Pengaruh Sarana Dan Prasarana Pendidikan Terhadap Profesionalisme Guru

120 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)PENGARUH SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN TERHADAP PROFESIONALISME GURU SMA AL-MUAWANAH CIANJUR. SKRIPSI Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam pada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam. Oleh ACHMAD MUHARAM NURJAMAN NIM 1030010109008. PROGRAM MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS SURYAKANCANA CIANJUR. 2013 M/1434 H.

(2) BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Sebagaimana telah dimaklumi bahwa dalam lingkup pendidikan yang terkecil yaitu sekolah, guru memegang peranan yang amat penting dan strategis. Kelancaran proses seluruh kegiatan pendidikan terutama di sekolah, sepenuhnya berada dalam tanggung jawab para guru. Guru adalah seorang pemimpin yang harus mengatur, mengawasi dan mengelola seluruh kegiatan proses pembelajaran di sekolah yang menjadi lingkup tanggung jawabnya dalam menghadapi tuntunan situasi perkembangan zaman dan pembangunan nasional, sistem pendidikan nasional harus dapat dilaksanakan secara tepat guna dan hasil guna dalam berbagai aspek dimensi, jenjang dan tingkat pendidikan. Keadaan semacam itu pada gilirannya akan menuntut para pelaksana dalam bidang pendidikan diberbagai jenjang untuk mampu menjawab tuntutan tersebut melalui fungsifungsinya sebagai guru. Seorang guru yang mengajar karena panggilan jiwanya, ada misi untuk mengantarkan mereka (anak didiknya) kepada kehidupan yang lebih baik secara intelektual dan sosial bukan sekedar karena profesi gurulah pekerjaan yang paling mudah didapatkan. Maka ia akan bisa mengalirkan energi kecerdasan, kemanusiaan, kemuliaan, dan keislaman yang besar dalam dada setiap muridnya, bahkan sesudah ia meninggal. Guru yang mengajar dengan mental seorang pendakwah sekaligus pengasuh, bukan dengan mental tukang teriak untuk 2.

(3) mendapat upah bulanan bernama gaji, akan mampu menyediakan cadangan energi agar tetap lembut menghadapi murid yang membuat kening berkerut. Guru selalu mendarma baktikan tenaga dan pikirannya demi kemajuan pendidikan, dan mereka juga ikhlas dalam melakukannya. Guru juga tidak menuntut balas jasa, karena pekerjaannya itu bukan bisnis yang harus ada kalkulasi untung dan rugi. Tapi yang dituntut guru cuma satu, yakni keadilan akan haknya sebagai warga negara, sebagai pegawai, dan sebagai pemangku profesi yang sangat mulia dan berat sekali tanggung jawabnya. Oleh karena itu dalam sejarah pendidikan, tentu seorang gurulah yang paling awal muncul, baru kemudian murid dan infrastruktur lain yang terkait dengan paradigma pengelolaannya. Setelah terciptanya pendidikan baru kemudian berkembang kurikulum yang berkaitan dengan manajemen lembaga pendidikan, seperti bangunan sekolah, kepala sekolah, karyawan, hingga sampai pada perdana mentri pendidikan. Sebuah reposisi guru sangat diperlukan karena perannya tidak lagi hanya sebagai “pengabdi” pendidikan yang dicekoki rutinitas, tapi harus menjadi “pendidik murni” yang mendapatkan kesempata-kesempatan yang luas untuk mengembangkan sendiri pola pembelajarannya dan meningkatkan kualitas pribadi sehingga bisa menghasilkan anak didik yang cerdas dan bermoral. Dalam rangka turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, peranan guru sangat penting sekali untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan berakhlak mulia. Kita sadari, bahwa peran guru sampai saat ini masih eksis,. 3.

(4) sebab sampai kapanpun posisi atau peran guru tersebut tidak akan bisa digantikan sekalipun dengan mesin sehebat apapun, mengapa? Karena, guru sebagai seorang pendidik juga membina sikap mental yang menyangkut aspek-aspek manusiawi dengan karakteristik yang beragam dalam arti berbeda antara satu siswa dengan lainnya. Banyak pengorbanan yang telah diberikan oleh seorang guru semata-mata ingin melihat anak didiknya bisa berhasil dan sukses kelak. Tetapi perjuangan guru tersebut tidak berhenti sampai disitu, guru juga merasa masih perlu meningkatkan kompetensinya agar benar-benar menjadi guru yang lebih baik dan lebih profesional terutama dalam proses belajar mengajar sehari-hari. Pada dasarnya terdapat seperangkat tugas yang harus dilaksanakan oleh guru berhubungan dengan profesinya sebagai pengajar, tugas guru ini sangat berkaitan dengan kompetensi profesionalnya. Hakikat profesi guru merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan. Walaupun pada kenyataannya masih terdapat hal-hal tersebut di luar bidang kependidikan. Namun, dibalik itu semua juga tersirat suatu dilema profesi ini dimana seringkali guru tidak menerima penghargaan ataupun perlakuan yang sebanding dengan apa yang telah dikorbankan. Sebagai seorang yang berprofesi sebagai seorang guru apakah yang harus kita lakukan? Bagaimana pula sebaiknya kita menyikapi hal ini dengan lebih arif dan bijaksana? Karangan ini hanyalah sebuah tulisan, namun dengan tulisan ini, penulis bisa berharap dapat memberikan masukan untuk merefleksikan kembali pilihan kita. 4.

(5) Guru memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam upaya membentuk watak bangsa dan mengembangkan potensi siswa dalam kerangka pembangunan pendidikan di Indonesia. Tampaknya kehadiran guru hingga saat ini bahkan sampai akhir hayat nanti tidak akan pernah dapat digantikan oleh yang lain, terlebih pada masyarakat Indonesia yang multikultural dan multibudaya, kehadiran teknologi tidak dapat menggantikan tugas-tugas guru yang cukup kompleks dan unik. Oleh sebab itu, diperlukan guru yang memiliki kemampuan yang maksimal untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan diharapkan secara berkesinambungan mereka dapat meningkatkan kompetensinya, baik kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, maupun profesional. Profesional artinya dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan didukung oleh para petugas secara profesional. Petugas yang profesional adalah petugas yang memiliki keahlian, tanggung jawab, dan rasa kesejawatan yang didukung oleh etika profesi yanng kuat. Untuk menguji kompetensi tersebut, pemerintah menerapkan sertifikasi bagi guru khususnya guru dalam jabatan. Penilaian sertifikasi dilakukan secara portofolio. Sejumlah. penelitian. membuktikan. bahwa guru yang profesional. merupakan salah satu indikator penting dari sekolah berkualitas. Guru yang profesional akan sangat membantu proses pencapaian visi misi sekolah. Mengingat strategisnya peran yang dimiliki oleh seorang guru, usaha-usaha untuk mengenali dan mengembangkan profesionalisme guru menjadi sangat penting untuk dilakukan. 5.

(6) Sejak tahun 2005, isu mengenai profesionalisme guru gencar dibicarakan di Indonesia. Profesionalisme guru sering dikaitkan dengan tiga faktor yang cukup penting, yaitu kompetensi guru, sertifikasi guru, dan tunjangan profesi guru. Ketiga faktor tersebut merupakan latar yang disinyalir berkaitan erat dengan kualitas pendidikan. Menurut Barnawi & Mohammad Arifin (2012: 28) bahwa, “Guru profesional yang dibuktikan dengan kompetensi yang dimilikinya akan mendorong terwujudnya proses dan produk kinerja yang dapat menunjang peningkatan kualitas pendidikan. Guru kompeten dapat dibuktikan dengan perolehan sertifikasi guru berikut tunjangan profesi yang memadai menurut ukuran Indonesia. Sekarang ini, terdapat sejumlah guru yang telah tersertifikasi, akan tersertifikasi, telah memperoleh tunjangan profesi, dan akan memperoleh tunjangan profesi. Fakta bahwa guru telah tersertifikasi merupakan dasar asumsi yang kuat, bahwa guru telah memiliki kompetensi. Kompetensi guru tersebut mencakup empat jenis, yaitu (1) kompetensi pedagogik (2) kompetensi profesional, (3) kompetensi sosial, dan (4) kompetensi kepribadian”. Dengan demikian, penguasaan empat kompetensi tersebut mutlak harus dimiliki setiap guru untuk menjadi tenaga pendidik yang profesional seperti yang disyaratkan Undang-undang Republik Indonesia no 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Berdasarkan paparan diatas, kompetensi kepribadian merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki guru sebagai tenaga profesional. Pengertian kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantab, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak 6.

(7) mulia (Peraturan Pemerintah no 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir b) Persoalan yang muncul kemudian, bahwa guru yang diasumsikan telah memiliki kompetensi yang hanya berlandaskan pada asumsi bahwa mereka telah tersertifikasi,. tampaknya. dalam. jangka. panjang. sulit. untuk. dapat. dipertanggungjawabkan secara akademik. Bukti tersertifikasinya para guru adalah kondisi sekarang, yang secara umum merupakan kualitas sumber daya guru sesaat setelah sertifikasi. Oleh karena sertifikasi erat kaitannya dengan proses belajar, maka sertifikasi tidak bisa diasumsikan mencerminkan kompetensi yang unggul sepanjang hayat. Pasca sertifikasi seyogyanya merupakan tonggak awal bagi guru untuk selalu meningkatkan kompetensi dengan cara belajar sepanjang hayat. Untuk memfasilitasi peningkatan kompetensi guru, diperlukan manajemen pengembangan kompetensi guru. Hal ini perlu dipikirkan oleh berbagai pihak yang berkepentingan, karena peningkatan kompetensi guru merupakan indikator peningkatan profesionalisme guru itu sendiri. Berdasarkan uraian di atas, penulis untuk membahasnya dalam bentuk skripsi yang berjudul: ”Pengaruh Sarana dan Prasarana Pendidikan terhadap Profesionalisme Guru (Studi Kasus di SMA Al-Mu’awanah Cianjur)”. B.. Rumusan Masalah Berdasar kepada paparan dalam latar belakang masalah di atas,. permasalahan pada penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.. 7.

