• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fluktuasi Bersarang Orang utan Sumatera (Pongo Abelii Lesson 1827) Di Areal Restorasi Dan Hutan Primer Sei Betung Taman Nasional Gunung Leuser

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Fluktuasi Bersarang Orang utan Sumatera (Pongo Abelii Lesson 1827) Di Areal Restorasi Dan Hutan Primer Sei Betung Taman Nasional Gunung Leuser"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

FLUKTUASI BERSARANG ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii

Lesson 1827

) DI AREAL RESTORASI DAN HUTAN PRIMER SEI

BETUNG TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER

JUHARDI SEMBIRING

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Fluktuasi Bersarang Orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson 1827) di Areal Restorasi dan Hutan Primer Sei Betung Taman Nasional Gunung Leuser adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Maret 2016

Juhardi Sembiring

(4)

RINGKASAN

JUHARDI SEMBIRING. Fluktuasi Bersarang Orangutan Sumatera (Pongo abelii

Lesson 1827) di Areal Restorasi Dan Hutan Primer Sei Betung Taman Nasional Gunung Leuser. Dibimbing oleh RR DYAH PERWITASARI dan SRI SUCI UTAMI ATMOKO.

Jumlah populasi orangutan saat ini semakin menurun akibat semakin berkurangnya habitat orangutan. Kelangsungan hidup orangutan sangat bergantung kepada habitatnya. Idealnya hutan sebagai habitat menyediakan vegetasi yang mampu menyediakan sumber pakan (buah) dan tempat membuat sarang bagi orangutan. Penurunan populasi disebabkan oleh berkurangnya areal hutan yang merupakan habitat alami bagi orangutan akibat penebangan dan konversi hutan menjadi lahan perkebunan. Salah satu upaya untuk memulihkan habitat orangutan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser resort Sei Betung yang hilang akibat konversi hutan menjadi lahan perkebunan adalah dengan program restorasi. Areal restorasi masih tergolong kategori hutan baru atau sekunder, namun orangutan sudah menempati kawasan tersebut untuk bersarang dan beraktivitas, hal ini terbukti ditemukan beberapa sarang orangutan di areal restorasi Beberapa sarang orangutan ditemukan di areal restorasi menjadi indikasi bahwa program tersebut mulai berhasil mengembalikan fungsi hutan sebagai habitat alami satwa liar khususnya orangutan. Data ilmiah lebih lanjut diperlukan untuk tetap menjaga kelestarian orangutan pada areal restorasi yang masih berbatasan langsung dengan hutan primer. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis kondisi habitat, kelimpahan tumbuhan berbuah, kepadatan sarang baru orangutan dan menganalisis hubungan fluktuasi kepadatan sarang baru dengan kelimpahan tumbuhan berbuah di areal restorasi dan hutan primer.

Penelitian ini dilakukan di hutan primer dan hutan restorasi resort Sei Betung Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Koleksi data dilakukan dengan metode line transect selama bulan September 2014 hingga Februari 2015. Sarang orangutan dan tumbuhan berbuah diamati di beberapa transek (enam transek di hutan primer dan lima transek di hutan restorasi. Data kondisi habitat dikumpulkan dengan metode rapid assessment. Kepadatan sarang dianalisis dengan menggunakan persamaan dasar dari van Schaik et al (1995). Data kondisi habitat disajikan secara kuantitatif dengan parameter kerapatan, frekuensi, dan dominansi dalam bentuk Nilai Penting Jenis (NPJ), Indeks Kesamaan Jenis

Sorensen (ISS), Indeks Kenakeragaman jenis (H’), dan indeks kenakeragaman komunitas (Var H’). Uji Mann-Whitney digunakan untuk membandingkan kelimpahan tumbuhan berbuah dan Uji Spearman digunakan untuk menganalisis hubungan kepadatan sarang orangutan dengan kelimpahan tumbuhan berbuah.

(5)

Beberapa sarang ditemukan di areal restorasi menjadi hal yang menarik mengingat struktur diameter pohon di areal restorasi belum cukup mendukung orangutan untuk membuat sarang. Orangutan diduga menggunakan areal restorasi sebagai tempat untuk mencari pakan alternatif. Dalam kurun waktu beberapa tahun mendatang diduga orangutan akan semakin banyak bersarang di areal restorasi karena keberadaan pohon pakan dan struktur pohon di areal restorasi akan semakin mendukung kenyamanan orangutan membuat sarang seperti pada areal hutan primer.

(6)

SUMMARY

JUHARDI SEMBIRING. Fluctuations of Nesting Sumatran Orangutans (Pongo abelii Lesson 1827) in Restored and Primary Forest of Sei Betung Gunung Leuser National Park.Supervised by RR DYAH PERWITASARI and SRI SUCI UTAMI ATMOKO.

Orangutan population is currently declining due to the reduction in orangutan habitat. The survival of orangutan is highly dependent on the habitat. Ideally, forests as the habitat provide vegetation which are capable of providing a food source (fruits) and a place to build nests for orangutans. The population decline was due to a reduction of forest area which is a natural habitat for orangutans from logging and conversion of forests into plantations. One of the efforts to restore the habitat for orangutans in the Gunung Leuser National Park Sei Betung resort whose loss has been due to a conversion of forests to plantations is the restoration program. Some orangutan nests found in the area of restoration could indicate that the program has started successfully in the form of forest restoration functions as a natural habitat for wildlife, especially orangutans. More scientific data is needed to keep the preservation of orangutans in the area of restoration that is directly adjacent to the primary forest. The aimed of this study was to analyze habitat conditions, abudances of fruiting trees, fresh-nest densities and to assess relationships between these abudance and fruit trees abundance in restored and primary forest.

This research was conducted in primary forest and restoration forest Sei Betung resort. The data were collected using line transect method during September 2014 to February 2015. Orangutan fresh-nests and fruiting trees are measured at several transect observations (six transects in primary forest and five transect in restoration forest). Habiat conditions data collected using rapid assessment method. Fresh-nest densities were analyzed using equation from van Schaik et al (1995). Habitat conditions were presented quantiatively by density, frequency, and dominance parameters from of Species Important Value (SIV),

Similarity Index (SI), Species Diversity Index (H’), and Community diversity Index (Var H’). Mann-Whitney test used to analyze abudances of fruiting plants and Spearman test used to anlyze relationship between orangutan fresh-nest densities with an abudance of fruiting plants.

The results of this study indicated that primary forest has an index of species diversity higher than the restoration forest. Primary forest area has bigger and

higher tree’s structure compared with restoration forest. The fresh-nests abundance in primary forest and restoration forest fluctuates every month. The fresh-nest densities positively correlated with fruiting-tree abundance in primary forest and negatively correlated in restored forest.

(7)

presence of food trees and the development of tree structure in the restoration area that can support orangutans to build nests like those in primary forest area.

(8)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2016

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(9)
(10)
(11)

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi Biosains Hewan

FLUKTUASI BERSARANG ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii

Lesson 1827

) DI AREAL RESTORASI DAN HUTAN PRIMER SEI

BETUNG TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2016

(12)
(13)
(14)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga tesis ini berhasil diselesaikan. Judul penelitian yang dilaksanakan sejak bulan September 2014 sampai Februari 2015 ini ialah Fluktuasi Bersarang Orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson 1827) di Areal Restorasi Dan Hutan Primer Sei Betung Taman Nasional Gunung Leuser.

Selama proses penulisan tesis ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dan arahan oleh berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis banyak mengucapkan terima kasih sedalam dalamnya kepada :

1. Ibu Dr. Rd. Roro Dyah Perwitasari M.Sc. dan Ibu Dr. Sri Suci Utami Atmoko selaku dosen pembimbing yang telah memberikan banyak bimbingan, arahan, saran, evaluasi, perhatian dan motivasi selama perkuliahan dan penelitian hingga penyusunan tesis.

2. Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI) Indonesia yang telah memberikan dana melalui beasiswa Pendidikan Pasca Sarjana Dalam Negeri (BPPDN) 2013. 3. Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) atas izin yang

diberikan untuk mengambil data di kawasan Taman Nasional.

4. Direktur Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) bapak Panut Hadisiswoyo M.Sc yang telah memberikan izin mengambil data di wilayah kerja restorasi OIC serta seluruh staf areal restorasi OIC (Rio Ardi S. Hut, Satria, Komar, Masrul, Bardok, Wagiman, dll.) atas bantuan selama pengambilan data di lokasi penelitian.

5. Orang tua dan keluarga tercinta atas do’a, motivasi dan kasih sayang yang diberikan hingga kini.

6. Rekan-rekan BSH angkatan 2013 atas kebersamaan, dukungan serta motivasi selama proses perkuliahan.

7. Segenap adik-adik Biologi USU (Inggin, Posma, Edward, Julpiter, Siti, Icha) yang turut membantu pengamatan di lokasi penelitian, serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, atas dukungan, kerja sama dan doa kepada penulis.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang Biosains Hewan. Terima kasih.

