• Tidak ada hasil yang ditemukan

isu strategi dan pencapaian visi dan mis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "isu strategi dan pencapaian visi dan mis"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

ISU STRATEGIS DI JAWA TENGAH

DALAM RPJMD 2013 - 2018

Secara makro permasalahan yang dihadapi Provinsi Jawa Tengah bisa dilihat dari berbagai sektor. Mulai dari kemiskinan, pengangguran, hingga masalah bencana alam, yang kurang lebih ada 21 sektor pembangunan. Dari permasalahan-permasalahan ini dapat dikerucutkan menjadi 6 (enam) isu strategis daerah, yaitu :

1. Kemiskinan ; 2. Pengangguran;

3. Pembangunan Infrastruktur; 4. Kedaulatan Pangan;

5. Kedaulatan Energi;

6. Tata Kelola Pemerintahan/Reformasi Birokrasi, Demokratisasi dan Kondusivitas Daerah.

A. Capaian Kinerja Pembangunan Terhadap Penanganan Isu Strategis

1. Kemiskinan dilatarbelakangi oleh kesejahteraan, akses pendidikan, kesehatan.  Jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah pada bulan September 2015 tercatat

13,32% atau sebesar 4,505 juta jiwa. Jumlah ini menurun dibanding keadaan September 2014 yaitu 13,58% atau sebesar 4,561 juta jiwa. Penurunan ini setara dengan 0,265% tetapimasih belum sesuai harapan atau target Tahun 2015 di RPJMD sebesar 9,05%-8,75%.

 Langkah yang telah dilakukan dan berhasil, antara lain : o perbaikan RTLH/ Rumah Tidak Layak Huni;

o Pendekatan pembangunan berdimensi kewilayahan, pengembangan pusat kawasan perdesaan,Peningkatan infrastruktur dasar perdesaan melalui bantuan desa; dan Penanganan lintas sektor terhadap

(2)

2 o Perluasan cakupan pelayanan sosial dasar melalui kegiatan pemberian

bantuan pendidikan bagi siswa miskin, o Peningkatan pelayanan kesehatan,  Langkah yang kurang berhasil atau tidak berhasil :

o Masih kurangnya Jumlah prasarana dan sarana dasar perumahan yang tertangani;

o Persentase kawasan permukiman kumuh yang tertangani masih rendah, karena kawasan kumuh mencapai 9.331 ha di 703 kawasan

o Penanganan RTLH sejumlah 1.723.500 unit yang tersebar di 35 kab/kota perlu disinkronkan dengan program kab/kota;

o Tidak tercapainya target Jumlah KB Mandiri, Persentase usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera ber KB tidak mencapai target maupun Jumlah Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga yang aktif masih kurang;

 Potensi program yang gagal :

o Pembangunan BUMDes, Pasar desa yang direvitalisasi dan Usaha Ekonomi Desa-Simpan Pinjam yang aktif belum terrealisasi;

o Banyaknya Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang belum tersentuh;

o Sinkronisasi BPJS dengan Jamkesda;

o Penanganan penyakit berbahaya, seperti kasus DBD yang tinggi; o Angka Kematian Ibu masih tinggi;

 Kendala ketidakberhasilan :

o ketentuan undang-undang 23 Tahun 2014 pasal 298ayat 5 yang mengatur penerima hibah harus berbadan hukum Indonesia, mempersulit pemberian bantuan kepada sasaran keluarga miskin, bantuan sarpras perumahan dan pemukiman kumuh, pemberian bantuan kelompok masyarakat perdesaan dalam memberdayakan BUMDes, KUD dsb;

(3)

3 o Tidak tercapainya target Jumlah KB Mandiri, karena adanya akseptor KB yang beralih dari KB Mandiri ke KB Jalur Pemerintah sebagai peserta BPJS;

o Penangangan DBD dalam hal antisipatif belum banyak dilakukan masyarakat seperti Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk, belum ditemukannya obat DBD, tingginya biaya fogging;

o Sistem rujukan dan jaminan kesehatan belum berjalan dengan optimal untuk tindakan penanganan penyebab kematian ibu (AKI).

