ABSTRAK
Rebo Nyunda merupakan salah satu dari serangkaian program harian yang ada di kota Bandung. Program ini diprakarsai oleh walikota Bandung, Ridwan Kamil, dengan tujuan agar kota Bandung yang berkembang menjadi kota metropolitan kelak tidak akan kehilangan identitas budaya aslinya, budaya Sunda. Tetapi tidak seluruh warga kota Bandung terutama kalangan menengah ke atas, tahu dan mengikuti Rebo Nyunda ini. Hal ini dikarenakan mereka tidak tahu tujuan dari diadakannya program ini, dan tidak tahu banyak mengenai budaya dan bahasa Sunda yang benar.
Maka dari itu, tujuan dari perancangan ini adalah untuk memberi tahu masyarakat khususnya remaja mengenai program Rebo Nyunda dan mengajarkan bahasa Sunda yang benar bagi mereka yang tidak tahu. Manfaat dari perancangan ini adalah agar para remaja tertarik untuk menggunakan bahasa Sunda yang benar dalam kehidupan sehari-hari dan turut menjaga budaya Sunda dengan berpartisipasi di program Rebo Nyunda.
Metode yang digunakan adalah dengan membuat gambar-gambar yang akan diunggah di media sosial oleh pemrakarsa dan mandatari kampanye Rebo Nyunda ini: Ridwan Kamil. Didukung dengan website, flyer sticker, dan publikasi melalui media website kaskus. Melalui perancangan kampanye Rebo Nyunda ini, diharapkan para remaja akan dapat tetap menghargai dan menjaga kebudayaan Sunda dan ikut berpartisipasi dalam program Rebo Nyunda.
iii
ABSTRAK
Rebo Nyunda is one of daily program series in Bandung. This programs is initiated by Bandung’s city major, Mr Ridwan Kamil, with the purpose of making Bandung become a metropolitan city that still upholds its cultural identity, Sundanese culture. Through this program, Bandung citizens are expected to speak Sundanese and wear Sundanese clothes like totopong or Sundanese headband every Wednesday. Yet, not all Bandung citizens particular in middle high class people know and participated in Rebo Nyunda. This happen because they are unaware of the purposed of this program and have little knowledge about the appropiate Sundanese culture and language.
Therefore, the purpose of this scheme is to tell Bandung citizens, in particular youth about Rebo Nyunda and became educate the appropiate Sundanese language. The benefits of this design are that the youth became interested to use appropiate Sundanese language in their daily lives and preserve Sundanese culture by participating in Rebo Nyunda.
The method is to create pictures to be uploaded in social media by the initiator and mandatory of this program, Mr Ridwan Kamil. Supported the social media are website, flyer sticker, and publication by kaskus. Through the design of this campaign, the youth are expected to appreciate and preserve Sundanese culture, and also participate in Rebo Nyunda.
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
ABSTRAK ... iii
PERNYATAAN ORISINALITAS KARYA DAN LAPORAN ... v
PERNYATAAN PUBLIKASI LAPORAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB 1 : PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Permasalahan dan Ruang Lingkup ... 2
1.3 Tujuan Perancangan ... 3
1.4 Sumber dan Teknik Pengumpulan Data ... 3
v
BAB II : LANDASAN TEORI ... 6
2.1 Pengertian Kampanye ... 6
2.1.1 Jenis-Jenis Kampanye ... 6
2.1.2 Elemen Penting Kampanye ... 8
2.1.3 Target Kampanye ... 9
2.1.4 Media Kampanye ... 9
2.2 Tentang Promosi Kampanye ... 10
2.3 Teknik Periklanan yang Digunakan ... 11
BAB III : DATA DAN ANALISIS MASALAH ... 13
3.1 Data dan Fakta ... 13
3.1.1 Mandatori: Pemerintahan Kotamadya Bandung ... 13
3.1.2 Tinjauan terhadap Proyek / Persoalan Sejenis ... 24
3.2 Analisis Terhadap Permasalahan Berdasarkan Data dan Fakta ... 25
BAB IV : PEMECAHAN MASALAH ... 31
4.1 Konsep Komunikasi ... 31
4.2 Konsep Kreatif ... 31
4.2.1 Warna ... 31
4.2.2 Tipografi ... 32
vi
4.2.4 Logo ... 34
4.2.5 Tagline ... 35
4.2.6 Fotografi ... 35
4.2.7 Verbal ... 35
4.3 Konsep Media ... 36
4.3.1 Media Primer ... 37
4.3.2 Media Sekunder ... 39