Bogor, Maret 2016

(15)

DAFTAR ISI

Kelimpahan Tumbuhan Berbuah (Fruit trails) 9

Kelimpahan Sarang (Nest count) 9

Analisis Data 10

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Kesamaan Jenis (ISS) dan Kenakeragaman Jenis (H’) pada areal hutan primer dan hutan restorasi

12 Nilai Penting Jenis (NPJ) pada areal hutan primer dan hutan restorasi 13

Struktur Vegetasi 13

Kelimpahan Tumbuhan Berbuah di Kedua Habitat 15

Preferensi Pohon Sarang 17

(16)

DAFTAR TABEL

1 Kesamaan jenis (ISS) , keanekaragaman jenis (H’) pada hutan primer dan areal restorasi

12 2 Sepuluh nilai penting jenis (NPJ) tertinggi pada hutan primer dan

areal restorasi

13 3 Sebaran diameter dan tinggi pohon di hutan primer dan areal

restorasi

14

DAFTAR GAMBAR

1 Peta jalur pengamatan sarang orangutan resort Sei Betung Taman Nasional Gunung Leuser

8

2 Kategori posisi sarang orangutan 10

3 Tegakan pohon tertinggi di kedua habitat 14

4 Fluktuasi kelimpahan tumbuhan berbuah 15

5 Hubungan kelimpahan tumbuhan berbuah dengan kepadatan sarang 17

6 Sebaran diameter dan tinggi pohon sarang 18

7 Sebaran posisi sarang 19

8 Pemilihan spesies pohon bersarang 20

DAFTAR LAMPIRAN

1 Ilustrasi tipe kelas sarang orangutan 30

2 Dokumentasi kelas sarang orangutan 31

3 Hasil pengujian statistik 32

4 Daftar pohon sarang orangutan di hutan primer 34 5 Daftar pohon sarang orangutan di areal restorasi 35

(17)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman jenis primata yang tinggi di dunia, salah satu diantaranya adalah orangutan. Di Indonesia terdapat dua spesies orangutan, yaitu orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang penyebarannya terbatas pada bagian utara pulau Sumatera dan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang tersebar di pulau Borneo. Orangutan merupakan salah satu primata Asia yang status keberadaannya terancam punah. Jumlah populasi orangutan saat ini semakin menurun akibat semakin berkurangnya habitat orangutan. Kelangsungan hidup orangutan sangat bergantung kepada habitatnya. Idealnya hutan sebagai habitat menyediakan vegetasi yang mampu menyediakan sumber pakan (buah) dan tempat membuat sarang untuk beristirahat bagi orangutan.

Sarang merupakan sesuatu yang sengaja dibangun untuk digunakan sebagai tempat berkembangbiak dan atau sebagai tempat istirahat atau tidur. Pada setiap sarang memiliki letak yang berbeda untuk setiap individu sesuai kebutuhan dan keadaan lingkungannya tempat bersarang. Pada orangutan, sarang merupakan salah satu bukti yang paling penting untuk melihat keberadaannya di suatu kawasan. Sarang orangutan lebih mudah ditemukan dan dapat terlihat dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga dapat dilakukan pengamatan dalam jangka waktu tertentu. Sarang bagi orangutan juga dapat berfungsi sebagai tempat bermain bagi orangutan muda, tempat berlindung, melahirkan, melakukan kopulasi, dan aktivitas makan.

Populasi orangutan saat ini diketahui mengalami penurunan. Penurunan populasi disebabkan oleh berkurangnya areal hutan yang merupakan habitat alami bagi orangutan akibat penebangan dan konversi hutan menjadi lahan perkebunan. Pohon merupakan salah satu komponen habitat terpenting bagi orangutan, sebagian aktivitas harian orangutan dihabiskan di pohon, baik itu dalam hal mencari makan maupun beristirahat. Kementerian Kehutanan (KEMENHUT) melaporkan kerusakan kawasan hutan telah menurunkan jumlah habitat orangutan sebesar 1-1,5% per tahunnya di Sumatera.

Salah satu habitat orangutan yang ada di Sumatera adalah kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Taman Nasional ini secara administrasi pemerintahan terletak di dua provinsi, yaitu provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. Resort Sei Betung merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang berada di Desa Halaban Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara. Resort Sei Betung terdiri dari dua kawasan yaitu hutan primer dan area restorasi. Hutan primer di resort sei betung merupakan hutan yang masih dan didominasi oleh tumbuhan dari famili

(18)

2

2007, dilanjutkan dengan penanaman bibit pada tahun 2008. Pohon-pohon yang tumbuh saat ini pada areal restorasi merupakan kombinasi pohon yang sengaja ditanam dengan pohon-pohon yang tumbuh alami yang bijinya terbawa oleh beberapa satwa liar seperti burung dan beberapa spesies mamalia.

Areal restorasi masih tergolong kategori hutan baru atau sekunder, namun orangutan sudah menempati kawasan tersebut untuk bersarang dan beraktivitas, hal ini terbukti ditemukan sarang orangutan dalam jumlah yang banyak disekitar areal restorasi. Individu orangutan jarang ditemukan secara langsung di areal restorasi. Areal restorasi berbatasan langsung dengan hutan primer sehingga sulit untuk menemukan individu orangutan yang selalu berpindah-pindah untuk mencari makan dan bersarang. Beberapa sarang orangutan ditemukan di areal restorasi menjadi indikasi bahwa program tersebut mulai berhasil mengembalikan fungsi hutan sebagai habitat alami satwa liar khususnya orangutan. Sejauh ini data mengenai kondisi habitat dan fluktuasi bersarang orangutan di areal restorasi masih sangat terbatas. Penelitian ini penting dilakukan karena areal restorasi berbatasan langsung dengan hutan primer. Di hutan primer diketahui juga diketahui masih terdapat populasi orangutan, sehingga penting dilakukan pendataan fluktuasi bersarang orangutan di areal restorasi dan hutan primer.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk; (1) menganalisis kondisi habitat di areal restorasi dan hutan primer, (2) menganalisis kelimpahan tumbuhan berbuah di kedua habitat, (3) menganalisis kepadatan sarang baru orangutan dan (4) menganalisis hubungan fluktuasi kepadatan sarang baru dengan kelimpahan tumbuhan berbuah.

Manfaat Penelitian

(19)

3

2

TINJAUAN PUSTAKA

Ekologi Orangutan

Orangutan merupakan salah satu jenis kera besar yang hanya hidup di Benua Asia, yaitu di Indonesia dan Malaysia (Wich et al. 2008). Secara morfologi, perilaku, sitogenetik, genetika molekuler, dan taksonomi orangutan dipisahkan menjadi dua spesies (Groves 2001). Populasi orangutan Sumatera diklasifikasikan dalam spesies Pongo abelii yang terdistribusi di Pulau Sumatera bagian utara (Aceh dan Sumatera Utara) dan populasi orangutan Borneo diklasifikasikan dalam spesies P. pygmaeus yang terdiri dari tiga sub spesies, yaitu P. pgymaeus pygmaeus, P. pgymaeus wurmbii, dan P. pgymaeus morio

tersebar di Pulau Kalimantan dan sebagian wilayah Malaysia (Sabah dan Sarawak)(Groves 2001).

Orangutan dikenal sebagai satwa penyebar biji di alam dan pemelihara hutan. Dalam kaitannya sebagai satwa penyebar biji (durian hutan, rambutan hutan, dan langsat), orangutan membuang biji-biji buah yang dimakan yang kemudian tumbuh menjadi tumbuhan baru (Rijksen 1978). Sebagai pemelihara hutan, orangutan dalam kaitan asosiasi dengan spesies lainnya menciptakan kestabilan ekosistem sehingga hutan tetap dapat memberikan manfaatnya sebagai sumber plasma nutfah bagi masyarakat sekitar (Rijksen 1978; Morrogh-Bernard et al. 2002). Keberadaan 1-10 orangutan di habitatnya pada tiap kilometer perseginya, dapat mendatangkan paling tidak 5 jenis burung rangkong, 50 jenis pohon buah-buahan, dan 15 jenis pohon lainnya (regenerasi tumbuhan hutan) (Husson et al. 2009; Roberge dan Angalstam 2004). Contoh adanya asosiasi antara keberadaan orangutan dengan spesies lainnya dalam suatu ekosistem menggambarkan keseimbangan hutan tropika basah yang masih asli. Kegiatan pembuatan sarang membantu pembukaan kanopi sehingga sinar matahari dapat masuk hingga lantai hutan. Regenerasi anakan pohon terutama jenis pohon-pohon intoleran yang telah ada sebelumnya pada ekosistem hutan pun dapat tumbuh baik dengan adanya kehadiran orangutan pada suatu habitat.

Hutan merupakan komponen terpenting bagi kehidupan satwa liar. Secara umum, untuk mendukung kehidupan satwa liar diperlukan satu kawasan yang dapat menjamin kehidupan dari satwa liar tersebut (Indrianto 2006). Kualitas dan kuantitas habitat dalam hal ini adalah struktur dan komposisi hutan, sangat menentukan prospek pemanfaatan dan kelestarian satwa liar termasuk orangutan (Alikodra 2010). Banyak kegagalan dalam upaya pelestarian orangutan, disebabkan karena kurang perhatian untuk memperbaiki keadaan habitat. Distribusi orangutan dipengaruhi oleh sebaran habitat yang memiliki ketersedian makanan yang tersedia sepanjang tahun dan apabila lokasi tersebut sudah tidak produktif lagi, maka orangutan akan terus berpindah ke daerah lain dimana habitat tersebut menyimpan ketersedian makanan yang lebih baik dari habitat sebelumnya (Buij et al. 2002; Singleton 2000; Susanto 2012).