2. Pengangguran, dilatarbelakangi kurangnya pemberdayaan berbagai sektor ekonomi, ketimpangan sosial. Kemiskinan dan pengangguran mempunyai relasi sangat kuat, artinyadikala pengangguran bertambah maka kemiskinan pun akan bertambah.Jumlah penganggur di Jawa Tengah pada Tahun 2015 tercatat sebesar 863.783 orang atau 4,99%. Jumlah ini menurun dibandingkan kondisi tahun sebelumnya yaitu sebanyak 996.334 orang atau 5,68%. IPM di Jawa Tengah pada Tahun 2014 sebesar 68,78, lebih baik dibandingkan Tahun 2013 sebesar 68,02, namun masih di bawah IPM Nasional sebesar 68,90. Tingkatpengangguran pada Tahun 2015 sebesar 4,99%, relatif masih lebih tinggidibandingkan target RPJMD 4,93%-4,62%

 Langkah yang berhasil dilakukan :

o Jumlah nilai investasi PMA/PMDN meningkat sehingga membuka lapangan pekerjaan baru;

o Peningkatan jumlah Koperasi Aktif, pemberdayaan Produk OVOP, fasilitasi kredit, pemberdayaan SDM pelaku UMKM dan pemasaran produk KUMKM;

o Rasio Upah minimum dibanding Kebutuhan Hidup Layak tercapai; o Jumlah kasus dan status penyelesaian Hubungan Industrialtercapai; o Jumlah Kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara

(4)

4 o Nilai Ekspor non migas;Ketersediaan data harga jenis komoditas bahan pokok; dan Persentase penyelesaian sengketa konsumen melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen kabupaten/kota berjalan dengan baik;  Langkah yang kurang berhasil atau tidak berhasil :

o Rasio daya serap tenaga kerja tidak sesuai harapan, dan tingkat pengangguran terbuka tinggi;

o Rata-rata lama tinggal wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara, serta Rata-ratapengeluaran belanja wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantaramasih kurang;

o Pengendalian nilai Impor non migas kurang, sehingga masih adanya impor barang modal dan bahan baku yang belum bisa dipenuhi dari dalam negeri;

o Pertumbuhan IndustriBesar, Kecil dan Menengahmasih kurang optimal seperti adanya Jumlah klaster logam, mesin, tekstil; Klaster agro kimia dan hasil hutan; Klaster komponen otomotif, elektronika dan aneka;serta Pengembangan kelembagaan usaha industri.

 Potensi program yang gagal : o -

 Kendala ketidakberhasilan :

o Rasio daya serap tenaga kerja tidak sesuai harapan, karena investasi yang masuk lebih banyak pada industri padat modal.

o Tingkat pengangguran terbuka, karena penambahan angkatan kerja tidak sebanding ketersediaan peluang kerja.Sedangkan untuk Rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia kerja tidak mencapai target, karena kesempatan kerja yang terdaftar tidak sesuai dengan kualifikasi pencari kerja.

o Rata-rata lama tinggal wisatawan nusantara, karena Wisnus di Jawa Tengah didominasi pergerakan wisatawan antar daerah.

(5)

5

peralatan tidak dapat direalisasikan karena UU No 23/2014 yang mensyaratkan penerima hibah harus berbadan hukum Indonesia;

o Untuk meningkatkan kesejahteraan petani diperlukan revitalisasi pertanian.

3. Pembangunan Infrastruktur, dilatarbelakangi oleh banyaknya aduan masyarakat tentang infrastruktur yang rusak, perlunya peningkatan infrastruktur untuk mendorong roda ekonomi daerah di berbagai sektor pembangunan. Alokasi anggaran sebesar Rp.2,07 Triliun, realisasi fisik 99,84% dan keuangan 98,56%.  Langkah yang berhasil dilakukan :

o Banyaknya perbaikan jalan dan jembatan yang diukur dari panjang jalan yang diperbaiki meningkat;

o Terpenuhinya kebutuhan air baku sesuai target; o Banyaknya normalisasi sungai;

o Menurunnya luas daerah genangan banjir;

o Cakupan pelayanan air minum dan sanitasi meningkat sesuai target;  Yang belum dan tidak berhasil dilakukan :

o Masih kurang banyak penangangan jalan rusak dan irigasi yang rusak; o Masih banyak kawasan kumuh yang belum tertangani;

o Pembangunan kawasan perbatasan kabupaten/kota dan kawasan strategis yang tertangani masih kurang;

 Potensi program yang gagal :

o Tingginya pelanggaraan terhadap rencana tata ruang dan wilayah.  Kendala ketidakberhasilan :

o Alokasi anggaran tidak mencukupi untuk pembangunan infrastruktur yang lebih banyak;

o Monitoring alih fungsi lahan kurang

(6)

6 o Pelanggaran terhadap rencana tata ruang dan wilayah karena faktor

pengawasan dan penegakan hokum yang masih kurang;

4. Kedaulatan Pangan, dilatarbelakangi oleh Jateng sebagai lumbung beras nasional, kebutuhan swasembada daging, swasembada gula, alih fungsi lahan dan alih profesi petani yang banyak terjadi, distribusi pupuk yang perlu diawasi, serta kebutuhan pangan yang meningkat.