4.3.3 Budgeting ... 39
4.4 Hasil Karya ... 40
BAB V : PENUTUP ... 61
5.1 Simpulan ... 61
5.2 Saran ... 62
DAFTAR PUSTAKA ... 63
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Logo Kota Bandung ... 13
Gambar 3.2 Walk to School Week ... 24
Gambar 4.1 Color Chart Logo ... 32
Gambar 4.2 Logo Rebo Nyunda ... 35
Gambar 4.3 Timeline Kampanye ... 36
Gambar 4.4 Layout Kampanye ... 38
Gambar 4.5 Gambar Ngabasa ... 40
Gambar 4.6 Gambar Totopong ... 41
Gambar 4.7 Gambar Miluan ... 42
Gambar 4.8 Gambar Sampurasun ... 43
Gambar 4.9 Gambar Rampes ... 44
Gambar 4.10 Gambar Hatur Nuhun ... 45
Gambar 4.11 Gambar Sawangsulna ... 46
Gambar 4.12 Gambar Hampura ... 47
Gambar 4.13 Gambar Neda Hapunten ... 48
Gambar 4.14 Gambar Punten ... 49
Gambar 4.15 Gambar Sumuhun ... 50
Gambar 4.16 Flyer Sticker Sampurasun ... 51
viii
Gambar 4.18 Flyer Sticker Hatur Nuhun ... 52
Gambar 4.19 Flyer Sticker Sawangsulna ... 52
Gambar 4.20 Flyer Sticker Hampura ... 53
Gambar 4.21 Flyer Sticker Neda Hapunten ... 53
Gambar 4.22 Flyer Sticker Punten ... 54
Gambar 4.23 Flyer Sticker Sumuhun ... 54
Gambar 4.24 Page Home Website “Rebo Nyunda” ... 55
Gambar 4.25 Page Tata Cara Nyunda Website “Rebo Nyunda” ... 56
Gambar 4.26 Page Gambar Website “Rebo Nyunda” ... 56
Gambar 4.27 Page Komunitas Sunda Website “Rebo Nyunda” ... 57
Gambar 4.28 Promosi di bagian hot review Kaskus.com ... 57
Gambar 4.29 Promosi di homepage Kaskus.com ... 58
Gambar 4.30 Thread di website Kaskus.com ... 59
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Diagram tentang program yang diketahui responden ... 17 Tabel 3.2 Diagram tentang program yang dihafal responden ... 17 Tabel 3.3 Diagram tentang program yang responden paling tidak tertarik ... 18 Tabel 3.4 Diagram tentang program yang paling diketahui maksud dan tujuannya oleh responden ... 18 Tabel 3.5 Diagram tentang kepedulian responden untuk mengikuti jalannya program ini ... 19 Tabel 3.6 Diagram tentang pengetahuan mengenai program-program oleh responden ... 19 Tabel 3.7 Diagram tentang perlukan dibuat 1 istilah sebagai tema untuk keseluruhan program ini agar lebih mudah diingat ... 20 Tabel 3.8 Diagram tentang nama yang akan lebih menarik sebagai tema untuk keseluruhan program ini ... 20 Tabel 3.9 Diagram tentang memulai kebiaasan baru ... 21 Tabel 3.10 Diagram tentang ketertarikan responden untuk mengajak kenalan untuk mengikuti program yang sedang diikuti ... 21 Tabel 3.11 Diagram tentang promosi program yang lebih menarik perhatian
x
DAFTAR LAMPIRAN
Universitas Kristen Maranatha 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Budaya, menurut Luke Eric Lassiter dalam bukunya Invitation to Anthropology
adalah sebuah pengetahuan yang diketahui dan disepakati bersama oleh masyarakat,
yang kemudian dipelajari, dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi
sebuah kebiasaan (Lassiter, 2006: 45)
Saat ini, kota Bandung memiliki walikota baru yang bernama Ridwan Kamil.
Sebagai salah satu program untuk mewujudkan “Bandung Juara”, beliau
mensosialisasikan pada masyarakat tentang kebiasaan yang sebaiknya diikuti pada
setiap harinya.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut berbeda-beda tiap harinya, antara lain: “Senin Damri
gratis untuk pelajar”, “Selasa tanpa rokok”, “Rabu Nyunda”, “Kamis Inggris”, dan
“Jumat sepeda”.
Tujuan dari kebiasaan-kebiasaan baru tersebut adalah untuk mewujudkan Bandung
yang lebih baik. Dengan “Senin Damri gratis untuk pelajar”, diharapkan kemacetan
di kota Bandung berkurang, karena pelajar akan lebih memilih untuk naik
bis,daripada memakai kendaraan pribadi. Melalui “Selasa tanpa rokok”, diharapkan
Bandung kelak dapat menjadi kota yang terbebas dari asap rokok. Melalui “Rabu
nyunda”, Bandung tidak akan kehilangan identitas dan budaya aslinya. Melalui
“Kamis Inggris”, Bandung akan siap untuk bersaing di dunia internasional. Dan
melalui “Jumat sepeda”, diharapkan kemacetan di Bandung berkurang, sekaligus
membudayakan gaya hidup sehat.
