• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Penderita Stroke yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah Sidikalang Tahun 2013-2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Karakteristik Penderita Stroke yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah Sidikalang Tahun 2013-2015"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Stroke

Stroke atau Gangguan Peredaran Darah Otak (GPDO) merupakan penyakit

neurologis yang sering dijumpai dan harus ditangani secara tepat dan tepat. Stroke

merupakan kelainan fungsi otak yang timbul mendadak yang disebabkan

terjadinya gangguan peredaran darah otak dan bisa terjadi pada siapa saja dan

kapan saja (Muttaqin, 2008). Stroke adalah penyakit gangguan fungsional otak,

berupa kelumpuhan saraf karena gangguan aliran darah pada salah satu bagian

otak. Gangguan saraf maupun kelumpuhan yang terjadi tergantung pada bagian

otak mana yang terkena (Irianto K, 2014).

2.2 Patofisiologi Stroke

Otak sangat membutuhkan oksigen. Berat otak hanya 2,5 % dari berat

badan seluruhnya, namun oksigen yang dibutuhkan hampir mencapai 20% dari

kebutuhan badan seluruhnya. Apabila terjadi anoksia atau kekurangan oksigen

pada cerebrovascular accident (CVA), metabolisme serebral akan segera mengalami perubahan dan kematian sel dan kerusakan permanen dapat terjadi

dalam 3-10 menit (Widagdo dkk, 2009).

Setiap kondisi yang menyebabkan perubahan perfusi darah pada otak akan

menyebabkan keadaan hipoksia. Hipoksia yang berlangsung lama dapat

mengakibatkan iskemik otak. Iskemik dalam waktu singkat (kurang dari 10-15

menit) menyebabkan defisit sementara, sedangkan iskemik yang terjadi dalam

(2)

pada otak. Tipe defisit fokal permanen akan tergantung pada daerah dari otak

yang terkena. Daerah otak yang terkena akan menggambarkan pembuluh darah

otak yang terkena. Pembuluh darah yang paling sering mengalami iskemik adalah

arteri serebral tengah dan arteri karotis interna. Defisit fokal permanen dapat tidak

diketahui jika klien pertama kali mengalami iskemik otak total yang dapat

teratasi (Batticaca, 2008).

Stroke trombolik adalah tipe stroke yang paling umum, dimana sering

dikaitkan dengan arterosklerosis dan menyebabkan penyempitan lumen arteri,

sehingga menyebabkan gangguan suplai darah yang menuju ke otak. Fase awal

dari thrombus tidak selalu menyumbat komplit lumen. Penyumbatan komplit

dapat terjadi dalam beberapa jam. Gejala-gejala dari CVA akibat thrombus terjadi

selama tidur atau segera setelah bangun tidur. Hal ini berkaitan pada orangtua

aktivitas simpatisnya menurun dan sikap berbaring menyebabkan menurunnya

tekanan darah, yang akan menimbulkan iskemia otak (Widagdo dkk, 2009).

Transient ischemic attack (TIA) berkaitan dengan iskemik serebral dengan disfungsi neurologi sementara. Disfungsi neurologi dapat berupa hilang kesadaran

dan hilangnya seluruh fungsi sensorik dan motorik, atau hanya ada defisit fokal.

Defisit paling umum adalah kelemahan kontralateral wajah, tangan, lengan, dan

tungkai, disfasia sementara dan beberapa gangguan sensorik. Serangan iskemik

(3)

Gambar 2.1 Gambaran Perbedaan Patofisiologi Stroke

2.3 Klasifikasi Stroke

2.3.1 Stroke Non Hemoragik (Iskemik)

Stroke Iskemik pada dasarnya disebabkan oleh oklusi pembuluh darah

otak yang kemudian menyebabkan terhentinya pasokan oksigen dan glukosa ke

otak dan sering diakibatkan oleh trombosis akibat plak aterosklerosis arteri

otak/atau yang memberi vaskularisasi pada otak atau suatu emboli dari pembuluh

darah di luar otak yang tersangkut di arteri otak. Stroke jenis ini merupakan stroke

yang paling sering ditemukan yaitu sekitar 80 % dari semua stroke. Stroke jenis

ini juga bisa disebabkan berbagai hal yang menyebabkan terhentinya aliran darah

otak antara lain syok atau hipovolemia dan berbagai penyakit lain (Martono dan

Kuswardani, 2009).

