5
Universitas Kristen Petra
2. LANDASAN TEORI
2.1 Earning Management
Sugiri (1998) membagi definisi earning management menjadi dua (dalam Nurhayati, 2006), yaitu:
a. Definisi sempit
Earning management dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi. Earning management dalam artian sempit ini didefinisikan sebagai perilaku manajer untuk “bermain” dengan komponen discretionary accruals dalam menentukan besarnya earnings.
b. Definisi luas
Earning management merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan atau mengurangi laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan atau penurunan profitabilitas ekonomis jangka panjang unit tersebut.
Earning management merupakan variabel dependen yang diukur dengan proxy discretionary accruals (Widyaningdyah, 2001). Discretionary accruals adalah komponen-komponen akrual yang berada dibawah kebijakan manajemen (Widyaningdyah, 2001). Penggunaan discretionary accruals sebagai proxy earnings management dikarenakan discretionary accruals telah dipakai secara luas untuk menguji hipotesis earning management (Sutono, 2006). Contoh dari discretionary accruals item adalah biaya penelitian dan pengembangan, biaya perawatan mesin dan peralatan, dan biaya pemasaran, misalnya perusahaan dapat menunda pengakuan biaya penelitian dan pengembangan apabila perusahaan tersebut ingin memperoleh keuntungan yang besar pada periode tersebut (Natalia, 2006).
Model yang digunakan untuk menghitung discretionary accruals dalam penelitian ini menggunakan pendekatan yang dikembangkan oleh Friedlan (1994) yang dikutip oleh Gumanti (2001) yaitu:
pt pt
pt-1 pt-1
pt TAC /SALE TAC /SALE
DAC (2.1)
6
Universitas Kristen Petra
Keterangan :
DACpt = discretionary accruals pada periode tes TACpt = total accruals pada periode tes
SALEpt = penjualan pada periode tes
TACpt-1 = total accruals pada 1 periode sebelumnya SALEpt-1 = penjualan pada 1 periode sebelumnya
Secara matematis total accruals untuk periode t yang disebut juga total accounting accruals sebagaimana diistilahkan oleh Aharony et al (1993) yang dikutip oleh Gumanti (2001) dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:
CFO - NI
TACt (2.2)
Keterangan :
TACt = total accruals pada periode t NIt = total laba bersih pada periode t
CFOt = aliran kas bersih aktivitas operasi pada periode t
Seperti yang dikemukakan oleh Gumanti (2001), aliran kas dari aktivitas operasi diperoleh secara langsung dari laporan keuangan perusahaan sebagaimana terdapat di dalam prospektus. Indikasi bahwa telah terjadi earnings management ditunjukkan oleh koefisien discretionary accruals yang positif, sebaliknya bila koefisien discretionary accruals negatif berarti tidak ada indikasi bahwa manajemen telah melakukan upaya untuk menaikkan keuntungan melalui income- increasing discretionary accruals. “Income-increasing discretionary accruals adalah tindakan memilih dan menerapkan metode- metode akuntansi yang dapat menaikkan keuntungan yang dilaporkan” (Gumanti, 2001).
2.1.1 Faktor-Faktor yang Memotivasi Terjadinya Earning Management Ada beberapa faktor yang menyebabkan pihak manajemen terdorong atau termotivasi untuk melakukan praktek earning management (dalam Yuskar, Taib, Ibrahim, 2003), diantaranya adalah:
7
Universitas Kristen Petra
a. Motivasi pasar modal. Motivasi ini dimaksudkan oleh pihak manajemen untuk memperoleh harga pasaran saham yang lebih baik, atau setidaknya mempertahankan kestabilan harga pasar saham perusahaan yang ada di pasar modal. Kajian mengenai pasar modal ini telah dilakukan oleh banyak peneliti sebelumya, diantaranya adalah DeAngelo (1990), dan Dechow, Sloan dan Richard (1995).
b. Motivasi kontrak. Kajian mengenai motivasi-motivasi kontrak ini telah dilakukan oleh Watts dan Zimmerman (1986), motivasi ini dapat dibedakan lagi ke atas dua bagian, yaitu:
Motivasi kontrak pinjaman, yaitu usaha manajemen untuk melindungi diri agar terlihat tidak menyalahi kontrak perjanjian pinjaman yang telah disetujui sebelumnya. Kajian mengenai motivasi ini telah dilakukan oleh Healy and Palepu (1990); DeAngelo dan Skinner (1994); DeFond and Jiambalvo (1994).
