18
Universitas Kristen Petra
3.1. Perencanaan Kegiatan
Kegiatan dalam bangunan ini dibagi menjadi dua bagian besar : 1. Kegiatan utama.
2. Kegiatan penunjang.
3.1.1. Kegiatan Utama
3.1.1.1. Kegiatan Keagamaan.
Semua kegiatan keagamaan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas umat melalui metoda peribadatan dan meditasi, memupuk rasa persaudaraan dan menjaga kerukunan antar umat Buddha Theravada Surabaya.
a. Kegiatan peribadatan dan peringatan hari suci.
Puja bakti diikuti oleh semua umat, dilakukan tiap hari pagi dan sore.
Kebaktian rutin pada hari-hari tertentu, seperti hari Minggu yang dilakukan selama kurang lebih satu jam, dipimpin oleh umat sendiri dan dihadiri oleh Bhikkhu atau Samanera untuk memberikan Dhammadesana. Kebaktian memperingati hari suci agama Buddha seperti hari raya Trisuci Waisak, Asadha, Kathina, Maghapuja dsb yang diikuti oleh simpatisan umat dan rohaniawan.
b. Kegiatan meditasi.
Pelaksanaan dan pelatihan meditasi Vippasana Bhavana, sebulan sekali selama dua minggu yang diikuti oleh umat yang berminat dengan cara mendaftar terlebih dahulu, diipimpin oleh seorang Bhikkhu atau Samanera.
19
Universitas Kristen Petra
Pelaksanaan dan pelatihan meditasi Samatha Bhavana, salah satunya dengan obyek meditasi Metta Bhavana yang diadakan seminggu sekali, dan diikuti oleh umat yang berminat serta dipimpin seorang pandita.
c. Kegiatan Pendidikan.
Semua kegiatan pendidikan bersifat non formal, kegiatan pengajaran tujuannya untuk membantu para siswa Buddhis yang disekolahnya tidak memiliki tenaga pengajar Buddhis, agar tetap dapat mengikuti pelajaran agama. Sedangkan kegiatan pembinaan adalah untuk membina tenaga penyuluh dan penceramah Buddhis, sasaran utama adalah muda-mudi Buddhis. dengan tujuan untuk mencetak tenaga penceramah yang berkualitas melalui pembinaan lisan dan tulisan yang nantinya diharapkan dapat membantu pembabaran Dhamma di seluruh Surabaya.
1. Pengajaran
Ditujukan pada anak SD,SMP dan SMA dalam wujud kegiatan belajar mengajar pelajaran agama Buddha.
Kegiatan rekreatif, pengajaran melalui media permainan dan cerita yang ditujukan pada anak TK.
Semua kegiatan pengajaran akan dilakukan satu minggu sekali setelah kebaktian. 2. Pembinaan dan Pelatihan Dhammaduta.
Kegiatan bimbingan dan penyuluhan Dhammaduta dua kali dalam seminggu melalui metoda audiovisual.
Kegiatan diskusi Dhamma yang dipandu oleh seorang Bhikkhu dalam sesi Dhamma klas setiap hari minggu.
Kegiatan seminar agama Buddha, diadakan sebulan sekali.
Kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Buddhis yang diadakan setahun sekali guna persiapan pergantian pengurus untuk mencari kader baru.
Universitas Kristen Petra
3.1.2. Kegiatan Penunjang
Administrasi dan organisasi.
Semua kegiatannya berkaitan dengan keorganisasian pengelola. Kegiatan kepanitiaan.
Kegiatan berjalan hanya pada saat terselenggara acara besar seperti peringatan hari besar keagamaan atau penyelenggaraan pameran kebudayaan Buddhis.
Kegiatan pelayanan kebutuhan Bhikkhu.
Berhubungan dengan kegiatan pemenuhan kebutuhan dan keperluan Bhikkhu yang dilakukan oleh seorang Dhayaka.
Kegiatan keamanan dan kebersihan kompleks.
Merupakan kegiatan yang berhubungan dengan perawatan aset kompleks dan kegiatan pemeliharaan kebersihan lingkungan sekitar kompleks.
3.2. Perencanaan Fasilitas
Berdasarkan kegiatan-kegiatan yang ada, maka fasilitas ruang yang dibutuhkan dibagi menjadi dua bagian besar:
1. Fasilitas utama. 2. Fasilitas penunjang. 3.2.1. Fasilitas Utama
1. Ruang puja bakti. 2. Ruang meditasi.
3. Ruang pendidikan Dhamma. 4. Ruang pelatihan Dhammaduta. 5. Perpustakaan.
6. Area baca terbuka (outdoor reading area). 7. Area kelas terbuka (outdoor class area).
21
Universitas Kristen Petra
3.2.2 Fasilitas Penunjang
1. Tempat tinggal Bhikkhu 2. Kantor pengelola. 3. Ruang percetakan buku. 4. Kios buku dan cinderamata. 5. Ruang serbaguna.
6. Ruang pamer patung dan koleksi. 7. Wisma tamu.
8. Ruang servis.
9. Ruang mekanikal dan elektrikal. 10. Parkir.
3.3. Perencanaan Fungsi, Persyaratan dan Kapasitas Ruang
3.3.1. Fasilitas Utama
3.3.1.1. Ruang Puja Bakti. a. Kebutuhan ruang
Ruang perantara.
Ruang peralihan antara ruang luar dan ruang kebaktian yang juga berfungsi sebagai tempat penitipan alas kaki.
Ruang kebaktian.
Tempat melakukan puja bakti pada hari biasa maupun pada saat hari raya keagamaan. Sebagai tempat mendengarkan khotbah Dhamma, melakukan dana parammita dan tempat melakukan meditasi bersama.
Altar.
Tempat perletakan Buddha rupang dan tempat pemujaan kepada Sang Tiratana.
b. Persyaratan ruang.
Terletak didaerah yang tenang dalam kompleks, sehingga tidak terganggu suara bising kendaraan ataupun aktifitas lain dalam komplek
Universitas Kristen Petra
c. Kapasitas ruang.
Ruang puja bakti dirancang untuk dapat menampung jumlah umat hingga dua ratus orang.
3.3.1.2. Ruang Meditasi. a. Kebutuhan ruang.
Ruang meditasi.
Tempat melakukan meditasi Vipassana Bhavana pada hari–hari tertentu selama seminggu. Semua umat yang akan mengikuti latihan harus mendaftar terlebih dahulu.
Altar.
Tempat perletakan Buddha rupang. b. Persyaratan ruang.
Berada di daerah yang tenang di dalam kompleks, jauh dari kebisingan. c. Kapasitas ruang.
Ruang meditasi ditetapkan dapat menampung umat hingga dua puluh orang dan dapat dihadiri oleh lima orang Bhikkhu/Samanera.
Jadi keseluruhan ruang meditasi dapat menampung hingga 25 orang.
3.3.1.3. Ruang Pendidikan Dhamma. a. Kebutuhan ruang.
Ruang kelas
Tempat terjadinya proses belajar mengajar yang berorientasi pada ajaran Dhamma kepada kalangan anak–anak dan remaja, mulai dari TK sampai SMA.
b. Persyaratan ruang.
23
Universitas Kristen Petra
c. Kapasitas ruang.
Kelas akan dibagi menjadi dua bagian besar yang akan dipakai bersamaan. Tiap satu kelas dapat menampung sampai 25 anak, untuk mengantisipasi pertambahan siswa tiap tahun. Satu kelas diperuntukkan bagi murid TK dan SD. Sedangkan satu kelas lain digunakan untuk murid SMP dan SMA. Jadi keseluruhan kelas terdiri dari dua ruang.
Untuk ruang diskusi dapat menampung murid satu kelas yaitu 25 anak.
3.3.1.4. Ruang Pelatihan Dhammaduta. a. Kebutuhan ruang.
Ruang pelatihan.
Merupakan tempat pelatihan calon Dhammaduta melalui kegiatan diskusi. Ruang audiovisual.
Ruang pelengkap yang berfungsi untuk memberikan teori secara visual bagaimana teknik ceramah yang baik dan benar.
Ruang pembina.
Tempat pembina dan pengajar beristirahat dan menerima tamu. b. Persyaratan ruang.
Berada dekat dengan ruang perpustakaan dan ruang pendidikan Dhamma. c. Kapasitas ruang.
Untuk ruang pelatihan dapat menampung 25 orang dan ruang audiovisual ditetapkan dapat menampung hingga limapuluh orang, sedangkan ruang pembina dapat menampung hingga lima orang pembina dan lima orang tamu.
3.3.1.5 Perpustakaan. a. Kebutuhan ruang.
Ruang baca.
Ruangan khusus untuk membaca buku bagi para pengunjung, berisi meja dan kursi yang ditata berkelompok
Universitas Kristen Petra
Ruang pamer buku.
Tempat pamer dan penempatan buku–buku, majalah-majalah yang berisi ajaran agama Buddha.
Ruang administrasi.
Merupakan tempat petugas berjaga dan mengurusi segala hal yang berkaitan dengan peminjaman, pengembalian, serta pemesanan buku.
b. Persyaratan ruang.
Perpustakaan seharusnya berada dekat ruang puja bakti, ruang kelas dan ruang percetakan buku untuk menarik minat baca para siswa dan juga memudahkan penyaluran buku – buku baru.
c. Kapasitas ruang.
Kapasitas perpustakaan dapat menampung sampai seratus orang ditambah dua orang petugas perpustakaan.
3.3.1.6. Area Baca Terbuka a. Kebutuhan ruang.
Merupakan tempat membaca yang dirancang untuk dapat menikmati ruang luar secara bebas, agar pengunjung perpustakaan tidak hanya dapat menikmati tenangnya membaca di dalam ruang, tapi juga akan dapat menikmati pemandangan danau sambil membaca. Ruang baca terbuka harus memiliki suatu area khusus yang terlindung dari hujan dan panas sinar matahari. b. Persyaratan ruang.
Merupakan fasilitas tambahan dari perpustakaan, harus memberi nuansa lain pada citra perpustakaan yang selalu didalam ruang sehingga arah pandangan merupakan keharusan utama
Memerlukan ruang luar yang cukup luas dan berhubungan dengan alam bebas. c. Kapasitas
25
Universitas Kristen Petra
3.3.1.7. Area Kelas Terbuka. a. Kebutuhan ruang.
Nuansa lain dalam penyampaian materi pembelajaran perlu diciptakan, agar dapat membantu penyerapan materi para siswa sehingga perlu suatu penciptaan lingkungan yang sengaja dikondisikan untuk berkonsentrasi. Area kelas terbuka ini merupakan salah satu ruang yang dirancang untuk keperluan para siswa dan tenaga pengajar dalam proses pembelajaran khusus, sehingga membutuhkan privasi penggunaan ruang yang dirancang khusus dan dibatasi hanya dapat digunakan oleh siswa dan guru yang berkepentingan.
b. Persyaratan ruang.
Kebutuhan untuk dekat dengan elemen alam, perlu pemikiran untuk memasukkan elemen alam untuk membentuk suasana.
c. Kapasitas ruang.
Kelas dapat menampung hingga dua puluh orang siswa
3.3.1.8. Area Meditasi Terbuka. a. Kebutuhan ruang.
Penciptaan ruang luar yang berbeda untuk mendekatkan diri pada elemen alam dan lingkungna sekitar akan sangat diperlukan dalam membantu berkonsentrasi, diharapkan elemen alam sekitar tapak dapat membantu proses meditasi.
b. Persyaratan ruang.
Privasi ruang walaupun merupakan area terbuka, penempatan area perlu membentuk komunitas sendiri.
c. Kapasitas
Disediakan untuk dapat mewadahi aktivitas meditasi hingga dua puluh orang, untuk mengantisipasi penambahan jumlah pengunjung di hari-hari tertentu.
Universitas Kristen Petra
3.3.2. Fasilitas Penunjang.
3.3.2.1. Tempat Tinggal Bhikkhu. a. Kebutuhan ruang.
Ruang tidur.
Ruang istirahat dan ruang meditasi Bhikkhu dan Samanera. Ruang makan.
Tempat makan dan berkumpul para Bhikkhu dan Samanera. KM/WC.
Tempat mandi dan buang air para penghuni. b. Persyaratan ruang.
Ruang tidur hanya diperuntukkan untuk seorang Bhikkhu atau seorang Samanera saja.
Berada dekat dengan ruang meditasi. c. Kapasitas ruang.
Bhikkhu dan Samanera yang berasal dari luar kota yang mendapat tugas sebagai pembina calon Dhammaduta , baik untuk seminar, acara perayaan hari besar keagamaan, ataupun acara latihan dasar kepemimpinan Buddhis. Diasumsikan jumlah Bhikkhu dan Samanera yang datang adalah lima orang. Jadi keseluruhan bangunan dapat menampung Bhikkhu dan Samanera sebanyak lima orang.
3.3.2.2. Kantor Pengelola. a. Kebutuhan ruang.
Ruang tamu
Sebagai ruang duduk dan ruang tunggu tamu yang berkepentingan. Ruang administrasi.
Ruang pengurusan keuangan dan pemeliharaan, pendanaan kepanitiaan, pengurusan izin dan sebagainya.
27
Universitas Kristen Petra
Ruang rapat.
Tempat melangsungkan pertemuan bagi para pengurus dan rapat membahas persoalan pengambilan keputusan.
b. Persyaratan ruang.
Kantor harus mudah dicapai dari pintu utama dan tidak membingungkan. Letaknya berdekatan dengan parkir dan percetakan.
c. Kapasitas ruang.
Ruang tamu ditentukan dapat menampung hingga 15 orang.
Ruang rapat dapat menampung keseluruhan pengurus yang berjumlah 15 orang.
Ruang administrasi menampung pengurus harian berjumlah dua orang.
3.3.2.3. Ruang Percetakan. a. Kebutuhan ruang.
Ruang penerbitan buku.
Pencetakan, penerbitan dan pengelolaan buku keagamaan yang akan didistribusikan ke sekolah–sekolah di daerah.
Ruang percetakan.
Mencetak pamflet dan brosur mengenai kegiatan keagamaan dan seminar yang akan diadakan.
b. Persyaratan ruang.
Berada dekat kantor pengelola dan mudah dicapai dari pintu dan gudang. c. Kapasitas ruang.
Membutuhkan dua orang petugas dan beberapa alat percetakan yang lengkap.
3.3.2.4. Kios Buku dan Cinderamata. a. Kebutuhan ruang.
Universitas Kristen Petra
Memamerkan buku–buku yang baru saja dicetak dan diterbitkan oleh percetakan juga menjual cinderamata pada hari –hari besar keagamaan.
Ruang jaga.
Mengontrol penjualan dan pendistribusian buku dan brosur, baik yang gratis maupun yang dijual, hasilnya akan digunakan untuk perbaikan kompleks. b. Persyaratan ruang.
Dekat dengan ruang percetakan. c. Kapasitas ruang.
Dijaga oleh seorang petugas.
3.3.2.5. Ruang Serbaguna. a. Kebutuhan ruang.
Ruang pamer patung
Merupakan tempat untuk menyimpan dan memamerkan aset milik kompleks, berupa patung Boddhisattva dan Buddha rupang, yang nantinya pada perayaan tertentu ataupun pada saat pemeran kebudayaan akan difungsikan. Untuk hari biasa ruangan ini terbuka untuk umat.
Ruang pertemuan.
Tempat mengadakan latihan drama dan menyanyi, menari, yang bersifat keagamaan, untuk seminar dan latihan dasar kepemimpinan.
Panggung.
Tempat pertunjukan pergelaran atau kadang difungsikan sebagai tempat moderator dan pembicara dalam kegiatan seminar. Panggung dapat diubah sesuai kondisi, dibuat semi permanen sehingga dapat menjadi panggung terbuka bila dibutuhkan.
Ruang ganti dan WC pemain.
Tempat ganti pakaian dan ruang rias bagi para pemain sebelum naik ke panggung.
29
Universitas Kristen Petra
Tempat buang air khusus untuk pengunjung dan peserta seminar. Gudang.
Tempat penyimpananan perlengkapan panggung termasuk didalamnya kursi lipat.
b. Persyaratan ruang.
Dekat dengan kantor pengelola. c. Kapasitas ruang.
Sama dengan kapasitas ruang puja bakti, dua ratus orang.
3.3.2.6. Wisma Tamu. a. Kebutuhan ruang.
Ruang tidur tamu.
Sebagai ruang istirahat dan ruang meditasi pribadi tamu yang datang dari luar kota dan tamu yang bermalam dalam kompleks.
Ruang makan. dan dapur
Tempat memasak dan makan umat yang bermalam di wisma. KM/WC.
Tempat buang air para tamu yang menginap. b. Persyaratan ruang.
Untuk dapur /ruang makan harus bersih dan dilalui jalur servis. c. Kapasitas ruang.
Ditetapkan wisma dapat menampung hingga lima puluh orang
3.3.2.7. Ruang Servis. a. Kebutuhan ruang.
Ruang tamu.
Sebagai tempat menerima tamu. Ruang tidur.
Universitas Kristen Petra
Ruang makan dan dapur.
Tempat memasak , menyiapakan makanan dan cuci piring. KM/WC dan ruang cuci.
Sebagai tempat mandi dan mencuci pakaian serta perlengkapan lain milik kompleks.
Ruang setrika dan jemuran.
Tempat menyetrika pakaian dan menjemur perlengkapan seperti sprei, kain tirai, taplak dan sebagainya.
Gudang umum
Sebagai tempat penyimpanan peralatan seperti tangga, tenda, kursi, pearlatan berkebun dan sebagainya.
b. Persyaratan ruang.
Berada dekat dengan pintu samping dan jalan servis. c. Kapasitas ruang.
Ditentukan lima orang untuk penghuni tetap.
Satu orang kepala karyawan, yang memegang semua kunci kompleks serta bertanggungjawab terhadap keamanan kompleks.
Satu orang Dhayaka merangkap supir, yaitu orang yang bertugas melayani segala keperluan sehari–hari para Bhikkhu dan Samanera, juga bertugas mengantarkan Bhikkhu dan Samanera ke acara – acara di luar kompleks. Satu orang yang bertanggung jawab atas penyediaan makanan dan merangkap juru masak.
Dua orang menjadi petugas yang bertanggung jawab atas kebersihan dan kenyamanan kompleks.
Untuk penghuni yang tidak tetap, yaitu yang bermalam pada waktu tertentu disediakan dua kamar yang dapat menampung hingga empat orang.
31
Universitas Kristen Petra
3.3.2.8. Ruang Mekanikal Elektrikal dan Ruang Tandon . a. Kebutuhan ruang.
Ruang genset dan ruang mekanikal elektrikal.
Sebagai ruang pembangkit listrik yaitu; ruang generator, ruang panel dan ruang trafo.
Ruang tandon.
Sebagai ruang persediaan air kebutuhan sehari–hari dan terdapat tandon kebakaran sebagai antisipasi. Masing–masing tandon dilengkapi dengan pompa.
b. Persyaratan ruang.
Ruang mekanikal elektrikal terletak di dekat jalan raya, jauh dari ruang keagamaan karena bising.
Ruang tandon air diletakkan dekat dengan pipa air saluran PDAM dan berada jauh dari ruang mekanikal elektrikal
3.3.2.9. Parkir.
a. Kebutuhan ruang.. Garasi terbuka.
Tempat menyimpan mobil dan motor milik kompleks. Areal parkir yang cukup luas.
Tempat parkir kendaraan milik umat, baik yang akan bermalam ataupun yang hanya sekedar melaksanakan kebaktian saja.
b. Persyaratan ruang.
Dekat jalan raya dan pintu utama, dan diusahakan jauh dari ruang meditasi. c. Kapasitas ruang.
Untuk garasi terbuka dapat menampung satu mobil, dua sepeda motor dan dua sepeda.
Universitas Kristen Petra
Untuk kapasitas parkir pengunjung ditentukan dari asumsi perincian umat yang datang ke komplek
Asumsi perincian umat yang mememakai mobil
Umat yang memakai mobil sebanyak 15% x 200 = 30 orang. dianggap bahwa :
1 mobil dengan 1 penumpang sebanyak 50% = 15 mobil. 1 mobil dengan 2 penumpang sebanyak 50% = 8 mobil. Kapasitas parkir untuk mobil umat adalah = 23 mobil. Asumsi perincian umat yang memakai motor.
Umat yang memakai motor sebanyak 80% x 200 = 160 orang. 1 motor dengan 1 penumpang sebanyak 50% = 80 motor. 1 motor dengan 2 penumpang sebanyak 50% = 40 motor. Kapasitas parkir untuk motor umat adalah = 120motor.
33
Univ
ersitas Kristen Petr
a 3.4. Program Ruang. 3.4.1. Fasilitas Utam a.
34
ersitas Kristen Petr
35
Univ
ersitas Kristen Petr
36
Univ
ersitas Kristen Petr
37
Univ
ersitas Kristen Petr
a
38
Univ
ersitas Kristen Petr
39
Univ
ersitas Kristen Petr
40
ersitas Kristen Petr
41
Univ
ersitas Kristen Petr
a
42
Univ
ersitas Kristen Petr
43
Univ
ersitas Kristen Petr
a
44
Univ
ersitas Kristen Petr
45
Univ
ersitas Kristen Petr
a
46
Univ
ersitas Kristen Petr
47
Universitas Kristen Petra
Tabel 3.15. Luas Bangunan Seluruhnya
FASILITAS UTAMA LUAS ( M 2 )
Ruang puja bakti. Ruang meditasi.
Ruang pendidikan Dhamma Ruang pelatihan Dhammaduta. Perpustakaan.
FASILITAS PENUNJANG
Tempat tinggal Bhikkhu. Kantor pengelola.
Ruang percetakan buku. Kios buku dan cinderamata. Ruang serbaguna.
Wisma tamu. Ruang servis.
Ruang mekanikal dan elektrikal.
399,10 166,90 334,90 265,30 627,20 76,30 72,30 48,91 44,57 568,30 809,70 168,68 362,70 Jumlah 3.944.86 Selasar 30 % 1.183,45 Total luas 5.128,31
Universitas Kristen Petra
3.5. Perubahan Besaran Ruang dan Fasilitas
Pada saat proses perancangan secara umum terjadi perubahan besaran ruang, baik dalam bentuk penambahan maupun pengurangan luas ruang ataupun fasilitas. Karena dalam proses perancangan terjadi penyesuaian dengan keadaan tapak, RDTRK, perletakan massa, pengaturan ruang, orientasi massa dan tapak, bentukan massa dan sebagainya. Adapun penambahan atau pengurangan ruang dan fasilitas yang terjadi :
1. Ruang puja bakti menjadi lebih kecil, karena desain bertujuan untuk mengembangkan kompleks pendidikan Buddhis bukan kompleks Vihara. Teras keliling ditiadakan karena dirasa akan mengganggu konsentrasi dalam ruang.
2. Ruang meditasi tidak memakai ruang perantara, karena luas ruang digunakan untuk menambah kapasitas ruang meditasi agar dapat mengantisipasi pertambahan umat di hari libur.
3. Untuk ruang pelatihan, kelas dan perpustakaan letaknya menjadi satu bangunan begitu juga dengan toiletnya digabung menjadi toilet bersama di lantai satu. Penggabungan ini disebabkan akibat hubungan antar ruang ketiganya yang harus saling berdekatan
4. Terjadi penambahan fasilitas baru yaitu adanya ruang baca terbuka yang dapat diakses langsung dari perpustakaan, untuk memberikan nuansa dan kesan lain pada saat membaca. Arah pandangan ke danau dimanfaatkan untuk menciptakan suasana kesegaran visual agar tidak terlalu jenuh Bertujuan menambah minat baca para siswa pada umumnya.
5. Fasilitas tambahan baru berupa kelas terbuka pada bagian bawah plasa utama, didesain khusus untuk menciptakan suasana baru, yang diharapkan dapat membantu siswa berkonsentrasi dan mencerna pelajaran.. Kegiatan pada kelas ini dibuat berbeda dengan kelas dalam ruang, karena kelas dikelilingi dinding air yang menimbulkan suara gemericik yang khas.
6. Untuk pelatihan ada tambahan fasilitas meditasi di alam terbuka, didesain bagi mereka yang ingin bermeditasi dengan nuansa beda dan merasakan langsung berada dekat dengan alam.
49
Universitas Kristen Petra
7. Kantor pengelola mengalami penambahanf asilitas berupa ruang penerima dan kolam ikan. Kolam sebelum menuju kantor adalah merupakan elemen yang diciptakan untuk menambah kesegaran visual mata juga gemerisciknya untuk penghilang stress saat lelah bekerja.
8. Pemisahan ruang pamer patung dan koleksi dari ruang serbaguna akibat pengelompokkan zoning, begitu juga dengan gudangnya yang dijadikan satu dengan gudang servis.
9. Fasilitas hunian berupa wisma tamu dipisah menjadi sepuluh bagian, dimana masing–masing wisma dapat menampung hingga lima orang. Hal ini untuk mengantisipasi jumlah umat yang bertambah. Pemisahan ini dilakukan agar peserta dapat lebih akrab dan lebih saling mengenal satu sama lain. Dimana ruang makan , dapur dan KM/WC diletakkan pada satu bangunan agar lebih praktis dan zoning lebih terkelompok.
10. Untuk rumah penjaga komplek terjadi pengurangan fasilitas seperti ruang cuci dan jemur, karena fungsi keduanya dapat dilakukan diluar bangunan dan sifatnya non permanen.
Untuk lebih jelasnya perubahan luas ruang dan penambahan fasilitas yang terjadi saat proses perancangan dapat dilihat pada Tabel 3.16.
Universitas Kristen Petra
Tabel 3.16. Perubahan Luas Ruang dan Fasilitas
FASILITAS UTAMA LUAS ( M 2 )
Ruang puja bakti. Ruang meditasi.
Ruang kelas pendidikan dan pelatihan Perpustakaan dan ruang baca terbuka Area kelas terbuka
FASILITAS PENUNJANG
Tempat tinggal Bhikkhu. Kantor pengelola.
Ruang percetakan buku.
Kios buku dan cinderamata dan ruang pamer Ruang serbaguna.
Wisma tamu, ruang makan, dapur dan KM/WC. Ruang servis.
Ruang mekanikal dan elektrikal.
250,0 168,0 537,2 751,0 314,0 80,5 251,4 55,1 136,2 448,9 860,3 100,2 125,7 Jumlah 3.978,5 Selasar 30 % 1.193,5 Total luas 5.172,0
51
Universitas Kristen Petra
3.6. Konsep Desain
3.6.1 Konsep Umum
Beberapa pegangan sebagai rujukan konsep dalam mendesain berada dalam batasan kriteria berikut :
Orientasi massa bangunan komplek yang jelas dan mudah dimengerti serta membentuk kesatuan massa (unity).
Bentukan dan tampilan bangunan yang mencitrakan makna simbolis.
Pemanfaatan secara maksimal material struktur yang berasal dari alam untuk mencitrakan kesan Buddhisme yang dekat dengan alam.
Air danau sebagai salah satu material dominan di daerah sekitar tapak dimaksimalkan pemanfaatannya baik untuk suasana visual ataupun untuk menciptakan suasana dari suara gemericiknya.
Penataan ruang luar bukan sebagai pemanis dan tambahan tetapi bersama dengan elemen alam menjadi satu kesatuan yang dapat mencitrakan konsep ajaran Buddhisme secara tidak langsung.
3.6.2. Konsep Khusus
3.6.2.1. Pendekatan Konsep a. Filosofis Buddhisme.
Konsep khusus yang akan diambil di sini adalah berkaitan dengan filosofis dari ajaran Buddha Theravada yaitu tentang kesadaran dalam kehidupan, yang merupakan titik awal seseorang untuk menjadi bijaksana dalam memandang segala permasalahan hidup, menjadi sadar di saat tidak sadar. Bagaimana cara memandang suatu kejadian dalam dunia berpengaruh terhadap bagaimana cara bersikap.
Universitas Kristen Petra
Ajaran Buddhisme Theravada selalu menekankan pada bagaimana cara memandang suatu hal berdasar sikap pandang realistis. Salah satu cara untuk mendeskripsikan pandangan realistis adalah dengan simbolisasi botol yang berisi air setengah.
Seorang yang optimis, akan mengatakan botol itu berisi air setengah penuh, namun orang pesimis, akan mengatakan sebaliknya, botol itu berisi setengah kosong udara, sedangkan orang realistis akan melihat botol itu sebagai botol yang berisi setengah penuh air dan setengah kosong udara.
Orang yang berpandangan realistis akan berdiri di luar kubu optimis dan pesimis sehingga akan melihat keduanya dan tidak tenggelam di salah satu kubu. Persepsi awam kebanyakan menafsirkan ajaran (Dhamma) adalah ajaran yang melihat dunia dari sudut dukkha. Sebenarnya, tidak salah dan tidak juga benar, Dhamma (ajaran) sesungguhnya bertitik pangkal pada ajaran pandangan realistis yang memandang dunia penuh dengan dukkha tapi juga diliputi sukkha.
Seseorang yang mengerti Dhamma (ajaran) dan berpandangan realis akan dengan cepat menyadari perubahan lewat kesadarannya dan selanjutnya mengambil sikap untuk mengatasinya, mereka sadar saat mengalami dukkha, pasti ada saatnya mereka akan menuai sukkha.
Seseorang yang optimis berpikir secara “isi”, melihat dunia dari sukkha, sedang optimis sebaliknya berbeda dengan seorang realistis, pandangan realistis mampu melihat, meyadari dan mengerti kosong dan isi dengan baik dan mengkomposisikannya dengan benar.
b. Simbolisasi Buddhisme
Representasi suatu simbol bentukan yang dapat memunculkan suatu gambaran visual yang dapat dimengerti secara tidak langsung. Dalam hal ini simbolis bentukan yang diambil adalah stupa. Kesan stupa di sini kuat sekali menandakan simbolisasi Buddhisme karena stupa yang diambil adalah stupa yang mengacu pada bentukan salah satu stupa di Borobudur. Kesan stupa sudah dikenal orang sebagai
53
Universitas Kristen Petra
simbol Buddhisme yang representasional. Penghadiran bentuk stupa tidak langsung diaplikasikan, melainkan diterjemahkan melalui elemen alam dengan teknik mengkomposisikan bentukan agar kesan sakral tidak terlalu dominan, sebab bila bentukan stupa diambil utuh akan mengesankan komplek vihara, sedangkan yang ingin ditampilkan adalah kesan pusat pembelajaran yang terbuka namun tanpa meninggalkan kesan sakralnya.
Stupa sendiri memiliki beberapa makna di antaranya :
Merupakan karakteristik arsitektural yang menandakan milik organisasi keagamaan (Buddhisme)
Biasa terbuat dari bahan alam yang bertujuan untuk menghargai alam dan diposisikan di permukaan yang tinggi.
Bagian puncak mengarah ke atas, secara monumental menandakan pencapaian ke Nibbana (Nirvana).
Secara visual, stupa sangat terkenal sebagai simbolisasi kesan Buddhisme.
Secara struktural, stupa menarik perhatian karena mencerminkan kestabilan, kemegahan dan kesederhanaan.
(Encarta Ensyclopedia Deluxe 2004)
3.7. Pola Penataan Massa
Pola penataan massa yang dipilih adalah sistem tersebar. Untuk menentukan tipe sistem tersebar yang terbaik maka dilakukan perbandingan antara tiga macam tipe :
1. Tipe Open campus merupakan sistem tersebar yang memiliki sebuah ruang luar yang luas, dimana bangunan ditata mengelilingi ruang luar tersebut. Ruang luar tersebut digunakan sebagai wadah aktivitas bersama komplek 2. Tipe Axis adalah sistem tersebar yang memiliki penataan massa linier, dimana
bangunan ditata berdasarkan satu garis lurus dan ruang luar yang dimiliki merupakan ruang antara yang terjadi antar bangunan
Universitas Kristen Petra
3. Tipe Courtyard adalah sistem tersebar dengan pola penataan massa yang juga mengelilingi ruang luar, bedanya pada tipe ini terdapat sebuah ruang luar besar yang menjadi pusat keseluruhan bangunan dan terdapat ruang luar kecil yang menjadi pusat bangunan kelompok kecil yang ditata berdasarkan kesamaan kualitas ruang dan aktivitas.
Untuk membandingkan tiga macam tipe tersebar diatas maka diambil beberapa faktor pembanding diantaranya :
Kejelasan orientasi penataan massa, dimana orientasi bangunan akan berpengaruh pada penentuan pola sirkulasi dan perancangan ruang luar.
Jarak antar bangunan, merupakan faktor penting dalam mencipta suasana karena dalam mencapai salah satu ruang pengunjung secara tidak langsung akan melewati suatu jalan yang akan memunculkan suatu alur pergantian suasana melalui permainan elemen-elemen taman.
Pemisahan aktivitas antar bangunan, sangat berpengaruh karena komplek terdiri dari kelompok aktivitas yang membutuhkan kualitas ruang dan suasana berbeda. Maka perlu meninjau perletakan massa dari segi kebutuhan suasana ruang dan pemisahan aktivitas.
Kesan yang ingin dicapai dan luas lahan yang dibutuhkan juga berkaitan dengan penentuan perletakan massa, karena kesan mempengaruhi tampilan dan luas lahan mempengaruhi keleluasaan penataan massa.
Perbandingan perletakan massa untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.17. Tipe yang paling besar skornya merupakan tipe yang digunakan dalam menata bangunan dalam desain.
.
55
Univ
ersitas Kristen Petr
Universitas Kristen Petra
3.8. Bentuk Bangunan
Sebagai tempat pelatihan teori dan praktek ajaran Buddhisme mazhab Theravada, maka bangunan perlu didesain sedapat mungkin menampilkan citra Buddhisme ke pengunjung secara langsung maupun tidak langsung . Bentuk bangunan merupakan penggabungan dari kesan alami yang ingin dicapai, filosofi dan simbolisasi bentuk arsitektur. Bertujuan untuk menghasilkan suatu bentukan unik secara struktural, bercerita secara visual, dapat dirasakan melalui suasana ruang luarnya dan menampilkan kesan terbuka untuk umum.
3.8.1. Konsep Simbolis Bentukan
Tetap memegang prinsip pengolahan bentukan yakni ingin mengedepankan kesan Buddhisme yang diterjemahkan melalui elemen-elemen alam, filosofis, serta simbolisasi Buddhisme yang dalam hal ini direpresentasikan oleh stupa. Dua hal penting yang melandasi kenapa stupa dijadikan titik tolak awal bentukan yaitu :
1. Bentuk stupa merupakan karakteristik arsitektur yang paling mudah dikenali sebagai simbolisasi Buddhisme
2. Stupa sendiri merupakan perwujudan kosong isi
Gambar 3.1. Perwujudan Kosong-Isi pada Stupa isi kosong Exterior (isi) Interior (kosong) isi Kosong (wajik)
KOSONG ISI VISUAL
Masif (isi)
Lubang (kosong)
57
Universitas Kristen Petra
3.8.2. Aplikasi Konsep Bentukan
Simbol secara arsitektural dapat mempengaruhi kesan yang ingin dicapai. Penghadiran bentukan stupa secara utuh dalam bangunan seolah telah menjadi penanda milik komplek vihara yang dianggap tertutup dan terbatas. Dalam hal ini komplek ingin didesain terbuka bagi siapa saja, dan lewat wujud arsitekturalnya mampu mengundang serta tidak terikat kesan sakral. Karena itu citra komplek ingin dicapai melalui bentuk dan tampilan bangunan yang memiliki kesan mengundang. Oleh sebab itu penghadiran bentukan stupa ditampilkan secara tidak langsung melalui pemisahan elemennya, dimana masing-masing elemen hasil pemisahan tetap memiliki makna simbolis yang berpegang pada makna lambang stupa yaitu pencapaian ke Nibbana. Hasil aplikasi bentukan ini dapat terlihat pada:
1. Menara air mancur yang mengarah keatas dan dinding air keliling yang di dalamnya dirancang sebuah tangga spiral untuk turun ke fasilitas kelas khusus. 2. Bentukan keseluruhan bangunan komplek yang berbentuk setengah busur
3.8.3. Penghadiran Makna Simbolis.
Tiap wujud bentuk memiliki makna:
1. Plasa utama merupakan wujud baru dari bagian tiang stupa yang memiliki menara air dan dinding air, dimana menara dan dinding terdiri dari air mancur yang orientasinya mengarah ke atas, menandakan pencapaian.
2. Bentuk bangunan komplek seluruhnya yang berbentuk setengah busur merupakan bayangan dari badan stupa yang terpecah menjadi delapan keping. Delapan adalah simbolisasi delapan jalan utama (delapan jalan menuju pencapaian), semua keping bangunan berorientasi pada plasa utama yang merupakan perwujudan tiang stupa..
Universitas Kristen Petra
Gambar 3.2. Aplikasi Simbolisasi Stupa pada Bangunan.
3.9. Pola Penataan Ruang dan Sirkulasi
3.9.1. Pola Penataan Ruang
Penataan ruang mengikuti perencanaan perletakan massa dengan sistem tersebar dimana jarak antar bangunan sangat menentukan, sehingga diperlukan suatu ruang luar pengikat. Untuk itu ruang-ruang dikelompokan berdasar aktivitas dan kemudian ditata mengikuti pola radial mengelilingi sebuah plasa utama. Bagian depan komplek didesain menjadi area umum yang tidak membutuhkan suasana khusus dan bebas diakses umum. Bagian tengah merupakan area pengajaran dan pembinaan yang didesain khusus sehingga mampu tercipta suasana tenang untuk belajar mengajar, sedangkan bagian belakang merupakan area pelatihan yang dirancang agar dapat menciptakan suasana tenang dan khusuk
Ruang yang berada pada area umum diantaranya adalah ruang serbaguna, kios, percetakan, ruang pamer, kantor pengelola. Sedangkan untuk ruang kelas, perpustakaan termasuk dalam area pembinaan dan pengajaran .Ruang puja bakti dan ruang meditasi terletak di area pelatihan. Secara garis besar rencana penataan ruang mengikuti struktur organisasi ruang dan hubungan antar ruang pada gambar 3.3 dan 3.4.
59
Universitas Kristen Petra
Gambar 3.3. Struktur Organisasi Ruang PARKIR HALL PENERIMA PERCETAK AN KIOS RUANG M.E RUANG SERVIS RUANG SERBAGUNA RUANG ADM RUANG RAPAT RUANG TAMU RUANG DHAMMA DUTA RUANG MEDITASI RUANG MAKAN WISMA TEMPAT TINGGAL BHIKKHU RUANG LUAR R. PAMER PERPUS
TAKAAN DHAMMA RUANG
CLASS
RUANG PUJA BAKTI
Universitas Kristen Petra
Gambar 3.4. Hubungan Antar Ruang PARKIR HALL PENERIMA PERCETAK AN KIOS RUANG SERVIS RUANG SERBAGUNA RUANG ADM RUANG RAPAT RUANG TAMU RUANG MEDITASI RUANG MAKAN TEMPAT TINGGAL BHIKKHU WISMA PLASA UTAMA R. PAMER PERPUS TAKAAN RUANG PUJA BAKTI RUANG M.E PLASA RUANG DHAMMA CLASS RUANG DHAMMA DUTA
61
Universitas Kristen Petra
3.9.2. Pola Sirkulasi
Sirkulasi Kendaraan
Sirkulasi keluar masuk kendaraan ke dalam tapak dibuat lebih berkesan, tidak sekedar parkir. Ada permainan suasana melalui elemen penangkap, sehingga ketika pertama kali orang masuk akan merasakan kesan yang berbeda. Oleh karena itu pada bagian parkir dibuat plasa penerima dengan sebuah ruang luar yang terdiri dari deretan kolom yang mengelilingi sebuah kolam. Kolam merupakan pusat sirkulasi kendaraan yang keluar masuk tapak
Sirkulasi Pejalan Kaki
Ada permainan suasana yang akan dilewati, melalui perbedaan level ketinggian, skalatis bangunan, permainan material alam; air, kayu, pasir, batu, rumput, dan sebagainya. Bertujuan agar kesan yang timbul waktu melewati suatu tempat satu ke yang lain akan berbeda-beda. Dimana alur pengunjung yang memasuki komplek diatur selalu menuju ke plasa utama, karena plasa utama merupakan pusat sirkulasi yang membagi sirkulasi ke area berikutnya. Pemusatan ini bertujuan untuk menjaga privasi area.
Gambar 3.5. Sirkulasi Pengunjung yang Ingin Mengikuti Seminar
PARKIR HALL
PENERIMA
PERPUSTAKAAN SERBAGUNA
Universitas Kristen Petra
Gambar 3.6. Sirkulasi Umat yang Ingin Belajar Dhamma dan Puja Bakti.
Gambar 3.7. Sirkulasi Pengunjung yang Ingin Menginap dan Belajar Meditasi
PLASA UTAMA HALL PENERIMA PARKIR RUANG PUJA BAKTI PARKIR HALL
PENERIMA UTAMA PLASA PERPUSTAKAAN
RUANG KELAS DHAMMA RUANG KELAS PELATIHAN DHAMMA DUTA WISMA RUANG MEDITASI RUANG MAKAN /DAPUR
63
Universitas Kristen Petra
Gambar 3.8. Sirkulasi Pengelola dan Pegawai
Gambar 3.9. Sirkulasi Penjaga.
Konsep Filosofis Penataan Sirkulasi
Sirkulasi manusia dalam hal ini merupakan penggabungan dua jenis sirkulasi yaitu memusat dan menyebar. Ada dua plasa sebagai penghubung sirkulasi, yaitu plasa penerima dan plasa utama. Plasa penerima adalah simbolisasi persepsi sebagian besar awam yang menafsirkan ajaran Dhamma sebagai ajaran pesimis yang selalu mengajarkan dukkha, ditandai suasana yang kosong dan plasa dikelilingi oleh rangka busur. Sedangkan plasa utama adalah simbolisasi persepsi ajaran yang sesungguhnya tentang ajaran yang mengacu pada titik pandang realis yang dapat melihat kosong-isi secara bijak,ditandai dengan adanya rangka busur dan adanya bangunan yang mengelilingi plasa. Untuk mencapai plasa utama
KANTOR HALL
PENERIMA
PARKIR PLASA UTAMA
KIOS/ PERCETAKAN RUANG SERBAGUNA/ RUANG PAMER MEKANIKAL ELEKTRIKAL PARKIR SERVIS
Universitas Kristen Petra
pengunjung dibuat naik turun tanjakan dan tangga, tujuannya adalah agar terjadi permainan suasana kosong isi secara visual dan perasaan..
3.10. Perancangan Utilitas Bangunan a. Penghawaan
Dominan memanfaatkan sirkulasi udara alami, berkaitan dengan kesan yang ingin dicapai yaitu dekat dengan alam. Untuk Ruang Puja Bhakti, mengandalkan sirkulasi udara dari belakang altar yang memiliki jendela ukuran 1x2 m, sedangkan pada perpustakaan untuk menjaga keawetan buku ruangan dikhususkan memakai AC dengan sistem split.
b. Sistem distribusi air bersih
Pemanfaatan tandon utama ukuran 2x2 m di ruang mekanikal untuk mengumpulkan kebutuhan air seluruh komplek. Kemudian didistribusikan ke tandon transit ukuran 1x1 m dekat ruang yang membutuhkan untuk kemudian disebar dan digunakan. Distribusi air melalui pipa air bersih diameter 5 cm yang ditanam dalam tanah samping lantai bangunan. Total ada empat buah tandon transit dan sebuah tandon bawah utama
c. Sistem pembuangan air hujan
Penggunaan talang horizontal yang diteruskan ke talang vertikal, kemudian ke pipa saluran horizontal yang ditanam dalam tanah lalu ke bak kontrol ukuran 0,5x0,5m untuk kemudian dibuang ke danau. Bak kontol mengelilingi sisi luar bangunan dengan jarak antar bak kontrol diusahakan tidak lebih dari 6m. Cucuran air hujan dari atap semua mengalir ke satu arah, karena atap lengkung satu arah. Maka bak kontol dan talang diletakan pada sisi jatuhnya air.
d. Sistem pembuangan air kotor
Dibuatkan sumur peresap yang disalurkan ke pipa horizontal diameter 5 cm milik komplek untuk dibuang ke saluran kota. Sedangkan pada area dapur komplek selain menerima pembuangan dari tempat cuci juga menerima resapan dari toilet disebelahnya.
65
Universitas Kristen Petra
Di tiap KM/WC dibuatkan septic tank dan sumur resap terpisah, dimana tiap septic tank dan sumur resap melayani pembuangan dari KM /WC terdekat. Pipa pembuangan kotoran yang dipakai diameter 15 cm agar tidak terjadi penyumbatan
f. Sistem pemadam kebakaran
Dipilih portable exstiquisher untuk pencegah kebakaran dalam ruang karena praktis penggunaannya, sedangkan untuk pencegahan di luar bangunan disediakan hidran halaman dengan jarak kurang dari 90 m satu sama lain, dimana tiap hidran berhubungan dengan pipa dan pompa yang menyedot air dari danau. Karena bangunan merupakan massa banyak yang dominan satu lantai maka dirancang tidak menggunakan tangga kebakaran.
3.11. Pola Struktur dan Pemilihan Material. 3.11.1. Material Bangunan
Digunakan material alam dominan yang memiliki karakteristik khusus yang unik, dapat dieksplorasi, dapat dikembangkan lebih dalam lagi, dan memiliki kesan natural seperti yang ingin dicitrakan. Dengan pertimbangan keunikan struktur dan kesan yang ingin ditampilkan maka dalam hal ini akan digunakan material kayu sebagai material dominan pada seluruh bagian kompleks. 3.11.2. Struktur Utama
Secara keseluruhan sistem struktur merupakan penerjemahan dari bentukan.bentuk bangunan sesuai dengan konsep bentukan yaitu memakai sistem busur kayu. Karena pertimbangan perolehan bahan dan kemudahan pengerjaan akhirnya dipilih sistem busur kayu dengan truss. Untuk lebih jelas akan diterangkan pengaplikasiannya pada bagian pendalaman yang difokuskan pada sistem struktur, detail sambungan dan perkiraan dimensi elemen bangunan utama terbesar yaitu ruang perpustakaan dan ruang kelas.
Universitas Kristen Petra
3.11.3. Pendalaman Struktur a. Sistem struktur
Sistem busur dengan truss di mana antar busur dihubungkan dengan gording pengikat, sedangkan lantai berfungsi sebagai lantai diafragma yang bekerja bersama melawan gaya tekan atap, di bantu oleh kekakuan dinding yang mengelilingi lantai sehingga mampu menopang atap busur dengan kokoh. b. Penahan gaya vertikal
Rib baja pengaku yang mengikat lantai dengan rangka dinding diharapkan mampu menopang lantai. Dan kolom sebagai penyalur beban atap atau pondasi.
c. Penahan gaya lateral
Ditahan oleh bentuk lengkung denah sendiri, di mana bentukan konfigurasi letak kolom yang tidak frontal memberi keuntungan dalam menahan gaya lateral pada sumbu ini. Selain itu, truss atap juga bekerja menahan gaya lateral bersama-sama dengan kolom utama. Sedangkan balok lantai membentuk satu kesatuan lantai diafragma yang bertugas untuk menahan gaya lateral.
d. Perhitungan perkiraan dimensi truss atap busur.
Beban mati atap tegola + Beban mati atap kayu = 300 kg/m2 q = 300 kg/m2
q = 300 kg/m2 x 4 m = 1.200 kg/m
Gambar 3.10. Skema Rangka Atap Busur Kayu
67
Universitas Kristen Petra
Gambar 3.11. Skema Potongan Bangunan Utama
Gambar 3.12. Skema Pembebanan Atap M di titik X terjadi pada saat D = 0
Σ
MB = 0 RA.15 – 1.200 x 7,5 x 11,25 = 0 15RA = 101.250 RA = 6.750 kg D = 0 RA – qx = 0 6.750 – 1.200x = 0 x = 6.750/1.200 x = 5,625 m Mmax = RA. x – ½ qx = 6.750 x 5,625 – ½ x 1.200 x 7,5 x 6.875 = 37.968,75 – 8.9375 = 29.531,25 kg mUniversitas Kristen Petra H = Mmax / h2 = 29.531,25/3 = 9.843,75 kg cos α = 25o R = H/cos α = 9.483,75/cos 25o = 9.483,75/0,9063 = 10.464,25 kg V = sin α . R = sin 25o x 10.464,25 = 4.422,383 kg
Gambar 3.13. Skema Gaya yang Bekerja pada Atap Busur H/R = cos α H = cos 5 o x R = 0,996 x 10.464,25 = 10.422,3939 kg P1 = ½ H +Ttarik P2 = ½ H + Ttarik Mbatang = 1/64 q l2 = 1/64 x 1.200 x 152 = 4.218,75 kg m Ttekan = Ttarik = M / h1 = 4.218,75/0,9375 = 4.500 kg
69
Universitas Kristen Petra
P1 = ½ H +Ttekan
= ½ (10.422,393) + 4.500 = 9.711,1965 kg
P2 = ½ H -Ttarik = 5.922,933 kg
Dimensi batang tekan/tarik dengan
σ
lentur kayu = 100 kg/cm2 Ftekan = P tekan/σ
= 9.711,1965/100 = 97,11 cm2 ~100 cm2 Dimensi b x h = (10 x 10) cm Ftarik = P tarik/σ
= 5.922,933/100 = 59,22 cm2 ~60 cm2 Dimensi bxh = (6 x 10) cmYang diambil untuk dimensi busur adalah dimensi terbesar batang tekan 10/10 cm.
Untuk faktor keamanan semua truss ditambah h- nya,sehingga kuda-kuda busur kayu menjadi 15/10 cm.
b. Perhitungan perkiraan dimensi gording pengikat Dibuat tiap jarak 1 meteran
Gambar 3.14. Skema Rencana Gording Atap
10 10 10 6 15 10
Universitas Kristen Petra q = 300 kg m2 x 1m = 300 kg/m Mmax = 1/8 q l 2 = 1/8 x 300 x 42 = 600 kg/m
σ
tekan = 100 kg/cm2 = Mmax/W W = Mmax (kg cm)/σ
(kg/cm2) = 60.000/100 = 600 cm3 misal b = 12 cm W = 1/6 bh2 2h2 = 600 h2 = 600/2 h2 = 300 h = 17,32 ~20cm Dimensi gording (12x20) cm c. Perhitungan perkiraan dimensi balok lantai a (melintang )(Beban mati lantai kayu x koef reduksi) + (Beban hidup x koef reduksi) = (40 x 0,9) + (250 x 0,9) = 36 + 225 = 261 kg/m2
Gambar 3.15. Skema Balok Lantai Melintang Balok a (balok melintang)
261 kg x 3,75 m = 978,75 kg/m Mmax = 1/8 q l2
12 20
71
Universitas Kristen Petra
= 1/8 x 978,75 x 4,52 = 2.477,46 kg/m = 247.746 kg cm W = Mmax /
σ
= 247.746/100 = 2477,46 cm3 misal h = 30 cm W = 1/6bh2 477,46 = 150b b = 2.477,46/150 = 16,5cm ~ 20cmDimensi balok lantai melintang (20x30) cm
d. Perhitungan perkiraan dimensi balok lantai b ( memanjang )
Gambar 3.16. Skema Balok Lantai Memanjang
Balok b (balok memanjang) 261 kg x 4,75 = 1.174,5 kg/m Mmax = 1/8 q l 2 = 1/8 x 1.174,5.3,75 2 = 2.064,55 kg m = 206,455 kg cm W = Mmax /
σ
= 206.455/100 = 2.064,55 cm3 20 30Universitas Kristen Petra misal h = 30 cm W = 1/6 bh2 2.064,55 = 150 b b = 2.064,55/150 = 13,76cm ~14 cm
Dimensi balok lantai memanjang 15x30
e. Perhitungan perkiraan dimensi kolom
Dimensi kolom menggunakan P terbesar yaitu P tekan busur P = 9.711,1965 kg = 9,7 ton
Imin = 50 x Ptk x l 2 = 50 x 9,7 x 82 = 31.040
Imin = 1/12 b3h misal b diambil 30 cm 31.040 = 1/12 x 303h
h = 372.480/27000 h = 13,79 cm ~14 cm Check tekuk kolom
Imin = 0,289b
= 0,289 x 30 = 8,67 cm
λ
= 1100/8,67= 126,8λ
= 127 makaω
(faktor tekuk) = 5,19 pada lampiran 15σ
= P xω
= 9.711,2 x 5,19 = 50.400,1 = 120 kg/m2 >85kg/cm2 F 420 420Untuk itu F harus diubah agar tidak tekuk, di ambil h = 35 cm sehingga F = 35 x 30 dengan memperhatikan faktor sambungan dibuat agak besar supaya tidak tekuk. Jadi,
σ
= P xω
= 9.711,2 x 5,19 = 50.401,1 = 48 kg/cm2< 85 kg/cm2 F 1.050 1.05015 30