Menurut Harsono (2007), secara non hemoragik, stroke dapat dibagi

(4)

1. Berdasarkan manifestasi klinik

a. Transient Ischemic Attack ( TIA ), serangan kurang dari 24 jam

Gejala neurologik yang timbul akibat gangguan peredaran darah di otak

akan menghilang dalam waktu 24 jam.

b. Reversible Ischemic Neurological Defisit (RIND)

Gejala neurologik yang timbul akan menghilang dalam waktu lebih lama

dari 24 jam,tetapi tidak lebih dari 1 minggu.

c. Stroke in Evolution (SIE)

Pada stroke ini gejala neurologik makin lama makin berat

d. Completeled Stroke

Kelainan neurologik sudah menetap, dan tidak berkembang lagi

2. Berdasarkan proses patologik (kausal)

a. Stroke Trombotik

Stroke trombotik terjadi karena adanya penggumpalan pada pembuluh

darah di otak sehingga menyebabkan iskemia jaringan otak yang dapat

menimbulkan edema dan kongesti di sekitarnya. Trombosis biasanya terjadi

pada orangtua yang sedang tidur atau bangun tidur. Hal ini dapat terjadi

karena penurunan aktivitas simpatis dan penurunan tekanan darah yang dapat

menyebabkan iskemia selebri. Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan

thrombosis otak: aterosklerosis yaitu mengerasnya pembuluh darah serta

(5)

b. Stroke Emboli

Stroke ini terjadi saat suatu gumpalan dari jantung atau lapisan lemak yang

berasal dari dinding pembuluh arteri rontok dan menyumbat

pembuluh-pembuluh darah yang lebih kecil, merupakan cabang dari pembuluh-pembuluh-pembuluh-pembuluh

arteri utama yang menuju ke otak. Bagian dari otak yang tidak dialiri darah

akan mengalami kerusakan dan tidak berfungsi lagi.

2.3.2 Stroke Hemoragik

Stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi oleh karena pecahnya

pembuluh darah otak tertentu dan biasanya terjadi pada saat pasien melakukan

aktivitas atau saat aktif, namun juga pada kondisi saat istirahat (Tartowo dkk,

2007).

a. Perdarahan Intraserebral

Pecahnya pembuluh darah terutama karena hipertensi mengakibatkan

darah masuk ke dalam jaringan otak, membentuk massa yang menekan jaringan

otak, dan menimbulkan edema otak. Peningkatan Tekanan Intrakranial (TIK)

yang terjadi cepat, dapat mengakibatkan kematian mendadak karena herniasi otak.

Perdarahan intraserebral yang disebabkan hipertensi sering dijumpai di daerah

putamen, thalamus, pons, dan serebelum (Muttaqin, 2008).

b. Perdarahan Subaraknoid

Perdarahan ini berasal dari pecahnya aneurisma berry. Aneurisma yang

pecah ini berasal dari pembuluh darah sirkulasi Willisi dan cabang-cabangnya

yang terdapat di luar parenkim otak. Pecahnya arteri dan keluarnya ke ruang

(6)

nyeri, dan vasoplasma pembuluh darah serebral yang berakibat disfungsi otak

global (sakit kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal (hemiparese, gangguan

hemi sensorik, afasia, dan lain-lain) (Muttaqin, 2008).

c. Perdarahan Subdural

Perdarahan subdural terjadi diantara dura mater dan arakhnoid. Perdarahan

dapat terjadi akibat robeknya vena jembatan (bridging veins) yang menghubungkan vena di permukaan otak dan sinus venosus di dalam dura mater

atau karena robeknya arachnoid (Harsono, 2007).

2.4 Gejala dan Tanda Stroke

Gejala stroke bisa dibedakan atas gejala atau tanda akibat lesi dan

gejala/tanda yang diakibatkan oleh komplikasinya. Gejala akibat lesi bisa sangat

jelas dan mudah untuk didiagnosis, akan tetapi bisa sedemikian tidak jelas

sehingga diperlukan kecermatan tinggi untuk mengenalinya. Pasien bisa datang

dalam keadaan sadar dengan keluhan lemah separuh badan pada saat bangun tidur

atau sedang bekerja , akan tetapi tidak jarang pasien datang dalam keadaan koma

sehingga memerlukan penyingkiran diagnosis banding sebelum mengarah ke lesi

stroke. Secara umum , gejala tergantung pada besar dan letak lesi di otak, yang

menyebabkan gejala dan tanda organ yang dipersarafi oleh bagian tersebut

(Martono dan Kuswardani, 2009).

