Peranan Sumber Daya Manusia Dalam Pengambilan Keputusan pada Perum Pegadaian Kanwil Medan

123  69 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGARUH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA

RUMAH SAKIT MALAHAYATI MEDAN

OLEH :

ZAHARA MEUTIA 100521075

PROGRAM STUDI STRATA I MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

ABSTRAK

“Pengaruh Kesehatan dan Keselamatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada Rumah Sakit Malahayati Medan”

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan pada Rumah Sakit Malahayati Medan. Jenis penelitian adalah eksplanatori dan penelitian ini juga merupakan penelitian asosiatif. Data pada penelitian ini mengunakan data primer berupa kuesioner dan wawancara dan data sekunder yang diperoleh dari internet, buku, dan jurnal.

Populasi pada penelitian ini berjumlah 101 orang yang merupakan seluruh perawat RS Malahayati. Sampel berjumlah 51 orang dan teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling. Uji hipotesis menggunakan uji F, uji (R2), dan uji t dengan taraf α = 5%.

Hasil penelitian menyatakan bahwa Keselamatan dan Kesehatan kerja memiliki kaitan yang erat dengan Kinerja karyawan pada RS Islam Malahayati sebesar 0,742. Bedasarkan koefisien determinasi (R2) 53,3% kedua variabel ini mampu mempengaruhi kinerja karyawan dan memiliki pengaruh positif dan signifikan.Uji F menunjukan kesehatan dan keselamatan kerja secara bersama-sama mempengaruhi kinerja karyawan secara positif dan signifikan. Uji t bahwa hanya Kesehatan kerja yang memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan.

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah Swt yang telah memberikan hidayah-Nya kepada penulis selama menjalankan kewajiban menuntut ilmu dan penyelesaian tugas akhir. Shalawat dan salam kepada Rasulullah Saw.

Penelitian ini merupakan tugas akhir pada Program Strata-1 Manajemen, Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara, Medan yang mengangkat masalah ”Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada RS Malahayati Medan”. Selama melakukan penelitian dan penulisan laporan, penulis memperoleh bantuan moril dan materil dari berbagai pihak. Terima Kasih yang tidak terhingga kepada kedua orang tua tercinta Ayahanda, Fauzi Ahmad dan Ibunda, Nurma. Pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan terima kasih, terutama kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum M.Ec selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dr. Isfenti Sadalia, SE. ME, selaku Ketua Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Sumatera Utara, dan Ibu Dra. Marhayanie, M.Si, selaku Sekretaris Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Sumatera Utara.

3. Ibu Dra. Endang Sulistya Rini, SE.Msi, selaku Ketua Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

4. Ibu Dr. Yenni Absah, M.Si, selaku Dosen Pembimbing. 5. Ibu Dra Lucy Anna M.Si, selaku Dosen Pembaca.

6. Kepada seluruh keluarga, saudara dan teman-teman ekstensi tercinta. 7. Kepada Dr. Isfanuddin N.Kaoy selaku Pimpinan dan seluruh karyawan

RSI Malahayati, Medan.

Penulis,

(4)

DAFTAR ISI

2.1.1. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)... 8

2.1.2. Tujuan dan Manfaat Keselamatan dan Kesehatan Kerja ... 8

2.1.3. Ruang Lingkup Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit... 12

2.1.4. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit ... 24

2.1.5. Struktur Organisasi K3 di Rumah Sakit ... 28

2.1.6. Konsep Kinerja ... 29

2.1.7 Pengertian dan Manfaat Penilaian Kinerja ... 30

2.1.8 Indikator Kinerja ... 30

2.1.9 Metode dan Ukuran Penilaian Kinerja ... 32

2.1.10 Pengaruh antara K3 dengan KinerjaKaryawan ... 36

2.2. Penelitian Terdahulu ... 38

2.3. Kerangka Konseptual ... 39

2.4. Hipotesis ... 41

BAB III METODE PENELITIAN ... 42

3.1 Jenis Penelitian ... 42

3.2 Tempat Dan Waktu Penelitian ... 42

3.3 Batasan Operasional ... 42

3.4 Definisi Operasional... 43

3.5 Skala Pengukuran Variabel ... 45

3.6 Populasi Dan Sampel ... 45

3.7 Jenis dan Sumber Data ... 46

3.8 Metode Pengumpulan Data ... 47

3.9 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 47

(5)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 51

4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 51

4.1.1. Sejarah Singkat Perusahaan ... 51

4.1.2. Struktur Organisasi ... 54

4.2 Hasil Penelitian ... 61

4.2.1 Analisa Deskriptif ... 61

4.2.2 Uji Asumsi Klasik ... 68

4.2.3 Analisis Regresi Linear Berganda ... 72

4.2.5 Pengujian Hipotesis ... 73

4.3 Pembahasan ...82

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 85

5.1. Kesimpulan ... 85

5.2. Saran ………... 85

DAFTAR PUSTAKA ... 87

(6)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Tabel Halaman

Tabel 2.1. Tanggung Jawab Umum Perusahaan Yang Terdiri Dari Unit

Sumber Daya Manusia dan Manajer ... 11

Tabel 3.1. Definisi Operasionalisasi Variabel ... 44

Tabel 3.2. Instrumen Skala Likert ... 45

Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Untuk Variabel Keselamtan Kerja ... 61

Tabel 3.4 Hasil Uji Reliabilitas Untuk Variabel Keselamtan Kerja ... 61

Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas Untuk Variabel Kesehatan Kerja ... 62

Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas Untuk Variabel Keselamatan Kerja ... 62

Tabel 3.7 Hasil Uji Validitas Untuk Variabel Kinerja Karyawan ... 63

Tabel 3.8 Hasil Uji Reliabilitas Untuk Variabel Kinerja Karyawan ... 63

Tabel 4.1 Hasil Analisis Metode Deskriptif ... 61

Tabel 4.2 Jenis Kelamin Responden ………... 63

Tabel 4.3 Usia Responden ………... 63

Tabel 4.4 Status Responden ... 64

Tabel 4.5 Lama Bekerja Responden ... 64

Tabel 4.6 Hasil Analisis Karakteristik Lama Kerja Terhadap Variabel Keselamatan Kerja ... 65

Tabel 4.7 Hasil Analisis Karakteristik Lama Kerja Terhadap Variabel Kesehata Kerja ... 66

Tabel 4.8 Hasil Analisis Karakteristik Lama Kerja Terhadap Variabel Kinerja Karyawan ... 67

Tabel 4.9 Hasil Uji Normalitas ... 69

Tabel 4.10 Hasil Analisis Instrumen Heteroskedastisitas (Pendekatan Uji Statistik (Glejser) ... 70

Tabel 4.11 Hasil Analisis Instrumen Multikolinearitas ... 72

Tabel 4.12 Hasil Analisis Instrumen Analisis Regresi Berganda ... 73

Tabel 4.13 Hasil Analisis Instrumen Uji F (Uji Serempak) ... 75

Tabel 4.14 Tabel Hubungan Antar Variabel ... 76

Tabel 4.15 Hasil Analisis Koefisien Determinan ... 76

(7)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Gambar Halaman

Gambar 2.1. Hubungan K3 Terhadap Kinerja Karyawan ... 37

Gambar 2.2. Kerangka Konseptual ... 40

Gambar 4.1. Grafik Distribusi Normal ... 68

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Lampiran Halaman

(9)

ABSTRAK

“Pengaruh Kesehatan dan Keselamatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada Rumah Sakit Malahayati Medan”

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan pada Rumah Sakit Malahayati Medan. Jenis penelitian adalah eksplanatori dan penelitian ini juga merupakan penelitian asosiatif. Data pada penelitian ini mengunakan data primer berupa kuesioner dan wawancara dan data sekunder yang diperoleh dari internet, buku, dan jurnal.

Populasi pada penelitian ini berjumlah 101 orang yang merupakan seluruh perawat RS Malahayati. Sampel berjumlah 51 orang dan teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling. Uji hipotesis menggunakan uji F, uji (R2), dan uji t dengan taraf α = 5%.

Hasil penelitian menyatakan bahwa Keselamatan dan Kesehatan kerja memiliki kaitan yang erat dengan Kinerja karyawan pada RS Islam Malahayati sebesar 0,742. Bedasarkan koefisien determinasi (R2) 53,3% kedua variabel ini mampu mempengaruhi kinerja karyawan dan memiliki pengaruh positif dan signifikan.Uji F menunjukan kesehatan dan keselamatan kerja secara bersama-sama mempengaruhi kinerja karyawan secara positif dan signifikan. Uji t bahwa hanya Kesehatan kerja yang memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan.

(10)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya selalu menginginkan keberhasilan baik berupa hasil produksi maupun hasil layanannya. Untuk menunjang keberhasilan tersebut maka diperlukan tempat kerja yang sehat dan selamat sehingga tidak terjadi kecelakaan ataupun penyakit akibat kerja. Tempat kerja yang aman dan nyaman dan karyawan yang sehat dapat mendorong karyawan untuk menunjukan kinerja yang baik. Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang benar-benar menjaga keselamatan dan kesehatan karyawannya dengan membuat aturan tentang keselamatan dan kesehatan kerja.

