Laporan Praktikum Biokimia Bds-1 Sms 2 Kg 2010

22 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BLOK 

BLOK  BASIC DENTAL SCIENCE - 1 BASIC DENTAL SCIENCE - 1 LAPORAN

LAPORAN PRAKTIKUM PRAKTIKUM BIOKIMIABIOKIMIA ANALISIS GIGI SECARA KIMIAWI ANALISIS GIGI SECARA KIMIAWI

Disusun Oleh: Disusun Oleh: Kelompok B-2 Kelompok B-2 1.

1. ChChararmemelilita Clta Clarara S.a S. (G(G1G1G010100002020)) 2.

2. IchIchma Ama Amarmarviaviana Bna B.. (G1(G1G01G010020024)4) 3.

3. FFiidda a TThhaahhiirraahh ((GG11GG001100002255)) 4.

4. Ivana Ivana P.L. P.L. Pakan Pakan (G1G010026)(G1G010026) 5.

5. MMuuttiiaarra a DDeesstty y ((GG11GG001100002277)) 6.

6. Anggit Anggit Purwati Purwati (G1G010030)(G1G010030) 7.

7. NNiissa a AAl l FFiidda a AA.. ((GG11GG001100003311)) 8.

8. DitDitya ya WulWulansansari ari M. M. (G1(G1G00G008028025)5)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

(2)

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

JURUSAN

JURUSAN KEDOKTERAN KEDOKTERAN GIGIGIGI 2011 2011 BAB I BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.

1.1.1. LaLatatar Ber Belalakakangng

Gigi merupakan sebagian kecil dari tubuh manusia dan didalamnya Gigi merupakan sebagian kecil dari tubuh manusia dan didalamnya terdapat banyak kandungan. Dalam gigi terkandung senyawa organik dan terdapat banyak kandungan. Dalam gigi terkandung senyawa organik dan anorg

anorganik. anik. JumlJumlah ah kandukandungan ngan masinmasing-masg-masing ing senyasenyawa wa tersebtersebut ut berbedberbeda- a- beda pada setiap bagiannya, contohnya seperti komposisi kimia email terdiri  beda pada setiap bagiannya, contohnya seperti komposisi kimia email terdiri dari 95-98% bahan anorganik, 1% air dan 4% bahan organik. Persentase dari 95-98% bahan anorganik, 1% air dan 4% bahan organik. Persentase komposisi kimia tersebut berbeda lagi jika pada cementum ataupun dentin. komposisi kimia tersebut berbeda lagi jika pada cementum ataupun dentin.  Namun, secara umum gigi memiliki banyak bahan anorganik, seperti fosfat,  Namun, secara umum gigi memiliki banyak bahan anorganik, seperti fosfat,

klorida, sulfat, kalsium, ortofosfat, magnesium dan besi. klorida, sulfat, kalsium, ortofosfat, magnesium dan besi.

Oleh karena itu, pada praktikum biokimia yang telah dilakukan pada Oleh karena itu, pada praktikum biokimia yang telah dilakukan pada hari Sabtu, 28 Mei 2011 di Laboratorium Jurusan Kedokteran Gigi, FKIK  hari Sabtu, 28 Mei 2011 di Laboratorium Jurusan Kedokteran Gigi, FKIK  Uns

Unsoedoed, , dildilakuakukan kan perpercobcobaan aan untuntuk uk memmembukbuktiktikan an adaadanya nya kankandundungangan senyawa anorganik tersebut pada gigi. Adanya praktikum serta pembuatan senyawa anorganik tersebut pada gigi. Adanya praktikum serta pembuatan lap

lapororan an inini i didihahararapkpkan an akakan an leblebih ih memenanambmbah ah pepengngetetahahuauan n tententatangng kandungan senyawa-senyawa dalam gigi, untuk membantu memperdalam kandungan senyawa-senyawa dalam gigi, untuk membantu memperdalam materi kuliah yang

materi kuliah yang telah diberikatelah diberikan, n, serta untuk memenuhserta untuk memenuhi i tugas yang telahtugas yang telah diberikan.

diberikan.

1

1..22.. TTuujjuuaann 1.