Motivasi kontrak kompensasi manajemen. Motivasi kontrak kompensasi ini dilakukan oleh pihak manajemen dengan tujuan agar mereka boleh menerima imbalan yang lebih besar dalam bentuk gaji dan bonus. Kajian mengenai motivasi kontrak kompensasi ini telah banyak dilakukan sebelumnya, seperti DeAngelo (1986).
c. Motivasi pajak. Manajemen pendapatan dengan motivasi pajak ini dilakukan oleh para manajemen perusahaan dengan cara meminimumkan beban pajak pendapatan. Motivasi ini biasanya terjadi dalam keadaan adanya kebijakan- kebijakan baru pemerintah mengenai perpajakan, seperti perubahan tarif pajak, keringanan pajak, dan pengecualian pajak pendapatan. Kajian mengenai motivasi pajak ini telah dilakukan oleh Porcano (1997), Scott (1997), Guenther (1994), dan Lindahl (1989).
Watts dan Zimmerman sebagaimana yang dikutip oleh Sugiri (1998), membagi motivasi earning management menjadi 3 (dalam Widyaningdyah, 2001), yaitu:
8
Universitas Kristen Petra
a. Hipotesis bonus plan
Hipotesis ini menyatakan bahwa manajer pada perusahaan dengan bonus plan cenderung untuk menggunakan metode akuntansi yang akan meningkatkan income saat ini.
b. Hipotesis debt to equity
Hipotesis ini menyebutkan bahwa pada perusahaan yang mempunyai rasio debt to equity besar maka manajer perusahaan tersebut cenderung menggunakan metode akuntansi yang akan meningkatkan pendapatan maupun laba.
c. Hipotesis political cost
Hipotesis ini menyatakan bahwa pada perusahaan yang besar yang kegiatan operasinya berhubungan dengan sebagian besar masyarakat akan cenderung untuk mengurangi laba yang dilaporkan.
Menurut Ayres (1994), ada 3 faktor yang bisa dikaitkan dengan munculnya praktek-praktek earning management (dalam Gumanti, 2000), yaitu : a. Manajemen akrual. Faktor ini biasanya dikaitkan dengan segala aktivitas
yang dapat mempengaruhi aliran kas dan juga keuntungan yang secara pribadi merupakan wewenang dari para manajer. Contoh untuk hal ini antara lain adalah dengan mempercepat atau menunda pengakuan akan pendapatan, menganggap sebagai beban biaya atau menganggap sebagai suatu tambahan investasi atas suatu biaya misalnya biaya perawatan aktiva tidak lancar, kerugian atau keuntungan atas penjualan aktiva, dan perkiraan-perkiraan akuntansi lainnya seperti beban piutang ragu-ragu dan perubahan metode akuntansi.
b. Penerapan suatu kebijaksanaan akuntansi yang wajib. Faktor yang kedua ini berkaitan dengan keputusan manajer untuk menerapkan suatu kebijaksanaan akuntansi yang wajib diterapkan oleh perusahaan, yaitu antara menerapkannya lebih awal dari waktu yang ditetapkan atau menundanya sampai saat berlakunya kebijaksanaan tersebut. Contoh bukti empiris penelitian tentang kewajiban penerapan kebijakan akuntansi adalah penelitian yang dilakukan oleh Ayres (1986) dan Trombley (1989). Ayres (1986) berusaha meneliti apakah karakteristik-karakeristik tertentu bisa
9
Universitas Kristen Petra
mempengaruhi manajer untuk menerapkan SFAS 52 “Accounting for Foreign Currency Translation” dan menemukan bukti bahwa perusahaan-perusahaan yang mengadopsi lebih awal adalah lebih kecil, kurang menguntungkan, dan cenderung mempunyai masalah dengan solvabilitasnya bila dibandingkan dengan perusahaan yang mengadopsi lebih akhir.
c. Perubahan akuntansi secara sukarela. Faktor ini biasanya berkaitan dengan upaya manajer untuk mengganti atau merubah suatu metode akuntansi tertentu di antara sekian banyak metode yang dapat dipilih yang tersedia dan diakui oleh badan akuntansi yang ada. Contoh untuk hal ini adalah dengan merubah metode penilaian persediaan dari FIFO ke LIFO atau sebaliknya, merubah metode penyusutan aktiva dari metode garis lurus ke metode penyusutan yang dipercepat atau sebaliknya, dan pengakuaan atas biaya produksi yaitu antara menggunakan metode absorption atau full costing dan biaya variabel.