(11)

Rumah Sakit (RS) termasuk dalam kriteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan, tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja di RS, tapi juga terhadap pasien maupun pengunjung RS.

Potensi bahaya di RS, selain penyakit-penyakit infeksi juga ada potensi bahaya-bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di RS, yaitu kecelakaan (peledakan, kebakaran, kecelakaan yang berhubungan dengan instalasi listrik, dan sumber-sumber cidera lainnya), radiasi, bahan-bahan kimia yang berbahaya, gas-gas anastesi, gangguan psikososial dan ergonomi. Semua potensi bahaya tersebut di atas, jelas mengancam jiwa dan kehidupan bagi para pekerja di RS, para pasien maupun para pengunjung yang ada di lingkungan RS.

Dalam pekerjaan sehari-hari pekerja rumah sakit selalu dihadapkan pada bahaya-bahaya tertentu, misalnya bahaya infeksius, reagensia yang toksik, peralatan listrik maupun peralatan kesehatan. Secara garis besar bahaya yang dihadapi dalam rumah sakit atau instansi kesehatan dapat digolongkan dalam : bahaya kebakaran dan ledakan dari zat/bahan yang mudah terbakar atau meledak,bahan beracun, korosif dan kaustik, bahaya radiasi, luka bakar, syok akibat aliran listrik, luka sayat akibat alat gelas yang pecah dan benda tajam , bahaya infeksi dari kuman, virus atau parasit.

(12)

baik dan benar dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan dan keselamatannya yang pada akhirnya akan mempengaruhi produktivitas kerjanya. Produktivitas kerja yang rendah pada akhirnya akan berdampak pula terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan oleh rumah sakit.

Perawat adalah salah satu pekerja rumah sakit yang sangat berisiko tinggi dalam menjalankan tugasnya. Tugas yang behubungan dengan pasien baik rawat inap dan rawat jalan mengharuskan perawat melakukan kontak fisik dengan pasien sehingga besar kemungkinan terinfeksi penyakit, masalah ergonomi seperti kesalahan cara mengangkat pasien, dan kesalahan dalam penggunaan alat-alat medis yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja.

Melihat kondisi tersebut sudah sewajarnya pekerja rumah sakit khususnya perawat menjadi sasaran prioritas program kesehatan dan keselamatan kerja dan sudah seharusnya pihak pengelola RS menerapkan upaya-upaya K3 di RS.

Program keselamatan dan kesehatan kerja sangat bermanfaat bagi rumah sakit maupun pekerja rumah sakit khususnya perawat baik masa sekarang maupun masa yang akan datang. K3 diharapkan dapat memberi pengaruh dalam hal kemampuan untuk mempertahankan kepuasan tenaga kerja sehingga akan mendorong mereka untuk bekerja dengan baik dan berhasil dalam arti kualitas maupun kuantitas yang berhubungan dengan kinerja.

(13)

akan arti pentingnya K3 dan mengetahui bagaimana cara mengimplementasikannya dengan baik dalam lingkungan rumah sakit. Potensi kerugian rumah sakit akibat lemahnya implementasi K3 sangat besar diantaranya yaitu terganggunya proses dan perbaikan alat yang rusak karena kecelakaan kerja serta perusahaan kehilangan kesempatan mendapatkan keuntungan karena rendahnya produktivitas kerja karyawan.

Rumah Sakit Islam Malahayati adalah salah satu karya monumental masyarakat Aceh di Sumatera Utara yang sangat bernilai dari segi material dan moral. Rumah sakit Islam Malahayati Medan merupakan sebuah lembaga bisnis yang bergerak dibidang jasa pelayanan kesehatan. Berlokasi di Jalan Diponegoro no.4 Medan yang merupakan lokasi yang cukup strategis dan dekat dengan daerah perkantoran dan pertokoan. Seiring perkembangan zaman, Rumah Sakit Malahayati masih menunjukan eksistensi dengan terus berkembang dan meningkatkan pelayanannya, dengan terus memperbaiki sarana dan prasarana rumah sakit agar dapat memberikan kenyaman dan keamanan untuk pasien maupun pekerja rumah sakit. Rumah Sakit Malahayati, merupakan rumah sakit yang memiliki VISI “menjadi rumah sakit yang dapat memberikan pelayanan kesehatan bagi semua orang”. Dan salah satu MISInya adalah “meningkatkan kesejahteraaan dan kepuasaan pegawai.”

(14)

diperoleh Rumah Sakit Malahayati dari Kementrian Tenaga Kerja Dan Transmigrasi atas prestasinya dalam melaksanakan Program Kesehatan Dan Keselamatan Kerja sehingga mencapai 1.729.728 jam kerja orang tanpa kecelakaan kerja, terhitung sejak tanggal 01 Januari 2009 s/d 31 Desember 2011. Sepanjang tahun 2012 juga tidak ditemukan satupun kecelakaan kerja di Rumah Sakit Malahayati.

Berdasarkan hal tersebut di atas maka peneliti merasa tertarik untuk meneliti dengan judul “Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada RS Malahayati Medan”.

1.2Perumusan Masalah.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Apakah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Berpengaruh Terhadap Kinerja Karyawan Pada Rumah Sakit Malahayati Medan”.

1.3Tujuan Penelitian.

(15)

1.4 Manfaat Penelitian.

1. Bagi Penulis,

Penelitian ini merupakan usaha untuk menambah dan meningkatkan cara berpikir positif serta mengembangkan kemampuan menganalisa permasalahan yang dihadapi di lapangan.

2. Bagi Akademis,

penelitian ini diharapkan dapat memperkaya penelitian mengenai antara Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan.

3. Bagi Praktis,

(16)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Teoritis

2.1.1 Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan perhatian dan perlindungan yang diberikan perusahaan kepada seluruh karyawannya. Sutrisno (2010) menyatakan keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, tempat kerja, dan lingkungannya, serta cara-cara karyawan dalam melakukan pekerjaannya.

Husni (2005) menyatakan bahwa kesehatan kerja adalah bagian dari ilmu kesehatan yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh keadaan kesehatan yang sempurna baik fisik, mental, maupun sosialnya sehingga memungkinkan karyawandapat bekerja secara optimal.

(17)

Perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terhadap karyawan ini bertujuan agar tidak terjadi kecelakaan ditempat kerja atau paling tidak mengurangi tingkat kecelakaan di tempat kerja, sehingga proses produksi dapat berjalan dengan semestinya. Anies (2005) menyatakan bahwa kesehatan dan keselamatan kerja, merupakan suatu upaya untuk menekan atau mengurangi risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan antara keselamatan dan kesehatan.

Perhatian pada kesehatan karyawan dapat mengurangi terjadinya kecelakaan dalam melaksanakan pekerjaannya, jadi antara kesehatan dan keselamatan kerja bertalian dan dapat mencegah terjadinya kecelakaan di tempat kerja. Yusra (2008) Keselamatan dan kesehatan kerja (K3), adalah suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha sebagai upaya pencegahan (preventif) timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dalam lingkungan kerja dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dan tindakan antisipatif bila terjadi hal yang demikian.

2.1.2 Tujuan dan Manfaat Keselamatan dan Kesehatan Kerja

(18)

kesehatan yang disebabkan oleh kondisi lingkungan kerja; c) menyesuaikan tenaga kerja dengan pekerjaan atau pekerjaan dengan tenaga kerja; d) meningkatkan kinerja". Dengan demikian maksud dan tujuan tersebut adalah bagaimana melakukan suatu upaya dan tindakan pencegahan untuk memberantas penyakit dan kecelakaan akibat kerja, bagaimana upaya pemeliharaan serta peningkatan kesehatan gizi, serta bagaimana mempertinggi efisiensi dan kinerja karyawan sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai dengan baik.

Hasibuan (2000), Kesehatan dan Keselamatan Kerja harus ditanamkan pada diri masing-masing individu karyawan, dengan penyuluhan dan pembinaan yang baik agar mereka menyadari pentingnya keselamatan kerja bagi dirinya maupun untuk perusahaan. Apabila banyak terjadi kecelakaan, karyawan banyak yang menderita, absensi meningkat, produksi menurun, dan biaya pengobatan semakin besar. Ini semua akan menimbulkan kerugian bagi karyawan maupun perusahaan bersangkutan, karena mungkin karyawan terpaksa berhenti bekerja sebab cacat dan perusahaan kehilangan karyawannya.

Perusahaan dapat melaksanakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan baik, maka perusahaan akan mendapat manfaat-manfaat mejalankan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yaitu:

1. Meningkatkan kinerja karyawan sehingga menurunnya jumlah hari kerja yang hilang.

2. Meningkatkan efektivitas dan efesiensi kerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

(19)

4. Tingkat kompensasi pekerja dan pembayaran langsung lebih rendah karena menurunnya pengajuan klaim.

5. Fleksibilitas dan adaptabilitas yang lebih besar sebagai akibat dari meningkatnya partisipasi dan rasa memiliki,

6. Rasio seleksi tenaga kerja yang lebih baik karena meningkatnya citra perusahaan,dan

7. Meningkatkan keuntungannya secara substansial. Rivai (2004)

Tujuan dan manfaat dari kesehatan dan keselamatan kerja ini tidak dapat terwujud dan dirasakan manfaatnya, jika hanya bertopang pada peran tenaga kerja saja tetapi juga perlu peran dari pimpinan.