1. UnUntutuk mk menengagananalilisisis gs gigigi si sececarara ka kimimiaia 2.

2. UnUntutuk k memengngetetahahui ui dadan n memembmbukuktitikakan n kakandndunungagan n babahahan n ororgaganinik k  dan anorganik dalam gigi

(3)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Gigi

Gigi adalah unsur di dalam rongga mulut yang tersusun dari jaringan organic dan anorganik. Pertumbuhan dan perkembangan dari gigi geligi seperti halnya organ lainnya telah dimulai sejak 6 minggu intera uterin. Pada waktu lahir, maksila dan mandibula merupakan tulang yang telah dipenuhi oleh benih-benih gigi dalam berbagai tingkat perkembangan. Proses terbentuknya jaringan gigi disebut odontogenesis. Proses ini tidak  terjadi pada waktu yang bersamaan untuk semua gigi (http://ayokedokter.com).

Gigi geligi merupakan jaringan termineralisasi yang komposisi anorganiknya terdiri atas hidroksi apatit dan komposisi organiknya berupa amelogenin dan kolagen. Pada manusia, gigi terdiri atas jaringan keras dan  jaringan lunak. Jaringan keras yang menyususn gigi adalah email (enamel), dentin dan cementum. Sedangkan jarinan lunak paada gigi adalah pulpa yang memiliki banyak pembuluh darah dan saraf (DSC Biokimia FKG UGM, 2004).

Menurut Itjiningsih (1991), bagian gigi terbagi menjadi dua, yaitu  bagian makroskopis dan mikroskopis.

(4)

a. Mahkota b. Akar  

c. CEJ (Cemento Enamel Junction) d. Insisal

e. Cusp

2. Bagian Mikroskopis a. Jaringan Keras

Jaringan keras gigi terdiri dari enamel, dentin dan sementum. Jaringan keras tersebut pada dasarnya sama dengan jaringan tulang yang sebagian besar terdiri atas zat anorganik. Enamel mengandung zat anorganik tersebut dalam jumlah yang terbesar, sehingga merupakan bagian yang terkeras pada tubuh manusia.  Namun karena letaknya paling luar, maka enamel dipengaruhi oleh faktor positif maupun negatif dalam rongga mulut. Faktor yang   berpengaruh pada kerusakan enamel salah satunya adalah

keasaman makanan dan minuman yang akan menyebabkan keausan enamel yang disebut erosi gigi.

Enamel merupakan jaringan terluar gigi yang menutupi anatomis mahkota gigi dan memiliki ketebalan yang berbeda pada setiap area gigi. Lapisan enamel yang paling tebal terdapat pada  permukaan insisal dan oklusal gigi dan semakin menipis hingga ke  pertemuan cementoenamel junction. Email merupakan jaringan

keras yang mengelilingi mahkota gigi dan berfungsi membentuk  struktur luar mahkota gigi dan membuat gigi tahan terhadap tekanan dan abrasi. Email tersusun dari mineral anorganik terutama kalsium dan fosfor, zat organic dan air ( Stimpson, 1997).

Ketebalan enamel juga berbeda satu gigi dengan yang lainnya. Ketebalan enamel pada insisal ridge insisivus rata-rata 2,5

(5)

mm, dan pada cups premolar rata-rata 2,3-2,5 mm sedangkan pada cups molar rata-rata 2,5 mm sampai 3 mm.

Komposisi kimia enamel terdiri dari 95-98% bahan anorganik, 1% bahan organik dan air sekitar 4% yang diukur dari   beratnya. Secara rinci Williams dan Elliot (1979) menyusun

komposisi mineral enamel normal dalam jumlah terbesar yaitu Ca, P, CO2 , Na, Mg, Cl dan K sedangkan dalam jumlah kecil yaitu F, Fe, Zn, Sr, Cu, Mn, Ag. Kalsium dan fosfat merupakan komponen-komponen anorganik yang penting, yang tersusun dalam hidroksiapatit (Ca10(PO4)6(OH)2). Ion fluorida amat esensial pada pembentukan dan perkembangan enamel, sebab dapat menggantikan gugus hidroksil sehingga membentuk fluorapatit (Ca10(PO4)6(F)2). Fluorida tersebut berasal dari lingkungan mulut misalnya saliva sehingga fluorisasi paling banyak terjadi di enamel  bagian luar, hal ini amat penting untuk mempertahankan keutuhan enamel sebab fluorapatit lebih sukar larut dibandingkan dengan hidroksiapatit.

