2. LANDASAN TEORI
2.1. Agency Theory
Jensen & Meckling (1976) mencetuskan Agency theory yang merupakan suatu kerjasama dimana pemegang saham (Principal) memberikan wewenang kepada manajer (agent) untuk menjalankan aktivitas perusahaan agar dapat menentukan keputusan. Pihak manajer (agent) lebih paham tentang kondisi perusahaan dibandingkan dengan pihak pemegang saham (principal), sedangkan pemegang saham (principal) mempunyai keterbatasan tentang kondisi internal perusahaanyang menyebabkan manajer (agent) melakukan kecurangan untuk memenuhi kepentingannya, terbatasnya informasi laporan keuangan yang diperoleh dari manajer (agent) maka pemegang saham (principal) akan mengalami kerugian karena mendapatkan informasi yang tidak relevan dari pihak manajer (agent) (Pepper & Gore, 2015). Menurut Yan (2017) manajer selalu berkeinginan memaksimalkan keuntungan yang didapatkannya dan merugikan pemegang saham (shareholders). Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa masalah yang muncul antara pihak pemegang saham (principal) dan manajer (agent) disebabkan apabila terdapat perbedaan kepentingan yang dapat menimbulkan konflik kepentingan diantara keduanya.
Penyebab perbedaan kepentingan antara pemegang saham (principal) dan manajer (agent) disebabkan adanya asimetri informasi pada laporan keuangan, sehingga cara untuk mengurangi asimetri informasi dibutuhkan pengungkapan laporan keuangan secara sukarela (Barlev & Haddad, 2010). Menurut Abeysekera (2010) komite audit dianggap dapat mengurangi konflik keagenan dapat melindungi kepentingan pemegang saham (principal) melalui tanggung jawab dalam menghasilkan informasi yang relevan. Berdasarkan penjelasan di atas agency theory menjadi dasar hipotesa komite audit berpengaruh terhadap relevansi nilai informasi akuntansi.
2.2. Stakeholder Theory
Menurut Freeman (1983) mencetuskan teori stakeholder menyatakan bahwa organisasi tidak hanya bertanggung jawab terhadap pemegang saham saja
tetapi juga harus bertanggung jawab terhadap semua yang memiliki kepentingan di perusahaan dan dapat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan perusahaan.
Menurut Harrison & Wicks (2013) teori stakeholder menjelaskan bahwa perusahaan tidak hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri tetapi harus mampu memberikan manfaat terhadap keseluruhan stakeholder (pemegang saham, konsumen, masyarakat, pemerintah, supplier, dan pihak lainnya yang berjasa terhadap perusahaan), sebagai contoh pemegang saham yang menanamkan modalnya di perusahaan, karyawan yang berkontribusi waktu serta keahliannya di perusahaan, konsumen yang memberikan kepercayaan mereka kepada perusahaan.
Semua stakeholder mempunyai hak sama untuk mendapatkan informasi atas aktivitas perusahaan yang berpengaruh terhadap keputusan yang akan mereka ambil (Laplume, 2008).
Laporan keuangan yang diaudit dan dipublikasikan oleh auditor dapat berdampak bagi stakeholder, sehingga pemegang saham, investor serta pihak yang memiliki kepentingan di perusahaan dapat menggunakan informasi yang terdapat pada laporan keuangan. Laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor dapat membantu mengevaluasi kinerja perusahaan yang akan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan. Stakeholder mempunyai kewenangan untuk membuat manajemen agar memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki oleh perusahaan. Potensi yang dimiliki perusahaan dapat berupa human capital,structural capital dan relational capital yang dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan karena dapat meningkatkan informasi pada laporan keuangan dan juga meningkatkan kepercayaan stakeholder terhadap perusahaan (Alcaniz et al., 2011). Berdasarkan penjelasan di atas stakeholder theory menjadi dasar hipotesa kualitas audit berpengaruh terhadap relevansi nilai informasi akuntansi, selain itu stakeholder theory juga menjadi dasar hipotesa pengungkapan modal intelektual (intellectual capital disclosure) berpengaruh terhadap relevansi nilai informasi akuntansi.
2.3. Signaling Theory
Menurut Arkelof (1970) mencetuskan Signalling Theory yang menjelaskan terjadi informasi asimetri antara penjual dan pembeli, dimana penjual memiliki informasi lebih dibanding pembeli, untuk menghindari asimetri
informasi tersebut maka penjual barang memberikan signal tentang kualitas barang yang dijual sehingga dapat diakses para pembeli. Menurut Connelly et al.
(2011) menjelaskan bahwa perusahaan akan berusaha untuk memberikan sinyal yang positif kepada investor dengan cara pengungkapan pada laporan keuangan, dengan adanya sinyal positif dari perusahaan maka diharapkan pasar juga akan memberikan respon yang positif sehingga memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Menurut Besley et al. (2008) menjelaskan bahwa teori sinyal adalah tindakan manajemen perusahaan yang memberikan sinyal positif berupa informasi kepada investor tentang penilaian manajemen terhadap kinerja perusahaan, pemilik perusahaan berkeinginan memberikan informasi perusahaan secara sukarela sehingga dapat mengurangi asimetri informasi sehingga investor percaya terhadap masa depan perusahaan. Menurut Davey & Eggleton (2011) menjelaskan bahwa pengungkapan informasi secara sukarela tentang modal intelektual (Intellectual capital) dapat membuat investor lebih baik dalam melakukan penilaian terhadap perusahaan. Berdasarkan penjelasan di atas signaling theory menjadi dasar hipotesa pengungkapan modal intelektual (intellectual capital disclosure) berpengaruh terhadap relevansi nilai informasi akuntansi.