(8) 1. Bagaimanakah. keadaan. sarana. dan. prasarana. pendidikan. serta. profesionalisme guru SMA Al-Muawanah Cianjur? 2. Apakah. sarana. dan. prasarana. pendidikan. berpengaruh. terhadap. profesionalisme guru SMA Al-Muawanah Cianjur? 3. Berapa besar pengaruh sarana dan prasarana pendidikan terhadap profesionalisme guru SMA Al-Muawanah Cianjur? C.. Tujuan Penelitian. Sesuai dengan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk medeskripsikan hal-hal sebagai berikut. 1. Keadaan sarana dan prasarana pendidikan serta profesionalisme guru SMA Al-Muawanah Cianjur. 2. Pengaruh sarana dan prasarana pendidikan terhadap profesionalisme guru SMA Al-Muawanah Cianjur. 3. Besarnya. pengaruh. sarana. dan. prasarana. pendidikan. terhadap. profesionalisme guru SMA Al-Muawanah Cianjur. D.. Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan memiliki manfaat atau kegunaan bagi. berbagai pihak bagi penulis, lembaga pendidikan, serta SMA Al-Muawanah Cianjur.. 8.

(9) 1. Bagi Penulis a. Dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang pengelolaan manajemen sekolah, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan serta profesionalisme guru. b. Untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Manajemen Pendidikan Islam. 2. Bagi SMA Al-Muawanah Cianjur a. Sebagai bahan evaluasi dalam upaya pengembangan manajemen sekolah. b. Dapat memperkenalkan eksistensi SMA Al-Muawanah Cianjur di masyarakat luas serta dapat digunakan sebagai masukan. 3. Bagi Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Agama Islam Universitas Suryakancana. Sebagai tambahan referensi dan informasi, khususnya bagi akademisi mengenai bentuk-bentuk aktivitas pengelolaan manajemen sekolah. E.. Kerangka Pemikiran Salah satu aspek yang seyogyanya mendapat perhatian utama dari setiap. administrator pendidikan adalah mengenai sarana dan prasarana pendidikan. Sarana pendidikan umumnya mencakup semua peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang dalam proses pendidikan, seperti: gedung, ruang belajar/kelas, alat-alat/media pendidikan, meja, kursi dan. 9.

(10) sebagaianya. Sedangkan yang dimaksud dengan prasarana adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan, seperti: halaman, kebun/taman sekolah, jalan menuju ke sekolah. Arikunto (1993:82) mengemukakan bahwa “sarana pendidikan merupakan sarana penunjang bagi proses belajar mengajar”. Sedangkan menurut rumusan Tim Penyusun Pedoman Pembukuan Media Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dimaksud dengan sarana pendidikan adalah ”semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dan berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efesien”. Arti sarana sering kali disamakan dengan kata fasilitas. Lebih luas fasilitas diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat memudahkan dan melancarkan pelaksanaan sesuatu usaha. Usaha ini dapat berupa benda-benda maupun uang. Jadi, dalam hal ini fasilitas dapat disamakan dengan sarana. Secara mikro atau sempit maka kepala sekolah bertanggung jawab masalah pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan di tingkat satuan pendidikan yang dikelolanya. Pengelolaan tersebut mengacu kepada langkahlangkah sistematis yang meliputi (1) perencanaan, (2) pengadaan, (3) inventarisasi, (4) penyimpanan, (5) penataan, (6) penggunaan, (7) pemeliharaan dan, (8) penghapusan. Mengingat pentingnya keberadaan sarana dan prasarana pendidikan tersebut, maka pengelolaannya memerlukan perhatian dan konsistensi yang tinggi.. 10.

(11) Agar tujuan-tujuan manajemen perlengkapan bisa tercapai, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam mengelola perlengkapan di sekolah. Prinsip-prinsip yang dimaksud tersebut menurut Bafadal (2003) adalah (1) prinsip pencapaian tujuan, (2) prinsip efisiensi, (3) prinsip administratif, (4) prinsip kejelasan tanggung jawab, dan (5) prinsip kekohesifan. Sarana dan prasarana pendidikan yang baik dan layak, dapat memberikan pengaruh terhadap berbagai situasi pelaksanaan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Sarana dan prasarana pendidikan memberikan peran besar terhadap kelangsungan proses pembelajaran, kualitas pembelajaran, motivasi guru dan siswa, serta hasil akhir dari proses pembelajaran itu sendiri. Salah satu unsur yang diduga dipengaruhi oleh keberadaan sarana dan prasarana pendidikan di tingkat satuan pendidikan adalah profesionalisme guru. Profesionalisme merupakan konsep yang mengacu kepada karakteristik. Di tingkat sekolah, profesionalisme tersebut mengacu kepada sikap dan kinerja guru. Oleh karena itu, Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen memberikan batasan tentang profesionalisme guru dengan persyaratan bahwa guru profesional seharusnya memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogis, kognitif, personaliti, dan sosial. Oleh karena itu, selain terampil mengajar, seorang guru juga memiliki pengetahuan yang luas, bijak, dan dapat bersosialisasi dengan baik. Mereka harus (1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme, (2) memiliki kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang tugasnya, (3) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya. Di samping itu, mereka juga harus (4). 11.

(12) mematuhi kode etik profesi, (5) memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakan tugas, (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerjanya, (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara berkelanjutan, (8) memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesionalnya, dan (9) memiliki organisasi profesi yang berbadan hukum (sumber UU tentang Guru dan Dosen). Atas dasar pemikiran tersebut, penelitian ini memiliki paradigma sebagai berikut. Sarana dan Prasarana Pendidikan (X). Profesionalisme Guru (Y). Indikator yang digunakan pada variabel sarana dan prasarana pendidikan adalah: (1) prinsip pencapaian tujuan, (2) prinsip efisiensi, (3) prinsip administratif, (4) prinsip kejelasan tanggung jawab, dan (5) prinsip kekohesifan. Sedangkan indikator yang digunakan pada variabel profesionalisme guru adalah (1) kompetensi pedagogik,. 12.

(13) (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi sosial, dan (4) kompetensi profesional. F.. Hipotesis. Sesuai dengan rumusan masalah yang dikemukakan pada bagian terdahulu, hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Keberadaan sarana dan prasarana pendidikan serta profesionalisme guru SMA Al-Muawanah Cianjur adalah baik. 2. Terdapat. pengaruh. sarana. dan. prasarana. pendidikan. terhadap. profesionalisme guru SMA Al-Muawanah Cianjur. 3. Besar pengaruh sarana dan prasarana pendidikan terhadap profesionalisme guru SMA Al-Muawanah Cianjur di atas 50%. G. Metode Penelitian Penelitian tentang ”Pengaruh Sarana dan Prasarana Pendidikan terhadap Profesionalisme Guru (Studi Kasus di SMA Al-Mu’awanah Cianjur)” ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif survey. Singarimbun (2003:3) mengemukakan bahwa penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok. Sementara itu, Sugiyono (2004:11) mengemukakan bahwa menurut tingkat eksplanasinya, penelitian ini termasuk ke dalam penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif adalah penelitian yang. 13.

(14) mencari pengaruh antara satu variabel dengan variabel lainnya. Variabel yang dimaksud dalam penelitian ini adalah (1) sarana dan prasarana pendidikan dan (2) profesionalisme guru. H. Lokasi dan Sampel Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMA Al-Mu’awanah Jl. Taifur Yusuf No. 43 Cianjur dengan populasi seluruh guru SMA Al-Muawanah Cianjur yang berjumlah 18 orang. Mengingat jumlah populasi tersebut sedikit, maka seluruh populasi digunakan sebagai sampel penelitian, atau dengan menggunakan sampel sensus.. 14.

(15) BAB II KAJIAN TEORETIS. A. Kajian Teoretis 1. Sarana dan Prasarana Pendidikan a. Pengertian Sarana dan Prasarana Manajemen Sarana dan prasarana pendidikan memiliki peran penting dalam pencapaian tujuan pendidikan baik bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Perencanaan pengadaan, pemanfaatan dan pemeliraharaan sarana dan prasarana pendidikan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kajian manajemen pendidikan. Sarana dan prasarana pendidikan pada sekolah menengah tingkat atas (SMA) merupakan suatu komponen yang menentukan terlaksananya kegiatan belajar mengajar pada SMA bersamaan dengan komponen pendukung yang lainnya. Proses belajar mengajar dapat berlangsung jika ada pendidik, peserta didik, alat pendidikan dan lingkungan pendidikan yang mendukung. Semua faktor merupakan sebuah siklus dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan yang ideal sebagaimana yang dimaksud dalam UndangUndang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu banyak komponen pendidikan yang merupakan sebagai satu kesatuan sistem yang lengkap dan terpadu untuk menggerakkan pembelajaran kepada manusia secara sempurna. 15.