Gejala dan tanda yang sering dijumpai pada penderita dengan stroke

secara umum adalah (Irianto K, 2014) :

1. Timbul rasa kesemutan pada sesisi badan, mati rasa, terasa seperti terbakar,

(7)

2. Lemah, atau bahkan kelumpuhan pada sesisi badan, sebelah kanan atau kiri

saja.

3. Mulut, lidah mencong bila diluruskan. Mudah diamati jika sedang berkumur,

tidak sempurna atau air muncrat dari mulut.

4. Gangguan menelan, atau minum sering tersendak.

5. Gangguan bicara berupa pelo, atau aksentuasi kata-kata sulit dimengerti

(afasid), bahkan bicara tidak lancar, hanya sepatah-patah.

6. Tidak mampu membaca dan menulis. Kadang-kadang diawali dengan

perubahan tulisan yang tidak seperti biasa, karena tulisan lebih jelek.

7. Berjalan menjadi sulit, langkahnya kecil-kecil.

8. Kurang mampu memahami pembicaraan orang lain.

9. Kemampuan intelektual menurun drastis, bahkan tidak mampu berhitung,

menjadi pelupa.

10.Fungsi indra terganggu sehingga bisa terjadi gangguan penglihatan berupa

sebagian lapangan pandang tidak terlihat atau gelap, juga pendengaran

berkurang.

11.Gangguan suasana emosi, menjadi lebih mudah menangis atau tertawa.

12.Kelopak mata sulit dibuka, atau dalam keadaan terkatup.

13.Gerakan badan tidak terkoordinasi sehingga jika berjalan sempoyongan, atau

kehilangan koordinasi pada sesisi badan.

(8)

2.5 Diagnosa Stroke

Diagnosis ditegakkan dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik

yaitu keadaan umum, tanda vital, status generalis, dan status neurologis.

Selanjutnya digunakan alat bantu skoring (skala) stroke dan pemeriksaan

computered tomography (CT) scan kepala sebagai standar baku emas untuk menunjang diagnosis.

Penentuan diagnosa stroke untuk menentukan jenis stroke apakah Non

Haemoragik atau Haemoragik sejatinya adalah dengan menggunakan CT scan

ataupun magnetic resonance imaging (MRI), sayangnya peralatan CT scan apalagi MRI masih sangat kurang tersedia di Rumah Sakit di daerah bahkan di

kota sekalipun. Namun jika tidak tersedia test diagnostik maka ada beberapa

perhitungan diantaranya dengan Alogarima stroke Gajah Mada dan Skore Stroke

Siriraj (SSS) (Tartowo dkk, 2007).

2.5.1 Skor Stroke Alogaritma Gajah Mada Tabel 2.1 Skor Stroke Alogaritma Gajah Mada

Penurunan Kesadaran Nyeri Kepala Babinski Jenis Stroke

+ + + Perdarahan

+ - - Perdarahan

- + - Perdarahan

- - + Iskemik

(9)

2.5.2 Skor Stroke Siriraj (SSS) (Tartowo dkk, 2007)

Pembacaan:

Skor > 1 : Perdarahan otak

< -1: Infark otak

Sensivitas: Untuk perdarahan: 89.3%.

Untuk infark: 93.2%.

Ketepatan diagnostik: 90.3%.

Pembacaan:

Skor > 1 : Perdarahan otak

(10)

2.6 Letak Kelumpuhan Akibat Serangan Stroke 2.6.1 Kelumpuhan Sebelah Kiri (Hemiparesis Sinistra)

Kerusakan pada sisi sebelah kanan otak yang menyebabkan kelemahan

tubuh bagian kiri. Pasien dengan kelumpuhan sebelah kiri sering memperlihatkan

ketidakmampuan persepsi visuomotor, kehilangan memori visual dan

mengabaikan sisi kiri. Penderita mamberikan perhatian hanya kepada sesuatu

yang berada dalam lapang pandang yangdapat dilihat (Harsono, 2007).

2.6.2 Kelumpuhan Sebelah Kanan (Hemiparesis Dextra)

Kerusakan pada sisi sebelah kiri otak yang menyebabkan kelemahan atau

kelumpuhan tubuh bagian kanan. Penderita ini biasanya mempunyai kekurangan

dalam kemampuan komunikasi verbal, namun persepsi dan memori

visuomotornya sangat baik, sehingga dalam melatih perilaku tertentu harus

dengan cermat diperhatikan tahap demi tahap secara visual. Dalam komunikasi

kita harus lebih banyak menggunakan body language ( bahasa tubuh) (Harsono, 2007).

2.6.3 Kelumpuhan Kedua Sisi (Hemiparesis Duplex)

Karena adanya sklerosis pada banyak tempat, penyumbatan dapat terjadi

pada dua sisi yang mengakibatkan kelumpuhan satu sisi dan diikuti satu sisi lain.

Timbul gangguan pseudobulber (biasanya hanya pada vaskuler) dengan

tanda-tanda hemiplegik dupleks, sukar menelan, sukar berbicara dan juga

mengakibatkan kedua kaki sulit untuk digerakkan dan mengalami hiperaduksi

(11)

2.7 Epidemiologi Stroke 2.7.1 Distribusi dan Frekuensi a. Berdasarkan Orang

Stroke ditemukan pada semua golongan usia, dari bayi baru lahir sampai

pada usia sangat lanjut, namun sebagian besar dijumpai pada usia di atas 55 tahun.

Insiden usia 80-90 adalah 300/10.000 dibandingkan dengan 3/10.000 pada

golongan usia 30-40 tahun (Bustan MN, 2015).

b. Berdasarkan Tempat

Insiden stroke bervariasi antarnegara dan tempat. Diantara penduduk Asia

Pasifik ada sebanyak 2,7% menderita stroke. Pada tahun 2009 terdapat 3.639

orang meninggal karena stroke di Asia Pasifik.

Menurut American Heart Association (AHA), angka kematian penderita stroke di Amerika setiap tahunnya adalah 50 – 100 dari 100.000 orang penderita

dan membunuh satu orang penderita stroke setiap menitnya.

Di China (2005), terdapat 1,5 juta penderita stroke dan 1 juta penderita

stroke meninggal dunia dengan CFR 66,66%. Di India, angka prevalensi stroke

sebesar 8,6 per 100.000 populasi pertahun (Regional Statistik, 2008).

Di Indonesia diperkirakan setiap tahun terjadi 500.000 orang terkena

serangan stroke, 125.000 orang meninggal dunia dengan CFR 25% dan yang

mengalami cacat ringan atau berat dengan proporsi 75% (375.000 orang)

(12)

c. Berdasarkan Waktu

Berdasarkan hasil Riskesdas (2007) menunjukkan peningkatan angka

kematian stroke di Indonesia. Kejadian terbanyak penyebab kematian utama

hampir di seluruh RS di Indonesia juga karena penyakit stroke, terdapat sekitar

550.000 pasien baru setiap tahunnya dan kematian stroke meningkat sekitar

15,4% yaitu dari 41,7% ditahun 1995 menjadi 49,9% di tahun 2001 dan terus

meningkat menjadi 59,5% atau setara dengan 8,3 per 1.000 penduduk ditahun

2007 (Depkes RI, 2007). 2.7.2 Faktor Risiko

Stroke merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh banyak faktor

risiko (multikausal). Menurut Kemenkes RI (2013), faktor risiko stroke dibagi

menjadi faktor risiko yang tidak dapat diubah dan faktor risiko yang dapat diubah.

a. Faktor Risiko yang Tidak Dapat Diubah a.1 Umur

Menurut Wahjoepramono (2005) umur merupakan faktor risiko stroke

dimana semakin meningkatnya umur seseorang, maka risiko untuk terkena stroke

juga semakin meningkat. Menurut hasil penelitian pada Framingham Study

menunjukkan risiko stroke meningkat sebesar 20%, 32%, 83% pada kelompok

umur 45-55, 55-64, 65-74 tahun.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Agreayu Dinata dkk

(2012) di RSUD Kabupaten Solok Selatan didapatkan kejadian stroke lebih dari

(13)

hanya 18,75% penderita yang berusia di bawah 50 tahun. Berdasarkan penelitian

Jeong-yeon Kim, dkk (2011) menunjukkan hubungan umur dengan risiko stroke

( OR : 1,06 ; 95% CI: 1,03-1,10).

a.2 Jenis kelamin

Menurut data dari 28 rumah sakit di Indonesia, ternyata laki-laki banyak

menderita stroke dibandingkan perempuan.3 Insiden stroke 1,25 kali lebih besar

pada laki-laki dibanding perempuan. Risiko stroke 20% lebih tinggi pada laki-laki

daripada perempuan, tetapi setelah perempuan menginjak usia 55 tahun dan kadar

estrogen menurun karena menopause, maka akibat stroke lebih tinggi pada

perempuan daripada laki-laki (Yastroki, 2009).

a.3 Riwayat penyakit keluarga

Riwayat pada keluarga yang pernah mengalami serangan stroke atau

penyakit yang berhubungan dengan kejadian stroke dapat menjadi faktor risiko

untuk terserang stroke juga. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya

faktor genetik, pengaruh budaya, dan gaya hidup dalam keluarga, interaksi

genetik dan pengaruh lingkungan (Lumbantobing, 2011).

a.4 Ras

Orang kulit hitam, Hispanik Amerika, Cina, dan Jepang memiliki insiden

stroke yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang kulit putih (Wahjoepramono,

2005). Di Indonesia sendiri, suku Batak dan Padang lebih rentan terserang stroke

dibandingkan dengan suku Jawa. Hal ini disebabkan oleh pola dan jenis makanan

(14)

b. Faktor Risiko yang Dapat Diubah b.1 Hipertensi

Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah

di dalam arteri. (Hiper artinya berlebihan, tensi artinya tekanan/tegangan; jadi,

hipertensi adalah gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan

tekanan darah diatas normal). Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JIVC) sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140 / 90 mmHg (Widagdo dkk,

2009). Usia 30 tahun merupakan awal kewaspadaan tentang munculnya

hipertensi, terutama bagi mereka yang mempunyai riwayat hipertensi dalam

keluarga. Makin lanjut usia seseorang maka kemungkianan untuk munculnya

hipertensi makin tinggi. Pemeriksaan tekanan darah dapat dilakukan dimana saja,

bahkan saat ini sudah ada kecendrungan bahwa masyarakat awam merasa perlu

dilakukan secara terus menerus. Hipertensi menahun tidak saja mampu

menimbulkan GPDO, tetapi juga merupakan ancaman langsung terhadap penyakit

jantung dan mengancam retina dan ginjal (Harsono, 2007).

Sebuah penelitian yang dilakukan di RS Krakatau Medika pada tahun

2011 oleh Dian Nastiti mendapatkan hasil, 46% dari seluruh pasien stroke yang

diteliti, yang merupakan jumlah terbanyak mempunyai faktor risiko hipertensi.

b.2 Penyakit Jantung Koroner (PJK)

Kelainan jantung akan meningkatkan risiko stroke adalah aritma jantung.

(15)

yang berpotensi menimbulkan suatu bekuan sel trombosit, dapat bermigrasi dari

jantung dan menyumbat arteri di otak serta menimbulkan stroke.

Menurut WHO (2011), penyakit penyerta PJK salah satunya stroke karena

disebabkan aterosklerosis. Faktor risiko stroke dan PJK disebabkan oleh faktor

risiko yang hampir sama seperti merokok dan hipertensi.

b.3 Hiperkolesterolemi

Meningkatnya kadar kolestrol dalam darah disebut hiperkolestrolemi.

Meningkatnya kadar kolesterol dalam darah, terutama low density lipoprotein (LDL), merupakan faktor risiko penting untuk terjadinya aterosklerosis

(menebalnya dinding pembuluh darah), dan koreksi terhadap dampak

aterosklerotik tadi ternyata sangat menurunkan risiko terjadinya GPDO.

Peningkatan kadar LDL dan penurunan kadar HDL (high density lipoprotein) merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit jantung koroner, dan penyakit

jantung seperti ini merupakan faktor risiko GPDO (Harsono, 2007).

b.4 Diabetes Melitus

Menurut WHO seseorang disebut sebagai penderita diabetes mellitus

apabila kadar glukosa darah vena dalam keadaan puasa lebih dari 140 mg/desiliter

dan kadar glukosa darah kapilaris biasanya lebih tinggi 7-10% dibandingkan

dengan kadar glukosa darah vena.