2.4. Resourced Based Theory
Barney (1991) mencetuskan konsep resource based theory menyatakan bahwa organisasi akan mencapai keunggulan bersaing apabila mempunyai sumber daya bernilai serta sulit untuk ditiru , organisasi dapat menentukan strategi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Menurut Knott (2009) Resource based theory menjelaskan perusahaan akan mempiliki keunggulan serta mendapatkan kinerja yang baik apabila mempunyai serta memanfaatkan aset-aset penting (berwujud dan tidak berwujud). Menurut Crook (2008) Resource Based Theory menjelaskan perusahaan dapat menggunakan serta memanfaatkan sumber daya berupa pengetahuan, informasi, teknologi yang dimiliki secara optimal sehingga mampu menciptakan nilai perusahaan (kinerja perusahaan yang baik). Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa teori resourced based mampu membuat perusahaan memiliki keunggulan bersaing apabila perusahaan dapat memanfaatkan serta mengelola sumber daya bewujud dan tidak bewujud (modal intelektual) dengan baik, maka perusahaan harus mengelola serta memaksimalkan
penggunaan modal intelektual agar perusahaan memiliki nilai tambah dan mempunyai ciri khas tersendiri yang membedakan dengan perusahaan lain.
Berdasarkan penjelasan di atas resourced based theory menjadi dasar hipotesa pengungkapan modal intelektual (intellectual capital disclosure) berpengaruh terhadap relevansi nilai informasi akuntansi.
2.5. Human Capital Theory
Becker (1993) pencetus teori human capital menjelaskan bahwa manusia bukan hanya sekedar sumber daya tetapi juga sebagai modal (capital) perusahaan , sebab perusahaan dapat memanfaatkan pengetahuan serta keahlian yang dimiliki oleh orang-orang di dalam perusahaan untuk mengembangkan perusahaan.
Menurut Hsu (2008) menjelaskan human capital theory sebagai sumber daya manusia yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan, perusahaan harus dapat memberikan fasilitas supaya dapat mengembangkan pengetahuan dan kompetensi yang dimiliki oleh orang yang ada di perusahaan.
Modal manusia mengacu pada proses yang berhubungan dengan pelatihan, pendidikan dalam rangka meningkatkan tingkat pengetahuan, keterampilan, kemampuan bersosialisasi pada karyawan yang akan menyebabkan kepuasan dari kinerja karyawan tersebut, dan akhirnya akan menyebabkan peningkatan kinerja perusahaan (Marimuthu, 2009). Perusahaan dalam meningkatkan keunggulan kompetitif akan memanfaatkan pengetahuan serta keahlian yang dimiliki oleh karyawan. Dalam meningkatkan kemampuan yang dimiliki karyawan maka perusahaan mengadakan program pengembangan sumber daya manusia seperti pelatihan/ training, pendidikan bagi tenaga kerja,rotasi kerja untuk menambah keterampilan dan tantangan baru bagi karyawan (Unger et al., 2011). Menurut Campbell (2012) Human capital theory menjelaskan pendidikan dapat meningkatkan produktivitas serta pendapatan seseorang sehingga pendidikan dianggap sebagai investasi karena selain sebagai modal individu juga berperan penting untuk pertumbuhan ekonomi suatu negara. Hal ini dapat memberikan keuntungan perusahaan,individu/karyawan tersebut, dan negara.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan perusahaan dapat meningkatkan kinerjanya apabila mampu memanfaatkan pengetahuan dan keahlian yang dimiliki oleh karyawan. Human capital theory menjadi dasar hipotesa pengungkapan
modal intelektual (intellectual capital disclosure) berpengaruh terhadap relevansi nilai informasi akuntansi.
2.6. Intellectual Capital
Menurut Zeghal & Maaloul (2010) modal intelektual (intellectual capital) dipandang penting dalam proses penciptaan nilai dan kinerja perusahaan serta mampu meningkatkan kemampuan bersaing perusahaan dalam mencapai tujuannya. Modal intelektual yaitu konsep yang berhubungan dengan modal non fisik (aset tidak berwujud) yang dihubungkan dengan pengetahuan dan pengalaman manusia serta teknologi yang mempunyai potensi dalam mengembangkan organisasi dan masyarakat (Oliveras et al, 2008). Menurut Hayati et al. (2015) definisi modal intelektual yaitu sumber daya tidak berwujud berupa pengetahuan, pengalaman, informasi, inovasi, pelatihan karyawan, kepuasan konsumen, serta penelitian dan pengembangan yang dapat menciptakan nilai perusahaan sehingga dapat meningkatkan keunggulan bersaing. Menurut Bannany (2008) modal intelektual yaitu aset tidak berwujud yang mampu memberi nilai bagi perusahaan dan masyarakat umum berupa hak cipta,hak paten, waralaba (Franchise). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan kemampuan perusahaan dalam pengetahuan dan teknologi menjadi faktor penting karena dapat menciptakan nilai tambah dan meningkatkan keunggulan bersaing bagi perusahaan, pengelolaan modal intelektual yang baik dapat meningkatkan kinerja perusahaan.
2.7. Komponen Modal intelektual (Intellectual capital)
Modal intelektual dibagi menjadi dari 3 komponen, yaitu human capital (HC), structural capital (SC) dan relational capital (RC) (Bhasin, 2008 ; Clarke, Seng & Whiting, 2010). Berikut uraian masing-masing komponen:
1. Human Capital
Human capital merupakan salah satu bagian dari intellectual capital yang merupakan kombinasi dari pengetahuan, keterampilan, serta inovasi yang dapat menciptakan kekayaan bagi perusahaan (Ramezan, 2011). Human Capital yang terdiri dari pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dimiliki karyawan dalam perusahaan dapat meningkatkan produktivitas bisnis (Clarke et al, 2010).
