JAS Vol 15 No 2 Migrasi Internasional Jurnal 15 No 2

136 

Teks penuh

(1)
(2)

Migrasi Internasional: Realita dan Perubahan Kesejahteraan

Penanggung Jawab

---Nurul Widyaningrum

Redaksi

---Deni Mukbar & Subekti Mahanani Penyunting Bahasa

---Sonya I. Sondakh Penerjemah

---Indraswari Penata Letak

---Fahmi Ilmansyah

Perancang Kulit

---Joe Retro

Alamat Penerbit dan Redaksi

---YAYASAN AKATIGA Jl. Tubagus Ismail II/2, Bandung 40134 INDONESIA Telp. (022) 250 2302 Faks. (022) 253 5824 E-mail: akatiga@gmail.com akatiga@indo.net.id Homepage: www.akatiga.org

_______________________ ISSN 1411-0024 Terbit Sejak 1996

(3)

Daftar Isi

Editorial

Migrasi Internasional: Realita dan Perubahan Kesejahteraan 1

Editorial translated 8

Bahasan Utama

Social security di Desa Sebagai Penopang Pekerjaan Buruh Migran Perempuan (Studi di Desa Tempuran Duwur, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah)

...

Muryanti, S.Sos, M.A

14

Perlindungan Pekerja Migran, HAM, dan Gender ... R. Valentina Sagala

31

Penguasaan Tanah, Migrasi Internasional, dan Perubahan Pedesaan ... Ratih Dewayanti

57

Migrasi Internasional, Remitansi, dan Perubahan Agraria Subekti Mahanani

73

Buruh Migran Perempuan Melawan Negara dan Pasar dengan Remitansi Sosial ... Tyas Retno Wulan, Dalhar Shodiq, Soetji Lestari, Rili Windiasih

(4)
(5)

Migrasi Internasional:

Realita dan Perubahan Kesejahteraan

A.Latar Belakang

Migrasi merupakan fenomena yang tak terhindarkan yang terjadi di setiap negara. Migrasi pada intinya merupakan perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari penghidupan yang lebih baik dari sisi ekonomi. Migrasi juga bukan hal baru, dan dilakukan dengan berbagai macam pola, penyebab, aktor yang terlibat, serta dampaknya. Munculnya migrasi dari desa diakibatkan oleh masalah agraria di pedesaan seperti tekanan penduduk, masalah penguasaan tanah, dan komersialisasi pertanian. Semua itu menekan kelompok miskin di pedesaan (petani yang hampir tidak memiliki tanah dan tunakisma) sehingga tidak memungkinkan lagi untuk menyerap tenaga kerja pedesaan di sektor pertanian..

Angka migrasi ke luar negeri yang dilakukan oleh masyarakat pedesaan terus menunjukkan kenaikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1983, jumlah TKI yang tercatat sebesar 27.671 orang, pada tahun 1992 meningkat menjadi 158.750 orang; sementara jumlah tahun 1994 adalah 175.187 orang menjadi 696.746 orang pada tahun 2007 (BNP2TKI, 2008). Dari jumlah tersebut, jumlah TKI perempuan lebih besar dari jumlah TKI laki-laki. Antara tahun 1983-1992 jumlah buruh migran perempuan meningkat rata-rata 12,1% per tahun, sementara buruh migran laki-laki naik 6,3% per tahun (Tjiptoherijanto, 1997: 43-45).

Fenomena meningkatnya migrasi ke luar negeri tidak terlepas dari adanya kebijakan pemerintah yang sejak tahun 1985 mendorong pengiriman buruh migran ke luar negeri atau disebut sebagai “ekspor tenaga kerja” dalam dokumen Repelita IV. Terlebih setelah terjadinya krisis tahun 1997/1998 yang telah sangat berpengaruh terhadap penutupan sejumlah besar industri manufaktur di Indonesia, pemerintah semakin gencar lagi mendorong pengiriman buruh migran.

(6)

Migrasi Internasional: Realita dan Perubahan Kesejahteraan

pembangunan baik di tingkat negara (Ghosh, 2006), rumah tangga, maupun individu (lihat antara lain de Haas, 2005) melalui adanya remittances. Remittances kemudian dipandang sebagai jaring pengaman bagi kelompok miskin di pedesaan karena mampu menjadi alat pemerataan distribusi pendapatan (lihat antara lain dalam de Haas, 2005).

Dalam hal peningkatan kesejahteraan, Bank Dunia mempercayai pandangan ini melalui studinya di 71 negara yang berpendapatan rendah dan sedang banyak mengirimkan buruh migran ke negara maju. Bank Dunia melihat bahwa migrasi internasional menjadi salah satu jalan keluar untuk mengatasi kemiskinan di negara-negara berpendapatan rendah. Alasannya, ada sejumlah besar remittances yang dapat merangsang pertumbuhan ekonomi di daerah asal migran. Pandangan tersebut juga diyakini oleh Pemerintah Indonesia; yaitu bahwa migrasi buruh internasional dapat mengurangi kemiskinan, membantu pengembangan wilayah di daerah asal, dan yang terpenting dapat mengatasi kegagalan pemerintah dalam menyediakan kesempatan kerja yang layak di dalam negeri.

Namun di sisi lain, studi-studi mikro memperlihatkan bahwa migrasi tenaga kerja miskin tidak berhasil membawa perubahan di pedesaan. Migrasi internasional tidak dianggap sebagai jalan keluar dari kemiskinan, melainkan mereproduksi kemiskinan itu sendiri, karena orang-orang miskin yang bermigrasi biasanya mengalami eksploitasi sedemikian rupa di daerah tujuannya, sehingga hasil yang diperoleh dari pekerjaannya tidak mampu mengurangi kemiskinan di rumah tangga maupun komunitasnya (lihat misalnya, Loveband, 2003).

Ketidakberhasilan tersebut antara lain disebabkan oleh adanya kondisi kerja yang eksploitatif (Asian Migrant Yearbook, 2005) dan memberi sedikit peluang bagi kelompok migran miskin untuk mengakumulasi kapital. Selain itu, ada pihak-pihak yang ikut mendapat keuntungan dari aliran dana kiriman (remittances) yang tidak hanya rumah tangga buruh migran, tetapi juga pemerintah (tambahan devisa) dan institusi keuangan yang memfasilitasi pengiriman dan penukaran mata uang asing, yang saat ini makin menyebar hingga ke desa-desa yang menjadi kantung buruh migran (lihat misalnya Ghosh, 2006).

(7)

juga didasarkan pertimbangan bahwa remittances merupakan sumber devisa baru, terutama ketika sektor-sektor riil tidak berjalan sesuai harapan. Buruh migran, dalam konteks ini, dianggap sebagai komoditi yang diperdagangkan agar negara mendapatkan keuntungan inansial untuk membiayai pembangunan. Namun, masalah proteksi dan kesejahteraan buruh migran dan komunitas di daerah asalnya luput (atau sengaja) tidak diperhatikan.

Terlepas dari apakah migrasi internasional bisa meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan atau sebagai reproduksi kemiskinan, fenomena migrasi internasional dipandang menjadi suatu hal penting. Dalam literatur lingkup migrasi dan perubahan pedesaan merupakan konsep yang jarang dikaitkan satu sama lain. Hanya sedikit studi migrasi yang memperlihatkan interaksi antara perpindahan penduduk dengan perubahan-perubahan yang terjadi di daerah asal, yaitu pedesaan. Sebaliknya, studi-studi mengenai perubahan pedesaan sering kali mengesampingkan fenomena perpindahan penduduk dan efek dari remittances terhadap perubahan pedesaan itu sendiri (de Haan dan Rogaly, 2002).

Jurnal AKATIGA edisi kali ini akan melihat fenomena migrasi dalam perspektif yang lebih luas, yaitu migrasi internasional harus dilihat sebagai sebuah proses sosial dan tidak melulu sebagai proses ekonomi. Artinya, keputusan bermigrasi dan pola migrasi yang dilakukan sangat dipengaruhi tidak hanya oleh pertimbangan ekonomi, tetapi juga oleh pertimbangan gender, kelas, dan etnisitas (de Haan dan Rogaly, 2002), serta adanya perubahan struktur sosial ekonomi di pedesaan.

Pada titik inilah jurnal edisi ini menjadi semacam ruang wacana bagi pihak yang bergelut dengan isu migrasi—terutama migrasi internasional—dan dampaknya terhadap kelompok migran miskin di pedesaan. Di sisi lain, jurnal kali ini juga sekaligus menjadi ajang bagi diskusi atau perdebatan atau penuangan ide-ide lain dalam memandang fenomena migrasi internasional yang secara makro sedemikian rupa didorong untuk kepentingan devisa bagi negara.

(8)

Migrasi Internasional: Realita dan Perubahan Kesejahteraan

oleh fenomena migrasi internasional, para penulis menggunakan perspektif yang berbeda-beda. Hal itu bisa dipahami karena fenomema buruh migran dan perubahan struktur sosial ekonomi di daerah pedesaan memang memiliki aspek yang luas, sehingga bisa dilihat dari berbagai sisi.

Tulisan R. Valentina Sagala membahas perlindungan pekerja migran. Tulisan ini penting sebagai bahasan awal untuk mendudukkan buruh migran dalam kerangka hukum internasional yang ada. Dalam hal ini mendudukkan atau meletakkan isu pekerja migran untuk dipahami dalam lingkup situasi kerentanan yang dialami pekerja migran karena kondisi kerja yang buruk serta adanya persaingan tidak wajar untuk mendapatkan keuntungan tertentu.

Dalam lingkup realita dan perubahan kesejahteraan yang menjadi tema jurnal AKATIGA kali ini, penulis juga setuju bahwa kemiskinan berkorelasi dengan migrasi. Artinya, kemiskinan atau lebih tepatnya pemiskinan akibat dampak pembangunan yang tidak berkeadilan, selalu menjadi faktor utama seseorang bermigrasi sebagai strategi terakhir mempertahankan hidup. Sementara itu, migrasi juga bukanlah fenomena netral gender. Oleh sebab itu, pengintegrasian perspektif gender penting bagi analisis terhadap pekerja migran—khususnya kedudukan perempuan migran—dan penyusunan kebijakan untuk melawan diskriminasi, eksploitasi, dan penganiayaan.

Dengan demikian isu pekerja migran tidak bisa dilihat semata dari perspektif ekonomi dan keamanan karena akan mengaburkan ilosoi perlindungan pekerja migran sebagai sebuah hak dasar yang universal sifatnya. Oleh karena itu, persoalan perlindungan pekerja migran harus diletakkan sebagai persoalan HAM dan upaya pencapaian keadilan gender. Dengan demikian, sistem perlindungan pekerja migran akan dapat menjawab realita dan perubahan serta kompleksitas persoalan migrasi, khususnya migrasi internasional.

(9)

Dalam uraiannya, penulis menganggap bahwa remitansi sosial yang berupa pengetahuan baru dapat berdampak terhadap relasi dalam keluarga, peran gender, kelas, dan identitas ras seperti halnya remitansi sosial juga memberikan dampak terhadap partisipasi politik, ekonomi, dan agama. Memahami perkembangan remitansi sosial seperti memahami remitansi ekonomi adalah memahami migrasi sebagai proses sosial, yang di dalamnya para migran bisa menjadi agen potensial dalam perubahan ekonomi, politik, maupun sosial.

Walaupun demikian, menurut hemat penulis, remitansi sosial merupakan sebuah proses artinya, remitansi sosial bukan sesuatu yang langsung jadi, namun sesuatu yang dikondisikan melalui proses dan tetap membutuhkan adanya peran pihak lain untuk turut serta mendukung remitansi sosial ini, guna menciptakan perempuan yang mandiri, otonom, dan berdaulat. Perempuan dengan kualitas seperti itu dianggap mampu melindungi hak-hak mereka, memberdayakan lingkungannya, dan sekaligus sebagai perlawanan terhadap kekuatan pasar yang memposisikan mereka sebagai komoditas.

Uraian mengenai “kisah sukses” buruh migran membawa perubahan dalam memenuhi kebutuhannya baik bagi rumah tangganya sendiri maupun bagi lingkungannya juga diuraikan oleh Muryanti, S.Sos, M.A. Dalam tulisannya, penulis memberi penekanan pada adanya social security yang tidak sepenuhnya memberikan keamanan, akan tetapi sekadar memberikan kemudahan yang terbatas untuk menanggulangi ketidaknyamanan yang berhubungan dengan cara memenuhi kebutuhan subsistensi. Dengan kalimat lain, penulis ingin menyampaikan bahwa di tengah kondisi ketidakamanan penghidupan, diperlukan adanya jaminan sosial dan bantuan sosial untuk mengatasi ketidakamanan yang ada.

Di sisi lain, dalam lingkup perubahan yang terjadi di pedesaan, tulisan ini juga memperlihatkan adanya keterkaitan antara perubahan struktur sosial ekonomi yang terjadi di daerah pedesaan. Sempitnya peluang di sektor pertanian yang mengalami involusi kemudian menyebabkan pertanian hanya menjadi usaha subsisten bagi rumah tangga petani, serta sedikitnya peluang pekerjaan di luar pertanian pada akhirnya mendorong orang untuk menjadi buruh migran.

(10)

Migrasi Internasional: Realita dan Perubahan Kesejahteraan

diungkapkan oleh Subekti Mahanani. Tulisan ini secara lebih spesiik membahas perubahan agraria yang sangat cepat di pedesaan yang merupakan dampak dari pembangunan pertanian yang mengakibatkan terjadinya perubahan kelembagaan, peluang atau kesempatan kerja, pendapatan rumah tangga, serta perubahan lainnya yang memunculkan gejala migrasi internasional.

Perhatian pada migrasi internasional yang dilakukan oleh masyarakat pedesaan karena tingginya angka migrasi ke luar negeri serta besarnya jumlah remitansi yang dirimkan oleh para migran berhubungan dengan adanya permasalahan ketenagakerjaan, perubahan kelembagaan, serta faktor-faktor yang berkaitan dengan masalah pemilikan dan penguasaan tanah di satu desa. Tulisan ini juga menggambarkan bahwa struktur penguasaan tanah yang telah ada ternyata memperkecil peluang masyarakat, termasuk buruh migran, terhadap penguasaan tanah. Tulisan ini juga menggambarkan hubungan remitansi dengan peluang penguasaan tanah. Adanya ketimpangan yang makin lebar antara golongan petani kaya dan golongan petani miskin dalam penguasaan tanah membuat posisi buruh migran tetap rentan dan marjinal.

Bahasan mengenai penguasaan tanah, migrasi internasional, dan perubahan pedesaan dalam perspektif yang lebih luas lagi diuraikan oleh Ratih Dewayanti. Tulisan ini menawarkan suatu pandangan sekaligus pendekatan tentang cara melihat dampak buruh migran internasional terhadap pedesaan atau masyarakat agraris. Selain itu, tulisan ini juga bermaksud menegaskan pentingnya menjawab pertanyaan mengenai seberapa jauh terjadi perubahan taraf hidup dan kapasitas mengurangi kerentanan di lingkungan rumah tangga buruh migran pedesaan. Jawaban terhadap pertanyaan ini akan sekaligus menjawab optimisme maupun pesimisme mengenai peran migrasi internasional (khususnya remitansi) dalam mengurangi kemiskinan.

(11)

ditawarkan ini mencoba memberikan suatu pandangan bahwa untuk melihat pengaruh migrasi internasional terhadap perubahan pedesaan, salah satunya adalah dengan melihat pengaruh remitansi terhadap struktur penguasaan tanah.

Terlepas dari berbagai ketidaksempurnaan di dalamnya, jurnal edisi ini telah berupaya dan memandang penting untuk melihat bagaimana sebetulnya kaitan antara rendahnya kesempatan kerja di pedesaan dengan fenomena migrasi internasional. Jenis-jenis pekerjaan apa yang dapat dimasuki oleh buruh migran dari pedesaan, bagaimana peran jaringan sosial dan agen-agen migrasi dalam mendorong terjadinya migrasi, bagaimana penghasilan yang diperoleh para migran dapat mempengaruhi kesempatan kerja di pedesaan, bagaimana pola subsidi terjadi, dan apa sumbangan yang dapat diberikan bagi kebijakan maupun gerakan yang membantu kelompok miskin.

Pemaparan beberapa penulis dalam jurnal ini diharapkan dapat memperkuat argumen bahwa buruh migran tidak dapat dipandang sebagai komoditas belaka. Diperlukan upaya khusus dari pemerintah nasional untuk memberikan perlindungan yang memadai, terutama jika kesempatan kerja di dalam negeri sudah sebegitu sempitnya sehingga migrasi transnasional merupakan alternatif terakhir yang harus dilakukan oleh kelompok miskin di pedesaan.

(12)

Migrasi Internasional: Realita dan Perubahan Kesejahteraan

“International Migration”

The Reality and Impact on Welfare

Background A.

In every country migration is an unavoidable fact. Migration substantially means movement of people from one place to another in order to seek a better life and is mostly motivated by economic reason. Migration is not a new phenomenon. It occurs with various patterns, motivated by various factors, conducted by different actors and leads to diverse impacts. Migration among rural people occurs due to agrarian problems such as population pressure, land tenure and commercialization of agriculture. These problems force the rural poor - the near landless and landless farmers - to migrate as the rural farm sector is no longer able to absorb rural workforce.

In recent years there have been an increasing number of overseas migration of rural people. In 1983 there were 27,671 people who migrated abroad, 158,750 in 1992, 175,187 in 1994 and 696,746 in 2007 (BNP2TKI, 2008). Over time the number of women migrant workers is higher than men. On average, from 1983 to 1992 the percentage of women migrant workers increased 12.1% per annum, while that of men increased 6.3% (Tjiptoherijanto 1997:43-45).

To a certain extent the increasing number of migrant workers relates to government’s policy which supports overseas migration or “workforce export” as noted in Repelita IV1 document. The economic crisis of 1997/1998 which resulted to the closure of a large number of manufacturing industries in Indonesia had led the government to send even more workers abroad.

Due to changes in development perspectives, at national level migration is regarded as a way to support development (Ghosh, 2006). Meanwhile de Hass 2005 shares a similar perspective but that at household and individual levels. He speciically refers to remittance sent by migrant workers. Among rural poor, this remittance is

(13)

regarded as a safety net and a medium of income distribution (see among other de Hass, 2005).

A World Bank study of 71 low income countries which send a large number of migrant workers shows that international migration has indeed a way out of poverty. The study inds that remittance sent by migrant workers stimulates economic growth at the workers’ place of origin. Indonesian government adopts similar view as that of the World Bank’s. International migration can reduce poverty, supports local development in the workers’ hometown and more importantly it overcomes government’s failure in creating suficient employment opportunities within the country.

On the other hand, micro studies show that migration of poor people does not always lead to changes in rural areas. International migration does not solve poverty problem, in fact it reproduces poverty. The latter occurs as many migrant workers are exploitated while working abroad, their income fails to alleviate poverty both at household’s and community’s levels (see among other Loveband, 2003).

The failure occurs because of exploitative working condition (Asian Migrant Yearbook, 2005) which gives little opportunities for them to accumulate capital. Other factors relate to the fact that migrant workers’ remittance needs to be shared with various parties such as the government (in terms of revenue) and inancial institutions which facilitate money transfer and exhange. These inancial institutions now exist in villages which become the source of migrant workers (see among other Ghosh, 2006).

Remittance (sent by migrant workers) needs to be analysed criticaly. The tendency to send more workers abroad also based on a view that remittance is a new source of revenue, especially when the real sector does not perform as is expected. In this context migrant workers are regarded as a tradeable commodity to gain inancial proit to pay the development cost. On the other hand, little attention is paid to the protection and welfare of the workers and their communities.

(14)

Migrasi Internasional: Realita dan Perubahan Kesejahteraan

poverty. There have been relatively few studies on the relationship between migration and rural change. Studies on rural change often pay little attention to population movement (migration) and impact of remittance (sent by migrant workers) to changes in rural areas where the workers come from (de Haan and Rogaly, 2002).

This edition of Jurnal Analisis Sosial Akatiga discusses migration in a wider perspective. International migration needs to be viewed as a social process and not necessarily be regarded as an economic process only. This means that a decision to migrate and the migration pattern are inluenced not only by economic consideration. It also relates to gender, class and etnicity (de Haan and Rogaly, 2002) as well as changes in social and economic structures in the villages.

At this point, this edition provides a room to develop discourses to whoever involve in migration issue – especially that of international migration – and its impact on the rural poor. This edition may also stimulate debates and discussions on international migration as a macro phenomenon as it is in one way and another is “supported” (by the government) for the sake of the revenue for the state.

Articles published in this edition mostly show the connection between the push factors to become migrant workers and the changing social and economic structures in rural areas. However each article describes this phenomenon and its impact differently. This is because international migration is a multi-faceted phenomeneon and can be viewed from different perspectives.

The irst article is written by R. Valentina Sagala which discusses protection of migrant workers within the framework of international law. This article is important as migrant workers are often in a vulnerable state due to poor working condition and unfair competition among parties who try to gain proit from them.

R. Valentina Sagala agrees that poverty relates to migration. In particular she discusses the reality of migrant workers’ life and changes of their welfare which are the theme of this edition. She refers to the fact that poverty (or pauperization as a result of unfair development) is often the main push factor to migrate as it is the last strategy to survive.

(15)

Migration is not gender-neutral. Therefore it is important to include gender perspective in the discussion of migrant workers. The article includes discussion on women migrant workers’ position, policy formulation to eliminate discrimination, exploitation and abuse of migrant workers.

It is clear that issues on migrant workers cannot be viewed from economic and security perspectives only as it will obscure the philosophy of migrant workers’ protection which is part of universal human rights. Therefore discussion on the protection of migrant workers has to include human rights’ perspective which is also part of an effort to achieve gender equality. Such an approach is expected to provide answer on the complexity of international migration, its reality and changes that may occur.

“Social remittance” can actually empower migrant workers – especially women migrant workers as discussed in an article written by Tyas Retno et. al. It refers to new knowledge acquired by migrant workers as a result working overseas. This knowledge along with the salary they receive as migrant workers are tools to protect and empower themselves and those in their circles. It can also be used as a medium to ight against injustice they may experience.

Tyas Retno et. al. write that the new knowledge they acquire as a result from working overseas may generate changes on relationship within families, gender role, class and race identities. It also inluence migrant workers’ political, economic and religious participations. Understanding this factors means understanding migration as a social process in which migrant workers may become a potential agent in economic, political and social changes.

According to the writers, the new knowledge as previously mentioned is an on going process it is not a inished product. It needs support from others to make women migrant workers become independent and sovereign. This new knowledge can also be used as a medium to ight against market force which places women as a commodity.

(16)

Migrasi Internasional: Realita dan Perubahan Kesejahteraan

She also discusses another dimension of social security system i.e. a system which does not necessarily give protection to the workers. It gives protection only to the degree necessary to overcome discomfort to meet subsistence needs. In other words, the writer sends a message that in a situation of livelihood stress, there is a need of social security and social support.

Within the context of rural change, Muryanti, S.Sos., MA., discusses changes in social economic structures in the village. For many rural households, limited employment opportunities in agricultural sectors lead to farming become subsistence activities only. A similar occurrence in other rural sectors, forces people to become migrant workers.

Subekti Mahanani also discusses changes in social and economic structures in rural area which force people to become migrant workers. More speciically, Mahanani discusses rapid agrarian change which is a result of agricultural development. This further leads to changes in rural institutions, employment opportunities, household income and others which support international migration.

The high rate of international migration of rural people and the large amount of remittance sent by the migrant workers on one hand, relate to employment problem, institutional changes, land ownership and land tenure on the other hand. Mahanani indicates that the current structure of land tenure limits the opportunity of people – including migrant workers – to own a land. Furthermore, the writer discusses the relationship between remittance and the opportunity to own a land. A wider gap in land tenure between rich and poor farmers has made migrant workers’ position remain vulnerable and marginal.

Ratih Dewayanti discusses land tenure, international migration and rural change in a wider perspective. She writes an approach on how to analyze the impact of international migration on rural areas where the migrants come from. Her article stresses the importance of international migration and changes that may occur in the workers’ standard of living and how the migration reduces vulnerability in their households. Answers of these questions automatically answer other queries on optimism and pessimism on the role of international migration in reducing poverty.

(17)

Ratih Dewayanti presents a methodological view on the relationship between international migration, remittance and rural situation. Her arguments lie on the fact that most of migrant workers come from rural areas and they - in one way and another – still relate to agricultural sector. Currently there have been relatively few studies on migrant workers and the remittance which discuss how they relate to agricultural and rural issues. Though there are studies on these matters and how they relate to rural development. She offers a methodological approach that in order to look at how international migration affect rural changes, we need to look at among other how remittance (sent by migrant workers) affect the structure of land tenure.

Despite of shortcomings of this edition, we consider it is important to understand how is the relationship between lack of employment opportunities in rural areas and international migration. Questions raised are among other; what kind of employment opportunities which can be entered by rural migrant workers; what is the role of social networks and migration agents in supporting international migration of rural people; how the migrants’ income inluence employment opportunities in rural areas; how is the subsidy pattern; how does international migration contribute to policies and movement to support the poor.

It is expected that articles published in this edition support the argument that migrant workers cannot be seen as a commodity only. Special effort is required from the government to give better protection to migrant workers, especialy if domestic employment opportunities become very limited so that transnational migration is the last option available for the rural poor.

It is also expected that this edition provides a new discourse on factors that lead migrant workers being unable to improve their welfare. In addition, we hope that the articles also provide inputs to the struggle to improve protection in all stages of migrant workers’ employment i.e. during the placement of the migrant workers, when the workers work overseas and after they return to their hometown.

(18)

Migrasi Internasional: Realita dan Perubahan Kesejahteraan

Social Security

di Desa sebagai

Penopang Pekerjaan Buruh Migran

Perempuan

(Studi di Desa Tempuran Duwur,

Kecamatan Sapuran, Kabupaten

Wonosobo, Jawa Tengah)

Muryanti, S.Sos, M.A1

Abstract

There are a lot of women migrant workers at Tempuran Duwur Village. Even the village head is a woman and an ex migrant worker. The impact of the many women working overseas can be seen from luxurious houses in the village, invesment in husbandry sector and ownership of mobile phones, motor cycles and cars.

The majority of women migrant workers continuously pass on their job to their children, grandchildren and neighbors. This is a sign of a “social comfort” as these workers feel comfortable with their job and so do their families. This situation enable the workers to perform well in their work.

There is a need to study the “social comfort” as previously mentioned. In particular the caring of children who are left behind by their parents, domestic harmony and social protection from the society. What happened at Tempuran Duwur Village may become a role model at other places where the majority of women become migrant workers.

Keywords: Migrant workers, social security and women.

1 Penulis adalah pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kontak: 085643845415 dan newsyant@yahoo.com

(19)

NH adalah seorang buruh migran perempuan yang berasal dari Desa Tempuran Duwur. Dia bekerja menjadi Pekerja Rumah Tangga (PRT) semenjak tahun 1998, pada saat reformasi (turunnya rezim Suharto) sampai saat ini. Sosok NH tergolong BMP yang “berhasil” secara ekonomi

karena mampu menopang

kehidupan keluarganya, mulai dari kebutuhan pangan, tempat tinggal sampai pendidikan dan politik. Dengan kemampuan

ekonominya, dia mampu

membiayai suaminya untuk

bekerja sebagai perangkat desa di Desa Tempuran Duwur. Padahal awalnya ketika NH berangkat ke luar negeri, suaminya dalam kondisi pas-pasan karena hanya menjadi pekerja rendahan. Tekadnya yang begitu kuat untuk

memperbaiki penghidupan

ekonomi keluarga, walaupun pendidikan rendah dan usia yang masih relatif muda, NH tetap melangkah ke Saudi Arabia untuk mendapatkan penghasilan yang baik serta dapat beribadah dengan baik karena bekerja di negara muslim.

(Sumber Lembaga KITA)

1. Pertanian di Pedesaan Memasuki wilayah Desa Tempuran Duwur yang terletak di kaki Gunung Sumbing berjarak sekitar 5 km ke kota kecamatan

serta kurang lebih 20 km ini ke kota kabupaten, nuansa pegunungan dan dataran tinggi begitu terasa. Dingin, lembab, berkabut, serta hujan yang sering turun menjadi cuaca keseharian yang melingkupi dusun tersebut.

Menyusuri jalanan di Dusun Desa Tempuran Duwur yang merupakan kantung buruh migran perempuan—tempat NH sebagai salah seorang BMP tinggal—terasa mendaki gunung yang tidak ada ujungnya, terasa sangat jauh. Di sepanjang jalan berbaris pepohonan yang lebat dan persawahan subur yang hijau, dan tanaman pangan kebutuhan pokok masyarakat. Akan tetapi, tanaman yang paling mendominasi di sepanjang jalan itu adalah tanaman teh. Dusun? Desa Tempuran Duwur sendiri termasuk ke dalam Kecamatan Sapuran yang menjadi bagian dari Kabupaten Wonosobo yang terletak di lereng beberapa pegunungan seperti Gunung Sindoro, Sumbing, Prahu, Bismo dan di lereng pegunungan Telomoyo, Tampomas, serta Songgoriti.

(20)

Migrasi Internasional: Realita dan Perubahan Kesejahteraan

tinggi dan pegunungan inilah yang menyebabkan kabupaten tersebut memiliki tingkat kesuburan yang tinggi sebagai basis produksi hasil pertanian. Tentunya iklim dan

kondisi geograis tersebut

sangat berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi, sosial, dan politik masyarakat.

Mayoritas warga dusun Desa Tempuran Duwur yang kurang lebih 900 KK memiliki mata pencaharian sebagai petani, dengan komoditas pertanian berupa jagung yang juga digunakan sebagai makanan pokok. Saat ini jagung mulai tergeser dan digantikan oleh beras sebagai bahan makanan pokok. Komoditas lain yang juga ditanam oleh masyarakat Desa Tempuran Duwur adalah sayur-sayuran, seperti kubis, buncis, cabe rawit, tomat, dan loncang.

Kondisi pertanian di desa ini termasuk kedalam kategori pertanian yang mengalami involusi pertanian dan termasuk kategori petani subsisten. Sebagaimana diungkap oleh penelitian yang dilakukan oleh Cliford Geertz (1975), kondisi pertanian dan petani dalam kategori ini mengalami pemiskinan bersama.

Kondisi tersebut ditandai produktivitas yang tidak naik dan selalu berada pada tempat dan waktu sama.

Involusi adalah istilah yang melukiskan pola-pola kebudayaan yang mencapai bentuk yang pasti tidak berhasil untuk menstabilisasi atau mengubah menjadi suatu pola baru, tetapi terus berkembang ke dalam sehingga semakin rumit. 2Involusi pertanian dan keterkaitannya dengan fungsi persawahan bertujuan untuk mempertahankan tingkat produktivitas serta menyerap tenaga kerja yang berlimpah. Involusi pertanian merupakan ciri khas dari pertanian sawah setelah kira-kira pertengahan abad ke sembilan belas. Munculnya involusi pertanian ini meresap hingga ke seluruh sistem ekonomi perdesaan, antara lain dengan adanya sistem hal milik yang semakin rumit, hubungan sewa menyewa tanah yang semakin ruwet, pengaturan kerja gotong royong semakin kompleks, dan kesemua hal tersebut merupakan usaha menyediakan satu relung bagi setiap orang dalam keseluruhan sistem3.

Usaha tani yang mengalami involusi itu digambarkan

2 Pendapat Goldenweiser yang mendeinisikan makna kebudayaan dalam Geertz, Agriculture Involution

diterjemahkan oleh S. Supomo (United States of America; University of California Press, 1976) hlm 88

2 Pendapat Goldenweiser yang mendeinisikan makna kebudayaan dalam Geertz, Agriculture Involution diterjemahkan oleh S. Supomo (United States of America; University of California Press, 1976) hlm 88

3 Ibid, hlm 89

(21)

dengan produktivitas yang tidak kunjung naik diukur dari produktivitas per orang (tenaga kerja). Kenaikan hasil per hektare bisa dicapai, tetapi tingginya hasil tersebut hanya cukup untuk mempertahankan taraf penyediaan pangan perorang. Bagi pemilik lahan, usaha padi sawah lebih banyak pada menanggung beban tenaga kerja dengan pemberian 47% bagian pendapatan diberikan kepada tenaga kerja. Berkaitan dengan pemilikan tanah, Geertz membagi pola kesempatan bekerja usaha tani yang sangat sempit menjadi semakin sempit dengan pola yang disebut “kemiskinan bersama”4.

Di samping mengalami involusi, kondisi petani di Desa Desa Tempuran Duwur juga berada pada kondisi subsisten. Kondisi subsistensi diartikan sebagai cara hidup yang cenderung minimalis dengan melakukan usaha-usaha bertujuan untuk sekadar hidup5. Sebagaimana analisis dalam buku Moral Ekonomi Petani (Scott, 1975), bahwa permasalahan subsistensi di kawasan Asia Tenggara ditandai dengan adanya indikator marjin ekonomi petani yang semakin rendah.

4 Ibid, hlm 106

5 Rahardjo. Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian (Yogyakarta; Gadjah Mada University Press; 1999), hlm 68

Oleh sebab itu, petani memilih cara-cara aman dan enggan mengambil risiko. Analisis sosial Scott mengatakan bahwa petani dalam kondisi tersebut berusaha secara maksimal melimpahkan risiko ekonomi kepada lembaga-lembaga lain demi keamanan subsistensinya yang dipengaruhi oleh stratiikasi, resiprositas desa, sewa tanah, dan perpajakan.

Ciri khusus perilaku ekonomis rumah tangga petani subsisten adalah memproduksi pertanian sekaligus mengkonsumsinya. Agar bisa bertahan, rumah tangga petani harus memenuhi kebutuhan sebagai konsumen kondisi subsistensi yang tidak dapat dikurangi dan tergantung jumlah anggota keluarga. Menurut Wharton (1963), subsisten murni petani terjadi ketika petani dapat berdiri sendiri dengan hasil produksi pertanian untuk dikonsumsi sendiri dan tidak dijual6.

Upaya bertahan hidup merupakan suatu kehidupan yang berkaitan erat dengan garis batas kemiskinan, ditandai dengan adanya kekhawatiran mengalami kekurangan pangan. Bagi rumah

6 Rahardjo, Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian (Yogyakarta; Gadjah Mada University Press; 1999) hlm 68

4 Ibid, hlm 106

5 Rahardjo. Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian (Yogyakarta; Gadjah Mada University Press; 1999), hlm 68

(22)

Migrasi Internasional: Realita dan Perubahan Kesejahteraan

tangga petani, gagal panen tidak hanya berarti kurang makan, tetapi penyebab kelaparan dan tidak mampu memenuhi kebutuhan di luar makan. Untuk dapat makan, rumah tangga petani mengorbankan harga diri dan menjadi beban orang lain atau menjual sebagian dari tanah atau ternak untuk memperkecil kemungkinan tidak tercapainya tingkat subsistensi. Subsistensi rumah tangga petani merupakan fenomena struktural dan kultural.

Subsistensi sebagai fenomena struktural ditandai dengan sempitnya kepemilikan dan penguasaan lahan pertanian, kemiskinan dan kebodohan yang menyertainya, struktur ekonomi dan politik yang kurang mendukung perkembangan sektor pertanian masyarakat desa secara umum dan khususnya sektor pertanian. Sementara itu, pandangan subsistensi sebagai fenomena kultural adalah bahwa kondisi subsistensi tersebut menjadi suatu way of life, eksistensinya terlekat pada sistem feodalisme yang merupakan tahap perkembangan

masyarakat selepas zaman pra-industri menuju zaman masyarakat industri7.

Subsistensi rumah tangga petani adalah bagaimana menghasilkan beras cukup untuk makan, membeli barang kebutuhan pokok seperti garam, sandang, dan memenuhi kebutuhan sosial. Segala usaha yang dilakukan petani adalah menghindari

kegagalan penghancur

kehidupan dan bukan berusaha memperoleh keuntungan besar dengan mengambil risiko. Perilaku petani itu disebut risk averse8. Perilaku menghindari risiko ini tercermin dari penggunaan berbagai macam jenis bibit, cara bertani tradisional di lahan terpencar-pencar yang berakibat pada berkurangnya hasil rata-rata pertanian. Bagi rumah tangga petani yang hidup dekat dengan batas subsistensi, akibat kegagalan panen adalah kelaparan sehingga mereka lebih mengutamakan keamanan pangan daripada keuntungan jangka panjang. Prinsip ini dikenal safety irst (dahulukan selamat)9.

7 Ibid, hlm 71

8 James C. Scott, The Moral Economy of The Peasant; Rebelion and Subsistence in Southeast Asia diterjemahkan oleh Hasan

Basari (New Haven and London: Yale University Press, ltd., 1981) hlm 7 9 Ibid, hlm 7

7 Ibid, hlm 71

8 James C. Scott, The Moral Economy of The Peasant; Rebelion and Subsistence in Southeast Asia diterjemahkan oleh Hasan Basari (New Haven and London: Yale University Press, ltd., 1981) hlm 7

9 Ibid, hlm 7

(23)

2. Migrasi Pertanian ke Jasa Berdasarkan data yang berasal dari aparat desa Desa Tempuran Duwur tentang komposisi warga Dusun Desa Tempuran Duwur berdasarkan jenis mata pencahariannya, jumlah petani tercatat sebanyak 624 jiwa atau 55,22% dari keseluruhan penduduk. Tabel 1 di bawah ini memperlihatkan komposisi penduduk Dusun Desa Tempuran Duwur berdasarkan jenis mata pencaharian.

Tabel 1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pekerjaan

No Jenis Pekerjaan Jumlah %

1. Petani Penggarap 420 20,99

2. Buruh Tani 204 10,19

3. Industri Kecil Kerajinan

81 4,05

4. Bangunan 83 4,15

5. Pedagang 42 2,10 6. Angkutan 6 0,30

7. PNS 4 0,20

8. Pensiunan 1 0,05

9. Ojek 30 1,50

10. Lainnya 1.130 56,47

Jumlah 2001 100

Sumber: Lembaga KITA, 2010

Berdasarkan Tabel 1 di atas, dapat dikatakan bahwa mayoritas penduduk Dusun Desa Tempuran Duwur adalah bukan petani, yaitu sebanyak 68% dari keseluruhan

penduduk. Sementara penduduk yang bekerja dalam pertanian hanya sekitar 31%, yang terdiri atas petani penggarap yaitu sebanyak 20,99% dan 10,19% adalah buruh tani. Dilihat dari sisi mata pencaharian sebagai petani, walaupun mayoritas adalah petani penggarap, adanya kondisi pertanian yang mengalami involusi kemudian menyebabkan pertanian hanya menjadi usaha subsisten bagi rumah tangga petani. Kondisi ekonomi yang subsisten tersebut menyebabkan kondisi perekonomian di pedesaan semakin memburuk, karena beban ekonomi yang semakin tinggi dan adanya kebutuhan konsumsi yang semakin meningkat. Dengan kalimat lain, bisa juga diuraikan bahwa harga produk pertanian tidak seimbang dengan harga barang-barang kebutuhan pokok atau konsumsi yang lain. Proses produksi pertanian yang memerlukan biaya tinggi menjadi tidak sebanding dengan harga jual hasil pertanian yang semakin menurun.

(24)

Migrasi Internasional: Realita dan Perubahan Kesejahteraan

oleh sanak saudara, kawan-kawan, desa, seorang pelindung yang berpengaruh, dan -- walaupun jarang-- negaranya dengan berbagai macam program untuk mengatasi masa sulit tersebut. Sementara pada tingkat keluarga ada berbagai alternatif subsistensi yang dapat digolongkan sebagai “swadaya”, yang mencakup kegiatan seperti berjualan kecil-kecilan, bekerja sebagai tukang kecil, buruh lepas, mencari kayu bakar, membuat arang, atau malah bermigrasi10.

Upaya diferensiasi di luar pertanian yang dilakukan oleh masyarakat Desa Tempuran Duwur adalah terutama pada sektor perdagangan dan jasa. Usaha perdagangan yang dijalankan oleh masyarakat adalah mulai dari usaha berdagang kecil-kecilan, usaha sampingan kerajinan anyaman bambu yang dimodiikasi menjadi keranjang, tikar dari mendong, dan industri makanan seperti opak dan tempe. Sementara usaha jasa yang dilakukan adalah sebagai pedagang, buruh serabutan di luar pekerjaan pertanian, atau

10 James C. Scott, The Moral Economy of The Peasant; Rebellion and Subsistence in Southeast Asia diterjemahkan oleh Hasan Basari (New Haven and London: Yale University Press, ltd., 1981) hlm 40

menjadi tukang ojek.

Pekerjaan di luar pertanian yang dilakukan oleh masyarakat Desa Tempuran Duwur merupakan sebuah keharusan untuk bertahan hidup. Mengingat sektor pertanian yang hanya bisa menampung sedikit tenaga kerja dengan panen yang hanya terjadi 3 kali setahun dan kecilnya rata-rata lahan pertanian membuat mereka harus mendapatkan pendapatan lain di sektor-sektor pekerjaan informal.

Pekerjaan informal yang dimaksud di sini merujuk pada tumbuhnya aktivitas penciptaan pendapatan di luar segala dimensi kelembagaan formal dan intervensi negara yang saat ini menunjukkan kecenderungan terus meningkat, terutama di negara berkembang dan miskin11. Sesuai dengan namanya informal, penghasilan dari sektor ini tentunya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga dan tidak bisa untuk memenuhi kebutuhan lainnya seperti pendidikan, kesehatan, atau pun sosial. Dengan demikian, pekerjaan ini tidak dapat

11 Gejala itu pada dasarnya juga terlihat di negara-negara dengan perekonomian yang lebih stabil dan maju. Di sejumlah kota utama Eropa pada dekade 80-an, tren informalisasi bahkan sempat sangat mencolok seperti juga di kota-kota besar di Amerika Utara, dalam Wahyu B. Basyir, “Informalisasi dan Tantangan Perburuhan”, dalam Jurnal Analisis Sosial, Volume 3 Desember

2003,(Bandung; Akatiga, 2003), hlm Social Security di Desa sebagai Penopang Pekerjaan Buruh Migran Perempuan

10 James C. Scott, The Moral Economy of The Peasant; Rebellion and Subsistence in Southeast Asia diterjemahkan oleh Hasan Basari (New Haven and London: Yale University Press, ltd., 1981) hlm 40

(25)

dipastikan berdasarkan waktu dan jumlah pendapatannya, sehingga dapat dikatakan sebagai pekerjaan sambilan semata.

Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakpastian penghasilan secara ekonomi bagi petani, khususnya petani laki-laki. Sedangkan perempuan di Desa Tempuran Duwur, layaknya sebagian besar perempuan desa di wilayah Indonesia, bekerja hanya untuk membantu suami, bukan sebagai pemenuh kebutuhan pokok keluarga. Ketidakpastian penghasilan dari sektor pertanian inilah yang menyebabkan perempuan, termasuk NH dari Desa Tempuran Duwur keluar dari rumah untuk bekerja memenuhi kebutuhan ekonomi sebagai BMP.

Alasan memilih menjadi BMP seperti yang dilakukan oleh NH adalah karena pendapatan ekonomi yang diperoleh lebih besar daripada di dalam negeri. Gaji yang diperolehnya berkisar Rp. 2.000.000,00/bulan; nilai gaji tersebut sangat jauh dibandingkan dengan di dalam negeri yang hanya berkisar Rp. 300.000,00 sampai Rp. 600.000,00/bulan. Di samping itu, mereka juga mendapatkan fasilitas kerja seperti jam

istirahat, hari libur, dan aneka bonus kerja: pakaian, makanan, atau pun kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi serta pengalaman hidup di luar negeri, yaitu: Arab Saudi, Malaysia, Oman, Singapura, Korea, Kuwait, Brunei Darussalam, Abu Dhabi, Kuwait, Hong Kong, dan Taiwan sebagai suatu yang tidak ternilai harganya.

Pilihan pekerjaan yang dilakukan oleh BMP juga biasanya hanya berkisar pada pekerjaan di sektor domestik, yakni sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT). Dengan pekerjaan utamanya mencuci perabot rumah tangga, mencuci pakaian, menyeterika, menyapu rumah/halaman, memasak, belanja, mengepel lantai, membersihkan KM/WC, mengasuh bayi, serta tugas tambahan lainnya yang meliputi: mencuci mobil, merapikan kebun, menyopiri majkan, menjaga toko, dan membantu usaha majikan12. Secara singkat, pekerjaan PRT adalah mengerjakan dan mengelola semua pekerjaan kerumahtanggaan.

Fenomena maraknya BMP dimulai semenjak tahun 1998, yaitu setelah turunnya Suharto dan krisis ekonomi di Indonesia yang menyebabkan

(26)

Migrasi Internasional: Realita dan Perubahan Kesejahteraan

terjadinya gelombang migrasi TKI/TKW besar-besaran sampai sekarang. Jumlah warga dusun Desa Tempuran Duwur yang bekerja sebagai TKI/TKW sendiri hampir mencapai 90% dari total penduduk desa, baik yang berstatus mantan maupun yang saat ini masih bekerja. Menurut informasi dari perangkat desa, jumlah warga yang bekerja sebagai TKI/TKW saat ini di Desa Tempuran Duwur adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Jumlah Buruh Migran di Desa Tempuran Duwur

Sumber: Informasi Perangkat Desa Desa Tempuran Duwur13

Pola kinerja buruh migran dari Desa Tempuran Duwur berjalan dengan siklus tertentu secara terus-menerus hingga saat ini. Tercatat kurang lebih 50 % warga yang bekerja ke luar negeri berangkat sejak usianya baru 13 tahun dengan status sudah

13 Dokumen Lembaga KITA, diperoleh tanggal 27 April 2010

menikah. Dengan demikian, seolah ada hukum yang tidak tertulis bahwa sebelum bekerja ke luar negeri perempuan maupun laki-laki harus menikah terlebih dahulu, walaupun setelah satu minggu menikah mereka harus berangkat. Usia pernikahan dini ini terjadi karena pemahaman kesadaran tentang pendidikan yang rendah, disertai dengan tidak adanya fasilitas yang mudah dijangkau mulai dari tingkat SLTP sampai SLTA.

Bagi masyarakat Desa Tempuran Duwur, bekerja ke luar negeri dengan berbagai macam negara tujuan sudah menjadi hal yang biasa. Setiap bulan Ramadhan sampai Lebaran, mereka bisa pulang ke kampung halaman, terutama mereka yang bekerja di Arab Saudi, Kuwait, dan Abu Dhabi. Dalam waktu setahun mereka memperoleh liburan satu bulan penuh. Mereka bekerja kembali setelah Lebaran sampai Lebaran berikutnya hingga usia mereka renta dan tenaga mereka tidak terpakai lagi untuk bekerja kepada orang lain. Biasanya rata-rata usia mereka ketika berhenti dari pekerjaannya adalah 45 tahun ke atas. Setelah itu, mereka lantas menetap di desa dengan membuka usaha, mendirikan koperasi (salah satunya Koperasi Srikandi yang anggotanya Social Security di Desa sebagai Penopang Pekerjaan Buruh Migran Perempuan

(27)

mantan buruh migran), atau merawat cucu yang ditinggalkan oleh ibunya yang mengikuti jejaknya pergi ke luar negeri menjadi buruh migran14.

Seperti halnya pengalaman SH, pertama kali berangkat ke Arab Saudi pada tahun 1998. Menandatangani kontrak yang pertama sampai dengan tahun 2000. Kemudian kembali menetap di desa setelah kontraknya selesai. Aktivitas yang dilakukan disela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga adalah membantu suami dalam aktivitas pertanian di desa. SH setiap hari mengolah lahan di sawah. Selain aktivitas di sektor pertanian, dia juga bertanggung jawab terhadap pendidikan anak. Pengawasan serta urusan sekolah menjadi kewajibannya.

Pendapatan yang diperolehnya dari Arab Saudi diinvestasikan juga untuk membangun rumah yang selama ini menjadi impiannya. Tidak lama tinggal di desa, SH melanjutkan bekerja sebagai buruh migran di Arab Saudi kembali. Dia menandatangani kontrak kerja yang kedua selama waktu tiga tahun terhitung dari tahun 2009 sampai dengan 2011sehingga pada saat ini pun SH masih bergelut dengan pekerjaannya

14 Dokumen Lembaga KITA, diperoleh tanggal 28 April 2010

di luar negeri.

Demikian juga halnya NH. NH berangkat menjadi BMP dalam rentang waktu yang sama dengan SH. SH berangkat bekerja pertama kali pada usia 22 tahun dengan menandatangani kontrak kerja tahun 1998 sampai 2000 dan bekerja di perumahan polisi. Kemudian kontrak kerja tersebut diperpanjang dari tahun 2000 sampai 2002. kembali bekerja menjadi buruh migran dengan kontrak kerja baru dari tahun 2004 – 2006 dan dengan majikan yang berbeda. Begitu seterusnya sampai tenaganya tidak bisa digunakan lagi15.

Banyaknya warga yang merantau ke luar negeri, disebabkan oleh faktor ekonomi, terutama karena sektor pertanian yang tidak menjanjikan. Selain itu, faktor dukungan dari Pemerintah juga berperan. Mantan TKI/TKW lain juga mempermudah perolehan syarat-syarat untuk ke luar negeri serta mendorong migrasi menjadi bersifat progresif dari tahun ke tahun tanpa terputus dan menjadi siklus. Di samping 14 Dokumen Lembaga KITA, diperoleh tanggal 28 April 2010

(28)

Migrasi Internasional: Realita dan Perubahan Kesejahteraan

itu, di Desa Tempuran Duwur terdapat pula 2 (dua) agen PJTKI yang selama ini dianggap tidak pernah berkasus dan tidak banyak kekerasan yang menimpa buruh migran yang disalurkannya di tempat kerja di luar negeri.

3. Menjadi Buruh Migran

Jumlah buruh migran asal Indonesia yang tersebar di beberapa negara saat ini 4,4 juta orang16. Sementara itu, wilayah Wonosobo sendiri menyumbang buruh migran sebanyak kurang lebih seribu orang yang tersebar merata di wilayah pedesaan dan perkotaan. Adanya calo yang beroperasi di desa dengan memberikan informasi tentang peningkatan taraf hidup yang lebih baik dengan menjadi buruh migran merupakan pintu pertama yang membuka warga untuk berangkat ke luar negeri, sebelum melihat keberhasilan mantan buruh migran di Desa Tempuran Duwur dan ditambah dengan adanya kemudahan prosedur yang diberikan oleh pihak penyedia jasa tenaga kerja.

Langkah awal yang mereka lakukan untuk bekerja ke luar

16 Dokumen Migrant Care, diambil dari www.migrantcare.net, diakses tanggal 30 Agustus 2010

negeri adalah mendaftar melalui PJTKI yang ada di Desa Tempuran Duwur. Biaya pedaftaran berkisar antara Rp. 350.000,00 sampai dengan Rp. 1.000.000,00. Uang yang mereka pergunakan untuk mendaftar biasanya mereka peroleh dari meminjam kepada tetangga atau pun menjual aset yang mereka miliki. Jika calon buruh tidak memiliki biaya pedaftaran yang cukup, maka mereka akan mendapatkan kemudahan dengan biaya gratis, bahkan diberikan uang transpor sampai ke penampungan oleh pihak penyedia jasa tenaga kerja. Tentunya ini tidak diberikan secara Cuma-Cuma karena nantinya biaya pendaftaran tersebut akan digantikan dengan cara memotong pendapatan yang mereka terima. Hal tersebut dilakukan baik oleh perusahaan penyalur tenaga kerja maupun oleh pihak pemerintah desa.

Setelah melakukan pendaftaran di desa, mereka lalu dibawa ke penampungan buruh migran di Jakarta untuk mendapatkan pendidikan kilat kurang lebih satu bulan tentang tata cara bekerja di luar negeri. Biasanya mereka mendapat pelatihan dari agen Aida Arya Duta di Jakarta. Apabila mereka sudah pernah bekerja sebelumnya, tentunya tidak perlu menjalani proses Social Security di Desa sebagai Penopang Pekerjaan Buruh Migran Perempuan

(29)

ini17. Setelah menyelesaikan pendidikan kilat tersebut, mereka tinggal menunggu waktu keberangkatan karena informasi lowongan pekerjaan sudah disediakan oleh agen.

Faktor pendapatan yang tinggi dalam hal ini menjadi pendorong untuk bekerja sebagai buruh migran. Dengan jenis pekerjaan yang sama, buruh migran akan menerima pendapatan yang jauh lebih besar dibanding dengan bekerja di Indonesia. Di sisi lain, mereka juga mendapatkan banyak fasilitas kerja yang nilainya tetap melebihi tingkat pendapatan di Indonesia.

Pendapatan yang diterima oleh buruh tersebut tentu saja tidak digunakan untuk konsumsi di negera tempat mereka bekerja, akan tetapi lebih banyak disimpan untuk mencukupi berbagai macam kebutuhan di kampung halaman. Mereka mengirim sesuai kebutuhan yang ditentukan oleh pengelola aset di Desa Tempuran Duwur, salah satunya adalah suami. Rata-rata uang yang dikirimkan kepada keluarga sekitar Rp. 500.000,00 sampai dengan Rp. 2.000.000,00 per bulannya atau sesuai dengan kebutuhan di desa. Apabila tidak ada kebutuhan, tidak ada remitansi yang dikirim kepada

17 Dokumen Lembaga KITA, 27 April 2010

keluarga; dan uang tersebut lebih banyak disimpan.

Pendapatan yang diperoleh tersebut digunakan untuk membayar hutang atau membeli tanah berupa sawah untuk digarap sendiri atau dikerjakan orang lain atau pekarangan untuk membuat rumah. Jika sudah memiliki satu rumah, maka pendapatan digunakan untuk membangun rumah kedua. Sebagaimana penuturan NH, pendapatannya selama menjadi buruh migran digunakan untuk membangun dan merenovasi rumah pertama, yang awalnya digunakan sebagai warung dan toko pupuk serta alat-alat pertanian. Untuk mendapatkan keuntungan, NH menjual barang dagangannya senilai Rp. 25.000.000,00. Setelah kebutuhan tempat tinggal terpenuhi, ia menggunakan pendapatannya untuk membeli sawah, kolam, alas yang masih ditanami kayu. Untuk mencukupi kebutuhan konsumsi berupa sepeda motor, NH menyewakan sawahnya dalam jangka waktu tahunan. Sedangkan mobil miliknya diperoleh dari hasil produksi sawah yang dimilikinya18.

Bagi yang sudah terpenuhi kebutuhan subsistensinya, bahkan berlebih, mereka

18 Dokumen Lembaga KITA, 27 April 2010

(30)

Migrasi Internasional: Realita dan Perubahan Kesejahteraan

melakukan ekspansi ekonomi di wilayah lain. Mereka berupaya mendapatkan kedudukan sosial dan politik di pedesaan. Mengingat perangkat desa merupakan struktur kelas atas di pedesaan, ditinjau dari faktor ekonomi, politik, dan sosial, posisi tersebut diperebutkan oleh warga masyarakat. Pada saat ini, Kepala Desa di Desa Tempuran Duwur adalah seorang perempuan, mantan buruh migran. Demikian juga halnya dengan Bapak dan Ibu Carik (Sekretaris Desa).

Hal ini menunjukkan bahwa menjadi buruh migran merupakan jembatan yang menghantarkan seseorang secara sosial dan politik menduduki posisi pejabat struktural di tingkat pedesaan sebagai prestise tersendiri. Padahal, apabila kita kaji situasi hari ini, untuk menduduki jabatan publik dibutuhkan biaya yang relatif tinggi guna mendapatkan suara mayoritas. Artinya, ditinjau dari perspektif ekonomi, penghasilan buruh migran tidak kecil, dapat meningkatkan taraf penghidupan dengan cara menabung untuk kegiatan sosial dan politik.

“Keberhasilan” menjadi buruh migran yang dicapai sebagian masyarakat Desa Tempuran Duwur menjadi patokan atau panutan menuju kesuksesan

hidup. Akibatnya, mereka ingin mewariskannya kepada anak cucu. Kondisi ini pula yang menyebabkan buruh migran, terutama perempuan, menjadi rantai siklus yang tidak terputus. Atau dengan kata lain, masyarakat mulai merasakan kebutuhan dan kewajiban bekerja di luar negeri untuk mewujudkan mimpi-mimpi indahnya.

Pola pikir masyarakat tersebut berpengaruh pada kondisi sosial di Desa Tempuran Duwur. Pada awalnya masyarakat tergantung pada sektor pertanian yang homogen sehingga suasana pedesaannya seolah-olah ‘tenteram’, semangat saling membantu alias gotong royong, kolektivisme, dan rasa kekeluargaan masih tinggi. Ketika masyarakat menemukan pekerjaan alternatif sebagai buruh migran, kondisi sosial masyarakat bergeser karena melahirkan persaingan, terutama persaingan status sosial. Apabila mereka berhasil maka akan dipuja-puja, tetapi jika sebaliknya yang terjadi, mereka akan mendapatkan tekanan sosial sebagai sosok yang tidak mampu bekerja.

(31)

bagi NH. Akan tetapi, melihat kondisi keluarga, NH sangat termotivasi untuk membantu suami dan meningkatkan taraf kehidupannya. Pada awal keberangkatannya ke luar negeri, NH meninggalkan seorang anak berusia sekitar 5 tahun dan suami yang hanya bergantung pada sektor pertanian. Sementara SH, ketika berangkat bekerja meninggalkan 3 orang anak yang masih SMA, SMP, dan SD. Kepergian ibu rumah tangga bekerja ke luar negeri ini menimbulkan fenomena munculnya bapak rumah tangga yang merangkap menjadi kepala keluarga di Desa Tempuran Duwur. Suami maupun keluarga besar berperan sebagai pengelola keluarga dalam dalam kegiatan ekonomi dan sosial, termasuk pendidikan anak. Apa yang dilakukan oleh suami, keluarga besar, dan pemerintah desa ini merupakan bagian dari social security di pedesaan bagi buruh migran perempuan.

Social security adalah sesuatu yang tidak mudah dideinisikan. Banyak orang mengkonotasikan istilah itu sebagai sistem hukum negara dan organisasi sosial politik (pada sistem negara kesejahteraan), yang mana social security sebagai dana pensiun atau pendapatan yang dibayarkan

setelah tidak bekerja. Negara mendeinisikan lain bahwa sosial dan keamanan mempunyai makna yang berlawanan.

Mekanisme masyarakat

dan sosial tidak pernah bisa menjamin. Istilah social security pada kenyataannya tidak memberikan keamanan, akan tetapi dengan kemudahan yang terbatas untuk menanggulangi ketidaknyamanan, yang berhubungan dengan cara memenuhi kebutuhan subsistensi dengan berbagai macam cara yang dilakukan oleh manusia. Beberapa pihak lebih memilih menggunakan istilah social insecurity. Konsepnya, social security dapat ditunjukkan dengan berbagai cara, social security merupakan usaha manusia untuk mengorganisasikan persepsi mereka tentang keamanan masyarakat.

Menurut ILO deinisi social security adalah sebagi berikut:

(32)

Migrasi Internasional: Realita dan Perubahan Kesejahteraan

injury, unemployment, invalidity, old age and death; the provision of medical care; and the provision of subsidies for families with children19.

Istilah social security pertama kali digunakan oleh Dewan Legislatif Amerika Serikat dalam The Social Security Act Tahun 1935”, pada saat deklarasi lembaga tersebut memiliki program yang berkaitan dengan permasalahan lanjut usia, kematian, cacat tubuh, dan pengangguran. Istilah tersebut kemudian meluas menjadi deklarasi di New Zealand pada tahun 1938 bersamaan dengan munculnya eksistensi dan keuntungan dari social security. Istilah tersebut digunakan lagi pada tahun 1941 dalam dokumen masa perang yang dikenal dengan nama Atlantic Charter. Kemudian ILO mengadopsi istilah tersebut, dengan menyederhanakannya. Istilah yang sederhana dan merupakan ungkapan dari salah satu hal yang berada pada posisi “sangat” dan diperluas menjadi aspirasi dari semua masyarakat di dunia. ILO kemudian memformalkan istilah social security antara tahun 1952 dan 1982 dan menjadi sebuah konsep. Komponennya adalah jaminan sosial (social insurance), bantuan

19 Team, Introductuion to social security (Jenewa: ILO, 1989)

sosial (social assistance), manfaat pajak, dan penghematan dana keluarga bersamaan dengan aturan yang mendukungnya untuk tenaga kerja dan program tambahan dan pelengkap untuk pengembangan social security20.

Social security meliputi hal yang dilakukan melalui pengukuran umum yang sangat luas berhubungan dengan keuangan, atau dengan cara yang sama, keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan dua pendekatan. Pendekatan pertama yang yang berkaitan dengan kekuasaan pendapatan individu, yakni: (1) Cases permanently (due to old age, invalidity, permanent and total incapacity, or death), (2) Is interrupted (by short-term injury, sickness, maternity or loss of employment), (3) Never develops (due to physical or intelectual

handicap, an emotional

disturbance, or an inability of gain irst employment), (4) Is unable to avoid poverty (due to inadequate work remuneration or inadequately developed personal or vocational skills) or, (5) Is exercised only at unacceptable social cost (such as single perenthood, individual support of elderly parents, or support of disabled or handicapped

20 Ibid, hlm 50

Social Security di Desa sebagai Penopang Pekerjaan Buruh Migran Perempuan

(33)

children or sibilings). Pendekatan kedua berhubungan dengan peningkatan kehidupan seseorang. Pendekatan utama yang berhubungan dengan social security dapat diidentiikasi sebagai social insurance, social allowances, provident funds, and employer liability21.

Frans Von Benda-Beckman mendeinisikan social security dalam artikelnya pada tahun 1986, sebagai mekanisme, kelembagaan, dan konsep normatif di tingkat lokal yang menjamin kehidupan anak-anak, remaja, dan masyarakat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Deinisi ini lebih dekat dengan pendekatan kelembagaan. Dia menyatakan, “Kondisi sosial dan ekonomi di seluruh dunia pada kondisi tidak aman; dari ketidaknyamanan cuaca pada saat mereka makan atau harus dimakan, apakah mereka memiliki atap di atas kepalanya, melindungi ketika mereka sakit, membantu ketika mereka masih belia atau lansia, tidak mempunyai uang untuk mencukupi kebutuhan. Dengan demikian, social security berarti usaha seseorang, kelompok, individu, atau organisasi untuk mengatasi ketidakamanan22.

21 John Dixon dan Robert P.Scheurell. Social Security Programs; A Cross-Cultural Comparative Perspective (Wesport, Connecticut, London: Greenwood Press, 1995)

Social security dipengaruhi oleh kelas, kekuasaan, dan politik. Pada umumnya kelas atas dalam masyarakat berusaha melarang kelompoknya dari kaum miskin untuk mencegah banyaknya tuntutan. Pada umumnya mereka berada di wilayah elite yang sering menjadi korban kelompok yang banyak menuntut tanggung jawab, bekerja sama dengan kelompok yang lain, dan mendistrubusikan sebagian dari kekayaan yang dimilikinya. Mereka berusaha melarang dirinya dari komunitas atau membayar tanggung jawabnya dengan pendapatan simbolik. Mereka menggunakan ideologi atau kekuasaannya untuk mengamankan kekayaannya. Social security dapat berarti keduanya, desakan atau kerelaan seseorang.

Singkatnya, social security

merupakan tindakan

seseorang atau kelompok

tertentu dan sistem

pemerintahan untuk

memberikan perlindungan sosial, ekonomi, politik,

dan lingkungan dari

ketidaknyamanan. Social security merupakan permasalahan yang terjadi pada individu dan berhubungan dengan kehidupan

21 John Dixon dan Robert P.Scheurell. Social Security Programs; A Cross-Cultural Comparative Perspective (Wesport, Connecticut, London: Greenwood Press, 1995)

(34)

Migrasi Internasional: Realita dan Perubahan Kesejahteraan

sosialnya. Individu dapat memberikan investasi relasi sosial namun tidak memberikan kontribusi keuntungan kolektif dalam waktu yang singkat. Akan tetapi, pada saat dibutuhkan seseorang dapat membantu yang lain. Bentuk investasi sosial dapat terjadi apabila seseorang mampu berkontribusi secara kolektif dan sukses.

Ketika SH bekerja ke Arab Saudi, suaminya, SW, yang berperan penting dalam mengendalikan kehidupan rumah tangganya.

Pekerjaan domestik

dikerjakannya sendiri, mulai dari memasak, membersihkan rumah, menyuapi anak-anaknya yang masih kecil, serta mempersiapkan kebutuhan sekolah anak-anaknya; mulai dari uang saku yang diberikan Rp. 3.000,00 setiap harinya, uang buku, dan kegiatan ekstra lainnya. Harapan utama SH dan SW adalah menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkat perguruan tinggi. Belanja kebutuhan sehari-hari juga dilakukannya sendiri di pasar kecamatan terdekat dengan penghasilannya sebagai Perangkat Desa Tempuran Duwur. Karena kewalahan mengerjakan sawahnya sendiri yang terus bertambah luas karena membeli dari tetangga yang menjual

sawah, SW melibatkan keluarga besarnya untuk mengelolanya dengan sistem bagi hasil. Dengan cara itu SW bisa membantu meningkatkan perekonomian saudaranya23.

PENUTUP

Buruh Migran Perempuan (BMP) merupakan pekerjaan alternatif yang banyak ditempuh oleh sebagian masyarakat Indonesia, termasuk dari Desa Tempuran Duwur. Sektor pertanian yang tidak mampu memberikan kepastian hidup layak, motivasi yang tinggi untuk mengubah hidup, sementara bekal pendidikan sangatminim, semua itu menyebabkan merantau ke luar negeri menjadi sebuah pilihan; tentunya dengan jenis pekerjaan yang dapat dilakukan yang bersifat isik, terutama pekerjaan domestik. Pada awalnya pendapatan yang diperoleh digunakan untuk menutupi kebutuhan subsistensi rumah tangga: sandang, pangan, dan papan. Ketika subsistensi rumah tangga telah terpenuhi, terjadi ekspansi kebutuhan. Pendapatan dari bekerja sebagai buruh migran dapat disimpan untuk memperluas kepemilikan lahan atau berpartisipasi dalam

23 Dokumen Lembaga KITA, tanggal 27 April 2010

Social Security di Desa sebagai Penopang Pekerjaan Buruh Migran Perempuan

(35)

kegiatan sosial dan politik di masyarakat. Pada titik ini, buruh migran disebut berhasil.

Kesuksesan tersebut tidak mudah mereka peroleh. Dukungan dari keluarga dan masyarakat merupakan syarat utama untuk mewujudkannya. Keluarga berperan dalam berbagai macam bentuk perlindungan terhadap anggota keluarga yang ditinggalkan, terutama anak-anak; keluarga pula yang melakukan pengelolaan aset dan kekayaan yang diperolehnya dari bekerja tersebut. Sementara dari masyarakat, dukungan dapat dilakukan dengan menghapus cap negatif terhadap keberadaan mereka; memberikan dukungan psikologis dalam bekerja, dan yang lebih penting juga adalah

memberikan kemudahan

pelayanan pemberkasan sebelum berangkat, bahkan tidak banyak membebani mereka dengan pungutan-pungutan. Upaya yang dilakukan oleh keluarga dan pemerintah desa merupakan social security ring pertama bagi buruh migran, terutama perempuan.

Social security sangat diperlukan oleh buruh migran untuk bisa mengoptimalkan kinerjanya di luar negeri. Kenyamanan yang dibawanya dari rumah dan lingkungan sosial akan terbawa ke dalam dunia

kerja. Dengan demikian, ada simbiosis mutualisme antara kenyamanan di rumah dengan kenyamanan di tempat kerja. Social security di Desa Tempuran Duwur merupakan tanda positif untuk memberikan dukungan bagi buruh migran, khususnya perempuan. Aparat pemerintahan di desa yang sebagian adalah mantan buruh migran mengerti benar situasi dan kondisi menjadi buruh migran; terutama ketika ada konlik dengan majikan ataupun pihak-pihak yang selama ini tidak bisa diajak kerja sama. Asam garam sebagai buruh migran sudah mereka rasakan benar, sehingga rasa empati tersebut muncul dalam bentuk berbagai macam kebijakan dan kemudahan yang diberikan kepada buruh migran. Tentunya dikuatkan dengan dukungan yang optimal dari keluarga besarnya.

Figur

Tabel 1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pekerjaan
Tabel 1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pekerjaan. View in document p.23
Tabel 2. Jumlah Buruh Migran di Desa Tempuran Duwur
Tabel 2 Jumlah Buruh Migran di Desa Tempuran Duwur. View in document p.26
Tabel 1. Tipologi Transisi Agraria di Asia Tenggara
Tabel 1 Tipologi Transisi Agraria di Asia Tenggara. View in document p.77
Tabel 1.Jumlah TKI Berdasarkan Negara Tujuan tahun 1983-2007
Tabel 1 Jumlah TKI Berdasarkan Negara Tujuan tahun 1983 2007. View in document p.91
Tabel 2. Jumlah TKI Berdasarkan Negara Tujuan Tahun 1983-2007
Tabel 2 Jumlah TKI Berdasarkan Negara Tujuan Tahun 1983 2007. View in document p.92
Tabel 3. Negara Tujuan
Tabel 3 Negara Tujuan. View in document p.95
Tabel 4. Jenis Pekerjaan
Tabel 4 Jenis Pekerjaan. View in document p.95
Tabel 1. Usia Saat Pertama Berangkat ke Luar Negeri
Tabel 1 Usia Saat Pertama Berangkat ke Luar Negeri. View in document p.95
Tabel 2. Tingkat Pendidikan
Tabel 2 Tingkat Pendidikan. View in document p.95
Tabel 6 Pola Penggunaan Remitansi oleh Rumah Tangga
Tabel 6 Pola Penggunaan Remitansi oleh Rumah Tangga. View in document p.99
Tabel 7. Rumah Tangga yang Memiliki dan Tidak Memiliki
Tabel 7 Rumah Tangga yang Memiliki dan Tidak Memiliki . View in document p.103
Tabel . Luas Penyakapan oleh Rumah Tangga di Dusun
Tabel Luas Penyakapan oleh Rumah Tangga di Dusun . View in document p.104

Referensi

Memperbarui...