 Hal yang tercapai :

o Jumlah kelompok masyarakat swakarsa pengamanan sumberdaya kelautan yang aktif bertambah;

o Produksi perikanan Budidaya meningkat dengan tingkat konsumsi ikan dan luas penanaman Mangrove juga bertambah;

o Produksi Padi; Jagung;Bawang merah; Cabe besar; Kopi meningkat; o Jumlah Balai Penyuluhan yang berkualitas dan penumbuhan Posluhdes

bertambah didukung jumlah penyuluh yang memiliki kompetensi sesuai bidang keahliannya;

o Ketersediaan pangan utama Beras meningkat;  Hal yang belum tercapai :

o Produksi perikanan tangkap masih kurang optimal, karena terbitnya Permen KP No PER.02/PERMEN-KP/2015 Tanggal 9 Januari 2015 Tentang Pelarangan Penggunaan Alat Penangkap Ikan Hela dan Pukat Tarik diwilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia.

o Produksi kedele, tebu dan daging kurang. o Fluktuatif harga bahan pangan;

o Tingkat kesejahteraan petani yang diukur melalui Nilai Tukar Petani (NTP). NTP Tahun 2015 sebesar 100,24 lebih rendah dari tahun 2014 sebesar 100,65 dan jauh dari target 2015 dalam RPJMD sebesar102,36.  Potensi program gagal :

(7)

7  Kendala :

o Produksi perikanan tangkap masih kurang optimal, karena terbitnya Permen KP No PER.02/PERMEN-KP/2015 Tanggal 9 Januari 2015 Tentang Pelarangan Penggunaan Alat Penangkap Ikan Hela dan Pukat Tarik diwilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia.

o Tidak tercapainya target Produksi kedele, karena terjadi alih komoditas dari kedele ke kacang hijau yang dari sisi harga jual lebih menguntungkan; untuk Produksi tebu karena menurunnya harga gula pada Tahun 2014 sehingga petani tebu beralih komoditas; sedangkan produksi daging, karena adanya kebijakan pembatasan impor sapi oleh pemerintah pusat serta penurunan struktur ternak sapi siap potong.

o Penerbitan Kartu Tani dan Kartu Nelayan perlu adanya dukungan dari kabupaten/kota sehingga pendataan cepat selesai dan perlu didukung sinkronisasi program antar instansi agar bermanfaat secara optimal.

5. Kedaulatan Energi, dilatarbelakangi oleh ancaman krisis listrik, geostrategic Jateng yang berada di tengah sehingga cocok sebagai sumber listrik penyangga jaringan Jawa Madura Bali.Alokasi anggaran sebesar Rp.41,23 Miliar, realisasi fisik 99,94% dan keuangan 94,74%.

 Yang berhasil dilakukan :

o Luasan pertambangan tanpa ijin yang ditertibkan; o Mitigasi bencana alam geologi;

o Pemanfaatan energi baru terbarukan terhadap total konsumsi energi; serta Rasio elektrifikasi.

 Yang belum berhasil :

o Rasio elektrifikasi dan tingkat pelanggan listrik di perdesaan masih belum optimal, karena masih sekitar 2.000 dusun belum teraliri listrik;

(8)

8  Potensi program yang gagal :

o Investasi pembangkit listrik terbaharukan, seperti PLTS, PLT Panas Bumi di beberapa lokasi

 Kendala :

o Kebutuhan anggaran untuk energy terbaharukan masih tinggi seperti pembangunan PLTMH, tenaga surya dan panas bumi, sementara investasi di bidang energy masih kurang;

o Penolakan warga terkait pembangunan pembangkit listrik baru;

o Investasi pembangkit listrik terbaharukan, seperti PLTS, PLT Panas Bumi di beberapa lokasi masih perlu banyak kajian teknis dan terkait dengan prosedur perijinan dengan pusat;

o Pengawasan dan penegakan regulasi penertiban tambang kurang optimal.

6. Tata Kelola Pemerintahan/Reformasi Birokrasi, Demokratisasi dan Kondusivitas Daerah.

- Reformasi Birokrasi dilatarbelakangi oleh tekad untuk mewujudkan Good Governance dan Clean Government, serta banyaknya Aduan Masyarakat Terkait Pelayanan yang Kurang Prima serta masih adanya pungli dan penataan birokrasi;

- Demokratisasi, dilatarbelakangi oleh adanya pemilu kada di beberapa kabupaten/kota, meningkatkan kesadaran politik masyarakat, perlunya politik legislasi dan politik anggaran yang sinergis antara legislatif dan eksekutif untuk mendorong program pembangunan yang manfaat;

- Kondusivitas daerah karena banyaknya keragamaan di Jawa Tengah dan terkait dengan potensi – potensi konflik SARA

 Yang sudah dilakukan :

o Persentase penindakan penyelenggaraan Perda; o Pengendalian kinerja SKPD berjalan baik;