Dentin merupakan bagian dalam struktur gigi yang terbanyak  dan berwarna kekuningan. Dentin bersifat lebih keras dari pada tulang tetapi lebih lunak dari email. Dentin terdiri dari 70 % bahan organic, terutama Kalsium dan fosfor serta 30 % bahan organic dan air ( Stimpson, 1997).

Sementum merupakan jaringan gigi yang mengalami kalsifikasi dan menutup akar gigi. Sementum berfungsi sebagai tempat melekatnya jaringan ikat yang memperkuat akar gigi pada alveolus. Sementum lebih lunak dari dentin dan terdiri dari 50%  bahan organik berupa Kalsium dan Fosfor dan 50% bahan organic

(Stimpson, 1997).

Menurut Itjiningsih (1991), macam sementum : 1. Sementum primer 

(6)

2. Sementum fisiologis 3. Sementum patologis

Komposisi kimiawi email dan dentin manusia tercantum dalam tabel. (DSC Biokimia FKG UGM, 2004). Komposisi tersebut sangat bergantung pada spesies dan umur. Komposisi kimiawi email dan dentin manusia disajikan dalam tabel 3.1. berikut:

Tabel 3.1. Komposisi Kimiawi Email dan Dentin Manusia

Sumber: DSC Biokimia FKG UGM, 2004. b. Jaringan lunak,

Pulpa, merupakan jaringan ikat longgar yang menempati  bagian ruang tengah pulpa dan akar gigi. Pada pulpa terkandung   pembuluh darah, syaraf, dan sel pembentuk dentin. Pulpa berisi

nutrisi dan berfungsi sebagai sensorik (Stimpson, 1997).

Magnesium merupakan mineral makro yang sangat penting, sekitar 70% dari total Mg dalam tubuh terdapat dalam tulang atau kerangka, sedangkan 30% lainnya tersebar dalam berbagai cairan tubuh dan jaringan lunak. Mg dibutuhkan oleh sebagian besar sistem enzim, berperan dalam metabolisme karbohidrat dan dibutuhkan untuk memperbaiki fungsi sistem saraf, selain itu Mg berperan   penting untuk sintesis protein, asam nukleat, nukleotida, dan lipid (Girindra,

(7)

BAB III

METODE PRAKTIKUM 3.1. Alat dan Bahan

3.1.1. Alat

Gambar 3. 1. Alat-alat yang digunakan untuk praktikum

a. 1 Rak tabung reaksi b. Gelas ukur  

c. Beckerglass

d. Tabung erlenmeyer  e. pH meter  

(8)

g. Bunsen 3.1.2. Bahan a. Labu b. Korek api c. Spirtus d. pH indikator  e. Tissue f. HCL encer   g. Ammonium hidroksida h. Ammonium tiosianat i. Molibdat

 j. Asam asetat encer  k. urea 10% l. Pereaksi ferrosulfat m. Ammonium klorida n. Kalium ferosianida o. Ammonium oksalat  p. Ammonium karbonat q. HNO3 r. AgNO3 s. BaCl2

(9)

t.  NH4OH u.  Na2HPO4

3.2. Cara Kerja

a. Menunjukkan adanya fosfat :

1. Menyaring larutan yang mengandung gigi tersebut dengan kertas saring yang tersedia.

2. Pada filtrat, memasukkan ammonium hidroksida hingga  bersifat alkalis ( bersifat basa.

3. Kemudian setelah terjadi endapan, memeriksakan dengan menggunakan lakmus atau indikator universal

4. Dan apabila telah mencapai sifat yang alkasis maka pada lakmus menunjukkan pH diatas 7

 b. Menunjukan adanya Cl

1. Memasukkan sebagian filtrat ke dalam tabung reaksi

2. Mengasamkan filtrat dengan HNO3 3. Menambahkan AgNO3

c. Menunjukkan adanya sulfat:

1. Masukan Filtrat A kedalam tabung reaksi. 2. Tambahkan HCl sampai larutan ber-pH asam.

3. Tambahkan BaCl2sampai terdapat endapan.

4. Bila ada endapan BaSO4 maka menunjukan adanya kandungan

sulfat.