2.1.2 Bentuk Earning Management
Menurut Scott (2003), ada empat macam bentuk atau pola yang dapat dipilih oleh manajer dalam melakukan tindakan earning management, yaitu:
a. Taking a bath
Pola ini dilakukan pada saat ada tekanan organisasional atau reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru. Pola ini dilakukan dengan cara melaporkan rugi yang besar sekaligus yaitu dengan mengakui adanya biaya pada periode yang akan datang sebagai kerugian pada periode berjalan sehingga laba yang dilaporkan diperiode yang akan datang menjadi meningkat.
b. Income minimization
Pola ini dilakukan ketika perusahaan memiliki keuntungan yang sangat tinggi yaitu dengan cara menurunkan laba dengan mempercepat penghapusan aktiva dan aktiva tak berwujud dan mengakui pengeluaran-pengeluaran sebagai biaya.
10
Universitas Kristen Petra
c. Income maximization
Tindakan ini bertujuan untuk melaporkan net income semaksimal atau setinggi mungkin untuk tujuan bonus yang lebih besar.
d. Income smoothing
Pola ini dilakukan untuk mendapatkan laba yang stabil yang umumnya digunakan untuk tujuan pelaporan eksternal, terutama bagi investor karena pada umumnya investor lebih menyukai laba yang cukup stabil.
2.2 Leverage
Siswanto (2008) berpendapat bahwa perusahaan dengan leverage rendah mempunyai risiko kerugian yang rendah apabila kondisi perekonomian memburuk, tetapi juga mempunyai keuntungan yang rendah apabila perekonomian membaik. Begitu pula sebaliknya, keadaan berlaku sebaliknya bagi perusahaan yang mempunyai leverage yang tinggi. Prospek pengembalian yang tinggi memang diinginkan, tetapi para investor umumnya menolak untuk menerima risiko. “Semakin tinggi rasio leverage maka semakin besar risiko yang dihadapi, dan investor akan meminta tingkat keuntungan yang semakin tinggi”
(Weston dan Brigham, 1990, dalam Natalia, 2006, p.8).
Menurut Widyaningdyah (2001), perusahaan yang mempunyai rasio leverage tinggi diduga melakukan earnings management karena perusahaan terancam default yaitu tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran hutang pada waktunya. Perusahaan akan berusaha menghindarinya dengan membuat kebijaksanaan yang dapat meningkatkan pendapatan maupun laba. “Dengan demikian akan memberikan posisi bargaining yang relatif lebih baik dalam negosiasi atau penjadwalan ulang utang perusahaan” (Jiambalvo, 1996, dalam Widyaningdyah, 2001, p.93).
Pengertian financial leverage dan operating leverage menurut Gallagher dan Andrew (2000) yaitu:
1. Financial Leverage
Financial leverage is the additional volatility of net income caused by the presence of the fixed-cost funds (such as fixed-rate debt) in the firm’s capital structure. Definisi tersebut berarti bahwa adanya kemungkinan tambahan
11
Universitas Kristen Petra
keuntungan bersih yang disebabkan biaya tetap yang dibayarkan dalam bentuk bunga dalam struktur modal perusahaan.
Financial leverage diukur dengan menggunakan degree of financial leverage (DFL). Degree of financial leverage adalah perbandingan antara persentase perubahan laba bersih (%ΔNI) dengan persentase perubahan laba operasi (%ΔEBIT). Secara matematis Degree of financial leverage dapat dituliskan sebagai berikut :
EBIT
% NI
%
DFL (2.3)
2. Operating Leverage
Operating leverage refers to the phenomenon whereby a small change in sales triggers a relatively large change in operating income (EBIT). Operating leverage terjadi karena biaya tetap dalam operasi perusahaan. Sebuah perusahaan dengan biaya tetap dalam proses produksi apabila penjualan unit meningkat maka EBIT perusahaan akan meningkat dengan persentase yang lebih besar dari penjualan dan apabila penjualan unit menurun maka EBIT perusahaan akan menurun dengan persentase yang lebih besar dari penjualan.