Petty et al. (2009) berpendapat bahwa orang yang menggunakan pendidikan,
pelatihan, inovasi, pengalaman kerja, keahlian komunikasi serta kemampuan dalam memimpin untuk mencapai keberhasilan dalam perusahaan. Penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa human capital lebih berfokus pada pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman karyawan yang dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan sehingga perusahaan dapat meningkatkan kinerjanya apabila mampu memanfaatkan pengetahuan dan keahlian yang dimiliki oleh karyawan.
2. Structural Capital
Structural capital merupakan sarana perusahaan yang digunakan untuk mendukung karyawan agar memaksimalkan kinerjanya, yang mendukung produktivitas karyawan meliputi pemasangan hardware, software, database, pengaturan struktur organisasi, hak cipta, merek dagang (Benevene & Cortini, 2010). Menurut Clarke et al., (2010) structural capital di perusahaan terdiri dari prosedur peraturan kerja, informasi serta pengetahuan yang dimiliki perusahaan, hak paten, merek dagang, perarturan yang berhubungan dengan perusahaan untuk pengembangan dan perbaikan masa depan perusahaan. Menurut Basuki &
Sianipar (2012) modal struktural perusahaan dapat berupa hak paten, hak cipta, database, informasi, budaya perusahaan, serta penelitian dan pengembangan yang dapat membantu perusahaan dalam melakukan inovasi. Structural Capital akan tetap melekat pada perusahaan secara permanen dan tidak akan hilang walaupun karyawan meninggalkan perusahaan, karyawan yang memiliki tingkat intelektual yang tinggi akan menjadi tidak berguna apabila perusahaan memiliki sistem dan prosedur kerja yang tidak baik karena intellectual capital tidak digunakan secara optimal (Aramburu & Saenz, 2011).
3. Relational Capital (customer capital)
Relational capital diartikan sebagai hubungan baik perusahaan dengan rekan kerjanya yaitu hubungan dengan perusahaan lain, dengan pelanggan yang loyal dan merasa puas atas pelayanan suatu perusahaan,dengan pemerintah dan masyarakat sekitarnya, dengan pemasok barang (Blatt, 2009). Menurut Komnenic et al. (2012) relational capital dapat diartikan kemampuan perusahaan dalam menjalin hubungan kerjasama yang baik terhadap pihak eksternal perusahaan contohnya investor,konsumen,pemasok barang, dan masyarakat umum.Penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa perusahaan harus mampu menjalin hubungan
baik dengan pihak luar perusahaan sehingga relational capital dapat digunakan secara maksimal, Dalam menjalin hubungan yang positif antara perusahaan dengan eksternal maka dibutuhkan kerja sama yang baik dan rasa saling percaya.
2.8. Intellectual Capital Disclosure
Perusahaan dan investor berpendapat kebutuhan akan pengungkapan modal intelektual sebagai informasi yang bermanfaat, karena dapat mencerminkan keuntungan serta berlangsungnya hidup perusahaan (Branswijck & Everert, 2012). Pengungkapan modal intelektual dapat membantu meningkatkan relevansi nilai pada laporan keuangan sehingga investor mampu melihat keseluruhan kegiatan perusahaan yang menyebabkan berkurangnya asimetri informasi serta menimbulkan rasa percaya investor terhadap perusahaan (Ellis & Seng, 2015).Pengungkapan modal intelektual dapat membantu investor memperoleh informasi penting serta mengurangi ketidakpastian masa depan perusahaan sehingga mendapatkan informasi serta penilaian tepat terhadap perusahaan (Orens et al., 2009). Menurut Gamerschlag (2013) pengungkapan modal intelektual mampu meningkatkan relevansi nilai informasi akuntansi yaitu dengan menyediakan informasi penting bagi investor yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan.
Whiting & Miller (2008) mengungkapkan dari penelitian sebelumnya (Core (2001); Williams (2001); dan Oliveira et al., (2006)) bahwa Pengungkapan sukarela (Voluntary Disclosure) berarti pengungkapan informasi secara bebas dan tidak terikat oleh aturan tertentu yang dilakukan oleh manajemen perusahaan untuk memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan untuk memenuhi kebutuhan pasar serta membantu mengurangi kesenjangan informasi pada laporan keuangan.
Pengungkapan modal intelektual (intellectual capital disclosure) secara sukarela membuat investor dapat menilai kemampuan perusahaan di masa depan dan dapat melakukan penilaian yang tepat pada perusahaan serta dapat mengurangi persepsi tentang resiko, pengaruh positif dari perusahaan dapat menyebabkan respon positif juga dari pasar sehingga dapat menambah kemampuan bersaing bagi perusahaan.
Modal intelektual pada umumnya dilaporkan di laporan tahunan (annual report) berupa aktivitas knowledge management dan indikator-indikator modal
intelektual (Whiting & Miller, 2008). Menurut Yi & Davey (2010) Content analysis merupakan salah satu metode yang populer umtuk mengukur pengungkapan modal intelektual pada laporan tahunan perusahaan. Maka dari itu penelitian ini akan menggunakan metode content analysis dengan menggunakan indeks informasi pengungkapan intellectual capital pada laporan tahunan perusahaan dengan daftar item Yan (2017).
Menurut Yan (2017) intellectual capital disclosure index (ICDI) dapat digunakan sebagai alat untuk mengetahui intellectual capital disclosure pada annual report yaitu:
ICDi = × 100 % (2.1) Keterangan:
ICDi = Indeks pengungkapan modal intelektual
Di = Skor 1 jika diungkapkan, skor 0 jika tidak diungkapkan.
M = Jumlah maksimum item pengungkapan yang seharusnya diungkapkan perusahaan.