Diabetes mellitus mampu menebalkan dinding pembuluh darah otak yang

berukuran besar. Menebalnya dinding pembuluh darah otak akan menyempitkan

(16)

kelancaran aliran darah ke otak yang pada akhirnya akanmenyebabkan infark

sel-sel otak (Harsono, 2007).

b.5 Obesitas

Obesitas atau berat badan yang berlebih berpotensi untuk menimbulkan

stroke di kemudian hari. Penyakit jantung rematik, penyakit jantung koroner

dengan infark otot jantung, dan gangguan irama denyut jantung merupakan faktor

risiko GPDO yang cukup potensial. Faktor risiko ini pada umumnya akan

menimbulkan hambatan atau sumbatan aliran darah ke otak karena jantung

melepas gumpalan darah atau sel-sel / jaringan yang telah mati ke dalam aliran

darah. Peristiwa ini disebut emboli. Apabila penyakit jantung yang diberi obat anti

penggumpalan darah dengan dosis yang tak terkontrol dan/atau tidak dilakukan

kontrol terhadap waktu penjendalan darah maka dapat muncul komplikasi yang

serius, ialah perdarahan otak (Harsono, 2007).

b.6 Merokok

Menurut Sorganvi dkk (2014) merokok berisiko 2 kali lebih besar terkena

stroke. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah menunjukkan merokok

menjadi faktor risiko penting untuk stroke. Nikotin dan karbon monoksida dalam

asap rokok merusak sistem kardiovaskular. Penggunaan kontrasepsi oral

dikombinasikan dengan merokok sangat meningkatkan risiko stroke (American Stroke Assosiation, 2015).

b.7 Aktivitas fisik

Aktivitas fisik atau olahraga merupakan bentuk pemberian rangsangan

(17)

teratur dengan takaran dan waktu yang tepat. Aktivitas fisik sangat berhubungan

dengan faktor risiko stroke, yaitu hipertensi dan aterosklerosis. Seseorang yang

sering melakukan aktivitas fisik minimal 3-5 kali dalam seminggu dalam waktu

minimal 30-60 menit dapat menurunkan risiko untuk terkena penyakit yang

berhubungan dengan pembuluh darah, seperti stroke (Depkes, 2007).

b.8 Pemakaian alkohol

Sebuah studi meta-analisis terhadap 35 penelitian dari tahun 1966 hingga

2002 melaporkan bahwa dibandingkan dengan bukan pengguna alkohol, individu

yang mengkonsumsi <12 g per hari (1 minuman standar) memiliki adjusted RR yang secara signifikan lebih rendah untuk stroke iskemik, demikian juga individu

yang mengkonsumsi 12 hingga 24 g per hari (1 hingga 2 standar minum) alkohol.

Sedangkan individu yang mengkonsumsi alkohol >60 g per hari memiliki

adjusted RR untuk stroke iskemik yang signifikan lebih tinggi (Hakey dkk, 2006).

2.8 Pencegahan Stroke 2.8.1 Pencegahan Primer

Tujuan pencegahan primer adalah mencegah timbulnya faktor risiko stroke

bagi individu yang belum ataupun mempunyai faktor risiko dengan cara

melaksanakan gaya hidup sehat bebas stroke, yaitu (Padila, 2013) (Kemenkes RI,

2013):

a. Memiliki gaya hidup yang sehat yaitu dengan menghindari stress, makan

rendah garam, lemak dan kalori, tidak merokok, dan menghindari minum

(18)

b. Memperhatikan faktor risiko biologis (jenis kelamin, riwayat keluarga), efek

aspirin sehingga dapat lebih waspada terhadap penyakit stroke.

c. Mengontrol atau mengendalikan hipertensi, diabetes mellitus, penyakit

jantung dan aterosklerosis, kadar lemak darah, konsumsi makanan seimbang,

serta olahraga teratur 3-4 kali seminggu.

d. Pelayanan kesehatan untuk pengendalian kejadian stroke melalui pendidikan

kesehatan dan pelayanan pra stroke untuk deteksi dini dan monitoring faktor

risiko stroke pada individu sehat dan berisiko di masyarakat.

2.8.2 Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder ditujukan bagi mereka yang pernah menderita stroke

yaitu dengan cara:

a. Diagnosis dan pengobatan segera terhadap penderita stroke agar stroke tidak

berlanjut menjadi kronis. Obat-obatan yang digunakan seperti aspirin dengan

dosis 50-325 mg per oral yang diberikan sekali sehari, aspirin 25 mg dan

dipiridamol SR 200 mg per oral yang diberi 2 kali sehari, cilostazol 100 mg

per oral yang diberi 2 kali sehari dan clopidogrel 75 mg per oral sekali sehari,

dan ticlodipin 250 mg per oral yang diberi 2 kali sehari (Kemenkes RI, 2013).