(9)

9 o MoU dan tindaklanjut kerjasama luar negeri tetap berlangsung ;

o Persentase aset yang dikelola dengan baik meningkat; o Jumlah SKPD yang menerapkan SPIP semakin banyak; o Penyelenggaraan Promosi Jabatan secara Terbuka;

o Persentase tenaga pemeriksa dan aparat pengawasan yang professional meningkat;

o Jumlah PNS yang mengikuti Diklat dan Tugas Belajar meningkat. o Kondusivitas daerah Provinsi Jawa Tengah di 35 kabupaten/kota;

o Meningkatnya efektivitas penyelenggaraan pembangunan bidang ketahanan ideologi negara, wawasan kebangsaan, bela negara, nilai-nilai sejarah kebangsaan dan penghargaan kebangsaan skala provinsi di 35 kabupaten/kota;

o Persentase penanganan konflik sosial; serta Pengendalian dan penanganan ketentraman dan ketertiban umum di 35 kabupaten/kota.  Yang belum berhasil dilakukan :

o Opini WTP kabupaten/kota masih perlu ditingkatkan.

o Rasio jumlah Ratih/Linmas dengan jumlah penduduk masih kurang.  Potensi program yang gagal :

o Peningkatan PAD tidak mencapai target;

o Persentase penggunaan hak pilih dalam Pemilukada kabupaten/kota masih perlu ditingkatkan;

 Kendala :

o Opini WTP kabupaten/kota tidak mencapai target, karena pencapaian opini WTP pada kabupaten/kota tergantung pada komitmen, kemampuan dan kesiapan kabupaten/kota.

o untuk Rasio jumlah Ratih/Linmas dengan jumlah penduduk tidak mencapai target, karena kurangnya minat masyarakat untuk menjadi anggota Linmas.

(10)

10

BBNKB per unit kendaraan, adanya kebijakan Subsidi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor bagi angkutan umum orang sebesar 70% dan barang sebesar 50% dan adanya penurunan nilai jual Bahan Bakar Kendaraan.

o Tidak tercapainya target Persentase penggunaan hak pilih dalam Pemilukada kabupaten/kota, karena waktu sosialisasi yang terlalu pendek, dukungan sosialisasi dari SKPD lain (Humas/Kominfo) dan pemerintah kabupaten/kota kurang, kendala e-KTP.

B. Peran Pejabat Struktural di Bidang Reformasi Birokrasi

Terhadap ke- enam isu strategi yang ada di Jawa Tengah, peran utama yang dilakukan untuk menangan isu strategi tersebut antara lain :

1) Dalam aspek keuangan :

a. Mengawal dan mendampingi penyusunan APBD Pemerintah Provinsi Jawa Tengah secara intens sehingga outputnya APBD dapat disahkan tepat waktu dan mendorong program dan kegiatan pemerintah di semua SKPD sehingga berjalan lancar setiap tahunnya, dalam rangka pencapaian visi misi pembangunan di daerah;

2) Dalam aspek organisasi dan kepegawaian :

a. koordinasi yang efektif dan terstruktur dalam meningkatkan pelayanan publik, misalnya penerapan ISO dan Survey Kepuasan Masyarakat (SKM), serta penerapan keterbukaan informasi terhadap kegiatan – kegiatan pelayanan, dan aksi percepatan pelayanan publik dalam melayani masyarakat;

b. Pengawasan melekat kepegawaian disertai sanksi yang tegas terhadap aparatur yang melanggar sesuai aturan kepegawaian

(11)

11

d. Mendorong dan meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui keterbukaan informasi agar SKPD memberdayakan website maupun brosur.

e. Mendorong SKPD, khususnya lini yang berkaitan langsung dengan pelayan masyarakat agar memberikan informasi pelayanan dalam bentuk banner dan sejenisnya secara transparans mengenai prosedur pelayanan, mulai dari proses lama layanan, harga/tariff, fasilitas layanan hingga mekanisme aduan/komplain.

f. membentuk layanan pro aktif yang turun ke bawah atau jemput bola ke masyarakat, seperti pada DPPAD membentuk Samsat Keliling atau Samsat Mall;

g. Menyusun dan menyempurnakan Standar Operasional Prosedur (SOP) agar dapat memberikan pelayanan yang lebih optimal ;

(12)

12 CAPAIAN VISI DAN MISI PEMPROV. JATENG

Visi Jawa Tengah yang Sejahtera dan Berdikari masih kurang tercapai secara optimal. Kesejahteraan belum bisa diwujudkan dari beberapa indicator, antara lain capaian kemiskinan dan pengangguran yang tidak sesuai target RPJMD 2013-2018. Capaian visi tersebut didasarkan pada implementasi misi yang masih kurang optimal.