(16) sehingga pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat berjalan sebagaimana yang telah direncanakan. Salah satu komponen tersebut adalah sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Lebih tegas lagi dalam pasal 42 bahwa “setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan”. Sedangkan pada ayat (2) menekankan bahwa setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berekreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Penjelasan di atas sejalan dengan pandangan Mulyasa (2007:49) menyatakan bahwa: ”Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan untuk menunjang proses pendidikan, khususnya dalam proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja, kursi serta alat-alat dan media pengajaran”. Adapun yang dimaksud prasarana pendidikan atau pengajaran dalam proses pembelajaran, seperti halaman sekolah, kebun sekolah, taman sekolah dan jalan menuju sekolah. Prasarana yang dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar mengajar di sekolah, seperti taman sekolah untuk pembelajaran biologi, halaman sekolah sekaligus sebagai lapangan olah raga dan lain sebagainya.”. 16.

(17) Komponen-komponen sebagaimana yang disebutkan di atas merupakan sarana pendidikan yang mutlak harus ada dan mempunyai standar, di samping prasarana yang lainnya, sebagai penunjang dalam pembelajaran, hal ini, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 1 poin 8 yaitu : ”Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.” Berdasarkan paparan definisi para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa sarana dan prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang proses pendidikan di sekolah. Dalam pendidikan misalnnya lokasi atau tempat, bangunan sekolah, lapangan olahraga, ruang dan sebagainya. Sedangkan sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan, bahan dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah, seperti: ruang, buku, perpustakaan, labolatorium dan sebagainya. b. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan Manajemen berasal dari kata to manage yang artinya mengatur. Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dan fungsifungsi manajemen itu. G.R. Terry menyatakan bahwa manajemen adalah satu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya. 17.

(18) manusia dan sumber-sumber Lainnya. Jadi manajemen itu merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan Ada kaitan yang erat antara organisasi, administrasi dan manajemen. Administrasi dan manajemen tidak dapat dipisahkan dan harus merupakan suatu kesatuan, hanya saja kegiatannya yang dapat dibedakan sesuai dengan perbedaan kedua wawasan. Administrasi lebih sempit dari manajemen, dalam administrasi tercakup dalam manajemen. Secara spesifik administrasi merupakan satu bidang dari manajemen sebab manajemen terdiri dari enam bidang, yakni production, marketing, financial, personal, human relation dan administrative management. Sergiovani (1987) mengemukakan bahwa manajemen merupakan proses pendayagunaan semua sumber daya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendayagunaan melalui tahapan proses yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan disebut manajemen. Hal yang sama juga berlaku bagi manajemen sarana dan prasarana pendidikan. Dalam ruang lingkup manajemen sekolah, manajemen sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu bagian yang mutlak harus ada dalam sistem pendidikan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menegaskan bahwa keberlangsungan pendidikan di Indonesia untuk mencapai standar nasional pendidikan harus dapat memenuhi seluruh aspek dari 8 standar nasional pendidikan. Kedelapan standar tersebut meliputi (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan pendidikan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian. 18.

(19) pendidikan. Berdasar kepada peraturan tersebut jelaslah bahwa keberadaan sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu aspek yang tidak boleh diabaikan. Untuk menghindari kesalahan dalam memahami maksud sarana dan prasarana pendidikan, pendapat Mulyasa (2007:49) yang menyatakan bahwa ”sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan untuk menunjang proses pendidikan, khususnya dalam proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja, kursi serta alat-alat dan media pengajaran”, perlu dipahami secara mendalam. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Murniati (2008:71) bahwa ”manajemen merupakan kegiatan mengatur berbagai sumber daya, baik manusia maupun material, dalam rangka melakukan berbagai kegiatan suatu organisasi untuk mencapai tujuan secara optimal” Manajemen sarana dan prasarana dengan ruang lingkup pembahasannya yaitu melakukan perencanaan terhadap kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, inventarisasi, pemeliharaan, penghapusan, dan pengawasan, untuk dapat memahami manajemen dengan baik dan benar, sebelumnya diperlukan adanya persamaan persepsi tentang pengertian manajemen sarana dan prasarana, fungsi manajemen sarana dan prasarana, proses manajemen sarana dan prasarana. Rohiat (2009:26) menyatakan bahwa: ”Manajemen sarana dan prasarana adalah kegiatan yang mengatur untuk mempersiapkan segala peralatan/ material bagi terselenggaranya proses pendidikan di sekolah. Manajemen sarana dan prasarana dibutuhkan untuk membantu kelancaran proses belajar mengajar. Sarana dan prasarana pendidikan adalah semua benda bergerak dan tidak bergerak yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, baik secara langsung maupun. 19.

(20) tidak langsung. Manajemen sarana dan prasarana merupakan keseluruhan proses peren‐canaan pengadaan, pendayagunaan, dan pengawasan sarana dan prasarana yang digunakan agar tujuan pendidikan di sekolah dapat dicapai dengan efektif dan efesien. Kegiatan manajemen sarana dan prasarana meliputi (1) perencanaan kebutuhan, (2) pengadaan, (3) penyimpanan, (4) penginventarisasian, (5) pemeliharaan, dan (6) penghapusan sarana dan prasarana pendidikan.”. Menurut Soebagio, M. S. (2001), manajemen sarana dan prasarana merupakan. proses. kegiatan. perencanaan,. pengorganisassian,. pengadaan,. pemeliharaan, penghapusan dan pengendalian logistik atau perlengkapan. Dengan demikian, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa manajemen sarana dan prasarana pendidikan adalah semua komponen yang sacara langsung maupun tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan untuk mencapai tujuan dalam pendidikan itu sendiri. c. Perencanaan Sarana dan Prasarana Pendidikan Untuk mengatur dan mempersiapkan segala peralatan dan material yang dibu‐ tuhkan sebagai penunjang demi lancarnya proses kegiatan belajar mengajar di sekolah/ madrasah perlu adanya sumber daya manusia yang mempunyai kapasitas tentang itu. Pengalaman yang dimiliki seseorang baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun dalam keahlian (SDM) akan berpengaruh besar dalam melakukan perencanaan kebutuhan, pemanfaatan sarana dan prasarana pendidikan. Ilmu manajemen mengupas tentang usaha‐usaha manusia dalam memamfaatkan semua potensi yang ada secara optimal guna mencapai tujuan yang diharapkan, demikian pula dalam bidang pendidikan pada tingkat madrash Ibtidaiyah guna mencapai tujuan lembaga pendidikan tersebut perlu ditetapkan praktek‐praktek manajemen.. 20.

(21) Dubrin dalam Rasima (2007:11) menegaskan bahwa “sumber daya yang dimaksudkan dalam manajemen dapat dibagi ke dalam empat bentuk yaitu:. (a) Human Resourse, adalah manusia yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaan. (b) Finansial resourse, merupakan uang yang dipergunakan manajer dan organisasi untuk meembiayai pekerjaan guna mencapai tujuan organisasi; (c) Physical Resourse, merupakan barang dan bangunan termasuk bahan baku, ruang kantor, fasilitas produksi, dan peralatan kantor yang dipergunakan untuk beroperasinya suatu organisasi; (d) Informasional resourse, merupakan data yang dipergunakan manajer dan organisasi sebagai dasar pertimbangan untuk menjalankan pekerjaan dalam mencapai tujuan organisasi. Kemampuan manajerial kepala sekolah dalam mengoperasionalkan, menggerakkan sumberdaya manusia secara maksimal dan mendayagunakan sarana dan prasarana secara efektif, kesemuanya itu adalah sebagai faktor penunjang dalam meningkatkan kualitas keluaran pendidikan. Atmodiwirio (2005:161) menyatakan bahwa: “kepala sekolah adalah seorang guru (jabatan fungsional) yang diangkat untuk menduduki jabatan struktural (kepala Sekolah). Ia adalah pejabat yang ditugaskan untuk mengelola sekolah”. Semakin kompleknya kebutuhan dalam menyelenggarakan pendidikan, semakin besar akan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan, semakin majunya pengetahuan maka semakin sistematis penataan dan pendekatan yang diperlukan. Oleh karena itu, kepala sekolah harus menjadikan kebutuhan terhadap penerapan manajemen dan menjalankan fungsi-fungsinya dalam bidang pendidikan. Lebih lanjut, Suryobroto (2005:115) berpendapat bahwa: ”pada garis besarnya manajemen sarana dan prasarana meliputi lima hal yakni: a) penentuan. 21.

(22) kebutuhan, b) proses pengadaan, c) pemakaian, d) pengurus dan pencatatan, e) pertanggungjawaban. Dalam hal ini Bafadal (2008:27) menawarkan beberapa kriteria perencanaan pengadaan perlengkapan sekolah sebagai berikut. a) Perencanaan perlengkapan sekolah itu merupakan proses menetapkan dan memikirkan. b) Objek pikir dalam perencanaan perlengkapan sekolah adalah upaya memenuhi sarana dan prasarana pendidikan yang dibutuhkan sekolah. c) Tujuan perencanaan perlengkapan sekolah harus memenuhi prinsipprinsip: (1) Perencanaan perlengkapan sekolah harus betul-betul merupakan proses intelektual; (2) Perencanaan didasarkan pada analisis kebutuhan melalui studi komprehensif mengenai masyarakat sekolah dan kemungkinan pertumbuhannya serta prediksi populasi sekolah. (3) Perencanaan perlengkapan sekolah harus realitis, sesuai dengan kenyataan anggaran. (4) Visualisasi hasil perencanaan perlengkapan sekolah harus jelas dan rinci, baik jumlah, jenis, merek, dan harganya. Kriteria di atas perlu ditaati, di samping itu ada beberapa langkah perencanaan, pengadaan, perlengkapan yang perlu di perhatikan. Lebih lanjut Bafadal (2008:29), berpendapat bahwa ada beberapa langkah perencanaan pengadaan perlengkapan pendidikan disekolah, yaitu sebagai berikut: a) Menampung semua usulan pengadaan perlengkapan sekolah yang diajukan setiap unit kerja sekolah dan atau menginvestasikan kekurangan perlengkapan sekolah. b) Menyusun rencana kebutuhan perlengkapan sekolah untuk peiode tertentu, misalnya untuk satu triwulan atau satu tahun ajaran. c). Memadukan rencana kebutuhan yang telah disusun dengan perlengkapan yang telah tersedia sebelumnya. Dalam rangka itu, perencana atau panitia pengadaan mencari informasi tentang perlengkapan yang telah dimiliki oleh sekolah. salah satu cara adalah dengan jalan membaca buku inventaris atau buku induk barang, Berdasarkan panduan tersebut lalu disusun rencana. 22.

