi make to stock. Strategi make to demand diciptakan untuk menanggapi kompetisi sekarang yang sangat ketat dalam dunia industri, terutama berkaitan dengan waktu penyerahan.

1.7 Make To Stock

Strategi Make to stock memiliki penyimpanan produk yang sudah jadi untuk dapat dikirim dengan cepat apabila adanya permintaan oleh konsumen. Pada strategi ini siklus waktu dimulai ketika produsen menspesifikasi produk, mendapatkan bahan baku, dan melakukan produksi produk akhir untuk disimpan

(4)

persediaan, produsen akan mengambil produk itu dari persediaan dan mengirimkan kepada pemesan jika ada pemesanan dari konsumen. Strategi make to stock ini memiliki resiko yang tinggi berkaitan dengan investasi penyimpanan, dikarenakan pesanan pelanggan yang didak dapat ditebak. Perusahaan yang memilih strategi make to stock harus membangun sistem informasi pasar yang andal agar dapat meramalkan permintaan aktual dari konsumen.

1.8 Quantity Discount

Menurut Kotler (2005) diskon kuantitas adalah potongan harga yang diberikan oleh penjual kepada pembeli agar pembeli tertarik untuk membeli dalam jumlah yang lebih besar. Diskon ini berupa beli satu gratis satu atau jika membeli paling sedikit 10 unit akan diberikan diskon 10%. Diskon kuantitas yang ditawarkan oleh penjual harus sama untuk semua pelanggan dan tidak boleh melebihi penghematan biaya oleh penjual. Diskon ini ditawarkan untuk masing- masing pesanan yang dilakukan yang di pesan dalam kurun waktu tertentu.

1.9 Break Even Point

Menurut Grant (1987), Break Even point atau BEP adalah sebuah kondisi dimana jumlah pendapatan yang diterima dari hasil penjualan sama dengan pengeluaran yang diperlukan untuk biaya produksi. Metode ini digunakan agar perusahaan tidak mengalami kerugian dan laba, dalam istilah akuntansi BEP disebut juga titik impas. Banyak terjadi bahwa dengan diketahuinya nilai pendekatan dari break even point untuk variabel perencanaan dalam membandingkan dua alternatif yang ada merupakan bantuan yang besar bagi analisa dan perencanaan teknik.

Istilah break even point juga digunakan pada litelatur manajemen untuk menerangkan presentase dari kapasitas dari sebuah perusahaan manufakturing dimana penghasilan akan tepat menutupi pengeluaran. Penghitungan break even point sangat berguna pada situasi dimana sebuah keputusan sangat sensitif pada sebuah variabel tertentu. Jika break even point untuk variabel dapat dihitung, mungkin untuk memperkirakan di sisi mana dari titik break even itu operasi akan

(5)

berada meskipun terdapat ketidakpastian yang besar berkenaan dengan nilai yang pasti dari variabel tersebut.

1.10 Analisa ABC

Menurut Gaspersz (1998) Klasifikasi ABC atau analisis ABC adalah klasifikasi dari suatu kelompok bahan atau material dalam susunan menurun berdasarkan biaya penggunaan bahan atau material itu per periode waktu, dalam hal ini periode yang digunakan adalah satu tahun. Analisa ABC didasarkan pada sebuah konsep yaitu hukum pareto. Hukum pareto menyatakan bahwa sebuah group memiliki presentase kecil (20%) yang mempunyai dampak besar (80%). Pada tahun 1940 konsep pareto ini dikembangkan oleh General Electric untuk menciptakan konsep ABC dalam klasifikasi barang persediaan.

Analisa ABC membagi persediaan yang ada menjadi tiga klasifikasi berdasarkan volume rupiah tahunan. Penentuan volume rupiah tahunan pada analisa ABC dilakukan dengan mengukur permintaan tahunan dari setiap barang persediaan dikalikan harga per satuan. Barang kelas A adalah barang dengan nilai persediaan yang tinggi, walaupun jumlah barang kelas A hanya sekitar 15% dari total barang persediaan. Barang kelas A memperlihatkan 70% - 80% total nilai persediaan. Barang kelas B adalah barang dengan nilai persediaan menengah.

