2.1. Saham
Menurut Ismanthono (2003), saham adalah “bukti kepemilikan atas suatu perseroan, yang berarti juga klaim atas penghasilan dan aktiva perusahaan” (p.
229). Dalam transaksi jual-beli di bursa efek, saham merupakan instrumen yang paling dominan diperdagangkan.
Saham secara umum dapat dibagi menjadi dua yaitu saham biasa dan saham preferen. Capital suatu perusahaan dapat diperbesar dengan cara menjual saham biasa dan saham preferen ke pasar modal. Penjelasan tentang perbedaan baik saham biasa maupun saham preferen dijelaskan sebagai berikut :
2.1.1. Saham Biasa
Saham biasa merupakan unit kepemilikan sebenarnya dari suatu perusahaan bisnis. Pemegang saham biasa ini mempunyai hak untuk memperoleh deviden sepanjang perseroan memperoleh keuntungan, mempunyai hak suara pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya pada likuidasi perusahaan, dan mempunyai hak memperoleh sebagian dari kekayaan perusahaan setelah semua kewajiban dilunasi. Saham biasa (common stocks) dapat dibedakan dalam berbagai jenis antara lain sebagai berikut (Siamat, 2001, p. 269):
a. Saham unggul (blue chips)
Yaitu saham yang diterbitkan oleh perusahaan besar dan terkenal yang lebih lama memperlihatkan kemampuannya memperoleh keuntungan dan pembayaran dividen. Biasanya perusahaan tersebut memiliki stabilitas usaha yang tinggi dan unggul dalam industri yang sejenis dan menjadi standar penilaian dalam mengukur perusahaan-perusahaan.
b. Growth stocks
Yaitu saham yang dikeluarkan oleh perusahaan yang baik penjualannya, perolehan laba, dan pangsa pasarnya mengalami perkembangan yang sangat cepat dari rata-rata industri. Perusahaan seperti ini biasanya lebih agresif, berorientasi riset, dan menggunakan kembali keuntungannya untuk ekspansi.
Dalam kenyataanya banyak blue chips yang tergolong sebagai growth stocks.
c. Emerging growth stocks
Yaitu saham yang dikeluarkan oleh perusahaan yang relatif lebih kecil dan memiliki daya tahan yang kuat meskipun kondisi ekonomi yang kurang mendukung. Selanjutnya memasuki tahap memperoleh laba dalam jumlah besar sebagai hasil peningkatan volume penjualan dan memperbesar profit marginnya. Harga saham jenis ini biasanya berfluktuasi.
d. Income stocks
Yaitu saham yang membayar dividen melebihi jumlah rata-rata pendapatan.
e. Cyclical stocks
Yaitu saham perusahaan yang keuntungannya berfluktuasi dan sangat dipengaruhi oleh siklus usaha. Apabila kondisi membaik, keuntungan perusahaan ikut membaik dan meningkat. Sejalan dengan itu, saham perusahaan mengalami kenaikan. Sebaliknya, jika nilai iklim usaha kembali memburuk, kegiatan usaha mengalami penuruan drastis dan keuntungan pun akan ikut memburuk.
f. Defensive stocks
Yaitu saham perusahaan yang dapat bertahan dan tetap stabil dari suatu periode atau kondisi yang tidak menentu dan resesi. Perusahaan seperti ini memiliki pertumbuhan yang relatif lamban baik dalam kondisi booming dan akan tetap bertahan pada saat resesi ekonomi. Sebaliknya saham seperti ini sangat sensitif terhadap perubahan tingkat bunga. Harganya akan turun apabila tingkat bunga naik dan naik apabila tingkat bunga mengalami penurunan.
g. Speculative stocks
Pada prinsipnya semua saham biasa yang diperdagangkan di bursa efek dapat digolongkan sebagai speculative stocks. Karena pada saat membeli saham kita dapat memberi suatu janji, tidak ada kepastian bahwa dana yang
akhirnya kita terima pada waktu menjual saham tersebut akan bertambah atau bahkan berkurang atau sama dengan jumlah dana yang telah kita bayarkan.
2.1.2. Saham Preferen
Menurut Ismanthono (2003, p. 230), “saham preferen umumnya tidak melimpahkan hak memberi suara tetapi memiliki tingkat klaim lebih tinggi atas aktiva, karena penghasilan deviden atas saham-saham seperti ini didahulukan sebelum deviden saham biasa dibayarkan”. Saham preferen terbagi atas beberapa jenis, yaitu :
a. Saham preferen kumulatif (cumulative preferred stock). Apabila deviden ditiadakan, maka deviden tersebut tetap berakumulasi dan harus dibayarkan sebelum deviden saham biasa
b. Saham preferen non-kumulatif (noncumulative preferred stock) biasanya tidak pernah membayarkan deviden yang ditiadakan pada periode sebelumnya.
c. Saham preferen partisipasi (participating preferred stock) memberikan hak kepada pemegangnya bersama-sama pemegang saham biasa dalam pembagian laba yang melebihi deviden yang dinyatakan.
d. Saham preferen non-partisipasi (nonparticipating preferred stock) membayar deviden terbatas pada deviden yang dibayarkan.