(20)

4

dan kualitas hutan (Wich et al. 2011). Gangguan terhadap kawasan berhutan melalui konversi lahan yang diperuntukan bagi pengembangan tanaman budidaya menyebabkan hilangnya sebagian besar habitat bagi satwa ini. Penurunan kualitas habitat alami terutama ketersediaan pakan menimbulkan permasalahan bagi orangutan untuk hidup dan bertahan di habitat alaminya sehingga spesies ini kerap ditemukan di luar habitat alaminya sebagai contoh lahan perkebunan kelapa sawit (Santosa dan Gunawan 2010).

Seluruh studi tentang orangutan menunjukkan bahwa 60 persen dari makanan orangutan adalah buah-buahan (Sugardjito 2009). Orangutan sangat peka terhadap perubahan kondisi hutan tropik yang menjadi habitatnya. Populasi orangutan menggantungkan hidupnya pada komposisi pepohonan yang menyediakan makanan selama musim produktif secara terus-menerus sepanjang tahun dan dalam jarak penjelajahan yang masih bisa dijangkau. Habitat orangutan yang berkualitas baik dipenuhi pepohonan yang menyediakan buah-buahan sebagai sumber makanan (Supriatna dan Wahyono 2000). Dimana hutan tropik yang menjadi habitatnya harus menyediakan beragam tumbuhan buah yang menjadi sumber pakan utamanya sehingga primata ini dapat bertahan hidup. Selain buah orangutan juga memakan bagian lain dari tumbuhan seperti bunga, daun muda, kulit kayu, beberapa tumbuhan yang dihisap getahnya dan berbagai jenis serangga. Beberapa individu akan tetap tinggal di suatu daerah meskipun ketersediaan makanan rendah, sedangkan individu lainnya segera berpindah untuk mencari makanan di daerah lain. Dengan demikian pembukaan hutan tropik sangat berpengaruh terhadap perkembangan populasinya (Bismark 2005).

Beberapa metode inventarisasi telah diuji cobakan untuk mengetahui parameter demografi populasi orangutan liar, baik yang dilakukan secara langsung maupun beradasarkan sarang (van Schaik et al. 2005). Inventarisasi orangutan secara langsung merupakan pekerjaan yang sangat sulit (Mathewson et al. 2008). Hal ini berhubungan dengan kecepatan berpindah orangutan pada saat berada di pohon. Orangutan secara alami akan menghindari manusia yang mendekat. Gerakan orangutan akan sangat sulit untuk diamati oleh pengamat karena lebatnya tajuk pohon dan keterbatasan gerak pengamat pada kondisi lokasi tertentu (Rijksen 1978; van Schaik et al. 1995). Untuk mengatasi kesulitan tersebut, salah satu metode yang paling sering digunakan adalah metode penghitungan sarang orangutan. Sarang adalah bukti keberadaan orangutan yang paling mudah diamati (Meijaard et al. 2001). Metode line transectatau metode jalur hingga saat ini masih merupakan metode yang cukup akurat untuk menghitung kepadatan populasi orangutan melalui sensus sarang. Metode ini terus dikembangkan, hingga sekarang sangat memungkinkan untuk menghitung kepadatan populasi orangutan pada suatu area yang didasarkan atas perhitungan sarang (van Schaik et al. 1995).

(21)

5 memiliki perbedaan produktivitas pakan orangutan, artinya kepadatan orangutan berbeda disetiap tipe habitat.

Populasi orangutan Sumatera (Pongo abelii) diketahui tersisa sekitar 14.613 individu, 85 persen diantaranya berada di TNGL (Suaq Balimbing, Ketambe, Tangkahan, Bukit Lawang, Sampan Getek, Rawa Singkil, Agusan, Rawa Tripa, Ulu Masen, Cagar Alam Jantho, Marike, Sei Betung dsb), serta Batang Toru dan Pakpak Barat dan statusnya terancam punah (Wich et al. 2016). Jumlah tersebut diperkirakan akan terus menurun, sebab masih berlangsung perburuan dan tingginya jumlah alih fungsi ilegal lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit (Singleton et al. 2004; IUCN 2004; KEMENHUT 2007; Wich et al. 2008). Kerusakan kawasan hutan telah menurunkan jumlah habitat orangutan sekitar 2% per tahunnya di wilayah Sumatera. Kerusakan hutan berpengaruh besar terhadap ketersediaan habitat orangutan. Pengaruh terhadap ketersediaan pakan yang begitu besar akan berdampak kepada berubahnya pola pakan dan interaksi orangutan (Sugardjito 1983). Gangguan terhadap tumbuhan sumber pakan akan mengurangi kemampuan regenerasi alami tumbuhan. Pengaruh lain yang ditimbulkan yaitu fauna memiliki keterbatasan memilih sumber pakan. Tingkat ancaman yang tinggi terhadap habitat orangutan berdampak terhadap kemampuan bertahan hidup orangutan dalam jangka panjang (Singleton et al. 2004).

Karakteristik Sarang

Spesies primata Indonesia yang membangun sarang, baik untuk tidur di malam hari maupun untuk beristirahat di siang hari hanya orangutan. Komponen habitat terpenting bagi orangutan adalah pohon, sebab orangutan sebagai mamalia arboreal terbesar dengan berat betina mencapai 35 kg dan jantan 80 kg (Tobing 2008). Jumlah sarang yang ditemukan di suatu kawasan juga dapat dijadikan sebagai dasar dalam menduga ukuran populasi (Buij et al. 2003). Penelitian populasi orangutan dengan inventarisasi sarang, umur sarang berperan penting dalam menaksir populasi orangutan di suatu areal. Kelas sarang bergantung pada jenis pohon, temperatur dan kelembaban udara, dan komposisi sarang yang dibuat (van Schaik et al. 1995). Penelitian sebelumnya berkaitan dengan kelas sarang untuk membedakan ketahanan sarang menggunakan 5 kelas (ditambah kelas E), namun saat ini nilai ketahanan sarang yang digunakan peneliti untuk mengamati sarang orangutan menggunakan hanya sampai 4 kelas dikarenakan waktu peluruhan sarang orangutan pada bagian ranting akan memakan waktu sangat lama, sehingga menyulitkan pemantauannya (Wich dan Boyko 2011).

(22)

6

yang bahkan mampu untuk menahan seorang manusia dewasa dan sangat nyaman (Rijksen 1978). Posisi sarang terkategorisasi menjadi 5 posisi berdasarkan Prasetyo et al. (2009), yaitu: (Posisi 0, merupakan posisi sarang yang sejajar dengan tanah. Posisi sarang 0 pernah ditemukan di hutan Kalimantan dan sangat jarang ditemukan di Sumatera); (Posisi 1, sarang berada dipangkal cabang utama pohon); (Posisi 2, sarang terletak di bagian tengah cabang atau di ujung percabangan); (Posisi 3, sarang berada di pucuk pohon); (Posisi 4, sarang terletak diantara dua percabangan dari dua atau lebih individu pohon yang berbeda).

Aktifitas Bersarang Orangutan

Membuat sarang merupakan salah satu perilaku harian orangutan. Sarang yang dimaksud adalah tempat peristirahatan orangutan setelah melakukan aktifitas hariannya. Bersarang meliputi kegiatan pematahan, pelekukkan cabang-cabang tumbuhan untuk membuat sarang tidur, istirahat, dan sarang bermain, serta pembuatan struktur alas berbentuk seperti lingkaran atau mangkuk untuk tempat makan atau menopang tubuh dan bagian atas untuk melindungi kepala dari air hujan (Galdikas 1986). Orangutan terlebih dahulu akan memilih material sarang yang akan digunakan untuk membuat sarangnya, yaitu daun-daunan, cabang dan ranting-ranting kecil (Susanto 2012). Setiap harinya orangutan membuat sarang 1-2 sarang dengan daya jelajah setiap harinya lebih dari 10 ha (Van Schaik et al. 1995). Setiap individu orangutan yang berbeda umur dan sex umumnya membangun sarang dalam jumlah yang bervariasi setiap hari. Umumnya sarang yang dibangun oleh individu dewasa adalah 1-2 sarang dalam sehari. Perilaku bersarang orangutan bukanlah perilaku berdasarkan naluri tetapi lebih kepada perilaku yang muncul setelah dipelajari, bayi orangutan akan mengikuti dan berlatih cara membuat sarang kepada induknya (Prasetyo et al. 2009).

Ketika orangutan dewasa menemukan posisi yang sesuai untuk membangun sebuah sarang pada sebuah pohon, maka orangutan bergerak menuju batang-batang pohon kecil disekitarnya, lalu memegang dahan ke bawah dengan kaki. Kemudian ia memilin, melekukkan atau melipatnya ke bagian cabang yang lentur dengan tangannya. Tangan juga digunakannya untuk mendorong dahan-dahan tersebut ke bawah supaya rapat untuk membentuk suatu bidang datar. Pembuatan sebuah sarang biasanya membutuhkan waktu 2-3 menit, namun dapat dilanjutkan dengan perbaikan-perbaikan ringan (Mac Kinnon 1974). Orangutan umumnya akan membuat sarang pada percabangan pohon yang besar dan dalam aktifitas membuat sarangnya orangutan mempunyai teknik membangun sarangnya tersendiri (Prasetyo 2009).