Ivancevich (2001) menyatakan bahwa,"top management must support safety and health with an adequate budget. Managers must give it their

personal support by talking about safety and health with everyone in the

firm. Acting on reports about safety is another way top managers can be

involved in these efforts. Without this support, the effort to ensure safety

and health is hampered. Some organizations have responded to the

environmental problems that can increase accidents, deaths, and

disabilities by placing the responsibility for employees' health and safety

with the chief executive officer of the organization".

(20)

Tabel 2.1

Tanggung Jawab Umum Perusahaan Yang Terdiri Dari Unit Sumber Daya Manusia Dan Manajer

Sumber : Mathis dan Jackson, 2003.

Menurut Siagian (2002) ada 5 hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja, yaitu:

1. Apa pun bentuknya berbagai ketentuan formal itu harus ditaati oleh semua organisasi.

2. Mutlak perlunya pengecekan oleh instansi pemerintah yang secara fungsional bertanggung jawab untuk itu antara lain dengan inspeksi untuk menjamin ditaatinya berbagai ketentuan lain dengan inspeksi untuk menjamin ditaatinya berbagai ketentuan formal oleh semua organisasi. 3. Pengenaan sanksi yang keras kepada organisasi yang melalaikan

kewajibannya menciptakan dan memelihara Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

(21)

organisasi.

5. Melibatkan serikat pekerja dalam semua proses penciptaan dan pemeliharaan kesehatan dan keselamatan kerja.

Sistem imbalan yang efektif termasuk perlindungan karyawan ditempatnya berkarya, kiranya jelas terlihat bukan imbalan dalam bentuk uang saja hal yang sangat penting, tetapi perlindungan terhadap karyawan juga tidak kalah pentingnya.

2.1.3 Ruang Lingkup Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit.

Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, Pasal 23 dinyatakan bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus diselenggarakan di semua tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang. Maka Rumah Sakit (RS) juga termasuk dalam kriteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan, tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja di RS, tapi juga terhadap pasien maupun pengunjung RS. Sehingga sudah seharusnya pihak pengelola RS menerapkan upaya-upaya K3 di RS. Segala hal yang menyangkut penyelenggaraan K3 di rumah sakit diatur di dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 432 tentang Pedoman Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Rumah Sakit termasuk pengertian dan ruang lingkup kesehatan dan keselamatan kerja di Rumah Sakit.

(22)

Kesehatan kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan fisik, mental, dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan, pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan; perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan; dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. Secara ringkas merupakan penyesuaian pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia kepada pekerjaan atau jabatannya.

2) Kesehatan dan keselamatan kerja

Upaya untuk memberikan jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat kesehatan para pekerja/buruh dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan, pengobatan, dan rehabilitasi.

3) Konsep Dasar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit adalah upaya terpadu seluruh pekerja rumah sakit, pasien, pengunjung/pengantar orang sakit untuk menciptakan lingkungan kerja, tempat kerja rumah sakit yang sehat, aman dan nyaman baik bagi pekerja rumah sakit, pasien, pengunjung/pengantar orang sakit, maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar rumah sakit.

b. Ruang Lingkup

(23)

a) Prinsip K3RS

Agar Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) dapat dipahami secara utuh, perlu diketahui pengertian 3 komponen yang saling berinteraksi, yaitu :

(1) Kapasitas kerja adalah status kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik serta kemampuan fisik yang prima setiap pekerja agar dapat melakukan pekerjaannya dengan baik.

(2) Beban kerja adalah beban fisik dan mental yang harus ditanggung oleh pekerja dalam melaksankan tugasnya.

(3) Lingkungan kerja adalah lingkungan terdekat dari seorang pekerja b) Program K3RS

Program K3 di rumah sakit bertujuan untuk melindungi keselamatan dan kesehatan serta meningkatkan produktifitas pekerja, melindungi keselamatan pasien, pengunjung, dan masyarakat serta lingkungan sekitar Rumah Sakit. Kinerja setiap petugas petugas kesehatan dan non kesehatan merupakan resultante dari tiga komponen yaitu kapasitas kerja, beban kerja, dan lingkungan kerja. Program K3RS yang harus diterapkan adalah :

(1) Pengembangan kebijakan K3RS (2) Pembudayaan perilaku K3RS

(3) Pengembangan Sumber Daya Manusia K3RS

(24)

(5) Pemantauan dan evaluasi kesehatan lingkungan tempat kerja (6) Pelayanan kesehatan kerja

(7) Pelayanan keselamatan kerja

(8) Pengembangan program pemeliharaan pengelolaan limbah padat, cair, gas

(9) Pengelolaan jasa, bahan beracun berbahaya dan barang berbahaya (10) Pengembangan manajemen tanggap darurat

(11) Pengumpulan, pengolahan, dokumentasi data dan pelaporan kegiatan K3

(12) Review program tahunan c) Kebijakan pelaksanaan K3

Rumah sakit merupakan tempat kerja yang padat karya, pakar, modal, dan teknologi, namun keberadaan rumah sakit juga memiliki dampak negatif terhadap timbulnya penyakit dan kecelakaan akibat kerja, bila rumah sakit tersebut tidak melaksanakan prosedur K3. Oleh sebab itu perlu dilaksanakan kebijakan sebagai berikut :

(1) Membuat kebijakan tertulis dari pimpinan rumah sakit

(2) Menyediakan Organisasi K3 di Rumah Sakit sesuai dengan Kepmenkes Nomor 432/Menkes/SK/IV/2007 tentang Pedoman Manajemen K3 di Rumah Sakit

(3) Melakukan sosialisasi K3 di rumah sakit pada seluruh jajaran rumah sakit

(25)

(5) Meningkatkan SDM yang professional dalam bidang K3 di masing-masing unit kerja di rumah sakit

(6) Meningkatkan Sistem Informasi K3 di rumah sakit 2) Standar Pelayanan K3 di Rumah Sakit

Pelayanan K3RS harus dilaksanakan secara terpadu melibatkan berbagai komponen yang ada di rumah sakit. Pelayanan K3 di rumah sakit sampai saat ini dirasakan belum maksimal. Hal ini dikarenakan masih banyak rumah sakit yang belum menerapkan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan kerja (SMK3).

a) Standar Pelayanan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit

Setiap Rumah Sakit wajib melaksanakan pelayanan kesehatan kerja seperti tercantum pada pasal 23 UU kesehatan no.36 tahun 2009 dan peraturan Menteri tenaga kerja dan Transmigrasi RI No.03/men/1982 tentang pelayanan kesehatan kerja. Adapun bentuk pelayanan kesehatan kerja yang perlu dilakukan, sebagai berikut : (1) Melakukan pemeriksaan kesehatan sebekum kerja bagi pekerja

(2) Melakukan pendidikan dan penyuluhan/pelatihan tentang kesehatan kerja dan memberikan bantuan kepada pekerja di rumah sakit dalam penyesuaian diri baik fisik maupun mental terhadap pekerjanya.

(26)

(4) Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental (rohani) dan kemampuan fisik pekerja

(5) Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi pekerja yang menderita sakit

(6) Melakukan pemeriksaan kesehatan khusus pada pekerja rumah sakit yang akan pension atau pindah kerja

(7) Melakukan koordinasi dengan tim Panitia Pencegahan dan Pengendalian Infeksi mengenai penularan infeksi terhadap pekerja dan pasien

(8) Melaksanakan kegiatan surveilans kesehatan kerja

(9) Melaksanakan pemantauan lingkungan kerja dan ergonomi yang berkaitan dengan kesehatan kerja (Pemantauan/pengukuran terhadap faktor fisik, kimia, biologi, psikososial, dan ergonomi) (10) Membuat evaluasi, pencatatan dan pelaporan kegiatan kesehatan

kerja yang disampaikan kepada Direktur Rumah Sakit dan Unit teknis terkait di wilayah kerja Rumah Sakit

b) Standar pelayanan Keselamatan kerja di Rumah Sakit

Pada prinsipnya pelayanan keselamatan kerja berkaitan erat dengan sarana, prasarana, dan peralatan kerja. Bentuk pelayanan keselamatan kerja yang dilakukan :

(27)

(2) Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian peralatan kerja terhadap pekerja

(3) Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja (4) Pembinaan dan pengawasan terhadap sanitair

(5) Pembinaan dan pengawasan perlengkapan keselamatan kerja (6) Pelatihan/penyuluhan keselamatan kerja untuk semua pekerja (7) Member rekomendasi/masukan mengenai perencanaan, pembuatan

tempat kerja dan pemilihan alat serta pengadaannya terkait keselamatan/keamanan

(8) Membuat sistem pelaporan kejadian dan tindak lanjutnya

(9) Pembinaan dan pengawasan Manajemen Sistem Penanggulangan Kebakaran (MSPK)

(10) Membuat evaluasi, pencatatan, dan pelaporan kegiatan pelayanan keselamatan kerja yang disampaikan kepada Direktur Rumah Sakit dan Unit teknis terkait di wilayah kerja kerja Rumah Sakit

3) Standar K3 Sarana, Prasarana, dan Peralatan di Rumah Sakit

(28)

instalasi listrik, gas medis, komunikasi, dan pengkondisian udara, dan lain-lain.