Operating leverage diukur dengan menggunakan degree of operating leverage. Degree of operating leverage adalah perbandingan antara persentase perubahan laba operasi (%ΔEBIT) dengan persentase perubahan penjualan (%ΔSales). Secara matematis Degree of operating leverage dapat dituliskan sebagai berikut :
Sales DOL EBIT
%
% (2.4)
Untuk keperluan dalam penelitian, leverage yang digunakan dalam penelitian ini adalah leverage keuangan yang diukur dengan menggunakan rasio leverage. Menurut Ariani (2006), rasio leverage digunakan dalam menetukan keputusan untuk memenuhi kebutuhan modal dengan berbagai alternatif pembiayaan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kondisi finansial yang ada pada
12
Universitas Kristen Petra
suatu perusahaan, apakah memungkinkan bila ditambah lagi hutang-hutangnya.
Rasio-rasio yang tergolong dalam rasio leverage menurut Emery, Finnerty, dan Stowe (1998) adalah sebagai berikut:
1. Debt to Equity Ratio
Rasio ini mengukur seberapa jauh perusahaan dibiayai dari pihak kreditur.
Makin tinggi rasio ini berarti semakin besar dana yang diambil dari pihak luar. Rumus yang digunakan yaitu:
Equity rs
Stockholde Debt Total Ratio
Equity
Debt/ ' (2.5)
2. Debt Ratio
Debt ratio adalah bagian dari keseluruhan dana yang dibelanjai dengan hutang. Rasio ini mengukur seberapa besar aktiva perusahaan yang dibiayai oleh kreditur. Bagi kreditur, semakin tinggi rasio ini, semakin kurang disukai karena dengan semakin tingginya tingkat rasio tersebut akan menyebabkan semakin rendahnya perlindungan yang diperoleh oleh kreditur pada waktu perusahaan dilikuidasi. Rumus yang digunakan yaitu:
Asset Total
Debt Total Ratio
Debt (2.6)
3. Equity Multiplier
Equity multiplier menunjukkan seberapa besar total aset yang dimiliki oleh perusahaan yang dibiayai oleh modal. Rumus yang digunakan yaitu:
Equity rs
Stockholde Asset Total Multiplier
Equity
' (2.7)
Pada umumnya, kreditur lebih menyukai rasio leverage yang rendah karena semakin rendah rasio maka semakin besar perlindungan terhadap kerugian kreditur dalam peristiwa likuidasi (Dewi Astuti, 2004).
Untuk mengetahui suatu rasio leverage itu tinggi atau rendah, terdapat standar untuk membedakan mana yang termasuk leverage tinggi atau leverage rendah. “Teori standard leverage ratio menyatakan bahwa debt to equity ratio antara 0,5 sampai 1,5 dianggap layak. Berdasarkan standar tersebut maka nilai leverage yang dihitung dengan rasio hutang akan dianggap layak pada tingkat
13
Universitas Kristen Petra
0,60” (dalam Natalia, 2006, p.9). Dengan demikian, suatu leverage dikatakan tinggi apabila leverage lebih dari 0.60, sedangkan suatu leverage dikatakan rendah jika leverage kurang dari 0.60. “Karena rata-rata tingkat leverage pada umumnya sekitar 0.60 maka untuk tingkat leverage diatas 0.60 dapat dikatakan tinggi” (dalam Ariani, 2006, p.25).
2.3 Harga Saham
“Nilai pasar adalah harga dari saham di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar” (Jogiyanto, 2000, p.88). Menurut Weston dan Brigham (1993), Market price is the price at which a stock sells in the market.
Yang berarti , harga pasar adalah harga dimana saham diperjualbelikan di pasar.
Harga pasar saham digunakan investor apabila investor menjual atau membeli saham, yang ditentukan berdasarkan harga penutupan di bursa pada hari yang bersangkutan (Ferylia dan Wijaya, 2009). Koewn et al (2001) yang dikutip oleh Purwanto menyatakan bahwa harga saham merupakan sesuatu yang sangat penting dan mencerminkan seluruh informasi yang disediakan untuk umum yang berkaitan dengan nilai perusahaan (dalam Argali, 2006).