(23)

7 Orangutan juga diketahui membuat sarang baru dilokasi yang berbeda atau dengan memperbaiki sebuah sarang lama. Sarang yang lama akan diperbaiki dengan menambah material sarang berupa ranting-ranting baru sebagai penyusun dasar sarang untuk ditempati kembali, namun orangutan lebih cenderung membuat sarang baru untuk tempat berlindung dan beristirahat yang disesuaikan dengan kondisi lingkungannya (Rijksen 1978; Prasetyo 2006). Apabila terdapat makanan yang cukup maka orangutan akan membuat sarang dilokasi tersebut. Sarang-sarang tersebut dapat digunakan selama dua malam atau lebih, sedangkan ketahanan sarang orangutan dapat bervariasi dari dua minggu sampai lebih dari satu tahun (Rijksen 1978; Matthewson et al. 2008).

(24)

8

3

METODE

Waktu dan Lokasi Peneltian

Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2014 hingga Februari 2015 di areal hutan restorasi dan hutan primer resort Sei Betung Taman Nasional Gunung Leuser. Wilayah kerja Resort Sei Betung yang disajikan dalam peta (Gambar 1) terletak di Kabupaten Langkat provinsi Sumatera Utara.

Metode Penelitian Kondisi Habitat

Pengamatan kondisi habitat dilakukan dengan pengkajian secara cepat (rapid assesment) melalui pengamatan secara langsung di lapangan. Data diambil dari pohon-pohon yang berdiameter lebih dari 10 cm sepanjang jalur transek dengan lebar 5 m kiri dan kanan sisi transek dengan jumlah transek masing-masing satu transek di areal restorasi dan hutan primer (Atmoko dan Rifqi 2012). Nama spesies, diameter pohon setinggi dada (dbh) dan tinggi pohon, merupakan beberapa parameter pohon yang dicatat. Data vegetasi pohon disajikan secara kuantitatif dengan parameter kerapatan, frekuensi, dan dominansi dalam bentuk

(25)

9 Nilai Penting Jenis (NPJ), Indeks Kesamaan Jenis (IS), dan Indeks

Keanekaragaman Jenis (H’).

Kelimpahan Tumbuhan Berbuah

Parameter ekologi lain untuk mengukur kualitas habitat orangutan yaitu dengan menghitung kelimpahan tumbuhan buah yang sedang berbuah per km sepanjang jalur transek (Fruit trail) (van Schaik et al. 1995; Buij et al. 2002). Seluruh spesies tumbuhan yang berbuah di sepanjang jalur transek setiap bulan dicatat, jumlah individu tumbuhan yang berbuah sepanjang jalur transek dihitung sebagai perkiraan ketersediaan buah (van Schaik et al. 1995). Tumbuhan berbuah yang ditemukan digolongkan tipe buahnya menjadi dua yaitu: (1) buah berdaging/berair dan (2) buah keras/berkayu.

Salah satu contoh dari masing-masing sumber buah yang tidak bisa langsung diidentifikasi di lokasi diambil daun atau contoh buahnya untuk diidentifikasi lebih lanjut di laboratorium taksonomi tumbuhan USU. Buah yang didapat di lapangan diberi label dengan nama lokal oleh asisten lapangan yang merupakan ahli botani OIC, diklasifikasikan masing-masing berdasarkan tipe buahnya (Djojosudharmo dan van Schaik 1992). Orangutan kebanyakan makan buah saat matang (Rijksen 1978). Oleh karena itu variasi dalam jumlah pohon berbuah yang matang per km diperkirakan mempengaruhi kepadatan orangutan di suatu areal dalam jangka waktu yang pendek.

Kepadatan Sarang Orangutan

Sarang merupakan bukti keberadaan orangutan yang paling mudah diamati (Meijard et al. 2001). Perhitungan kelimpahan sarang dilakukan secara sistematis mengikuti jalur transek (van Schaik et al. 1995). Pengamat berjalan mengikuti jalur transek dan mencatat semua sarang yang diamati setiap bulan. Jalur transek dibuat pada masing-masing lokasi, areal restorasi dan hutan primer. Di areal restorasi digunakan 5 jalur transek, sedangkan hutan primer 6 jalur transek. Panjang kumulatif jalur transek adalah 11 km: 5 km di areal restorasi; 6 km di hutan primer. Pengumpulan data nest counts dilakukan dengan mencatat sarang yang dijumpai sepanjang jalur transek. Hasil perhitungan disebut sebagai kepadatan sarang per km.

Untuk menghindari tumpang tindih dalam pengamatan sarang, pada masing-masing jalur transek dipasang tanda setiap 25 m menggunakan pita penanda. Pencarian sarang dilakukan dengan berjalan menelusuri jalur transek sambil mengamati sisi kanan dan kiri jalur transek. Pencarian sarang pada masing-masing jalur transekdilakukan satu kali dalam setiap bulan.

(26)

10

sarang, (4) spesies dari pohon sarang, (5) jarak posisi sarang dengan jalur transek, (6) posisi sarang (Gambar 2), (7) kelas sarang.

Posisi 1: di pangkal cabang utama.

Posisi 2: di bagian tengah atau ujung cabang. Posisi 3: di pucuk pohon.

Posisi 4: dibentuk dari cabang 2 pohon yang berbeda (banyaknya pohon bisa lebih dari 2 pohon yang berbeda)

Posisi 0: di tanah. (Prasetyo et al. 2009).

Spesies pohon sarang diidentifikasi langsung di lapangan dengan menggunakan acuan buku identifikasi Flora Malesiana (van Steenis 1972) serta panduan ahli botani dari Orangutan Information Centre (OIC) beberapa spesies pohon yang tidak dapat diidentifikasi langsung dilapangan diambil spesimen untuk dibawa ke laboratorium taksonomi tumbuhan Universitas Sumatera Utara (USU) untuk diidentifikasi . Pembagian nilai ketahanan sarang didasarkan atas kategorisasi yang digunakan oleh Wich dan Boyko (2011) (Lampiran 1) dengan membagi sarang berdasarkan 4 kelas, yaitu:

Kelas A: (baru) ditandai dengan daun-daun yang merupakan bahan penyusun sarang terlihat berwarna hijau.

Kelas B: (belum lama) semua dedauan kering dan sebagian daun masih berwarna hijau di bagian bawah namun berwarna cokelat di bagian permukaan. Kelas C: (lama) sebagian daun sudah hilang, yang lainnya masih melekat,

berwarna coklat pekat, berlubang, namun masih relatif kokoh dan utuh. Kelas D: (sangat lama) hampir semua daun sudah luruh, bangunan sarang

cenderung tinggal rangka/ ranting saja serta bentuk asli sarang sudah tidak terlihat jelas.

Analisis Data

1. Data Kondisi Habitat disajikan secara kuantitatif dengan parameter kerapatan, frekuensi, dan dominansi dalam bentuk Nilai Penting Jenis (NPJ), Indeks Kesamaan Jenis (IS), Indeks Keanekaragaman Jenis (H’), dan Indeks

Kenakeragaman komunitas (Var H’).

a. Nilai Penting Jenis (NPJ) dihitung dengan menjumlahkan Kerapatan relatif (Kr), Dominansi relatif (Dr) dan Frekuensi relatif (Fr). Hasil penghitungan

(27)

11 NPJ didapat perbandingan taxa (suku, marga dan jenis) dari setiap plot di kedua tipe habitat

NPJ= Kr + Dr + Fr

b. Indeks Kesamaan Jenis (Iss) dihitung dengan Indeks Kesamaan Sorensen (Mueller-Dombois 1974), dengan rumus:

IS= (2c/A+B) x 100%

Keterangan: c = Jumlah spesies yang sama dari dua lokasi A = Total jumlah jenis pada lokasi A

B = Total jumlah jenis pada lokasi B

c. Indeks Keanekaragaman Komunitas antar suatu lokasi dihitung dengan menggunakan rumus Shannon-Wiener (Brower dan Zar 1989), dengan rumus:

(H’)= -∑ pi ln pi

Kategori penilaian untuk keanekaragaman jenis adalah sebagai berikut:

H’≤ 1 (Keanekaragaman rendah), 1<H’<3 (Keanekaragaman sedang), H’≥ 3 (Keanekaragaman tinggi) (Odum 1993).

2. Analisis kelimpahan tumbuhan berbuah (fruit trail) di kedua tipe habitat (hutan primer dan hutan restorasi) dianalisis menggunakan program SPSS dengan pengujian nonparametrik Man Whitney.

3. Kepadatan sarang dianalisis menggunakan persamaan dasar untuk menghitung kepadatan sarang (van Schaik et al. 1995). Menggunakan rumus DN = N/(L x 2 w), dimana N yaitu jumlah sarang yang diamati, L panjang transek (km) dan w merupakan luas habitat yang disensus. Preferensi pohon sarang dianalisis dengan Ms. Excel dan disajikan secara deksriptif melalui frekuensi masing-masing karakter dalam bentuk column chart.

(28)

12

4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Habitat

1. Kesamaan jenis (ISS) dan keanekaragaman jenis (H’) pada hutan primer dan areal restorasi

Hasil kesamaan jenis (ISS) dan keanekaragaman jenis (H’) pada hutan

primer dan areal restorasi ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1 Perbandingan kesamaan jenis (ISS) dan keanekaragaman jenis pada hutan primer dan areal restorasi

No Keterangan Hutan Primer Hutan Restorasi

1 Luas areal penelitian 200 ha 44 ha

Hutan primer memiliki tingkat kerapatan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan areal restorasi (Tabel 1). Berdasarkan nilai indeks keanekaragaman di kedua tipe habitat menunjukkan areal hutan primer memiliki tingkat keanekaragaman yang lebih tinggi dari areal restorasi, dengan tingkat keanekaragaman dengan nilai 3,00 untuk areal hutan primer dan 2,35 untuk areal restorasi. Hasil indeks keanekaragaman di kedua tipe habitat tersebut tergolong sedang antara >1-3 (Barbour et al. 1987).

