Kebiasaan refleksi mahasiswa Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma dan dampaknya bagi perkembangan kepribadian
Teks penuh
(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ii.
(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. iii.
(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PERSEMBAHAN. Skripsi ini kupersembahkan kepada: Kedua orang tuaku tercinta (Harsono dan Susilowati) Kakakku (Ely Vandes dan Rita) dan Semua Saudaraku Untuk teman sekaligus pacarku (Benidiktus) Semua teman-teman PAK dan terkhusus angkatan 2012 semua orang yang telah membantu dan mendukung dalam penyusunan skripsi ini.. iv.
(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. MOTTO “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapatkan; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” (Mat 7: 7-8). v.
(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Scanned by CamScanner.
(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Scanned by CamScanner.
(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRAK Skripsi ini berjudul KEBIASAAN REFLEKSI MAHASISWA PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK UNIVERSITAS SANATA DHARMA DAN DAMPAKNYA BAGI PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN. Penulis memilih judul ini berdasarkan pengalaman dan kesan dari beberapa mahasiswa PAK ketika membicarakan refleksi. Mereka mengatakan masih sangat kurang menekankan hidup berefleksi. Mereka melewatkan hari-hari tanpa belajar sesuatu dari apa yang telah mereka alami, dengar, lihat terhadap kejadian pada hari itu. Sebagai mahasiswa PAK penting menekankan kebiasaan refleksi karena hal ini membawa dampak terhadap perkembangan kepribadian mahasiswa. Persoalan pokok yang dibahas dalam skripsi ini adalah sejauh mana mahasiswa PAK memiliki kebiasaan berrefleksi dan apakah ada dampaknya bagi perkembangan kepribadian. Menanggapi persoalan tersebut penulis menjelaskan pengertian kebiasaan berrefleksi, perkembangan kepribadian dan hubungan antara keduanya melalui kajian pustaka. Kajian pustaka dilaksanakan dengan mempelajari berbagai sumber yakni pandangan para ahli. Skripsi ini disusun menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penulis juga mengadakan penelitian dengan menggunakan kuesioner dengan 60 mahasiswa serta wawancara dengan 10 mahasiswa semester I-IX PAK. Hasil penelitian menunjukan bahwa mahasiswa Pendidikan Agama Katolik belum terbiasa melakukan refleksi setiap harinya. Secara khusus, kebiasaan refleksi membawa dampak bagi perkembangan kepribadian mahasiswa. Selain penulis memberikan sumbangan pemikiran demi meningkatkan kebiasaan berrefleksi dan perkembangan kepribadian mahasiswa PAK. Penulis mengusulkan kegiatan pelatihan refleksi sebagai upaya untuk meningkatkan kebiasaan refleksi dalam rangka meningkatkan perkembangan kepribadian mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa dapat belajar dari pengalaman dan mampu merefleksikan supaya memperkembangkan kepribadian sebagai seorang mahasiswa Pendidikan Agama Katolik.. viii.
(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRACT This paper entitled "THE REFLECTION HABIT OF SANATA DHARMA'S CHATOLIC RELIGION EDUCATION'S STUDENT AND THE IMPACT DEVELOPMENT OF PERSONALITY" Writer chose this title based on the experiences and the opinions from some Chatolic Religion Education students whlie talking about reflection. They said that they still haven't do enough reflection on their life. They missed day by day without learn something from what they've experienced, heard, saw toward the event on that day. As a student of Chatolic Religion Education it's important to emphasize reflection habit because this thing affect our student's personality development. The main problem on this paper is how far Chatolic Religion Education has a reflection habit and is there any impact for their personality development. In response to that problem writer explain the meaning of reflection habit, personality development and the relation of both of them by this literature review. Literature review held by studying many sources which is expert's point of views. This paper written using descriptive method with qualitative approach. Writer also held research using questioners with 60 students and interview with 10 students of Chatolic Religion Education from I to IX semester. The results of the research show that Chatolic Religion Education students haven't used to do reflection every day. Especially, reflection habit affect student's personality development. Beside writer donate thought for the sake to remind Chatolic Religion Education student's reflection habit and personality development. And thus, students can learn from experience and able to reflect for develop their personalities as a student of Chatolic Religion Education.. ix.
(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. KATA PENGANTAR. Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah membimbing, menerangi dan menguatkan penulis dengan kasih karuniaNya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul KEBIASAAN REFLEKSI MAHASISWA PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK UNIVERSITAS SANATA. DHARMA. DAN. DAMPAKNYA. BAGI. PERKEMBANGAN. KEPRIBADIAN. Penulisan skripsi ini dimaksudkan sebagai sumbangan pemikiran dan inspirasi bagi para mahasiswa dalam meningkatkan kebiasaan berrefleksi. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini dapat terselesaikan berkat pendampingan, dukungan, motivasi, bimbingan dan doa dari berbagai pihak. Maka dari itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada: 1. Drs. F.X. Heryatno Wono Wulung, SJ., M. Ed, selaku dosen utama yang begitu setia mendampingi, menuntun, mengembangkan ide dan memberi semangat dengan penuh kesabaran dari awal hingga akhir. 2. Y.H. Bintang Nusantara, SFK, M.Hum, dosen penguji kedua selaku dosen pembimbing akademik yang telah menguji serta memberikan masukan demi penyelesaian skripsi ini. 3. P. Banyu Dewa HS. S.Ag., M.Si. selaku dosen penguji ketiga yang telah menguji serta memberikan masukan demi penyelesaian skripsi ini.. x.
(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 4. Segenap Staf Dosen Prodi PAK, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma yang mendidik dan mendampingi penulis selama belajar sampai terselesaikannya skripsi ini. 5. Segenap Staf Sekretariat, Perpustakaan Prodi PAK maupun USD Pusat dan seluruh karyawan bagian lain yang telah memberikan dukungan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini. 6. Segenap Petugas Perpustakaan Kolose St. Ignatius yang telah mengizinkan penulis untuk menggunakan yang diperlukan selama menyelesaikan skripsi ini. 7. Keluargaku tercinta, Bapak Harsono, Ibu Susilowati, kakakku Ely Vandes dan Rita yang selalu mencintai, memberi motivasi, perhatian dan dukungan dalam segala hal sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini ini. 8. Teman-teman mahasiswa PAK terkhusus teman-teman seperjuangan angkatan 2012 yang selalu memberikan masukan dan semangat dalam penyelesaian skripsi ini. 9. Teman-teman yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk menjadi responden peneliatian baik yang pengisian kuesioner maupun yang wawncara, tanpa temanteman skripsi ini tidak akan dapat terselesaikan. 10. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan, dukungan, doa, perhatian dan kerjasama sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik.. xi.
(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Penulis menyadari keterbatasan pengetahuan dan pengalaman dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca yang bersifat membangun. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan khususnya para mahasiswa.. Penulis.. xii.
(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL.................................................................................................. i. HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING...................................................... ii. HALAMAN PENGESAHAN................................................................................... iii. HALAMAN PERSEMBAHAN................................................................................ iv. HALAMAN MOTTO................................................................................................ v. PERNYATAAN KEASLIAN KARYA.................................................................. vi. LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH..................................................................................................... vii. ABSTRAK................................................................................................................ viii. ABSTRACT............................................................................................................... ix. KATA PENGANTAR.............................................................................................. x. DAFTAR ISI............................................................................................................. xiii. DAFTAR SINGKATAN.......................................................................................... xvii PENDAHULUAN................................................................................... 1. A. Latar Belakang Masalah........................................................................... 1. B. Rumusan Masalah.................................................................................... 4. C. Tujuan Penulisan...................................................................................... 5. D. Manfaat Penulisan.................................................................................... 5. E. Metode Penulisan..................................................................................... 6. F. Sistematika Penulisan.............................................................................. 6. BAB I.. BAB II.. KEBIASAAN REFLEKSI DAN DAMPAKNYA BAGI PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN................................................. 8. A. Kebiasaan Berrefleksi……….................................................................. 9. 1.. Pengertian Kebiasaan........................................................................ 9. 2.. Pengertian Refleksi........................................................................... 12. 3.. Tujuan Kegiatan Refleksi.................................................................. 14. xiii.
(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 4.. Proses Refleksi.................................................................................. 16. a. Pengalaman.................................................................................. 16. b. Refleksi........................................................................................ 17. c. Aksi.............................................................................................. 17. d. Evaluasi........................................................................................ 18. 5.. Kebiasaan Berrefleksi....................................................................... 18. 6.. Perbedaan Refleksi dan Evaluasi...................................................... 19. a. Pengertian Refleksi...................................................................... 19. b. Pengertian Evaluasi...................................................................... 19. B. Perkembangan Kepribadian..................................................................... 21. 1.. Pengertian Kepribadian..................................................................... 21. 2.. Pengertian Perkembangan................................................................. 25. 3.. Aspek-aspek perkembangan kepribadian.......................................... 26. a. Usia 0-3 Tahun............................................................................. 27. b. Usia 4-6 Tahun............................................................................. 27. c. Usia Remaja................................................................................. 28. 4.. 5.. 6.. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kepribadian....................................................................................... 29. a. Tuhan........................................................................................... 31. b. Agama.......................................................................................... 31. c. Kampus........................................................................................ 32. Proses Perkembangan Kepribadian................................................... 32. a. Individualisme.............................................................................. 32. b. Sosialisasi..................................................................................... 32. c. Integrasi........................................................................................ 33. Ciri-ciri Perkembangan Kepribadian............................................... 33. a. Perluasan Perasaan Diri.............................................................. 34. b. Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang-orang Lain............ 34. xiv.
(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 7.. c. Keamanan Emosional................................................................. 35. d. Persepsi Realistis........................................................................ 36. e. Keterampilan-keterampilan dan Tugas-tugas............................. 36. f. Pemahaman Diri......................................................................... 36. g. Filsafat Hidup yang Mempersatukan......................................... 37. Manfaat Perkembangan Kepribadian................................................ 37. a. Keterbukaan pada pengalaman.................................................... 38. b. Keterbukan Eksistensial............................................................... 38. c. Kepercayaan terhadap Orang Lain............................................... 39. d. Perasaan Bebas............................................................................. 38. e. Kreativitas.................................................................................... 39. C. Dampak Kebiasaan Refleksi Dan Dampaknya Bagi Perkembangan Kepribadian............................................................................................. BAB III.. 40. GAMBARAN KEBIASAAN REFLEKSI MAHASISWA PAK UNIVERSITAS SANATA DHARMA DAN DAMPAKNYA BAGI PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN................................................. A. Gambaran Umum Prodi PAK-USD. B.. 41 42. 1.. Sejarah Singkat Prodi PAK-USD.................................................... 42. 2.. Visi dan Misi Prodi PAK-USD..................................................... 44. 3.. Tujuan Prodi PAK-USD................................................................ 44. 4.. Gambaran Umum Mahasiswa....................................................... 46. 5.. Pembelajaran dan Suasana Akademik........................................... 48. Penelitian Tentang Kebiasaan Refleksi Bagi Perkembangan Kepribadian Mahasiswa PAK-USD..................................................... 51. 1.. Latar Belakang............................................................................... 51. 2.. Tujuan Penelitian........................................................................... 53. 3.. Jenis Penelitian.............................................................................. 54. 4.. Variabel Penelitian........................................................................ 54. xv.
(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. C.. 5.. Definisi Operasional...................................................................... 55. 6.. Responden Dan Sampel Penelitian................................................ 55. 7.. Instrumen Penelitian...................................................................... 56. 8.. Tempat Dan Waktu Penelitian....................................................... 57. 9.. Kisi-kisi......................................................................................... 57. Laporan Hasil Penelitian....................................................................... 59. 1.. Laporan Hasil Penelitian Melalui Penyebaran Kuesioner............. 59. 2.. Laporan Hasil Penelitian Dengan Wawancara.............................. 77. 3.. Pembahasan Hasil Penelitian......................................................... 81. a. Gambaran Kebiasaan Mahasiswa PAK Berrefleksi................. 81. b. Dampak Kebiasaan Refleksi Terhadap Perkembangan. 4.. Kepribadian.............................................................................. 83. Kesimpulan Penelitian................................................................... 86. BAB IV. UPAYA MENINGKATKAN KEBIASAAN REFLEKSI DEMI PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN MAHASISWA PAK USD............................................................................................. 86. A. Pentingnya Membiasakan Kebiasaan Refleksi Mahasiswa PAK USD Dalam Rangka Meningkatkan Perkembangan Kepribadian........ 86. Usulan Pelatihan Refleksi Bagi Para Mahasiswa PAK........................ 89. KESIMPULAN DAN SARAN........................................................... 106. A. Kesimpulan........................................................................................... 106. B.. Saran..................................................................................................... 108. DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 110. LAMPIRAN........................................................................................................... 112. Lampiran 1 : Surat Permohonan Izin Penelitian..................................... (1). Lampiran 2 : Kuesioner........................................................................... (2). Lampiran 3 : Hasil Penelitian.................................................................. (4). Lampiran 4 : Panduan Pertanyaan Wawancara ...................................... (24). B. BAB V.. xvi.
(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Lampiran 5 : Data Responden................................................................. (25). Lampiran 6 : Transkip Hasil Wawancara............................................... (27). xvii.
(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR SINGKATAN. A. Singkatan Teks Kitab Suci Mat. : Matius. C. Singkatan Lain AKKI. : Akademik Kateketik. BAPSI. : Badan Administrasi Perencanaan dan Sistem Informasi. Dkk. : Dan Kawan-kawan. DPA. : Dosen Pembimbing Akademik. FIPA. : Fakultas Ilmu Pendidikan Agama. KWI. : Konferensi Wali Gereja. No. : Nomor. PAK. : Pendidikan Agama Katolik. P3MP. : Pengembang Penjamin Mutu Pembelajaran. PPL. : Pengalaman Praktek Lapangan. LPM. : Lembaga Penjamin Mutu. STFK. : Sekolah Tinggi Filsafatat Kateketik. USD. : Universitas Sanata Dharma. xviii.
(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Refleksi adalah satu cara pasti untuk dapat belajar dan bertumbuh. Dengan refleksi kita dapat hidup lebih baik lagi dan belajar dari pengalaman yang telah kita lalui. Bagi calon katekis atau pewarta kebiasaan berrefleksi sangat membantu untuk. memperkembangan. kepribadiannya. secara. menyeluruh.. Kebiasaan. berrefleksi perlu ditumbuhkan dan dikembangkan serta diterapkan dalam hidup sebagai pembaharuan diri terus menerus. Refleksi adalah melihat kembali tentang apa yang baru terjadi atau berpikir ke belakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu untuk meningkatkan, memaknai pengalaman dengan sedikit memahami. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang baru diterima. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya (Trianto, 2007: 115). Menurut Atmadi (2006: 17) manusia adalah makhluk yang mampu melakukan self-reflection. Ia mampu keluar dari dirinya dan menengok ke belakang,. kemudian mengadakan. penelitian. dan. permenungan.. Dengan. melakukan self-reflection atau berrefleksi pribadi, mahasiswa akan mampu menemukan kedalaman dari. pelajaran yang telah diterima sehingga dapat. menyentuh hati dan mendorong mereka untuk melakukan suatu aksi sebagai hasil dari permenungan. Mahasiswa hendaknya menyadari bahwa hasil dari.
(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 2. permenungan tersebut membutuhkan waktu untuk diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Barbara K. Given (2008: 302) kemampuan berrefleksi yang dikembangkan secara serius akan membatu mahasiswa mengatasi berbagai masalah, mampu membuat keputusan, mampu memahami situasi sulit, dan melaksanakan tugas intelektual lain yang membebani dengan baik. Oleh karena itu kemampuan reflektif mahasiswa perlu dipupuk karena refleksi membantu mahasiswa mengenali dirinya sendiri dengan kesadaran yang penuh. Pengenalan akan diri dengan kesadaran penuh akan membantu dalam memperkembangkan kepribadian menjadi manusia yang semakin dewasa. Kebiasaan. berefleksi. ini. diambil. dari. pedagogi. Ignasian. yang. diperkenalkan dan dikembangkan oleh St. Ignatius, seorang Jesuit. Pengajaran ini menekankan untuk menyimak kembali pelajaran, pengalaman, ide-ide atau reaksi supaya menangkap maknanya secara lebih mendalam dan konsekuensinya dalam kehidupan sehari-hari sehingga semakin hari mahasiswa semakin mengalami perkembangan. Kepribadian bisa diartikan sebagai identitas seseorang. Bagaimana pun kepribadian menunjuk kepada suatu keadaan tetapi juga karakter jiwa seseorang. Dengan begitu kepribadian menyangkut berbagai masalah watak, sifat, tetapi itu semua tercermin nyata dalam tindakan seseorang (M. Suprihadi Sastrosupono 1979: 6). Harris dan Moran dalam Jack L. Seymour (1997: 61) memahami kepribadian sebagai kemampuan seseorang untuk mendengarkan kedalaman hidup batinnya dan menanggapi dengan tindakan lahiriah yang konkret demi hidup.
(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 3. sendiri maupun orang lain. Mereka berpendapat kepribadian memiliki dua dimensi yaitu kedalaman hidup (inwardness atau interiority) atau hidup batin seseorang (inner life) dan relasi dirinya dengan Tuhan, sesama dan alam semesta yang terungkap dalam tindakan nyata (outer activity). Setiap orang dipanggil untuk mengembangkan kepribadiannya baik dengan kontemplasi, disiplin spiritual, retret, maupun membaca buku spiritual. Menurut. M.. Suprihadi. Sastrosupono. (1979:. 39). perkembangan. kepribadian atau katakanlah peralihan dan perubahan dalam perkembangan kepribadian, ada banyak orang yang berpendapat bahwa perkembangan itu seperti garis lurus. Ada banyak pula yang menganggap perkembangan kepribadian sebagai suatu proses yang agak rata, yakni suatu perkembangan yang biasa-biasa saja tak terlalu jadi masalah sebab perkembangan itu tidak terasa. Manusia berkembang melalui tahap-tahap tertentu, yang tidak terpisahkan secara mutlak satu dari yang lain. Dengan begitu, perkembangan kepribadian mempunyai tahaptahap yang jelas, meskipun tahap-tahap itu juga tak dapat dipisahkan secara tegas. Prodi PAK adalah salah satu prodi yang ada di Universitas Sanata Dharma. Mahasiswa prodi PAK ini ialah calon-calon guru agama dan calon katekis. Sebagai calon guru agama maupun calon katekis tentu perlu mengembangkan dan menerapkan secara khusus kebiasaan refleksi dalam kehidupan sehari-hari karena dengan refleksi dapat membantu mahasiswa mengetahui dan menyadari segala tindakannya, apakah yang telah dilakukan itu baik atau buruk. Di kampus PAK ini penulis mengamati bahwa mahasiswa PAK kurang menerapkan kebiasaan berefleksi, padahal hal ini sangat penting bagi.
(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 4. perkembangan kepribadian seseorang. Kepribadian yang meliputi jasmani maupun rohani, merupakan usaha seseorang dalam merealisasikan diri sebagai manusia seutuhnya. Penulis. mendapat kesan. dari. beberapa. mahasiswa. PAK ketika. membicarakan refleksi, bahwa mahasiswa mengatakan masih sangat kurang menekankan hidup berefleksi. Mereka melewatkan hari-hari tanpa belajar sesuatu dari apa yang telah mereka alami, dengar, lihat terhadap kejadian pada hari itu. Dari kesan mahasiswa PAK, dapat dinyatakan banyak mahasiswa yang tidak menyediakan waktu untuk berefleksi. Maka disini penulis ingin mengetahui sejauh mana mahasiswa PAK telah berrefleksi dalam kehidupan sehari-hari, dengan itu penulis mengambil judul “KEBIASAAN REFLEKSI MAHASISWA PAK UNIVERSITAS SANATA DHARMA DAN DAMPAKNYA BAGI PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN”.. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah ini, penulis merumuskan pertanyaan sebagai berikut: 1. Apa yang dimaksud dengan kebiasaan refleksi itu dan dampaknya bagi perkembangan kepribadian? 2. Seberapa jauh mahasiswa PAK USD telah terbiasa berrefleksi dan apa dampaknya bagi perkembangan kepribadian mereka?.
(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 5. 3. Usaha apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kebiasaan refleksi mahasiswa PAK USD sehingga semakin ada dampaknya bagi perkembangan kepribadian?. C. Tujuan Penulisan Penulisan skripsi ini bertujuan: 1. Menggambarkan tujuan refleksi dengan perkembangan kepribadian. 2. Mendapatkan gambaran apakah kebiasaan refleksi ada dampaknya bagi perkembangan kepribadian mahasiswa PAK. 3. Menyampaikan usaha konkrit yang dapat dilakukan sebagai sumbangan pemikiran yang tepat untuk meningkatkan kebiasaan refleksi bagi perkembangan kepribadian.. D. Manfaat Penulisan Manfaat yang diharapkan dari skripsi ini adalah: 1. Skripsi ini dapat dipakai untuk mengetahui sejauh mana kebiasaan refleksi bagi perkembangan kepribadian mahasiswa PAK Universitas Sanata Dharma. 2. Menumbuhkan minat mahasiswa PAK untuk mengembangkan kebiasaan berrefleksi tidak hanya dikampus tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. 3. Melalui skripsi ini, mahasiswa PAK semakin disadarkan untuk meningkatkan kegiatan berefleksi bagi perkembangannya.. E. Metode Penulisan.
(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 6. Dalam skripsi ini menggunakan metode deskripsi analitis, yaitu menerangkan. tentang. pengertian. kebiasaan. refleksi. dan. perkembangan. kepribadian. Kemudian guna mengetahui apakah kebiasaan refleksi ada dampaknya dengan perkembangan kepribadian dengan diadakan sebuah penelitian menggunakan penyebaran kuesioner bagi mahasiswa PAK, kemudian hasil penyebaran dianalisis dan dijelaskan. Akhirnya penulis memberikan sumbangan pemikiran berdasarkan kajian pustaka dan hasil penelitian yang diharapkan berguna bagi mahasiswa PAK.. F. Sistematika Penulisan Judul yang dipilih adalah Kebiasaan Refleksi Mahasiswa PAK Universitas Sanata Dharma Dan Dampaknya Bagi Perkembangan Kepribadian. Adapun rincian setiap bab nya sebagai berikut. Bab I berisi pendahuluan yang menjelaskan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab II memberikan gambaran tentang apa itu refleksi, tujuan kegiatan refleksi, kebiasaan refleksi, dan proses refleksi. Sedangkan bagian perkembangan kepribadian. meliputi. pengertian. kepribadian,. pengertian. perkembangan. kepribadian, aspek-aspek perkembangan kepribadian, proses perkembangan kepribadian, ciri-ciri perkembangan kepribadian dan manfaat kepribadian. Bab ini berisi kajian pustaka mengenai kebiasaan refleksi dan perkembangan kepribadian dari beberapa teori dan pendapat para ahli..
(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 7. Bab III memberikan gambaran umum mengenai mahasiswa PAK USD, penelitian mengenai kebiasaan refleksi dan dampaknya bagi perkembangan kepribadian, laporan dan pembahasan hasil penelitian, pendalaman lebih lanjut terhadap hasil penelitian menurut masing – masing variabel dan kesimpulan hasil penelitian. Sedangkan hasil penelitian meliputi laporan hasil penelitian, pembahasan dan hasil penelitian, pendalaman lebih lanjut terhadap hasil penelitian menurut masing – masing variabel dan kesimpulan hasil penelitian. BAB. IV. berisikan. sumbangan. pemikiran. sebagai. usaha untuk. meningkatkan kebiasaan refleksi bagi perkembangan kepribadian mahasiswa PAK Universitas Sanata Dharma. Bab V berisikan penutup yang mencakup dua bagian. Bagian pertama membahas kesimpulan untuk menjawab rumusan permasalahan, tujuan penulisan skripsi serta didukung oleh data hasil penelitian. Bagian kedua berisikan saran yang ditujukan kepada Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Katolik..
(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB II KEBIASAAN REFLEKSI DAN DAMPAKNYA BAGI PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN. Pada bab sebelumnya, penulis telah menyampaikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan kemudian ditindaklanjuti dengan memberikan gambaran tentang kebiasaan refleksi dan perkembangan kepribadian secara lebih mendalam. Bab ini berisi kajian pustaka mengenai kebiasaan refleksi dan perkembangan kepribadian dari beberapa teori dan pendapat para ahli serta memaparkan dampak kebiasaan berrefleksi bagi perkembangan kepribadian mahasiswa sesuai dengan pokok permasalahan yang dibahas dalam penulisan skripsi ini. Bab II ini menjelaskan mengenai kebiasaan berrefleksi yang merupakan upaya sadar dan terencana untuk membantu mahasiswa berkembang menjadi dewasa baik dalam segi intelektual maupun segi pembentukan kepribadian secara utuh. Dalam dunia pendidikan saat ini perlu diadakan usaha untuk mengingatkan kembali tujuan dasar dari pendidikan itu sendiri. Kebiasaan berrefleksi dilakukan sebagai salah satu upaya untuk membantu mahasiswa dalam memperkembangkan dirinya menjadi lebih dewasa dari segi intelektual maupun segi pembentukan kepribadian secara utuh. Kegiatan berrefleksi secara terus menerus mampu membawa dampak baik bagi perkembangan kepribadian mahasiswa, dengan.
(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 9. berrefleksi mahasiswa akan dapat bertindak dengan baik dan mampu menemukan makna hidupnya. Pada bagian pertama bab ini penulis akan membahas mengenai kebiasaan berrefleksi yang meliputi pengertian kebiasaan, refleksi, tujuan kegiatan refleksi, proses berrefleksi, kebiasaan berrefleksi dan perbedaan refleksi dengan evaluasi. Bagian II menjelaskan tentang perkembangan kepribadian. Secara rinci bagian ini meliputi pengertian perkembangan, pengertian kepribadian, proses perkembangan kepribadian, ciri-ciri perkembangan kepribadian, dan manfaat dari perkembangan kepribadian. Pada bagian akhir bab ini, penulis akan menjelaskan dampak dari kebiasaan refleksi bagi perkembangan kepribadian. A. Kebiasaan Berefleksi 1. Pengertian Kebiasaan Menurut Kartini Kartono (1984: 128) kebiasaan adalah bentuk tingkah laku yang tetap dari usaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang mengandung unsur afektif perasaan. Suatu kebiasaan ditentukan oleh lingkungan sosial dan kebudayaan yang kemudian dikembangkan oleh manusia. Kebiasaan merupakan tingkah laku yang telah distabilkan, dimana kebutuhan tertentu mendapatkan kepuasaan karena kebutuhanya terpenuhi. Kebiasaan pada dasarnya merupakan sesuatu yang dilakukan dengan cara yang sama dan berulang-ulang dalam periode waktu yang lama sehingga akhirnya orang melakukannya secara otomatis..
(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 10. Julian James (2007: 40) menegaskan bahkan saat seseorang sebenarnya tidak ingin melakukannya dengan sendirinya ia akan melakukannya karena sudah terbiasa. Melalui kebiasaan inilah akan tercermin bagian terbesar dari kepribadian. Kebiasaan bisa bersifat positif dan bisa bersifat negatif. Kebiasaan yang bersifat positif misalnya bangun pagi, rajin berdoa. Sedangkan kebiasaan yang bersifat negatif misalnya merokok dan malas-malasan. Kartini Kartono (1984: 129) menjelaskan pula bahwa kebiasaan menjadi produk dorongan. Dorongan adalah desakan yang alami untuk memuaskan kebutuhan hidup dan merupakan kecenderungan untuk mempertahankan hidup. Dorongan ini sudah ada sejak lahir. Dorongan sering tidak disadari dan terlepas dari kontrol manusia. Pendidikan dan kebiasaan yang baik ikut mempengaruhi dorongan tersebut bahkan dapat memperkuatnya. Begitu banyak perbuatan manusia yang berupa kebiasaan. Sebagian besar dari kebiasaan itu hanya setengah disadari, atau bahkan tidak disadari lagi. Pada awal pembentukannya kebiasaan ini masih disadari dan dipertimbangkan oleh akal. Lama-kelamaan kesadaran ini semakin berkurang dan semakin menipis. Lalu kebiasaan menjadi otomatis dan tidak disadari lagi, contohnya saja berjalan, naik sepeda, bernafas dan lainnya. Namun, sewaktu-waktu pertimbangan akal ini dapat ditimbulkan kembali pada mahasiwa, khususnya jika dibutuhkan untuk mengubah kebiasaan yang buruk dengan kebiasaan yang lebih baik. Muhibbin Syah (2012: 128) menjelaskan perubahan kebiasaan tidak dapat dilakukan begitu saja, melainkan membutuhkan kesediaan belajar terus melakukannya dan berproses untuk menjadi sebuah kebiasaan. Belajar yang baik.
(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 11. kebiasaan adalah proses pembentukan untuk memiliki kepribadian yang lebih baik, misalnya yang malas berdoa menjadi rajin berdoa. Belajar kebiasaan, selain menggunakan kemauan, komitmen juga memerlukan pengalaman khusus. Orang yang ingin melakukan kebiasaan tentunya belajar dari pengalaman serta berkomitmen untuk melakukan kebiasaan yang mampu mengembangkan kepribadian menjadi lebih baik. Julian (2007: 39) menegaskan kembali kebiasaan merupakan kebutuhan pertama dalam pembentukan karakter mahasiswa, dimana kebiasaan itu nantinya akan mencerminkan kepribadian mahasiswa. Kebiasaan akan membentuk sifat dasar mahasiswa. Jika seseorang mempunyai temperamen kalem dan tidak suka menggunakan kata-kata kasar, itu berarti ia sudah terlatih dalam cara hidup yang tenang dan ia memiliki latar belakang yang baik sehingga kebiasaan tersebut membawa dampak yang baik dalam hidup mahasiswa dan menjadikan kepribadiannya lebih baik. Sebaliknya jika mahasiswa terbiasa melakukan kebiasaan buruk, maka akan sulit untuk mengubah cara hidupnya meski tidak menutup kemungkinan untuk dapat berubah menjadi baik tentu membutuhkan proses dan waktu yang cukup lama, karena untuk mengubah kebiasaan atau cara hidup seseorang itu bukan hal yang mudah. Kebiasaan adalah pengulangan sesuatu secara terus menerus atau mengulangi sesuatu yang sama berkali-kali dalam rentang waktu yang lama dalam waktu berdekatan, kebiasaan juga keadaan jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa berfikir ulang. Kebiasaan sudah menjadi sebuah rutinitas sehingga tanpa harus disuruh ia akan melakukan dengan.
(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 12. sendirinya dan kebiasaan akan mampu menggambarkan kepribadian mahasiswa atau karakter yang ada dalam dirinya.. 2. Pengertian Refleksi Huijbers (1987: 207) menerangkan kata refleksi berasal (dari bahasa Latin reflectere) berarti “membungkuk atas”. Dengan melayangkan perhatiannya kepada dirinya sendiri, mahasiswa membungkuk atas dirinya sendiri. Jadi refleksi menyangkut. tindakan. manusia. sebagai. subjek. pengalaman,. dimana. pengalamannya sendiri yang menjadi bahan mahasiswa untuk dapat berrefleksi. Refleksi bertolak pada pengalaman dirinya sendiri, dengan melihat kembali masalalu yang sudah dialami dan kejadian yang sudah terjadi sebagai bahan untuk direfleksikan. Dari pengalaman tersebut mahasiswa dapat mengingat kembali dan berimajinasi kejadian mana yang dapat direfleksikan agar dapat menemukan nilai yang membawa mahasiswa untuk menjadi lebih baik. Bahan refleksi itu berasal dari pengalaman pribadi baik itu pengalaman yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Berdasar pengalaman refleksi mahasiswa diharapkan dapat menemukan makna hidup yang mampu membuat kepribadianya berkembang. Menutut Trianto (2007: 113) refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang sudah dilakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima. Melalui refleksi, orang mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Dari pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa refleksi merupakan suatu cara untuk.
(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 13. mengkontruksi kembali pengalaman lebih-lebih yang terjadi di masa lalu atau yang baru saja diterima menjadi suatu bentuk pengetahuan baru yang mampu memperkaya struktur pengetahuan yang telah dimiliki. Refleksi menjadi suatu kegiatan penting agar mahasiswa lebih mampu memahami materi pembelajaran atau proses pembelajaran dengan baik. Menurut Subagya (2008: 22-55) istilah refleksi dipakai juga dalam artian: menyimak kembali penuh perhatian bahan studi tertentu, pengalaman, ide-ide, usul-usul, atau reaksi spontan supaya dapat menangkap maknanya secara lebih mendalam. Jadi refleksi adalah suatu proses yang memunculkan makna dalam pengalaman manusiawi. Refleksi adalah menyimak kembali pengalaman untuk memahami lebih mendalam, seperti menemukan makna, menyadari adanya gerakan-gerakan batin, motivasi keinginan, dan dapat memunculkan perubahan dalam diri mahasiswa. Sehubungan dengan pengertian refleksi, tim Pusat Pengembangan dan Penjamin Mutu Pembelajaran dan Lembaga Penjamin Mutu (P3MP &LPM) Universitas. Sanata. Dharma. Yogyakarta. dalam. buku Pedoman. Model. Pembelajaran Berbasis Pedagogis Ignasian (2012: 18) memaknai refleksi sebagai proses mengadakan pertimbangan seksama dengan menggunakan daya ingat, pemahaman, imajinasi, dan perasaan yang menyangkut bidang ilmu, pengalaman, ide, tujuan yang diinginkan atau reaksi spontan untuk menangkap makna dan nilai dari apa yang dipelajari. Berdasarkan pengertian tersebut sudah sangat jelas bahwa kegiatan refleksi ingin menemukan makna hidup dan menangkap nilai yang sudah dipelajari..
(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 14. Namun untuk sampai bisa menemukan makna dan nilai tersebut perlu digarisbawahi bahwa refleksi merupakan kegiatan mengadakan pertimbangan dengan menggunakan daya ingat, imajinasi dan perasaan. Ketika mahasiswa mengadakan refleksi perlu mengingat sesuatu yang sudah terjadi, merenungkan kembali pengalaman dengan berimajinasi dan menggunakan perasaannya sehingga diharapkan mampu menemukan nilai untuk membawa dirinya ke arah yang lebih baik. Refleksi membantu mahasiswa untuk mengingat kembali pengalaman dan merencanakan langkah hidup yang lebih baik untuk selanjutnya serta dengan refleksi mampu membentuk kepribadian yang utuh. Dari pendapat ahli-ahli di atas dapat dipahami bahwa refleksi merupakan upaya mengambil jarak sejenak dari aktivitas tertentu untuk mengingat kembali pengalaman dalam keheningan untuk memaknai setiap peristiwa yang dialami. Refleksi yaitu melihat diri sendiri seperti di depan cermin, memandang diri dalam suasana batin yang hening, tenang, damai, dan terbuka agar lebih mengenal diri serta mampu menentukan langkah-langkah yang hendak ditempuh selanjutnya dalam rangka meningkatkan atau menyempurnakan diri. Refleksi merupakan suatu proses menuju perubahan pribadi yang dapat mempengaruhi perubahan lingkup sekitar.. 3. Tujuan Kegiatan Refleksi Tim P3MP & LPM Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dalam buku “Pedoman Model Pembelajaran Berbasis Pedagogis Ignasian” (2012: 20) mengungkapkan tujuan kegiatan refleksi yaitu: Menangkap arti atau nilai hakiki.
(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 15. dari apa yang sudah dipelajari, Menemukan keterkaitan antar pengetahuan dengan realitasnya, Memahami implikasi pengetahuan dan seluruh tanggungjawabnya dan membentuk hati nurani. 1) Menangkap arti atau nilai hakiki dari apa yang sudah dipelajari dan telah didapat dalam kegiatan sehari-hari. Dengan menangkap arti dan nilai sesuatu apa yang telah dipelajari seseorang akan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga dapat bertindak dan menerapkan dalam hidup sehari-hari. 2) Menemukan keterkaitan antar pengetahuan dengan realitasnya. Refleksi adalah kegiatan merenungkan kembali sesuatu yang sudah kita dapat, dengan merenungkan terkadang mahasiswa menyadari bahwa pengetahuan yang sudah didapat itu ada yang realitas dan ada yang tidak. Melalui refleksi ini seseorang akan mampu menemukan pengalaman baru dan nilai yang akan membawa mahasiswa menjadi lebih baik. 3) Memahami implikasi pengetahuan dan seluruh tanggungjawabnya. Semua kegiatan sebaiknya direfleksikan dengan merenungkan kembali tugas dan tanggungjawab tentu untuk kedepannya agar lebih baik lagi. Dengan merefleksikan pengetahuan apa yang sudah dimiliki oleh mahasiswa tentu akan menambah wawasan yang lebih luas lagi dan tentunya pengetahuan yang dimiliki akan lebih berguna. Mahasiswa yang dapat merefleksikan kegiatannya sehari-hari tentu akan lebih baik dan menjadi sosok yang bertanggungjawab, karena tidak akan mengulangi kesalahan yang sama..
(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 16. 4) Membentuk hati nurani. Dengan menekankan kebiasaan berrefleksi tentu seseorang akan dapat membentuk hati nuraninya. Mampu membedakan roh baik dan jahat, mengembangkan kesadaran dalam diri mahasiswa dan dapat memilih mana yang terbaik untuk dirinya. Kegiatan refleksi yang dilakukan setiap harinya mampu membentuk hati nurani. Mahasiswa yang memiliki hati nurani tentu akan memiliki kepribadian yang baik karena orang tersebut memilik pedoman hidup yang akan menuntun ke arah yang lebih baik dan positif dengan kesadaran penuh dari dari dalam hati. Setiap manusia mempunyai hati nurani yang menuntut manusia untuk bersikap berdasarkan prinsip-prinsip moral, seperti bertindak baik, jujur, benar dan adil.. 4. Proses Berrefleksi Dalam Pedagogi Ignasian, paradigma yang baik harus memperhatikan konteks belajar dalam proses pedagogisnya. Paradigma tersebut juga harus menunjukkan cara-cara yang mendukung keterbukaan pada pertumbuhan secara keseluruhan, seperti yang ditegaskan oleh Subagya (2008: 41-44). Langkah-langkah paradigma tersebut yaitu: pengalaman, refleksi, aksi dan evaluasi. a. Pengalaman Pengalaman yang dimaksud dalam pedagogi ini merupakan setiap kegiatan yang di dalamnya bercirikan pemahaman kognitif dari bahan yang disimak dan juga keterlibatan dimensi afektif. Pengalaman bisa dibedakan menjadi dua yaitu pengalaman langsung dan tidak langsung. Pengalaman langsung di antaranya situasi pembelajaran, biasanya berupa: diskusi, penelitian, kegiatan lapangan, aksi.
(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 17. sosial, home stay, karya wisata, dan lain sebagainya. Sedangkan yang termasuk pengalaman tidak langsung dalam situasi pembelajaran yaitu upaya memperoleh informasi mengenai sebuah peristiwa melalui kegiatan membaca, mendengar atau menyimak gambar. Hal ini dapat dilakukan melalui proses perangsangan indera dan daya imajinasi melalui simulasi, permainan atau tayangan video-visual. b. Refleksi Dalam refleksi, daya ingat, pemahaman, daya khayal, dan perasaan dipergunakan untuk menangkap arti dan nilai yang sedang dipelajari. Refleksi merupakan sebuah proses yang membentuk suara hati yang terdiri dari keyakinan, nilai, sikap, serta seluruh cara bertindak agar mahasiswa mampu menjadi pribadi yang lebih baik. Suara hati memungkinkan untuk mengembangkan kesadaran akan benar dan salah, baik dan jahat, dan dimana posisi seseorang pada keadaan tersebut. Dengan kata lain refleksi merupakan proses untuk menemukan makna dalam pengalaman manusiawi, dengan begitu seseorang diharapkan menjadi sosok teladan yang baik untuk sesama. c. Aksi Refleksi dalam Pedagogi Ignasian menjadi mentah jika hanya menghasilkan pemahaman dan reaksi-reaksi afektif saja. Meskipun tidak dipungkiri bahwa reaksi afektif juga penting. Reaksi afektif akan mengantar mahasiswa untuk merasakan dan mengenyam yang dapat memperdalam pengalaman. Unsur afektif merupakan daya yang menggerakkan pengertian menjadi tekad perbuatan. Istilah aksi di sini merujuk pada pertumbuhan sikap batin dan tindakan yang ditampilkan berdasarkan pengalaman yang telah direfleksikan. Pengalaman afektif mahasiswa.
(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 18. sangat penting untuk membangun aksi, merefleksi pengalaman-pengalaman yang ada dengan dorongan dari dalam diri mahasiswa akan memiliki aksi yang dapat memperkembangkan dirinya. d. Evaluasi Dampak refleksi tidak hanya pada pertumbuhan dan perkembangan akademis, tetapi juga perkembangan kepribadian dan kepeduliannya kepada sesama.. Kebiasaan. refleksi. akan. dapat. membantu. mahasiswa. memperkembangkan kepribadiannya, karena dengan berrefleksi mahasiswa akan mampu berfikir jernih sebelum bertindak dan menjadi pribadi yang lebih baik. Evaluasi di sini ialah cara untuk mengetahui dengan tepat kemampuan dan kondisi tantangan yang harus dihadapi. Sehingga seseorang perlu mengadakan evaluasi dengan mengukur atau menilai sejauhmana kegiatan refleksi yang dilakukan berhasil dan membuat mahasiswa menjadi semakin berkembang.. 5. Kebiasaan Berrefleksi Menurut penelitian Huijbers (1987: 218) kebiasaan berrefleksi dalam proses pendidikan memang sangat penting. Apalagi kebiasaan berrefleksi ini tidak terbentuk begitu saja melainkan membutuhkan upaya untuk menciptakan suatu kebiasaan berrefleksi. Keberhasilan mahasiswa tidak hanya didukung oleh kemampuan kognitifnya saja, namun lebih ditentukan oleh kemampuan dalam merefleksikan proses pembelajaran. Melalui kegiatan refleksi, mahasiswa mampu mengkonstruksi pengetahuan sendiri atas materi pembelajaran berdasarkan pengalaman belajar yang ia peroleh sehingga mereka akan memiliki pemahaman.
(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 19. dalam dirinya sendiri mengenai materi pembelajaran. Refleksi ialah proses pembelajaran yang berdampak sangat positif bagi mahasiswa karena akan mengembangkan dan meningkatkan kepribadian mahasiswa. Karena itu, kebiasaan berefleksi dalam proses perkuliahan perlu ditingkatkan.. 6. Perbedaan Refleksi dengan Evaluasi a. Pengertian refleksi Menurut Trianto (2007: 113) refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang sudah dilakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima. Melalui refleksi, mahasiswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Dari pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa refleksi merupakan suatu cara untuk mengkontruksi kembali pengalaman dan pengetahuan yang terjadi di masa lalu atau yang baru saja diterima menjadi suatu bentuk pengetahuan baru yang mampu memperkaya struktur pengetahuan yang telah dimiliki. Refleksi menjadi suatu kegiatan penting bagi mahasiswa agar mereka lebih mampu memahami materi pembelajaran atau proses pembelajaran dengan baik. b. Pengertian Evaluasi Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan diketahui bagaimana kondisi objek evaluasi tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya. Istilah evaluasi sudah menjadi kosa kata dalam bahasa.
(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 20. Indonesia akan tetapi kata ini adalah kata serapan dari bahasa Inggris yaitu evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (Echols, 2002: 220). Sedangkan menurut Purwanto (2009: 54) istilah evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu obyek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan. Untuk memastikan bahwa suatu kegiatan program atau proyek mencapai sasaran dan tujuan yang direncanakan, maka perlu diadakan evaluasi dengan melihat sejauh mana kegiatan tersebut berhasil dan peningkatan kinerja program. Seperti yang diungkapkan oleh Purwanto (2009: 78) bahwa evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuan dan melihat sejauh mana keberhasilan program yang dilaksanakan. Pengertian evaluasi lebih dipertegas lagi oleh Arikunto dan Jabar (2004: 99) yang menyatakan pengukuran, penilaian dan evaluasi bersifat hierarki. Evaluasi didahului dengan penilaian (assessment), sedangkan penilaian didahului dengan pengukuran. Pengukuran diartikan sebagai kegiatan membandingkan hasil pengamatan dengan kriteria. Penilaian (assessment) merupakan kegiatan menafsirkan dan mendeskripsikan hasil pengukuran, sedangkan evaluasi merupakan penetapan nilai atau implikasi perilaku dengan batasan sebagai proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Untuk menentukan nilai sesuatu dengan cara membandingkan dengan kriteria, evaluator dapat langsung membandingkan dengan kriteria namun dapat pula melakukan pengukuran terhadap sesuatu yang dievaluasi kemudian baru membandingkannya dengan kriteria..
(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 21. Dari kedua uraian di atas yang menjadi dasar perbedaan antara refleksi dan evaluasi ialah jika refleksi berpusat pada subjek atau diri sendiri, melihat sejauh mana diri seseorang berkembang. Sedangkan evaluasi ialah objek atau kegiatan yang sedang dilakukan, sehingga evaluasi bisa diartikan untuk mengukur sejauh mana kegiatan yang dilakukan berhasil.. B. Perkembangan Kepribadian 1. Pengertian Kepribadian Menurut Agus Sujanto dkk (1980: 18) kepribadian dietimologikan dalam bahasa Inggris disebut personality merupakan kata yang berasal dari bahasa latin kuno prosopon atau persona yang berarti “kedok” atau “topeng”. Yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak atau pribadi seseorang. Allport dalam Paulus Budiraharjo (1997: 86-90) mengatakan kepribadian adalah organisasi dinamis dari sistem-sistem psikofisik dalam diri individu yang menentukan penyesuaiannya yang unik terhadap karakteristik perilaku dan pemikirannya. Kata dinamis menunjukkan bahwa kepribadian secara konstan dapat berkembang dan berubah. Organisasi menunjukkan bahwa dalam diri individu ada semacam pusat pengaturan. yang. menghubungkan. menyatukan. berbagai. komponen-komponen. komponen. tersebut. secara. kepribadian erat.. dan. Kepribadian. merupakan suatu bagian fungsional individu yang memainkan peran aktif dalam perilaku individu. Kepribadian adalah bagian dari jiwa yang membangun keberadaan manusia menjadi satu kesatuan, tidak terpecah-pecah dalam fungsi-.
(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 22. fungsi. Memahami kepribadian berarti memahami diri atau memahami manusia seutuhnya (Alwison, 2004: 2). Yayasan Cipta Loka Caraka (2002: 15) mengatakan kepribadian adalah pola menyeluruh dari semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang baik jasmani, mental, rohani, emosional maupun sosial, mempunyai arti bahwa kepribadian bukan hanya tumpukan sifat-sifat yang terpisah-pisah. Kepribadian seharusnya merupakan suatu kesatuan yang harmonis. Kesatuan atau pola inilah yang membedakan orang yang satu dengan orang yang lainnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa kepribadian bukan hanya kecerdasan, perasaan yang dewasa, atau cita-cita yang luhur semata. Kepribadian merupakan gabungan organis yang harmonis dari sifat-sifat yang dimiliki seseorang. Menurut Elizabet B. Hurlock (1989: 236-239) ada lima persamaan yang menjadi ciri bahwa definisi-definisi tersebut adalah definisi kepribadian. a. Kepribadian bersifat umum: kepribadian menunjuk kepada sifat umum seseorang, pikiran, kegiatan, dan perasan yang berpengaruh secara sistematik berpengaruh terhadap seluruh tingkah lakunya. b. Kepribadian bersifat khas: kepribadian dipakai untuk menjelaskan sifat individu yang membedakan orang satu dengan yang lain. c. Kepribadian berjangka lama: kepribadian dipakai untuk menggambarkan sifat individu yang awet, tidak mudah berubah sepanjang hayat. d. Kepribadian bersifat kesatuan: kepribadian dipakai untuk memandang diri sebagai unit tungal, terstruktur yang membentuk kesatuan dan konsisten..
(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 23. e. Kepribadian bisa berfungsi baik atau bersifat buruk: kepribadian adalah cara bagaimana orang berada di dunia. Apakah ia tampil dalam tampilan yang baik, kepribadiannya sehat dan kuat. Atau sebaliknya, kepribadiaanya menyimpang dan lemah. Menurut Tarsis Tarmudji (1998: 11) kepribadian yang sehat merupakan unsur yang sangat penting dalam pembentukan hidup manusia. Dewasa ini semakin banyak orang yang merasakan pentingnya mengembangkan kepribadian. Paulus Budiharjo (1997: 66-69) menjelaskan kepribadian merupakan suatu pola menyeluruh pada semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang baik yang jasmani, mental, rohani, emosional maupun sosial. Kepribadian merupakan satu-kesatuan yang harmonis. Kepribadian seharusnya merupakan sesuatu yang ditentukan oleh kekuatan sosial yang mempengaruhi individu dalam masa kanakkanaknya, dan merupakan kekuatan historis yang mempengaruhi perkembangan manusia. Kepribadian meliputi banyak unsur jasmani dan rohani. Kepribadian juga merupakan sesuatu yang ditata, diatur dan diusahakan oleh setiap orang secara khas atas beberapa pengaruh yang ada. Kepribadian tersebut pada akhirnya akan tampak dan terwujud dalam tindakan seseorang. Abin Syamsudin dalam Syamsu Yusuf (2007: 127) menjelaskan bahwa kepribadian dapat diartikan sebagai kualitas perilaku individu yang tampak dalam melakukan penyesuaian dirinya terhadap lingkungan secara unik. Keunikan.
(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 24. penyesuaian tersebut sangat berkaitan dengan aspek-aspek kepribadian itu sendiri, yaitu meliputi hal-hal berikut: a. Karakter, yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku konsekuen atau tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. b. Temperamen, yaitu cepat/lambatnya reaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. c. Stabilitas emosi, merupakan kadar kestabilan reaksi emosi terhadap rangsangan dari lingkungan, misalnya mudah tidaknya tersinggung, marah, putus asa, dan lain sebagainya. d. Responsibilitas (tanggung jawab), yaitu kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Misalnya mau menerima resiko secara wajar, atau malah melarikan diri dari resiko. e. Sosiabilitas, yaitu disposisi pribadi berkaitan dengan hubungan interpersonal yang tampak dalam pribadi yang terbuka atau tertutup; kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Suprihadi Sastrosupono (1979: 6-9) mengatakan bahwa kata kepribadian sering kita dengar berhubugan dengan keadaan seseorang. Kepribadian bisa diartikan sebagai identitas seseorang. Bagaimanapun kepribadian menunjuk kepada suatu keadaan tetapi juga karakter jiwani seseorang. Kepribadian menyangkut watak, sifat, tetapi itu semua tercermin nyata dalam perbuatan atau nampak dalam tindakan seseorang. Dengan kata lain, seseorang yang dapat mengatakan siapakah dirinya itu berarti bahwa orang memiliki kepribadian. Orang sadar akan dirinya dan dapat mengerti secara tepat tentang pribadinya..
(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 25. Bandingkan dengan seorang anak kecil umumnya belum dapat mengatakan dengan sadar siapa dirinya, dan belum dapat mengatakan “aku”, anak-anak cenderung mengatakan namanya sendiri. Max Scheler dalam Suprihadi Sastrosupono (1979: 67) menyebutkan bahwa persona adalah subyek bukan obyek. Itu berarti bahwa seseorang yang berkepribadian kuat adalah yang dapat menentukan dirinya sendiri berbuat apa sebagai apa, mau apa dan lain-lain. Pribadi yang kuat adalah pribadi yang tidak ditentukan oleh orang lain semata-mata dan bahwa persona itu justru merupakan hal yang paling esensial dalam pribadi seseorang.. 2. Pengertian Perkembangan Paulus Budiharjo (1997: 53-56) berpendapat bahwa perkembangan kepribadian merupakan suatu dinamika yang terjadi sepanjang hidup dan secara kontinyu berkembang dan belajar menuju realisasi diri. Proses tersebut tidaklah mudah bahkan terkadang merupakan proses yang sulit dan menyakitkan. Proses untuk mengaktualisasikan diri tidak dapat terjadi secara otomatis. Jika seseorang hidup dalam lingkungan yang sehat, maka akan hidup menjadi individu yang utuh serta dewasa. Sebaiknya, jika seseorang tumbuh dalam lingkungan yang tidak sehat maka kemungkinan perkembangan kepribadiannya akan mengalami gangguan. Menurut Duane Schult (1991: 41-50) pribadi yang berfungsi sepenuhnya mampu mengalami secara mendalam keseluruhan emosi, kebahagiaan atau kesedihan, gembira atau putus asa. Ciri-ciri dari kepribadian sehat adalah.
(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 26. memiliki perasaan yang kuat, dapat memilih, bertindak bebas, kreatif dan spontan. Memiliki keberanian untuk menjadi “ada” yaitu menjadi diri sendiri tanpa bersembunyi di balik topeng atau berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Perkembangan kepribadian merupakan perubahan dalam organisasi dan struktur tingkah laku. Semakin bertambah umur seseorang, semakin bervariasi tingkah laku yang berubah atau bertambah menjadi semakin kompleks. Mengembangkan kepribadian berarti mengembangkan bakat yang dimiliki, mewujudkan mimpi, meningkatkan kepercayaan diri dan menjalin relasi yang baik dengan sesama. Perkembangan kepribadian tidak terjadi dengan sendirinya melainkan ada interaksi dengan sesama. Melalui interaksi individu tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan dewasa, semakin bijaksana dalam melakukan segala sesuatu, belajar dari pengalaman-pengalamannya untuk menjadi semakin baik setiap harinya. 3. Aspek-aspek perkembangan kepribadian Kepribadian seseorang tidak dibawa dari lahir. Perkembangan kepribadian manusia merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan yang sangat panjang mulai dari anak-anak sampai dewasa. Perkembangan kepribadian yang berjalan dengan baik dan positif dapat membentuk manusia menjadi pribadi khas atau unik. Mengemukakan pendapat Allport Paulus Budiraharjo (1997: 88-90) menuliskan bahwa proprium adalah sesuatu yang langsung kita sadari, atau sesuatu yang merupakan pusat hidup kita. Proprium terdiri dari hal-hal atau proses yang penting dan bersifat pribadi yang dialami dan dirasakan oleh seorang individu, segi-segi tersebut yang menentukan seseorang.
(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 27. menjadi unik. Pada intinya proprium mencakup semua aspek kepribadian yang membuat kesatuan batin. Proprium berkembang dari bayi hingga akhir hidup dan bergerak melalui 7 aspek perkembangan sebagai berikut: usia 0-3 tahun, usia 4-11 tahun, usia12-17 tahun, dan usia 18-30 tahun. a. Usia 0-3 tahun 1) The bodily self; bagi seorang bayi, tubuh menjadi sangat penting, bayi secara kontinyu menerima sensor informasi dari organ internal dan otot-otot bersamaan dengan urat-urat. Sensasi ini menjadi terasa ketika bayi lapar dan frustasi. Dalam situasi tersebut bayi belajar akan keterbatasan tubuh. 2) Self identity; aspek ini terjadi kurang lebih 18 bulan. Anak-anak menyadari bahwa dirinya tetap orang yang sama walaupun terus berubah dan berkembang. Hal ini ditandai dengan mengenal nama diri sebagai identitas utama. Nama itu menjadi lambang dari kehidupan seseorang yang mengenal dirinyadan membedakan dari semua diri yang lain di dunia. 3) Self esteem; aspek ini terjadi kira-kira 2-3 tahun. Aspek ini membuat anak-anak lebih mengenal lingkungan. hal ini menyangkut perasaan bangga dari anak sebagai suatu hasil dari belajar mengerjakan benda-benda atas usahanya sendiri. Anak bersifat agresif, ingin membuat benda-benda, menyeidiki dan memuaskan perasaan ingin tahunya tentang lingkungan tersebut. Menurut Allport, hal ini merupakan tahap perkembangan kepribadian yang menentukan. Apabila orang tua menghalangi kebutuhan anak untuk menyelidiki maka perasaan harga diri yang timbul dapat rusak yang menimbulkan perasaan dihina dan marah. b. Usia 4-11 Tahun.
(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 28. 1) Self extention; pada aspek ini pusat perhatian lebih kepada kepemilikan. Secara tipikal anak pada aspek ini sangat egoistis. Anak menjadi sangat tertarik pada kepemilikan material. 2) Self image; gambaran diri berkembang pada tingkat berikutnya. Self image atau gambaran diri memiliki 2 komponen, yaitu belajar peran dan aspirasi bagi masa depan. Gambaran diri berkembang dari interaksi-interaksi orang tua dengan anak. c. Usia 12 - 17 1) The self as rational coper atau diri sebagai pelaku rasional. Pada tahap ini anak mulai menyusun strategi untuk memecahkan masalah-masalah. Aturan-aturan dan harapan-harapan dari guru dan teman sekolah, secara aktivitas-aktivitas dan tantangan-tantangan yang dapat mengembangkan intelektual penting untuk diberikan. Melalui hal-hal tersebut anak akan belajar memecahkan masalah menggunakan proses-proses rasional dan logis. 2) Proprium striving; tahap ini pada umumnya mulai terbentuk pada usia 12 tahun. Aspek proprium striving dapat diartikan dengan kesatuan kepribadian. Kesatuan dan keutuhan kepribadian mungkin tidak pernah dapat tercapai secara sempurna, namun orang akan terus melakukan proses untuk menjadi lebih utuh lagi. Oleh karena itu menurut Allport pada tahap ini merupakan masa yang paling menentukan di mana orang sibuk dalam mencari identitas. d. Usia 18 – 30 Early Adulthood tahap ini adalah periode pemantapan diri terhadap pola hidup baru. Banyak kegiatan yang mulai ditinggalkan seperti hura-hura dan nongkrong. Memikirkan hal yang lebih penting seperti memilih pasangan hidup dan.
(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 29. menjadikan cita-cita lebih real. Selama masa dewasa, pemahaman emosional akan terus berkembang, berpotensi untuk terus belajar, mengembangkan diri dalam hal keterampilan dan aktualisasi diri, bekerja, membina hubungan sosial dan tentunya perkembangan kepribadiannya semakin berkembang. Senada dengan pendapat Allport tentang perkembangan kepribadian pada usia remaja, mengungkapkan bahwa remaja adalah pemuda-pemudi yang berada pada masa perkembangan yang disebut masa “adolesensi” (masa remaja menuju kedewasaan). Masa ini merupakan tahap perkembangan dalam kehidupan manusia, tetapi juga belum dapat disebut orang dewasa. Taraf perkembangan ini disebut masa pancaroba atau masa peralihan dari masa kanan-kanak menuju kearah kedewasaan yang terjadi pada usia 18-30 tahun. Masa remaja adalah masa kegoncangan dan kebimbangan. Akibatnya remaja melakukan penolakanpenolakan pada kebiasaan rumah, sekolah, membentuk kelompok hanya untuk “gengnya”. Mereka mudah tergincang dan bingung. 4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kepribadian Faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian adalah faktor genetik atau hereditasi dan faktor lingkungan. Faktor genetik merupakan faktor dari dalam atau faktor yang dibawa sejak lahir. Faktor ini bisa bersifat kejiwaan atau bersifat kebutuhan. Kejiwaan merupakan faktor yang berwujud pikiran, perasaan, kemauan, fantasi, ingatan, dan lain-lain yang dibawa sejak lahir. Menurut Syamsu Yusuf (2007: 21-22) masa dalam kandungan dipandang sebagai periode yang kritis dalam perkembangan kepribadian individu, sebab.
(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 30. tidak hanya sebagai saat pembentukan pola-pola kepribadian, tetapi juga sebagai pembentukan kemampuan-kemampuan yang menentukan jenis penyesuaian individu terhadap kehidupan setelah kelahiran. Fungsi genetik dalam kaitannya dengan perkembangan kepribadian adalah sebagai bahan mentah (raw materials) kepribadian seperti fisik, inteligensi dan temperamen. Fungsi genetik juga membatasi perkembangan kepribadian individu, dalam artian meskipun kondisi lingkungan sangat kondusif, namun perkembangan kepribadian tidak bisa melebihi kapasitas atau potensi hereditas. Hal ini membantu individu untuk memperkembangkan. pribadinya.. Selain. itu. keadaan. fisik. juga. turut. mempengaruhi perkembangan pribadi seseorang seperti panjang pendeknya leher, susunan urat saraf, otot-otot dan lain-lain. Fungsi genetik berpengaruh pula terhadap keunikan kepribadian individu. Sedangkan faktor lingkungan merupakan segala sesuatu yang berasal dari luar seseorang baik yang hidup maupun yang mati. Lingkungan adalah keseluruhan fenomena baik peristiwa, situasi atau kondisi fisik/alam atau sosial yang mempengaruhi perkembangan individu. Faktor lingkungan masyarakat yang beraneka ragam dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang, misalnya lingkungan yang kacau, tidak tenang dan tidak terkendali akan membentuk kepribadian yang kurang baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kepribadian terbentuk dari keadaan-keadaan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial yang terjalin di tengah masyarakat dan keluarga yang dibawa sejak lahir..
(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 31. Selain faktor-faktor tersebut, faktor lain yang ikut mempengaruhi perkembangan kepribadian menurut Caraka (2002: 24-29) antara lain Tuhan, agama dan kampus. a) Tuhan Ada orang yang begitu sibuk memperkembangkan kepribadiannya dengan bergaul dengan sesama manusia, hingga lupa bergaul dengan Tuhan. Padahal relasi dengan Tuhan dapat membantu seseorang menjadi pribadi yang dewasa, pribadi yang mampu mendengarkan suara hati dan pribadi yang bertanggung jawab. Allah telah mengutus Tuhan sebagai teladan pribadi yang sempurna. Kasih Allah mendorong manusia untuk berusaha semakin mendekati teladan itu dan rahmat-Nya akan mendukung usaha tersebut. Orang yang dekat dengan Tuhan biasanya perkembangan kepribadiannya akan baik karena kerap meneladani kepribadian Tuhan. b) Agama Agama mempunyai peran yang sangat besar dalam membentuk kepribadian. Agama menjadi tempat untuk memperkembangkan nilai-nilai iman, harapan dan kasih. Nilai-nilai iman memberi keyakinan bahwa kepribadian ideal merupakan cita-cita yang tepat. Harapan menumbuhkan sikap optimis dalam hidup dan keyakinan akan kemampuan untuk berkembang. Tanpa kemampuan mengasihi dengan tulus, orang tidak akan mencapai kepribadian yang dewasa. Dengan demikian agama memberikan pandangan hidup yang mengarah cara berpikir dan sikap seseorang. Berkat inilah kepribadian yang sedang berkembang dapat menjadi utuh dan seimbang..
(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 32. c) Kampus Kampus mempunyai pengaruh yang kuat atas perkembangan kepribadian. Mengembangkan bakat dan kepribadian manusia secara penuh dan utuh sehingga tercapai taraf kedewasaan intelektual, psikologis, moral, dan artistik demi pelayanan kepada sesama. Mengembangkan tiga nilai unggulan dimensi kemanusiaan dibidang ilmu, teknologi, dan seni, yakni kompetensi (competence), kesadaran etis (conscience), dan bela rasa (compassion).. 5. Proses Perkembangan Kepribadian Kepribadian tidak tumbuh dan berkembang secara instan melainkan melalui proses. Setiap individu harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi orang dewasa. Kartini Kartono (1984: 121-122) mengemukakan bahwa kepribadian seseorang bertumbuh dan berkembang melalui tiga proses, yaitu: a. Individualisme Individualisme adalah suatu proses menjadi manusia, perubahan masa bayi yang sangat bergantung menjadi tidak bergantung. Proses ini membantu individu memperluas kesadaran identitas pribadinya, penerimaan diri, dan kepastian akan dirinya. b. Sosialisasi Sosialisasi yaitu suatu proses dinamis di mana individu mempelajari keterampilan-keterampilan, informasi, dan pemahaman kebutuhan, berhubungan secara efektif dengan orang lain..
(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 33. c. Integrasi Integrasi merupakan suatu proses yang mengkombinasikan, mengorganisir dan mengerjakan bersama bagian-bagian yang berbeda atau sifat-sifat khas dari seseorang individu menuju ke tingkat yang lebih tinggi sebagai sesuatu keseluruhan yang kompleks. Dalam ketiga proses tersebut, setiap individu mempunyai pengalamanpengalaman. Pengalaman-pengalaman tersebut bisa saja pengalaman yang menyenangkan dan bisa saja pengalaman yang tidak menyenangkan. Pengalamanpengalaman yang diperoleh individu dalam proses di atas, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat berpengaruh bagi perkembangan kepribadian individu. Pengalaman-pengalaman tersebut dapat bersifat positif (membantu) maupun bersifat negatif menghambat perkembangan kepribadian. Semua itu tentu tergantung dari bagaimana individu mengolah pengalaman-pengalaman yang diterimanya.. 6. Ciri-ciri Perkembangan Kepribadian Kepribadian merupakan apa yang ditampilkan oleh seseorang. Orang yang kepribadiannya berkembang secara sehat tentu akan menampilkan sesuatu yang membawa dampak positif baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Menurut Allport dalam Schultz (1991: 30-36) ada 7 kriteria yang menandakan kepribadian berkembang secara sehat, antara lain: perluasan diri, hubungan hangat atau akrab dengan orang lain, keamanan emosional, persepsi realistis, keterampilanketerampilan dan tugas, pemahaman diri dan filsafat hidup yang mempersatukan..
(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 34. a. Perluasan Perasaan Diri Perluasan perasaan diri ketika diri seseorang berkembang, maka diri orang tersebut meluas menjangkau banyak orang dan benda. Kemudian ketika lingkaran pengalaman bertumbuh maka diri bertambah luas meliputi nilai-nilai dan cita-cita yang abstrak. Dengan kata lain, ketika seseorang menjadi matang, dia akan mengembangkan perhatian-perhatian di luar diri. Akan tetapi tidak cukup jika hanya berinteraksi dengan sesuatu atau seseorang di luar diri, misalnya seperti pekerjaan belumlah cukup. Orang harus menjadi partisipan yang langsung dan penuh. Allport menambahkan bahwa partisipasi otentik yang dilakukan oleh orang dalam beberapa suasana yang penting dari usaha manusia. Orang harus meluaskan diri dalam aktivitas. Suatu aktivitas harus relevan, penting dan berarti bagi diri orang tersebut, apabila seseorang mengerjakan sesuatu pekerjaan karena ada perasaan percaya bahwa pekerjaan itu penting, menantang kemampuan, atau menyenangkan, maka orang tersebut merupakan seorang partisipan yang otentik. Semakin seseorang terlibat secara penuh dalam berbagai aktivitas, orang atau ide, maka ia akan semakin sehat secara psikologis dan menjadi perluasan perasaan diri. b. Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang-orang Lain Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orangorang lain, yaitu kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu. Orang yang memiliki kepribadian atau orang yang sehat secara psikologis akan.
(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 35. mampu memperlihatkan keintiman atau cinta terhadap orang-orang yang dicintainya, misalnya saja orang tua, saudara, teman, dan lain-lain. Sedangkan perasaan terharu, tipe kehangatannya yang kedua adalah suatu pemahaman tentang kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua orang tanpa membeda-bedakan. Orang yang berkepribadian memiliki pemahaman akan kondisi orang lain dan mampu berempati dengan orang lain. c. Keamanan Emosional Keamanan emosional meliputi penerimaan diri, menerima emosi manusia dan sabar. Penerimaan diri merupakan kemampuan untuk menerima kelemahan atau kekurangan tanpa menyerah pada titik kelemahan melainkan berproses untuk memperbaiki diri. Kualitas berikutnya ialah mampu menerima emosi-emosi manusia dan berusaha mengontrolnya sehingga tidak mengganggu aktivitas pribadi dan mengarahkan pada hal-hal yang lebih baik. Orang yang memiliki kepribadian akan selalu sabar ketika menghadapi masalah dalam hidup tanpa menyerahkan diri kepada kekecewaan melainkan berusaha memikirkan cara-cara yang berbeda untuk mencapai tujuan yang diharapkan. d. Persepsi Realistis Orang yang berkepribadian akan memandang dunia mereka secara obyektif, dan memiliki kemampuan memandang orang lain tanpa prasangka. Mereka tidak lagi percaya bahwa orang lain atau situasi-situasi semuanya jahat atau semuanya baik menurut suatu prasangka pribadinya. Mereka menerima realitas sebagaimana adanya..
(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 36. e. Keterampilan-keterampilan dan Tugas-tugas Orang yang berkepribadian tidak akan merasa cukup hanya dengan memiliki keterampilan yang relevan, melainkan ia akan berpikir untuk mengembangkan dan menggunakan keterampilan-keterampilan yang dimilikinya secara iklas, antusias, melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan atau tugas pekerjaannya. Orang yang berkepribadian akan melakukan pekerjaan yang penting dengan dedikasi, komitmen dan keterampilanketerampilan. f. Pemahaman Diri Seseorang yang memiliki kepribadian yang utuh dan sehat berarti telah mencapai pemahaman diri dan pengenalan diri yang menuntut pemahaman tentang hubungan atau perbedaan antara gambaran tentang diri yang dimiliki seseorang dengan gambaran dirinya sendiri menurut keadaan yang sesungguhnya. Ia akan terbuka terhadap pendapat orang lain dalam merumuskan suatu gambaran diri yang obyektif. g.. Filsafat Hidup yang Mempersatukan Orang yang memiliki pribadi yang sehat dan utuh selalu mengarahkan hidupnya ke masa depan dengan didorong oleh tujuan-tujuan tertentu dan rencana-rencana jangka panjang. Mereka mempunyai keinginan kuat untuk mengerjakan sesuatu sampai selesai, mereka mempunyai arah hidup. Arah membimbing semua segi kehidupan menuju suatu tujuan atau rangkai tujuan serta memberikan orang tersebut suatu alasan untuk hidup. Selain itu, suara hati juga berperan dalam suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Suara hati orang yang.
(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 37. berkepribadian sehat dan matang adalah suatu perasaan kewajiban dan tanggung jawab kepada diri sendiri dan kepada orang lain, dan mungkin berakar dalam nilai-nilai agama atau ciri-ciri etis. Seorang pribadi yang matang telah mengembangkan berbagai macam unsur seperti tujuan, nilai, suara hati dan pandangan-pandangan yang membuat menjadi terarah.. 7. Manfaat Perkembangan Kepribadian Agus Sujanto (1980: 5-6) menyatakan bahwa manfaat dari perkembangan kepribadian adalah manusia dapat mengetahui pribadi seseorang, itu merupakan hal yang pertama dan utama, orang atau diri sendiri. Hal itu dapat diketahui dengan melakukan intropeksi diri, yaitu melihat kepada diri sendiri, dengan begitu orang dapat mengoreksi dirinya sendiri. Dengan demikian orang dapat langsung merubah ketika melakukan kekeliruan sebelum orang lain merubahnya atau sebelum merugikan orang lain dan diri sendiri. Kepribadian akan membuat seseorang menjadi lebih bermakna dalam hidupnya. Dengan kepribadian seseorang dapat menunjukkan bahwa dirinya mempunyai kualitas hidup. Orang yang memiliki kepribadian tidak akan pernah merasa takut dalam menghadapi segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Kepribadian yang utuh mendorong seseorang untuk lebih bertanggung jawab dalam hidupnya dan tidak mudah putus asa dalam mencapai cita-cita dan masa depan yang lebih baik. Senada dengan pendapat di atas, Alwison (2004: 51-55) mengemukakan bahwa tujuan hidup adalah mencapai aktualisasi diri, atau memiliki ciri.
(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 38. kepribadian yang membuat kehidupan menjadi sebaik-baiknya. Individu yang mampu membuat kehidupan menjadi sebaik-baiknya adalah pribadi yang berfungsi penuh. Perkembangan kepribadian yang berfungsi penuh tersebut meliputi lima ciri, yaitu: keterbukaan pada pengalaman, keterbukaan eksistensial, kepercayaan terhadap orang lain, perasaan bebas dam kreativitas. a. Keterbukaan pada pengalaman Keterbukaan pada pengalaman memiliki arti bahwa seseorang tidak bersifat kaku tetapi fleksibel, tidak hanya menerima pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga menggunakan dalam membuka kesempatan lahirnya persepsi dan ungkapan-ungkapan baru. b. Keterbukan Eksistensial Keterbukaan eksistensial merupakan kehidupan seseorang yang tidak mudah. berprasangka. ataupun. memanipulasi. pengalaman-pengalaman. melainkan dapat menyesuiakan diri karena kepribadiaannya terus menerus terbuka kepada pengalaman-pengalaman baru. c. Kepercayaan terhadap Orang Lain Kepercayaan terhadap orang lain mempunyai arti bahwa orang bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar, merupakan pedoman yang sangat diandalkan dalam pengambilan keputusan daripada rasional dan intelektual ketika mengalami situasi sulit. Orang yang berfungsi secara utuh dapat bertindak bijaksana dalam berprilaku dan mempunyai kebebasan serta memperhatikan konsekuensi-konsekuensi. d.. Perasaan Bebas.
Gambar
Dokumen terkait
Dalam menyajikan presentasi penampilan mahasiswa sebagai seorang penyaji sangatlah penting. Penampilan penyaji yang baik tidak hanya mempengaruhi kenyamanan dirinya dalam
Penulis merasa prihatin melihat sebagian mahasiswa (khususnya mahasiswa awam) di prodi PAK yang kurang mendalami panggilannya sebagai katekis. Penulis melihat ada
R : Yang pertama mendukung itu, dengan situasi kampus dengan persaudaraan yang tinggi khususnya dalam kelas yang mendukung saya itu sehingga saya dapat bermeditasi,
Judul skripsi EFEKTIVITAS PENERAPAN KEGIATAN PRESENTASI MATA KULIAH TERHADAP PERKEMBANGAN KEPERCAYAAN DIRI MAHASISWA DI PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN
Berdasarkan tabel 6, yang menjadi faktor pendukung dan penghambat Pendidikan Teater dalam memperkembangkan kesadaran sosial mahasiswa, ada pun pernyataan responden terhadap
Skripsi ini berjudul UPAYA PENGEMBANGAN PENDAMPINGAN SPIRITUALITAS MAHASISWA-MAHASISWI CALON KATEKIS DI PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK
PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI... PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK
Berdasarkan hasil penelitian, penulis dapat menyimpulkan bahwa peranan teater rakyat dalam mengembangkan kemampuan berkomunikasi mahasiswa Pendidikan Agama Katolik Universitas