1) Misi Ke – 1 Membangun Jawa Tengah Berbasis Trisakti Bung Karno, Berdaulat di Bidang Politik, Berdikari di Bidang Ekonomi, dan Berkepribadian di Bidang Kebudayaan.

 Di bidang politik upaya demokratisasi belum berjalan dengan baik, terbukti dengan tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilu Kada masih berada di bawah target KPUD;

 Di bidang Ekonomi beberapa indicator masih kurang tercapai seperti target penurunan kemiskinan, target penurunan pengangguran, NTP yang menurun dan sebagainya;

 Di bidang Kebudayaan, setidaknya budaya kerja aparatur semakin baik dengan diberlakukannya beberapa aturan kepegawaian;

Terobosan yang bisa dilakukan :

 Dalam bidang politik, memberikan pehamaman dan sosialisasi kepada para aparatur untuk bersikap netral dalam setiap pelaksanaan pemilu kada sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku, serta membantu upaya sosialisasi kepada masyarakat;

 Dalam bidang ekonomi dan kebudayaan, memberikan support yang dituangkan dalam program – program peningkatan ekonomi dan program kebudayaan melalui supply anggaran pada saat penyusunan APBD.

(13)

13  Angka Penurunan Kemiskinan dan Pengangguran belum memenuhi target

RPJMD 2013-2018

Terobosan yang bisa dilakukan :

 Dapat mendorong terbukanya lowongan pekerjaan dengan merekrut dari tenaga outsourcing;

3) Misi Ke – 3 Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah yang Bersih, Jujur dan Transparan, “ Mboten Korupsi Mboten Ngapusi ” sesuai porsi SKPD saudara

 Disiplin dan etos kerja meningkat

 Pelayanan publik lebih baik didukung dengan penerapan budaya kerja dan aplikasi e-government

Terobosan yang bisa dilakukan :

 Mendorong peningkatan disiplin pegawai dengan menerapkan sanksi yang tegas;

 Mendorong kesadaran untuk melakukan pelaporan gratifikasi, LHKPN dan LHKASN kepada semua aparatur sesuai ketentuan yang berlaku;

 Meningkatkan transparansi dan kemudahan dalam rangka memfasilitasi penyelesaian hak para PNS, seperti kenaikan pangkat, proses pensiun, masa persiapan pensiun, penghargaan PNS, penyesuaian masa kerja, dsb;  Memfasilitasi proses penerimaan Calon Praja IPDN dengan menggunakan

mekanisme dan prosedur sesuai yang telah ditetapkan;

 Mendorong untuk memupuk kepribadian setiap aparatur agar PNS mempunyai integritas yang tinggi;

4) Misi Ke – 4 Memperkuat Kelembagaan Sosial Masyarakat untuk Meningkatkan Persatuan dan Kesatuan

 Peningkatan pendidikan wawasan kebangsaan kepada masyarakat;

 Sosialiasi kesadaran berpolitik dalam memberikan suara pada Pemilu Kada;

(14)

14  Mengefektifkan sosialisasi dan pendidikan kebangsaan melalui berbagai

media dengan memberdayakan bidang kehumasan ;

5) Misi Ke – 5 Memperkuat Partisipasi Masyarakat dalam Pengambilan Keputusan dan Proses Pembangunan yang Menyangkut Hajat Hidup Orang Banyak;

 Musrenbang sudah dilaksanakan, bahkan dilaksanakan di tingkat wilayah (eks-Karesidenan) dan dilakukan secara terbuka

Terobosan yang bisa dilakukan :

 memfasilitasi berbagai kalangan atau stakeholder terkait agar memberikan masukan untuk kemudian masukan tersebut didata dan menjadi bahan pertimbangan kebijakan dalam penentuan RAPBD;

6) Misi Ke – 6 Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik untuk Memenuhi Kebutuhan Dasar Masyarakat

 Pelayanan publik langsung masih banyak dikeluhkan karena prosedur yang berbelit;

 Tidak terbukanya informasi pelayanan kepada masyarakat;  Adanya pungli;

Terobosan yang bisa dilakukan :

 Mendorong dan meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui keterbukaan informasi agar setiap SKPD memberdayakan website maupun brosur.

 Mendorong SKPD, khususnya institusi yang berkaitan langsung dengan pelayan masyarakat agar memberikan informasi pelayanan dalam bentuk banner dan sejenisnya secara transparans mengenai prosedur pelayanan, mulai dari proses lama layanan, harga/tariff, fasilitas layanan hingga mekanisme aduan/komplain.