Menurut Yan (2017) Intellectual Capital Disclosure Checklists yaitu:
HUMAN CAPITAL (HC)
Item Explanation Keywords
Employee Education
Program pendidikan yang diadakan oleh perusahaanyang memberikan kesempatan pada karyawan untuk belajar di sekolah.
Pendidikan, Edukasi, Beasiswa
Vocational Qualification
Kualifikasi yang diterima oleh karyawan, sebagai bukti atas keahlian dan pengetahuan profesional yang mereka butuhkan untuk melakukan pekerjaan tertentu.
Tingkat Pendidikan, Jenjang Pendidikan, Kualifikasi, Komposisi Karyawan
Employee Engagement
Sesuatu yang mencerminkan derajat bahwa karyawan ingin mendedikasikan dirinya pada perusahaan
Dedikasi, Pengabdian, Employee
Engagement, Keterikatan Karyawan
Union Activity Konten yang berkaitan dengan kegiatan serikat pekerja.
Buruh, Serikat Pekerja, Serikat Buruh, Union Employee
Thanked
Ucapan terima kasih secara eksplisit atas prestasi kerja karyawan.
Terima Kasih, Apresiasi
Employee Featured
Kinerja beberapa karyawan tertetntu yang sangat baik di sebuah perusahaan.
Kinerja Karyawan, Penghargaan
Employee Involvement in the Community
Keterlibatan dan kinerja karyawan dalam kegiatan masyarakat, misalnya kegiatan amal.
Terlibat, Keterlibatan, Diikuti, Partisipasi, Ikutserta
Employee Training
Program pelatihan yang diberikan perusahaan kepada karyawan, baik internal maupun eksternal.
Pelatihan
Employee Development
Peluang pengembangan karir masa depan karyawan dalam perusahaan.
Pengembangan, Karir,
Kesempatan
Succession Planning
Isi terkait pengaturan personil untuk masa depan, terutama untuk manajemen tingkat tinggi, seperti CEO.
Succession Planning,
Suksesi, Calon Pemimpin,
Future Leader
Innovative Skills Prestasi karyawan yang mewujudkan kreativitas mereka.
Prestasi Karyawan, Kreativitas, Inovasi,
pengembangan
design produk baru
Equity Issues
Kesempatan yang adil diberikan kepada semua karyawan, terlepas dari jenis kelamin, agama, kecacatan dan ras.
Setara, Kesetaraan, Fairness, Keadilan, Diskriminasi, Gender
Employee Safety and Health
Sebuah perusahaan memiliki tindakan efektif untuk melindungi keselamatan dan kesehatan karyawan saat mereka bekerja.
Keselamatan, Kesehatan, Keamanan
Skills / Know- How
Karyawan memiliki keterampilan dan pengetahuan profesional yang dibutuhkan untuk posisi mereka.
Pengalaman, Keterampilan Profesional.
Employee Work- Related
Competence
Kompetensi lain yang dibutuhkan karyawan, seperti kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja tim, kepekaan, dan sebagainya.
Kompetensi, Komunikasi, Kepemimpinan, Kerjasama Tim, Kepekaan
Expert Seniority Jumlah tahun dimana eksekutif telah
bekerja untuk perusahaan. Selama, Sejak
Senior Executive Performance and Results
Prestasi eksekutif senior untuk sebuah perusahaan.
Prestasi Eksekutif, Pencapaian Eksekutif, Berhasil, Penghargan terhadap CEO .
STRUCTURAL CAPITAL (SC)
Item Explanation Keywords
Management Philosophy
Bagaimana perusahaan dikelola, seperti strategi dan misi perusahaan.
Visi, Misi, Strategi Corporate
Culture Nilai dan kepercayaan suatu perusahaan Budaya, Nilai
Management Process
Isi yang berkaitan dengan rencana pengelolaan dan prosedur operasi yang dapat diikuti oleh karyawan
Standar Operasi Prosedur,
Rencana, Strategi, Pedoman,
Prosedur kinerja.
ISO
Achievement Klarifikasi prestasi tertentu dari sebuah perusahaan.
Apresiasi, Penghargaan, Award, Sertifikasi
Information Systems
Sistem informasi yang dimiliki oleh perusahaan, seperti database, perangkat lunak komputer dan perangkat keras, dan sebagainya
Sistem Informasi, Software,
hardware, Database, Aplikasi, Erp
Networking Systems
Media yang melaluinya perusahaan dapat memperoleh akses yang lebih baik kepada pemangku kepentingannya, seperti e-mail, surat kabar dan internet.
Email, Website
Intellectual Property
Properti intelektual yang dilindungi undang-undang, seperti hak cipta, merek dagang, hak paten, dan sebagainya.
Paten, Trademark, Copyright, Hak Cipta, Hak Paten,
Merek Dagang
Organization Flexibility
Kemampuan perusahaan untuk bertahan dalam lingkungan yang menantang.
Bertahan,
Tantangan, Krisis
Organization Learning
Kemampuan perusahaan untuk belajar dari pengalaman sebelumnya dan melakukan perbaikan di masa depan
Meningkat, Perbaikan, Peningkatan, Pertumbuhan
Research and Development
Investasi pada hal-hal seperti produk, proyek, dalam upaya menciptakan potensi pertumbuhan di masa depan bagi perusahaan.
R&D, Penelitian, Pengembangan, Riset
RELATIONAL CAPITAL (RC)
Item Explanation Keywords
Brands Konten yang terkait dengan merek
perusahaan. Merek, Brand
Customers
Perusahaan berbasis pelanggan, yang didukung oleh loyalitas dan kepercayaan pelanggan
Customer Base, Loyal, Pelanggan Utama, Customer
Company Names
Pengaruh dan reputasi nama perusahaan dirasakan oleh pemangku kepentingan di pasar.