2.2. Stock Split
Stock split adalah suatu metode yang biasanya digunakan untuk menurunkan harga pasar saham suatu perusahaan dengan menambah jumlah saham untuk masing-masing pemegang saham (Antoni, 2003, p. 324). Menurut Jogiyanto (2003), stock split adalah “memecah selembar saham menjadi n lembar saham, dimana harga perlembar saham baru setelah di stock split adalah sebesar 1/n dari saham sebelumnya” (p. 415).
Apabila harga saham semakin tinggi, kemungkinan saham tersebut dapat dibeli oleh masyarakat semakin rendah, karena investor-investor kecil tidak mampu untuk melakukan perdagangan. Manajemen perusahaan yakin bahwa dengan penurunan harga saham tersebut dapat meningkatkan perdagangan suatu
saham dengan mengajak investor kecil untuk bisa ikut melakukan perdagangan.
Sehingga dengan adanya stock split diharapkan dapat menarik investor lebih banyak.
Stock split yang dilakukan oleh perusahaan emiten dapat berupa satu-jadi- dua (two-for-one-stock), dimana setiap pemegang saham akan menerima dua lembar saham untuk setiap satu lembar saham yang dipegang sebelumnya, nilai nominal saham baru adalah setengah dari nilai nominal saham sebelumnya. Stock split dapat juga dilaksanakan atas dasar satu-jadi-tiga (three-for-one-stock), pemegang saham akan menerima tiga lembar saham untuk setiap satu lembar saham yang dimiliki sebelumnya, nilai nominal saham baru adalah menjadi sepertiga dari nilai nominal saham sebelumnya dan demikian pula seterusnya.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemecahan saham akan meningkatkan jumlah lembar saham yang diperdagangkan dan secara proporsi akan menurunkan nilai per lembar sahamnya.
2.2.1. Tujuan Stock Split
Menurut Halim (2005, p. 97), “Tujuan dilakukan pemecahan saham adalah untuk menjaga harga pasar saham agar tidak terlalu tinggi sehingga sahamnya lebih memasyarakat dan lebih banyak diperdagangkan”. Stock Split bertujuan agar perdagangan suatu saham menjadi lebih likuid, karena jumlah saham yang beredar menjadi lebih banyak dan harganya menjadi lebih murah. Hal ini akan sangat efektif bila dilakukan pada saham-saham yang harganya cukup tinggi (Darmadji dan Fakhruddin, 2001, p. 131).
Menurut Keown (1996) dalam Rohana (2003), ada beberapa alasan manajer perusahaan melakukan stock split antara lain sebagai berikut:
1. Supaya harga saham tidak terlalu mahal sehingga dapat meningkatkan jumlah pemegang saham dan meningkatkan likuiditas perdagangan saham.
2. Untuk mengembalikan harga dan ukuran perdagangan rata-rata saham kepada kisaran yang telah ditargetkan.
3. Untuk membawa informasi mengenai investasi yang berupa peningkatan laba dan deviden kas.
Alasan lain perusahaan dalam melakukan stock split adalah untuk memberikan informasi kepada investor tentang prospek peningkatan return
masa depan yang substansial (Denny Suntoro dan Imam Subekti, 2003).
Pengumuman pemecahan saham dianggap sebagai sinyal yang diberikan oleh manajemen kepada publik bahwa perusahaan memiliki prospek bagus di masa depan.
Dari beberapa alasan dilakukannya pemecahan saham yang diberikan oleh beberapa literatur diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan pemecahan saham, antara lain sebagai berikut:
1. Meningkatkan jumlah pemegang saham.
2. Mengembalikan ukuran perdagangan rata-rata saham pada rentang perdagangan tertentu.
3. Menyampaikan informasi mengenai prospek peningkatan return masa depan yang substansial.
2.2.2. Manfaat Stock Split
Bagi pihak investor, pemecahan saham diyakini dapat memberikan abnormal return setelah pemecahan saham, karena para investor pada umumnya mengindikasikan bahwa perusahaan yang melakukan kebijakan stock split tersebut adalah perusahaan yang kinerjanya baik.