Hutan primer merupakan kawasan hutan dengan komunitas yang baik tanpa ada gangguan dari manusia sehingga satwa liar yang hidup didalamnya dapat hidup dan berkembangbiak dengan baik. Hutan restorasi merupakan hutan yang telah terindikasi alih fungsi lahan yang kemudian diupayakan kembali menjadi hutan dengan bantuan manusia. Beberapa famili tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional Gunung Leuser berperan penting sebagai penyusun habitat orangutan. Orangutan sebagai satwa arboreal dan pemakan buah (frugivor) sangat bergantung pada keberadaan jenis pohon yang menyusun habitatnya (Nayasilana 2012). Keanekaragaman jenis pohon disuatu areal yang tinggi akan mendukung terciptanya habitat yang baik bagi orangutan.

(29)

13 2. Nilai Penting Jenis (NPJ) tertinggi pada hutan primer dan areal restorasi

Perhitungan Nilai Penting Jenis (NPJ) pohon diambil dari 10 nilai tertinggi dari analisis vegetasi dari hutan primer dan areal restorasi, dengan hasil analisis pada Tabel 2 berikut:

Tabel 2 Sepuluh Nilai Penting Jenis (NPJ) tertinggi pada hutan primer dan areal restorasi

Hutan Primer Hutan Restorasi

Nama Lokal Spesies NPJ Nama Lokal Spesies NPJ

Meranti batu Shorea mucronata 31, 57 Medang* Litsea sp. 21,29

Tempehes* Dipterocarpus tempehes 26,96 Tapak Gajah* Endospermum diadenum 19,69

Medang* Litsea sp. 16,30 Sempuyung Hibiscus macrophyllus 17,08

Tapak Gajah* Endospermum diadenum 16,16 Mrk tiga jari* Macaranga hypoleuca 12,83

Meranti buaya Shorea ovalis 15,21 Matau* Callerya artopurpurea 12,26

Banitan* Polyalthia sp. 14,02 Rambutan Nephelium lappaceum 9,01

Kruing* D. humeratus 13, 73 Kompas Kompasia malacensis 7,72

Kompas Kompasia malacensis 13,64 Nangka air* Artocarpus dadah 5,31

Mentaling Eleocarpus sp. 13,10 Halaban Vitex pubescens 4,47

Gesing Lithocarpus gracilis 12,06 Marak biasa* Macaranga indica 3,65

Keterangan: *) Pohon Sarang

Vegetasi di hutan primer didominasi oleh jenis vegetasi alami, berbeda dengan areal hutan restorasi yang didominasi oleh spesies perintis (pioner), seperti

Endospermum diadenum dan beberapa spesies macaranga dari Famili

Euphorbiaceae. Spesies Endospermum diadenum dan beberapa spesies

Macaranga merupakan spesies-spesies yang ditanam pada awal program restorasi (Tabel 2). Spesies tersebut merupakan tumbuhan yang termasuk ke dalam kelompok fast growing dengan kanopi cukup lebar yang mampu menghambat pertumbuhan lalang dan nantinya berfungsi sebagai naungan sementara bagi bibit pohon yang akan ditanam. Spesies tumbuhan pioner tidak akan lama bertahan hidup dan akan segera digantikan oleh spesies yang lebih toleran terhadap naungan, seperti pohon-pohon dari famili Dipterocarpaceae.

3. Struktur vegetasi pohon

(30)

14

Tabel 3 Sebaran diameter dan tinggi pohon di hutan primer dan areal restorasi Sebaran diameter Primer Restorasi Sebaran tinggi Primer Restorasi

10-20 cm 12% 68% <5 m 0% 3%

20,5-30 cm 21% 26% 5-10 m 21% 27%

30,5-40 cm 42% 6% 10-15 m 35% 50%

>40 cm 25% 1% >15 m 44% 20%

Struktur tegakan pohon dikelompokkan atas 10 jenis struktur pohon tertinggi pada areal hutan primer dan areal hutan restorasi, hasil pengelompokan dapat dilihat pada Gambar 3:

Hasil pengelompokan secara keseluruhan menunjukkan bahwa struktur tegakan pada areal hutan primer lebih tinggi dibandingkan dengan areal hutan restorasi. Salah satu penyebab berbedanya struktur tinggi pohon di kedua habitat tersebut adalah usia pohon. Pohon pada areal restorasi rata-rata didominasi oleh pohon muda walaupun ada beberapa pohon asli yang sudah tumbuh sebelum penanaman. Tegakan pohon tertinggi di areal hutan primer di dominasi spesies pohon dari famili Dipterocarpaceae terdiri dari spesies pohon Shorea ovalis, Shorea leprosula, Shorea sp, Shorea mucronata, Dipterocarpus humeratus. Tegakan pohon tertinggi areal hutan restorasi di dominasi spesies pohon dari famili Euphorbiaceae yaitu spesies pohon Endospermum diadenum dan

Macaranga sp yang pada dasarnya pohon spesies tersebut merupakan pohon yang masuk dalam kategori fast growing sehingga membuat struktur tegakannya lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa spesies pohon lain walaupun terdapat beberapa jenis pohon yang sudah lebih awal tumbuh liar yang juga memiliki struktur tegakan pohon yang tinggi.

Hutan primer memiliki pohon-pohon yang berdiameter lebih besar dibandingkan di hutan restorasi. Komposisi hutan primer yang didominasi usia pohon yang lebih tua menyebabkan struktur diameter pohonnya lebih besar dibandingkan yang ada di hutan restorasi. Hutan restorasi masih tergolong hutan muda dihitung sejak masa penanaman bibit pada tahun 2008. Hutan restorasi memiliki potensi tumbuh diameter pohon yang lebih besar seperti pohon-pohon yang ada di hutan primer yang berumur puluhan tahun lebih tua. Pohon-pohon

areal restorasi areal primer

(31)

15 berkayu membutuhkan waktu tumbuh sekitar 10-30 tahun untuk mencapai diameter maksimal (Indriyanto 2009). Pertumbuhan diameter pohon-pohon berkayu berbanding lurus dengan pertambahan tinggi.

Kelimpahan Tumbuhan Berbuah di Kedua Habitat

Data kelimpahan tumbuhan berbuah (fruit trails) di hutan primer sedikit berbeda dengan kelimpahan tumbuhan berbuah di hutan restorasi (Gambar 1). Selama enam bulan pengamatan di hutan primer dan hutan restorasi resort Sei Betung dapat diketahui rata-rata jumlah tumbuhan berbuah per km di kedua areal mengalami penurunan yang sangat signifikan dari bulan September dan cenderung berfluktuasi pada bulan-bulan selanjutnya. Tingginya jumlah tumbuhan berbuah pada bulan September mengindikasikan bahwa puncak tumbuhan berbuah di areal hutan primer dan restorasi berlangsung antara bulan Juli-September. Hal ini sesuai dengan data fenologi yang dihimpun tim restorasi Orangutan Information Centre (OIC) pada tahun 2013, yang melaporkan bahwa musim buah di kedua areal tersebut berlangsung pada bulan Agustus-September.

Fluktuasi kelimpahan tumbuhan berbuah pada Gambar 4 memiliki pola grafik yang hampir sama pada areal hutan primer dan areal restorasi. Rata-rata jumlah tumbuhan berbuah per km di areal hutan primer 1,7-5,7 sedangkan pada areal restorasi 0,8-7,4. Kelimpahan tumbuhan berbuah di kedua areal pengamatan setelah dilakukan uji statistik non parametric Mann Whitney menunjukkan nilai tidak berbeda nyata (Asymp. Sig 0,873) antara areal hutan primer dengan areal restorasi. Hasil ini berbanding terbalik dengan yang pernah dilaporkan Nayasilana (2012) pada areal ketambe yang juga masih termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, bahwa terdapat perbedaan yang nyata kelimpahan tumbuhan berbuah antara hutan primer dengan hutan bekas tebangan.

Data bulan Desember, Januari, dan Pebruari menunjukkan terdapat perbedaan kelimpahan tumbuhan berbuah di areal hutan primer dan hutan restorasi. Bulan Desember, Januari, dan Pebruari areal hutan primer cenderung

(32)

16

mengalami penurunan bila dibandingkan dengan areal restorasi yang mengalami peningkatan jumlah tumbuhan berbuah pada tiga bulan terakhir. Hasil ini ternyata mempengaruhi kepadatan sarang baru pada kedua areal tersebut.