Reputasi, Terkenal,
Eksistensi, Citra, Terkemuka.
Favorable Contracts
Kontrak yang berhasil diperoleh perusahaan, berkat posisinya yang dominan di pasar.
Kontrak, outsource
Market Share Pangsa pasar perusahaan. Pangsa Pasar
Distribution Channels
Proses dimana perusahaan mendistribusikan produk dan layanannya kepada pelanggan.
Distribusi
Business Collaborations
Bekerja sama dengan perusahaan lain dalam proses menghasilkan produk dan memberikan layanan kepada pelanggan.
Kolaborasi, Partner, Mitra, Kemitraan, Kerjasama
Licensing Agreements
Kesepakatan dengan organisasi lain untuk menyediakan produk dan layanan kepada organisasi-organisasi tersebut.
Lisensi, Perjanjian
Franchising Agreements
Kontrak yang diberikan kepada franchisee untuk menjual produk dan layanan perusahaan.
Waralaba, Franchise
Financial Relations
Hubungan perusahaan dengan para investor, kreditur dan pendukung keuangan lainnya.
Hubungan Investor, Relation, Investor,
Kreditur, Bank, Hubungan
Finansial Tabel 2. 1 Intellectual Capital Disclosure Checklist 2.9. Komite Audit
2.9.1 Ukuran Komite audit (CAsize)
Bapepam-LK NO IX.1.5 mengatur jumlah minimum anggota komite audit perusahaan berjumlah 3 orang. Naimi&Hussin (2010) berpendapat bahwa semakin banyak jumlah komite audit akan mempermudah dalam melakukan pengawasan terhadap laporan keuangan dan memberikan peluang kesalahan yang kecil sehingga meningkatkan kualitas laporan keuangan. Bedard & Gendron (2010) menjelaskan semakin banyak jumlah komite audit semakin besar juga peluang untuk mengungkap serta menyelesaikan masalah terkait proses pelaporan keuangan. Balagobei (2017), Almari (2017), dan Habib Azim (2008) berpendapat bahwa jumlah anggota komite audit berpengaruh terhadap peningkatan kualitas
laporan keuangan. Dengan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa banyaknya jumlah komite audit di perusahaan tergantung dari seberapa besar ukuran serta kompleksitas dari perusahaan.
Ukuran komite audit diperoleh dari menghitung banyaknya jumlah anggota komite audit pada perusahaan (Balagobei,2017; Omokhudu & Amake, 2018).
CA size=
anggotakomiteaudit (2.2) 2.9.2 Expertise committee auditKebutuhan transparansi laporan keuangan terus meningkat, maka dibutuhkan komite audit yang ahli dalam bidang akuntansi dan keuangan agar dapat meningkatkan kualitas dari laporan keuangan (Naimi & Hussin, 2010).
Balagobei (2017) berpendapat bahwa dengan melihat eratnya hubungan komite audit dengan laporan keuangan maka anggota komite audit diwajibkan profesional dalam menjalankan tugasnya dan mengerti dalam hal akuntansi dan keuangan sehingga komite audit dapat meningkatkan integritas dan transparansi laporan keuangan. Habib & Azim (2008) juga berpendapat bahwa komite audit yang memiliki keahlian dalam bidang akuntansi dan keuangan dapat meningkatkan kualitas dari laporan keuangan.Pengukuran pengetahuan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.55/POJK.04/2015 menjelaskan bahwa wajib mempunyai minimal satu anggota yang berlatar belakang pendidikan dan keahlian di bidang akuntansi atau keuangan. Committee audit expertise dapat diukur dengan proporsi komite audit akuntansi dan keuangan atas anggota komite audit dalam suatu perusahaan (Balagobei, 2017).
Exp Committee Audit = (2.3) 2.9.3 Komite Audit Independen
Komite audit independen diperlukan untuk meningkatkan pemantauan proses laporan keuangan yang dapat meningkatkan kualitas laporan tersebut, sehingga informasi laporan keuangan dapat dipercaya (Bronson, 2009). Kinerja komite audit akan efektif apabila anggotanya mempunyai independensi dalam bersikap serta berpendapat (Chan et al, 2012). Komite audit independen
meningkatkan laba perusahaan (Hassan, 2013). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Balagobei (2017), Malik & Shah (2013), Naimi & Husin (2010), dan Habib
& Azim (2008) membuktikan bahwa komite audit independen dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan. Committee audit independence diukur dengan proporsi komite audit independen atas anggota komite audit dalam suatu perusahaan (Omokhudu & Amake, 2018).
CA independen =
(2.4) 2.10. Kualitas Audit
Pengawasan proses laporan keuangan perusahaan diperkuat dengan adanya auditor berkualitas yang akan mempunyai pemahaman baik terhadap kinerja perusahaan sehingga dapat membantu komite audit menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas (Hoitash, 2009). Auditor eksternal dapat membantu memperbaiki kualitas laporan keuangan serta memberikan opini baik dari penyajian laporan keuangan perusahaan (Boone et al., 2010). Menurut Lee (2013) kepercayaan terhadap laporan keuangan perusahaan berdasarkan dari keahlian auditor yang dapat dilihat dari hasil kualitas audit. Kualitas audit harus dapat memberikan kepastian bahwa laporan keuangan yang telah diaudit, bebas dari kesalahan maupun kecurangan sehingga dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan (Banimahd, 2013). Tipe auditor eksternal yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari KAP big four dan KAP non big four. KAP big four yaitu Ernst&Young, Pricewaterhouse Cooper (PwC), Deloitte, dan KPMG.
Kualitas audit diukur dengan cara: jika perusahaan diaudit oleh KAP Big 4 = 1 dan jika tidak = 0 (Alfraih, 2016).