(10)

1. Masukkan 1 ml filtrat C ke dalam tabung reaksi

2. Tambahkan 1 ml larutan urea 10% dan 10 ml pereaksi molibdat kemudian campurkan

3. Tambahkan 1 ml larutan ferrosulfat dan lihat perubahan warna yang timbul

e. Menunjukkan adanya magnesium:

1. Filtrat D dipanaskan diatas bunsen dengan menggunakan  penjepit tabung reaksi

Gambar 3.4. Memanaskan filtrat D diatas Bunsen.

2. Setelah mendidih, teteskan amonium karbonat dan amonium klorida perlahan-lahan

3. Setelah terbentuk endapan berupa CaCO3, saringlah larutan yang berupa MgCO3yang tidak mengendap karena adanya NH4Cl. 4. Filtrat yang didapatkan dari hasil penyaringan di atas ditambahkan NH4OH dan Na2HPO4 hingga alkalis (pH=8, yangmenjadikan bersifat alkalis adalah NH4OH). Jika belum didapatkan endapan, tambahkan Na2HPO4 sampai didapatkan endapan yang berupa ammonium-magnesium-fosfat.

(11)
(12)

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil dan Pembahasan

4.1.1. Menunjukkan adanya fosfat

Banyaknya ammonium hidroksida yang diteteskan pada filtrat D disajikan pada tabel 4.1. berikut:

Tabel 4.1. Banyaknya Ammonium Hidroksida yang Diteteskan Tetes pH Keterangan 5 0 Asam 10 1 Asam 20 5 Asam 60 7 Normal 70 8 Basa

Gambar 4.1. Perubahan pH tiap tetes ammonium hidroksida yang diberikan.

Dari percobaan pembuktian adanya fosfat yang telah dilakukan, didapatkan hasil, yaitu terjadinya endapan yang melayang-layang dengan warna sedikit kehijauan.

(13)

Gambar 4.2. Warna larutan sebelum (kiri) dan setelah (kanan) ditetesi ammonium hidroksida.

Berdasarkan literatur yang didapatkan, uji fosfat pada endapan akan menunjukan hasil positif jika menghasilkan warna hijau muda, pada hasil percobaan, didapatkan hasil, yaitu terdapat endapan melayang dan warna sedikit kehijauan, hal ini menunjukkan bahwa gigi mengandung bahan anorganik fosfat ( DSC Biokimia FKG UGM , 2004).

4.1.2. Menunjukan adanya Cl

Uji klorida pada filtrat menunjukan hasil positif jika menghasilkan endapan putih. Pereaksi asam nitrat yang digunakan dalam uji klorida sebagai katalisator, dan AgNO3 akan bereaksi dengan klorida membentuk AgCl sebagai endapan putih, maka dari itu adanya endapan putih yang dibentuk membuktikan adannya klorida, berikut reaksi yang terjadi pada uji klorida :

(14)

AgNO3→ AgCl + NO3

-Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan (setelah filtrat diasamkan dengan HNO3, dan (di ukur dengan menggunakan pH

indikator) baru kemudian di tambahkan AgNO3), akhirnya

terbentuk endapan yaitu endapan AgCl.

Gambar 4. 3. pH filtrat setelah diasamkan dengan HNO3.

Gambar 4.4. Hasil akhir percobaan pembuktian adanya Cl dalam gigi.

Pada tabung terdapat warna putih keruh setelah penambahan AgNO3 dan setelah penambahan ammonia berlebihan, larutan

menjadi jernih kembali. HNO3 berfungsi untuk membuat suasana

(15)

keruh disebabkan karena Cl berikatan dengan Ag+ membentuk  AgCl (endapan). Endapan putih tersebut akan larut kembali (larutan menjadi jernih) setelah penambahan ammonia yang   bersifat basa. Hal ini sesuai dengan literatur menurut DSC

Biokimia (2004), yang menyatakan bahwa gigi memiliki kandungan klorida yang jumlahnya relatif sedikit.

4.1.3. Menunjukkan adanya sulfat

Gambar 4.5. Hasil percobaan pembuktian adanya sulfat pada gigi Hasil dari percobaan yang kami lakukan menunjukan bahwa filtrat itu mengandung sulfat, hanya saja endapan yang terbentuk  tidak terlalu terlihat. Pada percobaan ditambahkan 4 tetes HCl

dengan pH 1, lalu di tambahkan BaCl2 sebanyak 60 tetes. Tidak 

terdapat endapan pada larutan tersebut, tetapi larutan tersebut hanya berubah menjadi keruh.