Fluktuasi Kepadatan Sarang Baru Orangutan dan Preferensi Pohon Sarang

1. Fluktuasi kepadatan sarang baru orangutan

Hutan primer memiliki kepadatan sarang yang lebih tinggi dibandingkan dengan hutan rsetorasi (Gambar 5). Rata-rata kepadatan sarang baru di areal hutan primer pada periode pengamatan September-Pebruari berkisar antara 1-5 sarang per km. Sementara di hutan restorasi berkisar antar 0-1 sarang per km. Dari 6 bulan pengamatan dapat diketahui kepadatan sarang per km di areal hutan primer dan areal hutan restorasi berfluktuasi, artinya terdapat perubahan jumlah kepadatan sarang per km pada setiap bulannya. Fluktuasi jumlah sarang dapat dilihat jelas pada tiga bulan pertama (September, Oktober, dan Nopember). Data jumlah sarang per km dari bulan September ke Oktober mengalami penurunan jumlah sebanyak 3 sarang, kemudian meningkat sebanyak 2 sarang pada bulan Nopember. Jumlah sarang dari bulan Nopember terus mengalami penurunan setiap bulannya hingga bulan terakhir pengamatan yaitu pada bulan Februari.

Berbanding terbalik dengan data kepadatan sarang pada areal hutan primer yang berfluktuasi pada tiga bulan pertama pengamatan dan menurun pada tiga bulan berikutnya, areal hutan restorasi justru mengalami penurunan jumlah sarang dari bulan pertama hingga bulan ketiga dan berfluktuasi pada tiga bulan berikutnya. Bulan September hingga bulan Nopember jumlah sarang terus mengalami penurunan, sedangkan bulan Nopember-Desember mengalami peningkatan 0,8 sarang per km, bulan Desember-Januari kembali mengalami penurunan 0,2 sarang per km dan jumlah sarang meningkat kembali pada bulan Januari-Februari dengan jumlah 1,2 sarang per km.

(33)

17

2. Preferensi Pohon Sarang 2.1 Diameter Sarang

Sebaran diameter mencerminkan keadaan lingkungan dan kondisi hutan, sedangkan sebaran tinggi menggambarkan stratifikasi hutan (Indriyanto 2007; Ong 1977). Diameter dan tinggi pohon juga dapat digunakan untuk melihat tingkat suksesi hutan. Pohon-pohon di hutan primer memiliki diameter batang lebih besar dan puncak pohon yang tinggi lebih banyak dibandingkan areal hutan restorasi memberi orangutan peluang tetap bertahan dan membangun sarang di areal hutan primer (Gambar 6).

Sebaran diameter pohon sarang pada areal hutan restorasi yang mendominasi adalah dengan diameter batang 5-10 cm. Hasil tersebut sangat menarik mengingat diameter batang tersebut tergolong cukup kecil untuk dijadikan sebagai pohon bersarang. Dalam penelitian ini 58 % sarang orangutan ditemukan pada kisaran diameter 5-10 cm. Hasil ini berbanding terbalik dengan laporan penelitian Nayasilana (2012) pada areal bekas tebangan di daerah Ketambe Taman Nasional Gunung Leuser yang menyatakan bahwa kisaran diameter 5-10 cm merupakan diameter yang dihindari orangutan liar untuk membuat sarang. Orangutan yang menjelajah di areal hutan restorasi diduga merupakan orangutan translokasi, korban konflik di lahan sawit.

Orangutan akan membangun sarang pada posisi yang sesuai pada suatu pohon terkait dengan berat orangutan dewasa mencapai 30-70 kg. Posisi sarang orangutan di tegakan pohon dipengaruhi oleh besar diameter pohon. Apabila diameter pohon kecil maka orangutan akan memilih membangun sarang dekat dengan batang utama. Konstruksi sarang yang kuat mempengaruhi keamanan orangutan selama berada di sarang (Prasetyo 2012). Membangun sarang pada percabangan pohon yang berdiameter kecil akan membahayakan posisi orangutan pada tegakan dikarenakan konstruksi percabangan yang tidak kuat menahan tubuh orangutan.

(34)

18

Jumlah pohon yang melimpah serta struktur pohon yang tinggi dan besar menyediakan keragaman pilihan bagi orangutan untuk bersarang pada hutan primer, hal ini terlihat dari kepadatan sarang yang lebih tinggi di areal primer dibandingkan areal restorasi. Areal primer menyediakan struktur pohon yang besar serta tegakan pohon yang tinggi membuat orangutan lebih nyaman dengan habitat dengan kategori tersebut. Ketinggian posisi sarang yang mendominasi pada areal primer adalah dengan kisaran tinggi >15 m, sedangkan untuk areal restorasi pada kisaran tinggi 5-10 m. Hasil ini sedikit memberi gambaran kondisi stuktur hutan di masing-masing areal. Orangutan biasanya membangun sarang di kanopi pohon, dan tingginya bergantung dari struktur kanopi hutan (Casteren et al. 2012).

Menurut Rijksen (1978), tinggi sarang tergantung pada struktur hutan tempat orangutan tersebut berada. Ketinggian 10 sampai kurang dari 25 meter dari permukaan tanah, sangat ideal bagi orangutan dalam menghadapi kemungkinan buruk. Posisi ini lebih disukai letaknya dan sering berada di dalam rimbunan daun pohon tempat orangutan bersarang, sehingga dapat melindungi orangutan dari predator dan cuaca buruk. Posisi sarang yang berada pada kanopi yang lebih tinggi dapat mengurangi resiko orangutan terserang gangguan hewan parasit seperti nyamuk (Stewart 2011).

2.2 Posisi Sarang

Posisi sarang dibuat agar memungkinkan orangutan mendapatkan arah pandang yang baik dan dan jelas disekitar hutan. Penempatan posisi sarang yang dominan di lokasi penelitian adalah pada posisi 3 (posisi sarang berada pada puncak pohon) untuk areal hutan primer dan posisi 2 (berada di pertengahan atau di pinggir percabangan tanpa menggunakan pohon atau percabangan dari pohon lainnya) merupakan posisi sarang yang dominan ditemukan di areal hutan restorasi. Orangutan cenderung menempatkan sarang di batang yang kuat ataupun cabang utama yang memiliki percabangan yang stabil dan kuat (Casteren et al.

2013; Prasetyo 2006).

a) b)

Gambar 6 (a) sebaran diameter dan (b) tinggi pohon bersarang orangutan di areal hutan primer dan restorasi.

(35)

19

Prasetyo et al. (2009) menjelaskan bahwa sarang orangutan dapat dibuat pada posisi yang berbeda di pohon. Empat posisi yang umum digunakan oleh orangutan yaitu posisi 1, 2, 3, dan 4 serta posisi yang tidak lazim yaitu posisi 0. Kemudian Sugardjito (1983) menambahkan bahwa posisi sarang di atas puncak pohon (posisi 3) dan dahan pohon (posisi 1 dan 2), baik pada satu batang maupun pada dua batang mempunyai keuntungan bagi orangutan yaitu tidak terhalangnya pandangan dan jangkauan yang dapat mencakup sebagian besar dari penjuru hutan. Selain itu, posisi ini juga memudahkan orangutan dalam melakukan pergerakan sewaktu keluar dari sarang, dari segi keamanan, posisi ini menghindarkan orangutan dari ancaman predator (Casteren et al. 2013; Stewart 2007).

Umumnya posisi sarang orangutan di tegakan pohon dipengaruhi oleh besar diameter pohon. Apabila diameter pohon kecil maka orangutan akan memilih membangun sarang pada posisi 1 dan 3 (dekat dengan batang utama), berhubungan dengan konsrtuksi pohon arang yang kuat (Prasetyo 2012). Membangun sarang pada posisi 2 dan 4 (percabangan pohon yang berdiameter kecil) akan membahayakan posisi orangutan pada tegakan pohon. Pohon yang berdiameter kecil pada umumnya memiiki struktur percabangan yang tidak cukup kuat untuk menahan bobot orangutan sehingga membahayakan orangutan. Hasil ini berhubungan dengan posisi sarang yang ditemukan (Gambar 7), dimana posisi 4 (sarang dibangun menggunakan percabangan dua pohon) sangat sedikit ditemukan, bahkan tidak ditemukan di hutan restorasi. Struktur percabangan yang masih muda juga menimbulkan jarak percabangan antar satu pohon dengan pohon yang lainnya sehingga kurang memungkinkan bagi orangutan untuk membuat sarang menggunakan percabangan dua pohon. Pohon-pohon pada hutan restorasi yang berumur rata-rata 8-9 tahun memiliki struktur percabangan pohon tergolong masih muda dan diduga belum cukup kuat menopang tubuh orangutan dewasa yang mencapai 70 kg.

Orangutan pada areal ini juga tidak ditemukan membuat sarang pada posisi 0 hal ini karena masih tersedianya banyak pohon menyediakan pilihan bagi orangutan untuk membuat sarang mengingat orangutan merupakan hewan

(36)

20

arboreal yang sepanjang hari beraktifitas di atas pohon. Ancaman dari predator (harimau sumatera dan macan dahan) diasumsikan juga menjadi alasan mengapa tidak ditemukannya orangutan membuat sarang di permukaan tanah. Semakin tinggi sarang yang dibuat orangutan dari permukaan tanah, semakin sulit bagi predator untuk menjangkaunya (Mackinnon 1974).

2.3 Pemilihan Spesies Pohon Bersarang

Orangutan diketahui akan membangun sarang pada pohon-pohon yang cukup kuat dan dianggap nyaman, selain itu orangutan juga akan memilih areal atau pohon yang tersedia cukup pakan (Wich dan Boyko 2011; Smith et al. 2011).

Polyalthia sp. dari famili Annonaceae merupakan jenis pohon sarang yang paling banyak digunakan orangutan pada hutan primer dalam penelitian ini dengan persentase mencapai 14 %. Endospermum diadenum (Euphorbiaceae) memiliki persentase pilihan tertinggi orangutan pada areal hutan restorasi dalam membuat pohon sarang dengan persentase mencapai 21 %.