(15)

15  Merekomendasikan dibentuknya biro jasa – biro jasa untuk mewadahi para

calo agar tidak timbul ekonomi biaya tinggi;

7) Misi Ke – 7 Membangun Infrastruktur untuk Mempercepat Pembangunan Jawa Tengah yang Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan

 Masih banyak jalan, jembatan dan sanitasi yang belum tertangani

 Belum banyak pelanggaran alih fungsi lahan dan penggunaan lahan yang merusak lingkungan hidup belum tertangani;

Terobosan yang bisa dilakukan :

 memfasilitasi dan memberikan support program – program pembangunan infrastruktur melalui supply anggaran pada saat penyusunan APBD

(16)

16 TEROBOSAN MENCAPAI VISI MISI JATENG 2018

Dalam ARAS ADMINISTRASI PEMERINTAHAN

KEPELOPORAN KEPEMIMPINAN

Berdasarkan pengamatan secara sederhana terhadap apa yang menjadi perhatian di lingkungan aparatur dan masyarakat, pemimpin yang direspon baik adalah yang sederhana, dekat, tegas dan nguwong-ake, sebagaimana sikap Bapak Gubernur yang sederhana, membuka kran lebar terhadap aduan masyarakat, tegas menindak pungli di jembatan timbang, serta memperjuangkan kebutuhan masyarakat dan aparatur.

Kepeloporan tersebut terus saya upayakan secara nyatadi lingkungan kerja dan masyarakat. Sederhana dalam arti tidak bermewah – mewahan sehingga lebih tampil apa adanya, dan tidak mengada – ada. Dan kepeloporan tersebut saya awali dengan selalu tampil apa adanya baik secara fisik seperti cara berpakaian hingga dalam bekerja. Sederhana juga tidak mengharapkan berbagai imbalan, maka saya tekankan kepada jajaran, bahwa Humas harus No Pungli. Dalam bekerja juga harus apa adanya, termasuk penyusunan SPJ dan pembelannjaan harus apa adanya, tidak perlu ada potongan dan sebagainya. Ini yang saya tekankan dan Alhamdulillah sampai dengan saat ini hal ini tetap berjalan sebagimana mestinya. Sedangkan untuk dekat terhadap orang yang dilayani maka saya mengimbau semua jajaran untuk ramah dan komunikatif kepada siapa saja. Saya pun akan selalu terbuka kepada siapa pun, termasuk kepada rekan pers.

Tegas artinya berani menindak hal yang menyimpang seperti memberikan rekomendasi sanksi terhadap setiap pelanggaran pegawai berdasarkan aturan yang ada. Dan nguwong-ke artinya memperhatikan perasaan dan kebutuhan masyarakat dan bawahan, seperti dengan membawa aspirasi bawahan dan masyarakat sebagai bahan kajian kebijakan, misalnya tentang reward pegawai, tentang sikap pelayanan birokrasi yang dibutuhkan masyarakat. Sikap seperti itulah yang diapresiasi bawahan dan masyarakat.

(17)

17 BUDAYA KERJA

Dengan hal seperti ini maka para personel, bahkan tamu juga akan selalu teringat tentang budaya kerja, dan outcome yang didapatkan hingga saat ini absensi dan pelayanan di Biro Humas berjalan semakin baik, terbukti dengan tingkat absensi yang baik dan tidak adanya permasalahan tentang pelayanan kehumasan. Dampak yang timbul dari budaya kerja ini adalah etos kerja personel meningkat dalam memberikan pelayanan informasi dan kehumasan.

Budaya kerja adalah nilai yang disepakati dalam bekerja, termasuk di dalamnya adalah 10 budaya malu yang sebagaimana diinstruksikan oleh Asisten Administrasi dan Biro Orpeg. Contoh kreatif dalam membangun budaya kerja di Biro Humas adalah selalu mengingatkan setiap personel Humas agar memperhatikan nilai budaya kerja yang sudah ada, termasuk disiplin pegawai dan aturan – aturan kepegawaian sebagai budaya kerja. Output nyata dalam membentuk budaya kerja ini adalah menempatkan banner 10 budaya malu di lingkungan kerja_

INOVASI PEMECAHAN MASALAH

Terhadap setiap permasalahan yang muncul ketika melaksanakan tugas, upaya yang dilakukan di luar kebiasaan normative yaitu saya melakukan komunikasi interpersonal dengan berbagai pihak. Komunikasi tersebut dilakukan dengan para pihak terkait maupun pihak lain untuk mendapatkan masukan dan mencari jalan keluar terbaik bagi setiap masalah.