Kebiasaan-kebiasaan ini, sudah didengungkan oleh Ridwan Kamil sendiri melalui
akun sosial twitter dan facebook miliknya. Gagasan beliau ini mendapat banyak
Universitas Kristen Maranatha 2 dan melakukan kebiasaan-kebiasaan baru ini. Hal ini dikarenakan, tidak seluruh
lapisan masyarakat mengetahui mengenai gagasan ini. Tujuan dan manfaat dari
program ini juga tidak diketahui oleh masyarakat, sehingga masyarakat cenderung
tidak tertarik dan malas untuk mengikuti jalannya program ini. Media visual yang
bertujuan untuk sosialisasi program ini juga belum dibuat atau diluncurkan ke
masyarakat. Berdasarkan masalah di atas, perlu dibuat suatu kampanye untuk
memperkenalkan program ini kepada masyarakat, sehingga tidak hanya mereka yang
mengikuti, tetapi setiap penduduk Bandung dapat mengetahui dan diharapkan
melakukan kebiasaan ini.
Langkah utama untuk memperkenalkan kebiasaan-kebiasaan ini ke masyarakat
adalah dengan membuat sebuah kampanye sosial untuk Rebo Nyunda agar tujuan
program ini lebih dikenal masyarakat. Hal ini dikarenakan ketidak tertarikan
masyarakat yang tinggi terhadap program ini. Kampanye sosial ini ditujukan kepada
masyarakat kalangan menengah ke atas, karena pada kalangan menengah ke atas,
penggunaan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari sudah jarang dan kalangan
menengah ke atas juga tidak begitu tertarik untuk mengikuti program-program ini.
Selain itu kalangan menengah ke atas dapat memberi pengaruh yang berarti kepada
kalangan masyarakat lainnya. Kampanye sosial untuk Rebo Nyunda ini dipilih
menjadi topik yang akan dibahas karena berkorelasi dan relevan dengan tema tugas
akhir pada semester ini, yaitu Seni dan Budaya Indonesia. Di samping itu, kampanye
sosial untuk Rebo Nyunda ini diharapkan agar masyarakat dapat lebih menghargai
dan memelihara budaya Sunda sehingga kota Bandung tidak akan kehilangan
identitas budaya aslinya.
1.2 Permasalahan dan Ruang Lingkup
Berdasarkan fenomena yang telah diperoleh, berikut identifikasi masalah yang
disimpulkan oleh penulis.
Universitas Kristen Maranatha 3 (2) Bagaimana membuat strategi kreatif kampanye yang tepat untuk mengajak
masyarakat mengikuti Rebo Nyunda?
1.3 Tujuan Perancangan
(1) Memperkenalkan budaya Sunda melalui memperkenalkan bahasa Sunda yang
baik dan benar kepada target utama kampanye yaitu penduduk usia 16-22 tahun
dan merupakan kelompok siswa SMA sampai mahasiswa yang mempunyai
potensi sebagai agen perubahan.
(2) Membuat sebuah kampanye yang menarik secara visual, sarat makna, dan efektif
kepada target kampanye, dan berdampak untuk masyarakat kota Bandung
lainnya.
1.4 Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
Berdasarkan informasi masalah dan jenis data yang dikumpulkan, dalam
perancangan karya desain ini dikategorikan dua kelompok data, yaitu sebagai
berikut:
(1) Dalam proses perancangan ini digunakan data primer berupa wawancara dan
kuesioner dari masyarakat sebagai responden untuk menentukan masalah dan
solusi kampanye sosial yang harus dibuat.
(2) Dalam proses perancangan ini digunakan data sekunder berupa buku-buku
mengenai teknik-teknik periklanan dan kampanye untuk pengerjaan media
visual agar menarik.
Teknik pengumpulan data dalam proses perancangan branding dan promosi program
Universitas Kristen Maranatha 4 (1) Observasi
Observasi adalah pengamatan atas fenomena yang terjadi di masyarakat,
misalnya “Rebo Nyunda” yang baru dilaksanakan oleh anak SD dan pegawai
negeri, tetapi belum oleh masyarakat lain.
Penulis juga melakukan observasi langsung di lapangan sekaligus sebagai partisipan
aktif, misalnya dengan memakai iket kepala Sunda di hari Rabu.
(2) Wawancara
Teknik wawancara dilakukan secara tidak terstruktur kepada staf pemkot
Bandung sebagai narasumber mengenai program harian kota Bandung.
(2) Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan untuk mendapatkan data secara akurat dari buku dan
sumber internet yang terpercaya.
(3) Kuesioner
Kuesioner ditujukan kepada responden berusia 16-22 tahun yang berdomisili di
Bandung untuk menentukan masalah, solusi, dan media visual kampanye yang
Universitas Kristen Maranatha 5 1.5 Skema Perancangan
Latar Belakang Masalah
1. Tidak seluruh masyarakat mengetahui program-program ini, hanya mereka yang mengikuti berita dan perkembangan program pemerintah Bandung saja yang mengetahuinya.