Penelitian ini menunjukkan sebanyak 13 famili pohon bersarang orangutan ditemukan pada areal hutan primer yang terdiri dari 29 spesies pohon (Lampiran 4), sedangkan pada areal restorasi ditemukan sebanyak 10 Famili pohon dan terdiri dari 13 spesies pohon (Lampiran 5). Famili Annonaceae merupakan famili yang paling banyak dipilih orangutan untuk bersarang dengan persentase mencapai 15,60 % pada areal hutan primer, sedangkan pada areal retorasi yang mendominasi adalah famili Euphorbiaceae dengan persentase 33,33 % (Gambar 8). Berdasarkan pengamatan di hutan primer dan hutan restorasi, pemilihan pohon sarang orangutan juga dipengaruhi oleh ketersediaan spesies pohon di kawasan penelitian meskipun pada akhirnya diketahui bahwa pemilihan tersebut cenderung tidak berkaitan dengan genus pohon yang paling dominan pada satu kawasan. Sebagai contoh pada areal restorasi yang didominasi oleh Gambar 8 Pemilihan spesies pohon bersarang orangutan (a) di areal hutan

primer dan (b) hutan restorasi.

a) b)

(37)

21 spesies-spesies dari famili Euphorbiaceae membuat orangutan lebih banyak ditemukan membuat sarang pada spesies pohon yang lebih banyak tersedia pada areal tersebut. Berbeda dengan areal hutan primer yang vegetasi didominasi oleh spesies-spesies dari genus Dipterocarpaceae namun genus pohon sarang paling banyak ditemukan di daerah tersebut adalah Polyalthia. Prasetyo (2006) menjelaskan bahwa terdapat indikasi pemilihan jenis pohon sarang tertentu yang dilakukan oleh orangutan, pemilihan jenis pohon sarang bertujuan untuk mendapatkan kenyamanan di saat tidur dan penghematan energi pada saat proses membuat sarang.

Polyalthia sp. merupakan salah satu jenis pohon pakan yang ditemukan di areal hutan primer, jenis pohon ini tergolong salah satu jenis pohon yang disukai orangutan dalam membuat sarang. Polyalthia sp. merupakan pohon yang berkayu kuat dengan memiliki banyak cabang, tipe pohon tersebut merupakan tipe pohon yang sangat lebih dipilih orangutan dalam membut sarang. Orangutan lebih mengutamakan dan mempertimbangkan serta memilih kriteria-kriteria pohon itu sendiri, seperti percabangan dan dedaunan yang cukup kuat serta bagus demi keamanan dan kenyamanan saat tidur pada malam harinya. Orangutan di areal hutan restorasi lebih banyak memanfaatkan pohon dari famili Euphorbiaceae

(terutama pada jenis Endospermum diadenum dan Macaranga hypoleuca) untuk membuat sarang disebabkan pohon dari famili ini umumnya memiliki banyak cabang, ranting mudah dipatahkan dan dibengkokan, serta memiliki daun yang lebar dan rimbun dan dapat dimanfaatkan orangutan untuk berlindung.

Data pemilihan spesies pohon bersarang orangutan dalam penelitian ini mengindikasikan hasil yang sama dengan penelitian sebelumnya yang melaporkan bahwa terdapat beberapa kriteria orangutan dalam menentukan pohon untuk bersarang. Pertama, orangutan akan memilih pohon-pohon dengan struktur diameter lebih besar dan lebih kuat sesuai dengan berat orangutan dewasa yang mencapai 40-70 kg (Prasetyo 2006; Rijksen 1978). Kedua, orangutan memilih pohon-pohon yang memiliki percabangan dan kanopi yang lebat, sebagian percabangan pohon tersebut akan dimanfaatkan orangutan sebagai bahan membuat sarang (Prasetyo et al. 2009), percabangan yang lebat akan melindungi orangutan dari cuaca buruk saat berada di sarang (Sugardjito 1986). Ketiga, orangutan akan membangun sarang di pohon yang tersedia cukup makanan baik di pohon bersarang maupun sekitar pohon bersarang (Prasetyo et al. 2012; Smith et al. 2011) dan Keempat, orangutan akan memilih membuat sarang pada pohon-pohon dengan ketinggian yang aman dari predator orangutan (harimau dan macan dahan) (Rijksen 1978), dan gangguan hewan parasit seperti nyamuk (Stewart 2011).

Hubungan Kelimpahan Tumbuhan Berbuah dengan Kepadatan Sarang Baru Orangutan di Kedua Habitat

(38)

22

orangutan di areal hutan primer. Dalam hal ini keberadaan orangutan dilihat melalui parameter sarang baru.

Ketersediaan tumbuhan buah di hutan dapat menjamin orangutan dapat bertahan dan menetap lama di areal hutan primer. Orangutan memiliki dua strategi dalam bertahan hidup, pertama orangutan membatasi pengeluaran energi mereka selama ketersediaan musim pakan sehingga orangutan akan menetap dan menunggu hingga sumber pakan di areal yang mereka tempati habis. Kedua adalah mencari, dimana orangutan akan terus bergerak untuk mencari makanan (Morrough-Bernard et al. 2002). Strategi pertama merupakan salah satu alasan mengapa kelimpahan tumbuhan buah berkolerasi positif terhadap kepadatan sarang baru (kelas A dan kelas B).

Sebaran sarang orangutan dipengaruhi oleh sebaran tumbuhan pakan di suatu kawasan (Prasetyo 2006). Orangutan akan memilih habitat yang tersedia cukup pakan untuk menetap dan memenuhi kebutuhan energinya, oleh karena itu pakan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberadaan orangutan di hutan (Acrenaz et al. 2004). Orangutan merupakan satwa yang bersifat frugivor, artinya orangutan lebih memilih buah sebagai pakan utama, walaupun ditemukan beberapa orangutan menggunakan beberapa sumber pakan alternatif seperti daun muda, kulit pohon, dan serangga untuk dimakan (Rijksen 1978; Marshal et al. 2009; Felton et al. 2012).

Hubungan antara kelimpahan tumbuhan berbuah dengan kepadatan sarang di areal restorasi menunjukkan nilai yang berkolerasi negatif (Asymp. Sig = 0,7), orangutan masuk ke areal restorasi lebih untuk mencari sumber pakan alternatif, atau areal restorasi bukanlah pilihan utama bagi orangutan dalam membuat sarang mengingat sebaran diameter pohon (DBH) 5-10 cm merupakan sebaran diameter yang paling mendominasi di areal restorasi. Sebaran pohon dengan diameter 5-10 cm merupakan sebaran diameter pohon yang dihindari orangutan untuk membuat sarang terutama orangutan jantan (Nayasilana 2012).

(39)

23 Analisis data pada areal restorasi menunjukkan hasil berkolerasi negatif, namun pada grafik dapat dilihat kepadatan sarang baru orangutan berbanding lurus terhadap kelimpahan tumbuhan berbuah setiap km pada dua bulan terakhir pengamatan. Bulan Desember, Januari, dan Februari jelas terlihat pada areal hutan primer dan areal sekunder, ketika kelimpahan tumbuhan berbuah mengalami penurunan jumlah kepadatan juga cenderung ikut menurun. Hasil ini juga sesuai dengan pernyataan Delgado dan van Schaik (2000) yang menyatakan bahwa kepadatan sarang orangutan bergantung pada kualitas dan ketersediaan pakan pada habitat.

Bagi orangutan, daya dukung habitat ini ditentukan oleh produktivitas tumbuhan yang menghasilkan makanan pada waktu yang tepat dan sebagai tempat beristirahat yang aman. Jadi jika kebutuhan dasar lainnya (air, tempat beristirahat dan makanan) cukup tersedia, maka aktivitas hidupnya berlangsung dengan baik, dengan kata lain daya dukung untuk kehidupannya ditentukan oleh ketersediaan kebutuhan dasar (Meijaard et al. 2001).

Rata-rata kepadatan sarang baru di areal hutan primer pada periode pengamatan September-Pebruari berkisar antara 1-5 sarang per km. Di hutan restorasi berkisar antar 1-2 sarang per km. Tingginya kepadatan sarang baru di areal hutan primer dibandingkan dengan hutan restorasi dikarenakan kelimpahan tumbuhan berbuah di areal hutan primer lebih tinggi dibandingkan di areal restorasi. Kelimpahan tumbuhan berbuah di areal hutan primer berkisar 1-7 tumbuhan berbuah per km, sedangkan areal restorasi berkisar 1-4 tumbuhan berbuah per km. Sumber pakan merupakan salah satu daya dukung yang paling penting dalam kehidupan orangutan (Marshall et al. 2009).

(40)

24

5

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Hasil analisis vegetasi menunjukkan nilai kerapatan pohon di area hutan primer lebih rendah (2,37) dibandingkan dengan areal hutan restorasi (5,77), sebaran pohon pada areal hutan restorasi lebih rapat dibanding areal hutan primer. Rata-rata indeks keanekaragaman jenis (H’) di areal hutan primer sedikit lebih tinggi (3,00) dibanding areal hutan restorasi (2,35). Indeks kesamaan jenis Sorensen pohon di kedua habitat lebih dari 50 %. Areal hutan primer didominasi oleh pohon-pohon besar dengan diameter (30,5-40 cm) dan memiliki lebih banyak struktur pohon yang lebih tinggi (lebih dari 15 m) dibandingkan areal hutan restorasi.