INTEGRITAS DIRI DAN LEMBAGA

mengedepankan kejujuran dalam bekerja, yang saya lakukan yaitu :

(18)

18

administrasi, sehingga bukan hanya tepat guna dan sasaran tetapi juga tidak menjadi temuan. Menggunakan alokasi dana anggaran dengan efektif dan efisien dan bermanfaat tinggi, contoh penggunaan dana perjalanaan dinas secara riil sesuai dengan peruntukan dan kepentingantugas pokok dan fungsi. 2) Menolak pemberian, baik berupa barang maupun uang, yang berhubungan

dengan jabatan saya. Setiap pemberian hadiah atau gratifikasi yang diserahkan di kantor dilaporkan kepada Inspektorat;

3) Melakukan kegiatan – kegiatan secara transparan dengan tujuan mendapatkan control social dari masyarakat.

4) Melakukan pengawasan secara berjenjang kepada jajaran eselon dan staf; 5) Mengevaluasi laporan tentang kedisiplinan pegawai;

6) Melakukan konsolidasi internal tentang penggunaan alokasi anggaran agar sesuai dengan ketentuan dan secara riil;

7) Melaporkan LHKPN dan mendorong staf mengisi LHKPN;

8) Melakukan pembinaan kepada setiap pegawai dengan pendekatan komunikasi informal ataupun pada saat rapat agar tetap menjaga integritas,

MENINGKATKAN PELAYANAN PUBLIK

Salah satu upaya meningkatkan pelayanan publik adalah dengan pemberdayaan aparatur atau pegawai yang disiplin. Disiplin pegawai yang tinggi merupakan salah satu indikasi reformasi birokrasi sehingga harus dipupuk dan dipertahankan agar kualitas dan kompetensi ASN terjaga. Dengan kedisiplinan maka pegawai sebagai motor pemerintah daerah akan optimal dalam menjalankan program dan kegiatan sesuai dengan tujuan RPJMD Pemprov Jateng. Selain itu meningkatkan kedisiplinan dalam kerangka reformasi birokrasi merupakan salah satu target RPJMD Jawa tengah dalam mewujudkan tata kelola pemerintah yang baik.

(19)

19 UPAYA MENDORONG PENCAPAIAN VISI

Usaha kreatif untuk mendorong pencapaian visi Jateng Sejahtera dan Berdikari, meliputi : - Mengawal dan mendampingi penyusunan APBD Pemerintah Provinsi Jawa Tengah secara

intens sehingga outputnya APBD dapat disahkan tepat waktu dan mendorong program dan kegiatan pemerintah di semua SKPD sehingga berjalan lancar setiap tahunnya, dalam rangka pencapaian visi misi pembangunan di daerah;

- Mempercepat reformasi birokrasi untuk membentuk etos kerja aparatur yang lebih baik dengan meningkatkan pelayanan publik melalui keterbukaan informasi layanan sepeti pemasangan banner sebagai informasi. Selain itu etos kerja juga ditingkatkan dengan penerapan disiplin pegawai melalui adanya berbagai aturan, termasuk terujun langsung mensosialisasikan budaya kerja aparatur;

- Meningkatkan kesadaran untuk mempunyai integritas tinggi sehingga mendorong setiap aparatur menyampaikan LHKPN dan LHKASN;

IMPLEMENTASI MISI KE-1

Membangun Jawa Tengah Berbasis Trisakti Bung Karno, Berdaulat di Bidang Politik, Berdikari di Bidang Ekonomi, dan Berkepribadian di Bidang Kebudayaan.

Dalam bidang politik, memberikan pehamaman dan sosialisasi kepada para aparatur untuk bersikap netral dalam setiap pelaksanaan pemilu kada sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku.

(20)

20 IMPLEMENTASI MISI KE-2

Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat yang Berkeadilan

Aturan terhadap Pegawai Pemerintah dengan Pernjanjian Kerja (PPPK) selama ini memang belum turun, sedangkan untuk penambahan tenaga honorer maupun CPNS tidak dimungkinkan, khususnya untuk kebutuhan – kebutuhan teknis.

Oleh sebab itu, ketika SKPD/Biro membutuhkan tenaga kerja tambahan, maka saran yang diberikan adalah penggunaan tenaga kerja outsourcing melalui system dan ketentuan yang berlaku. Penggunaan tenaga kontrak non PNS ini tentunya dilakukan dengan adanya lowongan pekerjaan, sehingga walaupun kecil akan mengurangi jumlah pengangguran di Jawa Tengah.