2.3.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham
Beberapa faktor yang mempengaruhi harga saham menurut Sjahrir dan Usman (1994, p.50, dalam Argali, 2006):
a. Keadaan ekonomi dari Negara yang bersangkutan.
b. Policy pemerintah dalam mengembangkan ekonomi termasuk pasar modalnya.
c. Buying power dari masyarakat Indonesia.
d. Harapan-harapan investor mengenai perkembangan ekonomi dan perkembangan perusahaan-perusahaan yang telah dan akan go public.
e. Akhirnya karena ekonomi dunia kini ekonomi terbuka maka keadaan ekonomi dari Negara-negara pasaran barang produksi kita ikut mempengaruhi harga-harga saham kita.
14
Universitas Kristen Petra
Menurut Alwi (2003), faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan harga saham dikelompokan menjadi faktor internal dan faktor eksternal (dalam Ohalim, 2007) yaitu:
a. Faktor internal atau lingkungan mikro
Pengumuman tentang pemasaran, produksi, penjualan seperti pengiklanan, rincian kontrak, perubahan harga, penarikan produk baru, laporan produksi, laporan keamanan produk, dan laporan penjualan.
Pengumuman pendanaan, seperti pengumuman yang berhubungan dengan ekuitas dan hutang.
Pengumuman badan direksi manajemen seperti perubahan dan pergantian direktur, manajemen, dan struktur organisasi.
Pengumuman pengambilalihan diversifikasi, seperti laporan merger, investasi ekuitas, laporan take over oleh pengakuisisian dan diakuisisi, laporan divestasi dan lainnya.
Pengumuman investasi, seperti melakukan ekspansi pabrik, pengembangan riset, dan penutupan usaha lainnya.
Pengumuman ketenagakerjaan, seperti negosiasi baru, kontrak baru, pemogokan, dan lainnya.
Pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti peramalan laba sebelum akhir tahun fiskal dan setelah akhir tahun fiskal, earning per share (EPS) dan dividen per share (DPS), price earning ratio, net profit margin, return on assets dan lain-lain.
b. Faktor eksternal atau lingkungan makro
Pengumuman dari pemerintah seperti perubahan suku bunga tabungan dan deposito, kurs valuta asing, inflasi serta berbagai regulasi dan deregulasi ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Pengumuman hukum seperti tuntutan karyawan terhadap perusahaan atau terhadap manajernya dan tuntutan perusahaan terhadap manajernya.
Pengumuman industri sekuritas seperti laporan pertemuan tahunan, insider trading, volume atau harga saham perdagangan, pembatasan atau penundaan trading.
15
Universitas Kristen Petra
Gejolak politik dalam negeri dan fluktuasi nilai tukar juga merupakan faktor yang berpengaruh signifikan pada terjadinya pergerakan harga saham di bursa efek suatu Negara.
Berbagai isu baik dari dalam negeri dan luar negeri.
Macam-macam harga saham yang ada di pasar modal seperti yang diungkapkan oleh Sawidji (dalam Argali, 2006):
a. Harga Pembukaan
Harga pembukaan adalah harga yang diminta oleh penjual dan pembeli pada saat pembukaan perdagangan di bursa efek. Bisa saja terjadi di dalam bursa efek pada saat dimulainya hari bursa sudah terjadi transaksi atas suatu saham, dan harga yang ada sesuai dengan yang diminta oleh penjual dan pembeli.
Dalam keadaan demikian, harga pembukaan tadi dapat menjadi harga pasar pada saat terjadi transaksi. Jadi dapat disimpulkan bahwa harga pembukaan bisa saja menjadi harga pasar, begitu juga sebaliknya bahwa harga pasar mungkin saja akan menjadi harga pembukaan. Namun keadaan sebaliknya ini tidak selalu terjadi.
b. Harga Penutupan
Harga penutupan merupakan harga yang diminta oleh penjual atau pembeli pada saat akhir hari bursa. Pada keadaan demikian, bisa terjadi pada saat akhir hari bursa tiba-tiba terjadi transaksi atas suatu saham. Kalau transaksi ini yang terjadi maka harga penutupan itu akan menjadi harga pasar. Namun demikian, harga ini tetap menjadi harga penutupan pada hari bursa tersebut.
Harga penutupan ini biasanya digunakan untuk memulai perdagangan pada hari berikutnya.
c. Harga Tertinggi
Harga tertinggi merupakan harga yang paling tinggi yang terjadi dalam suatu hari bursa.
d. Harga Terendah
Harga terendah merupakan harga yang paling rendah yang terjadi dalam suatu hari bursa.