4) Pengelolaan Jasa dan Barang Berbahaya

Barang Berbahaya dan Beracun (B3) adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.

a) Kategori B3

Memancarkan radiasi, Mudah meledak, Mudah menyala atau terbakar, Oksidator, Racun, Korosif, Karsinogenik, Iritasi, Teratogenik, Mutagenic, Arus listrik.

b) Prinsip dasar pencegahan dan pengendalian B3

(1) Identifikasi semua B3 dan instalasi yang akan ditangani untuk mengenal ciri-ciri dan karakteristiknya.

(2) Evaluasi, untuk menentukan langkah-langkah atau tindakan yang diperlukan sesuai sifat dan karakteristik dari bahan atau instalasi yang ditangani sekaligus memprediksi risiko yang mungkin terjadi apabila kecelakaan terjadi

(29)

sarana prosedur dan proses kerja yang aman, pembatasan keberadaan B3 di tempat kerja sesuai jumlah ambang.

(4) Untuk mengurangi resiko karena penanganan bahan berbahaya c) Pengadaan Jasa dan Bahan Berbahaya

Rumah sakit harus melakukan seleksi rekanan berdasarkan barang yang diperlukan. Rekanan yang akan diseleksi diminta memberikan proposal berikut company profile. Informasi yang diperlukan menyangkut spesifikasi lengkap dari material atau produk, kapabilitas rekanan, harga, pelayanan, persyaratan K3 dan lingkungan serta informasi lain yang dibutuhkan oleh rumah sakit.

Setiap unit kerja/instalasi/satker yang menggunakan, menyimpan, mengelola B3 harus menginformasikan kepada instalasi logistic sebagai unit pengadaan barang setiap kali mengajukan permintaan bahwa barang yang diminta termasuk jenis B3. Untuk memudahkan melakukan proses seleksi, dibuat form seleksi yang memuat kriteria wajib yang harus dipenuhi oleh rekanan serta sistem penilaian untuk masing-masing criteria yang ditentukan.

5) Standar SDM K3 di Rumah Sakit Kriteria tenaga K3 terdiri dari: a) Rumah Sakit Kelas A

(30)

(2) S2 kesehatan minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS

(3) Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi (SpOk) dan S2 Kedokteran Okupasi minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS

(4) Tenaga Kesehatan Masyarakat K3 DIII dan S1 minimal 2 orang yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS

(5) Dokter/dokter gigi spesialis dan dokter umum/dokter gigi minimal 1 orang dengan sertifikasi K3 dan mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS

(6) Tenaga paramedis dengan sertifikasi dalam bidang K3 (informal) yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS

(7) Tenaga paramedis yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS minimal 2 orang

(8) Tanaga teknis lainnya dengan sertifikasi K3 (informal) mendapat pelatihan khusus terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1 orang (9) Tenaga teknis lainnya mendapat pelatihan khusus terakreditasi

mengenai K3 RS minimal 2 orang b) Rumah Sakit Kelas B

(31)

(2) Tenaga Kesehatan Masyarakat K3 DIII dan S1 minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS

(3) Dokter/dokter gigi spesialis dan dokter umum/dokter gigi minimal 1 orang dengan sertifikasi K3 dan mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS

(4) Tenaga paramedis dengan sertifikasi dalam bidang K3 (informal) yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1 orang

(5) Tenaga paramedis yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1 orang

(6) Tanaga teknis lainnya dengan sertifikasi K3 (informal) mendapat pelatihan khusus terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1 orang (7) Tenaga teknis lainnya mendapat pelatihan khusus terakreditasi

mengenai K3 RS minimal 1 orang c) Rumah Sakit kelas C

(1) Tenaga Kesehatan Masyarakat K3 DIII dan S1 minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS

(32)

(3) Tenaga paramedis yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1 orang

(4) Tenaga teknis lainnya mendapat pelatihan khusus terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1 orang

6) Pembinaan, Pengawasan, Pencatatan, dan Pelaporan a) Pembinaan dan pengawasan

Pembinaan dan pengawasan dilakukan melalui sistem berjenjang. Pembinaan dan pengawasan tertinggi dilakukan oleh Departemen Kesehatan. Pembinaan dapat dilaksanakan antara lain dengan melalui pelatihan, penyuluhan, bimbingan teknis, dan temu konsultasi.

Pengawasan pelaksanaan Standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di rumah sakit dibedakan dalam dua macam, yakni pengawasan internal, yang dilakukan oleh pimpinan langsung rumah sakit yang bersangkutan, dan pengawasan eksternal, yang dilakukan oleh Menteri kesehatan dan Dinas Kesehatan setempat, sesuai dengan fungsi dan tugasnya masing-masing.

b) Pencatatan dan pelaporan

(33)

wilayah Rumah Sakit. Tujuan kegiatan pencatatan dan pelaporan kegiatan k3 adalah menghimpun dan menyediakan data dan informasi kegiatan K3, mendokumentasikan hasil-hasil pelaksanaan kegiatan K3; mencatat dan melaporkan setiap kejadian/kasus K3, dan menyusun dan melaksanakan pelaporan kegiatan K3.

Pelaporan terdiri dari; pelaporan berkala (bulanan, semester, dan tahunan) dilakukan sesuai dengan jadual yang telah ditetapkan dan pelaporan sesaat/insidentil, yaitu pelaporan yang dilakukan sewaktu-waktu pada saat kejadian atau terjadi kasus yang berkaitan dengan K3. Sasaran kegiatan pencatatan dan pelaporan kegiatan k3 adalah mencatat dan melaporkan pelaksanaan seluruh kegiatan K3, yang tercakup di dalam :

(1) Program K3, termasuk penanggulangan kebakaran dan kesehatan lingkungan rumah sakit.

(2) Kejadian/kasus yang berkaitan dengan K3 serta upaya penanggulangan dan tindak lanjutnya.

2.1.4 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit

1. Pengertian Manajemen K3 RS

Manajemen K3 RS merupakan upaya terpadu dari seluruh SDM RS, pasien, serta pengunjung atau pengantar orang sakit untuk menciptakan lingkungan kerja RS yang sehat, aman dan nyaman termasuk pemukiman masyarakat sekitarnya.

(34)

SMK3 adalah bagian dari sistem manajemen yang meliputi: struktur organisasi, perencanaan, pelaksanaan, prosedur, sumber daya, dan tanggungjawab organisasi. Tujuan dari SMK3 RS adalah menciptakan tempat kerja yang aman dan sehat supaya tenaga kerja produktif disamping dalam rangka akreditasi rumah sakit itu sendiri. Prinsip yang digunakan dalam SMK3 adalah AREC (Anticipation, Recognition, Evaluation dan Control) dari metode kerja, pekerjaan

dan lingkungan kerja. b. Langkah manajemen:

1) Komitmen dan Kebijakan

Komitmen diwujudkan dalam bentuk kebijakan (policy) tertulis, jelas dan mudah dimengerti serta diketahui oleh seluruh karyawan RS. Manajemen RS mengidentifikasi dan menyediakan semua sumber daya esensial seperti pendanaan, tenaga K3 dan sarana untuk terlaksananya program K3 di RS. Kebijakan K3 di RS diwujudkan dalam bentuk wadah K3 RS dalam struktur organisasi RS. Untuk melaksanakan komitmen dan kebijakan K3 RS, perlu disusun strategi antara lain :

a) Advokasi sosialisasi program K3 RS. b) Menetapkan tujuan yang jelas. c) Organisasi dan penugasan yang jelas.

d) Meningkatkan SDM profesional di bidang K3 RS pada setiap unit kerja di lingkungan RS.

(35)

g) Membuat program kerja K3 RS yang mengutamakan upaya peningkatan dan pencegahan.

h) Monitoring dan evaluasi secara internal dan eksternal secara berkala. 2) Perencanaan

RS harus membuat perencanaan yang efektif agar tercapai keberhasilan penerapan sistem manajemen K3 dengan sasaran yang jelas dan dapat diukur. Perencanaan meliputi:

a) Identifikasi sumber bahaya, penilaian dan pengendalian faktor risiko. Identifikasi sumber bahaya yang ada di RS berguna untuk menentukan tingkat risiko yang merupakan tolok ukur kemungkinan terjadinya kecelakaan dan PAK (penyakit akibat kerja). Sedangkan penilaian faktor risiko merupakan proses untuk menentukan ada tidaknya risiko dengan jalan melakukan penilaian bahaya potensial yang menimbulkan risiko kesehatan dan keselamatan.

Pengendalian faktor risiko di RS dilaksanakan melalui 4 tingkatan yakni menghilangkan bahaya, menggantikan sumber risiko dengan sarana atau peralatan lain yang tingkat risikonya lebih rendah bahkan tidak ada risiko sama sekali, administrasi, dan alat pelindung pribadi (APP).

(36)

c) Menentukan tujuan (sasaran dan jangka waktu pencapaian)

d) Indikator kinerja yang harus diukur sebagai dasar penilaian kinerja K3 dan sekaligus merupakan informasi mengenai keberhasilan pencapaian SMK3 RS.

e) Program K3 ditetapkan, dilaksanakan, dimonitoring, dievaluasi dan dicatat serta dilaporkan.