IMPLEMENTASI MIS KE-3

Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah yang Bersih, Jujur dan Transparan, “ Mboten Korupsi Mboten Ngapusi ”

 Mendorong peningkatan disiplin pegawai dengan menerapkan sanksi yang tegas;  Mendorong kesadaran untuk melakukan pelaporan gratifikasi, LHKPN dan LHKASN

kepada semua aparatur sesuai ketentuan yang berlaku;

 Meningkatkan transparansi dan kemudahan dalam rangka memfasilitasi penyelesaian hak para PNS, seperti kenaikan pangkat, proses pensiun, masa persiapan pensiun, penghargaan PNS, penyesuaian masa kerja, dsb

(21)

21 IMPLEMENTASI MISI KE-4

Memperkuat Kelembagaan Sosial Masyarakat untuk Meningkatkan Persatuan dan Kesatuan

Membina dan bermitra dengan Lembaga Masyarakat yang bermakna positif

IMPLEMENTASI MISI KE-5

Memperkuat Partisipasi Masyarakat dalam Pengambilan Keputusan dan Proses Pembangunan yang Menyangkut Hajat Hidup Orang Banyak

Dalam penyusunan program kerja pembangunan, pada saat pelaksanaan musrenbang memfasilitasi berbagai kalangan atau stakeholder terkait agar memberikan masukan untuk kemudian masukan tersebut didata dan menjadi bahan pertimbangan kebijakan dalam penentuan RAPBD.

IMPLEMENTASI MISI KE-6

Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik untuk Memenuhi Kebutuhan Dasar Masyarakat

 Mendorong dan meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui keterbukaan informasi agar setiap SKPD memberdayakan website maupun brosur.

 Menyusun dan menyempurnakan Standar Operasional Prosedur (SOP) agar dapat memberikan pelayanan yang lebih optimal.

IMPLEMENTASI MISI KE-7

Membangun Infrastruktur untuk Mempercepat Pembangunan Jawa Tengah yang Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan

(22)

22 STRATEGI KEBIJAKAN TERKAIT KRISIS ANGGARAN

1) Penghematan anggaran, langkahnya adalah pembelian barang yang tidak urgent dibutuhkan untuk ditunda;

2) Rasionalisasi anggaran, langkah yang dilakukan yaitu kegiatan yang dilakukan berulang, untuk dilakukan pemangkasan. Contoh kegiatan rapat dan sosialisasi.

3) Penundaan kegiatan, langkah yang dilakukan menunda kegiatan yang sifatnya tidak urgent atau membahayakan. Contoh pengecatan gedung. 4) Upaya meningkatkan pendapatan. Salah satu upaya untuk meningkatkan

pendapatan secara instan adalah dengan mengoptimalkan pendapatan dari sektor asset daerah, seperti tanah dan bangunan. Pendapatan dari asset daerah ini bisa didapatkan dengan mengagunkan sertifikat tanah dan bangunan milik Pemprov kepada Bank Indonesia. Namun, konsekuensi yang harus disiapkan ke depan adalah perlu meningkatkan target pendapatan dan mengalokasikan anggaran untuk pembayaran angsuran atau menebus agunan tersebut.

5) Untuk mendukung efektivitas pembahasan RAPBD, menyampaikan KUA-PPAS / KUPA-KUA-PPAS tepat pada jadwalnya,

6) Mengusulkan upaya optimalisasi asset – asset (Barang Milik Daerah) agar mendukung peningkatan pendapatan daerah melalui promosi secara kontinyu di berbagai media secara terbuka, termasuk transparansi harga dan prosedur serta penerapan IT;

7) Penerbitan obligasi daerah, surat utang dan surat saham Perusda yang go publik;

Referensi

Dokumen terkait

Membangun Tatakelola Pemerintahan Yang Baik (Good Governance) Dengan Berorientasi Pada Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik Dan Peningkatan Kesejahteraan

Apa ada keinginan yang kuat dari aparatur, pemimpin, dprd dan masyarakat untuk mensukseskan pelaksanaan penganggaran berbasis kinerja di pemkab Gresik..

VISI : Terwujudnya Aparatur Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) yang Profesional, Disiplin dan Bertanggungjawab untuk mendukung tata kelola pemerintahan yang baik (Good

Jl. Rambutan Kota Tebing Tinggi, Telp. Rapat dibuka oleh Kepala Sekolah yang sekaligus bertindak sebagai pemimpin rapat. Sambutan dan pengarahan tentang Peninjauan Kembali dan

0 0.. baik dari dalam maupun luar negeri dan asosiasi PT dalam/luar negeri. • Mengembangkan internasionalisasi untuk memenuhi kebutuhan stakeholder dan meningkatkan

Masyarakat Kabupaten Sambas yang Berakhlakul Karimah, adalah suatu kondisi seluruh lapisan masyarakat dan aparatur yang memiliki sikap dan nurani bersendikan nilai-nilai

Dalam sistem presidensialisme, topik mengenai jabatan presiden telah menjadi pusat perhatian warga negara prapemilihan umum dan menjadi pusat evaluasi bagi masyarakat

Faktor-faktor apa saja yang harus menjadi bahan pertimbangan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan, menjadi dasar permasalahan dalam makalah ini.Tulisan ini akan membahas