16
Universitas Kristen Petra
2.4 Hubungan antar Konsep
2.4.1 Leverage dengan Earning Management
Perusahaan yang memiliki rasio leverage yang tinggi diduga melakukan earning management dengan cara memilih metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba supaya rasio leverage perusahaan tersebut menjadi rendah sehingga dapat memudahkan dalam mendapatkan pinjaman dari pihak creditor (Argali, 2006). Sebab, pada umumnya creditor lebih menyukai rasio leverage yang rendah karena dapat memperkecil risiko pembayaran hutang.
Dalam rangka membiayai aktivitas perusahaan, pemilik memerlukan modal baik itu berasal dari modal sendiri maupun modal tambahan. Salah satu cara perusahaan untuk memperoleh modal tambahan yaitu dengan berhutang pada creditor.
Perusahaan yang sebagian besar modalnya diperoleh dari hutang akan memiliki rasio leverage yang tinggi. Semakin tinggi rasio leverage maka kemungkinan risiko yang ditanggung oleh creditor akan semakin tinggi. Menurut Widyaningdyah (2001, p.93), perusahaan yang mempunyai rasio leverage tinggi diduga melakukan earnings management karena perusahaan terancam default yaitu tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran hutang pada waktunya.
Keadaan tersebut menyulitkan perusahaan dalam negosiasi atau penjadwalan ulang utang. Menurut Gumanti (2000), perusahaan-perusahaan yang sedang menghadapi kesulitan hutang cenderung untuk memilih metode akuntansi yang meningkatkan keuntungan. “Dengan demikian akan memberikan posisi bargaining yang relatif lebih baik dalam negosiasi atau penjadwalan ulang utang perusahaan” (Jiambalvo, 1996, dalam widyaningdyah, 2001, p.93).
Penelitian yang dilakukan Widyaningdyah (2001) menunjukkan adanya bukti bahwa faktor leverage berpengaruh signifikan terhadap earning management. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Widyaningdyah sejalan dengan temuan Dechow et al (1996) bahwa debt motivation yang salah satu proxynya adalah leverage, berpengaruh signifikan terhadap earning management.
17
Universitas Kristen Petra
2.4.2 Harga Saham dengan Earning Management
Gumanti (2001) mengemukakan dalam jurnalnya bahwa supaya saham yang ditawarkan dapat diserap pasar (investor), tentunya pemilik perusahaan dituntut untuk bisa menunjukkan bahwa perusahaannya merupakan perusahaan yang prospektif. Prospek tersebut ditandai oleh baiknya aliran kas perusahaan, tingkat pertumbuhan yang dialami serta tingkat keuntungan yang diperoleh.
“Bukti – bukti empiris mendukung anggapan bahwa prestasi keuangan, khususnya tingkat keuntungan, memegang peranan yang cukup penting dalam penilaian prestasi usaha perusahaan serta sering digunakan sebagai dasar keputusan investasi lebih-lebih dalam pembelian saham” (Watts dan Zimmerman, 1990; DeAngelo, 1990, dalam Gumanti, 2001, p.168)
Dengan demikian, perusahaan yang memiliki harga saham rendah diduga melakukan earning management dengan cara memilih metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba supaya harga saham menjadi lebih tinggi dari harga sebelumnya. Sebab peningkatan laba perusahaan akan menarik minat investor di pasar untuk menanamkan modalnya karena investor beranggapan bahwa perusahaan tesebut memiliki prestasi atau kinerja yang baik atau optimal yang ditandai dengan tingginya harga saham.
Disamping itu, setiap perusahaan yang dalam rangka mencari tambahan dana dengan cara menerbitkan saham baru akan mengupayakan untuk menjual saham pada harga yang tinggi karena semakin tinggi harga jual maka semakin besar pula penerimaan yang bakal diterima oleh perusahaan (Natalia, 2006).
18
Universitas Kristen Petra
2.5 Kerangka Berpikir
2.6 Hipotesis
Berkaitan dengan penjelasan mengenai hubungan antara harga saham dengan earning management dan faktor leverage dengan earning management, maka hipotesis penelitian yang ditetapkan adalah:
1. H01= leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap earning management.
H11= leverage berpengaruh signifikan terhadap earning management.
2. H02= harga saham tidak berpengaruh signifikan terhadap earning management.
H22= harga saham berpengaruh signifikan terhadap earning management.
Perusahaan otomotif
Harga Saham Leverage
Melakukan earning management atau
tidak Perusahaan yang
terdaftar di BEI periode 2008-2011