3) Pengorganisasian

Pelaksanaan K3 di RS sangat tergantung dari rasa tanggung jawab manajemen dan petugas, terhadap tugas dan kewajiban masing-masing serta kerja sama dalam pelaksanaan K3. Tanggung jawab ini harus ditanamkan melalui adanya aturan yang jelas. Pola pembagian tanggung jawab, penyuluhan kepada semua petugas, bimbingan dan latihan serta penegakkan disiplin.

a) Tugas pokok unit pelaksana K3 RS

1) Memberi rekomendasi dan pertimbangan kepada direktur RS mengenai masalah-masalah yang berkaitan dengan K3.

2) Merumuskan kebijakan, peraturan, pedoman, petunjuk pelaksanaan dan prosedur.

3) Membuat program K3 RS b) Fungsi unit pelaksana K3 RS

(37)

2) Membantu direktur RS mengadakan dan meningkatkan upaya promosi K3, pelatihan dan penelitian K3 di RS.

3) Pengawasan terhadap pelaksanaan program K3.

4) Memberikan saran dan pertimbangan berkaitan dengan tindakan korektif.

5) Koordinasi dengan unit-unit lain yang menjadi anggota K3RS.

6) Memberi nasehat tentang manajemen k3 di tempat kerja, kontrol bahaya, mengeluarkan peraturan dan inisiatif pencegahan.

7) Investigasi dan melaporkan kecelakaan, dan merekomendasikan sesuai kegiatannya.

8) Berpartisipasi dalam perencanaan pembelian peralatan baru, pembangunan gedung dan proses.

2.1.5 Struktur Organisasi K3 di Rumah Sakit

Berdasarkan pada Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 432 tahun 2007 bahwa Organisasi K3 berada 1 tingkat di bawah direktur, bukan kerja rangkap dan merupakan unit organisasi yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur RS. Hal ini dikarenakan organisasi K3 RS berkaitan langsung dengan regulasi, kebijakan, biaya, logistik dan SDM di rumah sakit. Nama organisasinya adalah unit pelaksana K3 RS, yang dibantu oleh unit K3 yang beranggotakan seluruh unit kerja di RS. Keanggotaan:

(38)

b. Unit pelaksana K3 RS terdiri dari sekurang-kurangnya ketua, sekretaris dan anggota. Pelaksanaan tugas ketua dibantu oleh wakil ketua dan sekretaris serta anggota.

c. Ketua unit pelaksana K3 RS sebaiknya adalah salah satu manajemen tertinggi di RS atau sekurang-kurangnya manajemen dibawah langsung direktur RS. d. Sedang sekretaris unit pelaksana K3 RS adalah seorang tenaga profesional K3

RS, yaitu manajer K3 RS atau ahli K3 (berlatarbelakang pendidikan K3).

2.1.6 Konsep Kinerja

Kelangsungan hidup suatu organisasi salah satunya tergantung kepada kinerja atau prestasi kerja pegawainya dalam melaksanakan pekerjaan karena pegawai merupakan unsur organisasi terpenting yang harus mendapat perhatian. Pencapaian tujuan organisasi menjadi kurang efektif apabila banyak pegawainya yang tidak memiliki kinerja atau berprestasi dan hal ini akan menimbulkan pemborosan bagi organisasi. Oleh karena itu kinerja atau prestasi pegawai harus benar-benar diperhatikan.

(39)

2.1.7 Pengertian dan Manfaat Penilaian Kinerja

Prestasi kerja (kinerja) menurut Bernadin dan Russell (2003 : 378) adalah sebagai berikut :

“Perfomance is defined as the record of outcomes produced on a specified job

function or activity during a specified time periode”.

Prestasi kerja (kinerja) merupakan hasil dari suatu proses atau aktivitas pada fungsi tertentu yang dilaksanakan oleh seseorang, baik sebagai individu maupun sebagai anggota dari suatu kelompok atau organisasi bisnis atau sosial, pada periode tertentu, yang hasilnya dapat dinikmati sendiri maupun oleh kelompoknya atau perusahaan.

Selanjutnya Pasolong (2007:176) mengatakan kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh pegawai atau sekelompok pegawai dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggungjawab masing-masing, dalam upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika. Menurut Sinambela dkk. (2006:136) bahwa kinerja pegawai adalah sebagai kemampuan pegawai dalam melakukan sesuatu dengan keahlian tertentu. Bersesuaian dengan pendapat tersebut Robbins (2001:439) mengungkapkan bahwa kinerja adalah hasil evaluasi terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai dibandingkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

(40)

menurut Bernadin dan Russell (2003:379) adalah “a way of measuring the constribution of individuals to their organization”. Maksudnya yaitu suatu cara

mengukur konstribusi-konstribusi dari individu-individu anggota organisasi kepada organisasi. Jadi penilaian prestasi ini diperlukan untuk menentukan tingkat konstribusi individu atau prestasi.

Selanjutnya pengertian penilaian prestasi (kinerja) menurut Cascio (2000:267) “Performance appraisal is the sistematic description of the job relevant strengths and weaknesses of an individual or group.”

Bila dibandingkan dengan pendapat Bernaddin lebih menekankan kepada hasil dari suatu aktivitas (output) sedangkan Casio lebih menekankan proses. Menurut Walker (2000:275) adapun tujuan dilaksanakannya penilaian prestasi kerja (kinerja) adalah :

“In appraising employee performance is the dua purpose of appraisals. On one

hand. Employers needs objective evaluations of past individuals performance for

use in making personel decisions. On the other hand employers needs toold to

enable managers to help indibividuals improve performance, plane future work,

develop skill and abilities for career growth, and strength the quality of their

relationship as manager and employee.”

(41)

kemampuan untuk pengembangan karier, dan kekuatan kualitas hubungan antara manajer dan pegawai.

2.1.8 Indikator Kinerja

Dalam melaksanakan tugas kedinasan sehari-hari untuk menilai dan menentukan apakah seseorang staf sudah bekerja sesuai dengan yang diharapkan atau menampilkan kinerja yang baik tentu saja dibutuhkan pengetahuan tentang indikator-indikator kinerja yang mesti diemban dan lakukan oleh staf. Secara umum ada beberapa pendapat yang dapat dijadikan sebagai pedoman dan bahan pertimbangan dalam melakukan evaluasi kinerja staf diantaranya, Selim dan Woodward dalam Nasucha (2004:108), mengemukakan bahwa ada lima dasar yang dapat dijadikan indikator kinerja yaitu: (1) pelayanan yang menunjukkan seberapa besar pelayanan yang diberikan, (2) ekonomi, yang menunjukkan apakah biaya yang digunakan lebih murah dari pada yang direncanakan, (3) efisien, yang menunjukkan perbandingan hasil yang dicapai dengan pengeluaran, (4) efektivitas, yang menunjukkan perbandingan hasil yang seharusnya dengan hasil yang dicapai, (5) Equity, yang menunjukkan tingkat keadilan potensial dari kebijakan yang dihasilkan.

2.1.9 Metode Ukuran Penilaian Kinerja

Menurut Siagian (2001:234-241), ada delapan ukuran untuk metode penilaian kinerja yang banyak digunakan yaitu :

a) Metode skala bertingkat

(42)

diakui bahwa metode ini bersifat subyektif. Kategori penilaian dapat dinyatakan dalam bentuk ukuran amat baik, baik, cukup, kurang dan sangat kurang.

b) Metode checklist

Metode ini sering digunakan untuk menilai prestasi kerja dimasa lalu. Dengan ukuran metode ini bagian kepegawaian mempersiapkan formulir isian yang mengandung :

1) nama pegawai yang dinilai 2) bagian mana pegawai bekerja 3) nama dan jabatan penilai 4) tanggal penilaian dilakukan

5) faktor-faktor yang dinilai dengan sorotan perhatian ditujukan pada aspek-aspek kritikal dalam mengukur keberhasilan seseorang menyelesaikan tugas.

c) Metode pilihan terarah

Metode ini mengandung serangkaian pernyataan, baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif tentang pegawai yang dinilai. Pernyataan tersebut menyangkut beberapa faktor seperti kemampuan belajar prestasi kerja, hubungan kerja dan lain-lain.

d) Metode insiden kritikal

(43)

e) Metode skala peringkat yang dikaitkan dengan prilaku

Metode ini merupakan salah satu ukuran penilaian prestasi kerja (kinerja) pegawai untuk satu kurun waktu tertentu dimasa lalu dengan mengaitkan skala peringkat prestasi kerja dengan perilaku tertentu. Salah satu kelebihan ukuran metode ini ialah pengurangan subyektivitas dalam penilaian. Deskripsi prestasi kerja, yang baik maupun kurang memuaskan dibuat oleh pekerja sendiri, rekan sekerja dan atasan langsung masing-masing.

f) Metode evaluasi lapangan

Penggunaan metode ini meletakkan tanggung jawab utama dalam melakukan penilaian pada para ahli yang bertugas dibagian kepegawaian. Artinya ahli penilai itu turut kelapangan melakukan penilaian atas prestasi kerja pada pegawai. Hasil penilaian yang kemudian disampaikan kepada dua pihak yaitu kepada atasan lagsung pegawai yang menilai untuk diteliti, diubah atau disetujui dan kepada pegawai yang bersangkutan sendiri untuk dibicarakan, baik yang menyangkut segi-segi penilaian yang bersifat positif maupun yang negatif.

g) Metode tes dan observasi

(44)

h) Pendekatan-pendekatan yang bersifat komparatif

Metode ini mengutamakan perbandingan prestasi kerja (kinerja) seseorang dengan pegawai lain yang menyelenggarakan kegiatan sejenis. Pembanding demikian dipandang bermanfaat untk manajemen sumberdaya manusia dengan lebih rasional dan efektif, khususnya dalam hal kenaikan gaji atau upah, promosi dan pemberian berbagai bentuk imbalan kepada pegawai. Dengan perbandingan, tersebut dapat disusun peringkat pegawai dari sudut prestasi kerjanya.