(23) kebutuhan perlengkapan, yaitu membuat daftar semua perlengkapan yang dibutuhkan disekolah.. d) Memadukan rencana kebutuhan dengan dana atau anggaran sekolah yang telah tersedia. Apabila dana yang tersedia tidak mencukupi untuk pengadaan kebutuhan ini maka perlu dilakukan seleksi terhadap semua kebutuhan perlengkapan yang telah direncanakan, dengan melihat urgensi setiap perlengkapan tersebut. semua perlengkapan yang urgen segera didaftar. e) Memadukan rencana (daftar) kebutuhan perlengkapan dengan dana atau anggaran yang ada. Apabila ternyata masih melebihi dari anggaran yang tersedia perlu dilakukan seleksi lagi dengan cara membuat skala peioritas. f) Penetapan rencana pengadaan akhir. Sucipto, Basuki Mukti (2004) berpendapat bahwa tidak dapat kita pisahkan antara kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan sarana dan prasarana guna menyukseskan pendidikan di sekolah. Maka hal utama yang harus dilakukan dalam pengelolaan perlengkapan sekolah adalah pengadaan sarana dan prasarana. Aktivitas pertama dalam manajemen sarana prasarana pendidikan adalah pengadaan sarana prasarana pendidikan. Pengadaan perlengkapan pendidikan biasanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan perkembangan pendidikan di suatu sekolah menggantikan barang-barang yang rusak, hilang, di hapuskan, atau sebab-sebab lain yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga memerlukan pergantian, dan untuk menjaga tingkat persediaan barang setiap tahun dan anggaran mendatang. Kebutuhan akan sarana dan prasarana di sekolah haruslah direncanakan. Sebagai manajer pendidikan, kepala sekolah haruslah mempunyai proyeksi kebutuhan sarana dan prasarana untuk jangka panjang, jangka menengah, jangka pendek. Proyeksi kebutuhan akan sarana dan prasana sekolah dibuat dengan. 23.

(24) mempertimbangkan dua aspek, ialah kebutuhan aspek pendidikan di satu pihak dan kemampuan sekolah di pihak lain. Setelah rencana pengadaan sarana dan prasarana dibuat langkah berikutnya yakni pengadaan sarana dan prasarana sesuai dengan kebutuhan sekolah. Pengadaan sarana dan prasrana ini, bisa dilakukan dengan pembelian, meminta sumbangan, pengajuan bantuan ke pemerintah (untuk sekolah-sekolah negeri) dan pengajuan kepihak yayasan (untuk sekolah-sekolah swasta), pengajauan ke komite sekolah (dewan sekolah), tukar menukar dengan sekolah lain dan menyewa. Tim yang ditunjuk untuk melakukan pengadaan sarana dan prasarana sekolah hendaknya membuat daftar ceklis tentang berbagai jenis sarana dan prasarana yang akan diadakan, semua spesifikasi teknis, standar kualitas akan mudah direalisasi dan dikontrol. Oleh karena itu, agar spesifikasi teknis, standar kualitas dan utilitas sarana dan prasarana yang proses pengadaannya dengan meminta sumbangan atau bantuan dari pemerintah tidak mengalami deviasi, perlu dibuat proposal yang jelas. Sebelum proposal diselesaikan, tim yang ditunjuk oleh sekolah melakukan survey baik terhadap harga, merek dan kualifikasi barang yang dibutuhkan sebagai kajian banding atas berbagai jenis barang dengan merk dan spesifikasi teknisnya, sehingga jenis barang yang akan diminta dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya (standar kualitasnya). Kemampuan sekolah sangat menentukan dalam merumuskan kebutuhannya sendiri (termasuk di dalamnya sarana dan prasarana sekolah), dengan memenuhi aspek utilitas dan memenuhi syarat standar kualitas.. 24.

(25) d. Pemanfaatan Sarana dan Prasraana Pendidikan Manajemen aset sekolah merupakan upaya untuk mengelola saranaprasarana sekolah agar nilai gunanya tidak merosot. Kata ”pemanfaatan” adalah serangkaian kegiatan terencana dan sistematis yang dilakukan secara rutin maupun berkala, jadi anjuran untuk memanfaatkan sarana dan prasarana pendidikan dimuat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 2 tahun 1993 tentang Sistem Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan bahwa ”guru wajib mengunakan perangkat atau sarana pendidikan seperti laboratorium untuk kegiatan proses belajar mengajar dan dibarengi dengan peningkatan frekuensi penggunaan secara maksimal”. Berdasarkan peraturan pemerintah tersebut menggunakankan sarana pendidikan merupakan kewajiban. Bafadal (2008:42) menawarkan bahwa ”ada tiga hal pokok yang perlu dilakukan oleh personal sekolah yang akan memakai perlengkapan di sekolah, yaitu: (a) memahami petunjuk penggunaan perlengkapan pendidikan, (b) menata perlengkapan pendidikan, (c) memelihara, baik secara kontinyu maupun berkala terhadap perlengkapan pendidikan. e. Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan Aset sekolah, baik gedung, dan lingkungannya merupakan wahana belajar yang perlu diperlakukan sebagai “amanah” yang perlu dikelola dengan baik. Manajemen sekolah sepenuhnya bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan pemeliharaan baik dalam bentuk. perumusan, rincian pekerjaan, tugas serta. kegiatan adalah berdasarkan pada hirarkis organisasi, orang-orang yang memiliki. 25.

(26) kesanggupan dan kemampuan melaksanakannya sebagai prasyarat bagi terciptanya kerjasama yang harmonis dan optimal untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Kelancaran operasional pemeliharaan dilakukan sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan dan dibutuhkan organisasi pelaksana dengan ketentuan: a) Seluruh personil mempunyai tugas, tanggung jawab, dan wewenang yang jelas dan terukur. b) Seluruh personil merupakan bagian dari manajemen sekolah, komite sekolah, wali murid dan masyarakat sekitarnya yang dianggap memiliki kepedulian dan pengalaman serta memahami permasalahan dibidang bangunan gedung beserta sarana penunjangnya. c) Seluruh personil tersebut siap untuk mengabdikan tenaga, waktu dan pikiran demi tujuan dalam menjaga, memelihara dan merawat gedung sekolah. Secara makro manajemen aset ini menyangkut kegiatan inventarisasi atau penyusunan data-base sarana-prasarana sekolah, penyusunan program pemeliharaan, perawatan, perbaikan dan pembangunan (kembali) gedung sekolah, perangkat dan lingkungannya. Secara mikro, manajemen aset sekolah di tingkat sekolah sendiri menyangkut upaya pemeliharaan dan perawatan kecil yang dilakukan oleh warga sekolah sendiri (siswa, guru, penjaga, komite sekolah, masyarakat sekitar). Pemeliharaan perlengkapan sekolah, seperti perabot dan peralatan kantor, serta pengajaran dilakukan pemeliharaan secara kontinyu dan berkala agar selalu. 26.

(27) dalam keadaan siap pakai. Sarana dan Prasarana sekolah yang difokuskan untuk didata dan dilakukan kegiatan pemeliharaannya terutama: ruang kelas, ruang guru, ruang pimpinan, perpustakaan, laboratorium (IPA), ruang UKS, tempat ibadah, jamban (KM/WC), gudang, ruang sirkulasi dan tempat bermain/olah raga. Tujuan kegiatan pemeliharaan Sarana dan Prasarana adalah: (a) untuk memelihara prasarana secara berkelanjutan; (b) adanya jaminan terhadap kualitas prasarana; (c) adanya keuntungan yang berkelanjutan dari hasil pemanfaatan prasarana. Dengan kata lain, pemeliharaan Sarana-Prasarana sekolah dan lingkungannya dimaksudkan untuk: (a) Untuk mengoptimalkan pemakaian dan umur bangunan, jika dilihat dari faktor ekonomis bahwa memelihara adalah untuk mencapai efisiensi penggunaan anggaran perawatan. (b) menjamin kesiapan operasional penggunaan gedung dan penunjangnya, sehingga kegiatan yang dilakukan dapat optimal. (c) menjamin keandalan bangunan melalui kegiatan pengecekan secara rutin dan teratur. (d) menjamin keselamatan orang atau siswa yang menggunakan gedung beserta sarana penunjangnya. Beberapa tindakan awal yang perlu dilakukan ialah sebagai berikut. a. Membangkitkan rasa memiliki sekolah kepada seluruh siswa. b. Membina siswa untuk disiplin dengan cara yang efektif dan di terima oleh semua siswa. c. Memupuk rasa tanggung jawab kepada siswa untuk menjaga dan memelihara keutuhan dari sarana dan prasarana gedung sekolah yang ada. Siswa. 27.