Bagi pihak emiten, manfaat yang diperoleh dari stock split adalah penurunan harga saham yang selanjutnya menambah daya tarik investor untuk memiliki saham tersebut sehingga membuat suatu saham menjadi lebih likuid untuk diperdagangkan. Menurut Kurniawati (2003, p. 266), beberapa pelaku pasar khususnya para emiten mempunyai pendapat bahwa stock split memiliki berbagai macam manfaat diantaranya adalah:
1. Harga saham yang lebih rendah setelah stock split akan meningkatkan daya tarik investor untuk membeli sejumlah saham yang lebih besar sehingga dapat mengubah investor odd lot menjadi investor round lot.
2. Meningkatkan daya tarik investor kecil untuk melakukan investasi.
3. Meningkatkan jumlah pemegang saham sehingga pasar akan menjadi likuid.
4. Sinyal yang positif bagi pasar bahwa kinerja manajemen perusahaan bagus dan memiliki prospek yang baik.
2.3. Abnormal Return
Abnormal return adalah selisih antara return sesungguhnya yang terjadi dengan return ekspektasi. Para investor tentunya mengharapkan return yang akan diterima proporsional dengan pengorbanan yang dikeluarkan. Akan tetapi dalam prakteknya, tidaklah selalu demikian. Seringkali investor dihadapkan pada kenyataan dimana return yang diharapkan tidak sesuai dengan return yang diterimanya.
Menurut Kurniawati (2003, p. 267), “pengumuman stock split mengandung informasi (information content), jika informasi tersebut menimbulkan reaksi pasar setelah pengumuman tersebut diterima oleh pasar”.
Reaksi pasar ini dapat diukur dengan adanya abnormal return yang diterima oleh para pelaku pasar. Menurut Desai dan Jain (1997) dalam Indah Kurniawati (2003, p. 267), menunjukkan bahwa pasar saham memberikan reaksi pada pengumuman stock split, bahkan juga ditemukan abnormal return pada saat sebelum dan sesudah pengumuman stock split. Formula yang digunakan untuk menghitung abnormal return (Jogiyanto, 2003, p. 433) adalah sebagai berikut:
] E[Rit
−
= it
it R
AR Notasi :
AR = Abnormal return saham i pada periode t it R = Actual return saham i pada periode t it
]
E[Rit =Expected return saham i pada periode t
Return sesunguhnya yang terjadi pada waktu ke-t, merupakan selisih harga sekarang relatif terhadap harga sebelumnya. Sedangkan return ekspektasi merupakan return estimasi yang diharapkan oleh investor. Dalam menghitung return ekspektasi, Brown dan Warner (1985) dalam Jogiyanto (2003, p. 434) menggunakan:
a. Mean-adjusted return model
Model ini menganggap bahwa return ekspektasi bernilai konstan yang sama dengan rata-rata return realisasinya selama periode estimasi. Jika suatu pasar efisien dan return saham berbeda-beda secara random diseputar nilai sebenarnya, maka rata-rata return dari suatu saham berasal dari perwakilan
periode sebelumnya digunakan sebagai expected return. Persamaan Mean- adjusted return model adalah sebagai berikut:
E[Rit] = T
∑
RitNotasi:
E[Rit] = return ekspektasi sekuritas i pada periode peristiwa ke-t
Ri t = return realisasi sekuritas i pada periode estimasi ke-t
T = lamanya periode estimasi b. Market model return
Suatu cara yang menjelaskan hubungan suatu saham dengan return suatu pasar dengan menggunakan bentuk regresi linear sederhana antara return sekuritas dengan return pasar, hasil regresi linear sederhana tersebut digunakan sebagai expected return. Untuk perhitungan dengan menggunakan market model dilakukan dua tahap, yang pertama membentuk model ekspektasi dengan menggunakan data realisasi selama periode estimasi dan kedua menggunakan model ekspektasi tersebut untuk mengestimasi return normal periode jendela.
Persamaan market model yaitu:
E[Rit] = a1+ ß1Rmt Notasi:
E[Rit] = return ekspektasi sekuritas i pada periode estimasi ke-t
a1 = intercept untuk sekuritas i
ß1 = koefisien slope yang merupakan beta dari sekuritas i
Rmt = return indeks pasar pada periode estimasi ke-t yang dapat dihitung
dengan rumus Rmt= (IHSGt– IHSGt-1) / (IHSGt-1), dimana IHSG adalah Indeks Harga Saham Gabungan
c. Market-adjusted model
Model ini menganggap bahwa penduga terbaik untuk mengestimasi return suatu sekuritas adalah return indeks pasar pada saat tersebut. Dengan menggunakan model ini, maka tidak perlu menggunakan periode estimasi, karena return sekuritas yang diestimasi adalah sama dengan return indeks pasar. Pergerakan saham individual berhubungan dengan pergerakan umum dalam pasar. Return dari indeks pasar digunakan sebagai expected return.
2.4. Trading Volume Activity
Dalam pasar modal terdapat banyak sekali informasi-informasi yang dapat mempengaruhi situasi di dalamnya. Reaksi pasar modal terhadap suatu informasi dapat dilihat dengan menggunakan suatu pendekatan yaitu dengan pendekatan Trading Volume Activity atau disebut juga aktivitas volume perdagangan saham.
Menurut Salim (2003) volume perdagangan saham adalah “jumlah saham atau kontrak yang diperdagangkan selama jangka waktu tertentu, yang juga dianggap sebagai ukuran dari kekuatan atau kelemahan pasar” (p. 297). Ketika trading volume activity cenderung mengalami peningkatan saat harga mengalami penurunan, maka pasar diindikasikan dalam keadaan bearish. Ketika trading volume activity cenderung meningkat selama harga mengalami peningkatan maka pasar di indikasikan dalam keadaan bullish. Perhitungan trading volume activity dilakukan dengan membandingkan jumlah saham perusahaan yang diperdagangkan dalam suatu periode tertentu dengan keseluruhan jumlah saham yang beredar dari perusahaan tersebut pada kurun waktu yang sama.
2.5. Hubungan Antar Konsep
Menurut Conroy dan Harris (1999) dalam Kurniawati (2003, p. 267), para manajer perusahaan mendesain stock split supaya harga saham perusahaan dapat mencapai level harga yang dapat diterima oleh para investor. Ketika manajer mengumumkan split factor untuk menerima harga yang lebih rendah setelah split, para investor, analis dan pelaku pasar lainnya menginterpretasikan sebagai suatu sinyal yang positif. Harga saham yang lebih rendah setelah dilakukan stock split menyebabkan suatu saham menjadi lebih likuid dan lebih mudah diperdagangkan di bursa, sehingga akan meningkatkan minat dari para investor, analis dan pelaku pasar lainnya untuk memutuskan pembelian yang dapat terlihat melalui volume perdagangan.
Trading Volume Activity merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar modal terhadap suatu informasi melalui pergerakan aktivitas volume perdagangan di pasar. Penelitian Copeland (1979) dalam Rohana (2003) menyatakan bahwa pasar tidak bereaksi terhadap peristiwa stock split.
Wijanarko (2003) menyatakan bahwa stock split tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat aktivitas volume perdagangan saham, karena perusahaan melakukan aksi stock split pada saat pasar modal dalam kondisi kurang stabil, sehingga pelaksanaan kebijakan stock split kurang mampu untuk mempengaruhi preferensi investor dalam membuat keputusan investasi. Kurniawati (2003) menyatakan bahwa terdapat perbedaan volume perdagangan saham pada saat sebelum dan sesudah stock split. Volume perdagangan saham setelah stock split lebih besar daripada sebelum stock split. Kenaikan tersebut terjadi karena bertambahnya investor kecil dan adanya sinyal positif yang ditimbulkan oleh pemecahan saham menyebabkan calon investor lebih tertarik untuk membeli saham tersebut.
Dengan adanya pemecahan saham tentunya harga saham berubah, karena terdapat perubahan harga maka return yang didapat ikut berubah, untuk mengukur perubahan return sebelum dan sesudah pemecahan saham digunakan abnormal return.
Abnormal return terjadi apabila tingkat keuntungan sesungguhnya lebih tinggi dari tingkat keuntungan yang diharapkan. Penelitian Almilia dan Kristijadi (2005) menemukan tidak ada perbedaaan abnormal return sebelum dan sesudah pemecahan saham pada perusahaan bertumbuh dan tidak bertumbuh. Charest (1978) dalam Jogiyanto (2003) berpendapat bahwa abnormal return mengalami peningkatan sesudah stock split. Suntoro dan Subekti (2003) menyebutkan bahwa pemecahan saham mempunyai hubungan yang positif dengan abnormal return. Di sisi lain Anggarwal dan Chen (1989) dalam Miliasih (2000) menyimpulkan bahwa tidak terdapat abnormal return dengan adanya pengumuman stock split.
2.6. Kerangka Pemikiran
2.7. Hipotesa
H1: terdapat perbedaan abnormal return yang signifikan sebelum stock split dan sesudah stock split.
H2: terdapat perbedaan trading volume activity yang signifikan sebelum stock split dan sesudah stock split.
Stock Split
sebelum sesudah
-Abnormal return
-Trading volume activity
perbedaan
-Abnormal return
-Trading volume activity Saham