(45)

Ukuran penilaian yang mengacu pada format standar absolut terdiri dari : (1) Skala rating grafik. (2) Skala rating yang diberi bobot menurut prilaku dan (3) Skala standar campuran dan skala pengamatan perilaku (BOS = Behavioral Observation Scala). Sedangkan ukuran penilaian yang mengacu kepada output

terdiri dari : (1) manajemen berdasarkan sasaran (MBO = Management by Objectiver) (2) Pendekatan standar kinerja, (3) Pendekatan indeks langsung dan

(4) Catatan prestasi.

Sedangkan menurut Mangkunegara (2000:74) bahwa ukuran penilaian prestasi kerja (kinerja) terdiri dari 2 (dua) yaitu ukuran metode tradisional, antara lain rating scala, employee comparison dan ukuran metode modern, antara lain management by objective (MBO) assessment center.

2.1.10 Pengaruh Antara K3 dengan Kinerja Karyawan.

Kondisi lingkungan kerja yang aman dan nyaman dapat membuat karyawan menjadi sehat dan produktif. Semakin produktif karyawan akan meningkatkan kinerja dan semakin tinggi hasil kerja.

Perhatian yang khusus kepada keselamatan dan kesehatan kerja akan selaras dengan fungsi manajemen sumber daya manusia yaitu: mempertahankan dan atau meningkatkan kondisi fisik, mental dan sikap karyawan agar mereka tetap loyal dan bekerja secara produktif untuk menunjang tujuan perusahaan (Yuli, 2005).

(46)

perusahaan dengan cermat sehingga dapat menurunkan angka kecelakaan kerja tersebut.

Manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang efektif menuntut adanya komitmen perusahaan terhadap kondisi kerja yang aman. Akan tetapi, lebih penting lagi jika program keselamatan dan kesehatan kerja tersebut didesain dan dikelola dengan baik sehingga dapat mengurangi biaya yang akan dikeluarkan perusahaan yang berhubungan dengan kecelakaan kerja, misalnya kompensasi pekerja dan denda yang ditimbulkan. Respon dan usaha yang baik dari manajemen akan mengurangi tingkat kecelakaan dalam perusahaan. Manajemen keselamatan dan kesehatan kerja membutuhkan satu asas yang dapat dijelaskan dalam Gambar 2.1 berikut ini:

Sumber: Yuli (2005: 279)

Gambar 2.1.

Hubungan K3 Terhadap Kinerja Karyawan

(47)

penyakit akibat kerja.

Namun keselamatan dan kesehatan kerja juga memiliki tujuan yang lebih penting yaitu mewujudkan tenaga kerja yang sehat, selamat dan produktif sehingga dapat memiliki kinerja dan prestasi yang baik. Keselamatan kerja bertalian dengan kecelakaan kerja yaitu kecelakaan yang terjadi di tempat kerja atau dikenal dengan istilah kecelakaan industri. Kecelakaan industri ini dapat didefenisikan sebagai suatu kejadiaan yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki yang mengacukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas (Husni, 2005).

Kesehatan kerja adalah bagian dari ilmu kesehatan yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh keadaan kesehatan yang sempurna baik secara fisik, mental maupun sosial sehingga dapat bekerja secara optimal (Husni, 2005).

Senada dengan itu Mathis dan Jhon (2002) mengatakan keselamatan kerja merujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang, sedangkan kesehatan kerja merujuk pada kondisi fisik, mental dan stabilitas emosi secara umum.

2.2 Penelitian Terdahulu

(48)

adanya pengaruh positif dan signifikan antara keselamatan dan kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan sebesar 52,2% secara serentak maupun parsial.

Fahmawati (2004), meneliti dengan judul "Pengaruh Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Serta Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan pada PT. Cahaya Surya Tunas Tapioka Wonogiri". Hasil uji F sebesar 24,120 menunjukkan bahwa kesehatan dan keselamatan kerja serta lingkungan kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan sebesar, hasil uji t sebesar 4,260 dengan koefisien determinan sebesar 0,556 menunjukkan bahwa variabel bebas (kesehatan dan keselamatan kerja serta lingkungan kerja) dapat menjelaskan 56,6 % terhadap variabel terikat (kinerja karyawan).

2.3Kerangka Konseptual

Keselamatan dan kesehatan adalah aset yang tidak ternilai harganya yang merupakan bagian utama kesejahteraan. Kesejahteraan tenaga kerja mustahil diwujudkan dengan mengabaikan keselamatan dan kesehatan tenaga kerja. Kebanyakan perusahaan-perusahaan yang sukses menggunakan catatan Keselamatan dan Kesehatan sebagai pengukuran kinerja (Performance measure).

(49)

Husni (2005) menyatakan bahwa, tujuan kesehatan kerja adalah: a) meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi-tingginya baik fisik, mental, maupun sosial; b) mencegah dan melindungi tenaga kerja dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kondisi lingkungan kerja; c) menyesuaikan tenaga kerja dengan pekerjaan atau pekerjaan dengan tenaga kerja; d) meningkatkan kinerja". Dengan demikian maksud dan tujuan tersebut adalah bagaimana melakukan suatu upaya dan tindakan pencegahan untuk memberantas penyakit dan kecelakaan akibat kerja, bagaimana upaya pemeliharaan serta peningkatan kesehatan gizi, serta bagaimana mempertinggi efisiensi dan kinerja karyawan sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai dengan baik.

Menurut Mathis (Yuli, 2005:211) Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dapat diartikan sebagai kegiatan yang menjamin terciptanya kondisi kerja yang aman, terhindar dari gangguan fisik dan mental melalui pembinaan dan pelatihan, pengarahan, dan kontrol terhadap pelaksanaan tugas dari para karyawan dan pemberian bantuan sesuai dengan aturan yang berlaku, baik dari lembaga pernerintah maupun perusahaan dimana mereka bekerja. Hal ini diselenggarakan agar terwujud suatu kinerja yang optimal dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) (X)

Keselamatan Kerja (X1)

Kesehatan Kerja (X2)

Sumber : (Ely Nurachma, 2007), WHO / ILO (1995), Pasolong (2007:176) (Data diolah).

Gambar 2.2 Kerangka Konseptual

(50)

2.4 Hipotesis

(51)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanatori. Eksplanatori merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan-hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya atau bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya. Penelitian ini juga merupakan penelitian asosiatif, yakni penelitian yang menghubungkan dua atau lebih variabel bebas terhadap variabel terikat atau melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikatnya.

3.2Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di RS Malahyati Medan dengan melibatkan perawat RS Malahayati Medan sebagai responden dan sumber informasi penelitian. Waktu penelitian ini dilaksanakan sejak pada bulan Desember 2012 sampai dengan Januari 2013.

3.3 Batasan Operasional

(52)

a. Variabel bebas (independent): Keselamatan dan Keseharan Kerja (K3) terdiri dari:

X1 : Keselamatan kerja X2 : Kesehatan kerja

b. Variabel terikat (dependent), Y : Kinerja karyawan

3.4 Definisi Operasional

Guna membantu untuk lebih mengarahkan penelitian ini sesuai objek sasaran yang diharapkan maka dirasakan perlu untuk memberikan pengertian-pengertian tentang konsep variabel sebagai berikut :

1. Variabel bebas X1: Keselamatan

adalah keselamatan yang berkaitan dengan alat kerjam bahan dan proses pengolahannya, tempat kerja, lingkungannya, serta cara karyawan dalam melakukan pekerjaan.

2. Variabel bebas X2: Kesehatan

adalah bagian dari ilmu kesehatan yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh keadaan kesehatan yang sempurnah baik fisik, mental maupun sosialnya sehingga kemungkinan karyawan dapat bekerja secara optimal.

3. Variabel Terikat Y: Kinerja Karyawan

(53)

bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika untuk priode tertentu.

Tabel 3.1

Operasionalisasi Variabel

Variabel Definisi Variabel Indikator Variabel Skala Pengukuran kesehatan para pekerja (perawat) dengan cara pencegahan

5. Merasa aman dan nyaman menggunakan pelindung 6. Sanksi yang berat terhadap

pelanggar keselamatan

Hasil kerja yang dapat dicapai oleh pegawai sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika yang di ukur untuk residen tertentu

4. Pencapaian mutu hasil kerja dibandingkan dengan standard yang ditetapkan

5. Ketelitian dalam

menyelesaikan pekerjaan 6. Bekerja dengan cepat dan

tepat

7. Segera melaksanakan pekerjaan yang diberikan

Likert

(54)

3.5 Skala Pengukuran Variabel

Sistem pengolahan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan Skala Likert yaitu digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono 2008: 132). Pada penelitian ini responden memilih salah satu dari jawaban yang tersedia, kemudian masing-masing jawaban diberi skor tertentu. Total skor inilah yang ditafsir sebagai posisi responden dalam Skala Likert. Kriteria pengukurannya adalah sebagai berikut.

Tabel 3.2

Instrumen Skala Likert

No Pertanyaan Skor

1 Sangat Setuju (SS) 5

2 Setuju (S) 4

3 Kurang Setuju (KS) 3

4 Tidak Setuju (TS) 2

5 Sangat Tidak Setuju (STS) 1 Sumber: Sugiyono (2008: 133)

3.6 Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah perawat RS Malahayati Medan yang berjumlah 101 orang perawat.

2. Sampel

(55)

memperoleh kesempatan yang sama untuk dipilih secara random/acak sebagai bagian dari sampel dalam penelitian.

Sampel diambil dengan menggunakan rumus Slovin sebagai berikut:

n = N

(1 + Ne

2

)

Dimana : n = jumlah sampel N = ukuran populasi e = batas kesalahan

Dengan demikian, jumlah sampel yang diperoleh adalah :

n= 101

1+101 (0,1)2

Pada penelitian ini jumlah sampel menjadi orang 51 dengan kriteria perawat RS Malahayati Medan .

3.7 Jenis dan Sumber Data

Jenis data dalam penelitian ini adalah: 1. Data Primer

Data diperoleh langsung dari responden yang dipilih pada lokasi penelitian. Data primer diperoleh dengan cara memberikan kuesioner dan melakukan wawancara.

2. Data Sekunder

(56)

3.8 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penenlitian ini adalah: 1. Kuesioner

Memberikan daftar pertanyaan kepada pelanggan yang telah ditetapkan sebagai sampel atau responden penelitian.

2. Wawancara

Pengumpulan data dengan melakukan wawancara langsung dengan bagian personalia dan perawat RS Malahayati Medan.

3. Studi dokumentasi

Dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mempelajari data-data yang diperoleh dari berbagai macam buku, jurnal dan informasi dari internet yang berhubungan dengan penelitian.

3.9 Uji Validitas dan Reliabilitas

1. Uji Validitas

Uji validitas dilakukan untuk untuk mendapatkan data yang valid. Valid diartikan bahwa instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono 2008: 172). Kriteria dalam menentukan validitas suatu kuesioner adalah sebagai berikut:

Jika rhitung > rtabel maka pertanyaan tersebut valid

Jika rhitung < rtabel maka pertanyaan tersebut tidak valid.

(57)

2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Situmorang, dkk. 2010: 72). Menurut Ghazali, 2010: 80), suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,60 atau nilai Cronbach Alpha > 0,80. Uji reliabilitas kuesioner dalam penelitian ini menggunakan bantuan aplikasi Software Software SPSS versi 18,00.

Uji validitas dan reliabilitas akan dilakukan kepada 30 perawat responden dilakukan di RS Malahayati Medan.

3. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas

Uji validitas dan reliabilitas dilakukan pada RS Islam Malahayati juga dengan jumlah responden sebanyak 30 orang. Data mengenai uji validitas untuk variabel Keselamatan Kerja dapat dilihat pada Tabel 3.3

Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Untuk Variabel Keselamatan Kerja

Item-Total Statistics

Sumber: Pengolahan Data Primer (kuesioner) dengan SPSS 18.00, (2013)

(58)

Item-Total Correlation menunjukkan lebih dari 0,361. Sementara uji reliabitas

untuk variabel Keselamtan kerja dengan 7 item pertanyaan dapat dilihat pada Tabel 3.4

Tabel 3.4 Hasil Uji Reliabilitas Untuk Variabel Keselamatan Kerja

Reliability Statistics

Cronbach's

Alpha N of Items

,897 7

Sumber: Pengolahan Data Primer (kuesioner) dengan SPSS 18.00, (2013)

Tabel 3.4 menunjukkan bahwa hasil dari uji reliabiltas pada variabel Keselamatan kerja untuk 7 item pertanyaan dinyatakan reliabel. Nilai reliabilitas pada penelitian ini menunjukkan lebih dari 0,8. Pernyataan pada variabel Keselamatan kerja dinyatakan valid dan reliabel. Kemudian data validitas untuk variabel Kesehatan kerja dengan 6 item pertanyaan dapat dilihat pada Tabel 3.5

Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas Untuk Variabel Kesehatan Kerja

Item-Total Statistics

Sumber: Pengolahan Data Primer (kuesioner) dengan SPSS 18.00, (2013)

(59)

Item-Total Correlation menunjukkan lebih dari 0,361. Sementara uji reliabitas untuk

variabel Kesehatan kerja dengan 7 item pertanyaan dapat dilihat pada Tabel 3.6

Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas Untuk Variabel Kesehatan Kerja

Reliability Statistics

Cronbach's

Alpha N of Items

,847 7

Sumber: Pengolahan Data Primer (kuesioner) dengan SPSS 18.00, (2013)

Tabel 3.6 menunjukkan bahwa hasil dari uji reliabiltas pada variabel Kesehatan kerja untuk 7 item pertanyaan dinyatakan reliabel. Nilai reliabilitas pada penelitian ini menunjukkan lebih dari 0,8. Pernyataan pada variabel Kesehatan kerja dinyatakan valid dan reliabel. Kemudian data validitas untuk variabel Kesehatan kerja dengan 6 item pertanyaan dapat dilihat pada Tabel 3.7

Tabel 3.7 Hasil Uji Validitas Untuk Variabel Kinerja Karyawan

Item-Total Statistics

Sumber: Pengolahan Data Primer (kuesioner) dengan SPSS 18.00, (2013)

(60)

Correlation menunjukkan lebih dari 0,361. Sementara uji reliabitas untuk variabel

Kesehatan kerja dengan 7 item pertanyaan dapat dilihat pada Tabel 3.6

Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas Untuk Variabel Kesehatan Kerja

Reliability Statistics

Cronbach's

Alpha N of Items

,953 7

Sumber: Pengolahan Data Primer (kuesioner) dengan SPSS 18.00, (2013)

Tabel 3.6 menunjukkan bahwa hasil dari uji reliabiltas pada variabel Kinerja karyawan untuk 7 item pertanyaan dinyatakan reliabel. Nilai reliabilitas pada penelitian ini menunjukkan lebih dari 0,8. Pernyataan pada variabel Kinerja karyawan dinyatakan valid dan reliabel.

3.10 Teknik Analisis

Teknik analisis data yang digunakan adalah: 1. Analisis Deskriptif

Suatu tekhnik menganalisis dimana data yang dikumpulkan, diklasifikasikan, dianalisis dan diinterpretasikan secara objektif sehingga memberikan informasi dan gambaran mengenai topik yang akan dibahas.

(61)

Pengujian ini dilakukan untuk melihat model regresi, apakah variabel dependen dan independen memiliki distribusi normal atau tidak.

b. Uji Heteroskedastisitas

Digunakan untuk menguji model regresi apakah terjadi ketidaksamaan atau perbedaan varians dari residual pengamatan yang lain. Jika varians residual dari suatu pengamatan lain tetap, maka disebut homokedastisitas, dan jika varians berbeda disebut heteroskedastisitas. Model yang paling baik apabila tidak terjadi heteroskedastisitas.

c. Uji Multikolinieritas

Uji ini digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas, jika terdapat terdapat korelasi antara variabel bebas maka dapat dikatakan terdapat masalah multikolinieritas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel bebas. Uji multikolinieritas menggunakan kriteria Variance Inflation Factor (VIF) dengan ketentuan:

(62)

Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas (keselamatan dan kesehatan kerja (K3)) terhadap variabel terikat (kinerja karyawan).

Persamaan regresi berganda yang digunakan adalah: Y = a + b1X1 + b2X2+ e

Dimana:

Y = Variabel Kinerja Karyawan

a = Konstanta

b1...b2 = Koefisien Regresi

X1 = Variabel Keselamatan Kerja

X2 = Variabel Kesehatan Kerja

e = Standar Error

4. Uji Hipotesis

a. Uji Signifikansi Simultan (Uji-F)

Pengujian ini dilakukan untuk melihat apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model yang mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat.

Kriteria pengujiannya adalah:

H0 : b1, dan b2 = 0, artinya secara serentak tidak terdapat pengaruh

yang positif dan signifikan dari variabel K3 terhadap variabel kinerja perawat RS Malayahati

H0: b1 dan b2 ≠ 0, artinya secara serentak terdapat pengaruh yang

positif dan signifikan dari variabel K3 terhadap variabel kinerja perawat RS Malayahati

(63)

H0 ditolak jika Fhitung > Ftabelpada α = 5%.

b. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa besar kemampuan model dalam menerangkan variabel terikat. Jika R2 semakin besar (mendekati satu), maka dapat dikatakan bahwa pengaruh variabel bebas (X) adalah besar terhadap variabel terikat (Y). Hal ini berarti model yang digunakan semakin kuat untuk menerangkan pengaruh variabel bebas yang diteliti terhadap variabel terikat. Sebaliknya jika R2 semakin mengecil (mendekat nol), maka dapat dikatakan bahwa pengaruh variabel Keselamatan Kerja (X1) dan Kesehatan Kerja (X2) terhadap variabel terikat (Y) semakin kecil. Hal ini berarti model yang digunakan tidak kuat untuk menerangkan pengaruh variabel bebas yang diteliti terhadap variabel terikat.

c. Uji Signifikansi Parsial (Uji-t)

Uji-t menentukan seberapa besar pengaruh variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat.