Jumlah barang kelas B sekitar 30% dari total barang persediaan, dengan memperlihatkan 15% - 25% total nilai persediaan. Barang kelas C adalah barang dengan nilai persediaan yang rendah. Barang kelas C memperlihatkan hanya 5%

dari total penggunaan rupiah, walaupun jumlah barang kelas C sekitar 55% dari nilai persediaan.

Analisa ABC juga ditetapkan menggunakan kriteria lain bukan hanya berdasarkan kriteria biaya, tergantung pada faktor-faktor penting apa yang menentukan bahan atau meterial itu. Terdapat 6 kegunaan analisis ABC adalah untuk menetapkan frekuensi penghitungan penyimpanan, yang kedua prioritas rekayasa, yang ketiga adalah prioritas pembelian, yang keempat adalah keamanan, yang kelima adalah sistem pengisian kembali, dan yang keenam adalah keputusan investasi.

(6)

2.11 Biaya Penyimpanan

Biaya penyimpanan adalah biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan dilakukannya persediaan barang. Biaya penyimpanan terdiri dari biaya listrik, biaya gaji, biaya sewa gudang, perawatan atau perbaikan bangunan, pajak persediaan, asuransi peralatan, biaya penyusutan dan biaya peralatan. Biaya penyimpanan merupakan salah satu kategori biaya untuk memiliki dan menyimpan persediaan selama satu periode tertentu, oleh sebab itu biaya penyimpanan juga termasuk biaya yang berkaitan dengan gudang, seperti biaya asurnasi, staff pada gudang, dan pembayaran bunga, menurut Heizer dan Render (2011). Penyimapan barang ditentukan dengan dua cara yaitu dilihat dari jumlah barang yang paling sering diminta, atau memang disimpan sesuai dengan keperluan pelanggan saja.

2.12 Biaya Pesan

Biaya pesan adalah semua biaya yang diperlukan untuk membeli atau memesan kepada pemasok. Seberapa sering pemesanan dilakukan oleh suatu perusahaan, makan akan mempengaruhi besar kecilnya biaya pemesanan. Menurut Heizer dan Render (2011) biaya pemesanan mencakup biaya-biaya pasokan, formulir, proses pemesanan, tenaga kerja. Pada saat produk yang telah dipesan dibuat, timbulah adanya biaya pemesanan, dengan kata lain biaya ini juga bisa disebut biaya pemasangan.

Biaya ini biasanya dapat dinyatakan dalam rupiah per sekali pemesanan dan tidak bergantung pada volume suatu barang. Biaya pemesanan biasanya berhubungan terbalik dengan biaya penyimpanan. Ordering cost dapat berkurang jika volume pemesanan bertambah, tetapi biaya pemesanan akan tetap bertambah.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Djojowirono (1984), rencana anggaran biaya merupakan perkiraan biaya yang diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi sehingga akan

Bagi pihak investor, pemecahan saham diyakini dapat memberikan abnormal return setelah pemecahan saham, karena para investor pada umumnya mengindikasikan bahwa perusahaan

Beban preloading diberikan sebesar beban rencana atau lebih besar yang akan diberikan diatas tanah lunak tersebut dengan tujuan untuk mempercepat terjadinya penurunan rencana..

Berdasarkan pada ilustrasi gambar di atas, diketahui bahwa melalui physical Facilities, yaitu kondisi fisik, meliputi: store location, store layout, design dan melalui

INTO mengindikasikan nama dari tabel yang akan menerima data. Colomn_list adalah daftar kolom yang akan menerima data. Daftar ini harus ditutupi oleh tanda kurung dan dipisahkan

Yang menjadi dasar dari pendekatan data pasar adalah dimana nilai pasar suatu properti terkait langsung dengan nilai pasar properti pembanding yang sejenis pada pasar yang

Perencanaan sebuah sistem serta metode kerja bekisting menjadi sesuatu yang sepenuhnya perlu dipertimbangkan baik - baik. Sehingga segala resiko dalam pekerjaan tersebut

Lalu definisi berikutnya yang dapat menyatukan pandangan yang paling luar sekalipun mengenai efektifitas yang juga dikemukakan oleh Steers, Ungson dan Mowday adalah