BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Persiapan
Persiapan adalah faktor penenu keberhasilan mahasiswa dalam menguasai materi perkuliahan (Rapiyanta, 2015). Salah satu cara mempersiapkan materi perkuliahan adalah dengan belajar.
2.1.1 Defenisi Belajar
Belajar merupakan suatu aktivitas yang menimbulkan perubahan yang relatif permanen sebagai akibat dari upaya-upaya yang dilakukannya (Suparno, 2001). Sedangkan menurut Djamarah (2011) belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik.
2.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
2.1.2.1 Faktor Internal
Faktor yang berasal dari dalam diri mahasiswa meliputi dua aspek, yaitu: aspek fisiologis (yang bersifat jasmani) dan aspek psikologis (yang bersifat rohani).
a. Aspek fisiologis
Kondisi jasmani yang sehat dapat mempengaruhi semangat dan intensitas mahasiswa dalam belajar. Jika kesehatan seseorang terganggu, proses belajarnya pun akan terganggu, seseorang tersebut akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, lemah dan ada gangguan pada alat indera serta tubuhnya. Sehingga dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) dan materi yang dipelajari tidak dapat kuasai (Syah, 2015).
b. Aspek psikologis
Faktor-faktor psikologi memiliki peranan penting, dapat dilihat dari cara-cara berfungsinya pikiran mahasiswa dengan pemahaman bahan pelajaran, sehingga penguasaan terhadap bahan yang disajikan lebih mudah dan efektif (Sardiman, 2011). Faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran mahasiswa, yaitu:
1) Inteligensi
abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat. Intelegensi besar pengaruhnya tehadap kemajuan belajar. Dalam situasi yang sama, mahasiswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah. Walaupun begitu, mahasiswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi belum tentu berhasil dalam belajarnya, karena belajar merupakan suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya, sedangkan intelegensi adalah salah satu faktor di antara faktor yang lain (Syah, 2015).
2) Motivasi
3) Konsentrasi
Konsentrasi memusatkan perhatian pada situasi belajar. Unsur motivasi sangat membantu tumbuhnya proses pemusatan perhatian. Keterlibatan mental sangat diperlukan dalam konsentrasi, sehingga perhatian tidak sekedarnya. Didalam belajar, mungkin juga ada perhatian sekedarnya, tetapi tidak konsentrasi, maka materi yang masuk dalam pikiran mempunyai kecenderungan berkesan, tetapi samar-samar didalam kesadaran.
4) Bakat
Bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Jadi, bakat sangat mempengaruhi proses belajar. Jika bahan pelajaran sesuai dengan bakat siswa, maka hasil belajarnya akan lebih baik karena ia akan senang dan lebih giat dalam belajar (Sadirman, 2011).
5) Minat
2.1.2.2 Faktor eksternal
Faktor eksternal mahasiswa terdiri dari dua macam, yakni: faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.
a. Faktor lingkungan sosial
Lingkungan sosial sekolah yang mempengaruhi belajar mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi dosen dengan mahasiswa, relasi mahasiswa dengan mahasiswa, disiplin kuliah, pelajaran dan waktu kuliah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah. Selain ligkungan sosial sekolah, yang termasuk lingkungan sosial siswa adalah masyarakat dan tetangga juga teman-teman disekitar perkampungan mahasiswa tersebut. Masyarakat dilingkungan akan sangat mempengaruhi aktivitas belajar seseorang. Lingkungan sosial yang yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar adalah orang tua dan keluarga mahasiswa tersebut. Sifat-sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, dan demografi keluarga, semuanya dapat member dampak baik ataupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh mahasiswa (Syah, 2015).
b. Faktor lingkungan nonsosial
pilihan waktu yang cocok dengan kesiapsiagaan mahasiswa (Dunn et al, 1986 dalam Syah, 2015).
2.1.3 Aktivitas-aktivitas belajar
Belajar tidak berproses dalam kehampaan, tidak pernah terlihat seseorang belajar tanpa melibatkan aktivitas. Beberapa aktivitas belajar menurut Djamarah (2011) adalah sebagai berikut :
2.1.3.1Mendengarkan
Mendengarkan adalah salah satu aktivitas belajar. Ketika dosen menggunakan metode ceramah, maka setiap mahasiswa diharuskan mendengarkan apa yang disampaikan dosen. Aktivitas mendengar bukan satu-satunya aktivitas belajar, karena seseorag yang mengalami tuna rungu tidak menggunakan aktivitas mendengar, tetapi hanya melalui visual (penglihatan).
Aktivitas mendengarkan adalah aktivitas belajar yang diakui kebenarannya dalam pendidikan formal, persekolahan, ataupun non-formal. Apabila dalam pemerataan pendidikan, maka anak tuna rungu perlu diperhatikan secara intensif agar tidak ada lagi penyakit kebodohan.
2.1.3.2Memandang
adalah aktivitas memandang yang bertujuan sesuai dengan kebutuhan untuk mengadakan perubahan tingkah laku yang positif.
2.1.3.3Meraba, membau, dan mencicipi/mengecap
Aktivitas meraba, mambau, dan mengecap adalah indra manusia yang dapat dijadikan sebagai alat untuk kepentingan belajar dan dapat dikatakan belajar, apabila semua aktivitas itu didorong oleh kebutuhan motivasi untuk mencapai tujuan dengan menggunakan situasi tertentu untuk memperoleh perubahan tingkah laku.
2.1.3.4Menulis dan mencatat
Menulis atau mencatat merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari aktivitas belajar. Aktivitas mencatat yang bersifat menurut, menciplak atau mengcopy tidak dikatakan aktivitas belajar. Mencatat yang termasuk aktivitas belajar yaitu apabila dalam mencatat seseorang menyadari kebutuhan dan tujuannya.
Catatan sangat berguna untuk menampung sejumlah informasi yang tidak hanya bersifat fakta-fakta, melainkan juga terdiri atas materi hasil analisis dari bahan bacaan.
2.1.3.5Membaca
untuk membantu dalam memahami dan menguasai kompetensi mata kuliah (Fajar, 2011 dalam Fatimah & Andriyansyah, 2013).
2.1.3.6Membuat ringkasan dan menggaris bawahi
Seseorang akan terbantu dalam belajarnya karena menggunakan ringkasan-ringkasan materi yang telah dibuat. Ringkasan dapat membantu dalam hal mengingat atau mencari kembali materi dalam buku untuk masa-masa yang akan datang.
2.1.3.7Mengamati tabel, diagram dan bagan
Materi no-verbal berguna bagi seseorang dalam mempelajari materi yang relevan. Tabel, diagram dan bagan dihadirkan dibuku untuk memperjelas penjelasan yang diuraikan oleh penulis. Penjelasan yang dibuat tidak dapat memberikan gambaran yang baik bila tidak dibantu dengan menghadirkan tabel, diagram dan bagan, dan dapat menumbuhkan pengertian dalam waktu yang relative singkat.
2.1.3.8Menyusun paper atau kertas kerja
Untuk menguasai masalah digali dari sumber, salah stu sumbernya adalah buku. Carilah buku-buku yang berhubungan dengan masalah yang akan digarap. Sumber teoritis yang yang diambil dari buku tidak bisa diambil sembarangan, tetapi harus menurut aturan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
2.1.3.9Mengingat
Mengingat merupakan gejala psikologis. Ingatan adalah kemampuan jiwa untuk memasukkan, menyimpan, menimbulkan kembali hal-hal yang lampau kealam sadar. Perbuatan mengingat jelas terlihat ketika seseorang sedang menghafal bahan pelajaran, berupa dalil, kaidah, pengertian, rumus, dan sebagainya.
2.1.3.10 Berfikir
Berpikir termasuk aktivitas belajar. Berpikir memiliki taraf tertentu, mulai dari taraf berpikir yang rendah sampai taraf berpikir yang tinggi.
2.1.3.11 Latihan atau Praktek
Learning by doing adalah konsep belajar yang menghendaki adanya
penyatuan usaha mendapatkan kesan-kesan dengan cara berbuat. Belajar sambil berbuat dalam hal ini termasuk latihan. Latihan adalah cara yang baik untuk mengingat, aktivitas latihan dapat mendukung belajar yang optimal.
2.2 Penguasaan
ahli pendidikan penguasaan merupakan salah satu bentuk perubahan tingkah laku yang didapat dari hasil belajar.
Penguasaan dapat ditinjau dari hasil evaluasi. Evaluasi adalah kegiatan mencari informasi yang bermanfaat dalam menilai keberadaan suatu program, produksi, prosedur, serta alternaif strategi yang diajukan untuk mencapai tujuan yang telah diteentukan (Arikunto, 2004 dalam Sudaryono, 2012). Evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan seseorang dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program (Syah, 2015). Sedangkan menurut Tardif, et al (1989 dalam Syah, 2015) kata evaluasi adalah assessment, yang berarti proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seseorang sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
2.2.1 Ruang lingkup evaluasi
Ruang lingkup evaluasi dalam bidang pendidikan mencakup 3 komponen, yaitu :
2.2.1.1Evaluasi program pengajaran
Evaluasi program pengajaran adalah rangkaian yag dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program. Evaluasi program pengajaran akan mencakup tiga hal, yaitu evaluasi terhadap tujuan pengajaran, isi pengajaran, dan strategi pembelajaran.
2.2.1.2 Evaluasi proses pelaksanaan pengajaran
mahasiswa mengikuti proses pembelajaran, minat atau perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran, komunikasi dua arah selama proses pembelajaran berlangsung, memberikan motivasi terhadap siswa, dan memberi tugas-tugas kepada siswa untuk menerapkan teori-teori yang telah diperoleh.
2.1.2.3Evaluasi hasil belajar
Evaluasi hasil belajar mencakup tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan-tujuan khusus yang ingin dicapai dalam program pengajaran yang bersifat terbatas, dan tingkat pencapaian siswa terhadap tujuan-tujuan umum pembelajaran (Sudaryono, 2012).
Prinsip dasar yang harus diperhatikan dan dipatuhi dalam evaluasi hasil belajar adalah prinsip keseluruhan, yaitu prinsip evaluator melaksanakan evaluasi hasil belajar untuk mengevaluasi secara menyeluruh terhadap siswa atau mahasiswa, baik dari segi pemahaman terhadap materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan (aspek kognitif), dari segi penghayatan (aspek afektif), ataupun pengalaman (aspek psikomotor) (Sudaryono, 2012).
2.2.2 Tujuan Evaluasi Belajar
Berdasarkan Peraturan Rektor Universitas Sumatera Utara No: 701/UN5.1.R/SKSPB/2013 tujuan evaluasi belajar:
1. Untuk menghitung nilai matakuliah yang diambil dalam bentuk indeks prestasi.
2. Untuk menentukan beban studi yang dapat diambil mahasiswa pada semester berikutnya.
2.2.3 Sistem Penilaian
Universitas Sumatera Utara memakai sistem Penilaian Acuan Patokan (PAP). Sistem PAP merupakan metode yang digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan mahasiswa berdasarkan patokan yang telah ditetapkan, yaitu menentukan nilai batas lulus tiap-tiap matakuliah (Program Akademik Program Sarjana Universitas Sumatera Utara, 2013).
Bentuk formulasi penilaian PAP sebagai berikut :
Evaluasi prestasi keberhasilan ditentukan setiap akhir semester yang meliputi Indeks Prestasi Semester (IPS) dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). IPS dihitung berdasarkan jumlah beban kredit yang diambil dalam satu semester dikali bobot prestasi masing-masing matakuliah, dibagi jumlah beban kredit yang diambil.
��� =∑(�������)
∑���
Kis = Jumlah SKS tiap matakuliah pada semester tertentu.
Nis = Bobot prestasi setiap matakuliah pada semester tertentu.
A ≥ 80 75 ≤ B+ < 80 70 ≤ B < 75 65 ≤ C+ < 70 60 ≤ C < 65 50 ≤ D < 60
IPK dihitung berdasarkan jumlah keseluruhan beban kredit yang diambil mulai dari semester I (satu) sampai dengan perhitungan terakhir dikali bobot prestasi masing-masing matakuliah dibagi jumlah beban kredit yang sudah diambil.
���=∑(�������)
∑���
Kik = Jumlah SKS masing-masing matakuliah yang sudah dijalani
mulai dari semester I (satu) sampai dengan perhitungan
semester terakhir.
Nis = Bobot prestasi setiap matakuliah yang sudah dijalani mulai dari
semester I (satu) sampai dengan perhitungan semester terakhir.
Nilai prestasi, bobot prestasi, dan kualitas prestasi ditetapkan berdasarkan tabel berikut:
Tabel 2.2.1 Nilai prestasi, bobot prestasi, dan kualitas prestasi
NILAI