2. Tujuan dan manfaat dari program ini juga tidak diketahui oleh masyarakat, sehingga masyarakat cenderung tidak tertarik dan malas untuk mengikuti jalannya program ini.
3. Media visual yang bertujuan untuk sosialisasi program ini juga belum dibuat atau diluncurkan ke masyarakat.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana memperkenalkan budaya Sunda yang baik kepada masyarakat?
2. Bagaimana membuat strategi kreatif kampanye yang tepat untuk mengajak masyarakat
mengikuti Rebo Nyunda?
Konsep Komunikasi Konsep Media Konsep Visual
Tujuan Perancangan
1. Memperkenalkan budaya Sunda melalui bahasa Sunda yang baik dan benar kepada target utama kampanye yaitu penduduk usia 16-22 tahun dan merupakan kelompok siswa SMA sampai mahasiswa yang mempunyai potensi sebagai agen perubahan.
2. Membuat sebuah kampanye yang menarik secara visual, sarat makna, dan efektif kepada target kampanye, dan berdampak untuk masyarakat kota Bandung lainnya.budaya Indonesia dengan menggunakan media yang paling tepat sasaran.
Wawancara
Wawancara kepada staf
Universitas Kristen Maranatha 61
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Kampanye “Rebo Nyunda” ini ditujukan kepada semua orang yang tinggal dan
berada di kota Bandung, tidak hanya kepada mereka yang suku Sunda saja.
Sehingga kota Bandung juga dapat dikenal dengan identitas kebudayaan aslinya
yaitu budaya Sunda.
Dalam sebuah kebudayaan di masyarakat, ada 4 identitas etnik yang harus
dipertahankan untuk mempertahankan budaya tersebut, yaitu: bahasa, pakaian,
makanan, dan agama. Dalam kasus “Rebo Nyunda” ini, bahasa dan pakaian
merupakan pintu masuk yang tepat untuk mempertahankan kebudayaan Sunda
di lingkungan masyarakat kota Bandung yang semakin multi kultural. Maka
kampanye “Rebo Nyunda” ini, mengkomunikasikan dimulai dengan bagaimana
berbahasa Sunda yang benar dalam kehidupan sehari-hari, dan memperkenalkan
identitas pakaian Sunda yaitu totopong atau iket kepala Sunda.
Pembuatan kampanye sosial program harian kota Bandung, “Rebo Nyunda” ini
adalah pembuatan sebuah kampanye dengan budget yang murah, dimana media
sosial menjadi kekuatan utama untuk komunikasinya. Hal ini dikarenakan target audience yang dalam rentang usia 16 – 22 tahun sangat aktif dalam media sosial.
Diharapkan melalui kampanye Rebo Nyunda ini, masyarakat kota Bandung
dapat memandang budaya Sunda sebagai sebuah budaya yang luhur, sopan, dan
Universitas Kristen Maranatha 62
5.2 Saran
Perancangan ini akan dapat lebih menarik, bila dilengkapi dengan media audio
visual yang lebih seperti video. Penulis menyarankan agar dalam tugas akhir,
peserta tugas akhir diberi kesempatan untuk dapat lebih mengeksplor
media-media lainnya selain media-media cetak saja, seperti video dan web design, karena media-media seperti itu dapat mengkomunikasikan dengan efektif kepada
masyarakat luas dengan biaya yang lebih sedikit.
Saran dari penguji terhadap perancangan ini adalah agar gambar-gambar yang
ada di websie akan lebih baik bila dibuat dalam tiga bahasa juga, sehingga pembaca yang dari berbagai kalangan akan dapat mengerti. Selain itu, gestur
pada beberapa gambar juga akan lebih baik bila diperjelas dan tidak tertutup
Universitas Kristen Maranatha
63
DAFTAR PUSTAKA
Asumpta Maria, 2002. Dasar – Dasar Public Relations, Grasindo : Jakarta.
Bensley Robert J. & Brookins-Fisher Jodi, 2003. Metode Pendidikan Kesehatan Masyarakat, Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta
D’Zousa Alan, Shah Kruti, 2009. Advertising and Promotions, Tata McGraw-Hill: New Delhi
Ensiklopedia Encarta, 2004.
Herijulianti, Eliza, Drg. Tati Svasti Indriani & Drg. Sri Artini, M.Pd, 2001. Pendidikan Kesehatan Gigi, EGC :Jakarta
Iwan, Binarto 2010. Multimedia Digital – Dasar Teori dan Pengembangannya, Penerbit ANDI: Yogyakarta
Lassiter Luke Eric, 2006. Invitation to Anthropology, AltaMira Press: Lanham