Berdasarkan DSC Biokimia FKG UGM (2004), sulfat pada filtrat menunjukan hasil positif dengan menghasilkan endapan  putih. Asam klorida yang dipakai dalam uji sulfat juga bertindak 

sebagai katalisator dan barium klorida akan bereaksi bila ada sulfat membentuk barium sulfat sebagai endapan.

Berikut reaksi yang terjadi pada uji klorida :

(16)

-Dari hasil tersebut mungkin terdapat kesalahan, ada beberapa faktor yang menyebabkan kekurangsempurnaan hasil praktikum yang didapat yaitu :

1. Penambahan HCl yang terlalu banyak. 2. pH terlalu asam.

3. Penambahan BaCl2kurang.

4. Faktor pemeriksa.

4.1.4. Menunjukan adanya ortofosfat

Dari percobaan tersebut menunjukan hasil dengan adanya   perubahan warna yaitu kuning kehijauan dan hal tersebut

membuktikan adanya kandungan ortofosat dalam gigi.

Gambar 4.4. Hasil percobaan pembuktian adanya ortofosfat pada gigi

Berikut reaksi yang terjadi pada uji fosfat : FeSO4 + PO4-3 → Fe3(PO4)2 + SO4-2

Pada tabung reaksi setelah penambahan HNO3 pekat terdapat

(17)

kalsium asam asetat yang ditambahkan berfungsi untuk melarutkan endapan Ca-Mg-fosfat. Asam nitrat pekat yang ditambahkan   berfungsi untuk melepaskan asam fosfat menjadi asam fosfat.

Setelah panambahan ammonium molibdat, P yang terlepas  berikatan menjadi ammonium fosfomolibdat. Hal ini sesuai dengan

tinjauan pustaka menurut DSC Biokimia (2004), yang menyatakan  bahwa gigi memiliki kandungan fosfat.

4.1.5. Menunjukkan adanya magnesium

Setelah dilakukan percobaan untuk membuktikan kandungan magnesium dalam gigi sesuai dengan cara kerja, didapatkan hasil akhir berupa endapan ammonium-magnesium-fosfat.

GAMBAR 

  Namun, dalam prosesnya, didapatkan beberapa hambatan seperti Filtrat D yang telah ditambahakan ammonium klorida dan ammonium karbonat tidak juga terbentuk endapan CaCO3, dengan  jumlah penambahan secara berturut-turut ditunjukkan pada tabel

4.2. sebagai berikut:

Tabel 4.2.Penambahan Secara Berturut-turut Ammonium Klorida dan Ammonium Karbonat

No. Tetes 1 15 2 55 3 40 4 10 5 10

Hal ini diperkirakan terjadi karena ketika ditambahkan dengan ammonium karbonat dan ammonium klorida, Filtrat D tidak lagi mendidih atau mengalami penurunan suhu. Sehingga, diputuskan untuk memanaskan kembali filtrat D yang telah diberi

(18)

ammonium karbonat dan ammonium klorida sehingga terbentuk  endapan CaCO3.

Filtrat E (filtrat yang didapatkan dari penyaringan untuk  memisahkan endapan CaCO3) menjadi alkalis (pH=8) setelah ditambahkan NH4OH dan Na2HPO4 sebanyak masing-masing 1 tetes.

GAMBAR 

Untuk mendapatkan endapan ammonium-magnesium-fosfat ditambahkan Na2HPO4 sekitar 15 tetes dengan urutan berturut-turut 3 tetes, 4 tetes, 3 tetes, dan 5 tetes. Jumlah Na2HPO4 yang ditambahkan tergolong banyak untuk percobaan pada umumnya. Hal ini diperkirakan terjadi karena banyaknya Filtrat E yang digunakan untuk percobaan ini juga melebihi biasanya yang hanya 1 ml saja, yaitu sekitar 2-3 ml.

Uji magnesium pada percobaan menunjukan hasil positif  dengan terbentuknya endapan, endapan tersebut disaring dan ditambahkan kristal dinatrium hidrogen fosfat dengn larutan amonium hidroksida sehingga akan menghasilkan endapan putih. Endapan putih tersebut menunjukkan adanya magnesium ( DSC   Biokimia FKG UGM , 2004).

Berikut ini reaksi yang terjadi pada uji magnesium : Mg + NaHPO4 → MgHPO4 +2Na.

4.1.6. Menunjukkan adanya besi

Uji kalsium pada percobaan ini menunjukan hasil positif  dengan menghasilkan endapan putih. Penambahan pereaksi amonium oksalat akan bereaksi dengan kalsium yang ada difiltrat tersebut (Yuki, 2009).

Endapan yang dihasilkan adalah kalsium oksalat. Reaksi yang terjadi:

(19)

Ca + K4[Fe(CN)6] → Fe4[Fe2(CN)6]3

4.1.7. Menunjukkan adanya Besi

Uji besi pada percobaan ini dilakukan terhadap endapan yang terbentuk dari sisa penambahan asam yang kemudian ditambahkan dengan larutan HCl. Filtrat yang diperoleh dari penyaringan endapan tersebut di uji dengan larutan ammonium tiosianat dan kalium ferosianida. Filtrat yang diuji dengan ammonium tiosianat akan menunjukan hasil positif jika terbentuk warna merah, sedangkan dengan kalium ferosianida akan menunjukan hasil positif jika terbentuk warna biru atau hijau. Berdasarkan hasil percobaan pada uji besi ini, filtrat yang ditambahkan dengan amonium tiosianat menunjukan hasil positif dengan terbentuknya warna merah muda,  begitu juga dengan filtrat yang ditambahkan kalium ferosianida juga menunjukan hasil positif dengan terbentuknya warna hijau (Yuki, 2009).

(20)

BAB V SIMPULAN

5.1 Simpulan

Setelah dilakukan serangkaian percobaan didapatkan hasil berupa endapan-endapan yang menunjukkan adanya kandungan:

1. Fosfat

Dibuktikan dengan adanya endapan,,,,,,,,,,,,,,

2. Klor   3. Sulfat 4. Kalsium 5. Ortofosfat 6. Magnesium 7. Besi 5.2 Saran

(21)

1. Diharapkan adanya penambahan alat-alat seperti pipet dan tabung reaksi sehingga memudahkan praktikan dalam melaksanakan praktikum dan hasil yang didapatkan bisa lebih valid.

2. Diharapkan adanya buku panduan praktikum yang memuat tata cara  pelaksanaan praktikum yang lebih mendetail.

DAFTAR PUSTAKA  DSC Biokimia FKG UGM , 2004, FKG UGM, Yogyakarta.

Girindra, A, 1998, Biokimia Patologi Hewan, Pusat Antar Universitas Institut Pertanian Bogor, Bogor 

http://books.google.co.id/books?

id=rtg4qFWVOSUC&pg=PA8&dq=sulfat+di+gigi&hl=id&ei=cwXiTY2IE4  bOrQfXgNHHBg&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=3&ved=0CD

QQ6AEwAg#v=onepage&q=sulfat%20di%20gigi&f=false diakses pada tanggal 30 Mei 2011. http://www.google.co.id/url? sa=t&source=web&cd=1&ved=0CBcQFjAA&url=http%3A%2F %2Frepository.usu.ac.id%2Fbitstream %2F123456789%2F19600%2F4%2FChapter  %2520II.pdf&rct=j&q=kandungan%20anorganik%20dalam %20gigi&ei=LWDiTevsJMOzrAfDu_WWBg&usg=AFQjCNGVolBfk6wafl zxp-gyzwiWlEs2mg&cad=rja diakses pada tanggal 30 Mei 2011.

Itjiningsih,, 1991, Anatomi Gigi, EGC, Jakarta.

Murray, Robert, Granner, Daryl K., 1999,   Biokimia Harper. Edisi 24. EGC, Jakarta.

Stimson, P. G., Mertz, C. A., 1997, Forensic Dentistry, CNC Press Boca Raton,  New York.

Yuki, 2009, Laporan Biokimia Gigi dan Saliva dalam http://yukiicettea.blogspot.com/2009/10/biochemistry-laporan-biokimia-gigi-dan.html diakses pada tanggal 29 Mei 2011.

(22)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :