• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memperkuat Ketahanan Pangan dan Energi N

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Memperkuat Ketahanan Pangan dan Energi N"

Copied!
456
0
0

Teks penuh

(1)

PROSIDING

SIDANG PLENO XIII DAN

SEMINAR NASIONAL

IKATAN SARJANA EKONOMI INDONESIA

“MEMPERKUAT KETAHANAN PANGAN

DAN ENERGI NASIONAL

DALAM ERA PERSAINGAN GLOBAL”

(2)
(3)

PROSIDING

SIDANG PLENO XIII DAN SEMINAR NASIONAL

IKATAN SARJANA EKONOMI INDONESIA

Mataram, 17-18 Juli 2008

“MEMPERKUAT KETAHANAN PANGAN DAN ENERGI NASIONAL

DALAM ERA PERSAINGAN GLOBAL”

Editor :Suahasil Nazara Arianto Patunru Mangara Tambunan

Tim Penyusun : G. Irwan Suryanto Een Walewangko Maria Agriva Aden Budi Fajar Yulianto

Diterbitkan oleh:

(4)

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia

Memperkuat Ketahanan Pangan dan Energi Nasional dalam Era Persaingan Global: Prosiding Sidang Pleno XIII dan Seminar Nasional

Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia,

Mataram, 17-18 Juli 2008/Suahasil Nazara, dkk

- Jakarta, Pengurus Pusat ISEI 2008

435 hlm. ; 17 x 25 cm

ISBN 978-979-8481-03-1

1. Ketahanan Pangan dan Energi. I. Judul

Cetakan Pertama, Oktober 2008

Penerbit Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP-ISEI) Jl. Daksa IV/9, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12110

Telp. (021)7208130/7222463, Fax (021)7201812 Email : sekretariat@isei.or.id

(5)

DAFTAR ISI

Bagian I. Kata Pengantar dan Sambutan

1.1 Kata Pengantar: Editor ... 1

1.2 Sambutan Ketua Panitia Pelaksana: Rudjito ... 5

1.3 Sambutan Ketua Panitia Pengarah: Suahasil Nazara ... 7

1.4 Sambutan Ketua Umum ISEI: Burhanuddin Abdullah ... 9

1.5 Sambutan Gubernur Nusa Tenggara Barat: H. Lalu Serinata ... 13

Bagian II. Pidato Khusus dan Kesimpulan 2.1 Keynote Speech: Boediono ... 17

2.2 Kesimpulan Hasil Sidang Pleno ISEI XIII dan Seminar Nasional: Panitia Pengarah ... 23

Bagian III. Kondisi dan Dampak Globalisasi dalam Implementasi Kebijakan Ketahanan Pangan dan Energi Nasional 3.1 Kebijakan Ketahanan Pangan Nasional: Soetarto Alimoeso ... 27

3.2 Strategi Pengembangan Energi Nasional: Agus Cahyono Adi ... 31

3.3 Ringkasan Kebijakan Ketahanan Pangan dan Energi Nasional... 35

3.4 Globalisasi dan Ketahanan Pangan/Energi: Pos M. Hutabarat ... 39

3.5 Ketahanan Pangan dan Ketahanan Energi: Antara Trade-Off dan Sinergitas Solusi: Mangara Tambunan ... 47

3.6 Sektor Keuangan dan Pemerintah Daerah dalam Ketahanan Energi dan Pangan: Muliaman D. Hadad ... 75

3.7 Ketahanan Pangan dan Energi dalam Konteks Perkembangan Penduduk Indonesia ke Depan: Suahasil Nazara ... 79

3.8 Ringkasan Dampak Globalisasi dan Implementasi Kebijakan Pangan dan Energi Nasional ... 81

Bagian IV. Dinamika Pangan dan Energi Nasional 4.1 Ketahanan Pangan di Indonesia, Inti Permasalahan dan Alternatif Solusinya: Tulus Tambunan... 85

(6)

4.3 Petani dan Kemiskinan, Keterkaitan yang Tidak Terpisahkan:

Luhur Fajar Martha, Ratna Sri Widyastuti, Dwi Rustiono, dan Agni

Alam Awirya ... 137 4.4 Ringkasan Dinamika Ketahanan Pangan Nasional……….. 163

4.5 Memperkuat Ketahanan Energi dan Pangan Nasional dalam Era

Persaingan Global: Widjajono Partowidagdo... 167 4.6 Konsumsi Energi dan Ekonomi di Indonesia: Bambang Eko Afiatno... 187 4.7 Pemanfaatan Potensi Lokal Energi Baru dan Terbarukan Sebagai

Langkah Strategis untuk Mendukung Ketahanan Energi Nasional:

Heriyadi Rachmat... 217 4.8 Ringkasan Dinamika Ketahanan Energi Nasional ……… 233

Bagian V. Keberlangsungan Ketahanan Pangan dan Kebijakan Harga Pangan Nasional

5.1 Masa Depan Penduduk Indonesia dan Ketahanan Pangan:

Suahasil Nazara... 237 5.2 Dinamika Harga Pangan, BBM, Inflasi Serta Kemiskinan, dan

Implikasinya Bagi Ketahanan Pangan:

Hermanto Siregar dan Siti Masyitho ... 245 5.3 Indonesia dan Perkembangan Pangan Dunia, Sebuah Catatan:

Bayu Krisnamurthi ... 269 5.4 Menjaga Keberlangsungan Ketahahan Pangan:

Kaman Nainggolan... 275 5.5 Ringkasan Keberlangsungan Ketahanan Pangan Nasional……… 301

5.6 Cadangan Pangan Pemerintah: Penguatan dan

Pengembangannya: Agus Saifullah... 305 5.7 Mampukah Kebijakan Harga Mengatasi Dampak Gejolak Harga

Pangan di Indonesia?: Rina Oktaviani ... 323 5.8 Kebijakan Harga Pangan yang Efektif Semakin Diperlukan

untuk Mengatasi Kemiskinan: Harianto ... 343 5.9 Ringkasan Kebijakan Harga Pangan Nasional………. 355

Bagian VI. Keberlangsungan Ketahanan Energi dan Kebijakan Harga Energi Nasional

6.1 Meningkatkan Ketahanan Energi Nasional: Umar Said ... 359 6.2 Energy and Climate Change: Hardiv Harris Situmeang ... 375 6.3 Ketahanan Energi melalui Pengembangan Energi Terbarukan:

(7)

6.4 Ringkasan Keberlangsungan Ketahanan Energi Nasional ... 399

6.5 Kebijakan Harga dan Ketahanan Energi:

Asclepias R. S. Indriyanto ... 403 6.6 Kebijakan Harga Energi: Darwin Silalahi ... 407 6.7 Kebijakan Harga Energi dengan Fokus pada Penentuan Harga

Listrik di Indonesia: Mohamad Ikhsan ... 409 6.8 Ringkasan Kebijakan Harga Energi Nasional ... 429

(8)
(9)

BAGIAN I.

(10)
(11)

KATA PENGANTAR

Tim Editor

Kerja keras dan dedikasi yang telah dicurahkan oleh segenap panitia Sidang Pleno ISEI XIII Mataram akhirnya sampailah pada sebuah capaian akhir dengan terbitnya sebuah prosiding yang memuat berbagai makalah dari para ekonom berbagai kalangan dan generasi yang disampaikan dalam sesi Seminar Nasional Sidang Pleno ISEI XIII Mataram. Mengapa prosiding ini menjadi begitu dinanti? Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, pelaksanaan Kongres ISEI XVI Manado serta Sidang Pleno ISEI XII Balikpapan telah mampu menghasilkan suatu prosiding yang cukup layak menjadi dokumentasi bagi sebuah hajatan besar para ekonom, sehingga sudah selayaknya jika hal tersebut juga dapat diniscayakan pada pelaksanaan Sidang Pleno ISEI XIII Mataram ini.

Kedua, prosiding dari suatu kegiatan yang melibatkan para ekonom dan menjadi ajang curah pemikiran para ekonom tersebut, sudah selayaknya bukan hanya menjadi sarana dokumentasi dari sebuah kegiatan yang kental dengan nuansa kenangan, melainkan lebih merupakan mata air pengetahuan bagi para pembacanya, yang berasal dari muatan pemikiran para ekonom dalam menyampaikan segala dialektika dan pencerahan keilmuan yang dimilikinya.

Ketiga, Sidang Pleno ISEI XIII ini sangat kuat muatan akademis dan curah pemikirannya karena panitia mengundang berbagai kalangan untuk membuat makalah (Call for Papers) dan menyeleksi makalah yang layak dipresentasikan. Oleh karena itu, makalah yang masuk dan dipresentasikan dalam Sidang Pleno ISEI XIII ini cukup banyak dan beragam.

Sidang Pleno ISEI XIII kali ini juga begitu terasa istimewa karena selain dihadiri oleh seluruh anggota dan pengurus cabang ISEI serta para praktisi dan akademisi se-Indonesia, juga dibuka dengan sebuah kontemplasi dan aplikasi keilmuan dari Gubernur Bank Indonesia Bapak Boediono yang sudah lama berinteraksi dengan ISEI. Sebagai ekonom, beliau telah menyampaikan pemikiran-pemikirannya tentang ekonomi Indonesia sehingga amat sangat layak untuk menjadi bagian penting dari prosiding ini.

Tema besar dari Sidang Pleno ISEI XIII Mataram, sekaligus menjadi judul prosiding ini adalah “Memperkuat Ketahanan Pangan dan Energi Nasional dalam Era Persaingan Global”. Tema ini diambil bukan tanpa pijakan yang kuat. Pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi yang terjadi di Asia Timur, mempunyai dampak yang meluas ke seluruh dunia terutama bagi negara-negara berkembang, tak kurang Indonesia. Dengan endowment kekayaan alam yang besar, Indonesia harus siap dan mampu untuk menyediakan kebutuhan pangan dan energi bagi diri sendiri maupun negara lain.

(12)

kembali apakah masih dapat dipertahankan, mengingat arah trend kebijakan global telah meninggalkan kebijakan tersebut. Lebih jauh lagi, kebijakan seperti apa yang dapat dipakai untuk memperkuat basis ketahanan pangan dan energi tersebut?

Ketahanan pangan dan energi juga tidak terlepas dari peranan sektor swasta baik dalam pengelolaan dan distribusinya. Saat ini pemerintah masih mendominasi pengelolaan pangan dan energi bagi masyarakat. Peranan tersebut perlu dikurangi, sehingga pemerintah hanya berperan sebagai regulator dan fasilitator saja. Swasta yang bertindak sebagai pelaku pasar harus efisien dalam menjalankan kegiatan usahanya mengelola maupun mendistribusikan kebutuhan pangan dan energi bagi masyarakat. Ketidakefisienan yang terjadi diantaranya disebabkan oleh belum adanya penataan kelembagaan yang mengelola sumber daya alam.

Tim penyusun berusaha untuk memilah-milah dan mengelompokkan kembali makalah-makalah yang ada sehingga menjadi satu-kesatuan kelompok dan satu kesatuan buku yang mengalir dengan baik pemikiran-pemikiran di dalamnya. Melalui proses itu pula, akhirnya tim sepakat untuk membagi buku ini ke dalam empat bagian pembahasan, ditambah bagian depan yang merupakan bagian sambutan disusul dengan bagian berikutnya yang merupakan pidato khusus dan kesimpulan. Sekali lagi, meskipun berupa sambutan dan pidato khusus, namun isinya juga sarat dengan muatan ilmiah dan pemikiran yang berbobot dan sejalan dengan tema-tema yang diangkat dalam Sidang Pleno ISEI XIII ini. Pada bagian akhir masing-masing bagian, juga dibuat sintesa yang disusun dari tema-tema makalah pada bagian tersebut dan diskusi yang berkembang dalam presentasinya.

Bagian pertama dipilih judul sub tema Kondisi dan Dampak Globalisasi dalam Implementasi Kebijakan Ketahanan Pangan dan Energi Nasional yang membahas tentang perkembangan kekinian serta dampak dari globalisasi terhadap berbagai pilihan implementasi kebijakan ketahanan pangan dan energi nasional. Sub tema ini dipilih menjadi subtema pertama mengingat keberadaaan faktor-faktor internal maupun eksternal menjadi sangat krusial untuk dipertimbangkan dalam merumuskan berbagai kebijakan makroekonomi yang telah, sedang dan seharusnya dilakukan oleh pemerintah sehingga mampu memperkuat fundamental perekonomian nasional, khususnya di sektor pangan dan energi, sehingga mampu memberikan gambaran yang utuh.

(13)

Pada bagian ketiga, prosiding ini memilih sub tema Keberlangsungan Ketahanan Pangan dan Kebijakan Harga Pangan Nasional. Bagian ini menyampaikan pemikiran-pemikiran mengenai realitas dan konsep kemandirian pangan yang selain dikaitkan dengan masalah keberadaan pangan yang cukup dan tersedia dalam jumlah yang dapat memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, harusnya juga didukung oleh suatu sistem distribusi yang diharapkan mampu mencapai seluruh lapisan masyarakat. Pada saat yang bersamaan, ketersediaan dan keterjangkauan harga pangan dapat didefinisikan sebagai dua kondisi pendukung kemandirian pangan.

Sementara bagian terakhir dari prosiding ini akan mengambil judul sub tema Keberlangsungan Ketahanan Energi dan Kebijakan Harga Energi Nasional, yang menyajikan pemikiran maupun pengalaman-pengalaman dalam melakukan harmonisasi perluasan akses masyarakat terhadap kecukupan pasokan energi yang andal serta harga energi yang wajar, dengan tetap menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup. Pada sisi yang lain, penjabaran kecukupan pasokan energi dan harga yang wajar tentunya terkait erat dengan kebijakan energi yang telah diterapkan dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi baik mikro dan makro, sosial, politik, maupun kinerja institusi yang sampai saat ini masih belum bekerja secara optimal.

Tentunya, tidak seluruh makalah yang disajikan dalam Sidang Pleno XIII Mataram bisa dimuat dalam prosiding ini. Hal ini bukan karena makalah yang tidak termuat itu memiliki bobot kualitas yang tidak memadai, bahkan sangat mungkin lebih berkualitas. Ini semata-mata karena hal teknis seperti tidak ada

softcopy maupun hardcopy dari makalah tersebut atau hanya berbentuk materi

presentasi yang tidak memungkinkan pemikiran yang ada didalamnya “terekam dan terinformasikan” dalam prosiding. Untuk itu, tim penyusun mohon maaf atas tidak termuatnya makalah tersebut.

Terakhir, dengan jumlah makalah yang sedemikian banyak dan keterbatasan yang dimiliki, sangat sulit untuk mengatakan bahwa penyusunan prosiding ini tidak luput dari berbagai kekurangan. Kritik dan masukan sangat diharapkan untuk penyempurnaan di masa datang. Terimakasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu secara maksimal dalam terselesaikannya prosiding ini. Semoga prosiding ini memberi banyak manfaat bagi pembacannya. Selamat membaca dan menikmati pemikiran didalamnya.

(14)
(15)

SAMBUTAN KETUA PANITIA PELAKSANA

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita semua.

Beberapa bulan terakhir ini Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP-ISEI) maupun ISEI Cabang Mataram telah mempersiapkan penyelenggaraan acara Sidang Pleno XIII ISEI yang dilaksanakan pada tanggal 17-18 Juli 2008 di Mataram, Lombok, dengan tema “Memperkuat Ketahanan Pangan dan Energi Nasional dalam Era Persaingan Global”.

Sidang Pleno XIII ISEI terbagi atas dua bagian besar, yaitu (1) Seminar yang terdiri atas Sesi Pleno serta Sesi Paralel, dan (2) Sidang Organisasi. Sesi Pleno secara garis besar akan membahas dua sub-tema utama, yaitu: Pangan dan Energi, serta Globalisasi dan Peran Sektor Swasta untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Energi. Sedangkan Sesi Paralel sendiri terdiri atas 3 (tiga) kelas paralel yang masing-masing akan membahas mengenai Menjaga Keberlangsungan Ketahanan Pangan, Menjaga Keberlangsungan Ketahanan Energi, dan Presentasi Call for Papers. Secara khusus, Call for Papers dalam Sidang Pleno kali ini diharapkan dapat menjadi wahana kompetisi keilmuan bagi para Pengurus dan Anggota ISEI di seluruh Indonesia, sebuah konsep yang diharapkan terus dapat dipertahankan dalam banyak kegiatan ISEI berikutnya.

Disamping itu, selain sebagai wahana komunikasi dan silaturahmi untuk mempererat hubungan antara sesama pengurus dan anggota ISEI dari seluruh Indonesia, Sidang Organisasi pada Sidang Pleno XIII ISEI ini diharapkan dapat menghasilkan suatu rumusan dan arahan bagi perkembangan ISEI sebagai organisasi profesi dalam setahun ke depan, hingga pelaksanaan Kongres ISEI XVII di Padang pada tahun 2009 yang akan datang.

Akhir kata, atas nama seluruh Panitia Pelaksana Pusat Sidang Pleno XIII ISEI, dengan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para sponsor dan semua pihak yang telah berpartisipasi dan mendukung penyelenggaraan kegiatan ini. Semoga semua yang telah kami siapkan tidak mengecewakan dan dapat memberikan kesan tersendiri bagi Saudara-saudara sekalian.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Rudjito

(16)
(17)

SAMBUTAN KETUA PANITIA PENGARAH

Puji dan syukur kami persembahkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang atas berkat dan kemurahan-Nya, sehingga kita dapat melaksanakan Sidang Pleno XIII Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Mataram dalam keadaan sehat walafiat.

Sesuai dengan perubahan AD/ART ISEI yang disahkan dalam Kongres XVI di Manado pada tahun 2006 yang lalu, pelaksanaan Sidang Pleno ISEI sekarang dilaksanakan setiap tahun. Setelah tahun lalu Sidang Pleno ISEI XII dilaksanakan di Balikpapan, sekarang saatnya Mataram menjadi tuan rumah, dalam Sidang Pleno terakhir di kepengurusan Pengurus Pusat ISEI periode 2006-2009, menjelang Kongres ISEI XVII di Padang pada tahun 2009 yang akan datang.

Seperti pelaksanaan Sidang Pleno sebelumnya, Sidang Pleno ISEI selalu menitikberatkan kepada peninjauan, pengkajian, penelitian, penghimpunan dan pembuatan proyeksi, saran-saran dan kebijakan mengenai beberapa aspek perekonomian nasional yang aktual. Dan tema Sidang Pleno kali ini adalah “Memperkuat Ketahanan Pangan dan Energi Nasional Dalam Era Persaingan Global.”

Stabil dan tingginya pertumbuhan ekonomi Cina dan India, mempunyai dampak yang meluas ke seluruh dunia, terutama dalam hal konsumsi pangan dan energi. Karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi tentu saja membutuhkan konsumsi dan cadangan energi yang besar, serta ketersediaan pangan yang cukup. Kondisi ini dapat dilihat dari kecenderungan meningkatnya harga pangan dan energi dunia, yang terus menerus mencapai rekor tertingginya dalam beberapa bulan terakhir.

Saat ini, diperkirakan sekitar 1 milyar orang hidup dengan biaya di bawah US$ 1 per hari, ukuran standar yang digunakan untuk menghitung kemiskinan absolut. Dengan estimasi kasar, jika harga bahan pangan meningkat sebesar 20% saja, jumlah orang tersebut di atas akan bertambah sebanyak 100 juta orang. Dibanyak negara, kondisi ini sendiri sudah menghapus efek pertumbuhan ekonomi dan program pengentasan kemiskinan yang telah berjalan lebih dari satu dekade. Dan ini hanya dari sisi kenaikan harga pangan.

Indonesia tentu saja ikut mendapat imbas dari peningkatan harga kedua produk ini. Ditengah menurunnya kemampuan masyarakat untuk membeli pangan dan energi, serta jaminan ketersediaannya, diperlukan adanya rangkaian kebijakan yang tepat. Salah satu contoh kebijakan yang perlu dikaji kembali adalah kebijakan yang secara langsung berhubungan dengan upaya untuk memperkuat basis ketahanan pangan dan energi tersebut.

(18)

dilandaskan atas (1) pemanfaatan dan efisiensi sumber daya (utilization and

efficiency), serta (2) keberagaman (diversification) dan pemeliharaan

(preservation).

Melalui Sidang Pleno ini, saya mengharapkan partisipasi aktif para anggota ISEI dalam menciptakan sinergi yang konstruktif untuk menghasilkan terobosan-terobosan yang strategis dan inovatif, sebagai input utama dalam menformulasikan kerangka dasar kebijakan ketahanan pangan dan energi Indonesia. Saya yakin, dengan berkaca dari pelaksanaan Sidang Pleno sebelumnya, kegiatan yang kita laksanakan kali ini akan dapat berjalan dengan lancar dan akan mampu menghasilkan suatu output yang riil untuk Indonesia yang lebih baik.

Salam sejahtera dan terima kasih.

Suahasil Nazara

(19)

SAMBUTAN KETUA UMUM ISEI

Bapak Gubernur NTB yang saya hormati,

Para senior ISEI yang saya cintai,

Para pangurus ISEI Pusat dan Cabang yang saya hormati, hadirin yang kami muliakan,

Assalamualaikum Wr. Wb., salam sejahtera bagi kita semua.

Pertama-tama, saya ingin mengajak rekan-rekan untuk bersama-sama memanjatkan puji syukur ke hadirat Illahi Robbi yang dengan perkenan-Nya kita semua dapat berkumpul dalam keadaan sehat wal’afiat dan dalam suasana yang sangat baik, untuk menghadiri Pembukaan Sidang Pleno ISEI yang ke XIII. Kita juga bersyukur karena acara yang sudah kita rancang cukup lama untuk diadakan di kota Mataram ini dapat terlaksana dengan baik. Saya berharap bahwa pelaksanaan sidang Pleno ISEI di lokasi yang lebih ke timur Indonesia merupakan tonggak dan pertanda bahwa semangat membangun masa depan yang lebih baik di wilayah ini juga akan semakin menggelora.

Meski saya tidak dapat hadir langsung dalam kesempatan yang sangat baik ini, saya merasa berbangga hati dengan kehadiran rekan-rekan pengurus dan anggota ISEI dari seluruh penjuru tanah air dalam sidang pleno kali ini. Kehadiran rekan-rekan adalah sebuah refleksi dari semangat kita semua untuk turut berkontribusi dalam proses pembangunan ekonomi bangsa yang dalam waktu belakangan ini mengahadapi berbagai tantangan yang tidak ringan.

Kalau kita sejenak melihat kembali sejarah perekonomian Indonesia, tidak akan terlalu sulit bagi kita untuk segera mengetahui bahwa masalah kecukupan energi dan ketahanan pangan merupakan persoalan klasik bangsa yang belum secara sungguh-sungguh diselesaikan. Lebih dari 50 tahun yang lalu dalam salah satu artikelnya yang terbit tahun 1957, Frans Seda menulis bahwa masalah kita yang mendesak adalah beras dan bensin. Pada tahun 2005 lalu ISEI pernah pula mendiskusikan berbagai pemikiran yang kiranya dapat membantu para pengambil keputusan dalam menangani kedua masalah bangsa tersebut.

Namun sayang, kini kembali kita harus menghadapi lagi kedua masalah klasik ini dalam dimensi yang lebih luas bahkan global. Dunia bukan hanya menghadapi masalah beras dan bensin tetapi secara umum masalah ketersediaan pangan dan energi yang kemudian berdampak pada perkembangan harga-harga secara umum.

Para analis menyebutkan bahwa meningkatnya pertumbuhan ekonomi di negara berkembang, terutama China dan India, merupakan faktor pendorong utama bagi lonjakan permintaan berbagai komoditas termasuk pangan dan energi.

(20)

sektor migas terus meningkat, kapasitas produksi tidak dapat ditingkatkan dalam waktu dekat. Akibatnya, spare capacity cenderung menipis, membuat harga minyak rentan terhadap berbagai ‘news’.

Melemahnya dollar, karena kebijakan AS yang cenderung longgar demi mencegah meluasnya dampak resesi, telah mengakibatkan investasi portofolio beralih ke pasar komoditas. Hal ini pun telah mendorong aksi spekulasi. Investor terus melakukan kontrak pembelian di masa depan, dengan harapan harga akan semakin tinggi. Akibatnya kondisi ‘bubble’ terjadi.

Bagi kebanyakan negara di Asia, harga pangan dan energi ini memiliki peranan yang lebih besar terhadap perkembangan harga dibandingkan dengan kawasan lain, seperti Amerika Latin dan negara-negara maju. Salah satu penyebabnya adalah besarnya porsi makanan dan energi pada pengeluaran. Hal ini menyebabkan naiknya harga minyak dan pangan mendorong kenaikan inflasi yang lebih tinggi.

Pertanyaannya apakah kenaikan harga komoditas bersifat temporer atau permanen? Jawaban ini penting karena respon kebijakan menjadi berbeda ketika

shocks yang terjadi temporer atau permanen. Perlu pula disadari bahwa

karakteristik utama dari harga energi dan komoditas adalah tingginya fluktuasi harga, akibatnya jika tidak ditetapkan melalui kebijakan penentuan harga, volatilitas kedua komoditas tersebut akan langsung dirasakan konsumen.

Saya kira, saya cukup memahami kerumitan permasalahan yang dihadapi oleh penentu kebijakan. Bagi otoritas moneter situasi demikian agaknya cukup menyulitkan. Penggunaan instrumen moneter untuk meng-counter kenaikan harga-harga tersebut tidak lantas berdampak langsung di lapangan. Kita mengetahui bahwa kebijakan moneter memiliki efek tunda (lag) terhadap perkembangan sektor riil. Kebijakan moneter harus hati-hati disini, karena seperti disinyalir Friedman, bahwa :

“The first and most important lesson that history teaches about what monetary policy can do – and it is a lesson of the most profound importance – is that monetary policy can prevent itself from being a major source of economic disturbance. A second thing monetary policy can do is provide a stable background for the economy”

(21)

Bapak/Ibu hadirin yang berbahagia,

Saya yakin bahwa para pelaku ekonomi di negeri ini ingin segera mendapat jawaban dari berbagai persoalan ekonomi yang kita hadapi. Dalam kaitan ini, peran ISEI pasti sangat ditunggu. Oleh karena itu, saya berharap agar diskusi yang akan dilakukan selama sidang pleno ini dapat juga membuka langkah-langkah implementatif yang 'doable' dalam waktu yang tidak terlalu lama. Selamat berdiskusi, dan tak lupa saya juga ingin memberikan apresiasi pada ISEI Cabang Mataram yang telah mempersiapkan acara ini dengan sangat baik. Semoga Allah SWT meridhoi setiap usaha kita untuk membawa bangsa ini menjadi bangsa yang berdaulat di bidang pangan dan energi, berkesejahteraan dan berkeadilan.

Terima kasih atas perhatiannya.

Billahit taufiq walhidayah. Wassalamualaikum Wr. Wb.

(22)
(23)

SAMBUTAN GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT

Bismillahirrahmaanirrahim

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Yang saya hormati:

• Pimpinan DPRD dan unsur Muspida Prov. NTB; • Pimpinan Badan, Dinas/Instansi dan satuan kerja;

• Pimpinan dan jajaran pengurus Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI); • Undangan dan hadirin yang berbahagia.

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, pada hari ini kita dapat bersilaturahmi serangkaian dengan pelaksanaan Sidang Pleno dan Seminar Nasional Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Mataram Nusa Tenggara Barat ini.

Atas nama pemerintah dan masyarakat Nusa Tenggara Barat, saya menyampaikan ucapan selamat datang kepada para narasumber, dan segenap jajaran pengurus pusat dan pengurus cabang ISEI se-Indonesia, teriring do’a dan harapan semoga senantiasa dalam lindungan Allah SWT., sehingga dapat melaksanakan keseluruhan agenda Sidang Pleno dan Seminar Nasional ini dengan baik.

Tidak lupa pula saya menyampaikan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas dipilihnya NTB sebagai tuan rumah pelaksanaan seminar yang penting ini. Sidang Pleno dan Seminar nasional yang mengangkat tema ”Ketahanan Pangan dan Energi Nasional” ini, saya pandang tepat dan relevan dengan kondisi yang kita alami saat ini, dimana masyarakat kita dihadapkan pada kelangkaan bahan pangan dan kelangkaan energi, yang imbasnya memberikan tekanan cukup kuat terhadap perekonomian nasional kita.

Kelangkaan bahan pangan dunia, telah mengakibatkan harga beberapa komoditas pangan di dalam negeri, seperti minyak goreng, tepung terigu, gula dan lain lain menjadi sangat mahal dan fluktuatif. Bahkan di beberapa daerah, kelangkaan beberapa jenis komoditas pangan seringkali terjadi, karena hambatan distribusi.

(24)

Saudara dan hadirin yang berbahagia,

Masalah pangan dan energi pada hakekatnya merupakan permasalahan yang bersifat mendasar dan strategis, karena menyangkut hajat hidup orang banyak, sekaligus ketahanan eksistensi suatu bangsa, baik secara politik, ekonomi dan sosial budaya maupun pertahanan dan keamanan.

Krisis energi, terutama pemadaman listrik bergilir di Jawa dan Bali beberapa pekan terakhir ini, telah memberikan dampak yang sangat merugikan perekonomian nasional dan daerah, bahkan investor dari Jepang telah mengancam akan menarik seluruh investasinya dari Indonesia bila pemerintah tidak segera memperbaiki sistem kelistrikan yang dinilai sangat buruk. Bila hal ini sampai terjadi, betapa ruginya kita sebagai bangsa, padahal negeri ini sesungguhnya memiliki potensi sumber daya energi yang cukup besar.

Oleh karenanya, krisis pangan dan energi ini harus bisa kita atasi dengan sebaik-baiknya, utamanya melalui pemanfaatan potensi keragaman pangan dan energi yang kita miliki. Sebagai sebuah negara agraris dan negara kepulauan, bangsa kita sesungguhnya memiliki kekayaan yang cukup melimpah untuk pengembangan pangan yang memadai, baik potensi agraris yang berbeda di daratan maupun potensi pangan yang bisa di kembangkan di kawasan pesisir dan perairan laut. Dalam hal ini, upaya yang harus di lakukan antara lain: terus memacu proses produksi dan produktivitas pengadaan bahan pangan, juga yang tidak kalah pentingnya adalah program diversifikasi bahan pangan.

Kita harus terus berupaya, agar secara bertahap dan berkelanjutan bisa mengubah kebiasaan pola konsumsi masyarakat kita yang cenderung tergantung pada satu komoditas pangan saja, yaitu beras. Padahal disamping beras, sesungguhnya kita memiliki bahan pangan lain yg tidak kalah nilai gizinya, seperti ubi, jagung, sagu dan berbagai bahan pangan hewani lainnya yang di hasilkan dari sektor perikanan maupun peternakan. Namun yang terjadi selama ini, masyarakat justru merasa belum makan bila belum mengkonsumsi nasi. Inilah menjadi salah satu faktor yg turut mendorong tingkat ketergantungan kita pada beras masih sangat tinggi, sehingga sangat ironis sebagai bangsa agraris kita justru menjadi pengimpor beras atau bahan pangan lainnya.

Demikian juga salah satu solusi untuk mengatasi krisis BBM dan krisis energi yang terjadi belakangan ini adalah melalui pengembangan energi alternatif. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dewasa ini telah memberi peluang baru bagi pengembangan energi alternatif di luar energi yang berbahan baku fosil atau BBM.

Selain energi yang berasal dari alam seperti energi surya, air, angin, panas bumi dan arus bawah laut, ternyata berbagai hasil pertanian seperti singkong

(cassava), jagung, sorgum, buah jarak, palawija dan tumbuh-tumbuhan lainnya,

(25)

Saudara dan hadirin yang berbahagia,

Dalam mempertahankan ketahanan pangan dan energi, Nusa Tenggara Barat sendiri sesungguhnya memiliki potensi yang cukup besar. Hal ini terbukti dengan ditetapkannya NTB sebagai kontributor utama peningkatan produksi beras nasional, dimana produksi pada pada tahun 2007 lalu menghasilkan 1.526.346 ton gabah kering giling melebihi target yang ditetapkan pemerintah pusat dan pada tahun 2008 ini diharapkan mencapai target 1.718.274 ton gabah kering giling, jauh lebih besar dari target nasional sebesar 1.694.985 ton.

Selain itu, dalam pengembangan komoditas jagung, produksi jagung NTB pada tahun 2007 sebesar 120.612 ton dan pada tahun 2008 produksi jagung NTB ditargetkan mencapai 178.000 ton.

Sedangkan dalam hal pengembangan energi alternatif, pemerintah provinsi NTB-pun telah merintis pemanfatan berbagai potensi energi alternatif yang tersedia, antara lain: pengembangan jarak pagar seluas 650 ribu hektar sebagai bahan baku bio-fuel atau minyak jarak sebagai pengganti solar, pengembangan

cassava (singkong) di pulau lombok seluas 32.000 hektar sebagai bahan baku

pabrik bio-ethanol serta pengembangan biomassa dari kotoran ternak yang telah diujicobakan di beberapa tempat di NTB ini.

Selain itu, pemerintah daerah juga telah, sedang dan akan terus mengembangkan energi alternatif yang berasal dari alam, seperti: pengembangan energi listrik arus bawah laut (kobold) di Tanjung Menangis Lombok Timur, energi panas bumi di Sembalun (39 MW) dan di Hu’u, Kabupaten Dompu (36 MW) dan pengembangan listrik tenaga surya.

Saat ini di NTB telah ada 5.279 Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang bersumber dari dari dana APBN, provinsi dan kabupaten serta satu unit komunal 5.000 watt untuk 30 kepala keluarga. Potensi energi surya ini memiliki prospek yang bagus dan lebih ekonomis dari penggunaan energi listrik tenaga diesel, mengingat penyinaran/sinar matahari setiap bulannya rata-rata diatas 50%, sehingga memiliki kualitas dan intensitas energi surya sebesar 4,51 kwh/m2/detik. Disamping itu, juga dikembangkan potensi energi listrik tenaga air dan energi listrik tenaga uap (PLTU).

Namun demikian, pengembangan energi alternatif ini masih dihadapkan pada beberapa kendala dan permasalahan mendasar, antara lain: belum optimalnya pertisipasi masyarakat serta lemahnya penguasaan teknologi maupun dukungan kelembagaan lainnya.

(26)

Saudara dan hadirin yang saya hormati,

Kiranya demikianlah beberapa hal yang dapat saya sampaikan mengawali pelaksanaan Seminar Nasional ini. Akhirnya dengan ucapan ”Bismillahirrahmanirrahim” Sidang Pleno dan Seminar Nasional Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) ini, saya nyatakan dimulai. Semoga Allah SWT, senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita sekalian dalam upaya melanjutkan komitmen bersama membangun masyarakat, daerah dan negeri tercinta ini. Amin.

Sekian dan terima kasih

Wassalamualaikum Wr. Wb.

H. Lalu Serinata

(27)

BAGIAN II.

(28)
(29)

KEYNOTE SPEECH

GUBERNUR BANK INDONESIA

Hadirin sekalian,

Bapak-Ibu rekan se-profesi yang saya muliakan,

Assalamu’alaikum Wr.Wb., salam sejahtera bagi kita semua,

Pertama saya ingin menyampaikan terima kasih atas undangan ISEI kepada saya untuk memberikan Keynote Speech pada Sidang Pleno ISEI hari ini. Suatu peluang berharga dan sekaligus suatu kehormatan bagi saya dapat bertatap muka dan bertukar fikiran dengan rekan-rekan saya seprofesi dari seluruh penjuru tanah air di Pantai Senggigi yang indah ini.

Seperti kita ketahui, para anggota ISEI berkarya tersebar di berbagai posisi di pemerintahan, politik, bisnis dan akademis, baik di pusat maupun di daerah. Kita mempunyai pengalaman masing-masing. ISEI menyediakan forum bagi kita untuk saling berbagi pengalaman, saling bertukar informasi dan fikiran, yang akhirnya akan bermanfaat bagi pelaksanaan tugas kita sehari-hari.

Saya juga mengharapkan forum-forum ISEI dapat menjadi wahana regenerasi profesi kita. Generasi muda ekonom yang penuh energi dan antusiasme serta menguasai teori dan teknik baru dapat berinteraksi dengan ekonom generasi lebih tua yang barangkali energi nya tidak lagi seperti dulu, penguasaan teori dan teknik tidak at the frontier, tapi punya rekaman pengalaman hidup dan pengalaman praktek yang bisa dibagi dengan yang muda. Fungsi ISEI sebagai fasilitator regenerasi profesi ini menurut hemat saya sangat penting dan strategis.

Tema dari Sidang Pleno ISEI kali ini sangat aktual, yaitu mengenai kenaikan harga pangan dan energi dunia dan apa seyogyanya respon kita. Saya yakin para ahli yang berkumpul di sini nanti akan dapat memberikan pandangan-pandangannya yang substantive, tajam dan segar. Namun dalam sambutan ini saya sepatutnya juga ”urun rembug” mengenai hal ini, meskipun mungkin hanya secara umum saja.

Pangan dan energi adalah penopang utama kehidupan manusia dan bahkan kehidupan mahluk pada umumnya semenjak kehidupan mulai ada di bumi. Sebenarnya keduanya, pangan dan energi, dapat diperas menjadi satu yaitu energi, karena pangan itu adalah sumber energi, yang langsung dikonsumsi oleh manusia atau makhluk lain untuk mempertahankan hidupnya.

Kata orang sekarang ini kita mengalami suatu commodity super cycle. Kenaikan spektakuler harga komoditas yang kita alami sekarang pada hakekatnya adalah resultante dari pertumbuhan permintaan yang lebih cepat daripada pertumbuhan suplai yang terjadi secara global selama dua dasawarsa terakhir ini. Keadaan ini berlanjut tanpa dibarengi adanya teknologi baru yang signifikan untuk mengurangi permintaan dan penawaran tersebut.

(30)

sebenarnya tidak terjadi dalam kenyataan, meskipun untuk jangka panjang, super cycle ini disebabkan oleh interaksi antara faktor riil dan faktor moneter.

Faktor riilnya adalah sebagai berikut: Permintaan pangan dan energi meningkat pesat karena pertumbuhan ekonomi dunia yang pesat selama sekitar dua dasawarsa ini, terutama di negara-negara berkembang dan lebih khususnya lagi di dua negara raksasa dari segi jumlah penduduknya, Cina dan India. Pertumbuhan ekonomi memerlukan energi dan sekaligus meningkatkan penghasilan penduduk. Akibatnya permintaan akan energi dan permintaan akan pangan secara simultan meningkat.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, terutama dalam dua tahun terakhir ini, selain peningkatan permintaan akan pangan dan energi yang berasal dari pertumbuhan ekonomi tersebut, timbul permintaan akan pangan dan energi yang meningkat sangat pesat yang dipicu oleh perkembangan di luar itu. Ada dua kelompok utama permintaan ini. Pertama, permintaan akan tambahan stok untuk berjaga-jaga karena meningkatnya ketidakpastian suplai yang dipicu oleh hal-hal seperti bencana alam dan situasi politik. Kedua, permintaan akan pangan dan energi yang timbul karena kedua komoditi ini menjadi obyek spekulasi. Permintaan pangan dan energi untuk tujuan spekulatif ini terlihat terutama dalam setahun terakhir ini, sewaktu perekonomian negara-negara maju melambat dan pasar finansial global ambruk. Dana yang sebelumnya “bermain” di pasar finansial (dan jumlah dana ini sangat besar) mencari obyek investasi atau obyek spekulasi baru dan menemukan bahwa komoditi, termasuk pangan dan energi, merupakan obyek yang bagus untuk itu. Inilah yang membuat harga pangan, energi dan komoditi lain meningkat luar biasa akhir-akhir ini.

Khusus untuk pangan, karena melambungnya harga minyak bumi, maka terjadilah proses substitusi dari pangan untuk energi, biofuels mengganti fossil

fuels. Dengan digalakkannya pemakaian biofuel di berbagai negara terjadi

tambahan permintaan akan pangan di luar konsumsi langsung oleh manusia, sehingga harganya melonjak. Khusus untuk beras, selain memang terjadi kenaikan permintaan karena kenaikan income di negara-negara berkembang, kenaikan harganya yang tajam baru-baru ini juga disebabkan oleh kepanikan negara-negara importir (terutama Filipina) dan negara-negara eksportir (India, Thailand, Vietnam) menghadapi kenaikan harga-harga pangan lain. Untuk mengamankan pasokan beras dalam negeri, negara importir memburu beras untuk menambah stoknya, sedangkan negara eksportir melarang ekspor beras untuk mengamankan pasokan dalam negerinya. Akibatnya harga beras melonjak, meskipun produksi global meningkat. Perdagangan yang macet juga menyebabkan kenaikan harga. Syukur, perdagangan sudah mulai cair kembali dan harga beras internasional mulai normal lagi.

(31)

energi untuk menutup gap permintaan-penawaran yang melebar itu akan memakan waktu lama. Masalahnya terutama karena adanya coordination

problem – semua pihak saling menunggu. Pemerintah harus turun tangan sebagai

katalis.

Yang perlu dicatat adalah bahwa kebijakan ini hanya akan mengatasi masalah dalam jangka menengah dan panjang dan tidak dapat memberi jawaban untuk persoalan yang kita hadapi dalam jangka pendek ini. Sementara menunggu solusi jangka panjang, kita harus melakukan improvisasi untuk mengurangi dampak negatif jangka pendek.

Mengidentifikasi jawaban umum mudah. Yang sulit adalah menjabarkannya dalam action plan yang operasional. Untuk mendapatkan action plan yang operasional, kita perlu menjawab beberapa pertanyaan mendasar. Pertanyaan pertama yang timbul adalah apakah teknologi-teknologi yang dibutuhkan tersebut tersedia dan bagaimana kesiapannya untuk dimanfaatkan? Pertanyaan kedua adalah kebijakan-kebijakan apa yang diperlukan untuk dapat memanfaatkan secara optimal teknologi-teknologi yang tersedia dengan berbagai tingkat kesiapannya itu? Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menyiapkan institusi-institusi yang diperlukan untuk mengimplementasikan kebijakan-kebijakan dan program-program tersebut? Karena setiap kebijakan-kebijakan dan program hampir selalu memerlukan biaya, pertanyaan lebih lanjut adalah bagaimana pembiayaan kebijakan-kebijakan dan program-program tersebut? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dikemas dan dijawab dalam kerangka global atau, yang lebih relevan secara langsung, diformulasikan dalam konteks Indonesia.

Saya awam di bidang pangan dan energi, tetapi itulah kira-kira pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab secara tuntas dan rinci apabila kita ingin merespons secara kongkrit tantangan pangan dan energi yang sedang menghadang ini. Untuk Indonesia dan negara-negara berkembang lain, menurut hemat saya teknologi-teknologi yang ada masih dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi pangan dan energi. Kita tidak perlu menunggu teknologi-teknologi baru yang masih dalam taraf pengembangan di negara maju. Di bidang pangan, pemanfaatan benih unggul, teknologi pasca panen yang lebih baik, proses produksi skala besar dan sebagainya akan dapat meningkatkan produksi secara signifikan.

Di bidang energi, masih banyak peluang untuk menggantikan minyak bumi dengan sumber-sumber energi lain seperti batu bara, gas, geothermal dan lain-lain. Hal-hal yang kita rencanakan di Indonesia sudah benar. Tinggal kita laksanakan secara sistematis dan konsisten.

Bapak, Ibu, Hadirin, yang saya muliakan,

(32)

permintaan yang memang tinggi dan terus meningkat. Saya tidak tahu persis berapa besar unsur spekulatif ini, tetapi ada yang memperkirakan bahwa sekitar 30% dari harga minyak mentah yang berlaku di pasar sekarang adalah bubble. Kalau harga minyak turun, harga pangan juga akan turun.

Seperti kita ketahui, bubble tumbuh berdasarkan pada adanya faktor psikologi pada pelaku pasar yang mempercayai bahwa harga komoditi yang menjadi obyek spekulasi akan terus meningkat – suatu pikiran yang sebenarnya tidak logis tetapi dalam suasana eforia sering mendominasi perilaku mereka. Hukum gravitasi mestinya juga berlaku bagi fenomena ekonomi – what goes up

must, at some point, go down. Pelaku pasar yang dihinggapi psikologi bubble

percaya bahwa turning point tersebut belum akan tiba hari ini.

Penanganan segi moneter dari commodity boom ini dekat dengan tugas bank sentral di berbagai negara. Basis dari adanya bubble adalah ekspektasi bahwa harga akan terus naik di waktu yang akan datang. Bubble akan gembos atau dapat digembosi, apabila kebijakan uang ketat diterapkan. Karena ini adalah masalah global, agar efektif pengetatan moneter itu harus dilakukan secara global pula. Dilemanya di sini mirip dengan dilema untuk mendorong pemanfaatan teknologi baru tadi. Yakni ada coordination problem. Masing-masing negara akan merespon sesuai dengan kondisi yang dihadapi Masing- masing-masing. Masing-masing negara akan menunggu waktu yang tepat untuk mengetatkan kondisi moneter sambil berharap agar harga komoditas global, terutama minyak, menurun. Proses menunggu ini sebetulnya tidak perlu terjadi apabila terdapat koordinasi global. Jika beban pengetatan moneter tersebut dipikul bersama, maka hanya diperlukan sedikit pengetatan moneter di tiap negara sehingga lebih efektif dalam menekan kenaikan ekspektasi harga. Sayangnya, bank sentral AS, The Fed, yang berperan besar dalam kondisi moneter global, dihadapi permasalahan lain yang cukup pelik, yakni masalah

subprime mortgage, yang kemudian berkembang menjadi krisis finansial yang

lebih luas. Fed lebih mengutamakan penyelamatan sistem keuangannya dengan cara memberi kelonggaran moneter. Tidak heran jika ekspektasi inflasi tetap tinggi.

Jika ekspektasi inflasi tetap tinggi dan berlanjut, maka pengendalian inflasi akan kian sulit. Penyesuaian yang cukup keras dan beresiko tinggi, seperti resesi, kian sulit dihindari. Resesi global 1981-1982 seharusnya memberi kita pelajaran berharga. Pada saat itu otoritas moneter cenderung mengakomodasi kenaikan harga ketika terjadi oil shock. Karena kenaikan harga minyak memberikan efek kontraksi, resep yang diberikan adalah dengan melonggarkan kebijakan moneter untuk mencegah slow-down, sehingga ekspektasi inflasi tidak kunjung turun. Akibatnya yang terjadi justru bertolak belakang, terjadilah resesi.

(33)

komoditas memberikan dampak lanjutan (second round effects) ke harga barang dan jasa lainnya. Jika kenaikan ini juga diikuti oleh kenaikan gaji dan upah, proses spiral inflation dapat terjadi. Itu sebabnya kebijakan moneter harus mencegah meluasnya dampak lanjutan tersebut. Keberhasilan ini amat tergantung dari keberhasilan kita mengendalikan ekspektasi inflasi.

Syarat utama dari keberhasilan pengendalian ekspektasi inflasi adalah kredibilitas bank sentral. Kredibilitas yang dinilai dari jejak rekam bank sentral. Jika setiap kali terjadi shocks, bank sentral bersikukuh untuk tetap mengedepankan stabilitas harga daripada pertumbuhan, maka kredibilitas bank sentral sebagai penjaga stabilitas akan terbentuk. Satu hal yang telah dibuktikan oleh Bundesbank di masa lalu dan nampaknya yang ingin diulang oleh European Central Bank saat ini.

Dengan kredibilitas yang baik, biaya pengendalian inflasi menjadi lebih murah, seiring dengan rendahnya ekspektasi inflasi. Karena pelaku usaha yakin bahwa bank sentral tidak akan membiarkan terjadinya kenaikan harga. Namun tentu saja jika terjadi sebuah shocks yang tak terhindarkan di perekonomian seperti kenaikan harga minyak dan komoditas global saat ini, maka kenyataan bahwa inflasi meleset dari target harus dipahami sebagai sesuatu yang temporer. Tugas kita adalah untuk tidak membiarkan hal yang temporer tersebut menjadi permanen. Ini adalah bagian kecil dari tugas kita bersama untuk menyebarkan rasa optimisme untuk hari esok yang lebih baik. Ini adalah kontribusi kecil dari kita, kaum cerdik pandai, yang berkumpul di sidang yang mulia ini, bagi tanah air tercinta.

Bapak, Ibu, Hadirin yang saya hormati

Sebelum menutup sambutan saya, perkenankan saya menyampaikan selamat kepada ISEI dan khususnya ISEI Cabang Mataram dengan pelaksanaan Sidang Pleno dan Seminar ISEI yang sangat baik.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Saya berharap agar pelaksanaan Sidang Pleno dan Seminar di Mataram kali ini membuahkan hasil yang dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat luas. Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Billahittaufiq Wal Hidayah, Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Boediono

(34)
(35)

KESIMPULAN HASIL

SIDANG PLENO ISEI XIII DAN SEMINAR NASIONAL

Mataram, 17-18 Juli 2008

Pendahuluan

Pangan dan energi adalah penopang utama kehidupan manusia. Karena itu seminar nasional dalam rangka Sidang Pleno ISEI XIII ini mengangkat tema “Memperkuat Ketahanan Pangan dan Energi Nasional dalam Era Persaingan Global”. Pada seminar ini telah kita lakukan diskusi untuk membahas beragam isu di sekitar topik tersebut.

Ada beberapa sebab krisis energi dan pangan yang terjadi belakangan ini. Pertumbuhan ekonomi yang belakangan sangat tinggi di Asia Timur, memiliki dampak yang meluas ke seluruh dunia, terutama bagi negara-negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi membutuhkan energi yang besar dengan ketersediaan pangan yang cukup. Di sisi lain harga pangan dan energi mengandung elemen spekulatif (bubble) yang cukup signifikan. Spekulasi yang terjadi membuat ekspektasi inflasi tetap tinggi dan berlanjut, sehingga pengendalian inflasi menjadi semakin sulit. Kredibilitas bank sentral menjadi syarat utama dalam pengendalian ekspektasi inflasi. Oleh karena itu bank sentral tetap menjaga stabilitas harga daripada pertumbuhan. Dengan kredibilitas yang baik, biaya pengendalian inflasi menjadi lebih murah, seiring dengan rendahnya ekspektasi inflasi. Rasa optimisme bahwa hari esok menjadi lebih baik menjadi tugas bersama untuk disebarkan kepada seluruh masyarakat.

Jaminan ketersediaan dan daya beli masyarakat terhadap pangan dan energi merupakan prasyarat utama bagi ketahanan pangan dan energi di dalam negeri, untuk keberlangsungan perekonomian negara, maupun untuk menghadapi guncangan (shock) dari luar negeri. Strategi peningkatan kemampuan daya beli masyarakat dan penguatan basis ketahanan pangan dan energi harus diciptakan untuk menjaga keberlangsungan ketersediaan pangan dan energi tersebut. Kebijakan ekonomi yang dibutuhkan, tidak hanya pada bidang pangan dan energi sendiri, tetapi merupakan kebijakan ekonomi yang menyeluruh. Kerjasama antara pemerintah dan swasta dalam menjamin ketersediaan dan kemampuan masyarakat untuk membeli, juga merupakan hal penting yang harus dipikirkan.

Elemen-elemen Ketahanan Pangan dan Energi

(36)

Ketahanan pangan dan energi dipengaruhi juga oleh struktur penduduk dan pola konsumsi masyarakat serta adanya fenomena urbansasi sehingga perlu

regional self sufficiency dan sistem zoning bagi produksi dan penyediaan

komoditi.

Untuk meningkatkan daya beli otomatis harus meningkatkan pendapatan masyarakat seperti program padat karya serta menciptakan pertumbuhan ekonomi. Isu ketahanan pangan sangat erat kaitannya dengan permasalahan mendasar makro ekonomi, seperti kebijakan harga, dan harus memperhitungkan dampaknya terhadap angka kemiskinan dan inflasi. Peningkatan harga pangan akan mengancam ketahanan pangan. Untuk membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan diperlukan kebijakan-kebijakan pro perlindungan lahan pertanian dan pengembangan kawasan pangan.

Kebijakan stabilisasi harga saja tidak cukup, diperlukan infrastuktur untuk mengurangi dampak inflasi dan kemiskinan. Selain itu kebijakan subsidi, khususnya subsidi yang bersifat less distortive bagi harga dan bukan kebijakan yang berdasarkan komoditi, tetapi berdasarkan kelompok peruntukan.

Peningkatan daya beli dapat dilakukan dengan menciptakan kerjasama dengan pihak asing untuk melakukan R&D karena dapat mendorong pertumbuhan. Deregulasi pasar akan mendorong masuknya investasi baru ke pasar. Khusus bagi energi, harus dilakukan kebijakan perubahan energy mix, perubahan UU Migas untuk mendorong eksplorasi dan regionalisasi tarif dan subsidi energi yang tepat.

Rekomendasi Kebijakan

Kebijakan ketahanan pangan dan energi merupakan kebijakan yang bersifat

economic wide, artinya tidak hanya kebijakan dalam bidang pangan dan energi

tetapi menyangkut segala aspek ekonomi. Hal yang mendasar bagi kebijakan tersebut adalah perubahan pada UU dan sistem kelembagaan untuk mengatur ketersediaan pangan dan energi dengan lebih efisien. Selain itu terobosan teknologi dan peningkatan produktivitas merupakan hal yang mutlak harus dilakukan.

Dimensi kebijakan tidak hanya terbatas kepada kebijakan di bidang pangan dan kebijakan energi. Implikasi kebijakan dari rangkaian diskusi Sidang Pleno XIII ini adalah perlunya kebijakan ekonomi dalam perspektif yang lebih luas.

(37)

Peningkatan daya beli didorong oleh rangkaian kebijakan pertumbuhan dan kebijakan subsidi. Khusus bagi kebijakan subsidi, perlu diperhatikan bahwa subsidi untuk mendukung kerentanan ekonomi (economic vulnerability) harus berfokus pada kelompok ekonomi. Untuk subsidi yang mendukung produktivitas berfokus pada subsidi yang bukan commodity base dan tidak mendistorsi harga. Satu alternatif adalah subsidi kredit dengan skema eligibility yang berfokus pada kelompok ekonomi lemah dan miskin.

Kebijakan harga memegang peranan penting. Harus dipahami bahwa kebijakan harga di satu sektor akan memiliki dampak mekanisme keseluruhan harga-harga lain di perekonomian. Kita tahu bahwa harga yang stabil memiliki dampak kepada pengendalikan inflasi dan pengentasan kemiskinan, meskipun harus diperhatikan pula dampaknya kepada output.

Dimensi kebijakan lainnya adalah dimensi regional. Dengan kondisi geografis yang sedemikian besar, Indonesia perlu memperhatikan dimensi regional dari ketahanan dan energi. Peningkatan ketahanan pangan dan energi bisa sangat mungkin berbasis regional. Perbedaan energy mix dan konsumsi pangan antar daerah bisa jadi adalah solusi awal ketahanan pangan dan energi Indonesia. Beberapa isu yang timbul di sini adalah misalnya, identifikasi potensi energi lokal, dan juga regionalisasi harga. Dimensi kebijakan regional ini perlu terus didalami sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing.

Penutup

Demikianlah hasil berupa rumusan elemen-elemen ketahanan pangan dan energi serta rekomendasi kebijakan yang diperoleh selama rangkaian acara Sidang Pleno ISEI XIII ini. Alangkah baiknya jika rumusan yang telah kita hasilkan bersama ini dapat ditindaklanjuti melalui pelaksanaan seminar atau diskusi di tingkat cabang menuju pengimplementasian kebijakan guna memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional.

Mataram, 18 Juli 2008

(38)
(39)

BAGIAN III.

KONDISI DAN DAMPAK GLOBALISASI

DALAM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN

(40)
(41)

KEBIJAKAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL

Soetarto Alimoeso1

Terdapat empat masalah utama yang perlu mendapat perhatian lebih jika kita membahas mengenai pembangunan tanaman pangan dalam konteks sistem ketahanan nasional, yaitu (i) bagaimana arah pemenuhan pangan nasional, (ii) bagaimana perspektif dan organisasi pengelola sistem ketahanan pangan nasional, (iii) bagaimana kita dapat menuju kemandirian pangan yang keberlanjutan, dan (iv) indikator keberhasilan apa yang kita harapkan.

Arah pemenuhan kebutuhan pangan nasional tentunya dilandasi oleh undang-undang pemerintah yang berlaku. Dimana perundangan tersebut menekankan pada bentuk ketahanan pangan sebagai suatu sistem yang berbasis pada rumah tangga dan keterkesediaan pangan yang cukup, baik dari sisi jumlah, mutu, aman, merata, dan terjangkau.

Sementara, perspektif dan organisasi pengelolaan sistem ketahanan pangan nasional lebih menekankan pada bagaimana ketahanan pangan dapat diwujudkan dalam bentuk kemandirian. Kemandirian pangan menjadi salah satu ukuran kecukupan yang tentunya harus didasarkan kepada keragaman sumberdaya melimpah. Pada sisi lain, saat ini ada kecenderungan sektor pangan kita tidak mengarah kepada sumberdaya lokal tetapi justru mengharap pada impor.

Oleh karena itu, jika ingin menciptakan kemandirian pangan maka intensifikasi pangan menjadi salah satu pilihan strategi. Hal ini tentunya tidak luput dari tiga aspek utama yang mempengaruhi ketahanan pangan, yaitu ketersediaan, distribusi dan konsumsi. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pangan maka dibutuhkan kesiapan aspek energi dan protein berbasis lokal yang diarahkan menuju kemandirian pangan yang berkelanjutan.

Hal yang tidak kalah penting adalah apa saja indikator keberhasilan yang

digunakan dalam ketahanan pangan nasional, terutama dalam konteks (i) subsistem ketersediaan, (ii) subsistem distribusi, maupun (iii) subsistem

konsumsi tersebut diatas. Fungsi dari subsistem-subsistem tersebut akan diterjemahkan dalam berbagai strategi yang ditempuh. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian, terutama, lebih menitikberatkan perhatiannya pada subsistem ketersediaan yang terkait dengan isu bagaimana meningkatkan produksi pangan dalam negeri (meskipun kadang-kadang impor masih diperlukan) dan bagaimana mengatur pengelolaan pangan di dalam negeri.

Dalam menganalisa kedudukan tanaman pangan dalam sistem tanaman

pangan nasional, setidaknya ada empat hal perlu diperhatikan, yaitu (i) peranan tanam pangan, (ii) kedudukan agribisnis tanaman pangan dalam

sistem ketahanan pangan nasional, (iii) tantangan pemenuhan kebutuhan pangan

(42)

berbasis sub sektor tanaman pangan, serta (iv) kebijakan dan strategi pembangunan tanaman pangan dalam mewujudkan kemandirian pangan.

Tanaman pangan berperan besar dalam pembangunan nasional sebagai sumber pangan, sumber bahan baku industri (pakan, bio-fuel, dan industri lainnya), sumber pendapatan dan kesempatan kerja, serta sumber devisa negara dan instrumen perekonomian nasional. Sementara kedudukan agribisnis tanaman pangan tentunya tidak terlepas dari peran penting pangan sebagai sumber pakan, sumber pangan olahan, dan bahan baku industri lainnya serta energi. Hal-hal inilah kiranya yang menyebabkan terjadinya peningkatan harga pangan yang cukup tinggi secara internasional, terutama karena adanya persaingan-persaingan kepentingan tersebut.

Tantangan (sekaligus peluang) pemenuhan pangan nasional berbasis sub sektor tanaman pangan dipengaruhi oleh dua aspek utama, yaitu aspek makro dan aspek mikro. Tantangan aspek makro meliputi pertama peningkatan jumlah penduduk 1,3% per tahun yang cukup tinggi tentunya berdampak pada peningkatan kebutuhan (pemenuhan) padi sebagai komoditas utama, dimana saat ini lebih dari 95% penduduk Indonesia mengkonsumsi makan beras. Sampai dengan tahun 2025 kita harus mampu menyediakan padi paling tidak sebanyak 76,51 juta ton, sementara produksi kita pada tahun 2008 diperkirakan hanya 59,8 juta ton. Tantangan ini juga terjadi untuk kebutuhan jagung dan kedelai.

Tantangan kedua adalah berkurangnya ketersediaan bahan pangan sebagai akibat dari degradasi alih fungsi lahan dan fragmentasi lahan. Bahkan beberapa pemerintah daerah melalui Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)–nya telah mengusulkan adanya alih fungsi lahan (konversi dari sawah ke non sawah) sebanyak kurang lebih 3 juta hektar, dan tentunya ini akan sangat membahayakan kalau disetujui. Ini menjadi masalah tambahan lain mengingat selain Indonesia masih memiliki potensi rawan pangan, ternyata status kepemilikan tanah juga belum terselesaikan dengan baik sampai saat ini. Jika melihat jangka waktu perkembangan alih fungsi tanah tadi, jika tidak ada perluasan area baru maka ke depannya Indonesia hanya tinggal memiliki 4 juta hektar tanah sawah. Tentunya perluasan area baru tidak mudah dilakukan karena memiliki keterbatasan-keterbatasan terutama dari aspek permodalan.

(43)

dampaknya positif karena curah hujan masih cukup tinggi pada musim kemarau maupun musim penghujan yang lalu.

Kondisi faktual sumberdaya air di Indonesia menunjukkan bahwa baru 80% kebutuhan air untuk sektor pertanian yang dapat dipenuhi dengan baik yang berasal dari irigasi-irigasi waduk, irigasi bendungan, irigasi pompa air, dan sebagainya. Pada sisi lain, 70% jaringan irigasi tersebut kurang berfungsi dengan baik karena berbagai persoalan. Otonomi daerah yang diharapkan dapat lebih berperanan namun kadang-kadang justru menjadi hal yang lebih rumit.

Masalah-masalah lain yang kiranya cukup serius untuk diperhatikan adalah

enam, perlunya inovasi-inovasi baru untuk bisa menguasai pasar komiditas luar,

tujuh, kecenderungan stagnasi adopsi teknologi, perubahan perilaku konsumen,

persaingan antara bahan impor dengan barang impor yang berbasis lokal, serta

delapan, perlunya mendorong usaha pengolahan bahan pangan berbasis daerah

sehingga dapat terakreditasi dalam kerangka nasional.

Sementara itu, ada lima hal yang termasuk dalam tantangan mikro, yaitu (i) karakteristik petani di Indonesia adalah petani gurem karena merupakan usaha warisan yang turun temurun, (ii) petani belum melakukan bisnis ”secara penuh” karena masih tergantung pada pergantian musim, (iii) lemahnya posisi tawar petani, (iv) kurangnya fasilitas (akses) terhadap permodalan (perbankan), dan (v) usaha tanaman pangan dianggap usaha yang memiliki tingkat resiko paling tinggi.

Empat strategi pokok pembangunan tanaman pangan di Indonesia diarahkan pada peningkatan produktifitas, peningkatan perluasan areal (bukan hanya petak persawahan saja tetapi juga meningkatkan indeks per tanaman per satuan luas), pengamanan hasil produksi, serta peningkatan kemampuan perbankan dan pembiayaan.

Pada tahun 2008 ini, sasaran utama yang kita hadapi adalah bagaimana kinerja produksi pangan yang berbasis pada tanaman pangan. Dari perkembangan pola tanam, masih terjadi peningkatan luas tanam sebagai akibat dari optimalisasi lahan dan peningkatan pencetakan lahan baru (sekalipun tidak terlalu luas). Selama 5 tahun terakhir telah terjadi peningkatan tren pertumbuhan rata-rata, baik untuk tanaman padi, jagung, maupun kedelai. Dari aspek produksi, terjadi penurunan produksi kacang tanah dan kacang hijau pada tahun 2008 terhadap tahun 2007. Produksi padi dan jagung untuk kepentingan pangan dan pakan dalam negeri masih cukup, bahkan memiliki kelebihan untuk dijadikan cadangan tanaman pangan nasional. Sementara keperluan impor hanya dibutuhkan untuk produk kedelai.

(44)
(45)

STRATEGI PENGEMBANGAN ENERGI NASIONAL

Agus Cahyono Adi2

Pemahaman mengenai energi dapat diartikan sebagai “bahan bakar”. Kaitan/hubungan antara pangan dan energi, dari segi sumbernya, adalah sebagai bahan bakar nabati. Dari sisi penggunaan dan prosesnya, energi ”masuk” kedalam pangan sebagai (i) bahan bakar untuk transportasi distribusi bahan pangan, dan (ii) bahan bakar pemrosesan bahan pangan yaitu pengolahan tanah, pemrosesan, sampai makanan jadi. Pada kondisi saat ini, apa saja yang bisa kita lakukan? Pertama, bagaimana meningkatkan ketersediaan suplai energi yang cukup, dan kedua, mengurangi intensitas penggunaan atau menghemat bahan bakar.

Lebih dari 50% sumber energi primer berasal dari minyak bumi, dimana kebutuhan transportasi, yaitu distribusi tanaman pangan menjangkau langsung ke masyarakat, sendiri hampir 90% nya berasal dari minyak (premium, solar, dan seterusnya) sementara energi non minyak baru sedikit sekali, diikuti oleh bahan bakar nabati (bioetanol dan biodiesel) serta hidrogen. Sementara untuk kebutuhan rumahtangga dan komersial, menunjukkan kecenderungan yang sama yaitu sumber utama energi bahan pada umumnya juga masih didominasi oleh minyak.

Peranan energi dalam perekonomian nasional meliputi tiga hal atau fungsi, yaitu energi sebagai (i) sumber pendapatan negara, (ii) sumber energi dan bahan baku, dan (iii) lahan usaha yang diharapkan memberikan kontribusi setinggi-tingginya pada perekonomian (efek berantai). Keseluruhan fungsi tersebut hendaknya diupayakan semata-mata hanya untuk menberikan manfaat yang seimbang bagi kehidupan masyarakat.

Dalam pendapatan negara, kontribusi minyak dan gas bumi terhadap APBN terlihat masih cukup signifikan dengan nilai kontribusi sekitar 30%. Yang perlu kita pahami adalah Indonesia, jika dilihat dari produksi, telah 2 kali mengalami penurunan produksi yaitu pada tahun 1975an dan sekitar 1995an. Hal ini sama seperti karakteristik umum yang terjadi pada perusahaan minyak yang mengalami masa defect karena banyaknya faktor pengganggu dari perusahaan oil dan gas. Begitu pula halnya terjadi sejak tahun 1998, terjadi penurunan produksi minyak yang lebih drastis. Diharapkan pada tahun 2008 ini produksi migas bisa stagnan dan tidak ada penurunan. Dalam APBNP 2008, produksi minyak diharapkan atau diasumsikan sebanyak 977 ribu barel.

Hal lain yang tidak bisa dikendalikan, yaitu fluktuasi harga minyak yang terus terjadi (meningkat). Pada sisi lain, perubahan/fluktuasi harga tadi tentunya akan meningkatkan beban yang harus ditanggung oleh negara atas kebijakan subsidi BBM yang diberikan. Pembengkakan beban ekonomi paling besar pernah terjadi pada tahun 1980an dan terus meningkat pada beberapa tahun belakangan ini, utamanya setelah krisis ekonomi.

(46)

Pemanfaatan akhir sumber energi digunakan untuk banyak hal, walaupun secara umum dapat dikatakan bahwa bahan bakar digunakan untuk tiga macam kebutuhan yaitu pemanasan (bahang), gerak, dan cahaya. Dimana minyak bumi digunakan sebagai sumber energi utama dan didukung oleh sumber energi lainnya, antara lain gas metan, gas alam, batubara, panas bumi, sumber nabati, dan lain-lain. Ketiga fungsi tadi tentunya akan menghasilkan multiplier effect yang sangat banyak, baik dari sisi industri migas, peluang usaha di sektor migas yang masih terbuka luas, dan meningkatkan lapangan kerja.

Kebijakan energi Indonesia masih menyisakan pekerjaan rumah yang cukup berat dalam kaitannya menentukan prioritas kebijakan energi yang harus diambil terlebih dahulu. Seperti kita ketahui bersama, energi bertugas sebagai sumber pendapatan negara (kaitannya dengan APBN), sumber bahan baku industri (penggerak roda perekonomian), dan menciptakan multiplier effect yang luas pada masyarakat (makro ekonomi nasional), serta saling terkait satu sama lain. Tentunya kita tak bisa fokus pada ketiga-tiganya, karena dampaknya pasti tidak akan jelas.

Idealnya, kita harus fokus pada usaha-usaha yang seimbang antara APBN, penggerak roda perekonomian, dan sebagai makro ekonomi, dimana ketiga hal tersebut saling kontradiksi secara agregat. Jika kita memberi prioritas pada makro ekonomi, misalnya dengan meng-adjust subsidi. Pemerintah dengan sangat terpaksa akan menaikkan harga eceran BBM untuk mengamankan APBN, walaupun terjadi kontradiksi (tidak sinergi) dengan usaha menggerakkan roda perekonomian karena tidak ada pengusaha yang mau rugi. Modus mengandalkan pendanaan dan harga pasar, utamanya dari margin para pelaku pasar sangat tidak dimungkinkan. Tentunya dibutuhkan suatu kebijakan nasional, bukan hanya dari departemen energi saja, dalam penyediadaan pendanaan dan usaha yang terintegrasi dan terkoordinir dalam pembangunan migas khususnya dan penyediaan energi pada umumnya.

Dalam kaitannya dengan harga minyak, Indonesia selain sebagai produsen minyak juga konsumen minyak yang cukup besar (jumlah penduduk banyak dan wilayah yang luas) sehingga membutuhkan energi yang luar biasa. Kenaikkan harga minyak tentu akan memberi dampak terhadap sebagian produsen dengan kandungan input impor yang cukup besar. Sementara sensitivitas penerimaan migas dengan subsidi dalam APBNP 2008 sendiri menunjukkan adanya kecenderungan semakin tingi harga minyak maka slope penerimaan dan subsidi akan semakin besar, sehingga pemerintah terpaksa harus menaikkan harga eceran.

Secara umum pengaruh oil shock semakin lama semakin melemah (elastis) dimana pengaruh oil shock tersebut semakin tidak signifikan (tidak mengganggu) pada negara-negara yang telah menerapkan (i) kebijakan harga energi sesuai mekanisme pasar, (ii) efisiensi energi (konservasi), dan (iii) pengembangan energi alternatif (diversifikasi) sehingga tidak terpaku pada satu jenis energi saja. Pada sisi lain, telah terjadi pergeseran dalam pengelolaan energi secara umum dari

(47)

Strategi pengelolaan energi terdiri dari (i) mengembangkan mekanisme harga keekonomian energi (perlu keseimbangan antara kepentingan pemerintah, dunia usaha dan beban dari masyarakat), (ii) meningkatkan keamanan pasokan energi dengan memperhatikan aspek lingkungan, (iii) menerapkan prinsip-prinsip good

governance dan transparansi, (iv) mendorong investasi swasta bagi

pengembangan energi, dan (v) meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan energi.

Rencana Umum Perminyakan dan Pergasbumian Nasional (RUPPN) dirumuskan dalam sebuah visi untuk terpenuhinya kebutuhan bahan baku dan bahan bakar minyak dan gas bumi dalam negeri. Sementara misinya adalah (i) mengimplementasikan Undang-undang No. 22/2001 tentang Migas, (ii) meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia bidang migas, (iii) menciptakan iklim investasi yang kondusif di bidang migas, (iv) mendorong

pemerataan pembangunan, pengembangan masyarakat di sekitar kegiatan usaha migas, dan peningkatan pelayanan stakeholders, (v) menumbuh-kembangkan industri minyak dan gas bumi nasional yang andal, aman, dan akrab lingkungan, dan (vi) membangun jaringan kerjasama Masyarakat Migas Indonesia (MMGI). Sasaran utama RUPPN adalah (i) mempertahankan tingkat produksi minyak mentah sehingga mampu menjadi “tuan rumah” yang mapan, (ii) operatorship

50% oleh perusahaan nasional pada 2025, (iii) penggunaan barang dan jasa nasional sebesar 91% pada tahun 2025, (iv) penggunaan sumberdaya manusia (SDM) Nasional sebesar 96% pada tahun 2025, dan (v) meningkatnya nilai tambah untuk pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan, demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Untuk mencapai keseluruhan visi, misi, dan sasaran, dirumuskan 10 agenda

(48)
(49)

RINGKASAN

KEBIJAKAN KETAHANAN PANGAN DAN ENERGI NASIONAL

Membumbungnya harga pangan dan energi pada beberapa tahun terakhir, antara lain sebagai akibat potensi kompetisi dalam penyediaan satu sama lain, menggugah banyak pihak untuk mempertimbangkan kondisi ketahanan pangan dan energi masyarakat masing-masing, karena ketidakmampuan penyediaan baik pangan maupun energi sangat tidak mustahil akan berdampak hingga pada mempengaruhi stabilitas negara.

Khususnya bagi bangsa Indonesia, persoalan yang dipahami adalah lebih dari sekedar keterbatasan pangan dan energi, karena sebagian besar masyarakat memandang ketersediaan pangan dan energi merupakan suatu persoalan ”simbol identitas” yang berujung pada mempertanyakan mengapa Indonesia dengan ketersediaan sumber daya alam yang melimpah turut termasuk sebagai negara importir komoditi pangan dan energi untuk memenuhi kebutuhannya. Jika dikaji lebih jauh, kondisi ’keterbatasan’ sekarang ini sesungguhnya adalah resultante

dari ketidakcermatan dan ketidakkonsistenan kebijakan dan perilaku pembangunan selama ini. Maka untuk membenahinya, langkah yang perlu dilakukan adalah mengeskplorasi kembali bagaimana cara memberdayakan sumber daya yang tersedia tersebut dalam kerangka pemikiran yang visioner, strategis, dan berkelanjutan. Karakteristik yang berbeda antara pangan dan energi membawa pemisahan dalam membahas keduanya.

Pangan adalah suatu komoditas yang bersifat dasar (hakiki) sehingga pemenuhan kebutuhannya menjadi bagian tanggung jawab negara, dengan melibatkan semua unsur masyarakat. Ketahanan pangan diartikan sebagai terpenuhinya kebutuhan pangan individu yang diindikasikan melalui ketersediaan dalam jumlah dan kualitas memadai, merata, dan terjangkau. Memang saat ketahanan pangan merupakan hal wajib, pertanian merupakan hal pilihan bagi pemerintah daerah. Namun, sektor pertanian secara umum memiliki peranan strategis dan fundamental dalam membangun kemandirian pangan yang berkelanjutan, yang dilakukan melalui swasembada produksi.

Dalam pembangunan nasional, produksi tanaman pangan berperan sebagai sumber pangan (karbohidrat dan protein), sumber bahan baku industri (pakan,

biofuel, dan industri lainnya), sumber pendapatan dan kesempatan kerja, serta

(50)

Pengevaluasian terhadap kinerja sektor tanaman pangan selama ini, menggambarkan kinerja yang cukup baik diukur dari pertumbuhan positif tingkat produksi per tahun hingga terciptanya surplus nasional. Kecuali kedelai dikarenakan tingkat resiko usaha yang demikian besar, padi dan jagung mengalami surplus hingga masing-masing mencapai lebih dari 1 juta ton, dengan tingkat pertumbuhan padi, jagung, dan kedelai masing-masing sebesar 4,76%, 11,79%, dan 22,11%.

Namun ke depannya, penyediaan tanaman pangan menghadapi tantangan

baik makro maupun mikro. Dari sisi makro, tantangannya adalah (1) pertumbuhan penduduk yang tinggi (1,3% per tahun), (2) penurunan

ketersediaan lahan karena alih fungsi hingga mencapai 42,37% -yang memang disetujui DPRD setempat- dan degradasi lahan, (3) peningkatan kompetisi pemanfaatan untuk energi dan input industri, (4) keterbatasan infrastruktur, khususnya irigasi yang hanya 30% jaringan berjalan optimal, (5) perubahan iklim akibat pemanasan global, (6) stagnasi teknologi, (7) perubahan selera konsumen serta persaingan dengan produk olahan berbahan baku impor, serta (8) usaha pengelolaan cadangan pangan berbasis daerah namun tetap terintegrasi dalam kerangka nasional. Dari sisi mikro, tantangannya adalah (1) pelaku usaha umumnya petani gurem dengan kemampuan teknologi dan ketrampilan usaha terbatas, (2) rendahnya bargaining power petani karena tidak adanya pengembangan nilai tambah pada produk pasca panen, dan (3) rendahnya aksesabilitas terhadap permodalan, dan (4) penguasaan tataniaga hasil produksi oleh pelaku usaha tertentu.

Menghadapi tantangan-tantangan tersebut di atas, selain menciptakan sistem ketahanan pangan yang terintegrasi secara optimal, untuk menciptakan ketahanan pangan, kebijakan strategis yang perlu diambil adalah (1) kebijakan perlindungan lahan pertanian, (2) kebijakan pengembangan kawasan agribisnis pangan, baik lahan yang telah eksis maupun lahan potensial, (3) kebijakan pengembangan cadangan pangan berbasis daerah, dan (4) kebijakan penyediaan insentif bagi daerah penyangga pangan. Secara nyata, kebijakan utama tersebut hendaknya didukung juga oleh langkah-langkah (1) peningkatan infrastruktur pertanian, (2) penguatan kelembagaan pertanian, (3) pengembangan teknologi

dan aplikasi teknologi, (4) peningkatan akses modal pertanian, serta (5) pengembangan pemasaran hasil pertanian. Dengan adanya perbaikan sistem

dan pelaksanaan kebijakan strategis tersebut diharapkan kelangsungan ketahanan pangan dapat terwujud.

Dalam hal energi, keberadaan energi memainkan peranan yang tak kalah pentingnya dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Selama ini, energi berperan untuk meningkatkan sumber pendapatan negara, sebagai sumber energi bahan baku dan industri, dan menciptakan multiplier effect yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat (pro-poor, pro-job, dan pro-growth).

Gambar

TABEL 2.  NEGARA PENGEKSPOR TERBESAR DUNIA (2007)
TABEL 4. NEGARA PENGIMPOR PRODUK PERTANIAN (US$ B)
TABEL 5. NEGARA PENGIMPOR MINYAK BUMI (US$ B)
TABEL 6. PERANAN SWASTA SANGAT PENTING (TAHUN 2007)
+7

Referensi

Dokumen terkait

penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kejadian KEK ibu hamil berdasarkan LILA dengan ketahanan pangan berdasarkan Maxwell ( P-Value = 0.028).Ketahanan pangan

Indonesia memiliki lahan kering yang luas dan potensial untuk pengembangan sorgum sebagai bahan pangan, pakan, dan energi terbarukan (bioetanol). Untuk mengantisipasi krisis pangan

Pernyataan bahwa prioritas riset dan pengembangan teknologi dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional perlu diarahkan untuk memberikan dukungan terhadap pengelolaan

mendukung ketersediaan pangan//Ketersediaan pangan itu sendiri didukung faktor sumberdaya/budaya/dan kelembagaan//Yang dimaksud Ketahanan Pangan itu sendiri yakni terpenuhinya

Salah satu upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan adalah melaksanakan kembali (reaktualisasi) diversifikasi pangan menuju produksi dan konsumsi pangan yang

Dengan melakukan pengamatan, diskusi, tanya jawab, penugasan dan presentasi kalian dapat memahami tentang Pengertian ketahanan pangan, bahan industri, serta energi

Sebagai satuan kerja perangkat daerah yang mendukung pemerintah Kabupaten Padang Pariaman dibidang pertanian, perkebunan dan ketahanan pangan mempunyai tugas yang sangat

Kaitan makna teori kebijakan tersebut dengan ketahanan pangan dari proyeksi prioritas pemerintah yang dituang dalam sebuah kebijakan yang implementatif dan