2.11. Value Relevance of Accounting Information
Value relevance of accounting information merupakan kemampuan informasi akuntansi dalam menjelaskan nilai perusahaan serta menjadi pertimbangan penting bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi (Alfraih, 2017). Informasi akuntansi dapat mempunyai relevansi nilai apabila informasi itu bermanfaat untuk memprediksi nilai pasar saham sehingga investor akan menyesuaikan perilakunya dan pasar akan memberikan respon cepat lewat perubahan harga saham (Ellis & Seng, 2015). Menurut Scott (2012) relevansi nilai berhubungan dengan laba perusahaan karena menggunakan perubahan harga saham untuk mengukur informasi laporan keuangan supaya dapat membantu investor menilai masa depan perusahaan. Laba, nilai buku ekuitas, serta arus kas merupakan ukuran relevan dalam menentukan keputusan serta memberi informasi tentang kinerja perusahaan (Wael, 2016). Informasi akuntansi harus berkualitas dan bisa diandalkan, oleh karena itu informasi akuntansi harus berhubungan dengan harga saham sehingga investor dapat menggunakan informasi tersebut untuk melakukan investasi (Mungly et al., 2016).
Menurut Hayati et al (2015) dalam pengukuran value relevance of accounting information berdasarkan model harga saham, menggunakan 3 proxy yaitu :
1. Earning per share (EPS)
Earning per share yaitu keuntungan bersih untuk setiap lembar saham yang didapat perusahaan. Investor akan tertarik pada laba yang tercermin dalam harga saham. Investor akan berminat pada saham yang mempunyai EPS tinggi karena EPS tinggi akan memperoleh deviden besar, sebaliknya jika EPS rendah membuat harga saham turun dan akan memperoleh deviden kecil. Investor akan menanamkan modalnya pada perusahaan yang EPSnya terus membaik dan meningkat. EPS dapat diperoleh dari laba setelah pajak dibagi dengan jumlah saham yang beredar.
Rumus:
EPS = (2.5)
2. Book Value of Equity Per Share (BVEPS)
Nilai buku ekuitas yaitu nilai dari setiap saham yang menyediakan informasi dan digunakan sebagai alat pengukuran terhadap kemampuan profitabilitas perusahaan. Nilai buku ekuitas menggambarkan aktiva bersih yang dimiliki investor dari sahamnya.Semakin tinggi nilai buku maka harapan terhadap nilai pasar saham juga tinggi.BVEPS dapat diperoleh dari hasil membagi total ekuitas dengan jumlah saham yang beredar.
Rumus:
BVEPS = (2.6)
3. Cash Flow From Operation Activities (CFOA)
CFOA yaitu nilai yang menjelaskan jumlah arus kas bersih dari aktivitas perusahaan dalam menghasilkan arus kas yang cukup untuk membayar dividen, melunasi pinjaman, melakukan investasi baru.
CFOA didapat dari arus kas bersih dari aktivitas operasi dibagi dengan jumlah saham yang beredar.
Rumus:
CFOA = (2.7)
Rumus value relevance of accounting information dengan analisis regresi linier berganda berdasarkan model harga saham yang dikembangkan oleh (Ohlson, 1995), yaitu:
Pit = β0 + β1EPSit + β2BVEPSit + β3CFOAit + eit (2.8)
Ket:
Pit = Harga saham perusahaan i 3 bulan setelah t
Β = Konstanta
EPSit = Earnings Per Share
BVEPSit = Book Value of Equity Per Share
CFOAit = Cash Flows From Operation Activities Per Share eit = Error
Pengukuran variabel dependen value relevance of accounting information menggunakan SPSS utuk mendapatkan koefisien EPS, BVEPS, CFO
sehingga diperoleh predicted share price.
2.12. Kajian Penelitian Terdahulu
Tabel 2. 2 Kajian Penelitian Terdahulu
No Nama &
Tahun
Variabel
Populasi & Sampel Negara Hasil Penelitian & Penjelasan Hipotesa X
(Independen)
Y (Dependen)
1 Vafaei, et al.(2011)
Intellectual Capital Disclosure
Value relevance of
accounting information
220 perusahaan publik dari Australia (63 perusahaan), Hong Kong (49 perusahaan),
Singapura (50
perusahaan) dan Inggris (58 perusahaan) yang didasarkan pada 100 perusahaan yang terdaftar dimasing- masing negara.
Australia, Hong Kong, Singapura, Inggris
ICD (structural capital) berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi di Inggris dan Australia namun structural capital, relational capital dan human capital berpengaruh negatif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi di negara Hongkong dan Singapura.
H1b
2 Alfraih (2017)
Intellectual Capital
Value relevance of
182 perusahaan yang
terdaftar di kuwait Kuwait ICD (Human capital,structural capital dan relational capital) H1
Disclosure accounting information
stock exchange 2013 berpengaruh positif terhadap value relevance
3
Gamersc hlag (2013)
Intellectual capital disclosure
Value relevance of
accounting information
130 perusahaan yang terdaftar di German stock exchange 2005- 2008
Germany
ICD (Human capital) berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi.
H1a
4 Hayati et al. (2015)
Intellectual Capital
Value relevance of
accounting information
65 perusahaan
manufaktur yang terdaftar di BEI
Indonesia
Intellectual capital (Human capital, structural capital dan relational capital) berpengaruh positif pada relevansi nilai informasi akuntansi.
H1
5
Ellis dan Seng (2015)
Intellectual capital disclosure
Value relevance of
accounting information
284 perusahaan dari new zeland stock exchange tahun 2008- 2010
New Zeland
ICD (human capital dan relational capital) berpengaruh positif terhadap nilai pasar yang diukur dengan harga saham, namun structural capital berhubungan negatif dengan nilai pasar.