Hutan primer memiliki kelimpahan pohon berbuah yang lebih tinggi dibandingkan hutan restorasi. Rata-rata kelimpahan pohon berbuah di hutan primer 1-5,67 ind/km, sedangkan dihutan restorasi 0,8-7,4 ind/km. Kelimpahan pohon berbuah di hutan primer dan areal restorasi memiliki nilai tidak berbeda nyata (Asymp. Sig 0,873).

Rata-rata kepadatan sarang baru di areal hutan primer pada periode pengamatan September-Pebruari berkisar antara 1-5 sarang per km. Sementara di hutan restorasi berkisar antar 0-1 sarang per km. Pohon sarang di areal hutan primer ditemukan lebih banyak pohon berdiameter besar, struktur tegakan pohon yang lebih tinggi, menempatkan sarang pada ujung pohon dan dekat dengan batang utama serta banyak ditemukan pada pohon Polyalthia sp. Areal hutan restorasi pohon sarang ditemukan pada pohon berdiameter lebih kecil, pada struktur tegakan pohon yang lebih rendah, penempatan sarang di dekat batang utama dan banyak ditemukan pada pohon Endospermum diadenum.

Kelimpahan pohon berbuah di hutan primer dan areal restorasi tidak menunjukkan perbedaan secara signifikan setiap bulannya. Di areal hutan primer kepadatan sarang baru orangutan berkorelasi positif dengan kelimpahan pohon berbuah (Asymp. Sig = 0,019), sedangkan di areal restorasi berkorelasi negatif (Asymp. Sig = 0,7).

Saran

1. Jarak hutan restorasi yang sangat dekat dengan perkebunan kelapa sawit dikhawatirkan akan menyebabkan orangutan masuk ke areal perkebunan. Pembuatan barrier antara hutan restorasi dan perkebunan kelapa sawit perlu dilakukan untuk mencegah orangutan masuk ke areal perkebunan.

(41)

25

DAFTAR PUSTAKA

Alikodra HS. 2010. Teknik Pengelolaan Satwa Liar. Bogor (ID): IPB Pr.

Ancrenaz M, Calaque R, Lackman-Ancrenaz I. 2004. Orangutan nesting behavior in disturbed forest of Sabah, Malaysia: implications for nest cencus. Int J of Primatol.25:983-1000.

Atmoko SU, Wich, SA, Sterck, EHM, van Hooff, JAR. 1997. Food competition between wild orangutans in large fig tress. Int J of Primatol. 18:909-27. Atmoko SU. Rifqi MA. 2012. Panduan Survei Sarang Orangutan. Jakarta (ID):

Universitas Nasional.

Atmoko SU. Siregar PG, Susilo HD. Rifqi MA, Ermayanti. 2014. Konsep Koridor Orangutan. Bogor (ID): Forum Orangutan Indonesia (FORINA).

Azhari A. 2011. Bagaimana Restorasi di lakukan, Pengalaman melaksanakan program restorasi di Taman Nasional Gunung Leuser resort Sei Betung 2007-2011[internet]. (diperbaharui 27 September 2011, [diunduh tanggal 27 Februari 2014]). Medan (ID): OIC.

Barbour MG, Bark JH, Pitts WD. 1987. Terresterial Plant Ecology. Menlo Park (US): The Benjamin CummingPublishing Co Inc.

Bismark M. 2005. Estimasi populasi orangutan dan model perlindungannya di Kompleks Hutan Muara Lesan Berau, Kalimantan Timur. Bul Plasma Sumatran orangutan (Pongo abelii) and consequences for conservation.

Biol Conserv. 107:83-87.

Buij R, Singleton I, Krakauer E, van Schaik CP. 2003. Rapid assessment of orangutan density. Biol Conserv. 114:103–-13.

Casteren AA, Sellers WI, Thorpe SKS, Coward S, Crompton RH, Ennos R. 2013. Factors affecting the compliance and sway properties of tree branches used by the Sumatran orangutan (Pongo abelii). Plos One 8(7):e67877 Delgado RA, van Schaik CP. 2000. The behavioural ecology and concervation of

the orangutan (Pongo pygmaeus): A tale of two islands. Evol Anthrop. density, forest structure and fruit availability in hand-logged and unlogged peat swamp forest in West Kalimantan. Biol Conserv. 114:91101.

Galdikas BMF. 1986. Adaptasi Orangutan di Suaka Tanjung Putting Kalimantan Tengah. Jakarta (ID): UI Pr.

(42)

26

Hadisiswoyo P, Masrizal S, Ardi R, Azhari A, Daley P, Wagiman. 2014. Panduan lapangan restorasi hutan tropis Indonesia. Medan (ID): Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) dan Tropical Forest Conservation Action (TFCA).

Husson SJ, Wich SA, Marshall AJ, Dennis RD, Ancrenaz M, Brassey R, Gumal M, Hearn A, Andrew J, Meijaard E, Simorangkir T, Singleton I. 2009. Orangutan distribution, density, abundance and impacts of disturbance. In Wich SA, Utami-Atmoko SS, Setia TM, van Schaik CP, editor.

Orangutans: Geographic variation in behavioral ecology and conservation. London: Oxford University Pr.

Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta (ID): Bumi Aksara.

[IUCN] International Union Conservation of Nature. 2004. A Global Species Assassment: The 2004 IUCN Red List. Cambridge (UK): IUCN.

Johnson AE, Knott C, Pamungkas D, Pasaribu M, Marshall AJ. 2004. A survey of orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) population in and around Gunung Palung National Park West Kalimantan Indonesia based on nest count.

Biol Conserv. 121:495-507.

Kuswanda W dan Pudyatmoko S. 2012. Seleksi Tipe Habitat Orangutan Sumatera Utara (Pongo abelii Lesson 1827) di Cagar Alam Sipirok, Sumatera Utara. J Penelitian hutan dan Konserv Alam.9:85-98.

[KEMENHUT] Kementrian Kehutanan. 2007. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017. Jakarta (ID): Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan Republik Indonesia.

Mackinnon J. 1974. The behaviour and ecology of wild orang-utans (Pongo pygmaeus). Anim Behav.22:3-74.

Marshal AJ, Acrenaz M, Brearly FQ, Frederikson GM, Ghaffar N, Heydon M, Husson SJ, Leighton M, McConkey KR, Morrough-Bernard HC et al. 2009. The effect of forest phenology and floristic population of Borneon and Sumatran orangutans. In Wich SA, Utami-Atmoko SS, Setia TM, van Schaik CP, editor. Orangutans: Geographic Variation in Behavioral Ecology and Conservation. New York (US): Oxford University Pr. p. 269-277.

Mathewson PD, Spehar SN, Meijaard E, Nardiyono, Purnomo, Sasmirul A, Sudiyanto, Oman, Sulhnudin, Jasary, Jumali, Marshall AJ. 2008. Evaluating orangutan censustechniques using nest decay rates: implications for population estimates. Ecological Applications. 18:208-221.

Meijaard E, Rijksen HD, Kartikasari SN. 2001. Di Ambang Kepunahan, Kondisi Orangutan Liar di Awal Abad ke-21. Jakarta (ID): The Gibbon Foundation.

Gambar

Gambar 1 Peta jalur pengamatan sarang orangutan di areal restorasi dan hutan primer    Resort Sei Betung
Gambar 2 Kategori Posisi Sarang Orangutan
Tabel 1 Perbandingan kesamaan jenis (ISS) dan keanekaragaman jenis pada hutan primer dan areal restorasi
Tabel 2 Sepuluh Nilai Penting Jenis (NPJ) tertinggi pada hutan primer dan areal restorasi
+7

Referensi

Dokumen terkait

PCA digunakan untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap distribusi orangutan Sumatera, berdasarkan titik distribusi orangutan yang ditemukan dengan

Posisi sarang di pucuk pohon (posisi 3) merupakan posisi yang paling ideal bagi orangutan untuk meletakkan sarang di hutan sekunder Resort Sei Betung TNGL, karena pada lokasi

Penelitian mengenai “Karakteristik Sarang Orangutan Sumatera (Pong abelii) Di Kawasan Hutan Sekunder Resort Sei Betung Taman Nasonal Gunung Leuser” telah dilaksanakan pada

Penelitian mengenai “Karakteristik Sarang Orangutan Sumatera (Pong abelii) Di Kawasan Hutan Sekunder Resort Sei Betung Taman Nasonal Gunung Leuser” telah dilaksanakan pada

Dari hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan informasi tentang karakteristik sarang orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang berada di kawasan Resort Sei Betung

Pemilihan sarang berdasarkan jenis pohon ditemukan sebanyak 15 jenis pohon dan di dominasi oleh pohon Marak Bangkong ( Endospermum diadenum ) dari family Euphorbiaceae

Hasil penelitian menunjukkan tanah di areal restorasi Taman Nasional Gunung Leuser dengan kedalaman (0-5 cm) dan kedalaman (5-20 cm) memiliki sifat kimia tanah yang relative sama

dan pohon Phyllanthus berdasarkan metode hand sorting dan barlese-tullgren Perbedaan Keanekaragaman dan Kelimpahan Komunitas Arthropoda pada Bekas Sarang Orangutan Berdasarkan