(28) dilibatkan dalam hal kegiatan positif yaitu: (1) Regu piket harian (2) Kegiatan Jumat bersih (3) Lomba kebersihan kelas setahun (atau enam bulan) sekali. d. Sarana dan prasarana gedung sekolah disiapkan secara prima sehingga tidak mudah rusak jika digunakan secara benar. e. Memberikan arahan/pengaruh yang dapat menyebabkan guru dan kepala sekolah tergerak untuk melaksanakan tugas dan kegiatannya secara bersamabersama melakukan upaya pemeliharaan. f. Melakukan pembinaan dan kerjasama dengan masyarakat di luar sekolah. f. Prinsip-prinsip Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan Agar tujuan-tujuan manajemen perlengkapan bisa tercapai ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam mengelola perlengkapan di sekolah, prinsip-prinsip yang dimaksud tersebut menurut Bafadal (2003) adalah sebagai berikut. 1) Prinsip Pencapaian Tujuan Pada dasarnya manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah diterapkan dengan maksud agar semua fasilitas sekolah dalam keadaan kondisi siap pakai. Oleh sebab itu, manajemen sarana dan prasarana pendidikan dapat di katakan berhasil bilamana fasilitas sekolah itu selalu siap pakai setiap saat, apabila akan didayagunakan oleh personel sekolah dalam rangka pencapaian tujuan proses pembelajaran di sekolah.. 28.

(29) 2) Prinsip Efisiensi Dengan prinsip efisiensi semua kegiatan pengadaan sarana dan prasarana sekolah di lakukan dengan perencanaan yang hati, sehingga bisa memperoleh fasilitas yang berkualitas baik dengan harga yang relatif murah. Dengan prinsip efisiensi berarti bahwa pemakaian semua fasilitas sekolah hendaknya dilakukan dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat mengurangi pemborosan. Maka perlengkapan sekolah hendaknya dilengkapi dengan petunjuk teknis penggunaan dan pemeliharaannya. Petunjuk teknis tersebut di komunikasikan kepada semua personil sekolah yang. diperkirakan. akan. menggunakannya.. Selanjutnya,. bilamana. dipandang perlu, di lakukan pembinaan terhadap semua personel. 3) Prinsip Administratif Di Indonesia terdapat sejumlah peraturan perundang-undangan yang berkenaan dengan sarana dan prasarana pendidikan, sebagai contoh adalah peraturan tentang inventarisasi dan penghapusan perlengkapan milik negara. Dengan prinsip administratif berarti semua perilaku pengelolaan perlengkapan pendidikan di sekolah itu hendaknya selalu memperhatikan undang-undang, peraturan, instruksi, dan pedoman yang telah diberlakukan oleh pemerintah. Sebagai upaya penerapannya, setiap penanggung jawab pengelolaan perlengkapan pendidikan hendaknya memahami semua peraturan perundang-undangan tersebut dan menginformasikan kepada semua personel sekolah yang diperkirakan akan berpartisipasi dalam pengelolaan perlengkapan pendidikan.. 29.

(30) 4) Prinsip Kejelasan Tanggung Jawab Di Indonesia tidak sedikit adanya kelembagaan pendidikan yang sangat besar dan maju. Oleh karena besar, sarana dan prasarananya sangat banyak sehingga manajemennya melibatkan banyak orang. Bilamana hal itu terjadi, maka perlu adanya pengorganisasian kerja pengelolaan perlengkapan pendidikan. Dalam pengorganisasiannya, semua tugas dan tanggung jawab semua orang yang terlibat itu perlu di deskripsikan dengan jelas. 5) Prinsip Kekohesifan Dengan prinsip kekohesifan berarti manajemen perlengkapan pendidikan di sekolah hendaknya terealisasikan dalam bentuk proses kerja sekolah yang sangat kompak. Oleh karena itu, walaupun semua orang yang terlibat dalam pengelolaan perlengkapan itu telah memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing, namun antara satu dengan yang lainnya harus selalu bekerja sama dengan baik. 2. Profesionalisme Guru a. Pengertian Profesionalisme Dalam konteks profesionalisme terdapat tiga istilah yang dibahas, yakni profesi, profesional, dan profesionalisme.. 30.

(31) 1) Profesi Profesi adalah riwayat pekerjaan, pekerjaan (tetap), pencaharian pekerjaan yang merupakan sumber penghidupan. Soejipto dan Raflis Kosasih mengutip pendapat Ornnstein dan Levine menyatakan bahwa profesi adalah jabatan, dia menulis beberapa tentang pengertian profesi yaitu (1) melayani masyarakat merupakan karier yang akan dilaksanakan sepanjang hayat (tidak berganti-ganti pekerjaan); (2) memerlukan bidang dan keterampilan tertentu di luar jangkauan khayalak ramai (tidak setiap orang dapat melakukannya); (3) memerlukan perhatian khusus dengan waktu yang panjang. Kata profesi dapat diketahui dari tiga sumber makna, yaitu makna etimology, makna terminology, dan makna sociology. Secara etimologi, profesi berasal dari istilah bahasa Inggris profession atau bahasa Latin profecus, yang artinya mengakui, pengakuan, menyatakan mampu, atau ahli dalam melaksanakan pekerjaan tertentu. Secara terminology, profesi dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya yang ditekankan pada pekerjaan mental, bukan pekerjaan manual. Kemampuan mental di sini menurut Sudarwan Danim (2002:21) adalah: “adanya persyaratan pengetahuan teoritis sebagai instrument untuk melakukan perbuatan praktis.” Merujuk pada definisi ini, pekerjaan-pekerjaan yang menuntut keterampilan manual atau fisikal, meskipun levelnya tinggi, tidak digolongkan dalam profesi. Secara sosiologi dikemukakan Carr-Saunders dalam Peter Jarvis (1992:21). 31.

(32) bahwa: “profession may perhaps be defined as an accupation bessed upon specialized intellectual study and training. The purpose of wich is to supply skilled service or advice to other for definite fee or salary.” Sedangkan Cogan (1953) dalam Peter Jarvis (1992:21) memberikan batasan “… that a profession is vacation of some practice is founded upon an understanding of teoritical structure of some depertemen of learning or science.” Menurut Makmun (1996:47) “profesi menunjukkan suatu kepercayaan (to profess mean to trust), bahkan suatu keyakinan (to belief in) atas suatu kebenaran (ajaran agama) atau kredibilitas seseorang, dan menunjukkan suatu pekerjaan atau urusan tertentu (a particular business).” 2) Profesional Profesional adalah tindakan melakukan pekerjaan yang sudah dikuasai atau telah dibandingkan baik secara konsepsional secara teknik atau latihan. Menurut S. Prayudi A, (1979), istilah profesional dapat diartikan pula sebagai: “usaha untuk menjalankan salah satu profesi berdasarkan keahlian dan keterampilan yang dimiliki seseorang dan berdasarkan profesi itulah seseorang mendapatkan suatu imbalan pembayaran berdasarkan standar profesinya.” 3) Profesionalisme Istilah profesionalisme diangkat dari bahasa Inggris professionalism yang secara leksikal berarti “sifat professional” (Sudarwan Danim, 2002:23).. 32.

(33) Pandji Anoraga & Sri Suyati (1995:85) menyatakan “profesionalisme merupakan suatu tingkah laku, suatu tujuan atau rangkaian kualitas yang menandai atau melukiskan coraknya suatu profesi.” Profesinalisme mengandung pula pengertian menjalankan suatu profesi untuk keuntungan atau sebagai sumber kehidupan. Menurut Arifin (2002:78), professionalisme mengandung arti yang sama dengan kata occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus. Profesionalisme berarti suatu pandangan bahwa suatu keahlian tertentu diperlukan dalam pekerjaan tertentu yang keahlian itu hanya diperoleh melalui pendidikan khusus atau latihan. Sedangkan Ahmad Tafsir (2004:16) mengatakan profesionalisme ialah faham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang profesional. Orang yang profesional adalah orang yang memiliki profesi, sedangkan profesi itu harus mengandung keahlian artinya suatu program itu mesti dilandasi oleh suatu keahlian khusus untuk profesi. Profesionalisme berasal dari istilah professional yang dasar katanya adalah profesi (profession). Makmun (1996:48) mengemukakan bahwa profesional berarti persyaratan yang memadai sebagai suatu profesi. Selain itu menurut Tilaar (1999) istilah profesional mengandung makna: (1) sesuatu yang bersangkutan dengan profesi, (2) memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, (3) mengharuskan adanya pembayaran untuk melaku-kannya (lawan amatir). Menurut Dedi Supriyadi (1998:95) dan Sudarwan Danim (2002:22), kata professional. 33.

(34) merujuk pada dua hal: Pertama, adalah orang yang menyandang sutau profesi, orang yang biasanya melakukan pekerjaan secara otonom dan dia mengabdi diri pada pada pengguna jasa disertai rasa tanggung jawab atas kemampuan profesionalnya, atau penampilan seseorang yang sesuai dengan ketentuan profesi. Kedua, adalah kierja atau performance seseorang dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya. Pada tingkat tinggi, kinerja itu dimuati unsurunsur kiat atau seni (art) yang menjadi ciri tampilan professional seorang penyandang profesi. Profesionalisme dalam pendidikan tidak lain ialah seperangkat fungsi dan tugas dalam lapangan pendidikan berdasarkan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan khusus di bidang pekerjaan yang mampu menekuni bidang profesinya selama hidupnya. Mereka itu adalah para guru yang profesional yang memiliki kompetensi keguruan berkat pendidikan atau latihan di lembaga pendidikan guru dalam jangka waktu tertentu. Dari beberapa pendapat di atas dapat dikatakan bahwa profesionalisme merupakan suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut didalam pengetahuan dan teknologi dasar untuk diimplementasikan dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat. Mengingat pentingnya profesionalisme, dalam Hadits Shahih Al-Jamius Shahih Bukhari Muslim dikemukakan bahwa: Artinya “Sesungguhnya Allah tidaklah menahan ilmu dari manusia, tetapi dia akan menahan ilmu dengan ditahannya (diambilnya) para ulama, sehingga jika sudah tidak ada lagi seorang alim ahli maka manusia selalu mengangkat orang-orang yang bodoh sebagai pemimpin mereka. 34.