b. Mengontrol faktor risiko dengan modifikasi gaya hidup misalnya

mengkonsumsi obat antihipertensi yang sesuai pada penderita hipertensi,

mengkonsumsi obat hipoglikemik pada penderita diabetes, diet rendah lemak

dan mengkonsumsi obat antidislipidemia pada penderita dislipidemia, berhenti

merokok, berhenti mengkonsumsi alkohol, hindari kelebihan berat badan dan

(19)

c. Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM termasuk stroke yang merupakan

salah satu wujud peran serta masyarakat dalam kegiatan deteksi dini,

monitoring dan tindak lanjut dini terhadap faktor risiko stroke secara terpadu

dan terintegrasi dengan kegiatan rutin di masyarakat (Kemenkes RI, 2013).

2.8.3 Pencegahan Tersier

Tujuan pencegahan tersier adalah untuk mereka yang telah menderita

stroke agar kelumpuhan yang dialami tidak bertambah berat dan mengurangi

ketergantungan pada orang lain dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Pencegahan tersier dapat dilakukan dalam bentuk rehabilitasi fisik, mental dan

sosial. Rehabilitasi akan diberikan oleh tim yang terdiri dari dokter, perawat, ahli

fisioterapi, ahli terapi wicara dan bahasa, ahli okupassional, petugas sosial dan

peran serta keluarga.

a. Rehabilitasi dini

Upaya rehabilitasi harus segera dilakukan apabila keadaan pasien sudah

stabil. Fisioterapi pasif perlu diberikan bahkan saat pasien di ruang intensif yang

segera dilanjutkan dengan fisioterapi aktif jika memungkinkan. Upaya terapi

wicara dapat diberikan apabila terdapat gangguan bicara atau menelan. Setelah

pasien dapat berjalan sendiri, terapi fisis dan okulasi perlu dilakukan agar pasien

bisa kembali mandiri. Pendekatan psikologis sangat penting untuk memulihkan

kepercayaan diri pasien yang biasanya sangat menurun setelah terjadinya stroke,

dan jika diperlukan dapat diberikan antidepresi ringan (Martono dan Kuswardani,

(20)

b. Tindakan pengawasan lanjutan

Tindakan untuk mencegah stroke berulang dan upaya rehabilitasi kronis

harus terus dikerjakan. Hal ini dikerjakan oleh spesialis penyakit dalam yang

mengetahui faktor risiko terjadinya stroke (Martono dan Kuswardani, 2009).

2.9 Kerangka Konsep

Karakteristik Penderita Stroke

1. Faktor Sosiodemografi: Umur

Jenis kelamin Suku

Agama

Status perkawinan Pendidikan

Pekerjaan 2. Asal daerah 3. Sumber biaya

4. Pemeriksaan CT Scan 5. Tipe stroke

6. Sisi tubuh yang mengalami kelumpuhan 7. Onset serangan

8. Faktor Risiko

Gambar

Gambar 2.1 Gambaran Perbedaan Patofisiologi Stroke
Tabel 2.1 Skor Stroke Alogaritma Gajah Mada

Referensi

Dokumen terkait

Dengan meningkatnya kejadian stroke yang tidak hanya terjadi di kalangan usia lanjut namun terjadi di usia produktif yang disebabkan oleh beberapa faktor risiko, sehingga

Tabel 4.14 Distribusi Proporsi Tipe Stroke Berdasarkan Riwayat Penyakit Sebelumnya Penderita Karakteristik Stroke di Rumah Sakit Umum Daerah Kabanjahe Tahun

senantiasa melimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Karakteristik Penderita Hipertensi dengan Stroke yang Dirawat Inap di Rumah Sakit

Diharapkan kepada pihak Rumah Sakit Umum Kabanjahe melakukan upaya pencegahan terjadinya stroke akibat hipertensi melalui penyuluhan faktor risiko stroke akibat hipertensi

Stroke adalah suatu penyakit defisit neurologis akut yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak yang terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala dan tanda

Buku Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2012.. Gambaran Faktor Risiko dan Tipe Stroke pada Pasien Rawat Inap di Bagian Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Solok

Stroke rawat Inap Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang di Rumah Sakit Umum Kabanjahe Tahun 2011-2015...80 Gambar 5.16 Diagram Bar Tipe Stroke Penderita Hipertensi dengan

Untuk mengetahui karakteristik penderita hipertensi dengan stroke yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Kabanjahe tahun 2011-2015, dilakukan dengan penelitian