H1a, H1b,H1c
6 Wang (2008)
Intellectual Capital Disclosure
Value Relevance of
Accounting Information
893 perusahaan Standard & Poor AS 500 (S & P 500) publik perusahaan elektronik tahun 1996-2005.
Amerika Serikat
ICD (Human capital,structural capital,relational capital) berpengaruh positif terhadap relevansi informasi akuntansi.
H1
7 Yu et al.
(2009)
Intellectual Capital Disclosure
Value relevance of
accounting information
758 perusahaan IT di Taiwan tahun 2003- 2006
Taiwan
ICD (Human capital,structural capital,dan relational capital) berpengaruh positif dengan relevansi nilai.
H1
8 Liu et al.
(2009)
Intellectual Capital Disclosure
Value relevance of
accounting information
505 perusahaan IT di Taiwan yang terdaftar di Taiwan Stock Exchange pada tahun 2001-2005
Taiwan ICD (Human capital) berpengaruh positif dengan relevansi nilai.
H1a
9
Ferraro dan Veltri (2011)
Intellectual Capital
Value relevance of
accounting information
191 perusahaan yang terdaftar di Italian stock exchange tahun 2006-
Italia
IC (Relational capital) berpengaruh positif terhadap relevansi nilai. H1c
2008
10
Veltri dan Silvestri (2011)
Intellectual Capital
Value relevance of
accounting information
48 perusahaan dari sektor keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Italia tahun 2006-2008
Italia
IC (Human capital) berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi.
H1a
11
Balagobe i
(2017)
Audit committe
Value relevance of accounting information
15 hotel yang terdaftar
di Bursa Efek Colombo Sri lanka
Audit committee
(size,independence,expertise) berpengaruh positif terhadap nilai relevansi nilai informasi akuntansi.
H2a,H2b, H2c
12
Malik&S hah (2013)
Audit committe
Value relevance of
accounting information
Perusahaan yang terdaftar di bursa Karachi (KSE) yang sahamnya telah
diperdagangkan selama masa studi 2000-2011
Pakistan
Audit committee independence berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi
H2c
13
Raymond et al.
(2011)
Audit committe
Value relevance of
accounting information
223 perusahaan yang
terdaftar di Hongkong Hongkong
Audit committee (independence dan Expertise) tidak berpengaruh terhadap relevansi nilai informasi akuntansi.
H2b,H2c
14
Naimi&H ussin (2010)
Audit committe
Value relevance of accounting information
628 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Malaysia
Malaysia
Audit committee (size, expertise, and independence) berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi.
H2a,H2b, H2c
15 Almari (2017)
Audit committe
Value relevance of accounting information
Semua sektor
perbankan di Yordania tahun 2009-2016
Yordania
-Audit committee independence berpengaruh negatif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi -Audit committee size berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi
H2a,H2c
16
Habib &
Azim (2008)
Audit committe
Value relevance of accounting information
500 perusahaan yang terdaftar Australia untuk periode 2001- 2003
Australia
Audit committee size,Audit committee independence,Audit committee expertise berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi
H2a,H2b, H2c
17
Omokhud u&Amak e (2018)
Audit Qulaity
Value relevance of accounting
45 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Nigeria 2008-2015
Nigeria
-Kualitas audit (big 4) berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi.
H3, H2
information -Committee audit size,Audit expertise, committee audit
independence berpengaruh negatif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi.
18 Banimah d (2013)
Audit Quality (KAP big 4)
Value relevance of accounting information
156 Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Tehran tahun 2001- 2010
Iran
Kulaitas audit (Big 4) berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi.
H3
19 Hidayat (2012)
Audit Quality (KAP big 4)
Value relevance of accounting information
147 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2008-2011
Indonesia
KAP big 4 berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi
H3
20 Lee (2013)
Audit Quality (KAP big 4)
Value relevance of accounting information
Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Taiwan tahun 1996- 2000
Taiwan
KAP big 4 berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi
H3
21
Baffa&Y ero (2017)
Audit Quality (KAP big 4)
Value relevance of accounting information
117 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Nigeria tahun 2009- 2015
Nigeria
KAP big 4 berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi.
H3
22 Alfraih (2016)
Audit Quality (KAP big 4)
Value relevance of accounting information
195 perusahaan yang terdaftar di Kuwait Stock Exchange tahun 2002-2013
Kuwait
KAP big 4 berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi.
H3
2.13. Hipotesa penelitian
2.13.1 Pengaruh Pengungkapan Modal Intelektual terhadap Relevansi Nilai Informasi Akuntansi
Informasi intellectual capital termasuk bagian penting dan tidak terpisahkan dalam proses penciptaan nilai perusahaan sehingga dapat memberikan informasi yang relevan sehingga dapat digunakan oleh investor dalam membuat keputusan (Wang, 2008). Informasi yang terdapat dalam intellectual capital disclosure agar memiliki nilai yang relevan bagi investor maka harus tercermin pada harga saham, nilai yang relevan dapat memberikan informasi berharga bagi investor dalam menentukan keputusan serta dapat memberikan penilaian yang tepat terhadap perusahaan di masa depan (Gamerschlag, 2013). Informasi intellectual capital dapat memberikan informasi yang relevan dan meningkatkan keunggulan kompetitif bagi perusahaan (Vafaei, 2011).
Alfraih (2017) berpendapat bahwa manfaat intellectual capital disclosure dapat mengurangi asimetri informasi antara manajer dan pemegang saham dan dapat meningkatkan efisiensi pasar modal sehingga dapat mengambil keputusan investasi yang lebih baik,sehingga disimpulkan bahwa semakin tinggi Intellectual capital disclosure maka semakin tinggi juga relevansi nilai informasi akuntansi.
Intellectual capital disclosure berpengaruh terhadap relevansi nilai informasi akuntansi dibuktikan dengan berbagai penelitian antara lain: Penelitian yang dilakukan Eliis dan Seng (2015); Vafaei (2011); Alfraih (2017); Hayati et al,.
(2015) menunjukkan bahwa intellectual capital disclosure berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi. Hubungan modal intelektual dengan relevansi nilai informasi akuntansi yaitu modal intelektual tidak terpisahkan dari proses penciptaan nilai perusahaan, dimana nilai perusahaan tercermin pada harga saham dimana laba, nilai buku ekuitas, serta arus kas merupakan ukuran relevan dalam menentukan keputusan serta memberi informasi tentang kinerja perusahaan (Wael, 2016).
Berdasarkan penjelasan tersebut, hipotesa dalam penelitian ini, yaitu : H1= Pengungkapan modal intelektual berpengaruh positif terhadap relevansi
nilai informasi akuntansi
H1a=Human capital berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi
H1b= Structural capital berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi
H1c= Relational capital berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi
2.13.2 Pengaruh komite audit terhadap relevansi nilai informasi akuntansi Komite audit bertugas memberikan masukan serta rekomendasi berhubungan dengan masalah keuangan, meneliti laporan keuangan, mengawasi proses pelaporan keuangan perusahaan, memperkuat transparansi laporan keuangan untuk pengembangan perusahaan (Balagobei, 2017). Komite audit sebagai pengawas sistem keuangan dan laporan keuangan perusahaan sehingga transparansi informasi laporan keuangan ditentukan dari keberhasilan komite audit dalam menjalankan tugasnya (Malik & Shah, 2013). Komite audit yang profesional dapat menyebabkan kualitas laporan keuangan perusahaan meningkat sehingga laporan keuangan mempunyai relevansi nilai sehingga dapat membantu investor dalam menyeimbangkan kepentingan manajer dan pemegang saham (Baioco & Almeida, 2017).
Naimi & Hussin (2010) berpendapat bahwa semakin banyak jumlah komite audit akan mempermudah dalam melakukan pengawasan terhadap laporan keuangan dan memberikan peluang kesalahan yang kecil sehingga meningkatkan kualitas laporan keuangan. Balagobei (2017) berpendapat bahwa dengan melihat eratnya hubungan komite audit dengan laporan keuangan maka anggota komite audit diwajibkan profesional dalam menjalankan tugasnya dan mengerti dalam hal bisnis, akuntansi dan keuangan sehingga komite audit dapat meningkatkan integritas dan transparansi laporan keuangan. Kinerja komite audit akan efektif apabila anggotanya mempunyai independensi dalam bersikap dan berpendapat (Chan et al, 2012). Penelitian yang dilakukan oleh Habib & Azim (2008) menunjukkan bahwa kinerja komite audit dapat meningkatkan kualitas dari laporan keuangan sehingga meningkatkan relevansi nilai. Hubungan komite audit dengan relevansi nilai informasi akuntansi yaitu komite audit melakukan pengawasan terhadap laporan keuangan sehingga meningkatkan kualitas laporan
keuangan, diamana hal ini memberikan nilai positif bagi investor bahwa perusahaan memiliki tata kelola baik yang membuat harga saham meningkat, sehingga menyebabkan investor mengambil keputusan berinvestasi.
Berdasarkan penjelasan tersebut, hipotesa dalam penelitian ini yaitu:
H2a = Committee audit size berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi
H2b = Committee audit expertise berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi
H2c = Committee audit independence berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi
2.13.3 Pengaruh kualitas audit terhadap relevansi nilai informasi akuntansi Laporan keuangan perusahaan yang dapat dipercaya bergantung pada kecakapan auditor yang dilihat dari kualitas audit yang dihasilkan (Baffa & Yero, 2013). Dalam penelitian ini kualitas audit diukur dengan KAP big 4. KAP big 4 lebih dipercaya karena mempunyai sumber daya teknologi dan standar pengendalian yang baik dan lebih independen dalam menjaga reputasinya serta dapat menghasilkan laporan keuangan yang lebih berkualitas yang dapat menyebabkan meningkatnya harga saham dan menurunnya asimetri informasi (Alfraih, 2016). Pengawasan dari auditor berguna untuk mengurangi konflik kepentingan manajer dengan pemegang saham sehingga dapat mengurangi asimetri informasi,semakin berkualitas auditor (KAP) maka semakin tinggi kualitas angka-angka akuntansi yang dilaporkan sehingga dapat memberikan kepercayaan bagi investor (Cormier et al, 2010). Kualitas audit harus dapat memberikan kepastian bahwa laporan keuangan yang telah diaudit, bebas dari kesalahan maupun kecurangan sehingga dapat meningkatkan kualitas dari laporan keuangan (Banimahd, 2013). Kualitas audit yang tinggi dapat membantu komite audit dalam melakukan monitor terhadap laporan keuangan sehingga dapat meningkatkan kualitas dan keandalan laporan keuangan yang menyebabkan laporan keuangan mempunyai relevansi nilai (Hoitash, 2009) .
Hubungan kualitas audit (KAP big4) dengan relevansi nilai informasi akuntansi yaitu laporan keuangan yang diaudit oleh auditor yang berkualitas
seperti KAP big 4 dapat memberikan nilai positif bagi investor dan membuat harga saham meningkat yang berdampak pada keputusan investasi.
Berdasarkan penjelasan tersebut, hipotesa dalam penelitian ini yaitu:
H3= Kualitas audit (KAP big 4 ) berpengaruh positif terhadap relevansi nilai informasi akuntansi.