(35) Maka bertanyalah orang-orang, lalu dijawablah dengan tanpa ilmu, maka sesatlah mereka dan menyesatkan”. (HR. Bukhari, Muslim). Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwasanya seorang pemimpin haruslah orang yang mempunyai keahlian oleh karena itu dianjurkan untuk menguasai ilmu pengetahuan agar rakyatnya atau umatnya tidak tertindas dan mampu membawa mereka ke jalan yang lebih baik demikan juga dengan umatnya untuk menuntut ilmu sebagai bekal ilmu pengetahuan dan penerus sebagai pemimpin yang profesional. Guru adalah seorang pemimpin. Bahkan, lebih dari itu, guru memiliki peran yang sangat sentral dalam membentuk pribadi-pribadi pemimpin. Akhirnya penulis menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pengertian profesionalisme adalah suatu paham yang menciptakan dilakukannya berbagai kegiatan kerja tertentu dalam kehidupan masyarakat dengan berbekal keahlian yang tinggi dan berdasarkan pada rasa keterpanggilan jiwa dengan semangat untuk melakukan pengabdian memberikan bantuan layanan pada sesama manusia b. Karakteristik Profesi Uraian tentang profesi, professional, profesionalisme, dan profesionalisasi yang dikemukakan di atas sebenarnya sudah memberikan gambaran dan penjelasan secara nyata tentang sifat-sifat khas atau karakteristik dari sebuah profesi. Telaahan tentang karakteristik profesi telah banyak dilakukan para pakar yang meminatinya, namun menurut Makmun (1996:48) “tidak ada kesimpulan hasil kajian para pakar tersebut mengenai perangkat karakteristik keprofesian.”. 35.

(36) Ornstein & Levine dalam Soetjipto dan Raflis Kosasi (1999:15) menyatakan bahwa profesi itu adalah jabatan yang memiliki beberapa karakteristik. Ornstein & Levine mengemukakan paling sedikit ada 14 karakteristik sebuah profesi seperti yang diuraikannya di bawah ini a) Melayani masyarakat, merupakan karier yang akan dilaksanakan sepanjang hayat (tidak berganti-ganti pekerjaan). b) Memerlukan bidang ilmu dan keterampilan tertentu di luar jangkauan khalayak ramai (tidak setiap orang dapat melakukannya). c) Menggunakan hasil penelitian dan aplikasi dari teori ke praktik (teori baru dikembangkan dari hasil penelitian). d) Memerlukan pelatihan khusus dengan waktu yang panjang. e) Terkendali berdasarkan lisensi baku dan atau mem-punyai persyaratan masuk (untuk menduduki jabatan tersebut memerlukan izin tertentu atau ada persya-ratan khusus yang ditentukan untuk dapat mendu-dukinya). f) Otonomi dalam membuat keputusan tentang ruang lingkup kerja tertentu (tidak diatur oleh orang luar). g) Menerima tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil dan unjuk kerja yang ditampilkan yang ber-hubungan dengan layanan yang diberikan (langsung bertanggung jawab terhadap apa yang diputuskannya, tidak dipindahkan ke atasan atau instansi yang lebih tinggi). Mempunyai sekumpulan unjuk kerja yang baku. h) Mempunyai komitmen terhadap jabatan dan klien; dengan penekanan terhadap layanan yang akan diberikan. i) Menggunakan administrator untuk memudahkan profesinya; relative bebas dari supervisi dalam jaba-tan (misalnya dokter memakai tenaga administrasi untuk mendapat klien, sementara tidak ada supervisi dari luar terhadap pekerjaan dokter itu sendiri). j) Mempunyai organisasi yang diatur oleh anggota profesi sendiri. k) Mempunyai asosiasi profesi dan atau kelompok ‘elite’ untuk mengetahui dan mengakui keberhasilan anggo-tanya (keberhasilan tugas dokter dievaluasi dan dihargai oleh organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), bukan oleh Departemen Kesehatan). l) Mempunyai kode etik untuk menjelaskan hal-hal yang meragukan atau menyangsikan yang berhubungan dengan layanan yang diberikan.. 36.

(37) m) Mempunyai kadar kepercayaan yang tinggi dari public dan kepercayaan diri setiap anggotanya (anggota masyarakat selalu menyakini dokter lebih tahu tentang penyakit pasien yang dilayaninya). n) Mempunyai status sosial dan ekonomi yang tinggi (bila dibanding dengan jabatan lainnya). Tidak berbeda jauh dengan ciri-ciri tersebut di atas, Sanusi et.al (1991) mengemukakan ciri-ciri utama suatu profesi itu sebagai berikut: 1. Suatu jabatan yang memiliki fungsi dan signifikansi sosial yang menentukan (crusial). 2. Jabatan yang menentukan keterampilan/keahlian tertentu. 3. Keterampilan/keahlian yang dituntut jabatan itu didapat melalui pemecahan masalah dengan menggunakan teori dan metode ilmiah. 4. Jabatan itu berdasarkan pada batang tubuh disiplin ilmu yang jelas, sistematik, eksplisit yang bukan hanya sekedar pendapat khalayak umum. 5. Jabatan itu memerlukan pendidikan tingkat perguruan tinggi dengan waktu yang cukup lama. 6. Proses pendidikan untuk jabatan itu juga merupakan aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai professional itu sendiri. 7. Dalam memberikan layanan kepada masyarakat, anggota profesi itu berpegang teguh pada kode etik yang dikontrol oleh organisasi profesi. 8. Tiap anggota profesi mempunyai kebebasan dalam memberikan judgement terhadap permasalahan profesi yang dihadapinya. 9. Dalam praktiknya melayani masyarakat, anggota profesi otonom dan bebas dari campur tangan orang luar. 10. Jabatan ini mempunyai prestise yang tinggi dalam masyarakat, dan oleh karenanya memperoleh imbalan yang tinggi pula. Oteng Sutisna (1993:303) yang mengutif pendapat More (1970) menyebutkan ciri-ciri profesi adalah sebagai berikut: 1. Seorang professional menggunakan waktu penuh untuk menjalankan pekerjaannya. 2. Terikat oleh suatu panggilan hidup dan dalam hal ini memperlakukan pekerjaannya sebagai perangkat norma kepatuhan dan perilaku. 3. Anggota organisasi professional yang formal.. 37.

(38) 4. Menguasai pengetahuan yang berguna dan keterampilan atas dasar latihan spesialisasi atau pendidikan yang sangat khusus. 5. Terikat oleh pengabdian.. syarat-syarat. kompetensi,. kesadaran. prestasi,. dan. 6. Memperoleh otonomi berdasarkan spesialisasi teknis yang tinggi sekali. Sementara Volmer & Mills dalam Abin Syamsuddin (1996:47) mengajukan unsur-unsur essensial profesi adalah ”Suatu dasar teori sistematis, adanya kewenangan yang diakui oleh klien; sanksi dan pengakuan masyarakat atas kewenangan ini, adanya kode etik yang mengatur hubungan-hubungan dari orangorang professional dengan klien dan teman sejawat, dan adanya kebudayaan profesi atau nilai-nilai, norma, dan lambang-lambang”. c. Profesionalisme Guru Dalam pendidikan, guru adalah seorang pendidik, pembimbing, pelatih, dan pemimpin yang dapat menciptakan iklim belajar yang menarik, memberi rasa aman, nyaman dan kondusif dalam kelas. Keberadaannya di tengah-tengah siswa dapat mencairkan suasana kebekuan, kekakuan, dan kejenuhan belajar yang terasa berat diterima oleh para siswa. Kondisi seperti itu tentunya memerlukan keterampilan dari seorang guru, dan tidak semua mampu melakukannya. Menyadari hal itu, maka penulis menganggap bahwa keberadaan guru profesional sangat diperlukan. Guru yang profesional merupakan faktor penentu proses pendidikan yang bermutu. Untuk dapat menjadi profesional, mereka harus mampu menemukan jati diri dan mengaktualkan diri. Pemberian prioritas yang sangat rendah pada pembangunan pendidikan selama beberapa puluh tahun terakhir telah berdampak. 38.

(39) buruk yang sangat luas bagi kehidupan berbangsa dan bernegara (Asrorun Ni’am Sholeh, 2006:. 9). Mengomentari mengenai adanya keterpurukan dalam pendidikan saat ini, penulis sangat menganggap penting akan perlunya keberadaan guru profesioanal. Untuk itu, guru diharapkan tidak hanya sebatas menjalankan profesinya, tetapi guru harus memiliki keterpanggilan untuk melaksanakan tugasnya dengan melakukan perbaikan kualitas pelayanan terhadap anak didik baik dari segi intelektual maupun kompetensi lainnya yang akan menunjang perbaikan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar serta mampu mendatangkan prestasi belajar yang baik. Menyadari akan peran guru dalam pendidikan, Muhibbin Syah dalam bukunya Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru mengemukakan bahwa guru dalam pendidikan modern seperti sekarang bukan hanya sekedar pengajar melainkan harus menjadi direktur belajar. Artinya, setiap guru diharapkan untuk pandai-pandai mengarahkan kegiatan belajar siswa agar mencapai keberhasilan belajar (kinerja akademik) sebagaimana telah ditetapkan dalam sasaran kegiatan pelaksanaan belajar mengajar. Sebagai konsekuensinya tugas dan tanggung jawabnya menjadi lebih kompleks. Perluasan tugas dan tanggung jawab tersebut membawa konsekuensi timbulnya fungsi-fungsi khusus yang menjdi bagian integral dalam kompetensi profesionalisme keguruan yang disandang para guru. Menanggapi kondisi tersebut, Muhibbin Syah (2007: 250) mengutip pendapat Gagne bahwa setiap guru berfungsi sebagai: a) Designer of intruction (perancang pengajaran). 39.