H0 ; bi = 0

Artinya secara parsial tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas keselamatan kerja(X1) dan kesehatan kerja (X2) terhadap variabel terikat Kinerja Karyawan pada RS Malahayati Medan (Y).

(64)

Artinya secara pasrial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas keselamatan kerja (X1) dan kesehatan kerja (X2) terhadap variabel terikat Kinerja Karyawan pada RS Malahayati Medan (Y).

Kriteria pengambilan keputusan:

H0 diterima jika thitung≤ ttabelpada α = 5%

(65)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1.1. Gambaran Umum Rumah Sakit Malahayati

Pada tahun 1970, tepatnya di jalan Diponegoro No.4 ada sebuah gedung milik Yayasan Kerukunan Aceh,yang pemanfaatan gedung tersebut belum maksimal dan hanya dipakai sebagai tempat pertemuan-pertemuan anggota Yayasan Kerukunan Aceh yang sifatnya tidak rutin. Adanya keadaan gedung yang kurang berdaya tersebut timbul pemikiran di antara anggota Yayasan untuk mencari suatu upaya guna dapat memanfaatkan gedung tersebut lebih efektif dan untuk kepentingan umum. Maka muncullah beberapa usulan untuk menjadikannya Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. Ada juga ide agar komplek dan bangunan tersebut dijual atau dikontrakkan kepada konsulat asing dan uangnya dimanfaatkan untuk membeli gedung lain yang lebih sederhana untuk kantor aceh sepakat. Namun setelah mencermati perkembangan kota Medan dan mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, timbullah gagasan untuk mengubah komplek Yayasan tersebut menjadi komplek rumah sakit.

(66)

laksamana wanita Aceh yang melawan penjajah Portugis. Selain, masih memiliki referensi yang kuat pada daerah Aceh, bila ditinjau dari segi bahasa Arab, kata Malahayati sesungguhnya rangkaian dua kata, yaitu Maal yang berarti harta atau kekayaan dan hayaati yang berarti hidupku.

Setelah 6 bulan melakukan persiapan dan dirasa sudah cukup, maka tepat pada tanggal 10 Mei 1973 di bentuklah Yayasan Rumah Sakit Malahayati dengan Akte Notaris : Kusmulyanto dengan Akte : No.42 tanggal 10 Mei 1973. Pengelolaan oleh sebuah Yayasan bukan sebuah PT, CV, Firma atau badan usaha lain adalah buah dari pemikiran bahwa rumah sakit Malahayati nantinya tetap konsisten sebagai usaha non profit. Apabila ada keuntungan yang dihasilkan, maka keuntungan tersebut akan dipergunakan untuk perluasan dan peningkatan kegiatan-kegiatan rumah sakit itu sendiri.

(67)

tidur sekarang menjadi 120 tempat tidur. Rumah sakit ini bukanlah satu-satunya fasilitas kesehatan yang paling lengkap di Kota Medan, akan tetapi menjadi salah satu pelengkap bersama-sama rumah sakit yang lain untuk membantu pemerintahan di bidang pelayanan kesehatan masyarakat.

4.1.2 Struktur Organisasi

(68)

Malahayati tahun 2009 RS Malahayati yang dilaksanakan pada pertemuan rapat tanggal 15 April 2010 dengan adalah sebagai berikut :

1. Menyesuaikan Struktur RS Malahayati dengan SK Menkes RI No 983/MenKes/SK/XI/1992 serta peraturan perundangan lainnya.

2. Memperhatikan kondisi saat ini, dengan meningkatnya jumlah pasien dan secara tidak langsung juga meningkatnya jumlah SDM serta membutuhkan unit tertentu.

3. Unit yang memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien berada di bawah koordinasi Ka.Sie Keperawatan, untuk kedepannyamaka unit pelaksana teknis langsung dibawah koordinasi Direktur

4. Sebutan untuk Ka.Bag, menjadi Kepala Bidang

5. Unit Marketing yang berada langsung dibawah Direktur menjadi unit berada dibawah Koordinasi Sie Keuangan.

6. Termasuk unit pelaksana teknis yang langsung dibawah koordinasi Direktur adalah :

(69)

Uraian tugas perawat RS Islam Malahayati, antara lain: 1. Ka. Unit Ruangan Gawat Darurat

a. Tugas umum :

Menciptakan pola pelayanan keperawatan yang efektif dan efesien melalui Asuhan Keperawatan yang Islam, kepada pasien dengan menyediakan fasilitas yang memenuhi standard.

b. Tugas khusus :

Mengatur tata laksana dan pelaksanaan kegiatan pelayanan perawatan di UGD.

1. Ka. Perawatan Gawat Darurat: a. Tugas Umum :

Mentaati dan melaksanakan semua ketentuan yang telah ditetapkan oleh Direksi dan Ka. Bidang Perawatan.

b. Tugas Khusus :

Mengatur pelaksanaan asuhan keperawatan di UGD sesuai dengan fungsi dan perannya.

2. Ka Unit Ruangan I.C.U a. Tugas Umum :

Melaksanakanfungsi manajemen dan keperawatan yaitu merencanakan, memimpin, mengawasi, mengkoordinasi serta mengevaluasi pelayanan keperawatan dalam rangka menunjang tercapainya misi Rumah Sakit Islam Malahayati Medan.

Figur

Gambar 2.1. Hubungan K3 Terhadap Kinerja Karyawan
Gambar 2 1 Hubungan K3 Terhadap Kinerja Karyawan . View in document p.46
Gambar 2.2 Kerangka Konseptual
Gambar 2 2 Kerangka Konseptual . View in document p.49
Tabel 3.1  Operasionalisasi Variabel
Tabel 3 1 Operasionalisasi Variabel . View in document p.53
Tabel 3.2 Instrumen Skala Likert
Tabel 3 2 Instrumen Skala Likert . View in document p.54
Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Untuk Variabel Keselamatan Kerja
Tabel 3 3 Hasil Uji Validitas Untuk Variabel Keselamatan Kerja . View in document p.57
Tabel 3.4 Tabel 3.4 Hasil Uji Reliabilitas
Tabel 3 4 Tabel 3 4 Hasil Uji Reliabilitas . View in document p.58
Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas Untuk Variabel Kesehatan Kerja
Tabel 3 5 Hasil Uji Validitas Untuk Variabel Kesehatan Kerja . View in document p.58
Tabel 3.7 Hasil Uji Validitas Untuk Variabel Kinerja Karyawan
Tabel 3 7 Hasil Uji Validitas Untuk Variabel Kinerja Karyawan . View in document p.59
Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas
Tabel 3 6 Hasil Uji Reliabilitas . View in document p.59
Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas
Tabel 3 6 Hasil Uji Reliabilitas . View in document p.60
Tabel 4.1 Hasil Analisis Instrumen Metode Deskriptif
Tabel 4 1 Hasil Analisis Instrumen Metode Deskriptif . View in document p.74
Tabel 4.3 menujukkan bahwa mayoritas responden yang menjawab
Tabel 4 3 menujukkan bahwa mayoritas responden yang menjawab . View in document p.76
Tabel 4.2 Jenis Kelamin Responden
Tabel 4 2 Jenis Kelamin Responden . View in document p.76
Tabel 4.4 Status Responden
Tabel 4 4 Status Responden . View in document p.77
Tabel 4.5 menyatakan bahwa mayoritas responden yang menjawab
Tabel 4 5 menyatakan bahwa mayoritas responden yang menjawab . View in document p.77
Tabel 4.7 Hasil Analisis Karakteristik Lama Kerja Terhadap Variabel Kesehatan
Tabel 4 7 Hasil Analisis Karakteristik Lama Kerja Terhadap Variabel Kesehatan . View in document p.79
Tabel 4.8 Hasil Analisis Karakteristik Lama Kerja Terhadap Variabel Kinerja
Tabel 4 8 Hasil Analisis Karakteristik Lama Kerja Terhadap Variabel Kinerja . View in document p.80
Tabel 4.9 Hasil Uji Normalitas
Tabel 4 9 Hasil Uji Normalitas . View in document p.82
Tabel 4.10
Tabel 4 10 . View in document p.83
Gambar 4.2 Scatterplot Dependent Variable (Kinerja Kerja)
Gambar 4 2 Scatterplot Dependent Variable Kinerja Kerja . View in document p.84
Tabel 4.11
Tabel 4 11 . View in document p.85
Tabel 4.12
Tabel 4 12 . View in document p.86
Tabel 4.13
Tabel 4 13 . View in document p.88
Tabel 4.14
Tabel 4 14 . View in document p.89
Tabel 4.15
Tabel 4 15 . View in document p.90
Tabel 4.16
Tabel 4 16 . View in document p.92
GRAFIK
GRAFIK . View in document p.114

Referensi

Memperbarui...