(40) b) Manager of intruction (pengelola pengajaran). c) Evaluator of student learning (penilai prestasi belajar siswa). Dalam sebuah situs yang membahas mengenai profesionalisme dunia pendidikan, Suciptoardi memaparkan bahwa guru diharapkan melaksanakan tugas kependidikan yang tidak semua orang dapat melakukannya, artinya hanya mereka yang memang khusus telah bersekolah untuk menjadi guru, yang dapat menjadi guru profesional. Tidak dapat dinaifkan bahwa memang tidak mudah merumuskan dan menggambarkan profil seorang guru profesional. Suciptoardi menegaskan bahwa guru itu adalah sebuah profesi. Sebagai profesi, memang diperlukan berbagai syarat, dan syarat itu tidak sebegitu sukar dipahami, dan dipenuhi, kalau saja setiap orang guru memahami dengan benar apa yang harus dilakukan, mengapa ia harus melakukannya dan menyadari bagaimama ia dapat melakukannya dengan sebaik-baiknya, kemudian ia melakukannya sesuai dengan pertimbangan yang terbaik. Dengan berbuat demikian, ia telah berada di dalam arus proses untuk menjadi seorang profesional, yang menjadi semakin profesional.14 Menanggapi kembali mengenai perlunya seorang guru yang profesional, penulis berpendapat bahwa guru profesional dalam suatu lembaga pendidikan diharapkan akan memberikan perbaikan kualitas pendidikan yang akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Dengan perbaikan kualitas pendidikan dan peningkatan prestasi belajar, maka diharapkan tujuan pendidikan nasional akan terwujud dengan baik.. 40.

(41) Dengan. demikian,. keberadaan. guru. profesional. selain. untuk. mempengaruhi proses belajar mengajar, guru profesional juga diharapkan mampu memberikan mutu pendidikan yang baik sehingga mampu menghasilkan siswa yang berprestasi. Untuk mewujudkan itu, perlu dipersiapkan sedini mungkin melalui lembaga atau sistem pendidikan guru yang memang juga bersifat profesional dan memeliki kualitas pendidikan dan cara pandang yang maju. d. Aspek-aspek Profesionalisme Guru Dalam pembahasan profesionalisme guru ini, selain membahas mengenai pengertian profesionalisme guru, terlebih dahulu penulis akan menjelaskan mengenai kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru yang profesional. Karena seorang guru yang profesional tentunya harus memiliki kompetensi profesional. Dalam buku yang ditulis oleh E. Mulyasa (2008), kompetensi yang harus dimiliki seorang guru itu mencakup empat aspek sebagai berikut. a) Kompetensi Pedagogik Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir a dikemukakan bahwa kompetensi pedagogik adalah kemapuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya (E. Mulyasa, 2008: 75). b) Kompetensi Kepribadian Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir b, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah. 41.

(42) kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia (E. Mulyasa, 2008: 117). c) Kompetensi Profesioanal Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir c dikemukakan bahwa yang dimaksud kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing pesrta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan (E. Mulyasa, 2008: 135). d) Kompetensi Sosial Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir d dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserte didik, dan masyarakat sekitar (E. Mulyasa, 2008: 173). Alisuf Sabri dalam jurnal Mimbar Agama dan Budaya mengutip pernyataan Mitzel yang mengemukakan bahwa seorang guru dikatakan efektif dalam mengajar apabila ia memiliki potensi atau kemampuan untuk mendatangkan hasil belajar pada murid-muridnya. Untuk mengatur efektif tidaknya seorang guru, Mitzel menganjurkan cara penilaian dengan 3 kriteria, yaitu: presage, process dan product. Dengan demikian seorang guru dapat dikatakan sebagai guru. 42.

(43) yang efektif apabila ia dari segi: presage, ia memiliki personality attributes dan teacher knowledge yang diperlukan bagi pelaksanaan kegiatan mengajar yang mampu mendatangkan hasil belajar kepada murid. Dari segi process, ia mampu menjalankan (mengelola dan melaksanakan) kegiatan belajar-mengajar yang dapat mendatangkan hasil belajar kepada murid. Dari segi product ia dapat mendatangkan hasil belajar yang dikehendaki oleh masing-masing muridnya. Dengan penjelasan di atas berarti latar belakang pendidikan atau ijazah sekolah guru yang dijadikan standar unsur presage, sedangkan ijazah selain pendidikan guru berarti nilainya di bawah standar. Berdasarkan pemahaman dari uraian-uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa mutu guru dapat diramalkan dengan tiga kriteria yaitu: presage, process dan product yang unsur-unsurnya sebagai berikut. (1) Kriteria presage (tanda-tanda kemampuan profesi keguruan) yang terdiri dari unsur-unsur (a) latar belakang pre-service dan in-service guru, (b) pengalaman mengajar guru, (c) penguasaan pengetahuan keguruan, dan (d) pengabdian guru dalam mengajar. (2) Kriteria process (kemampuan guru dalam mengelola dan melaksanakan proses belajar mengajar) terdiri atas (a) kemampuan guru dalam merumuskan Rancangan Proses Pembelajaran (RPP); (b) kemampuan guru dalam melaksanakan (praktik) mengajar di dalam kelas; serta (c) kemampuan guru dalam mengelola kelas.. 43.

(44) (3) Kriteria product (hasil belajar yang dicapai murid-murid) yang terdiri dari hasil-hasil belajar murid dari bidang studi yang diajarkan oleh guru tersebut. Dalam prakteknya meramalkan mutu seorang guru di sekolah atau di madrasah tentunya harus didasarkan kepada effektifitas mengajar guru tersebut sesuai dengan tuntutan kurikulum sekarang yang berlaku, dimana guru dituntut kemampuannya untuk merumuskan dan mengintegrasikan tujuan, bahan, metode, media dan evaluasi pengajaran secara tepat dalam mendisain dan mengelola proses belajar mengajar, di samping itu guru juga harus mampu melaksanakan atau membimbing terjadinya kualitas proses belajar yang akan dialami oleh murid-muridnya (Alisuf Sabri, 1992: 16-18). B. Kajian Kepustakaan Sebagai perbandingan penelitian ini, penulis menyajikan beberapa hasil penelitian terdahulu sebagai berikut. 1. Penelitian yang dilakukan oleh Desak Nyoman Puspayani (2009) berjudul ”Kontribusi Sarana Prasarana, Layanan Administratif, Kompetensi Profesional Guru terhadap Kepuasan Belajar (Studi Tentang Persepsi Siswa SMA Negeri 1 Sukawati)” mengungkap: (1) besaran kontribusi sarana prasarana terhadap kepuasan belajar siswa di SMA N 1 Sukawati, (2) besaran kontribusi layanan administratif terhadap kepuasan belajar siswa di SMA N 1 Sukawati, (3) besaran kontribusi kompetensi profesional guru terhadap kepuasan belajar siswa di SMA N 1 Sukawati, dan (4) besaran kontribusi antara sarana. 44.

(45) prasarana, layanan administratif, kompetensi profesional guru secara bersamasama terhadap kepuasan belajar siswa di SMA N 1 Sukawati. Penelitian ini menggunakan rancangan ex-post facto dengan teknik korelasional. Populasi penelitian ini berjumlah 837 siswa. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik stratified random sampling dengan ukuran sampel sebanyak 250 siswa. Hasil analisis data menunjukkan bahwa: (1) terdapat kontribusi sarana prasarana terhadap kepuasan belajar siswa pada SMA N 1 Sukawati dengan kontribusi sebesar 32,0%, (2) terdapat kontribusi layanan administratif terhadap kepuasan belajar siswa pada SMA N 1 Sukawati dengan kontribusi sebesar 29,6%, (3) terdapat kontribusi kompetensi profesional guru terhadap kepuasan belajar siswa pada SMA N 1 Sukawati dengan kontribusi sebesar 39,4%, dan (4) terdapat kontribusi sarana prasarana, layanan administratif, dan kompetensi profesional guru terhadap kepuasan belajar siswa pada SMA N 1 Sukawati dengan kontribusi sebesar 50,2%. Berdasarkan temuan hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa terdapat kontribusi sarana prasarana, layanan administratif, dan kompetensi profesional guru terhadap kepuasan belajar siswa pada SMA N 1 Sukawati. 2. Penelitian yang dilakukan oleh Eka Yuni Setyowati (2010) berjudul ”Pengaruh Kompensasi dan Sarana Prasarana Terhadap Profesionalitas Guru SMA se-Kota Pati” bertujuan untuk mengungkapkan pengaruh kompensasi dan sarana prasarana terhadap profesionalitas guru SMA se-Kota Pati secara simultan, mengetahui pengaruh kompensasi terhadap profesionalitas guru. 45.

(46) secara parsial dan mengetahui pengaruh sarana prasarana terhadap profesionalitas guru secara parsial. Hasil analisis regresi dengan SPSS 16. 0 menunjukkan bahwa, terdapat pengaruh secara simultan antara kompensasi dan sarana prasarana terhadap profesionalitas guru dengan koefisien determinasi sebesar 47,2%, terdapat pengaruh secara parsial antara kompensasi terhadap profesionalitas guru sebesar 29,26% dan terdapat pengaruh secara parsial antara sarana prasarana terhadap profesionalitas guru sebesar 20,79%. Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kompensasi dan sarana prasarana secara signifikan mempengaruhi profesionalitas guru SMA se-Kota Pati, baik secara simultan maupun parsial. Saran yang berkaitan dengan hasil penelitian ini yaitu, guru hendaknya terus meningkatkan profesionalitasnya. C. Posisi Teoretik Pada dasarnya penelitian tentang profesionalisme guru sangatlah banyak telah dilakukan oleh yang lain dengan berbagai cara dan metode. Akan tetapi, pada penelitian ini akan dibahas bagaimana posisi profesionalisme guru dikaitkan dengan keberadaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah secara umum, terutama pengaruh keberadaan sarana dan prasarana yang ada di SMA AlMuawanah Cianjur. Pada penelitian-penelitian terdahulu, pengkajian atas sarana dan prasarana pendidikan diteliti secara parsial, khususnya yang berkaitan dengan media pembelajaran saja. Demikian pula halnya permasalahan profesionalisme guru. 46.

(47) yang hanya difokuskan terhadap profesionalisme akademik saja. Pada penelitian ini, variabel sarana dan prasarana diteliti dalam berbagai aspek, yakni manajemen sarana dan prasarana pendidikan yang ada di sekolah. Demikian pula halnya dengan profesionalisme guru yang mencakup empat kompetensi guru secara terpadu, yakni kompetensi pedagogik, kompetensi pribadi, kompetensi profesi, dan kompetensi sosial. Atas dasar pemikiran tersebut, kerangka pemikiran yang digunakan dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.. Sarana dan Prasarana Pendidikan (X). 1. Prinsip pencapaian tujuan. 2. Prinsip efisiensi. 3. Prinsip administratif. 4. Prinsip kejelasan tanggung jawab. 5. Prinsip kekohesifan. Profesionalisme Guru (Y). 1. 2. 3. 4.. Kompetensi pedagogik, Kompetensi kepribadian, Kompetensi profesi, Kompetensi soisal. Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Penelitian. 47.

(48) BAB III METODE PENELITIAN. A.. Definisi Operasional Penelitian Penelitian tentang ”Pengaruh Sarana dan Prasarana Pendidikan terhadap. Profesionalisme Guru SMA Al-Muawanah Cianjur” terdiri atas dua variabel, yakni variabel sarana dan prasarana pendidikan sebagai variabel independen (X), dan variabel profesionalisme guru sebagai variabel dependen (Y). Agar penggunaan peristilahan pada kedua variabel tersebut tidak rancu, maka diperlukan definisi operasional atas keduanya disertai dengan pengembangan masing-masing variabel secara operasional. 1. Sarana dan Prasarana Pendidikan Sarana dan prasarana pendidikan yang dimaksud dalam penelitian ini ada-lah pengelolaan manajemen sarana dan prasarana pendidikan dengan me-ngacu kepada teori yang dikemukakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 1 poin 8: ”Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.”. 48.

(49) Di samping itu, operasionalisasi variabel ini juga didasarkan kepada pendapat Bafadal (2003) tentang prinsip-prinsip manajemen sarana dan prasarana, yang kemudian dijadikan indikator penelitian ini, yakni: a. Prinsip Pencapaian Tujuan b. Prinsip Efisiensi c. Prinsip Administratif d. Prinsip Kejelasan Tanggungjawab e. Prinsip Kekohesifan. 2. Profesionalisme Guru Profesionalisme guru sebagai variabel dependent mengacu kepada pasal 28 ayat (3) butir (a), (b), (c), dan (d) tentang kompetensi guru. Keempat kompetensi tersebut adalah (a) kompetensi pedagogik, (b) kompetensi kepribadian, (c) kompetensi profesi, dan (d) kompetensi sosial.. Berdasarkan kedua teori yang dijadikan landasan di atas, dapat disusun operasionalisasi variabel penelitian sebagai berikut. Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel Penelitian Variabel Sarana dan Prasarana Pendidikan (Bafadal, Ibrahim, 2003:45-48). Dimensi. Skala. Prinsip Pencapaian Tujuan. Ordinal. Prinsip Efisiensi. Ordinal. Prinsip Administratif Prinsip Kejelasan. Ordinal. 49.

(50) Variabel. Dimensi. Skala. Tanggungjawab. Profesionalisme Guru (Pasal 28 ayat (2), PP 19 tahun 2005). Prinsip Kekohesifan. Ordinal. Kompetensi pedagogik. Ordinal. Kompetensi kepribadian. Ordinal. Kompetensi profesi. Ordinal. Kompetensi sosial. Ordinal. B.. Pendekatan dan Metode Penelitian. 1.. Pendekatan Penelitian Penelitian tentang ”Pengaruh Sarana dan Prasarana Pendidikan terhadap. Profesionalisme. Guru. SMA. Al-Muawanah. Cianjur”. ini. menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif merupakan salah satu pendekatan yang ada dalam penelitian. Pendekatan ini menekankan pada prosedur yang ketat dalam menentukan variabel-variabel penelitiannya. Keketatan pendekatan ini sudah terlihat dari asumsi dasar penelitian kuantitatif. Pembahasan asumsi dasar yang dipakai dalam penelitian kuantitatif. Pendekatan kuantitatif mementingkan adanya variabel-variabel sebagai obyek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi variabel masing-masing. Reliabilitas dan validitas merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan. 50.

(51) model penelitian sejenis. Selanjutnya, penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesis dan pengujiannya yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisa dan formula statistik yang akan digunakan. Juga, pendekatan ini lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik bukan makna secara kebahasaan dan kulturalnya. 2. Metode Penelitian Metode penelitian memandu peneliti tentang urut-urutan bagaimana penelitian akan dilakukan, dengan alat apa dan prosedur yang bagaimana. Dalam penelitian tentang ”Pengaruh Sarana dan Prasarana Pendidikan terhadap Profesionalisme Guru SMA Al-Muawanah Cianjur” ini digunakan metode. deskriptif. verifikasi. dengan. menggunakan. teknik. survei.. Singarimbun (2003:3) mengemukakan bahwa penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok. Sementara itu, Sugiyono (2004:11) mengemukakan bahwa menurut tingkat eksplanasinya, penelitian ini termasuk ke dalam penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif adalah penelitian yang mencari pengaruh antara satu variabel dengan variabel lainnya. Variabel yang dimaksud dalam penelitian ini adalah (1) sarana dan prasarana pendidikan dan (2) profesionalisme guru SMA AlMuawanah Cianjur. C.. Sumber Data Penelitian. 51.

(52) Sumber data mengacu kepada populasi penelitian serta penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian. Populasi menurut Husaeni adalah semua nilai baik melalui perhitungan kuantitatif maupun kualitatif, dari karakteristik tertentu mengenai objek yang lengkap dan jelas. Ditinjau dari banyaknya anggota populasi, maka populasi terdiri dari populasi terbatas (terhingga) dan populasi tak terbatas (tak terhingga), dan dilihat dari sifatnya populasi dapat bersifat homogen dan heterogen. Menurut Sugiyono (2004:4) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Populasi yang menggunakan seluruh populasi disebut sampel total atau sensus. Penggunaan ini berlaku jika anggota populasi relatif kecil, untuk anggota populasi yang relatif besar bisa mengambil sampel sebagian dari anggota populasi sesuai dengan kebutuhan penelitian. Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah staf pendidik di SMA Al-Muawanah Cianjur yang seluruhnya berjumlah 18 orang, terdiri atas 4 orang guru PNS yang dipekerjakan dan telah tersertifikasi, 2 orang guru honorer yang telah tersetifikasi, 7 orang guru honorer yang belum tersertifikasi, serta 5 orang guru yang berasal dari SMA lain dengan status menambah jam pelajaran di SMA Al-Muawanah Cianjur. Mengingat jumlah populasi di atas sedikit (18 orang), maka seluruh populasi dijadikan sebagai sampel atau sensus penelitian. Seluruh responden akan menjawab seluruh item yang terdapat pada angket yang diajukan tanpa pemilahan dan pengklasifikasian.. 52.

(53) D. Instrumen Penelitian Dalam penelitian ini data yang akan diungkap adalah ”Pengaruh Sarana dan Prasarana Pendidikan terhadap Profesionalisme Guru SMA Al-Muawanah Cianjur”. Untuk mengungkap data ini digunakan angket yang berbentuk skala Likert. Adapun alasan meng-gunakan skala Likert ini untuk mengukur sikap, pendapat dan profesi seseorang atau sekelompok orang tentang suatu fenomena sosial. Permasalahan strategi pemasaran dan keputusan pembelian produk dapat dikategorikan sebagai fenomena sosial. Oleh karena itu, penggunaan skala Likert pada penelitian ini dapat diterima. Skala Likert yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut. Penskoran pada Skala Likert Pernyataan. Bobot Penilaian. Pernyataan. Bobot Penilaian. Sangat setuju. Skor : 5. Sangat baik. Skor : 5. Setuju. Skor : 4. Baik. Skor : 4. Netral. Skor : 3. Netral. Skor : 3. Tidak setuju. Skor : 2. Tidak baik. Skor : 2. Sangat tidak setuju. Skor : 1. Sangat tidak baik. Skor : 1. Selain penggunaan angket, pada penelitian ini juga digunakan studi dokumentasi dan studi kepustakaan. Studi dokumentasi dalam pengumpulan data penelitian ini dimaksudkan sebagai cara pengumpulkan data dengan mempelajari dan mencatat bagian-bagian yang dianggap penting dari berbagai risalah resmi yang terdapat baik di lokasi. 53.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :